Daftar Pustaka
• Fitzpatrick's Dermatology, Ninth Edition
1. Tn. D, 25 tahun adalah pegawai toko kimia. 2 jam lalu pasien tersiram asam sulfat
konsentrasi rendah pada tangan kanannya. Pada pemeriksan fisik nampak eritema batas tegas pada lokasi yang terkena. Diagnosis
yang paling mendekati pada pasien ini adalah a. Dermatitis kontak iritan
b. Dermatitis kontak alergi c. Dermatitis numularis
d. Dermatitis seboroik e. Dermatitis IgA
Dermatitis Kontak Iritan
• Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah inflamasi pada kulit, akibat respons terhadap pajanan bahan iritan, fisik, atau biologis yang kontak pada kulit, tanpa dimediasi oleh respons
Klasifikasi
1. Subjective irritancy 2. Irritant reaction
3. Suberythematous irritation 4. DKI akut
5. Delayed acute irritancy 6. DKI kronik (kumulatif) 7. Frictional dermatitis 8. Traumatic reactions
9. Pustular/acneiform reactions 10. Asteatotic irritant eczema
Klinis
• Terdapat riwayat pajanan dan hubungan temporal dengan bahan iritan
• Tangan adalah lokasi tersering, diikuti wajah, dan kaki
• Gejala subyektif berupa rasa gatal, terbakar/nyeri
• Sajian klinis bergantung pada jenis iritan dan pola pajanan • Biasanya disertai kulit kering
atau gangguan sawar kulit
• Bila pajanan dihentikan maka lesi membaik
• Seringkali berhubungan dengan pekerjaan/lingkungan pekerjaan
2. Berikut ini yang termasuk iritan kuat a. Sabun b. Surfaktan c. Deterjen d. Magnesium hidroksida e. Pelarut organik
3. Iritasi suberitematus adalah sebuah
dermatitis kontak iritan yang terjadi di tangan. Pada pemeriksaan klinis, iritasi tidak jelas
namun pemeriksaan histopatologi
menunjukkan adanya iritasi. Reaksi ini terjadi akibat paparan a. Wet work b. Glikol c. Tabir surya d. Surfaktan e. Garam
4. Jenis dermatitis kontak iritan yang terjadi
akibat microtrauma yang biasanya terjadi pada putting payudara disebut sebagai
a. Frictional dermatitis b. Traumatic reactions c. Pustular reactions d. Acneiform reaction e. Iritant eczzema
5. Tatalaksana topikal dermatitis kontak iritan akut dengan lesi basah adalah
a. Kortikosteroid derajat rendah b. Kortikosteroid derajat sedang c. Kortikosteroid derajat tinggi d. Kompres terbuka
Medikamentosa:
1. Sistemik: simtomatis, sesuai gejala dan sajian klinis
• Derajat sakit berat: dapat ditambah kortikosteroid oral setara dengan prednison 20 mg/hari dalam jangka pendek (3 hari) 2. Topikal:
• Pelembap setelah bekerja/after work cream. Disarankan pelembap yang kaya kandungan lipid, petrolatum
• Sesuai dengan sajian klinis
- Basah (madidans): beri kompres terbuka (2-3 lapis kain kasa) dengan larutan NaCl 0,9%
- Kering: beri krim kortikosteroid potensi sedang, misalnya flusinolon asetoid
• Bila dermatitis berjalan kronis dapat diberikan mometason fuorate intermite
3. Pada kasus yang berat dan kronis, atau tidak respons dengan
steroid bisa diberikan inhibitor kalsineurin atau fototerapi dengan BB/NB UVB atau obat sistemik misalnya azatioprin atau
siklosporin. Bila ada superinfeksi oleh bakteri: antibiotika topikal/sistemik
6. Tatalaksana yang dapat diberikan pada DKI kronik kumulatif adalah kecuali
a. Antihistamin b. Azatriopne c. Siklosporin d. Pregabalin e. Fototerapi
