BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada era yang sudah modern ini,banyak remaja yang salah dalam
kehidupannya, termasuk cara berpakaian. Apalagi para remaja yang sudah masuk ke
sekolah menengah atas, pasti pergaulannya akan tambah luas,dan banyak hal negatif pula yang masuk dalam kehidupan remaja. Biasanya para anak laki-laki mengubah cara berpakaiannya di sekolah dengan mengeluarkan baju dan memakai celana yang di
kecilkan, dan bagi para anak perempuan mereka mengenakan baju ketat dan rok gantung yang pasti, dapat mengundang hal negative bagi orang yang melihatnya, entah
berfikir bahwa anak itu nakal, tidak baik,mempunyai pergaulan yang bebas, dan hal negative lainnya. Selain itu kaum hawa yang biasanya memakai pakaian yang tidak sopan, pastilah akan membuat kaum adam tergoda, apalagi ini di lingkungan sekolah.
Ya, tentu sangat berpengaruh, selain dalam proses belajar mengajar, akan berpengaruh pada psikologi anak tersebut dan psikologi orang lain.
Tak jarang remaja putra maupun putri yang tidak jera akan peraturan sekolah yang merekalanggar. Mereka terus melakukan hal buruk tersebut walaupun mereka tau itu tidak boleh di lakukan, apalagi di sekolah. Terkadang teguran bahkan hukuman
Selain mengganggu psikologi dari anak tersebut, itu akan merusak moral dari anak itu
sendiri.Mereka akan berubah pola fikirnya dari moralnya yang sudah rusak.
Bahkan mungkin mereka tidak peduli apa yang mereka perbuat adalah sebuah
kesalahan yang dapat berpengaruh terhadap orang lain juga.
B. Rumusan Masalah
Mengapa murid-murid SMA memodifikasi pakaian mereka menjadi pakaian
yang melanggar peraturan sekolah?
Apa dampak dari perilaku siswa memodifikasi pakaian mereka menjadi
pakaian yang melanggar aturan sekolah
Bagaiman cara mengatasi masalah modifikasi pakaian seragam sekolah agar
tidak melanggar peraturan sekolah?
C.Batasan Masalah
Dari penelitian masalah tersebut masalah ini hanya di batasi untuk masalah berpakaian murid-murid SMA selama di dalamsekolah.Adapunsiswa yang kami
D. Tujuan
1.TujuanKhusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk memenuhi standar kopetensi
dasar menulis karya ilmiah di kelas XI untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) pada mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia
2.Tujuan umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa murid-murid cenderung memodifikasi pakaian mereka menjadi pakaian yang di larang pihak
sekolah dan untuk mengetahui dampak dari perilaku siswa yang memodifikasi pakaiannya menjadi pakaian yang melanggar aturan sekolah
E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini bagi siswa adalah untuk kita dapat mengetahui
dampak mode pakaian di masyarakat dengan cara berpakaian murid-murid
SMA di sekolah
Manfaat bagi pembaca adalah pembaca dapat mengetahui cara berpakaian para
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Sekolah sebagai pendidikan formal
Sekolah sebagai pendidikan formal tentu memiliki peraturan dan tata tertib yang harus di taati oleh seluruh murid murid sekolah tersebut termasuk peraturan dalam pemakaian seragam yang ideal menurut sekolah . Dalam kasus ini sekolah biasanya memberikan sanksi ataupun
teguran bagi siswa yang melakukan pelanggaran tersebut . Namun masih banyak anak yang serus saja melanggar aturan ini , padahal aturan ini tentu saja berguna dan berpengaruh bagi
masing – masing anak . Kebiasaan yang tidak baik ini terus di langgar murid laki-laki maupun perempuan , tidak hanya teman sebaya mereka yang salah pola fikir namun juga guru guru di dalam sekolah tersebut , sehingga semakin banyak peraturan yang di kembangkan . Mungkin
pemimpin sekolah juga yang terlalu mengikat dan membuat siswa-siswi dalam sekolah tersebut semakin merajalela dengan perbuatan mereka yang menyimpang dari aturan sekolah .
