20
3.1.1 Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen . Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki adanya kemungkinan hubungan sebab akibat. Cara yang dilakukan yaitu dengan mengenakan kepada satu kelompok eksperimen suatu kondisi perlakuan (treatment) yang kemudian membandingkan hasilnya dengan suatu kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan. Kelompok pertama adalah kelompok eksperimen, yaitu kelompok peserta didik yang mendapat perlakuan pembelajaran dengan penggunaan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok kontrol, yaitu kelompok yang mendapat perlakuan pembelajaran tanpa penggunaan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share).
3.1.2. Desain Penelitian
Penelitian eksperimen ini menggunakan desain yang hampir sama dengan Pretest-Posttest Control Group Design. Secara bagan digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.1 : Desain penelitian (Sugiyono 20:79)
Keterangan:
kedua kelompok tersebut diberi pretes untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
O1 X O2
--- O3 O4
kedua kelompok tersebut diberi pretes untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dari tes kelompok eksperimen setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share).
. = hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dari tes kelompok kontrol yang tidak diberi pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share)
Perlakuan. Kelompok atas sebagai kelompok eksperimen diberi perlakuan, yaitu pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share)., sedangkan kelompok bawah yang merupakan kelompok kontrol, pembelajaran tidak dengan menggunakan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share).
3.2 Tempat dan waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Tempuran dan SD Negeri Turunan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali semester dua tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian dengan mengambil kelas V SD Negeri Tempuran sebagai kelas eksperimen dan kelas V SD Negeri Turunan sebagai kelas kontrol.
3.2.2 Waktu penelitian
Kegiatan ini dilakukan pada semester II/genap tahun pelajaran 2011/2012 dan dilakukan secara bertahap.
Adapun tahapannyan adalah sebagai berikut: 1. Tahap persiapan
Tahap ini mencakup judul, pembuatan proposal, pembuatan instrumen, permohonan ijin, serta survey di sekolah yang direncanakan sebagai tempat penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
Tahap ini mencakup kegiatan–kegiatan yang dilakukan di sekolah yang meliputi uji coba instrumen, pengambilan data dan penelitian.
3. Tahap Penyusunan
Yaitu tahap pengelolaan data dan konsultasi yang diikuti penyusunan laporan. 4. Tahap Pelaporan
Tahap ini meliputi konsultasi, revisi, dan persiapan ujian skripsi.
3.3 Variabel Penelitian
Penentuan variabel dan model penelitian merupakan hal yang penting dilakukan sebelum menyusun penelitian ini. Penentuan variabel bertujuan untuk mempertegas dan membatasi informasi yang dibutuhkan serta mempermudah penulis dalam membuat instrument penelitian. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis variabel bebas (Independen) dan variabel terikat (dependen).
3.3.1 Variabel bebas (Independen)
Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2011:39). Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini adalah model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) yang langkah-langkahnya meliputi:
1. Tahap pertama : Think (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberikan kesempatan untuk memikirkan jawabannya.
Guru meminta peserta didik berpasang-pasang. Beri kesempatan kepada pasangan-pasangan untuk berdiskusi. Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya.
3. Tahap ketiga : Sharing (berbagi)
Pada tahap ini, hasil diskusi intersubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Dalam kegiatan ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengonstruksian pengetahuan secara integratif. Peserta didik dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajari.
3.3.2 Variabel terikat (dependen)
Merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011:39). Variabel terikat (dependen) dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang berupa hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor . Adapun hasil belajar kognitif berupa tes dalam bentuk pilihan ganda, hasil belajar afektif berupa angket motivasi belajar, dan hasil belajar psikomotor berupa unjuk kerja.
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam menentukan obyek penelitian ini peneliti perlu mengetahui populasi dan sampel.
3.4.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:80). Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas V SD di Gugus Hasanudin Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali yaitu SD Tempuran, SD Pranggong, SD Khunti, SD
Sawit, SD Pelemrejo, SD Gejokan, dan SD Turunan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali. Jumlah peserta didik kelas V SD di Gugus Hasanudin Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali kurang lebih 170 anak.
