• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 5 No. 3 September 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 5 No. 3 September 2020"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

167

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA TERHADAP PERILAKU PERSONAL HYGIENE SAAT MENSTRUASI DI SMP NEGERI 2 BATANG ANGKOLA TAPANULI SELATAN

TAHUN 2017 SITI KHADIJAH BATUBARA AKADEMI KEBIDANAN MADINA HUSADA

ABSTRACT

Based on the results of research on the effect of adolescent reproductive health education on personal hygiene during menstruation at SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan 2017. It can be concluded as follows:

There is an effect of adolescent reproductive health education on changes in adolescent knowledge about personal hygiene during menstruation at SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan in 2017, before and after health education was carried out, using the paired t-test so that the average value of knowledge before education was carried out. reproductive health is 0.407 and the average value of knowledge after health education is 0.396 with a probability value (p) = 0.000 where p <0.05.There is an effect of adolescent reproductive health education on changes in adolescent attitudes about personal hygiene during menstruation at SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan in 2017, before and after health education, using the paired t-test so that the average value of attitudes before education is carried out. reproductive health is 0.398 and the average attitude value after health education is 0.325 with a probability value (p) = 0.000 where p <0.05.There is an effect of adolescent reproductive health education on changes in adolescent actions about personal hygiene during menstruation at SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan in 2017, before and after health education, using the paired t-test so that the average value of the action before education is carried out. reproductive health is 0.286 and the average value of action after health education is 0.384 with a probability value (p) = 0.000 where p <0.05.

Keywords: Reproduction,Personal Hygiene Behaviour PENDAHULUAN

Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani, yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.

Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Wartonah,2010).Personal hygiene saat menstruasi adalah tindakan untuk memelihara kesehatan dan kebersihan pada daerah kewanitaan pada saat menstruasi (Suslistyo, 2012).

Hygiene pada saat menstruasi merupakan hal yang penting dalam menentukan kesehatan organ reproduksi remaja putri, khususnya terhindar dari infeksi alat reproduksi. Oleh karena itu pada saat menstruasi seharusnya perempuan benar-benar dapat membersihkan organ reproduksinya dengan baik terutama pada bagian vagina, akibatnya jika tidak dijaga kebersihannya akan menimbulkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus yang berlebih sehingga dapat mengganggu fungsi organ reproduksi, menyebabkan keputihan dan jika keputihan tidak segera diobati dapat menyebabkan infertilitas. Remaja adalah harapan bangsa, sehingga tidak berlebihan jika dikatakan masa depan bangsa yang akan datang ditentukan pada keadaan remaja saat ini, sehingga remaja yang sehat dan berkualitas menjadi perhatian serius bagi orang tua, praktisi pendidikan, atau remaja itu sendiri. Remaja yang sehat adalah remaja yang produktif dan kreatif sesuai dengan tahap perkembangannya (Aryani et.al,2010) Remaja adalah anak usia 10-24 tahun yang merupakan usia antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dan sebagian titik awal proses reproduksi, sehingga perlu dipersiapkan sejak dini.(Romauli dan Vindari 2012).Berdasarkan proyeksi penduduk pada tahun 2015 menunjukan bahwa jumlah remaja (usia 10-24 tahun) indonesia mencapai lebih dari 66,0 juta atau 25 % dari jumlah Penduduk Indonesia 255 juta (Bapenas, BPS, UNFPA 2013). Secara global, jumlah remaja (10-24 tahun) sebesar 25 persen atau 1,8 miliar dari penduduk dunia (CSIS, 2014) hasil sensus penduduk 2010 menunjukan bahwa secara nasional jumlah remaja mencapai 64 juta atau 27,6 persen dari total penduduk indonesia. (Arsip Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat tahun 2015).Hasil riset kesehatan dasar (2010) rata-rata usia menarche di indonesia adalah 13 tahun. Menstruasi adalah keluarnya darah dari kemaluan setiap bulan akibat meluruhnya dinding rahim yang mengandung pembulu darah karena sel telur tidak dibuahi (Pudiastuti,2012).Kejadian yang penting pada remaja adalah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder, mestruasi dan perubahan psikis ( Prawirohardjo, 2010).

(2)

168

Sekitas 75 % wanita didunia pasti mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidupnya dan sebanyak 45%

mengalami 2 kali atau lebih. Berdasarkan statistik indonesia tahun 2012 dari 43,3 juta jiwa remaja 14-15 tahun di indonesia berprilaku tidak sehat, tindakan personal hygiene yang tidak benar beresiko terhadap timbulnya mikroba, larva serangga sehingga mengakibatkan vagina berbau busuk atau terjadi keputihan (Ali, 2007). Hal ini dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit pada organ reproduksi (Fauziah, 2012).Ketidakadekuatan hygiene merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kanker vulva (Davey, 2005).Perempuan indonesia lebih rentan mengalami infeksi saluran reproduksi yang disebabkan iklim indonesia yang panas dan lembab, bila alat reproduksi lembab dan basa maka keasaman akan meningkat yang memudahkan tumbuhnya jamur (Kasdu, 2005). Perempuan yang memiliki riwayat IRS (infeksi salular reproduksi ) mempunyai dampak buruk untuk masa depannya seperti kemandulan, kanker leher rahim, kecacatan janin, kehamilan diluar kandungan dan keputihan (Depkes RI, 2008) Berdasarkan data WHO tahun 2010 angka prevalensi cadidisialis (25-50%) bacterial vaginosis (20-40%) dan trichomoniasis (3-15%) yang kemungkinan terjadi akibat personal hygiene saat haid yang tidak baik. Penyebab utama penyakit ISR adalah imunitas lemah 10% , perilaku kuranh haygiene pada saat menstruasi 30 % dan lingkungan yang tidak baik bersih serta penggunaan pembalut yang kurang sehat saat menstruasi 50 % (Rahmatika, 2010)Menurut data pusat STATISTIK dan BAPENAS tahun 2010, sebagian besar dari 63 juta jiwa remaja di indonesia rentan berprilaku tidak sehat (Aisyaroh, 2010). Perilaku buruk dalam menjaga hygiene pada saat menstruasi dapat menjadi pencetus timbulnya ISR (Ratna, 2010).Dari penelitian terdahulu Pengaruh Penyuluhan Tentang Personal Hygiene Terhadap Perilaku Personal Hygiene Saat Menstruasi oleh Nannyk Widyaningrum, (2015) yaitu terdapat pengaruh penyuluhan tentang personal hygiene terhadap perilaku personal hygiene saat menstruasi di MTS Negeri Gubuk Rubuh Yogyakarta sebanyak 36 responden diketahui dengan analisis uji T-test paried. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,001 < α (0,05).Peneliti sebelumnya oleh Ayu, (2015) berjudul Pengaruh Peer Education Terhadap Perilaku Personal Hygiene Genetalia Dalam Pencegahan Kanker Serviks Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 10 Denpasar. Hasil uji statistik terhadap 3 domain perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) didapatkan nilai pengetahuan (p value = 0,000 < 0,05), sikap (p value = 0,000 < 0,05), dan tindakan (p value = 0,000 < 0,05), maka H0 ditolak. Hasil analisis ini berarti ada pengaruh peer education terhadap perilakupersonal hygiene genetalia dalam pencegahan kanker serviks pada remaja putri di SMP Negeri 10 Denpasar.

Penelitian Anggresti, (2015) Perilaku menjaga kebersihan organ genitalia pada siswi MAN 2 Yogyakarta sebelum dilakukan penyuluhan 26 orang (43,3%) berperilaku baik, 31 orang (51,7%) berperilaku cukup dan 3 orang (5%) berperilaku kurang. Setelah dilakukan penyuluhan menjadi 60 orang (100%) berperilaku baik. Hasil analisa didapatkan nilai p <0,05 sehingga ada pengaruh penyuluhan terhadap perubahan perilaku siswi kelas XI MAN 2 Yogyakarta Penerapan pendidikan kesehatan pada remaja mengenai personal hygiene saat menstruasi secara umum sangat penting dalam peningkatan pengetahuan dan sikap remaja mengenai kesehatan reproduksinya, untuk mencegah kemungkinan penyakit yang akan dialami remaja tersebut.Upaya-upaya kesehatan reproduksi remaja yang perlu dilakukan adalah pemberian informasi kesehatan reproduksi dalam berbagai bentuk sedini mungkinkepada seluruh segmen remaja, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Pemberian informasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan yang pada gilirannya mampu memberikan pilihan kepada remaja untuk bertindak secara bertanggung jawab, baik kepada dirinya maupun keluarga dan masyarakat (Puspitaningrum,2012).Program kesehatan reproduksi remaja seperti yang tertera dalam program pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan reproduksi dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya dan mempersiapkan kehidupan. Berdasarkan hasil observasi surve awal Februari 2017 di SMP Negeri.2 Batang Angkola ditemukan data bahwa dari 20 siswa yang diwawancarai 6 orang (30%), siswa sudah mengetahui cara melakukan personal hygiene saat haid dan 14 orang (70%) siswi lainya tidak tahu tentang personal hygiene pada saat menstruasi.Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti meneliti tentang pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap perilaku personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap perilaku personal hygiene saat menstruasi Di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.

