• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPADATAN POPULASI ULAT KROP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEPADATAN POPULASI ULAT KROP"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

KEPADATAN POPULASI ULAT KROP ( Crocidolomia pavonana Fab. ) PADA

TANAMAN KUBIS TELUR ( Brassica oleracea L. ) DI DUSUN DANAU

PAUH DESA PULAU TENGAH KECAMATAN JANGKAT

KABUPATEN MERANGIN PROPINSI JAMBI

ARTIKEL ILMIAH

PITMAH HARIZA

NIM. 09010089

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

( STKIP ) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2016

(2)
(3)

1

KEPADATAN POPULASI ULAT KROP ( Crocidolomia pavonana Fab.)

PADA TANAMANKUBIS TELUR ( Brassica oleracea L. ) DI DUSUN

DANAU PAUH DESA PULAU TENGAH KECAMATAN

JANGKAT KABUPATEN MERANGIN

PROPINSI JAMBI

Pitmah Hariza, Gustina Indriati dan Evrialiani Rosba

Program Studi Pendidikan Biologi Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat

[email protected]

ABSTRACT

Pulau Tengah Village Jangkat District Merangin Regency Jambi Province is a place that produces vegetables. One of the numerous vegetable that is produced by farmers in this village is cabbage. However, some years later, the production of cabbage is decrease, it is caused by the pests disturbance, one of them is krop cartepilar (Crocidolomia Pavonana). The symptoms that appear on cabbage egg is the perforated leaf. In line with that matter, the researcher done a research about the density of krop cartepilar (Crocidolomia Pavonana) population of cabbage egg plant at Danau Pauh. The aims of this research is to know the density of krop cartepilar (Crocidolomia Pavonana) population of cabbage egg plant at Danau Pauh in Pulau Tengah Village Jangkat District Merangin Regency Jambi province. This research was done on April 2016 by using survey descriptive methode. In choosing the sample, the researcher choosed the sample systematically and dirrectly collected through larva (Crocidolomia Pavonana) in the research area. The sampling process was done on the cabbage egg plant that have reached the age of 35 days after transplanting. The density of Crocidolomia Pavonana population of cabbage egg plant at Danau Pauh, Pulau Tengah village Jangkat District Merangin Regency Jambi Province is 5, 35 individual / rod.

Key Word: The Density of Krop Cartepilar Population, Cabbage Egg Plant.

PENDAHULUAN

Tanaman kubis atau kol

merupakan salah satu jenis sayuran daun yang berasal dari daerah subtropis yang telah lama dikenal dan di budidayakan di Indonesia. Produksi kubis di negara kita, selain untuk memenuhi keperluan dalam negeri, juga merupakan komoditas ekspor. Kubis termasuk kelompok enam besar sayur segar yang di ekspor Indonesia, yakni bersama-sama dengan tomat, lombok dan bawang merah.

Tanaman kubis berasal dari Eropa dan Asia Kecil, terutama tumbuh di daerah Great Britain dan Mediterranean. Kubis atau kol dikomsumsi sebagai sayuran daun,

diantaranya sebagai lalap mentah dan masak, lodeh, bakwan, campuran bakmi, lotek, pecel, dan aneka makanan lainnya, karena sayuran tersebut dikenal sebagai sumber vitamin (A, B dan C), mineral, karbohidrat, protein dan lemak yang amat berguna bagi kesehatan (Prasetio, 2013).

Kendala yang dihadapi petani kubis adalah banyaknya gangguan hama dan penyakit. Hama-hama tersebut menyerang daun kubis yang tua maupun yang masih muda sebelum membentuk krop. Salah satu hama yang sangat berbahaya terhadap tanaman kubis ialah ulat Crocidolomia

pavonana atau disebut juga dengan ulat

(4)

2

ulat krop terhadap tanaman kubis sebesar 25% sedangkan pada tahun 2010 persentase serangan ulat krop sebesar 30% (Anonimus, 2010). Ciri khas dari Crocidolomia pavonana ini ialah imagonya berupa

ngengat dan bertelur di balik daun, setelah menetas larva dapat merusak tanaman kubis dengan cara memakan daun dengan lahapnya, terutama daun bagian dalam yang tertutup oleh daun luar, sehingga menyebabkan bercak-bercak transparan pada daun yang mengakibatkan daun menjadi robek-robek, bila merasa bahaya, misalnya tersentuh atau daun bergoyang dengan cepat maka dia akan menjatuhkan tubuhnya untuk menyelamatkan diri (Pracaya, 2009).

Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Pronpinsi Jambi, merupakan salah satu daerah penghasil sayuran. Salah satu sayuran yang banyak diproduksi para petani di Dusun Danau Pauh adalah sayuran kubis. Namun Produksi kubis ini masih terkendala oleh beberapa permasalahan. Harga jual yang tidak stabil serta gangguan dari hama dan penyakit merupakan kendala terpenting dalam budi daya sayuran kubis. Menurut data rata-rata produksi kubis di Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi pada tahun 2013, mencapai 20 ton/ha, Pada tahun 2014, 14 ton/ha, dan pada tahun 2015, 9 ton/ha. Hal ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan hasil yang di peroleh pada tahun 2013. Salah satu penyebab rendahnya produksi kubis adalah adanya serangan hama (PPL, Lorong Mutiara).

