PENGARUH PROFITABILITAS DAN LEVERAGE TERHADAP NILAI PERUSAHAAN YANG DIMODERASI OLEH KEBIJAKAN DIVIDEN PADA
PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2016-2020
UIN SUSKA RIAU
OLEH:
HELMALIA FANNY ERISKA 11870121927
S1 MANAJEMEN KEUANGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU
2022
ABSTRAK
Pengaruh Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Nilai Perusahaan Yang Dimoderasi Oleh Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020 OLEH:
HELMALIA FANNY ERISKA 11870121927
Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah Profitabilitas Dan Leverage Berpengaruh Terhadap Keputusan Investasi Dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderasi. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan karakteristik yang telah ditentukan sebanyak 6 perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2016-2020. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis PLS (Partial Least Square) melalui software SmartPLS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Variabel Profitabilitas (X1) berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan diukur menggunakan PBV (Y1)Sub Sektor Makanan dan Minuman periode 2016-2020, Variabel Profitabilitas (X1) tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan diukur menggunakan PER (Y2) Sub Sektor Makanan dan Minuman periode 2016-2020, Variabel Leverage (X2) tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan diukur menggunakan PBV (Y1) Sub Sektor Makanan dan Minuman periode 2016-2020, Variabel Leverage (X2) tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan diukur menggunakan PER (Y2) Sub Sektor Makanan dan Minuman periode 2016-2020 Kebijakan Dividen tidak dapat Memoderasi Hubungan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan diukur menggunakan PBV dan PER Sub Sektor Makanan dan Minuman periode 2016- 2020, Kebijakan Dividen tidak dapat Memoderasi Hubungan Leverage terhadap Nilai Perusahaan diukur menggunakan PBV dan PER Sub Sektor Makanan dan Minuman periode 2016-2020
Kata kunci: Profitabilitas, Leverage, Keputusan Investasi, Kebijakan Dividen
ABSTRAK
The Effect of Profitability and Leverage on Company Value Moderated By Dividend Policy in Food and Beverage Companies Listed on the Indonesia Stock
Exchange (IDX) for the 2016-2020 Period BY:
HELMALIA FANNY ERISKA 11870121927
The purpose of this research is to find out whether Profitability and Levergae have an effect on firm value with dividend policy as a moderating variable. This research method is a quantitative research with sampling using purposive sampling technique based on predetermined characteristics as many as 6 food and beverage sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2016-2020 period. This research was conducted using PLS (Partial Least Square) analysis technique through SmartPLS software. The results of this study indicate that the Profitability Variable (X1) affects the Company value of the food and beverage using PBV (Y1) Sub-Sector Company for the 2016-2020 period, Profitability Variable (X1) cannot affects the Company value of the food and beverage using PER (Y2) Sub-Sector Company for the 2016-2020 period the Leverage Variable (X2) has no effect on the Company Value using PBV (Y1) of the food and beverage Sub-Sector Company for the 2016-2020 period, Leverage Variable (X2)cannot affects the Company value of the food and beverage using PER (Y2) Sub-Sector Company for the 2016-2020 period Dividend Policy cannot Moderate the Probability Relationship to the Sub-Sector Company Value using PBV and PER at. food and beverage Sub-Sector Company for the 2016-2020 period, Dividend Policy cannot Moderate Leverage Relationship to Company Value by using PBV and PER at food and beverage Sub-Sector Company for the 2016-2020 period.
Kata kunci: Profitabilit,y, Leverage, Company Value, Dividend Policy
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Alhamdulillahirabbil‟alamin, segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat taufiq dan hidayatnya.
Sholawat dan salam, semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang kita nanti-nantikan syaratnya diyaumul akhir nanti. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam skripsi ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:
Pengaruh Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Nilai Perusahaan Yang Dimoderasi Oleh Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020. Skripsi ini disusun untuk menyelesaikan Studi Jenjang Strata 1 (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Jurusan Manajemen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena ini kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangan penulis harapkan demi perbaikan-perbaikan kedepannya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada, yth:
1. Teristemewa untuk kedua orangtua terkasih. Ayahanda Suprayogi dan Ibunda Fathada Hermaini yang tiada hentinya memberikan semangat dukungan moril
maupun material serta doa kepada penulis. Kiranya Allah AWT membalas dengan segala berkahnya dan semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.
2. Bapak Prof . Dr. Khairunnas, M.Ag selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
3. Ibu Dr. Hj. Mahyarni, SE, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi Dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
4. Ibu Astuti Melinda, SE, MM selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
5. Bapak Fakhrurrozi, SE, MM selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
6. Ibu Ari Nurwahidah, SE, MM selaku Dosen Pembimbing proposal dan pembimbing skripsi yang telah banyak mebantu, mengarahkan membimbing dan memotivasi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan serta memberikan saran kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. Terimakasih atas ilmu dan saran yang ibu berikan untuk memotivasi penulis semoga Allah SWT memberikan kesehatan, keberkahan dan kebahagian selalu.
7. Bapak Yusrialis, SE, M.Si selaku Pembimbing Akademik yang telah banyak membantu dan mengarahkan penulis selama kuliah.
8. Bapak dan Ibu dosen pengajar yang telah mendidik peneliti selama perkuliahan, karyawan dan karyawati Fakultas Ekonomi Dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
9. Adik-adikku Indah Permata Sari, Yoga Prama Sumbawa dan Bagas Prama Yudha, serta Kakakku Dede Prayanti dan abangku Idam yang telah
memberikan semangat dan motivasi kepada penulis. Terimakasih atas segalanya, semoaga selalu dalam lindungan Allah SWT.
10. Teruntuk sahabat-sahabatku dan teman-teman kelas seperjuangan di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial angakatan 2018, khususnya Manajemen/C dan Manajemen Konsentrasi Keuangan A . Terimakasih untuk semangat, waktu, canda tawa dalam kelas yang singkat. Semoga kalian dalam lindungan Allah SWT.
11. Terimakasih kepada semua puhak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terimaksih telah memberikan motivasi kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.
Jazakumullah khairab katsiron, semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat dan hidayahnya kepada kita semua Aamiin Ya Rabbal‟alamin.
Waassalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pekanbaru, November 2022
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR
...
xBAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 10
1.4 Manfaat Penelitian ... 12
1.5 Rencana Sistematika Penulisan ... 13
BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1 Manajemen Keuangan ... 15
2.2 Nilai Perusahaan ... 16
1.2.1 Pengertian Nilai Perusahaan ... 16
1.2.2 Jenis-jenis Nilai Perusahaan ... 18
1.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan ... 20
1.2.4 Pengukuran nilai perusahaan ... 22
2.3 Profitabilitass ... 24
2.3.1 Pengertian Profitabilitas ... 24
2.3.2 Jenis-jenis Rasio Profitabilitas ... 25
2.4 Leverage ... 28
2.5 Kebijakan Dividen ... 29
2.5.1 Pengertian Kebijakan Dividen ... 29
2.5.2 Jenis Kebijakan Dividen ... 30
2.5.3 Teori Kebijakan Dividen ... 32
2.6 Pandangan Islam ... 33
2.7 Penelitian Terdahulu ... 42
2.8 Kerangka Pikiran ... 47
2.9 Operasional Variabel ... 48
2.10 Hipotesis Penelitian ... 49
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 53
3.2 Jenis dan Sumber Data ... 53
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 54
3.4 Populasi dan Sampel ... 54
3.4.1 Populasi ... 54
3.4.2 Sampel ... 56
3.5 Metode Analisis Data ... 57
1.5.1 Uji Measurement (Outer) Model ... 58
1.5.2 Uji Structural (Inner) Model ... 58
3.6 Uji Hipotesis ... 59
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 4.1 PT. DeltaDjakarta Tbk (DLTA) ... 6o 4.2 PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) ... 61
4.3 PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)... 62
4.4 PT Mayora Indah Tbk (MYOR) ... 62
4.5 PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) ... 63
4.6 PT Sekar Laut Tbk (SKLT) ... 64
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Deskriptif ... 65
5.2 Teknik Analisis Data ... 67
5.2.1 Hasil Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) ... 67
5.2.2 Hasil Evaluasi Model Structural (Inner Model) . 73 5.3 Hasil Pengujian Hipotesis ... 74
5.3.1 Pengujian Hipotesis 1 Pengaruh Profitabilitas Secara Siginifikan Terhadap Nilai Perusahaan
PBV (Y1) ... 75 5.3.2 Pengujian Hipotesis 2 Pengaruh Profitabilitas
Secara Siginifikan Terhadap Nilai Perusahaan
PER (Y2) ... 76 5.3.3 Pengujian Hipotesis 3 Pengaruh Leverage
Secara Siginifikan Terhadap Nilai Perusahaan
PBV (Y1) ... 77 5.3.4 Pengujian Hipotesis 4 Pengaruh Leverage
Secara Siginifikan Terhadap Nilai Perusahaan
PER (Y2) ... 78 5.3.5 Pengujian Hipotesis 5 Pengaruh Kebijakan
Dividen Dalam Memoderasi Hubungan
Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan (Y1 ) .. 79 5.3.6 Pengujian Hipotesis 6 Pengaruh Kebijakan
Dividen Dalam Memoderasi Hubungan
Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan (Y2 ) .. 80 5.3.7 Pengujian Hipotesis 7 Pengaruh Kebijakan
Dividen Dalam Memoderasi Hubungan
Leverage Terhadap Nilai Perusahaan (Y1 ) ... 81 5.3.8 Pengujian Hipotesis 8 (Pengaruh Kebijakan
Dividen Dalam Memoderasi Hubungan
Leverage Terhadap Nilai Perusahaan (Y2) ... 82 BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan ... 83 6.2 Saran ... 86 DAFTAR PUSTAKA ... 87 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel. 1.1 Rata-Rata Nilai ROA, DER, PBV, PER, dan DPR ... 6
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 42
Tabel 2.2 Konsep Operasional Variabel ... 49
Tabel 3.1 Daftar Populasi Perusahaan Makanan dan Minuman ... 55
Tabel 3.2 Daftar Sampel Perusahaan Makanan dan Minuman ... 57
Tabel 5.1 Hasil Statistik Deskriptif ... 65
Tabel 5.2 Loading Faktor ... 68
Tabel 5.3 Average Variance Extracted (AVE) ... 69
Tabel 5.4 Cross Loading ... 70
Tabel 5.5 Outer Weights ... 71
Tabel 5.6 Collinearity Statistic VIF ... 71
Tabel 5.7 Composite Reliability ... 72
Tabel 5.8 R Square ... 73
Tabel. 5.9 Path Coefficient... ... 74
DAFTAR GAMBAR
Gambar 5.1 Hasil Output SmartPLS ... 68
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sektor makanan dan minuman merupakan salah satu sektor bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Sektor ini merupakan kebutuhan primer bagi manusia disamping sandang dan papan, sehingga manusia harus terus berhubungan dengan sektor ini dalam aktivitas sehari-hari sepanjang hidupnya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor kestabilan sektor makanan dan minuman. Mengutip data dari situs online Dukcapil Kemendagri RI, Indonesia menduduki peringkat ke 4 terbesar di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 272 juta jiwa (per Juni 2021). Jumlah ini menunjang tingginya nilai potensial sektor makanan dan minuman di negara Indonesia. Hal ini pula yang menjadi daya tarik bagi para investor untuk menginvestasikan dananya pada sektor makanan dan minuman. Akan tetapi, tingginya nilai potenisal ini tidak selalu menjamin bahwa sektor makanan dan minuman merupakan tempat yang benar-benar aman bagi investor untuk menginvestasikan dananya. Diperlukan analisa yang tepat untuk menghindari hasil yang tidak diinginkan dari perusahaan tersebut.
Suatu perusahaan didirikan dengan tujuan mencapai keuntungan yang maksimal atau laba yang sebesar-besarnya dan mengoptimalkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang dikaitkkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai
perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya kepada kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) mencatatkan penurunan kinerja signifikan sepanjang 2020, tahun pandemi Covid-19. Penjualan dan laba bersih produsen bir merek Bintang tersebut tahun lalu, anjlok dibandingkan dengan kinerja 2019. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, penjualan bersih Bintang sepanjang tahun lalu hanya Rp 1,98 triliun atau turun hingga 46,51% secara tahunan. PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) mencetak kinerja keuangan yang kurang ciamik di tahun 2020. Mengutip laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), penjualan bersih MLBI tercatat sebesar Rp 1,98 triliun di tahun 2020 atau merosot 46,63%
dibandingkan realisasi di tahun sebelumnya sebesar Rp 3,71 triliun. Hingga akhir tahun 2020, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MLBI tercatat sebesar Rp 288 miliar. Jumlah ini turun 76,66% dibandingkan laba bersih perusahaan di tahun 2019 sebesar Rp 1,20 triliun. MLBI membukukan total aset sebanyak Rp 2,90 triliun pada akhir tahun 2020 atau naik 0,34% dibandingkan total aset MLBI di tahun 2019 sebesar RP 2,89 triliun.
Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan pandemi dan kebijakan pembatasan sosial yang dilakukan pemerintah mempengaruhi kinerja emiten bir.
"Memang sejak pandemi, wisatawan mancanegara berkurang. Apalagi waktu PSBB, tempat-tempat wisata berkurang pengunjungnya. MLBI sangat kena efeknya,"
ujarnya kepada Katadata.co.id. Sepanjang tahun lalu, kinerja saham perusahaan
berkode emiten MLBI tersebut mengalami penurunan hingga 37,42% menjadi Rp 9.700 per saham pada 30 Desember 2020. Titik tertinggi saham Bintang sepanjang tahun lalu terjadi sebelum era pandemi Covid-19 yaitu 15 Januari di harga Ro 15,675 per saham. Sementara titik terendahnya terjadi pada perdagangan 23 September di harga Rp 8.250 per saham.
Mengutip informasi dari situs online StockSetup (https://stocksetup.kontan.co.id/) ternyata PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) membagikan dividen final tahun buku 2020 sebesar Rp 475 per saham. Secara total, perusahaan minuman ini akan menebar dividen Rp 1 triliun kepada pemegang saham. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan laba MLBI tahun lalu yang sebesar Rp 285,67 miliar. Laba bersih Multi Bintang turun 76% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1,21 triliun. Penurunan laba bersih ini sejalan dengan pendapatan MLBI yang juga turun 47% dari Rp 3,71 triliun di 2019 menjadi Rp 1,98 triliun di akhir tahun 2020.
