• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH FIQH IBDAH TENTANG SHOLAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH FIQH IBDAH TENTANG SHOLAT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH FIQH IBDAH TENTANG

SHOLAT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf dan harus dikerjakan baik bagi mukimin maupun dalam perjalanan.

Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Islam didirikan atas lima sendi (tiang) salah satunya adalah shalat, sehingga barang siapa mendirikan shalat ,maka ia mendirikan agama (Islam), dan barang siapa meninggalkan shalat,maka ia meruntuhkan agama (Islam). Shalat harus didirikan dalam satu hari satu malam sebanyak lima kali, berjumlah 17 rakaat. Shalat tersebut merupakan wajib yang harus dilaksanakan tanpa kecuali bagi muslim mukallaf baik sedang sehat maupun sakit. Selain shalat wajib ada juga shalat – shalat sunah. B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Sholat?

2. Apa dalil tentang wajib shalat? 3. Apa syarat-syarat wajib shalat?

4. Kapan waktu-waktu mengerjakan shalat? 5. Apa syarat-syarat sah shalat?

▸ Baca selengkapnya: pildacil tentang sholat adalah tiang agama

(2)

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Sholat

Menurut A. Hasan (1991) Baqha (1984), Muhammad bin Qasim As-Syafi’i (1982) dan Rasyid (1976) shalat menurut bahasa Arab berarti berdo’a. ditambahakan oleh Ash-Shiddiqy (1983) bahwa perkataan shalat dalam bahasa Arab berarti do’a memohon kebajikan dan pujian. Sedangkan secara hakekat mengandung pengertian “berhadap (jiwa) kepada Allah dan mendatangkan takut kepadanya, serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa keagungan, kebesaran-Nya dan kesempurnaan kekuasaannya.[1]

Solat yang berarti do’a terlihat dari firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 103:

Èe@|¹uröNÎgø‹n=tæ(¨bÎ)y7s?4qn=|¹Ö`s3y™öNçl°;3

“dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka”

Secara dimensi Fiqh shalat adalah beberapa ucapan atau rangkaian ucapan dan perbuatan (gerakan) yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang dengannya kita beribadah kepada Allah, dan menurut syarat-syarat yang telah di tentukan oleh Agama.[2]

2. Kewajiban Mengerjakan Shalat

Solat merupakan salah satu kewajiban yang menduduki kedua setelah syahadat dalam rukun islam. Sehingga di dalam Al-Qur’an dan hadits banyak sekali dijelaskan mengenai kewajiban untuk mengerjakan solat. Diantara dalil Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai kewaiban salat adalah:

Firman Allah dalam surah Al-Bayyinah ayat 5:

! $ tBur(#ÿrâÉDé&žwÎ)(#r߉ç6÷èu‹Ï9©!$#tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s!tûïÏe$!$#uä!$xÿuZãm(#qßJ‹É)ãƒurno4qn=¢Á9$#(#qè?

÷sãƒurno4qx.¨“9$#4y7Ï9ºsŒurß`ƒÏŠÏpyJÍhŠs)ø9$#ÇÎÈ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”

Firman-Nya yang lain dalam surah An-Nisa ayat 103:

# sŒÎ*sùÞOçFøŠŸÒs%no4qn=¢Á9$#(#rãà2øŒ$$sù©!$#$VJ»uŠÏ %#YŠqãèè%ur4’n?tãuröNà6Î/qãZã_4#sŒÎ*sùöNçGYtRù'yJôÛ$#(#qßJŠÏ %r'sùno4qn=¢Á9$#4¨bÎ)no4qn=¢Á9$#ôMtR%x.’n?tãšúüÏZÏB÷sßJø9$#

$Y7»tFÏ.$Y?qè%öq¨BÇÊÉÌÈ

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Firman-Nya yang lain dalam Surah Al-Hajj ayat 78:

(

(3)

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong”.

