• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

LABUHAN DELI TAHUN 2018

SKRIPSI

Oleh

KARINA PURNOMO NIM. 141000184

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(2)

LABUHAN DELI TAHUN 2018

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

KARINA PURNOMO NIM. 141000184

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(3)
(4)

ii TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes.

Anggota : 1. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes.

2. dr. Fauzi, S.K.M.

(5)

iii

“Pengaruh Karakteristik Indvidu dan Sosial Ekonomi Pasangan Usia Subur terhadap Pemilihan Jenis Kontrasepsi Operasi Medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018” beserta seluruh sisanya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Maret 2019

Karina Purnomo

(6)

iv

dalam mengatur jarak serta kehamilan sehingga dapat menanggulangi permasalahan kependudukan di Indonesia. Kontrasepsi operasi medis (MOP dan MOW) merupakan salah satu jenis kontrasepsi yang paling efektif dari segi penggunaannya, namun pemakaian kontrasepsi jenis ini masih rendah. Pada Tahun 2017 penggunaan kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli masih rendah yaitu MOP 47 (2,0%), MOW 141 (6,2%) dari keseluruhan PUS (Pasangan Usia Subur ) yang menjadi akseptor KB aktif di Kelurahan Labuhan Deli yaitu 2258 PUS. Permasalahan ini yang menjadi landasan dilakukannya penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh karakteristik individu dan sosial ekonomi terhadap pemilihan kontrasepsi operasi medis sehingga dapat mengidentifikasi dan mendeskripsikan variabel apa saja yang berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli. Jenis penelitian ini merupakan penelitian penelitian survey observational dengan metode pengumpulan data secara cross sectional artinya terhadap subyek penelitian hanya diamati tanpa diberikan perlakuan apapun dan dengan hanya 1 (satu) kali pengukuran. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasangan usia subur yang menjadi akseptor KB aktif 2258 orang. Teknik pengambilan sampel yaitu secara random sampling sebanyak 107 orang. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik berganda . Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi operasi medis (MOP dan MOW) adalah umur dengan nilai p value sebesar 0,005, dukungan pasangan dengan nilai p value sebesar 0,022, dan pekerjaan dengan nilai p value sebesar 0,030. Disarankan agar dapat meningkatkan informasi bagi pasangan usia subur dengan melakukan penyuluhan mengenai kontrasepsi operasi medis kepada PUS (Pasangan Usia Subur) agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang benar mengenai kontrasepsi operasi medis sehingga pengetahuan masyarakat menjadi lebih baik.

Kata kunci: Kontrasepsi operasi medis, tubektomi, vasektomi

(7)

v

pregnancy so that they can overcome population problems in Indonesia. Medical surgery contraception (MOP and MOW) is one of the most effective types of contraception in its use, but this type of contraception is still low. In 2017 the use of contraceptive medical operations in Labuhan Deli Village was still low, namely MOP 47 (2,0%), MOW 141 (6,2%) of all PUS (fertile age couples) who became active family planning acceptors in Labuhan Deli Village, 2258 PUS. This problem is the basis of the research to find out how the influence of individual and socio-economic characteristics on the selection of medical surgery contraception so that it can identify and describe any variables that influence the selection of medical surgery contraception in Labuhan Deli Village. This type of research is an observational survey research method with a cross-sectional data collection method which means that the research subjects were only observed without any treatment and with only 1 (one) measurement. The population in this study were all fertile couples who became active KB acceptors 2258 people. The sampling technique is random sampling as many as 107 people. Data analysis in this study used multiple logistic regression analysis. The results showed that the variables that influence the selection of medical surgery contraception (MOP and MOW) are age with a p value of 0,005, support for couples with a p value of 0,022, and work with a p value of 0,030. It is recommended that information can be improved for couples of childbearing age by conducting counseling on medical surgery contraception to PUS (fertile age couples) so that the public can obtain correct information about medical operations contraception so that public knowledge is better.

Keywords: Contraception medical surgery, tubectomy, vasectomy

(8)

vi

karunianya yang berlimpah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul

“Pengaruh Karakteristik Individu dan Sosial Ekonomi Pasangan Usia Subur (PUS) terhadap Pemilihan Jenis Kontrasepsi Operasi Medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan semangat, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu proses penyelesaian skripsi yaitu kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes., selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan sekaligus dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, dukungan, nasihat, arahan, saran yang membangun serta telah meluangkan banyak waktu kepada penulis sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.

4. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes. dan dr. Fauzi. S.K.M., selaku dosen anggota penguji yang telah memberikan masukan serta saran-saran kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini serta memberikan dukungan, bimbingan

(9)

vii

5. drh. Hiswani, M.Kes., selaku dosen Penasehat Akademik yang telah memberikan bimbingan dan dukungan moral selama perkuliahan.

6. Seluruh dosen dan staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

7. Masyitah, S.Sos., selaku Kepala Desa Kelurahan Labuhan Deli yang telah memberi izin untuk melaksanakan penelitian serta memperoleh data di Keluaran Labuhan Deli.

8. Teristimewa untuk keluarga dan orang tua tercinta Heru Purnomo dan Rita Erawati, kepada kedua adik saya Putri Purnomo dan M. Daffa Purnomo atas doa, nasihat, kasih sayang, perhatian, dukungan, serta motivasi yang telah diberikan dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat terutama dalam kemajuan ilmu pengetahuan.

Medan, Maret 2019

Karina Purnomo

(10)

viii

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abtract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi viii

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xiii

Daftar Istilah xiv

Daftar Riwayat Hidup xv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 8

Tujuan Penelitian 8

Tujuan umum 8

Tujuan khusus 8

Manfaat Penelitian 9

Tinjauan Pustaka 10

Sejarah Keluarga Berencana (KB) 10

Pengertian keluarga berencana 11

Tujuan keluarga berencana 12

Ruang lingkup program keluarga berencana 13

Sasaran program keluarga berencana 13

Pasangan Usia Subur (PUS) 14

Kontrasepsi 14

Kontrasepsi Operasi Medis 15

Pengertian kontrasepsi operasi medis (MOP dan MOW) 15

Keefektifan kontrasepsi operasi medis 15

Kelebihan dan kekurangan kontrasepsi operasi medis 16 Syarat dilakukannya kontrasepsi operasi medis 16

Pelayanan kontrasepsi operasi medis 18

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi 23 Operasi Medis

Karakteristik Pasangan Usia Subur (PUS) 23

Sosial ekonomi 30

Landasan Teori 32

Kerangka Konsep 33

Hipotesis 33

(11)

ix

Waktu penelitian 35

Populasi dan Sampel 35

Populasi 35

Sampel 35

Variabel dan Definisi Operasional 36

Metode Pengumpulan Data 37

Metode Pengukuran 37

Metode Analisis Data 39

Hasil Penelitian 40

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 40

Deskripsi Variabel Penelitian 40

Analisis Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Pemilihan

Kontrasepsi Operasi Medis (MOP dan MOW) 44

Analisis Pengaruh Sosial Ekonomi terhadap Pemilihan

Kontrasepsi Operasi Medis (MOP dan MOW) 46

Analisis Pengaruh Karakteristik Individu dan Sosial Ekonomi

terhadap Pemilihan Kontrasepsi Operasi Medis (MOP dan MOW) 48

Pembahasan 51

Pengaruh Variabel Karakteristik Individu terhadap Pemilihan Metode

Kontrasepsi Operasi Medis (MOP dan MOW) 51

Variabel umur 51

Variabel dukungan pasangan 52

Pengaruh Variabel Sosial Ekonomi terhadap Pemilihan Metode

Kontrasepsi Operasi Medis (MOP dan MOW) 53

Variabel pekerjaan 53

Pengaruh Variabel Karakteristik Individu dan Sosial Ekonomi terhadap Pemilihan Metode Kontrasepsi Operasi Medis

