2.1. Auditing
Audit merupakan pengujian yang dilakukan untuk menilai dan mengevaluasi suatu kegiatan atau obyek. Auditing adalah : “Suatu proses sistematik untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti secara obyektif mengenai asersi- asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan.”(Boynton dan Kell 1996:4). Dari definisi ini, terlihat beberapa kata kunci yang terkait dengan audit yaitu:
• Proses sistematik. Ini berarti pengauditan merupakan proses yang terstruktur dan logis.
• Memperoleh dan mengevaluasi bukti. Bukti terkait dengan struktur pengendalian. Bukti yang dikumpulkan harus membuktikan bahwa struktur pengendalian telah berfungsi sebagaimana ditetapkan.
• Memastikan kesesuaian antara asersi dengan standar yang ditetapkan.
• Mengkomunikasikan hasil pemeriksaan. Auditor harus mengkomunikasikan hasil pemeriksaan yang terkait dengan laporan keuangan dengan sebenar- benarnya sehingga dapat meningkatkan kualita sinformasi laporan keuangan.
Menurut Arens dan Loebbecke, auditing adalah : “ Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria.
Auditing should be done by a competent, independent person.” (Arens dan Loebbecke 2000:9) .
Dari pengertian audit di atas dapat dipahami bahwa auditing merupakan pemeriksaan terhadap berbagai tindakan dan kejadian ekonomi, dengan cara menghimpun bukti-bukti dan melakukan evaluasi secara obyektif, atas kesesuaiannya dengan kriteria yang ditentukan. Seseorang yang dipandang kompeten untuk melakukan pemeriksaaan dan dipandang independent adalah auditor yang bekerja
pada sebuah kantor akuntan publik. Hal ini juga didukung oleh Peter Moizer dalam artikelnya yang berjudul Independence seperti yang dikutip oleh Meidawati sebagai berikut : “ The principal feature which distinguishes the information contained in the annual accounts of a limited company from that derived from other sources (e.g.
statement made by the company’s directors ) is that the information has been validated by an independent, professionally trained accountant-the auditor.
(2002:3).
2.2. Pengaruh Kemajuan teknologi informasi dan perkembangan Akuntansi terhadap Praktik Pengauditan
Perkembangan teknologi informasi telah mengakibatkan perubahan yang sangat besar dalam segala bidang. Bidang akuntansi pun terkena imbasnya. Sistem pemrosesan akuntansi berbasis komputer sudah banyak ditawarkan dengan tujuan membantu akuntan untuk menghasilkan informasi secara lebih tepat waktu dan juga valid (Handayani 2000:1).
Audit merupakan salah satu bidang yang mempergunakan akuntansi sebagai obyeknya. Praktik pengauditan bertujuan untuk memberikan opini terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan yang dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi. Dengan adanya kemajuan yang telah dicapai dalam bidang akuntansi yang menyangkut sistem informasi akuntansi berbasis komputer di dalam menghasilkan laporan keuangan, maka praktik pengauditan pun juga terkena imbasnya. Dampak dari kemajuan teknologi terhadap praktik pengauditan diantaranya :
• Audit adalah proses yang sistematis akan sulit dilakukan karena auditor tidak dapat melihat secara visual proses yang dilakukan oleh komputer atau file yang dihasilkan.
• Terkait dengan perolehan dan pengevaluasian bukti. Dengan adanya kemajuan teknologi, banyak dokumen yang sudah tidak berbentuk fisik melainkan sudah sebagai file dalam komputer. Auditor harus bisa membuktikan bahwa isi file yang dihasilkan komputer benar-benar mencerminkan transaksi perusahaan.
• Memastikan kesesuaian antara asersi dengan standar yang ditetapkan menjadi lebih kompleks untuk transaksi yang diproses dengan komputer karena sulit untuk memastikan apakah program komputer dan file yang diberikan kepada auditor independen benar-benar yang digunakan oleh perusahaan.