Meski laba tipis, Multi Bintang masih memiliki saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 1,41 triliun pada akhir 2019.
Menurut Mulianti (2010) nilai perusahan sangat penting karena mencerminkan kinerja suatu perusahaan yang dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap perusahaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan, yaitu:
kebijakan dividen, struktur modal, pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, likuiditas, ukuran perusahaan dan lain-lain. Nilai perusahaan dapat menggambarkan keadaan perusahaan. Dengan baiknya nilai perusahaan maka perusahaan akan dipandang baik oleh para calon investor, demikian pula sebaliknya.
Dalam penelitian ini nilai perusahaan akan diukur dengan menggunakan perhitungan nilai price to book value (PBV) dan price earning ratio (PER). Menurut Brigham dan Houston (2011), PBV adalah perbandingan antara harga saham dengan nilai buku perusahaan, dimana nilai buku perusahaan merupakan perbandingan antara total ekuitas dengan jumlah saham perusahaan yang beredar. Semakin tinggi PBV berati pasar percaya akan prospek perusahaan. Semakin tinggi rasio PBV dapat diartikan berhasil perusahan menciptakan nilai bagi pemegang saham. PER merupakan rasio atau perbandingan antara earning per share dalam saham dengan harga saham perusahaan. Melalui PER inilah perubahan laba perusahaan di masa yang akan datang dapat diketahui. Dengan begitu, semakin besar PER, maka semakin besar pula nilai perusahaan. Sebab harapan perusahaan untuk tumbuh juga semakin besar.
Salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai prospek perusahaan di masa depan adalah dengan melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan (Eduardus, 2001). Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba. Tingginya profitabilitas perusahaan dapat mempengaruhi nilai perusahaan dan itu tergantung dari bagaimana persepsi investor terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan. Dalam penelitian ini, Profitabilitas akan diukur menggunakan return on asset (ROA) yang merupakan perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan total aset perusahaan. ROA memberikan gambaran profitabilitas perusahaan terhadap jumlah asetnya, Semakin tinggi tingkat profitabilitas maka semakin tinggi pula minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Ketika permintaan saham semakin tinggi maka akan
meningkatkan harga dari saham itu sendiri. Semakin tinggi harga saham mengindikasikan semakin tinggi nilai perusahaan.
Fluktuasi nilai perusahaan yang terjadi dikarenakan ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Salah satu variabel yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan adalah rasio hutang atau leverage yang biasanya kita kenal dengan debt to equity ratio (DER) dan debt to asset ratio (DAR). Namun dalam penelitian ini peneliti akan fokus pada faktor Leverage (DER) terhadap nilai perusahaan. DER merupakan rasio yang mengukur nilai hutang dengan ekuitas.
Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan invetasi di masa yang akan datang. Teori hipotesis sinyal dividen (Signaling Hypothesis Theory ) yang dikembangkan oleh Bhattacharya menyatakan bahwa apabila terjadi kenaikan mengukur besarnya dividen yang dibagikan terhadap pendapatan bersih perusahaan. Semakin tinggi nilai DPR maka semakin tinggi pula pembagian cash dividend dibandingkan dengan laba per lembar saham, para investor akan lebih tertarik untuk menginvestasikan dananya pada perusahaan yang membagi labanya secara konsisten, bertambahnya investor yang menginvestasikan dananya pada perusahaan membuat saham perusahaan akan meningkat, dan dengan meningkatnya harga saham tersebut maka nilai perusahaan pun akan meningkat
Tabel 1.1
Rata-Rata Nilai ROA, DER, PBV, PER, dan DPR Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman Tahun 2016-2020
No Emiten tahun ROA DER PBV PER DPR
1 DLTA
2016 22,00 0,18 4,37 70,14 0,38 2017 20,86 0,17 3,48 47,34 0,52 2018 22,18 0,19 3,75 13,02 0,62 2019 22,29 0,21 4,48 16,62 0,12 2020 10,12 0,12 3,45 28,38 0,25
2 ICBP
2016 12,56 0,56 5,61 27,53 0,41 2017 11,20 0,56 5,11 29,29 0,51 2018 13,84 0,54 5,56 26,65 0,55 2019 13,85 0,54 4,88 25,86 0,30 2020 10,4 1,05 2,22 16,94 0,34
3 INDF
2016 5,04 1,13 1,55 13,21 0,28 2017 4,74 0,87 1,43 16,12 0,40 2018 4,31 0,88 1,35 15,71 0,53 2019 7,09 0,98 1,28 14,17 0,25
2020 3,95 1,06 0,76 9,31 0,28
4 MYOR
2016 10,49 1,18 6,38 26,48 0,19 2017 10,69 1,06 6,71 28,45 0,29 2018 9,75 1,03 7,45 34,02 0,34 2019 10,44 1,29 4,63 23,03 0,32 2020 10,41 0,75 5,37 29,45 0,03
5 ROTI
2016 9,58 1,02 5,97 28,94 0,40 2017 2,97 0,62 5,39 46,09 0,25
2018 3,93 0,51 2,6 42,75 0,28
2019 6,42 0,62 2,6 26,37 0,25
2020 4,83 0,38 2,6 37,79 0,89
6 SKLT
2016 3,63 0,92 1,27 8,45 0,20
2017 3,61 1,07 2,46 32,73 0,14 2018 6,02 1,20 3,16 32,12 0,14 2019 4,06 1,18 2,92 24,74 0,12 2020 5,45 0,90 2,65 25,42 0,22 Sumber : www.idx.co.id
Penulis tertarik untuk meneliti nilai perusahaan sebagai variabel terikat dalam penelitian ini dengan alasan bahwa hasil yang didapat dari perhitungan nilai perusahaan akan menggambarkan kondisi sebuah perusahaan, nilai perusahaan yang tinggi menandakan kondisi perusahaan yang baik yang secara tidak langsung memberikan gambaran bagaimana posisi perusahaan tersebut dalam pandangan pasar maupun masyarakat. Penulis juga menggunakan porfitabilitas karna Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba berdasarkan asset yang dimilikinya secara total. Alasan yang mendorong penulis mengambil leverage sebagai salah satu variabel bebas karena leverage mampu menggambarkan besar jumlah hutang yang digunakan perusahaan untuk membiayai kegiatan usahanya jika dibandingkan dengan aset sendiri.
Telah ada penelitian-penelitian terdahulu yang menyatakan pengaruh profitabilitas dan Leverage terhadap nilai perusahaan. Diteliti oleh Ferdinand Napitupulu1 dan Juli Anggelika (2021) dengan judul The Effect of Profitability, Debt Policy, Dividend Policy and Investment Decisions on Company Value in the Consumer Goods Industry Listed on the Indonesia Stock Exchange 2015-2019 Period mereka menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan, sedangkan kebijakan dividen dinilai tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Maryati Rahayu dan Bida Sari (2018), membuktikan bahwa leverage (DAR) berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan (Tobin‟s Q) sejalan dengan penelitian Ananto dan Sri (2018) yang
menyatakan profitabilitas, leverage dan kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan namun kebijakan dividen diketahui tidak mampu memoderasi profitabilitas dan leverage terhadap nilali perusahaan. Tidak sejalan dengan Ina Indrawati dan Titik Midiawati (2018) yang dalam studinya mengenai Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Likuiditas Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderasi, mereka menyatakan hasil bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilali perusahaan. Berdasarkan penelitian mengenai Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan : Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderating oleh Siti Ainur Rochmah (2017) mengemukakan hasil bahwa kebijakan dividen terbukti dapat memoderasi profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Di satu sisi, Zarah Puspitaningtyas (2017) melalu penelitian berjudul Efek Moderasi Kebijakan Dividen Dalam pengaruh profitabilitas terhadap Nilai perusahaan Manufaktur menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak mampu memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan.