(MOP dan MOW) 55

Variabel yang Tidak Mempengaruhi Pemilihan Metode Kotrasepsi

Operasi Medis (MOP dan MOW) 56

Variabel pengetahuan 56

Variabel budaya 58

Variabel pendidikan 59

Variabel pendapatan 61

Keterbatasan Penelitian 62

Kesimpulan dan Saran 63

Kesimpulan 63

Saran 63

(12)

x

(13)

xi

1 Pengukuran Variable Independen (Bebas) 37 2 Distribusi Frekuensi Pemilihan Metode Kontrasepsi

Operasi Medis 41

3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Individu berdasarkan

Pengetahuan, Umur, Dukungan Pasangan, dan Budaya 41 4 Distribusi Frekuensi Sosial Ekonomi Berdasarkan Pendidikan,

Pekerjaan, dan Pendapatan 43

5 Hasil Seleksi Bivariat Variabel Karakteristik Individu 44 6 Hasil Multivariat Variabel Karakteristik Individu Setelah Proses

Seleksi 45

7 Hasil Seleksi Bivariat Variabel Sosial Ekonomi 46 8 Pengujian Multivariat Variabel Sosial Ekonomi 47 9 Hasil Seleksi Bivariat Variabel Karakteristik Individu dan

Sosial Ekonomi 48

10 Pengujian Multivariat Variabel Karakteristik Individu dan

Sosial Ekonomi Setelah Proses Seleksi 49

(14)

xii

1 Kerangka konsep penelitian 33

(15)

xiii

1 Kuesioner Penelitian dan Kunci Jawaban 69

2 Output Hasil Uji Statistik 74

3 Permohonan Surat Izin Penelitian 83

4 Surat Izin Penelitan 84

5 Surat Pengantar Penelitian 85

6 Surat Selesai Penelitian 86

7 Master Data 88

(16)

xiv

IUD Intra Uterine Device

KB Keluarga Berencana

MOP Metode Operatif Pria MOW Metode Operatif Wanita

PUS Pasangan Usia Subur

RPJMN Rencana Pembangunan Jangka Menengah SDKI Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

TFR Total Fertility Rate

UMP Upah Minimum Provinsi

(17)

xv

pada tanggal 14 Juli 1997. Penulis beragama Islam, anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Heru Purnomo dan Ibu Rita Erawati.

Pendidikan formal di mulai dari TK Bunda Pertiwi Tahun 2001-2002 Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 067253 Medan Tahun 2002-2008, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 43 Medan Tahun 2008-2011, sekolah menengah atas di SMA Negeri 7 Medan Tahun 2011-2014, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, Maret 2019

Karina Purnomo

(18)

1 Pendahuluan

Latar Belakang

Laju pertumbuhan penduduk berkembang dengan sangat cepat pada saat ini terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia oleh karena itu pengelolaan kependudukan merupakan hal yang sangat diperlukan untuk dapat menekan jumlah penduduk agar tidak meledak dan menyebabkan kepadatan penduduk yang dapat berdampak pada generasi mendatang.

Berkembangnya jumlah penduduk dapat memberikan dampak positif maupun negatif dampak positifnya adalah sumberdaya manusia dari negara tersebut melimpah, tetapi akan menjadi masalah jika sumberdaya tersebut tidak sejahtera yang berakhir pada permasalah perekonomian dan kesehatan dan permasalah ini akan terus menerus berputar dan akan menjadi bumerang bagi negara tersebut jika tidak dapat dikendalikan dengan baik. Permasalahan inilah yang sedang dihadapi Indonesia.

Berdasarkan data sensus penduduk Tahun 2012 jumlah penduduk di Indonesia dari Tahun 1971-2010 terus menerus meningkat dari Tahun 1971 jumlah penduduk sekitar 120 juta jiwa dan meningkat terus menerus sehingga pada Tahun 2010 jumlah penduduk di Indonesia sudah mencapai 237 juta jiwa.

Diketahui sampai akhir Desember 2017 lalu jumlah populasi dunia telah mencapai angka 7,6 milyar. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia dengan jumlah penduduk pada Tahun 2016 sebanyak 261,1 juta jiwa dan pada Tahun 2017 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 263,9 juta jiwa (BPS, 2018).

(19)

Kondisi kependudukan pada saat ini adalah suatu hal yang harus diperhatikan dan ditangani secara bersama dengan bersungguh-sungguh dan berkelanjutan agar tidak mempengaruhi kualitas dari sumber daya manusia di Indonesia di masa yang akan datang. Salah satu program yang dibuat oleh pemerintah untuk menangani isu kependudukan ini adalah Program Keluarga Berencana (KB). Keluarga Berencana (KB) adalah sebuah program dimana bertujuan untuk mewujudkan sebuah keluarga yang berkualitas dengan melakukan promosi, perlindugan, serta bantuan untuk mewujudkan hak reproduksi dan juga melakukan pelayanan, pengaturan dan dukungan sehingga dapat terbentuk keluarga dengan usia kawin yang ideal, dan juga membantu dalam mengatur jumlah anak, usia ideal melahirkan anak,mengatur kehamilan,membina ketahanan dan kesejahteraan keluarga (BkkbN, 2014).

Program KB di Indonesia sendiri dinyatakan cukup berhasil terlihat dari data SDKI Tahun 2012 menunjukkan prevalensi penggunaan kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) di Indonesia sejak Tahun 1991-2012 cenderung meningkat, sementara tren Angka Fertilitas atau Total Fertility Rate (TFR) cenderung menurun. Tren ini menggambarkan bahwa meningkatnya cakupan wanita usia 15-49 tahun yang menggunakan KB sejalan dengan menurunnya angka fertilitas nasional. Bila dibandingkan dengan target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) 2014, CPR telah melampai target (60.1%) dengan capaian 61,9%, namun TFR belum mencapai target (2,36) dengan angka Tahun 2012 sebesar 2,6 (BkkbN, 2014). Dan untuk RPJMN Tahun 2015- 2019 target yang harus dicapai adalah CPR (66,0%) dan TFR (2,3), dan yang telah

(20)

tercapai pada Tahun 2017 tingkat CPR (63,6%) dan tingkat TFR (2,4) terlihat terjadi peningkatan dibandingkan Tahun 2012 lalu (BkkbN, 2018).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009, BkkbN memiliki 6 fungsi, dan fungsi tersebut diantaranya adalah fungsi dalam perumusan kebijakan nasional. Rencana strategis BkkbN Tahun 2015-2019 adalah sebuah kebijakan nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Kepala BkkbN. Salah satu fokus dalam pelaksanaan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana tersebut adalah peningkatan pelayanan KB dengan menggunakan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) untuk mengurangi resiko drop-out (BkkbN, 2017).

Metode Kontrasepsi Jangka Panjang adalah kontrasepsi yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama dan lebih efektif dan efisien dalam menjarangkan kelahiran atau mengakhiri kehamilan pada pasangan yang sudah tidak ingin tambah anak lagi, dan juga metode kontrasepsi ini merupakan metode konrasepsi yang paling efektif dan efisien untuk menurunkan angka kelahiran.

Jenis metode yang merupakan kontrasepsi jangka panjang ini adalah metode operatif pria dan wanita (tubektomi dan vasektomi), Implant dan IUD (Intra Uterine Device). Tingkat presentasi pengguna MKJP hingga Tahun 2017 telah mencapai 21,5 dari target 21,7 artinya realisasinya telah mencapai 99,07%. Tetapi kebanyakan pengguna kontrasepsi lebih memilih menggunakan jenis kontrasepsi MKJP implant dan IUD dibandingkan dengan jenis kontrasepsi MOP dan MOW (BkkbN, 2018).

MOP dan MOW adalah kontrasepsi yang dilakukan melalui pembedahan pada saluran telur wanita atau saluran mani yang mengakibatkan orang atau

(21)

pasangan yang bersangkutan tidak akan memperoleh keturunan lagi (Suratun, et al, 2008). Metode operatif ini memiliki tingkat keefisienan dan keefektifan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrasepsi jangka panjang yang lainnya karena jika sudah melaksanakannya artinya pengguna tidak perlu khawatir untuk melakukan tindakan operasi lagi seperti kontrasepsi implan yang harus dibuka setiap 3 tahun sekali dan jenis IUD yang harus dibuka setiap 5 tahun sekali, dan jika kita ingin memakai jenis kontrasepsi yang sama harus dilakukan operasi lagi, sedangkan untuk kontrasepsi MOW dan MOW ini hanya dilakukan sekali tindakan operasi saja dan akan terus bertahan lama.