• Terkait dengan pengkomunikasian hasil pemeriksaan, auditor juga harus melaporkan temuan lain yang terkait dengan sistem pemrosesan data terkomputerisasi.
Dengan sistem informasi akuntansi yang menggunakan komputer akan ada beberapa dokumen yang tidak digunakan. Sehingga auditor tidak bisa lagi melakukan audit secara manual terhadap suatu perusahaan (Meidawati 2002:6) . Hal ini berarti berdampak pula pada teknik pengauditan yang dilakukan oleh auditor.
Dalam melakukan audit yang berbasis komputer, ada beberapa teknik pengauditan yang dapat dilakukan yaitu (Arens dan Loebbecke 2000:339) :
1. Auditing around the computer
Dalam auditing around the computer, maka pemahaman terhadap pemrosesan di dalam komputer dianggap benar, apa yang ada di dalam komputer dianggap sebagai “black box”, sehingga audit dilakukan hanya di sekitar box tersebut. Dalam pendekatan ini pengauditan dilakukan dengan membandingkan antara output yang dihasilkan dari suatu pemrosesan transaksi reguler dengan output yang ditentukan sebelumnya, yang merupakan hasil yang diharapkan dari suatu sistem pemrosesan input. Komputer menjadi begitu diabaikan di dalam pendekatan pengauditan ini. Pemahaman auditor terhadap suatu pemrosesan komputer tidaklah begitu penting.
2. Auditing through the computer
Auditing through the computer diterapkan dalam organisasi yang menerapkan sistem pemrosesan informasi berbasis komputer secara penuh. Audit through the computer adalah suatu audit terhadap suatu penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer dengan menggunakan fasilitas komputer yang sama dengan yang digunakan dalam engolahan data. Tujuan audit dengan menggunakan pendekatan
ini adalah memeriksa kebenaran software aplikasi yang digunakan, kebenaran ini dapat berupa kebenaran perhitungan dan memastikan keandalan kendali aplikasi yang terdapat dalam program aplikasi.
3. Auditing with the computer
Audit with the computer yaitu audit terhadap suatu penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer dengan menggunakan komputer yang telah dilengkapi dengan software yang dapat membantu auditor untuk menghasilkan output yang digunakan untuk maksud audit.
2.3. Auditor
Auditor adalah orang yang melakukan audit. Ada beberapa macam tipe auditor diantaranya :
1. Auditor independent (Akuntan Publik)
Auditor profesional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya dan Akuntan Publik yang bertanggungjawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan.
2. Auditor Pemerintah
Auditor profesional yang bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit organisasi/entitas pemerintah/pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada pemerintah.
3. Auditor intern
Auditor yang bekerja dalam perusahaan yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan efisiensi dan efektifitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan berbagai bagian organisasi.
2.4. Kompetensi Audit
Kompetensi adalah kekuasaan (kewenangan) untuk menentukan/
memutuskan suatu hal (Poerwadarminta 1993:518). Pengertian kompetensi lainnya adalah “kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas“ atau sebagai
“memiliki ketrampilan & kecakapan yang diisyaratkan. “ (Suparno 2001:27).
Pada masa ini, Auditor selain harus ahli dalam bidang auditing juga harus punya kompetensi tertentu/keahlian sehingga ia mampu untuk melaksanakan audit yang berbasis komputer (Meidawati 2002:1). Kompetensi minimum yang dibutuhkan Auditor dalam melaksanakan audit di lingkungan Sistem Informasi Komputer adalah (IAI 2001:335.2) :
1. Pengetahuan dasar-dasar komputer dan fungsi komputer secara umum.
2. Pengetahuan dasar tentang sistem operasi (operating system) dan perangkat lunak. Hal ini meliputi (ICA Srilanka 11.2) :
a. Pengetahuan signifikan dan kompleksitas operasi komputer seperti jumlah transaksi yang terjadi dan diproses.
b. Memahami struktur organisasi dari aktifitas sistem klien dan pendistribusian proses komputer dalam entitas.
c. Pengetahuan terhadap ketersediaan data yang akan dibutuhkan oleh Auditor (terkait dengan apakah sistem menyimpan dokumen, files komputer dan buku lainnya dalam jangka waktu lama).
d. Pengetahuan terhadap program aplikasi yang digunakan oleh perusahaan.
