• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah teori dan analisis produksi Ekon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah teori dan analisis produksi Ekon"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI DAN ANALISI

PRODUKSI

Makalah

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi

Kelompok 3;

1. 142165157 – Nenden Putri Lestari 2. 142165181 - Ade Eka

3. 142165185 - Dita Maharani S 4. 142165189 – Tantina Aprila 5. 142165191 – Asep Sumpena 6. 142165196 – Arif Rahmat 7. 142165199 – Fitria Agustani

PROGRAM STUDIPENDIDIKAN EKONOMI/ TATA NIAGA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SILIWANGI TASIKMALAYA

(2)

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T, penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini, yang dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Syariah.

Makalah yang berjudul “Teori dan Analisis Produk” ini menjelaskan tentang akan teori dan analisis produk yang membahas hakekat kemanusiaan sebagai karakter produksi.

Makalah ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari pihak lain mengingat banyaknya hambatan serta kesulitan yang dihadapi. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat bapak Gugum Gumilar, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Ekonomi Syariah.

Penulis berharap makalah yang cukup sederhana ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai sarana informasi yang berguna bagi para pembaca, khususnya bagi yang memerlukannya.

Akhir dari ucapan penulis kepada semua para pembaca Makalah ini, penulis mengharapkan saran serta kritik yang positif dari semua pihak yang berkepentingan. Atas perkenan dari semua yang mendukung tersusunnya Makalah ini penulis ucapkan terimakasih.

Tasikmalaya, Oktober 2016

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB.I. PENDAHULUAN a. Latar Belakang... 1

b. Rumusan Masalah... 2

c. Tujuan Makalah... 2

BAB.II. PEMBAHASAN a. Pengertian Produksi………... 4

b. Tujuan Produksi dalam Islam……... 5

c. Input Produksi dan Berkah... 7

d. Kemuliaan Harkat Kemanusiaan sebagai Karakter Produksi... 10

e. Eksplorasi dan Pembentukan Konsep Produksi…... 11

BAB.III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan... 14 DAFTAR PUSTAKA

(4)

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang

Produksi adalah bagian terpenting dari ekonomi Islam bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu dari rukun ekonomi disamping konsumsi, distribusi, redistribusi, infak dan sedekah. Karena produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfa’atkan oleh konsumen. Pada saat kebutuhan manusia masih sedikit dan sederhana, kegiatan produksi dan konsumsi dapat dilakukan dengan manusia secara sendiri. Artinya seseorang memproduksi barang/jasa kemudian dia mengonsumsinya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan beragamnya kebutuhan konsumsi serta keterbatasan sumber daya yang ada (kemampuannya), maka seseorang tidak dapat lagi menciptakan sendiri barang dan jasa yang dibutuhkannya, akan tetapi membutuhkan orang lain untuk menghasilkannya. Oleh karena itu kegiatan produksi dan konsumsi dilakukan oleh pihak-pihak yang berbeda. Dan untuk memperoleh efisiensi dan meningkatkan produktifitas lahirlah istilah spesialisasi produksi, diversifikasi produksi dan penggunaan tehnologi produksi.

Dalam Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, saw. konsep produksi barang dan jasa dideskripsikan dengan istilah-istilah yang lebih dalam dan lebih luas. Al-Qur’an menekankan manfa’at dari barang yang diproduksi. Memproduski suatu barang harus mempunyai hubungan dengan kebutuhan hidup manusia. Berarti barang itu harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan bukannya untuk memproduksi barang mewah secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia, karenanya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut dianggap tidak produktif. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an yang tidak memperbolehkan produksi barang-barang mewah yang berlebihan dalam keadaan apapun. (Afdzalurrahman, 1995; 193). Oleh karena itu, konsep produksi yang dianggap sebagai kerja produktif dalam Islam adalah proses produksi untuk

(5)

2

menghasilkan barang dan jasa yang sangat dibutuhkan manusia. Dan kerja produktif semacam ini dapat diistilahkan sebagai ‘amal saleh’ yang mengandung banyak kemaslahatan dan keberkahan.