Sekolah sebagai pendidikan formal memiliki aturan yang tegas dan mengikat di dalamnya , tentunya memiliki keterkaitan atau ada hubungannya dalam proses belajar mengajar , nah hal seperti ini perlu dipertanyakan , sekolah formal biasanya memiliki aturan yang formal pula
dan dapat diterima oleh akal sehat . Namun banyak halnya aturan sekolah formal yang tidak logika dan tidak dapat di terima oleh akal sehat . Ini mungkin sangat menggangu sekali ,
aturan yang mengikat bukan ketat . Dan bagi para siswa-siswi seharusnya tau sekolah adalah tempat yang mengajarkan mereka berbagai hal positif , dan seharusnya pula para siswa-siswi itu mengikuti semua kewajiban-kewajiban mereka selama belajar mengajar berlangsung ,
karna mungkin pendidikan formal ini sangat penting bagi masa depan mereka .
B . Aturan Seragam Sekolah
Seragam sekolah adalah identitas seorang siswa bahwa dia adalah murid sekolah dari
sekolah tertentu . Aturan seragam sekolah biasanya berupa larangan untuk siswa yang memakai seragam yang tidak sopan dan tidak sesuai pada aturan yang telah di tetapkan .
Seragam sekolah yang baik harus sepadan dengan murid lainnya dan pastinya tidak
melanggar norma dan agama . Pada masa yang sudah modern ini , tak heran sekarang banyak yang berkembang salah satunya busana dan fashion . Busana dan fashion terkini sudah
berkembang pesat di semua tingkatan usia , khususnya bagi pelajar . Mereka kini bukan hanya memodifikasi busananya di tempat umum atau di luar sekolah , akan tetapi saat di dalam
sekolah pun seperti itu . Banyak hal yang mereka lakukan agar lebih terlihat trendy dan gaya . Hal itu tidak dilakukan hanya 1 atau 2 orang saja , akan tetapi lebih banyak , karena mereka mencontoh teman temannya agar mereka tidak kalah dan terlihat modis . Hal ini bukan hanya
saja dilakukan oleh anak perempuan , akan tetapi anak laki-laki juga mengikutinya , dengan alasan supaya dapat terlihat gaya bagi kaum hawa .
kali akan mendapat surat peringatan , keempat kali akan mendapatkan sanksi / skors . Banyak hal-hal yang telah di lakukan oleh badan sekolah dalam kasus ini , diantaranya
mengembangkan aturan-aturan baru , teguran dan saksi yang berat dan juga pencerahan akan
dampak dari penyimpangan seragam sekolah . Tak jera-jera pula kepala sekolah dan guru telah memperingatkan , aturan berseragam sekolah . Tak sedikit pula murid yang makin
menyalahi aturan .
Kesimpulannya aturan-aturan tersebut tidak akan merubah murid-murid , apabila pola fikir murid-murid tersebut tidak dapat ia rubah dengan sendiri .
C. Modifikasi Mode Seragam Sekolah .
Modifikasi seragam sekolah , pastinya anda tidak heran lagi karna sejak dahulu telah banyak dilakukan oleh siswa-siswi , mulai SD , SMP , dan SMA . Kebanyakan anak remaja
sekarang menganggap ini hal kecil dan tidak berpengaruh besar , akan tetapi jika kita lihat kedalam . Modifikasi seragam sekolah yang biasa dilakukan murid ini berpengaruh akan
moral , pola fikir , dam pembelajaran .
Kebiasaan memodifikasi seragam sekolah ini harus ditanggapi secara serius , karna bukannya siswa di didik disekolah menjadi manusia yang bermorla malah bisa jadi lubang
hitam bagi anak tersebut . Memodifikasi seragam sekolah banyak cara dan macam-macamnya , ada yang hanya mengecilkan baju atau celana saja , ada yang memodifikasi nya sampah
hal yang dapat kita lihat dari permasalahan ini , tetapi kita juga perlu tau , semakin lama zaman semakin modern , pastilah hal seperti ini sudah tidak tabu lagi .