SDKI 2002-2003 menunjukkan wanita kawin yang mengetahui Metode Operatif Wanita (MOW) sebesar 63 persen dan Metode Operatif Pria (MOP) 39 persen, sedangkan pria kawin yang mengetahui MOW 44 persen dan MOP 31 persen. Bandingkan dengan pengetahuan mereka tentang metode kontrasepsi modern lainnya seperti pil, suntik, IUD, implant dan kondom yang sudah mencapai rata-rata 80% (Siswosudarmo dkk, 2007). Dalam pelaksanaan pelayanan kontrasepsi mantap BkkbN sangat mendukung karena termasuk dalam dasar (grand strategy) yang menjadi penggarapan program KB yaitu dengan meningkatkan akses dan kualitas pelayanan.

Pencapaian peserta KB aktif di Indonesia mencapai 35.202.908 peserta, dimana penggunaan KB suntikan sebesar 16.734.917 (47,54%), pil 8.300.362 (23,58%), kondom 1.110.341 (3,15%), IUD 3.896.081 (11,07%), implan 3.680.816 (10,46%), MOP 241.642 (0,69%), MOW 1.238.749 (3,52%) terlihat dari data tersebut penggunaan kontrasepsi jangka panjang terlihat masih rendah

(22)

terutama pada jenis MOP dan MOW (BkkbN, 2015). Provinsi Sumatera Utara sendiri pada Tahun 2016 memiliki jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebesar 2.284.821 pasangan dan yang menjadi akseptor KB aktif adalah sebesar 1.636.590 (71,63%) dan jika dilihat dari penggunaan alat kontrasepsinya maka alat kontrasepsi yang paling banyak dipakai adalah suntikan yaitu sebesar 502.528 (30,70%), diikuti dengan pil sebsar 476.069 (29,08%), implant 231.586 (14,15%), IUD 165.489 (10,11%), kondom 131.663 (8,04%), MOP dan MOW sebesar 129.255 (7,89%) (BPS Sumut, 2017).

Sementara itu, jumlah PUS di kota Medan pada tahun 2016 sebanyak 358.449 dan peserta KB aktif nya sebesar 273.788 (76,38%), jumlah penggunaan alat kontrasepsi terbanyak adalah suntikan sebanyak 92.820 (33,89%), diikuti pil sebanyak 82.419 (30,10%), IUD 32.217 (11,76%), implant 27.243 (9,95%), kondom 21.517 (7,86%), MOW 14.550 (5,31%), dan MOP 3.022 (1,10%). Dilihat dari data tersebut kontrasepsi jenis suntikan dan pil memilik jumlah pengguna terbanyak dibandingkan dengan metode yang lainnya terutama pada metode MOP dan MOW (BPS Kota Medan, 2017).

Kecamatan Medan Marelan merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak kedua yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 162.267 jiwa dan jumlah PUS sebanyak 25.745 PUS. Akseptor KB aktif di Kecamatan Medan Marelan sendiri adalah sebanyak 18.661 (72,4%) PUS. Yaitu dengan jumlah MOW (0,27%) dan MOP (0,10%) (BPS Kota Medan, 2017), sedangkan pada Tahun 2018 jumlah PUS di Medan Marelan yaitu sebanyak 26.253 dengan jumlah akseptor aktif sebesar 19.670 (0,74%) dengan pengguna MOW sebesar

(23)

(0,26) dan MOP (0,10%), terlihat dari data tersebut tidak ada perubahan yang sigifikan antara Tahun 2017 dan 2018 serta terlihat masih rendah jumlah pengguna kb jenis MOW dan MOP (BPS Kota Medan, 2018).

Kelurahan Labuhan Deli adalah salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Medan Marelan dari 5 kelurahan yang ada yaitu Kelurahan Tanah 600, Rengas Pulau, Paya Pasir, Terjun, dan Labuhan Deli. Setelah melakukan survei pendahuluan, pada Tahun 2017 di Kelurahan Labuhan Deli terdapat 2250 PUS yang menjadi akseptor kb aktif dari keseluruhan PUS yang ada yaitu 2947 PUS (PLKB Medan Marelan, 2017). Pada Tahun 2017 hingga bulan Maret tahun 2018 jumlah peserta kb aktif yang menggunakan kb MKJP yaitu IUD 187 (8.2%), implan 462 (20,4%), MOP 47 (2,0%), MOW 141 (6,2%), dari data tersebut dapat dilihat bahwa peggunaan kb jenis MOP dan MOW masih rendah (PLKB Medan Marelan, 2018).

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh 6 orang pria dan 6 orang wanita, terdapat 2 pria pengguna kontrasepsi MOP dan 3 orang wanita yang menggunakan kontrasepsi MOW, dan 7 orang lainnya yang tidak menggunakan kontrasepsi jenis tersebut mengatakan bahwa mereka takut jika akan dioperasi, terutaman untuk kontrasepsi MOP banyak yang mengatakan bahwa hal tersebut masih dilarang agama, usia mereka yang masih muda ditakutkan nantinya masih ingin punya anak lagi, istri yang tidak mengijinkan jika suami melakukan MOP, mereka takut jika kegagahan mereka akan hilang jika melakukan MOP, dan ada juga yang beranggapan bahwa kontrasepsi adalah kewajiban wanita, dan pria yang menggunakan kontrasepsi jenis MOP mengatakan bahwa mereka melakukannya

(24)

secara sukarela karena memang istri tidak bisa menggunakan kontrasepsi karena tidak cocok, usia sudah mulai tua, anak sudah banyak dan ditakutkan akan memberatkan secara ekonomi nantinya. Sedangkan untuk ibu yang menggunakan kontrasepsi MOW mengatakan bahwa anak sudah banyak, usia mereka sudah tua, dan ibu yang melakukan MOW ini juga sudah didukung oleh suami untuk melakukannya. Sedangkan ibu yang tidak menggunakan MOW ini mengatakan bahwa mereka takut jika harus dioperasi, masih menginginkan anak lagi, usia yang masih muda, dan tidak diperbolehkan oleh suami.

Penelitian yang dilakukan oleh Pantiawati (2015), menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara motivasi, pengetahuan, dan dukungan suami terhadap Minat PUS dalam menggunakan kontrasepsi MOW, dan juga penelitian yang dilakukan oleh Dhini, dkk (2011), diketahui bahwa jumlah anak, faktor ekonomi,dan faktor sosial budaya mempengauhi minat Wanita Usia Subur (WUS) dalam memilih kontrasepsi MOW.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Dewi dkk (2013), menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara antara pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga terhadap partisipasi pria dalam vasektomi. Dan Penelitian yang dilakukan oleh Rodiani (2017), menyebutkan bahwa kontrasepsi MOW tidak serta merta dijadikan pilihan utama, karena metode kontrasepsi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya, pengetahuan pengguna kontrasepsi, efektifitas, teknik pemasangan alat kontrasepsi, indikasi dan kontraindikasi, keuntungan dan kekurangan pemasangan alat kontrasepsi, dan

(25)

juga medis operatif wanita tidak serta merta digunakan karena sifat kepermanenannya yang harus dipertimbangkan.

Melihat kondisi tersebut, maka dilakukan penelitian tentang “Beberapa faktor yang mempengaruhi Pasangan Usia Subur (PUS) dalam memilih jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018”

Perumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh karakteristik individu yang meliputi, pengetahuan, umur, dukungan pasangan, budaya terhadap pemilihan jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

2. Bagaimana pengaruh faktor sosial ekonomi yang meliputi pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan keluarga terhadap pemilihan jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum. Adapun tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi Pasangan Usia Subur (PUS) dalam memilih jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

Tujuan khusus. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan pengaruh karateristik individu yang meliputi, pengetahuan, umur, dukungan pasangan, budaya dan sosial ekonomi yang meliputi pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan keluarga terhadap pemilihan jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

(26)

2. Untuk mengidentifikasi faktor paling berpengaruh terhadap pemilihan jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi pihak pelaksana pelayanan keluarga berencana sehingga dapat meningkatkan pelayanan kontrasepsi terutama kontrasepsi mantap sehingga bisa menjadi lebih efektif.

2. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat agar dapat memperoleh pemahaman yang jelas tentang kontrasepsi MOP dan MOW.

3. Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang ilmu administrasi dan kebijakan kesehatan sehingga dapat dijadikan pengembangan dalam program keluarga berencana khususnya kontrasepsi mantap

4. Sebagai bahan informasi bagi peneliti yang lainnya.

(27)

10

Tinjauan Pustaka

Sejarah Keluarga Berencana (KB)

Gerakan KB dimulai dari kepeloporan beberapa tokoh di dalam dan luar negeri, upaya keluarga berencana timbul karena adanya sekelompok orang yang menaruh perhatian dalam masalah kesehatan ibu pada awal abad 19 di Inggris seperti Maria Stopes yang mengatur kehamilan bagi para kaum buruh pada Tahun 1880-1950 di Inggris dan juga Margareth Sanger sebagai penggerak KB modern di Amerika yang mengembangkan program Birth Control pada Tahun 1883-1966.

Pada Tahun 1952 diresmikan berdirinya International Planned Parenthood federation (IPPF), dan sejak saat itu kemudian perkumpulan KB di seluruh dunia berdiri termasuk di Indonesia. Pelopor KB di Indonesia, Dr Suliani Saroso pada Tahun 1952 menganjurkan para ibu untuk membatasi kelahiran karena angka kelahiran bayi sangat tinggi, sedangkan di Jakarta mulai dirintis di Bagian Kebidanan dan Kandungan FKUI/RSCM oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo.

Pada tanggal 23 Desember 1957 PKBI diresmikan oleh dr.R Soeharto sebagai ketua, beliau memperjuangkan terwujudnya keluarga sejahtera melalui 3 macam usaha yaitu: pertama mengatur kehamilan/menjarangkan kehamilan, kedua mengobati kemandulan, dan ketiga memberi nasehat perkawinan.

Kemudian pada Februari 1967 telah dilaksanakan Kongres pertama PKBI yang mengharapkan agar program KB dicanangkan sebagai program pemerintah.

Dengan demikian, maka pada November 1968 berdirilah lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang diawasi dan dibimbing oleh Menteri Negara

(28)

Kesejahteraan Rakyat, sebagai penguatan dan kesungguhan pemerintah dalam kebijaksanaan . Selanjutnya pada tahun 1970 pengelolaan program KB dikelola oleh suatu badan independent, yaitu Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BkkbN) yang pertanggungjawabannya langsung kepada Presiden RI (Suratun, et al,2008).

Pengertian Keluarga Berencana (KB). Menurut WHO (World Health Organization) expert Committee 1970: Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk meghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (Anggraini, 2012).

Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengatur kehamilan sehingga dapat memberikan dampak yang baik bagi keluarga dan tidak menimbulkan kerugian yang ditimbulkan dari sebuah kehamilan. tercapainya pemerataan serta kualitas peserta KB yang menggunakan alat kontrasepsi efektif dan mantap dengan pelayanan bermutu. Mengembangkan usaha-usaha untuk membantu meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak, memperpanjang harapan hidup, menurunkan tingkat kematian bayi dan anak-anak di bawah usia lima tahun serta memperkecil kematian ibu karena risiko kehamilan dan persalinan. Sehingga jika adanya perencanaan keluarga yang matang mengenai kehamilan maka tindakan aborsi pun dapat dihindari (Suratun, et al,2008).

(29)

Tujuan keluarga berencana. Menurut BkkbN dalam Pendit (2006) Tujuan gerakan KB adalah sebagai berikut:

1. Menurunkan tingkat kelahiran dengan mengikutsertakan masyarakat dan potensi yang ada.

2. Meningkatkan jumlah peserta KB dan tercapainya pemerataan serta kualitas peserta KB yang menggunakan alat kontrasepsi efektif dan mantap dengan pelayanan bermutu. Mengem bangkan usaha-usaha untuk membantu mening-

katkan kesejahteraan ibu dan anak, memperpanjang harapan hidup, menurunkan tingkat kematian bayi dan anak-anak di bawah usia lima tahun serta memperkecil kematian ibu karena risiko kehamilan dan persalinan.

3. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penerimaan, penghayatan dan pengalaman norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sebagai cara hidup yang layak dan bertanggungjawab.

4. Meningkatkan peranan dan tanggung jawab wanita, pria dan generasi muda dalam pelaksanaan upaya-upaya penanggulangan masalah kependudukan.

5. Mencapai kemantapan, kesadaran, tanggung jawab dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam pelaksanaan gerakan KB sehingga lebih mampu meningkatkan kemandiriannya di wilayah masing-masing.

6. Mengembangkan usaha-usaha peningkatan mutu sumber daya manusia untuk meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dalam mempercepat pelembagaan nilai-nilai.

(30)

7. Memeratakan penggarapan gerakan KB ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat perkotaan, pedesaan, kumuh, miskin dan daerah pantai.

8. Meningkatkan jumlah dan mutu tenaga dan atau pengelola gerakan KB yang mampu memberikan pelayanan KB yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok tanah air dengan kualitas yang tinggi dan kenyamanan yang memenuhi harapan.

Ruang lingkup program keluarga berencana. Dalam Sulistyawati (2014), ruang lingkup program KB adalah sebagai berikut:

1. Ibu, yaitu dengan mengatur jumlah dan jarak kelahiran, adapun manfaat yang diperoleh oleh ibu adalah tercegahnya kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek, sehingga kesehatan ibu dapat terpelihara terutama kesehatan organ reproduksi, meningkatkan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak dan beristirahat yang cukup karena kehadiran akan anak tersebut memang diinginkan.

2. Suami memberikan kesempatan suami agar dapat melakukan hal-hal seperti memperbaiki kesehatan fisik, mengurangi beban ekonomi keluarga.

3. Seluruh keluarga, dengan program keluarga berenca diharapkan setiap keluarga dapat meningkatkan kondisi kesehatan mental dan juga fisik, sedangkan untuk anak dapat memperoleh pendidikan dan juga kasih sayang.

Sasaran program keluarga berencana. Sasaran dari program KB terdiri dari sasaran langsung dan tidak langsung:

(31)

Sasaran langsung. adalah Pasangan Usia Subur (PUS) karena PUS

diharapkan dapat menjadi peserta KB aktif sehingga dapat menurunkan angka fertilitas.

Sasaran tidak langsung. adalah remaja yang berusia 15-19 tahun, karena

remaja juga merupakan kelompok yang beresiko melakukan hubungan seksual.

Kemudian sasaran tidak langsung dalam program keluarga berencana ini adalah organisasi seperti lembaga kemasyarakatan, instansi pemerintah maupun swasta, dan juga tokoh masyarakat maupun pemuka agama yang dapat memberikan dukungan dalam pelaksanaan program keluarga berencana ini (Suratun, et al, 2008).

Pasangan Usia Subur (PUS)

Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan berusia antara 15-49 tahun, karena kelompok ini merupakan pasangann yang aktif melakukan hubungan seksual dimana diketahui bahwa setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan (Suratun, et al,2008).

Pasangan usia subur merupakan sasaran langsung dari program keluarga berencana karena kelompok ini merupakan kelompok yang bisa aktif melakukan hubungan seksual dan berpotensi untuk memiliki anak, oleh karena itu PUS sendiri diharapkan menjadi peserta program keluarga berencana agar mereka dapat mengotrol dan memberikan jarak kehamilan.

Kontrasepsi

Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. kontra berarti

“melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel

(32)

telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma (Suratun, et al, 2008)

Kontrasepsi ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen.Yang bersifat permanen tubektomi (pada wanita) dan vasektomi (pada pria).

