• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun dan Menggerakkan Petani Pertan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Membangun dan Menggerakkan Petani Pertan"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBANGUN DAN MENGGERAKKAN PETANI

PERTANIAN ORGANIK BERSIH

Disusun oleh: Purwandaru Widyasunu

(Fakultas Pertanian Unsoed, Laboratorium Tanah/Sumberdaya Lahan) (Peneliti dan Pemerhati Pengembangan Pertanian Bersih

dan Reklamasi Lahan Rusak)

04 Januari 2014

BAB I. PENDAHULUAN

Kegiatan pertanian dikembangkan di atas lahan pertanian seluruh dunia, termasuk di Negara kita Indonesia. Lahan akan selalu menjadi sumberdaya alam utama guna pemenuhan kebutuhan pangan dan sector/sub-sektor pertanian lainnya. Budidaya tanaman paling umum menggunakan sumberdaya tanah dengan variasinya di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Klasifikasi tanah menurut USDA mengunjuk ada 12 ordo tanah, di Indonesia terdapat 11 ordo dan hanya satu ordo yang sulit didapatkan yaitu Gleysols.

Tanah ada komponennya yaitu komponen biotik dan abiotik; biotiknya terdiri dari fauna, flora, dan mikroorganisme tanah, sedangkan komponen abiotiknya adalah bahan organik dan inorganik tanah. Bahan organik memegang peranan sentral terhadap kesuburan tanah (kualitatif dan kuantitatif), sehingga mengendalikan produktivitas tanah, vegetasi, dan tanaman pertanian. Komponen abiotik penting tanah tropika dapat dikelompokkan menjadi: (i) komponen gas 25 %, (ii) komponen air 25 %, (iii) komponen mineral 45 %, dan (iv) komponen bahan organik tanah 5 %. Melihat komponen tersebut maka tanah tropika harus diperbaiki, dipelihara, dan dilestarikan dengan pengelolaan (manajemen) bahan organik sampai 5 %; namun kenyataannya diperlukan jumlah s/d 600 ton pupuk kompos/ha untuk 5-6 tahun sehingga sulit dan tidak ekonomis untuk petani.

(2)

-nya. Bagaimana kegiatan mengelola/budidaya tanaman, yaitu benih/bibit unggul, pupuk, pengendalian OPT (pestisida/terpadu), hormon, irigasi, dan unsur-unsur iklim menjadi ramah lingkungan adalah menjadi tujuan utama pertanian organik bersih selain kesehatan konsumen, tanah, dan keanekaragaman hayati.

1.1. Pengertian Pengembangan Pertanian Organik

Pengertian umum pertanian adalah menanami tanah dengan tanaman yang harapannya akan diperoleh hasil tanaman. Caranya adalah dengan tatakelola terhadap lahan, agro-ekosistem, dan inputan oleh manusia. Budidaya tanaman dengan tatakelola inputan luar tinggi dapat dikategorikan budidaya modern atau konvensional produk dari revolusi hijau dengan tujuan hasil tinggi pada tanaman pangan dan pakan ternak. Sebaliknya pertanian dengan inputan luar rendah tentu saja memerlukan input dari lahan LOKAL yang tinggi (in-situ). Pertanian alami dan pertanian organik dapat masuk di dalamnya dengan syarat input produksi in-situ sangat tinggi atau semakin mendekati 100 %. Pertanian alami lebih didasarkan pada pengertian kekuatan alam untuk mampu mengatur pertumbuhan tanaman, jadi campur tangan manusia tidak diperlukan. Pertanian organik lebih didasarkan pada kebutuhan sistem dengan campurtangan manusia untuk memanfaatkan lahan dan berusaha meningkatkan hasil berdasarkan prinsip daur-ulang sesuai dengan kemampuan lokal (Sutanto, 2002).

(3)

2002). Perolehan produk tanaman yang tidak mengandung racun adalah tujuan mulia lainnya.

Kata organik berasal dari kata bahasa Inggris “organik” atau Yunani “organon” yang artinya organ (bagian tubuh) dari suatu makhluk hidup yaitu tanaman, hewan, dan manusia; lawannya adalah inorganik. Perkataan organik juga dapat disebut sebagai organis(me) (Inggris = organism) yang artinya adalah hidup karena adanya kerja bersama antar organ yang ada pada mahkluk tersebut. Hal tersebut bisa diartikan sebagai suatu sistem dimana kerja dari tiap-tiap organ yang ada adalah saling ketergantungan. Mengambil arti demikian maka pertanian organik adalah sistem budidaya tanaman memakai/mengandalkan input alam sangat tinggi atau input yang merupakan hasil kerja keras dari petani dan kelompok taninya untuk memperoleh produksi tanaman, ternak, dan ikan yang sehat (tidak toksik).

“Roh” atau “Visi-Misi” dari pertanian organik adalah sistem yang organik/organis meliputi kerja manusianya dan budidayanya. Manusianya adalah petani, pendamping, penyuluh, praktisi, dan penyelenggara infrastruktur dan suprastruktur. Budidayanya adalah proses atau kegiatan membudidayakan tanaman, ternak dan ikan meliputi cara perolehan input-organik dan sub input-input-organik in-situ.

Mengapa kita garis bawahi/tegaskan in-situ, karena asalnya dari lokasi atau bersifat lokalita. Oleh karena itu perlu kita catat dalam hati dan pikiran, dan tulisan, kemudian kita laksanakan dalam kehendak dan karsa kita bahwa Roh atau Visi-Misi pertanian organik adalah:

a. Berwawasan lingkungan, artinya alam jangan dirusak, kalau alam rusak maka penyelenggaraan pertanian organik berkewajiban memulihkan kerusakan alam (paling tidak ekosistem pertanian tingkat lokalnya).

b. Murah secara ekonomi, artinya petani jangan dibebani untuk selalu beli namun lebih didampingi dan diadvokasi untuk mampu dan mau memprodusi input sendiri dari kekayaan dan kekuatan lokal.

(4)

beli dan berdampak meragamkan keanekaragaman hayati. Kita harus berdoa dulu dalam setiap pekerjaan pertanian organik, karena kita

adalah milik Tuhan, dan makhluk hidup yang kita kelola pada lahan,

air, dan atmosfer adalah juga milik Tuhan semesta alam. Tuhan

adalah Tuan kita semua, Tuan dari alam semesta ini.

d. Berkeadilan sosial yang manusiawi, yaitu jangan merugikan petani, contohnya harga jual harus lebih tinggi dibandingkan jumlah biaya usahataninya.

Sub-sistem pertanian organik:

Sistem pertanian organik terdiri dari sub sistem: (i) sumberdaya alam, (ii) sumberdaya manusia, (iii) iptek, (iv) infrastruktur, (v) suprastruktur, (vi) pasca panen, dan (vii) pemasaran. Dengan demikian kalau kita berkehendak untuk mengembangkan pertanian organik berarti harus mengembangkan sub sistemnya. Sub sistem tersebutlah yang harus dikembangkan berasaskan roh atau visi-misi pertanian organik di atas. Sebelum mengembangkan pertanian organik, kita semua harus sadari bahwa sistem pertanian kita terutama komoditas tanaman penghasil pangan manusia dan pakan ternak sebagian besar masih berasaskan roh dan visi-misi sistem pertanian konvensional produk revolusi hijau. Dengan demikian harus kita lakukan proses transformasi iptek penyelenggaraan pertanian organik dan konversi lahan menjadi lahan pertanian organic bersih. Penyelenggaraan sistem yang memberdayakan petani dan berkaidah kelestarian ekosistem adalah sistem pertanian organik-biodinamik yang bersih.

1.2. Kondisi Faktual Sistem Pertanian: transformasi ke pertanian organik dan kesejarahan

(5)

yang tajam. Menghadapi kondisi perubahan iklim global tersebut, seluruh negara di planet bumi ini tidak akan kuat.

Menghadapi kondisi sub sistem pertanian di perempatan jalan, maka ada ilmu pengetahuan dan teknologi sistem pertanian yang saat ini bisa dianggap pendekatan terbaik yaitu merubah sistem menuju pertanian organik yang bio-dinamik yang bersih. Sistem tersebut memang ada kelemahannya namun banyak keunggulannya karena konsep bio-dinamik adalah membangun kembali sumber input dari biota yang beragam; biodiversitas pada lahan dan dalam tubuh tanah dibangun menghasilkan input in-situ. Membangun input in-situ adalah membangun kemandirian dan kedaulatan petani/kelompok tani/desa (sumberdaya lokal membangun kembali kearifan lokal). Input sistem tersebut adalah produk ekuilibria biodiversitas lahan berupa industri hayati yang mampu membangun kelestarian swasembada pangan asal tanaman, ternak dan ikan.

Penawaran perubahan sistem di atas adalah baik, tepat dan bisa dilaksanakan, namun karena petani dan agen pendampingan petani telah lama dilekati dengan efek instan pupuk kimia, pestisida, dan hormone pabrikan, maka akan menimbulkan dampak kemandegan sistem dalam penyelenggaraan pertanian organik (go organik-red.). Disamping itu revolusi hijau sejak tahun 1963 sampai sekarang berdampak negatif karena benih tanaman pangan sangat respon terhadap pupuk kimia dan hormon pabrikan. Padahal go organik memerlukan benih tanaman lokal yang respon

My notation (04-01-2014):

(6)

lokal); benih tanaman revolusi hijau tidak akan respon. Hal tersebut menjadikan go organik membutuhkan benih tanaman lokal yang harus dikuasai oleh petani dan pendampingnya (teknokrat/peneliti dan penyuluh pertanian).