Beberapa studi terdahulu ini menunjukkan ketidak konsistenan hasil terkait variabel-variabel bebas yang penulis gunakan dalam penelitian ini terhadap nilai perusahaan dan efek moderasi kebijakan dividen terhadap pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap niali perusahaan. Variabel Moderasi digunakan dalam penelitian ini karena terdapat ketidak konsistenan hasil mengenai hubungan antara profitabilitas dan leverage terhadap nilai perusahaan pada penelitian penelitian terdahulu.
Pada penelitian ini kebijakan dividen dijadikan variabel moderasi karna kebijakan dividen merupakan pusat perhatian banyak pihak seperti pemegang saham,
kreditor, maupun eksternal lain yang memiliki kepentingan dari informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Besar dividen dapat mempengaruhi harga saham . apabila dividen yang dibayar tinggi maka harga saham cenderung tinggi sehingga nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan membayar dividen. Dividen pada dasarnya adalah penentuan besarnya porsi keuntungan yang akan diberikan kepada pemegang saham
Berdasarkan latar belakang dan perbedaan hasil pada studi terdahulu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Profitabilitas dan Leverage Terhadap Nilai Perusahaan yang Dimoderasi Oleh Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu :
1. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diukur menggunakan PBV pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020 ?
2. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diukur menggunakan PER pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020 ?
3. Apakah Leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diuku rmenggunakan PBV pada perusahaan makanan dan minuman yang taerdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020 ?
4. Apakah Leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diuku rmenggunakan PER pada perusahaan makanan dan minuman yang taerdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020 ?
5. Apakah kebijakan dividen mampu memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan yang diukur menggunakan PBV ?
6. Apakah kebijakan dividen mampu memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan yang diukur menggunakan PER ?
7. Apakah kebijakan dividen mampu memoderasi pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan yang diukur menggunakan PBV ?
8. Apakah kebijakan dividen mampu memoderasi pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan yang diukur menggunakan PER ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
a. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PBV pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
b. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PER pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
c. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PBV pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
d. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PER pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
e. Untuk mengetahui kemampuan kebijakan dividen memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PBV pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
f. Untuk mengetahui kemampuan kebijakan dividen memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PER pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
g. Untuk mengetahui kemampuan kebijakan dividen memoderasi pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PBV pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
h. Untuk mengetahui kemampuan kebijakan dividen memoderasi pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan diukur menggunakan PER pada
perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2020.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan, serta tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan, antara lain :
a. Kegunaan Akademik/Teoritis
Penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan dan berdampak pada pengembangan ilmu manajemen keuangan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi informasi, baik teoritis maupun empiris kepada pihak-pihak yang akan melakukan penelitian mengenai nilai perusahaan dan faktor- faktor yang memengaruhinya dengan kebijakan dividen debagai variabel moderasi.
b. Kegunaan Empiris/Praktis
1) Bagi Peneliti dan Akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat unutk memberikan waawasan dan pemahaman mendalam tentang nilai perusahaan serta hasilnya dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian yang sama.
2) Bagi investor
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang dapat membantu investor dalam pengambilan keputusan saat akan melakukan investasi di perusahaan melalui penilaian berdasarkan nilai perusahaan tersebut.
3) Bagi Perusahaan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan untuk meningkatkan nilai perusahaan.
1.5 Rencana Sistematika Penulisan
Berikut gambaran secara garis besar masing-masing bab secara keseluruhan yang terbagi ke dalam 6 (enam) bab yang terdiri atas:
Untuk mempermudah pemahaman terhadap isi tulisan, maka penulis memberikan gambaran secara garis besar masing-masing bab secara keseluruhan yang terdiri dari beberapa bab, yaitu
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini akan diuraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : TELAAH PUSTAKA
Bab ini akan menjelaskan tentang landasan teori yang nanti dapat membantu dalam penelitian, pandangan islam, penelitian terdahulu, karangka pikiran, konsep opersional variable, dan hipotesis.
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini, menguraikan tentang metode penelitian yang terdiri dari lokasi dan waktu penelitian, populasi, dan penentuan sampel, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Bab ini menguraikan tentang gambaran umum perusahaan yang diteliti, pada penelitian ini perusahaannya yaitu perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI
BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis membahas tentang pengaruh Profitabilitas, leverage tehadap nilai perusahaan dan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Memoderasi pada perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI
BAB VI : PENUTUP
Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan dari pengujian pengaruh Profitabilitas, Keputusan investasi tehadap nilai perusahaan dan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Memoderasi pada perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan adalah penggabungan drai ilmu dan seni yang membahas, mengkaji serta menganalisi tentang bagaimana seorang manajer keuangan denagn mmepergunkan seluruh suber daya perusahaan untuk mencari dana, mengelola dana, dan membagi dana dengan tujuan mampu memberikan profit atau kemakmuran bagi para pemegang saham dan suistainability (keberlanjutan) usaha bagi perusahaan.( Fahmi , 2014). ”. Pada dasarnya manajemen keuangan merupakan suatu proses dalam kegiaan keuangan perusahaan yang berhubungan dengan upaya untuk mndapatkan dana perusahaan serta meminimalkan biaya perusahaan dan juga upaya pengelolaan keuangan suatu badan usaha atau organisasi untuk dapat mencapai tujuan keuangan yang telah ditetapkan. Berdasarkan uraian Brigham dan Houston (2011) yang di alih bahasakan oleh Robinson Tarigan berpendapat mengenai tujuan manajemen keuangan adalah sebagai berikut:
1. Laba yang maksimal untuk memaksimalkan nilai perusahaan 2. Memaksimumkan kemakmuran pemegang saham
3. Melakukan pengawasan aliran dana, dimaksudkan agar penggunaan dan pencarian dana dapat diketahui segera
4. Menjaga fleksibilitas perusahaan.
2.2 Nilai Perusahaan
2.2.1 Pengertian Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
Nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat, untuk mencapai nilai perusahaan yang tinggi pada umumnya para pemodal menyerahkan pengelolaannya kepada para profesional. Para profesional diposisikan sebagai manajer ataupun komisaris (Nurlela dan Islahuddin, 2008 dalam Kusumadilaga, 2010). Nurlela dan Ishaluddin (2008) dalam Kusumadilaga (2010) menjelaskan bahwa enterprise value (EV) atau dikenal juga sebagai firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi investor, karena merupakan indikator bagi pasar menilai perusahaan secara keseluruhan.
Sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Siallagan dan Machffoedz 2006) bahwa tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan. Moeljadi (2014) menyatakan beberapa konsep nilai untuk menggambarkan nilai perusahaan, antara lain: nilai nominal, nilai pasar, nilai intrinsik, nilai buku, dan nilai likuidasi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsep yang paling representatif untuk menentukan kinerja pasar perusahaan adalah nilai intrinsik, tetapi sangat sulit untuk memperkirakan nilai intrinsik, karena penentuannya memerlukan kemampuan untuk mengidentifikasi variabel signifikan yang menentukan profitabilitas perusahaan.Variabel-variabel itu berbeda dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Oleh karena itu, nilai pasar digunakan dengan alasan kemudahan data juga didasarkan pada penilaian yang moderat.Nilai perusahaan dalam studi ini didefinisikan sebagai nilai pasar dari saham perusahaan. Nilai pasar merupakan nilai dari saham yang berlaku dipasaran. Nilai ini ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan pasar atas saham perusahaan. Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat. Nilai perusahaan menjadi sinyal positif bagi investor, bahwa nilai perusahaan yang tinggi mencerminkan kemakmuran pemegangan saham juga tinggi.
Dalam beberapa riset nilai perusahaan lazim didekati dengan beberapa alat ukur seperti ; price to book value (PBV), price earning ratio (PBV) dan rasio tobin‟s Q (Puspitaningtyas 2017)
Beberapa teori berkaitan dengan keputusan nilai perusahaan diantaranya:
1) Teori Keagenan
Teori keagenan yang dikemukakan oleh C.Jensen dan Willian H.
Meckling (Lukas Setia Atmaja,Ph.D), menyatakan bahwa adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan dapat menimbulkan konflik.
Terjadinya konflik yang disebut agency problem disebabkan pihak-pihak yang
terkait yaitu manajer dan pemegang saham mempunyai kepentingan yang saling bertentangan. Jika terjadi perbedaan visi antara pemegang saham dan manajer, maka akan timbul sebuah masalah. Menurut Jensen (1986), agency problem timbul karena seseorang cenderung untuk mementingkan dirinya sendiri dan munculnya konflik ketika kepentingan tersebut bertemu dalam suatu aktivitas bersama. Konflik akan menciptakan masalah (agency cost), sehingga masingmasing pihak akan berusaha untuk mengurangi timbulnya agency cost ini.
2) Signal Theory
Menurut Brigham dan Houston (2011), signal adalah suatu tindakan yang diambil perusahaan untuk memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Teori sinyal menunjukan adanya asimetri informasi antara manajemen perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan.
2.2.2 Jenis – Jenis Nilai Perusahaan
Terdapat lima jenis nilai perusahaan berdasarkan metode perhitungan yang digunakan. ( Yulius dan Tarigan 2007 ) yaitu :
1) Nilai Nominal
Nilai nominal adalah nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran dasar perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan, dan juga ditulis secara jelas dalam surar saham kolektif.
2) Nilai Pasar
Nilai pasar sering disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawar menawar di pasar saham. Nilai ini hanya bisa di tentukan jika saham perusahaan dijual di pasar saham.
3) Nilai Intrinsik
Nilai intrinsik merupakan konsep yang paling abstrak, karena mengacu kepada perkiraan nilai eiil suatu perusahaan. Nilai perusahaan dalam konsep nilai intrinsik ini bukan sekedar harga dari sekumpulan aset, melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis yang memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan di kemudian hari.
4) Nilai Buku
Nilai buku adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep akuntansi. Secara sederhana dihitung dengan membagi selisih antar total aset dan total utang dengan jumlah saham yang beredar.
5) Nilai Likuiditas
Nilai likuiditas adalah nilai jual seluruh aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai likuiditas dapat dihitung dengan cara yang sama dengan menghitung nilai buku, yaitu berdasarkan necara performa yang disiapkan ketika suatunperusahaan akan dilikuidasi.
2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan
Menurut Husna ( 1996 ), nilai perusahaan merupakan harga yang akan dibayar calon pemberi jika suatu perusahaan dijual. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan :
1) Saham
Saham merupakan salah satu faktor dalam menilai perusahaan. Bahkan investor pun melihat harga saham ini sebagai indikator dalam menentukan keputusan berinvestasinya pada perusahaan. Saham dan nilai perusahaan memiliki hubungan yang erat karena keduanya berbanding lurus. Jika harga saham tinggi, maka nilai perusahaan pun akan tinggi pula. Sebaliknya jika harga saham turun, maka secara otomatis nilai perusahaan pun ikut turun.
Naik turunnya harga saham ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kesejahteraan para pemegang saham di suatu perusahaan.
2) Kemampuan Perusahaan Menghasilkan Laba
Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga turut memengaruhi nilai perusahaan. Dalam istilah ekonomi, hal ini juga sering disebut sebagai profitabilitas. Jika laba yang dihasilkan perusahaan jumlahnya besar dan terus meningkat, tentu nilainya akan naik. Namun jika laba yang dihasilkan perusahaan begitu-begitu saja dan bahkan menurun, maka bisa dipastikan nilai perusahaan pun ikut menurun.
3) Kebijakan Hutang
Kebijakan hutang yang dilakukan perusahaan juga turut mempengaruhi.
Membangun perusahaan dengan hutang tentu ada tanggung jawab tersendiri,
sebab perusahaan harus menanggung beban hutang termasuk bunganya. Hal ini tentu mengurangi pendapatan yang dihasilkan perusahaan. Selain itu kebujakan hutang yang berlebihan juga meningkatkan resiko gagal bayar bagi perusahaan. Jika saham dan kemampuan menghasilkan laba perusahaan berbanding lurus dengan nilai perusahaan, maka kebijakan hutang memiliki perbandingan terbalik dengan perusahaan. Semakin banyak perusahaan berhutang, maka nilai perusahaan akan menurun. Sebaliknya, jika perusahaan hutangnya sedikit bahkan tidak memiliki hutang, maka nilainya akan meningkat.
4) Skala Perusahaan
Skala perusahaan bisa dikatakan jangkauan perusahaan. Dalam artian, sampai mana kiprah perusahaan, apakah lokal saja, nasional atau bahkan internasional. Hal ini juga turut berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Semakin luas skala atau jangkauan perusahaan, maka semakin meningkat pula nilainya. Pun begitu sebaliknya jika jangkauan atau skala perusahaannya tidak terlalu luas, maka nilai perusahaannya pun juga tidak terlalu tinggi.
5) Kebijakan Dividen
Dalam kebijakan dividen tidak hanya tentang jumlah uang yang terlibat. Hal ini berkaitan erat dengan investasi perusahaan dan kebijakan lainnya. Ada dua pihak yang berkepentingan dalam kebijakan saham ini. Kedua pihak tersebut saling berkaitan, yaitu antara pemegang saham dan manajemen perusahaan.
Sehingga kebijakan dividen merupakan hal yang cukup rumit dan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
6) Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan adalah kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kapasitas. Pertumbuhan perusahaan akan memaparkan seberapa jauh posisi ekonomi perusahaan dalam industri. Ada 2 alat ukur yang bisa dipakai untuk melihat pertumbuhan perusahaan. Yang pertama Assets Growth Ratio, aset ini merupakan aktiva yang dipakai untuk operasional perusahaan. Semakin tinggi aset, maka semakin tinggi pula operasional perusahaan. Yang kedua Sales Grow Ratio, dalam hal ini dilihat adalah perubahan penjualan tiap tahunnya.
