• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIAYA PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI DI PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER Sektor : BASERAH MARGARETH ERNANDA SARAGIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BIAYA PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI DI PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER Sektor : BASERAH MARGARETH ERNANDA SARAGIH"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

BIAYA PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

DI PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER

Sektor : BASERAH

MARGARETH ERNANDA SARAGIH

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

MARGARETH E S : Biaya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri di PT Riau andalan Pulp and Paper sektor Baserah, Propinsi Riau. Dosen pembimbing Dr.Ir. E. G. Togu Manurung, MS, Phd.

Produksi kayu dari hutan alam semakin menurun, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sementara itu, kebutuhan akan kayu terus meningkat. Ketidakseimbangan ini terjadi karena penurunan potensi produksi hutan alam. Salah satu upaya yang dapat mengatasi permasalahan ini adalah pembangunan HTI. HTI diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bahan baku kayu bagi industri perkayuan sehingga dapat mengurangi tekanan pada hutan alam. Penelitian ini mempelajari aspek pembiayaan HTI melalui pengukuran dan wawancara secara langsung setiap kegiatan pengusahaan HTI.

Penelitian dilakukan di HTI PT Riau andalan Pulp and Paper sektor Baserah, Propinsi Riau dari bulan April sampai bulam Mei Tahun 2009. Jenis tanaman utama yang dikembangkan adalah jenis Acacia mangium. Data primer seperti prestasi kerja, material, serta jenis, jumlah, dan harga peralatan yang diperlukan dalam kegiatan HTI diperoleh dengan melakukan pengukuran dan wawancara secara langsung di lapangan. Sementara data sekunder seperti biaya – biaya kegiatan penunjang HTI, realisasi tebang, kondisi umum, dan indikator ekonomi diperoleh dengan cara mengutip arsip perusahaan atau literatur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya penelitian HTI untuk kelima kegiatan teknis (pengadaan bibit, penanaman, pemeliharaan tanaman, perlindungan hutan, dan pemanenan) adalah Rp 9.036.340 per hektar atau sebesar

Rp 60.250/m3 atau setara dengan USD 7.15/m3 (Kurs 1 USD Tahun 2000 = Rp

8421,78). Sementara biaya kegiatan penunjang (perencanaan, pengadaan sarana dan pra sarana, administrasi dan umum, diklat dan litbang, kewajiban kepada negara, kewajiban lingkungan sosial serta penilaian HTI) adalah Rp 3.201.554 per ha atau Rp 25.012,68 per m3 atau setara dengan USD 2.97 per m3(Kurs 1 USD Tahun 2000 = Rp 8421,78). Sehingga biaya total pengusahaan HTI dengan harga konstan tahun 2000 adalah Rp 12.235.000 per ha atau Rp 85.210 per m3 (USD 10.12) per m3. Dengan harga jual akasia sebesar Rp 204.000 per m3 atau USD

24,22 per m3, maka keuntungan kotor HTI PT RAPP adalah Rp 118.790 per m3

atau setara dengan USD 14.12 (Kurs 1 USD tahun 2000 = Rp 8.421,78).

(3)

BIAYA PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI DI PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER

Sektor : BASERAH

OLEH

MARGARETH ERNANDA SARAGIH

E24053912

Skripsi sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan

Pada

Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(4)

Judul Skripsi : Biaya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri PT.Riau Andalan Pulp and Paper Sektor Baserah

Nama : Margareth Ernanda Saragih NRP : E24053912

Departemen : Hasil Hutan

Menyetujui : Dosen Pembimbing

Ir.E,G.Togu Manurung, MS., Ph.D. NIP : 19621107 1987031 001

Me ng et ahu i :

Deka n Fak u lt a s Ke hut a na n Inst it ut Pert ania n Bo go r

Dr.Ir. Hendra ya nt o , M.Agr NIP : 19611126 19860 1 1001

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Biaya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri PT.Riau Andalan Pulp and Paper Sektor Baserah” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan komisi pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2009

Margareth Ernanda Saragih NRP E24053912

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan, Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 18 Maret 1987 dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayah bernama Erwan Saragih dan ibu bernama Rosnaria Sinaga.

Pendidikan formal penulis dimulai di Sekolah Dasar Negeri 2 Kecamatan Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara pada tahun 1992 dan lulus pada tahun 1998, pada tahun itu juga dilanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Katolik Bintang Timur, Pematang Siantar Sumatera Utara dan lulus pada tahun 2001, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Umum Katolik Budi Mulia, Pematang Siantar Sumatera Utara dan lulus tahun 2004.

Pada tahun 2005, penulis melanjutkan pendidikan di Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Jawa Barat, melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Pada tahun 2007, penulis melakukan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Linggar Jati dan Indramayu keduanya terletak di Propinsi Jawa Barat. Kemudian pada tahun 2008 melakukan Praktek Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan penelitian Gunung Walat, Jawa Barat. Pada tahun 2008 pernah aktif mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM) dan pada tahun 2009 melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT Riau Andalan Pulp and Paper Propinsi Riau.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan, Penulis menyusun skripsi yang berjudul : Biaya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri di PT Riau Andalan Pulp and Paper sektor Baserah, Propinsi Riau, dibawah bimbingan Ir.E G. Togu Manurung, MS, Ph.D

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan KaruniaNya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Biaya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri di PT Riau Andalan Pulp and Paper sektor Baserah, Propinsi Riau”.

Penelitian tentang Biaya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang mengambil tempat di PT Riau Andalan Pulp and Paper bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya aktual pembangunan Hutan Tanaman Industri yang didasarkan pada prestasi kerja aktual di lapangan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir.E G. Togu Manurung, MS, Ph.D atas materi dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis dalam penyusunan skripsi. Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan skripsi ini dikarenakan adanya keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun ke arah penyempurnaan skripsi ini sehingga bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, September 2009 Margareth Ernanda Saragih

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, ucapan terima kasih dan penghargaaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada:

1. Tuhan Yesus yang selalu memberikan kekuatan baru setiap harinya sehingga saya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis yakin bahwa segala yang Tuhan beri adalah yang terbaik bagi penulis serta indah pada waktuNya. Engkaulah sumber penghiburan sejati bagi penulis.

2. Ayahanda Erwan Saragih, bapak adalah ayah terbaik bagi penulis. Penulis bangga punya Ayah seperti engkau. Sekalipun, Bapak telah pergi namun penulis tetap berjuang untuk tetap mewujudkan segala impian Bapak. Walau dengan kesedihan yang masih tersisa di hati, penulis menyelesaikan skripsi ini buat impian Bapak. I’m proud of

you, Dad.

3. Ibunda tercinta Rosnaria Sinaga yang dengan setia memberikan dukungan, doa, dan semangat baru bagi penulis. Engkau adalah ibu yang luar biasa sekaligus sumber inspirasi bagi penulis serta Adik terkasih Isa Rizky Novita Saragih atas segenap kasih sayang dan perhatiannya.

4. Ir.E G. Togu Manurung, MS, Ph.D selaku dosen pembimbing atas bimbingan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Marzum (Manager HTI PT RAPP Sektor Baserah) atas kesempatan, nasihat, dan informasinya yang diberikan kepada Penulis selama melakukan penelitian di HTI PT RAPP Sektor Baserah.

6. Dr.Ir, Didik Suharjito, MS selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan saran dan kritik kepada penulis dalam rangka penyempurnaan tugas akhir penulis.

7. Dr.Ir. Omo Rusdiana, M.Sc selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan saran dan kritik kepada penulis dalam rangka penyempurnaan tugas akhir penulis.

8. Dr.Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan saran dan kritik kepada penulis dalam rangka penyempurnaan tugas akhir penulis.

(9)

9. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kehutanan yang telah memberikan ilmu, pengetahuan, dan bantuan kepada penulis selama menempuh pendidikan di IPB.

10. Kak Cosa, Kak Kristine, Kak Jack, Kak Ali, Kak Didit, Pak Teguh, Pak Rihat, Pak Surya, Pak Tri, Pak Rudy, Pak Luluk, Pak Poltak serta pihak lain yang tidak dapat disebut satu per satu atas kesempatan, nasihat, dan informasi yang diberikan kepada penulis selama melakukan penelitian di HTI sektor Baserah. Semoga segala sesuatu yang Bapak dan Kakak lakukan akan berhasil.

11. Keluarga besar penulis (Ompung, Bapa Tua, Mak Tua, Bou, Panggi, Tulang, Tante) yang memberikan dukungan dan penghiburan bagi penulis.

12. Kakak-kakak penulis (kak Yongki, Kak Rudy, Kak Darius, Kak Yuli, Kak Shinta, Kak Ida, Kak Lani, Kak Gloria dan Kak Ita) buat segala bentuk dukungan, doa serta penghiburannya.

13. Para Anak panah yang siap dilesatkan (Vera, Dita, Febri, Buyung, Niken, Leni, Data, serta adik – adik angkatan 43,44, dan 45 yang tidak dapat disebutkan satu per satu) atas dukungan dan persaudaraan yang indah.

14. Teman - teman seperjuangan penulis, Desli, Nila, Ani, Iie, Eveline, Rohani, Amel, Ratu, Ame, dan THH 42 lainnya atas segala bantuannya.

15. Sahabat penulis, Malibu mania (Grace, Cece sumince, Ati sumiati, Magda, Irani, Cindy, Angie, dan para alumni Malibu) atas semangat membangunnya. Kita pasti bisa! Sukses selalu buat kita.