Maka dalam hal ini, prinsip fundamental yang harus diperhatikan dalam produksi adalah prinsip tercapainya kesejahteraan ekonomi. Selanjutnya Mannan menyatakan: “Dalam sistem produksi Islam, konsep kesejahteraan ekonomi digunakan dengan cara yang lebih luas, konsep kesejahteraan Islam terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dari hanya barang-barang berfaedah melalui pemanfa’atan sumber-sumber daya secara maksimum baik manusia maupun benda demikian juga melalui ikut-sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi”. (Eko Suprayitno; 2008: 178-179). Dengan demikian semakin bertambahnya income pendapatan manusia dan semakin banyaknya unsure manusia yang terlibat dalam kegiatan produksi maka kesejahteraan manusia akan dapat terwujud secara lebih luas. Oleh karena itu strategi yang yang tepat dalam peningkatan kesesajahteraan manusia adalah strategi kelayakan hidup manusia dalam istilah ekonomi Islam disebut dengan “Haddul kifayah”. Karena dalam batas minimal inilah ekonomi Islam dapat dikatakan berhasil sebagai ilmu yang dapat mengantarkan manusia menuju kesejahteraan hidup.

A. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan Produksi? 2. Apakah tujuan dari produksi dalam Islam? 3. Apa saja input produksi dan berkah?

4. Bagaimana kemuliaaan harkat kemanusiaan sebagai karakter produksi? 5. Bagaimana eksplorasi dan pembentukan konsep produksi ?

B. Tujuan Makalah

Adapun tujuan dari penyusunan makalah dengan judul “Teori dan Analisis Produksi” adalah sebagai berikut :

(6)

2. Melatih Mahasiswa untuk lebih aktif dalam pencarian bahan-bahan materi Ekonomi Syariah

(7)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Produksi

Dalam mendefinisikan produksi, secara esoteris “produksi” dalam bahasa Arab disebut: “al-intaj” yang memiliki makna ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan produk) atau “khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdamin muzayyajin min anashiril intaji dhamina itharu zamanin muhaddadin” (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas).

Lebih jauh dikatakan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfa’at (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut. Produksi dalam pandangannya harus mengacu pada value of utility dan masih dalam bingkai nilai “halal” serta tidak membahayakan bagi diri sendiri atau orang lain dan kelompok tertentu.

Jadi, produsen dalam perspektif ekonomi islam bukanlah seorang pemburu laba maksimal melainkan pemburu mashlahah. Ekspresi mashlahah dalam kegiatan produksi adalah keuntungan dan berkah sehingga produsen akan menentukan kombinasi antara berkah dan keuntungan yang memberikan mashlahah maksimal. Oleh karena itu, tujuan produsen bukan hanya laba, maka pertimbangan produsen juga bukan semata pada hal yang bersifat sumber daya yang memiliki hubungan teknis dengan output, namun juga pertimbangan kandungan berkah (nonteknis) yang ada pada sumber daya maupun output.

Misalnya ketika untuk menghasilkan baju diperlukan kain, benang, tenaga kerja, serta mesin jahit produsen tidak hanya memikirkan berapa meter kain dan benang yang diperlukan agar maksimal, namun juga mempertimbangkan jenis kain dan benang apa, dan dibeli dengan harga berapa, berapa tenaga kerja diperlukan, berapa baju akan dibuat agar mashlahah mencapal maksimal.

(8)

B. Tujuan Produksi Dalam Islam

Karena produksi adalah kegiatan menciptakan suatu barang atau jasa, sedangkan konsumsi adalah kegiatan pemanfa’atan hasil produksi. Dengan demikian, aktifitas produksi dan konsumsi merupakan kegiatan yang sangat berkaitan yang tidak dapat dipisahkan karena satu sama lainnya saling berhubungan dalam sebuah proses kegiatan ekonomi.