Kontrasepsi Operasi Medis

Pengertian kontrasepsi operasi medis. Nama lain dari operasi medis adalah sterilisasi (sterilization), atau kontrasepsi operatif (surgical contraception).

Dari sini dikenal dengan istilah medis operatif wanita (MOW) untuk sterilisasi wanita dan medis operatif pria (MOP) untuk sterilisasi laki-laki. Karena semua tindakan harus dilakukan dengan sukarela maka dikenal pula istilah voluntary surgical (VS) atau voluntary surgical contraception disingkat VSC . Dengan demikian sterilisasi adalah sebuah cara KB dengan melakukan pembedahan pada saluran benih, baik berupa pemotongan dan/atau pengambilan sebagian atau hanya dengan melakukan pengikatan saja (Siswosudarmo,et al, 2007).

Keefektifan kontrasepsi operasi medis. Dilihat dari keefektifannya, kontrasepsi dengan operasi medis ini merupakan cara KB yang paling efektif.

Angka kegagalannya hanya 0,2-0,4 per 100 wanita per tahun, baik untuk sterilisasi wanita maupun pria. Kegagalan ini pada umumnya karena kesalahan teknik operasi tetapi mungkin juga karena rekanalisasi. Bagi dokter yang belum berpengalaman, ligamentum rotundum sering menyerupai tuba sehingga terjadi kesalahan pemotongan. Kegagalan juga bisa terjadi yang umumnya terjadi pada

(33)

sterilisasi laki-laki karena beberapa ejakulat awal setelah vasektomi ternyata masih mengandung sejumlah spermatozoa yang cukup untuk membuahi (Siswosudarmo,et al, 2007).

Kelebihan dan kekurangan kontrasepsi operasi medis. Jika dilihat dari kelebihan kontrasepsi operasi medis sendiri adalah kontrasepsi ini merupakan kontrasepsi yang paling efektif dibandingkan dengan jenis kontrasepsi lainnya, meskipun harus ditempuh melalui sebuah operasi. Sterilisasi merupakan cara yang paling aman, bebas dari efek samping asalkan seluruh prosedur dan persyaratan operasi terpenuhi, setelah dilakukannya tidak memerlukan kunjungan ulang yang terjadwal, tidak mengganggu hubungan seksual, serta kontap juga bebas dari efek samping hormonal yang biasa didapat dari KB jenis pil, suntik maupun susuk.

Sedangkan untuk kerugiannya adalah sifatnya yang permanen, sehingga calon klien harus menyadari betul bahwa sekali dilakukan sterilisasi, maka ia hampir tidak mungkin hamil kembali (Siswosudarmo,et al, 2007).

Syarat dilakukannya kontrasepsi operasi medis (MOP dan MOW).

Persyaratan secara umum untuk menjadi akseptor terbagi tiga yaitu Sukarela, Bahagia, dan Kesehatan:

Sukarela. Calon peserta dan pasangan yang akan mengikuti kontrasepsi

MOP dan MOW harus secara sukarela dan megikuti pelayanan kontrasepsi MOP ataupun MOW atas keinginan sendiri.

Seseorang dikatakan sukarela apabila:

1. Peserta mengetahui bahwa selain MOP ataupun MOW ada cara lain untuk mencegah kehamilan yang sifatnya sementara tetapi tetap memilih kontap.

(34)

2. Calon peserta mengetahui bahwa MOP dan MOW merupakan sebuah tindakan pembedahan dan bila berhasil pasangan tidak akan dapat memperoleh keturunan lagi.

3. Calon peserta telah diberi waktu untuk mempertimbangkan penggunaan cara kontrasepsi lainnya, tetapi tetap memilih MOP ataupun MOW dengan kemauannya sendiri.

Bahagia. Bahagia artinya setiap calon peserta kontap harus memenuhi

syarat kebahagiaan dalam perkawinan yang sah dan memiliki hubungan suami istri yang harmonis, telah dianugerahi sekurang-kurangnya 2 orang anak yang dala keadaan sehat fisik, mental maupun sosialnya dengan umur terkecil sekitar 2 tahun, dan mempertimbangkan umur istri sekurang-kurangnya 25 tahun.

Kesehatan. Setiap calon peserta harus memenuhi syarat kesehatan, artinya

tidak ditemukan kontradiksi kesehatan, jika ditemukan masalah kesehatan seperti peradangan disekitar daerah yang akan dilakukan pembedahan atau penyakit lainnya yang dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan maka sebelumnya dapat dikonsultasikan terlebih dahulu sebelum dilakukannya tindakan.

Hal yang perlu ditekankan adalah program-program yang menawarkan sterilisasi sukarela harus menyertakan konseling menyeluruh yang menekankan bahwa prosedur bedah hanya cocok untuk orang yang tidak lagi menginginkan anak dan penyedia layanan juga memberikan informasi mengenai kontrasepsi alternatif yang tersedia. Keadaan ini terjadi karena walaupun tersedia teknik penyambungan kembali baik bagi sterilisasi pria maupun wanita, teknik ini tidak selalu dapat dikerjakan, sangat mahal, dan angka keberhasilannya rendah, serta

(35)

menghadapkan pasien ke risiko bedah yang tidak perlu. Oleh karena itu, pasangan yang memilih kontrasepsi bedah seyogianya tidak mempertimbangkan penyambungan kembali sebagai pilihan di masa mendatang (Pendit, 2006).

Pelayanan kontrasepsi operasi medis. Terdapat dua jenis pelayanan pada kontrasepsi operasi medis, yaitu:

Medis Operatif Wanita (MOW) atau tubektomi. Sekitar 180 juta wanita

didunia menggunakan sterilisasi untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan lebih dari tiga perempat dari pengguna sterlisasi tinggal di China dan India.Di UK pada tahun 2001, prevalensi sterilisasi adalah metode yang paling diminati oleh wanita yang lebih tua. Dengan estimasi sebanyak 44%

wanita berusia antara 45 sampai 49 tahun (Glasier, 2005).

Pengertian MOW atau tubektomi. Tubektomi merupakan tindakan

medis berupa penutupan tuba uterine dengan maksud tertentu untuk tidak mendapatkan keturunan dalam jangka panjang sampai seumur hidup (Niken, et al, 2010). Serta pengertian lain menyebutukan bahwa tubektomi adalah sterilisasi wanita yang dilakukan dengan cara eksisi atau menghambat tuba falopii yang membawa ovum dari ovarium ke uterus. Tindakan ini mencegah ovum dibuahi oleh sperma di tuba falopii (Suzanne, 2007).

Cara pelaksanaan MOW atau tubektomi. Ada beberapa cara yang dapat

dilakukan untuk melaksanakan proses tubektomi, yaitu:

Laparoskopi. Laparoskopi adalah melihat isi rongga perut dengan menggunakan lensa, sejenis teleskop. Laparoskopi bisa bersifat diagnostik, hanya sekedar melihat, tetapi bisa juga untuk sebuah tindakan. Untuk kerugian dari cara

(36)

ini adalah jika terjadi perlukaan alat dalam (trauma pada usus), atau terjadi perdarahan maka diperlukan operasi terbuka (Siswosudarmo, et al, 2007).

Prosedur ini memerlukan tenaga Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan yang telah dilatih secara khusus agar pelaksanaannya aman dan efektif. Teknik ini dapat dilakukan pada 6-8 minggu pasca persalinan atau setelah abortus (tanpa komplikasi).Laparosopi sebaiknya dipergunakan pada jumlah klien yang memadai karena peralatan laparoskopi dan biaya pemeliharaannya yang cukup mahal. Laparoskopi dapat digunakan dengan anestesi lokal dan diperlakukan sebagai klien rawat jalan setelah pelayanan. Laparoskopi juga cocok untuk klien yang tidak tahan sakit atau sangat memperhatikan faktor estetika karena tidak banyak menimbulkan rasa tidak enak serta parut lukanya minimal (Affandi, et al, 2014).

