S M A E TG T ( T N E M A N R U O T

271 

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)

ii v x .

5 l e b a

(19)
(20)
(21)
(22)

i x x n

a ri p m a

L 1 :2a Soa ldanJ awabanPreTes tSiklusI I ... 2 22 n

a ri p m a

L a1 :3 Soa ldanJ awabanPos tTes tSiklusI I ... 2 72 n

a ri p m a

L 1 :4a FormSko rSiklusI ( Is)i... 2 13 n

a ri p m a

(23)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Di zaman modern seperti sekarang ini, kualitas sumber daya manusia di Indonesia sangat rendah. Hal ini disebabkan karena lemahnya sistem pendidikan dan minimnya sarana serta prasarana yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia harus ditangani secara sungguh-sungguh dan terstruktur oleh pemerintah guna meningkatkan kualitas sistem pendidikan di Indonesia.

(24)

sekarang ini banyak guru yang malas untuk mengembangkan keterampilan teknik mengajarnya. Guru lebih senang menggunakan metode ceramah karena dianggap mudah dan simpel. Hal ini menyebabkan kinerja guru di dalam kelas dilakukan secara monoton yang membuat situasi dan kondisi kelas menjadi membosankan.

Sebagai seorang guru sekaligus sebagai pelaku pendidikan kita dituntut agar dapat memberikan keterampilan dan kecakapan hidup sebagai bekal pengalaman belajar siswa. Hal ini disebabkan karena pada kenyataannya banyak sekali masalah yang menyebabkan output kita jauh dari yang kita harapkan sebelumnya. Faktor-faktor yang menyebabkan hasil belajar para siswa rendah sangatlah beragam, bisa terjadi karena faktor internal maupun eksternal. Faktor internal terjadi dalam diri siswa itu sendiri, misalnya mengenai cara belajar, minat belajar, kepercayaan diri, dan motivasi belajar. Faktor eksternal terjadi di luar pribadi siswa, seperti guru, strategi pembelajaran, model pembelajaran, dan sarana serta prasarana di sekolah, kurikulum, dan lingkungan. Dari masalah yang terjadi ini, kita dapat mengetahui bahwa rendahnya hasil belajar siswa bukan hanya kesalahan guru sebagai pendidik di kelas saja, namun dari pribadi siswa itu sendiri juga dapat dijadikan sebagai sumber masalah.

(25)

kegiatan pembelajaran tersebut. Guru diwajibkan untuk mampu membuat strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan agar dapat mengembangkan kompetensi siswa baik kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kegiatan belajar mengajar yang dibuat menarik dan menyenangkan akan membuat suasana kelas menjadi lebih aktif sehingga nantinya dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa di kelas khususnya untuk mata pelajaran Ekonomi.

Ada banyak sekali model pembelajaran yang dapat digunakan oleh para guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Model- model pembelajaran ini sangat membantu para guru di dalam menyampaikan materi pelajaran. Disamping itu menggunakan model-model pembelajaran yang bervariasi juga dapat menciptakan suasana belajar mengajar di kelas menjadi lebih menarik dan menyenangkan, serta para siswa juga menjadi lebih aktif sehingga nantinya akan berpengaruh pada prestasi siswa di kelas. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang peningkatan hasil belajar melalui penerapan metode belajar kooperatif yang berbasiskan permainan (game).

Menurut Hopkins (Noornia, 1997:14) Teams Games Tournament (TGT)

(26)

maupun antar kelompok ketika penerapan pembelajaran TGT ini dilakukan. Sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif, TGT sangat mudah diterapkan karena melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus membedakan adanya perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya, dan adanya unsur reinforcement. Dengan penerapan model pembelajaran TGT ini, diharapkan siswa dapat termotivasi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, meningkatkan keaktifan proses pembelajaran dan melatih kemampuan berpikir siswa, sehingga nantinya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Melihat kondisi kegiatan pembelajaran sekarang ini di sekolah, banyak siswa mengeluh tentang ketrampilan dan kreatifitas guru dalam mengajar di kelas. Hal ini menyebabkan siswa menjadi malas, minat membaca menjadi berkurang, dan prestasi belajar menurun. Terutama untuk pelajaran ekonomi, dalam mata pelajaran ini siswa harus banyak membaca dan berlatih supaya dapat mengerti dan memahami konsep serta materi yang diajarkan. Dengan kondisi yang seperti inilah guru dituntut untuk mampu berinovasi dan memberikan ketrampilannya dalam membuat model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, karena model pembelajaran ternyata juga dapat dipercaya sebagai suatu sarana pendukung kegiatan belajar mengajar yang efektif yang dapat meningkatkan prestasi siswa.

(27)

itu, penulis sangat tertarik melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Tipe Teams Games Tournament (TGT) dalam Pembelajaran Ekonomi untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta”

B.Batasan Masalah

Penerapan metode pembelajaran bisa dilakukan dalam berbagai jenis dan macam, tetapi dalam penelitian ini hanya membatasi pada model pembelajaran kooperatif tipe TGT karena model ini mudah untuk diterapkan dan juga dapat melatih keaktifan siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam proses pembelajaran mata pelajaran Ekonomi SMA.

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan bagaimana penerapan model pembelajaran tipe TGT untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta pada mata pelajaran Ekonomi?

D.Tujuan Penelitian

(28)

E.Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Sebagai calon guru, peneliti dapat belajar untuk mampu memanfaatkan dan menerapkan metode pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar yang sesuai dengan tuntutan pendidikan saat ini yaitu yang berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator.

2. Bagi Guru

Dengan adanya penelitian ini dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif, dapat memberikan saran dan masukan untuk para guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam menerapkan metode-metode pembelajaran sehingga diharapkan kegiatan pembelajaran di dalam kelas berlangsung tidak monoton.

3. Bagi Universitas Sanata Dharma

(29)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Tindakan Kelas

1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Kusumah dan Dwitagama (2009:9), Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian tindakan yang dilakukan guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga minat belajar siswa dapat meningkat dan hasil belajar siswa dapat meningkat pula.

Sedangkan menurut Dave Ebbutt yang dikutip oleh Suwandi (2011:10), PTK adalah mengkaji secara sistematik mengenai upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan melalui refleksi atas hasil tindakan tersebut.

