Thr
ee Sacr
ed Cir
cles
A
tma Drack
onia
N
un jauh di pedalaman ujung barat-daya pulau jawa, tinggallah sebuah masyarakat adat sub-etnis Sunda. mereka tinggal di kawasan gunung kendeng, kabupaten lebak, provinsi banten. orang-orang mengenal mereka sebagai orang baduy. ada juga yang menyebut mereka orang rawayan. hanya sedikit orang yang menyebut mereka urang kanekes (baca: kanékés). apa pun sebutannya, yang dimaksud adalah satu komunitas adat di banten yang masih memegang teguh norma-norma yang diwariskan dari leluhurnya.Urang Kanekes dicemooh sekaligus dipuji. Dicemooh sebab mereka dianggap sebagai masyarakat terbelakang yang “bodoh”. Ukuran keterbelakangan dan “kebodohan” di sini subjektif, yakni karena menolak berbagai institusi dan produk dunia modern. Namun, mereka
juga dipuji, justru, karena prinsip hidup yang membuat mereka menolak berbagai institusi dan produk dunia modern itu.
Orang Baduy atau Urang
Kanekes?
■
penuliS pernah mendapat informasi lisan bahwa komunitas tersebut enggan disebut sebagai orang baduy—bahwa sebutan itu diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut sebagai ejekan. informasi ini juga banyak penulis temukan dalam berbagai literatur yang membahas atau menyinggung masyarakat adat ini.konon, sebutan “orang baduy” berasal dari para peneliti belanda yang, agaknya,
mempersamakan mereka dengan kelompok arab badawi yang merupakan masyarakat nomad (tidak
* Sebuah tinjauan hipotetis. penulis menyusunnya hanya berdasarkan studi tangan kedua (literatur), tidak secara langsung berinteraksi dengan komunitas yang diteliti.
nung!
Konsep Mandala dalam Dunia
Urang
kanekes
Sebuah Tinjauan dari Luar
*menetap). mereka menyebutnya badoe’i, badoej,
badoewi, urang kanekes, dan rawayan.1 istilah ini
berkonotasi kurang baik karena berkenaan dengan kelompok pengembara padang pasir di tanah arab yang dipandang rendah peradabannya2 atau kaum
pedalaman gurun yang menolak ajaran islam yang dibawa muhammad rasulullah. Dari sini, besar kemungkinan bahwa sebutan baduy merupakan penamaan pejoratif yang berasal dari masyarakat sekitarnya yang telah “beradab” dan telah memeluk agama islam.3 karena itulah, mereka enggan
disebut dengan panggilan yang mencemooh itu. mereka lebih suka menyebut diri sebagai urang kanekes, sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka, seperti urang cibeo, urang cikartawana, atau urang cikeusik.
ada kemungkinan lain bagi sebutan “orang baduy” itu, yakni karena adanya Sungai cibaduy dan bukit baduy di bagian utara wilayah mereka.
1 judistira k. garna, “orang baduy dari kanekes : ketegaran dalam menghadapi tantangan zaman.” makalah dalam Seminar Sehari dengan orang baduy (museum negeri jawa barat, bandung, 1992): 2. 2 edi S. ekajati, Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan
Sejarah ( jakarta: pustaka jaya, 1995): 54. 3 Syarif moeis, “konsep ruang dalam kehidupan
orang kanekes.” makalah dalam Diskusi jurusan pendidikan Sejarah (FpipS upi, bandung, 2010), http://file.upi.edu/Direktori/FpipS/jur._penD._ Sejarah/195903051989011-SyariF_moeiS/ makalah__1.pdf (Diakses 3 april 2016).
namun, mengasalkan sebutan “orang baduy” kepada gunung yang ada di wilayah mereka mungkin anakronistik. bisa jadi, Sungai cibaduy dan bukit baduy baru diberi nama demikian, justru, setelah mereka bermukim di sana dan sebutan sebagai “orang baduy” sudah dilekatkan kepada mereka.
