19
HUBUNGAN USIA IBU HAMIL DAN KADAR HAEMOGLOBIN IBU
HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI WILAYAH KERJA
PMB ENDAH RETNO PRATIWI, S.ST
KECAMATAN WAGIR KABUPATEN
MALANG
Puji Astuty1,Aris Budiarti2
Program Studi Diploma III Kebidanan Akademi Kebidanan Wira Husada Nusantara
ABSTRAKSI
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum kehamilan berusia 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus merupakan salah satukomplikasikehamilan yang paling sering terjadi dalam kehamilan khususnya trimester pertama. Secara umum, terdapat tiga faktor yang dapat menyebabkan Abortus spontan yaitu faktor fetus, factor ibu sebagai penyebab Abortus dan factor paternal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Usia Ibu Hamil dan Kadar Haemoglobin Ibu Hamil dengan Kejadian Abortus di PMB Endah Retno Pratiwi, S.ST Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental Sampling atau dimana cara pengambilan sampel dilakukan dengan kebetulan bertemu. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan rumus regresi linear berganda dan untuk menjaga validitas hasil, maka seluruh proses analisa statistik yang digunakan untuk menganalisis data penelitianini, menggunakanalat bantu komputerisasi. Penelitian dilakukan pada Bulan Mei sampai dengan Juni 2019.
Hasil analisa data menunjukanbahwaanalisis ragam regresi didapatkan nilai Fhitung>Ftabelyaitu124,237> 3,35 artinya adanya hubungan yang signifikan antara variabel Usia
Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2) dengan Kejaian Abortus (Y). Dari analisis ragam regresi juga didapatkan nilai variabel Usia Ibu Hamil (X1) dengan Kejadian Abortus (Y) yaitu Thitung>Ttabel yaitu 12,953 >2,042 dan nilai variabel Kadar Hemoglobin (X2)
dengan Kejadian Abortus (Y) yaitu Thitung>Ttabel yaitu 5,626 >2,042. Nilai R Square dari
Hubungan Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2) dengan Kejadian Abortus (Y) sebesar 0,902 yang artinya Hubungan Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2)mempengaruhi terhadap Kejadian Abortus (Y) sebesar 90,2% sedangkan sisanya 9,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.
Kata Kunci :Usia Ibu Hamil, Kadar Haemoglobin Ibu Hamil, Abortus. PENDAHULUAN
Pada hasil hasil survei yang dilakukan saat melakukan studi pendahuluan di BPM Bidan EndahRetno pada tanggal 8Desember 2018 didapatkan data 6bulan terakhir terdapat 60 ibu hamil dimana terdapat 30 kasusAbortus. 11 diantaranya berusia 19-30 tahun, 2 kasus berusia >35 tahun, dan 13 diantaranya
memilikiriwayatAnemia dan 4diantaranya dipengaruhi oleh faktorlain.
Istilah usia diartikan dengan lamanya keberadaan seseorang diukur dalam satuan watku di pandang darisegikronologik, individu normal yang memperlihatkan derajat perkembangan
anatomis dan fisiologiksama (Nuswantari,
2010). Usia adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan).