Tujuan Penelitian

Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap perilaku personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.

(3)

169 Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian adalah:

Untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.Untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap sikap personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.Untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap tindakan personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.

Manfaat Penelitian

Bagi SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan tempat penelitian, diharapkan dapat menjadi panduan dalam memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja khususnya personal hygiene saat menstruasi

Bagi penulis lain diharapkan dapat dijadikan bahan kajian lanjut untuk melaksanakan penelitian dengan topik yang sama, agar memberikan kontribusi untuk pelaksanaan program pendidikan kesehatan dalam penanganan kesehatan reproduksi remaja.

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Remaja

Remaja adalah harapan bangsa, sehingga tidak berlebihan jika dikatakan masa depan bangsa yang akan datang ditentukan pada keadaan remaja saat ini, sehingga remaja yang sehat dan berkualitas menjadi perhatian serius bagi orang tua, praktisi pendidikan, atau remaja itu sendiri. Remaja yang sehat adalah remaja yang produktif dan kreatif sesuai dengan tahap perkembangannya (Aryani et.al.2010) Remaja adalah anak usia 10-24 tahun yang merupakan usia antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dan sebagian titik awal proses reproduksi, sehingga perlu dipersiapkan sejak dini.(Romauli, Vindari 2012).Berdasarkan proyeksi penduduk pada tahun 2015 menunjukan bahwa jumlah remaja (usia 10-24 tahun) indonesia mencapai lebih dari 66,0 juta atau 25 % dari jumlah Penduduk Indonesia 255 juta (Bapenas, BPS, UNFPA 2013). Secara global, jumlah remaja (10-24 tahun) sebesar 25 persen atau 1,8 miliar dari penduduk dunia (CSIS, 2014) hasil sensus penduduk 2010 menunjukan bahwa secara nasional jumlah remaja mencapai 64 juta atau 27,6 persen dari total penduduk indonesia. (Arsip Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat tahun 2015)

Tahap- Tahap Masa Remaja

Menurut WHO, yang dikatakan remaja adalah 10-18 tahun. Tetapi berdasarkan penggolongan umur masa remaja terbagi atas: masa remaja awal (10-13 tahun), masa remaja tengah (14-16 tahun), masa remaja akhir (17-19 tahun) (Aryani et.al,. 2010)

A. Remaja Awal

Pada tahap ini remaja mulai berfokus pada pengambilan keputusan, baik didalam rumah maupun disekolah.

Remaja mulai menunjukkan cara berpikir logis, sehingga sering menanyakan kewenangan dan standar di masyarakat maupun disekolah. Remaja juga mulai menggunakan istilah-istilah sendiri dan mempunyai pandangan, seperti olahraga yang lebih baik untuk bermain, memilih kelompok bergaul, pribadi seperti apa yang diinginkan, dan mengenal cara untuk berpenampilan menarik

B. Remaja Menengah

Pada tahap ini terjadi peningkatan interaksi dengan kelompok, sehingga tidak selalu tergantung pada keluarga dan terjadi eksplorasi seksual. Dengan menggunakan pengalaman dan pemikiran yang lebih kompleks, remaja sering mengajukan pertanyaan, menganalisis secara lebih menyeluruh dan berpikir tentang bagaimana cara mengembangkan identitas “siapa saya”?. Remaja juga mulai mempertimbangkan kemungkinan masa depan, tujuan, dan membuat rencana sendiri.

C. Remaja Akhir

Remaja lebih berkonsentrasi pada rencana yang akan datang dan meningkatkan pergaulan. Selama masa remaja akhir, proses berpikir secara kompleks digunakan untuk memfokuskan diri masalah-masalah idealisme toleransi, keputusan untuk karir dan pekerjaan, serta peran orang dewasa dalam masyarakat (Aryani ei.al.2010) Pertumbuhan dan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik sekunder. Karakteristik perimer mencakup perkembangan organ organ reproduksi, sedangkan karakteristik

(4)

170

mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya pada remaja putri ditandai dengan menarche atau menstruasi pertama (Lubis, 2013)

.

Organ Reproduksi Remaja Putri

Indung Telur (Ovarium), berfungsi mengeluarkan sel telur satu bulan satu kali. Organ ini ada dalam rongga pinggul, terletak di kiri dan kanan rahim.Saluran indung telur (tuba fallopi), berfungsi untuk menyalurkan sel telur setelah keluar dari indung telur (proses ovulasi) dan tempat dimana terjadi pembuahan (konsepsi) atau bertemunya sel telur dan sperma.Rahim (Uterus), berfungsi sebagai tempat calon bayi dibesarkan. Bentuknya seperti buah pir dengan berat normal 30-50 gram. Pada saat tidak hamil, besar rahim kurang lebih sebesar telur ayam kampung. Dindingnya terdiri dari lapisan parametrium, lapisan metomtrium dan lapisan endometriumVagina/Liang Kemaluan, adalah lubang tempat masuknya penis saat bersanggama, vagina juga merupakan jalan keluar darah haid dan bayi yang dilahirkan. Dalam vagina terdapat mikro oganisme yang sangat bermanfaat kalau keseimbangannya tidak terganggu. Keseimbangannya terganggu bila perempuan terlalu sering mencuci vagina dengan antiseptik, makan obat antibiotika yang membunuh kuman, atau terlalu sering berhubungana seks berganti pasangan. Keputihan adalah salah satu akibat dari terganggunnya keseimbangan organisme tersebut dalam vagina.Selaput dara (Hymen) adalah lapisan tipis yang berada dalam liang kemaluan, tidak jauh dari mulut vagina. Ada selaput yang sangat tipis dan mudah robek dan ada selaput dara yang kaku dan tidak mudah robek. Selaput dara yang tipis tidak hanya akan robek karena hubungan seks, tetapi bisa robek karena hal lain seperti kecelakaan, jatuh, olah raga, dan lain-lain.Bibir kemaluan (Labia), berada di bagian luar vagina. Ada yang disebut bibir besar dan bibir kecil. Bibir besar adalah bagian yang paling luar yang biasanya ditumbuhi bulu. Bibir kecil terletak di belakang bibir besar dan banyak mengandung saraf pembuluh darah.

Kelentit (Klitoris), berada di bagian atas di antara bibir kemaluan. Bentuknya seperti kacang. Kelentit mempunyai syaraf yang sangat banyak.Saluran kemih, berguna untuk mengeluarkan air kencing, terletak di antara kelentit dan mulut vagina. Menstruasi dan Personal Hygiene

Defenisi Menstruasi

Menstruasi merupakan perdarahan yang teratur dari uterus sebagai tanda bahwa organ kandungan telah berfungsi matang (Eny Kusmiran,2011)Haid atau menstruasi adalah luruhnya lapisan dinding bagian dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah, sehingga haid pada remaja putri ditandai dengan keluarnya darah dari lubang vagina.

