ANALISA KAJIAN KINERJA JACKING BOX
PADA UNDERPASS JALAN KERETA API
PADALARANG
1
DODY SUSILO HANDOKO,
2DWI DINARIANA
1Teknik Sipil, Universitas Bina Nusantara 2
Teknik Sipil, Universitas Persada Indonesia YAI, Jl. Salemba 7 Jakarta Pusat e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Pada pembangunan underpass jalan kereta api Padalarang diterapkan metode jacking untuk
membantu proses pendorongan box tersebut. Metode jacking adalah struktur unit box pracetak
didorong ke dalam tanah dengan sistem hidraulik untuk mendorong box underpass masuk tegak
lurus ke dalam pada jalur yang telah direncanakan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa
metode jacking box pada proyek underpass jalan kereta api Padalarang yang ditinjau dari segi
waktu, metode kerja dan jumlah tenaga kerja. Penelitian ini dilakukan dengan mencari
data-data yang diperlukan, dan mengidentifikasi masalah-masalah yang berhubungan dengan proses
dan pelaksanaan metode jacking box dari segi waktu, metode kerjanya serta jumlah tenaga
kerja. Data-data yang sudah diperoleh dilanjutkan dengan dianalisa. Dari hasil analisa metode
jacking didapatkan hasil dari proses pendorongan segmen box underpass yaitu dibutuhkan
waktu rata-rata untuk 1 kali proses pendorongan yaitu rata-rata selama 880 detik atau 14 menit
40 detik. Pada analisa jumlah tenaga kerja pada metode jacking dibutuhkan 0,0146 supervisi,
0,0437 operator dan 0,2557 untuk pekerja untuk satu kali proses jacking.
Kata Kunci: Metode Jacking Box, Metode Kerja, Waktu, Tenaga Kerja
1. PEDAHULUANSeiring perkembangan zaman, pembangunan dalam bidang infrastruktur semakin meningkat. Buruknya kondisi jalan yang ada menyebabkan pergerakan pengguna jalan sering terhambat dengan adanya perlintasan kereta api yang memotong jalan. Serta kebutuhan akan jalan semakin dituntut untuk meningkatkan kualitasnya, seperti halnya pembuatan underpass yang berlokasi di Padalarang. Perlintasan kereta api yang berpotongan dengan jalan disebut perlintasan kereta api sebidang. Perlintasan kereta api sebidang adalah perlintasan jalur kereta api satu level dengan jalan, jalan setapak atau jalur kereta api lainnya tanpa jalan lain dengan menggunakan jembatan/penghubung. Dengan adanya perlintasan kereta api sebidang dapat timbulnya risiko kecelakaan lalu lintas antara kendaraan jalan raya dengan kereta api semakin besar.
Dengan demikian Pemda Bandung Barat dengan kontraktor membuat infrastruktur underpass tersebut dengan metode Jacking Box.Jacking Box adalah sebuah metode konstruksi yang memudahkan
insinyur untuk membuat ruang bawah tanah dengan cara tidak mengganggu infrastruktur dan mengurangi dampak kerusakan terhadap lingkungan dan manusia. Underpass yang dibangun sesuai perencanaan yang
diinginkan yaitu tepat waktu, biaya dan kualitas pada perlintasan kereta api, diharapkan risiko kecelakaan diperlintasan menjadi berkurang.
2. METODE PENELITIAN
Tahapan penelitian merupakan mengakji permasalahan utama yang ada pada proyek underpass jalan kereta api Padalarang yaitu meninjau keunggulan dan kelemahan metode jackignbox, kajian metode tersebut, peninjauan kinerja waktu dan peninjauan kinerja tenaga kerja.
Tahapan selanjutnya yaitu melakukan survey di lokasi proyek untuk mendapatkan waktu jacking dan jumlah tenaga kerja. Setelah itu dilakukan studi literature yang dilanjutkan dengan menganalisa data teknis studi kasus yang berupa data dan gambar struktur jalan underpass Padalarang. Data tersebut nantinya akan digunakan sebagai input (masukkan) untuk meneliti efisiensi waktu, tenaga kerja dan metode kerja dari metode jacking box dari proyek underpass jalan kereta api Padalarang.
