• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Diversita Available online

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Diversita Available online"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Jurnal Diversita

Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/diversita

Dinamika Psikologis Individu dengan Skizofrenia Psychological Dynamic of Individual with Schizophrenia

Zafirah Hanna Qaddura(1*) & Hamidah(2) Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Indonesia

Disubmit: 11 Januari 2021; Diproses: 21 April 2021; Diaccept: 09 Oktober 2021; Dipublish: 02 Juni 2022

*Corresponding author: [email protected] Abstrak

Skizofrenia merupakan gangguan yang mengubah kehidupan individu. Hal ini terjadi karena pengaruh yang diberikan terhadap persepsi individu terhadap realita kehidupannya. Perubahan persepsi individu terhadap realita ini memberikan kontribusi terhadap menjauhnya individu dari lingkungan sekitarnya.

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan dinamika psikologis individu dengan skizofrenia berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan. Subjek dalam penelitian ini merupakan seorang wanita dewasa madya yaitu 43 tahun yang menunjukkan gejala skizofrenia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan asesmen psikologi berupa wawancara, observasi, dan pemberian tes psikologis yaitu WAIS, SSCT, tes grafis, dan TAT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek memiliki gejala skizofrenia multiple episodes currently in partial remission. Stressful life events yang dialami subjek berupa bullying dan emotional abuse dari teman dan juga keluarganya menggambarkan dinamika psikologis dari gejala-gejala skizofrenia pada subjek. Selain itu, tidak terpenuhinya kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, kurangnya kasih sayang dan penolakan yang dialami sejak kecil menjadi faktor penting berkembangnya gangguan yang dialami subjek.

Kata Kunci: Skizofrenia; Stressful Life Events; Dewasa Madya

Abstract

Schizophrenia is a disorder that would change every aspects of someone’s life. This research aimed to explore the psychological dynamics of individuals with schizophrenia based on underwent psychological assessments. The subject in this study is a 43 years old woman that showed the symptoms of schizophrenia.

The research method used is qualitative with a case study approach. Research data were collected by psychological assessments including interview, observation, and some psychological test such as WAIS, SSCT, DAP, BAUM, HTP, and TAT. The result shows that the subject has schizophrenia multiple episodes currently in partial remission. The subject faced with stressful life events through out her life. Her friends bullied her and her family emotionally abused her. These two conditions illustrate the psychological dynamics of the symptoms of schizophrenia experienced by subject.

Keywords: Schizophrenia; Stressful Life Events; Middle Adulthood

How to Cite: Qaddura, Z. H. & Hamidah. (2022). Dinamika Psikologis Individu dengan Skizofrenia, Jurnal Diversita, 8 (1): 1-7.

(2)

PENDAHULUAN

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (American Psychiatric Association, 2013) mengkategorikan skizofrenia ke dalam spektrum bersama dengan gangguan psikotik lainnya dan juga gangguan kepribadian skizotipal.

Ketiga gangguan didefinisikan memiliki abnormalitas pada lima domain, yaitu delusi, halusinasi, disorganized thinking (speech), gerakan motorik abnormal (termasuk katatonia), dan gejala negatif.

Individu dengan skizofrenia dapat menjauh dari orang lain dan dari realita hidupnya sehari-hari, sering kali masuk ke dalam delusi dan halusinasi yang dirasakannya. Individu dengan skizofrenia biasanya memiliki beberapa episode gejala akut dan tetap memiliki gejala yang tidak terlalu parah pada setiap episodenya (Kring, dkk., 2012).

Gejala pada skizofrenia dapat membuat individu kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga sering kali menimbulkan masalah ekonomi pada individu. Perilaku yang tidak biasa dan berkurangnya kemampuan sosial membuat individu kehilangan teman dan membuat penderita gangguan menjadi bahan olok-olokan dari orang lain (Kring, dkk., 2012).

Faktor neuromaturasional, terutama yang terjadi selama masa remaja, dan paparan peristiwa yang menimbulkan stres berkontribusi bersama dengan faktor genetik dan prenatal dapat memicu perkembangan gangguan pada penderita skizofrenia (Walker, dkk., 2004).

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dinamika psikologis yang dialami penderita skizofrenia untuk mendapatkan gambaran menyeluruh

terkait gangguan dan faktor penyebab gangguan pada individu.

Penelitian dilakukan terhadap LU, yang merupakan seorang wanita berusia 43 tahun dengan suku Jawa. LU merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dan tinggal berdua dengan ibunya. Kedua kakak LU tinggal terpisah dengan LU dan ibunya, di kota terpisah namun jarak yang ditempuh dapat ditempuh dengan menggunakan sepedah motor selama paling lama dua jam. Ayah LU meninggal dunia pada saat LU berusia 15 tahun karena kecelakaan.