2. Prinsip Dasar Penelitian Tindakan Kelas

PTK mempunyai beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru di sekolah. Prinsip tersebut diantaranya (Kusumah dan Dwitagama, 2009:17):

(30)

b. Metode pengumpulan data tidak menuntut metode yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran

c. Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel sehingga hipotesis yang dirumuskan cukup meyakinkan

d. Masalah yang diteliti adalah masalah pembelajaran di kelas yang cukup merisaukan guru dan guru memiliki komitmen untuk mencari solusinya

e. Guru harus konsisten terhadap etika pekerjaannya dan mengindahkan tata karma organisasi. Masalah yang diteliti sebaiknya diketahui oleh pimpinan sekolah dan guru sejawat sehingga hasilnya cepat tersosialisasi

f. Masalah tidak hanya berfokus pada konteks kelas, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan (perlu kerja sama antara guru dan dosen)

3. Tahapan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Dalam praktiknya, PTK adalah tindakan yang bermakna melalui prosedur penelitian yang mencakup empat tahapan yaitu (Kusumah dan Dwitagama, 2009:25):

a. Perencanaan (Planning)

(31)

identifikasi masalah, analisis penyebab adanya masalah, dan pengembangan untuk tindakan atau aksi sebagai pemecahan masalah b. Tindakan (Acting)

Perencanaan harus diwujudkan dengan adanya tindakan atau acting

dari guru berupa solusi tindakan sebelumnya c. Pengamatan (Observing)

Selanjutnya diadakan pengamatan atau observing yang diteliti terhadap proses pelaksanaannya

d. Refleksi (Reflecting)

Setelah diamati, barulah guru dapat melakukan refleksi atau reflecting

dan dapat menyimpulkan apa yang telah terjadi dalam kelasnya

4. Tujuan PTK dilakukan

Menurut Rochman Natawidjaya (1997) dalam buku Suwandi (2011:16) tujuan penelitian tindakan kelas adalah :

a. Untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang dihadapi guru dan tenaga kependidikan, terutama yang berkenaan dengan masalah pembelajaran dan pengembangan materi pengajaran.

(32)

c. Untuk melaksanakan program latihan, terutama pelatihan dalam jabatan guru, yaitu sebagai salah satu strategi pelatihan yang bersifat inkuiri agar peserta lebih banyak menghayati dan langsung menerapkan hasil pelatihan tersebut.

d. Untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran yang sedang berjalan dan sulit untuk ditembus oleh pembaharuan pada umumnya.

e. Untuk membangun dan meningkatkan mutu komunikasi dan interaksi antara praktisi (guru) dengan para peneliti akademis.

f. Untuk memperbaiki suasana keseluruhan sistem atau masyarakat sekolah, yang melibatkan administrasi pendidikan, guru, siswa, orang tua, dan pihak lain yang bersangkutan dengan pihak sekolah.

Selain itu Kunandar (2008:63) juga berpendapat bahwa penelitian tindakan kelas mempunyai tujuan sebagai berikut :

a. Untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar, meningkatkan profesionalisme guru, dan menumbuhkan budaya akademik di kalangan para guru.

b. Peningkatan kualitas praktik pembelajaran di kelas secara terus-menerus mengingat masyarakat berkembang secara cepat.

(33)

d. Sebagai alat traning in-service, yang memperlengkapi guru dengan

skill dan metode baru, mempertajam kekuatan analitisnya dan mempertinggi kesadaran dirinya.

e. Sebagai alat untuk memasukkan pendekatan tambahan atau inovatif terhadap sistem pembelajaran yang berkelanjutan yang biasanya menghambat inovasi dan perubahan.

f. Peningkatan mutu hasil pendidikan melalui perbaikan praktik pembelajaran di kelas dengan mengembangkan berbagai jenis keterampilan dan meningkatnya inovasi belajar siswa.

g. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan. h. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah,

sehingga tercipta sikap proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.

i. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan, peningkatan atau perbaikan proses pembelajaran di samping untuk meningkatkan relevansi dan mutu hasil pendidikan juga ditunjukkan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber-sumber daya yang terintegrasi di dalamnya.

5. Manfaat yang bisa diperoleh dari PTK

(34)

a. Inovasi pembelajaran

b. Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas

c. Peningkatan profesionalisme guru

Selain itu manfaat pelaksanaan PTK menurut Kusumah dan Dwitagama (2009:14) antara lain:

a. Membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran b. Meningkatkan profesionalitas guru

c. Meningkatkan rasa percaya diri guru

d. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.

B. Metode Teams Games Tournaments (TGT)

1. Tipe Pembelajaran Kooperatif

(35)

menyelesaikan tugas yang diberikan dalam kelompok, mereka harus saling bekerja sama antar siswa di dalam satu kelompok. Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan model pengajaran ceramah atau langsung. Model ini dikembangkan untuk membantu siswa mencapai hasil belajarnya, di samping itu model pembelajaran kooperatif juga efektif digunakan untuk mengembangkan keterampilan pribadi dan sosial siswa. Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari mengenai materi saja, tetapi juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus lainnya. Seperti keterampilan-keterampilan sosial, kerja sama, dan tanggung jawab. Tujuannya untuk melancarkan hubungan antar siswa dalam bekerja sama satu sama lain di dalam kelompok.

Terdapat lima tipe dari pembelajaran kooperatif yang diantaranya adalah (Slavin, 1995:4):

a. Student Teams Achievement Divisions (STAD)

(36)

b. Teams Games Tournaments (TGT)

Model TGT hampir sama dengan STAD. Siswa dikelompokkan secara heterogen, setiap kelompok terdiri 4-5 orang. Guru memulai dengan mempresentasikan sebuah pelajaran kemudian siswa bekerja di dalam kelompok-kelompok untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok menuntaskan pelajaran tersebut. Namun kuis dalam TGT

diganti dengan turnamen. Dalam turnamen ini siswa bertanding dengan anggota kelompok lain yang mempunyai kemampuan serupa. Dari turnamen inilah tiap anggota akan mendapat skor yang akan disumbangkan pada kelompoknya. Kemudian skor-skor ini akan dirata-rata untuk menentukan skor kelompok. Skor kelompok yang diperoleh akan menentukan penghargaan kelompok.

c. Jigsaw

Pada model ini siswa juga dibagi dalam kelompok-kelompok kecil secara heterogen. Masing-masing anggota kelompok diberikan tugas untuk mempelajari topik tertentu dari materi yang diajarkan. Mereka bertugas menjadi ahli pada topik yang menjadi bagiannya. Pada model

(37)

masing-masing. Mereka bertugas mengajarkan topik tersebut kepada teman-teman sekelompoknya. Kegiatan terakhir dari model Jigsaw adalah pemberian kuis atau penilaian untuk seluruh topik. Penilaian dengan penghargaan kelompok didasarkan pada peningkatan nilai individu sama seperti STAD.

d. Learning Together

Siswa melakukan presentasi bahan mata pelajaran, setelah itu siswa dalam kelompok heterogen terdiri 4 sampai 5 orang mengerjakan satu lembar kerja. Guru menilai hasil kerja kelompok. Siswa kemudian secara individual mengerjakan kuis yang dinilai oleh guru sebagai hasil kerja individual.

e. Group Investigation

Tiap-tiap kelompok mempelajari satu bagian materi pelajaran dan kemudian menjelaskan materi itu kepada semua siswa di kelas. Siswa diharapkan menerima tanggung jawab yang besar untuk menentukan apa yang akan dipelajari, mengorganisasi kelompok mereka sendiri bagaimana cara menguasai materi dan memutuskan bagaimana mengkomunikasikan hasil belajar mereka kepada seluruh kelas.