Langkah berikutnya akan dilakukan analisa mengenai kajian pemilihan metode jacking box tersebut. Untuk mengetahui hasil analisa kajia dapat ditinjau dari laporan mingguan. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan cara memperoleh data-data penunjang dari pengurus underpass jalan kereta api Padalarang berupa data dan gambar struktur underpass jalan kereta api Padalarang.
Ada tiga jenis sumber data-data, yaitu : a. Data-data primer
Data yang didapatkan dari wawancara dan pengamatan di lapangan yaitu tentang pelaksanaan konstruksi dari metode jacking box, hal ini untuk mengetahui perbandingan dari segi waktu dan tenaga kerja yang terlaksana pada proyek underpass jalan kereta api Padalarang.
b. Data-data sekunder
Data-data yang diperoleh dari studi literature dengan berbagai buku referensi, jurnal dan data proyek. Data proyek yaitu salah satunya berupa data penjadwalan proyek, laporan mingguan kontraktor dan laporan bulanan kontraktor.
c. Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan analisis statistic agar hasil analisa dapat menyajikan suatu ukuran yang dapat mesifatkan populasi, ataupun menyatakan variasinya dan gambaran kecenderungan dari variable serta menguji hipotesis yang dirumuskan. (Nasir,1988)
3. HASIL DAN BAHASAN
Hasil dari pengumpulan data yang didapat adalah berupa data-data spesifikasi alat dan perlengkapan yang dipakai serta waktu dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan selama proses pekerjaan
jacking.
3.1. Data Alat Jacking
Jacking adalah proses kegiatan mendorong box tunnel masuk ke dalam tanah dengan sistem
hidraulik pada jalur yang telah direncanakan. Pada proyek underpass stasiun padalarang digunakan 3 (tiga) buah jenis jacking yaitu Jack ZPE 460, Jack SPE 200/300 dan Jack SPE 220/180.
Tabel 1 Daftar Alat Yang Dipakai Saat Proses Jacking
No Nama Alat Gambar Tipe
1 Jack ZPE 460 460 Ton
Stroke 100 mm
2 Jack SPE 200/300 200 Ton
Stroke 300 mm
3 Jack SPE 220/180 250 Ton
Stroke 300 mm
4 Hydraullic Pump 3/4
Power 4 Kw Max Pressure 600 Bar
4 liter/menit
5 Hydraullic Pump EHPS
Power 7,5 Kw Max Pressure 700 Bar
8,5 liter/menit 6 Genset 90 Kpa DCA - 90 SPHT Frequnecy 50-60 Hz AC Generator 75-90 KVA Voltage 200-400 V
3.2. Pelaksanaan Metode Jacking
Pekerjaan pendorongan atau jacking box underpass ini memeiliki target rencana proses jacking dengan 2 box segmen beton dan rencana jadwal penyelesaian pendorongan 1,5 bulan atau target 54 hari yang dimulai pada bulan oktober 2013 dengan panjang terowongan 38,8m dan rencana laju pendorongan 0,7185m/hari.
Dalam kegiatan pelaksanaan pendorongan metode jacking box didahului dengan persiapan sebagai berikut :
a. Penempatan unit hydraulic jack dengan posisinya yang terletak pada segmen 1 terdapat 12 unit
jack dengan kapasitas 460 ton/unit atau total 5520 ton untuk segmen 2 terpasang 8 unit jack
dengan kapasitas 200 ton/unit atau total 1600 ton dan 3 unit jack long stroke dengan kapasitas 250 ton/unit atau total 750 ton yang ditempatkan pada segmen 1.
b. Pemasangan central hydraulic pump dan penyambungan hydraulic hose dari hydraulic pump dengan hydraulic jack tersebut.
c. Pemasangan jembatan sementara di antara segmen-segmen unit pracetak box underpass untuk akses /jalan kerja alat-alat berat dan para pekerjanya yang lalu lalang di dalamnya (4 unit
excavator dan truck pengangkut tanah).
d. Penempatan block-block beton di antara jacking abutment dan setiap unit hydraulic jack pada segmen 2 yang dibatasi oleh transfer beam.
Proses pendorongan dimulai dari segmen 2 didorong maju menggunakan hydraulic jack yang bertumpu pada segmen 1. Gerakan majunya dibatasi sejauh 25 cm saja dari maksimum 30 cm sesuai dengan kemampuan masing-masing jack pada segmen 2.