Bila sel telur yang dalam perjalanannya menuju rahim tidak bertemu dengan sperma, maka tidak terjadi pembuahan, dan sel telur bersama – sama dengan dinding rahim bagian dalam akan luruh/gugur dan keluar melalui vagina (Kementrian kesehatan RI,2012).Menstruasi adalah masa perdarahan yang terjadi pada perempuan secara rutin setiap bulan selama masa suburnya kecuali terjadi kehamilan. Masa menstruasi bisa juga disebut dengan mens, datang bulan (Laila, 2014). Masa menstruasi merupakan masa perdarahan yang terjadi pada wanita secara rutin setiap bulan terkecuali terjadi kehamilan. Pada menstruasi darah yang keluar sebenarnya adalah darah akibat peluruhan dinding rahim (Endometrium) darah menstruasi tersebut mengalir dari rahim mrnuju keleher rahim yang kemudian keluar melalui vagina (Pieter dan Lumongga, 2011).Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi (Manuaba, 2012). Hormon steroid estrogen dan progesteron mempengaruhi pertumbuhan endometrium, dibawah pengaruh estrogen endometrium memasuki fase proliferasi, sesudah ovulasi endometrium memasuki fase sekresi. Dengan pengaruh kadar estrogen dan progesterone pada akhir siklus haid, terjadi regenerasi endometrium kemudian diikuti oleh perdarahan yang dikenal dengan nama menstruasi. Siklus perdarahan haid lamanya 5 – 7 hari, dan terjadi setiap 22 sampai 35 hari (Yanti, 2011).

Defenisi Personal Hygiene

Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.

Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Personal hygiene saat menstruasi adalah tindakan untuk memelihara kesehatan dan kebersihan pada daerah kewanitaan pada saat menstruasi (Pribakti, 2008).Hygiene menstruasi merupakan komponen hygiene perorangan yang memegang peran penting dalam menentukan status kesehatan, khususnya terhindar dari infeksi alat reproduksi. Oleh karena itu pada saat menstruasi seharusnya perempuan benar-benar dapat menjaga kebersihan organ reproduksi secara “ekstra” terutama pada bagian vagina, karena apabila tidak dijaga kebersihannya, akan menimbulkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus yang berlebih sehingga dapat mengganggu fungsi organ reproduksi (Indriastuti, 2009).

(5)

171 Dampak tidak Tepat dalam Personal Hygiene saat Menstruasi

Dampak yang sering terjadi karena kurangnya kebersihan pada saat menstruasi adalah:

Demam

Radang pada permukaan vagina Gatal-gatal pada kulit vagina Keputihan

Rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut (Kebidanankita. Blogspot,2010).

Keluhan yang dialami oleh remaja adalah gatal-gatal pada daerah kemaluan saat menstruasi. Gatal-gatal saat menstruasi ini disebut juga dengan pruritus vulvae. Pruritus vulvae adalah iritasi atau rasa gatal disekitar vulva dan lubang vagina yang bisa terjadi pada malam hari. Pruritus vulva bisa disebabkan oleh adanya keputihan pada vagina (Misery, 2010).

Kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Paviloma Virus (HPV), selain itu juga dapat timbul karena personal hygiene (kebersihan diri) genetalia yang kurang baik (Rahmayanti, 2012).

Banerjee dan Chazal (2006) menyatakan bahwa penyebab umum pruritus vulvaginal adalah infeksi fungi (jamur), sedangkan Harris (1996) menjelaskan bahwa kebanyakan wanita mengalami keputihan berulang dan iritasi vulva bukan karena infeksi jamur atau penggunaan pembalut tersebut, namun disebabkan oleh penggunan sabun yang berlebihan pada vagina. Namun, sebagian besar mereka menginformasikan bahwa hal ini terjadi karena efek sabun, krim, lotion, panty-liners, pakaian, panas, iritasi dan perawatan iritasi vagina. Hal ini sesuai dengan teori menurut Pribakti (2008) bahwa salah satu dampak yang bisa terjadi bila tidak menjaga kebersihan tubuh diantaranya muncul bau khas dari daerah vagina, karena dinding vagina serta leher rahim mengeluarkan cairan. Apabila cairan ini berwarna putih atau kekuningan adalah sehat dan normal.

Tindakan Personal Hygiene Saat Menstruasi

Salah satu perilaku yang sangat ditekankan bagi perempuan yang tengah mengalami menstruasi adalah pemeliharaan kebersihan diri. Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, idealnya penggunaan pembalut selama menstruasi harus diganti secara teratur 2 sampai 3 kali sehari atau setiap 4 jam sekali, apabila jika sedang banyak-banyaknya. Setelah mandi atau buang air, vagina harus dikeringkan dengan tissu atau handuk agar tidak lembab. Selain itu pemakaian celana dalam hendaknya bahan yang terbuat dari yang mudah menyerap keringat, sedangkan hygiene adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit (Indriastuti, 2009).

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh remaja putri pada saat menstruasi, yaitu:

a.Perawatan kulit dan wajah

Wajah merupakan bagian yang paling sensitive bagi seorang remaja terutama remaja putri. Masalah jerawat pada remaja terkait dengan penampilan mereka. Pada saat menstruasi kerja dari kelenjar sebaseus akan meningkat sehingga produksi keringat meningkat. Pada saat menstruasi sangat bermanfaat untuk membersihkan muka dua sampai tiga kali sehari guna membantu mencegah timbulnya jerawat.

b Kebersihan rambut

Menjaga kebersihan rambut sangatlah penting karena pada saat menstruasi kulit kepala lebih berminyak dan berkeringat sehingga akan memudahkan timbulnya ketombe dan mikroorganisme lainnya.

c.Kebersihan tubuh

Kebersihan tubuh pada saat menstruasi juga sangat penting diperhatikan, dan sebaiknya mandi 2 kali sehari, dengan sabun mandi biasa, pada saat mandi organ reproduksi luar perlu cermat dibersihkan. Cara membersihkan daerah kewanitaan yang terbaik ialah membasuhnya dengan air bersih. Satu hal yang harus diperhatikan dalam membasuh daerah kewanitaan kita, terutama setelah buang air besar (BAB), yaitu dengan membasuhnya dari arah depan ke belakang (dari vagina ke arah anus), bukan sebaliknya. Karena apabila terbalik arah membasuhnya, maka kuman dari daerah anus akan terbawa ke depan dan dapat masuk ke dalam vagina.Pada saat membersihkan alat kelamin, tidak perlu dibersihkan dengan cairan pembersih atau cairan lain dan douche karena cairan tersebut akan semakin merangsang bakteri yang menyebabkan infeksi. Apabila menggunakan sabun, sebaiknya gunakan sabun yang lunak (dengan pH 3,5), misalnya sabun bayi yang biasanya ber-pH netral. Setelah memakai sabun, hendaklah dibasuh dengan air sampai bersih (sampai tidak ada lagi sisa sabun yang tertinggal), sebab bila masih ada sisa sabun yang

(6)

172

tertinggal malah dapat menimbulkan penyakit. Setelah dibasuh, harus dikeringkan dengan handuk atau tissue, tetapi jangan digosok-gosok. Dengan menjaga kebersihan tubuh dapat memberikan kesegaran bagi tubuh dan memperlancar peredaran darah.

d. Kebersihan pakaian sehari-hari

Mengganti pakaian setiap hari sangatlah penting terutama pakaian dalam, gunakan pakaian dalam yang kering ringat karena pakaian dalam yang basah akan mempermudah tumbuhnya jamur. Pakaian dalam yang telah terkena darah sebaiknya direndam terlebih dahulu dan setelah kering disetrika. Pemakaian celana yang terlalu ketat sebaiknya dihindari, karena hal ini menyebabkan kulit susah bernafas dan akhirnya bisa menyebabkan daerah kewanitaan menjadi lembab dan teriritasi. Untuk pemilihan bahan, sebaiknya gunakan bahan yang nyaman dan menyerap keringat, seperti misalnya katun. Pemakaian pantyliner setiap hari secara terus menerus juga tidak dianjurkan. Pantyliner sebaiknya hanya digunakan pada saat keputihan banyak saja, dan sebaiknya jangan memilih pantyliner yang berparfum karena dapat menimbulkan iritasi kulit.

e. Penggunaan pembalut

Pada saat menstruasi, pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terinfeksi, oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus lebih dijaga karena kuman mudah sekali masuk dan dapat menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi.

