BAB II
LANDASAN TEORI
A. TINJAUAN PUSTAKA 1. Mata
a. Anatomi dan Fisiologi Mata
Gambar 2.1 Anatomi Bola Mata (Rehman, Mahabadi dan Patel, 2019)
Bola mata orang dewasa berdiameter sekitar 2,5 cm dan hanya seperenam bagian yang terpapar lingkungan luar. Secara anatomis, dinding bola mata tersusun atas tiga lapisan: tunika fibrosa , tunika vaskulosa, dan retina. Tunika fibrosa sebagai lapisan terluar terdiri dari kornea anterior dan sklera posterior. Kornea bersifat transparan dan menutupi iris. Permukaan luar kornea tersusun oleh epitel skuamosa kompleks non-kornifikasi. Lapisan tengah kornea tersusun oleh serat kolagen dan fibroblas, sedangkan permukaan dalam kornea dilapisi oleh epitel skuamosa simpleks. Bagian tengah kornea mendapatkan oksigen dari udara luar, sehingga lensa kontak harus bersifat permeabel terhadap oksigen. Sklera merupakan bagian putih dari mata yang menutupi seluruh bagian mata, kecuali kornea. Sklera berperan dalam melindungi bagian dalam mata, memberi bentuk pada
5 commit to user commit to user
bola mata, dan membuatnya menjadi lebih kaku (Rehman, Mahabadi dan Patel, 2019).
Tunika vaskulosa, disebut juga uvea, adalah lapisan tengah dari bola mata. Tersusun atas tiga bagian, yaitu koroid, badan siliaris, dan iris. Koroid merupakan bagian posterior dari tunika vaskulosa yang melapisi permukaan internal sklera. Terdapat banyak pembuluh darah yang menutrisi retina. Koroid juga mengandung melanosit yang mengandung pigmen melanin. Melanin pada koroid berperan dalam menyerap cahaya berlebih, sehingga mencegah terjadinya pantulan dan hamburan cahaya dalam bola mata. Orang albino mengalami kekurangan melanin pada seluruh bagian tubuh mereka, oleh karena itu mereka seringkali perlu memakai kacamata hitam agar tidak silau.
Pada bagian anterior dari tunika vaskulosa, koroid menjadi badan siliaris yang terdiri atas prosesus siliaris dan otot siliaris. Prosesus siliaris mengandung kapiler darah yang menyekresikan aqueous humor. Terdapat serat zonular yang memanjang dari prosesus siliaris dan menempel pada lensa. Kontraksi dan relaksai otot siliaris akan mengubah ketegangan serat zonular sehingga bentuk lensa akan berubah, menyesuaikan untuk penglihatan jarak dekat maupun jauh.
Iris merupakan bagian yang memberi warna pada mata. Terletak di antara kornea dan lensa dan melekat pada prosesus siliaris. Jumlah melanin pada iris akan menentukan warna mata. Fungsi utama iris adalah mengatur banyaknya cahaya yang melewati pupil, yaitu lubang di tengah iris (Rehman, Mahabadi dan Patel, 2019).
