56 BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Laporan Keuangan
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Analisis laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomi suatu perusahaan. Laporan keuangan menjadi penting karena memberikan informasi yang bisa dipakai untuk pengambilan keputusan. Banyak pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan, mulai dari investor atau calon investor, pihak pemberi dana atau calon pemeberi dana, sampai pada manajemen perusahaan itu sendiri.
Dibawah ini adalah pengertian laporan keuangan menurut beberapa para ahli, sebagai berikut :
Menurut Gitman (2012:55), laporan keuangan adalah :
“Financial Statements that are the primary means by which firms communicate with investors, analysts, and the rest of the business community.”
Menurut Fahmi (2011:2), menyatakan laporan keuangan yaitu :
“Merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut.
Menurut Sugiyarso (2006:1) laporan keuangan adalah :
“Daftar ringkasan akhir transaksi keuangan organisasi yang menunjukan kegiatan operasional organisasi yang menunjukan kegiatan operasional organisasi dan akibatnya selama tahun buku yang bersangkutan.”
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian laporan keuangan adalah hasil dari proses pelaporan keuangan yang menjadi salah satu sumber informasi penting yang digunakan oleh pengelola organisasi dalam
57 pengambilan keputusan ekonomi di masa yang akan datang dan sebagai cermin dari prestasi perusahaan yang menunjukan seberapa sehat perusahaan tersebut.
2.1.2 Tujuan Laporan Keuangan
Dapat diketahui bahwa setiap laporan keuangan yang dibuat sudah pasti memiliki tujuan tertentu. Dalam praktiknya terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, terutama bagi pemilik usaha dan manajemen perusahaan. Disamping itu, tujuan laporan keuangan disusun guna memenuhi kepentingan berbagai pihak yang berkepentingan terhada perusahaan.
Tujuan laporan keuangan menurut Darsono dan Ashari (2004:12) adalah untuk menyajikan informasi yang menyangkut :
1. Posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu, yaitu keadaan pada tanggal mengenai kekayaan dan sumber kekakyaan perusahaan. 2. Kinerja perusahaan selama periode tertentu, yaitu besarnya aktivitas
dan biaya untuk menjalankan aktivitas serta hasil (laba/rugi) dari aktivitas selama periode tertentu, misalnya bulanan atau tahunan.
3. Perubahan posisi keuangan selama periode tertentu, yaitu perubahan kekayaan dan sumber kekayaan selama periode tertentu.
4. Perputaran kas selama periode tertentu, yaitu menyangkut aliran kas masuk dan keluar perusahaan selama periode tertentu.
2.1.3 Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan
Adapun bentuk sifat dan keterbatasan laporan keuangan berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia yang dikemukakan dalam buku Fahmi (2011:10) adalah sebagai berikut :
1. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat, karenanya laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.
58 2. Laporan keuangan bersifat umum, disajikan untuk semua pemakai dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu saja misalnya untuk pajak, bank, dan lainnya.
3. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
4. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang meterial. Demikian pula penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan, jika hal ini dianggap tidak material atau tidak menimbulkan pengaruh yang meterial terhadap kelayakan laporan keuangan.
5. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian; bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atas nilai aktiva yang paling kecil.
6. Laporan keuangan telah menekankan pada makna ekonomis suatu transaksi/peristiwa daripada bentuk hukumnya (formalitas); (substance over form).
7. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan pemakai laporan keuangan diasumsikan memahami bahasa teknis dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
8. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan kesuksesan antar perusahaan.
9. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantitatifkan umumnya diabaikan.
59 2.2 Analisis Laporan Keuangan
2.2.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Analisis Laporan keuangan menurut Harahap (2004:190) adalah :
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.”
Analisis laporan keuangan perlu dilakukan karena sangat bermanfaat bagi para analis untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan dari perusahaan. Manajer akan dapat dapat mengetahui sehat tidaknya keuangan perusahaannya dan dapat mengetahui hasil-hasil yang telah dicapai di waktu sebelumnya dan waktu yang sedang berjalan, dengan mengadakan analisis laporan keuangan dari perusahaannya.
