• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENDAHU LUAN AORTIC STENOSIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PENDAHU LUAN AORTIC STENOSIS"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN

AORTIC STENOSIS

Konsep medis A. Definisi

Stenosis Katup Aorta (Aortic Stenosis) adalah penyempitan pada lubang katup aorta, yang menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta (Stewart WJ and Carabello BA, 2002: 509-516).

Aortic stenosis adalah penyempitan abnormal dari klep (katup) aorta (aortic valve). Sejumlah dari kondisi-kondisi menyebabkan penyakit yang berakibat pada penyempitan dari klep aorta. Ketika derajat dari penyempitan menjadi cukup signifkan untuk menghalangi aliran darah dari bilik kiri ke arteri-arteri, yang mengakibatkan persoalan-persoalan jantung berkembang. (Otto,CM,Aortic, 2004;25:185-187).

Stenosis Katup Aorta adalah suatu penyempitan atau penyumbatan pada katup aorta. Penyempitan pada Katup aorta ini mencegah katup aorta membuka secara maksimal sehingga menghalangi aliran darah mengalir dari jantung menuju aorta. Dalam keadaan normal, katup aorta terdiri dari 3 kuncup yang akan menutup dan membuka sehingga darah bisa melewatinya.

Pada stenosis katup aorta, biasanya katup hanya terdiri dari 2 kuncup sehingga lubangnya lebih sempit dan bisa menghambat aliran darah. Akibatnya ventrikel kiri harus memompa lebih kuat agar darah bisa melewati katup aorta.

B. Etiologi

Stenosis katup aorta adalah suatu penyempitan katup aorta sehingga menghalangi darah masuk ke aorta. Penyebab atau etiologi dari stenosisi ini bisa bermacam-macam. Namun yang paling sering adalah RHD (Rheumatic Heeart Disease) atau yang biasa kita kenal dengan demam rematik. Berikut etiologi stenosis katup aorta lebih lengkap :

1. Kelainan kongenital

(2)

berarti sampai ia dewasa dimana katup mengalami kelemahan dan penyempitan sehingga membutuhkan penanganan medis.

3. Penumpukan kalsium pada daun katup

4. Seiring usia katup pada jantung dapat mengalami akumulasi kalsium (kalsifkasi katup aorta). Kalsium merupakan mineral yang dapat ditemukan pada darah. Seiring dengan aliran darah yang melewati katup aorta maka menimbulkan akumulasi kalsium pada katup jantung yang kemudian dapat menimbulkan penyempitan pada katup aorta jantung. Oleh karena itulah stenosis aorta yang berasal dari proses klasifkasi banyak terjadi pada lansia di atas 65 tahun, namun gejalanya beru timbul saat klien berusia 70 tahun. 5. Demam rheumatik

Komplikasi dari demam rematik adalah adanya sepsis atau menyebarnya kuman atau bakteri melalui aliran darah ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan sampainya kuman atau bakteri tersebut ke jantung. Saat kuman tersebut mencapai katup aorta maka terjadilah kematian jaringan pada katup aorta. Jaringan yang mati ini dapat menyebabkan penumpukan kalsium yang dikemudian hari dapat menyebabkan stenosis aorta. Demam reumatik dapat menyebabkan kerusakan pada lebih dari satu katup jantung dalam berbagai cara.Kerusakan katup jantung dapat berupa ketidak mampuan katup untuk membuka atau menutup bahkan keduanya.

C. Patofisiologi

Ukuran normal orifsium aorta 2-3 cm2. Stenosis aorta menyebabkan

tahanan dan perbedaan tekanan selama sistolik antara ventrikel kiri dan aorta. Peningkatan tekanan ventrikel kiri menghasilkan tekanan yang berlebihan pada ventrikel kiri, yang dicoba diatasi dengan meningkatkan ketebalan dinding ventrikel kiri (hipertrof ventrikel kiri). Pelebaran ruang ventrikel kiri terjadi sampai kontraktilitas miokard menurun. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri meningkat. Kontraksi atrium menambah volume darah diastolik ventrikel kiri. Hal ini akan mengakibatkan pembesaran atrium kiri. Akhirnya beban ventrikel kiri yang terus menerus akan menyebabkan pelebaran ventrikel kiri dan menurunkan kontraktilitas miokard. Iskemia miokard timbul akibat kurangnya aliran darah koroner ke miokard yang hipertrof.