Lapisan ketiga sekaligus lapisan terdalam dari bola mata adalah retina. Terdiri dari lapisan berpigmen dan lapisan saraf. Lapisan berpigmen merupakan sel-sel epitel yang mengandung melanin, terletak di antara koroid dan bagian saraf pada retina. Lapisan saraf merupakan terusan dari otak yang memproses data visual secara luas sebelum mengirim impuls listrik ke akson saraf optik. Neuron pada retina terdiri dari tiga lapisan yang berbeda, yaitu lapisan sel ganglion, commit to user commit to user
lapisan sel bipolar, dan lapisan fotoreseptor. Cahaya akan melewati lapisan sel ganglion dan bipolar sebelum akhirnya sampai ke lapisan fotoreseptor. Fotoreseptor merupakan sel khusus yang mampu mengubah berkas cahaya menjadi impuls saraf. Terdapat dua tipe sel fotoreseptor, yaitu kerucut dan batang. Setiap retina mengandung sekitar 6 juta sel kerucut dan lebih dari 100 juta sel batang. Sel kerucut berperan dalam membedakan warna, sedangkan sel batang memungkinkan kita untuk melihat dalam kondisi redup. Persepsi warna dihasilkan dari stimulasi berbagai kombinasi sel kerucut biru, hijau, dan merah. Kemudian informasi visual sampai ke diskus optikus atau disebut juga blind spot karena tidak mengandung sel batang maupun kerucut. Makula lutea adalah area datar yang terletak tepat di tengah bagian posterior retina. Di tengah makula lutea terdapat fovea sentralis yang hanya berisi sel kerucut, sehingga area ini memiliki ketajaman atau resolusi visual tertinggi dan digunakan untuk memfokuskan penglihatan (Rehman, Mahabadi dan Patel, 2019).
Lensa terletak di belakang pupil dan iris. Lensa membagi bagian dalam bola mata menjadi dua bagian, yaitu kompartemen anterior dan kompartemen posterior (vitreous). Kompartemen anterior dibagi menjadi Camera Oculi Anterior (COA) dan Camera Oculi Posterior (COP). COA terletak di antara kornea dan iris semetara COP merupakan ruang antara iris dan lensa. Baik COA maupun COP terisi oleh aqueous humor, yaitu cairan yang menutrisi kornea dan lensa.
Aqueous humor diganti setiap 90 menit. Kompartemen posterior terletak di antara lensa dan retina. Di dalam kompartemen posterior terdapat badan vitreous, yaitu zat transparan seperti jeli yang menahan retina terhadap koroid. Berbeda dengan aqueous humor, badan vitreous tidak mengalami pergantian yang cepat. Badan vitreous berisi sel fagosit yang berfungsi untuk mengeliminasi debris agar
commit to user commit to user
penglihatan tetap terjaga dan tidak terhalang (Rehman, Mahabadi dan Patel, 2019).
b. Mekanisme Akomodasi
Akomodasi adalah proses di mana mata manusia menyesuaikan fokus untuk melihat objek pada jarak tertentu. Terdapat berbagai teori dan bukti pendukung mengenai mekanisme akomodasi. Teori-teori tersebut akan terus dikembangkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun demikian, Teori Helmholtz mungkin merupakan mekanisme akomodasi yang paling banyak diterima, walaupun teori tersebut tidak menjelaskan mengenai kondisi patologis terkait akomodasi (Ovenseri-Ogbomo dan Oduntan, 2015).
Helmholtz mengusulkan teori relaksasi akomodasi dengan memanfaatkan perubahan ukuran dari gambar Purkinje pada permukaan anterior lensa kristalina, untuk mendukung bahwa lensa kristalina memang berperan dalam proses akomodasi. Dia mengamati bahwa ketika mata dalam keadaan tidak berakomodasi dan melihat jarak jauh, muskulus siliaris berelaksasi dan serat-serat zonular berkontraksi, sehingga lensa kristalina tertarik ke arah luar dan mendatar. Lebih lanjut dia mengamati bahwa selama akomodasi muskulus siliaris berkontraksi, menyebabkan menurunnya tegangan serat-serat zonular sehingga kelengkungan lensa kristalina meningkat dan ketebalan lensa meningkat. Dalam proses akomodasi juga terjadi peningkatan kelengkungan permukaan anterior lensa kristalina disertai sedikit perubahan pada kelengkungan permukaan posteriornya, permukaan anterior lensa kristalina akan menonjol sementara permukaan posterior tidak menunjukkan perubahan yang berarti, dan terjadi peningkatan sebanyak 0,5 mm pada ketebalan aksial lensa selama akomodasi (Ovenseri-Ogbomo dan Oduntan, 2015).
commit to user commit to user
2. Kelainan Refraksi
Berbagai aspek penglihatan akan terus berkembang selama awal dan pertengahan masa kanak-kanak, termasuk perkembangan fokus dan kedalaman penglihatan. Kemampuan kedua mata untuk fokus pada suatu objek secara bersamaan, atau yang disebut konvergensi, akan sepenuhnya berkembang pada usia tujuh tahun. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa seorang anak dengan masalah kesejajaran bola mata atau strabismus harus ditangani sebelum usia tersebut. Seorang anak pada umumnya agak hiperopia, tetapi dapat melihat dengan baik pada jarak lain.