meskipun demikian, informasi bahwa mereka lebih suka menyebut diri sebagai urang kanekes ini dibantah oleh ayah mursid—Wakil jaro tangtu cibeo. menurutnya, istilah baduy diambil dari nama sungai (cibaduy) atau bukit (baduy) yang berada di kawasan mereka, sementara istilah kanekes adalah sebutan yang terhitung baru dan berhubungan dengan dibentuknya jaro pamarentah di kanekes. pernyataan tersebut diperkuat oleh jaro Dainah—sebagai jaro pamarentah Desa kanekes—yang mengatakan bahwa “kanekes adalah nama desa, baduy nama masyarakatnya.”4
‘Ala kulli hal, apa pun penyebabnya, disanggah
atau diterima, mereka “telanjur” telah dikenal sebagai orang baduy: sebuah masyarakat adat di banten yang memegang teguh ajaran para leluhur untuk berperilaku selaras dan menghormati tanah tempat mereka hidup, sesuai dengan tugas mereka. Dalam tulisan ini, penulis akan menyebut mereka, berdasarkan daerah tempat tinggal mereka, sebagai urang kanekes—dengan bunyi /é/—dalam pengertian yang serupa dengan sebutan orang balaraja, orang kronjo, atau orang Serang.
Urang Kanekes dan Konsep
Mandala
■
tugaS urang kanekes adalah melakukantapa (bekerja, beraktivitas) di mandala. hal itu karena, dalam sejarah masyarakat Sunda secara keseluruhan, masyarakat baduy memunyai kedudukan sebagai mandala. Sedangkan, masyarakat Sunda lainnya—di luar mandala— berkedudukan sebagai nagara dan semua warganya mengemban tugas untuk melakukan tapa di
4 asep kurnia & ahmad Sihabudin, Saatnya Baduy Bicara
( jakarta: bumi aksara, 2010): 16–8.
nagara.5 tugas dan kedudukan masing-masing ini
mereka emban secara turun-temurun. kata mandala—yang berarti “wilayah kekuasaan lembaga keagamaan”6—diserap dari
5 Saleh Danasasmita & anis Djatisunda, Kehidupan Masyarakat Kanekes (bandung: bagian proyek penelitian dan pengkajian kebudayaan Sunda Depdikbud, 1986) dalam Syarif moeis, op. cit.. Dari “amanat buyut” urang kanekes bisa diketahui bahwa ada 33 nagara di dalam wilayah kanekes: buyut nu dititipkeun ka pu-un, nagara satelung puluh telu (buyut yang dititipkan kepada pu-un,
nagara tiga puluh tiga). lihat asep kurnia & ahmad Sihabudin, op. cit.: vi.
6 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), edisi ketiga ( jakarta: balai pustaka, 2002): 709.
bahasa Sanskerta dan berarti “lingkaran suci”.7 Dalam kerajaan
Sunda lama, mandala berarti tempat suci untuk pusat kegiatan keagamaan—tempat para pendeta, murid-murid, atau bahkan
pengikut mereka hidup untuk membaktikan seluruh hidupnya bagi kepentingan kehidupan beragama. ini artinya masyarakat hanya boleh tinggal di sana selama mematuhi seluruh aturan yang ada. kawasan mandala juga berarti tidak boleh didatangi oleh sembarang orang.8
Dari prasasti banten dan naskah Sunda kuno diketahui bahwa, dalam masyarakat Sunda lama, mandala disebut juga kabuyutan
dan terdiri dari dua macam: lemah Dewasasana dan lemah parahiyangan. lemah Dewasasana adalah mandala untuk pemujaan dewa bagi penganut agama hindu; sedangkan lemah parahiyangan— disebut juga kabuyutan jatisunda— adalah mandala untuk pemujaan
hiyang bagi penganut yang memuja
arwah leluhur (nenek moyang). Dari prasasti dan naskah-naskah itu dapat diketahui beberapa buah mandala di tanah Sunda, salah satunya adalah kanekes.9
Dalam kosmologi urang kanekes, alam semesta terbagi menjadi tiga tingkatan dunia. Dunia tertinggi adalah buana nyungcung—disebut
7 rosita Dellios,, “Mandala: From Sacred Origins to
Sovereign Affairs in Traditional Southeast Asia”, The centre for east-West cultural and economic Studies, research paper no. 10. http://epublications.bond.edu.au/cewces_ papers/8 (Diakses 3 april 2016).