Mungkin kebiasaan memodifikasi seragam sekolah ini dapat kita hindarkan pada
generasi selanjutnya , dengan cara penyuluhan , menambah ketebalan moral , menghentikan ajakan hal ini , dan banyak hal lainnya . Itu sangat perlu dilakukan karna jika tidak ,
permasalahan yang tadinya sepele menjadi permasalahan besar , dan jika dibiarkan terus menerus pasti akan membengkak dan banyak generasi yang salah menanggapinya .
Memodifikasi pakaian sah saja apabila dilakukan di tempat umum dan tidak di perkenankan
di terapkan di sekolah , karena kita tau sekolah adalah tempat belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan sekolah adalah sarana pendidikan formal yang tidak boleh di nodai .
D. Dampak Mode Seragam Sekolah
Banyak hal hal negatif yang kita temui dalam penyimpangan penggunaan seragam sekolah . Salah satunya dalam pembelajaran di sekolah , psikologis orang berbeda beda dan
jika ada salah satu murid sekolah yang melakukan penyimpangan ini pastilah berpengaruh besar karena murid lainnya akan meniru , atau bahkan berprasangka buruk .
Dan bagi yang melakukannya tentunya murid tersebut di anggap nakal , brandal , bodoh dan
anarkis .Dan akhirnya juga pasti mempengaruhi psikologis murid tersebut , mungkin dia akan menjadi pribadi yang pesimis , penyendiri bahkan anarkis , pergaulannya pun akan menjadi
luas dan bebas .
tersebut melakukan penyimpangan ini , otomatis moralnya akan gagah bahkan hancur , mungkin dia tidak memperdulikan agama , orangtua , keluarga , temannya dan bisa kemungkinan dia melupakan tuhannya karena rendahnya moral agama yang dia muliki .
Selain itu masih banyak dampak lainnya dalam mode berseragam sekolah .
Mengingat:
1.Pasal 31 ayat 2 Pasal 32 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.
2.keputusan PR No.IV/MPR/1973 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara.
Bab IV huruf D mengenai bidang pendidikan , ilmu pengetahuan, Teknologi dan Pembinaan Generasi Muda.
3.Keputusan Direktur pembinaan kesiswaan direktorat Jendral Dasar dan menengah No.0642/ CB/D/82, tentang petunjuk pelaksanaan pakaian seragam sekolah.
4.keputusan Direktur Jendral pendidikan Dasar dan menengah Departemen pendidikan dan
kebudayaan No.100/kep/D/1991 tentang pedoman pakaian seragam sekolah.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Sebagai berikut :
BAB I
ARTI DAN TUJUAN
Pasal 1
Mendidik para siswa kearah pendidikan pribadi yang mandiri guna persiapan hidup dalam
masyarakat,agar dapat menjadi orang yang berguna bagi Nusa Dan Bangsa.
Pasal 2
Menanamkan kesadaran hidup berdisiplin, teratur dan bertanggung jawab.
Pasal 3
Menciptakan suasana ketenangan belajar di sekolah, sehingga mempelancar jalannya kegiatan
belajar mengajar siswa dalam mencapai tujuan.
BAB II
KEWAJIBAN UMUM
Pasal 4
Setiap siswa wajib dan tunduk kepada semua peraturan sekolah, rajin berkemauan kuat,
berkepribadian dan berdipslin.
Pasal 5
karyawan SMA N 4 Balikpapan dan siapapun, dengan tidak meninggalkan norma-norma kesopanan, kesusilaan dan kepribadian bangsa Indonesia.
Pasal 6
Setiap siswa berlaku sopan-santun dan ramah tamah terhadap siapapun dan dimanapun juga, sesuai dengan norma-norma berlaku, norma-norma Agama, kesopanan, kesusilaan dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang dimiliki :
a. Rasa kesatuan dan persatuan , kejujuran dan kesetian.
b. Sifat suka menolong, sabar dan tanggap dalam segala situasi.
Pasal 7
Setiap siswa wajib ikut serta membantu terlaksananya ketertiban, kebersiahan, kesopanan,
ketenangan dan keamanan sekolah, dan khususnya di kelas masing-masing. Demi lancarnya pelajaran.
