• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHASA PENCITRAAN PILKADA DKI JAKARTA DI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAHASA PENCITRAAN PILKADA DKI JAKARTA DI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAHASA PENCITRAAN PILKADA DKI JAKARTA DI MEDIA SOSIAL

Antok Risaldi

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruaan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

[email protected]

Abstrak

Media sosial menjadi salah satu sarana untuk mencitrakan diri yang bersifat positif ke hadapan publik. Hal itu juga dilakukan oleh calon gubenur dan wakil gubenur Dki Jakarta pada tanggal 15 Februari 2017 dan 19 April 2017. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atu lisan tentang sifat suatu individu, keadaan, atau gejala dari kelompok tertentu yang diamati. Oleh karena itu penelitian ini lebih menekankan pada bentuk kualitatif deskriptif. Data tersebut berupa tulisan para calon gubenur dan calon wakil gubenur di media sosial. Artikel ini akan membahas bahasa pencitraan yang digunakan para calon gubenur dan calon wakil gubenur di media sosial.

Kata kunci: bahasa, pencitraan, pilkada, DKI Jakarta, media sosial.

PENDAHULUAN

(2)

Calon gubenur dan wakil gubenur Dki Jakarta adalah Basuki Tjahja Purnama (dikenal sebagai “Ahok”) mencalonkan diri sebagai petahanan bersama dengan Djarot Saiful Hidayat. Selain itu, mantan perwira TNI Agus Harimurti Yudhoyono bersama dengan Sylviana Murni, serta akademisi dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan IndonesiaAnies Baswedan

juga mencalonkan diri bersama dengan Sandiaga Uno.

Para calon gubenur dan calon wakil gubenur menggunakan media sosial sebagai tempat sarana mereka dalam mempromosikan diri dan juga sebagai salah satu strategi mereka dalam memenangkan pilkada. Makalah ini akan membahas (1) pencitraan, (2) politik pencitraan, (3) pencitraan politik, (4) komunikasi politik.

1. Pencitraan

Kata “Citra” dalam bahasa Jawa berarti “gambar”, kemudian dikembangkan ke dalam menjadi gambaran sebagai padanan perkatan image dalam bahasa Inggris. Citra dapat didefiniskan konstruksi atas representasi dan persepsi khayalak terhadap individu, kelompok atau lembaga yang terkait kiprahnya dalam masyarakat. Sedangkan pencitraan merupakan proses pembentukan citra melalui informasi yang diterima oleh khayalak secara langsung melalui media sosial atau media massa. Hal ini berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap pesan yang menyetuhnya atau merangsangnya. Citra yang melekat di benak seseorang itu dapat berbeda dengan realitas objektif atau tidak selamanya mereflesikan kenyataan yang sesungguhnya. Demikian juga citra dapat mereflesikan hal yang tidak wujud atau imajinasi yang mungkin tidak sama dengan realitas empiris.

2. Politik Pencitraan

Politik pencitraan terletak pada sumber pesan (komunikator) , karena analisis yang digunakan adalah analisis kontrol. Analisis kontrol yang dimaksud terkait dengan pengendalian pada pesan-pesan yang disampaikan dan banyak berhubungan dengan sumber pesan itu sendiri dalam membangun manajemen pencitraan yang terbaik bagi seseorang. Oleh sebab itu, hal yang tidak bisa dilepaskan dari ‘politik pencitraan’ itu tersendiri adalah ‘strategi pencitraan’ yang dibangun.

(3)

Anwar arifin (2003:145) menyebut strategi itu sebagai keseluruhan keputusan kondisional pada saat ini tentang tindakan yang akan dijalankan guna mencapai tujuan pada masa depan. Menurut Anwar arifin, merawat ketokohan dan memantapkan kelembagaan dalam melakukan komunikasi politik, merupakan keputusan yang tepat saat inibagi komunikator untuk mencapai kedepan yaitu, citra yang baik, opini public yang positif dan memenangkan pemilihan umum.

