• Tidak ada hasil yang ditemukan

FREKUENSI PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FREKUENSI PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JENIS PUPUK NPKMg DAN FREKUENSI PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

VARIETAS YANGAMBI UMUR 4 SAMPAI 8 BULAN

SKRIPSI

OLEH:

MENTARI CHALIS 160301137

AGROTEKNOLOGI / AGRONOMI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PENGARUH JENIS PUPUK NPKMg DAN FREKUENSI PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

VARIETAS YANGAMBI UMUR 4 SAMPAI 8 BULAN

SKRIPSI

OLEH:

MENTARI CHALIS 160301137

AGROTEKNOLOGI / AGRONOMI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan.

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)
(4)

ABSTRAK

MENTARI CHALIS : Pengaruh Jenis Pupuk NPKMg dan Frekuensi Penyiraman

Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineenis Jacq.) Varietas Yangambi Umur 4 Sampai 8 Bulan dibimbing oleh CHARLOQ dan LISA MAWARNI.

NPKMg dan air merupakan komponen penting yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang sehingga diperlukan pemupukan yang efisien untuk

memenuhi kebutuhan hara tanaman serta ketersedian air yang optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis pupuk NPKMg dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineenis Jacq.) varietas Yangambi umur 4 sampai 8 bulan.

Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2020 hingga Januari 2021 di Sunggal, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan empat ulangan.

Faktor pertama yaitu perlakuan jenis pupuk NPKMg yang terdiri dari kontrol, pupuk NPKMg Briket, pupuk NPKMg Granular dan pupuk tunggal. Faktor kedua adalah perlakuan frekuensi penyiraman yang terdiri dari penyiraman satu kali sehari dan penyiraman dua kali sehari. Parameter yang diamati adalah adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, total luas daun, bobot kering akar dan bobot kering tajuk. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk NPKMg dalam bentuk tunggal adalah yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Varietas Yangambi umur 4 sampai 8 yang berbeda tidak nyata dengan permberian pupuk NPKMg dalam bentuk granular. Perlakuan frekuensi penyiraman berpengaruh tidak nyata sehingga penyiraman cukup dilakukan satu kali sehari pada pagi hari. Kombinasi perlakuan berpengaruh signifikan terhadap parameter bobot kering tajuk.

Kata Kunci : Bentuk pupuk, frekuensi penyiraman, kelapa sawit.

(5)

ABSTRACT

MENTARI CHALIS : The Effect of NPKMg Fertilizer Forms and Watering Frequency on the Growth of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) Yangambi Varieties 4 to 8 Months. Supervised by CHARLOQ and LISA MAWARNI.

NPKMg and water are essential component needed by plant to grow and develop so its necessary to made efficient fertilization and optimum water availability. This research aims to determine the effect of NPKMg fertilizer forms and watering frequency on the growth of Yangambi palm oil. The research was conducted in September 2020 to January 2021 at Sunggal, Sunggal District, Deli Serdang Regency. The research used Completely Randomized Factorial Design with 4 replications, namely the first factor was the fertilizer forms consists of control, briquette, granule and single compound fertilizer and the second was watering frequency consists of once a day and twice a day. The parameters observed were plant height, number of leaves, stem diameter, total leaf area, dry crown weight, and dry root weight. The results showed that single compound fertilizer was the best in increasing the plant growth, which is not significantly different compared with granule. Watering frequency treatment had no significant effect so watering is enough to be done once a day in the morning. The treatment combination had a significant effect on the dry crown weight parameter.

Keywords: Fertilizer form, watering frquency, oil palm.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 12 Maret 1998, penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Ayahanda Wariandy dan Ibunda Kho Jek Lie.

Tahun 2016 penulis lulus dari SMA WR. Supratman 1 Medan dan pada tahun yang sama penulis masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Pertanian melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), penulis memilih program studi Agroteknologi, minat Agronomi.

Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan yaitu menjadi anggota Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) dan anngota Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (Himagrotek). Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di PT. Pulahan Seruwai kebun Pulahan, Kabupaten Kisaran sejak 15 Juli 2019 sampai dengan 18 Agustus 2019.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Jenis Pupuk NPKMg dan

Frekuensi Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineenis Jacq.) Varietas Yangambi Umur 4 Sampai 8 Bulan”

yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua penulis yang telah memberikan dukungan baik berupa moral maupun material kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Charloq, MP. selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Lisa Mawarni, MP. selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan masukan selama penyusunan skripsi ini.

Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh staf pengajar dan pegawai Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara serta kepada teman-teman yang telah berkontribusi dalam kelancaran studi dan penyelesaian penelitian ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, September 2021

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 4

Hipotesis Penelitian ... 4

Kegunaan Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ... 5

Syarat Tumbuh ... 6

Iklim ... 6

Tanah ... 7

Varietas Yangambi... 9

Pembibitan Main Nursery ... 9

Peranan Hara N, P, K, dan Mg... 10

Pupuk NPKMg ... 15

Penyiraman ... 17

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 19

Bahan dan Alat ... 19

Metode Penelitian ... 19

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Areal Pembibitan ... 22

Persiapan Media Tanam ... 22

Penanaman ... 22

Pemupukan ... 23

Penyiraman ... 23

Penyiangan ... 23

Pengendalian Hama dan Penyakit ... 24

Parameter Pengamatan ... 24

Pertambahan Tinggi Tanaman ... 24

(9)

Pertambahan Diameter Batang ... 24

Total Luas Daun ... 24

Bobot Kering Tajuk... 25

Bobot Kering Akar ... 25

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 26

Pembahasan... 38

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 49

Saran ... 49 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Data tinggi tanaman (cm) bibit kelapa sawit pada umur 16 MST ... 26 2. Rataan pertambahan tinggi tanaman (cm) dengan perlakuan jenis

pupuk NPKMg dan frekuensi pada umur 17 – 32 MST ... 26 3. Data jumlah daun (helai) bibit kelapa sawit pada umur 16 MST ... 29 4. Rataan pertambahan jumlah daun (helai) dengan perlakuan jenis

pupuk NPKMg dan frekuensi pada umur 17 – 32 MST ... 30 5. Data diameter batang (mm) bibit kelapa sawit pada umur 16 MST ... 33 6. Rataan pertambahan diameter batang (mm) dengan perlakuan jenis

pupuk NPKMg dan frekuensi pada umur 17 – 32 MST ... 33 7. Rataan total luas daun (cm2) dengan perlakuan jenis pupuk NPKMg

dan frekuensi pada umur 32 MST ... 35 8. Rataan bobot kering akar (g) dengan perlakuan jenis pupuk NPKMg

dan frekuensi pada umur 32 MST ... 36 9. Rataan bobot kering tajuk (g) dengan perlakuan jenis pupuk NPKMg

dan frekuensi pada umur 32 MST ... 37

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Deskripsi Kelapa Sawit Varietas DxP Yangambi ... 56

2. Dosis Rekomendasi Pemupukan PPKS ... 57

3. Dosis Pupuk Tunggal ... 58

4. Bagan Plot Penelitan ... 59

5. Bagan Penanaman Pada Plot ... 60

6. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian ... 61

7. Data Curah Hujan ... 62

8. Data Tinggi Tanaman (cm) pada 16 MST ... 64

9. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman pada 16 MST ... 64

10. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 17 MST ... 65

11. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 17 MST... 65

12. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 18 MST ... 66

13. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 18 MST... 66

14. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 19 MST ... 67

15. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 19 MST... 67

16. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 20 MST ... 68

17. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 20 MST... 68

18. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 21 MST ... 69

19. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 21 MST... 69

20. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 22 MST ... 70

21. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 22 MST... 70

22. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 23 MST ... 71

23. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 23 MST... 71

24. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 24 MST ... 72

25. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 24 MST... 72

26. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 25 MST ... 73

27. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 25 MST... 73

28. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 26 MST ... 74

29. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 26 MST... 74

(12)

31. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 27 MST... 75

32. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 28 MST ... 76

33. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 28 MST... 76

34. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 29 MST ... 77

35. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 29 MST... 77

36. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 30 MST ... 78

37. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 30 MST... 78

38. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 31 MST ... 79

39. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 31 MST... 79

40. Data Pertambahan Tinggi Tanaman (cm) pada 32 MST ... 80

41. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Tinggi Tanaman pada 32 MST... 80