Berdasarkan hasil wawancara dengan petani setempat bahwa salah satu penyebab rendahnya produksi kubis adalah serangan hama yang sangat berbahaya terhadap tanaman kubis, salah satu hama yang paling banyak ditemukan yaitu pada ulat Crocidolomia pavonana. Ulat ini merusak tanaman kubis dengan cara

memakan daun, merusak tunas kubis, dan melubangi krop kubis.

Berdasarkan permasalahan diatas telah dilakukan penelitian dengan judul

”Kepadatan Populasi Ulat Krop

(Crocidolomia pavonana Fab.) Pada Tanaman Kubis Telur (Brassica oleracea L.) Di Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April 2016 di Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif yaitu dengan cara

pengamatan langsung dilapangan.

Pengambilan sampel dilakukan pada tanaman kubis yang berumur 35 hari setelah tanam. Jumlah kubis yang dijadikan sebagai titik pengambilan sampel adalah sebanyak 10%. Pengambilan sampel larva dilakukan pada tanaman kubis dengan memotong pangkal batang tanaman yang telah di sungkup dengan kantong plastik, kemudian dibawa ke tempat yang lebih teduh dan bersih. Dilakukan pensotiran dengan cara membuka bagian-bagian tanaman dan pengambilan sampel menggunakan pinset dan loupe, khususnya untuk melihat larva

Crocidolomia pavonana. Parameter fisika

lingkungan yang diukur adalah Suhu uadara dan Kelembaban udara . Kemudian Sampel larva yang didapat dimasukkan kedalam botol koleksi yang telah diberi alkohol 70% , kemudian dihitung jumlahnya. Selain itu beberapa sampel larva Crocidolomia pavonana difoto sebagai dokumentasi penelitian.

Analisis data ini dilakukan perhitungan kepadatan (K) dengan rumus (Suin, 2006):

Kepadatan =

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil penelitian tentang kepadatan populasi Crocidolomia pavonana pada tanaman kubis telur di Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(5)

3

Tabel 1. Kepadatan Populasi Crocidolomia pavonana Pada Tanaman Kubis Telur (Brassica

oleracea) dan hasil pengukuran faktor fisik pengambilan sampel di Dusun Danau Pauh

Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi.

Kepadatan Faktor lingkungan

Suhu udara Kelembaban udara

5,35 Ind/Batang 26,3 0C 78,6 %

Dari tabel diatas bahwa kepadatan populasi larva Crocidolomia pavonana didapatkan 5,35 individu/Batang. Dengan suhu yang didapatkan 26,3 0C dengan kelembaban 78,6 %.

B. Pembahasan

Dari hasil penelitian tentang kepadatan populasi ulat krop Crocidolomia

pavonana pada tanaman kubis telur di

Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi dapat diketahui bahwa kepadatan larva Crocidolomia pavonana pada tanaman kubis umur 35 hari setelah tanam mengalami kepadatan yang cukup tinggi yaitu 5,35 individu/Batang.

Hal ini disebabkan ketersediaan makanan yang dibutuhkan larva tersedia dalam jumlah cukup, karena pada tanaman kubis yang umur 35 hari daun tanaman kubis (Brassica oleracea) sudah banyak terbentuk, daun masih lunak dan krop sudah mulai terbentuk, krop tersebut disusun oleh salutan daun-daun muda yang sangat disukai oleh larva Crocidolomia pavonana. Bagian kubis yang paling disukai oleh larva ini adalah daun yang masih muda, karena kadar nitrogen pada daun-daun muda cukup tinggi dan strukturnyapun masih lunak sehingga mudah dicerna. Selain sebagai sumber makanan krop juga menjadi tempat berlindung bagi larva dari cahaya matahari karena larva Crocidolomia pavonana takut terkena cahaya matahari langsung (Pracaya, 2008).

Menurut Jumar (2000) makanan merupakan sumber gizi yang dipergunakan oleh serangga untuk hidup dan berkembang. Jika makanan tersedia dengan kualitas dan kuantitas yang cukup dan cocok, maka populasi serangga naik dengan cepat.