Program go organik juga memerlukan reklamasi tanah dan lahan yang telah lama dipakai untuk pertanian revolusi hijau. Tanah perlu diperbaiki kerusakannya, lahan perlu dikembangkan pola poly biodiversitas, penyelamatan air tanah, penyelamatan sistem daur keenergian dan keharaan tanah, dan membangun sistem kendali sekuestrasi karbon dan thermal tanah. Kita juga telah kehilangan banyak sekali lahan pertanian terutama tanah sawah yang mempunyai kelas tanah usaha pertanian utama (beririgasi teknis dan setengah teknis). Hal itu akibat deras dan tidak terkendalinya konversi sawah menjadi perumahan, hotel, pertokoan, perkantoran, jalan raya, dan infrastruktur pengembangan perkotaan dan pedesaan (post modernisasi). Akibat dari konversi tersebut adalah pengurangan luasan produksi tanaman pangan terutama produk dari lahan sawah. Inti penyebabnya adalah pertumbuhan penduduk dan nilai hasil budidaya tanaman pangan tidak mampu untuk revolving usaha tani, menabung, dan investasi keluarga tani.

Penyelenggaraan pertanian organik harus mampu menyelamatkan kerawanan sosial, ekonomi dan budaya tersebut, disamping harapan hasil panen yang stabil setelah paling tidak tahun kedua-ketiga transformasi sistem; termasuk efisiensi dan efektivitas usaha tani.

Penyelenggaraan pertanian organik berarti melaksanakan program perubahan sistem pertanian konvensional (revolusi hijau) kepada/menjadi pertanian organik. Hal itu memerlukan pembaharuan sistem dari yang lama menjadi yang baru. Kalau kita melaksanakannya berarti kita melakukan reformasi pertanian yang tidak hanya tingkat kabupaten, namun adalah juga tingkat nasional.

Warning:

(7)

Go organik yang telah dicanangkan Pemerintah Pusat sejak tahun 2001, sampai tahun 2010 kemarin masih terseok-seok, bahkan sampai tahun ini. Penyebabnya adalah petani belum bisa menerima perubahan itu menyangkut ketersediaan input budidaya tanaman organik, teknologi yang belum dikuasai, kemalasan mengadakan keruahan material pembuatan pupuk organik dan keruahan pupuk organik yang harus dibawa ke lahan mereka, dan terakhir adalah tidak mau susah.

Kondisi revolusi hijau selama puluhan tahun telah lama menina-bobokkan penyuluh pertanian yang ter”cooptatie” oleh efek cespleng pupuk NPK, pestisida dan hormon kimia pabrikan. Petani telah lama diajari meninggalkan nilai luhur iptek pertanian nenek moyang Bangsa. Nilai luhur budidaya tanaman leluhur kita adalah mengelola dan membudidayakan tanaman secara organik-biodinamik bersih. Contohnya, sebelum menanam padi, sebelum tanah diolah ditumbuhkan dahulu tanaman orok-orok, tanah dibiarkan fase aerobic, baru diluku dan digaru, kemudian diairi sesuai dengan padi. Nilai kearifan IPTEK itu telah lama ditinggalkan oleh petani, penyuluh, sistem suprastruktur, kelembagaan pertanian, bahkan perguruan tinggi kita.

Melihat kondisi faktual seperti diuraikan di atas maka diperlukan langkah pikir, karsa, dan cipta kita dalam penyelenggaraan pertanian organik yang terlebih dahulu harus mengurusi sumberdaya manusianya meliputi peneliti dan pelatih transformasi iptek, penyuluh pertanian, dan petani. Kondisi SDM yang siap tersebut juga harus didukung oleh kesiapan dan kemampuan dukung dari Pemerintah Pusat dan Daerah, demikian pula kelembagaan penunjang lainnya meliputi LSM/Asosiasi Pertanian Organik, Kelompok Tani, Gapoktan dan Paguyuban Petani Organik.

Kelembagaan dan SOP keorganikan:

(8)

penyelenggaraan sistem pertanian organik yang baik, tepat, berdayaguna dan dapat dilakukan oleh pelaku di daerah. Semuanya itu memerlukan sistem transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi di dalamnya, berarti semua SDM Penyuluhan dan Pendampingan Pertanian harus mendapatkannya, meyakininya, menguasainya, dan mau melaksanakannya. Sekali lagi penyelenggaraan pertanian organik-biodinamik bersih adalah jawaban tepat, baik, diyakini dapat dilaksanakan, dan paling terhormat, manusiawi dan ekologis.

Prosedur standart tata laksana dan tata kelola (SOP) tentang penyelenggaraan pertanian organik merupakan suatu standart dasar (BS) yang bisa dipergunakan oleh berbagai pihak pemangku kepentingan berjalannya sistem pertanian organik pada suatu wilayah. Pengembangan pertanian organik untuk komoditas hortikultura juga masuk kesatuan standar tersebut.

(9)

BAB II. PENYELENGGARAAN PERTANIAN ORGANIK-

BIO-DINAMIK BERSIH

2.1. Rencana Strategis Go Organik

Penyelenggaraan sistem pertanian organik adalah kegiatan tata laksana dan tata kelola sistem produksi pertanian yang berasaskan daur-ulang secara hayati. Apabila penyelenggaraannya adalah untuk tanaman, maka definisinya adalah sistem produksi pertanaman yang berasaskan daur-ulang secara hayati. Salah satu konsep yang baik, rasional, dan mengandung kearifan lokal adalah sistem pertanian organik-biodinamik sehingga unsur-unsur daur-ulang organik IN-SITU adalah suatu syarat mutlak.

Konteks penyelenggaraan pertanian organik dapat mengandung arti menyelenggarakan sistem pertanian yang berkelanjutan, dan itu hanya bisa terlaksana apabila budidaya tanaman dan ternak menjadi suatu sistem terintegrasi sehingga mampu membentuk suatu sistem input IN-SITU. Sistem standar tersebut harus dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten dan suatu Asosiasi Pertanian Organik Lokal tingkat Kabupaten untuk menyelenggarakan dan membangun pertanian organik.

Penyelenggaraan go organik memerlukan peran Pemerintah untuk memfasilitasi persiapan, masa transisi, masa kelanjutan, masa stabilisasi dan masa lanjut (menuju lestari). Oleh karena itu peran terdepan adalah Para Penyuluh atau Pendamping Pertanian harus diberikan kemampuan untuk melaksanakan go organik, peran dinas terkait adalah mendukungnya. Penyuluh Pertanian dan Pendamping program go organik, semuanya harus diberikan kursus khusus yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur atas dasar kurikulum teoritis dan praktikum. Kemampuannya akan didesain untuk menyelenggarakan transformasi iptek kepada para petani untuk menyelenggarakan budidaya tanaman organik.

2.2. Tujuan Program Menuju Penyelenggaraan Sistem Pertanian Organik

(10)

menyelenggarakan sistem budidaya organik biodinamik komoditas tanaman (pangan pokok dan hortikultura) adalah sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan sistem budidaya yang berasaskan keselarasan alam dengan cara memberikan input organik-biodinamik sebagai sarana produksi sehingga cara memperoleh sarana produksi sebagai inputannya adalah betul-betul input lokal dan in-situ,

b. Memuliakan tanah-tanah pertanian yaitu melakukan reklamasi/ rehabilitasi tanah sawah dan atau tanah lahan kering yang telah rusak akibat teknologi pengelolaan kesuburan tanah dan pengendalian OPT selama era revolusi hijau berjalan. Dikembalikannya menjadi tanah yang produktif alami pada ekuilibria steady state baru, sehingga tanah bagi lahan pertanian adalah betul-betul menjadi reaktor keenergian, keharaan, keairan dan kehawaan melalui perbaikan sifat kebiologisan, reaksi kesetimbangan kimiawi dan fungsi tunjangan fisikanya.

c. Memuliakan varietas tanaman lokal (tanaman pangan pokok dan hortikultura) warisan nenek moyang atau tanaman ex-situ adaptif yang respon perlakuan/input organik menjadi varietas mantap dan andalan yang disukai oleh konsumen; kemudian dijadikan varietas local adaptif. Termasuk program pelestarian adalah terhadap vegetasi non-crop sebagai bagian keragaman hayati lahan pertanian organik-biodinamik. d. Memberikan kemandirian petani, yaitu kesempatan seluas-luasnya

kepada petani dan kelompok tani untuk mampu menghasilkan sendiri material dan membuat sendiri pupuk organik padat, pupuk organik cair dan pestisida organik. Demikian juga produksi benih/bibit sendiri dari lahan garapan sendiri atau kelompok atau paguyuban tani organik. e. Memberikan bekal iptek tani organik yang benar, tajam, aplikatif dan

futuristik (pertanian bersih) bagi para Penyuluh Pertanian dan para Tokoh Poktan dan Gapoktan untuk bisa menjadi pelatih handal bagi petani dengan iptek spesifik penyelenggaraan budidaya tanaman organik-biodinamik sinergi dengan budidaya ternak dan/atau ikan secara organik-biodinamik pada suatu hamparan pengelolaan satu kelompok tani atau gabungan kelompok tani.