Miopia dan astigmatisma yang lebih menonjol pada seorang anak dianggap sebagai hal yang diturunkan (Turbert, 2017).
Kelainan refraksi mengacu pada cacat penglihatan di mana sistem optik tidak mampu memfokuskan sinar paralalel tepat pada retina dalam keadaan mata tidak berakomodasi (Althomali, 2018). Kelaianan refraksi yang paling sering terjadi pada anak-anak adalah miopia atau rabun jauh, hiperopia atau rabun dekat, dan astigmatisma atau distorsi penglihatan.
Seseorang dapat menderita dua jenis atau lebih kelainan refraksi dalam waktu yang sama (American Academy of Ophthalmology, 2014).
a. Miopia (Rabun Jauh)
Pada miopia mata tidak mampu untuk memfokuskan objek yang jauh. Hal ini disebabkan oleh daya refraksi sistem optik yang terlalu tinggi berhubungan dengan panjang bola mata. Seperti ditunjukkan dalam gambar, fokus dari objek yang jauh terbentuk di depan retina sehingga objek kabur di fovea. Sebaliknya, objek yang dekat dengan
commit to user commit to user
pengamat dapat difokuskan pada retina tanpa perlu akomodasi (Ulrich et al., 2017).
Gambar 2.2 Miopia (Turbert, 2019)
Dikatakan sebagai miopia jika kekuatan lensa sferis setara dengan ≥ −0.50 Dioptri (D) (secara matematis). Lebih lanjut dikategorikan sebagai (Althomali, 2018):
1) Ringan, ≥ −0.50 D dan < −3.00 D 2) Sedang, ≥ −3.00 D dan < −6.00 D 3) Berat, ≥ −6.00 D
Terdapat beberapa hal yang menyebabkan seseorang berisiko menderita miopia, yaitu:
1) Faktor herediter
Penelitian yang dilakukan pada saudara kembar memberikan bukti yang kuat terkait peran gen terhadap perkembangan miopia. Hal ini dikarenakan kembar dizigot berbagi 50% gen dan kembar monozigot berbagi 100% gen jika dibandingkan dengan gen yang sangat bervariasi pada saudara kandung yang bukan kembar. Semua penerlitian yang dilakukan pada saudara kembar menunjukkan korelasi antara refraksi, komponen okuler, dan keturunan. Korelasi ini lebih kuat pada kembar monozigot dibanding kembar dizigot. Kemajuan dalam pengurutan genetik memungkinkan para peneliti untuk menyelidiki gen yang terkait dengan pengembangan miopia, tidak sekadar mengandalkan penelitian observasional pada saudara kembar. Sebagian besar gen berkaitan dengan miopia commit to user commit to user
tinggi dan beberapa dihubungkan dengan miopia sedang (Gammoh, 2018).
2) Pekerjaan jarak dekat dan pendidikan
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan jarak dekat, tingkat pendidikan, dan miopia. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hubungan antara pekerjaan jarak dekat dan miopia, konsep "diopter-hours"
digunakan pada beberapa penelitian yang dilakukan pada anak- anak dengan mempertimbangkan lamanya waktu untuk melakukan berbagai kegiatan jarak dekat. Temuan yang paling penting adalah lamanya waktu membaca dari media cetak dapat dianggap sebagai faktor risiko untuk miopia, terlepas dari faktor keturunan dan waktu untuk kegiatan jarak dekat lainnya. Terdapat bukti yang kuat mengenai hubungan antara tingkat pendidikan dan miopia. Mahasiswa menunjukkan prevalensi miopia yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Lebih jauh lagi, prevalensi miopia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya tahun studi mereka. Beberapa siswa yang emetrop mulai menderita miopia setelah melalui beberapa tahun di universitas (Gammoh, 2018).