LU mendapatkan kunjungan rutin dari puskesmas di lingkungan tempat tinggal LU karena kondisi LU yang tidak berani meninggalkan rumah sendirian dan usia ibu LU yang sudah sangat tua. LU tidak berani untuk berada sendirian di rumah maupun di tempat lainnya karena merasa dirinya diawasi dan dilihat oleh sesosok bayangan laki-laki yang bertubuh besar. LU sudah pernah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa sebanyak dua kali, yang pertama selama 11 hari dan yang kedua selama 7 hari.

Ibu subjek mengeluhkan subjek yang masih berada pada usia produktif namun tidak bekerja. Subjek dikatakan tidak memiliki inisiatif untuk bekerja. Subjek akan bekerja jika disuruh, dan berhenti jika dirinya merasa lelah. Selain itu, tugas yang dikerjalan subjek tidak dapat dilakukannya dengan maksimal. Subjek tidak mau keluar rumah dan berinteraksi dengan warga sekitar di rumah karena takut. Subjek melihat sosok laki-laki yang mengikutinya ke manapun subjek pergi, sehingga subjek tidak berani keluar rumah atau berada sendirian.

(3)

3 Keluhan mulai dirasakan keluarga LU sejak LU berusia 25 tahun. Pada saat itu, LU mengalami kejadian yang menjadi sumber stressor bagi LU secara berturut- turut. Kejadian pertama adalah LU diputuskan oleh kekasihnya secara sepihak dengan alasan sudah dijodohkan oleh orangtuanya. Setelah kejadian itu, LU mengalami PHK dan pesangon LU diambil oleh teman-teman LU yang sejak dulu tidak menyukai keberadaan LU di tempatnya bekerja

LU kemudian bekerja di sebuah supermarket di salah satu Mall di kotanya, dan di tempat kerjanya itu LU dituduh menjadi dalang pencurian yang dilakukan oleh teman-temannya. Pada saat itu, LU hanya diminta untuk mengawasi aksi pencurian yang dilakukan oleh teman- temannya. Kejadian itu diketahui oleh security dan LU dikeluarkan dari pekerjaannya dan diminta untuk membayar ganti rugi sebesar 900.000 rupiah.

LU kemudian bekerja di toko sepatu sebagai pramuniaga, dan saat itulah LU mulai mendengar suara-suara yang memanggil namanya, membicarakannya, dan mengejar-ngejar LU sembari menunjukkan rasa sukanya terhadap LU.

LU kemudian memutuskan berhenti bekerja di toko sepatu tersebut, dan setelah itu LU tidak berani untuk melakukan apapun karena LU melihat sosok yang mengikutinya ke manapun LU pergi. Apabila LU dipaksa untuk keluar dari kamar atau dari rumahnya, LU akan marah dan membanting barang-barang yang dapat dijangkaunya. LU juga melihat orang-orang yang berkumpul sebagai orang-orang yang ingin mengganggu LU.

Sejak kecil, LU tidak memiliki hubungan yang dekat dengan kedua orangtuanya. Ayah dan ibu LU tidak memiliki hubungan yang harmonis dan sering kali bertengkar karena masalah ekonomi. Ayah LU sering menggunakan kekerasan kepada LU dan kedua kakaknya sejak kecil. Ibu LU menunjukkan bahwa dirinya paling menyayangi kakak laki-laki LU. LU juga tidak memiliki hubungan yang dekat dengan kakak-kakaknya sejak kecil.

Sejak kecil, LU sering kali mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari teman-temannya dan LU tidak memiliki teman. Makan siang LU di sekolah sering kali diambil oleh teman- temannya sehingga LU tidak makan di sekolah. LU dengan latar belakang ekonomi keluarga yang rendah tidak memiliki uang untuk membeli buku di sekolah dan hal ini membuat teman- temannya mengambil barang-barang LU sebagai bayaran untuk meminjam buku.

Rundungan dari teman-temannya terus dirasakan LU hingga LU masuk ke dunia pekerjaan. LU menjalani hubungan asmara sebanyak satu kali dengan laki-laki yang kemudian meninggalkannya untuk menikahi orang lain. Hal ini memberikan pukulan yang sangat keras bagi LU.

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, maka penelitian kasus ini berusaha untuk memaparkan lebih lanjut mengenai asesmen dan penegakkan diagnosis pada LU. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai proses perkembangan dan faktor yang memengaruhi munculnya gejala skizofrenia pada LU sehingga dapat memaparkan dinamika psikologis yang tepat untuk menggambarkan kondisi LU.