(11)

Sistem) bagi penyelenggaraan sistem pertanian organik-biodinamik bersih atas dasar kebenaran filosofi dan aplikasi ipteknya. Kesepakatan adalah antara representatif para Petani, Paguyuban Petani Organik, Asosiasi Pertanian Organik lokal, dan Pemerintahan Kabupaten yang merupakan unsur-unsur penggerak langsung penyelenggaraan sistem pertanian organik-biodinamik di tingkat Kabupaten.

g. Menghasilkan produk komoditas pertanian yang berkualitas, yaitu produk yang pada akhirnya harus bebas residu pupuk, pestisida dan hormon kimia sintetik, dan memberikan jaminan bahwa sistem lahan semakin lama akan semakin menghasilkan produk yang makin aman untuk dikonsumsi.

2.3. Manfaat Penyelenggaraan Sistem Pertanian Organik-Biodinamik

Manfaat menyelenggarakan sistem budidaya organik biodinamik komoditas pertanian adalah sebagai berikut:

(i) Memberikan kesempatan kepada petani agar bisa terlepas dari ketergantungan input dari luar yang semakin lama semakin mahal, sehingga ada kedaulatan usahatani melalui penguatan kelompok tani organik.

(ii) Memberikan manfaat bagi cakupan nasional dan atau daerah bahwa sistem budidaya pertanian memberikan dampak kebaikan bagi kedaulatan pangan dan swasembada pangan berkelanjutan karena petani dan kelompok tani menguasai iptek tata laksana dan tata kelola input, budidaya, dan prosesing hasil panen secara mandiri.

(iii) Produk yang bebas polutan kimia sintetik berpotensi untuk tujuan pasar internasional yang ditunjang oleh penyelenggaran sistem budidaya dan sistem pasca pemanenan dengan basic standart Asosiasi Pertanian Organik internal yang telah sesuai dengan basic standart Asosiasi/Lembaga Sertifikasi dan Tata Kelola penyelenggaraan pertanian organik luar negeri.

(12)

rotasi tanaman dan jalannya fungsi sub sistem ekologis yang menunjang sebagai syarat mutlak keberhasilan produksi.

(v) Manfaat peningkatan kesejahteraan petani dengan cara: (a) penguatan peran Poktan dan Gapoktan yang ditunjang oleh peran Asosiasi Pertanian Organik Lokal, (b) segala input dimaksimalkan dibuat sendiri oleh petani atau Poktan atau Gapoktan, (c) pengendalian kuota tanam dan kelas produk atas dasar musim tanam, zonasi lahan (sesuai iklim, infrastruktur) dan kemurnian sistem produksi alami, dan (d) pemasaran oleh Koperasi Paguyuban Petani yang berindukkan pada Koperasi Asosiasi Pertanian Organik Lokal.

(13)

BAB III. BAGAIMANA CARA MENGAKTIFKAN

SUB SISTEM PERTANIAN ORGANIK-BIODINAMIK BERSIH

Sistem pertanian organik-biodinamik kalau diuraikan secara detil banyak sekali strukturnya dan kinerjanya bersifat organis yaitu saling tergantung satu sama lain. Sub sistem dari sistem sumberdaya alam proses pembaruan stoknya bersifat daur kecuali radiasi sinar matahari. Ada empat komponen utama produksi biomassa tanaman yaitu cahaya matahari, CO2,

air, dan unsur hara tanaman. Sub sistem CO2, air, dan unsur hara tanaman dalam pertanian organik bersifat daur, sedangkan cahaya matahari di iklim tropika hutan hujan basah ketersediaannya melimpah sepanjang tahun. Khusus unsur hara tanaman diurusi secara khusus oleh petani. Prinsip daur keharaan dan kenergian dalam tanah adalah melibatkan fauna dan mikroba tanah/lahan. Suplai hara dapat mengandalkan rotasi tanaman, keragaman hayati termasuk mikroba bebas, asosiasi mikroba-tanaman BNF (biological Nitrogen Fixation = fiksasi N2 atmosfer menjadi NH3  NH4 secara biologis) dan pengelolaan bahan organik tanah.

Pengelolaan bahan organik tanah melibatkan sistem pengadaan material pupuk organik dan pupuk hayati, dan teknologi pembuatannya. Melihat sistem ini maka yang wajib untuk melaksanakannya adalah petani sendiri dalam naungan kegiatan kelompok tani organiknya. Peranan kelompok tani yang didukung kerjasama antar kelompok tani dalam satu Paguyuban Tani Organik tingkat lokal akan sangat menunjang apalagi ada Asosiasi Pertanian Organik yang dipercaya sebagai lembaga pengelolaan input dan outputnya. Kegiatan kelembagaan ini semua hendaknya jangan sampai menghentikan kerja aktif individual petani namun sebaliknya harus menunjang kreativitas dan kinerjanya umum dan khususnya.

(14)

Fungsi kelembagaan perlu diaktifkan meliputi program kerja Pemerintah Kabupaten dan program kerja Kelompok Tani, Paguyuban Tani Organik dan Asosiasi Pertanian Organik lokal untuk menunjang program pengendalian OPT pada budidaya tanaman organik.

3.1. Memulai Menyelenggarakan Budidaya Tanaman Organik (Go Organik)

Seperti telah dirinci dan diuraikan di depan bahwa menyelenggarakan pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu aksi untuk mengembangkan dan memasyarakatan budidaya tanaman organik dan budidaya ternak yang bersinergi. Dalam penyelengaraannya memerlukan peranan banyak individu SDM dan kelembagaan. Sedangkan filosofi yang mendasari penyelenggaraan pertanian organik adalah bagaimana mengembangkan suatu sistem yang berprinsip memberikan makanan pada tanah yang selanjutnya tanah menyediakan makanan untuk tanaman (feeding the soil that feeds the plants). Filosofi demikian memberikan suatu

amanat bahwa sistem pertanian organik menghendaki input hara dan energi yang menyehatkan tanah atau input yang selalu meningkatkan kualitas tanah.

Bertujuan agar input bersifat atau bemanfaat mulia seperti di atas, maka secara ekologis mensyaratkan perlunya rekayasa mengembalikan fungsi alam agar menjadi suatu fungsi struktural dan fungsional yang dari/oleh dan untuk/berupa jejaring makanan, energi dan keharaan in-situ. Melihat itu semua marilah kita bersama-sama menjadikan, mengembalikan dan

memuliakan fungsi tanah sebagai ”mother heart” sama seperti induknya yaitu the mother heart-planet bumi” yang menghidupi manusia, tanaman, hewan, dan biotik dalam tanah. Dalam usaha budidaya

komoditas pertanian, kita harus berhenti merusak tanah, lahan, air, udara, atmosfer, dan keragaman hayati planet bumi kita. Namun demikian, di dalamnya harus ada berlangsung kedaulatan pangan, kemandirian petani dan kelompok taninya, kelestarian usahatani dan petani, dan keberlanjutan sistem. Itulah yang akan menjadi visioner kurikulum pertanian masa depan.

(15)

melalui proses transisional. Untuk itu kita semua sebaiknya kita mengenal sistem dan sub sistemnya kemudian tahu tatacara mengfungsikannya.

Standar tujuan pertanian organik bio-dinamik. Tujuan mulianya adalah menyelamatkan alam, menyelamatkan dan menunjang kesehatan generasi manusia dengan adanya keselamatan alam dan makanan. Tujuan yang kedua adalah ada pada ranah produk tanaman dan ternak aman dikonsumsi dan mempunyai nilai nutrisional yang tinggi. Kalau kedua tujuan minimal tersebut gagal maka gagallah menyelenggarakan pertanian organik. Guna pencapaiannya maka Pemerintah Indonesia c.q. Departemen Pertanian sejak tahun 2001 telah mencanangkan dimulainya proses Go Organik, dan tahun 2010 telah menjadi Starting Point Program ”Go Organik 2010” diimplementasikan sampai sekarang. Walaupun itu bisa hanya dipandang sebagai jargon namun demikian mengandung arti amanah kemanusiaan, ke-alaman dan kenegaraan.

(16)

Sub sistem pertanian organik dapat dikatakan sebagai sub struktur kehirarkhian dari enam sistem tersebut di atas, jadi mengandung definisi dan tugas struktural dan fungsional yang spesifik untuk saling mendukung jalannya penyelenggaraan pertanian organik. Sub sistem dari masing-masing sistem lahan, manusia, teknologi, infrastruktur, kelembagaan dan pemasaran dapat dijelaskan hirarkhi dan fungsinya seperti tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Sistem pertanian organik, sub sistemnya dan fungsinya dalam produksi biomassa, pengolahan produk dan distribusi produk.

No. Sistem Sub sistem Fungsi

1. Lahan Pertanian Tanah Reaktor energi dan hara, rentensi air, habitat biota, media tanam.

Fauna Tanah Struktural tanah, degradasi jaringan, diversitas

ekosistem, daur energi dan hara, keenziman tanah, kehormonan tanah. Mikroba tanah Daur energi dan hara,

pengendalian asam humat tanah, diversitas ekosistem, keenziman tanah,

kehormonan tanah.

Air Daur energi dan hara, siklus hidrologi, produksi biomassa, stabilitas thermal tanah, tanaman dan atmosfer. Energi cahaya Produksi biomassa tanaman

dan mikroba autotropik, pengendalian keragaman hayati.

Karbon dioksida Produksi biomassa tanaman, siklus karbon biosfer.

2. Sumberdaya manusia

Petani Pemelihara keseimbangan agro-ekosistem, pengusaha sistem agro, agen kedaulatan pangan.

Keluarga Tani Agro capacity building, pewaris sistem agro.

Penyuluh Pertanian

Pemberdayaan petani dan pertanian.

Teknokrat/Peneliti Perencanaan, pengembang-an dan evaluasi pembangun-an pertanian.