3.4.2 Sampel
Sugiyono (2011:81) mengemukakan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel pada penelitian ini diperoleh melalui hasil wawancara dengan salah satu guru SD N Tempuran untuk mengetahui SD segugus Hasanudin yang mempunyai kemampuan hampir sama. Pada penelitian ini sampelnya adalah:
a. Siswa kelas V SD Negeri Tempuran
Merupakan kelompok eksperimen yang akan diberikan treatment atau perlakuan yaitu dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Jumlah peserta didik kelas V SD Negeri Tempuran ada 17 anak.
b. Siswa kelas V SD Negeri Turunan
Merupakan kelompok kontrol yang tidak diberikan suatu treatment atau perlakuan apapun. Model pembelajaran menggunakan pembelajaran konvensional. Jumlah peserta didik kelas V SD Negeri Turunan ada 17 anak.
Tabel 3.1
Jumlah Peserta didik Kelas V SD Negeri Tempuran dan SD Negeri Turunan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali
Nama Sekolah Jumlah Peserta didik Total
Laki-Laki Perempuan
SD Negeri Tempuran 10 7 17
SD Negeri Turunan 9 8 17
3.5. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.5.1. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar Matematika peserta didik. Berdasarkan data yang dikumpulkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah mengadakan pre-test pada masing-masing kelompok, memberikan treatment pada kelompok eksperimen dengan menggunakan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) dalam pembelajaran Matematika, dan yang terakhir memberikan post-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selain pre-test dan post-test pengumpulan data penelitian ini juga menggunakan angket dan unjuk kerja.
3.5.2 Instrument Pengumpulan Data 3.5.2.1 Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. (Suharsimi Arikunto, 2010:193). Jenis tes yang digunakan tes sumatif berupa pilihan ganda yang terdiri dari pre-test dan post-test. Tabel di bawah ini terdapat kisi –kisi soal tes untuk mengukur hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Tempuran dan SD Negeri Turunan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali tahun pelajaran 2011/2012.
Tabel 3.2
Kisi–kisi Soal Tes Matematika
Standar Kompetensi
(SK)
Kompetensi
Dasar (KD) Indikator Item Soal
6.Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun 6.2Mengidentifik asi sifat-sifat bangun ruang
6.2.1 Siswa diberi soal untuk
mengidentifikasi sifat-sifat bangun tabung dan menggambar tabung secara tepat
1, 2, 3, 11, 17, 24, 30,
6.2.2 Siswa diberi soal untuk
Mengidentifikasi sifat-sifat bangun prisma tegak dan menggambar
4, 8, 10, 12, 15, 18, 25,
prisma dengan baik dan benar. 6.2.3 Siswa diberi soal untuk
mengidentifikasi sifat-sifat bangun Limas dan menggambar Limas secara tepat.
5, 9, 14, 19, 28,
6.2.4 Siswa diberi soal untuk mengidentifikasi sifat-sifat bangun Kerucut dan menggambar kerucut dengan baik dan benar.
6, 7, 16, 21, 22, 27, 29 6.3 Menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana
6.3.1Siswa diberi soal untuk menentukan
jaring-jaring tabung dengan baik 23, 31 6.3.2Siswa diberi soal untuk menentukan
jaring-jaring prisma tegak dengan baik
26,32, 35
6.3.3Siswa diberi soal untuk menentukan jaring-jaring limas dengan baik
20, 33
6.3.4 Siswa diberi soal untuk mennetukan jaring-jaring kerucut dengan baik
13, 34
3.5.2.2 Angket atau kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 2010:194). Angket berfungsi sebagai alat pengumpul data. Data tersebut berupa keadaan atau data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap, pendapat mengenai suatu hal. Instrumen lembar angket siswa berbentuk chek list, artinya siswa hanya memberikan tanda cek (√), jika pernyataan yang dimaksud dalam lembar angket siswa sesuai dengan yang dialami siswa.
Angket diberikan untuk mengetahui motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika. Angket motivasi belajar digunakan untuk mengungkap motivasi belajar subjek, angket ini diadobsi dari angket Henry Widya Arfiandi (2011). Dirancang berdasarkan aspek-aspek yaitu tanggung jawab pribadi terhadap tugas, umpan balik atas perbuatan (tugas) yang dilakukan, tugas yang bersifat moderat, tekun dan ulet dalam bekerja, tidak berspekulasi dalam tugas dan
keberhasilan tugas. Empat aspek ini termuat dalam item pertanyaan 16, 10 positif dan 6 item negatif.
