IDENTIFIKASI ARENA AKSI, ATRIBUT KOMUNITAS
DAN RULES IN USE UNTUK PENGEMBANGAN INSTITUSI
Kajian kedua ini ditujukan untuk mengidentifikasi arena aksi dan faktor- faktor eksogen pada variabel atribut komunitas dan aturan yang digunakan (rules in use), yang mempengaruhi perilaku para aktor dalam pengelolaan SWP DAS Arau sehingga dari informasi tersebut bisa dikembangkan rancangan model insti- tusi pengelolaan SWP DAS Arau yang terpadu dan mandiri, khususnya dalam ke- giatan pengelolaan hutan dan kelembagaan untuk penerapan pengembangan in- sentif dari dana PES dalam kegiatan konservasi dan RHL, agar dapat dicapai per- forma pengelolaan SWP DAS Arau yang baik.
Penggalian informasi akan difokuskan pada lokasi-lokasi yang secara teknis potensial untuk pengembangan kegiatan tersebut, sebagaimana yang telah dibahas pada Kajian 1, melalui penelaahan arena aksi dalam pengelolaan DAS, yang diba- tasi pada pengelolaan kawasan lindung, khususnya pengelolaan hutan pada hulu DAS, meliputi insentif pengelolaan lahan, tingkat kesejahteraan masyarakat, pembiayaan konservasi dan RHL, kepastian hak dalam pengelolaan hutan, dan aksi kolektif dalam pengelolaan hutan, termasuk keterlibatan masyarakat dan pe- ran para pihak dalam pengelolaan hutan; atribut komunitas; dan aturan yang digu- nakan dalam pengelolaan hutan/DAS, baik aturan formal maupun norma adat.
Dari 5 (lima) kecamatan yang berbatasan dengan kawasan hutan yang merupakan kawasan resapan air pada SWP DAS Arau, maka untuk kajian kelembagaan ini dipilih satu lokasi pada daerah hulu setiap setiap DAS seperti di- sajikan pada Tabel 36. Berdasarkan wilayah komunitas masyarakat adat, maka ke
tiga lokasi terpilih tersebut berada pada tiga wilayah ke-Nagari-an, yaitu (1) Nagari Koto Tangah; (2) Nagari Limau Manih; dan (3) Nagari Lubuk
Kilangan, sehingga penggalian informasi kelembagaan adat difokuskan pada wilayah tiga Nagari tersebut. Dari rangkaian kegiatan penelitian, baik dari wawancara dengan Narasumber, hasil pengamatan dan data sekunder yang didapat maka hasilnya dipaparkan dalam narasi di bawah ini.
Tabel 36 Lokasi untuk kajian aspek kelembagaan
No Lokasi Kelurahan Nagari Kecamatan DAS
1 Indarung;
Tarantang Indarung dan
Tarantang Lubuk Kilangan Lubuk Kilangan Batang Arau 2 Lambung Bukit;
Limau Manih Selatan
Limau Manih Limau Manih Pauh Batang
Kuranji
3 Batu Gadang;
Air Dingin Lubuk
Minturun Koto Tangah Koto Tangah Batang Air Dingin
Arena Aksi Pengelolaan Kawasan Lindung pada Hulu SWP DAS Arau Arena aksi dibatasi pada pengelolaan hutan di hulu SWP DAS Arau seperti disajikan pada Gambar 8. Kawasan lindung (KL) pada hulu SWP DAS Arau ter- diri dari Hutan Suaka Alam, Hutan Lindung dan lahan masyarakat. Tutupan lahan KL pada hulu DAS didominasi oleh hutan, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campur semak belukar, pemukiman dan pada DAS Batang Arau terdapat lahan pertambangan dan industri. Dari hasil pengamatan lapangan, wawancara dan analisis data hasil survey (jumlah responden petani pemilik lahan pada kawas- an lindung 120 orang, petugas instansi terkait 15 orang, swasta 5 orang, LSM 3 orang, tokoh adat 9 orang), serta data terkait lainnya, maka kondisi pengelolaan KL pada lokasi kajian disampaikan sebagai berikut.