Aplikator Teknologi

(17)

No. Sistem Sub sistem Fungsi 2. Sumberdaya

manusia

Pembela Kaum Tani

Advokasi petani, usaha tani dan pertanian.

Kaum pemutus kebijakan

Perumus kebijakan pembangunan sistem pertanian.

3. Vegetasi Vegetasi alami dan pionir (asli dan tidak asli)

Kestabilan keragaman hayati, daur/jejaring makanan, sekuestrasi karbon, produsen oksigen, penghasil biomassa untuk pupuk organik, fiksasi nitrogen atmosfer (BNF-plant).

Tanaman Jejaring makanan, sekuestrasi karbon,

penghasil biomassa untuk pupuk organik, fiksasi nitrogen atmosfer (BNF-plant), produsen komoditas ekonomi, kedaulatan

pangan. 4. Teknologi sistem

produksi

(18)

No. Sistem Sub sistem Fungsi 4. Teknologi sistem

produksi dan mikro, bisa komposisi hara penekanan sesuai dekade pertumbuhan, mengandung hormon giberelin, sitokinin dan auksin, mengandung mikroba (rhizo dan foliar bacteria) fungsi resistansi terhadap serangan pathogen dan karena fungsi enzimatik. Agensia hayati

Sebagai biang mikroba untuk produksi bokhasi, pupuk organik cair, dan suplemen mikroba pestisida hayati;

se-Fungsi sumber inokulan dan materi pestisida hayati pekat; fungsi sumber pestisida melalui efek perakaran dan perkembangan akar

tanaman.

Azolla sp. Fiksasi N2 udara (BNF)

(19)

No. Sistem Sub sistem Fungsi 4. Teknologi sistem

produksi sehingga bisa menjadi pabrik urea, mengandung hara NPKSCa yang tinggi disamping hara mikro lengkap hingga sangat baik untuk kompos, material SRI. Benih padi

Kerbau Pengolahan tanah Ternak sapi,

5. Katalisator dan Infrastruktur

Suprastruktur Peraturan yang mendukung berjalannya penyelenggara-an budidaya pertpenyelenggara-anipenyelenggara-an organik dan segala aspek pendukungnya. irigasi untuk sistem transisi. Keirigasian agar ruah, cepat dan benar.

Mesin pembuatan kompos

(20)

No. Sistem Sub sistem Fungsi 5. Katalisator dan

infrastruktur

Sekretariat pembelajaran

Poktan

Tempat perencanaan dan penyimpanan arsip dan materi pembelajaran.

Material pembe-lajaran Poktan

Material untuk belajar bersama tentang penyelenggaraan pertanian organik.

6. Kelembagaan Kelompok Tani Organik

Bagian integral Poktan yang ada untuk menstimulasi dan mengem-bangkan budidaya tanaman organik; unit orga-nisasi terkecil penyediaan input dan teknologi pertanian

organik. input luar sangat rendah;

6. Kelembagaan Paguyuban Petani Organik

Organisasi internal terluar petani hamparan untuk pemberdayaan petani, ketersediaan dan akses informasi dan iptek, kedaulatan petani, serta prosesing produk dan pemasaran produk.

Koperasi Pertanian

Organik

Merupakan bagian organik Asosiasi Pertanian Organik Lokal yang mengakomodasi penyediaan input pertanian organik yang diperlukan, menampung produk petani dan memasarkannya.

Asosiasi Pertanian Organik Lokal

(APOL)

Suatu organisasi yang bertugas mengadakan pendampingan dan advokasi iptek, sosial, ekonomi, budaya dan politik kepada Petani/ Poktan/Gapoktan/Paguyuban anggotanya.

Mitra Asosiasi Pertanian

Organik

(21)

No. Sistem Sub sistem Fungsi 6. Kelembagaan Badan Riset

dan Pengembangan

Pertanian Organik

Merupakan badan riset dan

pengembangan yang spesifik baik milik APOL, Mitra APOL, Pemerin-tah Daerah maupun Perguruan Tinggi (PT) Lokal atau mitra riset PT baik dari dalam maupun luar negeri. Institut

Pertanian Organik

Merupakan sekolah tempat

menyelenggarakan pendidikan spe-sifik untuk perencanaan dan

pengembangan pertanian organik atas dasar pembelajaran dari teori dan praktik aplikatif mengacu pada kurikulum yang urgensial dan kompetensi tinggi yang diperlukan oleh daerah. Institut Pertanian Organik bisa dikembangkan oleh APOL atau Pemda bekerjasama dengan PT lokal atau sebaliknya. 7. Pemasaran Industri Industri pertanian organik sebaiknya

dikembangkan oleh Koperasi APOL dengan harus memberdayakan masing-masing Paguyuban Tani Orga-nik di tiap Kecamatan. Industri dirancang untuk mengolah hasil panenan dan dikemas untuk siap dipasarkan sesuai dengan

permintaan konsumen atas dasar kesimpulan teknis riset dan

pengembangan. Industri sebaiknya dibangun pada tiap Kecamatan sesuai dengan desain pengemba-ngan Paguyuban Petani Organik ada di tiap Kecamatan.

(22)

No. Sistem Sub sistem Fungsi

Pemasaran Pemasaran dilakukan oleh Paguyuban Petani Organik melalui Koperasi APOL. Fungsi Koperasi APOL dalam pemasar-an adalah menjalin kerjasama pemasaran dengan berbagai pihak sesuai dengan format state of the art product quality and good organic farming management. mosi, pasar dan teknik pema-saran, teknik show quality at shop, teknik pengelolaan show/exhibition pada messe/ hall terjadwal, sistem trans-portasi/pengiriman produk, sistem kearifan lokal dalam hubungannya dengan perminta-an produk (the art of stperminta-andart unique quality), dan lain yang perlu untuk masa depan. 7. Pemasaran Sertifikasi,

kendali mutu dan pelabelan

Sub sistem ini merupakan suatu rangkaian kegiatan yang harus dimulai

dari hati dan pikiran yang ”organik” dari

masing-masing petani, pendamping, advokator, pelaksana kelembagaan primer maupun sekunder yang menangani pertanian organik.

Sertifikasi, kendali mutu dan pelabelan hanyalah suatu bentuk formatif belaka yaitu lembaran kertas atau

pengumuman secara elektronik (electronical show-up) untuk

menunjukan bahwa petani, lahan, input, teknik budidaya, panen dan pemanen-an, prosesing pasca panen,

(23)

No. Sistem Sub sistem Fungsi Centre of

Exhibition (Messe/hall)

Centre of Exhibition = CoE (unjuk pameran) merupakan fungsi APOL, Koperasi APOL dan Para Petani dalam

Paguyuban Petani Organik untuk unjuk keberhasilan dan rencana pengembangan hasil dan budidaya pertanian organik. CoE ini tidak hanya merupakan wujud suatu gedung (messe/ hall) namun juga pewujudan keinginan murni pelaku per-tanian organik untuk menye-lamatkan kehidupan manusia dan anak cucunya, serta keselamatan planet bumi ini. Messe/Hall adalah suatu wujud monumen untuk mengangkat harkat pertanian organik dan visi-misinya.

Transportasi Transportasi merupakan sarana peng-angkutan yang diperguna-kan untuk mengantardiperguna-kan produk tanam-an dari lahan ke industri peng-olahan hasil dan men-transportasikannya ke kon-sumen.

7. Pemasaran Wisata Agro dan Kuliner

Wisata agro budidaya tanaman organik dan kuliner produk budidaya tanaman, ternak, ikan organik guna menunjang

sosialisasi pentingnya budidaya dan konsumsi produk pangan secara organik-biodinamik kepada masyarakat umum. Sub sistem ini bisa ditawarkan menjadi program kunjungan wisata mancanegara.

8. Add-hock: Sistem Futuristik

Perubahan Iptek Iptek sistem budidaya pertanian pada masa mendatang bisa berubah signifikan dan itu bisa bersifat mendadak sebagai akibat logis dari dampak peru-bahan iklim global terhadap produktivitas lahan dan komo-ditas pertanian. Harus ada antisipasi awal terutama

(24)

nutrisi dan pengendalian OPT, termasuk perubahan mendasar sistem pasokan energi dan perubahan semua elemen produksi yang dipengaruhinya. Perubahan Iklim

Global

Kalau semua manusia dan kebijakan semua negara belum menghargai secara fundamental terhadap keseriusan mulainya penganggulangan secara signifikan dampak perubahan iklim global, maka akan terjadi awal evolusi planet bumi yang mengerikan. Waktu dan hal itu memang akan sangat relatif, namun secara empirik akan terjadi ditandai dengan peningkatan suhu rata-rata semakin tinggi. Hubungannya dengan pertanian organik adalah, manusianya harus pula menyiapkan diri menjadi agen peubah keadaan. Kita ikuti program Perguruan Tinggi untuk mitigasinya.