Area katup aorta normal berkisar 2-4cm2,Gradien ventrikel kiri dengan aorta mulai trlihat bila area katup aorta <1.5cm2. Bila area katup mitral

<1cm2,maka stenosis aorta sudah disebut berat. Kemampuan adaptasi

(3)

aorta) akan merangsang mekanisme RAA(Renin-Angiotensin-Aldosteron) beserta mekanisme lainnya agar miokard mengalami hipertrof.

Penambahan massa otot ventrikel kiri ini akan menigkatkan tekanan intra-ventrikel agar dapat melampaui tahanan stenosis aorta tersebut dan mempertahankan wall stress yang normal berdasarkan rumus Laplace: Stress= (pressurexradius): 2xthickness. Namun bila tahanan aorta bertambah,maka hipertrof akan berkembang menjadi patologik disertai penambahan jaringan kolagen dan menyebabkan kekakuan dinding ventrikel,penurunan cadangan diastolic,penigkatan kebutuhan miokard dan iskemia miokard. Pada akhirnya performa ventrikel kiri akan tergangu akibat dari asinkroni gerak dinding ventrikel dan after load mismatch. Gradien trans-valvular menurun, tekanan arteri pulmonalis dan atrium kiri meningkat menyebabkan sesak nafas.Gejala yang mentolok adalah sinkope, iskemia sub-endokard yang menghasilkan angina dan berakhir dengan gagal miokard (gagal jantung kongestif). Angina timbul karena iskemia miokard akibat dari kebutuhan yang meningkat hipertrof ventrikel kiri, penurunan suplai oksigen akibat dari penurunan cadangan koroner, penurunan waktu perfusi miokard akibat dari tahanan katup aorta.

Sinkop umumnya timbul saat aktiftas karena ketidak mampuan jantung memenuhi peningkatan curah jantung saat aktiftas ditambah dengan reaksi penurunan resistensi perifer. Aritmia supra maupun ventricular, rangsangan baroreseptor karena peningkatan tekanan akhir diastolik dapat menimbulkan hipotensi dan sinkop.

Gangguan fungsi diastolic maupun sistolik ventrikel kiri dapat terjadi pada stenosis aorta yang dapat diidentifkasi dari pemeriksaan jasmani,foto toraks dan enongkatan Peptida Natriuretik. Hipertrof ventrikel akan menigkatkan kekakuan seluruh dinding jantung. Deposisi kolagen akan menambah kekauan miokard dan menyebabkan gisfungsi diastolik. Setelah penebalan miokard maksimal, maka wall stress tidak lagi dinormalisasi sehingga terjadi peninggian tekanan diastolic ventrikel kiri menghasilkan penurunan fraksi ejeksi dan penurunan curah jantung yang disebut sebagai disfungsi sistolik

D. Manifestasi klinis

Stenosis katup aorta dapat terjadi dari tahap ringan hingga berat. Tipe gejala dari stenosis katup aorta berkembang ketika penyempitan katup semakin parah. Regurgitasi katup aorta terjadi secara bertahap terkadang bahkan tanpa gejala hal ini dikarenakan jantung telah dapat mengkompensasi penurunan kondisi katup aorta. Berikut manifestasi klinis dari stenosis katup aorta :

(4)

Nyeri dada adalah gejala pertama pada sepertiga dari pasien-pasien dan akhirnya pada setengah dari pasien-pasien dengan aortic stenosis. Nyeri dada pada pasien-pasien dengan aortic stenosis adalah sama dengan nyeri dada (angina) yang dialami oleh pasien-pasien dengan penyakit arteri koroner (coronary artery disease). Pada keduanya dari kondisi-kondisi ini, nyeri digambarkan sebagai tekanan dibahwah tulang dada yang dicetuskan oleh pengerahan tenaga dan dihilangkan dengan beristirahat.