Kelemahan perusahaan yang muncul digunakan sebagai salah satu informasi dalam penyusunan rencana untuk tahun-tahun yang akan datang. Selain itu bagi perusahaan dan investor, analisis laporan keuangan diperlukan untuk mengetahui tingkat pengembalian dari dana yang akan maupun sedang diinvestasikan dalam surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan.
Menurut Munawir (2010:35), analisis laporan keuangan adalah :
“Analisis laporan keuangan yang terdiri dari penelaahan atau mempelajari daripada hubungan dan tendensi atau kecenderungan (trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan perusahaan yang bersangkutan.”
Dapat diambil kesimpulan bahwa analisis laporan keuangan adalah faktor yang sangat penting baik bagi perusahaan maupun investor untuk untuk mengetahui posisi keuangan, hasil operasi dan perkembangan suatu perusahaan, sehingga analisis laporan keuangan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan baik bagi perusahaan maupun investor.
60 2.2.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Tujuan analisis laporan keuangan menurut Munawir (2010:38) adalah untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan posisi keuangan perusahaan dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan yang bersangkutan. Data-data yang disajikan dalam laporan keuangan akan lebih bermakna jika disajikan untuk dua periode atau bahkan lebih. Hal ini dilakukan sebagai bahan perbandingan diantara tahun-tahun yang sebelumnya, sehingga diperoleh data yang dapat mendukung dalam pengambilan keputusan.
2.2.3 Kegunaan Analisis Laporan Keuangan
Kegunaan analisis laporan keuangan menurut Harahap (2004:195) antara lain :
1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat pada laporan keuangan biasanya.
2. Dapat mengali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (eksplisit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan (implicit).
3. Dapat mengetahui kesalahan-kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan akhirnya di lapangan untuk prediksi dan peningkatan (rating).
6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
8. Dapat membendingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
61 9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan, hasil usaha, struktur
keuangan dan sebagainya.
10. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dilakukan perusahaan di masa yang akan datang.
2.3 Kinerja Keuangan Perusahaan 2.3.1 Pengertian Kinerja Perusahaan
Keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya dan memenuhi kebutuhan masyarakat sangat tergantung dari kinerja perusahaan dan manajer perusahaan didalam melaksanakan tanggung jawabnya.
Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan atau manajer sering tidak memperhatikan kecuali sudah amat buruk. Terlalu sering manajer tidak mengetahui betapa buruknya kinerja telah merosot sehingga perusahaan menghadapi krisis yang serius.
Menurut Fahmi (2011:239), kinerja keuangan adalah :
“Suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.”
Menurut Harmono (2009:23), kinerja keuangan adalah :
“Kinerja keuangan yang diukur berdasarkan penghasilan bersih (laba) atau sebagai dasar bagi ukuran yangyang lain seperti imbalan investasi atau penghailan per saham.”
Menurut Martono (2008:52) berpendapat bahwa,
“Kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat bagi berbagai pihak seperti, investor, kreditur, analis, konsultan keuangan, pialang, pemerintah, dan pihak manajemen sendiri.”
Kinerja dapat dipergunakan manajemen untuk melakukan penilaian secara periodik mengenai efektifitas suatu organisai, bagian organisasi, dan karyawan sebagai sasaran, standard kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
62 2.3.2 Tujuan Penilaian Kinerja
Menurut Munawir (2010:31), penilaian kinerja keuangan perusahaan mempunyai beberapa tujuan diantaranya :
1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi pada saat ditagih.
2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
3. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan rentabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu yang dibandingkan dengan penggunaan aset atau ekuitas secara produktif.
4. Untuk mengetahui tingkat aktivitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan dalam menjalankan dan mempertahankan usahanya agar tetap stabil, yang diukur dari kemampuan perusahaan dalam membayar pokok utang dan beban bunga tepat waktu, serta pembayaran dividen secara teratur kepada para pemegang saham tanpa mengalami kesulitan atau krisis keuangan.