8. Add-hock: Sistem Futuristik

Perubahan Lahan

Laju perubahan lahan akan sangat nyata terhadap

kerawanan potensi persediaan pangan nasional. Fungsi konversi lahan pertanian dan kawasan penutupan lahan (sawah, kebun, pekarangan) menjadi pemukiman akan sangat mendasar. Harus ada fungsi perlindungan terhadap kawasan pertanian untuk tetap menghasilkan produksi

(25)

No. Sistem Sub sistem Fungsi 8. Add-hock:

Sistem Futuristik

Antisipasi Sistem Input

Melihat masa depan dimana lahan pertanian akan semakin rusak dan kurang apabila tidak ada kekuatan hukum yang mengatasinya, peningkatan pemanasan global, kerusakan lahan bertambah luas, deposit tambang materil pupuk anor-ganik semakin habis. Maka satu-satunya input pertanian menyangkut pupuk, pakan ternak dan pakan ikan haruslah organik penuh prisip deposit lokal. Pengembangan sistem pertanian organik-biodinamik akan menyangkut zonasi lingkage antara utilitas lahan basah dan lahan kering. Dengan demikian proyeksinya adalah integrated food product-ion program. Konsepnya harus memasukkan pula peruangan untuk eksistensi sistem

biodiversitas tanaman BNF, pakan ternak, ikan dan tanaman pionir. Equilibria biodiversitas dengan daur hara dan energi tanah dan lahan harus presisif, demikian pula kemampuan peresapan dan penyimpanan air oleh lahan harus presisif dan efektif. Reunion-farming

Kerawanan pangan akan terjadi dengan waktu relatif pada masa depan. Fungsi penurunan pro-duktivitas lahan akibat pening-katan pemanasan global dan konversi lahan pertanian akan mengakibatkan kerawanan-kerawanan: pangan, gizi dan kesehatan, peningkatan

kejahatan, perang, dan kondisi chaos kompleks.

Peranan Generasi Muda

(26)

kondisi kerusakan planet bumi dan keserba-rawanan. Generasi muda mulai saat ini harus diajak untuk ikut memikirkan mitigasi kerusakan planet bumi dan kerawanan pangan, gizi dan kesehatan, diajak mempelopori konsumsi pangan pertanian organik dan senang membudi-dayakannya, mulai mempelopori dan menanam satu pohon satu manusia. Mereka juga harus diajak mulai kegiatan yang tidak boros konsumsi energi dan suka berolahraga tanpa peralatan menggunakan energi fosil dan listrik.

3.3. Proses Memfungsionalkan Sub Sistem Strategis Pertanian Organik Proses memfungsionalkan Sub Sistem Pertanian Organik merupakan suatu pemikiran yang strategis untuk menentukan apa-apa saja baik kebijakan maupun tindakan implementatif untuk benar-benar menghasilkan output dan outcome yang diperlukan untuk sampai menghasilkan kebenaran dan kejujuran kendali mutu penyelenggaraan pertanian organik pada suatu wilayah hamparan. Oleh karena itu sub bahasan ini merupakan kunci penting pemikiran strategis yang implementasinya harus dilakukan dengan standar urgensial tinggi.

Desain state of the art ”organik” adalah menghargai setinggi-tingginya harkat dan martabat manusia untuk mengelola planet bumi (the mother heart) dengan benar sebagai suatu olah pemikiran dan tindakan ibadah kepada Yang Maha Kuasa, sehingga dalam pelaksanaannya kita sedapat mungkin mulai menyelamatkan planet bumi dan mahkluk hidup dalam rengkuhannya yaitu menyelamatkan mulai dari tempat kita berada. Dengan demikian konsep idealnya adalah mengangkat kearifan lokal untuk menjadi suatu standar kualitas dan kinerja yang tinggi dan bersahabat dengan kearifan lokal lainnya yang distandarisasikan/disatukan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi kearifan organik-biodinamik.

(27)

pengembangan pertanian organik dimanapun keberadaannya di planet bumi ini. Ideal adalah garis/ketentuan hasil kesimpulan empirikal (riset untuk pengukuran data) iptek yang harus dipenuhi, namun ada implementasi (pelaksanaan) yang opsional (pilihan) yang juga menuruti hasil kajian iptek yang kemudian disebut sebagai standar minimal dan maksimal implementasi. Hal yang minimal dan maksimal tersebut dibahas pada Paper (tulisan) lain lebih komprehensif yang akan menjelaskan ringkas tentang proses transformasi yang berisi tentang batasan kebutuhan penuh dan kebutuhan minimal sub sistem. Guna membahas singkat usaha pengfungsionalan sub sistem pertanian organik, hal itu disajikan pada Tabel 2.

(28)

kehormonan tanah.

spesifik.

o Penanaman

tanaman BNF.

o Aplikasi Azolla. o Inokulasi

o Aplikasi biopori. o Revitalisasi

o Penguatan fungsi kembali tanah o Program biopori

murah namun

o Pola jenis tanam

(29)

Karbon dioksida:

b. Sistem Sumberdaya Manusia:

Sub Sistem dan

(30)

Sub Sistem dan

o Pakar pertanian organik

Perguru-o Kendali uji coba teknologi sesuai didaya dan label di dalamnya yang

o Ada standar mu-tu

(31)

BAB IV. PENGEMBANGAN TANAMAN HORTIKULTURA ORGANIK

Tanaman hortikultura adalah salah satu golongan tanaman budidaya yang bernilai ekonomi tinggi. Budidaya tanaman hortikultura bertujuan menghasilkan produk pangan dan tanaman hias (eksotik). Tanaman hortikultura selama ini dikembangkan pada lahan sawah bersamaan budidaya padi yaitu sebagai tanaman sela atau tumpangsari, dan pasca musim padi sebagai tanaman tumpangsari dengan kedelai dan jagung atau monokultur. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan sawah baik irigasi maupun tadah hujan kebanyakan adalah tanaman sayuran. Pada dataran rendah, sawah beririgasi saat ini dikembangkan bawang merah. Pada lahan kering terutama wilayah pegunungan (dataran tinggi) berjenis tanah Andisol banyak dikembangkan hortikultura sayuran ekonomi tinggi seperti kentang, wortel, brokoli, daun bawang, dll., namun ada pula dikembangkan komoditas buah-buahan khas pedataran tinggi contohnya strawberry. Berbagai komoditas hortikultura pada berbagai jenis lahan umumnya dibudidayakan dengan input luar yang sangat tinggi sampai tinggi. Khusus budidaya pada dataran tinggi menimbulkan dampak erosi sangat hebat karena kemiringan lereng lahan dan teknik budidaya umumnya tidak berkaidah konservasi tanah. Pemupukan untuk pemenuhan kebutuhan hara tanaman hortikultura dataran tinggi (sayuran dan buah) dan bawang merah, pemupukannya umumnya juga berdosis tinggi, demikian pula pemakaian pestisida untuk pengendalian OPT.

(32)

C-2009), yaitu harus mempunyai kandungan C-organik minimal 12 %, maka kebutuhan 24 ton C-organik tersebut harus dipasok dari 200 ton pupuk organik (Ismangil, 2010). Kondisi tersebut harus dipenuhi karena menurut

Simanungkalit et al., (2006), sebagian besar lahan pertanian intensif Indonesia produktivitasnya menurun karena kandungan C-organik tanah < 2 % (rendah), bahkan tanah sawah di pulau Jawa kandungan C-organik tanahnya < 1 %. Hal sama dilaporkan oleh Ismangil (2009), yaitu kandungan C-organik pada top soil (horizon O dan A) tanah lempung aktivitas rendah antara 0,5 dan 1 %. Apabila diperlukan kompos 200 ton/ha dengan asumsi dilaksanakan 3-4 musim tanam, maka tiap musim tanam diperlukan 50-65 ton pupuk organik/ha/musim. Apabila diproyeksikan material ruah campur

pengkomposan mengalami penyusutan 50 %, maka dari manakah didapatkan material dengan keruahan 100-130 ton/ha/musim oleh petani? Program Go Organik yang memberdayakan adalah apabila petani atau paling tidak tiap kelompok tani mampu mengusahakan materialnya dan membuat komposnya sendiri sehingga ada kedaulatan tani dan ada input dalam yang tinggi.

(33)

4.1. Strategi Pengembangan dan Pemasyarakatan Budidaya Hortikultura Organik

Mengingat bahwa go budidaya tanaman hortikultura terutama yang aslinya bukan tropika, maka harus menjadi perhatian pertama dari pengembang bahwa komoditas asal sub tropika tidak akan berkelanjutan apabila dibudidayakan secara organik-biodinamik. Alasan yang paling primer adalah serangan OPT yang berat. Namun demikian untuk komoditas tanaman hortikultura yang asal tropika terutama yang lokal akan sangat berprospek dibudidayakan secara organik pada fisiografi lahan apapun. Guna lebih memberikan kontribusi bagi pengembangan tanaman hortikultura untuk go organik maka penulis memberikan saran strategi pengembangannya pada pemaparan di bawah. Apabila telah ditetapkan oleh petani sendiri atau kelompok tani untuk segera go budidaya komoditas tanaman hortikultura diperlukan langkah strategi yang disajkan di bawah (dimodifikasi dari tulisan Sutanto, 2002).

a) Penentuan spesies tanaman yang akan go organik lebih aman bila asalnya lokal.

b) Bila ditentukan spesies asal sub tropika lebih baik budidaya teknologi seperti biasa apabila lahannya berlokasi tetap di wilayah reguler, namun bila mau go organik disarankan melakukan survei dahulu mencari lahan non-epidemi serangan OPT. Hal ini untuk menghindari pengendalian OPT menggunakan pestisida kimia sintetik. Apabila digunakan bukan produk organik lagi.

c) Pembelajaran iptek pengelolaan kesuburan tanah dan pengendalian organisme pengganggu tanaman terpadu organik-biodinamik; dilanjutkan latihan pembuatan agensia/pupuk hayati, kompos, pupuk organik cair, pestisida hayati, dan pestisida organik. Bahan-bahan pembuatan asal lokal, kalau diperlukan agar membudidayakan dalam lokasi.