8 jamaludin, “makna Simbolik huma (ladang) di masyarakat baduy,” Mozaik, 11(1), Fakultas ilmu budaya universitas airlangga, Surabaya, 2012. http://lib.itenas. ac.id/kti/wp-content/uploads/2012/10/ makna-Simbolik-huma-di-masyarakat-baduy.pdf (Diakses 3 april 2016). 9 Syarif moeis, ibid.
J. Isk
andar & R. Ellen, “In Situ C
onserv
, Summer 1999, 19(1): 100.
Kata mandala—yang
berarti “wilayah
kekuasaan lembaga
keagamaan”—diserap
dari bahasa Sanskerta
dan berarti “lingkaran
PanamPing
en en ander omstr
en
t he
t land der Badoei’
s (Z
juga buana luhur atau ambu luhur. Dunia itu dihuni oleh para dewa dalam konsep agama hindu (brahma, Wisnu, Syiwa, indra, yama, dll.) dengan kekuasaan tertinggi dimiliki oleh Sang hyang keresa (yang mahakuasa)—disebut juga nu ngersakeun (yang menghendaki) atau batara Seda niskala (yang gaib). Dunia menengah adalah buana panca tengah—disebut juga buana tengah atau ambu tengah—yang dihuni oleh manusia dan makhluk lainnya. Dunia terendah adalah buana larang—disebut juga buana handap atau ambu handap—yaitu neraka.10
buana panca tengah dibedakan berdasarkan tingkatan kesuciannya. tempat yang merupakan pusat paling suci adalah arca Domas—disebut juga pada ageung atau Sasaka pusaka buana.11
letaknya di bukit pamutuan, daerah hulu sungai ciujung di ujung barat pegunungan kendeng. tanggung jawab pemeliharaan sasaka ini berada di tangan pu-un (pemimpin adat) cikeusik dan hanya pu-un cikeusik dengan beberapa orang kepercayaannya yang mengetahui lokasi tepatnya.12
Selain itu, ada pula Sasaka Domas atau mandala parahiyang. lokasinya di hulu sungai ciparahiyang, jauh di dalam kompleks hutan larangan. tanggungjawab pemeliharaannya berada di tangan pu-un cibeo. menurut mitologi urang kanekes, di sinilah tempat ketika batara cikal (atau batara tunggal) turun ke bumi. batara cikal adalah tokoh utama yang dianggap sebagai leluhur cikal-bakal urang kanekes. Di sekitar tempat itulah arwah para leluhur yang telah meninggal berkumpul dengan batara cikal.13
Selanjutnya, berurutan dengan tingkat kesucian makin menurun adalah kampung dalam, kampung luar, banten, tanah Sunda, dan luar Sunda.
10 Syarif moeis, ibid.
11 arca Domas berarti “800 patung”. angka 800 di sini hendaknya dimaknai sebanai “banyak”, bukan bilangan yang pasti. Sasaka pusaka buana berarti “pusaka dunia yang disucikan”. lihat, robert Wessing & bart barendregt, “tending the Spirit’s Shrine: kanekes and pajajaran in West java”, Moussons, 2005, 8: 19. 12 Syarif moeis, ibid.
13 robert Wessing & bart barendregt, op. cit.: 6.
Tiga Mandala dan Tiga Tangtu
■
aDa Semacam stratifikasi sosial dalam masyarakat urang kanekes. berdasarkan tingkat kemandalaannya, mereka membagi wilayahkanekes menjadi tiga lingkaran konsentris: tangtu, panamping, dan Dangka.
1. kawasan tangtu adalah wilayah dengan tingkat kemandalaan tertinggi. kawasan ini terletak paling jauh dari masyarakat luar dan meliputi tiga kampung: cikeusik, cikartawana, dan cibeo—karena itu, kawasan ini disebut juga sebagai tangtu tilu. penghuninya disebut urang tangtu atau masyarakat baduy Dalam14
dan dituntut secara penuh untuk hidup sesuai dengan aturan kemandalaan.