Oleh karena itu aktifitas produksi harus balance dengan kegiatan konsumsi. Apabila keduanya tidak balance maka akan terjadi ketimpangan dalam kegiatan berekonomi. Hal ini dapat dideskripsikan, apabila barang/jasa yang diproduksi itu lebih banyak dari permintaan konsumsi maka akan terjadi ketimpangan ekonomi yaitu berupa penumpukan output produksi sehingga terjadi kemubadziran hasil prooduksi. Inilah yang disebut israf (produksi yang berlebihan) yang dalam ekonomi Islam dianggap sebagai bentuk dosa yang menjadikan output produksi itu tidak ada nilai maslahah sehingga tidak berkah yang menjadikannya menjadi output produksi yang tidak produktif.

Sebaliknya jika aktifitas konsumsi lebih banyak permintaannya dari aktifitas produksi maka akan menimbulkan problematika ekonomi yaitu berupa tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi yang berdampak pada kemiskinan dan malapetaka sosial dan ekonomi.

Dalam permasalahan produksi dan konsumsi dapat dimisalkan; Kita tidak diperbolehkan memproduksi atau mengonsumsi produk/barang yang haram seperti alkohol, babi, anjing, bangkai, heroin, narkotika, binatang yang tidak disembelih atas nama Allah, dan binatang buas. Seorang konsumen ataupun produsen yang berprilaku Islami juga tidak boleh melakukan israf atau berlebih-lebihan, tetapi hendaknya dalam mengkonsumsi atau memproduksi itu dilakukan dengan konstan. Sebagaimana sabda Nabi, SAW. yang mengatakan: “Makanlah kalian sebelum lapar dan berhentilah kalian sebelum kenyang”. Jadi kegiatan produksi dan konsumsi harus dilakukan secara seimbang sehingga akan terwujud stabilitas ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan hidup.

(9)

6

pada kemaslahatan dalam kehidupan. Demikian halnya produsen dalan kegiatan produksinya bertujuan menyediakan barang dan jasa yang memberikan maslahah bagi konsumen. Secara lebih spesifik, tujuan kegiatan produksi adalah meningkatkan kemaslahatan sehingga mendapatkan keberuntungan (falah) di dunia dan di akhirat, yang tujuan ini dapat diakulturasikan dalam bentuk, yaitu:

1. Pemenuhan sarana kebutuhan manusia yang seimbang 2. Menemukan kebutuhan masyarakat dan pemenuhannya 3. Menyiapkan persediaan barang dan jasa

4. Mensejahterakan tingkat kehidupan

5. Sebagai sarana kegiatan sosial dan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Produksi merupakan mata rantai konsumsi, yaitu menyediakan barang dan jasa yang merupakan kebutuhan konsumen. Produsen sebagaimana konsumen, bertujuan untuk memperoleh mashlahah maksimum melalui aktivitasnya.

 Mata Rantai Kegiatan Konsumsi dan Produksi

(10)

Penjelasan:

1. FALAH adalah Kemuliaan dan kemenangan dunia dan akhirat 2. BERKAH adalah Bertambahnya kebaikan

3. MASHLAHAH adalah Memiliki banyak manfaat

4. Konsumen adalah yang memanfaatkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan

5. Produsen adalah yang menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan. 6. KEBUTUHAN adalah sesuatu yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup

C. Input Produksi dan Berkah

Aktifitas produksi membutuhkan berbagai jenis sumber daya ekonomi yang lazim disebut input atau faktor produksi, yaitu semua bentuk faktor yang memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam sebuah proses produksi. Maka faktor-faktor produksi ini terdeskripsikan dalam faktor sumber daya alam, faktor finansial, faktor sumber daya manusia dan faktor waktu.

Misalkan dalam sebuah perusahaan produksi mobil. Pemroduksian mobil tidak bisa dibuat hanya dengan tersedianya besi atau karet saja, atau ada tenaga kerja saja, atau ada pengusaha mobil saja, tetapi merupakan kombinasi antara berbagai faktor produksi sebagai input produksi. Sebuah mobil dapat sampai ke tangan konsumen didukung oleh kombinasi dari berbagai macam faktor produksi diantaranya harus tercukupinya bahan-bahan; besi, karet, aluminium dan lain-lain yang diolah secara manual maupun dengan dibantu mesin, dan kemudian setelah menjadi mobil dijual atau disalurkan oleh para distributor kepada konsumen.