(34)

e) Bahan pembuatan kompos dianekaragamkan yang tidak hanya yang telah dikenal petani sekarang misalnya jerami padi, berangkasan jagung dan kedelai, namun juga yang belum dikenal/populer oleh petani misalnya Azolla, limbah jamur merang, belotong, seresah tebu, orok-orok, gliriside,

dll. Mengingat keperluan tersebut maka diperlukan kebijakan tingkat pedesaan untuk penataruangan lahan untuk membudidayakan tanaman pupuk hijau atau nantinya sebagai bahan kompos. Tanaman legum sebagai bahan kompos direkomendasikan untuk dibudidayakan bagaimanapun caranya.

f) Di wilayah yang populasi ternak ayam, sapi dan kambingnya tinggi dapat diusahakan bekerjasama dengan peternak untuk perolehan kotoran ternak untuk pembuatan kompos.

g) Di wilayah yang berdekatan dengan agroindustri seperti pabrik gula, alkohol, jamu dan bumbu masak, demikian pula pembudidayaan jamur merang, maka limbahnya dapat dipergunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organik.

h) Mau belajar tentang ekologi tanah dan ekologi lahan agar setelah masa transisi selesai petani dan kelompok tani mampu menemukan keragaman hayati yang diperlukan untuk mendukung agroekosistem agar sistem pertanian organik bisa berkelanjutan.

i) Diperlukan peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan pertanian organik melalui jalur pendidikan dan pelatihan atas dasar program pembelajaran yang sistematik yang akhirnya dapat dijadikan sebagai materi penyuluhan.

4.2. Manajemen dan Kebijakan Pertanian Organik: standarisasi

(35)

yang betul-betul berangkat dari kemauan hati organiknya maka tidak ada yang dirasakan berat.

(36)

BAB VI. MOL, KOMPOS, PESTISIDA ORGANIK, PGPR BUATAN SENDIRI

Masyarakat tani yang go organik tentunya memikirkan inputannya yang

berasal dari sisa-sisa organism yang disebut bahan organik. Termasuk pupuk

dan pestisida, go organik memerlukan pupuk organik, pestisida hayati, dan

pestisida organik, disamping itu dikenal pula yang disebut nutrisi organik

tambahan terutama dari buah dan sayuran yang bahannya local. Penulis ingin

berbagi pengalaman yang merupakan hasil studi alam dengan para petani

dan kelompok tani, demikian pula hasil studi pustaka dari berbagai petani dan

kelompok/asosiasi tani alami/organik seluruh dunia. Inti dari budidaya

pertanian alami adalah usahatani gabungan antara tanaman, hewan ternak

darat, dan hewan ternak ikan yang dimotori oleh probiotik berupa single cell

protein (SCP) berupa beberapa mikroba penting. Mikroba-mikroba tersebut

benang merahnya ada pada pembangkitan Lactobacillus sp. dalam suatu

agro-ekosistem dimanapun juga baik di wilayah iklim tropika, sub tropika

maupun temperate. Selanjutnya guna menambah guna kerja lactobacilli maka

perlu dibangkitkan pula mikroba dari ragi (yeast), jamur dan bakteri lainnya.

Semua mikroba tersebut sebaiknya diisolasi dan dikembangkan sendiri

secara local oleh petani. Dengan demikian harus dipunyai biang lacto bacilli

dan mikroba lain yang disebut mikroba local atau mikro-organisme local (MOL

atau indigenous microorganism).

Tulisan ini merupakan suatu manuskrip untuk mengembangkan

pertanian organik/alami yaitu berupa uraian tatalaksana mendapatkan biakan

mikroba lactobacilli dan MOL, serta NPH. Tatalaksana seseorang, baik petani

maupun pakar bioteknologi, pengalamannya akan menentukan tingkat

keberhasilan dan kualitas biakan dan NPH. Nutrisi suplemen untuk pemberian

nutrisi tambahan komprehensif untuk budidaya tanaman pangan disajikan

dalam manuskrip lainnya yang tujuannya adalah agar di tingkat petani

betul-betul akan dicapai go organik 100 % (100 % organikally cropping technique).

Tulisan ini didasari dengan pengalaman penulis dalam mengembangkan

pertanian organik bersama dengan para petani organik seluruh dunia (FAO,

(37)

teknologi, dan input local. Berbagai buku baik jurnal internasional maupun

nasional dan buku-buku petunjuk praktis dari ber-bagai lembaga dan pro

manuskrip untuk petani internasional maupun nasional; manuskrip-manuskrip

tersebut disarikan untuk membuat manuskrip ini.

Dr. Han Kyu Cho (asosiasi pertanian alami Korea) merupakan

inspirator seluruh dunia gerakan pertanian alami organik seluruh dunia yang:

(i) ingin menjadikan planet bumi menjadi lebih baik kesehatan dan kualitas

tanah, air, atmosfer, keragaman hayati dan petaninya, (ii) berkemandirian

yang teguh pada prinsip mengembangkan input local, (iii) menolong

menyehatkan pangan yang tidak terkontaminasi oleh pupuk sintetik pabrikan,

pestisida sintetik pabrikan, dan hormone pertumbuhan sintetik, serta asal

tanaman non mutan apapun, (iv) menggunakan tanah dan air yang telah

disehatkan dahulu untuk budidaya tanaman, dan (v) mau dan ikhlas untuk

bekerjasama menjadi murid dan guru secara bersama-sama dalam budidaya

tanaman dan hewan ternak secara alami.

6.1. Peranan Lactobacillus sp. dan Pembuatan Lactic Acid Bacteria Serum (LABS)

6.1.1. Pengertian:

Lactic acid bacteria serum (serum bakteri asam laktat) adalah biakan

Lactobacillus sp. local yang dapat dibiakkan oleh siapapun dan dimanapun

juga, oleh karena itu bisa digolongkan dalam bakteri local karena bisa menjadi

milik petani manapun juga. Mikroba tersebut kemudian bisa disebut sebagai

lactobacilli atau biakannya bisa disebut sebagai LABS. Semua alat dan bahan

yang diperlukan bisa didapatkan pada pasar local atau dibuat sendiri, contoh

beras, gula merah non pengawet sintetik, susu segar, dan susu skim.

Lactobacillus sp. adalah bakteri anaerobic yang menguraikan susu menjadi

asam laktat sehingga namanya adalah bakteri lacto. Bakteri ini tumbuh dan

berkembang hebat serta memakan amoniak yang dilepaskan dalam proses

dekomposisi bahan organik yang menimbulkan atau berhubungan dengan

(38)

sedap pada suatu bahan yang sedang mengelami fermentasi, maka

gunakanlah Lactobacillus sp.

Bilamana kita menyemprotkan suatu larutan yang berisi serum bakteri

asam laktat (lacto bacilli) ke permukaan tanaman dan tanah, maka hal itu

akan menolong tanaman untuk tumbuh dan berkembang lebih sehat.

Penyemprotan pada tanaman atau tanah, bacteria bermanfaat tersebut akan

memberikan pertolongan lebih dalam proses dekomposisi bahan organik,

sehingga tanaman atau hewan akan mendapatkan nutrisi yang lebih dari

pada tidak dengan bakteri lacto bacilli.

Bakteri asam laktat ini dikenal pula memiliki kemampuan memproduksi

enzim dan antibiotic alami yang sangat efektif membantu pencernakan bagi

manusia dan hewan, demikian juga mempunyai efektivitas dan kesifatan

antibacterial yang antara lain mengontrol salmonella dan e. coli. Bagi petani

Lactobacillus sp. mempunyai kegunaan besar untuk menyehatkan air, tanah,

atmosfer, tanaman, dan hewan ternak darat dan air (ikan). Bagi tanaman

memperbaiki kualitas serapan hara dari dalam tanah, bagi hewan ternak

memperbaiki konversi makan dan mengeliminasi toksin dari lingkungannya.

Berikut ini akan diuraikan secara simple bagaimana petani atau

kelompok tani dapat mengisolasi dan memproduksi biakan lacto bacilli.

Kepada perusahaan pertanian pemanfaat diharapkan mengembangkannya

dengan peralatan dan bahan-bahan local sehingga tidak menambah beban

energy proses dan energy transportasi berlebihan. Kita dalam bekerja

menangani dan mengembangkan pertanian alami organik harus mengerti dan

bersepakat untuk menyelamatkan planet bumi. Disarankan pengembang

pertanian alami organik mempelajari perubahan iklim global, penyebab, akibat

dan tatalaksana untuk mengurangi pemanasan global, sehingga dapat yakin

dan tahu bahwa pertanian alami organik termasuk salah satu metode untuk

mengurangi pemanasan global dan bukan sebaliknya makin menambah

pemanasan global.

6.1.2. Bahan dan Alat yang diperlukan

(i) Air cucian beras organik

(39)

(iii) Pot tembikar (kendil) atau batang bamboo

(iv) Kertas manila (baru)

(v) Ember plastik

(vi) Biang gula merah (kalau bisa gula batu)

(vii) Air bersih sumur dalam (bukan PDAM/tidak mengandung klorin atau

kimia lain)

6.1.3. Prosedur

(i) Menangkap lacto bacilli dengan cara menuang air cucian beras ke dalam

kendil.

(ii) Sisakan 50 % - 70 % ruang untuk udara.

(iii) Tutup kendil menggunakan kertas manila atau kertas yang biasanya

warna coklat atau kertas dobel folio kemudian diikat dengan pengikat

apapun, yang penting jangan terlalu ketat.

(iv) Letakkan di ruangan yang sejuk dan terhindar langsung dari sinar

matahari.

(v) Biarkan air cucian beras organik terfermentasi selama 5-7 hari pada

kisaran suhu ruangan 20-25°C.