16. Kedua saudari PA penulis, Noviyanti dan Ida Maria atas persaudaraan dan kenangan yang indah.

17. Adik PA penulis, Hana dan Desra. Tetap semangat ya. Tuhan memberkati setiap langkah mu, adik – adik ku.

18. Tim Nusantara, Sandro, Ira, Imanuel, dan Dedy jangan pernah menyerah dan putus asa sebelum kesuksesan itu datang, semangat..!!

Bogor, September 2009 Margareth Ernanda Saragih

(10)

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v I. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan Penelitian ... 3 1.3 Manfaat Penelitian ... ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... … 4

2.1 Hutan Tanaman Industri ... 4

2.2 Kegiatan Pengusahaan HTI ... 4

2.2.1 Penyusunan Rencana ... 5

2.2.2 Tata Batas ... 5

2.2.3 Penataan Hutan ... 6

2.2.3.1 Kegiatan Penataan Batas ……….. 6

2.2.3.2 Kegiatan Pembagian Hutan ……….. 6

2.2.4 Pembukaan Wilayah Hutan ... 6

2.2.5 Penanaman ... 6

2.2.6 Pemeliharaan ... 7

2.2.6.1 Pemeliharaan Tanaman Muda ... 7

2.2.6.2 Pemeliharaan Tegakan ... 8

2.2.7 Perlindungan Hutan... 8

2.2.8 Pemanenan Hutan ... 8

2.2.8.1 Pengadaan sarana dan prasarana ... 8

2.2.8.2 Timber Cruising ... 9

2.2.8.3 Penebangan pohon ... 9

2.2.8.4 Pembagian batang ... 9

2.2.8.5 Penyaradan... 9

2.2.8.6 Pengangkutan kayu ... 9

2.2.9 Tinjauan Pembiayaan Pengusahaan HTI... 10

III. METODOLOGI PENELITIAN... 13

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian... 13

3.2 Jenis Data... 13

3.3 Cara Pengumpulan ... 13

3.4 Metode Pengamatan Waktu Kerja ... 13

3.4.1 Waktu Kerja ... 13

3.4.1.1 Waktu Produktif ... 13

3.4.1.2 Waktu Non Produktif ... 14

3.4.2 Pengukuran Waktu Kerja ... 14

3.4.2.1 Metode null stop... 14

3.4.2.2 Metode berturut ... 14

3.4.2.3 Metode kombinasi null stop dan berturut ... 15

3.5 Cara Perhitungan Biaya... 15

3.5.1 Biaya Tetap... 15

3.5.2 Biaya tidak Tetap (Biaya Variabel) ... 16

(11)

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 17 4.1 Sejarah Perusahaan ... 17 4.2 Keadaan Lapangan ... 19 4.2.1 Vegetasi ... 19 4.2.2 Topografi ... 19 4.2.3 Tanah ... 19 4.2.4 Iklim ... 19 4.2.5 Hidrologi ... 20

4.2.6 Keadaan sosial dan ekonomi masyarakat ... 21

V. HASIL DAN PEMBAHASAN... … 21

5.1 Kegiatan Pengusahaan ... 21 5.1.1 Pengadaan bibit ... 21 5.1.2 Penanaman ... 24 5.1.3 Pemeliharaan ... 26 5.1.4 Perlindungan Hutan ... 27 5.1.5 Pemanenan Kayu ... 27

5.1.5.1 Pre Harvesting Process ... 28

5.1.5.2 Harvesting Process ... 28

5.1.5.3 Post Harvesting Process... 29

5.2 Biaya Pengusahaan ... …. 30

5.2.1 Biaya Kegiatan Teknis ... 32

5.2.2 Biaya Total ... 33

5.2.3 Perbandingan Biaya ……… 35

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 37

6.1 Kesimpulan ... 37

6.2 Saran ... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 39

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Rekapitulasi Produksi Kayu Bulat Tahun 1997/1998 – 2006 ...1

2. Realisasi Penanaman IUPHHK-HTI Periode 1989 - 2008 ...2

3. Tata Waktu Kegiatan Pengusahaan HTI ...10

4. Perhitungan Biaya Kegiatan Pengusahaan HTI ...16

5. Jumlah penduduk, agama, Mata pencaharian, dan Fasilitas Umum di Sekitar Areal Sektor Baserah ...20

6. Prestasi kerja kegiatan pengadaan bibit secara cutting ...23

7. Prestasi kerja kegiatan penanaman ...25

8. Tabel prestasi kerja kegiatan pemeliharaan tanaman ...27

9. Prestasi Kerja Kegiatan Pemanenan Kayu ...30

10. Prestasi Kerja Kegiatan Pengusahaan HTI di PT RAPP ...30

11. Biaya pengusahaan HTI PT RAPP Sektor Baserah berdasarkan jenis biaya (harga tahun 2009) ...31

12. Biaya pengusahaan HTI PT RAPP Sektor Baserah berdasarkan jenis kegiatan ( Harga 2009) ...32

13. Biaya Total Kegiatan Pengusahaan HTI (Harga Konstan Tahun 2000) ...34

14. Perbandingan Biaya Pengusahaan HTI PT RAPP dan HTI-HTI lain serta Dephut (Harga Konstan Tahun 2000) ...35

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Peralatan Lapangan Kegiatan Pengadaan Bibit, Penanaman,

Perlindungan, dan Pemanenan ... 42 2. Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Kegiatan Pengadaan Bibit,

Penanaman, Perlindungan, dan Pemanenan... 47 3. Perhitungan Biaya Material Lapangan Kegiatan Pengadaan Bibit,

Penanaman, Perlindungan, dan Pemanenan ... 55 4. Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap Pengadaan Bibit, Penanaman,

Pemeliharaan, Perlindungan Hutan

(14)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Produksi kayu dari hutan alam semakin menurun, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sebagai gambaran, produksi kayu bulat dari hutan alam pada tahun 1997/1998 adalah sebesar 15.286.134 m3 dan terus mengalami penurunan hingga pada tahun 2005 hanya mampu memproduksi 9.004.105 m3. Pada tahun

2005, produksi kayu bulat mengalami peningkatan hingga mencapai 5.720.515 m3

(Departemen Kehutanan, 2006). Besarnya produksi kayu bulat dari tahun 1997/1998 hingga 2005 dari sumber produksinya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Produksi Kayu Bulat Berdasarkan Sumber Produksi Tahun

Sumber Produksi (m3) Jumlah Hutan alam Areal Konversi Kayu Rakyat Hutan Tanaman Hutan Tanaman Industri 1996/1997 15.286.134 8.021.328 682.006 1.632.545 474.268 1997/1998 15.784.161 10.038.228 1.266.455 1.821.297 610.180 29.520.322 1998/1999 10.179.406 6.056.174 628.818 1.682.336 480.210 19.026.944 1999/2000 10.373.932 7.271.907 187.831 1.890.901 895.371 20.619.942 2000 3.450.133 4.564.592 488.911 1.511.001 3.783.604 13.798.240 2001 1.809.100 2.323.614 --- 1.455.403 5.567.282 11.155.400 2002 3.019.839 182.708 --- 1.559.026 4.242.532 9.004.105 2003 4.104.914 956.472 59.538 976.806 5.325.772 11.423.501 2004 3.510.752 1.631.885 153.640 923.632 7.329.028 13.548.938 2005 5.720.515 3.614.347 1.311.584 757.993 12.818.199 24.222.638 Sumber : Departemen Kehutanan (2006)

Kebutuhan akan kayu terus meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk serta bertambahnya kebutuhan bahan baku kayu pada industri perkayuan dan industri pulp dan kertas. Industri pulp berkembang pesat seiring dengan pertambahan kebutuhan akan kertas. Teknologi pulp dan kertas juga berkembang dengan pesat, hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya kapasitas terpasang dari industri pulp dan kertas. Ketidakseimbangan yang terus menerus terjadi antara pasokan kayu bulat dengan kebutuhan industri perkayuan akan menimbulkan permasalahan yang semakin kompleks, seperti terhentinya kegiatan produksi.

Ketidakseimbangan ini terjadi karena penurunan potensi produksi hutan alam. Salah satu upaya yang dapat mengatasi permasalahan ini adalah pembangunan Hutan Tanaman Industri. HTI diharapkan dapat memenuhi

(15)

kebutuhan bahan baku kayu bagi industri perkayuan sehingga dapat mengurangi tekanan pada hutan alam. HTI diharapkan mampu menggantikan peran utama hutan alam dalam menyediakan kebutuhan bahan baku bagi industri perkayuan di Indonesia karena potensi kayu alam yang berasal dari hutan alam semakin menurun dari tahun ke tahun. Realisasi penanaman IUPHHK-HTI periode 1989 – 2008 dapat dilihat di Tabel 2.

Tabel 2 Realisasi Penanaman IUPHHK-HTI Periode 1989 - 2008

No Tahun Realisasi Penanaman (Ha)

1 1989/1990 131.655 2 1990/1991 169.874 3 1991/1992 213.991 4 1992/1993 234.853 5 1993/1994 373.607 6 1994/1995 296.786 7 1995/1996 326.448 8 1996/1997 390.542 9 1997/1998 269.109 10 1998/1999 182.578 11 1999/2000 138.662 12 2000 82.317 13 2001 67.472 14 2002 118.508 15 2003 124.691 16 2004 131.914 17 2005 163.125 18 2006 231.954 19 2007 357.200 20 2008 286.937 Total 4.292.222

Sumber: Departemen Kehutanan (2009)

Pembangunan HTI memerlukan biaya yang cukup besar dan berjangka waktu lama. Perencanaan dan perhitungan biaya yang tepat diperlukan mengingat pembiayaan ini dilaksanakan terhadap seluruh komponen kegiatan pembangunan dan pengelolaannya. Penelitian ini mempelajari aspek pembiayaan HTI melalui pengukuran dan wawancara secara langsung setiap kegiatan pengusahaan HTI.

