• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Jam Kerja Dan Jaminan Kesetan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Stres Kerja Karyawan Pada Pt Karya Tanah Subur Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Jam Kerja Dan Jaminan Kesetan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Stres Kerja Karyawan Pada Pt Karya Tanah Subur Medan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jam Kerja

2.1.1. Pengertian Jam Kerja

Jam Kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, dapat dilaksanakan

siang hari dan/atau malam hari. Merencanakan pekerjaan-pekerjaan yang akan

datang merupakan langkah-langkah memperbaiki pengurusan waktu. Apabila

perencanaan pekerjaan belum dibuat dengan teliti, tidak ada yang dapat dijadikan

panduan untuk menentukan bahwa usaha yang dijalankan adalah selaras dengan

sasaran yang ingin dicapai.Dengan adanya pengurusan kegiatan-kegiatan yang

hendak dibuat, sesorang itu dapat menghemat waktu dan kerjanya Su’ud,

(2007:132).

Menurut Komaruddin(2006 : 235) analisa jam kerja adalah proses untuk

menetapkan jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan untuk

merampungkan suatu pekerjaan dalam waktu tertentu.

Jam kerja merupakan bagian paling umum yang harus ada pada sebuah

perusahaan. Jam kerja karyawan umumnya ditentukan oleh pemimpin perusahaan

berdasarkan kebutuhan perusahaan , peraturan pemerintah, kemampuan karyawan

bersangkutan.

Menurut Darmawan (2006:525),timework (upah menurut waktu) adalah

suatu sistem penentuan upah yang dibayar menurut lamanya / jangka waktu yang

terpakai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, misalnya per hari, per jam, per

(2)

batasan waktu kerja maksimal, dan pemberian waktu istirahat , serta kompensasi

pelampauan dari ketentuan tersebut.

Menurut Su’ud (2007:131), ada kaitan antara psikologi dan pekerjaan.

Pekerjaan pada tingkat bawahan merasakan gaji yang dibayar adalah untuk

membeli waktu mereka.Bagaimanapun, pihak pengurusan pada organisasi besar

mencoba mengadakan kebebasan waktu bekerja kepada pekerjaan bagian

atasan.Cara ini didapati menimbulkan tanggung jawab akibat desakan waktu dan

memberikan pencapaian prestasi kerja yang lebih baik.

Menurut Su’ud (2007:134) mendukung pandangan ini dengan

mengaitkannya dengan aplikasi administrasi bahwa sistem file yang baik dan

mempunyai tempat penyimpanan semua hal-hal yang ada sangkut paut dengan

keperluannya adalah suatu cara untuk menjadi lebih teratur. Susunan kegiatan

yang teratur adalah kunci pengurusan waktu kerja yang baik.

2.1.2. Pengaturan Jam Kerja

Menurut Kosasih (2009:124) menyatakan bahwa pengaturan waktu

termasuk dalam perencanaan tenaga kerja yang berkenaan dengan jadwal kerja

dan jumlah tenaga kerja yang akan dipertahankan. Dalam menentukan jadwal

kerja, perusahaan terikat oleh peraturan ketenagakerjaan yang dikeluarkan ILO

(International Labor Organizational) yang menetapkan perusahaan

memperkerjakan pegawainya selama 40 jam/minggu.Bank atau perkantoran

lainnya, waktu kerjanya siang hari selama 8 jam dengan istirahat 1 jam (pukul

08.00 - pukul 16.00) kalau lebih dari 40 jam, maka kelebihan itu harus

(3)

tenaga kerja yang dipekerjakan tergantung kepada keperluan, ada yang mengikuti

permintaan pasar atau memelihara tenaga kerja yang konstan.Dua-duanya

menimbulkan konsekwensi terhadap biaya tenaga kerja (labor cost). Untuk tenaga

kerja yang didasarkan pada permintaan produk akan cenderung menjadi biaya

tenaga kerja yang bersifat variabel (variabel cost), sedangkan kebijaksanaan untuk

tenaga kerja yang konstan cenderung menjadi biaya hidup (fixed cost).