Pilihlah pembalut yang daya serapnya tinggi, sehingga tetap merasa nyaman selama menggunakannya. Sebaiknya pilih pembalut yang tidak mengandung gel, sebab gel dalam pembalut kebanyakan dapat menyebabkan iritasi dan menyebabkan timbulnya rasa gatal. Pembalut selama menstruasi harus diganti secara teratur 4-5 kali atau setiap setelah mandi dan buang air kecil.Penggantian pembalut yang tepat adalah apabila di permukaan pembalut telah ada gumpalan darah. Alasannya ialah karena gumpalan darah yang terdapat di permukaan pembalut tersebut merupakan tempat yang sangat baik untuk perkembangan bakteri dan jamur. Jika menggunakan pembalut sekali pakai sebaiknya dibersihkan dulu sebelum dibungkus lalu diuang ke tempat sampah. Untuk pembalut lainnya sebaiknya direndam memakai sabun di tempat tertutup terlebih dahulu sebelum dicuci (Kebidanankita. Blogspot,2010).Perilaku lain yang kurang dari perawatan hygiene menstruasi adalah malas mengganti pembalut. Beberapa penyakit yang mudah hinggap pada wanita adalah terjangkitnya infeksi jamur dan bakteri. Kondisi tersebut biasanya terjadi pada saat wanita dalam masa menstruasi. Salah satu penyebabnya yaitu bakteri yang berkembang pada pembalut (Andira, 2010).

Mulyati (2007), cara membersihkan daerah kewanitaan adalah :

a. Membasuh tangan dengan sabun, sebelum dan sesudah memegang daerah kewanitaan b. Membasuh daerah kewanitaan dengan air bersih

c. Membasuh dari arah depan ke belakang setelah buang air kecil/buang air besar d. Untuk mencegah masuknya mikroorganisme dari anus

e. Hindari penggunaan tissue toilet terlalu sering f. Hindari pembalut yang menyebabkan iritasi

Cara perawatan vaginal dan ginekologi yang baik menurut Sheldon (1986) adalah:

Mandi setiap hari dengan sabun dan air hangat .jangan pakai sabun yang mengandung zat-zat kimia tertentu .pada waktu mencuci, renggangkan bibir vagina dan bersihkan baik-baik, jangan lupa membersihkan daerah clitoris, douche (penyemprotan) .

Sesudah buang air besar, bersihkan daerah dubur dari depan kebelakang. Anus letaknya dekat pembukaan vagina, maka cara pembersihan yang kurang baik bias memindahkan bakteri dari dubur dan kotoran kedalam vagina atau saluran kencing, sehingga mengakibatkan infeksi saluran kencing.Dikamar mandi umum, sebaiknya pakai penutup tempat duduk toilet yang dapat langsung kamu buang sesudah kamu pakai sendiri. Jangan lupa cuci tangan sesudahnya.Vulva harus cukup mendapatkan udara dan harus selalu kering. Lebih baik pakai celana dalam yang terbuat dari kain katun, karena nilon tidak menghisap air dan tidak tembus udara yang diperlukan untuk aliran udara bebas ke bagian luar alat kelamin.Selama haid, gantilah pembalut sesering mungkin. Minimal 2x sehari, meskipun jumlah darah hanya sedikit.Selama ovulasi ada pengeluaran cairan dari vagina lebih dari biasanya. Kadangkadang ada pendarahan. Ini disebabkan oleh produksi estrogen yang meningkat disertai perubahan hormon-hormon tertentu.

Mencuci dengan air dan sabun sudah cukup.Jangan pakai deodoran khusus untuk daerah vagina. Ini tambah merangsang dan sama sekali tidak ada gunanya. Karena deodorant itu sendiri bisa menimbulkan infeksi Jangan lupa memeriksakan diri secara teratur. Gejala yang lain daripada yang biasa terjadi sehari-hari, misalnya:pengeluaran luaran

(7)

173

lender dari vagina, bau ataupun tidak bau, haid yang banyak dan berkepanjangan, perdarahan diantara waktu haid normal, sebaiknya langsung diperiksakan pada dokter

Promosi Kesehatan

Pengertian Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes,2011)

Promosi Kesehatan dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan terhadap siswi sehingga mereka mau dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.

Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan merupakan serangkaian upaya yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain, mulai dari individu kelompok, keluarga dan masyarakat agar terlaksananya perilaku hidup sehat (Setiawati dkk,2008)

Konsep dasar pendidikan adalah proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu sendiri terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada individu, kelompok atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri. (Natoatmodjo, 2004)

pendidikan kesehatan merupakan suatu proses yang dinamis. Tidak dapat disangkal pendidikan bukanlah satu-satunya cara mengubah perilaku, tetapi pendidikan juga mempunyai peranan yang cukup penting dalam perubahan pengetahuan setiap individu. Pendidikan kesehatan merupakan bagian dari promosi kesehatan, dan merupakan suatu disiplin ilmu pendidikan yang berwawasan luas. (Sarwono, 2004).

Metode Pendidikan Kesehatan

Dalam suatu proses pendidikan kesehatan untuk mencapai tujuan yakni perubahan perilaku, yang dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor metode, materi dan pesan faktor pendidik dan petugas yang melakukannya juga alat bantu atau media yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Metode atau tehnik dalam pemberian pendidikan kesehatan adalah cara dan alat bantu apa yang digunkan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan untuk mentransformasikan perilaku kesehatan kepada sasaran atau masyarakat (Notoatmodjo, 2007) . Metode pendidikan kesehatan yang digunakan adalah metode ceramah, karena metode ceramah merupakan metode yang paling sering digunakan dalam proses pendidikan kesehatan, metode ceramah cocok pada sasaran yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah (Notoatmodjo, 2007) Beberapa keuntungan menggunakan metode ceramah adalah murah dari segi biaya, mudah mengulang kembali jika ada materi yang kurang jelas dipahami oleh peserta dari pada proses membaca sendiri lebih dapat dipastikan tercapainya informasi yang telah disusun dan disiapkan. Dan jika waktu yang tersedia sangat minim maka metode ini lah yang tepat untuk digunakan dimana dapat menyampaikan banyak pesan dalam waktu yang relatif singkat (Lunandi 1993).

Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2012) perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar dan menurut skinner (dalam Notoatmodjo, 2012) perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang (organisme) terhadap rangsangan atau stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit

Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan melalui kelima indaranya, tetapi sebagian besar memilih suatu proses yaitu proses belajar dan membutuhkan suatu bantuan misalnya bantuan seseorang yang lebih menguasai suatu hal (Notoatmodjo, 2007)

Notoatmodjo 2003 salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan kesehatan.pendidikan kesehatan adalah salah satu upaya promosi kesehatan dalam memberikan informasi atau nasehat yang ditunjukkan kepada individu, kelompok ataupun masyarakat.

Hal Hal Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Beberapa hal yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah:

(8)

174

pendidikan kesehatan adalah suatu proses penyampaian informasi untuk merubah pengetahuan dan sikap seseorang atau kelompok tentang informasi atau pendidikan yang diberikan.

Keterpaparan Informasi(Bakhtiar,2004) informasi adalah segala sesuatu yang disebut berita atau kepintaran. Informasi merupakan suatu yang dapat diketahui, informasi sebagai transformasi pengetahuan.

Sikap

Penangan merupakan perilaku atau sikap seseorang manusia terhadap kondisi yang dialaminya . menurut Notoatmodjo (2012) sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseoarang terhadap stimulus atau obyek sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuai reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari- hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.Sikap adalah perasaan, pikiran dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai asfek asfek tertentu dalam lingkungannya sikap merupakan kecondongan evaluatif terhadap suatu stimulus atau objek yang berdampak pada bagaimana seseorang terhadap objek tersebut. Ini berarti sikap menunjukkan kesetujuan atau ketidak setujuan, suka atau tidak suka seseorang terhadap sesuatu (Mubarak,2011). Notoatmodjo (2012) sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:

menerima (receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

Merespon (responding) yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Menghargai (valuing) yang mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah. Bertanggung jawab (responsible) yaitu tanggung jaab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko, indikator sikap kesehatan sejalan dengan pengetahuan.Sikap adalah tanggapan atau pandangan untuk kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu objek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi/tidak menyenangi objek tersebut, sikap adalah hanya sebagian dari sebagian perilaku manusia karena sikap belum merupakan tindakan atau aktifitas yang dinyatakan dalam bentuk perilaku (Notoatmodjo, 2007).

Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan, untuk mewujudkan sikap menjadi perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor pendukung dari pihak lain misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua dan lain- lain (Notoatmodjo, 2012).