(16)

1.1Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya biaya aktual pembangunan Hutan Tanaman Industri yang didasarkan pada prestasi kerja aktual di lapangan.

1.2 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran informasi bagi perusahaan mengenai biaya-biaya aktual yang dikeluarkannya pada setiap tahap kegiatan untuk perencanaan dan pengendalian biaya masa mendatang. Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah untuk menambah pemahaman mengenai pembiayaan dan pembangunan hutan tanaman industri.

(17)

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Tanaman Industri

Hutan Tanaman Industri adalah hutan yang dibangun dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 3 Tahun 2008 jo Peraturan Pemerintah nomor 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan.

Peraturan Pemerintah nomor 6 Tahun 2007 menjelaskan hutan tanaman industri yang selanjutnya disingkat HTI adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok industri kehutanan untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan.

Pengembangan HTI dilatarbelakangi oleh kondisi kesenjangan antara kapasitas industri perkayuan dengan pasokan bahan baku kayu yang pada waktu itu hanya mengandalkan dari kayu hutan alam. Jenis tanaman HTI yang dibudidayakan pada umumnya jenis kayu cepat tumbuh (akasia, sengon, eucaliptus, gmelina dsb).

Tujuan utama pembangunan HTI adalah untuk menjamin ketersediaan bahan baku kayu yang dibutuhkan oleh industri pengolahan kayu di Indonesia, peningkatan devisa negara, pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi negara/pedesaan, penyediaan kesempatan kerja, dan kesempatan berusaha serta pelestarian manfaat sumberdaya hutan.

Lahirnya pengusahaan hutan di Indonesia diawali dengan terbitnya Undang -Undang No 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan yang diatur dalam Pasal 13 yang ditindak lanjuti dengan keluarnya Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1967 tanggal 30 Desember 1967 tentang Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH) dan Iuran Hasil Hutan (IHH).

2.2 Kegiatan Pengusahaan HTI

Dalam pengusahaan HTI, terdapat dua tahapan kegiatan utama yang terdiri dari kegiatan pembangunan dan kegiatan pengelolaan (Fahutan IPB 1988, dalam Octofivtin 2004). Kegiatan pembangunan dimulai dari tahap perencanaan sampai dengan terbentuknya hutan tanaman industri dalam satu atau dua unit kegiatan

(18)

kelestarian produksi. Sasaran dari kegiatan pembangunan adalah terciptanya tegakan hutan tanaman industri dengan kondisi mendekati tegakan normal. Kondisi ini perlu dicapai karena disamping untuk mewujudkan kelestarian hasil, juga memungkinkan untuk pemanfaatan semua faktor penentu pertumbuhan yang tersedia sehingga dicapai tingkat produktivitas dan profitabilitas yang tinggi. Sedangkan kegiatan pengelolaan terdiri atas kegiatan penebangan, kegiatan permudaan, pemeliharaan hutan, pengelolaan, dan pemasaran hasil hutan. Kegiatan ini dilakukan secara berulang. Sasaran dari kegiatan pengelolaan adalah diperolehnya hasil lestari yang berkualitas tinggi. Untuk mencapai sasaran dari kegiatan pembangunan dan pengelolaan tersebut, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan dengan tahapan sebagai berikut:

2.2.1 Penyusunan Rencana

Dalam penyusunan rencana, ada 2 rencana yang akan disusun, yaitu Rencana Karya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (RKPHTI) dan Rencana Karya Tahunan (RKT). RKPHTI merupakan rencana yang memuat seluruh kegiatan yang menunjang pembangunan dan pengelolaan HTI. Rencana ini merupakan penjabaran dari kegiatan pembangunan HTI yang mempunyai kejelasan : lokasi, jumlah tenaga kerja dan kualitasnya, jumlah sarana dan prasarana yang dibutuhkan, jumlah biaya yang dibutuhkan, dan sistem pelaksanaan (tata waktu). RKPHTI disusun paling lambat sebelum kegiatan pembangunan dilaksanakan.

RKT memuat seluruh kegiatan-kegiatan secara terperinci (termasuk pembiayaannya) yang hendak dilaksanakan dalam jangka waktu satu tahun. RKT disusun paling lambat satu tahun sebelum kegiatan tahunan yang bersangkutan dilaksanakan.

2.2.2 Tata Batas

Pelaksanaan kegiatan tata batas bertujuan untuk memperoleh kepastian administratif, kewenangan maupun hukum. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya konflik dengan pihak–pihak lain. Kegiatan tata batas meliputi tata batas areal HTI dengan areal di luar batas HTI tersebut (tata batas luar) dan tata batas peruntukan areal di dalam areal HTI (tata batas dalam areal).

(19)

Pelaksanaan tata batas ini meliputi pekerjaan pembuatan trace (rintis batas), pemancangan pal batas, pengukuran dan pemetaan batas serta pengukuhan administrasi/hukum dari batas tersebut. Biaya pembuatan tata batas adalah semua biaya operasional pembuatan tata batas, yang meliputi biaya pengukuran, pengukuhan batas luar, dan penyusunan rencana calon lokasi tanaman (UGM, 1996).

2.2.3 Penataan Hutan

Kegiatan penataan hutan bertujuan untuk menata areal ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara efisien (Fahutan IPB 1988, dalam Octofivtin 2004). Kegiatan penataan hutan terdiri atas 2 kegiatan utama, yaitu:

2.2.3.1 Kegiatan Penataan Batas

Kegiatan penataan batas merupakan kegiatan yang menyangkut penentuan garis batas dan pemancangan pal batas terhadap areal hutan yang hendak ditata.

2.2.3.2 Kegiatan Pembagian Hutan

Kegiatan pembagian hutan merupakan kegiatan yang menyangkut pemisahan areal ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil yaitu bagian hutan, petak, dan anak petak. Hasil dari kegiatan penataan batas dan pembagian hutan perlu diproyeksikan di atas peta. Pelaksanaan dari kegiatan penataan hutan akan diselesaikan dalam lima tahun pertama sesudah kegiatan pembangunan dijalankan.

2.2.4 Pembukaan Wilayah Hutan

Kegiatan yang termasuk kedalam kegiatan pembukaan wilayah hutan adalah kegiatan pembuatan prasarana lalu lintas. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar areal HTI dapat dijangkau secara mudah. Pembuatan prasarana lalu lintas dapat dilakukan membuat jalan-jalan yang baru atau dengan melakukan perbaikan dan peningkatan mutu terhadap jalan yang sudah ada. Pada akhir daur pertama semua jalan, baik jalan utama maupun penunjang harus sudah selesai dibangun.

2.2.5 Penanaman

Kegiatan penanaman merupakan suatu rangkaian kegiatan yang diawali dari pengadaan bibit, penyiapan lahan, dan penanaman bibit di lapangan. Pengadaan benih dilaksanakan paling lambat satu tahun sebelum kegiatan

(20)

penanaman dilaksanakan. Selain dengan pembangunan tegakan benih, pemenuhan kebutuhan benih dapat dilaksanakan melalui pembelian dari tempat lain. Kegiatan penanaman dilakukan pada setiap petak atau anak petak berdasarkan rencana penanaman yang telah ditetapkan.

Kegiatan penyiapan lahan bertujuan untuk mewujudkan prakondisi lahan yang optimal untuk keperluan penanaman yang berwawasan lingkungan dan memelihara kesuburan tanah, terutama agar kondisi fisik tanah mendukung perkembangan akar, mengurangi persaingan dengan gulma dan mempermudah dalam penanaman. Sejak tahun 1995, pemerintah melarang kegiatan penyiapan lahan dengan pembakaran. Kegiatan penyiapan lahan tanpa bakar meliputi beberapa kegiatan pokok, yaitu pembersihan lahan, pemanfaatan limbah, pengolahan lahan, dan konservasi tanah (Hendromono dkk, 2006).

Penanaman bibit dilaksanakan pada awal sampai pertengahan musim penghujan. Karena terbatasnya waktu penanaman dalam setiap tahunnya maka kegiatan-kegiatan yang mendukungnya perlu diarahkan agar penanaman dapat dilaksanakan tepat pada waktunya.

2.2.6 Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan dilakukan pada tiap petak tebang. Pemeliharaan ini mencakup 2 kegiatan pemeliharaan yang utama yaitu:

2.2.6.1 Pemeliharaan Tanaman Muda

Pemeliharaan tanaman muda dilakukan mulai bibit selesai ditanam di lapangan sampai tanaman mencapai kondisi tegakan yaitu keadaan dimana pohon-pohonnya telah saling mempengaruhi satu sama lain, baik tajuk maupun perakarannya (umur 3 – 5 tahun). Pemeliharaan tegakan dilakukan setelah tegakan terbentuk sampai tegakan siap ditebang.