Penjualan yang tinggi menandakan perusahaan dapat meningkatkan perusahaannya, yang pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan keuntungan.
2.2.4 Pengukuran Nilai Perusahaan
Menurut Brigham dan Daves (2014:54), dalam mengukur nilai perusahaan terdapat rasio yang terdiri dari :
a. PER (Price Earning Ratio)
PER merupakan rasio atau perbandingan antara earning per share dalam saham dengan harga saham perusahaan. Melalui PER inilah perubahan laba perusahaan di masa yang aka n datang dapat diketahui. Dengan begitu, semakin besar PER, maka semakin besar pula nilai perusahaan. Sebab harapan perusahaan untuk tumbuh juga semakin besar.
PER dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
Harga Pasar Saham
PER = X 100%
Laba Perlembar Saham b. PBV (Price Book Value)
Berdasarkan penjelasan dari afzal. PBV memberi gambaran tentang seberapa besar pasar memberi harga terhadap nilai buku saham sebuah perusahaan.
Tingginya rasio PBV membuat pasar semakin percaya prospek perusahaan tersebut. Selain itu PBV juga bisa digunakan untuk melihat seberapa jauh perusahaan menciptakan nilai perusahaan yang relatif berdasarkan jumlah modal yang telah ditanamkan. Dari PBV kita juga dapat mengetahui rasio nilai buku dengan saham. PBV dapat dihitung dengan cara berikut :
Harga Perlembar Saham
PBV = X 100%
Nilai buku saham biasa c. Tobin‟s Q
Metode lain yang bisa digunakan adalah dengan Tobin‟s Q. Profesor James Tobin mengembangkan metode ini berdasarkan sebuah konsep yang berharga, sebab dapat menjelaskan perkiraan pasar keuangan saat ini, terutama nilai hasil pengembalian dari setiap dolar yang di investasikan. Perhitungan nilai perusahaan dengan Tobin‟s Q didasarkan pada perbandingan antara nilai pasar saham perusahaan dengan nilai buku ekuitas dari perusahaan yang bersangkutan.
MVE + Debt Tobin‟s Q =
TA
Diketahui :
MVE = Harga Saham Debt = Hutang TA = Total asset
Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan untuk mengukur nilai perusahaan adalah PBV (Price Book Value) dan PER (Price Earning Ratio) karena PBV dianggap lebih melihat pada keadaan/kondisi sebenarnya dari sebuah perusahaan. Nilai buku sifatnya relatif stabil, Jika investor kurang percaya terhadap estimasi arus kas, maka nilai buku merupakan cara paling sederhana untuk membandingkannya. Melalui PER perubahan laba perusahaan di masa yang akan datang dapat diketahui.
2.3 Profitabilitas
2.3.1 Pengertian profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang diperoleh dari penjualan dan investasi. Rasio profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, dan lain sebagainya. Semakin baik pertumbuhan profitabilitas perusahaan berarti prospek perusahaan di masa depan dinilai semakin baik, artinya nilai perusahaan juga akan dinilai semakin baik di mata investor. Apabila kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham juga
akan meningkat (Husnan & Pudjiastuti, 2010). Naiknya laba bersih dapat dijadikan salah satu indikasi bahwa nilai perusahaan juga naik karena naiknya laba bersih suatu perusahaan akan menyebabkan harga saham yang berarti juga kenaikan dalam nilai perusahaan (Analisa, 2011). Penelitian yang dilakukan (Hasibuan, A R, & Endang N P, 2016) yang menemukan bahwa profitabilitas (ROE) berpengaruh signifikan positif terhadap nilai perusahaan (Tobin‟s Q).
Menurut Kasmir (2010:196) profitabilitas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Jika manajer mampu mengelola perusahaan dengan baik maka biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akan menjadi lebih kecil sehingga laba yang dihasilkan menjadi lebih besar. Besar atau kecilnya laba ini yang akan mempengaruhi nilai perusahaan.
Rasio Profitabilitas secara umum ada 4 yaitu gross profit margin, net profit margin, return on investment, dan return on equity. Dalam penelitian ini rasio yang digunakan yaitu return on asset (ROA) karena rasio ini mengkaji sejauh mana kemampuan perusahaan dalam memperoleh profit yang dilihat dari segi aset perusahaan tersebut. Semakin tinggi rasio ini,semakin baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya
ROA =
2.3.2 Jenis – Jenis Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menurut Fahmi (2012:80-82) terdiri dari beberapa rasio diantaranya :
1) Gross Profit Margin
Gross Profit Margin atau laba kotor digunakan untuk mengetahui keuntungan kotor perusahaan yang berasal dari penjualan setiap produknya. Rasio ini sangat dipengaruhi oleh harga pokok penjualan.
Apabila harga pokok penjulan meningkat maka gross profit margin akan menurun, begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain, rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya roduksi, mengindikasi kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisiensi. Formulasi dari rasio gross profit margin adalah :
GPM =
2) Net Profit Margin
Rasio net profit margin disebut juga dengan rasio pendapatan terhadap penjualan. Mengenai profit margin ini Joeol G. Siegel dan Jae K. Shim mengatakan, “(1) Margin laba bersih sama dengan laba bersih dibagi dengan penjualan bersih. Ini menunjukan kestabilan kesatuan untuk menghasilkan perolehan pada tingkat penjualan khusus. Dengan memeriksa margin laba dan norma industri sebuah perusahaan tahun- tahun sebelumnya, kita dapat menilai efisiensi operasi dan strategi penetapan harga serta status persaingan perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri tersebut. (2) Margin laba kotor sama dengan laba kotor di bagi laba bersih. Margin laba yang tinggi
lebih di sukai karena menunjukan bahwa perusahaan mendapat hasil yang baik yang melebihi harga pokok penjualan”.
Adapun rumus rasio Net Profit Margin adalah :
NPM =
3) Return On Assets
Brigham dan Houston alih-bahasa Dodo H (2010) mengatakan bahwa ROA is the ratio of net income to total asset measures the return on total asset.
Artinya ROA adalah mengukur rasio laba bersih terhadap total aktiva. Return on asset merupakan rasio yang dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh profit yang dilihat dari segi aset perusahaan tersebut.
Adapun rumus rasio Return On Asset adalah :
ROA =
4) Return On Equity
Rasio Return On Equity (ROE) disebut juga dengan laba atas equity. Di beberapa referensi disebut juga dengan rasio total asset turnoveratau perputaran total aset. Rasio ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas. Adapun rumus return on equity (ROE) adalah:
ROE =
2.4 Leverage
Rasio leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori extreme leverage (utang ekstrim) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang.( Fahmi, 2014)
Rasio leverage secara umum ada 8 yaitu debt to total assets, debt to equity ratio, times interest earned, cash flow coverage, longterm debt to total capitalization, fixed charge coverage, dan cash flow adequancy. Leverage dalam penelitian ini diwakili oleh Debt to Equity Ratio (DER). Debt to Equity Ratio mencerminkan kemampuan ekuitas perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka menengah dan jangka panjang. Harahap (2004) mengungkapkan bahwa “semakin kecil rasio Debt to Equity Ratio, semakin baik kemampuan perusahaan untuk dapat bertahan dalam kondisi yang buruk”. Leverage menjadi penting bagi investor dalam membuat keputusan investasi karena dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memberikan pengembalian kepada pemegang saham.