2.4 Rasio Keuangan
2.4.1 Pengertian Rasio Keuangan
Rasio dapat dipahami sebagai hasil yang diperoleh antara satu jumlah dengan jumlah lainnya. Secara sederhana rasio disebut sebagai perbandingan jumlah, dari satu jumlah dengan jumlah lainnya itulah dilihat perbandingannya dengan harapan nantinya akan ditemukan jawaban yang selanjutnya itu dijadikan bahan kajian untuk dianalaisis dan diputuskan.
Menurut Kasmir (2008:64) bependapat bahwa rasio keuangan merupakan : “Indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.”
63 Menurut Harahap (2004:297) mendefinisikan rasio keuangan sebagai berikut :
“Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (bearti).”
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa rasio keuangan merupakan analisis angka-angka yang dihasilkan dalam laporan keuangan dalam mengukur kinerja perusahaan.
2.4.2 Analisis Rasio Keuangan
Dipergunakannya analisis rasio keuangan dalam melihat suatu perusahaan akan memberikan gambaran tentang keadaan perusahaan dan dapat dijadikan alat prediksi bagi perusahaan tersebut di masa yang akan datang.
Rasio menggambarkan suatu hubungan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan rasio pembanding yang digunakan sebagai standard.
Menurut Gitman (2012:67), “ratio analysis involves methods of calculating and interpreting financial ratio to analyZeand monitoring the firm’s performance.” Artinya analisis rasio keuangan menggunakan metode perhitungan dan penafsiran rasio keuangan untuk menganalisis dan memonitor kinerja perusahaan.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis rasio keuangan merupakan suatu alat atau cara yang paling umum digunakan dalam membuat analisis laporan keuangan, serta untuk mengetahui kinerja perusahaan.
Menurut Fahmi (2011:133), untuk dapat menginterpretasikan hasil perhitungan rasio, maka diperlukan adanya pembanding. Pada pokoknya ada dua cara yang dapat dilakukan dalam membandingkan rasio keuangan perusahaan, yaitu :
64 1. Cross sectional analysis, merupakan suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat bersamaan.
2. Time series analysis, merupakan suatu cara dengan membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Pembanding antara rasio yang dicapai saat ini dengan rasio-rasio pada masa lalu akan memperhatikan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran.
2.4.3 Keunggulan Analisis Rasio Keuangan
Analisa rasio memiliki keunggulan dibanding teknik analisa lainnya. Menurut Harahap (2004:298) menjelaskan keunggulan tersebut sebagai berikut :
1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score).
5. Menstandarisir siZe perusahaan.
6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau “time series”.
7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.
2.4.4 Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan
Disamping keunggulan yang dimiliki analisa rasio ini, teknik ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang harus disadari sewaktu penggunaannya agar tidak salah dalam penggunaannya. Keterbatasan tersebut menurut Harahap (2004:298) adalah sebagai berikut :
65 1. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk
kepentingan pemakainya.
2. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi keterbatasan teknik seperti ini :
a) Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung taksiran dan judgment yang dapat dinilai bias atau subyektif.
b) Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar.
c) Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio.
d) Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
3. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio.
4. Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron.
5. Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika dilakukan perbandingan bisa menimbulkan kesalahan.
2.5 Kebangkrutan
2.5.1 Pengertian Kebangkrutan
Masalah kesulitan keuangan selalu memunculkan kemungkinan risiko kebangkrutan dalam suatu perusahaan. Mengetahui kondisi kesehatan keuangan perusahaan sangat penting dilakukan oleh investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan investasi dan kreditnya.
Gitman (2012:738), bankrupty is business failure that occurs when the stated value of a firm’s liabilities exceeds the fair market value of its assets.