Laparotomi. Metode laparotomi adalah proses pembukaan perut dengan melakukan irisan yang lebih besar dari 5 cm dan prosedur ini jarang digunakan sebagai prosedur utama untuk mengakses tuba fallopi ( Anna. G, et al, 2008).

Kontrasepsi ini diperlukan bila cara kontap yang lain gagal atau tumbuh komplikasi sehingga memerlukan insisi yang lebih besar (Handayani, 2010).

Minilaparotomi. Metode ini merupakan penyederhanaan dari laparotomi, minilaparotomi ini hanya memerlukan sayatan kecil (sekitar 3 cm) baik pada daerah perut bawah (suprapubik) maupun subumbilikal (pada lingkar pusat bawah). Tindakan ini dapat dilakukan terhadap banyak klien, relatif murah, dan dapat dilakukan oleh dokter yang diberi latihan khusus.Operasi ini aman dan efektif. Baik untuk masa interval maupun pascapersalinan, pengambilan tuba

(37)

dilakukan melalui sayatan kecil.Setelah tuba didapat, kemudian dikeluarkan, diikat, dan dipotong sebagian. Setelah itu, dinding perut ditutup kembali, luka sayatan ditutup dengan kasa kering dan steril dan apabila tidak ditemukan masalah yang berarti, klien dapat dipulangkan setelah 2-4 jam (Affandi, et al, 2014)

Kelebihan MOW atau tubektomi. Melalui berjalannya waktu sehinggap dapat diambil beberapa kelebihan dari penggunaan MOW ataupun tubektomi sebagai berikut :

1. Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan).

2. Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding).

3. Tidak bergantung pada faktor senggama.

4. Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang serius.

5. Pembedahan sederhana. Dapat dilakukan dengan anestesi lokal.

6. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang.

7. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon ovarium) (Niken, et al, 2010).

Kelemahan dan efek samping. Melalui berjalannya waktu sehinggap dapat diambil beberapa efek samping dari penggunaan MOW ataupun tubektomi sebagai berikut :

1. Risiko dan efek samping pembedahan.

2. Kadang-kadang sedikit merasa nyeri pada saat operasi.

(38)

3. Infeksi mungkin saja terjadi, bila prosedur operasi tidak benar (Niken, et al, 2010).

Medis Operatif Pria (MOP) atau vasektomi. Tindakan memotong dan

menutup saluran mani (vas deverens) yang menyalurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat produksinya di testis dengan melakukan pemotongan.

Pengertian MOP/vasektomi. Vasektomi adalah tindakan memotong dan

menutup saluran mani (vas deverens) yang menyalurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat produksinya di testis dengan melakukan pemotongan sebagian (0,5-1 cm) saluran benih sehingga terdapat jarak diantara ujung saluran benih bagian sisi testis dan saluran benih bagian sisi lainnya yang masih tersisa dan pada masing- masing kedua ujung saluran yang tersisa tersebut dilakukan pengikatan sehungga saluran menjadi buntu/tersumbat.

Cara pelaksanaan MOP/vasektomi. Vasektomi adalah pemotongan atau

penyumbatan vas deferens untuk mencegah lewatnya sperma (Glasier, 2005).

Vasektomi adalah operasi kecil yang sederhana, dapat dikerjakan secara ambulans (out patient service) dan cukup menggunakan anesthesia lokal. Vasektomi dapat dikerjakan kapan saja selama tidak terdapat kontradiksi. Pada umumnya vasektomi hanya membutuhkan anesthesia lokal misal dengan lidokain 1% tanpa adrenalin. Penambahan adrenalin berbahaya bagi klien dengan kecenderungan hipertensi.

Vasektomi dilakukan dengan menutup saluran bibit laki-laki (vas deferen) dengan melakukan operasi kecil pada kantong zakar sebelah kanan dan kiri. Operasi ini tergolong ringan , bahkan lebih ringan dari khitan (sunat) dan bisa

(39)

dilakukan tanpa pisau. KB ini baru efektif setelah melakukan ejakulasi 20 kali atau 3 bulan pasca operasi. Sebelum waktu tersebut masih harus menggunakan barrier lain (kondom) (Niken, et al, 2010).

Keuntungan MOP/vasektomi. Melalui berjalannya waktu sehinggap

dapat diambil beberapa keuntungan dari penggunaan MOP ataupun vasektomi sebagai berikut :

1. Tidak akan mengganggu ereksi, potensi seksual dan produksi hormone.

2. Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi, dapat digunakan seumur hidup.

3. Tidak mengganggu kehidupan seksual suami istri.

4. Lebih aman (keluhan lebih sedikit).

5. Lebih praktis (hanya memerlukan satu kali tindakan).

6. Lebih efektif (tingkat kegagalannya sangat kecil).

7. Lebih ekonomis (hanya memerlukan biaya untuk sekali tindakan).

8. Tidak ada mortalitas/kematian

9. Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit 10. Tidak ada risiko kesehatan.

11. Tidak harus diingat-ingat, tidak harus selalu ada persediaan.

12. Sifatnya permanen (Niken, et al, 2010).

Kelemahan/efek samping. Melalui berjalannya waktu sehinggap dapat

diambil beberapa efek samping dari penggunaan MOP ataupun vasektomi sebagai berikut :

1. Harus ada tindakan pembedahan.

(40)

2. Tidak dilakukan pada suami yang masih ingin memiliki anak.

3. Kadang-kadang terasa nyeri, atau terjadi perdarahan setelah operasi.

4. Kadang-kadang timbul infeksi pada kulit skrotum, apabila operasinya tidak sesuai dengan prosedur (Niken, et al,2010).

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi MOP dan MOW

Karateristik Pasangan Usia Subur (PUS). Karateristik adalah suatu ciri yang membedakan antara suatu indikator atau variabel dengan indikator atau variabel yang lainnya yang dapat menjadikan pembeda antara keduanya (Handayani, 2010). Menurut Dever (1984), utilisasi pelayanan kesehatan adalah interaksi yang kompleks antara pengguna jasa pelayanan (konsumen) dan penyelengara jasa pelayanan (provider), penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu bentuk dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Menurut Dever hal-hal yang mempengaruhi konsumen dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan antara lain faktor sosiodemografi (umur, jenis kelamin, status perkawinan, dan etnis), sosioekonomi (pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga), dan sosiopsikologi (persepsi terhadap penyakit). Dalam penelitian ini, beberapa faktor karakteristik individu yang mempengaruhi Pasangan Usia Subur (PUS) dalam memilih jenis kontrasepsi MOW dan MOP yaitu:

Pengetahuan. Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, surat kabar, atau media massa, elektronik .

(41)

Tingkat pengetahuan sangat berpengaruh terhadap proses menerima atau menolak inovasi. Menurut Roger (1983) dalam Notoatmodjo (2007), perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Roger mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadopsi prilaku baru, dalam diri seseorang tersebut terjadi proses berurutan, yaitu:

Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus tersebut, disini sikap subjek mulai timbul.

Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.

Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

Adoption, dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung atau pun melalui pengalaman orang lain. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui penyuluhan baik secara individu maupun kelompok untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan prilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Banyak masyarakat yang memiliki persepsi bahwa jika dilakukan vasektomi nanti mereka tidak memiliki gairah lagi karena mereka beranggapan bahwa vasektomi itu sama seperti kebiri,

(42)

dan ada juga yang takut karena pengalaman sebelumnya dari masyarakat sekitar, dan ada juga ibu-ibu yang masih salah dalam membedakan yang mana tubektomi dan yang mana IUD. Masih adanya ibu yang mengira bahwa tubektomi itu sama dengan IUD sehingga mereka tidak mau melaksanakan tubektomi karena takut merasa tidak akan merasa nyaman.