Gambar 8 Arena Aksi Kehutanan pada SWP DAS Arau
Karakter yang menjadi perhatian dalam arena aksi untuk mengembangkan institusi pengelolaan DAS/hutan berkelanjutan adalah :
(1) Aspek ruang, pengelolaan DAS dan kawasan hutan meliputi areal yang luas dalam konteks wilayah pengelolaan sehingga perlu kapasitas sumberdaya manusia (SDM), waktu dan dana yang besar untuk mengawasi pengelolaannya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, saat ini, kapasitas pengawasan, pendanaan dan SDM dalam pengelolaan hutan pada SWP DAS Arau oleh Pemerintah Kota Padang masih lemah dan tidak memadai, hanya ada 15 (lima belas) orang tenaga polisi hutan untuk mengawasi hutan seluas hampir 30.000 hektar dengan fasilitas pendanaan yang terbatas, sehingga aliran manfaat hutan tidak terkontrol. Hal ini terlihat dengan adanya ladang-ladang masyarakat dalam kawasan hutan lindung (HL) dan hutan suaka alam dan wisata (HSAW) serta terus berlangsungnya penebangan liar dan pengambilan hasil hutan oleh masyarakat sekitar dan masyarakat dari luar.
(2) Aspek waktu, kegiatan pengelolaan hutan berorientasi jangka panjang karena membutuhkan waktu yang lama untuk berproduksi dan mencapai break event point serta menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu harus ada insentif bagi pengelola untuk melaksanakan pengelolaan hutan berkelanjutan. Faktanya, saat ini, tidak ada insentif yang memadai bagi pemilik lahan kawasan lindung pada SWP DAS Arau untuk mengelola lahannya dengan tutupan hutan secara berkelanjutan. Responden menganggap pengelolaan lahan untuk usaha kehutanan tidak menguntungkan karena biaya transaksi yang tinggi dan prosedur perijinan yang rumit dalam pemanenan dan pemasaran hasil hutan kayu, sekalipun berasal dari lahan masyarakat, serta jangka waktu panen yang lama. Adanya kebijakan Walikota yang mengeluarkan himbauan (instruksi lisan kepada Dinas Pertanian Peternakan Kehutanan dan Perkebunan (Distannakhutbun) Kota Padang) untuk tidak menerbitkan surat keterangan angkutan untuk kayu rakyat karena dikhawatirkan akan memicu perambahan HL, kontradiktif dengan upaya pengembangan hutan rakyat untuk memenuhi kebutuhan kayu yang kian meningkat.
(3) Aspek jaminan hak kepemilikan (tenure security) lahan kawasan hutan harus
tinggi sehingga aliran manfaatnya terkontrol dan biaya penegakan hak rendah.
Kepastian hak mendorong seseorang untuk meningkatkan sediaan (stock) barang modalnya karena adanya jaminan dan rasa aman untuk berinvestasi dalam jangka panjang. Faktanya, saat ini, pada kawasan lindung SWP DAS Arau terjadi konflik tumpang tindih kawasan hutan ulayat dan hutan negara karena tidak diakuinya hak ulayat dalam kawasan hutan negara, mengakibatkan biaya penegakan hak menjadi sangat tinggi, karena aliran manfaat hutan tidak dapat dikontrol akibat terbatasnya kemampuan penga- wasan oleh pemerintah, sehingga hutan menjadi sumberdaya dengan akses terbuka karena hak kepemilikannya tidak terkukuhkan dengan jelas. Hal ini terlihat dengan terus berlangsungnya pemungutan hasil hutan dan adanya la- dang-ladang masyarakat dalam kawasan yang telah ditetapkan sebagai HL karena menganggap itu tanah ulayat mereka.
(4) Memerlukan aksi kolektif tinggi karena merupakan sumber daya milik bersama yang cenderung bersifat non excludable dan rivalry bila tidak ada kesepakatan bersama untuk pengelolaan yang berkelanjutan. Faktanya, saat ini, tidak ada kesepakatan bersama antara para pihak yang berkepentingan dengan hutan (masyarakat nagari, pemerintah dan pemerintah Kota Padang) karena kawasan hutan dikelola pemerintah, yang dilaksanakan oleh Distannakhutbun pada kawasan HL dan oleh BKSDA pada kawasan HSAW, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasannya, tanpa melibatkan masyarakat secara nyata. Sistem perizinan pemanfaatan hutan sangat prosedural dan bertumpu pada kebijakan Walikota atau Menteri Kehutanan sebagai subjek pengelola hutan. Institusi adat atau nagari tidak dikenal lagi dalam subjek pemanfaatan hasil hutan, padahal hutan bagi masyarakat adat tidak hanya berfungsi ekonomis belaka, tapi juga memiliki fungsi lingkungan (pelindung dari bencana), fungsi sosial (pengikat kekerabatan kaum/suku) dan budaya (pengikat sako pusako, pengikat generasi).