Menurut Ardiyos (2000) dalam Kamus Besar Akuntansi bankcruptcy (kepailitan, kebangkrutan) didefinisikan sebagai berikut :
66 “Suatu prosedur yuridis untuk melikuidasi secara resmi kegiatan suatu perusahaan yang dilaksanakan dibawah suatu pengadilan. Keterlibatan pemerintah dibutuhkan untuk menjamin pembayaran kewajiban perusahaan pada pihak luar maupun pengendalian modal para pemegang saham (bagi perseroan terbatas). Suatu perusahaan dinyatakan pailit, bila jumlah total pasiva melebihi total aktivanya, sehingga kekayaan perusahaan itu sendiri negatif. Keadaan bangkrut dapat dicapai dengan bersifat sukarela atau dipilih oleh perusahaan tersebut sendiri yang mengajukan permohonan kepada pengadilan negeri agar perusahaan dinyatakan pailit. Bersifat terpaksa dimana pihak kreditur mengajukan permohonan kepada pengadilan negeri agar perusahaan itu dinyatakan pailit.”
Menurut Sunarto (2006:37) kebangkrutan adalah :
“Kegagalan bisnis yang terjadi apabila kewajiban / hutang-hutang perusahaan lebih besar daripada nilai pasar yang wajar dari nilai aktiva-aktivanya.”
Dari pengertian dan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebangkrutan merupakan ketidakmampuan suatu perusahaan dalam melanjutkan kegiatan operasinya karena ketidakmampuan dalam membayar hutang-hutangnya (kewajiban) sehingga kewajiban perusahaan lebih besar daripada nilai pasarnya. Sehingga dapat dinyatakan pailit atau bangkrut oleh pihak berwenang, baik atas pengajuan sendiri ataupun pengajuan yang dilakukan pihak kreditur.
2.5.2 Penyebab Kebangkrutan
Menurut Gitman (2012:738), ada beberapa faktor-faktor utama penyebab kebangkrutan, yaitu :
1. Mismanagement, which accounts for more 50 percent of all case. Overexpansion, poor financial actions, an ineffective sales forces, and high production costs can all singly or in combination failure.
2. Economic Activity, especially economic downturns can contribute to the failure of firm. If the economic goes into a recession, sales may decrease abruptly, leaving the firm with high fixed costs and insufficient revenues to cover them. Rapid rises in interest rates just prior to a recession can further contribute to cash flow problems and make it more difficult for the firm to obtain and maintain needed financing.
67 3. Corporate Maturity, firms lie individuals do not have infinite lives. Like a product, a firm goes through thevstages of birth, growth, maturity, and eventual decline. Effective management planning should help the firm to postpone decline and ultimate failure.
Dari penjelasan mengenai penyebab terjadinya kebangkrutan di atas dapat disimpulkan bahwa manajer memiliki peranan penting dalam menghindari kegagalan usaha dengan melakukan pengelolaan pembiayaan yang baik agar terhindar dari adanya resesi dan melakukan perencanaan manajemen yang efektif agar dapat membantu perusahaan dalam menunda tahap decline dan kegagalan.
2.5.3 Model Prediksi Kebangkrutan
Menurut Peter and Yoseph (2011:5-7), berikut ini terdapat teknis menganalisis dengan menggunakan beberapa model prediksi kebangkrutan, yaitu : 1. Altman Model (1968)
Altman menemukan lima jenis rasio keuangan yang dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan yang tidak bangkrut. Z-Score Altman ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Z-score = 0,012X1 + 0,014X2 + 0,033X3 + 0,006X4 + 0,999X5 Keterangan :
X1 = Modal kerja terhadap total harta (Working Capital to Total Assets). X2 = Laba yang ditahan terhadap total harta (Retained Earnings to Total
Assets).
X3 = Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets).
X4 = Nilai pasar sendiri terhadap nilai buku dari hutang (Market Value Equity to Book Value of Total Debt).
X5 = Penjualan terhadap total harta (Sales to Total Assets).
Rasio ke 1 sampai dengan ke 4 dihitung dengan persentase penuh, sedang untuk rasio ke 5 dihitung dengan persentase normal.
68 Perusahaan yang tidak go-public tidak mempunyai nilai pasar, maka Altman mengembangkan model alternative dengan menggantikan variabel X4 yang semula merupakan perbandingan nilai pasar modal sendiri dengan nilai buku total hutang, menjadi perbandingan nilai saham biasa dan preferen dengan nilai buku total hutang. Model Altman hasil revisi tahun 1983 inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini. Persamaan hasil revisi tersebut adalah :
Z-score = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,107X3 + 0,420X4 + 0,998X5 Keterangan:
X1 = Modal kerja terhadap total harta (Working Capital to Total Assets).