14 Peraturan Desa Kanekes, nomor 01, tahun 2007, tentang Saba budaya Dan perlindungan masyarakat adat tatar kanekes (baduy): 4. http://web.iaincirebon.ac.id/ebook/ moon/adat-indigenous/peraturan Desa kanekes.pdf (Diakses 4 april 2016).
2. kawasan panamping memiliki tingkat kemandalaan yang lebih rendah dan terletak di luar kawasan tangtu. Wilayahnya meliputi semua perkampungan di luar kawasan tangtu, tetapi masih berada di dalam wilayah Desa kanekes. penghuninya disebut sebagai urang panamping atau masyarakat baduy luar dan tidak terlalu dituntut untuk hidup sesuai dengan aturan kemandalaan.
3. kawasan Dangka memiliki tingkat kemandalaan yang paling rendah dan terletak di luar kawasan panamping. Wilayahnya, secara administratif, berada di luar wilayah Desa kanekes. pada umumnya, penduduknya masih memiliki keterikatan kekerabatan dan kosmik dengan warga serta tata aturan dan sistem yang berlaku di tatar kanekes,15 tetapi samasekali tidak
dituntut untuk hidup sesuai dengan aturan kemandalaan.
Selanjutnya, masyarakat tangtu, secara khusus, juga terbagi ke dalam tiga kelompok sosial dengan tugasnya masing-masing. konsep tangtu tilu (tiga tangtu) ini serupa dengan konsep tri tangtu sebagaimana digunakan dalam kerajaan Sunda kuno yang merupakan kesatuan antara tiga unsur peneguh dunia dan dilambangkan dengan rama (dunia kesejahteraan), raja (dunia pemerintahan), dan resi (dunia bimbingan).
a. masyarakat kampung cikeusik disebut sebagai tangtu pada ageung dan memunyai tugas untuk berfungsi sebagai “rama” (sumber perilaku).
b. masyarakat kampung cikartawana disebut sebagai tangtu kadu kujang dan
memunyai tugas untuk berfungsi sebagai “resi” (sumber
bimbingan).
c. masyarakat kampung cibeo disebut sebagai tangtu parahiyang dan memunyai tugas untuk berfungsi sebagai “raja” (sumber wibawa).16
15 Peraturan Desa Kanekes, ibid.
16 Syarif moeis, ibid.;
Setiap tangtu dalam tangtu tilu itu dipimpin oleh seorang pu-un. jadi, keseluruhannya ada tiga
pu-un: Pu-un cikeusik, Pu-un cikartawana, dan
Pu-un cibeo.
Buyut
untuk Menjaga
Kemurnian Mandala
■
konsep kemandalaan yang tidak berlaku di masyarakat luar kanekes memisahkan urang kanekes dari masyarakat lain dalam sistem kepercayaan. mereka menyebut orang Sunda di luar kanekes sebagai “urang eslam” dan menganggap mereka sebagai urang are atau dulur are. istilah urang are atau dulur are, kurang lebih, berarti “orang/saudara yang berbeda keyakinan” .17Dalam menjalankan tugas kosmiknya di mandala, urang kanekes berpegang pada norma leluhur yang mereka sebut sebagai pikukuh
karuhun. untuk mempertahankan pikukuh itu,
mereka memiliki aturan yang disebut buyut
(indonesia: larangan, tabu, Sunda: pamali), yaitu norma-norma larangan yang tak boleh dilanggar oleh urang kanekes. prinsip utama buyut adalah konsep menerima apa adanya, tanpa perubahan
17 “Harti urang are ta ja dulur are. Dulur dulurna mah, ngan Eslam, hanteu sabagi kami di dieu” (arti urang are itu sama dengan dulur are. Saudara sih saudara, tapi beragama islam, tidak seperti saya di sini). lihat Wilodati, “Sistem tatanan masyarakat dan kebudayaan orang baduy,” http://file.upi.edu/Direktori/FpipS/ m_k_D_u/196801141992032-WiloDati/jurnal_ baDuy.pdf (Diakses 4 april 2014).