Firmannya dalam Surah al-Ankabut ayat 45:

ã@ø?$#!$tBzÓÇrré&y7ø‹s9Î)šÆÏBÉ=»tGÅ3ø9$#ÉOÏ%r&urno4qn= ¢Á9$#(žcÎ)no4qn=¢Á9$#4‘sS÷Zs?ÇÆtãÏä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur3ãø.Ï%s!ur«!$#çŽt9ò2r&3ª!$#urÞOn=÷ètƒ$tB tbqãèoYóÁs?ÇÍÎÈ

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sedangkan hadits-hadits yang menjelakan tentang kewajiban solat antara lain adalah:

َلاَق َرَمُع ِنْب ِا ِدْبَع ْنَع

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu terdiri atas lima rukun. Mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammat itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, hajji ke Baitullah dan puasa Ramadlan. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 333]

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340]

، سمبلا .َرَفَك ْدَقَف اَهَكَرَت ْنَمَف .ُةَلَصلا ُمُهَنْيَب َو اَنَنْيَب رِذَلا ُدْهَعْلَا :ُلْوُقَي ص ِا َلْوُسَر ُتْعِمَس :َلاَق ضر َةَدْيَرُب ْنَع راطولا لين ىف

1 : 343

Dari Buraidah RA, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kufur”. [HR. Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

ُا َضَرَف اَم ىِن ْرِب ْخَا ،ِا َل ْوُسَر اَي :َلاَقَف ،ِسْأَرلا َرِئاَث ص ِا ِل ْوُسَر ىَلِا َءا َج اًّيِباَرْعَا َنَا ِا ِدْيَبُع ِنْب َ َحْلَط ْنَع

(4)

kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku dari puasa ?”. Beliau SAW bersabda, “Puasalah bulan Ramadlan, kecuali kamu mau melakukan yang sunnah”. Ia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku dari zakat ?’. Thalhah berkata : Lalu Rasulullah SAW memberitahukan kepadanya tentang syariat-syariat Islam seluruhnya. Lalu orang Arab gunung itu berkata, “Demi Allah yang telah memuliakan engkau, saya tidak akan menambah sesuatu dan tidak akan mengurangi sedikitpun dari apa-apa yang telah diwajibkan oleh Allah kepada saya”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Pasti ia akan bahagia, jika benar. Atau pasti ia akan masuk surga jika benar (ucapannya)”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 335]

َلاَق ضر ٍكِلاَم َنْب ِسَنَا ْنَع

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Diwajibkan shalat itu pada Nabi SAW pada malam Isra’, lima puluh kali. Kemudian dikurangi sehingga menjadi lima kali, kemudian Nabi dipanggil, “Ya Muhammad, sesungguhnya tidak diganti (diubah) ketetapan itu di sisi-Ku. Dan sesungguhnya lima kali itu sama dengan lima puluh kali”. [HR. Ahmad, Nasai dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 334]

َ َكَمِب ِنْيَتَعْكَر ِنْيَتَعْكَر ُةَلَصلا ِتَضِرُف ْدَق : ْتَلاَق َ َشِئاَع َنَا ّيِبْعَشلا ِنَع .

ِنْيَتَعْكَر ّلُك َعَم َداَز َ َنْيِدَملْا ص ِا ُل ْوُسَر َمِدَق اَمَلَف

دماا .ىَل ْوُلْا َةَلَصلا ىَلَص َرَفاَس اَذِا َناَك َو :َلاَق .اَمِهِتَءاَرِق ِلْوُطِل ِر ْمَفلْا ُةَلَص َو ِراَهَنلا ُرْتِو اهَنِاَف َبِرْغَملْا َلِا ،ِنْيَتَعْكَر

Dari ‘Asy-Sya’bi bahwa ‘Aisyah RA pernah berkata : Sungguh telah difardlukan shalat itu dua rekaat dua rekaat ketika di Makkah. Maka tatkala Rasulullah SAW tiba di Madinah (Allah) menambah pada masing-masing dua rekaat itu dengan dua rekaat (lagi), kecuali shalat Maghrib, karena sesungguhnya shalat Maghrib itu witirnya siang, dan pada shalat Fajar (Shubuh), karena panjangnya bacaannya”. Asy-Sya’bi berkata, “Dan adalah Rasulullah SAW apabila bepergian (safar), beliau shalat sebagaimana pada awalnya (dua rekaat)”. [HR. Ahmad 6 : 241] barangsiapa tidak memeliharanya, maka shalat itu baginya tidak merupakan cahaya, tidak sebagai bukti, dan tidak (pula) sebagai penyelamat. Dan adalah dia pada hari qiyamat bersama-sama Qarun, Fir’aun, Haaman, dan Ubay bin Khalaf”. [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343][3]

3. Syarat-syarat Wajib Solat

Para ulama membagi syarat shalat menjadi dua macam, pertama syarat wajib, dan yang ke dua syarat sah. Syarat wajib adalah sayarat yang menyebabkan seseorang wajib melaksanakan shalat. Sedangkan syarat sah adalah syarat yang menjadikan shalat seseorang diterima secara syara’ di samping adanya kriteria lain seperti rukun.