2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments (TGT)

(38)

siswa di dalam kelas. Tipe ini melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan yang bisa memotivasi semangat belajar dan keaktifan siswa. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih santai disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Lima komponen utama dalam komponen dalam TGT yaitu (Slavin, 1995:84-88):

a. Penyajian Kelas

Sebelum melakukan games, dalam awal pembelajaran akan diawali guru menjelaskan materi. Penjelasan materi ini dapat dilakukan dengan metode ceramah, diskusi atau metode yang lainnya. Yang harus ditekankan dalam penyajian kelas ini adalah siswa harus benar – benar memahami materi yang disampaikan oleh guru. Penguasaan materi ini akan membantu siswa untuk bekerja dalam kelompok nantinya.

b. Kelompok (team)

(39)

sebaiknya berbicara dengan suara yang pelan, tidak boleh meninggalkan tugas selama bekerja dalam kelompok, mendiskusikan tugas secara bersama-sama, jika ada suatu pertanyaan di dalam kelompok tersebut, sebaiknya jangan ditanyakan dahulu kepada guru karena mungkin dari salah satu teman kelompok ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Setelah itu, jika pertanyaan tidak bisa terjawabkan oleh salah satu teman kelompok, baru bisa meminta penjelasan dari guru. Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game atau tournament.

c. Permainan

(40)

d. Turnamen (Tournament)

Turnamen biasanya dilakukan pada akhir materi pembelajaran yang sedang dibahas dan setelah siswa melakukan belajar dalam kelompok. Turnamen ini berfungsi untuk mengetahui kelompok mana yang bisa mendapatkan nilai yang terbaik. Turnamen merupakan suatu pertandingan antar anggota-anggota yang berbeda. Pada awal turnamen, guru menugaskan siswa untuk pindah pada suatu meja turnamen yang sudah ditentukan sebelumnya, penentuan meja turnamen dalam penelitian ini didasarkan pada pengamatan oleh guru kelas dan hasil dari tes sebelumnya. Kegiatan ini berlangsung sebagai berikut: para siswa yang berada di meja turnamen secara bergantian mengambil nomor kartu (pengambilan nomor kartu berdasarkan urutan yang telah disepakati bersama) dan menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor kartu yaitu pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Apabila ada siswa yang mengambil nomor kartu tidak bisa menjawab pertanyaan, maka pertanyaan bisa dilempar ke teman yang lain dalam satu meja turnamen sesuai dengan urutan yang telah disepakati, dan yang menjawab dengan benar berhak menyimpan kartu tersebut. Kartu yang telah didapat nantinya yang akan dijadikan skor untuk penghargaan kelompok.

e. Penghargaan Kelompok

(41)

apabila memenuhi standar yang ditentukan. Pemberian penghargaan tiap kelompok dapat ditentukan berdasarkan skor kelompok yang didapat dengan menjumlahkan poin yang didapat pada skor lembar permainan setiap anggotanya, dan kemudian dicari skor rata-ratanya. Yang harus ditekankan dalam pemberian penghargaan di sini bukan mendorong siswa untuk bersaing secara tidak sehat, akan tetapi pemberian penghargaan tersebut adalah untuk memotivasi belajar siswa agar prestasi belajarnya dapat meningkat.

3. Kelebihan dan Kekurangan dari Metode TGT

Menurut Alitalya (2010:2) metode pembelajaran kooperatif tipe TGT

memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan antara lain : a. Kelebihan TGT:

1) Keterlibatan siswa dalam belajar lebih tinggi 2) Siswa menjadi bersemangat dalam belajar

3) Dapat menumbuhkan sikap-sikap positif dari dalam diri siswa seperti kerjasama, toleransi, tanggung jawab, serta bisa menerima pendapat orang lain

4) Melatih siswa mengungkapkan atau menyampaikan gagasan atau idenya

b. Kekurangan TGT:

(42)

2) Membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai 3) Dapat menumbuhkan suasana gaduh di kelas 4) Siswa terbiasa dengan adanya hadiah

C. Prestasi Belajar

Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:895) adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. Lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan guru. Kegiatan pengukuran prestasi belajar siswa dilakukan antara lain melalui ulangan, ujian, tugas, dan sebagainya (Masidjo, 1995:13).

Prestasi belajar adalah kemampuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal (Zainal Arifin, 1988:3). Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap (Winkel, 1991:16). Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang.

(43)

diberikan oleh guru. Keberhasilan dalam kegiatan yang disebut belajar akan tampak dalam prestasi belajar yang diraihnya. Prestasi belajar dapat diketahui dari hasil evaluasi belajarnya. Usaha untuk mengevaluasi hasil belajar, biasanya dilakukan dengan mengadakan pengukuran dalam bentuk tertulis, lisan maupun praktik yang kemudian diberi skor yang biasanya berwujud angka. Hasil dari pengukuran ini merupakan informasi-informasi atau data yang diwujudkan dalam bentuk angka-angka yang disebut prestasi belajar.

Faktor–faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat digolongkan menjadi dua yaitu (Dimyati dan Mujiono, 1999:236-254):

1. Faktor internal

a. Sikap terhadap belajar

Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan kesempatan belajar.

b. Motivasi belajar

(44)

c. Konsentrasi belajar

Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran yang tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian pada pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat.

d. Mengolah bahan belajar

Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara memperoleh ajaran yang dikembangkan di berbagai mata pelajaran, sehingga lebih bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar berupa pengetahuan, nilai kesusilaan, nilai agama, kesenian, serta keterampilan mental dan jasmani. Cara memperoleh ajaran berupa bagaimana menggunakan kamus, daftar logaritma, atau rumusan matematika.

e. Menyimpan perolehan hasil belajar

(45)

sebenarnya tidak berarti semua proses tersebut berjalan lancar, akibatnya proses penggunaan hasil belajar terganggu.

f. Menggali hasil belajar yang tersimpan

Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses pengaktifan pesan yang telah diterima. Dalam hal pesan baru, maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali, atau mengkaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama, maka siswa akan memanggil atau membangkitkan pesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar.

g. Kemampuan berprestasi

Kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar yang membuktikan keberhasilan belajar dalam memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar. Kemampuan berprestasi terpengaruh oleh proses penerimaan, pengaktifan, prapengolahan, serta pemanggilan untuk pembangkitan pesan dan pengalaman.

h. Rasa percaya diri siswa

(46)

memperoleh pengakuan umum, dan selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat.

i. Intelegensi dan keberhasilan belajar

Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. j. Kebiasaan belajar

Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain: belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, bergaya sok menggurui atau bergaya minta ”belas kasih” tanpa belajar. Kebiasaan-kebiasaan belajar tersebut disebabkan oleh ketidak mengertian siswa pada arti belajar bagi diri sendiri. Hal ini dapat diperbaiki dengan pembinaan disiplin membelajarkan diri.