Landasan Teori

Notoatmodjo (2002) mengatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini menjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni : indra penglihatan, pengideraan, penciuman, rasa dan raba sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Menurut Skiner (1938) yang dikutip Notoatmodjo (2005) proses pembuahan perilaku sama dengan proses belajar proses perubahan perilaku tersebut sama dengan proses belajar pada individu.teori ini dikenal dengan teori S-O- R (Stimulus-Organisme-Response) proses perubahan perilaku berdasarkan teori.

Peroses perubahan perilaku berdasarkan teori ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Pembentukan Perilaku Menurut Teori Skiner

STIMULUS ORGANISME RESPON

TERTUTUP:

-

PENGETAHUA N

RESPON TERBUKA:

-PRAKTEK/

TINDAKAN

(9)

175

Berdasarkan teori ini pendidikan kesehatan reproduksi rangsangan atau stimulus yang diberikan kepada siswi kelas 2 SMP Negeri 2 Batang Angkola dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, tindakan responden dalam melakukan personal hygiene saat menstruasi.

Kerangka Konsep.Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan hubungan atau kaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain, atau variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti.

Kerangka konsep dalam penelitian ini menggambarkan tentang pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap perilaku personal hygiene saat menstruasi.

Berdasarkan studi kepustakaan dapat disusun kerangka konsep penelitian sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2 Kerangka Konsep Penelitian Hipotesis

Ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap sikap personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.Ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap tindakan personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan Tahun 2017.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen (eksperimen semu), dengan rancangan one group pretest dan postest, dimana rancangan ini tidak menggunakan kelompok pembanding (kontrol), tetapi sesudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya perlakuan (Notoatmodjo, 2002). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap personal hygiene saat menstruasi di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan.

Adapun rancangan penelitian ini diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:

Gambar 3 Rancangan Penelitian Keterangan:

O1 adalah hasil pre-test tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan siswa pada kelompok yang akan diberi perlakuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi.

X adalah perlakuan yang diberikan yaitu pemberian pendidikan kesehatan reproduksi.

O2 adalah post-test tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan siswa sesudah diberikan perlakuan setelah 1 bulan.

Lokasi Dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan dan Penelitian ini dilakukan pada bulan februari – juni 2017

Populasi Dan Sampel

Populasi adalah sekumpulan orang atau objek yang memiliki karakteristik yang secara umum dapat diamati (Hermanto, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi putri kelas 2 yang ada di SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan yang berjumlah 82 orang.

O1 X O2

Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Personal Hygiene Saat Menstruasi

- Pengetahuan, - Sikap

- Tindakan

(10)

176 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin

N= jumlah sampel

N= jumlah popilasi

d= batas toleransi kesalahan 5% (0.05)

68

Sehingga didapat jumlah sampel yang diteliti adalah 68 responden

Teknik pengambilan sampel dengan sampling sistematis yaitu teknik sampel yang menggunakan nomor urut dari populasi, berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti, maupun nomor identitas tertentu, urutan yang diseragamkan.

Populasi berjumlah 82 diurutkan 1-82 peneliti bisa menggunakan sampel yang diambil berdasarkan nomor urut ganjil.

Metode Pengumpulan Data Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui pengisian kuesioner yang diisi langsung oleh responden.

Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari SMP Negeri 2 Batang Angkola Tapanuli Selatan meliputi jumlah remaja putri kelas 2.

Validitas dan Reabilitas

Instrumen penelitian ini adalah kuesioner. Pada penyusunan Kuesioner salah satu kriteria kuesioner yang baik adalah validitas dan reabilitas kuesioner

Uji Validitas

Uji validitas instrumen pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengukur korelasi antara item dengan skor total item.

Validitas masing-masing butir pertanyaan dapat dilihat pada nilai corrected item total correlation, dengan menggunakan korelasi pearson product moment correlation (r) dengan ketentuan bila nilai koefisien korelasi (r) >0,361 maka variabel tersebut dikatakan valid. Uji validitas instrumen pada penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Batang Angkola dengan besar sampel sebanyak 30 orang siswa SMP Negeri 1 Batang Angkola kelas 2. Alasan pemilihan sampel dan lokasi uji validitas mempunyai karakteristik yang sama dengan sampel penelitian.

Uji Reabilitas

Reabilitas data merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat menunjukkan ketepatan dan dipercaya dengan menggunakan metode cronbachs alpha, yaitu menganalisis reabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran Kuesioner dikatakan reliabel jika memiliki nilai alpha minimal 0,7 (Supranto, 2010).

Prosedur Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari responden melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner mengenai pendidikan kesehatan. Data sekunder, yaitu data yang mendukung data primer yang diperoleh dari catatan dari SMP Negeri 2 Batang Angkola.

Prosedur kegiatan penelitian yang dilakukan meliputi beberapa tahapan yaitu:

Tahapan Persiapan

Di tahap ini peneliti melakukan pengurusan perizinan kelokasi penelitian. Melakukan pengumpulan data awal dengan diperkirakan dapat memperoleh gambaran dari beberapa siswa yang ditanyakan tentang pendidikan kesehatan refroduksi. Terakhir mempersiapkan bahan-bahan dan alat bantu yang mendukung dan memperlancar proses pelaksanaan pendidikan kesehatan refroduksi remaja dengan metode ceramah.

(11)

177 Tahap Pelaksanaan

Sebelum dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi seluruh responden diberi arahan tentang cara kegiatan. Tahap pelaksanaan terdiri dari empat kegiatan yaitu:

Sebelum dilakukan pendidikan kesehatan responden harus menjawab pertanyaan kuesioner pretest, kuesioner tentang pengetahuan, sikap dan tindakan setelah kuesioner dijawab, kuesioner dikumpulkan kembali.

Sebelum dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi responden dibagikan handouts dari power poin yang akan disampaikan, Selanjutnya responden diberikan pendidikan kesehatan reproduksi dengan metode ceramah. Berikut adalah bahan yang akan disampaikan pada saat melakukan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja putri kelas 2 di SMP Negeri 2 Batang Angkola.

Pendidikan kesehatan refroduksi yang diberikan adalah sebagai berikut:

Pendidikan Kesehatan Refroduksi Organ Reproduksi Remaja Putri Organ Reproduksi wanita

Indung Telur (Ovarium), berfungsi mengeluarkan sel telur satu bulan satu kali. Organ ini ada dalam rongga pinggul, terletak di kiri dan kanan rahim.

Saluran indung telur (tuba fallopi), berfungsi untuk menyalurkan sel telur setelah keluar dari indung telur (proses ovulasi) dan tempat dimana terjadi pembuahan (konsepsi) atau bertemunya sel telur dan sperma.

Rahim (Uterus), berfungsi sebagai tempat calon bayi dibesarkan. Bentuknya seperti buah pir dengan berat normal 30-50 gram. Pada saat tidak hamil, besar rahim kurang lebih sebesar telur ayam kampung. Dindingnya terdiri dari lapisan parametrium, lapisan metomtrium dan lapisan endometrium

Vagina/Liang Kemaluan, adalah lubang tempat masuknya penis saat bersanggama, vagina juga merupakan jalan keluar darah haid dan bayi yang dilahirkan. Dalam vagina terdapat mikro oganisme yang sangat bermanfaat kalau

keseimbangannya tidak terganggu. Keseimbangannya terganggu bila perempuan terlalu sering mencuci vagina dengan antiseptik, makan obat antibiotika yang membunuh kuman, atau terlalu sering berhubungana seks berganti pasangan.

Keputihan adalah salah satu akibat dari terganggunnya keseimbangan organisme tersebut dalam vagina.

Selaput dara (Hymen) adalah lapisan tipis yang berada dalam liang kemaluan, tidak jauh dari mulut vagina. Ada selaput yang sangat tipis dan mudah robek dan ada selaput dara yang kaku dan tidak mudah robek. Selaput dara yang tipis tidak hanya akan robek karena hubungan seks, tetapi bisa robek karena hal lain seperti kecelakaan, jatuh, olah raga, dan lain-lain.Bibir kemaluan (Labia), berada di bagian luar vagina. Ada yang disebut bibir besar dan bibir kecil. Bibir besar adalah bagian yang paling luar yang biasanya ditumbuhi bulu. Bibir kecil terletak di belakang bibir besar dan banyak mengandung saraf pembuluh darah.Kelentit (Klitoris), berada di bagian atas di antara bibir kemaluan. Bentuknya seperti kacang. Kelentit mempunyai syaraf yang sangat banyak.Saluran kemih, berguna untuk mengeluarkan air kencing, terletak di antara kelentit dan mulut vagina.