Syarat wajib salat adalah sebagai berikut:

1. Islam, shalat diwajibkan terhadap orang muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dan tidak

(5)

@

è% z`ƒÏ%©#Ïj9 (#ÿrãxÿŸ2 bÎ) (#qßgtG^tƒ öxÿøóãƒ

Oßgs9 $¨Bô‰s% y#n=y

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu[609]: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu. (QS 8:38)

يقهيبل ا و ىن اربطل ا و دمحا ه ا ور .هلبق ام بجي م ل ا ا : اق ملل و هيلع ه ا ولص يبنل ا ن ا ص اع نب و رمع نع

Dari Amr bin Ash bahwa Nabi SAW bersabda: islam memutuskan apa yang sebelumnya (sebelum masuk islam). HR Ahmad, Al-Thabrani dan Al-baihaqi).

2. Baligh, anak-anak kecil tidak dikenakan kewajiban shalat berdasarkan sabda Nabi SAW, yang artinya:

Dari Ali r.a. bahwa Nabi SAW berkata: Diangkatkan pena ( tidak ditulis dosa) dalam tiga perkara: Orang gila yang akalnya tidak berperan sampai ia sembuh, orang tidur sampai ia bangun dan dari anak-anak sampai dia baligh. (HR Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim). 3. Berakal. Orang gila, orang kurang akal (ma’tuh) dan sejenisnya seperti penyakit sawan

(ayan) yang sedang kambuh tidak diwajibkan shalat, karena akal merupakan prinsip

dalam menetapkan kewajiban (taklif), demikian menurut pendapat jumhur ulama alasannya adalah hadits yang diterima dari Ali r.a. yang artinya:

“dan dari orang gila yang tidak berperan akalnya sampai dia sembuh”

Namun demikian menurut Syafi’iyah disunatkan meng-qadha-nya apabila sudh senbuh. Akan tetapi golongan Hanabilah berpendapat, bagi orang yang tertutup akalnya karena sakit atau sawan (ayan) wajib mneg-qadha shalat. Hal ini diqiyaskan kepada puasa, Karena puasa tidak gugur disebabkan penyakit tersebut.[4]

4. Waktu-waktu Pelaksanaan Sholat

Shalat tidak boleh dilaksanak di sembarang waktu. Allah SWT. Dan Rasulullah SAW. telah menentukan waktu-waktu pelaksanaan sholat yang benar menurut syariat islam. Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an surat An- Nisa ayat 103 sebagai berikut:

#

sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!

$#$VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4

#sŒÎ*sùöNçGYtRù'yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r'sù no4qn=¢Á9$# 4

¨bÎ)no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?tã šúüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?

qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

Ayat tersebut menetapkan bahwa shalat dilaksanakan sesuai dengan waktu-waktu yang telah ditetapkan. Shalat yang lima waktu, memiliki lima waktu yang tertentu. Dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 114 menegaskan sebagai berikut:

(6)

Dalam ayat tersebut terdapat ketentuan waktu shalat, yaitu: 1. Tharfin-nahar, yaitu pagi dan petang;

2. Zulfal-lail, permulaan malam.

Demikian pula, dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 78 sebagai berikut:

ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# Ï8qä9à$Î! ħôJ¤±9$# 4’n<Î) È,|

¡xîÈ@ø‹©9$# tb#uäöè%ur Ìôfxÿø9$# ( ¨bÎ) tb#uäöè% Ì

ôfxÿø9$#šc%x. #YŠqåkô¶tB ÇÐÑÈ

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.

Ayat Ini menerangkan waktu-waktu shalat yang lima. tergelincir matahari untuk waktu shalat Zhuhur dan Ashar, gelap malam untuk waktu Magrib dan Isya.

Ayat tersebut menetapkan waktu shalat wajib dengan bebereapa waktu, yaitu: 1. Dulukus-syams, yaitu ketika tergelincir matahari;

2. Ghasakul-lail, gelap malam (terbenam matahari);dan 3. Fajar, waktu subuh.

Ketentuan waktu shalat yang ditetapkan oleh Al-Qur’an menjelaskan bahwa semua pelaksanaan shalat harus sesuai dengan waktu-waktu yang ditetapkan oleh syara’. Waktu ketika matahari tergelincir hanya dimaksudkan untuk shalat zuhur, sedangka ketika matahari mulai gelap hingga tak tampak lagi adalah waktu unutk shalat ashar, magrib, dan isya. Adapun datangnya waktu fajar sebagai pertanda telah diwajibkan melaksanakn shalat subuh.