3) Aktivitas di luar ruangan
Baik faktor keturunan maupun aktivitas jarak dekat termasuk dalam faktor risiko untuk timbul dan berkembangnya miopia. Namun, bukti baru menunjukkan bahwa aktivitas di luar ruangan berperan dalam mencegah perkembangan miopia.
Miopia telah terbukti berbanding terbalik dengan durasi anak- anak saat melakukan permainan olahraga, seperti sepak bola dan lain-lain. Beberapa penelitian membuktikan bahwa durasi aktivitas di luar ruangan berhubungan dengan berkurangnya risiko perkembangan miopia. Hal ini diduga karena terjadi peningkatan kedalaman fokus melalui restriksi pupil, terpapar commit to user commit to user
sinar ultraviolet, dan meningkatnya pengeluaran dopamin.
Mekanisme yang paling memungkinkan adalah meningkatnya pengeluaran dopamin yang menyebabkan berkurangnya pemanjangan aksial. Namun, masih belum ada bukti konkret mengenai mekanisme penurunan onset dan perkembangan miopia melalui aktivitas di luar ruangan.
b. Hiperopia (Rabun Dekat)
Pada hiperopia atau rabun dekat melihat dalam kondisi rileks (tanpa akomodasi) akan tampak kabur. Hal ini disebabkan oleh daya refraksi yang terlalu lemah sehingga fokus dari objek yang jauh jatuh di belakang retina (Ulrich et al., 2017). Individu dengan hiperopia mengalaminya secara berbeda-beda. Beberapa orang mungkin tidak merasakan masalah pada penglihatannya, terutama jika mereka masih berusia muda (Boyd, 2014).
Gambar 2.3 Hiperopia (Boyd, 2014)
Pada usia muda kondisi ini dapat dikompensasi secara otomatis/
tidak sadar, dengan cara mengurangi jari-jari kelengkungan (akomodasi) sehingga daya refraksi lensa okuler berubah. Bayangan akan dipindahkan tepat pada retina dan objek akan tampak fokus.
Hiperopia pada usia muda masih memungkinkan untuk melihat dengan jelas, tetapi harus meningkatkan akomodasi (hiperopia laten).
Apabila objek yang dilihat terletak dekat dengan pengamat, maka derajat akomodasi yang diperlukan akan jauh lebih besar agar dapat memfokuskan bayangan. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya commit to user commit to user
gejala asthenopia atau kelelahan mata (gejala yang relatif tidak spesifik seperti nyeri pada mata, mata merah, mata kering, terkadang penglihatan ganda, penglihatan kabur sesaat, atau sakit kepala).
Gejala-gejala tersebut terutama terjadi pada malam hari, dalam pencahayaan yang buruk, dan setelah berkonsentrasi lama pada objek yang dekat (Ulrich et al., 2017).
Dikatakan sebagai hiperopia jika kekuatan lensa sferis setara dengan ≥ +0.50 Dioptri (D) secara matematis (Althomali, 2018).
Lebih lanjut dikategorikan sebagai (Alemu et al, 2019):
1) Ringan, ≤ +2.75 D
2) Sedang, +3.00 D hingga + 5.00 D 3) Berat, ≥ 5.00 D
Sementara kategori hipermetropia menurut American Optometric Association (2010) adalah sebagai berikut:
1) Ringan, ≤ +2.00 D
2) Sedang, +2.25 D hingga + 5.00 D 3) Berat, ≥ 5.00 D
Seperti halnya miopia, hiperopia biasanya diturunkan. Sebagian besar anak mengalami hiperopia, tetapi tidak mengalami penglihatan kabur. Melalui akomodasi, mata anak dapat membelokkan berkas cahaya dan menempatkannya tepat pada retina. Selama hiperopia yang dialami tidak terlalu parah, anak dengan hiperopia akan memiliki penglihatan yang jelas baik saat melihat jauh maupun dekat.