(4)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendektaan studi kasus.

Subjek dalam penelitian ini adalah seorang perempuan berusia 43 tahun. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Agustus – Desember 2019 di pusat kesehatan masyarakat.

Pengambilan data dilakukan dengan memberikan asesmen berupa wawancara, observasi, dan pemberian tes psikologi yaitu WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale), SSCT (Sack’s Sentence Completion Test), tes grafis (DAP, BAUM, dan HTP), dan TAT (Thematic Apperception Test).

Wawancara dilakukan untuk menggali keluhan dan latar belakang permasalahan yang dialami subjek. Wawancara dilakukan terhadap subjek, ibu, dan kakak kandung subjek. Observasi dilakukan untuk mengamati perilaku dan ekspresi yang ditunjukkan subjek dan juga significant others lainnya selama interaksi dilakukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil asesmen yang sudah dilakukan, diketahui bahwa subjek memiliki dorongan yang besar, namun dorongan yang dimiliki tidak tersalurkan secara maksimal. Keinginan yang dimiliki subjek tidak sebanding dengan usaha yang siap dilakukannya untuk mendapatkan keinginan tersebut. Hal ini disebabkan oleh energi dan rasa percaya diri yang dimiliki subjek rendah, sehingga subjek cenderung tidak produktif dalam menjalani kesehariannya. Subjek merasa tidak mampu untuk melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Subjek menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik, namun usaha yang ditunjukkannya masih sangat kurang.

Kebutuhan utama subjek saat ini meliputi pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan untuk menjalani relasi dengan orang lain.

Subjek memiliki emosi yang cenderung terpendam dan tidak tersalurkan dengan cara yang positif.

Subjek merasa takut mendapatkan perlakuan yang lebih tidak pantas apabila ia mengutarakan keinginannya atau emosi yang dirasakannya. Subjek merasa bahwa dirinya tidak memiliki daya untuk melawan orang lain sehingga ia cenderung pasif dan menerima keadaan yang dihadapkan padanya.

Secara kognitif, subjek memiliki kapasitas inteligensi yang rendah, masuk ke dalam kategori retardasi mental.

Kemampuan kognitif subjek yang menonjol dibandingkan dengan kemampuan lainnya adalah kemampuan untuk memahami konsep dan analisa mengenai masalah kehidupan sehari-hari.

Namun, di balik kelebihan yang dimilikinya, subjek tidak mampu untuk menemukan bagian penting yang perlu diperhatikan dalam situasi tertentu.

Subjek mengalami hambatan dalam membangun relasi sosial dengan orang- orang di sekitarnya. Subjek mengalami kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan baru serta dalam menghadapi masalah- masalah yang mungkin dihadapinya di lingkungan sekitarnya. Subjek merasa bahwa sebuah hubungan dibangun atas dasar timbal balik dan tidak ada hubungan yang murni dan tulus. Hal ini membuat subjek bersedia memberikan apa yang orang lain inginkan darinya untuk mendapatkan perhatian dan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

(5)

5 Secara keseluruhan, subjek merupakan seorang wanita berusia 43 tahun dan merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayah subjek meninggal dunia saat subjek berusia 25 tahun karena kecelakaan. Saat ini, subjek mengalami kehilangan minat untuk menjalin relasi sosial dan cenderung hanya diam di rumah. Subjek tidak bekerja dan juga tidak melakukan interaksi dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Sejak kecil, subjek merupakan anak yang pendiam dan tidak banyak berbicara.

Subjek tidak pernah bercerita mengenai masalah-maslaah yang dihadapinya kepada ibu dan juga anggota keluarga lainnya di rumah. Di keluarga subjek, ibunyalah yang memegang peran lebih dominan dibandingkan ayahnya. Ibu subjek merupakan tulang punggung keluarga karena ayah subjek tidak memiliki pemasukan yang tetap setiap bulannya. Subjek dan keluarganya terus mengalami masalah ekonomi sejak subjek kecil.

Di sekolah, subjek juga tidak memiliki teman dan cenderung menjadi bahan rundungan dari teman-temannya.

Perlakuan tidak pantas terus dialami subjek hingga subjek bekerja. Subjek beberapa kali diperlakukan tidak adil oleh teman-temannya di tempat kerja. Selain hubungan dengan temannya, subjek memiliki seorang kekasih yang meninggalkan subjek untuk menikah dengan wanita lain dan membuat subjek merasa sangat terpukul.