Setelah segmen 2 terdorong, proses pendorongan dilanjutkan pada segmen 1. Segmen 1 didorong maju sejauh 8 cm dari maksimumnya 10 cm. setelah melakukan pendorongan pada segmen 2, maka
hydraulic jack dengan tipe long stroke digunakan untuk menahan beban horizontal antara box underpass
beam, setelah katrol terpasang transfer beam ditarik melalui katrol rantai tersebut hingga pada posisi yang
direncakan. Sesudah penarikan transfer beam maka berikutnya adalah penempatan block beton yang dibantu dengan alat berat yaitu forklift.
Kedua tahap proses pendorongan di atas merupakan siklus tipikal dari gerakan maju unit pracetak. Namun pada kenyataannya, kecepatan maju unit pracetak bisa bervariasi tergantung dari penggalian dan kereta api yang melintas. Penggalian dimulai mendahului proses pendorongan pada saat cutting wall mulai menyentuh tanah di depannya. Pada saat excavator menggali tanah di depannya dengan kemiringan tertentu untuk menjaga stabilitas lereng. Dari hasil penggalian tanah, maka terdapat tumpukan tanah di dalam box underpass sehingga tanah hasil galian tersebut dipindahkan dengan excavator dan dimuat ke dalam dump truck untuk kemudian diangkut keluar area proyek atau box underpass
3.3. Analisa Data
Setelah dilakukan survey data waktu jacking maka didapatkan analisa rata-rata waktu yang disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 2 Rencana Tahapan Pendorongan Box Underpass-Padalarang
Uraian Panjang (m) Waktu (hari) Tahap 1 10.2 8 Tahap 2 4.2 3 Tahap 3 4.3 3 Tahap 4 5.7 11 Tahap 5 4.9 10 Tahap 6 9.5 19 TOTAL 38.8 54 Rata-Rata pendorongan/hari (m) 0.7185
Tabel 3 Rata-Rata Waktu Pekerjaan Jacking
Uraian Nama Rata2 Rata2
Jenis Pekerjaan Alat (detik) (menit)
Jacking Belakang (detik) Jack ZPE 460 144 2.40
Release Belakang (detik) Jack ZPE 461 116 1.93
Pasang Plat Baja (detik) Palu Besi 460 7.67
Jacking Depan (detik) Jack SPE 220 160 2.66
JUMLAH 880 14.67
Setelah dilakukannya analisa pada tabel 4.5 maka pada pekerjaan jacking belakang dibutuhkan rata-rata waktunya selama 144 detik, pekerjaan release belakang dibutuhkan waktu selama 116 detik, untuk proses pemasangan plat baja memakan rata-rata waktu selama 460 detik dan untuk jacking depan selama 160 detik. Maka rata-rata waktu terlama terjadi pada proses pemasangan plat baja, hal ini dikarenakan pemilihan pada shimming plat dan plat baja yang sesuai serta pemukulan dengan palu besi yang dilakukan secara manual. Dan rata-rata waktu tercepat terjadi pada saat release belakang, pekerjaan
release belakang merupakan proses pengembalian piston jack kedalam alatnya. Jadi untuk total waktu
yang dibutuhkan untuk 1 kali proses pendorongan dibutuhkan waktu 880 detik atau 0,2444 jam. Tabel 4 Koefisien Alat Untuk Satu Kali Proses Jacking
Uraian Nama Rata2 koef koef kerja Satuan
Jenis Pekerjaan Alat (detik) alat efektif Alat
Jacking Belakang (detik) Jack ZPE 460 144 0.0306 0.0050 unit
Release Belakang (detik) Jack ZPE 461 116 0.0306 0.0040 unit
Pasang Plat Baja (detik) Palu Besi 460 0.0306 0.0160 buah
Jacking Depan (detik) Jack SPE 220 160 0.0306 0.0055 unit
Pada tabel diatas terdapat nilai koefisien alat dan koefisien kerja efektif. Yang di maksud dengan nilai koefisien alat adalah nilai koefisien yang terjadi dalam 1 (satu) hari proses jacking, sedangkan koefisien kerja efektif adalah nilai koefisien yang didapat saat alat yang digunakan saat bekerja saja. Jadi untuk masing-masing nilai koefisien alat pada alat yang digunakan mempunyai nilai yang sama yaitu sebesar 0,0306. Untuk nilai koefisien kerja efektif terendah pada pekerjaan release belakang yaitu sebesar 0,0040 dan nilai koefisien kerja efektif terbesar pada pekerjaan pemasangan plat baja yaitu sebesar 0,0160. Jadi total nilai koefisien alat sebesar 0.1222 dan total nilai koefisien kerja efektif sebesar 0,0306.