Pekerjaan pemeliharaan tanaman muda dapat berupa penyulaman, penyiangan, pendangiran dan pembebasan gulma serta tanaman pengganggu lainnya. Kegiatan pemeliharaan tanaman muda juga dapat berupa pemupukan tanaman.

Penyulaman adalah kegiatan penanaman kembali bagian yang kosong bekas tanaman yang mati, rusak, tumbuh merana, dan jelek (patah dan bengkok)

(21)

sehingga terpenuhi jumlah tanaman dalam satu luasan tertentu sesuai jarak tanam (Hendromono dkk, 2006).

2.2.6.2 Pemeliharaan Tegakan

Pekerjaan pemeliharaan tegakan dapat berupa pembebasan tanaman pengganggu, pemangkasan cabang dan pemeliharaan. Pembebasan tanaman pengganggu dilakukan pada jalur tanaman pokok sehingga tanaman pokok mendapat kesempatan tumbuh secara baik. Pemangkasan cabang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas batang melalui peningkatan ukuran panjang batang bebas cabang. Sedangkan kegiatan penjarangan dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan ruang tumbuh yang optimal sehingga pertumbuhan pohon-pohon tertinggal dapat berlangsung secara maksimal.

2.2.7 Perlindungan Hutan

Kegiatan perlindungan hutan mempunyai tujuan untuk melindungi hutan dari gangguan hama dan penyakit serta gangguan lain, baik hewan maupun manusia. Pencegahan kebakaran yang sesuai dengan peraturan yang berlaku tentang pencegahan kebakaran yang menyertai kegiatan pembalakan perlu diadakan. Pencegahan kebakaran yang dimaksudkan untuk mengurangi kecelakaan kebakaran hutan dan kerusakan hutan serta kawasan lainnya melalui penghindaran kebakaran (Departemen Kehutanan, 2000).

2.2.8 Pemanenan Hutan

Pemanenan dilakukan pada tegakan yang telah mencapai umur yang sama dengan daur. Kegiatan pemanenan hutan secara tebang habis baru dapat dilaksanakan pada akhir daur pertama. Komponen dari kegiatan pemanenan hutan adalah (Fahutan IPB 1988, dalam Octofivtin 2004) adalah sebagai berikut:

2.2.8.1 Pengadaan sarana dan prasarana

Pengadaan sarana dan prasarana dilaksanakan pada saat eksploitasi dimulai. Pengadaan sarana yang dimaksudkan adalah pembuatan jalan angkutan, jalan sarad, base camp, tempat pengumpulan kayu (TPn), tempat penimbunan kayu (TPK) dan peralatan eksploitasi seperti chain saw, traktor sarad, dan truk angkutan kayu.

(22)

2.2.8.2 Timber Cruising

Timber cruising adalah pekerjaan untuk mengetahui potensi (volume)

tegakan yang akan dipanen dengan dilakukan sensus potensi dari areal yang akan ditebang. Hasil dari kegiatan timber cruising ini dipergunakan untuk mengatur pelaksanaan penebangan secara berdaya guna dan berhasil guna, serta untuk mengetahui tingkat efisiensi pemanenan hasil hutan (besarnya realisasi hasil yang dipungut dibandingkan dengan volume tegakan).

2.2.8.3 Penebangan pohon

Penebangan pohon adalah pekerjaan mulai dari penetapan arah rebah sampai pohon selesai dirobohkan. Dalam menentukan arah rebah perlu diperhatikan keadaan lapangan dan posisi pohon. Penebangan harus dilakukan secara hati-hati untuk mendapatkan kualitas kayu yang diinginkan.

2.2.8.4 Pembagian batang

Pembagian batang adalah pekerjaan memotong pohon yang telah

direbahkan menjadi bagian-bagian batang yang lebih kecil, dengan

memperhatikan syarat seperti ukuran yang diminta pasar, kebijakan penjualan kayu, kemudahan penyaradan dan pengangkutan, adanya industri yang mengerjakan kayu serta pesanan-pesanan.

2.2.8.5 Penyaradan

Penyaradan adalah pekerjaan membawa kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan (TPn). Penyaradan dapat dilakukan dengan tenaga hewan/manusia atau secara mekanis, yaitu dengan menggunakan sistem kabel dan dengan traktor/skidder.

2.2.8.6 Pengangkutan kayu

Pengangkutan kayu dilakukan setelah penyaradan atau angkutan antara. Angkutan antara adalah pemindahan kayu dari TPn ke TPK dan dimulai saat kayu dimuat ditempat pengumpulan, atau dikumpulkan di sungai untuk dibawa ke lokasi penimbunan atau pabrik pengolahan. Pengangkutan dapat dilakukan dengan menggunakan truk atau dengan mempergunakan alat angkut di air seperti tongkang/kapal atau perahu motor.

(23)

Tabel 3 Tata Waktu Kegiatan Pengusahaan HTI

Kegiatan HTI Tahun ke-

-2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Dst Perencanaan RKPH RKT Tata Batas Penataan Hutan PWH Penanaman Pemeliharaan Tanaman Muda Tegakan Perlindungan Pemanenan

Sumber: Timor (2003), dan Octofivtin (2004)

2.2.9 Tinjauan Pembiayaan Pengusahaan HTI

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 3 tahun 2008 tentang Hak Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hutan pada Hutan Produksi, Pedoman Pelaporan Keuangan Pengusahaan Hutan tahun 1995, dan hasil-hasil penelitian di lapangan (Setiawan, 1994; Hakim, 1995; Utami, 1995 dan Musyaffa, 2000).

Biaya pengusahaan HTI merupakan seluruh beban pengeluaran dalam bentuk uang. Proyek pengusahaan HTI memerlukan biaya yang besar dan berjangka waktu yang panjang sehingga merupakan usaha yang memiliki resiko yang tinggi. Hal ini yang membuat pentingnya perencanaan dan perhitungan yang tepat dan cermat dalam pelaksanaannya.

Secara umum biaya pembangunan HTI terdiri dari: 1. Biaya perencanaan

2. Biaya penanaman

3. Biaya pemeliharaan dan pembinaan hutan

4. Biaya pengendalian kebakaran dan pengamanan hutan 5. Biaya pemungutan hasil hutan

6. Biaya pemenuhan kewajiban kepada negara

(24)

8. Biaya pembangunan sarana dan prasarana 9. Biaya administrasi dan umum

10. Biaya pendidikan dan latihan

11. Biaya penelitian dan pengembangan 12. Biaya penilaian HTI

Biaya pendidikan dan latihan bertujuan untuk peningkatan keterampilan tenaga kerja, baik melalui pendidikan formal maupun non formal yang terkait dengan pekerjaan di Sektor hutan atau kehutanan (UGM,1996). Menurut Nugroho (2002) biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam satuan unit waktu tertentu, tetapi akan berubah persatuan unitnya jika volume produksi per satuan waktu tersebut berubah. Biaya ini akan terus dikeluarkan, walaupun tidak berproduksi.

Komponen biaya tetap adalah depresiasi atau penyusutan dan bunga modal. Depresiasi merupakan metode untuk memperhitungkan besarnya penurunan nilai pasar barang modal tetap. Berkaitan dengan penilaian nilai aset untuk memperhitungkan pajak kekayaan perusahaan. Selain itu depresiasi merupakan metode untuk memperhitungkan alokasi biaya atas barang modal tetap yang digunakan selama waktu pakainya secara sistematis. Sedangkan bunga modal diperlukan sebagai kompensasi atas uang yang diinvestasikan. Pertimbangannya adalah apabila uang tersebut tidak diinvestasikan melainkan disimpan dalam bank, maka uang tersebut akan mendapat bunga bank.

Nugroho (2002) juga mendefenisikan biaya variabel sebagai biaya yang per satuan unit produksinya tetap, tetapi akan berubah jumlah totalnya jika volume produksinya berubah. Biaya ini tidak diperlukan apabila tidak berproduksi. Biaya ini disebut juga biaya pengoperasian.

Biaya penyusutan merupakan fungsi dari waktu, maka masa pemakaian alat harus diketahui. Umur suatu alat dapat dibedakan menjadi dua pengertian yaitu : umur ekonomis dan umur pelayanan.

Umur ekonomis (economic life) adalah umur dari suatu alat dari kondisi 100% baru sampai alat tersebut tidak ekonomis lagi bila terus digunakan dan lebih baik diganti. Pada akhirnya nilai ekonomis alat tersebut mungkin masih dapat

(25)

digunakan tetapi sudah tidak ekonomis lagi. Hal ini dapat disebabkan karena menurunnya efisiensi yakni semakin tinggi biaya pemeliharaan.

Umur pelayanan adalah umur suatu alat dari awal pembelian dalam kondisi 100 % baru sampai alat tersebut mati (tidak bisa dipakai lagi) dan menjadi barang yang harus dibuang. Pada akhir pelayanan alat tersebut sudah tidak mempunyai nilai lagi.

Penurunan nilai suatu alat dapat disebabkan karena kerusakan alat, adanya peningkatan biaya operasi dari sejumlah unit output yang sama bila dibandingkan pada mesin yang masih baru, adanya perkembangan teknologi selalu muncul alat yang lebih praktis dan lebih efisien sehingga alat yang lama nilainya akan merosot. Adanya pengembangan perusahaan, dengan adanya pengembangan perusahaan maka alat yang digunakan harus diganti dan disesuaikan dengan pengembangannya, sehingga alat-alat yang lama akan menurun nilainya. (Pramudya,1992).