20 Sedangkan usia ibuhamil adalah usia ibu
yang diperoleh melalui pengisian kuesioner (Hoetomo, 2005). Usia seorang wanita pada saathamil sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur yang kurangdari 20 tahun ataulebihdari 35 tahun, berisiko tinggi untuk melahirkan. Kesiapanseorang perempuan untuk hamil harussiapfisik, emosi, psikologi, sosial dan ekonomi (Ruswana, 2006). Faktor usia ibu berpengaruh terhadap kejadian
Abortus. Semakin tuausiaibu saathamil,
maka risiko mengalami Abortus akan semakin meningkat. Kejadian
Abortusmeningkat pada usiakurangdari 20
tahun dan lebihdari 35 tahun. Semakinmuda usia ibu saat hamil semakin berisiko mengalami Abortus, begitu pula semakin tua usia ibu saat hamilsemakin berisiko mengalami Abortus (Desyelisa, 2010).Semakin bertambah usia resiko terjadi komplikasi kehamilan seperti
Abortus semakin tinggi, ini terjadi
karena pada usia > 35 tahun sudah mengalami penurunan reproduksi, sehingga resiko terjadinya Abortus sangat besar. Usia juga dapat mempengaruhi kejadian Abortus karena pada usia kurang dari 20 tahun belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin, sedangkan Abortus yangterjadi pada usia lebih dari 35 tahun disebabkan berkurangnya fungsi alat reproduksi, kelainan pada kromosom, dan penyakit kronis.Usia ibu mempunyai pengaruh terhadap kehamilan, diusia kurang dan 20 tahun adalah umur yang dianggap terlalu muda untuk hamil dan melahirkan karena endometrium belum siap menerima hasil konsepsi dan bila hamil diatas 35 tahun diaman organ
reproduksi dan fungsi organ tubuh
lainnya sudah mulai menurun dan kesehatan ibu tidak sebaik dulu (Scoot, 2008).Wanita hamil kurang dari 20 tahun dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin
karena belum matangnyaalat reproduksi untuk hamil. Penyulit pada kehamilan remaja (<20 tahun) lebih tinggi dibandingkan kurun waktu reproduksi sehat antara 20-30 tahun. Keadaan tersebut akan makin menyukitkan bila ditambah dengan tekanan (stres) psikologi, sosial, ekonomi, sehingga memudahkan terjadinya keguguran (Manuaba et al., 2014).Kehamilan pada primitua usia 35 tahun atau lebihberesiko karena mulai muncul berbagai keluhan kesehatan saat hamil, seperti hipertensi dan diabetes yang seringmempengaruhi proses persalinan. Pada usiatersebut organ kandungan menua, jalanlahir juga tambah 17 kaku. Ada kemungkinan lebih besaribuhamil mendapatkan anakcacat, terjadipersalinan macet dan perdarahan. Faktor inilah yang menyebabkan persalinan di atasusia 35 tahun cenderung lebih sering dilakukan melalui operasi caesar (Hellen, 2007). Semakin lanjut usia wanita, semakin tipis cadangan telur yang ada, indung telur juga semakin kurang peka terhadap rangsangan gonandotropin. Makin lanjut usia wanita, maka risiko terjadi Abortus, makin meningkat karena menurunnya kualitas selteluratau ovum dan meningkatnya risiko kejadian kelainan
kromosom (Hendarto, 2009).
Pusat molekul terdapat cincin
haterosiklik yang dikenal dengan porfirin
yang menahan satu atom besi, atom besi ini merupakan situs ikatan oksigen.
Porfirin yang mengandung besi disebut haem. Nama haemoglobin merupakan
gabungan dari haem dan globin, globin sebagai istilah generik untuk protein
globular. Haemoglobin adalah suatu bahan
dalam sitoplasma sel darah merah merupakan senyawa protein yang terdiri dari hema dan globin. Hema terdiri dari 4 struktur pyrole dengan atom Fe ditengahnya. Sedangkan globin terdiri dari
2 pasang polypeptide
(Muraya,dkk.,2003).Hemoglobin adalah suatu molekul kompleks yang terdiri dari empat rantai globin, masing-masing
21 memiliki satu molekul heme, dan
mempunyai fungsi utama untuk transport oksigen darihasil difusi alveolus di paru-paru kejaringan. Hemoglobin ini terdapat pada sel darah merah di dalam peredarandarah makhluk hidup, dan merupakan komponen yang sangat penting dalam mekanisme transporoksigen. Kadar hemoglobin yang menurundapatdiakibatkan oleh hilangnyadarahdalamjumlahbanyak. Penurunankadar hemoglobin dapat juga disebabkan oleh anemia karena kurangnya zattertentudalamtubuh, misalnyazatbesi, asamfolat, atau vitamin B12 (Manuaba, 2001).Anemia pada ibuhamilmerupakan suatu masalah global, bukanhanya di negara berkembangnamun juga di negara maju. Prevalensianemia pada ibuhamil di Indonesia cukuptinggi. Anemia pada ibuhamilmeningkatkanrisikokesakitan dan kematianbaikbagiibuhamilmaupunjanin yang dikandungnya. Efekanemiaterhadap janinyaitumengakibatkanberatbayilahirren dah, kelahiranprematur, dan kematianjanin. Risikogawatjaninsaatpersalinan dan kematianintrapartum meningkathinggadua kali lipatlebih tinggi. Anemiaibuhamil mengakibatkan gangguan penyaluran oksigen darisirkulasimaternalkeperedaran darah janin, yang akan berpengaruh keluaran janin setelahpersalinan. Hasil analisis morfologip lasenta menunjukkan adanya kalsifikasi dan infarksehingga fungsi plasenta yang menyokongnutrisi pada janin dalamkandungana kan terganggu. Hipertrofiplasenta juga dapatterjadi, yang mengakibatkan retardasi pertumbuhan janinintrauterin dan kelahiran bayiberatlahirrendah. Menurut Prawirohardjo dan Winkjosastro (1999), kurangnya kadar hemoglobin dalam kehamilan dapat menyebabkan terjadinya: 1. Abortus.