Tabel 5 Koefisien Tenaga Kerja Untuk Satu Kali Proses Jacking
Satuan a (supervisor b
(operator) c (pekerja) a (supervisor b (operator) c (pekerja) Tenaga
Kerja
Jacking Belakang 1 3 0.0050 0.0150 OH
Reales Jacking Belakang 1 3 0.0040 0.0120 OH
Pasang Plat Baja 16 0.2557 OH
Jacking Depan 1 3 0.0055 0.0166 OH
Total Tenaga Kerja/Komponen 0.0146 0.0437 0.2557 OH
Koef Tenaga Kerja Pekerjaan
Jumlah Tenaga Kerja
16
Tenaga kerja yang dibutuhkan pada proses pendorongan atau jacking dengan menggunakan alat
jack yaitu terdiri dari 1 supervisi yang bertugas mengkoordinir dilapangan serta memberikan arahan dan
mengawasi saat pendorongan berlangsung. 3 operator yang berfungsi untuk mengoperasikan alat, operator akan standby di hydraulic pump. 16 pekerja yang berfungsi untuk pekerjaan berat seperti proses pemasangan shimming plat baja, pembongkaran plat baja, pemasangan katrol rantai, penarikan transfer beam, dan sebagainya.
Tabel 6 Koefisien Alat Bantu Untuk Satu Kali Proses Jacking
Nama Alat Bantu Fungsi alat
bantu Jumlah Satuan Koef
Transfer Beam Media penahan antara blok beton dengan box underpass 1 unit 0.0306
Shimming 30x30x30 Media antara transfer beam dengan unit jack
1 buah 0.0306
Shimming 40x40x40 Media antara transfer beam dengan unit jack
2 buah 0.0611
Shimming Plat Media antara transfer beam dengan unit jack
7 buah 0.2139
Untuk alat bantu yang digunakan dalam pekerjaan jacking yaitu transfer beam, shimming 30x30x30, shimming 40x40x40 dan shimming plat baja. Transfer beam mempunyai nilai koefisien sebesar 0,0306 dengan jumlah 1 unit, shimming 30x30x30 sebesar 0,0306 dengan jumlah 1 buah, shimming 40x40x40 sebesar 0,0611 dengan jumlah 2 buah dan shimming plat baja sebesar 0,2139 dengan jumlah 7 buah. Maka nilai koefisien alat bantu yang terendah dimiliki pada alat transfer beam dan shimming 30x30x30, sedangkan yang terbesar pada alat shiiming plat.
Tabel 7 Koefisien Bahan Untuk Satu Kali Proses Jacking
Nama Bahan Jumlah Satuan Koef
Box Underpass 4 buah 4
Blok Beton 19/(15 X
Jacking)
buah 1.2667
Hasil analisa dari tabel koefisien bahan yaitu pada box underpass didapatkan nilai koefisien sebesar 4 dan nilai koefisien pada block beton sebesar 1,2667.
Tabel 8 Koefisien Jumlah Tenaga Kerja
Supervisi 1 15 0.067 Operator 3 15 0.200 Pekerja 16 15 1.067 Jumlah tenaga kerja (hari) Jumlah sampel (hari) Koef Jumlah Tenaga Kerja (OH) Jenis Pekerja
Dalam 1 hari kerja diperlukan supervisi sebanyak 1 orang, operator 3 orang dan untuk pekerja sebanyak 16 orang. Untuk pekerja ditempatkan pada posisi box segmen-1 yaitu 1 alat unit jack dihandle 2 orang. Dan jumlah sample/harinya sebanyak 15 kali, sehingga didapatkan nilai koefisien tenaga kerja untuk supervise sebesar 0,067, operator 0,200 dan pekerja 1,067. Jadi nilai koefisien terbesar dimiliki oleh pekerja dan yang terendah dimiliki oleh supervisi.