Banyaknya larva ini juga dipengaruhi siklus hidup, dimana ulat ini bertelur diletakan dalam kelompok-kelompok, secara berlapis antara 9-120 butir telur pada bagian bawah daun kibis. Ukuran kelompok telur berkisar antara 1,0x2,0 mm hingga 3,5x6,0 mm. Setiap fase instar berkisar antara 1-7 hari, keseluruhan fase instar stadium larva berlangsung antara

11-17 hari saat menetas dan larva mulai bergerak mencari makanan maka tanaman akan rusak oleh ulat ini karena telurnya

diletakan secara berkelompok

(Sastrosiswojo, 1993). Kemudian suhu, dan kelembaban, juga mempengaruhi kepadatan populasi Crocidolomia pavonana. Serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana dia dapat hidup. Di luar kisaran tersebut serangga akan mati kedinginan dan kepanasan. Kondisi faktor lingkungan dapat mempengaruhi jumlah ulat Crocidolomia

pavonana, penelitian yang telah dilakukan

pada tanaman kubis telur umur 35 hari setelah tanam didapatkan suhu 26,3 0C dan kelembaban 78,6 %. Menurut Rustama, Melani dan Irawan (2008) kisaran suhu untuk larva Crocidolomia pavonana ini yaitu 26,0-33,20C dan kelembaban 54,1-87,8 %. Keadaan ini sangat menunjang

perkembangan larva Crocidolomia

pavonana.

Keberadaan larva Crocidolomia

pavonana yang ditemukan pada tanaman

kubis di Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi sudah termasuk

kriteria hama. Karena menurut

Sastrosiswojo (dalam Widiana dan Zeswita, 2012) ambang kendali larva Crocidolomia

pavonana adalah 5 larva per 10 tanaman.

Menurut Dadang (dalam Asriani, 2013) bahwa kepadatan larva yang ditemukan pada tanaman kubis yaitu 2,96 individu per tanaman.

Keberadaan Crocidolomia

pavonana pada tanaman kubis telur bisa

merugikan petani, karena dapat

mengakibatkan kerusakan langsung terhadap kubis, jika kubis terus terserang menyebabkan daun dan kropnya rusak bahkan tanaman akan membusuk dan mati. Pengendalian terhadap hama Crocidolomia

pavonana merupakan salah satu faktor yang

(6)

4

kubis telur. Hama yang menyerang harus dikendalikan agar hasil panen bisa maksimal

.

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kepadatan populasi larva Crocidolomia

pavonana pada tanaman kubis telur di

Dusun Danau Pauh Desa Pulau Tengah Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi adalah 5,35 individu/Batang.

Saran

Sehubungan dengan besarnya kepadatan dari larva Crocidolomia pavonana atau ulat krop, maka disarankan

pada peneliti selanjutnya untuk melakukan

penelitian tentang pengendalian

Crocidolomia pavonana pada tanaman kubis

telur

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2016. Kubis Telur. Http://Badan Litbang.

Blogsome.Com/2009/10/04/ Kubis Telur. Diakses 5 Mei 2016. Asriani. 2013. Keragaman dan Kepadatan

Populasi Predator Yang

Berasosiasi Dengan Hama

Penting Pada Tanaman Kubis.

Jurnal. Agroekoteknologi

Tropika. Vol 2.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.

Rustama, Melani, Irawan. 2008.

Patogenisitas jamur

entomopatogen Metarhizium

anisopliae Terhadap

Crocidolomia Pavonana Fab.

Laporan Peneliti Muda.

Universitas Padjadjara.

Suin, M. N. 2006. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta: Bumi Aksara.

Sastrosiswojo, S. 1993. Kubis. Bandung :

Badan Penelitian dan

Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Holtikultura.

Widiana, R dan Lusi zeswita, A. 2012.

Kepadatan Populasi Ulat Krop (Crocidolomia Binotalis Zell)

Pada Tanaman Kubis (Brassica

oleracea L). Jurnal Ekotrans. Vol

12.

Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit

Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.

___________.2009 .Hama dan Penyakit

Tanaman. Jakarta: Penebar

Swadaya.

Prasetio. 2013. Budi Daya Sayuran Organik

Referensi

Dokumen terkait

Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul “Pengaruh Kepadatan Populasi Nematoda Entomopatogen Terhadap Hama Plutella xylostella L.. Pada Tanaman Kubis ( Brassica

1.4 Pengaruh Perbedaan Jenis Bahan Kontainer terhadap Kepadatan Populasi Larva Nyamuk Aedes aegypti L.. di Lingkungan FKIP

Frekuensi pengurasan kontainer mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap kepadatan populasi larva di lingkungan FKIP Universitas Jember.. Semakin banyak

Yudhastuti dan Anny (2005) telah melakukan penelitian kepadatan larva nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Wonokusumo Surabaya dengan menggunakan indeks larva (House

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah massa telur yang diletakkan oleh induk dengan kepadatan populasi larva Chironomidae di

Hasil pengukuran faktor fisik di Kelurahan Pisang Kecamatan Pauh padang Faktor fisik Lokasi I Lokasi II Pagi 0C Sore 0C Pagi 0C Sore 0C Suhu 0C 28 35 28 35 Kelemb aban % 74

Berdasarkan data hasil penelitian diketahui bahwa kepadatan populasi larva kumbang tanduk pada kayu lapuk di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat adalah

https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/PBiotik/index 233 KEPADATAN POPULASI IKAN DEPIK Rasbora tawarensis DI DANAU LAUT TAWAR ZONA KECAMATAN BINTANG Liana Fitri 1 Samsul Kamal 2