42. Data Jumlah Daun (helai) pada 16 MST ... 81

43. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun pada 16 MST ... 81

44. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 17 MST ... 82

45. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 17 MST ... 82

46. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 18 MST ... 83

47. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 18 MST ... 83

48. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 19 MST ... 84

49. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 19 MST ... 84

50. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 20 MST ... 85

51. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 20 MST ... 85

52. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 21 MST ... 86

53. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 21 MST ... 86

54. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 22 MST ... 87

55. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 22 MST ... 87

56. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 23 MST ... 88

57. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 23 MST ... 88

58. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 24 MST ... 89

59. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 24 MST ... 89

60. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 25 MST ... 90

61. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 25 MST ... 90

62. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 26 MST ... 91

(13)

63. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 26 MST ... 91

64. Data Pertambahan JumlahDaun (helai) pada 27 MST ... 92

65. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 27 MST ... 92

66. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 28 MST ... 93

67. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 28 MST ... 93

68. Data Pertambahan JumlahDaun (helai) pada 29 MST ... 94

69. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 29 MST ... 94

70. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 30 MST ... 95

71. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 30 MST ... 95

72. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 31 MST ... 96

73. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 31 MST ... 96

74. Data Pertambahan Jumlah Daun (helai) pada 32 MST ... 97

75. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun pada 32 MST ... 97

76. Data Diameter Batang (mm) pada 16 MST ... 98

77. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang pada 16 MST ... 98

78. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 18 MST ... 99

79. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 18 MST ... 99

80. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 20 MST ... 100

81. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 20 MST ... 100

82. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 22 MST ... 101

83. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 22 MST ... 101

84. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 24 MST ... 102

85. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 24 MST ... 102

86. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 26 MST ... 103

87. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 26 MST ... 103

88. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 28 MST ... 104

89. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 28 MST ... 104

90. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 30 MST ... 105

91. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 30 MST ... 105

92. Data Pertambahan Diameter Batang (mm) pada 32 MST ... 106

93. Daftar Sidik Ragam Pertambahan Diameter Batang pada 32 MST ... 106

94. Data Total Luas Daun (cm2) pada 32 MST ... 107

(14)

95. Daftar Sidik Ragam Total Luas Daun pada 32 MST ... 107

96. Data Bobot KeringTajuk (g) pada 32 MST... 108

97. Daftar Sidik Ragam Bobot Kering Tajuk pada 32 MST ... 108

98. Data Bobot KeringAkar (g) pada 32 MST ... 109

99. Daftar Sidik Ragam Bobot Kering Akar pada 32 MST ... 109

(15)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) berasal dari Afrika Barat, merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting di Indonesia dan sebagai sumber devisa terbesar bagi negara. Produktivitas minyak kelapa sawit lebih tinggi 8-10

kali dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, sehingga kelapa sawit mampu mendapat posisi merajai industri minyak nabati

global (Fauzi dan Putra, 2019). Terobosan Indonesia di era pemerintahan Joko Widodo adalah mengubah kelapa sawit menjadi energi hijau, dengan produk yang dinamakan saat ini B20, B30 bahkan B100, sangat berpotensi akan adanya intensifikasi dan ekstensifikasi penanaman kelapa sawit yang semakin tinggi. Luas areal penanaman kelapa sawit setiap tahun terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2020) luas lahan sawit di Indonesia tahun 2020 diperkirakan mencapai 14,99 juta hektar dengan produksi minyak mencapai 49,1 juta ton.

Program Peremajaan Kelapa Sawit (PSR) dan ekstensifikasi areal perkebunan kelapa sawit akan diikuti dengan pertambahan kebutuhan jumlah bibit.

Salah satu bibit unggul yang populer dan digunakan secara komersial di perkebunan rakyat, swasta maupun negara adalah varietas unggul bersertifikasi Yangambi.

Varietas kelapa sawit Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang dihasilkan dari populasi ini adalah hasil perkawinan Dura dan Pisefera (DxP) Yangambi, DxP PPKS 239 dan DxP PPKS 718. Secara umum, populasi ini memiliki keunggulan pada bobot tandan yang relatif besar (big bunch) dengan rataan 16 kg/tandan serta

(16)

kandungan minyak dan mesokarp yang tinggi dengan potensi produksi TBS adalah 35 ton/ha/tahun (PPKS, 2018).

Penggunaan varietas unggul saja tidak cukup untuk menghasilkan bahan tanam yang baik dengan produksi tinggi. Menurut Jannah et al. (2012), pembibitan merupakan langkah awal dari rangkaian kegiatan budidaya kelapa sawit yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan umur tanaman berproduksi. Pada tahap ini, pemupukan dan penyiraman merupakan aspek penting sehingga perlu dipertimbangkan dan direncanakan dengan baik untuk memperoleh pertumbuhan bibit yang optimum.

Pemupukan Nitrogen, Fosfor, Kalium dan Magnesium sangat penting dilakukan karena unsur ini merupakan hara makro esensial yang dibutuhkan tanaman untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal. Pada fase pembibitan, pemupukan menghabiskan biaya sekitar 40-60% dari total biaya pemeliharaan (Ginting et al., 2018). Namun, dengan porsi biaya yang besar tersebut, kebutuhan hara tanaaman masih belum tercukupi akibat efisiensi pemupukan yang rendah.

Penggunaan pupuk konvensional dianggap memiliki tingkat efisiensi yang rendah, diperkirakan antara 30-70% hara pada pupuk tunggal hilang/tercuci tergantung metode aplikasi dan kondisi tanah (Ginting et al., 2018), sehingga mengakibatkan kerugian ekonomis yang tinggi dan pencemaran lingkungan. Hal ini tentu mendorong adanya penggunaan pupuk dengan sifat slow release seperti pupuk majemuk berbentuk granul dan briket yang tentunya dapat menekan kehilangan hara yang cepat. Selanjutnya Chandra et al. (2009) menyatakan dengan

(17)

menggunakan pupuk slow release maka dosis pupuk menjadi lebih kecil dan efesiensi pemupukan meningkat.

Selain pemupukan, ketersediaan air juga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit khususnya pada fase pembibitan. Kekurangan air dapat menyebabkan penurunan laju pembelahan sel, laju penyerapan CO2, penyerapan hara, fotosintesis, dan penurunan produktivitas (Bakoume et al., 2013).

Pemberian air secara berlebihan juga berdampak buruk terhadap pertumbuhan tanaman, tanaman kekurangan hara akibat pencucian dan terjadinya pemadatan media tanam. Berdasarkan petunjuk teknis pembibitan, pada fase main nursery, penyiraman dilakukan 2 kali sehari dengan sebanyak 2 liter/hari/polybag. Namun hasil penelitian Martha et al (2015) menunjukkan bahwa perlakuan volume penyiraman 1 liter/hari/bibit, 1,5 liter/hari/bibit, dan 2 liter/hari/bibit berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit umur 4-8 bulan, dari hasil tersebut diduga bahwa umur bibit kelapa sawit juga turut mempengaruhi jumlah air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang baik dimana pemberian air dengan volume 1 liter yang diberikan dalam 2 kali penyiraman sudah efektif meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit umur 4-8 bulan. Tampubolon (2018) menyatakan bahwa frekuensi penyiraman cukup dilakukan satu kali sehari yaitu pada pagi hari pada bibit kelapa sawit umur 4-7 bulan.

Berdasarkan uraian diatas perlu adanya penelitian mengenai pengaruh pupuk majemuk berbentuk granul dan briket yang memiliki sifat slow release serta pemenuhan ketersediaan air secara optimum pada kondisi lapangan pembibitan sebenarnya sehingga proses metabolisme dan penyerapan hara pada bibit kelapa

(18)

sawit umur 4 sampai 8 bulan dapat menghasilkan pertumbuhan yang optimal di lapangan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis pupuk NPKMg dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineenis Jacq.) Varietas Yangambi umur 4 sampai 8 bulan yang

sesuai kondisi di lapangan pembibitan sebenarnya.

Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh nyata beberapa jenis pupuk NPKMg, frekuensi penyiraman serta interaksi beberapa jenis pupuk NPKMg dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineenis Jacq.) Varietas Yangambi umur 4-8 bulan pada kondisi lapangan pembibitan sebenarnya.

Kegunaan Penelitian

Penelitian berguna untuk mendapatkan sumber data penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(19)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) termasuk dalam divisi : Tracheophyta, subdivisi : Pteropsida, kelas : Angiospermae, subkelas : Monocotyledoneae, ordo : Cocoideae, famili : Palmae, subfamili : Cocoideae, genus : Elaeis dan spesies : Elaeis guineensis Jacq. (Van Steenis, 2003).

Saat awal perkecambahan, akar pertama/radikula yang muncul dari biji panjangnya 10 sampai 15 mm. Pertumbuhan radikula mula-mula menggunakan cadangan makanan yang ada dalam endosperm. Radikula (bakal akar) pada bibit terus tumbuh memanjang ke arah bawah selama enam bulan yang kemudian fungsinya diambil alih oleh akar primer yang tumbuh dari pangkal batang dengan diameter berkisar antara 8-10 mm. Tanaman kelapa sawit berakar serabut, tidak berbuku, ujungnya runcing, dan berwarna putih atau kekuningan. Akar sekunder tumbuh dari akar primer, diameternya 2 sampai 4 mm. Akar tersier dan kuarter merupakan bagian perakaran paling dekat dengan permukaan tanah. Akar yang paling aktif menyerap air dan hara adalah akar tersier dan kuartener. Kedua akar ini banyak ditumbuhi bulu-bulu halus yang dilindungi oleh tudung akar (kaliptra) (Lubis, 2012).

Bibit kelapa sawit memiliki batang berbentuk silinder tidak berkambium dan tidak bercabang. Batang tumbuh tegak lurus (fototropisme) dibungkus oleh pelepah daun. Diameter batang berkisar anatara 10 cm (pada tanaman muda) hingga 50 cm (pada tanaman dewasa). Batang bagian bawah umumnya lebih besar dari batang bagian atas yang disebut bongkol batang atau bowl. Batang kelapa sawit dapat tumbuh mencapai ketinggian antara 15-20 m. Pertumbuhan meninggi dimulai

(20)

setelah berumut 4 tahun dengan kecepatan pertumbuhan sekitar 25–40 cm per tahun (Juanda, 2017)

Pada stadia bibit, daun (folium) pertama yang keluar berbentuk lanceolate, kemudian bifurcate dan menyusul bentuk pinnate (menyirip) (Bukhari. 2003). Pada umur bibit 5 bulan akan dijumpai 5 lanceolate, 4 bifurcate dan 3 pinnate.

Sedangkan pada umur bibit 12 bulan akan terdapat 5 lanceolate, 4 bifurcate dan 10 pinnate (Sunarko, 2007). Daun pada tanaman kelapa sawit merupakan daun majemuk. Daun kelapa sawit bersirip genap dan bertulang sejajar. Daun kelapa sawit terdiri dari pelepah daun (rachis), anak daun (pinnae) dan lidi (spines). Rata- rata panjang pelepah tanaman dewasa dapat mencapai 9 meter. Pada satu pelepah akan dijumpai 250-400 anak daun yang terletak dikiri kanan pelepah daun. Panjang anak daun di bagian tengah dapat mencapai 1,2 m atau lebih panjang dibandingkan anak daun yang letaknya di ujung atau di pangkal (Naim, 2016).

Buah kelapa sawit termasuk jenis buah keras (drupe), menempel dan bergerombol pada tandan buah. Bagian buah terdiri atas eksokarp (kulit buah), mesokarp (sabut), dan biji yang terdiri atas endokarp (cangkang) dan inti (kernel).

Kernel terdiri atas endosperm (putih lembaga) dan embrio. Dalam embrio terdapat bakal daun (plumula), haustorium, dan bakal akar (radicula) (Juanda, 2017).

Syarat Tumbuh Iklim

Syarat tumbuh bibit kelapa sawit diantaranya membutuhkan lama penyinaran matahari yang baik yaitu lebih dari 1600 jam per tahun dengan rata-rata 5 - 7 jam per hari. Ketinggian tempat yang ideal untuk sawit antara 1 - 500 mdpl (meter diatas permukaan laut). Kelembaban optimum yang ideal untuk tanaman

(21)

sawit sekitar 80-90 % dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan (Sodiq, 2014).

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada suhu udara 27 ºC

dengan suhu maksimum 33 ºC dan suhu minimum 22 ºC sepanjang tahun.

Curah hujan rata-rata tahunan yang memungkinkan untuk pertumbuhan adalah 1.250 – 3.000 mm/tahun yang merata sepanjang tahun (dengan jumlah bulan kering kurang dari 3 bulan). Curah hujan optimal berkisar 1.750 – 2.500 mm/tahun. Jumlah bulan kering lebih dari 3 bulan merupakan faktor pembatas berat. Adanya bulan kering yang panjang dan curah hujan yang rendah akan menyebabkan terjadinya defisit air (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2018).

Pada pembibitan kepala sawit, penyiraman harus dilakukan setiap hari jika curah hujan kurang dari 8-10 mm. Sedangkan bila curah hujan telah mencapai 8- 10 mm atau lebih sudah dapat disetarakan memenuhi kebutuhan air untuk bibit kelapa sawit dalam sehari (Siregar et al., 2014). Setiap bibit kelapa sawit

membutuhkan air yang setara dengan curah hujan efektif 3,4 mm/hari (Allorerung et al., 2010). Menurut Lubis (2008), kebutuhan air untuk bibit sawit

pada pembibitan utama berkisar antara 1 - 3 liter/bibit/hari. Penyiraman tidak perlu dilakukan apabila turun hujan dalam jumlah memadai.

Tanah

Bibit kelapa sawit dapat tumbuh baik pada media tanam dengan komposisi dam tekstur tanah yang mempunyai perbandingan pasir 20 – 60 %;

debu 10 – 40 %; dan liat 20 – 50 % serta memiliki solum yang tebal, tidak kurang dari 80 cm. Syarat tanah yang baik meliputi, tanah yang kedap air, tekstur gembur dengan kadar pasir tidak melebihi 60%, bebas kontaminasi, tanah bersih yang sudah

(22)

disaring terlebih dahulu, tidak ada gumpalan besar >1 cm, tidak menggunakan tanah bakar, dan tidak menggunakan tanah gambut yang belum terdekomposisi secara sempurna (Naim, 2016).

Media tanam yang baik untuk pembibitan harus dapat menyediakan air, oksigen dan unsur hara dalam jumlah dan keseimbangan yang menguntungkan guna menjamin proses pertumbuhan bibit kelapa sawit (Nurahmi et al., 2010).

Media tanam sebaiknya berasal dari tanah top soil gembur, tanah yang kurang gembur dapat dicampur dengan pasir dengan perbandingan 3:1, bebas dari hama dan penyakit. Tanah sebelum dimasukkan polybag terlebih dahulu diayak dengan ayakan 2 cm (Syakir, 2010).

Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podsolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol, dataran pantai dan muara sungai. Tingkat keasaman yang optimum untuk sawit adalah 5.0 - 5.5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum cukup dalam (80 cm) tanpa lapisan padas (Sodiq, 2014).

Kelapa sawit dapat dibudidayakan pada berbagai jenis tanah baik tanah mineral maupun tanah marginal. Sifat kimia tanah, pH tanah dan ketersediaan hara merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya kelapa sawit. Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4,0 - 6,0, namun pH optimum adalah 5 – 5,5. Menurut Komala (2010), pada pH yang lebih rendah dari 4 (masam) akan menyebabkan terhambatnya penyerapan unsur hara oleh tanaman seperti kalium dan fosfat dimana tanah dengan kemasaman yang tinggi (pH < 3,5) banyak mengandung asam sulfat yang tidak baik untuk pertumbuhan kelapa sawt. (Naim, 2016).