Pengelolaan Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan Negara
Kawasan lindung di luar kawasan hutan negara pada umumnya adalah lahan milik masyarakat terdiri dari tutupan hutan dan pertanian lahan kering (parak dan ladang) atau pertanian lahan kering campur semak. Pemilikan lahan pada KL di luar kawasan hutan negara umumnya adalah lahan komunal Nagari, Suku dan Kaum, sehingga sebagian besar pengelolaannya dilakukan berdasar aturan adat.
Hutan bagi masyarakat ke tiga Nagari merupakan bagian dari ulayat yang dipandang tidak hanya sebagai kesatuan ekosistem yang bernilai ekonomis belaka, namun juga bernilai sosial dan kultural serta merupakan kawasan perlindungan terhadap bencana. Hutan merupakan warisan nenek moyang yang harus dijaga untuk keberlangsungan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan hidup, keberlangsungan tali kekerabatan (generasi berikutnya) dan menjadi simbol pengikat hubungan kekerabatan masyarakat Nagari.
Secara adat istiadat Minangkabau, Nagari di sekitar hutan mempunyai hak kepemilikan terhadap hutan sebagai :
1) Ulayat hutan tinggi, yakni tanah terbuka yang tidak digarap, disebut tanah Na- gari atau Hutan Nagari. Hutan ini yang disebut Hutan Larangan (Hutan Sim- panan). Hutan Larangan tidak boleh ditebang karena berfungsi sebagai daerah perlindungan dan sumber air (pengatur air). Hutan Larangan inilah yang dija- dikan Hutan Register atau sekarang merupakan HSAW (Hutan Konservasi);
2) Ulayat hutan rendah, yakni tanah yang digarap penduduk Nagari. Hutan ini di- sebut juga sebagai Hutan Cadangan. Hutan Cadangan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Nagari, dengan demikian kawasan lindung yang berada di luar kawasan hutan konservasi merupakan hutan cadangan masyarakat Nagari.
Sehingga terjadi tumpang tindih kawasan hutan Negara pada hutan lindung dan hutan ulayat nagari. Konflik terjadi karena hutan ulayat rendah nagari (hutan cadangan) berdasarkan aturan adat dapat dimanfaatkan masyarakat na- gari untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, sedangkan pada aturan formal hutan lindung dilarang pemanfaatannya tanpa ijin resmi dari pemerintah.
Pemanfaatan hutan cadangan oleh masyarakat Nagari diutamakan bagi perluasan lahan pertanian dengan mempertimbangkan keberlangsungan dan
keseimbangan alam dan pemanfaatan komplementernya yaitu pemanfaatan hutan sebagai sumber mata pencaharian sampingan. Hutan cadangan juga berfungsi bagi Nagari sebagai cadangan perluasan wilayah pemukiman.
Dengan kondisi hutan di Nagari yang berada pada wilayah perbukitan (tanah keras = lahan kering ulayat kareh)) atau wilayah dengan topografi agak curam sampai curam pada lokasi kajian, maka perluasan lahan pertanian terhadap hutan atau pembukaan hutan untuk lahan pertanian hanya dibolehkan untuk perladangan atau parak. Parak sendiri merupakan bentuk perladangan rakyat yang ditanami dengan berbagai macam tanaman keras seperti kayu meranti, medang, bayur, karet, pinang, kulit manis, durian, manggis, pala dan lainnya. Pola parak ini lazim ditemui bagi semua Nagari dalam wilayah penelitian. Pemanfaatan hutan cadangan tidak hanya bagi anggota komunitas Kaum dan Suku, namun juga dapat dilakukan oleh pihak lain di luar Kaum dan Suku sesuai dengan kesepakatan adat, yang bertujuan untuk menghindari lahan-lahan kosong yang tidak produktif.