BAB III
KEWAJIBAN KHUSUS
Pasal 8
Setiap siswa wajib mengikuti semua pelajaran pada jam-jam yang telah ditentukan oleh sekolah dari awal sampai akhir tanpa terlambat, tanpa absen, kesuali keadaan yang terpaksa, dan wajib mengikuti semua kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah, baik di dalam
Pasal 9
Setelah ada tanda masuk (lonceng) , para siswa harus segera masuk kelasnya masing-masing.
Pasal 10
Selama pelajaran berlangsung, siswa dilarang ada di luar kelas, mondar mandir atau mengganggu kelas lainnya.
Pasal 11
Pada waktu istirahat/tidak ada pelajaran, siswa dilarang meninggalkan sekolah tanpa ijin. Apabila karena sesuatu hal terpaksa harus meninggalkan sekolah sebelum waktunya, siswa
harus minta ijin kepada guru yang mengajar, kepala sekolah atau guru piket.
Pasal 12
Apabila karena sesuatu hal tidak masuk sekolah, maka selambat-lambatnya pada saat pertama masuk sekolah kembali, siswa wajib membawa surat keterangan dari orang tua/wali tentang sebab-sebab tidak masuk sekolah, yang ditujukan kepada kepala sekolah/wali kelas/guru
bimbingan dan penyuluhan.
Bila sakitnya lebih dari 2 (dua) hari harus di sertai surat keterangan dokter
Pasal 13
Pasal 14
Setiap siswa wajib mengikuti upacara bendera di sekolah, dan upacara bersama di luar sekolah, dan wajib menjaga agar pelaksanaan upacara bendera tersebut berlangsung dengan
tertib. Khitmat dan lancar.
Pasal 15
1. Setiap siswa adalah anggota OSIS SMA Negeri 4 Balikpapan.
2. Setiap siswa, sesuai dengan minat masing-masing wajib mengikuti salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang di selenggarakan oleh sekolah.
Pasal 16
Pengurus kelas wajib membantu dalam mencukupi segala sesuatu yang diperlukan oleh
kelasnya, agar kelancaran jalannya pelajaran lebih terjamin.
Pengurus kelas bertanggung jawab atas keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan dan ketenangan dalam kelasnya.
BAB IV. PAKAIAN
Pasal 17
siswa puteri dianjurkan tidak memakai perhiasan. Siswa putera di larang mengenakan kalung dan tidak bergelang wanita atau apapun yang beridentitaskan seorang wanita.
Pasal 18
Setiap siswa wajib memakai pakaian seragam sekolah dengan badge SMA Negeri 4 Balikpapan pada saku kemeja/blus kanan dengan jarak 2 cm dari jahitan bahu, yang
dipakai setiap hari belajar di sekolah, kecuali hari jum’at dan bukan hari-hari besar Nasional atau Upacara-Upacara tertentu dan ketentuan :
1. Untuk setiap hari belajar di sekolah :
a. Kemeja/blus berwarna putih polos, ber-bedge dan lokasi sekolah. b. Celana / rok berwarna abu-abu.
2. Untuk hari jum’at yang bukan hari besar Nasional atau upacara-upacara tertentu, siswa di perbolehkan mengenakan :
a.kemeja batik yang telah ditentukan.
b.celana / rok warna putih.
3. siswa putri yang karena keyakinan pribadinya menghendaki penggunaan pakaian
seragam sekolah yang khas, dapat menggunakan pakaian seragam khas, yang warna dan rancangannya sesuai dengan lampiran IV SK Dirjen Dikdasmen Depdikbud No.100/C/Kep/D/ 1991.
Dirjen, Dikdasmen Depdikbud No. 100/C/Kep/D/1991 Bab V Pasal 10 ayat (2).
pasal 19
pakaian untuk pendidikan olahraga ialah seragam olahraga yang ditetapkan, memakai
badge SMA Negeri 4 Balikpapan.
Pasal 20
Waktu mengikuti pelajaran intrakulikuler, kegiatan ekstrakulikuler dan pratikum.
a. Siswa tidak mengenakan badge/lencana lain badge SMA N 4 Balikpapan
b. Siswa tidak berpeci atau tertutup kepala kain yang tidak sesuai dengan keputusan
Direktur Pembinaan Kesiswaan Direktorat Jendral Dasar dan Menengah No. 0642/CB/ D/82.