Pada pasien-pasien dengan penyakit arteri koroner, nyeri dada disebabkan oleh suplai darah yang tidak cukup ke otot-otot jantung karena arteri-arteri koroner yang menyempit. Pada pasien-pasien dengan aortic stenosis, nyeri dada seringkali terjadi tanpa segala penyempitan dari arteri-arteri koroner yang mendasarinya. Otot jantung yang menebal harus memompa melawan tekanan yang tinggi untuk mendorong darah melalui klep aortic yang menyempit. Ini meningkatkan permintaan oksigen otot jantung yang melebihi suplai yang dikirim dalam darah, menyebabkan nyeri dada (angina).

Ciri-ciri angina :

Biasanya penderita merasakan angina sebagai rasa tertekan atau rasa sakit di bawah tulang dada (sternum).

Nyeri juga bisa dirasakan di:

- Bahu kiri atau di lengan kiri sebelah dalam.

- Punggung

- Tenggorokan, rahang atau gigi

- Lengan kanan (kadang-kadang).

Banyak penderita yang menggambarkan perasaan ini sebagai rasa tidak nyaman dan bukan nyeri.

Yang khas adalah bahwa angina:

- dipicu oleh aktivitas fsik

- berlangsung tidak lebih dari beberapa menit

- akan menghilang jika penderita beristirahat.

Kadang penderita bisa meramalkan akan terjadinya angina setelah melakukan kegiatan tertentu.

Angina seringkali memburuk jika:

- aktivitas fsik dilakukan setelah makan

- cuaca dingin

- stres emosional

(5)

Pingsan (syncope) yang berhubungan dengan aortic stenosis biasanya dihubungkan dengan pengerahan tenaga atau kegembiraan. Kondisi-kondisi ini menyebabkan relaksasi (pengenduran) dari pembuluh-pembuluh darah tubuh (vasodilation), menurunkan tekanan darah. Pada aortic stenosis, jantung tidak mampu untuk meningkatkan hasil untuk mengkompensasi jatuhnya tekanan darah. Oleh karenanya, aliran darah ke otak berkurang, menyebabkan pingsan. Pingsan dapat juga terjadi ketika cardiac output berkurang oleh suatu denyut jantung yang tidak teratur (arrhythmia). Tanpa perawatan yang efektif, harapan hidup rata-rata adalah kurang dari tiga tahun setelah timbulnya nyeri dada atau gejala-gejala syncope.

3. Sesak napas

Sesak nafas dari gagal jantung adalah tanda yang paling tidak menyenangkan. Ia mencerminkan kegagalan otot jantung untuk mengkompensasi beban tekanan yang ekstrim dari aortic stenosis. Sesak napas disebabkan oleh tekanan yang meningkat pada pembuluh-pembuluh darah dari paru yang disebabkan oleh tekanan yang meningkat yang diperlukan untuk mengisi ventricle kiri. Awalnya, sesak napas terjadi hanya sewaktu aktivitas. Ketika penyakit berlanjut, sesak napas terjadi waktu istirahat. Pasien-pasien dapat menemukannya sulit untuk berbaring tanpa menjadi sesak napas (orthopnea). Tanpa perawatan, harapan hidup rata-rata setelah timbulnya gagal jantung yang disebabkan oleh aortic stenosis adalah antara 6 sampai 24 bulan.

E. Pemeriksaan Diagnostik 1. Electrocardiogram (EKG)

EKG adalah suatu perekaman dari aktivitas elektrik jantung. Pola-pola abnormal pada EKG dapat mencerminkan suatu otot jantung yang menebal dan menyarankan diagnosis dari aortic stenosis. Pada kejadian-kejadian yang jarang, kelainan konduksi elektrik dapat juga terlihat.

2. Chest x-ray

Chest x-ray (x-ray dada) biasanya menunjukan suatu bayangan jantung yang normal. Aorta diatas klep aortic seringkali membesar. Jika gagal jantung hadir, cairan di jaringan paru

dan pembuluh-pembuluh darah yang lebih besar di daerah-daerah paru bagian atas seringkali terlihat.