(23)

Varietas Yangambi

Varietas Yangambi merupakan populasi kelapa sawit asal Afrika yang banyak digunakan sebagai tetua pisifera sumber benih unggul. Varietas kelapa sawit PPKS yang dihasilkan dari populasi ini adalah DxP Yangambi, DxP PPKS 239 dan DxP PPKS 718 yang merupakan varietas-varietas unggul milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Salah satu daya tarik dari jenis ini adalah memiliki ukuran buah yang besar dan berat, sehingga akan sangat menguntungkan petani.

Varietas ini mampu menghasilkan 7,5 ton CPO/ha/tahun. Selain itu, varietas ini juga dapat menghasilkan PKO 0.9 ton/ha/tahun. Secara umum, populasi ini

memiliki keunggulan pada bobot tandan yang relatif besar. Potensi poduksi Tandan Buah Segar (TBS) varietas DXP Yangambi adalah 35 ton/ha/tahun

(Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2018).

Pembibitan Main Nursery

Pembibitan kelapa sawit terdiri dari dua sistem, yaitu sistem pembibitan satu tahap dan dua tahap. Sistem pembibitan satu tahap artinya kecambah langsung ditanam di polybag besar yang telah disiapkan untuk pembibitan selama 12 bulan.

Sistem pembibitan dua tahap terdiri dari pembibitan pendahuluan dan pembibitan utama. Pembibitan pendahuluan atau disebut dengan pre nursery adalah menanam kecambah di baby polybag selama 3 bulan. Setelah masa pre nursery selesai, bibit diseleksi kemudian dipindahkan ke polybag besar sampai berumur 10-12 bulan, masa ini dinamakan main nursery. Seleksi bibit pada main nursery ini dilakukan pada saat bibit dipindahkan dari pre nursery, umur 4 bulan, 8 bulan dan pada saat bibit pindah tanam ke lapangan. Sistem pembibitan dua tahap ini lebih sering

(24)

digunakan dan disarankan karena proses seleksi yang lebih ketat sehingga dapat menjamin mutu bibit yang dihasilkan (Sari, 2013).

Pembibitan tanaman kelapa sawit umumnya dilakukan dengan sistem dua tahap yaitu pembibitan awal (pre nursery) dan pembibitan utama (main nursery).

Pembibitan awal merupakan tempat kecambah kelapa sawit ditanam dan dipelihara hingga berumur 4 bulan. Selanjutnya bibit tersebut di pindah ke pembibitan utama selama 4-12 bulan sampai bibit siap tanam (PPKS, 2014).

Peranan Hara N, P, K dan Mg

Nitrogen sangat besar peranannya dalam pertumbuhan tanaman kelapa sawit terutama pada pertumbuhan vegetatif bibit seperti pembentukan daun, batang, dan akar. Kekurangan N berpengaruh pada pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, sistem perakaran jelek dan daun yang terbentuk lebih sedikit. Warna daun pada bibit menjadi kekuning-kuningan karena kurang klorofil. Batang berwarna merah atau agak keunguan bila kelebihan produksi antosianin. N juga menentukan pertumbuhan batang utama (tinggi tanaman). N berlebih dapat merugikan karena sistem perakaran yang terbentuk berkurang (Shintarika, 2014).

Nitrogen (N) merupakan unsur utama pembentuk protoplasma sel, asam amino, protein, amida, alkaloid, dan klorofil. Nitrogen diserap oleh akar tanaman dalam bentuk anorganik yaitu amonium (NH4+) dan nitrat (NO3-), dari dua bentuk nitrogen ini tanaman lebih banyak menyerap dalam bentuk NO3-. Nitrat merupakan ion yang sangat mobil di dalam tanah, hal ini disebabkan oleh sifatnya yang mudah larut dan tidak terjerap (adsorpsi) oleh koloid tanah. Unsur hara N bergerak menuju permukaan akar melalui mekanisme aliran massa (98,8%). Setelah serapan terjadi, NO3- yang berada dalam sitoplasma sebagian kecil disimpan dalam vakuola dan

(25)

sisanya direduksi menjadi bentuk ion NO2- kemudian masuk ke dalam organel plastida akar dan diubah lagi dalam bentuk NH4+. Ion NH4+ ini bergabung dengan senyawa organik (glutamin) untuk membentuk asam amino yang digunakan sebagai dasar molekuler untuk pertumbuhan dan perkembangan (Rubio et al. 2010).

Fosfor memiliki banyak fungsi penting bagi bibit kelapa sawit, salah satu yang utama adalah menjadi sumber dan transfer energi dalam tanaman. ADP dan ATP adalah senyawa fosfat berenergi tinggi yang mengontrol banyak reaksi di dalam tanaman seperti fotosintesis, respirasi, sintesis protein dan asam amino, dan transpor unsur hara melalui sel tanaman (Boroomand dan Grough 2012). Hara P bersifat immobil di dalam tanah karena sebagian besar P tanah dijerap menjadi bentuk tidak tersedia bagi tanaman. Ketersediaan P untuk pertumbuhan tanaman tergantung kepada mobilitasnya di dalam tanah dan keseimbangan antara bentuk P larut dan terjerap (Sari, 2013).

Fosfor (P) berperan dalam setiap proses fisiologis tanaman, baik yang menyangkut pertumbuhan vegetatif maupun generatif. Fungsi lain unsur ini adalah membentuk ikatan fosfolipid dalam minyak. Ketersediaan P sangat dipengaruhi oleh pH tanah. Unsur P tersedia pada kisaran pH 5,5 - 7,5. Tanah masam menyebabkan kelarutan Al dan Fe tinggi sehingga dapat berpresipitasi dengan P dan menghambat ketersediaan P. Pada kondisi salin Ca yang tinggi dapat mengikat P sehingga ketersediaannya menurun. Mobilitas ion - ion P dalam tanah sangat rendah karena retensinya dalam tanah sangat tinggi. Oleh karena itu recovery rate dari pupuk P sangat rendah antara 10 - 30 %, sisanya 70 – 90 % tertinggal dalam bentuk immobil atau hilang karena run off (Jesus, 2012). Shintarika (2014) menambahkan Konsentrasi P-total pada tanaman budidaya umumnya bervariasi

(26)

antara 0,1 – 0,5% bobot kering tanaman. Fosfor menyusun sekitar 0,1 - 1,0% bahan kering tanaman dan merupakan komponen kunci biomolekul seperti asam nukleat (pembawa informasi genetik), fosfolipid (penyusun struktur membran), P-ester, dan ATP (sumber energi untuk reaksi enzimatik). Peran fosfor sangat penting karena tanaman tidak akan tumbuh dengan baik tanpa ketersediaan fosfor yang cukup (Shintarika, 2014).

Kalium merupakan nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak oleh tanaman kelapa sawit. Kalium diserap dalam bentuk ion K+. Kalium diperlukan untuk akumulasi dan translokasi hasi fotosintesis. Selain itu ion K+ menfasilitasi beberapa respon fisiologi pada tanaman, termasuk pembukaan dan penutupan stomata, gerakan daun dan regulasi polarisasi membran. Pergerakan kalium di dalam tanah ke akar adalah melalui proses difusi dan aliran massa. Kalium yang diserap melalui kontak langsung antara akar dan partikel tanah hanya sebagian kecil, berkisar antara 6 sampai 10% dari total. Jumlah K+ tersedia tinggi dalam larutan tanah atau kompleks permukaan liar yang menyebabkan tanaman dapat menyerap kalium dalam jumlah yang berlebihan. Kalium sebagian besar berada dalam larutan sel yang berfungsi mengatur keseimbangan garam, air, tekanan osmotik sel tanaman serta membantu proses pembentukan dan translokasi karbohidrat. Kalium juga berfungsi meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, merangsang perkembangan akar, dan mengatur serapan hara lain (Halim, 2012).

Unsur K mempunyai fungsi yang sangat penting pada proses fisiologis tanaman seperti aktifitas enzim, pengaturan sel turgor, fotosintesis, transport hasil fotosintesis, transport hara dan air, serta metabolisme pati dan protein. Di samping itu unsur K juga berfungsi dalam permeabilitas dinding sel tanaman. Apabila

(27)

tanaman kekurangan unsur K akan dapat menurunkan kekuatan batang dan

ketahanan tanaman terhadap terjangkitnya hama dan penyakit (Sari, 2013).