X2 = Laba yang ditahan terhadap total harta (Retained Earnings to Total Assets). X3 = Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (Earnings Before
Interest and Taxes to Total Assets).
X4 = Nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku dari hutang (Market Value Equity to Book Value of Total Debt).
X5 = Penjualan terhadap total harta (Sales to Total Assets).
Kriteria yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan model ini adalah, perusahaan yang mempunyai skor Z > 2,90 diklasifikasikan sebagai perusahaan sehat, sedangkan perusahaan yang mempunyai skor Z < 1,20 diklasifikasikan sebagai perusahaan potensial bangkrut. Selanjutnya skor antara 1,20 sampai 2,90 diklasifikasikan sebagai perusahaan pada grey area atau daerah kelabu.
2. Springate (1978)
Model ini dikembangkan tahun 1978 di S.F.U oleh Gordon L.V. Springate, mengikuti prosedur yang dikembangkan oleh Altman dalam U.S. Springate yang menggunakan step-wise multiple discriminate analyses untuk memilih empat dari 19 rasio keuangan yang terkenal paling baik yang membedakan antara bisnis yang berhasil dan mereka yang benar-benar gagal. Model Springate digunakan dengan cara:
Z’ = 1.03A + 3.07B + 0.66C + 0.4D Z‟ < 0.862; diklasifikasikan perusahaan “GAGAL”
69 Dimana:
A = Working Capital / Total Assets
B = Net Profit before Interest and Taxes / Total Assets C = Net Profit Pefore Taxes / Current Liabilities D = Sales / Total Assets
Tingkat akurasi model ini mencapai 92.5% dengan menggunakan test pada 40 perusahaan yang menggunakan Springate. Botheras (1979) melakukan test dengan Model Springate pada 50 perusahaan dengan rata-rata aktiva sebesar $2.5 miliar dan menghasilkan tingkat keakurasian sebesar 88.0%. Sands (1980) melakukan test dengan Model Springate pada 24 perusahaan dengam rata-rata aktiva sebesar $63.4 miliar dan menghasilkan tingkat keakurasian sebesar 83.3%.
3. Zmijewski (1983)
Perluasan studi dalam prediksi kebangkrutan dilakukan oleh Zmijewski (1983) menambah validitas rasio keuangan sebagai alat deteksi kegagalan keuanngan perusahaan. Zmijewski melakukan studi dengan menelaah ulang studi bidang kebangkrutan hasil riset sebelumnya selama dua puluh tahun. Rasio keuangan dipilih dari rasio – rasio keuangan penelitian terdahulu dan diambil sampel sebanyak 75 perusahaan yang bangkrut, serta 3573 perusahaan sehat selama tahun 1972 sampai dengan 1978, indikator F-test terhadap rasio – rasio kelompok, Rate of Return, liquidity, leverage, turnover, fixed payment coverage, trends, firm siZe, dan stock return volatility, menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang sehat dan yang tidak sehat. Dengan kriteria penilaian semakin besar nilai X maka semakin besar kemungkinan / probabilita perusahaan tersebut bangkrut. Model yang berhasil dikembangkan yaitu:
X = -4,3 – 4,5X₁ + 5,7X₂ - 0,004X₃
Keterangan:
X₁ = Return On Asset atau Return On Investment X₂ = Debt Ratio
70 2.6 Model Altman Z-score
Pada tahun 1968, Edwar I. Altman melakukan penelitian yang berhasil menciptakan suatu model yang dikenal dengan sebutan Altman Z-score, model ini merupakan gabungan dari beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan dalam memprediksi financial distress suatu usaha, karena setiap financial distress yang serius akan mengarahkan perusahaan menuju kebangkrutan. Potensi kebangkrutan yang tercemin dalam nilai Z ini dapat berguna bagi investor maupun pihak manajemen perusahaan itu sendiri.