Gangguan yang dialami subjek saat ini disebabkan oleh kebutuhan subjek untuk menjalin hubungan dengan orang lain yang tidak terpenuhi. Subjek membutuhkan orang lain dalam hidupnya

sebagai pendukung, pemberi kasih sayang, serta peningkat kepercayaan diri subjek.

Namun, sejak kecil kebutuhan subjek ini tidak terpenuhi dan subjek mendapatkan penolakan dari orang-orang terdekatnya.

Penolakan-penolakan tersebut terus dirasakan subjek, baik dari orangtua, saudara, teman, maupun kekasihnya, hingga subjek dewasa tidak ada seoranpun yang dapat menjadi teman bagi subjek.

Kualitas hubungan yang rendah terus dimiliki subjek dan ibunya hingga saat ini, dimana subjek sudah tidak lagi secara aktif berusaha untuk melakukan interaksi dengan ibunya.

Subjek menunjukkan tidak- tertarikan untuk menjalani kehidupannya.

Subjek lebih banyak menutup diri dan tidak berinteraksi dengan orang lain.

Aktivitas yang dilakukan subjek menurun drastis, subjek juga cenderung tidak merawat dirinya dengan baik. Komunikasi verbal dan nonverbal yang dilakukan subjek pun tidak dapat berkembang dengan maksimal. Kesadaran ibu subjek mengenai kondisi subjek menjadi sangat penting untuk memperbaiki kualitas hubungan yang dimiliki keduanya.

Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan pemeriksaan psikologis yang telah dilakukan, maka ditegakkan diagnosis berdasarkan DSM-5 yaitu Schizophrenia multiple episodes, currently on partial remission (F20.9). Subjek memenuhi 6 dari 6 kriteria skizofrenia yang disebutkan DSM-5. Subjek masih menunjukkan gejala positif berupa halusinasi yang minimal dan berbagai gejala negatif. Peningkatan setelah episode terakhir sudah didapatkan subjek, sehingga saat ini kriteria diagnostik tidak sepenuhnya dipenuhi subjek.

(6)

Kriteria lainnya adalah memiliki riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia, sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal), dan tidak terdapat demensia atau penyakit/gangguan otak organik lainnya, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.

Penegakkan diagnosis dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai gejala gangguan yang dialami subjek sebagai manifestasi dari masalah/riwayat hubungan subjek dengan keluarga, teman, serta lingkungan sosialnya.

Skizofrenia merupakan salah satu gangguan yang masuk ke dalam spektrum bersama dengan gangguan psikotik lainnya dan juga gangguan kepribadian skizotipal (American Psychiatric Association, 2013). Gangguan ini dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Pada LU, saat LU sejak kecil LU mendapatkan perlakuan yang tidak layak dari keluarga dan juga teman- temannya. LU tidak memiliki teman sebagai pemberi dukungan dan kasih sayang bagi LU.

Cunningham, Hoy, & Shannon (2016) melakukan systematic review mengenai pengaruh bullying terhadap perkembangan gejala psikosis dan hasil yang ditunjukkan adalah bahwa enam penelitian menunjukkan hasil bahwa bullying yang diterima saat masa kanak- kanak dapat meningkatkan kecenderungan individu untuk mengembangkan gejala psikosis. Pada

penelitian ini, LU mengalami bullying sejak kecil hingga saat LU masuk ke dunia pekerjaan.

Emotional abuse saat masa kanak- kanak juga dikatakan berhubungan erat dengan gejala psikosis, seperti halusinasi dan delusi penganiayaan (Ackner, dkk., 2013). LU juga mengalami emotional abuse dari orangtuanya, karena berbagai hal seakan tidak ada hal yang dapat dilakukan LU dengan benar. Dampak dari bullying dan emotional abuse yang dialami LU dapat dilihat dari bagaimana delusi LU berupa mengatakan bahwa orang-orang membuat tangannya bersisik saat tangannya terkena kotoran yang turun dari atap rumah saat hujan. LU pernah disiram oleh temannya dengan menggunakan air kotor di kamar mandi saat bekerja di salah satu tempat kerjanya dahulu.

Mengalami berbagai stressful life events membuat kerentanan LU terhadap skizofrenia semakin meningkat. Tidak adanya dukungan sosial yang dapat menjadi tempat bagi LU untuk dapat menghindarkan dirinya dari berbagai perilaku negatif yang dilakukan orang- orang di sekitarnya menambah kerentanan yang LU terhadap gangguan yang dialaminya.

Penolakan-penolakan yang terus diterima LU dari orang-orang di sekitarnya merupakan conditioning events bagi munculnya gangguan pada LU. Saat LU merasa bahwa ia sudah memiliki seseorang yang dapat menjadi pendukung dan pemberi kasih sayang kepadanya, LU ditinggalkan oleh orang tersebut dan hal ini membuat LU merasa dikhianati dan kejadian ini menjadi precipitating event bagi perjalanan gangguan LU.