(vi) Pada hari ke 5-7 maka sisa dedak beras akan terpisah dan

mengambang di permukaan membentuk lapisan tipis pada cairan yang

berbau asam (sour).

(vii) Saring larutan dengan kain saringan dan pindahkan larutan ke dalam

wadah yang lebih besar (ember besar atau gentong).

(viii) Tuangkan ke dalam wadah besar tersebut susu segar atau susu skim

yang diencerkan dengan jumlah volume 10 kali lipat jumlah volume

larutan cucian beras yang telah terfermentasi. Contoh bila larutan cucian

beras terfermentasi misalnya 5 liter maka susu segar adalah 50 liter.

(ix) Tutup wadah tersebut dengan kertas manila dan ikat tidak terlalu kuat

untuk memberikan udara tetap mengalir masuk. Karena larutan cucian

beras sudah menghandung antara lain lacto bacilli demikian pula

kemungkinan mikroba-mikroba lainnya maka perlu dimurnikan dengan

menggunakan susu segar tersebut. Hanya lacto bacilli kuat yang tahan

(40)

(x) Fermentasikan dalam 5-7 hari. Setelah itu karbohidrat, protein, dan

lemak akan mengambang dan meninggalkan cairan kuning muda

(serum) yang mengandung bakteri asam laktat. Karbohidrat, protein dan

lemak yang mengambang tersebut dibuang dan berikan pada hewan

ternak atau campurkan dengan kompos untuk memperkaya

keharaannya.

(xi) Serum bakteri asam laktat murni dapat disimpan dalam lemari es, atau

dapat ditambahkan biang gula pada jumlah sama atau molase yang

telah diencerkan dengan 1/3 air. Biang gula atau molase memungkinkan

bakteri asam laktat hidup pada suhu ruang dengan nisbah 1:1, gula

bekerja sebagai makanan bagi bakteri agar bertahan hidup.

(xii) Larutan berisi gula makanan tersebut dapat digunakan sebagai kultur

murni bakteri asam laktat.

(xiii) Penggunaan (membuat indukan): larutkan kultur murni tersebut dengan

20 bagian air sumur dalam atau air bersih sehat apapun non klorin atau

kimia lainnya yang dapat membunuh bakteri asam laktat. Larutan

pengenceran ini disebut indukan larutan LAB (lacto acid bacteria) atau di

Indonesiakan menjadi istilah bakteri asam laktat (BAL).

(xiv) Penggunaan untuk tanaman: larutkan 2-4 sendok makan indukan LAB

dalam segalon air sehat non kimia kemudian disemprotkan pada

tanaman dan tanah untuk menyehatkan tanaman dan memberikan lacto

bacilli kepada tanah. Demikian pula bisa untuk memproses kompos

bersama dengan larutan pengenceran indukan MOL mikroba lainnya.

(xv) Penggunaan untuk hewan ternak besar sebanyak 2-4 sendok makan

tanpa melarutkan dengan air lagi.

6.1.4. Kegunaan LAB

(i) Meningkatkan pergerakan usus hewan ternak dan manusia (harus lebih

steril LABnya).

(ii) Menyeimbangkan bakteri-bakteri yang ada dalam usus.

(iii) Mencegah berkembangnya bakteri pathogen yang merugikan.

(iv) Meningkatkan system imunitas hewan ternak dan tanaman.

(v) Mengandung zat perlambatan penuaan dan atau antioksidan, demikian

(41)

2. Peranan Mikroba lokal (MOL) dan Pembuatannya

2.1. Pendahuluan

Hal pertama kali yang dapat penulis berikan adalah tentang hikmat kita

dalam melaksanakan pertanian alami organik. Pertanian alami adalah yang

penulis yakini demikian juga apa yang penulis mengerti dan dalami apa yang

telah semua senior dan kawan-kawan pertanian alami/organik seluruh dunia

terutama dari bagian dunia asia lakukan. Mereka semua melakukan yaitu

menumbuh-kembangkan pertanian alami organik, rohnya adalah

menyelamatkan planet bumi, dan memberikan/mengembalikan kemandirian,

kedaulatan, dan kehormatan petani di mata masyarakat dunia dan terutama

dimata Tuhan Yang Maha Kuasa atas proses pertaniannya dan hasilnya yang

akan menyehatkan manusia, ternak, juga ekosistem, jadi bukan merusaknya.

Disinilah peranan hubungan manusia petani dengan NurQudus Tuhan sangat

nyata yaitu menghasilkan hasil tani yang diberkati Tuhan dan bermanfaat

untuk kehidupan.

Sebenarnya apa pertanian alami organik itu? Itu adalah pekerjaan

petani yang mencintai planet bumi untuk digunakan menumbuhkan dan

mengembangkan tanaman dan hewan ternak untuk kebutuhan keluarga tani

dan masyarakat yang membutuhkannya. Inputannya adalah local, dengan

demikian petani harus menggerakkan anggota badannya untuk mengolah

tanah, air, atmosfer, dan biotic menjadi organ-organ pertanian sehingga

menghasilkan hasil-hasil tanaman dan ternak. Kalau kita cermati itulah

perintah Tuhan, yaitu petani harus bekerja keras, jadi bukan menerima

mentah-mentah dan terstruktur inputan dari pabrikan. Dengan demikian

kalaupun pabrikan terlibat bersifatlah melayani untuk kebaikan dan kebutuhan

local dan jangan menjadi penguasa absolute petani. Jadi ajaklah petani untuk

tetap belajar dan bekerja keras bersama-sama dengan perusahaan, dan

jangan lupa bersyukur kepada Tuhan dengan memberikan persepuluhan

keuntungan tani dan perusahaan kepada yang berhak menerima bantuan.

Dengan demikian tolong-menolong dalam anggota badan organik pelaku

pertanian itulah dasar pertanian alami yang organik, sehingga biota dan fisik

(42)

Goal dan arah petani alami organik adalah menyelamatkan pertanian

dan melestarikan produktivitas pertanian. Tugas petani organik tidak hanya

memproduksi tanaman dan hewan bebas bahan kimia sintetik namun juga

melestarikan produksi tanaman dan hewan ternak yang aman dan sehat

untuk manusia. Kemunculan issue pertanian organik dan keinginan yang

dalam yang sebenarnya (harus kita ungkap dan lakukan) adalah harus

dihasilkan kelestarian system pertanian dan control yang benar dari segala

sumberdaya yang ada dalam pertanian kita termasuk input. Hal inilah yang

membedakan dengan pertanian organik yang masih diliputi dengan pemikiran

dan keinginan inorganik yaitu neo-imperalisme dan neo-kapitalisme.

2.2. Pengertian Mikroba Lokal

Saya ingin sampaikan pemikiran tentang mikroba bermanfaat dalam

dunia pertanian karena itulah permulaan pertanian menuju kelestarian system

pertanian. Dengan demikian kita mengusahakan mikroba local kita isolasi

(tangkap), kita perbanyak dan kita simpan menjadi kultur mikroba local. Itulah

pengertian mendasar dari mikroba local dalam pertanian alami organik.

Mikroba local yang harus kita kelola adalah bakteri asam laktat (sudah

dibahas di depan), dan mikroba-mikroba lainnya termasuk yeast (ragi), jamur

lain, dan bakteri lain. Mikroba-mikroba tersebut fungsinya adalah mulai dari

menangkap N dari udara, menguraikan fosfat dan hara lain termasuk

pengurai karbon, menghasilkan senyawa enzim dan hormone yang berguna

untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, demikian pula untuk

penguatan system pencernakan hewan ternak darat dan ikan, dan penghasil

protein.

Kawan-kawan peminat pertanian alami organik dapat mengembangkan

pengelolaan mikroba berguna asli local tersebut, caranya tentunya dengan

latihan, praktik, dan memproduksinya untuk keperluan kalangan dan

bersama. Mikroba berguna tersebut dapat disebut dengan probiotik yang

adalah hasil pengkulturan dari mikroba-mikroba hidup untuk keperluan

suplemen pangan dan pakan ternak. Probiotik sesuai namanya adalah

mikroba-mikroba untuk kehidupan karena mikroba-mikroba yang termasuk

probiotik harus mempunyai sifat menguntungkan inangnya baik manusia

(43)

Terhadap inang tanaman pertanian maupun liar, maka probiotik juga harus

memberikan keunggulan komparatif guna menghadapi tantangan lingkungan

yang tidak menguntungkan. Lawan dari sifat probitotik adalah

mikroba-mikroba yang bersifat pathogen. Pengelolaan probiotik akan sangat signifikan

pada masa depan planet bumi yang telah berubah iklimnya secara global dan

bertambah buruk bagi planet bumi akibat perbuatan manusia sendiri. Untuk

keperluan probiotik pada manusia dan hewan ternak maka dalam ilmu

bioteknologi atau mikrobiologi, probiotik atau mikroba berguna ada istilah

single cell protein (Subba Rao, 1999 atau 2002). Single cell protein adalah sel

kering mikroorganisme (mikroba) yang dipergunakan sebagai sumber protein

suplemen dalam makanan manusia ataupun pakan ternak (Nasseri et al.,

2011 (naskah asli untuk jurnal terbit tahun 2011). Mikroorganisme seperti

alga (algae), jamur (fungi), ragi (yeast), dan bakteri (bacteria) dapat

digunakan untuk memproses pakan ternak dan sisa-sisa organik apapun

sebagai sumber karbon dan energy untuk memproduksi biomassa, konsentrat

protein, dan asam-asam amino. Karena kadar protein secara kuantitatif tinggi

yang terdapat dalam sel mikroba maka maka mikroba-mikroba tersebut

disebut dengan single cell protein (SCP) atau bila perlu kita Indonesiakan

menjadi istilah sel protein tunggal (SPT). Dalam era ke depan saya meyakini

bahwa SPT tersebut akan sangat penting untuk menggantikan atau

suplementasi jumlah produksi protein secara konvensional seperti sekarang

ini. Hal tersebut tidak hanya untuk fungsi produksi protein untuk makanan

manusia dan pakan hewan, namun juga guna kepentingan budidaya tanaman

pertanian, demikian pula kepentingan penghutanan kembali planet bumi

dalam hubungannya dengan program karbon kredit. Probiotik juga akan

sangat diperlukan untuk program penyehatan kembali tanah dan air yang

telah terkena dampak polusi pertanian revolusi hijau dan saat ini ada

berjuta-juta hektar lahan dengan tanah, air tanah, dan air permukaan yang telah

rusak.