Model analisis yang disebut dengan Z-score ini memiliki teknik statistik yang disebut multiple discriminant analysis (MDA) digunakan untuk memprediksi kepailitan suatu perusahaan. Analisis diskriminan ini merupakan suatu teknis statistik yang mengidentifikasikan beberapa macam rasio keuangan yang dianggap memiliki pengaruh yang penting dalam mempengaruhi suatu kejadian, lalu mengembangkannya dalam sebuah model dengan maksud untuk memudahkan para pihak yang berkepentingan dalam menarik kesimpulan dari suatu kejadian.
Model Altman ini pada dasarnya mencari nilai “Z”, yaitu nilai yang menunjukkan kondisi perusahaan, apakah sedang berada dalam kondisi sehat atau tidak, serta menunjukkan kinerja perusahaan sekaligus merefleksikan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Formula Z-Score untuk memprediksi kebangkrutan dari Altman merupakan sebuah multivariate formula yang digunakan untuk mengukur kesehatan finansial dari sebuah perusahaan.
Penggunaan model Altman sebagai salah satu pengukuran kinerja kebangkrutan tidak bersifat tetap atau stagnan melainkan berkembang dari waktu kewaktu, dimana pengujian dan penemuan model terus diperluas oleh Altman hingga penerapannya tidak hanya pada perusahaan manufaktur publik saja tapi sudah mencakup perusahaan manufaktur non publik, perusahaan non manufaktur, dan perusahaan obligasi korporasi. Berikut perkembangan model Altman:
71 1. Metode Altman Z-score Pertama
Dalam menyusun model Z-score, Profesor Edward I.Altman mengambil sampel 33 perusahaan manufaktur yang bangkrut pada periode 1960 sampai 1965 dan 33 perusahaan yang tidak bangkrut dengan lini industri dan ukuran yang sama. Setelah itu Altman mengelompokan 22 rasio keuangan yang memungkinkan dan mengelompokannya menjadi lima kategori, yakni profitabilitas, leverage, solvabilitas dan kinerja. Setelah disimpulkan, maka metode Altman Z-score yang pertama adalah :
Z = 1,2XI + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 +0,999X5 Keterangan :
Z = Bankrupcy Index
X1 = Working Capital / Total Asset X2 = Retained Earnings / Total Asset
X3 = Earning Before Interest And Taxes/Total Asset X4 = Market Value Of Equity / Book Value Of Total Debt X5 = Sales / Total Asset
Dengan nilai cut-off :
Z-score Indikasi
Z < 1.8 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.
1.8 < Z < 2.99 maka termasuk kedalam grey area. Z > 2.99 maka termasuk perusahaan yang
tidak bangkrut.
2. Model Altman Z-score Revisi
Model Altman berkembang menjadi Altman Revisi. Hal ini memungkinkan model altman dapat dipakai di perusahaan swasta, bukan hanya di perusahaan manufaktur.
72 Menurut Altman daripada hanya memasukkan variabel proxy ke model yang sudah ada untuk menghitung Z-score, Altman menganjurkan reestimasi lengkap, mengganti nilai buku ekuitas untuk nilai pasar dalam X4. Altman mengubah pembilang X4, yakni Market Value of Equity, menjadi Book Value of Equity. Salah satu keahlian bahwa semua koefisien akan berubah (tidak hanya parameter variabel baru) dan bahwa kriteria klasifikasi dan nilai cut off terkait juga akan berubah. Berdasarkan pengembangan Altman tersebut rumus Z-score dapat digunakan oleh perusahaan yang go public dan perusahaan yang tidak go-public dimana perusahaan ini tidak mempunyai nilai pasar.
Rumus model Altman revisi adalah sebagai berikut :
Z’ = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,108X3 +0,42X4 + 0,988X5 Keterangan :
Z‟ = Bankrupcy Index
X1 = Working Capital / Total Asset X2 = Retained Earnings / Total Asset
X3 = Earning Before Interest And Taxes/Total Asset X4 = Book Value Of Equity / Book Value Of Total Debt X5 = Sales / Total Asset.