Jesus (2012) menambahkan Unsur hara Kalium sangat penting untuk tanaman kelapa sawit, karena unsur K paling banyak ditransfer ke tandan buah. Pada tanaman muda, unsur kalium nyata memperbesar perkembangan batang dan mempercepat pertumbuhan vegetatif. Pemupukan kalium pada tanah yang kandungan pasirnya tinggi bisa meningkatkan produksi tandan kelapa sawit

Magnesium memiliki banyak fungsi di dalam proses metabolisme pada kelapa sawit diantaranya mengaktifkan enzim yang berkaitan dengan matabolisme karbohidrat, enzim pernafasan dan bekerjanya sebagai katalisator. Disamping itu Mg berperan terhadap metabolisme nitrogen. Makin tinggi tanaman menyerap Mg, makin tinggi pula kadar protein dalam akar maupun bagian atas tanaman. Mg berperan sebagai atom pusat dari molekul klorofil, pigmen hijau di daun yang berfungsi merubah energi cahaya menjadi energi kimia selama fotosintesis. Antara 10-35% dari total kandungan Mg pada kelapa sawit terkandung dalam molekul klorofil, tergantung suplai dari kelapa sawit. Pada kondisi kahat dan intensitas cahaya yang rendah, kandungan Mg di dalam klorofil menjadi kurang dari 50% dari Mg total tanaman. Mg membentuk chelat dengan ADP, ATP dan asam-asam organik, dan oleh karena itu, penting untuk ratusan reaksi enzimatik. Magnesium membentuk suatu jembatan antara ATP dan molekul enzim dan dibutuhkan untuk fosforilasi dalam reaksi-reaksi sintetis dan pembongkaran pada fotosintesis, dan pada fosforilasi oksidatif pada respirasi. Mg merupakan kofaktor untuk banyak enzim yang mengaktifkan forforilasi dalam glikolisis dan dalam daur asam trikarboksilat. Karena Mg dibutuhkan untuk mengaktifkan RuBP karboksilase, laju

(28)

pengaktifan ini terbatas dalam proses fotosintesis. Metabolisme nitrogen dan sintesis protein juga tergantung pada adanya Mg, dan diperkirakan Mg menunjang integritas ribosom (Gardner et al. 1991).

Pengambilan Mg2+ dilakukan secara aktif dan pasif. Transpor terutama terjadi di dalam aliran transpirasi. Walaupun demikian, Mg dalam tanaman lebih mobil dibandingkan dengan Ca, dan terdapat lebih banyak Mg di dalam floem (transport aktif). Kadar Mg pada tanaman kelapa sawit, berkisar dari 0,16% pada tanaman dewasa dan 0,22% pada bibit kelapa sawit. Kadar Mg pada biomassa kelapa sawit dengan kadar tinggi di dalam jaringan muda (misalnya daun) dan kadar

rendah di akar. Tandan buah kelapa sawit mengandung 0,09 - 0.,34 Mg (Ningsih, 2013)

Tanaman kelapa sawit yang mengalamigejala kahat Mg disebut dengan istilah “orange frond disease”. Gejala ditandai dengan munculnya klorosis pada anak daun (leaflet) berupa bercak atau garis tipis berwarna kuning. Bercak terdapat diantara tulang-tulang daun pada bagian ujung anak daun, selanjutnya berkembang (menyebar) ke arah pangkal daun diikuti perubahan warna bercak dari kuning menjadi orange. Gejala dapat mengenai sebagian atau seluruh anak daun dari satu pelepah tergantung dari tingkat kekahatan. Pada tingkat kekahatan berat khlorosis diikuti oleh nekrosis. Adanya pengaruh naungan dapat menunjukkan ciri khas gejala kahat Mg pada tanaman kelapa sawit. Anak daun atau sebagian anak daun yang terlindungi dari sinar matahari langsung tidak menunjukkan gejala klorosis (Ningsih, 2013).

(29)

Pupuk NPKMg

Pupuk anorganik dapat dibedakan menjadi pupuk tunggal, pupuk majemuk dan pupuk lengkap. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu hara, misalnya Urea yang mengandung unsur N, TSP dan SP36 yang mengandung unsur P, dan MOP dan KCL yang mengandung unsur K. Pupuk majemuk adalah pupuk yang memiliki kandungan lebih dari satu atau beberapa unsur hara, misalnya NP, NK, PK, NPK ataupun NPKMg. Sedangkan pupuk lengkap ialah pupuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro (Lestari, 2010).

Urea ialah pupuk padatan kristalin putih yang mengandung N tinggi yaitu sekitar 45 - 46%. Sifat urea yang cepat terlarut menjadikannya cepat tersedia bagi tanaman. Namun, sifatnya ini pula yang dapat merugikan. Jika urea diaplikasikan di permukaan dan tidak dimasukkan dalam tanah, kehilangan N ke udara bisa mencapai 40% dari N yang telah diaplikasikan. Oleh karena itu, efisiensi penggunaan pupuk perlu dilakukan (Ramadhani et al., 2016).

Pupuk majemuk memiliki bentuk yang berbeda-beda, dapat berbentuk bubuk, butiran (granul), tablet maupun briket. Bentuk dari pupuk majemuk ini biasanya dibuat sesuai dengan kebutuhan tanaman, misalnya pupuk dengan bentuk bubuk cepat larut dalam air, pupuk ini sesuai untuk tanaman yang berumur pendek.

Pupuk dengan bentuk tablet pada umumnya mempunyai daya larut unsur hara dalam air yang lambat, pupuk tablet biasanya digunakan untuk pemupukan tanaman keras (tanaman tahunan) (Saribun, 2008).

Sizing dan kemasifan pupuk berfungsi sebagai salah satu pengendali sifat pupuk slow release. Formulasi sifat fisik pupuk pada bentuk pupuk diarahkan pada ukuran partikel pupuk yang lebih besar yang memiliki pengaruh terhadap pelarutan

(30)

pupuk yang secara relatif lebih lambat dibanding dengan pupuk yang memiliki diameter partikel lebih kecil. Formulasi kecepatan kelarutan pupuk menjadi penting berkaitan dengan kemampuan pupuk dalam menyediakan hara bagi tanaman yakni slow release dan fast release. Sifat kelarutan yang terukur akan menjadikan nutrisi dalam pupuk tidak mudah terbawa oleh pergerakan air yang berlebihan, sehingga nutrisi relatif lebih lama tersimpan dalam tanah dan memberikan peluang lebih banyak diserap oleh tanaman (Gustomo et al., 2017).

Pupuk granul merupakan pupuk organik yang diproses lebih lajut melalui serangkaian proses, yaitu pencampuran bahan baku utama dengan bahan baku tambahan (filler), proses granulasi, pengairan, pendinginan dan penyaringan sehingga menjadi bentuk butiran atau granul (Sahwan et al., 2011). Pupuk berbentuk briket merupakan pupuk yang mengandung filler abu ketel yang mempunyai kapasitas penyimpanan air yang tinggi sehingga memungkinkan abu ketel menyimpan larutan unsur hara (Supriyadi et al., 2017). Briket merupakan gumpalan atau padatan yang terbuat dari bahan yang berukuran kecil yang dimampatkan dengan tekanan (Usfiani et al., 2017). Menurut Sudaryono (2001) penggunaan pupuk organik dalam bentuk briket di lahan marginal dapat meningkatkan kadar bahan organik tanah, serta dapat meningkatkan kapasitas menyimpan air.

Pemupukkan kelapa sawit pada pembibitan utama lebih dianjurkan menggunakan pupuk majemuk, karena lebih menurunkan biaya transportasi dan biaya pemupukan yang lebih rendah serta pemberian beberapa unsur sekaligus akan efektif dibandingkan dengan pemberian pupuk tunggal. Komposisi pupuk majemuk (N:P:K:Mg) yang digunakan dengan perbandingan 12:12:17:2 sebanyak 230

(31)

gram/bibit (Syahfitri, 2007). Pupuk majemuk digunakan pada pembibitan kelapa sawit karena lebih efisien dan murah. Ramadhani (2014) merekomendasikan pupuk NPKMg 15:15:6:4 atau 12:12:17:2 setiap 2 minggu dengan total dosis 158 g/bibit selama 8 bulan.