Menurut Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,

khususnya pasal 77 sampai dengan 85.Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003

mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja.

Ketentuan jam kerja ini telah diatur pasal 77 ayat 2, UU No. 13/2003 yaitu:

1. 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja

dalam satu minggu.

2. 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja

dalam 1 minggu

Pasal 78 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan pengusaha yang mempekerjakan

pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat 2

harus memenuhi syarat:

1. Ada persetujuan perkerja/buruh yang bersangkutan

2. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1

hari dan 14 jam dalam 1 minggu.

Pasal 79 ayat 1 dan 2, UU No.13/2003 pengusaha wajib memberikan waktu

(4)

1. Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah

bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut

tidak termasuk jam kerja

2. Istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu)

minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu;

3. Cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah

pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan

secara terus menerus;

4. Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada

tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi

pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara

terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh

tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun

berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6

(enam) tahun.

Menurut Su’ud (2007:134) kriteria–kriteria pengurusan waktu kerja yang

efektif sebagai berikut:

1. Memahami sepenuhnya pekerjaan yang akan di laksanakan

2. Memberi keutamaan kerja menurut kepentingan

3. Mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan yang banyak

4. Mengawasi masalah berulah supaya tidak terjadi lagi

5. Menetapkan masa selesainya pekerjaan

(5)

7. Senantiasa menyadari nilai waktu dalam setiap perkerjaan yang dikerjakan

8. Mencatat hal-hal yang perlu dikerjakan di masa depan

9. Membentuk daftar penggunaan waktu kerja

10.Menilai keberhasilan kerja berdasarkan objektif pekerjaan

11.Mempunyai system arsip penyimpanan informasi yang lengkap

Menurut Su’ud (2007:137),kriteria penggunaan waktu kerja yang efektif

sebagai berikut:

1. Membiasakan diri dengan metode penggunaan waktu yang efektif

2. Semasa rapat-rapat yang diadakan supaya mencoba membuat kesimpulan

tentang:

a. Masalah-masalah yang dibicarakan

b. Keputusan-keputusan yang dibuat

c. anggung jawab yang diberikan

3. Yakin dalam membuat keputusan

4. Menggunakan waktu senggang untuk menyiapkan pekerjaan-pekerjaan

yang belum selesai

5. Mengatur hal-hal yang hendak dikerjakan sebelumnya memulai suatu

kunjungan atau perjalanan

6. Melibatkan pemimpin setempat dalam kegiatan-kegiatan yang dijalankan.

7. Menggunakan sumber yang tersedia untuk menjalankan kerja

8. Mengkoordinir masa, waktu kegiatan dijalankan.

2.2. Jaminan Keselamatan Kesehatan Kerja (K3)

(6)

Menurut Mathis dan Jackson (2002:245), Keselamatan adalah merujuk

pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang

terkait dengan pekerjaan.Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik,

mental dan stabilitas emosi secara umum.Menurut Mathis dan Jackson

(2006:412), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kegiatan yang

menjamin terciptanya kondisi kerja yang aman, terhindar dari gangguan fisik dan

mental melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan dan kontrol terhadap

pelaksanaan tugas dari para karyawan dan pemberian bantuan sesuai dengan

aturan yang berlaku, baik dari lembaga pemerintah maupun perusahaan dimana

mereka bekerja.

Menurut Yuli (2005:209),menyatakan bahwa setiap perusahaan

mempunyai tugas ganda yakni disamping memperoleh profit bagi perusahaan juga

mempunyai tanggung jawab sosial terhadap lingkungan intern perusahaan.