(6)

Echocardiography menggunakan gelombang-gelombang ultrasound untuk memperoleh gambar-gambar (images) dari ruang-ruang jantung, klep-klep, dan struktur-struktur yang mengelilinginya. Ii adalah suatu alat non-invasive yang berguna, yang membantu dokter-dokter mendiagnosa penyakit klep aortic. Suatu echocardiogram dapat menunjukan suatu klep aortic yang menebal dan kalsifkasi yang membuka dengan buruk. Ia dapat juga menunjukan ukuran dan kefungsian dari ruang-ruang jantung. Suatu teknik yang disebut Doppler dapat digunakan untuk menentukan perbedaan tekanan pada setiap sisi dari klep aortic dan untuk menaksir area klep aortic.

4. Cardiac catheterization

Cardiac catheterization adalah standar emas dalam mengevaluasi aortic stenosis. Tabung-tabung plastik berongga yang kecil (catheters) dimasukan dibawah tuntunan x-ray ke klep aortic dan kedalam ventricle kiri. Bersama tekanan-tekanan diukur pada kedua sisi dari klep aortic. Kecepatan dari aliran darah diseluruh klep aortic dapat juga diukur menggunakan suatu kateter khusus.

F. Penatalaksanaan

Tidak ada pengobatan medikamentosa untuk Stenosis Aorta asimtomatik, tetapi begitu timbul gejala seperti sinkop, angina atau gagal jantung segera harus dilakukan operasi katup, tergantung pada kemampuan dokter bedah jantung. Dapat dilakukan reparasi(repair) atau replace(mengganti katup dengan katup artifcial). Penderita asimtomatik perlu dirujuk untuk pemeriksaan Doppler-Ekokardiograf. Trans-valvular velocity lebih dari 4m/detik dianjurkan untuk menjalani operasi. Selama katup aorta masih dalam tingkatan perkembangan, sulit memberikan nasihat operasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Komisurotomi sederhana biasanya kurang menolong.

Penyempitan katup bawaan begitu keras, sehingga dengan melebarkan saja tidak dapat diharapkan hasil yang memuaskan. Penggantian katup harus dipertimbangkan. Disinilah letak kesukarannya untuk penggantian katup dengan profesa masih sangat mengerikan. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa indikasi operasi pada anak dan remaja jika terdapat perbedaan tekanan lebih dari 70 mmHg pada katup yang menyempit. Dari pihak lain tantangan terhadp anggapan tersebut bahwa stenosis aorta membahayakan kehidupan.

(7)

menentukan sikap pada kelainan stenosis subvalvular dari pada membran murni, yaitu dengan membelah membran diperoleh hasil optimal. Lebih sukar lagi dari pada stenosis supavalvular yang mortalitas tinggi.

Sekarang terdapat teknik baru, yakni melebarkan daerah yang menyempit dengan kateter yang dilengkapi dengan balon. Cara ini dilaporkan cukup efektif, meskipun kemungkinan terjadinya penyempitan kembali sering.

Berikut bebearpa cara penatalaksanaan yang dapat dilakukan antara lain: 1. Teknik nonsurgical (tanpa tindakan operatif)

2. Balloon Valvuloplasty (valvulotomy).

Seringnya tindakan yang bertujuan untuk membenarkan kembali katup tanpa menggantinya merupakan tindakan yang paling sering digunakan. Balloon valvuloplasty dilakukan dengan kateter tipis dan lembut yang ujungnya diberi balon yang dapat dikembangkan ketika mencapai katup. Balon yang mengembang tersebut akan menekan katup yang menyempit sehingga dapat terbuka kembali dan memungkinkan darah dapat mengalir dengan normal kembali. Balon valvuloplasty merupakan salah satu cara untuk menyembuhkan stenosis katup aorta beserta manifestasi klinis yang timbul karenanya terutama efektif pada infant dan anak-anak. Bagaimanapun juga pada dewasa metode ini tidak selalu berhasil karena stenosis dapat muncul kembali setelah dilakukan balon valvuloplasty. Oleh karena alasan di atas, untuk penyembuhan stenosis katup aorta pada dewasa jarang dilakukan balon valvuloplasty terkecuali pada klien yang tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi penggantian katup atau valvuloplasty.