■
Teras rendah Arca Domas. Di latar depan adalah sungai Ciujung.■
Tiga mandala dalam masyarakat Urang Kanekes.Zona heuma
sedikit pun atau tanpa perubahan apa pun. prinsip utama buyut tersebut disarikan dalam ungkapan:
lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang
disambung (panjang tidak boleh dipotong, pendek
tidak boleh disambung).
Buyut (tabu), dalam kehidupan urang kanekes,
terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Buyut demi melindungi kemurnian sukma,
yaitu perlindungan terhadap roh/jiwa karena sukma adalah roh manusia yang diturunkan ke alam dunia dalam keadaan bersih dan suci. jika seseorang meninggal, maka sukma yang kembali ke asal harus tetap bersih dan suci.
2. Buyut demi melindungi kemurnian mandala,
yaitu penghormatan terhadap Desa kanekes karena dianggap inti jagat (pusat semesta) sebagai tempat diturunkannya nabi adam ke dunia. Desa kanekes harus dijaga kemurniannya melalui larangan agar tak sembarang orang memasukinya.
3. Buyut demi melindungi kemurnian tradisi,
yaitu perlindungan terhadap adat istiadat yang ditetapkan dan diturunkan atas kandungan nilai kehidupan yang terbukti
telah menyelamatkan perjalanan hidup mereka.18
konsistensi dalam mematuhi berbagai buyut
untuk memelihara dan melestarikan pikukuh
karuhun agar tidak mengubah apa pun yang
telah diwariskan itulah yang membuat urang kanekes bersikukuh menolak berbagai institusi dan produk dunia modern. konsistensi itu melekat pada diri mereka, menyatu dalam jiwa, menjelma dalam perbuatan, dan tidak tergoyahkan oleh perkembangan zaman di masyarakat luar. konsistensi yang dilestarikan secara turun-temurun dan telah bertahan selama berabad-abad.
Di antara ratusan butir buyut dalam pikukuh
karuhun, urang kanekes juga berpegang teguh
kepada sepuluh buyut yang menjadi pedoman hidup mereka sehari-hari yang dikenal sebagai Dasa Sila, yaitu:
1. Moal megatkeun nyowa nu lian (tidak
membunuh orang).
2. Moal mibanda pangaboga nu lian (tidak
mengambil barang orang lain)
18 Saleh Danasasmita & anis Djatisunda, op. cit. dalam Wilodati, op. cit.
3. Moal linyok moal bohong (tidak ingkar dan
tidak berbohong)
4. Moal mirucaan kana inuman nu matak
mabok (tidak mabuk-mabukan)
5. Moal midua ati ka nu sejen (tidak menduakan
hati pada yang lain)
6. Moal barang dahar dina waktu nu ka
kungkung ku peting (tidak makan di waktu
sahur)
7. Moal make kekemhangan jeung seuseungitan
(tidak memakai wangi-wangian).
8. Moal ngageunah-geunah geusan sare (tidak
melelapkan diri dalam tidur)
9. Moal nyukakeun ati ku igel, gamelan, kawih,
atawa tembang (tidak menyenangkan hati
dengan tarian, musik, atau nyanyian).
10. Moal make emas atawa salaka (tidak
memakai emas atau perak).19
Konsep Mandala dan Tata
Lingkungan Urang Kanekes
Selain harus ditaati oleh penduduk kanekes sendiri, berbagai buyut pikukuh karuhun itu
19 m.S. Djoewisno, Potret Kehidupan Masyarakat Baduy
( jakarta: percetakan Setia offset, 1987) dalam gunggung Senoaji, “pemanfaatan hutan dan lingkungan oleh masyarakat baduy di banten Selatan”, Jurnal Manusia dan Lingkungan, 2004, Xi(3): 148.
juga harus dihormati oleh masyarakat luar yang berkunjung ke tanah ulayat20 mereka. Siapa pun,
tidak terkecuali, tak memiliki hak atau kekuasaan untuk melanggar atau mengubah tatanan
kehidupan yang ada dan sudah berlangsung dari generasi ke generasi. para pu-un memiliki kedudukan dan kewenangan untuk memelihara keseluruhan sistem sosial budaya mereka.