Kisi-kisi motivasi belajar penelitian ini menggunakan skala pengukuran motivasi belajar yang diadopsi dari skala pengukuran Henry Widya Arfiandi (2011) berdasarkan dari teori Mc Clelland.
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Angket Motivasi Belajar Matematika
3.5.2.3 Unjuk Kerja
Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengn mengamati kegiatan siswa dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut siswa melakukan tugas tertentu. Penilaian unjuk kerja berguna untuk mengukur keterampilan atau sikap siswa melakukan kerja tertentu. Adapun unsur-unsur unjuk kerja terdapat pada tabel 3.4 berikut ini.
No Aspek Indikator Item Soal Total
Positif Negatif
1. Tanggung jawab pribadi terhadap tugas
a. Siswa termotivasi untuk menyelesaikan tugas dari guru
1, 15 11 3
2. Umpan balik atas perbuatan (tugas) yang dilakukan b. Dorongan untuk mendapatkan suatu penghargaan 13 5 2 3. Tugas yang bersifat moderat c. Keinginan untuk meningkatkan hasil belajar 2, 6, 12 8 4
4. Tekun dan ulet dalam bekerja
d. Siswa banyak berlatih untuk mendapatkan nilai yang diharapkan
3 4 2 5. Tidak berspekulasi dalam tugas e. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas 9, 14 16 3 6 Keberhasilan tugas
f. Siswa termotivasi untuk selalu belajar dalam berbagai situasi dan kondisi
7 10 2
Tabel 3.4 Kisi-kisi Format Penilaian Unjuk Kerja Aspek Indikator Jumlah soal 1. Mengidentifik asi macam-macam bangun dan menggambar bangun. a. Menggambar tabung 1
b. Menggambar prisma tegak 1
c. Menggambar limas 1 d. Menggambar kerucut 1 2. Menentukan bangian-bagian suatu bangun ruang
a. Menunjukkan bagian-bagian bangun ruang tabung melalui alat peraga dan
menuliskannya pada gambar yang telah dibuat.
1
b. Menunjukkan bagian-bagian bangun ruang prisma tegak melalui alat peraga dan menuliskannya pada gambar yang telah dibuat.
1
c. Menunjukkan bagian-bagian bangun ruang limas melalui alat peraga dan menuliskannya pada gambar yang telah dibuat.
1
d. Menunjukkan bagian-bagian bangun ruang kerucut melalui alat peraga dan
menuliskannya pada gambar yang telah dibuat. 1 3. Menentukan jaring-jaring suatu bangun ruang
a. Menentukan jaring-jaring bangun ruang tabung dengan menyayat alat peraga yang telah disediakan.
1
b. Menentukan jaring-jaring bangun ruang prisma tegak dengan menyayat alat peraga yang telah disediakan.
1
c. Menentukan jaring-jaring bangun ruang limas dengan menyayat alat peraga yang telah disediakan.
1
d. Menentukan jaring-jaring bangun ruang kerucut dengan menyayat alat peraga yang telah disediakan.
1
3.5.3 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Hasil penelitian diharapkan akan menjadi valid dan reliabel, jika menggunakkan instrumen yang valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Namun, hal ini tidak berarti bahwa menggunakan instrument yang telah valid dan reliabel, otomatis hasil penelitian menjadi valid dan reliabel (Sugiyono, 2011:122). Menentukan valid dan tidak validnya instrumen yang dilakukan adalah
3.5.3.1 Pengujian Validitas Instrumen Penelitian
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2011:121).
Uji validitas dilakukan oleh bantuan SPSS 16,0. Dasar pengambilan keputusan item yang valid berdasarkan kriteria Sugiyono (2011:126) bahwa suatu item instrumen penelitian dianggap valid jika memiliki koefisien corrected item to total correlation (koefisien korelasi) > 0,3. Kategori inilah yang digunakan untuk menentukan apakah item valid atau tidak.
3.5.3.1.1 Hasil Uji Validitas Tes (Ranah Kognitif)
Dasar pengambilan keputusan item yang valid dilakukan melalui pengukuran validitas dengan menggunakan program komputer SPSS 16 for windows yaitu menggunakan Coreected Item-Total Correlation yang merupakan korelasi antara skor item dengan skor total item (nilai r hitung) dibandingkan dengan nilai r tabel. Kriteria soal dikatakan valid, jika nilai r hitung > 0,3 (Sugiyono, 2011:134). Perhitungan validitas dari tes dapat dilihat seperti tabel sebagai berikut.