(26)

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Riau Andalan Pulp And Paper Sektor Baserah. Waktu penelitian di lapangan dilaksanakan mulai dari April 2009 – Mei 2009.

3.2 Jenis Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer terdiri atas jenis, jumlah, harga alat, prestasi kerja, upah tenaga kerja, dan jumlah material yang digunakan dalam kegiatan pengusahaan HTI di lapangan. Data sekunder terdiri biaya-biaya kegiatan penunjang HTI, realisasi tebangan, kondisi umum dan indikator ekonomi.

3.3 Cara Pengumpulan

Data primer dikumpulkan melalui pengukuran dan wawancara secara langsung di lapangan. Data sekunder diperoleh dari arsip perusahaan atau literatur yang terkait dengan penelitian.

3.4 Metode Pengamatan Waktu Kerja 3.4.1 Waktu Kerja

Menurut Nugroho (2002) waktu kerja disebut juga jam kerja mesin yang dijadwalkan. Waktu kerja terdiri dari waktu produktif dan waktu non produktif.

3.4.1.1 Waktu Produktif

Waktu produktif termasuk bagian dari waktu untuk pelaksanaan pekerjaan utama maupun untuk yang bersifat pekerjaan pendukung. Waktu produktif dibagi lagi dalam tiga jenis pembagian waktu yaitu :

1. Waktu tetap

Waktu tetap tidak dipengaruhi volume pekerjaan utama dan merupakan bagian dari waktu produktif yang bersifat tetap. Perhitungan waktu tetap dapat dirumuskan sebagai berikut :

WF = Fi

Keterangan :

WF = waktu tetap ( menit )

(27)

2. Waktu variabel

Waktu variabel dipengaruhi oleh volume pekerjaan utama dan merupakan bagian dari waktu produktif.

WV = Vi

Keterangan :

WV = waktu variabel ( menit )

WVi = Elemen waktu variabel ke-I ( menit ) 3. Waktu total

Waktu total merupakan penjumlahan dari waktu tetap dengan waktu variabel atau waktu yang diperlukan untuk melaksanakan seluruh pekerjaan.

3.4.1.2 Waktu Non Produktif

Waktu non produktif adalah bagian dari waktu-waktu tidak berproduksi seperti perbaikan kerusakan, penghentian pekerjaan karena cuaca buruk (hujan, angin, kabut, dan lain sebagainya), dan pemogokan karyawan. Waktu non produktif ini mempengaruhi produktivitas perusahaan.

3.4.2 Pengukuran Waktu Kerja

Pengukuran waktu kerja seperti yang dijelaskan Winurdin (1997) dapat diukur dengan metode pengukuran sebagai berikut :

3.4.2.1 Metode null stop

Metode null stop merupakan metode yang memerlukan 2 buah stop watch yang di pasang pada papan pencatat waktu atau sampul buku pengukur waktu yang mempunyai lipatan kuat, sehingga dapat dihidupkan atau dimatikan dengan tangan kiri dan pekerja tidak mengetahui adanya alat tersebut. Waktu kerja sesungguhnya dari setiap elemen dibaca seketika pada stop watch yang setiap awal elemen kerja dikembalikan pada angka nol.

3.4.2.2 Metode berturut

Metode berturut merupakan metode yang menggunakan 1 buah stop

watch dari awal hingga akhir pekerjaan .Waktu Kerja sesungguhnya dihitung

dengan cara mengurangi dua waktu yang berturutan. Pengambilan contoh kontraktor yang diukur dengan penarikan secara acak sederhana. Sehingga, setiap kontraktor memiliki peluang yang sama untuk dipilih.

(28)

3.4.2.3 Metode kombinasi null stop dan berturut

Metode kombinasi null stop dan berturut metode yang menggunakan lebih dari 1 buah stop watch. Waktu kerja sesungguhnya dari setiap elemen dihitung dengan kedua metode diatas, dengan maksud untuk menghilangkan kesalahan yang mencolok.

3.5 Cara Perhitungan Biaya

Perhitungan biaya didasarkan terhadap prestasi kerja masing-masing

kegiatan. Biaya-biaya tersebut dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya tidak tetap (Nugroho 2002).

3.5.1 Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam satuan unit waktu tertentu, tetapi akan berubah per satuan unitnya jika volume produksi per satuan waktu tersebut berubah. Biaya ini akan terus dikeluarkan, walaupun tidak berproduksi. Komponen biaya tetap terdiri atas penyusutan, bunga modal, asuransi, gaji karyawan, dan pajak-pajak. Biaya ini disebut pula sebagai biaya pemilikan aset.

Penentuan Biaya Penyusutan per Tahun

P = N R M dimana : P = Penyusutan (Rp/tahun) M = Harga beli aset (Rp) N = Masa pakai (tahun) R = Nilai sisa (Rp)

Penentuan Biaya Bunga Modal dan Asuransi per Tahun

BM = [ (M R2N)(N 1)+ R] x 0,0i dimana :

BM = Bunga modal dan asuransi (Rp/tahun) M = Harga beli aset (Rp)

N = Masa pakai (tahun) R = Nilai sisa (Rp)

(29)

3.5.2 Biaya Tidak Tetap (Biaya Variabel)

Biaya tidak tetap (biaya variabel) adalah biaya yang per satuan unit produksinya tetap, tetapi akan berubah jumlah totalnya jika volume produksinya berubah. Biaya ini tidak diperlukan bila tidak berproduksi. Mengingat karakteristik yang demikian, maka biaya ini disebut pula sebagai biaya pengoperasian. Komponen biaya tidak tetap (biaya variabel) terdiri atas pemeliharaan, perbaikan, bahan baku, bahan bakar, dan upah.

3.5.3 Biaya Total Waktu Produktif

Perhitungan biaya total akan disajikan dalam bentuk Tabel pembiayaan kegiatan pengusahaan HTI berdasarkan prestasi kerja masing-masing kegiatan yang dibebankan pada setiap hektar luas areal kerja (Rp/ha).

Tabel 4 Perhitungan Biaya Kegiatan Pengusahaan HTI

Kegiatan HTI Unit Biaya

Tetap Biaya Variabel Biaya Total Perencanaan Pengadaan bibit Penanaman Pemeliharaan tanaman Perlindungan hutan Pemanenan kayu

Kewajiban kepada negara

Kewajiban kepada lingkungan sosial Pembangunan sarana dan prasarana Administrasi dan umum

Pendidikan dan latihan

Penelitian dan pengembangan Penilaian HTI Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha Rp/ha ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. Jumlah Rp/ha ….. ….. ….. Sumber: Octoviftin (2004)

(30)

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Perusahaan

PT Riau Andalan Pulp & Paper (PT RAPP) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pulp dan kertas. PT RAPP terletak di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan Pangkalan Kerinci yang berjarak ± 75 km sebelah Timur dari Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Sedangkan kantor pusat dan urusan administrasi serta kerjasama terletak di Jl. Teluk Betung No. 31 Jakarta Pusat 10230. Pada mulanya perusahaan ini berawal dari proyek yang dibangun adalah

plywood mill dalam skala kecil. Proyek ini diselesaikan dalam waktu 11 bulan 15

hari, kemudian diberi nama Raja Garuda Mas (RGM). Pada bulan Agustus 1975,

plywood mill ini diresmikan oleh Presiden Soeharto. Plywood mill ini merupakan

dasar dari RGM group.

Proyek berikutnya adalah PT Indorayon Utama yang mulai beroperasi pada tahun 1989 yang bergerak dalam industri tekstil. Setelah itu, didirikan kraft pulp

mill (Riau Pulp) pada tahun 1992 dan mulai beroperasi sejak tahun 1995. Pada

awal operasinya perusahaan ini mampu memproduksi sekitar 750.000 ton pulp/tahun dengan kualitas pulp yang diakui. Hingga tahun 2009 PT Riau Andalan Pulp & Paper (PT RAPP) memiliki kapasitas 2 juta ton pulp per tahun dengan luas areal kompleks pabrik adalah sebesar 1.750 Ha.

Perusahaan ini tergabung dalam APRIL Group (Asia Pasific Resources

International Limited) yang berpusat di Singapura. Saham terbesar PT RAPP

dimiliki oleh APRIL (Asia Pasific Resources International Holdings Limited) yaitu sebesar 50%, PT Tanoto Dana Perkasa sebesar 30% dan PT Raja Garuda Mas Pulp and Paper sebesar 20%. RGMI (Raja Garuda Mas Internasional) yang memiliki 82 buah perusahaan tersebar di Indonesia dan mancanegara. Bidang usaha yang digeluti RGM antara lain, bisnis kayu, perbankan properti, serta perkebunan kelapa sawit.

Visi APRIL adalah menjadi salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia dengan manajemen terbaik, paling menguntungkan, berkelanjutan serta merupakan perusahaan pilihan bagi para pelanggan dan para karyawan. Dalam operasionalnya PT RAPP memiliki 4 unit usaha atau Business Units yaitu

(31)

Riaufiber adalah merupakan unit usaha yang bergerak di bidang

pembangunan HTI sebagai penyedia bahan baku kayu dalam pembuatan pulp dan kertas. Riaufiber membagi areal kerja secara geografis yang tersebar dalam 4 Kabupaten di Propinsi Riau menjadi 8 Areal Kerja atau Unit Manjemen Hutan (UMH) atau disebut dengan istilah Sektor, yaitu Baserah, Cerenti, Langgam, Logas, Mandau, Pelalawan, Teso dan Ukui. Kabupaten tersebut adalah Kuantan Singingi (Kuansing), Pelalawan, Kampar dan Siak. Sektor Logas dibagi menjadi dua areal yaitu Utara dan Selatan, sedangkan Teso dipecah menjadi Teso Timur dan Teso Barat.