2. Faktor eksternal

a. Guru sebagai pembina siswa belajar

(47)

pengajar, guru bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di sekolah. Adapun tugas pengelolaan pembelajaran siswa meliputi: pembangunan hubungan baik dengan siswa, menggairahkan minat, perhatian dan memperkuat motivasi belajar untuk berprestasi, mengorganisasi belajar, melaksanakan pendekatan pembelajaran secara tepat, mengevaluasi hasil belajar secara jujur dan obyektif, melaporkan hasil belajar kepada orang tua/wali siswa.

b. Prasarana dan sarana pembelajaran

Lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal ini tidak berarti lengkapnya sarana dan prasarana otomatis bisa menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar dengan baik.

c. Kebijakan penilaian

Penilaian adalah penentuan sampai sesuatu dipandang berharga, bermutu, atau bernilai. Ukuran tentang hal itu berharga, bermutu, atau bernilai datang dari orang lain. Dalam penilaian hasil belajar, maka penentu keberhasilan belajar tersebut adalah guru. Guru adalah pemegang kunci pembelajaran. Guru menyusun desain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.

d. Lingkungan sosial siswa di sekolah

(48)

19.00-21.00, maka siswa akan terdorong untuk belajar. Sementara siswa yang berada di lingkungan yang tidak peduli pada pendidikan, maka siswa akan menjadi malas untuk belajar.

e. Kurikulum sekolah

Program pembelajaran di sekolah mendasarkan pada suatu kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum yang disahkan oleh pemerintah, atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan dan disusun berdasarkan kemajuan masyarakat. Perubahan kurikulum dapat mempengaruhi tujuan yang akan dicapai, isi pendidikan, kegiatan belajar mengajar dan evaluasi pembelajaran. Perubahan kurikulum dapat menimbulkan masalah bagi guru, siswa maupun elemen-elemen dalam sekolah dan juga orang tua siswa.

D. Mata Pelajaran Ekonomi

(49)

ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, kegiatan distribusi, serta kegiatan konsumsi. Sedangkan menurut http://www.snapdrive.net/files/582099/ekonomi.pdf, ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang dengan sumberdaya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Jadi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan.

Fungsi dari mata pelajaran ekonomi di SMA adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk berekonomi, yaitu upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup di masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dengan cara mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa-peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta terlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang ada pada masyarakat. Mata pelajaran Ekonomi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut ini :

1. Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara

(50)

3. Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, dan manajemen yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara

4. Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional

Mata pelajaran ekonomi mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan kehidupan terdekat hingga lingkungan terjauh, yang meliputi aspek-aspek perekonomian, ketergantungan, spesialisasi dan pembagian kerja, perkoperasian, kewirausahaan, manajemen, dan akuntansi.

E. Kerangka Teoritik

PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas terhadap prestasi siswa secara keseluruhan. Hal itu dapat dilakukan mengingat tujuan PTK itu sendiri adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.

(51)

beberapa faktor yang menyebabkan guru belum melakukan PTK dalam proses pembelajaran di kelas. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu karena kurang dipahaminya profesi keguruan oleh guru, guru malas membaca, guru malas menulis, kurangnya rasa kepekaan dan sensitifitas guru terhadap waktu, kurangnya daya kreatifitas dan inovasi seorang guru, guru malas meneliti, serta guru kurang memahami PTK.

Mc. Niff (1992:9) memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar. PTK merupakan penelitian tentang, untuk, dan oleh masyarakat/kelompok dengan memanfaatkan interaksi, partisipasi, dan kolaboratif antara peneliti dan kelompok tersebut. PTK tersebut biasanya dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja seorang guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

(52)

PTK dapat diterapkan dalam bentuk strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan penciptaan suasana belajar yang menyenangkan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Ekonomi. Strategi yang dapat diterapkan di dalam PTK adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu metode alternatif yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam proses pembelajaran di sekolah.

Teams Games Tournaments (TGT) adalah salah satu tipe metode pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa tanpa ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan yang menyenangkan (Slavin, 1995:84). Dalam pembelajaran ini terdapat lima komponen yaitu: (1) presentasi kelas berupa penyampaian materi kepada siswa; (2) pembagian kelompok/tim untuk mendalami materi; (3) games yang dirancang untuk pembelajaran dalam bentuk permainan yang menyenangkan; (4) turnamen yang bertujuan untuk menciptakan kompetisi yang sehat antar siswa; dan (5) penghargaan bagi kelompok yang mendapatkan prestasi terbaik.

(53)

Tanggung jawab individu juga sangat diperlukan dalam kelompok. Untuk dapat memahami materi dan mengerjakan soal-soal dengan baik, mereka harus terlibat secara aktif dalam kelompok. Adanya penghargaan kepada kelompok terbaik diharapkan dapat memicu masing-masing anggota kelompok memiliki motivasi belajar yang kuat sehingga hasil belajar siswa di sekolah dapat meningkat.

(54)

32

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas

(classroom action research). Menurut Mc Niff (1992) dalam buku Wijaya Kusumah, memandang Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan keahlian mengajar. Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian tentang, untuk, dan oleh masyarakat/ kelompok sasaran dengan memanfaatkan interaksi, partisipasi, dan kolaboratif antara peneliti dan kelompok sasaran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama (Arikunto, 2006:3).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah SMA Pangudi Luhur Yogyakarta 2. Waktu Penelitian

(55)

C. Subyek dan Obyek Penelitian

1. Subyek penelitian

Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas X-2 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

2. Obyek penelitian

Obyek penelitiannya adalah peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe

TGT.

D. Prosedur Penelitian

1. Kegiatan Pra Penelitian

Sebelum mengadakan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengawali dengan kegiatan pra-penelitian. Kegiatan ini dilakukan terhadap pembelajaran di kelas sebelum menggunakan metode TGT. Kegiatan yang dilakukan yaitu mengadakan observasi terhadap situasi awal di dalam kelas yang mencakup observasi kegiatan guru, observasi kelas, dan observasi terhadap siswa. Selain dengan observasi, guna mendukung data yang diperoleh peneliti juga mengadakan wawancara terhadap guru dan siswa. Setelah mengadakan kegiatan pra-penelitian, peneliti mengadakan penelitian di dalam kelas setelah menggunakan metode TGT.

2. Pelaksanaan Penelitian

(56)

a. Siklus pertama

Kegiatan dalam siklus pertama dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau tatap muka di kelas meliputi sebagai berikut:

1) Perencanaan

Pada tahap ini, dilakukan penyusunan rencana tindakan berupa penyiapan pembelajaran kooperatif tipe TGT, yang meliputi sebagai berikut:

a) Peneliti dan guru menggali data awal karakteristik siswa untuk memetakan para siswa berdasarkan kemampuannya dan membagi siswa secara heterogen menjadi kelompok-kelompok yang beranggotakan 5-6 orang. Beberapa perangkat yang disiapkan dalam tahap ini adalah: rencana pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, materi pembelajaran, soal-soal latihan, lembar jawab siswa dan lembar observasi. b) Peneliti menyusun instrumen pengumpulan data, meliputi :

(1) Lembar observasi kegiatan guru (2) Lembar observasi kegiatan siswa (3) Lembar observasi kegiatan kelas (4) Instrumen refleksi.