2. Partus imatur / prematur. 3. Kelainan kongenital. 4. Pendarah antepartum.
5. Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim.
6. Menurunnya kecerdasan setelah bayi dilahirkan.
7. Kematian perinatal.
Abortus dapat dibagiatas dua
golongan yaitu Abortusspontan dan
Abortusprovokatus. Abortusspontanadalah Abortus yang terjaditanpa tindakan
mekanis dan disebabkan oleh faktor-faktoralamiah. Abortusprovokatusa dalah
Abortus yang terjadiakibat tindakan atau
disengaja, baikdengan memakai obat-obatan maupunalat-alat (Mochtar, 1998).
Abortus adalah berakhirnya kehamilan
sebelumjanin dapathidup di dunia luar, tanpamempersoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luarbilaberat badannya telah mencapai lebih daripada500 gramatauumur kehamilan lebihdaripada 20 minggu (Sastrawinata et al, 2005). Abortusspontan merujuk kepada keguguran pada kehamilankurangdari 20 minggu tanpa adanyatindakan medisatautindakan bedahuntuk mengakhiri kehamilan (Griebel et al., 2005). Abortus
spontanadalahmerupakanmekanismealam iah yang menyebabkanterhentinya proses kehamilansebelumberumur 28 minggu. Penyebabnyadapat oleh karenapenyakit yang dideritasiibuataupunsebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistemreproduksi (Syafruddin, 2003). KlasifikasiAbortus menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005) adalah seperti berikut :
1. Abortuss pontan adalah keluarnya hasilkonsepsi tanpaintervensi medis maupun mekanis.
2. Abortusbuatan, Abortus provocatus
(disengaja, digugurkan), yaitu:
a. Abortus buatan menurut kaidahilmu (Abortus provocatu sartificialis atau
Abortus therapeuticus). Indikasi
Abortus untuk kepentinganibu,
misalnya :penyakit jantung,
hipertensiesential, dan karsinomaserviks.
Keputusan iniditentukan oleh timahli yang terdiridari dokter
22 ahlikebidanan, penyakitdalam dan
psikiatri, atau psikolog.
b. Abortus buatan kriminal (Abortus
provocatus criminalis) adalah
pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sahatau oleh orang yang tidakberwenang dan dilarang oleh hukum.
Secaraumum, terdapattigafaktor yang dapatmenyebabkan Abortus spontan yaitu faktorfetus, factor ibusebagai penyebab Abortus dan faktorpaternal. Lebihdari 80 persenAbortusterjadi pada 12 minggupertamakehamilan, dan kira-kirasetengahdarikasusAbortusinidiakibatka n oleh anomalikromosom. Setelah melewati trimester pertama, tingkataborsi dan peluangterjadinyaanomalikromosomberkura ng (Cunningham et al, 2005).
a. Faktor Fetus
Berdasarkan hasil studi sitogenetika yang dilakukan di seluruh dunia, sekitar 50 hingga 60 persendari
Abortuss pontan yang terjadi pada
trimester pertamamempunyai kelainan
kariotipe. Kelainan pada kromosom ini
adalah seperti autosomal trisomy, monosomy X dan polyploidy (Lebedev et
al, 2004).