Berdasarkan perhitungan validitas tes pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai validitas dari 35 soal pada tes berkisar antara antara 0,000 sampai 0,660. Ada 15 soal yang nilai validitasnya kurang dari 0,3 yaitu soal nomor 2,5, 8, 11, 12, 14, 15,
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha
if Item Deleted Keterangan
soal1 20.9429 27.644 .425 .798 valid
soal2 20.8857 28.751 .000 .805 Tidak Valid
soal3 21.2000 26.635 .390 .796 Valid
soal4 21.2571 26.667 .364 .797 Valid
soal5 21.4571 27.314 .226 .803 Tidak Valid
soal6 20.9714 27.205 .495 .795 Valid
soal7 21.2286 26.652 .376 .796 Valid
soal8 21.2286 27.299 .242 .802 Tidak Valid
soal9 21.2571 26.432 .412 .795 Valid
soal10 21.6857 26.987 .379 .797 Valid
soal11 21.1143 27.634 .209 .803 Tidak Valid
soal12 21.4857 27.492 .194 .804 Tidak Valid
soal13 20.9429 27.467 .498 .797 Valid
soal14 21.2857 27.857 .123 .807 Tidak Valid
soal15 21.7429 28.491 .035 .808 Tidak Valid
soal16 21.3143 27.810 .130 .807 Tidak Valid
soal17 21.6857 28.045 .126 .806 Tidak Valid
soal18 20.9143 27.551 .660 .797 Valid soal19 21.4857 26.845 .322 .799 Valid soal20 20.9714 26.970 .577 .793 Valid soal21 21.1714 26.676 .394 .796 Valid soal22 21.0857 26.610 .472 .794 Valid soal23 20.9714 27.558 .373 .799 Valid soal24 20.9714 27.440 .413 .798 Valid soal25 21.2857 26.916 .308 .799 Valid soal26 21.6000 26.953 .334 .798 Valid
soal27 21.6000 27.424 .233 .802 Tidak Valid
soal28 21.4857 26.728 .346 .798 Valid
soal29 21.3143 26.810 .325 .799 Valid
soal30 21.3143 27.810 .130 .807 Tidak Valid
soal31 21.0857 27.492 .257 .801 Tidak Valid
soal32 21.3143 27.045 .278 .801 Tidak Valid
soal33 21.4571 27.138 .260 .801 Tidak Valid
soal34 20.9429 27.761 .377 .799 Valid
16, 17, 27, 30,31, 32, 33 dan 35. Sehingga soal yang valid yang nilai validitasnya di atas 0.3 yaitu soal nomor 1, 3, 4, 6, 7, 9, 10, 13, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 29, dan 34.
3.5.3.1.2 Hasil Uji Validitas Angket Motivasi Belajar (Ranah Afektif)
Variabel motivasi diungkap dengan menggunakan 16 butir angket, yang dikembangkan dari enam aspek motivasi. Perhitungan validitas dari tes dapat dilihat seperti tabel sebagai berikut.
Tabel 3.6 Uji Validitas Angket dengan SPSS
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Keterangan
soal1 12.4857 8.551 .299 .824 Tidak Valid
Soal2 12.4286 8.370 .748 .812 Valid Soal3 12.4857 8.492 .336 .822 Valid Soal4 12.5429 7.903 .551 .810 Valid Soal5 12.6286 8.005 .391 .820 Valid Soal6 12.4286 8.370 .748 .812 Valid Soal7 12.4571 8.197 .651 .810 Valid Soal8 12.5143 8.198 .447 .816 Valid Soal9 12.5714 8.076 .418 .818 Valid soal10 12.7143 7.739 .446 .817 Valid soal11 12.6286 7.946 .417 .819 Valid
Soal12 12.4857 8.551 .299 .824 Tidak V alid
Soal13 12.7429 7.785 .414 .820 Valid
Soal14 12.7714 7.476 .527 .811 Valid
Soal15 12.5143 8.375 .348 .822 Valid
Soal16 12.6000 7.835 .497 .813 Valid
Dari hasil uji validitas ternyata terdapat dua butir pernyataan yang tidak valid yaitu butir nomor 1 dan 12. Hasil validitas diperoleh hasil Corrected item total corelation antara 0,299–0,748 dan Cronbach’s alpha if item delete 0,811 – 0,824. Sehingga 14 instrumen motivasi belajar dinyatakan valid.