(11)

8

Dalam kaitannya dengan hal ini, sebenarnya tidak ada kesepakatan yang bulat tentang klasifikasi faktor produksi. Perbedaan dasar klasifikasi faktor produksi ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, contohnya ketidaksamaan dalam pembuatan definisi, karakteristik, maupun peran dari masing-masing faktor dalam menghasilkan output, atau bentuk harga atau biaya (cost) atas suatu faktor produksi. Contoh terakhir ini misalnya dalam ekonomi konvensional harga atau biaya dari tanah adalah sewa disebut dengan (rent), biaya yang dihasilkan dari tenaga kerja disebut upah/gaji (wage) dan biaya atau hasil dari investasi modal finansial adalah bunga (interest), yang menurut ekonomi Islam sistem bunga adalah haram hukumnya sehingga ekonomi Islam memberikan alternatif lain bahwa hasil dari investasi modal finansial adalah berupa bagi hasil kerugian dan keuntungan (profit and loss sharing).

Secara mendasar, faktor produksi atau input ini secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu;

1. Input manusia (human input).

adalah semua bentuk manajerial, ide-ide, gagasan pemikiran, tenaga, perasaan dan hati yang bersumber dari diri manusia. Contohnya : tenaga kerja/buruh dan wirausahawan.

2. Input non-manusia (non human input)

adalah sumber daya alam (natural resources), kapital (financial capital), mesin, alat-alat, gedung dan input-input fisik lainnya (physical capital).

(12)

hidup dan berekonomi kecuali didukung oleh faktor non-manusia (Faktor materiil).

Oleh karena itu, dalam menghasilkan output secara maksimal manusia membutuhkan faktor produksi materiil, akan tetapi tanpa manusia barang dan jasa tidak akan optimal dalam memberikan manfa’at. Misalnya: tambang emas yang masih di dalam perut bumi tidak menjadi perhiasan yang berharga tinggi apabila tidak diolah dan dikelola oleh manusia yang terampil. Oleh karena itu usaha manusia adalah faktor terpenting dalam pengelolaan barang dan jasa sehingga benar apa yang dikatakan Ibnu Khaldun (1263-1328) yang menganggap bahwa manusia adalah faktor terpenting dan merupakan sumber utama nilai barang dan jasa.

b. Manusia adalah makhluk hidup yang tentu saja memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dengan faktor produksi lainnya.

Manusia adalah ciptaan Allah yang diberikan kemulyaan Allah sebagai khalifah di muka bumi ini. Sehingga memiliki karakteristik yang sangat istimewa yang membedakan faktor-faktor produksi lainnya. Manusia pasti tidak dapat disamakan dengan sumber daya alam, gedung, uang dan faktor produksi fisik lainnya.

Secara umum sumber daya non-manusia dapat diperdagangkan sesuai dengan mekanisme pasar maka sumber daya non-manusia dapat disebut sebagai barang/jasa. Sedangkan manusia adalah manusia yang tidak berupa harta benda (barang/jasa) maka tidak dapat diperjual-belikan dalam mekanisme pasar. Karena harta benda (barang/jasa) menurut definisi Mustafa Ahmad Zarqa’ adalah: Segala sesuatu yang mempunyai nilai materi di kalangan masyarakat. Maka manusia tidak termasuk di dalamnya, sehingga jika terjadi perdagangan manusia (human smugling) maka hukumnya haram dalam perspektif ekonomi Islam.

(13)

10

berkah akan berdampak kepada kemaslahatan. Oleh karena itu, bagaimanapun sistem pengklasifisiannya bahwa berkah harus dimasukkan dalam input produksi.

Karena berkah tersebut melekat pada setiap input yang digunakan dalam berproduksi dan juga melekat pada proses produksi sehingga output produksinya akan mengandung berkah. Memasukkan berkah sebagai input produksi adalah rasional, sebab berkah mempunyai andil (share) nyata dalam membentuk output. Dalam alam kasat mata input berkah memang tidak bersifat materi sebagaimana faktor-faktor produksi lainnya, akan tetapi input human capital juga tidak bersifat materi dan bisa dimasukkan dalam input produksi.