Pasal 21
Bersekolah atau datang ke sekolah pada jam kerja, setiap siswa harus berpakaian seragam sekolah, bersepatu dan berkaos kaki.
BAB V
LARANGAN-LARANGAN
Pasal 22
Mencoret-coret atau menullis dip agar, dinding, WC, dan membuang sampah sembarangan, serta merusak tanaman di lingkungan sekolah.
Pasal 23
Mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan.
Pasal 24
Menghapus, mengambil, merobek, mengubah pengumuman-pengumuman sekolah dan barang-barang milik sekolah dan lain sebagianya.
Pasal 25
Mengotori ruangan, meja-kursi, tembok, halaman sekolah dengan cara apapun.
Pasal 26
Membawa, menunjukkan dan mengedarkan photo atau gambar porno, serta membawa rokok atau merokok dan membawa atau minum-minuman keras, membawa, mengedarkan dan atau
mengkonsumsi ! NARKOBA atau obat-obatan terlarang lainnya di dalam atau di luar komplek sekolah.
Pasal 27
BAB VI
SANGSI
Pasal 28
Terhadap setiap pelanggaran tata-tertib dan peraturan sekolah akan diambil tindakan.
1. Peringatan secara lisan, langsung kepada siswa.
2. Peringatan secara tertulis kepada siswa dengan tembusan kepada orang tua siswa. 3. Tidak boleh mengikuti pelajaran untuk sementara.
4. Dikeluarkan dari sekolah.
BAB VII PENUTUP
Pasal 29
Hal-hal yang belum tercantum dalam peraturan tata-tertib ini akan diatur lebih lanjut dalam peraturan tersendiri.
Pasal 30
Apabila di perlukan, kepala sekolah masih dapat mengambil keputusan terhadap
hal-hal yang belum tercantum dalam peraturan tata-tertib ini.
Penjelasan
Umum
yang dicita-citakan oleh negara, masyarakat pendidik dan orang tua.
2. cara mempertahankan peraturan ini dilakukan dengan cara kekeluargaan dan kasih
sayang antara pendidik dalam fungsinya sebagai orangtua kedua dan anak-anak didiknya.
Dengan demikian akan timbul kesadaran dikalangan siswa menjunjung tinggi dan lebih menjaga nama baik sekolah.
3. Peraturan tata tertib ini hanya memuat garis-garis besarnya. Sedang yang menyangkut hal-hal lebih kecil dan lebih terperinci diatur dalam penjelasan pasal-pasalnya.
Pasal demi pasal
Pasal 1 sampai dengan 8 : sudah jelas
Pasal 9 sampai dengan 11 : sudah jelas
Pasal 12 dan 13 : guru bimbingan dan guru melaporkan data absensi / keterlambatan siswa kepada wali-wali kelas.
Pasal 14 samai dengan 16 : sudah jelas
Pasal 17 : sudah jelas
Pasal 18 :
1. Pakaian seragam siswa menengah kelas atas a. Seragam harian untuk putri, mengenakan :
pendek, memakai 1 (satu) saku tanpa tutup di sebelah kiri dada, warna : Putih polos, blus di pakai didalam rok.
- rok dengan 1 (satu) stoolplooi di sebelah depan, risliting di belakang, 2 saku
tersembunyi di samping kiri kanan. Dipinggang disediakan tempat ikat pinggang, panjang rok 5cm dibawah lutut ,warna abu-abu.
-ikat pinggang : lebar 2 – 3 cm ; warna hitam
-kaos kaki, pendek : warna putih. Sepatu model putri, bentuk rendah tertutup (dengan atau tanpa tali sepatu), tumit rendah ; warna hitam , bahan dari kain atau
kulit.
b. seragam upacara untuk putri, tambahan mengenakan :
-tutup kepala warna abu-abu dan putih.
- dasi warna abu-abu.
c. ketentuan bagian khas bagi siswa puteri polanya dapat dilihat pada lampiran /
gambar.
d. seragam harian untuk putra mengenakan :
- Baju, kemeja biasa kerah bentuk berdiri (staadekraag), 1 (satu) saku tanpa tutup di sebelah kiri dada ; warna ; putih polos ; kemeja dipakai di dalam celana.