Menstruasi dan Personal Hygiene

Menstruasi merupakan perdarahan yang teratur dari uterus sebagai tanda bahwa organ kandungan telah berfungsi matang (Eny Kusmiran,2011)

Haid atau menstruasi adalah luruhnya lapisan dinding bagian dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah, sehingga haid pada remaja putri ditandai dengan keluarnya darah dari lubang vagina. Bila sel telur yang dalam

perjalanannya menuju rahim tidak bertemu dengan sperma, maka tidak terjadi pembuahan, dan sel telur bersama – sama dengan dinding rahim bagian dalam akan luruh/gugur dan keluar melalui vagina (Kementrian kesehatan RI,2012).

Menstruasi adalah masa perdarahan yang terjadi pada perempuan secara rutin setiap bulan selama masa suburnya kecuali terjadi kehamilan. Masa menstruasi bisa juga disebut dengan mens, datang bulan (Laila, 2014).

Masa menstruasi merupakan masa perdarahan yang terjadi pada wanita secara rutin setiap bulan terkecuali terjadi kehamilan. Pada menstruasi darah yang keluar sebenarnya adalah darah akibat peluruhan dinding rahim (Endometrium) darah menstruasi tersebut mengalir dari rahim mrnuju keleher rahim yang kemudian keluar melalui vagina (Pieter dan Lumongga, 2011).

Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi (Manuaba, 2012).

Hormon steroid estrogen dan progesteron mempengaruhi pertumbuhan endometrium, dibawah pengaruh estrogen endometrium memasuki fase proliferasi, sesudah ovulasi endometrium memasuki fase sekresi. Dengan pengaruh kadar estrogen dan progesterone pada akhir siklus haid, terjadi regenerasi endometrium kemudian diikuti oleh perdarahan

(12)

178

yang dikenal dengan nama menstruasi. Siklus perdarahan haid lamanya 5 – 7 hari, dan terjadi setiap 22 sampai 35 hari (Yanti, 2011).

Defenisi Personal Hygiene

Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.

Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Personal hygiene saat menstruasi adalah tindakan untuk memelihara kesehatan dan kebersihan pada daerah kewanitaan pada saat menstruasi (Pribakti, 2008).

Hygiene menstruasi merupakan komponen hygiene perorangan yang memegang peran penting dalam menentukan status kesehatan, khususnya terhindar dari infeksi alat reproduksi. Oleh karena itu pada saat menstruasi seharusnya perempuan benar-benar dapat menjaga kebersihan organ reproduksi secara “ekstra” terutama pada bagian vagina, karena apabila tidak dijaga kebersihannya, akan menimbulkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus yang berlebih sehingga dapat mengganggu fungsi organ reproduksi (Indriastuti, 2009).

Dampak tidak Tepat dalam Personal Hygiene saat Menstruasi

Dampak yang sering terjadi karena kurangnya kebersihan pada saat menstruasi adalah:

a. Demam

b. Radang pada permukaan vagina c. Gatal-gatal pada kulit vagina d. Keputihan

Rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut (Kebidanankita. Blogspot,2010).

Keluhan yang dialami oleh remaja adalah gatal-gatal pada daerah kemaluan saat menstruasi. Gatal-gatal saat menstruasi ini disebut juga dengan pruritus vulvae. Pruritus vulvae adalah iritasi atau rasa gatal disekitar vulva dan lubang vagina yang bisa terjadi pada malam hari. Pruritus vulva bisa disebabkan oleh adanya keputihan pada vagina (Misery, 2010). Kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Paviloma Virus (HPV), selain itu juga dapat timbul karena personal hygiene (kebersihan diri) genetalia yang kurang baik (Rahmayanti, 2012).

Banerjee dan Chazal (2006) menyatakan bahwa penyebab umum pruritus vulvaginal adalah infeksi fungi (jamur), sedangkan Harris (1996) menjelaskan bahwa kebanyakan wanita mengalami keputihan berulang dan iritasi vulva bukan karena infeksi jamur atau penggunaan pembalut tersebut, namun disebabkan oleh penggunan sabun yang berlebihan pada vagina. Namun, sebagian besar mereka menginformasikan bahwa hal ini terjadi karena efek sabun, krim, lotion, panty-liners, pakaian, panas, iritasi dan perawatan iritasi vagina. Hal ini sesuai dengan teori menurut Pribakti (2008) bahwa salah satu dampak yang bisa terjadi bila tidak menjaga kebersihan tubuh diantaranya muncul bau khas dari daerah vagina, karena dinding vagina serta leher rahim mengeluarkan cairan. Apabila cairan ini berwarna putih atau kekuningan adalah sehat dan normal.

Tindakan Personal Hygiene Saat Menstruasi

Salah satu perilaku yang sangat ditekankan bagi perempuan yang tengah mengalami menstruasi adalah pemeliharaan kebersihan diri. Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, idealnya penggunaan pembalut selama menstruasi harus diganti secara teratur 2 sampai 3 kali sehari atau setiap 4 jam sekali, apabila jika sedang banyak-banyaknya. Setelah mandi atau buang air, vagina harus dikeringkan dengan tissu atau handuk agar tidak lembab. Selain itu pemakaian celana dalam hendaknya bahan yang terbuat dari yang mudah menyerap keringat, sedangkan hygiene adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit (Indriastuti, 2009).Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh remaja putri pada saat menstruasi, yaitu:

a.Perawatan kulit dan wajah

Wajah merupakan bagian yang paling sensitive bagi seorang remaja terutama remaja putri. Masalah jerawat pada remaja terkait dengan penampilan mereka. Pada saat menstruasi kerja dari kelenjar sebaseus akan meningkat sehingga produksi keringat meningkat. Pada saat menstruasi sangat bermanfaat untuk membersihkan muka dua sampai tiga kali sehari guna membantu mencegah timbulnya jerawat.

b.Kebersihan rambut

Menjaga kebersihan rambut sangatlah penting karena pada saat menstruasi kulit kepala lebih berminyak dan berkeringat sehingga akan memudahkan timbulnya ketombe dan mikroorganisme lainnya.

(13)

179 c.Kebersihan tubuh

Kebersihan tubuh pada saat menstruasi juga sangat penting diperhatikan, dan sebaiknya mandi 2 kali sehari, dengan sabun mandi biasa, pada saat mandi organ reproduksi luar perlu cermat dibersihkan. Cara membersihkan daerah kewanitaan yang terbaik ialah membasuhnya dengan air bersih. Satu hal yang harus diperhatikan dalam membasuh daerah kewanitaan kita, terutama setelah buang air besar (BAB), yaitu dengan membasuhnya dari arah depan ke belakang (dari vagina ke arah anus), bukan sebaliknya. Karena apabila terbalik arah membasuhnya, maka kuman dari daerah anus akan terbawa ke depan dan dapat masuk ke dalam vagina.

Pada saat membersihkan alat kelamin, tidak perlu dibersihkan dengan cairan pembersih atau cairan lain dan douche karena cairan tersebut akan semakin merangsang bakteri yang menyebabkan infeksi. Apabila menggunakan sabun, sebaiknya gunakan sabun yang lunak (dengan pH 3,5), misalnya sabun bayi yang biasanya ber-pH netral. Setelah memakai sabun, hendaklah dibasuh dengan air sampai bersih (sampai tidak ada lagi sisa sabun yang tertinggal), sebab bila masih ada sisa sabun yang tertinggal malah dapat menimbulkan penyakit. Setelah dibasuh, harus dikeringkan dengan handuk atau tissue, tetapi jangan digosok-gosok. Dengan menjaga kebersihan tubuh dapat memberikan kesegaran bagi tubuh dan memperlancar peredaran darah.

d.Kebersihan pakaian sehari-hari

Mengganti pakaian setiap hari sangatlah penting terutama pakaian dalam, gunakan pakaian dalam yang kering dan menyerap keringat karena pakaian dalam yang basah akan mempermudah tumbuhnya jamur. Pakaian dalam yang telah terkena darah sebaiknya direndam terlebih dahulu dan setelah kering disetrika. Pemakaian celana yang terlalu ketat sebaiknya dihindari, karena hal ini menyebabkan kulit susah bernafas dan akhirnya bisa menyebabkan daerah kewanitaan menjadi lembab dan teriritasi. Untuk pemilihan bahan, sebaiknya gunakan bahan yang nyaman dan menyerap keringat, seperti misalnya katun. Pemakaian pantyliner setiap hari secara terus menerus juga tidak dianjurkan. Pantyliner sebaiknya hanya digunakan pada saat keputihan banyak saja, dan sebaiknya jangan memilih pantyliner yang berparfum karena dapat menimbulkan iritasi kulit.

e.Penggunaan pembalut

Pada saat menstruasi, pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terinfeksi, oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus lebih dijaga karena kuman mudah sekali masuk dan dapat menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi.