Dengan demikian esensi mendasar dari ‘Politik Pencitraan’ itu adalah upaya dari komunikator untuk menumbuhkan ‘partisipasi politik’ khayalak selanjutnya memberikan pilihan padanya.

3. Pencitraan Politik

Pencitraan politik terletak pada khayalak, sehingga analisa yang digunakannya adalah ‘analisa khayalak’. Pada dasarnya, ‘khayalak itu kepala batu’ (the obsinate audience theory) yang merupakan koreksi dari Teori Peluru (The Ballet Theory) dan teori Jarum Hipodermik (Hypordemik Needle Theory) di mana selama ini berpendapat bahwa khayalak itu pasif.

Pencitraan politik sangat terkait dengan sosialisasi politik, karenannya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Semakin intens sosialisasi politik itu dilakukan semakin tinggi kepercayaan khayalak dan pada gilirannya khayalak menentukan pilihannya.

Lahirnya Teori Khayalak Kepala Batu ini, maka fokus penelitian dan perhatian bergesar dari komunikator politik kepada khayalak. Para pakat terutama pakar psikologi dan kemudian pakar sosiologi dan komunikasi, mencurahkan kepada individu. Lizen dalam Anwar Arifin (2008:89) misalnya telah menulis bahwa tiap-tiap manusia mempunyai watak dan sifat tertentu yang menjadi senjata bagi dirinya terhadap pengaruh sosial dari luar. Hampir tidak ada seorang pun yang menjadi bola permainan orang lain belakang.

Oleh karena itu, tiap-tiap individu juga sadar akan dirinya, dan dari kesadaran itu ia hidup dan mengumpulkan kekuatan rohani untuk bertindak sendiri. Sejalan dengan itu Anwar Arifin (1985) menyebutkan bahwa tiap individu memiliki kesadaran ‘Aku’, yang menjadi kekuatan baginya dalam menghadapi pengaruh dari luar. Kesadaran ‘Aku’ itu bersumber dari kerangka referensi (frame of reference) dan pengalaman lapangan (field of experience).

(4)

publik dipandang memiliki filter konseptual (seperti motif, kepentingan, ideology) yang membuatnya tidak mudah membentuk opini. terhadap sebuah kebijakan, bamun dapat dikalahkan oleh kelompok minoritas (public minority) yang anti terhadap kebijakan itu, tetapi selalu ditonjolkan oleh media massa. Suara minoritas itu tidak saja membentuk citra yang keliru, tetapi dapat terwujud dalam bentuk keputusan, nilai-nilai dan norma-norma.

Opini publik sendiri baru akan tercipta jika ada realitas sosial yang menjadi pendapat dari pendapat rata-rata individu dalam masyarakat sebagai hasil diskusi langsung yang dilakukan untuk memecahkan persoalan sosial terutama yang dioperkan media massa. Jadi opini public hanya terbentuk jika ada isu yang dikembangkan oleh media massa seperti suratkabar, radio dan televisi. (Anwar Arifin:1998:115).

Dengan ini memberikan gambaran bahwa ‘Pencitraan Politik’ juga akan terbentuk jika ada ‘kesamaan wartawan’ dalam membangun opini itu sendiri. Inilah yang kemudian disebut dengan realitas media, di mana media massamemiliki kekuatan yang kuat untuk membentuk persepsi politik dan citra politik khalayak.

Noelle Neumann membuktikan adanya semacam ‘lingkaran kebisuan’ (die schwigesperale) atau the spiral silence dalam masyarakat. Lingkaran kebisuan itu adalah masyoritas khalayak (public majority) yang membisu atau diam meskipun pro atau setuju terhadap sebuah kebijakan, bamun dapat dikalahkan oleh kelompok minoritas (public minority) yang anti terhadap kebijakan itu, tetapi selalu ditonjolkan oleh media massa. Suara minoritas itu tidak saja membentuk citra yang keliru, tetapi dapat terwujud dalam bentuk keputusan, nilai-nilai dan norma-norma.