Penyiraman

Pemberian air terhadap tanaman hendaknya sesuai dengan kebutuhan air tanaman yang sesungguhnya, sebab kekurangan atau kelebihan pemberian air memberikan pengaruh kurang baik bagi tanaman. Air merupakan faktor yang penting bagi tanaman. Disamping sebagai bahan baku proses fotosintesis, air bertindak pula sebagai pelarut, reagensia pada bermacam-macam reaksi dan sebagai pemelihara turgor tanaman. Cekaman air pada tanaman kelapa sawit ditunjukkan oleh terhambatnya daun-daun membuka, terjadinya pengeringan daun muda, rusaknya hijau daun, dan mempercepat kematian tanaman (Maryani, 2012).

Salisbury dan Ross (1997) menyatakan bahwa ketersediaan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman sangat penting. Peranan air pada tanaman sebagai pelarut berbagai senyawa molekul organik (unsur hara) dari dalam tanah kedalam tanaman, transportasi fotosintat dari sumber (source) ke limbung (sink), menjaga turgiditas sel diantaranya dalam pembesaran sel dan membukanya stomata, sebagai penyusun utama dari protoplasma serta pengatur suhu bagi tanaman. Apabila ketersediaan air tanah kurang bagi tanaman maka akibatnya air sebagai bahan baku fotosintesis, transportasi unsur hara ke daun akan terhambat sehingga akan berdampak pada produksi yang dihasilkan.

Gardner et al (1991) menjelaskan bahwa proses pertambahan tinggi terjadi karena peningkatan jumlah sel serta pembesaran ukuran sel. Tanaman yang

(32)

mengalami defisit (kekurangan) air, turgor pada sel tanaman menjadi kurang maksimum, akibatnya penyerapan hara dan pembelahan sel terhambat. Sebaliknya jika kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi secara optimal maka peningkatan pertumbuhan tanaman akan maksimal karena produksi fotosintat dapat dialokasikan ke organ tanaman. Terganggunya biosintesis protein dan klorofil akibat cekaman air mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman.

Bonggol (batang bagian bawah yang membesar) merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya tanaman yang masih muda. Salisbury dan Ross (1997) menyatakan bahwa bertambahnya ukuran organ tanaman secara keseluruhan merupakan akibat dari bertambahnya jaringan dan ukuran sel. Menurut Jumin (2012) air sangat berfungsi dalam pengangkutan atau transportasi unsur hara dari akar ke jaringan tanaman, sebagai pelarut garam-garaman, mineral serta sebagai penyusun jaringan tanaman.

(33)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik masyarakat yang terletak di Sunggal, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Sedang dengan ketinggian ± 37 meter diatas permukaan laut, Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2020.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit kelapa sawit dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) grup varietas Yangambi, yaitu hasil persilangan Dura dan Pisifera (DxP) Yangambi sebagai objek pengamatan, topsoil sebagai media tanam, polybag ukuran 10 kg tanah, pupuk NPKMg Briket 12:12:17:2, pupuk NPKMg Granular 15:15:6:4 pupuk NPKMg Granular 12:12:17:2, pupuk Urea, pupuk Triple Super Phosphate (TSP), pupuk Muriate of Potash (MOP), pupuk Kieserit, kertas label perlakuan, dan plastik klip.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, meteran, timbangan analitik, jangka sorong digital, gelas ukur, kalkulator, bambu, oven, amplop coklat dan alat tulis untuk mencatat data pengamatan.

Metode Penelitian

Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan perlakuan:

Faktor I : Jenis Pupuk (P), yang terdiri dari 4 taraf : P0: Tanpa Pemupukan (Kontrol)

P1: Pupuk NPKMg Briket (12:12:17:2)

P2: Pupuk NPKMg Granular (15:15:6:4 dan 12:12:17:2)

(34)

P3: Pupuk Tunggal (Urea, TSP, MOP dan Kieserit) Faktor II : Frekuensi Penyiraman (F), yang terdiri dari 2 taraf :

F1 : Disiram satu kali sehari (1x Sehari) F2 : Disiram dua kali sehari (2x Sehari)

Sehingga diperoleh 8 kombinasi perlakuan sebanyak yaitu:

P0F1 P1F1 P2F1 P3F1 P0F2 P1F2 P2F2 P3F2

Jumlah ulangan : 4 Ulangan

Jumlah plot : 32 plot

Jumlah tanaman/plot : 8 tanaman Jumlah sampel/plot : 8 sampel Jumlah sampel seluruhnya : 256 sampel Jumlah sampel destruktif/plot : 3 sampel Jumlah sampel destruktif seluruhnya : 96 sampel Jumlah tanaman seluruhnya : 256 tanaman

Ukuran plot : 180 cm x 100 cm

Jarak polybag : 20 cm x 20 cm

Jarak antar plot : 50 cm

Jarak antar blok : 50 cm

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan metode linier sebagai berikut :

Yij =  + αi + βj + (αβ)ij + ijk

i = 1,2,3,4 j = 1,2 k = 1,2,3,4

(35)

Yijk = Nilai pengamatan dari perlakuan jenis pupuk (P) pada jenis ke-i, perlakuan frekuensi penyiraman (F) pada frekuensi ke-j dan ulangan ke-k

= Nilai tengah umum

αi = Pengaruh perlakuan jenis pupuk (P) pada jenis ke-i

βj = Pengaruh perlakuan frekuensi penyiraman (F) pada frekuensi ke-j

(αβ)ij = Pengaruh interaksi dari perlakuan jenis pupuk (P) pada jenis ke-i dan perlakuan frekuensi penyiraman (P) pada frekuensi ke-j

ijk = Pengaruh galat/error pada perlakuan jenis pupuk (P) jenis ke-i, perlakuan frekuensi penyiraman (F) pada frekuensi ke-j dan ulangan ke-k

Jika hasil sidik ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka analisis dilanjutkan dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

(36)

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Areal Pembibitan

Lahan penelitian dipersiapkan sebaik mungkin. Lahan yang digunakan harus adalah lahan dengan topografi datar, terbuka, strategis dan aman. Areal dibersihkan dari gulma, sisa akar tanaman dan kotoran lainnya serta dirapikan atau diratakan. Dibuat plot percobaan dengan ukuran 180 cm x 130 cm dengan jarak antar baris 50 cm dan jarak antar plot dalam baris 50 cm.

Persiapan Media Tanam

Media tanam yang digunakan adalah topsoil. Topsoil diayak dan diaduk hingga homogen. Polybag yang digunakan adalah polybag berukuran 35 cm x 40 cm. Polybag diisi dengan top soil yang sudah dihomogenkan sebanyak 10 kg.

Polybag diletakkan dan disusun dengan jarak antar polybag 20 cm x 20 cm pada plot percobaan.

Penanaman

Setiap polybag ditanam 1 bibit kelapa sawit Main Nursery berumur 4 bulan.

Bibit yang digunakan adalah bibit dari grup varietas Yangambi yang bertandan besar yaitu varietas DxP Yangambi. Bibit yang digunakan harus memiliki pertumbuhan yang seragam pada tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang sehingga perlu dilakukan pengukuran terhadap parameter tersebut sesuai standar pertumbuhan bibit kelapa sawit normal yaitu tinggi 26 ± 1.3 cm, jumlah daun 4.5 ± 0.5 helai dan diameter batang 13 ± 0.2 mm. Bibit dipindahkan dari polybag pre- nursery, tanah pada polybag pre-nursery ikut dipindahkan agar tidak mengganggu perakaran tanaman kemudian dimasukkan topsoil hingga ketinggian 2 cm dari ujung tepi polybag.

(37)

Pemupukan

Pupuk yang digunakan berupa pupuk NPKMg. Briket (12:12:7:2), pupuk NPKMg. Granular (15:15:6:4 dan 12:12:7:2) dan pupuk tunggal (Urea, TSP, MOP dan Kiserit) sesuai dengan perlakuan pada setiap unit percobaan. Untuk perlakuan P1 (pupuk NPKMg. Briket) hanya dilakukan satu kali pemupukan pada 16 MST dengan dosis sesuai rekomendasi dari produsen pupuk yaitu 100 g/bibit dan diaplikasikan dengan cara dibenamkan sedalam ± 3 cm dari permukaan tanah sedangkan dosis pemupukan untuk perlakuan P2 (pupuk NPKMg. Granular) didasarkan pada petunjuk teknis pembibitan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan P3 (pupuk tunggal) didasarkan pada kesetaraan dosis dari pupuk granular yang di aplikasikan (Dosis pemupukan dapat dilihat pada lampiran 2 dan lampiran 3).