- celana panjang model biasa tanpa lipatan (plooi) : panjang celana sampai mata kaki ; lebar
- ikat pinggang , lebar 3-4 cm ; warna hitam.
-kaos kaki pendek ; warna putih
Sepatu model putra bentuk rendah tertutup dengan tali sepatu ; warna hitam, bahan dari kulit
atau kain.
e. seragam upacara untuk putra tambahan mengenakan :
-topi , warna ; abu-abu dan putih
- dasi warna abu-abu
F, bahan pakaian seragam harian / upacara :
- Untuk kemeja / blus : bahan ditentukan oleh sekolah
- Untuk celana / rok : bahan di tentukan oleh sekolah.
2. Untuk putri
a. Rok, tidak terlalu pendek / mini serta sempit.
b. Bagian atas warna putih polos
c. Bagian bawah bebas : panjang rok 5 cm di bawah lutut
d. Berseatu, solpendek : bahan dari kain / kulit, dan berkaos kaki putih. 3. Untuk putra
a. Bagian atas warna putih olos dengan pedoman.
b. Celana panjang tidak kedodoran, atau bagian bawah tidak terlalu lebar, maksimum 25 cm.
Pasal 19: a. Putri : atas kaos blong (disediakan sekolah)
Bawah : atas kaos blong (disediakan sekolah)
b. Putra : atas kaos blong (disediakan disekolah)
Bawah : celaan pendek di atas.
Pasal 20 : sudah jelas
Pasal 21 : bertujuan untuk mendidik dan menanamkan kesadaran para siswa untuk
menghargai dan menghormati sekolah dengan cara berpakaian pantas, bersepatu dan berkaos kaki pada waktu sekolah atau datang / berurusan dengan sekolah pada jam kerja. Dengan
demikian para siswa akan di hargai dan di hormati juga.
Pasal 22 s/d 27 : sudah jelas
Pasal 28 : panjang rambut tidak boleh melampaui batas kraag (leher kemeja) bagian atas telinga harus kelihatan.
Pasal 29 : menghidupkan mesin kendaraan bermotor menyebabkan bising , gaduh dan
menmbulkan polusi.
Pasal 30 ; sudah jelas.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian kualitatif adalah riset yangbersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif
subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.
Sesuai dengan pengertian tersebut kami menganalisis data dengan menggunakan pendekatan induktif. Selain itu kami juga memberikan data-data yang
sesuai dengan landasan teori yang kami gunakan. Sehingga penelitian kami dapat menjadi penelitian yang benar dan tepat.
Dalam menganalisis dan mendeskripsikan mengenai dampak mode pakaiandi kalangan masyarakat terhapap cara berpakaian seragam siswa-siswi di sekolah, penelitian menggunakan landasan teori sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai
dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian serta bahan pembahasan hasil penelitian.
3.2 W.aktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan padatanggal 6 maret 2013 pada pukul 10.45-12.00
3.3 Populasi dan Sampel
1.Populasi
populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau keseluruhan unsur-unsur
yang memiliki satu atau beberapa ciri atau karakteristik yang sama. Dalam penelitian ini yang menjdi poplasi adalah seluruh siswa-siswi SMA N 4 BALIKPAPAN.
2.Sampel
Sampel merupakanbagian dari populasi yang ingin diteliti, dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap populasi, namun bukan populasi itu sendiri. Teknik yang
digunakan untuk memperoleh sampel adalah teknik purposif sampling yaitu pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang
diperlukan, karena itu, peneliti menetapkan bahwa sampel yang akan dipilih haruslah siswa-siswi SMAN 4 BALIKPAPAN yang memakai seragam yang telah dimodifikasi oleh para siswa-siswi itu sendiri. Hal itu dikarenakan asumsi peneliti bahwa sampel
tersebut merupakan subjek penelitian yang merasakan dampak dari perkembangan mode pakaian di masyarakat terhadap pemakaian seragam siswa-siswi di sekolah.