Dalam mengelola areal konsesinya Riaufiber mendapatkan ijin dari pemerintah berupa Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Indusri, yaitu:

1. Kepmenhut No. 661/Kpts-II/1992 tanggal 30 Juni 1992 tentang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (SEMENTARA) kepada PT Riau Andalan Pulp and Paper seluas 300.000 Ha

2. Kepmenhut No. 130/Kpts-II/1993 tanggal 27 Februari 1993 tentang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri kepada PT Riau Andalan Pulp and Paper seluas 300.000 Ha dengan jangka waktu 35 tahun ditambah satu daur tanaman pokok (8 tahun)

3. Kepmenhut No. 281/Kpts-II/1993 tanggal 27 Mei 1993 tentang Penangguhan Keputusan Menteri Kehutanan No. 130/Kpts-II/1993 tanggal 27 Februari 1993 tentang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri kepada PT Riau Andalan Pulp and Paper

4. Surat Menhut No. 1547/Menhut-IV/1996 tanggal 5 November 1996 perihal Kebutuhan Areal HTI PT Riau Andalan Pulp and Paper di Propinsi Riau. Izin prinsip penambahan areal seluas 121.000 Ha

5. Kepmenhut No. 137/Kpts-II/1997 tanggal 10 Maret 1997 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Kehutanan No. 281/Kpts-II/1993 tanggal 27 Mei 1993 tentang Penangguhan Keputusan Menteri Kehutanan No. 130/Kpts-II/1993 tanggal 27 Februari 1993 tentang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri kepada PT Riau Andalan Pulp and Paper dan Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. 130/Kpts-II/1993 tanggal 27 Februari 1993

(32)

tentang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri kepada PT Riau Andalan Pulp and Paper, sepanjang menyangkut Luas Areal 159.500 Ha. 6. Izin prinsip Menhut No.256/Menhut-VI/2001 tanggal 22 Februari 2001 seluas

49.500 Ha.

7. Kepmenhut No. 256/Kpts-II/2004 tanggal 22 Februari 2001 tentang Perubahan Kepmenhut No. 137/Kpts-II/1997 tanggal 10 Maret 1997 Jo. Kepmenhut No. 130/Kpts-II/1993 tanggal 27 Februari 1993. Luas areal menjadi 235.140 Ha.

8. Berdasarkan keputusan IUPHHK pada HTI, SK.356/Menhut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004, PT RAPP memiliki luas areal hutan tanaman sebesar 235.140 Ha. Luas areal ini terbagi menjadi dua yaitu untuk tanah mineral (mineral soil) seluas 151.500 Ha dan daerah rawa (peat land) seluas 83.640 Ha.

4.2 Keadaan Lapangan 4.2.1 Vegetasi

Luas areal Sektor Baserah berkisar 29.645 Ha. Vegetasi yang ditanam pada Sektor Baserah adalah Acacia mangium. Letak geografis Baserah 101°40’31,20” - 101°50’14,55” BT dan 00°17’07,80” - 00°20’11,35” LS. Letak wilayah administrasi pemerintahan dan pemangkuan hutan areal berada di lokasi/estate Baserah di bawah pemerintahan Provinsi Riau, Kabupaten Pelalawan, dan Kecamatan Ukui.

4.2.2. Topografi

Areal Sektor Baserah berada pada ketinggian 20-160 mdpl. Sektor Baserah berada pada satu kelas kelerengan, yaitu hanya pada kelerengan datar (0-8%).

4.2.3 Tanah

Jenis tanah di areal Sektor Baserah adalah jenis podsolik kromik, oksisol kromik, kambisol distrik/eutrik. Sedangkan jenis bebatuannya merupakan jenis batu lumpur, lanau, pasir, tufil, tefra, alluvium, sungai muda.

4.2.4 Iklim

Iklim di daerah Baserah merupakan tipe iklim A (Schmit & Ferguson) atau AF/CF (Koppen). Dengan curah hujan tertinggi pada bulan Desember dan curah hujan terendah pada bulan Februari.

(33)

4.2.5 Hidrologi

Areal HTI PT RAPP Sektor Baserah termasuk dalam daerah aliran sungai Sei Selempaya Kanan, Sei Segati, dan Sei Nilo.

4.2.6 Keadaan sosial dan ekonomi masyarakat

Keadaan sosial masyarakat di sekitar areal RKT-UPHHK HTI Tahun 2009 meliputi jumlah penduduk, agama, mata pencaharian, dan fasilitas umum di Sekitar Areal kab. Pelalawan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Jumlah penduduk, Agama, Mata pencaharian, dan Fasilitas umum di

Sekitar Areal Sektor Baserah, Kab.Pelalawan

No URAIAN Satuan Jumlah

1 Jumlah Penduduk a. Total 1. Laki-laki 2. Perempuan b. Anak-anak 17 tahun: 1. Laki-laki 2. Perempuan

c. Angkatan Kerja > 17 tahun: 1. Laki-laki

2. Perempuan

d. Angkatan tidak Produktif>55 tahun: 1. Laki-laki 2. Perempuan Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang 193.785 Tidak terdata Tidak terdata 68.312 Tidak terdata Tidak terdata 105.123 Tidak terdata Tidak terdata 20.350 Tidak terdata Tidak terdata 2 Agama dan Aliran Kepercayaan:

1. Islam 2. Katolik/Protestan 3. Lain-lain % % % 94 5 1 3 Fasilitas Pendidikan 1. SD 2. SLTP 3. SLTP Unit Unit Unit 176 40 10 4 Tempat ibadah: 1. Masjid/Musholla/Langgar 2. Gereja 3. Dll Unit Unit Unit 649 25 1 5 Mata Pencaharian 1. Bertani 2. Berdagang 3. Lain-lain % % % 67,22 4,38 28,4

(34)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kegiatan Pengusahaan

Kegiatan pengusahaan Hutan Tanaman Industri di PT Riau Andalan Pulp

and Paper (RAPP) Sektor Baserah terdiri atas pengadaan bibit, penanaman, pemeliharaan tanaman, perlindungan hutan, dan pemanenan kayu.

5.1.1 Pengadaan bibit

Baserah Central Nursery (BCN) memiliki luas total areal seluas 16 Ha

dengan luas areal persemaian 12 Ha. Baserah Central Nursery (BCN) mengembangkan jenis tanaman Acacia mangium sebagai tanaman utama. Produksi kotor per tahun (gross production) 77.384.285 batang bibit. Baserah

Central Nursery (BCN) memiliki areal pembibitan terluas dengan tingkat

produksi terbesar di HTI PT RAPP. Hal ini disebabkan karena fungsi BCN sebagai pemasok bibit Acacia mangium bagi Sektor lain yang menggunakan

Acacia mangium sebagai jenis tanaman utamanya. Kebutuhan bibit untuk Sektor

Baserah 1466 batang bibit/Ha.

Bibit yang dikembangkan di BCN menggunakan cara vegetatif stek pucuk (cutting) dan jarang sekali menggunakan cara generatif (seedling). Hal ini disebabkan bibit yang dihasilkan dengan cara vegetatif lebih baik dibanding dengan cara generatif. Bibit vegetatif (cutting) yang dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan sifat tanaman induknya. Bibit vegetatif (cutting) berasal dari tanaman induk (mother plant) unggulan yang telah diteliti di Depertemen Penelitian dan Pengembangan PT RAPP. Tunas merupakan bagian dari tanaman induk (mother plant) yang dikembangkan dalam proses pembibitan dengan cara vegetatif stek pucuk (cutting). Baserah Central Nursery (BCN) memiliki 4 (empat) Departemen, yaitu: Rumah tanaman induk (Mother plant house),Rumah produksi (production house), Areal perakaran (rooting area), dan areal terbuka (open area).

Kegiatan yang terdapat di rumah tanaman induk (Mother plant house) adalah pengairan dan pemupukan secara bersamaan (Drip Fertigation System). Kegiatan lainnya adalah pemotongan pucuk untuk menghasilkan tunas. Batang yang telah mencapai tinggi 10-15 cm akan dikirim ke rumah produksi (production

(35)

ini. Media tanam yang digunakan di rumah tanaman induk (Mother plant house) adalah campuran pasir (80%) dan cocopeat (20%). Pupuk yang utama digunakan di area ini adalah osmocote. Pada area ini, sering terdapat hama seperti: whitefly (menyerang pucuk), Helopeltis (menghisap pucuk), dan juga terdapat ulat grayak (spodoptera) serta tungau.

Kegiatan yang terdapat di rumah produksi meliputi sterilisasi media, pemasukan tunas ke dalam tabung, dan pemupukan dimana pupuk langsung dicampur dengan media. Sterilisasi tray dan tabung dengan cara diuapkan (steam). Berbeda dengan yang di rumah tanaman induk, media yang dipakai di rumah produksi seluruhnya (100%) adalah cocopeat. Pupuk yang dipakai di rumah produksi adalah Osmocote, Agroblen, dan Kaliphos. Kemudian bibit akan dipindahkan ke areal perakaran dengan tujuan agar tanaman dapat berakar dan dapat berkembang dengan baik.