Lingkungan internal perusahaan antara lain adanya jaminan keamanan dalam

bekerja dan upah yang layak. Bila hal ini telah dapat dicapai maka akan

memberikan peluang bisnis ke depan yang lebih baik sehingga perusahaan akan

lebih survive dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Menurut Husni (2005:139), bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

melindungi pekerja/buruh guna mewujudkan kinerja yang optimal. Upaya tersebut

dilakukan dengan tindakan pencegahan untuk memberantas penyakit dan

kecelakaan akibat kerja, bagaimana upaya pemeliharaan serta peningkatan gizi

dan juga bagaimana mempertinggi efisiensi dan produktivitas manusia sehingga

(7)

masalah.Kemudian perlindungan terhadap masyarakat di sekitar lingkungan

perusahaan agar terbebas dari polusi dan limbah produksi.

Menurut Yuli(2005:214), apabila perusahaan dapat melaksanakan program

keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik maka perusahaan akan dapat

memperoleh manfaat sebagai berikut :

1. Meningkatkan produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang

hilang.

2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih komitmen.

3. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi

4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah

karena menurunnya pengajuan klaim.

5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari partisipasi

dan ras kepemilikan.

6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra

perusahaan.

7. Dan kemudian perusahaan juga dapat meningkatkan keuntungannya secara

substansial.

Perwujudan program K3 yang ditujukan sebagai program perlindungan

khusus bagi tenaga kerja adalah Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yaitu suatu

program perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang

sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan

pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja

(8)

Program Jamsostek lahir dan dilegitimasi dalam Undang-undang No.3 Tahun

1992 yang meliputi :

1. Jaminan Kecelakaan Kerja

2. Jaminan Kematian

3. Jaminan Hari Tua

4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Jamsostek merupakan instrumen atau alat untuk mencegah dan

mengurangi risiko yang mungkin terjadi pada karyawan. Program Jamsostek

harus diimplementasikan perusahaan karena memiliki konsekuensi hukum apabila

dilanggar.

Menurut Husni (2005 : 131) dalam pasal 86 ayat 1 Undang-undang No.13

Tahun 2003 menyebutkan bahwa setiap pekerja / buruh mempunyai hak untuk

memperoleh perlindungan atas :

a. Keselamatan dan kesehatan kerja

b. Moral dan kesusilaan

c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai

agama.

Berdasarkan upaya yuridis formil yang dijabarkan melalui pasal-pasal

tersebut, dapat disimpulkan bahwa aturan penyelenggaraan K3 pada hakikatnya

adalah pengadaan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan,

pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan,

pemeliharaan peralatan dalam bekerja serta pengaturan dalam penyimpanan

(9)

menimbulkan bahaya kecelakaan sehingga potensi bahaya dapat dieliminir.

Ditinjau dari segi keilmuan, keselamatan dan kesehatan kerja dapat diartikan

sebagai ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah

kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja ditempat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus diterapkan dan dilaksanakan

di setiap tempat kerja (perusahaan). Tempat kerja adalah setiap tempat yang

didalamnya terdapat 3 (tiga) unsur, yaitu :

1. Adanya suatu usaha, baik itu usaha yang bersifat ekonomi maupun usaha

sosial.

2. Adanya sumber bahaya.

3. Adanya tenaga kerja yang bekerja di dalamnya, baik secara terus-menerus

maupun hanya sewaktu-waktu.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu spesialisasi tersendiri,

karena didalam pelaksanaannya disamping dilandasi oleh peraturan

perundang-undangan juga dilandasi oleh ilmu-ilmu tertentu, terutama ilmu teknik dan medik.

Demikian pula keselamatan dan kesehatan kerja merupakan masalah yang

mengandung banyak aspek, misalnya ; hukum, ekonomi maupun sosial.

Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan dilakukan

secara bersama-sama oleh pimpinan atau pengurus perusahaan dan seluruh tenaga

kerja.Dalam pelaksanaannya pimpinan atau pengurus dapat dibantu oleh petugas

keselamatan dan kesehatan kerja dari perusahaan yang bersangkutan.Yang

dimaksud petugas keselamatan dan kesehatan kerja adalah karyawan yang

(10)

kerja, dan ditunjuk oleh pimpinan atau pengurus perusahaan maupun Departemen

Tenaga Kerja. Sedangkan yang bertugas mengawasi atas ditaati atau tidak

peraturan perundang-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja ini

menurut Husni (2005:133)adalah :

1. Pegawai pengawas keselamatan dan kesehatan kerja yaitu pegawai teknis

berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri

Tenaga Kerja.

2. Ahli keselamatan dan kesehatan kerja yaitu tenaga teknis berkeahlian khusus

dari luar Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.

2.2.2. Tujuan Jaminan Keselamatan Kesehatan Kerja (K3)

Tujuan utama dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk sedapat

mungkin memberikan kondisi kerja yang aman dan sehat kepada setiap karyawan

dan untuk melindungi sumber daya manusia. MenurutYuli (2005:213), kebijakan

keselamatan dan kesehatan kerja dibuat dengan tujuan sebagai berikut:

1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dalam melakukan pekerjaan

untuk kesejahteraan hidupnya

2. Menjamin keselamatan kerja dari setiap orang yang berada di tempat

kerja.

3. Menggunakan sumber-sumber produksi dan dipergunakan secara aman

dan efisien.

Sedangkan menurut Mangkunegara(2009:162)tujuan keamanan dan

(11)

1. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keamanan dan kesehatan kerja

baik secara fisik, sosial dan psikologis.

2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja yang digunakan sebaiknya

seefektif mungkin.

3. Agar semua hasil produksi dipelihara keamananya

4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi

pegawai.

5. Agar meningkat kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja.

6. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan

atau kondisi kerja.

7. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

2.2.3.Faktor-Faktor Yang MempengaruhiJaminan Keselamatan Kesehatan Kerja (K3)

Sebelum menguraikan usaha-usaha dalam meningkatkan keselamatan dan

kesehatan kerja maka akan diuraikan mengenai penyebab terjadinya kecelakaan

kerja. Menurut Mangkunegara (2001:162) terdapat beberapa hal yang

menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, yaitu sebagai berikut:

a. Keadaan tempat lingkungan kerja yang terdiri dari:

1. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang

diperhitungkan keamanannya.

2. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.

3. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.

(12)

1. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor,

berdebu dan berbau tidak en ak)

2. Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.

c. Pengaturan penerangan yang terdiri dari:

1. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat

2. Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.

d. Pemakaian peralatan yang terdiri dari:

1. Pengamanan peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.

2. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengamanan yang baik.

e. Kondisi fisik dan mental pegawai yang terdiri dari:

1. Kerusakan alat indera, stamina pegawai yang tidak stabil

2. Emosi pegawai tidak stabil, kepribadian pegawai rapuh, cara berfikir dan

kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pegawai

ceroboh, kurang cermat dan kurang pengetahuan dalam penggunaan

fasilitas kerja terutama fasilitas kerja yang membawa resiko bahaya.

2.2.3. IndikatorJaminan Keselataman dan Kesehatan kerja

Menurut Sunyoto (2013:240)menyebutkan bahwa indikator dari kesehatan

dan keselamatan kerja adalah sebagai berikut :

1. Pembiayaan kesehatan

2. Pelayanan kesehatan.

3. Perlengkapan.

4. Prosedur.

(13)

6. Wewenang pekerjaan.

7. Kelalaian.

MenurutMenurut Mathis dan Jackson(2002:259)program manajemen

keselamatan dan kesehatan kerja yang efektif biasanya terdiri dari :

a. Tanggung jawab dan komitmen perusahaan

b. Kebijakan dan disiplin keselamatan kerja

c. Komunikasi dan pelatihan keselamatan kerja

d. Komite keselamatan kerja0

e. Inspeksi, penyelidikan kecelakaan kerja, dan riset

f. Evaluasi terhadap usaha-usaha keselamatan kerja

2.3. Stres Kerja

2.3.1. Pengertian Stres Kerja

Menurut Mathis dan Jackson (2002: 22)Stress kerja adalah suatu respon

adaptif, dihubungkan oleh karakteristik dan atau proses psikologi individu yang

merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan eksternal, situasi atau peristiwa

yang menempatkan tuntutan psikologis dan atau fisik khusus pada seseorang.