Pilihlah pembalut yang daya serapnya tinggi, sehingga tetap merasa nyaman selama menggunakannya. Sebaiknya pilih pembalut yang tidak mengandung gel, sebab gel dalam pembalut kebanyakan dapat menyebabkan iritasi dan menyebabkan timbulnya rasa gatal. Pembalut selama menstruasi harus diganti secara teratur 4-5 kali atau setiap setelah mandi dan buang air kecil.Penggantian pembalut yang tepat adalah apabila di permukaan pembalut telah ada gumpalan darah. Alasannya ialah karena gumpalan darah yang terdapat di permukaan pembalut tersebut merupakan tempat yang sangat baik untuk perkembangan bakteri dan jamur. Jika menggunakan pembalut sekali pakai sebaiknya dibersihkan dulu sebelum dibungkus lalu diuang ke tempat sampah. Untuk pembalut lainnya sebaiknya direndam memakai sabun di tempat tertutup terlebih dahulu sebelum dicuci (Kebidanankita. Blogspot,2010).Perilaku lain yang kurang dari perawatan hygiene menstruasi adalah malas mengganti pembalut. Beberapa penyakit yang mudah hinggap pada wanita adalah terjangkitnya infeksi jamur dan bakteri. Kondisi tersebut biasanya terjadi pada saat wanita dalam masa menstruasi. Salah satu penyebabnya yaitu bakteri yang berkembang pada pembalut (Andira, 2010).Mulyati (2007), cara membersihkan daerah kewanitaan adalah :

a. Membasuh tangan dengan sabun, sebelum dan sesudah memegang daerah kewanitaan b. Membasuh daerah kewanitaan dengan air bersih

c. Membasuh dari arah depan ke belakang setelah buang air kecil/buang air besar d. Untuk mencegah masuknya mikroorganisme dari anus

e. Hindari penggunaan tissue toilet terlalu sering f. Hindari pembalut yang menyebabkan iritasi

Cara perawatan vaginal dan ginekologi yang baik menurut Sheldon (1986) adalah:

(14)

180

Mandi setiap hari dengan sabun dan air hangat .jangan pakai sabun yang mengandung zat-zat kimia tertentu .pada waktu mencuci, renggangkan bibir vagina dan bersihkan baik-baik, jangan lupa membersihkan daerah clitoris, douche (penyemprotan) .

Sesudah buang air besar, bersihkan daerah dubur dari depan kebelakang. Anus letaknya dekat pembukaan vagina, maka cara pembersihan yang kurang baik bias memindahkan bakteri dari dubur dan kotoran kedalam vagina atau saluran kencing, sehingga mengakibatkan infeksi saluran kencing.

Dikamar mandi umum, sebaiknya pakai penutup tempat duduk toilet yang dapat langsung kamu buang sesudah kamu pakai sendiri. Jangan lupa cuci tangan sesudahnya.

Vulva harus cukup mendapatkan udara dan harus selalu kering. Lebih baik pakai celana dalam yang terbuat dari kain katun, karena nilon tidak menghisap air dan tidak tembus udara yang diperlukan untuk aliran udara bebas ke bagian luar alat kelamin.

Selama haid, gantilah pembalut sesering mungkin. Minimal 2x sehari, meskipun jumlah darah hanya sedikit.

Selama ovulasi ada pengeluaran cairan dari vagina lebih dari biasanya. Kadangkadang ada pendarahan. Ini disebabkan oleh produksi estrogen yang meningkat disertai perubahan hormon-hormon tertentu. Mencuci dengan air dan sabun sudah cukup.

Jangan pakai deodoran khusus untuk daerah vagina. Ini tambah merangsang dan sama sekali tidak ada gunanya.

Karena deodorant itu sendiri bisa menimbulkan infeksi

Jangan lupa memeriksakan diri secara teratur. Gejala yang lain daripada yang biasa terjadi sehari-hari, misalnya:pengeluaran luaran lender dari vagina, bau ataupun tidak bau, haid yang banyak dan berkepanjangan, perdarahan diantara waktu haid normal, sebaiknya langsung diperiksakan pada dokter Mulyati (2007),

Setelah selesai dalam pemberian pendidikan kesehatan, reponden diminta kembali untuk mengisi kuesioner post test tentang pendidikan dan sikap. Selanjutnya menjelaskan kepada responden setelah 1 bulan kedepan akan mengisi kuesioner tindakan. Karena akan menilai apakah responden melakuakn melakukan personal hygiene saat menstruasi sesuai dengan pendidikan kesehatan yang diberikan. Dan ditaksir perjalanan satu bulan kedepan responden akan mengalami menstruasi.

Setelah dua minggu dihitung dari hari pelaksanan pemberian pendidikan kesehatan, kuesioner tindakan dibagikan kepada responden dan diminta untuk menjawab kuesioner dengan sebenar-benarnya.

Secara ringkas pelaksanaan penelitian ini adalah:

Gambar 4 Alur Penelitian Variabel dan Defenisi Operasional

Seluruh Siswa Yang Menjadi Responden

Pre Test Pengetahuan, Sikap Dalam Melakukan

Personal Hygiene Saat

Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Post Test Pengetahuan,

Sikap Siswa dalam Melakukan Personal Hygiene Saat Menstruasi

Setelah 1 bulan

Post Test Tindakan Siswa dalam Melakukan Personal Hygiene Saat

Menstruasi

(15)

181

Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Dependen

Pendidikan

kesehatan Merupakan upaya dilakukan mempengaruhi manusia agar terlaksananya perilaku hidup sehat

1.dilakukan 2.tidak dilakukan

Nominal

Independen Pengetahuan

Sikap

Tindakan

Segala sesuatu yang diketahui oleh responden mengenai dismenoria

Reaksi respon tertutup dari responden dalam melakukan personal hygiene saat menstruasi Reaksi respon terbuka dari responden dalam melakukan personal hygiene saat menstruasi

Kuesioner

Kuesioner

Kuesioner

1.Baik (6-10) 2.tidak baik (0- 5)

1.baik(21-40) 2.tidak baik(10- 20)

1.Baik 6-10 2.tidak baik 0-5

Ordinal

Ordinal

Ordinal

Metode Pengukuran Kuesioner Pengetahuan

Kuesioner pengetahuan ini terdiri dari 10 pertanyaan penilaian kuesioner ini mengunakan skala guttman dengan dua alternatif jawaban yang terdiri dari pilihan ya dan tidak penilaian kuesioner ini adalah jika jawaban benar diberi skor 1dan jawaban salah di beri skor 0 nilai terendah yang mungkin dicapai adalah 0 dan nilai tertinggi yang akan dicapai adalah 10. Rentang skor adalah untuk mengetahui panjang kelas menggunakan interval (Hidayat, 2010).

I

I=

Selanjutnya dikategorikan menjadi Baik = jika skornya 6-10

Tidak baik = jika skor 0-5 Kuesioner Sikap

Kuesioner sikap ini terdiri dari 10 pertanyaan penilaian kuesioner ini menggunakan skala likert yaitu dalam bentuk pernyataan dan diikuti dengan 5 respon yang terdiri dari SS (sangat setuju), S (setuju), TS (tidak setuju), STS (sangat tidak setuju ).

