1
BAB I
PENDAHULUAN I.1 Latar BelakangPT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII adalah salah satu perkebunan milik Negara yang didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1996. Perusahaan ini didirikan dengan maksud dan tujuan untuk menyelenggarakan usaha di bidang agro bisnis dan agro industry, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya. Kegiatan utama perusahaan meliputi pembudidayaan tanaman, pengolahan/produksi, dan penjualan komoditi perkebunan Teh, Karet, Kelapa Sawit, Kina, dan Kakao. PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII merupakan perusahaan yang focus dalam produksi teh ortodoks.
Proses awal dari produksi di PT. PN adalah proses pemetikan daun teh di kebun seluas 4.000 hektare. Proses pemetikan daun teh ini dilakukan dengan tiga cara, pertama menggunakan tangan, kedua gunting, dan ketiga menggunakan mesin pemotongan. Pada penggunaan mesin pemotongan daun teh tingkat kelelahan yang dihasilkan lebih besar di banding dengan menggunakan tools lainnya yaitu gunting dan tangan.
Pada kondisi eksisting, proses pemetikan daun teh dimulai dengan pengangkutan mesin pemotongan menuju afdeling / area pemetikan menggunakan kendaraan. Selanjutnya mesin pemotongan di angkat secara manual oleh para pekerja yang pada umumnya wanita menuju area pemetikan yang telah ditetapkan. Setelah mesin berpindah menuju tempat pemetikan para pekerja harus mengatur ketinggian mesin secara manual sesuai dengan tinggi daun teh yang akan di petik. Berat mesin pemotongan yang memiliki rata-rata sebesar 14 kg hingga 16 kg membuat para pekerja merasa kelelahan sehingga risiko MSDs sangat mungkin terjadi.
Musculoskeletal disorders (MSDs) menjelaskan keluhan-keluhan sakit pada bagian
tendon, otot, dan skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai sangat sakit. MSDs disebabkan akibat pengulangan aktifitas dalam jangka waktu yang lama sehingga menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon (Ni Luh Putu Susi Mardi, Sukarja, & Suari, 2014)
2
Gambar I. 1 Postur RULA Pekerja pada Mesin Pemotong Teh
Dari Gambar I.1 dilakukan analisis Rapid Upper Limb Assesment (RULA) untuk mengetahui kemungkinan terjadinya Musculoskeletal disorders (MSDs). Analisis RULA dilakukan menggunakan software ErgoIntelligence. Hasil dari analisis RULA dapat dilihat pada Tabel I.1.
Tabel I. 1 Nilai RULA Postur Pekerja pada Penggunaan Mesin Pemotong Teh
Kegiatan Skor RULA Level Risiko Tindakan
Penggunaan mesin
pemotong teh 7 Tinggi
Perlu segera dilakukan perbaikan
Dari masalah yang terjadi pada kondisi eksisting dibutuhkan alat bantu yang dapat mengurangi risiko MSDs pada pekerja. Dalam pengembangannnya alat pemotong teh sudah memiliki alat bantu yang telah dibuat konsepnya oleh peneliti sebelumnya (Fauzi, 2017), konsep alat bantu pemotong teh dapat dilihat pada Gambar I.2. Konsep alat bantu yang dibuat adalah alat bantu yang dapat dimasukkan alat pemotong teh kedalamnya.
3
Gambar I. 2 Konsep Awal Alat Bantu Pemotongan Teh (Fauzi, 2017)
Pada pengembangan alat bantu yang telah dibuat peneliti sebelumnya belum mementingkan aspek ergonomi hal ini didasari dari analisis simulasi postur kerja yang menghasilkan angka >4 untuk nilai RULA. Simulasi postur kerja dilakukan menggunakan software berbasis virtual environment. Hasil postur tubuh menggunakan konsep awal dapat dilihat pada Tabel I.2.
Tabel I. 2 Nilai RULA Postur Pekerja pada Penggunaan Konsep Awal Alat Bantu
Kegiatan Skor RULA Level Risiko Tindakan
Penggunaan konsep
awal alat bantu 7 Tinggi
Perlu segera dilakukan perbaikan
Dalam segi dimensi produk, konsep awal bantu pemotong teh belum menerapkan pendekatan antropometri. Antropometri digunakan agar peralatan yang dirancang lebih sesuai dan dapat memberikan rasa nyaman serta menyenangkan pada pekerja. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan stress tubuh yang berujung pada risiko MSDs (Iiliana, Widagdo, & Abtokhi, 2007). Dimensi produk pada konsep awal alat bantu dapat dilihat pada Tabel I.3.
4
Tabel I. 3 Dimensi Konsep Awal Alat Bantu
Dimensi 2075.51 mm x 1768 mm x 1752 mm
Roda 2 buah roda dengan ukuran diameter 350 mm
Tinggi Gagang 739 mm
Diameter Gagang 25 mm
Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan evaluasi ergonomis untuk memastikan bahwa pengaplikasian alat bantu pemotong teh dapat mempermudah pekerja dari alat sebelumnya dan juga dapat mengurangi risiko MSDs pada pekerja. Dalam melakukan pengembangan produk yang ergonomis, dilakukan studi
literature pada pendekatan terkait yaitu Ergonomic Function Deployment.