2) Tindakan

(57)

a) Penyajian Kelas

Sebelum melakukan games, dalam awal pembelajaran akan diawali guru menjelaskan materi. Penjelasan materi ini dapat dilakukan dengan metode ceramah, diskusi atau metode yang lainnya. Yang harus ditekankan dalam penyajian kelas ini adalah siswa harus benar – benar memahami materi yang disampaikan oleh guru. Penguasaan materi ini akan membantu siswa untuk bekerja dalam kelompok nantinya.

b) Kelompok (team)

(58)

Setelah itu, jika pertanyaan tidak bisa terjawabkan oleh salah satu teman kelompok, baru bisa meminta penjelasan dari guru. Kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game atau tournament.

c) Permainan

Permainan ini dirancang untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mengikuti pembelajaran di kelas dan belajar kelompok. Game berisi pertanyaan – pertanyaan bernomor yang dirancang oleh guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi oleh siswa sesuai dengan materi yang diajarkan. Siswa mengambil salah satu pertanyaan bernomor dan menjawabnya sesuai dengan kemampuan masing – masing dan teman di dalam kelompoknya tidak diperkenankan untuk membantu anggota kelompok yang sedang mengerjakan.

d) Turnamen (Tournament)

(59)

yang terbaik. Turnamen disini merupakan suatu pertandingan antar kelompok. Pada awal turnamen, guru menugaskan siswa untuk tetap dalam kelompoknya masing-masing. Kelompok tersebut akan menerima modal sebesar Rp 300.000,00 untuk dijadikan taruhan. Setiap kelompok wajib menaruhkan modal sebelum guru membacakan soal tournament. Ketika kelompok berhasil menjawab benar pada satu pertanyaan, maka poin kelompok tersebut akan bertambah sesuai dengan jumlah taruhan yang telah disepakati kelompok diawal. Jika jawaban pada saat pertanyaan itu salah, maka poin kelompok akan dikurangi sesuai dengan jumlah yang telah dipertaruhkan diawal. Begitu seterusnya sampai akhir tournament

berlangsung.

e) Penghargaan kelompok

(60)

adalah untuk memotivasi belajar siswa agar prestasi belajarnya dapat meningkat.

Guru juga melakukan pre-test sebelum diterapkannya metode TGT dan melakukan post-test setelah diterapkannya metode TGT di dalam pembelajaran, untuk mengetahui adanya tingkat perubahan atau kenaikan prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah diterapkannya metode TGT dalam pembelajaran Ekonomi di dalam kelas.

3) Observasi

Tahap ini, dilaksanakan bersamaan dengan tahap tindakan. Di dalam tahap ini peneliti mengadakan pengamatan atas dampak dan hasil dari pelaksanaan tindakan, yaitu meliputi bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung, keterlibatan dan interaksi siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan bagaimana kondisi kelas. Untuk dapat mengetahui adanya peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa setelah TGT selesai di terapkan. Pengamatan juga direkam dengan menggunakan video camcorder.

4) Refleksi

Refleksi dilakukan segera setelah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT

(61)

pembelajaran yang dilangsungkan. Kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran akan diperbaiki pada saat kegiatan pada siklus lanjutan (jika diperlukan). Refleksi juga dilakukan untuk apakah indikator keberhasilan yang direncanakan telah tercapai. Pada intinya, refleksi dilakukan untuk mengevaluasi tindakan-tindakan yang telah dilalui. jika terdapat kekurangan maka peneliti berusaha memperbaiki kekurangan tersebut dan jika telah mencapai keberhasilan maka penelitian dapat dikatakan telah mencapai target yang diinginkan.

E. Instrumen Penelitian

Beberapa instrumen yang diperlukan dalam penelitian ini adalah: 1. Instrumen pra penelitian

a. Pengamatan terhadap guru (Observing Teachers)

Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas. Salah satu bentuk instrumen pengamatan adalah catatan anekdotal. Catatan anekdotal ini memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas (catatan anekdotal, lampiran 1). b. Pengamatan terhadap kelas (Observing Classrooms).

(62)

Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Di samping itu, pengamatan ini dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas (catatan anekdotal, lampiran 3).

c. Pengamatan terhadap siswa (Observing Students)

Pengamatan atau observasi terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau berkelompok sebelum pembelajaran dimulai, saat berlangsungnya pembelajaran, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada tiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan diberikan (catatan anekdotal, lampiran 2).

2. Pelaksanaan Tindakan a. Perencanaan

(63)

karenanya dalam perencanaan khusus ini tiap kali terdapat perencanaan ulang (replanning). Hal-hal yang direncanakan diantaranya terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan materi pembelajaran, dan sebagainya. Perencanaan dalam hal ini kurang lebih hampir sama dengan apabila kita menyiapkan suatu kegiatan belajar mengajar. Biasanya perencanaan dimasukkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan juga dapat dimasukkan ke dalam silabus mata pelajaran ekonomi.

b. Tindakan

(64)

siswa dalam pembelajaran ekonomi yang akan diukur dari hasil belajar siswa. Setelah itu guru dibantu oleh peneliti membagikan soal post-test

yang digunakan untuk menilai prestasi siswa terhadap materi yang telah diajarkan.

c. Observasi

Pengamatan atau observasi dapat dilakukan sendiri oleh peneliti. Pada saat mengobservasi, pengamat haruslah mencatat semua peristiwa atau hal yang terjadi di kelas penelitian. Seperti mengenai kinerja guru, situasi kelas, perilaku dan sikap siswa, penyajian atau pembahasan materi yang diajarkan.

1) Refleksi

(65)

F. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian bersumber dari interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran dan berupa data tindakan belajar atau perilaku belajar yang dihasilkan dari tindakan yang mengajar. Pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1. Observasi

Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan. Pengamatan ini dapat dilaksanakan dengan pedoman pengamatan (format, daftar, cek), catatan lapangan, jurnal harian, observasi aktivitas di kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, alat perekam elektronik, atau pemetaan kelas (cf. Mills, dalam Wijaya Kusumah, 2009:52). Pengamatan sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Catatan lapangan sebagai salah satu wujud dari pengamatan dapat digunakan untuk mencatat data kualitatif, kasus istimewa, atau untuk melukiskan suatu proses.

2. Wawancara

(66)

semua informasi dapat diperoleh secara lengkap. Jika dianggap masih ada informasi yang kurang, dapat pula dilakukan secara bebas. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data berkaitan dengan aktivitas belajar siswa serta pandangan dari guru dan siswa terhadap metode TGT yang diterapkan dalam pembelajaran ekonomi.