Menurut (Robbins 2006:3) menyatakan bahwa stres adalah kondisi

dinamik yang di dalamnya individu menghadapi peluang, kendala (constraints)

atau tuntutan (demands) yang terkait dengan apa yang sangat diinginkannya dan

yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti tetapi penting. Secara lebih

khusus, stres terkait dengan kendala dan tuntutan. Kendala adalah kekuatan yang

mencegah individu dari melakukan apa yang sangat diinginkan sedangkan

(14)

2004:132) karyawan dapat menjadi pecandu kerja, yaitu orang yang selalu ingin

sempurna dan berenergi tinggi. Karyawan yang memiliki kemampuan

mengendalikan tingkat stress, akan tetapi mereka membebani. Karyawan lain

dengan tuntutan-tuntutan yang tidak dapat dicapai. Seperti halnya kecanduan

alkohol, kecanduan kerja juga sulit untuk disembuhkan.

Menurut Fathoni (2006:176)mengatakan bahwa jam kerja sebagai faktor

penyebab stres kerja dengan mengatakan bahwa terdapat enam faktor penyebab

stres kerja karyawan antara lain:

1. Beban kerja yang sulit dan berlebihan

2. Tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan tidak wajar

3. Waktu dan peralatan yang kurang

4. Konflik antara pribadi dengan pimpinan atau kelompok kerja

5. Balas jasa yang terlalu rendah, masalah-masalah kerluarga.

MenurutNurhendar (2007:5)“Stres adalah suatu tanggapan adaptif, dibatasi oleh

perbedaan individual dan proses psikologis, yaitu suatu konsekuensi dari setiap

kegiatan (lingkungan), situasi atau kejadian eksternal yang membebani tuntutan

psikologis atau fisik yang berlebihan terhadap seseorang”.

2.3.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stres Kerja

Menurut Robbins (2006:105)menyatakan ada beberapa penyebab stres

dalam pekerjaan, yaitu :

1. Faktor Lingkungan (Ketidakpastian ini meliputi ketidakpastian ekonomi,

(15)

2. Faktor Organisasi (tuntutan tugas, tuntutan peran dan tuntutan antar

pribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi dan tingkat hidup

organisasi)

3. Faktor Individual (isu keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik

kepribadian yang intern)

Menurut Handoko (2008: 201), mengatakan “ada dua kategori penyebab

stress, yaitu Stress on the job dan Stress of the job”.

Berikut ini penjelasannya :

a. Stress on the job

Adalah suatu kondisi dimana pegawai mengalami suatu tekanan dalam

melaksanakan pekerjaannya. Penyebab stress on the job, adalah:

1) Beban kerja yang berlebihan

2) Tekanan atau desakan waktu

3) Kualitas supervisi yang jelek

4) Iklim politis yang tidak aman

5) Wewenang yang tidak mencukup untuk melaksanakan tanggung jawab

6) Perbedaan antara nilai-nilai perusahaan dengan pegawai

7) Konflik antara pribadi dan antar kelompok

8) Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai

9) Kemenduaan peran (role ambiguity)

10) Berbagai bentuk perubahan

11) Frustasi

(16)

Adalah suatu kondisi dimana pegawai mengalami suatu tekanan dari luar

pekerjaannya. Penyebabnya adalah:

1) Kekhawatiran finansial

2) Masalah-masalah fisik

3) Masalah-masalah perkawinan (misal, perceraian)