Hiperopia akan berkurang seiring dengan pertumbuhan dan memanjangnya bola mata (Boyd, 2014).
c. Astigmatisma
Astigmatisma merupakan suatu kondisi mata di mana kelengkungan pada satu atau lebih permukaan refraksi tidak sama sehingga menghambat pembentukan gambar yang jelas pada retina (McKean-Cowdin et al., 2011). commit to user commit to user
Gambar 2.4 Astigmatisma (Ulrich et al., 2017)
Klasifikasi dan efek dari astigmatisma tergantung dari garis fokus yang terletak lebih anterior (Ulrich et al., 2017):
1) Astigmatisma with-the-rule
Kelengkungan meridian vertikal merupakan bagian yang paling datar, sehingga kornea berbentuk seperti bola rugby, yaitu pada sudut 0°–30° atau 150°–180° (Ulrich et al., 2017).
2) Astigmatisma against-the-rule
Astigmatisma jenis ini memiliki kelengkungan meridian horizontal yang paling datar, yaitu pada sudut 60°–120° (Ulrich et al., 2017).
3) Astigmatisma oblik
Lengkungan paling datar berada di antara sudut 30°- 60°
atau 120° - 150° (Ulrich et al., 2017).
Astigmatisma didefinisikan sebagai kesalahan silinder ≥ 0.50 DC (nilai absolut) pada sumbu mana pun. Lebih lanjut dikategorikan sebagai (Althomali, 2018):
1) Ringan – sedang, ≥ 0.50 DC dan < 3.00 DC 2) Berat, ≥ 3.00 DC
Mengidentifikasi astigmatisma pada anak sangatlah penting karena berpotensi untuk mempengaruhi perkembangan normal penglihatan. Derajat astigmatisma yang tinggi berhubungan dengan perkembangan ambliopia dan miopia. Walaupun penyebab pasti dari commit to user commit to user
astigmatisma masih belum jelas, akan tetapi faktor-faktor seperti keturunan, tekanan kelopak mata, tekanan otot ekstraokuler, usia kehamilan, berat badan lahir, dan kondisi medis tertentu kemungkinan juga dapat berperan (McKean-Cowdin et al., 2011).
Kelainan refraksi disebut anisometropia apabila daya refraksi kedua mata berbeda. Sebesar 2-3% anisometropia memiliki selisih 3 dioptri atau lebih. Anisometropia kemungkinan dapat disertai dengan perbedaan persepsi gambar (anisekonia). Anak-anak dengan anisometropia tinggi memiliki prevalensi dan keparahan yang lebih tinggi terhadap ambliopia jika dibandingkan dengan selisih daya refraksi kedua mata yang hanya sedikit. Disebut ambliopia apabila terjadi penurunan ketajaman visual tanpa adanya korelasi morfologi, sebagai akibat dari gangguan perkembangan kapasitas visual. Walaupun deteksi dini pada anak usia prasekolah sangat dianjurkan, akan tetapi hal tersebut tetap tidak dapat mendeteksi semua penyebab ambliopia (Ulrich et al., 2017).
3. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu setelah seseorang melakukan pengindraan pada suatu objek. Pengindraan dilakukan melalui panca indra manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan peraba. Informasi yang didapat dari pengindraan tersebut harus dapat diserap, diolah, dan dipahami. Pengetahuan dapat berasal dari berbagai sumber, diantaranya dari media cetak, elektronik, seminar atau penyuluhan, dan pengalaman pribadi atau orang lain (Hutauruk, 2009).