Abnormalitaskromosom adalahhal
yang utama pada embrio dan janin yang mengalami Abortuss pontan, serta merupakan sebagian besar dari kegagalan kehamilandini. Kelainan dalamjumlah kromosomlebihsering
dijumpaidari pada kelainan struktur
kromosom. Abnormalitas kromosom
secarastrukturaldapatditurunkan oleh salah satudarikedua orang tuanya yang menjadipembawaabnormalitastersebut (Cunningham et al, 2005).
b. Faktor-faktor Ibu
SebagaiPenyebabAbortus
MenurutSotiriadis dan kawan-kawan (2004), ibuhamil yang mempunyairiwayatkeguguranmemilikir isiko yang tinggiuntukterjadikeguguran pada kehamilanseterusnyaterutama pada ibu yang berusialebihtua. Pada
wanitahamil yang mempunyai riwayat keguguran tiga kali berturut turut, risikountuk terjadinya Abortus pada kehamilanseterusnya adalahsebesar 50 persen (Kleinhaus et al, 2006; Berek, 2007).
Berbagai penyakit infeksi, penyakit kronis, kelainan endokrin, kekurangan nutrisi, alkohol, tembakau, deformitas
uterus ataupun serviks, kesamaan dan
ketidaksamaan immunologik kedua orang tua dan trauma emosional maupun fisik dapat menyebabkan
Abortus, meskipun bukti korelasi
tersebut tidak selalu meyakinkan. IsolasiMycoplasmahominis dan
Ureaplasmaurelyticumdaritraktusgenitalisbe
berapawanita yang mengalamiAbortus, mengarahkan pada hipotesisbahwa infeksimycoplasma yang mengena itraktusgenitalis, merupakanabortifasient. Pada kehamilanlanjut, persalinan
premature dapat ditimbulkan oleh
penyakit sistemik yang berat pada ibu.
HipertensijarangmenyebabkanAbortus,
tetapidapatmengakibatkankematianjani n dan persalinanprematur. Abortus seringdisebabkan, mungkintanpaalasan yang adekuat, kekurangan
sekresiprogesteronyang pertama oleh korpus luteum dan kemudian oleh
trofoblast. Karena progesterone
mempertahankan desidua, defisiensi relatifsecara teoritis mengganggu nutrisi konseptus dan dengan demikian mengakibatkan kematian. Pada saatini, tampak bahwahanya malnutrisi umum yang beratmerupakan predisposisi meningkatnya kemungkinanAbortus. Wanita yang merokokdiketahui lebihseringmengalamiAbortusspontand aripadawanita yang tidakmerokok.
Alkoholdinyatakanmeningkatkanresiko Abortuss pontan, meskipun hanya
digunakan dalam jumlah sedang (Cunningham et al, 2005).
Kira-kira 10 persenhingga 15 persenwanitahamil yang mengalami keguguran berulang mempunyai
23 kelainan pada rahimseperti
septumparsial atau lengkap. Anomali ini
dapat menyebabkankeguguran melalui
implantasi yang tidaksempurnakarena vaskularisasiabnormal,distensi uterus,
perkembanganplasenta yang abnormal dan peningkatan kontraktilitas uterus (Kiwi, 2006).
c. FaktorPaternal
Translokasi kromosom dalam sperma
dapat menyebabkan zigotemempunyai terlalusedikitatauterlalubanyakbahankr
omosom, sehingga mengakibatkan
Abortus (Cunningham et al, 2005).