3.5.3.1.3 Hasil Uji Validitas Unjuk Kerja (Ranah Psikomotor)
Pada ranah psikomotor, menggunakan penilaian unjuk kerja. Instrumen unjuk kerja di uji validitas oleh ahli yaitu guru PNS di salah satu SD Kanisius Jimbaran Bandungan. Pengujian validitas unjuk kerja dilihat dari bahasa yang digunakan, isi yang tercantum dalam unjuk kerja, dan kesesuaian dengan KD. Hasil validitas unjuk kerja dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 3.7 Uji Validitas Ahli Unjuk Kerja
No. Kriteria yang dinilai Skor
1. Bahasa yang digunakan 3
2. Isi yang tercantum dalam unjuk kerja 4
3. Kesesuaian dengan kompetensi dasar 4
Hasil uji validitas oleh ahli pada tabel 3.7 dapat dilihat bahwa bahasa yang digunakan mendapat skor 3 yang berarti baik dan isi yang tercantum dalam unjuk kerja serta kesesuaian dengan kompetensi dasar mendapat skor 4 yang berarti sangat baik.
3.5.3.2 Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian
Di samping pengujian validitas terhadap instrumen, juga dilakukan pengujian reliabilitas. Instrument yang reliable adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2011:121). Uji reliabilitas dimaksudkan untuk melihat konsistensi instrumen. Uji reliabilitas dilakukan oleh bantuan SPSS 16,0.
Mengukur reliabilitas dengan menggunakan uji statistika Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel memberikan nilai Cronbach Alpha > 0.60 (Nunnally, 1967) dalam bukunya Ghazali, 2006:42.
3.5.3.2.1 Hasil Uji Reliabilitas Tes (Ranah Kognitif)
Pengujian reliabilitas tes menggunakan cronbach alpha untuk menunjukkan sejauh mana soal tes dapat dipercaya untuk mengukur suatu objek, koefisien alpha semakin mendekati 1 berarti butir-butir pertanyaan dalam koefisien semakin reliabel. Hasil uji reliabilitas tes dari 35 item soal adalah sebagai berikut.
Tabel 3.8
Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes di SD N Polobog 02 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang
Hasil tabel 3.8 di atas ditunjukkan pada Cronbach's Alpha menunjukkan 0.805 > 0.60 termasuk dalam kategori reliabel. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa instrumen layak digunakan untuk mengukur variabel penelitian.
3. 5.3.2.2 Hasil Uji Reliabilitas Angket Motivasi Belajar (Ranah Afektif)
Pengujian reliabilitas angket motivasi belajar menggunakan cronbach alpha untuk menunjukkan sejauh mana angket motivasi belajar dapat dipercaya untuk mengukur suatu objek, koefisien alpha semakin mendekati 1 berarti butir-butir pertanyaan dalam koefisien semakin reliabel. Hasil uji reliabilitas angket motivasi belajar dari 16 item pernyataan adalah sebagai berikut.
Tabel 3.9
Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Angket di SD N Polobogo 02 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.805 35
Indeks Reliabilitas
Cronbach's Alpha N of Items
Hasil tabel 3.9 di atas dapat dilihat bahwa koefisien reliabilitas instrument motivasi belajar sebesar 0.826 > 0.60 termasuk dalam kategori reliabel. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa instrumen layak digunakan untuk mengukur variabel penelitian.
3.6. Teknik Analisis Data
3.6.1 Teknik Analisis Data Ranah Kognitif dan Ranah Afektif 3.6.1.1 Tahap Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk memastikan kelompok data berasal dari populasi yang homogen. Uji homogenitas menggunakan uji levene, kriterianya adalah signifikansi untuk uji dua sisi hasil perhitungan lebih besar dari > 0.05 berarti variansi pada tiap kelompok sama (homogen) dengan menggunakan program komputer SPSS 16 for windows.