Pengetahuan seseorang dapat diukur melalui wawancara atau angket yang berisi pertanyaan mengenai materi yang ingin diukur dari subjek penelitian. Terdapat beberapa tigkatan kedalaman pengetahuan, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh sebab itu, pengetahuan menjadi domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Karena pengalaman dan penelitian menunjukkan bahwa perilaku didasari oleh pengetahuan (Sarindra, 2015).
commit to user commit to user
Bersekolah atau pendidikan memengaruhi tigkat kesehatan.
Seseorang yang terpelajar akan lebih sehat dibandingkan dengan yang kurang terpelajar (Mocan dan Altindag, 2012). Rendahnya status kesehatan ini meliputi pengetahuan tentang suatu penyakit, tanda dan gejalanya, morbiditasnya, status kesehatan umum, dan penggunaan pelayanan kesehatan. Seseorang yang kurang terpelajar biasanya 1,5-3 kali lebih mudah mengalami suatu penyakit (Camerini, Schulz dan Nakamoto, 2012). Sebagai contoh, ada beberapa orang yang menganggap jika kebutaan merupakan kondisi alami dari proses penuaan, sehingga tidak ada yang perlu dilakukan mengenai hal tersebut. Selain itu, peningkatan pendidikan dan kesehatan juga akan berdampak pada tingkat pendidikan dan kesehatan generasi selanjutnya (Mocan dan Altindag, 2012).
4. Sikap
Istilah sikap (attitude) pertama kali digunakan oleh Herbert Spencer pada tahun 1862 yang diartikan sebagai status mental seseorang.
Kemudian pada tahun 1888 istilah sikap digunakan oleh Lange dalam bidang eksperimen tentang respon untuk menggambarkan kesiapan seseorang dalam menghadapi stimulus yang datang tiba-tiba. Kesiapan (set) untuk memberikan respon itu disebut aufgabe atau task attitude. Jadi, menurut Lange sikap tidak semata-mata merupakan aspek mental saja melainkan mencakup pula aspek respon fisik. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi pembentukan sikap, diantaranya adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, dan faktor emosi dalam diri individu (Saifuddin, 2016)
Seperti halnya pengetahuan, terdapat beberapa tingkatan dari sikap, yaitu (Sarindra, 2015) :
a. Menerima
Artinya seseorang (subjek) mau dan memperhatikan rangsangan yang diberikan (objek).
b. Merespon
commit to user commit to user
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan merupakan suatu indikasi dari sikap. Karena dengan adanya usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, artinya seseorang telah menerima ide tersebut.
c. Menghargai
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah merupakan indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab
Bertanggungjawab terhadap segala sesuatu yang telah dipilih dengan berbagai risiko merupakan tingkatan sikap yang paling tinggi.
Sikap dapat diukur secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dapat melalui petanyaan terkait pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan menanyakan pendapat responden (sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju) terkait pernyataan-pernyataan hipotesis yang diberikan (Sarindra, 2015).
5. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap
Pengetahuan sangat diperlukan untuk membentuk suatu sikap dan tindakan, walaupun tindakan tidak harus selalu didasari oleh pengetahuan.
Pengetahuan baru pada individu akan memicu timbulnya respon batin dalam bentuk sikap individu terhadap objek yang diketahui tersebut (Hutauruk, 2009).
Sikap yang didasari oleh pengetahuan akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan yang tidak didasari oleh pengetahuan (misalnya karena paksaan). Pengetahuan dan sikap berhubungan secara konsisten.
Apabila komponen kognitif (pengetahuan) berubah maka akan diikuti oleh perubahan sikap (Hutauruk, 2009).
Pendidikan akan memperluas dasar pengetahuan seseorang mengenai kesehatan. Peningkatan pengetahuan tentang kesehatan ini akan
commit to user commit to user
mengubah perilaku kesehatan seseorang, yang lebih lanjut akan memengaruhi kondisi kesehatannya (Mocan dan Altindag, 2012).