Penelitianmenurut Prawirohardjo dan Winkjosastro (1999), kurangnya kadar hemoglobin dalam kehamilan dapat menyebabkan terjadinya Abortus
(Purwaningrum &Fibriyana, 2017)yang menyatakanbahwaAbortusspontanlebihba nyakterjadi pada usia< 20 tahun dan > 35 tahun Hasil penelitianinisesuai dengan teori yang menyatakanbahwaibuberusia< 20 tahun dan > 35 tahun berisiko tinggi untuk hamil dan melahirkan (Cunningham, 2014). Usiaibu yang ideal untukmengandungadalahusia 20 – 35 tahun, karena pada usiaini organ
reproduksitelahmatangdengansempurnaseh
inggalebihsiapuntukmenerimakehamilan (Noer, Ermawati, &Afdal, 2016). Ibu yang hamil pada usia< 20 tahuncenderungmemilikikesiapan mental yang kurangdalam menghadapi 8 kehamilansehinggaseringmengalami stress (Kuntari, Wilopo, & Emilia, 2010). Selainitu, pada usia< 20 tahun, organ
reproduksi juga masihbelum matang
sehingga ibu akan sangatberisiko tinggi mengalamikomplikasisaat hamil dan melahirkan (Noer, Ermawati, &Afdal, 2016). Usia> 35 tahun juga meningkatkanrisikoterjadinyaAbortusspon tan (Amalia &Sayono, 2015). Pada usiatersebut, fungsi organ reproduksi cenderung menurun dan ibu sangat rentanmengalamipenyulitkehamilansepert ipreeklampsia, eklampsia, diabetesgestasional,
anemia, dan meiotic error oocyte yang
seringmengakibatkanabnormalitaskromosom (Sulfiana, Chalid, Farid, Rauf, & Hartono, 2016). Abnormalitaskromosom merupakan etiologiterbanyak terjadinya Abortus
spontan (Cunningham, 2014). Selainitu, tingginyausiaibuberpengaruhterhadappro duksiprogesterone yang tidakadekuat dan menyebabkanhasilkonsepsitidakdapatberim
plantasi dengan baik (Purwaningrum &
Fibriyana, 2017).
METODE PENELITIAN
Jenispenelitian inidipilih mengingat tujuan yang ingin di capaimencakup usaha-usaha untuk menjelaskan hubungan dan pengaruh yang menjadikan kuisionersebagaialat pengumpul data primer. Populasi pada penelitianiniadalahibuhamil sebanyak 30 orang. Sampeladalahsebagian yang diambildari keseluruhan obyek yang ditelitidianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmojo, 2010). yang berjumlah 30 30 ibuhamil.Jenis sampling yang digunankan dalampenelitian iniadalah total
sampling. Sampel yang diambildalam
penelitianiniadalah 30Ibu Hamil.
Variabel independent dalam penelitian iniadalah: (X1) :Usia Ibu dan (X2) : Kadar Hemoglobin. Variabel dependent penelitianiniadalah kejadian Abortus (Y). Data dianalisisdengan menggunakan analisisdeskriptif (tabulasi silang) dan juga menggunakan model regresi linier (Nughroho, 1990).
HASIL DAN PEMBAHASAN A. DeskripsiKarakteristikResponden Tabel 1 Karakteristik Responden
Berdasarkan Usia
No Usia Frekuensi Presentase 1 20-35 tahun 11 37% 2 >35 tahun 3 10% 3 <20 tahun 16 53%
Total 30 100%
Sumber : Data diolah 2019
Karakteristik responden tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang digunakan pada penelitianiniadalahberusia<20 tahunyaitu
24 sebanyak 16 orang (53%), berusia 20-35
tahun sebanyak 11 orang (37%), dan berusia >35 tahunsebanyak 3 orang (10%).
Tabel 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
No Tingkat
Pendidikan Frekuensi Presentase
1 S-1 1 3%
2 SMA 15 51%
3 SMP 7 23%
4 SD 7 23%
Total 30 100%
Sumber : Data diolah 2019
Karakteristikrespondentersebutme nunjukkanbahwasebagianbesarresponden yang digunakan pada penelitian ini adalah lulusan SMA yaitusebanyak 15 orang (51%), lulusan SMP 7 orang (23%), lulusan SD sebanyak 7 orang (23%), dan lulusan S-1 sebanyak 1 orang (3%). Tabel 3 Karakteristik Responden
Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Frekuensi Presentase
1 Swasta 10 34%
2 Guru 1 3%
3 Buruh 2 6%
4 IRT 17 57%
Total 30 100%
Sumber : Data diolah 2019
Karakteristikrespondentersebutme nunjukkanbahwasebagianbesarresponden
yang digunakan pada
penelitianinisebagianbesarbekerjasebagai IRT yaitusebanyak 17 orang (57%), bekerjasebagai Swastasebanyak 10 orang (34%), bekerjasebagaiBuruhsebanyak 2 orang (6%), dan bekerjasebagai Gurusebanyak 1 orang (3%).