3.6.1.2 Tahap Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran data yang akan dianalisis. Uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yaitu dengan klik Analyze – non parametrik test – one sampel K-S - masukkan variabel ke dalam kotak Test Variable List kemudian pilih normal pada Test Distribition. Uji Kolmogorov-Smirnov kriterianya adalah signifikansi untuk uji dua sisi hasil perhitungan lebih besar dari > 0.05 berarti berdistribusi normal dengan menggunakan program komputer SPSS 16 for windows (Ghazali, 2006:30)
3.6.1.3 Tahap Uji Beda (t-test)
Uji beda atau t-test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar kognitif dan afektif,siswa antara kelas V SD Negeri Tempuran (kelas eksperimen) dan kelas V SD Negeri Turunan (kelas kontrol). (Ghozali, 2006) mengemukakan tujuan uji beda adalah membandingkan rata-rata dua grup yang tidak berhubungan satu dengan yang lain. Gunanya untuk menentukan apakah dua sample yang tidak
berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda. Melalui uji t dalam penelitian ini diharapkan dapat menemukan perbedaan hasil belajar kognitif dan afektif siswa dengan menggunakan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) dan hasil belajar kognitif dan afektif siswa dengan menggunakan metode konvensional.
3.6.2 Teknik Analisis Data Ranah Psikomotor 3.6.2.1 Tahap Deskriptif Data
Sugiyono (2011:147) mengemukakan bahwa analisa deskriptif di gunakan untuk menganalisa sejumlah data yang dikumpulkan dalam penelitian sehingga memperoleh gambaran mengenai keadaan suatu subyek yang diteliti. Dalam analisis deskriptif ini digunakan ukuran rata-rata hitung (mean), standar devisi, maksimum, minimum dan ukuran kenormalan data skor unjuk kerja kelas eksperimen. Dalam rangka mengetahui penyebaran data skor unjuk kerja kelas eksperimen, data yang telah terkumpul diklasifikasikan dan diberi skor.
3.6.3 Tahap Pengujian Hipotesis
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan hasil uji t pada ranah kognitif dan afektif serta hasil analisis deskriptif data pada ranah psikomotor. (Riduwan & Sunarto, 2009), uji t ini dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel pada tingkat Alpha 5 %. Jika thitung ≥ ttabel dan sig ≤ 0.05 maka maka Ha diterima dan Ho ditolak.
Hipotesis statistik yang diuji dalam penelitian ini adalah:
1. Ho1 : µ1 = µ2 (model Cooperative Learning tipe TPS (Think-Pair-Share) tidak efektif terhadap hasil belajar kognitif bagi siswa kelas V SD).
Ha1 : µ1 ≠ µ2 (model Cooperative Learning tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif terhadap hasil belajar kognitif bagi siswa kelas V SD).
2. Ho2 : µ3 = µ4 (model Cooperative Learning tipe TPS (Think-Pair-Share) tidak efektif terhadap hasil belajar afektif bagi siswa kelas V SD).
Ha2 : µ3 ≠ µ4 (model Cooperative Learning tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif terhadap hasil belajar afaktif bagi siswa kelas V SD).
3. Model Cooperative Learning tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif terhadap hasil belajar psikomotor siswa kelas V SD dengan aspek mengidentifikasi macam-macam bangun dan menggambar bangun, menentukan bangian-bagian suatu bangun ruang, dan menentukan jaring-jaring suatu bangun ruang jika hasil penilaian unjuk kerja > 22.
Keterangan:
μ1 = Rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang belajar menggunakan metode TPS (Think-Pair-Share).
μ2 =Rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang belajar menggunakan metode konvensional.
μ3 = Rata-rata hasil belajar afektif siswa yang belajar menggunakan metode TPS (Think-Pair-Share).
μ4 =Rata-rata hasil belajar afektif siswa yang belajar menggunakan metode konvensional.
Model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) dikatakan efektif, manakala terjadi peningkatan hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor pada kelas eksperimen. Selain itu, pengujian hipotesis juga menjadi acuan terhadap keefektifan tersebut. Apabila hipotesis alternatifnya diterima, maka nilai rata-rata hasil belajar kognitif dan afektif pada kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. Sehingga model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif terhadap hasil belajar kognitif dan afektif siswa kelas V. Jika analisis deskriptif data menunjukkan skor > 22 maka perlakuan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif terhadap hasil belajar psikomotor. Dengan demikian, penggunaan model cooperative learning tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif digunakan pada pelajaran Matematika kelas V SD.