3. Metode Dokumentasi

Dokumentasi merupakan metode untuk memperoleh atau mengetahui sesuatu dengan buku-buku, arsip yang berhubungan dengan yang diteliti. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah, data siswa, hasil belajar siswa serta rekaman proses tindakan penelitian.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang dilakukan secara deskriptif dan komparatif untuk mengetahui perkembangan peningkatan prestasi belajar siswa di dalam proses pembelajaran, meliputi dua hal sebagai berikut:

1. Analisis Deskriptif

Data hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan pemaparan (deskripsi) data/informasi tentang suatu gejala yang diamati dalam proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan tingkat keberhasilan dari metode kooperatif tipe TGT

(67)

2. Analisis Komparatif

Analisis komparatif dilakukan untuk melihat perkembangan peningkatan prestasi belajar siswa dari waktu ke waktu khususnya pada masa pra penelitian dan siklus pertama. Dari berbagai tahapan tersebut kemudian dibandingkan bagaimana perubahan tingkat hasil belajar siswa. Untuk mengukur tingkat perkembangan prestasi belajar siswa dalam penelitian tindakan ini menggunakan pre test dan post test Penerapan model pembelajaran ini berhasil jika nilai post test mengalami peningkatan. Berikut adalah tabel analisis perbandingan tingkat perkembangan prestasi belajar siswa pada saat pelaksanaan tindakan:

Tabel 3.1

Indikator Keberhasilan Peningkatan Prestasi Belajar Pada Saat Pelaksanaan Tindakan

No Nama Siswa Pre Test Post test Selisih Peningkatan Prestasi Siswa

1. 2. 3.

(68)

46

BAB IV

GAMBARAN UMUM SEKOLAH

A.Visi, Misi dan Tujuan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

1. Visi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

SMA Pangudi Luhur Yogyakarta merupakan tempat mewujudkan komunitas iman dengan menempatkan Tuhan Sang Guru Sejati sebagai pusat hidup dalam upaya membangun persaudaraan sejati serta menanggung karya bersama dalam pendampingan kaum muda menuju pribadi dewasa, beriman, berpengetahuan, terampil, bermartabat, berbudi pekerti luhur dan terbuka menghadapi tantangan zaman.

2. Misi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

(69)

3. Tujuan Pendidikan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

a. Menghasilkan peserta didik yang dapat diterima di perguruan tinggi yang bermutu dan mampu menentukan pilihan sesuai dengan bakat dan kemampuan peserta didik.

a. Menghasilkan peserta didik yang beriman dan bersikap professional tanpa membedakan agama, ras, suku dan tingkat nasional.

b. Menghasilkan peserta didik yang mempunyai kemampuan berorganisasi dan bermasyarakat.

c. Menciptakan hubungan baik antara sekolah dengan orang tua, alumni, masyarakat sekitar, sekolah lain dan perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga tertentu.

d. Melanjutkan dan mengembangkan sistem pemeliharaan seluruh sarana fisik yang dimiliki sekolah agar tetap terpelihara, bersih dan rapi.

B.Sistem Pendidikan di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

Sistem Pendidikan yang diterapkan di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta adalah program pengajaran umum dan program pengajaran khusus. Program pengajaran umum dilaksanakan di kelas X, sedangkan program pengajaran khusus diadakan di kelas XI dan XII dengan pilihan program IPA dan program IPS.

(70)

1. SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dikelola sebagai “Komunitas Pendidikan Dialogis” yang memberikan suasana saling percaya, saling menghormati, saling memperhatikan, penuh cinta kasih, kemerdekaan untuk berkreasi, bersikap kritis, berani bertanya dan berpendapat secara bertanggung jawab. 2. Strategi pendampingan menekankan perlunya pembiasaan untuk

mengadakan analisis situasi kehidupan iman, sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang terjadi di masyarakat saat ini.

3. Pendekatan pribadi menekankan kerekanan dalam pelayanan yang berorientasi pada :

a. Pendidik berperan sebagai pendamping, fasilitator, mediator, instruktur, dan motivator kepada subjek didik.

b. Setiap pribadi menampakkan kewibawaannya, yaitu dengan adanya keserasian antara perkembangan diri dan profesionalitasnya, sosialitasnya, dan religiusitasnya.

c. Setiap pribadi dibiasakan untuk mengadakan refleksi validasi (menghargai dan saling membantu dengan teman sejawat, rapat musyawarah dan pengembangan pribadi).

4. Pola interaksi belajar mengajar pendamping-peserta didik dapat bervariasi, antara lain sebagai berikut :

a. Pola pendamping-peserta didik

(71)

b. Pola peserta didik-pendamping

Isi kegiatan adalah menanyakan, mengusulkan sesuatu, meminta bantuan pendamping, mengkonsultasikan hasil pekerjaan, melaporkan hasil kerja dan informasi, menjawab pertanyaan pendamping, dan sebagainya.

c. Pola peserta didik

Isi kegiatannya adalah tanya jawab, diskusi, adu argumentasi dalam debat, berdialog dengan tutor sebaya, pemecahan masalah, bereksperimen, merancang suatu penelitian dan sebagainya.

C.Kurikulum SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dalam wujud masyarakat maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang memungkinkan warganya untuk mengembangkan diri menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya.

(72)
(73)

51

BAB V

HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penelitian

Penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournaments(TGT) dalam pembelajaran Ekonomi ini telah dilaksanakan tanggal 12 dan 19 November 2012 pada siswa kelas X-2 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Penelitian tersebut diawali dengan melakukan observasi terlebih dahulu pada tanggal 05 November 2012 pada jam 1-2 sekaligus memberikan pretest kepada para siswa sebelum memulai materi di hari itu juga guna menghemat waktu. Adapun tujuan dari observasi ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai kondisi awal dari kegiatan belajar mengajar di kelas X-2 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Setelah melakukan observasi, penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus karena tujuan penelitian ini belum tercapai pada siklus pertama sehingga memerlukan siklus kedua agar tujuan penelitian dapat tercapai. PTK dilaksanakan pada tanggal 12 November 2012 pada pukul 07.15 WIB sampai dengan 08.45 WIB. Penerapan PTK berdasarkan model pembelajaran kooperatif TGT dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Observasi pra penelitian

(74)

sebagai guru bidang studi Ekonomi. Jumlah siswa kelas X-2 pada tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 34 siswa. Pada saat observasi, sebelum memulai materi pelajaran yang membahas mengenai Pasar Input, siswa diminta untuk mengerjakan pretest terlebih dahulu.

a. Observasi guru (observing teacher)

(75)

guru meminta kembali soal dan jawaban pre test yang sudah dikerjakan oleh para siswa lalu guru memulai untuk membahas materi yang akan disampaikan. Selama proses penyampaian materi ini, para siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran dan terkesan menyepelekan materi yang tengah disampaikan oleh guru. Suasana dikelas gaduh dan kurang bisa dikontrol. Kondisi ini disebabkan karena guru menyampaikan materi dilakukan dengan cara ceramah dan terkesan monoton sehingga para siswa merasa bosan dan mengantuk ketika mendengarkan guru menyampaikan materi dan yang terjadi untuk menghilangkan rasa bosan dan mengantuk para siswa melakukan hal-hal yang kurang mendukung situasi belajar mengajar dikelas seperti tidur dikelas, ribut dengan teman sebangku atau teman lainnya. Pada akhir pembelajaran, guru mengucapkan salam penutup dan menyampaikan kepada siswa bahwa pada pertemuan berikutnya para siswa akan diajak bermain sambil belajar menggunakan model TGT dengan bahan materi yang baru saja disampaikan oleh guru.