4) Perubahan-perubahan yang terjadi di tempat tinggal

5) Masalah-masalah pribadi lainnya misalnya, kematian sanak saudara

Penyebab stress di tempat kerja dibagi menjadi 4 kategori, menurut

Gibson & Ivanevich, (2003:72)yaitu :

a. Stressor lingkungan fisik

Penyebab-penyebab stress yang bersifat lingkungan fisik sering disebut

stressor kerah biru (blue-collar stressors) karena mereka lebih merupakan

masalah di dalam pekerjaan pekerjaan kasar, misalnya saja mengenai

masalah pencahayaan, suhu, udara, dan lain-lain.

b. Stressor individual

Penyebab-penyebab stress pada tingkat individual diantaranya mengenai

masalah konflik peran, peran ganda, beban kerja berlebihan, tanggung

jawab dan kondisi kerja.

c. Stressor kelompok

Koefisien setiap organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan diantara

kelompokkelompok, karakteristik kelompok dapat menjadi stressor kuat

(17)

diantaranya mengenai hubungan yang buruk antara bawahan dengan

atasan dan antara teman sekerja.

d. Stressor organisasional

Penyebab-penyebab stress pada tingkat organisasional diantaranya

masalah desain struktur kerja yang jelek, kondisi politik yang buruk dan

sebagainya

2.3.3. Indikator Stres Kerja

Indikator-indikator stress kerja menurut Robbins (2006:105)yaiu:

1. Indikator pada psikologis, meliputi :

a) Cepat tersinggung.

b) Tidak komunikatif.

c) Banyak melamun.

d) Lelah mental.

2. Indkator pada fisik, meliputi :

a) Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah.

b) Mudah lelah secara fisik..

c) Pusing kepala.

d) Problem tidur (kebanyakan atau kekurangan tidur).

3. Indikator pada prilaku, meliputi :

a) Merokok Berlebihan

b) Menunda atau menghindari pekerjaan.

c) Perilaku sabotase.

(18)

2.4 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Peneliti Jurnal

Penelitian Variabel Hasil Penelitian 1 Syed

Job stress and employees’ productivity: case of azad kashmir public health sector

Lack of financial rewards,

Inflexibility in work hours, personal issues, Low control over the work

Lack of financial rewards, Inflexibility in work hours, Personal issues, Low control over the work environment and lack of financial rewards contributed more in creating job stress among the public health sector employees.TheAJ&K government and ministry of health required to devise employee oriented policies to magnify the productivity and to mitigate the job stress among the public health sector kerja dan disiplin kerja terhadap

Jam kerja, disiplin kerja

(variabel bebas) stress

kerja(variabel terikat)

Hasil uji parsial (uji-t) bahwa jam kerja dan disiplin kerja

(19)

Sambungan hal 19

3 Nasution, Verenny Damayanti (2012)

Pengaruh jam kerja dan jaminan

keamanan kerja terhadap stres kerja karyawan pada PT. Kuala Jaya Samudra Kuala Tanjung. bahwa jam kerja dan jaminan

(20)

2.5 Kerangka Konseptual

Menurut Robbins (2006:3) Stres adalah kondisi dinamik yang di dalamnya

individu menghadapi peluang, kendala (constraints) atau tuntutan (demands) yang

terkait dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan

sebagai tidak pasti tetapi penting. Secara lebih khusus, stres terkait dengan

kendala dan tuntutan. Kendala adalah kekuatan yang mencegah individu dari

melakukan apa yang sangat diinginkan sedangkan tuntutan adalah hilangnya

sesuatu yang sangat diinginkan.