[5]

Agar lebih terperinci, berikut dijelaskan mengenai waktu-waktu shalat tersebut:

1. Zuhur, sholat zuhur waktunya mulai matahari condong ke arah barat dan berakhir sampai baying-bayang suatu benda sama panjang atau lebih sedikit dari benda tersebut.[6] Hal in idapat dilihat kepada seseorang atau sebuah tiang yang berdiri, bilamana bayang-bayangnya masih persis di tengah atau belum sampai, menandakan waktu zuhur belum masuk.

2. Asar, shalat asar waktunya mulai dari baying-bayang suatu benda lebih panjang dari bendanya hingga terbenam matahari.[7] Kebanyakan ulama berpendapat bahwa shalat ashar di waktu menguningnya cahaya matahari sebelum terbenam hukumnya makruh.[8]

3. Magrib, shalat magrib waktunya mulai terbenam matahari dan berakhir sampai hilangnya cahaya awan merah.[9]

4. Isya, shalat isya waktunya mulai hilangnya cahaya awan merah dan berakhir hingga terbit fajar shadiq.

5. Subuh, shalat subuh, waktunya dari mulai terbit fajar shadiq hingga terbit matahari.[10] 5. Syarat-syarat sah sholat

Adapun syarat sah sholat adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui masuk waktu. Shalat tidak sah apabila seseorang yang melaksanakannya tidak mengetahui secara pasti atau dengan persangkaan yang berat bahwa waktu telah masuk, sekalipun ternyata dia shalat dalam waktunya. Demikian juga dengan orang yang ragu, shalatnya tidak sah. Allah SWT berfirman:

4

¨

bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?tã šúüÏZÏB÷sßJø9$#

$Y7»tFÏ.$Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.(QS. An-Nisa:103).

2. Suci dari hadas kecil dan hadas besar. Penyucian hadas kecil dengan wudu’ dan penyucian hadas besar dengan mandi. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

(7)

“ Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda: Allah tidak menerima shalat seorang kamu apabila berhadas hingga dia bersuci. (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Suci badan, pakaian dan tempat dari na’jis hakiki. Untuk keabsahan shalat disyariatkan suci badan, pakaian dan tempat dari na’is yang tidak dimaafkan, demikian menurut pendapat jumhur ulama tetapi menurut pendapat yang masyhur dari golongan Malikiyah adalah sunnah muakkad.

4. Menutup aurat. Seseorang yang shalat disyaratkan menutup aurat, baik sendiri dalamkeadaan terang maupun sendiri dalam gelap. Allah SWt berfirman:

(

#

rä‹è{ ö/ä3tGt^ƒÎ— y‰ZÏã Èe@ä. 7‰Éfó¡tB

“pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid”(QS. 4:31).

5. Menghadap kiblat. Ulama sepakat bahwa syarat sah shalat. Allah SWT berfirman:

ô`ÏBur ß]ø‹ym |Mô_tyz ÉeAuqsù y7ygô_ur tôÜx© Ï

‰Éfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# 4 ß]øŠymur $tB óOçFZä.

(#q—9uqsù öNà6ydqã_ãr ¼çntôÜx

©

“Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya. (QS. 2:150)

Mengahadap kiblat dikecualikan bagi orang yag melaksanakan sholat Al-khauf dan sholat sunat diatas kendaraan bagi orang musafir dalam perjalanan. Golongan Malikiyah mengaitkan dengan situasi aman dari musuh, binatang buas dan ada kesanggupan. Oleh karena itu tudak wajib mengahadao kiblat apabila ketakutan atau tidak sanggup (lemah) setiap orang sakit.

Ulama sepakat bagi orang yang menyaksikan ka’bah wajib menghadap ke ka’bah sendir secara tepat. Akan tetapi bagi orang yang tidak menyaksikannya, karena jauh di luar kota makkah, hanya wajib menghadapakan muka kea arah ka’bah, demikian pendapat junhur ulama. Sedangkan Imam Syafi’I Berendapat mesti menghadapkan muka ke ka’bah itu sendiri sebagaimana halnya orang yang berada di kota mekah. Caranya mesti di niatkan dalam hati bahwa menghadap itu tepat pada ka’bah.