4. Strategi Komunikasi Politik

Hakikat strategi dalam komunikasi politik adalah keseluruhan keputusan kondisional pada saat ini tentang tindakan yang akan dijalankan guna mencapai tujuan politik pada masa depan (Ardial, 2010: 73). Karena pada kenyataannya keberadaan pemimpin politik sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas kegiatan komunikasi politik. Setelah itu, langkah yang tepat bagi seorang komunikator politik untuk mencapai tujuan politik ke depan antara lain dengan merawat ketokohan yang telah melekat pada diri komunikator politik tersebut serta

memantapkan kelembagaan politiknya.

(5)

mendukungnya sangat menentukan berhasil atau tidaknya komunikasi politik dalam mencapai sasaran dan tujuannya.

METODE PENELITIAN

Dari asal katanya metode berarti ‘Jalan’ atau cara ‘cara’. Metode penelitian ini berarti cara pengumpulan data dan analisis. Dari analisa data tersebut kemudian peneliti akan mendapatkan hasil apakah itu berupa penegasan atas teori yang pernah ada (confirmation) atau suatu penemuan baru (discovery).

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode ini lebih memengedepankan kualitas data yang diperoleh. Metode penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif . Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik pembahasan deskriptif analsis yaitu dengan memaparkan dan menggambarkan serta menganalisa data-data yang diperoleh. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, ucapan atau tulisan, dan perilaku yang dapat diamati dari subjek itu sendiri. Pendekatan ini menunjukan langsung dari seting itu secara keseluruhan. Subjek setudi baik berupa organisasi, lembaga,atau pun individu tidak dipersempit menjadi variabelyang terpisah atau menjadi hipotesis, tetapi dipandang sebagai bagian dari satu keseluruhan”

(6)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni merupakan pasangan calon gubenur dan wakil gubenur DKI Jakarta nomor urut 1. Agus—Sylvi telah memulai proses kampanye yang panjang untuk memperkenalkan diri serta menjelaskan program-program mereka kepada warga Jakarta. Strategi Agus-Sylvi dalam memenangkan pilkada terlihat pada account instagram @agus.sylvi menghadirkan foto dan pernyataan sebagai berikut:

agus.sylvi seharusnya mereka menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain dengan teman sebaya atau belajar berkelompok dengan teman-temannya.

Siapa yang bisa mewujudkan pendidikan gratis, ekonomi kerakyatan, dan meningkatkan level masyarakat kecil.

Kalau bukan gubenur yang berpihak pada rakyat.

Tidak butuh janji tapi butuh bukti. Tidak pula bersilat lidah menyerang sana sini tapi beri sumbangsi untuk anak negeri. (Ad1).

(7)

Basuki Tjahja Purnama atau yang sering disapa dengan nama Ahok menjadi petahana dalam pilkada DKI Jakarta. Ahok menggandeng Djarot Saiful Hidayat sebagai wakil gubenur DKI Jakarta. Ahok-Djarot merupakan pasangan urut nomor 2. Dalam memenangkan pilkada DKI Jakarta Ahok-Djarot mempunyai strategi dalam menarik dukungan dari masyarakat terlihat pada media sosial milik mereka. Dalam account instagram @ahokdjarot menghadirkan foto dan pernyataan sebagai berikut:

ahokdjarot Jangan takut berobat karena ditanggung pemerintah. Orang Jakarta harus sehat. #BasukiDjarot menjamin akses kesehatan untuk selirih warga dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Jakarta agar setara dengan kotakota maju di dunia, karena #JakartaPunyaSemua.

Sampai tahun 2017, anggaran untuk BPJS-PBI terus meningkat mencapai 828M dan jumlah peserta BPJS—PBI per tahun 2016 mencapai 2,9 juta penduduk. (Ad2)

(8)

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno merupakan calon pasangan nmor urut 3. Strategi Anies-Sandi dalam memenangkan pilkada DKI Jakarta dengan memperkenalkan program kerja di media sosial. seperti terlihat pada account instagram Anies-Sandi

@jakartamajubersama.