3. Pemahaman tentang teknik pengolahan file dan struktur data. Hal ini meliputi (IAI 2001:344.3) :
a. Pengetahuan terhadap macam- macam teknik pengolahan file.
Ada berbagai macam teknik pengolahan file diantaranya : On Line/Real Time Processing, On Line/Batch Processing, On
Line/Memo Update (dan pengolahan selanjutnya), On Line/Inquiry, On Line Downloading/Uploading Processing.
b. Pemahaman tentang cara memasukkan informasi dalam sistem sesuai dengan jenis teknik pengolahan file apakah On Line/Real
Time Processing atau On Line/Batch Processing atau teknik pengolahan file lainnya.
c. Pengertian tentang pengolahan informasi dalam sistem.
d. Pengetahuan mengenai waktu informasi tersebut dihasilkan dan dapat dipakai oleh user.
4. Kemampuan bekerja dengan perangkat lunak audit. Hal ini meliputi:
a. Kemampuan mengoperasikan Excel sebagai salah satu CAATs yang termudah.
b. Kemampuan mengoperasikan software audit lain seperti ACL, IDEA.
c. Kemampuan merancang suatu SAS (Spesialized Audit Software) bagi sebuah perusahaan.
d. Penguasaan terhadap bahasa pemrograman komputer.
5. Kemampuan me-review sistem dokumentasi.
Hal ini meliputi (Romney & Steinbart 8th edition:57) :
a. Mampu membaca sistem dokumentasi seperti Flowchart, DFD, REA, ERD. Flowchart menggambarkan aliran dokumen yang terjadi dalam perusahaan. DFD (Data Flow Diagram) menggambarkan aliran data dalam perusahaan. Sedangkan REA dan ERD menggambarkan pihak-pihak yang terkait (entitas) dalam perusahaan serta hubungan antara pihak-pihak tersebut.
b. Mampu mengevaluasi internal control system documentation sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan dari control yang ada.
c. Mampu membuat/menyiapkan dokumentasi
6. Pengetahuan dasar tentang pengendalian internal Sistem Informasi Komputer (SIK) baik pengendalian umum dan aplikasi.
Hal ini meliputi (Christiawan 2000:3) :
a. Pemahaman tentang elemen dari struktur pengendalian internal SIK beserta faktor yang ada di dalamnya.
b. Mampu melakukan pengujian (test of control) terhadap semua elemen yang temasuk dalam pengendalian umum.
c. Mampu melakukan pengujian (test of control) terhadap semua elemen yang termasuk dalam pengendalian aplikasi.
d. Mampu menilai resiko pengendalian dan menerapkan substantive test yang sesuai dengan resiko pengendalian.
e. Mampu memberi rekomendasi dan mendesain pengendalian umum bagi perusahaan yang mana pengendalian umum perusahaan tersebut tidak memadai.
f. Mampu memberi rekomendasi dan mendesain pengendalian umum bagi perusahaan yang mana pengendalian aplikasi perusahaan tersebut tidak memadai.
7. Pengetahuan memadai dalam pengembangan rencana audit dan supervisi pelaksanaan audit dalam lingkungan SIK. Hal ini meliputi (IAI 2001:335.3):
a. Memahami dan mengetahui bagaimana fungsi Sistem Informasi Komputer diorganisasikan/bagaimana pendistribusian pengolahan komputer dalam keseluruhan entitas.
b. Pengetahuan mengenai perangkat lunak dan keras yang digunakan oleh entitas.
c. Pengetahuan terhadap setiap aplikasi, sifat pengolahan dan kebijakan penyimpanan data yang diterapkan oleh perusahaan.
d. Mampu menentukan tingkat kepercayaan yang diharapkan Auditor atas pengendalian SIK.
e. Mampu merencanakan bagaimana, dimana dan kapan fungsi SIK akan direview, termasuk penjadwalan pekerjaan tenaga ahli SIK jika digunakan.
f. Mampu merencanakan prosedur audit yang sesuai dengan teknik audit yang akan digunakan.