1. Percutaneous aortic valve replacement.

Percutaneous aortic valve replacement atau Penempatan kembali katup aorta percutan merupakan penatalaksanaan yang tersering yang dilakukan pada klien dengan stenosis katup aorta. Pendekatan terbaru dengan metode ini memungkinkan untuk melakukan metode ini dengan menggunakan kateter. Metode ini dilakukan jika terjadi pada klien dengan resiko tinggi timbulnya komplikasi dari stenosis katup aorta. Pembedahan katup aorta dilakukan dengan beberapa metode antara lain :

a. Penempatan kembali katup aorta.

(8)

menyebabkan resiko penggumpalan darah pada katup atau daerah yang dekat dengan katup. Oleh karena itu untuk mengatasinya klien harus mengkonsumsi obat anti koagulan seperti warfarin (caumadin) seumur hidup untuk untuk mencegah penggumpalan darah. Sedangkan penggantian dengan katup jaringan ini dapat diambil dari babi, sapi atau berasal dari cadaver manusia. Tipe lainnya menggunakan jaringan katup yang berasal dari katup pulmonary klien itu sendiri jika dimungkinkan. b. Valvuloplasty.

Dalam kasus yang jarang ditemui penggunaan metode valvuloplasty lebih baik untuk dilakukan daripada penggunaan metode balon valvuloplasty. Seperti pada bayi yang baru lahir yang mengalami kelainan dimana daun katup aorta menyatu. Dengan menggunakan cara

operasi bedah cardiac pada katup aorta untuk memisahkan daun katup yang menyatu dan meningkatkan kembali aliran darah yang melewati katup. Atau cara lain dengan memperbaiki katup yaitu menghilangkan kalsium berlebih yang terdapat pada daerah sekitar katup.

G. Komplikasi 1. Gagal jantung

2. Hipertensi sisitemik

3. Nyeri dada (angina pectoris) 4. Sesak nafas

H. Prognosis

(9)

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN Konsep Keperawatan

A. Pengkajian 1. Anamnesa a. Identitas klien b. Keluhan Utama

c. Riwayat Penyakit Sekarang 1) Riwayat Kesehatan Masa Lalu 2) Riwayat Penyakit Keluarga 2. Observasi

a. Keadaan umum b. Tanda-tanda vital 3. Pemeriksaan Persistem

 B1 (Breathing)

Terjadi perubahan pernapasan, takipnoe, pernapasan dangkal.  B2 (Blood)

Ada perubahan denyut nadi, takikardia.  B3 (Brain)

Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang. Klien nampak gelisah.

 B4 (Bladder) Retensi urine  B5 (Bowel)

Normal  B6 (Bone)

Normal

B. Diagnosa keperawatan

1. Nyeri dada behubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah ke miokardium akibat sekunder dari aliran darah yang menurun pada arteri koroner.

(10)

3. Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan cardiac output sekunder.

4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan peningkatan retensi cairan dan natrium oleh ginjal.

5. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan supplay oksigen dan kebutuhan oksigen jaringan.

6. Ansietas berhubungan dengan prognosa penyakit jantung

C. Rencana Keperawatan

NO

DX.

aliran darah yang menurun pada arteri koroner. Factor Berhubungan dengan:

 Agens cedera mis.

Biologis, zat kimia, fisik, psikologis

Batasan karakteristik:

 Perubahan selera

makan

 Perubahan tekanan darah

 Perubahan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …….x 24 jam nyeri akut teratasi, dengan Kriteria hasil :

 Pain level

 Lakukan pengkajian nyeri

secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan factor presipitasi

 Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan  Gunakan tehnik komunikasi

terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien  Kaji kultur yang

mempengaruhi respon nyeri  Evaluasi pengalaman nyeri

masa lampau

 Evaluasi bersama klien dan

(11)

frekuensi jantung

 Indikasi nyeri yang

dapat diamati  Perubahan posisi

untuk menghindari

 Melaporkan nyeri secara verbal

manajemen nyeri  Mampu

mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri)