(7)

7 LU mengalami relapse sebanyak satu kali, yaitu saat kakak kandungStressful life events dikatakan memberikan kontribusi terhadap relapse pada penderita skizofrenia (Hirsch, dkk., 1996). Hal ini sesuai dengan relapse yang dialami LU, stressful life events yang dialami LU sebelum mengalami relapse adalah mengetahui bahwa kakak perempuannya ditinggalkan oleh suaminya. Kejadian ini serupa dengan kejadian saat LU ditinggalkan oleh kekasihnya.

Penderita skizofrenia memiliki lebih banyak stressful life events yang memberikan kontribusi terhadap risk of relapse selama 3 minggu sebelum relapse terjadi.

SIMPULAN

Berdasarkan pemaparan yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa subjek memenuhi gejala schizophrenia multiple episodes, currently on partial remission berdasarkan DSM-5. Hasil asesmen yang telah dilakukan menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi kondisi subjek adalah tidak terpenuhinya kebutuhan subjek untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Subjek sejak kecil tidak mendapatkan kasih sayang dan cenderung mendapatkan penolakan dari lingkungan sekitarnya.

Subjek merasa sangat bahagia saat mendapatkan kekasih dan kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena kemudian subjek diputuskan secara sepihak. Hal ini menjadi pemicu munculnya gejala pada subjek.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak didapatkannya data terkait riwayat keluarga atau kerabat subjek yang mengalami gangguan serupa dengan subjek sehingga tidak dapat dipastikan

apakah gangguan yang dialami subjek karena kontribusi faktor genetik atau stressful life events yang dialaminya.

DAFTAR PUSTAKA

Ackner, S., Skeate, A., Patterson, P., & Neal, A.

(2013). Emotional abuse and psychosis: a recent review of the literature. Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma, 22(9), 1032–1049.

https://doi.org/10.1080/10926771.2013.837132 American Psychiatric Association. (2013).

Diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5). American Psychiatric Pub.

Cunningham, T., Hoy, K., & Shannon, C. (2016).

Does childhood bullying lead to the development of psychotic symptoms? A meta-analysis and review of prospective studies. Psychosis, 8(1), 48–59.

https://doi.org/10.1080/17522439.2015.10539 69

Hirsch, S., Bowen, J. O., Emami, J., Cramer, P., Jolley, A., Haw, C., & Dickinson, M. (1996).

A One Year Prospective Study of the Effect of Life Events and Medication in the Aetiology of Schizophrenic Relapse. 1996.

Kring, A. M., Davison, G. C., Neale, J. M., &

Johnson, S. L. (2012). Abnormal psychology 12ed. John Wiley & Sons Inc.

Walker, E., Kestler, L., Bollini, A., & Hochman, K.

M. (2004). Schizophrenia: etiology and course. Annu. Rev. Psychol., 55, 401–430.

https://doi.org/10.1146/annurev.psych.55.09 0902.141950

Referensi

Dokumen terkait

kebun bibit sekitar 200 hektar yang terdiri dari tiga hektar merupakan lahan milik pabrik sendiri yang digunakan untuk membudidayakan bibit pokok, bibit nenek, serta bibit

Hasil penelitian ini dilihat dari angket atau kuisioner yang terdiri dari 15 pertanyaan yang dijawab oleh responden mengenai keluarga pra sejahtera. Angket atau

Pembahasan masalah perlu dilakukan untuk memfokuskan penelitian, mencegah terlalu luasnya pembahasan dan mencegah terjadinya salah interpretasi atas kesimpulan yang

Secara umum output pelaksanaan kegiatan pengawasan kedatangan kapal laut dari luar negeri di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Padang belum seuai dengan SOP karena masih

Mendiagnosis karies pada gigi terutama karies dini atau karies tersembunyi dengan hanya melalui pemeriksaan klinis merupakan teknik yang tidak akurat, meskipun sensitivitas

Asam asetat glasial berfungsi sebagai fiksatif yang akan mengawetkan pollen, sedangkan asam sulfat pekat berfungsi untuk melisiskan dinding sel pollen.. Penambahan

Kerjasama internasional yang dilakukan negara dengan organisasi internasional tentu dapat memberikan kemudahan bagi setiap pemenuhan kebutuhan setiap negara.Kerjasama

Pembiayaan kecelakan kerja ditanggung seluruhnya oleh perusahaan apabila masih dalam hubungan kerja, karena kecelakaan dan penyakit yang timbul dalam hubungan