B. AnalisisStatistikPenelitian
Berdasarkananalisisstatistikdeskripti fterhadapVariabelIndependenUsia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil (X2) dengankejadian Abortus (Y) di BPM BidanEndahRetnoPratiwi, S.ST WagirKabupaten Malang, tertera pada table berikutini :
Tabel 4 Nilai rata-rata VariabelUsia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil (X2) dengankejadian Abortus (Y)
No Variabel Rata - Rata Terkecil Terbesar Standar Devisiasi 1 Usia Ibu Hamil (X1) 2,17 1 3 0,950 2 Kadar Hemoglo bin (X2) 2,23 2 3 0,430 3 Kejadian Abortus (Y) 5,87 3 9 2,360 Sumber : Data diolah 2019
BerdasarkanTabel 4 diketahui Nilai Rata-Rata Usia Ibu Hamil (X1) adalah 2,17 dengan Nilai Terkeci 1 dan Nilai Terbesar 3 DenganStandar Devisiasise besar 0,950. Nilai Rata-Rata Kadar Hemoglobin (X2) sebesar 2,23 dengan Nilai Terkecil 2 danNilaiTerbesar 3DenganStandarDevisiasisebesar 0,430. Nilai Rata-Rata Kejadian Abortus adalah 5,87 dengan Nilai Terkecil 3 dan Nilai Terbesar 9 dengan Standar Devisiasi 2,360.
PersamaanRegresi Linear Berganda hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut :
Y = Nilai Konstanta + Nilai Koefisien X1 + Nilai Koefisien X2
Y = 2.736 + 1,996 (X1) + 1,915 (X2)
Pada persamaan Regresi Linear Bergandayang pertama diketahui koefisien regresi Variabel X1 positif. Artinya setiap kenaikan satu skor Usia Ibu Hamil akan meningkatkan Kejadian Abortus pada Ibu Hamil sebesar 1,996.
Pada persamaanRegresi Linear Bergandayang kedua diketahui koefisien regresi Variabel X2 positif. Artinya setiap kenaikan satu skor Kadar Hemoglobin Ibu Hamil akan meningkatkan Kejadian Abortus pada Ibu Hamil sebesar 1,915. Tabel5 Nilai analisa Fhitung
padaVariabelUsia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2)dengan Kejadian Abortus SumberV
ariabel JumlahKuadrat DerajatBebas Kuad rat Teng ah
25 Regresi 145,641 2 72,82
0 124,237 3,35 Galat 15,826 27 0,586
Total 161,467 29 Sumber : Data diolah 2019
Dari hasil analisis statistik pada Tabel 5 dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2)dengan Kejadian Abortus (Y) yang dibuktikan dengan nilai Fhitung> Ftabel yaitu
124,237> 3,35.
Tabel6 Nilai analisa Thitung
padaVariabelUsia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2) dengan Kejadian Abortus
Variabel R R Square Thitung Ttabel(0.05)
HubunganUsia Ibu Hamil (X1) denganKejadian Abortus (Y) 0,950 0,902 12,95 3 2,042 HubunganKadar Hemoglobin (X2)denganKejadi an Abortus (Y) 5,626 Sumber : Data diolah 2019
Dari data analisis Deskriptif terhadap Variabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara HubunganUsia Ibu Hamil (X1) denganKejadian Abortus (Y) yang di buktikan dengan nilai Thitung>Ttabel yaitu
12,953 >2,042. Dari tabel diatas juga dapat dilihat bahwa terdapat hubungan yang signifikan antaraKadar Hemoglobin (X2)denganKejadian Abortus (Y) yaitu Thitung>Ttabel yaitu 5,626 >2,042. Nilai R
Square dari Hubungan Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2) dengan Kejadian Abortus (Y) sebesar 0,902 yang artinya Hubungan Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2)mempengaruhi terhadap Kejadian Abortus (Y) sebesar 90,2% sedangkan sisanya 9,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.