Dengan nilai cut-off :
Z-score Indikasi
Z‟ < 1.23 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.
1.23 < Z‟ < 2.9 maka termasuk kedalam grey area. Z‟ > 2.9 maka termasuk perusahaan yang
tidak bangkrut.
3. Model Altman Z-score Modifikasi
Selanjutnya Altman memodifikasi rumusan tersebut agar dapat digunakan atau diterapkan pada semua perusahaan. Baik manufaktur, non manufaktur, dan
73 perusahaan penerbit obligasi di negara berkembang (emerging market). Dalam model modifikasi ini, Altman mengganti X4 menjadi Book Value of Equity to Book Value of Debt dan mengeliminasi X5, karena rasio ini bervariatif pada industri dengan ukuran aset yang berbeda-beda. Berikut formula altman Z-score modifikasi :
Z” = 6.56X1+ 3.26X2 + 6.72X3 + 1.05 X4 Keterangan:
Z” = Bankrupcy Index
X1 = Working Capital / Total Asset X2 = Retained Earnings / Total Asset
X3 = Earning Before Interest And Taxes/Total Asset X4 = Book Value Of Equity / Book Value Of Total Debt Dengan nilai cut-off
Z-score Indikasi
Z” < 1.1 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.
1.1 < Z” < 2.6 maka termasuk kedalam grey area. Z” > 2.6 maka termasuk perusahaan yang
tidak bangkrut.
Hal yang menarik mengenai Z-Score adalah keandalannya sebagai alat analisis tanpa memperhitungkan ukuran perusahaan. Meskipun seandainya perusahaan dalam kondisi sangat makmur, bila Z-Score mulai menurun secara tajam, lonceng peringatan harus berdering. Atau, jika perusahaan baru saja survive, Z-Score dapat digunakan untuk membantu mengevaluasi dampak yang telah diperhitungkan dari perubahan upaya-upaya manajemen perusahaan.
74 2.6.1 Rasio Keuangan dalam Model Altman Z-score
Model Altman Z-score adalah sebuah model yang dibentuk dari perpaduan rasio-rasio keuangan, yaitu rasio likuiditas, aktivitas, solvabilitas dan profitabilitas. Dalam jurnal Endri (2009) menyatakan bahwa rasio keuangan yang dianalisis yang terdapat pada model Altman Z-score, yaitu :
a. Net Working Capital to Total Assets ( X1 )
Rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya. Modal kerja bersih diperoleh dengan cara aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Modal kerja bersih yang negatif kemungkinan besar akan menghadapi masalah dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut.
*Net Working Capital = current aseets – current liabilities
b. Retained Earnings to Total Assets ( X2 )
Rasio ini yang memperllihatkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham. Dengan kata lain, laba ditahan menunjukkan berapa banyak pendapatan perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham. Perubahan laba ditahan terjadi karenak pemegang saham biasa mengizinkan perusahaan menginvestasikan kembali laba yang tidak diberikan sebagai dividen.
75 c. Earning Before Interest and Tax to Total Asset ( X3 )
Laba sebelum bunga dan pajak adalah laba operasi perusahaan sebelum dikenakan pajak dan kebijakan keuangan lainnya, sehingga dapat dikatakn bahwa rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dari aktiva yang digunakan.
Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sebelum pembayaran bunga dan pajak.
d. Market Value of Equity to Book Value of Debt ( X4 )
Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi nilai buku kewajiban – kewajibannya dari nilai pasar modal sendiri. Modal yang dimaksud adalah gabungan nilai pasar dari modal biasa dan saham preferen, sedangkan utang mencakup utang lancar dan utang jangka panjang.
e. Sales to Total Assets ( X5 )
Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan volume bisnis yang cukup dibandingkan investasi dalam total akivanya.
STA =
Namun pada penelitian ini, penulis menggunakan metode Altman Modifikasi, maka X4 diganti menjadi Book Value of Equity to Book Value of Debt dan menghilangkan X5. Karena dalam penggunaannya dapat digunakan dalam memprediksi kebangkrutan semua perusahaan.