Umur. Umur mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah umur maka semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik (Handayani, 2010). Umur dapat mempengaruhi seseorang dalam menentukan jumlah anak yang diinginkan dna keinginan untuk memiliki anak lagi, semakin tua usia seseorang tentunya akan memilih jenis kontrasepsi secara bijak, disebutkan dalam penelitian Fitrianingsih, dkk (2016) bahwa umur mempengaruhi pemilihan alat kontrasepsi dimana dalam penelitian tersebut PUS yang berumur dibawah 30 tahun lebih memilih untuk menggunakan kontrasepsi Non MKJP dibandingkan dengan kontrasepsi MKJP, sedangkan rentang umur untuk pengguna MKJP berada di usia lebih dari 30 tahun karena diusia ini resiko untuk memiliki anak jauh lebih tinggi.

Kontrasepsi jenis tubektomi dan vasektomi adalah sebuah kontrasepsi yang permanen dan masih belum pasti apakah jika seseorang sudah melaksanakannya maka bisa dilakukan operasi kembali untuk membuat mereka yang menggunakannya bisa bereproduksi kembali. oleh karena itu kebanyakan wanita ataupun pria yang melaksanakan kontrasepsi jenis ini memang sudah berada pada

(43)

usia yang rawan untuk memiliki anak lagi ataupun pasangan yang memang tidak menginginkan anak lagi.

Dukungan pasangan . Dukungan merupakan suatu hal yang menyebabkan orang akhirnya dapat bertindak dan tidak dukungan dapat berupa dukungan moril maupun materil. Menurut Friedmen (1998) dalam Notoadmodjo (2007) dukungan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku positif. Hasil penelitian tentang partisipasi pria dalam KB di Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap istri terhadap partisipasi pria dalam KB. Sikap istri yang paling baik menyangkut tujuan konrasepsi sebagai bentuk perencanaan terhadap jumlah anak.

Dalam kaitan ini dukungan istri merupakan pengaruh yang positif. Bentuk dukungan tersebut juga didasari pemikiran istri yang merasa KB vasektomi sebagai alat kontrasepsi yang efektif (Saptono, 2009).

Dalam pelaksanaan program keluarga berencana dukungan pasangan adalah hal yang dapat menjadi sebab suami ataupun istri menggunakan sebuah jenis kontrasepsi, misalnya adanya hal seperti istri yang tidak bisa menggunakan jenis kontrasepsi jenis apapun juga menjadi sebuah hal yang menyebabkan seorang istri mendukung suaminya untuk melakukan tindakan vasektomi, begitu pula seorang suami yang mendukung istrinya untuk melakukan tubktomi karena dirasa jumlah anak yang sudah cukup, ataupun ada hal-hal lain yang mendukung.

Budaya. Kata “Kebudayaan” berasal dari kata sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti “budi” atau “akal”, dengan demikian ke-budayaan dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”.

(44)

Budaya adalah “daya dan budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa. Dalam istilah “antropologi – budaya” perbedaan itu ditiadakan, karena kata “budaya” disini hanya dipakai sebagai suatu singkatan saja dari “kebudayaan” dengan arti yang sama (Koentjaraningrat, 2009).

Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi. Faktor-faktor ini meliputi salah pengertian dalam masyarakat mengenai berbagai metode, kepercayaan religius, serta budaya, tingkat pendidikan persepsi mengenai resiko kehamilan dan status wanita (Handayani, 2010).

Unsur-unsur kebudayaan. Menurut Kalangie (1994), yang termasuk kedalam unsur budaya adalah kepercayaan, nilai dan norma.

Kepercayaan, adalah sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian, tanpa meunjukkan sikap pro atau anti, suatu kepercayaan dapat tumbuh jika orang berulang-ulang medapatkan informasi yang sama.Kepercayaan masyarakat jauh lebih sulit dirubah dibandingkan dengankepercayaan individu, karena kepercayaan masyarakat ini didukung oleh kepercayaan dari kelompok individu-individu dan tentunya lebih besar apalagi jika juga didukung oleh tokoh masyarakat maka kepercayaan tersebut akan semakin sulit untuk dirubah, sedangkan kepercayaan dari seorang individu dapat dengan mudah dirubah karena sifatnya yang lebih subyektif dan relatif (Sarwono,2007). Kepercayaan dapat berhubungan dengan kegiatan-kegiatan pencegahan penyakit serta penyembuhan dari penyakit, kepercayaan ini dapat diperoleh melalui diri sendiri ataupun dari orang lain.

(45)

Masyarakat pada umumnya cukup sulit mempercayai tindakan-tindakan yang diberikan oleh pihak medis karena adanya beberapa hal yang mempengaruhi seperti perilaku professional medis yang belum sesuai dengan kode etik, mengutamakan kepentingan pribadi dan birokrasi, keterbataan dan adan tenaga, keterbatasan pemahaman komunikasi yang berwawasan budaya, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan keputusan masyarakat untuk penggunaan kontrasepsi jangka panjang seperti tubektomi dan vasektomi, tubektomi dan vasektomi adalah kontrasepsi yang dalam pelaksanaannya dibutuhkan tindakan operasi, banyak dari masyarakat belum begitu mempercayai tindakan ini karena mereka takut dan mempercayai bahwa tindakan yang dilalui dengan operasi belum tentu menghasilkan suatu hal yang sempurrna seperti sebelumnya, misalnya seperti pria setelah melaksanakan vasektomi mengalami permasalahan seperti perdarahan ataupun hasrat seksual mereka menjadi hilang setelah melaksanakan vasektomi, kemudian untuk tubektomi sendiri, walaupun tidak semua ibu tetapi masih banyak ibu yang takut jika dioperasi akan menimbulkan permasalahan yang lain lagi, hal-hal seperti inilah yang menjadikan rasa percaya masyarakat terhadap suatu tindakan medis menjadi rendah. Belum lagi setiap individu merupakan makhluk sosial, tentunya makhluk sosial selalu melakukan komunikasi dengan individu yang lainnya, setiap individu pastinya memiliki informasi mengenai suatu hal baik itu benar-benar terjadi ataupun tidak, dan pastinya sedikit banyaknya hal tersebut dapat mempengaruhi individu tersebut jika akan melakukan sesuatu.

(46)

Nilai dan norma, nilai adalah kepercayaan tentang apa yang dianggap baik/benar dan apa yang tidak baik/salah. Untuk mengatur perilaku individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku, maka dibuatlah norma-norma tertentu yang berupa peraturan yang disetujui oleh anggota masyarakat. Sebagai contoh, adalah upaya untuk membuat dua anak “dua anak cukup” sebagai nilai yang menggantikan “banyak anak banyak rejeki” (Sarwono, 2007).

Nilai dan norma yang ada di suatu kelompok dianggap oleh ahli-ahli sosiologi sebagai faktor yang menentukan perilaku seseorang karena nilai dan norma tersebut tertanam di dalam diri dan berada diluar diri yaitu masyarakat.

(Muzaham, 2007). Nilai mempengaruhi individu berperilaku atau mengambil keputusan sesuai dengan nilai tersebut. Nilai berfungsi sebagai rujukan dalam memilih dan mengevaluasi tingkah laku dan kejadian-kejadian. Nilai berfungsi sebagai pengaruh tingkah laku dalam mencapai tujuan yang diinginkan (Muzaham, 2007).

Dalam penelitian ini, masyarakat masih memiliki anggapan terkhususnya untuk vasektomi yaitu bahwa vasektomi adalah suatu hal yang dilarang oleh agama, karena mengubah apa yang telah diberikan oleh Tuhan dan tentunya karena berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh agama. Oleh sebab itu masyarakat menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang salah. Masyarakat juga menganggap bahwa tubektomi dan vasektomi adalah sebuah kontrasepsi yang mengakibatkan PUS yang melakukannya tidak akan memiliki keturunan lagi yang berarti bahwa mereka telah menolak rejeki yang diberikan karena anak

(47)

dianggap sebagai rezeki yang diberikan oleh Tuhan .