Pendekatan ini telah diterapkan pada beberapa pengembangan produk diantaranya Usulan Rancangan Tas Sepeda Trial Menggunakan Metode Ergonomic Function
Deployment (Adrianto, Desrianty, & M, 2014) yang berhasil menambahkkan aspek
ergonomis berupa ENASE (Efektif, Nyaman, Aman, Sehat, dan Efisien). Pendekatan ini juga telah digunakan pada penelitian pada jurnal yang berjudu Aplikasi Ergonomic Function Deployment (EFD) pada Redesign Alat Parut Kelapa untuk Ibu Rumah Tangga (Surya, Badruddin, & Gasali, n.d.) yang berhasil menurunkan risiko MSDs dalam penggunaan alat parut kelapa sistem engkol antara produk lama dengan produk baru sebesar 17,39% dan mempercepat waktu pemarutan kelapa lebih cepat 5 menit atau meningkat 30,10%.
Berdasarkan studi literatur yang sudah dilakukan, metode EFD dapat digunakan untuk menangani masalah pengembangan poduk alat bantu yang ergonomis. Metode ini dapat digunakan untuk mengembangkan konsep ergonomis dengan parameter yang harus dicapai yaitu ENASE (Efektif, Nyaman, Aman, Sehat, dan Efisien).
a. Efektif, adalah tercapainya sasaran atau target yang telah ditentukan. b. Nyaman, adalah kondisi dimana sesorang berada dalam kondisi tanpa
kecemasan, dengan prilaku yang dikondisikan untuk memberikan tingkat kerja stabil.
c. Aman, adalah kondisi dimana seseorang berada dalam kondisi tanpa kecemasan, bebas dari risiko.
5
d. Sehat, adalah menghilangkan hal-hal yang bisa mengakibatkan gangguan kesehatan atau sakit.
e. Efisien, sasaran dapat dicapai dengan upaya, biaya, pengorbanan yang rendah.
Dari permasalahan diatas, keadaan konsep awal belum mengedepankan konsep ergonomic namun hanya mengedepankan fungsionalitas. Hal ini didukung dari nilai RULA pada konsep awal yang didapat nilai tujuh, nilai tujuh disebabkan karena dimensi produk pada konsep awal belum menerapkan antropometri sehingga postur pekerja mengalami posisi bungkuk. Penggunaan metoda Ergonomic Function
Deployment diharapkan dapat menurunkan risiko MSDs dengan melihat perubahan
nilai RULA yang akan terjadi dengan menerapkan aspek EASNE.
I.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana alat bantu untuk mesin pemotong teh dengan melihat sisi ergonomis untuk mengurangi risiko MSDs pada pekerja dengan melihat skor RULA?
I.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan konsep rancangan alat bantu untuk mesin pemotong teh yang ergonomis sehingga dapat mengurangi risiko MSDs pada pekerja dengan melihat skor RULA.
I.4 Batasan Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan memiliki batasan, sehingga penelitian akan berfokus pada tujuan penelitian tanpa melewati batas yang ditentukan. Adapun batasan-batasan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data dilakukan hanya pada satu wilayah kerja (afdeling) PT. Perkebunan Nusantara VIII
2. Mesin yang diteliti pada penilitian ini adalah mesin pemotong teh
6
3. Penelitian ini hanya dilakukan pada tahap konsep design sampai dengan analisis ergonomic konsep terpilih
I.5 Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian ini sebagai berikut:
1. Manfaat bagi penulis adalah penulis mampu mengaplikasi ilmu pengetahuan yang telah dipelajari selama 4 tahun di perguruan tinggi.
2. Manfaat bagi perusahaan adalah perusahaan mendapatkan masukan tentang
improvement alat mereka.
I.6 Sistematika Penulisan
Penelitian ini diuraikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini berisi uraian mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini berisi literatur yang relevan dengan permasalahan yang diteliti dan dibahas pula hasil-hasil penelitian terdahulu. Bagian
kedua membahas hubungan antar konsep yang menjadi kajian
penelitian dan uraian kontribusi penelitian.
BAB III Metode Penelitian
Pada bab ini dijelaskan langkah-langkah penelitian secara rinci meliputi: tahap merumuskan masalah penelitian, merumuskan hipotesis, dan mengembangkan model penelitian, mengidentifikasi dan melakukan operasionalisasi variabel penelitian, menyusun kuesioner penelitian, merancang pengumpulan dan pengolahan data, melakukan uji instrumen, merancang analisis pengolahan data
7
Bab IV Pengumpulan dan Pengolahan Data
Pada bab ini menampilkan data-data yang dikumpulkan melalui proses observasi secara langsung dan juga data-daata dari perusahaan dan peneliti sebelumnya. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah sesuai dengan metodologi penelitian
Bab V Analisis
Pada bab ini dilakukan analisis terhadap hasil perbaikan rancangan konsep alat bantu pemotong teh yang ergonomis. Analisis ini mencakup perbandingan antara aktivitas eksisting dan konsep rancangan alat yang ergonomis
Bab VI Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini menjelaskan ringkasan mengenai hasil dan analisis pada bab-bab sebelumnya. Selain itu terdapat saran yang disampaikan bagi perusahaan dan penelitian selanjutnya.