Kegiatan yang dilakukan terdapat di areal perakaran adalah sterilisasi agripal, pengkabutan (misting), membuang tunas yang gagal atau mati, penyiraman tanaman, dan pengambilan dan pemberantasan gulma. Setelah dari Areal perakaran (rooting area) bibit akan dipindah ke areal terbuka. Kegiatan yang dilakukan di areal terbuka adalah kegiatan penjarangan (spacing), pemupukan, penyiraman bibit berdasarkan kebutuhan, sensus dan pembuangan tanaman (culling), dan seleksi tanaman yang memenuhi standar yang ditetapkan. Bibit-bibit yang telah memenuhi persyaratan akan dikirimkan ke areal penanaman. Tabel prestasi kerja untuk seluruh kegiatan pengadaan bibit secara

cutting dapat dilihat pada Tabel 6.

Dari Tabel 6, dapat dilihat target produksi sebesar 77.384.285 batang bibit memerlukan prestasi kerja rata-rata sebesar 96.564 HOK/Tahun. Sehingga untuk memenuhi permintaan bibit dari Depatemen Penanaman Sektor Baserah sebesar 1466 bibit/Ha, diperlukan prestasi kerja rata-rata sebesar 1,83 HOK/Ha.

(36)

Tabel 6 Prestasi Kerja Kegiatan Pengadaan Bibit Secara Cutting

Kegiatan HTI Kebutuhan

(HOK)/Tahun

Rumah tanaman induk (Mother plant house)

Pemanenan tanaman induk 6.552,00

Perbaikan pemotongan dan penyiangan 3.432,00

Pemindahan material dari Rumah tanaman induk ke

Rumah produksi 312,00

Pemindahan material dari Rumah tanaman induk ke

trolley 1.560,00

Penyulaman (Blanking) 1.872,00

Pengontrolan terhadap hama dan penyakit 1.248,00

Subtotal 14.976,00

Rumah produksi (Production house)

Pembersihan tabung dan tray 936,00

Pencucian tabung dan tray 1.248,00

Operator mesin produksi 312,00

Persiapan media dan pengisian tabung 1.560,00

Persiapan stek pucuk 12.792,00

Penanaman stek pucuk 6.552,00

Menghitung produksi dan pemberian label 936,00

Penerimaan tabung dan trays dari Departemen

penanaman 624,00

Subtotal 24.960,00

Pengangkutan dan pemuatan

Pemindahan trays ke areal perakaran (rooting area) 312,00

Pemuatan tray sebelum dipindahkan ke areal perakaran 1.248,00

Pengaturan penempatan tray di areal perakaran 2.184,00

Subtotal 3.744,00

Areal perakaran (Rooting area)

Sterilisasi setelah tanaman dikeluarkan ke areal terbuka 624,00 Pemindahan tray ke dalam trolley

Pengontrolan terhadap hama dan penyakit

1.560,00 9.366.940,00

Penyiangan 6.246.940,00

Areal terbuka (Open area)

Operator boom untuk irigasi dan pemupukan 1.560,00

Penyiraman manual 936,00

Penyusunan tray ke dalam rak 3.120,00

(37)

Sumber: Data primer (diolah) 5.1.2 Penanaman

Target luas areal yang akan ditanam pada tahun 2009 di Sektor Baserah

adalah 1.570 Ha. Penanaman tahun 2009 merupakan bekas tebangan tahun 2008 dan sisa areal yang belum ditanam tahun 2008. Sebelum dilakukannya kegiatan penanaman oleh Departemen Penanaman (Plantation Department), Departemen Perencanaan terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap kinerja Departemen Pemanenen. Penilaian ini disebut juga HQA (Harvesting Quality Assessment) yakni untuk menentukan layak atau tidaknya suatu areal ditanam. Syarat kelulusan HQA tercapai apabila areal sudah bersih, tidak ada kayu, titik tanam (planting

point) tidak hilang.

Tahapan kegiatan penanaman meliputi persiapan lahan (Survey boundary), tanam, pemupukan, dan penyulaman. Tahapan kegiatan pemeliharaan yakni pemberantasan hama (weeding) dan singling (pemotongan cabang yang bersaing dengan batang utama). Pemberantasan hama dilakukan hingga weeding round 5 atau sampai weeding round 6.

Kegiatan persiapan lahan (Survey boundary ) dilakukan 2 minggu sebelum penanaman, kegiatannya meliputi pemberantasan gulma dan penilaian kelayakan lahan untuk ditanaman. Pemberantasan gulma dilakukan dengan penyemprotan

Kegiatan HTI Kebutuhan

(HOK)/Tahun

Mengembalikan trays yang kosong ke Rumah produksi 624,00

Pemindahan tray dari areal perakaran (rooting area) ke

areal terbuka (open area) 312,00

Penyisihan (Culling) dan seleksi (grading) saat umur 8

minggu 3.432,00

Penyisihan bibit tahap akhir (Final Culling and grading) 3.432,00

Memuat tray ke despatch house 1.560,00

Pemindahkan tray ke despatch house 312,00

Penyeleksian, quality control, dan memuatnya ke dalam

kotak 20.280,00

Memuat box ke dalam kendaraan 3.744,00

Pengontrolan terhadap hama dan penyakit selama di

Open area 1.872,00

Penyemprotan (Weeding) 2.496,00

Subtotal 52.884,00

(38)

pada gulma (Pre plant spraying). Kegiatan penanaman dan pemupukan merupakan kegiatan yang dilakukan sekaligus.

Kegiatan penyulaman ( Blanking) dilakukan setelah umur bibit setelah ditanam 1 bulan dan setelah dilakukannya weeding rotation I. Kegiatan penyulaman bertujuan untuk menyiangi tanaman yang mati dan menggantinya dengan bibit yang baru. Prestasi kerja dalam kegiatan penanaman dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Prestasi Kerja Kegiatan Penanaman

Sumber: Data primer (diolah)

Sistem penanaman menggunakan 15 orang, dimana pembagiannya 10 orang membuat lubang dan memberi pupuk, 2 orang operator sling, 2 orang untuk menanam dan 1 orang untuk distribusi bibit dan pupuk. Dalam kegiatan penanaman dibantu dengan pembuatan ajir (base line) dan menggunakan sling. Peralatan lain yang digunakan adalah dodos untuk membuat lubang tanam. Jarak tanam yang paling sering dipakai adalah 3m x 2,5m dan kedalaman lubang tanam adalah 30 cm x 30 cm. Tali ajir digunakan untuk mempermudah pengaturan penanaman sehingga bibit yang ditanam tetap lurus dan teratur. Kegiatan penanaman bibit dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk.

Prestasi kerja untuk kegiatan Survey boundary sebesar 0,75; prestasi kerja untuk kegiatan pre plant spraying sebesar 1,00; prestasi kerja untuk kegiatan penanaman bibit sebesar 9,00; prestasi kerja untuk operator sling sebesar 2,00;

Kegiatan Besar Prestasi Kerja

(HOK/Ha)

Total HOK Penanaman 16,75

Persiapan lahan (Survey boundary) 0,75

Penyemprotan (Pre plant spraying) 1,00

Penanaman bibit 9,00

Operator sling 2,00

Pembuatan lubang tanam 2,00

Pemupukan

MOP 0,50

PSP 0,50

(39)

Prestasi kerja untuk pemupukan baik MOP dan PSP masing-masing sebesar 0,50 , dan Prestasi kerja untuk kegiatan blanking sebesar 1,00. Total prestasi kerja untuk kegiatan penanaman adalah 16,75 HOK/Ha.

5.1.3 Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan meliputi kegiatan penyemprotan bahan kimia (weeding rotation) untuk membunuh gulma yang ada pada areal tanaman serta pencabutan tanaman-tanaman pengganggu yang bersaing dengan tanaman utama.

Weeding chemical untuk eucalyptus dilakukan mulai dari round 1-7 sedangkan

akasia dilakukan mulai weeding chemical 1-5. Selain itu, pada tanaman eucalyptus pemberian pupuk pada saat umur 4 bulan. Sedangkan untuk akasia

Weeding rotation I dilakukan 1 bulan setelah tanam. Setelah itu dilakukan

penyulaman (blanking). Weeding chemical round 2 dilakukan 5 bulan setelah tanam, setelah dilakukan weeding chemical round 2 dilakukannya kegiatan

poisoning. Sebulan setelah dilakukan weeding chemical round 2 dilakukan

kegiatan singling (pemotongan cabang yang bukan batang utama). Kegiatan ini dilakukan ketika tinggi tanaman mencapai 1,5-2,5 meter. Pemotongan cabang ini dilakukan agar tidak terjadi persaingan antara batang utama dan cabang. Weeding

chemical round 3 dilakukan 8 bulan setelah tanam, weeding chemical round 4

dilakukan 11 bulan setelah tanam, dan weeding chemical round 5 dilakukan 15 bulan setelah tanam.

Pada saat tanaman berumur 6 (enam) bulan dan setahun, Departemen Perencanaan (planning) melaksanakan PQA (Plantation Quality Assessment). PQA yang dilakukan pada saat tanaman berumur 6 bulan meliputi kegiatan yang menghitung jumlah tanaman yang bertahan hidup dan pengukuran tinggi tanaman. PQA II dilakukan 1 tahun setelah penanaman. Kegiatan yang dilakukan adalah penjumlahan tanaman yang bertahan hidup, pengukuran diameter dan tinggi pohon. Tabel prestasi kerja untuk kegiatan pemeliharaan tanaman dapat dilihat pada Tabel 8.