Sedangkan dalam memilih informan sebagai sampel, peneliti menggunakan teknik accidental sampling yang paa dasarnya memilih siapa saja baik siswa maupun siswi SMA 4 BALIKPAPAN yang kebetulan dijupai di dalam lingkungan SMA 4
untuk dijadikan sampel
3.4 Teknik Pengumpulan Data
pemberian angket. Peneliti akan memberikan pertanyaan berupa angket untuk
memperoleh informasi yang lebih mengenai sikap informan termasuk pemahaman serta interprestasi siswa-siswi terhadap dampak mode pakaian di masyarakat terhadap
pemakaian seragam sekolah siswa-siswi disekolah yang telah mereka modifikasi.
Sehingga diharapkan peneliti dapat memperoleh informasi maupun alasan yang sekiranya
terbuka dan jujur dengan tema yang tela dipilih peneliti. Berikut ini adalah data angket yang akan disebarkan kepada para sampel yang telah dipilih:
1. Apakah anda nyaman dengan seragam yang anda modifikasi? a. Nyaman
b. Biasa saja
2. Apakah anda mengikuti mengikuti mode yang berkembang pada modifikasi seragam sekolah anda?
a. Ya b. Tidak
3. Apakah memodifikasi seragam anda berpengaruh dengan ras percaya diri anda selama disekolah?
a. Ya b. Tidak juga c. Biasa saja
4. Apakah anda mengetahui bahwa modifikasi seragam anda merupakan pelanggaran tata tertib sekolah?
b. Tidak c. Tidak juga
5. Apakah alasan anda memodifikasi baju seragam sekolah? a. Ikut-ikutan teman
b. Mengikuti perkembangan mode c. Agar terlihat lebih percaya diri d. Ingin tampil beda
6. Apakah pengaruh mode pakaian di masyarakat global berdampak pula pada cara pemakaian seragam anda selama disekolah dan cara berpakaiana anda di luar sekolah. Seperti memakai baju dan celana yang lebih ketat, fashion mode korean,
dsb? a. Ya b. Tidak c. Biasa saja
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan cara menarasikan jawaban-jawaban dari penelitian yang di peroleh dari hasil interprestasi pemberian angket yang
ditetapkan. Setelah itu akan ditarik kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.
BAB IV PEMBAHASAN
SMA Negeri 4 Balikpapan atau yang lebih sering dikenal dengan nama SMAPA adalah sekolah Adiwiyata dan sekolah yang berkarakter bangsa.
Dari dulu hingga sekarang SMA 4 terus menjadi alasan orang menjuluki sekolah Adiwiyata karena sekolahnya yang terletak ditengah-tengah pohon rimbun dan tanaman tanaman lain yang menghiasi sekolah ini. SMA 4 juga sekolah berkarakter bangsa karena telah diterapkannya seragam tertutup bagi semua siswa dan kerudung bagi siswi muslim. SMA 4 juga setiap hari selalu dilakukannya doa bersama pada saat pagi hari sebelum kegiatan belajar mengajar dan siang hari sesudah kegiatan belajar mengajar.
Peraturan-peraturan ketat telah diterapkan disekolah ini, guna memperbaiki moral siswa karena perkembangan zaman yang banyak berpengaruh buruk bagi para siswa. Perkembangan zaman yang pesat telah berpengaruh banyak bagi siswa, dari mulai perkembangan teknologi sampai perkembangan fashion.
Seragam adalah hal yang penting dan wajib dikenakan setiap siswa di sekolah. Seragam juga sebagai simbol seorang anak telah mengenyam pendidikan yang layak. Karena itu seragam telah dibentuk sedemikian rupa agar nyaman digunakan bagi semua siswa, juga seragam itu sopan dan tidak melanggar nilai moral.
Setiap siswa memang diharuskan untuk mengenakan seragam yang tertutup. Akan tetapi, seiring perkembangan fashion yang banyak hal negatif, murid sekolah kini malah mengenakan seragam yang tidak seusai dengan nilai moral yang berlaku. Bahkan kini tak jarang kita lihat murid murid sekolah yang memodifikasi seragam sekolahnya. Memodifikasi seragam tidak dilarang jika ada batasan tertentunya dan tidak melanggar kaidah kaidah agama. Namun tak banyak siswa yang menyadari akan pentingnya peraturan berseragam.