C. PEMBAHASAN
Analisa data tentang HubunganUsia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2)mempengaruhi terhadapKejadian Abortus (Y) di BPM Bidan Endah Retno Pratiwi S.ST Wagir Kabupaten Malang. Dimana berdasarkan tabel analisis ragam regresi didapatkan nilai Fhitung>Ftabelyaitu124,237> 3,35
artinya adanya hubungan yang signifikan antara variabel Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2) dengan Kejaian Abortus (Y). Dari analisis ragam regresi juga didapatkan nilai variabel Usia Ibu Hamil (X1) dengan Kejadian Abortus (Y) yaitu Thitung>Ttabel yaitu 12,953 >2,042 dan
nilai variabel Kadar Hemoglobin (X2) dengan Kejadian Abortus (Y) yaitu Thitung>Ttabel yaitu 5,626 >2,042. Nilai R
Square dari Hubungan Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2) dengan Kejadian Abortus (Y) sebesar 0,902 yang artinya Hubungan Usia Ibu Hamil (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2)mempengaruhi terhadap Kejadian Abortus (Y) sebesar 90,2% sedangkan sisanya 9,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.
Penelitianmenurut Prawirohardjo dan Winkjosastro (1999), kurangnya kadar hemoglobin dalam kehamilan dapat menyebabkan terjadinya Abortus.
(Purwaningrum&Fibriyana,
2017)yang menyatakanbahwaAbortus spontan lebihbanyak terjadi pada usia< 20 tahun dan > 35 tahun Hasil penelitian inisesuai denganteori yang menyatakan bahwaibuberusia< 20 tahun dan > 35 tahun berisikotinggi untukhamil dan melahirkan (Cunningham, 2014). Penelitian yang juga dilakukan oleh Desyelisa, 2010 menyebutkan bahwa Faktorusiaibuberpengaruhterhadapkejadia nAbortus. Semakintuausiaibusaathamil, makarisikomengalamiAbortusakansemakin meningkat.KejadianAbortusmeningkat pada usiakurangdari 20 tahun dan lebihdari 35 tahun. Semakinmuda usiaibusaat hamilsemakin berisiko mengalami Abortus, begitu pula
26 semakintuausiaibusaathamilsemakinberisi
komengalamiAbortus. Sedangkan menurut Scoot, 2008 Usia ibu mempunyai pengaruh terhadap kehamilan, diusia kurang dan 20 tahun adalah umur yang dianggap terlalu muda untuk hamil dan melahirkan karena endometrium belum siap menerima hasil konsepsi dan bila hamil diatas 35 tahun diaman organ
reproduksi dan fungsi organ tubuh
lainnya sudah mulai menurun dan kesehatan ibu tidak sebaik dulu. Sedangkan menurut Manuaba et al, 2014 Wanita hamilkurangdari 20 tahundapat merugikankesehatanibumaupunpertumbu han dan perkembanganjaninkarena belum matangnyaalat reproduksi untuk hamil. Penyulit pada kehamilanremaja (<20 tahun) lebih tinggi dibandingkan kurun waktu reproduksi sehat antara 20-30 tahun. Keadaan tersebut akan makin menyukitkan bila ditambah dengan tekanan (stres) psikologi, sosial, ekonomi, sehingga memudahkan terjadinya keguguran.
KESIMPULAN
Setelah mengalami proses identifikasi masalah, analisis, serta interprestasi hasil yang dicapaimakadapatdisimpulkan : 1. Dari variabel X1 (Usia Ibu)
didapathasilanalisaThitung>Ttabelyait u12,953 >2,042 Dapatdiartikan ada hubungan yang signifikanantaraUsia Ibu dengankejadianAbortus.
2. Dari variabel X2 (Kadar Hemoglobin) didapathasilanalisaThitung<Ttabelyait u5,626 >2,042.Dapatdiartikanada hubungan yang signifikanantaraKadar Hemoglobin Ibu dengan kejadian Abortus.
3. Hasil analisisnilai Fhitung> Ftabelyaitu 124,237> 3,35. Dapatdiartikan bahwa ada hubungan yang signifikanantara Usia Ibu (X1) dan Kadar Hemoglobin (X2) denganKejadianAbortus (Y) dan darikeduavariabeldiketahuivariabelUsia Ibu (X1) memilikipengaruhterhadap kejadianAbortusdenganThitung>Ttabe
lyaitu12,953 >2,042 dan variabelKadar Hemoglobin (X2) juga memiliki pengaruh terhadapkejadian Abortus dengan Thitung <Ttabel yaitu 5,626 >2,042.