Mikroba asli local yang dibangkitkan kemudian dikelola dapat menjadi

probiotik, kebanyakan adalah bersel satu atau tunggal sehingga dapat disebut

sebagai single cell protein, walaupun demikian ada kemungkinan biota jamur

(44)

harus dari banyak lingkungan termasuk lingkungan basah dan kering, tempat

topografi dataran tinggi sampai dataran pantai, tempat vegetasi hutan, sawah,

tegalan, kebun/pekarangan, sampai dengan padang alang-alang. Intisarinya

adalah segala habitat mempunyai keragaman mikroba yang berbeda ragam

spesies dan kekuatannya. Bagi petani organik secara umum patokannya

adalah istilah local tersebut perlu diberikan batasan agro-topo-klimo-ekologi

yang sama menjadi wilayah pengelolaan mikroba berguna asli local. Maksud

saya adalah bila kita mengelola lahan pertanian disekitar lereng gunung apa

saja maka batasan wilayah adalah dataran lereng gunung menghadap

kemana itulah regionalnya. Bila kita mengelola lahan pantai maka regional

lahan pantai itulah yang mikroba asli lokalnya kita kelola, barangkali cakupan

10-25 km2 cukup baik dalam arti kesamaan iklim mikro wilayah pantai. Tentunya dalam wilayah “regional mikro” tersebut terdapat variasi topografi, itu ditentukan oleh morfologi daratannya. Saran saya adalah kita kembangkan

seperlunya sehingga apabila diperlukan perusahaan, maka uruslah

manajemennya dalam batasan topografi tersebut agar tidak ada lintas

transport terlalu tinggi. Hal ini berhubungan dengan bahan bakar transport

perdagangan input pertanian, agar tidak terulang lagi seperti transportasi

teknologi revolusi hijau.

Perlu kita tegaskan atau kita pahami bahwa tanah dan air yang hidup

adalah dasar dari pengelolaan kesuburan tanah dan air untuk pertanian dan

kehutanan. Tanah dan air yang hidup adalah bagian dari karunia Tuhan Allah

pencipta alam semesta, Dialah Sang Alfa dan Omega, Sang Awal dan Akhir,

oleh karena itu tanah dan air yang telah rusak marilah kita hidupkan lagi

dengan berawal dari pengelolaan probiotik atas tanah dan air, dan yang

akhirnya akan mempengaruhi keragaman biotic atmosfer di atas permukaan

tanah dan air. Barangkali itu adalah bagian yang baik dari usaha kita untuk

mengurusi alam kita yang telah rusak.

2.3. Bahan dan Alat

(i) Pot tembikar/kendil dari tanah/batang bamboo.

(ii) Kertas manila/kerta dobel folio yang masih baru.

(iii) Baskom.

(45)

(v) Biang gula (gula batu atau gua merah).

(vi) Air sumur dalam atau air mata air (tidak mengandung klorin atau kimia

lainnya).

2.4. Prosedur Kerja

2.4.1. Mengumpulkan mikroba local (MOL)

(i) Buat nasi pera, sebaiknya nasi dari beras organik varietas local, biarkan

nasi dingin sebelum digunakan.

(ii) Masukkan nasi pera tersebut ke dalam kendil/batang bamboo sampai

kira-kira 2/3 bagian tinggi wadah tersebut.

(iii) Tutup wadah tersebut dengan kertas manila atau dobel folio yang masih

baru kemudian ikatlah dengan karet atau apapun namun jangan terlalu

rapat/erat agar masih memungkinkan udara mengalir masuk.

(iv) Buatlah lubang pada lahan apapun namun disarankan yang subur yang

dicirikan dengan kandungan humus tanah yang tinggi. Lubang dibuat

sesuai dengan ketinggian/panjang wadah sedemikian rupa sehingga

wadah tersebut sedikit masuk dalam lubang tanah.

(v) Masukkan wadah ke dalam lubang tanah kemudian lindungi dengan

plastic agar tidak masuk air hujan atau air aliran permukaan lahan,

kemudian timbuni dengan sampah organik yang ada sekitar lahan.

(vi) Biarkan selama 5-7 hari, setelah itu keluarkan, buka tutupnya, dan amati

bahwa nasi pera telah mengeras dan mulai ada banyak warna-warni

jamur yang mengkoloni nasi pera tersebut.

2.4.2. Produksi dan Pengembangbiakan

(i) Pindahkan nasi yang telah terkoloni mikroba tersebut ke dalam baskom.

(ii) Masukkan/tambahkan biang gula, sebaiknya gula diencerkan dulu

dengan air non klorin atau kimia. Jumlah biang gula kalau nasinya

awalnya 1 kg maka gulanya juga 1 kg dan diencerkan dengan air 1 liter.

Aduklah nasi dengan cairan gulanya dengan merata.

(iii) Masukkan campuran tersebut ke dalam kendil yang lebih besar dari

semula supaya campuran tersebut hanya 75 % dari volume kendil,

(46)

tutuplah dengan kertas dan ikatlah dengan karet atau apapun

pengikatnya namun jangan terlalu ketat.

(iv) Masukkan lagi kendil dalam lubang tanah di lahan, atasnya lambari

dengan plastic agar tidak kemasukan air hujan atau air aliran permukaan

lahan, kemudian tutuplah permukaan plastic dengan aneka ragam

sampah organik yang ada di lahan tersebut baik yang masih segar,

sudah agak busuk maupun yang sudah jadi kompos.

(v) Biarkan di lahan selama 7 hari, ini merupakan proses fermentasi yang

kita lakukan langsung pada lahan sesuai dengan tujuan atau pilihan kita.

(vi) Ambil kendil, buka tutupnya maka akan kita dapatkan lebih beraneka

warna dan ketebalan mikroba yang mengkoloni biakan MOL kita.

2.4.3. Pemanenan

(i) Siapkan botol plastic atau gelas sesuai dengan jumlah ekstrak cair MOL

kita.

(ii) Saringlah cairan (sebagai ekstrak) MOL dalam kendil dari lahan dan

kumpulkan pada baskom atau apapun, sedangkan ampasnya dapat kita

gunakan sebagai bahan suplemen pada kompos kita.

(iii) Masukkan ke dalam botol yang telah kita siapkan dan cairan inilah MOL

kita, sekarang MOL kita telah siap untuk kita gunakan.

2.4.4. Aplikasi

(i) MOL ini dapat digunakan sebagai biang pembuatan pupuk hayati cair

apabila kita mencampurkan pula dengan MOL dari lahan lainnya sesuai

tujuan kita dalam produksi. Biang-biang MOL berbagai lahan kita campur

ke dalam reactor besar sesuai desain kuota produksi. Di dalam reactor

terdapat alat aerator untuk mengaerasikan larutan campuran bahan

organik sesuai dengan kualitas dan efektivitas pupuk hayati yang kita

rancangkan.

(ii) MOL dari lahan single ataupun MOL berbagai lahan yang dicampurkan

dapat pula kita gunakan langsung untuk budidaya tanaman, suplemen

pakan ternak, untuk pembuatan tanaman, dan untuk menyuburkan

tanah. Untuk penyemprotan tanaman dan permukaan tanah gunakan 2-3

Gambar

Tabel 1. Sistem pertanian organik, sub sistemnya dan fungsinya dalam produksi biomassa, pengolahan produk dan distribusi produk

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan program TRI menyebabkan perubahan status petani dari petani subsisten menjadi petani komersial dengan menanam tebu yang merupakan tanaman komoditas melalui

4.16 Status Kepemilikan Lahan Pertanian Hortikultura Berdasarkan Jenis Tanaman 79 4.17 Status Petani Hortikultura Berdasarkan Tingkat Pendapatan Usaha Tani. 80 4.18 Luas Panen

Kegiatan pengembangan tanaman semusim dilaksanakan oleh petani/kelompok tani, dan koperasi yang telah ditetapkan melalui penetapan petani dan lokasi penerima kegiatan

Terkait dengan program Prima Tani, BPTP Jawa Tengah melakukan percontohan budidaya strawberry. Percontohan tersebut mendapat respon positif dari para petani. Dalam

NTP tanaman pangan, tanaman perkebunan dan tanaman hortikultura dihitung dari indeks harga yang diterima petani (IHT) dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar

Evaluasi Implementasi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu oleh Petani Tanaman Hortikultura di Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan.. (Dibimbing

Sejalan dengan visi pembangunan pertanian maka sangat diperlukan teknologi pertanian untuk pengembangan komoditas serta sistem pelayanan bagi petani yang memerlukan

seperti komposting rumah tangga, bank sampah, pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman hortikultura dan pembentukan Kelompok Wanita Tani Perkotaan (KWTP)