Dengan demikian, produk yang dihasilkan dengan menggunakan human capital yang kualitasnya rendah akan menghasilkan produk yang berkualitas rendah juga, demikian juga sebaliknya, produk yang dengan mempergunakan human capital yang berkualitas tinggi akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Demikian halnya, barang/jasa yang diproduksi dengan input berkah akan menghasilkan output yang bertambah berkah sehingga nilai kemaslahatannya semakin bertambah, demikian juga sebaliknya barang/jasa yang diproduksi dengan input yang tidak berkah akan menghasilkan output yang tidak berkah bahkan berdampak pada kemadzaratan dan kerusakan.

C. Kemuliaan Harkat Kemanusiaan Sebagai Karakter Produksi

Kemuliaan harkat kemanusiaan harus mendapat perhatian besar dan utama dalam keseluruhan aktivitas produksi. Segala aktivitas yang bertentangan dengan pemuliaan harkat kemanusiaan dan dikatakan bertentangan dengan ajaran Islam. Karakter produksi seperti ini akan membawa implikasi penting dalam teori produksi. Salah satu contoh dalam memandang kedudukan manusia adalah tenaga kerja dan kapital. Keduanya dapat mengalami substitusi tergantung keadaan. Substitusi antara manusia/tenaga kerja dengan kapital pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

(14)

Sebagai contoh substitusi ini kita asumsikan pada kehidupan jaman dahulu ketika manusia masih rendah ketenagakerjaannya. Semakin lama kualitas tenaga kerja akan meningkat. Hal ini membuat manusia harus ditempatkan dalam produksi yang bernilai tinggi juga. Sementara itu, untuk produksi pekerjaan barang-barang remeh akan digantikan oleh peralatan atau mesin. Seperti inilah substitusi yang bersifat alamiah tersebut dimana substitusi tersebut terjadi ketika perubahan zaman jangka waktu yang panjang.

Islam sangat menganjurkan substitusi natural karena sifatnya akan lebih meningkatkan mashlahah yang lebih tinggi dimana manusia semakin berkembang kualitas kerjanya. Sebaliknya Islam tidak menganjurkan adanya substitusi yang dipaksakan (forced). Hal ini disebabkan karena substitusi yang dipaksakan akan menimbulkan kesengsaraan hidup manusia yang juatru menurunkan harkat manusia. Namun perlu diketahui substitusi natural proses terjadi dalam jangka waktu panjang. Sementara paradigma jangka berproduksi sebenarnya adalah paradigma jangka pendek. Sehingga menjadi tidak tepat jika konsep jangka panjang digambarkan kepada jangka pendek.

D. Eksplorasi dan Pembentukan Konsep Produksi

Semangat produksi untuk menghasilkan maslahah maksimum perlu dituntun dengan nilai dan prinsip ekonomi Islam. Nilai dan prinsip pokok dalam produksi adalah amanah dan profesionalisme.

Dua prinsip pokok ini diambil dari ayat Al-Qur’an yang mengatakan: “..."Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. 28: 26).

(15)

12

pokok ini merupakan sebuah piranti untuk mewujudkan maslahah yang maksimum, yang akan kita jelaskan sebagai berikut:

1. Amanah untuk mewujudkan maslahah maksimum

Amanah adalah salah satu nilai penting dalam Islam, yang diturunkan dari nilai dasar khilafah, yang harus terus dijunjung tinggi. pengertian amanah dalam konteks ini adalah penggunaan sumber daya ekonomi untuk mencapai tujuan hidup manusia (falah). Sumber daya yang ada di alam semesta ini oleh Allah diamanahkan kepada manusia. Manusia tidak diperbolehkan untuk mengeksplorasi dan memperolehnya dengan cara yang tidak benar. Singkatnya, amanah di sini dimaknai sebagai usaha untuk memanfaatkan surnber daya yang ada dengan cara yang sebaik-baiknya untuk mencapai kemakrnuran manusia di muka bumi. Kegiatan produksi harus memanfa’atkan dengan sebaik-baiknya sumber daya yang melimpah yang ada di sekitarnya. Ketika di lingkungan sekitar tidak ada sumber daya yang bisa dimanfa’atkan, maka manusia bisa mencari sumber daya pada lingkungan yang lebih luas dan pada sektor lain yang lebih luas, demikian seterusnya. Sehingga prioritas produksi dalam Islam adalah dengan memanfa’atkan sumber daya lokal yang melimpah