8. Pemahaman dinamika perkembangan dan perubahan sistem dan program dalam suatu entitas.
Kompetensi tersebut diatas akan diklasifikasikan menjadi pengetahuan dasar komputer, pemahaman mengenai teknik pengolahan file, kemampuan bekerja dengan perangkat lunak audit. Kompetensi yang akan diverifikasi dalam penelitian ini adalah kompetensi yang diperoleh dari hasil survey awal.
2.5. Statistik deskriptif
Terdapat beberapa macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian diantaranya adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial . Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan non-parametris
(Sugiyono 2001:142).
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa dengan cara mendeskripsikan/menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono 2001:142). Tujuan utama dari statistik deskriptif untuk :
a. mengetahui frekuensi (penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram).
b. mengetahui kecenderungan pemusatan data (tendensi sentral) melalui perhitungan modus, median, mean, rata-rata .
c. mengetahui dispersi (tingkat penyebaran data) melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan presentase.
Dalam statistik deskriptif juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan antara variabel melalui analisis korelasi, melakukan prediksi dengan analisis regresi, dan membuat perbandingan dengan membandingkan rata-rata data sampel atau populasi (Sugiyono 2001:143).
Secara teknis dapat diketahui bahwa dalam statistik deskriptif tidak ada uji signifikasi, tidak ada taraf kesalahan karena peneliti tidak bermaksud membuat generalisasi, sehingga tidak ada kesalahan generalisasi.
2.6. Pengujian validitas dan reliabilitas
Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai sarana untuk menjawab rumusan masalah yang diajukan, maka dari itu terdapat dua syarat yang berlaku pada sebuah kuesioner, yaitu keharusan sebuah kuesioner untuk dapat dikatakan valid dan reliabel (Santoso 2001:270). Sebuah kuesioner dikatakan valid (sah) apabila pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Santoso 2001:270). Hasil penelitian yang valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.
Sedangkan sebuah kuesioner dikatakan reliabel (andal) apabila jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Santoso 2001:270). Hasil penelitian yang reliabel apabila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Pengujian validitas dan reliabilitas adalah proses menguji butir-butir pertanyaan yang ada dalam sebuah kuesioner, apakah isi dari butir-butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliabel.
Dalam pengujian setiap butir pertanyaan yang ada dalam kuesioner mungkin saja ada butir-butir yang tidak valid dan reliabel, sehingga harus dibuang. Pertama- tama analisa dilakukan dengan cara menguji validitas terlebih dahulu kemudian menguji reliabilitas. Jadi apabila ada sebuah butir yang tidak valid maka secara otomatis butir tersebut dibuang. Setiap butir-butir pertanyaan yang sudah valid kemudian secara bersama diukur reliabilitasnya (Santoso 2001:272).
Pengukuran reliabilitas pada dasarnya dilakukan dengan dua cara yaitu (Santoso 2001:272):
1. Repeated Measure (Ukur ulang)
Pengukuran reliabilitas ini dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda (pertanyaan akan diberikan sebulan lagi, lalu dua bulan lagi dan seterusnya) dan kemudian akan dilihat apakah responden tetap konsisten dengan jawabannya.
2. One Shot (Diukur sekali saja)
Pengukuran reliabilitas ini dilakukan hanya sekali saja dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil pertanyaan lainnya, apakah responden tetap konsisten dengan jawabannya.
Dalam penelitian ini, data yang telah diperoleh harus akurat dan objektif.