7. Tn. J, 45 tahun dikonsultasikan pada Anda oleh Sejawat Penyakit Dalam. Tn. J merupakan pasien yang dirawat di ruang ICU akibat sepsis berat
dengan kecurigaan infeksi MRSA. Pada
pemeriksaan fisik nampak bula tegang di atas dasar eritematosa berkuran miliar hingga
lenticular, tersusun mirip rosette. Diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini adalah
a. Dermatosis IgA linier b. Pemphigoid bullosa
c. Dermatitis kontak alergi d. SSSS
Dermatosis IgA Linier
• Dermatosis IgA linear merupakan suatu
penyakit autoimunbulosa didapat pada kulit dan membran mukosa yang ditandai secara khas oleh deposisi linear IgA sepanjang zona membrane basalis
Anamnesis
1. Riwayat perjalanan penyakit: kronik residif
2. Gejala subjektif gatal, kadang disertai gejala prodromal
3. Dermatosis IgA linear dapat timbul spontan atau
dicetuskan oleh obat. Obat yang dapat mencetuskan, misalnya vancomycin
Pemeriksaan Fisik
1. Predileksi: wajah, tangan, kaki, genitalia, perianal dan bokong. Keterlibatan
mukosa terjadi pada 70% kasus
2. Klinis ditandai vesikel dan bula tegang di atas dasar eritematosa berukuran miliar hingga lentikular,
berkelompok tersusun mirip rosette (cluster of jewel)
atau disebut juga string of pearls
8. Berikut ini merupakan tanda patognomonis pada dermatosis IgA linier
a. Chrismtas tree pattern b. Punch out lesion
c. String of pearls
d. String of diamond e. Cluster of minerals
9. Pada kecurigaan
dermatosis IgA linier, pewarnaan yang digunakan untuk pemeriksaan histopatologi adalah a. HE b. Sudan black
c. Mikroskop kamar gelap d. Ziehl Nielsen e. Gram Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan histopatologi kulit dengan pengecatan HE: ditemukan celah subepidermal dengan neutrofil sepanjang basal membran 2. Direct immuno fluorescence (DIF): Ditemukan deposisi IgA dan C3 berbentuk pita di sepanjang taut dermo-epidermal
10. Jika diagnosis pasien adalah dermatosis IgA linier, pada pemeriksaan direct
immunofluorscenece ditemukan deposisi IgA
dan a. C1 b. C2 c. Neutrophil d. NK Cell e. C3
11. Terapi topical pada dermatosis IgA linier dapat dilakukan dengan pemberian obat berikut ini, kecuali
a. Mupirosin
b. Kortikosteroid potensi rendah c. Kortikosteroid potensi tinggi d. Takorlimus
12. Selain steroid, terapi sistemik dermatosis IgA linier dapat dilakukan dengan pemberian obat berikut ini, kecuali
a. Azathioprine b. Metoreksat
c. Mycophenolate mofetil d. Rifampisin
Sistemik
• Antihistamin generasi satu (AH-1 sedatif) bila ada keluhan gatal, misalnya CTM dengan dosis 3x4 mg perhari
• Steroid sistemik (prednison 60-80 mg/hari) disertai dengan
steroid sparing agent. Dosis steroid diturunkan secara
perlahan untuk mencegah relaps. antara lain: o Azathioprine 3-4 mg/kgBB/hari atau
o Metotreksat atau
o Mycophenolate mofetil 0,5-1,5 gram 2 kali sehari atau
o Intravenous immunoglobulin (IVIg) 2 gram/kg BB per siklus dalam 3-5 consecutive days atau
o Dapson 0,5-1 mg/kgBB/hari atau 25-50 mg/hari setelah ada perbaikan dosis dapat diturunkan hingga 12,5-25 mg/hari atau kurang. Dosis diturunkan perlahan-lahan sampai dosis pemeliharaan dicapai. Atau bila tidak toleran dengan
13. An. D, 8 tahun datangdengan keluhan
munculnya bentol-bentol di seluruh tubuh.