6. Niat. Golongan hanafiyah dan Hanabilah memandang niat sebagai syarat sah shalat, demikian juga pendapat yang lebih kuat dari kalangan Malikiyah.[11]

6. Cara Mengerjakan Shalat

Menurut golongan Malikiyah cara-cara /rukun-rukun mengerjakan sholat adalah sebagai berikut:

1. Niat,

2. Takbirtul Ihram,

3. Berdiri waktu takbiratul ihram,

4. Membaca al-fatihah dalam shalat berjama’ah dan salat sendirian, 5. Berdiri waktu membaca al-fatihah,

6. Ruku’

7. Bangkit dari ruku’, 8. Sujud,

9. Duduk antara dua sujud, 10. Mengucapkan salam,

11. Duduk di waktu mengucapkan salam, 12. Tuma;ninah pada seluruh rukun, 13. I’tidal sesudah ruku’ dan sujud.

Menurut golongan syafi’iyah rukun shalat tiga belas yaitu: 1. Niat,

(8)

3. Beerdiri pada shalat fardhu bagi yang sanggup,

4. Membaca al-fatihah bagi setiap orang yang shalat kecuali ada uzur seperti terlambat mengkuti imam (masbuq)

5. Ruku’,

6. Sujud dua kali setiap rakaat, 7. Duduk antara dua sujud, 8. Membaca tasyahud akhir, 9. Duduk pada tasyahud akhir,

10. Solawat kepada Nabi SAW setelah tasyahud akhir, 11. Duduk di waktu membaca salawat,

12. Mengucapkan salam, 13. Tertb.[12]

7. Hikmah mengerjakan shalat

Dari sudut religious shalat merupakan hubungan langsung antara hamba dengan khaliq-nya yang di dalamnya terkandung kenikmatan munajat, pernyataan ubudiyah, penyerahan segala urusan kepada Allah, keamanan dan ketentraman serta perolehan keuntungan. Di samping itu dia merupakan suatu cara untuk memperoleh kemenangan serta menahan seseorang dari berbuat kejahatan dan kesalahan. Allah SWT berfirman:

ô‰s% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ tûïÏ%©!$# öNèd

’ÎûöNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,,(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,”[13]

Secara individual shalat merupakan pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT , menguatkan iwa dan keinginan, semata-mata mengagungkan Allah SWT, bukan berlomba-lomba untuk memperturutkan hawa nafsu dalam mencapai kemegahan dan mengumpulkan harta. Di samping itu shalat merupakan peristirahatan diri dan ketenangan jiwa sesudah melakukan kesibukan dalam menghadapi aktivitas dunia.

Allah SWT berfirma:

$

tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrß

‰ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.[14]

Shalat mengajar seseorang untuk berdisiplin dan menta’ati berbagai peraturandan etika dalam kehidupan dunia. Hal ini terlihat dari penetapan waktu sholat yang mesti di pelihara oleh setiap muslim dan tata tertib yang terkandung di dalamnya. Dengan demikan orang yang melakukan shalat akan memahami peraturan, nilai dan sopan santun, ketentraman dan mengkonsentrasikan pikiran kepada hal-hal yang bermamfaat, karena shalat penuh dengan pengertian ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai-nilai tersebut.

Dari segi social kemasyarakatan shalat merupakan pengakuan aqidah setiap anggota masyarakat dan kekuatan jiwa mereka yang berimplikasi terhadap persatuan dan kesatuan umat. Persatuan dan kesatuan ini menumbuhkan hubungan social yang harmonis dan kesamaan pemikiran dalam menghadapi segalam problema kehidupan social kemasyarakatan.

(9)

BAB III PENUTUP Kesimpulan

1. Shalat merupakan penyerahan diri secara talalitas untuk menghadap Tuhan, dengan perkataan dan perbuatan menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara

2. Shalat merupakan kewajiban bagi kaum muslimin yang mukallaf tanpa kecuali

3. a.Shalat Merupakan Syarat Menjadi Takwa

Taqwa merupakan hal yang penting dalam Islam karena dapat menentukan amal / tingkah laku manusia, orang – orang yang betul – betul taqwa tidak mungkin melaksanakan perbuatan

keji dan munkar, dan sebaliknya

Salah satu persyaratan orang – orang yang betul betul taqwa ialah diantaranya mendirikan shalat sebagimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah

b. Shalat Merupakan Benteng Kemaksiatan

Shalat merupakan benteng kemaksiatan artinya bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Semakin baik mutu shalat seseorang maka semakin efektiflah benteng kemampuan untuk memelihara dirinya dari perbuatan makasiat Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar apabila dilaksanakan dengan khusu tidak akan ditemukan mereka yang melakukan shalat dengan khusu berbuat zina. Maksiat, merampok dan sebagainya. Merampok dan sebagainya tetapi sebaliknya kalau ada yang melakukan shalat tetapi tetap berbuat maksiat, tentu kekhusuan shalatnya perlu dipertanyakan. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut: 45

c. Shalat Mendidik Perbuatan Baik Dan Jujur

Dengan mendirikan shalat, maka banyak hal yang didapat, shalat akan mendidik perbuatan

baik apabila dilaksanakan dengan khusus.

d. Shalat Akan membangun etos kerja

Sebagaimana keterangan – keterangan di atas bahwa pada intinya shalat merupakan penentu apakah orang – orang itu baik atau buruk, baik dalam perbuatan sehari – hari maupun

ditempat mereka bekerja

Apabila mendirikan shalat dengan khusu maka hal ini akan mempengaruhi terhadap etos kerja mereka tidak akan melakukan korupsi atau tidak jujur dalam melaksanakan tugas

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, S.A. Zainal, Kunci Ibadah, (Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang, 2001) Hamid ,Abdul. Beni HMd Saebani, Fiqh Ibadah, (Bandung: Pustaka Setia, 2009).

Haryono, Sentot, Psikologi Salat, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003).

(10)

http://salampathokan.blogspot.com/2012/12/hadits-tentang-shalat-kewajiban-shalat.html. diunduh tgl 26 april 2013, di mataram pukul 22.13 WITA.

[1] Drs. Sentot Haryono, M.Si, Psikologi Salat, )Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003(, hlm. 59. [2] Ibid

[3] http://salampathokan.blogspot.com/2012/12/hadits-tentang-shalat-kewajiban-shalat.html. diunduh tgl 26 april 2013, di mataram pukul 22.13 WITA.

[4] Dr. A. Rahman Ritoga, M.A. Dr. Zainuddin, M.A, Fiqh Ibadah, ) Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002(, hlm. 94-96.

[5] Drs. K.H. Abdul Hamid, M.Ag, Drs. Beni HMd Saebani, M.Si. Fiqh Ibadah, )Bandung: Pustaka Setia, 2009(, hlm.191-192.

[6] S.A. Zainal Abidin, Kunci Ibadah, )Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang, 2001(, hlm.47-48.

[7] Ibid, hlm. 48.

[8] Dr. A. Rahman Ritoga, M.A. Dr. Zainuddin, M.A, Fiqh Ibadah, hlm.93.

[9] S.A. Zainal Abidin, Kunci Ibadah, hlm. 48.

[10] Ibid, hlm. 48.

[11] Dr. A. Rahman Ritoga, M.A. Dr. Zainuddin, M.A, Fiqh Ibadah, hlm.96-98.

[12] Ibid, hlm.103.

[13] Ibid, hlm.88-89;

[14] Ibid, hlm. 89-90.

Referensi

Dokumen terkait

Jika orang yang musafir mendapatkan Shalat Jum'at, maka hal itu mencukupinya dari Shalat Dzuhur (maksudnya ia tidak perlu Shalat Dzuhur lagi), baik ia mendapatkan dua raka'at atau

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw keluar pada hari eid fitri maka beliau mendirikan shalat dua rekaat namun beliau tidak melaksanakan shalat sunnah baik sebelumnya

Bahwa siapa yang telah melaksanakan shalat id maka tidak ada kewajiban atasnya shalat jum’at akan tetapi bagi seorang imam hendaklah melaksanakan shalat jum’at bersama

Barangsiapa keluar untuk menunaikan shalat Dhuha, ia tidak merasakan lelah kecuali karena melaksanakan shalat tersebut, maka pahalanya seperti pahala orang

masalah yang akan diangkat hanya pada korupsi secara umum dan terjadi di

Qiyas menurut Ulama’ Ushul fiqh ialah menerangkan hukum sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Alqur’an dan Hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu

Dari Paparan atau penjelasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Maisir, Gharar, Riba dan Risywah merupakan hal- hal yang tidak diperbolehkan

Minyak bumi selain bahan bakar juga sebagai bahan industri kimia yang penting dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari yang disebut petrokimia....