Persepsi lain seperti kontrasepsi adalah kewajiban wanita karena wanita adalah yang melahirkan, maka yang harus mengontrol kelahiran adalah wanita bukan pria. Nilai-nilai atau norma-norma seperti ini tentunya sudah tertanam sejak dahulu sehingga sangan sulit diubah, belum lagi masyarakat Indonesia dalam melakukan sesuatu harus seizin keluarga ataupun suami, ataupun istrinya dan nilai dan norma ini memang sudah berlaku sejak dulu dimana dalam mengambil suatu keputusan seseorang tidak bisa mengambil keputusan sendiri walaupun hal tersebut berkaitan dengan kebaikan dirinya sendiri karena memerlukan restu dari orang-orang terdekatnya, begitu pula dengan MOP dan MOW ini adalah suatu hal yang serius dan tentunya jika ingin melaksanakannya harus dengan izin keluarga, suami, ataupun istri.

Sosial ekonomi. Sosial ekonomi merupakan suatu stratifikasi sosial terhadap perkembangan kependudukan di Indonesia yang menjadikan adanya suatu kriteria-kriteria dalam menggambarkan tingkatan ekonomi yang harus dicapai dan akan dicapai melalui program upaya peningkatan kesejahteraan (Handayani,2010). Dalam penelitian ini, faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi Pasangan Usia Subur (PUS) dalam memilih jenis kontrasepsi MOW dan MOP yaitu:

Pendidikan. Pendidikan adalah suatu upaya dalam pembimbingan yang

diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat sesuatu dan mengisi kehidupan dalam mencapai kebahagiaan dan keselamatan, pendidikan dibutuhkan untuk

(48)

mendapatkan informasi (Notoadmodjo, 2013). Pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak dalam melakukan pencarian penyebab dan solusi dalam hidupnya, biasanya orang dengan pendidikan yang lebih tinggi dapat menerima gagasan baru dengan mudah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang berpendidikan rendah juga dapat menerima gagasan baru dengan mudah juga (Manuaba,2010). Suatu pekerjaan dari seseorang akan memberikan pengalaman belajar terhadap yang bersangkutan baik yang menyenangkan maupun yang tidak Maksudnya disini adalah, tingkat pendidikan itu mempengaruhi pola pikir seseorang untuk menerima sebuah ide baru dengan jauh lebih mudah dan berfikir jauh lebih rasional yang tentunya tidak terpengaruh olah kebiasaan yang ada dimasyarakat terhadap suatu hal, contohnya PUS lebih sadar bahwa mereka dapat meningkatkan kualitas dari keturunan mereka jika mereka membatasi kelahiran anak didalam keluarga.

Pekerjaan. Pekerjaan adalah suatu hal yang dilakukan untuk mencari

nafkah. Suatu pekerjaan dari seseorang akan memberikan pengalaman belajar terhadap yang bersangkutan baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan secara finansial ataupun psikologis (Manuaba,2010). Pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak dalam melakukan pencarian penyebab dan solusi dalam hidupnya, biasanya orang dengan pendidikan yang lebih tinggi dapat menerima gagasan baru dengan mudah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang berpendidikan rendah juga dapat menerima gagasan baru dengan mudah juga karena pekerjaan mempengarui tingkat pendapatan seseorang, sebagai contoh jika seseorang bekerja dan memperoleh

(49)

pendapatan yang tinggi maka tentunya akan lebih mudah untuk menjangkau kontrasepsi MOP ataupun MOW, karena untuk melakukan metode ini diperlukan biaya yang cukup mahal.

Pendapatan. Pendapatan adalah perolehan uang yang diterima oleh

seseorang selama satu bulan yang berasal dari berbagai sumber dibagi dengan jumlah anggota keluarga yang ditanggung (Soekanto, 2014). Tinggi rendahnya status sosial ekonomi masyarakat mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi karena dari tingkat ekonomi masyarakat berkaitan erat dengan kemampuan untuk membeli alat kontrasepsi yang akan digunakan (Handayani, 2010).

Tingkat ekonomi terbagi kedalam 2 kategori yaitu:

1. Tinggi, jika: memiliki penghasilan yang baik sehingga tidak memiliki permasalahan untuk pengeluaran biaya rumah tangga, tempat tingga yang sudah menjadi hak milik dengan keadaan yang baik, kepala rumah tangga bekerja dan memiliki kedudukan di tempat pekerjaannya.

2. Rendah, jika: tidak memiliki penghasilan yang baik sehingga memiliki permasalahan untuk pengeluaran biaya rumah tangga, tempat tinggal yang bukan hak milik (kontrakan,dan sebagainya), kepala rumah tangga bekerja sebagai tenaga kerja lepas, buruh, tidak bekerja, dan sebagainya.

Landasan Teori

Landasan teori Miller et. Al (1997) dalam Suratun (2008) menyatakan bahwa penggunaan MKJP merupakan suatu bentuk pemanfaatan (utilisasi) terhadap pelayanan kesehatan yang dipengaruhi atas beberapa hal dalam upaya pemanfaatan tersebut, baik dalam keterlibatan dari faktor individu, sosial ataupun

(50)

professional kesehatan lainnya, begitu pula dengan metode kontrasepsi operasi medis dimana kontrasepsi ini adalah MKJP dengan metode yang permanen sehingga untuk pemanfaatannya dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian tentang berjudul Pengaruh Karakteristik Individu dan Sosial Ekonomi Pasangan Usia Subur (PUS) terhadap Pemilihan Jenis Kontrasepsi Operasi Medis (MOP dan MOW) di Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan Tahun 2018.

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 1. Kerangka konsep penelitian

Hipotesis Penelitian

1. Ada pengaruh karateristik pasangan usia subur (PUS) yang meliputi, pengetahuan, umur, dukungan pasangan, budaya terhadap pemilihan jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

Karasteristik Individu:

1. Pengetahuan 2. Umur

3. Dukungan pasangan 4. Budaya

Pemilihan jenis kontrasepsi Operasi Medis

Sosial Ekonomi 1. Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Pendapatan

(51)

2. Ada pengaruh faktor sosial ekonomi yang meliputi pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan keluarga terhadap pemilihan jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

3. Ada pengaruh karakteristik individu dan sosial ekonomi terhadap pemilihan jenis kontrasepsi operasi medis di Kelurahan Labuhan Deli Tahun 2018.

(52)

35

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survey observational dengan metode pengumpulan data secara cross sectional artinya terhadap subyek penelitian hanya diamati tanpa diberikan perlakuan apapun dan dengan hanya 1 (satu) kali pengukuran.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan, alasan peneliti memilih lokasi penelitian ini karena rendahnya cakupan kontrasepsi jenis MOP dan MOW di kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan.

Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2018 sampai selesai.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah akseptor KB aktif pada Tahun 2017 di Kelurahan Labuhan Deli sebanyak 2258 orang.

Sampel penelitian. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011). Penentuan sampel dihitung dengan menggunakan rumus Lemeshow adalah sebagai berikut:

 

 

2

2 ) 1 ( )

2 / 1

( (1 ) ) (1 )

a o

a a o

o

P P

P P Z

P P n Z

Gambar

Gambar 1. Kerangka konsep penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Abstraksi ... Latar Belakang Masalah ... Rumusan Masalah ... Batasan Masalah ... Tujuan Penelitian ... Manfaat Penelitian ... Sistematika Penulisan ... Telaah Penelitian

Adapun pelaksanaan rujukan yang ada di Indonesia mempunyai syarat-syarat sebagai berikut: (a) Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang, sesuai kebutuhan

Dalam Mulyana (2007: 197) Faktor sosial budaya seperti gender, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan, uang jajan, peranan, status sosial, pengalaman masa lalu,

Dalam tulisan ini dipaparkan analisis perhitungan untuk menentukan koreksi penunjukkan dan analisis ketidakpastian dalam kalibrasi timbangan non-otomatis.Metoda yang

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (dalam Hidayat, 2008) peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan patienst safety yaitu memberikan perawatan langsung; mendidik pasien dan

Masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) agar dapat berjalan dengan baik, dengan pemanfaatan dana Bantuan

Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku WUS Terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi di Wilayah Puskesmas Sarudik Kecamatan Sarudik Kabupaten Tapanuli Tengah” beserta seluruh isinya

Pelaksanaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di Kampung KB, Desa Bingkat, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2018” beserta seluruh