6. Pengetahuan dan Sikap Orangtua terhadap Kelainan Refraksi pada Anak a. Pengetahuan Orangtua tentang Kelainan Refraksi pada Anak
Mayoritas penduduk di negara berkembang buta huruf dan kurang berpendidikan dalam hal kesehatan mata. Penjelasan dan informasi yang berkualitas mengenai kesehatan mata masih belum tersebar luas kepada publik (Jaggernath et al., 2014). Kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai faktor resiko dan kesehatan mata dapat menghambat perawatan yang diterima (McClure et al., 2017). Pengetahuan dan pendidikan mengenai kesehatan mata dan pilihan pengobatan yang tersedia serta mengklarifikasi mitos yang ada sangatlah penting. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang telah dididik tentang kesehatan mata dan layanan yang tersedia cenderung mau untuk melakukan operasi atau tindakan koreksi penglihatan lainnya dibandingkan dengan mereka yang belum pernah menerima pendidikan (Jaggernath et al., 2014).
Memahami pengetahuan tentang kesehatan mata merupakan kunci untuk meningkatkan kesehatan mata, karena pengetahuan mengenai kesehatan berhubungan dengan perilaku dan hasil kesehatan (McClure et al., 2017). Orangtua, sebagai pengasuh utama, berperan untuk mencari pelayanan kesehatan bagi anaknya.
Kurangnya kesadaran terhadap kondisi mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan bahkan kebutaan. Oleh karena itu, dengan memahami kesadaran dan pengetahuan orangtua mengenai kondisi mata dapat membantu untuk mengetahui alasan adanya kebutaan yang sebenarnya dapat dihindari pada anak (Senthilkumar et al., 2016).
b. Sikap Orangtua terhadap Kelainan Refraksi pada Anak
Apabila telah memahami bahwa kelainan refraksi yang tidak terkoreksi dapat mengakibatkan penurunan penglihatan atau bahkan kebutaan, maka orangtua akan cenderung bersikap mendukung commit to user commit to user
deteksi dini, tindakan koreksi pada kelainan refraksi, dan tindakan preventif terhadap kelainan refraksi pada anaknya. Sikap mendukung tersebut dinyatakan dalam bentuk kesetujuan untuk melakukan deteksi dini, kesetujuan untuk melakukan tindakan koreksi jika anak mengalami kelainan refraksi, dan kesetujuan untuk melakukan tindakan preventif terhadap kelainan refraksi pada anak (Sarindra, 2015).
Kebiasaan untuk memeriksakan mata bervariasi di antara masyarakat, termasuk para orangtua. Jenis perawatan yang dicari (ke dokter spesialis mata atau ke pengobatan alternatif) dapat memengaruhi prognosis dari suatu penyakit mata. Hal ini terutama pada anak-anak yang masih tergantung pada orangtua dalam hal memeriksakan atau mengobatkan kondisi mata mereka (Ayanniyi et al., 2010).
commit to user commit to user
B. KERANGKA PEMIKIRAN
Gambar 2.5 Kerangka Pemikiran
Keterangan
C. HIPOTESIS
Terdapat hubungan antara temuan kelainan refraksi dengan pengetahuan dan sikap orangtua untuk memeriksakan mata anaknya pada siswa sekolah dasar. Kelainan refraksi anak yang sudah banyak terkoreksi mencerminkan pengetahuan dan sikap orangtua yang baik. Sebaliknya, banyaknya kelainan refraksi anak yang belum terkoreksi mencerminkan pengetahuan dan sikap orangtua yang kurang.
Pengetahuan dan sikap orangtua yang baik/kurang
Tidak berkacamata
Normal Temuan
kelainan refraksi
Berkacamata Pertumbuhan dan
perkembangan mata anak
Faktor yang memengaruhi:
Pengalaman pribadi
Riwayat penyuluhan kesehatan mata
Orang lain/lingkungan
Media massa
Institusi/lembaga pendidikan dan agama
: faktor yang diteliti
: faktor yang tidak diteliti
commit to user commit to user