Debt Equity Rasio
%
2.5 Kebijakan Dividen
2.5.1 Pengertian Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan invetasi di masa yang akan datang. Kebijakan ini akan melibatkan dua pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda yaitu pihak pertama, para pemegang saham dan pihak kedua, manajemen perusahaan itu sendiri. Laba yang diperoleh dari kegiatan investasi digunakan kembali atau dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Oleh karena itu dibutuhkan kebijakan untuk mengaturnya yang disebut dengan kebijakan dividen.
Selain itu, pembagian laba perusahaan dalam bentuk dividen akan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham yang akan meningkatkan nilai saham perusahan. Teori bird in the hand yang diungkapkan oleh Modiglini dan Miller (1961) juga menjelaskan besarnya dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham akan meningkatkan harga saham, selain itu hal ini juga menjadi daya tarik bagi pemegang saham yang lain sehingga meningkatkan nilai perusahaan.
Dividend payout ratio (DPR) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk kebijakan dividen. DPR merupakan rasio yang menggambarkan besarnya proporsi dividen yang dibagikan terhadap pendapatan bersih perusahaan. Rasio ini mengukur berapa besar bagian laba bersih setelah pajak yang dibayarkan sebagai dividen kepada pemegang saham. Semakin tinggi nilai DPR maka semakin tinggi pula pembagian cash dividend jika dibandingkan dengan laba per lembar saham,
apabila perusahaan merencanakan untuk membagikan labanya kepada pemegang saham dalam bentuk dividen dari pada menahannya, maka para investor akan lebih tertarik untuk menginvestasikan dananya pada perusahaan yang membagi labanya secara konsisten, dengan bertambahnya investor yang menginvestasikan dananya pada perusahaan maka harga saham perusahaan akan meningkat, dan dengan meningkatnya harga saham tersebut maka nilai perusahaan pun akan meningkat.
Rasio yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
Dividen per lembar saham DPR =
Laba per lembar saham
2.5.2 Jenis Kebijakan Dividen
Ada bebrapa jenis kebijakan dividen secara tunai atau cash dividend yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham, diantaranya :
1) Cash Dividend
Dividen Tunai adalah dividen yang paling umum dan populer. Sistem pembayaran tunai ini terjadi ketika perusahaan akan membayarkan dividen bisnisnya dalam bentuk uang tunai kepada pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang mereka miliki. Kemudian, uang tersebut akan disimpan di dalam rekening bank para pemegang saham.
2) Stock Dividend
Dividen Saham atau Dividend ini memiliki sistem dimana perusahaan akan membayarkan keuntungan kepada para pemegang saham dengan mengeluarkan saham baru. Nominal pembayaran ini sudah sesuai berdasarkan jumlah saham yang dimiliki para pemegang saham dan investor.
3) Property Dividend
Disebut sebagau Dividen Properti Jenis dividen ini mengharuskan perusahaan membayar dividen dalam bentuk properti bukan uang tunai. Biasanya, ini terjadi ketika perusahaan memiliki uang kas operasi yang terbatas namun ingin membayarkan dividen kepada investornya. Bentuk jenis ini dapat berupa aset seperti kendaraan, real estate, dan semacamnya.
4) Scrip Dividend
Yaitu Dividen Skrip. Jenis ini kurang lebih sama seperti dividen properti yang ketika sebuah perusahaan tidak memiliki uang kas yang cukup untuk membayar dividen para pemegang sahamnya. Dalam jenis ini, perusahaan akan membayar dividen yang mereka tanggung dalam bentuk surat utang atau surat perjanjian hutang untuk membayar para pemegang saham dengan waktu yang sudah mereka sepakati.
5) Liquidating Dividend
Atau Dividen Likuidasi dimana perusahaan akan mengembalikan modal awal investor berikan sebagai ekuitas perusahaan. Sistem ini biasanya terjadi saat perusahaan tersebut sedang mengalami kebangkrutan dan akan mengakhiri bisnisnya.
2.5.3 Teori Kebijakan Dividen
Terdapat tiga teori tentang kebijakan dividen, yang menjelaskan bagaimana besar kecilnya dividend payout ratio (DPR) terhadap harga saham. Adapun ketiga teoro tersebut adalah :
1) Dividend Irrelevance Theory
Teori ini dikemukakan oleh Merton dan Franco Modigliani (MM). Menurut dividend irrelevance theory, kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga pasar saham perusahaan atau nilai perusahaan. Modigliani dan Miller berpendapat bahwa nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan (earning power) dan risiko bisnis, sedangkan bagaimana cara membagi arus pendapatan menjadi dividen dan laba ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
2) Bird in the Hand Theory
Teori ini dikemukakan oleh Myron Gordon dan John Lintner. Berdasarkan bird in teh hand theory, kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga saham. Artinya, jika dividen yang di bagikan perusahaan semakin besar, maka harga pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi dan sebaliknya.
3) Tax Preference Theory
Berdasarkan tax preference theory, kebijakan dividen mempunyai pengaruh negatif terhadap harga pasar saham perusahaan. Artinya, semakin besar jumlah dividen yang dibagikan suatu perusahaan semakin rendah harga pasar pasar saham perusahaan yang bersangkutan.
4) Signaling Hypothesis Theory
Teori ini menyatakan bahwa apabila terjadi kenaikan dividen maka akan berpengaruh terhadap kenaikan harga saham. Sebaliknya penurunan dividen berpengaruh terhadap penurunan harga saham. Hal itu dianggap sebagai bukti bahwa investor lebih menghargai dividen dibandingkan capital gain.
5) Clientele Effect Theory
Teori ini menyatakan bahwa kelompok pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi berbeda pula terhadap kebijakan dividen perusahaan.
Kelompok pemegang saham yang membutuhkan pendapatan lebih menginginkan prosentase laba yang dibayarkan atau Divident Payout Ratio tinggi. Sebaliknya, apabila kelompok pemegang saham tersebut tidak membutuhkan penghasilan akan tertarik jika perusahaan menahan sebagian laba bersih perusahaan.
2.6 Pandangan Islam
2.6.1 Pandangan Islam Tentang Kegiatan Investasi
Sudah diketahui bahwa Islam merupakan salah satu agama yang senantiasa mengajarkan kebaikan dan mendorong manusia untuk terus melakukan dan memilih yang terbaik dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga, Islam tidak hanya fokus pada sesuatu yang berkaitan dengan ibadah saja, namun juga mengatur hal-hal yang berkaitan dengan muamalah. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang mungkin kerap mendengar istilah ekonomi yang sering dihubungkan dengan keuangan syariah.
Ekonomi keuangan syariah sendiri dapat diartikan suatu sistem ekonomi dan keuangan yang sesuai dengan hukum islam, termasuk di dalamnya adalah investasi.
Investasi merupakan salah satu cara meningkatkan pendapatan. Dengan berinvestasi, pastinya kamu bisa mencapai kebebasan finansial tanpa perlu khawatir dengan inflasi. Di sisi lain, investasi juga merupakan jawaban buat untuk rencana masa depan. Seperti halnya membeli rumah, mobil, melanjutkan pendidikan, liburan, dana pensiun, dan lain sebagainya.