kedudukan dan kewenangan itu mereka dapatkan secara turun temurun dan sudah ditentukan oleh para karuhun (leluhur) demi menyelamatkan
taneuh titipan (tanah titipan, wilayah kanekes)
yang mereka percaya sebagai inti jagat (pusat semesta). Sebab itu, jika taneuh titipan itu rusak atau hancur, akan rusak dan hancur pula seluruh kehidupan di dunia. adanya aturan seperti inilah yang menjadikan hutan di wilayah urang kanekes tetap terjaga, lestari, dan utuh sampai saat ini.21
konsep sakralitas mandala yang berlaku di masyarakat urang kanekes tercermin juga dalam
pengelolaan tata lingkungan mereka. pertama, urang kanekes membagi kawasan tangtu menjadi tiga zona yang juga merupakan tiga lingkaran konsentris: zona bawah (untuk permukiman), zona tengah (untuk bercocok tanam), dan zona atas (untuk praktik pemujaan).
1. zona bawah atau heuma adalah wilayah di lembah bukit yang relatif datar dan dekat dengan sumber air (sungai atau mata air). areal ini digunakan sebagai zona permukiman yang terdiri dari rumah penduduk biasa, rumah pu-un, balai pertemuan (balé kapu-unan), penumbukan padi (saung lisung), lapangan, tempat penyimpanan padi
penduduk (leuit), sumber-sumber air minum,
20 kemungkinan diserap dari bahasa arab, wilāyah, melalui bahasa persia, vilayet, yang berarti wilayah atau daerah perwalian/perlindungan.
21 gunggung Senoaji, “masyarakat baduy, hutan, Dan lingkungan”, Jurnal Manusia dan Lingkungan, 2010 17(2): 121.
7.jpg
mck, dan pekuburan penduduk.22 hutan
di sekitar permukiman penduduk ini disebut
dukuh/leuweung lembur (hutan kampung).
2. zona tengah atau reuma adalah wilayah di luar permukiman penduduk di zona bawah, terletak di atas lembah-lembah yang terdiri dari hutan sekunder atau hutan produksi yang dibersihkan untuk dipergunakan sebagai lahan pertanian intensif tadah hujan dengan pola peladangan berpindah. lahan untuk berladang tersebut digunakan selama satu tahun. Setelah itu, lahan akan dibiarkan hingga menjadi hutan kembali, minimal, selama tiga tahun.23
3. zona atas atau leuweung kolot adalah wilayah di puncak bukit yang dianggap suci dan hutannya terlarang untuk diberdayakan untuk kehidupan praktis. hutan di sini
22 yudistira garna, “pola kampung dan Desa, bentuk Serta organisasi rumah masyarakat Sunda,” dalam edi S. ekajati, Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya, ( jakarta: giri mukti, 1980): 236-238.
23 Suparmini dkk., “pelestarian lingkungan masyarakat baduy berbasis kearifan lokal” [laporan penelitian], (Fakultas ilmu Sosial, universitas negeri yogyakarta, 2012): 85.
disebut leuweung kolot (hutan tua) atau
leuweung titipan (hutan titipan), berupa
hutan lindung yang diperuntukan sebagai tempat untuk melakukan upacara keagamaan dan harus dijaga kelestariannya. penduduk dilarang memasuki hutan ini tanpa seizin petinggi adat.24
kedua, berdasarkan fungsi dan lokasinya, mereka juga membagi hutan menjadi tiga jenis, yaitu hutan larangan, hutan dudungusan, dan hutan garapan.
1. hutan larangan. berada di sebelah selatan permukiman tangtu, pada lokasi yang paling dalam dan paling tinggi di kawasan hutan kanekes, hutan larangan adalah hutan lindung yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun, tidak diperkenankan mengusiknya, mengambil sesuatu darinya, bahkan sehelai daun, sepucuk ranting, atau setetes madu pun tidak boleh diambil darinya. hutan ini adalah hutan larangan bukan karena angker atau keramat, melainkan karena urang kanekes sangat menghormati dan menghargai alam atas dasar pemahaman