Jakartamajubersama Mas @aniesbaswedan dan Bang @sandiuno punya program-program yang konkrit untuk mempersatukan warga.

Membereskan ketimpangan sosial adalah jembatanya. Mari teman-teman, kita bersiap untuk melangkah #MajuBersama Anies-Sandi!!! Jangan lupa digeser2 untuk melihat lengkapnya  #CoblosNomor3 #SalamBersama #MajuBersama (Ad3 )

Anies-Sandi tentunya tak jauh beda dengan kandidat calon gubenur dan wakil gubenur yang lain. Mereka membangun citra positif dan pro rakyat. Hal ini terlihat pada program kerja mereka yang diberi nama OK OCE. Program kerja tersebut berisikan gambaran mengenai apa yang mereka lakukan jika terpilih menjadi gubenur dan wakil gubenur DKI Jakarta. Anies-Sandi berjanji akan membereskan permasalahan yang ada di Jakarta, hal ini tentunya pelu bukti bukan hanya sekedar janji.

(9)

Penggunaan bahasa pecitraan di media sosial merupakan strategi politik yang digunakan dalam membangun image (citra) pada kandidat calon gubenur dan wakil gubenur DKI Jakarta. Pencitraan digunakan untuk membangun citra positif pada dirinya. Pencitraan bertujuan untuk meraih hati mayarakat agar memilih dirinya. Strategi pencitraan setiap kandidat calon gubenur dan wakil gubenur DKI Jakarta tentunya berbeda. Tetapi, tujuannya sama yaitu untuk memenangkan pilkada DKI Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar. 2008. Komunikasi Politik: Filsafat, Paradigma, Teori, Tujuan, Strategi dan Komunikasi Politik. Jakarta: Balai Pustaka.

Ardial, 2009. Komunikasi Politik. Jakarta:Indeks.

Saifuddin, Azwar. 1998. Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kertamukti, Rama. 2015. “INSTAGRAM DAN PEMBENTUKAN CITRA (Studi Kualitatif Komunikasi Visual dalam Pembentukan Personal Karakter Account Instagram @basukibtp” dalam Jurnal Komunikasi PROFETIK Volume 08 Nomor 01 April 2015 dalam http://ejournal.uin-suka.ac.id/isoshum/profetik diunduh Kamis, 20 Juli 2017 Pukul 19:31

Referensi

Dokumen terkait

Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji aktivitas belajar siswa menggunakan Model Pembelajaran TGT disertai media Kartu Remi Fisika dan untuk mengkaji

sekuen primer yang didesain dengan metode simulasi insiliko menggunakan blast primer pada NCBI, maka profil suhu prediksi amplifikasi gen COI untuk PCR dari

Mashlahah mursalah disini dapat dipahami bahwa peraturan mengenai pembebanan biaya dalam PTSL tidak terdapat dalam dalil syara‟, namun sekalipun tidak terdapat

Nilai parameter yang ditunjukan persamaan tersebut dapat dibaca sebagai jika di suatu kabupaten/kota terjadi peningkatan alokasi tenaga kerja pada sektor yang lebih

Seiring dengan terus meningkatnya pembangunan di Kabupaten Boven Digoel, jumlah pegawai negeri sipilpun terus bertambah dari tahun ke tahun. Seperti yang tampak pada

Guna mengoptimalkan pemanfaatan andesit sebagai bahan bangunan dan menentukan metode eksplorasi yang akan dikerjakan maka penelitian ini membahas mengenai karakteristik

Perangkat penilaian yang telah dikembangkan untuk menilai kesulitan belajar siswa memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan tersebut diantaranya yaitu: 1) berdasarkan

Dan keuntungan (hasil usaha) yang diperoleh dari tambahan modal kerja akan dibagi antara BMT NU Sejahtera dan mitra usaha berdasarkan kesepakatan yang telah