Penilaian pernyataan positif akan diberikan skor 4 sampai 1 dan pernyataan negatif akan diberikan skor 1 sampai 4

Skor jawaban positif Skor jawaban negatif

4 jika jawaban sangat setuju diberi skor 1 3 jika jawaban setuju diberi skor 2 2 jika jawaban tidak setuju diberi skor 3 1 jika jawaban sangat tidak setuju diberi skor 4

Nilai terendah yang mungkin dicapai adalah 10 dan nilai tertinggi yang akan dicapai adalah 40. Kategori penilaian selanjutnya dibedakan menjadi dua kategori yaitu baik dan tidak baik

Baik = jika skor 21-40 Tidak baik = jika skor 10- 20 Kuesioner Tindakan

(16)

182

Kuesioner Tindakan Personal Hygiene Pada Saat Menstruasi terdiri dari 10 pertanyaan dimana terdiri atas pilihan jawaban “dilakukan “ dan “tidak dilakukan”. Pada setiap melakukan personal hygiene saat menstruasi skor 1 jika pilihan jawaban dilakukan dan jika pilihan jawaban tidak dilakukan akan diberi skor 0. Penilaian selanjutnya dibedakan menjadi dua kategori yaitu “baik” dan “tidak baik”

pada item pertanyaan dikategorikan.

Nilai terendah yang mungkin dicapai adalah 0 dan nilai tertinggi yang akan dicapai adalah 10. Kategori penilaian selanjutnya dibedakan menjadi dua kategori

yaitu baik dan tidak baik dengan rentang kelas sebanyak 5 Baik = jika skor 6-10

Tidak baik = jika skor 0-5 Metode Analisa Data Analisis Univariat.

Analisis univariat pada penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel yang diteliti dalam bentuk distribusi frekuensi

Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pendidikan kesehatan refroduksi terhadap perilaku remaja dalam melakukan personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan dengan mengunakan adalah paired t-test. Analisa data dilakukan dengan mempergunakan program SPSS.

HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 SMP yang Terletak Di Desa Benteng Huraba Kecamatan Batang Angkola Kabupaten Tapanuli Selatan Propinsi Sumatera Utara.

Analisis Univariat

Gambaran Karakteristik Responden

Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Karakteristik N Persentasi (%)

Umur (tahun)

13 32 47,1

14 28 41,2

15 8 11,8

Jumlah 68 100

Berdasarkan pada tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan usia sebagian besar responden berusia 13 tahun dengan jumlah 32 orang (65,4%).

Pengetahuan

Pengetahuan Siswa Sebelum Dan Sesudah Pemberian Pendidikan Kesehatan reproduksi.

Pengetahuan siswa tentang personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah dilakukannya pendidikan kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut:

Tabel.2 Distribusi Pengetahuan Personal Hygiene Saat Menstruasi Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi.

Kategori N Persentasi (%)

Baik 19 27,9

Tidak baik 49 72,1

Jumlah 68 100

(17)

183

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri kelas 2 sebelum pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar memiliki pengetahuan tidak baik yaitu 49 orang (72,1%).

Tabel 3 Distribusi Pengetahuan Personal Hygiene Saat Menstruasi Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Kategori N Persentasi (%)

Baik 52 76,5

Tidak baik 16 23,5

Jumlah 68 100

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri kelas 2 sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar memiliki pengetahuan baik yaitu 52 orang (76,5%).Sikap Siswa Sebelum Dan Sesudah Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Sikap siswa tentang personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah dilakukannya pendidikan kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut:

Tabel 4 Distribusi Sikap Personal Hygiene Saat Menstruasi Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Kategori N Persentasi (%)

Baik 13 19,1

Tidak baik 55 80,9

Jumlah 68 100

Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri kelas 2 sebelum pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar memiliki sikap tidak baik yaitu 55 orang (80,9%).

Tabel 5 Distribusi Sikap Personal Hygiene Saat Menstruasi Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi.

Kategori N Persentasi (%)

Baik 60 88,2

Tidak baik 8 11,8

Jumlah 68 100

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar sikap personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri kelas 2 sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar memiliki sikap baik yaitu 60 orang (88,2%).

Tindakan

Tindakan Siswa Sebelum Dan Sesudah Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Tindakan siswa tentang personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah dilakukannya pendidikan kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut:

Tabel 6 Distribusi Tindakan Personal Hygiene Saat Menstruasi Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan

Kategori N Persentasi (%)

Baik 6 8,8

Tidak baik 62 91,2

Jumlah 68 100

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar tindakan personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri kelas 2 sebelum pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar memiliki tindakan tidak baik yaitu 62 orang (91,2%).

Tabel 7 Distribusi Tindakan Personal Hygiene Saat Menstruasi Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi

(18)

184

Kategori N Persentasi (%)

Baik 56 82,4

Tidak baik 12 17,6

Jumlah 68 100

Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar tindakan personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri kelas 2 sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar memiliki tindakan baik yaitu 56 orang (82,4%).

Analisis Bivariat

Untuk mengetahui pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen dilakukan analisis bivariat menggunakan uji paired sampel t-test bila data berdistribusi normal (p<0,05) dan bila data tidak berdistribusi normal (p>0,05).

Tabel 8 Perbandingan Rata Rata Skor Sebelum Dan Sesudah Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap Pengetahuan Personal Hygiene Saat Menstruasi

Variabel Mean Std. Dev P T

Pengetahuan

Sebelum 1,79 0,407 0,000 10,087

Sesudah 1,19 0,396 0,000

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan sampel t-test (paired t-test) diperoleh jumlah rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sebesar 0,407 dan nilai rata-rata responden sesudah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sebesar 0,398 dengan nilai probabilitas (p) 0,000. Dimana p<0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi.

Tabel 9 Perbandingan Rata Rata Skor Sebelum Dan Sesudah Pemberian Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap Sikap Personal Hygiene Saat Menstruasi

Variabel Mean Std. Dev P T

Sikap

Sebelum 1,81 0,398 0,000 12,248

Sesudah 1,12 0,325 0,000

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan sampel t-test (paired t-test) diperoleh jumlah rata-rata sikap responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sebesar 0,398 dan nilai rata-rata responden sesudah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sebesar 0,325 dengan nilai probabilitas (p) 0,000. Dimana p<0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi.

Tabel 10 Perbandingan Rata Rata Skor Sebelum Dan Sesudah Pemberian Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap Tindakan Personal Hygiene Saat Menstruasi

Variabel Mean Std. Dev P T

Tindakan

Sebelum 1,91 0,286 0,000 13,642

Sesudah 1,18 0,384 0,000

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan sampel t-test (paired t-test) diperoleh jumlah rata-rata sikap responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sebesar 0,286 dan nilai rata-rata responden sesudah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sebesar 0,384 dengan nilai probabilitas (p) 0,000. Dimana p<0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi.

Pembahasan Analisis Statistik

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan dependen sampel t-test (paired t-test) diperoleh jumlah nilai probabilitas (p) 0,000. Dimana p< 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap perilaku personal hygiene saat menstruasi.

PEMBAHASAN

Gambar

Gambar 1. Pembentukan Perilaku Menurut Teori Skiner
Gambar 2 Kerangka Konsep Penelitian   Hipotesis
Gambar 4 Alur Penelitian  Variabel dan Defenisi Operasional
Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pemeriksaan enterobiasis berdasarkan hubungan kebersihan diri yaitu kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, didapatkan hasil positif pada anak yang selalu mencuci tangan

menjadi pemerintahan yang shiddiq (jujur) dalam menjadi seorang pemimpin masyarakat yang baik kepala desa Taba Padang Rejang selalu berusaha jujur dalam melakukan perencanaan

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa variabel interaksi dengan teman dan interaksi dengan dosen tidak signifikan terhadap dependen, sedangkan variabel keterlibatan

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan Kompensasi adalah penghargaan atau pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang

Berdasarkan pada Tabel 18 di atas, maka hasil pengujian secara parsial dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Pengaruh Sikap terhadap Minat Wirausaha Artinya hasil pengujian

Dari hasil analisa harga satuan pekerjaan pembuatan pelat lantai beton menggunakan sistem konvensional dan sistem boundeck pada komponen pembesian

Penerapan model group investigation, perubahan positif pada siswa kelas IPS 4 berupa peningkatan terhadap keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar pada

Kadar BETN Hijauan Sorgum Akibat Perlakuan Hasil analisis varians menunjukkan bahwa level penggunaan jamur mikoriza ternyata memberikan berpengaruh yang nyata