Tabel 9 Daftar Upah Tenaga Kerja
Tenaga Kerja Per Bulan Per Hari
Supervisi Rp2,500,000.00 Rp83,333.33
Operator Rp59,000.00
Pekerja (labour ) Rp49,000.00
Data pada tabel diatas merupaka data upah masing-masing tenaga kerja yang dikeluarkan oleh PT VSL. Pembayaran upah tenaga kerja sebagian besar dihitung satu hari kerja, namun sebagian ada yang dibayar per-bulan.
Tabel 10 Harga Satuan Upah Pendorongan Box Underpass
Jenis Tenaga Kerja Indeks Satuan Harga Satuan Jumlah
Supervisi 0.067 OH Rp83,333.33 Rp5,555.56 Operator 0.200 OH Rp59,000.00 Rp11,800.00 Pekerja (labour ) 1.067 OH Rp49,000.00 Rp52,266.67
Tabel 11 Perbandingan Laju Pendorongan Rencana dan Aktual
Uraian
Rata-Rata (m)
Waktu (hari)
Rencana
0.7185
54
Aktual
1.0200
38
Berdasarkan laju rencana 0,7185 m dibutuhkan waktu 54 hari sedangkan actual laju percepatan dilapangan 1,0200 m sehingga proyek bisa diselesaikan dalam waktu 38 hari. Kenyataan dilapangan
proyek selama 45 hari tidak melakukan pendorongan akibat masih menunggu penggalian, alat yang rusak dan mulai tanggal 18 Desember 2013 tidak boleh adanya pekerjaan himbauan dari Pemerintahan setempat untuk persiapan Natal dan Tahun baru, sedangkan mulai aktifitas kembali mulai tanggal 4 Januari 2014. Sehingga total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan jacking sepanjang 38,8 m dan total keterlambatan pekerjaan proyek tidak melakukan aktivitas jacking adalah dibutuhkan waktu 80 hari.
Proyek ini dapat dibandingkan dengan proyek-proyek underpass di Indonesia dengan penggunaan metode konstruksi yang sama yaitu jacking box salah satunya adalah proyek underpass Dukuh Atas, dengan data-data pada proyek tersebut adalah sebagai berikut:
Nama Proyek : Terowongan Dukuh Atas
Lokasi : Jl.Jendral Sudirman, Dukuh Atas, Jakarta Periode Kontrak : 18 Mei 1993 – 20 Juni 1994 (398 hari)
Panjang Total : 50,85m Box Segmen 1 : 17,25m Box Segmen 2 : 16,35m Box Segmen 3 : 17,25m Lebar Total : 20,3m Tinggi : 7m Unit Jack
Box Segmen 1 : 8 jack kapasitas 350 T Box Segmen 2 : 6 jack kapasitas 350 T Box Segmen 3 : 12 jack kapasitas 200 T
Pada proyek terowongan Dukuh Atas dilakukan proses pendorongan box underpass dengan aktual laju pendorongan rata-ratanya 1,13m/hari dengan masa pelaksanaan 45 hari. Jika dibandingan dengan proyek underpass di Padalarang yang memiliki panjang terowongan 38,8m dengan aktual laju pendorongan 1,02m/hari, maka pada proses pendorongan box underpass di Dukuh Atas dengan masa pelaksanaan yang sama pada proyek underpass di Padalarang maka proses pendorongan dapat diselesaikan 34 hari. Jadi terdapat selisih waktu yang terjadi 34 – 38 hari yaitu 4 hari lebih cepat. Walaupun demikian, untuk lokasi di Dukuh Atas tidak terdapat perlintasan kereta api sedangkan di Padalarang terdapat perlintasan kereta api. Sehingga dengan pelaksanaan proses pendorongan menjadi efisien dengan jacking box.
Setelah di analisa dengan membandingkan antara waktu rencana dengan waktu aktual yang terjadi pada lapangan maka seharusnya pendorngan box dapat selesai dengan cepat yaitu selama 38 hari dengan laju pendorongan box underpass 1,0200 m/harinya dari masa pelaksanaannya 54 hari dengan laju pendorongan 0,7185 m/harinya.
4. SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil analisa dan perhitungan kinerja waktu serta tenaga kerja pada underpass jalan kereta api Padalarang, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Metode Jacking yaitu proses pendorongan box underpass ke dalam tanah pada jalur yang sudah direncanakan dengan alat hydraullic. Keunggulan dari metode ini yaitu tidak mengganggu aktivitas jalan kereta api yang berada di atasnya dan hanya memerlukan jumlah tenaga kerja yang sedikit. Untuk kelemahan dari metode ini yaitu sangat bergantung pada pekerjaan galian dan penyetelan lebih lama jika diaplikasikan pada tanah lunak (box underpass akan lebih mudah turun). Sehingga metode ini dapat diterapkan pada area proyek yang sempit dan tanah lunak maupun keras.
penggunaan metode unit pracetak di dorong ini dalam kondisi proyek pada lokasi di Padalarang, maka metode ini sangat tepat dilaksanakan karena praktis tidak mengganggu jadwal kereta api. Proyek tersebut akan selalu menjadi lebih mudah dan ekonomis jika pertimbangan dalam tahap desain metode dikerjakan dengan jacking.
c. Proses pendorongan untuk satu kali proses jacking membutuhkan waktu rata-rata selama 880 detik atau 0,2444 jam dengan nilai koefisien alat 0,1222 dan koefisien kerja efektif sebesar 0,0306. d. Kebutuhan koefisien total tenaga kerja untuk satu kali proses jacking dibutuhkan 0.0146 untuk
tenaga supervisi, 0.0437 operator dan 0.2557 pekerja. Sehingga proses jacking tidak memerlukan banyak tenaga kerja.
e. Pada penelitian ini dapat dilanjutkan untuk penelitian metode jacking berikutnya, pada underpass jalan kereta api Padalarang yang berbeda dimensi pada box underpass dan panjang kedalaman terowongannya.
f. Penelitian ini dapat dilanjutkan pada metode jacking dengan metode lain yang ditinjau atau dianalisa dari segi waktu, metode kerja dan tenaga kerja.
g. Pada pekerjaan jacking sebenarnya dapat dimaksimalkan dalam segi waktu, yaitu dengan melakukan pendorongan dengan memanfaatkan jeda waktu kereta yang lebih dari 1 jam saat kondisi siang dan sore hari.
5. REFERENSI
Allenby, D. & Ropkins, J.W.T. (2004). The Use Of Jacked-Box Tunneling Under A Live Motorway. Geotechnical Engineering. Thomas Telford Publishing, London, 157(Issue GE4), 229-238.
Aminsyah, M. (2010). Pengaruh Kepipihan Dan Kelonjongan Agregat Terhadap Perkerasan Lentur Jalan
Raya. Jurnal Rekayasa Sipil, Vol 6 No 1.
Asiyanto. (2008). Metode Konstruksi Gedung Bertingkat. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press). Asiyanto. (1999). Teknologi Pelaksanaan Konstruksi, Hand Out, Universitas Atma Jaya. Yogyakarta. Ayunita, ID. & Cahyono, BN.(2013).Analisa Resiko Pada Proyek Pembangunan Underpass Di Simpang
Dewa Ruci. Kuta, Bali.
Clarkson, TE. & Ropkins, J.W.T. (1997). Pipe-Jacking Applied To Large Structures. Proceedings Of The Institution Of Civil Engineers. 62(1), 539-561.
Lempoy, Victor.M.T.(2013). Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi Pada Tahap Pelaksanaan (Studi
Kasus : Pembangunan Star Square). Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.3 h.215-218.
Lynn, Anthony. (2006). Box Jacking-A Useful Construction Tool. Berkeley Engineering Company Ropkins, J.W.T. (1998). Jacked Box Tunnel Design and Construction. Proceedings Of The Sessions Of
Geo-Congress 98, Special Publication No 87. American Society Of Civil Engineers, Reston, Virgina, USA, 21-38.
Sandyavitri, Ari.(2008).Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu dan Biaya Pekerjaan
Konstruksi. Jurnal Tehnik Sipil, h.57-70. Diakses tanggal 5 Februari 2014, dari PDF Search
Engine.
Soeharto, Iman. (1999). Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional. Jakarta : Erlangga. Susantono, Bambang & Berawi, M.A. (2012). Perkembangan Kebijakan Pembiayaan Infrastruktur
Transportasi Berbasis Kerjasama Pemerintah Swasta Indonesia. Jurnal Transportasi Vol.12 No.2
h.93-102.
6. RIWAYAT PENULIS