Maka dari itu perlu diketahui seberapa tinggi reliabilitas dan validitas instrumen yang digunakan.
Uji validitas dilakukan pada item-item pertanyaan pada kuesioner yaitu dengan analisis faktor yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrument dalam suatu faktor, dan mengkorelasikan skor faktor dengan skor total yang diperolehnya.
Langkah-langkah pengujian validitas butir pertanyaan adalah:
1. Menentukan hipotesis
H0 = Skor butir pertanyaan berkorelasi positif dengan skor faktor H1 = Skor butir pertanyaan tidak berkorelasi positif dengan skor faktor 2. Menentukan nilai r tabel
Untuk menentukan nilai r tabel, terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yaitu df (degree of freedom) dan tingkat signifikasi. Rumus df = jumlah kasus -2 dan tingkat signifikasi ditentukan oleh peneliti. Misalnya dalam kasus ini df = 30 – 2 = 28. Dengan tingkat signifikasi 5 %, maka didapat angka untuk r tabel adalah 0.2407.
3. Mencari r hasil
Untuk mencari r hasil untuk tiap item digunakan SPSS , r hasil untuk tiap butir dapat dilihat pada kolom CORRECTED ITEM-TOTAL CORRELATION pada output uji validitas yang dihasilkan oleh SPSS .
4. Mengambil keputusan
Dasar pengambilan keputusan untuk menentukan validitas kuesioner yang adalah sebagai berikut:
Jika r hasil positif, dan r hasil lebih besar rtabel (r hasil > r tabel), maka butir atau variabel tersebut adalah valid.
Jika r hasil tidak positif, dan r hasil lebih kecil r tabel (r hasil < r tabel), maka butir atau variabel tersebut adalah tidak valid.
Jika r hasil lebih besar dari r tabel (r hasil > r tabel) tapi bertanda negatif, maka butir atau variabel tersebut adalah tidak valid.
Uji selanjutnya adalah uji reliabilitas, dalam penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan cara pendekatan pengukuran reliabilitas konsistensi.
Langkah-langkah pengujian reliabilitas butir pertanyaan adalah:
1. Menentukan hipotesis
H0 = Skor butir pertanyaan berkorelasi positif dengan komposisi faktornya H1 = Skor butir pertanyaan tidak berkorelasi positif dengan komposisi faktornya
2. Menentukan nilai r tabel
Untuk menentukan nilai r tabel, terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yaitu df (degree of freedom) dan tingkat signifikasi. Rumus df = jumlah kasus -2 dan tingkat signifikasi ditentukan oleh peneliti. Misalnya dalam kasus ini df = 30 – 2 = 28. Dengan tingkat signifikasi 5 %, maka didapat angka untuk r tabel adalah 0.2407.
3. Mencari r hasil
r hasil diperoleh dari output pengujian reliabilitas dengan menggunakan SPSS. r hasil yang dimaksud adalah angka ALPHA (terletak pada akhir output).
4. Mengambil keputusan
Dasar pengambilan keputusan untuk menentukan reliabilitas kuesioner adalah sebagai berikut:
Jika r alpha positif, dan r alpha lebih besar r tabel (r alpha > r tabel), maka butir atau variabel tersebut reliabel.
Jika r alpha positif, dan r alpha lebih kecil r tabel (r alpha < r tabel), maka butir atau variabel tersebut tidak reliabel.
Jika r alpha lebih besar r tabel (r alpha > r tabel) tapi bertanda negatif, maka butir atau variabel tersebut tidak reliabel.
Reliabilitas kuesioner dikatakan tinggi apabila nilai koefisien reliabilitas r alpha lebih besar daripada nilai kritis r tabel (r alpha > r tabel) dan sebaliknya reliabilitas kuesioner rendah apabila nilai koefisien reliabilitas r alpha lebih kecil daripada nilai kritis r tabel (r alpha < r tabel).