(40)

Tabel 8 Prestasi Kerja Kegiatan Pemeliharaan Tanaman

Sumber: Data primer (diolah) 5.1.4 Perlindungan Hutan

Kegiatan perlindungan hutan di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Sektor Baserah difokuskan pada pencegahan kebakaran dan pengendalian terhadap hama penyakit. Kegiatan pengendalian kebakaran dilakukan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta melakukan patroli. Patroli lebih sering dilakukan pada daerah perbatasan antara lahan warga dengan lahan HTI Sektor Baserah. Jumlah petugas fire protection hanya 9 orang, tetapi pada saat terjadi kebakaran maka seluruh karyawan dikerahkan untuk memadamkan api. Selain pengawasan terhadap kebakaran hutan dan hama penyakit, perlindungan hutan juga meliputi penjagaan kawasan lindung.

Total prestasi kerja untuk pelindungan hutan untuk pengendalian kebakaran hutan dan hama penyakit adalah 1,00 HOK/Ha dan untuk perlindungan untuk kawasan lindung adalah 0,10 HOK/Ha. Jadi total prestasi kerja untuk perlindungan hutan adalah 1,10 HOK/ha.

5.1.5 Pemanenan Kayu

Target tebangan berdasarkan RKT 2009 di HTI Sektor Baserah adalah 246.901 m3 kayu. Target tebang tersebut diperoleh dari areal hutan seluas 1.646,01 hektar. Kegiatan pemanenan kayu di HTI Sektor Baserah meliputi proses sebelum pemanenan (pre harvesting process), proses pemanenan (harvesting

process), dan proses setelah pemanenan (post harvesting process).

Kegiatan HTI Kebutuhan (HOK)/Ha

Pemeliharaan Tanaman 3) 28,75

Kegiatan weeding rotation I 2,75

Kegiatan weeding rotation II 2,75

Kegiatan weeding rotation III 2,75

PQA 1 ( Plantation Quality Assesment ) 7,00

Kegiatan weeding rotation IV 2,75

PQA 2 ( Plantation Quality Assesment ) 7,00

Kegiatan weeding rotation V 2,75

(41)

5.1.5.1 Sebelum Proses Pemanenan (Pre Harvesting Process)

Kegiatan sebelum pemanenan (pre harvesting process) dilakukan 3 minggu sebelum pemanenan. Kegiatan ini dilakukan secara manual. Tahapan dari kegiatan ini adalah, (1) pengimasan (underbrushing) yaitu pembersihan areal tebangan dari tumbuhan bawah, anakan, pohon mati, tumbuhan merambat dan liana, terkecuali yang berada di kawasan riparian/daerah konservasi. Kegiatan ini dilakukan oleh kontraktor harvesting; (2) pengecekan batas kompartemen (boundary demarcation) yaitu penandaan batas-batas petak, kawasan penyangga, dan kawasan-kawasan terlarang, selain itu juga meliputi kegiatan identifikasi dan penandaan spesies pohon yang dilindungi atau pohon yang oleh masyarakat setempat diusahakan seperti palem sagu dan pohon madu/sialang. Kegiatan ini dilakukan oleh Departemen Perencanaan; (3) pelaksanaan mikro pemanenan kayu (microplanning) dimana dilakukan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan penebangan, terutama dalam membuat main trail dan second trail, spur road, lokasi TPn, maupun arah pergerakan alat mekanisasi penebangan. Kegiatan ini dilakukan oleh kontraktor dan bekerjasama dengan Departemen Perencanaan . Penentuan batas petak mempengaruhi jarak antar petak. Bagian ini menjadi penting karena dapat mengurangi biaya transportasi.

5.1.5.2 Proses Pemanenan (Harvesting Process)

Tahapan awal dari kegiatan pemanenan adalah kegiatan predebark yaitu pengupasan kulit sebelum pohon tersebut ditebang. Predebark dilakukan pada saat pohon masih berdiri yang tujuannya adalah untuk memudahkan proses

debarking lanjutan setelah pohon rebah. Kegiatan lanjutan dari proses pemanenan

adalah kegiatan penebangan (felling) baik manual atau mekanis, pemotongan (bucking), pengupasan kulit penuh (grand debarked), penumpukan kayu di petak (infield stacking), ekstraksi kayu menuju TPn/sisi jalan, dan hauling ke mill.

Pemanenan manual kupas adalah sistem pemanenan dengan menggunakan tenaga manual tetapi kegiatan penyaradan menggunakan alat mekanis yang disebut alat sarad, seperti: skidder, forwarder, dan ponton darat. Skidder berfungsi untuk menarik tumpukan kayu (stacking). Skidder slegh mampu bekerja selama 14 jam/hari dengan konsumsi bahan bakar 15L/jam dan produktivitas sebesar 250 m3/unit/hari. Pada pemanenan manual, produktivitas pekerja 2,5 m3/hari/orang.

(42)

Dalam 1 group hanya terdapat 1 chainsaw man. Kayu yang telah ditebang kemudian dikupas kulitnya dan dipotong-potong sepanjang 3m kemudian di-

stacking di tepi jalur. Ukuran tumpukan kayu (stacking) pada petak tebang dengan

tinggi dan lebar 1m x 1m atau 1m x 2m.

Pemanenan mekanis merupakan pemanenan dengan menggunakan peralatan mekanis atau alat berat, seperti harvester, debarker, dan excavator.

Harvester mampu bekerja selama 12 jam dengan kebutuhan solar 15-17 L/jam. Harvester dapat memanen 1 Ha lahan dalam 1 hari. Debarker memerlukan bahan

bakar 17-18L solar dalam 1 jam. Alat debarker juga mampu bekerja selama 12 jam dengan produktivitas sama seperti harvester 1 Ha/hari. Sedangkan produktivitas excavator lebih besar, yaitu 2,5 Ha/hari dengan kebutuhan solar 17-18 L/jam.

Kegiatan hauling merupakan pengangkutan kayu dari TPn ke pabrik di Kerici. Jarak tempuh antara Baserah-Kerinci berkisar 135 Km. Pemuatan (loading) kayu dari TPn ke truk menggunakan excavator. Adapun jenis-jenis truk untuk pengangkutannya antara lain, tronton Hino BM 8019 AS dengan kapasitas 35 ton, trinton kapasitas 40-60 ton.

5.1.5.3 Kegiatan Pasca Pemanenan (Post Harvesting Process)

Kegiatan pasca pemanenan merupakan kegiatan kerjasama antara Departemen Pemanenan dan Departemen Perencanaan. Kegiatan ini meliputi penilaian lingkungan, penilaian HQA (Harvesting Quality Assesment), RWA (Residual Wood Assesment).

Harvesting Quality Assesment adalah suatu kegiatan penilaian kualitas

pekerjaan harvesting yang dilakukan oleh kontraktor untuk melihat kesesuaian dengan SOP perusahaan. Tujuan HQA memastikan bahwa pekerjaan kontraktor telah sesuai dengan SOP perusahaan dan sebagai salah syarat dalam proses pembayaran kepada kontraktor.

Penilaian RWA sebagai dasar kepastian pemanfaatan optimal seluruh kayu pulp yang tersedia dengan menghitung tiap potongan kayu yang tertinggal, maupun pemenuhan persyaratan dalam penilaian lingkungan akan dampak kegiatan pemanenan terhadap daerah-daerah konservasi maupun terlarang. Keseluruhan prestasi kerja pada kegiatan pemanenan dapat dilihat pada Tabel 9.

Gambar

Tabel 2  Realisasi Penanaman IUPHHK-HTI Periode 1989 - 2008
Tabel 3  Tata Waktu Kegiatan Pengusahaan HTI
Tabel 4  Perhitungan Biaya Kegiatan Pengusahaan HTI
Tabel 6  Prestasi Kerja Kegiatan Pengadaan Bibit Secara Cutting
+6

Referensi

Dokumen terkait

Riau Andalan Pulp and Paper merupakan perusahaan yang memproduksi produk pulp (bubur kertas) dan paper (kertas) dengan didukung oleh sejumlah mesin dan peralatan yang

Indonesia berpotensi menguasai pasar pulp dan kertas dunia, asal industri pulp mampu meningkatkan kualitas dan sanggup memenuhi permintaan pasar secara kompetitif baik

Hasil penelitian Pengaruh Tingkat Pendidikan Karyawan terhadap Kinerja Karyawan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa jenis tanaman ekaliptus pada hutan tanaman industri (HTI) PT Toba Pulp Lestari sektor Aek Nauli cukup memberikan

Sumber : Office Rukan Akasia Campus Riau Pulp (Bapak Samsuriya M Hasyim, Campus & Local NGO Relation Head).. Organization Chart Community Development

P a g e | 17 DAMPAK EKONOMI KEBERADAAN PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER (PT RAPP) SEBAGAI PERUSAHAAN MULTINASIONAL DI PROVINSI RIAU Afrizal afrizalhiunri@gmail com Department of

Riau Andalan Pulp and Paper pada kantor Koperasi Karyawan dan kantor APRIL Learning Institute adalah dapat mengetahui Menghancurkan dokumen, Menggandakan dokumen, Membuat analisis SWOT

Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk membahas lebih rinci dan spesifik lagi mengenai “Analisis Energi Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU Dual Fuel Line 3 PT Riau Andalan Pulp