Pupuk granular dan tunggal diaplikasikan dengan interval 1 minggu dari tanaman berumur 16 hingga 20 MST dan seterusnya dengan interval 2 minggu hingga berumur 32 MST, diaplikasikan dengan cara ditabur merata dipermukaan tanah.

Penyiraman

Penyiraman dilakukan sesuai perlakuan pada setiap unit percobaan yaitu F1 disiram satu kali pada pagi hari dan F2disiram dua kali pada pagi dan sore hari, volume air yang diberikan yaitu 1 L untuk sekali penyiraman di main nursery.

Namun juga melihat kondisi lingkungan. Bila telah terjadi hujan atau sedang terjadi maka tidak perlu dilakukan penyiraman.

Penyiangan

Penyiangan gulma dilakukan secara manual yaitu dengan mencabut gulma yang ada di dalam polybag dan di dalam lahan percobaan. Penyiangan dilakukan 2 kali seminggu dan disesuaikan dengan kondisi medai tanam dan lahan

(38)

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dua minggu sekali sesuai dengan kondisi tanaman pada lahan percobaan tersebut. Pengendalian hama yang dilakukan adalah dengan cara mekanik yaitu mengutip ulat. Pengendalian penyakit yang dilakukan adalah dengan menggunting atau membuang bagian daun yang busuk dan dimusnahkan dengan cara dibakar. Untuk Tindakan pencegahan dilakukan penyemprotan fungisida dengan merek dagang Antracol dengan dosis 4 mg/l.

Parameter Pengamatan

Pertambahan Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah yang telah diberi patok standar sampai daun tertinnggi dengan interval 1 minggu secara manual menggunkan meteran. Pengukuran dilakukan mulai dari 17 MST sampai 32 MST.

Pertambahan Jumlah Daun (helai)

Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna membentuk helaian daun. Perhitungan pertambahan jumlah daun dilakukan dengan interval 1 minggu, pengukuran dilakukan mulai dari 17 MST sampai 32 MST.

Pertambahan Diameter Batang (mm)

Diameter batang diukur pada ketinggian 1 cm diatas patok standar dengan interval 2 minggu menggunakan alat berupa jangka sorong digital. Pengukuran dilakukan mulai dari 18 MST sampai 32 MST.

Total Luas Daun (cm2)

Pengukuran total luas daun dilakukan pada akhir penelitian yaitu setelah bibit berumur 32 MST. Panjang daun diukur dari pangkal sampai ujung daun dan

(39)

lebar daun diukur pada bagian tengah daun yang terlebar. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan penggaris atau meteran. Luas daun dapat dihitung dengan menggunakan rumus A = P x L x k, dimana : A = Luas daun (cm2), P = Panjang daun (cm), L = Lebar daun (cm), dan k = konstanta = 0,57 (daun belum membelah/lanset pada tahap pre nursery), 0,51 (untuk daun yang telah membelah) dihitung luas setiap daun dari satu tanaman kemudian ditotalkan seluruhnya.

Bobot Kering Tajuk (g)

Pengukuran dilakukan pada akhir penelitian yaitu setelah bibit berumur 32 MST. Tanaman dibersihkan dari tanah kemudian dipisahkan tajuk dan akarnya.

Lalu tajuk tanaman dimasukkan kedalam amplop coklat yang telah diberi label sesuai perlakuan dan diovenkan pada suhu 70 0C selama 48 jam atau sampai tajuk tidak mengalami penurunan berat lagi. Kemudian ditimbang bobot keringnya dengan timbangan analitik.

Bobot Kering Akar (g).

Pengukuran dilakukan pada akhir penelitian yaitu setelah bibit berumur 32 MST. Akar tanaman yang telah dipisahkan dari tajuk kemudaian dicuci hingga bersih kemudian dikering anginkan. Akar kemudian dimasukkan kedalam amplop coklat yang telah diberi label sesuai perlakuan dan diovenkan pada suhu 70 0C selama 48 jam atau sampai akar tidak mengalami penurunan berat lagi. Kemudian ditimbang bobot keringnya dengan timbangan analitik.

(40)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Tinggi Tanaman

Data pengamatan dan sidik ragam pertambahan tinggi tanaman dapat dilihat pada lampiran 8-41 yang menunjukkan bahwa perlakuan jenis pupuk NPKMg berpengaruh tidak nyata pada 18-23, 25 dan 26 MST, namun berpengaruh nyata pada 17, 24 dan 27-32 MST, sedangkan perlakuan frekuensi penyiraman berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST.

Tabel 1. Data tinggi tanaman (cm) bibit kelapa sawit pada umur 16 MST MST Jenis Pupuk NPKMg

Frekuensi Penyiraman

Rataan F1

(1x sehari)

F2 (2x sehari) 16

P0 (Kontrol) 28,12 27,69 27,90

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 27,54 26,77 27,15 P2 (Pupuk NPKMg Granular) 26,98 26,62 26,80

P3 (Pupuk Tunggal) 26,97 26,56 26,77

Rataan 27,40 26,91

Tabel 2. Rataan pertambahan tinggi tanaman (cm) dengan perlakuan jenis pupuk NPKMg dan frekuensi pada umur 17-32 MST

MST Jenis Pupuk NPKMg

Frekuensi Penyiraman

Rataan F1

(1x sehari)

F2 (2x sehari) 17

P0 (Kontrol) 1,19 0,94 1,07b

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,91 0,93 0,92b

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,34 1,46 1,40a

P3 (Pupuk Tunggal) 0,92 1,14 1,03b

Rataan 1,09 1,12

18

P0 (Kontrol) 0,82 0,93 0,88

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,83 0,81 0,82

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,02 0,90 0,96

P3 (Pupuk Tunggal) 0,88 1,06 0,97

Rataan 0,89 0,93

(41)

Tabel 1. Lanjutan

MST Jenis Pupuk NPKMg

Frekuensi Penyiraman

Rataan F1

(1x sehari)

F2 (2x sehari) 19

P0 (Kontrol) 0,90 0,84 0,87

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,96 0,90 0,93

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 0,97 0,80 0,88

P3 (Pupuk Tunggal) 0,87 1,03 0,95

Rataan 0,92 0,89

20

P0 (Kontrol) 0,88 0,82 0,85

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,90 0,83 0,87

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,04 0,88 0,96

P3 (Pupuk Tunggal) 1,02 0,91 0,97

Rataan 0,96 0,86

21

P0 (Kontrol) 0,87 0,78 0,83

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,95 0,81 0,88

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 0,91 0,97 0,94

P3 (Pupuk Tunggal) 0,90 1,04 0,97

Rataan 0,91 0,90

22

P0 (Kontrol) 0,86 0,92 0,89

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,91 0,90 0,90

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 0,91 1,06 0,98

P3 (Pupuk Tunggal) 1,06 1,03 1,05

Rataan 0,94 0,98

23

P0 (Kontrol) 0,90 0,87 0,88

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,92 0,94 0,93

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 0,97 0,91 0,94

P3 (Pupuk Tunggal) 1,01 1,26 1,14

Rataan 0,95 1,00

24

P0 (Kontrol) 0,89 1,02 0,96b

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,16 1,09 1,12ab

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,24 1,21 1,23a

P3 (Pupuk Tunggal) 1,32 1,33 1,32a

Rataan 1,15 1,16

25

P0 (Kontrol) 1,57 1,53 1,55

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,58 1,70 1,64

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,87 1,87 1,87

P3 (Pupuk Tunggal) 2,18 1,90 2,04

Rataan 1,80 1,75

26

P0 (Kontrol) 2,07 2,09 2,08

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 2,20 2,22 2,21

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 2,46 2,87 2,67

P3 (Pupuk Tunggal) 2,31 3,06 2,68

Rataan 2,26 2,56

(42)