Sebelumnya 3 hari lalu pasien mengeluh demam, nyeri kepala dan lesu. Hari ini muncul ruam-ruam dengan bentol-bentol. Pada pemeriksaan fisik
nampak adanya bentukan seperti tetes embun, vesikel meluas ke seluruh tubuh. Diagnosis yang paling mendekati pada pasien ini adalah
a. Rubella b. Rubeola c. Varicella
d. Leptopspira e. TB kutis
VARISELA
• Infeksi akut oleh virus Varisela zoster yang bersifat swasirna, mengenai kulit dan mukosa, yang ditandai dengan gejala konstitusi (demam, malaise) dan kelainan kulit polimorfik (vesikel yang tersebar generalisata terutama berlokasi di bagian sentral tubuh)
Klinis
1. Gejala prodromal berupa demam, nyeri kepala, dan lesu, sebelum timbul ruam kulit
2. Ruam kulit muncul mulai dari wajah, skalp dan menyebar ke tubuh. Lesi menyebar sentrifugal (dari sentral ke perifer)
sehingga dapat ditemukan lesi baru di ekstremitas, sedangkan di badan lesi sudah berkrusta.
3. Lesi berupa makula eritematosa yang cepat berubah menjadi vesikel ”dew drop on rose petal appearance”. Dalam
beberapa jam sampai 1-2 hari vesikel dengan cepat menjadi keruh, menjadi pustul dan krusta kemudian mulai
menyembuh. Ciri khas varisela adalah ditemukannya lesi kulit berbagai stadium di berbagai area tubuh.
4. Pada anak, erupsi kulit terutama berbentuk vesikular:
beberapa kelompok vesikel timbul 1-2 hari sebelum erupsi meluas. Jumlah lesi bervariasi, mulai dari beberapa sampai ratusan. Umumnya pada anak-anak lesi lebih sedikit,
biasanya lebih banyak pada bayi (usia <1 tahun), pubertas dan dewasa.
5. Kadang-kadang lesi dapat berbentuk bula atau hemoragik
6. Selaput lendir sering terkena, terutama mulut, dapat juga konjungtiva palpebra, dan vulva
7. Keadaan umum dan tanda-tanda vital (tekanan darah, frekuensi nadi, suhu, dsb) dapat memberikan petunjuk tentang berat ringannya penyakit
8. Status imun pasien perlu diketahui untuk menentukan apakah obat antivirus perlu diberikan. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat membantu
menentukan status imun pasien, antara lain: keadaan imunokompromais (keganasan, infeksi HIV/AIDS,
pengobatan dengan imunosupresan, misalnya kortikosteroid jangka panjang atau sitostatik, kehamilan, bayi berat badan rendah) akan menyebabkan gejala dan klinik lebih berat
14. Berikut ini yang merupakan tanda patognomonik pada varicella adalah
a. Christmas tree pattern b. Waterfall pattern
c. Dewdrop on rose petal appearance
d. Leaky gutter
15. Berikut ini adalah variable penting yang
harus diperiksa untuk menentukan pemberian antivirus pada pasien varicella, kecuali
a. Keganasan b. Infeksi HIV c. Kehamilan
d. Bayi berat badan rendah e. Hipertensi
16. Jika seorang pasien dicurigai menderita varicella, pemeriksaan
penunjang apa yang dapat dilakukan
a. Punch out biopsy b. Tzank test
c. Lampu wood
d. Pewarnaan gram
e. Direct immunoglobulin
Pemeriksaan Penunjang
• Jarang diperlukan pada varisela tanpa komplikasi
1. Pada pemeriksaan darah tepi, jumlah leukosit dapat sedikit meningkat, normal, atau
sedikit menurun beberapa hari pertama
2. Enzim hepatik kadang meningkat
3. Pada Tzank test ditemukan sel datia berinti banyak, tetapi tidak spesifik untuk varisela 4. Kultur virus dari cairan vesikel