 Menyatakan rasa

nyaman setelah nyeri berkurang

 Tanda vital dalam

rentang normal

untuk mencari dan menemukan dukungan  Kontrol lingkungan yang

dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan  Kurangi factor presipitasi

nyeri

 Pilih dan lakukan

penanganan nyeri (farmakologi , non farmakologi dan interpersonal)

 Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi  Ajarkan tentang tehnik non

farmakologi

 Berikan analgetik untuk

mengurangi nyeri

 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

 Tingkatkan istirahat

 Kolaborasikan dengan dokter

 Analgesic administration

 Tentukan lokasi ,

karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum pemberian obat

 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan

frekuensi

(12)

 Beri analgetik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesic ketika pemberian lebih dari 1  Tentukan pilihan analgesic

tergantung tipe dan beratnya nyeri

 Tentukan analgesic pilihan ,

rute pemberian dan dosis optimal

 Pilih rute pemberian secara IV, IM, untuk pengobatan nyeri secara teratur

 Monitor vital sign sebelum

dan sesudah pemberian analgesic pertama kali  Berikan analgesic tepat

waktu terutama saat nyeri hebat

Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

2.Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveoli dan retensi cairan interstitial akibat sekunder dari edema paru:

 Kelelahan otot pernafasan

NOC:

 Respiratory status : Ventilation

 Respiratory status : Airway patency

 Vital sign Status

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama pasien menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:

 Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan

(13)

 Hipoventilasi sindrom

 Injuri tulang belakang

DS:

 Dyspnea  Nafas pendek DO:

 Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi  Penurunan pertukaran

udara per menit  Menggunakan otot

pernafasan tambahan  Orthopnea

 Pernafasan pursed-lip  Tahap ekspirasi

berlangsung sangat lama  Penurunan kapasitas

vital

 Respirasi: < 11 – 24 x / mnt

dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed lips)

 Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)  Tanda Tanda vital dalam

rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)

itor vital sign

(14)

Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan/

Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

3.Perfusi jaringan kardiopulmonal tidak efektif b/d penurunan cardiac output

Prefusion : cardiac, periferal

 Vital Sign

Statusl

Setelah dilakukan asuhan selama ketidakefektifan perfusi jaringan

kardiopulmonal teratasi dengan kriteria hasil:

 Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan

 CVP dalam batas normal  Nadi perifer kuat dan

simetris

 Tidak ada oedem perifer dan asites

 Denyut jantung, AGD, ejeksi fraksi dalam batas normal

 Bunyi jantung abnormal tidak ada

 Nyeri dada tidak ada  Kelelahan yang ekstrim

tidak ada  Tidak ada

ortostatikhipertensi

NIC :

 Monitor nyeri dada (durasi, intensitas dan faktor-faktor

presipitasi)  Observasi

perubahan ECG  Auskultasi suara

jantung dan paru  Monitor irama dan

jumlah denyut jantung  Monitor angka PT,

PTT dan AT

 Monitor elektrolit (potassium dan magnesium)  Monitor status

cairan

 Evaluasi oedem perifer dan denyut nadi  Monitor

peningkatan kelelahan dan kecemasan

 Instruksikan pada pasien untuk tidak mengejan selama BAB  Jelaskan pembatasan

intake kafein, sodium, kolesterol dan lemak  Kelola pemberian obat-obat: analgesik, anti koagulan, nitrogliserin, vasodilator dan diuretik.

(15)

Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

4. Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan dengan

peningkatan retensi cairan dan natrium oleh ginjal.