4. Hasil analisisnilai R squaredari X1 (Usia Ibu), X2 (Kadar Hemoglobin) berpengaruhterhadap kejadian Abortus yaitu sebesar 0,902 atau90,2%, sedangkan 9.8% lainnyadipengaruhi oleh faktorlainnya yang tidakditeliti. UCAPAN TERIMA KASIH
KepadaPimpinan PMB Endah Retno dan staf besertaseluruh responden yang terlibat dalam penelitianini.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi. 1992.
Rencana
Strategi Pembangunan Kesehatan Indonesia 2015-2019. Jakarta Anonim. 23 April 2008. Resiko TinggiKehamilan Remaja Usia Muda. Available online : creasoft. wordpress.com. 11 Januari 2019. Azhari. 2012. Masalah Abortus dan
Kesehatan Reproduksi
Perempuan. Makalah Seminar Kelahiran Tidak diinginkan (Aborsi Dalam Kesejahteraan
Reproduksi Remaja), Yogyakarta.
Chunningham, F.G., Gant, N.F., Leveno, K.J., Gilstrap, L.C., Hauth, J.C., Wenstrom, K.d. 2005. Obstetri Williams. Edisi 21. EGC, Jakarta. Depkes RI. 2010. Konsep Asuhan
Kebidanan. JHPIEGO, Jakarta. Guttmacher Institute, 2009. Aborsi di
Indonesia. Htpps://www. guttamacher.org/pubs/2008/10/ 15/Aborsidi Indonesia.pdf. Diakses tanggal 14 Januari 2019.
27 Hidayat AA. 2009. Metode Penelitian
Kebidanan Teknik Analisis Data. Salemba Medika. Jakarta. Koesoemawati H. 2002. Danforth Buku
Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medika. Jakarta.
Mansjoer, Arief, dkk. 2010. Faktor Maternal dan Kualitas pelayanan Ante Natal Care Terhadap Risiko Kehamilan. Universitas Diponegoro. Semarang.
Manuaba. 2001. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC, Jakarta.
Manuaba et al. IlmuKandungan dan PenyakitKandungan. EGC, Jakarta.
Mochtar, R. 1998. SinopsisObstetri. EGC, Jakarta.
Muharram. 2008. Perbedaan Kondisi Kehamilan di Usia 20,30,40. Available online: www. Google.com. 13 Januari 2019. Muraya, dkk. 2009. Panduan
AsuhanKebidanan Ibu Hamil. NuhaMedika, Yogyakarta.
Nasir. 2005. MetodePenelitian. Ghalia Indonesia, Bogor.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2002. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta. Prawirohardjo, 2009. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Cet 8. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. Saifuddin, Abdul Bari. 1992. Buku
Panduan PraktisPelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Yayasan Bina Pustaka SarwonoPrawirohardjo.Jakarta. Sarwono S. W. 31 Januari 2007. Abortus
Kehamilan Pertama Suatu Malapetaka?. POGI Jaya. Available online:
www.google.com. 13 Januari
2019.
Sastrawinata el al. 2005. Ilmu Kesehatan Reproduksi. EGC, Obstetri Patologi. Ed – 2. Jakarta.
Scoot, 2008. Abortion in Young Women and Subsequent Mental Health. Journal of Child Psychology & Psychiatry.47(1): 16-24.
Sudiyanto. 2012. MetodologiPenelitin Kesehatan. RinekaCipta, Jakarta. Wasnidar. 2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil. Trans Info Media, Jakarta.
WHO, (2008). Wordwide Prevalance Of Anemia 1993-2005.
Http://whqlibdoc.who.int/public ations/2008/9789241596657
diakses pada tanggal 14 Januari 2019.
WiknjosastroH .2005.Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
Ziaei S, Norrozi M. 2007. A
Rendomized Placebo
Controlled Trial To Determine
The Effect Of Iron
Supplementation On
Pregnency Outcome In
Pregnant Women With
Haemoglobin> 13.2 G/Dl. Obstetri Gynaecology.