Berikut ini disajikan rangkuman awal observasi terhadap aktivitas guru selama proses belajar mengajar berlangsung :

Tabel 5.1

Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Guru

NO. ASPEK YANG DIAMATI SKOR

I

1.

PRA PEMBELAJARAN

(76)

2.

II

1. 2.

III

A.

1.

2.

3.

4.

B.

1.

2.

pembelajaran, dan media Memeriksa kesiapan siswa

MEMBUKA PEMBELAJARAN

Melakukan kegiatan apersepsi

Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan rencana kegiatannya

KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN

Penguasaan materi pelajaran

Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran

Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan

Menyampaikan materi sesuai dengan hirarki belajar

Mengaitkan materi dengan reaitas kehidupan

Pendekatan/strategi pembelajaran

Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai

Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa

1 2 4 5

1 2 4 5 1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

(77)

3. 4.

5.

6.

7.

8.

C.

1.

2. 3.

4.

D.

Melaksanakan pembelajaran secara runtut Melaksanakan pembelajaran yang

terkoordinasi

Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual

Mengakomodasi adanya keragaman budaya nusantara

Melaksanakan pembelajaran yang

memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan waktu yang dialokasikan

Pemanfaatan media pembelajaran/sumber

belajar

Menunjukkan keterampilan dalam menggunakan media

Menghasilkan pesan yang menarik Menggunakan media secara efektif dan efisien

Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media

Pembelajaran yang memicu dan

memelihara keterlibatan siswa

1 2 4 5 1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5 1 2 4 5

(78)

1.

2. 3.

4.

5.

6.

E.

1. 2.

F.

1. 2. 3. 4.

Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran

Merespons positif partisipasi siswa

Memfasilitasi terjadinya interaksi guru-siswa dan siswa-siswa

Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons siswa

Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif

Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar

Kemampuan khusus dalam pembelajaran

bidang studi

Menumbuhkan sikap ekonomis Menumbuhkan sikap produktif

Penilaian proses dan hasil belajar

Melakukan penilaian awal Memantau kemajuan belajar

Memberikan tugas sesuai dengan kompetensi Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi

1 2 4 5

1 2 4 5 1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5 1 2 4 5

(79)

G.

1.

2.

3.

IV

A.

1.

2.

B.

1.

2.

Penggunaan bahasa

Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar

Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar

Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai

PENUTUP

Refleksi dan rangkuman pembelajaran

Melakukan refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa

Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa

Pelaksanaan tindak lanjut

Memberikan arahan, kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi

Memberikan arahan, kegiatan, atau tugas sebagai pengayaan

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

1 2 4 5

(80)

b. Observasi siswa (observing student)

(81)

ketika guru sedang menyampaikan materi pembelajaran. Pada pertengahan pembelajaran, guru meminta siswa untuk membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang untuk mendiskusikan materi yang baru saja disampaikan oleh guru. Tetapi selama proses diskusi berlangsung, banyak siswa yang memanfaatkan waktu untuk mengobrol dengan temannya bukannya mendiskusikan tentang materi yang baru saja disampaikan melainkan mengobrolkan sesuatu diluar materi yang diajarkan. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kurang memiliki motivasi untuk belajar. Peneliti menduga kondisi seperti ini disebabkan siswa merasa jenuh dan bosan dengan kegiatan rutin mendengarkan ceramah guru dan mendiskusikannya. Dari rangkaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.2

Hasil Observasi terhadap Aktivitas Siswa

No Aspek yang diamati Ya Tidak Keterangan 1 Siswa siap mengikuti

proses pembelajaran

√ Beberapa siswa kurang siap mengikuti pembelajaran. 2 Siswa memperhatikan

penjelasan guru

(82)

guru. 3 Siswa menanggapi

pembahasan pelajaran

√ Siswa

menanggapi pembahasan guru dengan antusias

4 Siswa mencatat hal-hal penting

√ Hanya ada beberapa siswa saja yang mencatat hal-hal penting

5 Siswa mengerjakan tugas dengan baik

√ Siswa

mengerjakan tugas dengan cara berdiskusi dengan teman-teman

(83)

c. Observasi kelas (observing classroom)

Dilihat secara fisik ruang kelas X-2 sangat memadai untuk proses belajar mengajar. Ruang kelas cukup luas dan memadai dilengkapi dengan fasilitas meja guru multimedia, kursi guru,

whiteboard, meja untuk siswa, kursi siswa, papan pengumuman, sebuah speaker, LCD proyektor.

Di dalam kelas juga sudah menggunakan fasilitas AC sehingga walaupun cuaca di luar sangat panas, suasana di dalam kelas tetap dingin dan sejuk sehingga tidak mengganggu fokus siswa ketika sedang belajar. Suasana serta aktivitas kelas selama proses pembelajaran tampak dalam catatan anekdotal hasil observasi kegiatan kelas (lampiran 3a halaman178).

(84)

mengenai pasar input dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Namun terlihat para siswa kurang antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut, ada yang mengobrol dengan temannya dan ada yang tidur di kelas. Hal ini dikarenakan kurangnya pengawasan dan ketegasan guru dalam menegur siswa sehingga para siswa bertindak seenaknya sendiri. Pada akhir pembelajaran guru memberi pesan kepada para siswa agar mempelajari materi yang telah disampaikan kemudian menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya guru akan mengajak siswa untuk bermain sambil belajar menggunakan model pembelajaran TGT dengan materi pasar input seperti yang sudah disampaikan. Dalam rangkaian keadaan kelas tersebut dapat kita lihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 5.3

Kondisi Kelas Selama Proses Pembelajaran

No Deskriptor Ya Tidak Catatan

1. Fasilitas di dalam kelas mendukung proses pembelajaran

Whiteboard, meja, kursi,LCD

proyektor, AC 2. Suasana kelas cukup

kondusif dalam proses pembelajaran

Hanya pada awal pembelajaran

3. Siswa membuat kegaduhan

√ Pada saat latihan

(85)

4. Siswa mengerjakan soal latihan di depan kelas √

Siswa mengerjakan soal secara diskusi kelompok

5. Guru memberikan penghargaan

√ -

6. Ada kegiatan menarik dalam belajar

Guru mengajar secara monoton dengan

menggunakan metode ceramah dan diskusi

7 Siswa bertanya kepada guru jika mengalami

kesulitan √

Karena kurang memahami materi, siswa bingung ingin menanyakan apa

8. Guru membantu siswa jika mengalami

kesulitan

Guru membantu siswa yang merasa kesulitan

(86)
(87)

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditemukan permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran disebabkan karena kurangnya variasi model pembelajaran yang menyebabkan rendahnya keterlibatan dan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dirasa masih kurang. Peneliti menduga bahwa kurangnya semangat siswa untuk belajar dan ketidakberanian siswa untuk bertanya dan berdiskusi dengan baik lebih disebabkan karena faktor guru dalam menyampaikan materi kurang bervariasi dan guru kurang mampu menggali pemikiran dan pengetahuan siswa sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan. Oleh sebab itu, guru diharapkan mampu menerapkan model pembelajaran yang bervariasi dan berbeda. Ada banyak sekali model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru di dalam kelas, dimana masing-masing model pembelajaran memiliki cara-cara yang berbeda-beda. Guru dapat memilih model pembelajaran lebih dari satu untuk sekali mengajar tinggal bagaimana guru merancang model pembelajaran yang dipilih tersebut agar tepat waktu dan juga tepat sasaran.