:

 Mekanisme pengaturan melemah

 Asupan cairan berlebihan DO/DS :

 Berat badan meningkat pada waktu yang singkat  Asupan berlebihan

dibanding output

 Distensi vena jugularis  Perubahan pada pola

nafas, dyspnoe/sesak nafas, orthopnoe, suara nafas abnormal (Rales atau crakles), , pleural effusion  Oliguria, azotemia  Perubahan status mental,

kegelisahan, kecemasan

NOC :

 Electrolit and acid base balance volume cairan teratasi dengan kriteria:

 Terbebas dari edema, efusi, anaskara  Bunyi nafas bersih,

tidak ada

dyspneu/ortopneu  Terbebas dari

distensi vena jugularis,  Memelihara tekanan

vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung dan vital sign DBN

 Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau bingung

NIC :

 Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

 Pasang urin kateter jika diperlukan

 Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin )

 Monitor vital sign  Monitor indikasi

retensi / kelebihan cairan (cracles, CVP , edema, distensi vena leher, asites)

 Kaji lokasi dan luas edema

 Monitor masukan makanan / cairan  Monitor status

nutrisi

 Berikan diuretik sesuai interuksi  Kolaborasi

pemberian obat  Monitor berat

badan

 Monitor elektrolit  Monitor tanda dan

gejala dari odema

Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

5.Intoleransi aktivitas

Berhubungan dengan ketidak seimbangan supplay oksigen dan kebutuhan oksigen jaringan.:

 Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas  Kaji adanya faktor

(16)

 Tirah Baring atau imobilisasi

 Kelemahan

menyeluruh

 Ketidakseimban gan antara suplei oksigen dengan kebutuhan

Gaya hidup yang dipertahankan. DS:

 Melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.

 Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.

DO :

 Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas

 Perubahan ECG : aritmia, iskemia

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. Pasien bertoleransi terhadap aktivitas dengan Kriteria Hasil :

 Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai

peningkatan tekanan darah, nadi dan RR  Mampu

melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri  Keseimbangan

aktivitas dan istirahat

kelelahan

 Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

 Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan

 Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat,

perubahan hemodinamik)  Monitor pola tidur dan

lamanya tidur/istirahat  Bantu klien untuk

mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

 Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan  Bantu untuk

mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek

 Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai  Bantu klien untuk

membuat jadwal latihan diwaktu luang

(17)

beraktivitas

 Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas

 Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

 Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual

Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

6.Ansietas

 Berfokus pada diri sendiri

TD, denyut nadi, RR

 Kesulitan

NOC :

 Kontrol kecemasan  Koping

Setelah dilakukan asuhan selama klien kecemasan teratasi dgn kriteria hasil: menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas

 Vital sign dalam batas normal  Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya  Nyatakan dengan

jelas harapan terhadap pelaku pasien

 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

 Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut  Berikan informasi

faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis

 Libatkan keluarga untuk mendampingi klien

 Instruksikan pada pasien untuk

menggunakan tehnik relaksasi

(18)

bernafas  Bingung  Bloking dalam

pembicaraan  Sulit

berkonsentrasi

 Identifikasi tingkat kecemasan

 Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan

kecemasan

 Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika.

Anonymousa. 2010

.http://www.infokedokteran.com/article/Stenosis-aorta.html. diakses tanggal 22, Nopember 2010.

Anonymousb. 2010.

http://aslikoe.blogspot.com/2009/09/stenosis-katup-aorta.html. diakses tanggal 22, Nopember 2010.

Anonymousc. 2010. http://askep-anak-stenosis-katup-aorta-aortic_25.html.

diakses tanggal 22, Nopember 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa Administrasi Penyusunan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Bupati Karanganyar menggunakan berbagai

Dari Tabel 4.4 dapat dilihat dari 25 data yang di ujikan hanya ada 1 data yang tidak cocok dengan identifikasi program yaitu, pada data ke-17 yang seharusnya adalah kelainan

1639/DJU/SK/OT01.1/9/2015 untuk melalukan penilaian dan penjaminan mutu pada pengadilan negeri dan pengadilan tinggi seluruh Indonesia sesuai standar sertifikasi

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatifpendekatan fenomenologis. yang berlokasi di SMP Negeri 2 Salatiga. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi yang berjudul “Perbandingan Kadar Karbon Monoksida (CO)

Sistem pendukung keputusan telah berhasil dirancang menggunakan algoritma C4.5 dengan pengembangan metode RGFDT( Rule Generation From the Decision Tree )untuk

• Jumlah K/L terkait dan Pemda yang difasilitasi untuk memiliki profil gender bidang politik dan pengambilan keputusan. • Jumlah dokumen profil gender bidang politik dan