Penggunaan utama Hutan Cadangan oleh masyarakat Nagari dalam wilayah penelitian adalah sebagai hutan produksi (hutan yang boleh diambil hasil hutan- nya dengan memperhatikan kelestariannya), parak dan ladang. Pemanfaatan hutan secara langsung baik itu hasil hutan kayu maupun non kayu sebagai sumber mata pencaharian bukanlah hal yang utama. Pemanfataan hasil hutan oleh masyarakat merupakan mata pencaharian komplementer, sedangkan mata pencaharian utama adalah pertanian (sawah) dan berladang (tanaman palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau dan sayuran seperti terung, mentimun dan kacang panjang, dan lainnya). Pemanfaatan lahan untuk pertanian, perladangan dan pemungutan hasil hutan yang berada di atas tanah ulayat Kaum, Suku dan Nagari sepanjang untuk kebutuhan sendiri (keluarga, subsisten) dan untuk kepentingan Nagari tidak dikenakan (bea) bungo. Namun, jika pemanfaatan tersebut ditujukan untuk kepentingan komersial (diperdagangkan di luar komunitas adat atau Nagari) maka dikenakan bungo. Bungo dapat dikatakan sebagai semacam pajak atas pemanfaatan sumber daya alam di Nagari yang berdimensi kepentingan komersil (diperdagangkan), dan sebagai upaya masyarakat Nagari membatasi
eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Selain itu bungo merupakan bentuk kompensasi kepada masyarakat Nagari atas pemanfaatan sumberdaya alam yang diperniagakan, dan sebagian dananya dipergunakan untuk memulihkan sumberdaya alam yang telah dimanfaatkan, sehingga bungo bukan saja kompensasi bagi masyarakat Nagari, tetapi juga kompensasi bagi alam itu sendiri. Dengan demikian bungo merupakan instrumen pengendali pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan. Bentuk-bentuk bungo yang pernah ada dalam pengelolaan hutan pada daerah penelitian meliputi: (1) bea tanaman pa- ngan atau tanaman keras (bungo ampiang) bagi penggarapan hutan untuk ladang atau parak; (2) bea kayu (bungo rimbo/kayu) bagi pemungutan hasil hutan kayu;
(3) bea tambang/emas (bungo ameh) bagi pemungutan hasil tambang dalam kawasan hutan ulayat, misalnya sejumlah dana yang dibayarkan oleh PT Semen Padang kepada masyarakat Nagari Lubuk Kilangan melalui Kerapatan Adat Na- gari (KAN) Nagari Lubuk Kilangan karena lokasi tambang batu kapurnya berada pada hutan ulayat Nagari Lubuk Kilangan.
Namun sejak penetapan fungsi kawasan hutan, sebagian besar hutan ca- dangan Nagari telah ditetapkan sebagai hutan lindung yang dikelola oleh pemerin- tah melalui Dinas terkait. Masyarakat dilarang melakukan kegiatan perladangan dan pengambilan hasil hutan tanpa ijin dalam kawasan hutan lindung, sehingga saat ini instrument bungo sudah hampir tidak ada lagi dalam ketiga Nagari. Insti- tusi adat tidak berperan lagi dalam pengelolaan hutan ulayat Nagari yang telah dijadikan hutan lindung. Kondisi ini menyebabkan tertutupnya akses masyarakat terhadap hutannya dan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat sekitar hutan.
Di sisi lain, karena tingkat pendapatan yang rendah, pengelolaan lahan ma- syarakat pada kawasan lindung SWP DAS Arau yang berada di luar kawasan hu- tan lindung, secara umum belum intensif karena banyak ladang atau parak yang tidak ditanami dengan baik karena kendala modal atau biaya untuk pengelolaan lahan, seperti untuk pembersihan lapangan, pembelian bibit, pemupukan dan pemeliharaan tanaman, sehingga hasil yang didapatkan dari pengelolaan lahan masih rendah. Bagi masyarakat yang cukup mampu, lahannya telah dikelola seca- ra intensif dalam bentuk perkebunan (rakyat) yang ditanami dengan karet, kopi, coklat, kulit manis, pala, pinang dan lainnya.
Pengelolaan Kawasan Lindung pada Kawasan Hutan (Negara)
Kawasan Lindung pada kawasan hutan (Negara) dalam wilayah kajian terdi- ri dari Hutan Konservasi (Kawasan Suaka Alam Barisan I, Kawasan Suaka Alam Arau Hilir dan Tahura Bung Hatta), dan Hutan Lindung, selanjutnya dalam tu- lisan ini disebut sebagai kawasan hutan. Pengelolaan kawasan hutan dilakukan instansi pemerintah. Lembaga pengelola hutan pada Kawasan Suaka Alam adalah Balai KSDA Sumatera Barat; pada Hutan Lindung adalah Dinas Pertanian, Peter- nakan, Kehutanan dan Perkebunan Kota Padang (Distannakhutbun Kota Padang);
pada Tahura Bung Hatta adalah Badan Pelaksana Pengelola Tahura yang terdiri dari Distannakhutbun Kota Padang dan Dinas Pariwisata Kota Padang.