Anjuran untuk berinvestasi tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 261, bahwa;
اَوْيَا ٌَ ْوُقِفُُْي ٍَْيِرَّنا ُمَثَي َّبَح ُةَئاِّي ٍةَهُب ُُْْۢس ِّمُك ْيِف َمِب اََُس َعْبَس ْثَحَب ََْْۢا ٍةَّبَح ِمَثًََك ِ هّاللّ ِمْيِبَس ْيِف ْىُهَن
ٍة
ُُءاَََّي ًٍَِْن ُُِِ هُٰي ُ هّلّ اََ ۗ ٌىْيِهَع ٌعِس اََ ُ هّلّ اََ ۗ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”.(QS Al-baqarah : 261)
Berinvestasi yang dimulai dengan sebutir benih menjadi tujuh bulir dan akhirnya menjadi tujuh ratus biji. Al-qur‟an nampaknya memperlihatkan dan memberikan panduan investasi, yang mana dalam hal ini yang dimaksud adalah infaq.
Meski memiliki tajuk yang sama, investasi Islam dan investasi konvensional tentunya memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan yang dimiliki oleh keduanya tidaklah terlalu signifikan, namun dapat menjadi alasan bagi investor untuk memilih jenis investasi mana yang akan dipilih.
firman Allah SWT pada surat An-Nisa ayat 9 yang bunyinya sebagai berikut:
ًل ْوَقا ْوُن ْوُقَيْنَوَههّهنااوُقَّحَيْهَف ًِْْۖهْيَهَعا ْوُفاَخاًف هِِضًةَّيِّزُرًِْهِفْهَخُِْيا ْوُكَسَج ْوَهَُْيِرَّناََ ْخَيْنََ
اًدْيِدَس
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
(QS. An-Nisa: 9).
Melalui ayat tersebut diketahui bahwa Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar tidak meninggalkan keturunannya dalam kondisi yang lemah, baik itu secara moril atau materil. Ayat ini juga menjelaskan tentang diperintahkannya untuk meningkatkan kehidupan ekonomi dengan cara investasi jangka panjang. Investasi inilah yang nantinya akan diwariskan pada keturunannya demi bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sampai ia bisa mandiri.
Al-Qur‟an surat Lukman ayat 34
ٌَِّإ ِسْكَج اَذاَي ٌسْفََ يِزْدَج اَيََ ْۖ ِواَحْزَ ْلْا يِف اَي ُىَهَِْيََ َثْيَغْنا ُلِّزَُُيََ ِةَعاَّسنا ُىْهِع َُِدُِْع َ َّاللّ
اَيََ ْۖ اًدَغ ُب
ٌسيِبَخ ٌىيِهَع َ َّاللّ ٌَِّإ ۚ ُتوًَُج ٍضْزَأ ِّيَأِب ٌسْفََ يِزْدَج
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Lukman : 34)
Ayat diatas, Allah secara tegas menyatakan bahwa tiada seorangpun di dunia ini yang bisa mengetahui apa yang akan diperbuat atau diusahakan serta peristiwa apa yang akan terjadi besok. Karena ketidaktahuan tersebut maka manusia diperintahkan berusaha, salah satunya dengan cara berinvestasi sebagai bekal menghadapi hari esok yang tidak pasti tersebut, hasilnya merupakan hak prerogratif Allah tapi yang penting mengikuti standart agama dalam setiap kegiatan apapun termasuk investasi.
Tak hanya dari Al-Quran saja. Dasar hukum investasi dalam Islam pun juga dijelaskan dalam hadis Nabi. Hal ini mengingat bahwa sejak kecil Nabi saw sudah berdagang. Dibuktikan saat beliau berusia 12 tahun, Nabi saw ikut pamannya berdagang ke Syria. Lalu di masa mudanya pun beliau juga berdagang. Setiap aktivitas perdagangan yang dilakukan Nabi saw selalu dilandasi dengan sifat jujurnya.
Nabi Muhammad saw.memasuki dunia bisnis dan perdagangan dengan cara menjalankan modal orang lain (investor), baik dengan upah (fee based) maupun dengan sistem bagi hasil (profit sharing) (Antonio 2007). Profesi ini kurang lebih bertahan selama 25 tahun, angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan Muhammad saw.yang berlangsung selama kurang lebih 23 tahun (Antonio 2007).
Salah satu hadis beliau yang masyhur mengenai investasi dan perserikatan adalah:
“Dari Abu Hurairah ra.bahwa Rasulullah saw.bersabda: Allahberfirman: Aku menjadi orang ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada temannya. Jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan) mereka (HR. Abu Dawud dan dinilai shahih oleh al-Hakim).
Berdasarkan paparan diatas, praktik investasi sudah ada sejak nabi Muhammad saw.,bahkan beliau secara langsung terjun dalam praktik binis dan investasi. Beliau memberikan contoh bagaimana mengelola investasi hingga mengasilkan keuntungan yang banyak. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman beliau yang lama sebagai pedagang dan pengelola bisnis (muḍarib).
Meskipun fatwa sifatnya tidak mengikat, tetapi pada prakteknya fatwa DSN- MUI adalah salah satu rujukan dalam mengembangkan pasar modal syariah Indonesia. Sampai dengan saat ini, terdapat 17 fatwa DSN-MUI yang berhubungan dengan pasar modal syariah. Tiga (3) fatwa DSN-MUI yang menjadi dasar pengembangan pasar modal syariah adalah:
1) Fatwa DSN-MUI No: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa dana Syariah
2) Fatwa DSN-MUI No: 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal
3) Fatwa DSN-MUI No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.
2.6.2 Akad dan Pasar Modal Syariah 2.6.2.1 Pengertian Akad
Akad (ikatan, keputusan, atau penguatan) atau perjanjian atau kesepakatan atau transaksi dapat diartikan sebagai suatu komitmen yang terbingkai dengan nilai-nilai Syariah. Dalam istilah Fiqih, secara umum akad berarti sesuatu yang menjadi tekad seseorang untuk melaksanakan, baik yang muncul dari satu pihak, maupun yang muncul dari dua pihak. Secara khusus, akad berarti keterkaitan antara ijab (pernyataan penerimaan kepemilikan) dan qabul (pernyataan penerimaan kepemilikan) dalam lingkup yang disyariatkan dan berpengaruh pada sesuatu.
2.6.2.2 Rukun dan Syarat Akad
Rukun dalam akad ada tiga yaitu: Pelaku akad, Objek akad, dan Shighat atau pernyataan pelaku akad (ijab dan qabul). Pelaku akad haruslah orang yang mampu melakukan akad untuk dirinya (ahliyah) dan mempunyai otoritas syariah yang diberikan pada seseorang untuk merealisasikan akad sebagai perwakilan dari yang lain. Objek akad harus ada ketika terjadi akad, harus sesuatu yang diisyaratkan, harus bisa diserahterimakan ketika terjadi akad, dan harus sesuatu yang jelas antara dua pelaku akad. Sementara Dalam pasal 22 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, rukun dan syarat akad hampir sama engan syarat sahnya suatu perjanjian berdasarkan pasal 1320 KUHP, yaitu:
1) Pihak-pihak yang berakad harus memiliki kecakapan dalam melakukan perbuatan hukum.dalam hukum positif disebut sebagai “cakap”. Kriteria “cakap”