24 Idem.
terhadap potensi yang dikandungnya. hanya sekali setahun hutan larangan ini dikunjungi dan hanya oleh enam orang, yakni pu-un
dan wakilnya dari baduy Dalam untuk melaksanakan suatu upacara adat. Dari hutan larangan inilah mata air Sungai ciujung dan cisemeut berawal.25
2. hutan dungusan atau dudungusan. ini adalah hutan lindung yang dilestarikan karena berada di hulu sungai atau karena di dalamnya terdapat keramat yang diyakini sebagai tempat leluhur urang kanekes. hutan dudungusan dilindungi demi menjaga keberlanjutan tersedianya air sungai untuk kebutuhan vital masyarakat sehari-hari. hutan dudungusan ini terdapat di hulu-hulu sungai—antara lain, dudungusan cihalang (terletak antara kampung gajeboh dan cicatang), dudungusan cikondang (antara kampung gajeboh dan cicakal), dudungusan
cimambiru (dekat kampung balimbing),
dudungusan cigaru (dekat kampung
gajeboh), dudungusan jambu (dekat kampung cicakal), dudungusan cikuya (dekat kampung marengo), dan dudungusan
kalagian (dekat kampung cibeo).26
3. hutan garapan. tampilan fisiknya tidak sama seperti hutan dalam pengertian konvensional karena hutan garapan merupakan areal hutan yang dibuka dan difungsikan sebagai ladang atau huma.27 Di hutan ini, urang kanekes
bisa membuka dan menggarap ladangnya.
Urang Kanekes dan
Kelestarian Lingkungan
konsep mandala dengan pembagian wilayah berdasarkan tingkat kesakralannya bisa diamati dalam tata sosial dan tata guna lahan urang kanekes. Dalam praktiknya, konsep itu menjadi instrumen utama bagi pengelolaan lingkungan
25 Ibid.: 90-91.
26 raden cecep eka permana dkk., “kearifan lokal tentang mitigasi bencana pada masyarakat baduy”, Makara, Sosial Humaniora, 2011, 15(1): 73.
27 Suparmini dkk., op. cit.: 92.
di wilayah mereka, ketika mereka memandang alam dalam kemandalaan mereka sebagai warisan leluhur yang sakral dan tak boleh berubah. Sikap hormat mereka kepada alam itu didasarkan pada
pikukuh karuhun yang dijaga dan dilestarikan
melalui berbagai buyut yang mengatur cara hidup mereka. Pikukuh yang mereka pegang erat itu telah terinternalisasi demikian kuat dalam setiap jiwa urang kanekes dan, pada gilirannya, berpengaruh positif terhadap segala tindakan mereka menjaga lingkungan dari kerusakan. Semua itu didukung pula oleh keyakinan bahwa mereka adalah kaum yang ditugaskan sebagai penjaga alam desa
kanekes yang merupakan pusat semesta (inti jagat). bagi urang kanekes, menjaga kelestarian alam bukanlah agenda cantik yang bisa dijual kepada kaum kapitalis yang berkedok pencinta lingkungan. bagi mereka, kelestarian lingkungan berarti
keberlangsungan hidup mereka karena kerusakan lingkungan atau perubahan terhadap bentuk lingkungan, justru, akan mengancam sumber kehidupan mereka sendiri. karena itu, mereka berkepentingan untuk menjaga lingkungannya tanpa perlu mempelajari dahulu prinsip pembangunan berkelanjutan.
tanpa dukungan dana dari funder luar negeri, tanpa pernah berminat mendapatkan kalpataru, tanpa mengajukan proposal ke lembaga mana pun, urang kanekes telah melakukan berbagai upaya konservasi alam sejak ratusan tahun yang lalu. hal itu, di antaranya, mereka lakukan melalui konsep pengelolaan lingkungan dengan sistem zonasi yang sejalan dengan konsep kemandalaan wilayah yang mereka pegang sebagai amanat
pikukuh karuhun.
Sebagaimana dikatakan pada catatan kaki di muka, ini hanyalah sebuah tinjauan hipotetis sebab penulis menyusunnya hanya berdasarkan studi tangan kedua (literatur), tidak secara langsung berinteraksi dengan komunitas yang diteliti. karena itu, pada tempatnyalah jika penulis mengakhiri tulisan ini dengan wallāhu
a‘lam bil-shawāb.
RAIN KAMANDAK