2. Profesionalisme

Dalam ajaran Islam, setiap muslim dituntut untuk menjadi pelaku produksi yang profesional, yaitu memiliki profesionalitas dan kompetensi di bidangnya. Segala sesuatu harus dikerjakan dengan baik, karenanya setiap urusan harus diserahkan kepada ahlinya. Maka tidak lain dengan cara menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan secara intensif sehingga profesionalitas dapat tercapai bagi sumber daya manusia yang dibutuhkan.

(16)
(17)

BAB III

SIMPULAN

a. Simpulan

Dalam mendefinisikan produksi, secara esoteris “produksi” dalam bahasa Arab disebut: “al-intaj” yang memiliki makna ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan produk) atau “khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdamin muzayyajin min anashiril intaji dhamina itharu zamanin muhaddadin” (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas).

Aktifitas produksi harus balance dengan kegiatan konsumsi. Apabila keduanya tidak balance maka akan terjadi ketimpangan dalam kegiatan berekonomi. Hal ini dapat dideskripsikan, apabila barang/jasa yang diproduksi itu lebih banyak dari permintaan konsumsi maka akan terjadi ketimpangan ekonomi yaitu berupa penumpukan output produksi sehingga terjadi kemubadziran hasil prooduksi. Inilah yang disebut israf (produksi yang berlebihan) yang dalam ekonomi Islam dianggap sebagai bentuk dosa yang menjadikan output produksi itu tidak ada nilai maslahah sehingga tidak berkah yang menjadikannya menjadi output produksi yang tidak produktif.

Sebaliknya jika aktifitas konsumsi lebih banyak permintaannya dari aktifitas produksi maka akan menimbulkan problematika ekonomi yaitu berupa tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi yang berdampak pada kemiskinan dan malapetaka sosial dan ekonomi.

(18)

Afzalurrahman, “Doktrin Ekonomi Islam Jilid I”, PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995. Yogyakarta.

Eko Suprayitno, “Ekonomi Mikro Perspektif Islam”, UIN-Malang Press, Cet. I 2008, Malang.

Karim, Adiwarman Azwar, “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam”, Raja Grafindo Persada, 2006, Jakarta.

Manan, M. Abdul, “Teori dan Praktek Ekonomi Islam”, PT. Dhana Bhakti Wakaf, Yogyakarta.

Al-Jamal, Muhammad, “Mausu’atu al-Iqtishad al-Islamy”, Dar al-Kitab al-Mashry, tahun 1980.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan bobot harian yang mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya padat penebaran (Gambar 3), akan tetapi karena tingkat

Kebutuhan Energi seseorang menurut FAO/WHO (1985) adalah konsumsi energi berasal dari makanan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi seseorang bila ia

… Hukum Islam yang bersifat qadâ’i tidak lagi terbatas pada keputusan seseorang, tetapi telah menyentuh kepentingan orang lain dan karena itu harus dilaksanakan

… Hukum Islam yang bersifat qadâ‟i tidak lagi terbatas pada keputusan seseorang, tetapi telah menyentuh kepentingan orang lain dan karena itu harus dilaksanakan

Jika pemenuhan kebutuhan akan satu jenis barang dilakukan secara terus menerus, utilitas yang diperoleh konsumen akan semakin tinggi, tetapi setiap tambahan konsumsi satu

Barang industri dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen tidak untuk konsumsi sendiri, akan tetapi barang tersebut dibeli untuk dipergunakannya sebagai alat usaha atau alat

Sementara untuk di Indonesia sendiri, seni press bunga ini memang belum begitu populer, tetapi seiring dengan waktu, mulai banyak kalangan masyarakat yang

Selain itu, hasil analisis Forecasting menunjukkan tren hasil proyeksi kebutuhan akan konsumsi komoditas beras di Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2020- 2024 mengalami trend positif