1 Apakah anda nyaman dengan
3 Apakah memodifikasi seragam anda berpengaruh dengan rasa modifikasi seragam anda merupakan pelanggaran tata tertib? dan cara berpakaian anda di luar sekolah, seperti memakai baju dan celana yang lebih ketat, fashion mode korean, dsb
46% 28% 16%
B. Kesimpulan dari survei modifikasi seragam sekolah siswa-siswi
Berdasarkan data yang kami dapat, kesimpulan dari survei pengaruh mode pakaian masyarakat terhadap pemakain seragam sekolah di SMA Negeri 4 Balikpapan adalah:
1. Bahwa lebih dari 50% siswa nyaman saat mengenakan seragam yang mereka modifikasi
Perkembangan mode pakaian yang memang sudah menyebar luas di kalangan remaja, banyak di terapkan dan tak sedikit siswa-siswi sekolah yang memodifikasi pakaiannya, bukan hanya untuk mengikuti perkembangan jaman namun juga sengaja untuk merubah penamilan agar mereka terlihat lebih percaya diri.
Dan dari hasil yang kami peroleh ternyata lebih dari 50% siwa yang meodifikasi pakaiannya merasa nyaman saat mereka kenakan, dan sisanya tidak terlalu memikirkan kenyamanan.Dan lebih dari 60% siswa mengikuti mode perkembangan untuk memodifikasi pakaian seragam mereka, dan sisanya tidak mengikuti arus perkembangan mode.ternyata sebanyak 48% alasan siswa memodifikasi seragamnya karna untuk membuat mereka percaya diri, 28% siswa tidak memperdulikan rasa percaya dirinya setelah memodifikasi pakaian seragam sekolah mereka, dan 22% siswa tidak sepenuhnya percaya diri setelah memodifikasi pakaian seragam sekolahnya. Lebih dari 60% siswa ternyata mengetahui bahwa memodifikasi seragam sekolah adalah sebuah pelanggaran sekolah, dan sisanya ada yang tidak mengetahui sama sekali dan hanya sekedar tahu bahwa itu sebuah pelanggaran. Dan alasan siswa memodifikasi seragam sekolahnya terbanyak adalah karna mereka ingin terlihat lebih percaya diri dengan survei 51%, karna ikut-ikutan teman sebanyak 10%, 21% karna mengikuti perkembangan mode, dan 17% karna mereka ingin tampil beda. Dan pengaruh perkembangan mode pakaian di masrayakat, 46% berdampak pula pada mereka yang memodifikasi seragam sekkolah, 28% tidak berdampak bagi mereka, dan sisanya 16% tidak terlalu memikirkan dampak dari perkembangan mode pakaian di masrayakat pada mereka.
Ternyata memang banyak dari siswa-siswi sekarang yang meodifikasi seragam sekolahnya karna dilihat oleh teman-temanya dan itu merubah kepercayaan diri mereka, tapi mereka juga mengatahui bahwa memodifikasi seragam sekolah adalah sebuah pelanggaran.
Kesimpulan:
Dari hasil penelitian yang kami lakukan pada berbagai sampel maka kami
menyimpulkan bahwa alasan utama murid-murid memakai seragam sekolah yang melanggar aturan sekolah adalah agar lebih percaya diri. Sebagian murid sekolah tidak percaya diri
dengan penampilan mereka saat di sekolah karena merasa penampilannya tidak modis. Dengan demikian para murid yang tidak pecaya diri akan memodifikasi seragam mereka agar lebih percaya diri dengan penampilan mereka saat disekolah. Namun sebagian dari hasil
modifikasi murid-murid tersebut melanggar peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Hasil modifikasi seragam murid biasanya berupa baju yang ketat, rok yang gantung, dan
celana ketat dan hal ini bertentangan dengan aturan sekolah yang mengaharuskan siswa memakai baju yang longgar, rok panjang yang menutupi kaki siswi, serta celana panjang yang longgar.
Saran:
Sebaiknya pihak sekolah lebih sering melakukan razia seragam murid-murid. Razia tersebut di lakukan pada pagi hari didepan gerbang sekolah saat murid-murid datang ke sekolah serta sebelum kegiatan belajar mengajar di laksanakan. Bagi murid yang ketahuan