Tabel 1. Lanjutan

MST Jenis Pupuk NPKMg

Frekuensi Penyiraman

Rataan F1

(1x sehari)

F2 (2x sehari) 27

P0 (Kontrol) 2,31 1,51 1,91b

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 3,14 1,88 2,51a

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 2,97 1,64 2,30ab

P3 (Pupuk Tunggal) 3,11 1,82 2,47a

Rataan 2,88 1,71

28

P0 (Kontrol) 1,83 2,02 1,92b

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 3,60 2,97 3,28a

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 2,93 3,19 3,06a

P3 (Pupuk Tunggal) 3,21 3,53 3,37a

Rataan 2,89 2,92

29

P0 (Kontrol) 1,79 2,13 1,96b

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 2,40 2,22 2,31b

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 3,19 3,02 3,11a

P3 (Pupuk Tunggal) 3,61 3,59 3,60a

Rataan 2,75 2,74

30

P0 (Kontrol) 1,79 1,70 1,74b

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 2,69 2,83 2,76a

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 3,61 2,90 3,26a

P3 (Pupuk Tunggal) 3,13 3,07 3,10a

Rataan 2,81 2,62

31

P0 (Kontrol) 2,37 2,27 2,32c

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 3,20 3,79 3,50b

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 4,64 4,31 4,48a

P3 (Pupuk Tunggal) 4,79 4,43 4,61a

Rataan 3,75 3,70

32

P0 (Kontrol) 1,70 1,72 1,71b

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 2,68 3,32 3,00a

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 2,62 2,81 2,72a

P3 (Pupuk Tunggal) 3,12 2,91 3,02a

Rataan 2,53 2,69

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kelompok kolom dan waktu pengamatan yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada 32 MST perlakuan jenis pupuk menghasilkan pertambahan tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan P3 (pupuk tunggal) yaitu 3,02 cm yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan P1 (3,00 cm) dan P2 (2,72 cm), namun berbeda nyata dengan perlakuan P0 (1,71 cm).

(43)

Perlakuan frekuensi penyiraman menunjukkan kecenderungan pertambahan tinggi tanaman yang lebih tinggi pada perlakuan F2(2x sehari) yaitu 2,69 cm yang berpengaruh tidak nyata terhadap perlakuan F1 (1x sehari) yaitu 2,53 cm.

Kombinasi perlakuan jenis pupuk NPKMg dan frekuensi penyiraman menghasilkan interaksi yang berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman pada 17-32 MST. Namun pada 32 MST kombinasi perlakuan P1F2 cenderung menghasilkan rataan pertambahan yang lebih tinggi yaitu 3,32 cm dibandingkan kombinasi perlakuan lainya yaitu secara berturut-turut P3F1 (3,12 cm), P3F2 (2,91 cm), P2F2 (2,81 cm), P1F1 (2,68 cm), P2F1 (2,62 cm), P0F2 (1,72 cm) dan P0F1 (1,70 cm).

Jumlah Daun

Data pengamatan dan sidik ragam pertambahan jumlah daun dapat dilihat pada lampiran 42-75 yang menunjukkan bahwa perlakuan jenis pupuk NPKMg berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST dan perlakuan frekuensi penyiraman berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST.

Tabel 3. Data jumlah daun (helai) bibit kelapa sawit pada umur 16 MST MST Jenis Pupuk NPKMg

Frekuensi Penyiraman

Rataan F1

(1x sehari)

F2 (2x sehari) 16

P0 (Kontrol) 28,12 27,69 27,90

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 27,54 26,77 27,15 P2 (Pupuk NPKMg Granular) 26,98 26,62 26,80

P3 (Pupuk Tunggal) 26,97 26,56 26,77

Rataan 27,40 26,91

(44)

Tabel 4. Rataan pertambahan jumlah daun (helai) dengan perlakuan jenis pupuk NPKMg dan frekuensi pada umur 16-32 MST

MST Jenis Pupuk NPKMg

Frekuensi Penyiraman

Rataan F1

(1x sehari)

F2 (2x sehari) 16

P0 (Kontrol) 4,31 4,25 4,28

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 4,34 4,19 4,27

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 4,28 4,16 4,22

P3 (Pupuk Tunggal) 4,28 4,38 4,33

Rataan 4,30 4,24

17

P0 (Kontrol) 1,00 1,00 1,00

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,00 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,25 1,13

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,00 1,00

Rataan 1,00 1,06

18

P0 (Kontrol) 1,00 0,75 0,88

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,00 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,00 1,00

Rataan 1,00 0,94

19

P0 (Kontrol) 0,75 1,00 0,88

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,06 1,00 1,03

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,06 1,03

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,00 1,00

Rataan 0,95 1,02

20

P0 (Kontrol) 0,81 1,00 0,91

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,75 1,25 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,13 1,06

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,05 1,03

Rataan 0,89 1,11

21

P0 (Kontrol) 1,08 1,00 1,04

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,00 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,00 1,00

Rataan 1,02 1,00

22

P0 (Kontrol) 1,00 1,00 1,00

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,00 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,04 1,05 1,05

Rataan 1,01 1,01

23

P0 (Kontrol) 1,00 0,75 0,88

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,08 1,00 1,04

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,00 1,00

Rataan 1,02 0,94

(45)

Tabel 4. Lanjutan

MST Jenis Pupuk NPKMg

Frekuensi Penyiraman

Rataan F1

(1x sehari)

F2 (2x sehari) 24

P0 (Kontrol) 1,00 1,00 1,00

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,05 1,03

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,05 1,00 1,03

Rataan 1,01 1,01

25

P0 (Kontrol) 1,00 1,00 1,00

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,25 1,13

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,08 1,04

Rataan 1,00 1,08

26

P0 (Kontrol) 1,06 1,06 1,06

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,00 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,05 1,03

P3 (Pupuk Tunggal) 1,04 1,17 1,11

Rataan 1,03 1,07

27

P0 (Kontrol) 1,00 1,00 1,00

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,00 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,13 1,00 1,07

Rataan 1,03 1,00

28

P0 (Kontrol) 1,00 1,18 1,09

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,14 1,04 1,09

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,09 1,04 1,06

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,10 1,05

Rataan 1,06 1,09

29

P0 (Kontrol) 0,81 1,00 0,91

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 0,75 1,00 0,88

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 0,75 0,88

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,06 1,03

Rataan 0,89 0,95

30

P0 (Kontrol) 1,00 1,00 1,00

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,08 1,04

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,00 1,00

P3 (Pupuk Tunggal) 1,00 1,25 1,13

Rataan 1,00 1,08

31

P0 (Kontrol) 1,00 1,00 1,00

P1 (Pupuk NPKMg Briket) 1,00 1,00 1,00

P2 (Pupuk NPKMg Granular) 1,00 1,10 1,05

P3 (Pupuk Tunggal) 1,05 1,04 1,05

Rataan 1,01 1,04

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran yang di lakukan selama 5 bulan terhadap pertumbuhan bibit sukun yang diberikan perlakuan mulsa organik anyaman daun sawit dan

Interaksi antara komposisi media tanam dan interval penyiraman air berpengaruh nyata terhadap volume akar tertinggi volume akar bibit jambu madu deli hijau dimana

sekam padi dan frekuensi penyiraman tidak berpengaruh meningkatkan tinggi tanaman 2- 12 MST, diameter batang 3-12 MST, jumlah daun, total luas daun, bobot basah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsa organik anyaman daun sawit dan interval penyiraman berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit sukun kecuali pada parameter diameter

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon penambahan sabut kelapa pada media tanam dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di main

Chriso Juanda , “Penambahan Sabut Kelapa Pada Media Tanam Dan Frekuensi Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit ( Elaeis guineensis Jacq. ) Di Main Nursey” ,

Step pertama yaitu penambahan sabut kelapa terdiri dari 1/5 sabut kelapa dan 1/10 sabut kelapa, step kedua yaitu perlakuan frekuensi penyiraman terdiri dari sekali penyiraman ,dan

Untuk mengetahui apakah pada interval penyiraman 14 hari bibit kelapa sawit yang diaplikasi abu boiler pabrik pengolahan kelapa sawit masih dapat tumbuh