Menurut Fathoni(2006:176) salah satu faktor penyebab stres kerja adalah

beban kerja yang sulit dan berlebihan, Beban kerja yang sulit dan berlebihan

menyebabkan karyawan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk

menyelesaikannya.Menurut Komaruddin (2006 : 235) analisa jam kerja adalah

proses untuk menetapkan jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan

untuk merampungkan suatu pekerjaan dalam waktu tertentu. Undang-Undang

No.13/2003. Ketentuan waktu kerja diatas hanya mengatur batas waktu kerja

adalah maksimal 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Jika keadaan ini terus

berlanjut maka diindikasikan menimbulkan stres kerja bagi karyawannya.

Mathis dan Jackson (2002:245),Keselamatan adalah merujuk pada

perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait

dengan pekerjaan.Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan

stabilitas emosi secara umum.Menurut Handoko (2008: 201),mengatakan “ada

dua kategori penyebab stress, yaitu Stress on the job dan Stress of the job”.Stress

(21)

pekerjaannya.Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran finansial.

Kekhawatiran finansial salah satunya adalah jaminan K3, yang dimana kesehatan

dan keselamatan karyawan ditanggung perusahaan dengan bekerja sama dengan

perusahaan asuransi sebagai pihak ketiga. Apabila sewaktu-waktu karyawan

mengalami kecelakaan kerja, dan tidak terdapat jaminan yang akan

mempertanggungjawabkan kecelakaan dan kesehatan atas dirinya, maka akan

timbul stress kerja pada diri karyawan tersebut.Dari uraian tersebut, secara

skematis dapat digambarkan kerangka konseptual dalam penelitian ini.

Gambar 2.1 : Kerangka konseptual

Sumber: Komaruddin (2006 : 235), Mathis dan Jackson (2002:245), Robbins (2006:3), Fathoni (2006:176), Handoko (2008: 201)

2.6. Hipotesis

Menurut Sugiyono (2005:306) Hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara berdasarkan rumusan masalah yang kebenarannya akan diuji

dalam pengujian hipotesis. Berdasarkan kerangka konseptual, maka hipotesis

penelitian adalah :

Jam Kerja (X1)

Jaminan keselamatan dan kesehatankerja(X2)

(22)

1. Jam kerja karyawan berpengaruh positif dan signifikan terhadap stres kerja

karyawan pada PT Karya Tanah Subur Medan.

2. Jaminan keselamatandan kesehatan kerja karyawan berpengaruh positif

dan signifikan terhadap stres kerja karyawan pada PT Karya Tanah Subur

Medan

3. Jam kerja karyawan dan jaminan keselamatandan kesehatan kerja

karyawan secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 : Kerangka konseptual Sumber: Komaruddin (2006 : 235), Mathis dan Jackson (2002:245), Robbins (2006:3),

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menyatakan bahwa variabel stres kerja (X1) dan Motivasi (X2) tidak berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan karena memiliki t hitung yang lebih

Hasil uji t menunjukkan bahwa variabel stres kerja yang terdiri dari stres kerja lingkungan (X1), stres kerja organisasi (X2), dan stres kerja individu (X3)

Hasil penelitian dengan menggunakan uji parsial (uji t) membuktikan bahwa variabel stres kerja secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja karyawan

Uji parsial menunjukkan bahwa hanya Program kesehatan kerja yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, sementara Program keselamatan kerja

Pada pengujian secara serempak (Uji F) diketahui bahwa variabel Keselamatan, variabel Kesehatan, dan variabel Keamanan Kerja secara bersama-sama berpengaruh positif

Pada pengujian secara serempak (Uji F) diketahui bahwa variabel Keselamatan, variabel Kesehatan, dan variabel Keamanan Kerja secara bersama-sama berpengaruh positif

Berdasarkan uji T, keselamatan dan kesehatan kerja K3 X1 memiliki nilai 7,163 dan kepuasan kerja X2 memiliki nilai 7,969 yang artinya terdapat pengaruh signifikan, secara Parsial

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel Work Family Conflict X1, Stres Kerja X2, dan Beban Kerja X3 berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Kerja.. Hasil uji F