seringkali positif pada 3 hari pertama, tetapi tidak
dilakukan karena sulit dan mahal
5. Deteksi antigen virus dengan PCR untuk kasus varisela yang berat atau tidak khas
17. Pada neonatus yang lahir dari ibu yang
menderita varisella, sebaiknya diberikan terapi a. Asiklovir 4 mg/kgbb
b. Gansiklovir 4 mg/kgbb c. Imunoglobulin
d. Valasiklovir 10 mg/kgbb e. Metotreksate
Sistemik: Antivirus
• Dapat diberikan pada: anak, dewasa, pasien yang tertular orang serumah, neonatus dari ibu yang menderita varisela 2 hari sebelum sampai 4 hari sesudah melahirkan
• Berdasarkan CDC, neonatus dari ibu yang menderita varisela 2-4 hari sebelum melahirkan, sebaiknya diberikan
imunoglobulin
• Bermanfaat terutama bila diberikan <24 jam setelah timbulnya erupsi kulit
o Asiklovir: dosis bayi/anak 4x10-20 mg/kg (maksimal 800 mg/hari) selama 7 hari, dewasa: 5x800 mg/hari selama 7 hari , atau
o Valasiklovir: untuk dewasa 3x1 gram/hari selama 7 hari
• Pada ibu hamil, pemberian asiklovir perlu dipertimbangkan risiko dan manfaat pemberiannya
• Asiklovir oral dapat diberikan pada ibu hamil usia >20 minggu dengan awitan varisela <24 jam
• Pemberian asiklovir sebelum usia gestasi 20 minggu perlu dipertimbangkan risiko dan manfaatnya
18. Pemberian asiklovir pada ibu hamil yang menderita varisella perlu memperhatikan prinsip berikut
a. Usia gestasi> 36 minggu b. Usia gestasi> 10 minggu c. Usia gestasi> 20 minggu d. Usia gestasi<36 minggu e. Usia gestasi< 30 minggu
19. Tn. D, datang ke dokter kulit dengan keluhan
kutil yang muncul pada badan. Pada pemeriksaan fisik nampak papul verukosa yang keratotic, kasar dan bersisik. Bentuk lesi sekitar 2 mm dan
sebagaian berkonfluens menjadi lesi yang lebih besar. Diagnosis yang paling mendekati dari
pasien ini adalah a. Veruka vulgaris b. Veruka filiformis c. Varicella
d. Lipoma
VERUKA VULGARIS
• Veruka vulgaris atau kutil merupakan infeksi virus human papilloma humanus yang bermanifestasi pada kulit dan bersifat jinak
• Predileksi penyakit ini biasanya pada jari, punggung tangan maupun kaki
• Penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak, dewasa muda, dan pasien imunosupresi
• Virus dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung, namun kemungkinan
penularan meningkat jika virus berkontak dengan kulit yang mengalami luka
Veruka Kutan
• Ditemukan lesi kulit tunggal atau berkelompok, bersisik, memiliki permukaan kasar berupa papul atau nodul yang seperti duri. Lesi
muncul secara perlahan dan dapat bertahan dengan ukuran kecil, atau membesar. Lesi dapat menyebar ke bagian tubuh lain
• Berdasarkan morfologinya, veruka diklasifikasikan menjadi:
o Veruka vulgaris: berbentuk papul verukosa yang keratotik, kasar, dan bersisik. Lesi dapat berdiameter kurang dari 1 mm hingga lebih dari 1 cm dan dapat berkonfluens menjadi lesi yang lebih lebar
o Veruka filiformis: berbentuk seperti tanduk
o Veruka plana: papul yang sedikit meninggi dengan bagian atas yang datar, biasanya memiliki skuama yang sedikit
• Berdasarkan lokasi anatominya, veruka diklasifikasikan menjadi: o Veruka palmar dan plantar: lesi
berupa papul hiperkeratotik, tebal dan endofitik yang terkadang
disertai rasa nyeri dengan penekanan