(88)

berperan aktif dan juga bekerja sama serta mengasah kemampuan individu dalam kelompok ketika games dan turnamen berlangsung. Dari hasil analisis situasi siswa dan kelas, peneliti dan guru mitra menetapkan target keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini sebesar 35%.

Dengan menggunakan model pembelajaran ini siswa diharapkan untuk dapat lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran dan juga lebih berani untuk bertanya, berdiskusi dengan teman kelompok dan menemukan cara menghadapi kesulitan yang sedang dihadapi oleh kelompok. Dengan demikian secara tidak langsung siswa harus mau memahami materi yang didapatnya. Tugas guru disini sebagai fasilitator yang membantu dan mendampingi siswa jika ada yang mengalami kesulitan. Dengan menggunakan metode ini kemungkinan suasana yang tadinya kurang kondusif dan siswa kurang antusias akan menjadi kondusif dan siswapun juga akan antusias memahami materi yang disampaikan.

d. Pelaksanaan tindakan

(89)

Natalia Margi Lestari, S.Pd. Selaku guru bidang studi Ekonomi kelas X. Jumlah siswa kelas X-2 pada tahun ajaran 2012/2013 saat ini adalah 30 siswa. Dari jumlah siswa tersebut, ada 2 siswa yang tidak hadir pada saat penelitian di hari itu. Berikut ini diuraikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament(TGT) pada siklus pertama dan kedua.

1) Perencanaan

Dalam tahap ini dilakukan perencanaan dan persiapan pembelajaran kooperatif tipe TGT. Berikut ini langkah-langkah perencanaan yang diterapkan pada saat pelaksanaan tindakan : a) Peneliti dan guru mitra mengumpulkan data awal tentang

karakteristik siswa untuk memetakan para siswa berdasarkan kemampuan akademiknya. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk membagi siswa dalam kelompok-kelompok heterogen. Dari hasil pembagian kelompok tersebut terbentuk enam kelompok dengan kemampuan akademik yang beragam. Enam kelompok yang terbentuk selanjutnya diberi nama kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6.

(90)

hadiah/award. Berikut ini adalah uraian masing-masing perangkat pembelajaran.

(1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Peneliti membuat RPP dengan format baru yakni menggunakan EEK berkarakter yang berisi tentang standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, materi pembelajaran, dan evaluasi. RPP ini dibuat untuk dua kali pertemuan. RPP ini memuat langkah-langkah pembelajaran secara jelas guna membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. RPP ini dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 116.

(2) Materi pembelajaran

Materi pelajaran adalah mempelajari tentang pasar input atau pasar faktor produksi. Materi yang disampaikan berupa penjelasan mengenai konsep pasar faktor produksi, faktor produksi alam, faktor produksi tenaga kerja, faktor produksi modal, dan faktor produksi kewirausahaan.

(a) Lembar Kerja Siswa

(91)

pada lampiran 10, 11, 12, dan 13 halaman 123, 128, 132, dan 137.

(b) Meja Games dan Tournament

Jumlah meja games dan tournament ada 6 buah. Meja

games diletakkan didepan kelas sebanyak 6 meja satuan. Dan di tengah kelas ada 6 meja tournament

sesuai jumlah kelompok yang terbentuk. (c) Hadiah atau Award

Hadiah yang dimaksudkan sebagai penghargaan bagi kelompok yang mendapatkan skor terbaik pada saat turnament dilaksanakan. Hadiah berupa snack atau makanan ringan.

(d) Peneliti menyiapkan dan menyusun instrumen pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data yang terdiri dari :

 Lembar observasi kegiatan guru

(92)

 Lembar observasi kegiatan siswa

Lembar observasi kegiatan siswa ini digunakan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat mengikuti pembelajaran. (lampiran 2b dan lampiran 2c halaman 182 dan 188)

 Lembar observasi kegiatan kelas

Lembar observasi kegiatan kelas ini digunakan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan di dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. (lampiran 3b dan lampiran 3c halaman 184 dan 190)

 Lembar penilaian kelompok

Lembar penilaian kelompok ini berisi daftar skor yang diperoleh kelompok selama games dan

tournament. (lampiran 14 dan lampiran 15 halaman 142 dan 143).

2) Tindakan

Pada tahap tindakan peneliti mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe TGT sesuai dengan rencana tindakan. Langkah-langkah pada tahap tindakan ini sebagai berikut :

a) Presentasi kelas

Figur

Tabel 3.1 Indikator Keberhasilan Peningkatan Prestasi  Belajar
Tabel 3 1 Indikator Keberhasilan Peningkatan Prestasi Belajar . View in document p.67
Tabel 5.1 Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Guru
Tabel 5 1 Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Guru . View in document p.75
Tabel 5.2
Tabel 5 2 . View in document p.81
Tabel 5.4
Tabel 5 4 . View in document p.97
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa secara umum guru mampu
Tabel 5 4 menunjukkan bahwa secara umum guru mampu . View in document p.99
Tabel 5.5 Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran
Tabel 5 5 Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran . View in document p.100
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa pada saat pembelajaran
Tabel 5 6 menunjukkan bahwa pada saat pembelajaran . View in document p.104
Tabel 5.7 Perilaku Siswa Saat Proses Pembelajaran  dalam
Tabel 5 7 Perilaku Siswa Saat Proses Pembelajaran dalam . View in document p.105
Tabel 5.8 Hasil Pengamatan Kelas
Tabel 5 8 Hasil Pengamatan Kelas . View in document p.106
Tabel 5.8 menunjukkan suasana kelas kurang kondusif pada
Tabel 5 8 menunjukkan suasana kelas kurang kondusif pada . View in document p.108
Tabel 5.9 Hasil Pengamatan Kelas
Tabel 5 9 Hasil Pengamatan Kelas . View in document p.109
Tabel 5.10
Tabel 5 10 . View in document p.112
Tabel 5.11
Tabel 5 11 . View in document p.114
Tabel 5.11
Tabel 5 11 . View in document p.116
Tabel 5.12
Tabel 5 12 . View in document p.117
Tabel 5.12 pada siklus I hasil komparasi  menunjukkan adanya
Tabel 5 12 pada siklus I hasil komparasi menunjukkan adanya . View in document p.119
Tabel 5.13
Tabel 5 13 . View in document p.120
Tabel Aktivitas Guru
Tabel Aktivitas Guru . View in document p.132
Tabel Aktivitas Guru
Tabel Aktivitas Guru . View in document p.214
Tabel Aktivitas Guru
Tabel Aktivitas Guru . View in document p.216

Referensi

Memperbarui...