o Veruka mosaik: veruka plantar atau palmar yang meluas
membentuk plak
o Butcher’s wart: papul verukosa
yang biasanya multipel pada
palmar, periungual, dorsal palmar
20. Veruka vulgaris merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh pathogen
a. Herpes simpleks b. Herpes zoster
c. Human papilloma virus d. Citomegalovirus
21. Jenis veruka yang berbentuk seperti tanduk adalah a. Veruka vulgaris b. Veruka filiformis c. Veruka plana d. Veruka hornalis e. Veruka mosaik
22. Veruka yang terjadi pada palmar berbentuk papul verukosa, yang juga dapat ditemukan di periungual, dorsal palmar, dan banyak
ditemukan pada pasien yang bekerja sehari-hari di tempat pemotongan hewan disebut a. Butcher’s wart
b. Veruka mosaic
c. Veruka palmoplantar d. Veruka filiformis
23. Berikut ini gambaran veruka vulgaris pada dermoskopi kecuali a. Red black dot
b. Dikelilingi white halo c. Papilomatosis
d. Red-white streaks e. Hair pin vessels
Pemeriksaan Penunjang
1. Dermoskopi
• Gambaran red-black (hemorrhagic)
dot dikelilingi white halo yang
dihubungkan dengan papilomatosis,
red-black (hemorrhagic) streaks pada weight bearing area palmoplantar,
dan hairpin vessels
• Pemeriksaan dermoskopi dapat membantu diagnosis dan evaluasi terapi
2. Histopatologi
• Gambaran epidermal akantosis
dengan papilomatosis, hiperkeratosis, parakeratosis, terdapat pemanjangan
rete ridges kearah tengah veruka, dan
penonjolan pembuluh darah dermis yang memungkinkan terjadinya
trombus.
• Pemeriksaan histopatologi diperlukan pada lesi yang memiliki diagnosis
24. Edukasi yang perlu diberikan pada pasien veruka vulgaris adalah di bawah ini kecuali a. Tidak mengigit kuku
b. Menggunakan sandal
c. Mencukur tempat lesi agar bersih
d. Menutup kutil dengan bahan tahan air ketika berenang
Penatalaksanaan
Pencegahan
1. Mengurangi risiko transmisi, seperti menutup kutil dengan bahan tahan air ketika
berenang, menghindari pemakaian barang pribadi secara bersamasama, dan menggunakan alas kaki ketika menggunakan toilet umum 2. Mengurangi risiko
auto-inokulasi, seperti tidak menggaruk lesi, tidak
menggigit kuku, dan tidak mencukur daerah yang terdapat kutil
Edukasi
1. Penyakit dan penyebabnya • Umumnya kutil dapat hilang
spontan tanpa pengobatan • Kutil dapat mengalami
rekurensi
• Kurangi kontak dengan lesi karena dapat meningkatan risiko penularan ke bagian tubuh yang lain
• Jangan mencoba untuk mencabut lesi
2. Cara pencegahan
3. Pilihan terapi dan efek samping
25. Berikut ini merupakan agen destruktif yang
dapat diberikan pada diagnosis veruka vulgaris, kecuali a. Asamsalisilat b. Kantaridin c. Perak nitrat d. Asam format e. Imiquimod Medikamentosa 1. Agen destruktif • Asam salisilat • Fenol liquefaktum 80% • Kantaridin
• Asam trikloroasetat & asam monokloroasetat • Perak nitrat 10%
2. Agen virusidal • Glutaraldehyde 3. Agen antiproliferasi • Krim 5-florourasil 5% • Topical retinoids 4. Terapi imunologi • Imiquimod 5. Terapi intralesi Antiproliferative agents • Lima-florourasil, lidokain, dan epinefrin • Bleomycin • Interferon beta 6. Terapi oral • Zinc oral • Antagonis reseptor histamin-2 Tindakan 1. Bedah beku 2. Bedah laser 3. Bedah pisau 4. Photodynamic therapy