Pengelolaan Kawasan Konservasi. Kawasan konservasi pada hutan Nega- ra terdiri atas Kawasan Suaka Alam Barisan I, Kawasan Suaka Alam Arau Hilir dan Taman Hutan Raya Dr. M.Hatta.
1. Kawasan Suaka Alam Barisan I dan Arau Hilir
Kawasan Suaka Alam (KSA) Barisan I dan Arau Hilir ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 623/Kpts/Um/8/82 tanggal 22 Agustus 1982. Pada awalnya, KSA Barisan I dan Arau Hilir merupakan hutan sim- panan, yang menurut Gouvernement Besluit (GB) Nomor 6 tanggal 1 Juli 1921 dan Nomor 32 tanggal 31 Januari 1921, kelompok hutan ini ditetapkan menjadi Hutan Register (Dishut 2004). Hingga saat ini, status KSA Barisan I dan Arau Hilir masih penunjukan yang dalam konteks yuridis formil, belum memiliki kekuatan hukum yang kuat terutama dalam proses peradilan pelang- garan yang berkaitan dengan kawasan. Tata batas kawasan telah dilakukan pada tahun 1983-1986, namun masih ada sebagian yang belum temu gelang.
Kegiatan pengelolaan yang dilakukan adalah (a) kegiatan pengawetan dalam bentuk identifikasi potensi dan pengembangan habitat flora dan fauna; (b) per- lindungan dan pengamanan kawasan dalam bentuk pemantauan, patroli rutin dan operasi-operasi, baik fungsional maupun gabungan, koordinasi dengan lembaga pemerintahan dan (kadang-kadang, dalam artian bila anggaran terse- dia dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, DIPA) kalangan adat dengan melibatkan tokoh adat sebagai petugas pengamanan swakarsa; dan (c) pembi-
naan dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan melalui penyuluhan, pemberian bantuan dan bimbingan teknis kepada masyarakat daerah penyangga untuk menanam lahan kosong dengan jenis tanaman MPTS guna merangsang usaha produktif masyarakat dan meningkatkan kesadaran untuk menjaga kawasan konservasi (BKSDA 2008).
Untuk mengelola kawasan dengan baik maka diperlukan alokasi dana, sum- berdaya manusia (SDM) dan sarana prasarana yang memadai, namun saat ini, biaya pengelolaan, sarana dan prasarana pendukung serta kuantitas dan kuali- tas SDM tersedia masih sangat kurang. Sehingga aktifitas pengelolaan kawas- an masih minim sehingga keberadaan kawasan tidak terkelola dan tersosialisa- sikan dengan baik.
Pengelolaan KSA Barisan I dan Arau Hilir masih mengalami berbagai kenda- la. Gangguan yang sering terjadi terhadap kawasan dalam bentuk penebangan liar, perambahan, pertambangan liar dan perburuan liar. Penebangan liar berdampak berkurangnya basal area, penutupan kanopi dan terganggunya regenerasi yang akhirnya akan mempengaruhi komposisi jenis dan perubahan kelimpahan relatif flora dan kelimpahan satwa yang hidup di dalamnya, se- hingga merupakan ancaman bagi kelestarian dan keberadaan kawasan di masa mendatang serta timbulnya konflik satwa dan manusia, yang terlihat dengan pernah dijumpainya harimau masuk ke perkampungan penduduk karena habi- tat satwa terganggu.
Saat ini kondisi kawasan pada bagian inti masih memiliki ekosistem relatif utuh dan asli. Sedangkan pada blok rimba yang pada umumnya merupakan daerah yang berbatasan dengan ladang masyarakat, memiliki tingkat kerusakan relatif tinggi karena adanya penebangan liar dan perambahan untuk perladangan, peningkatan aktifitas untuk perkebunan di beberapa lokasi yang berbatasan dengan kawasan ataupun daerah kawasan yang di klaim sebagai tanah ulayat dan atau daerah enclave di dalam kawasan (BKSDA 2008).
Rendahnya apresiasi dan taraf perekonomian masyarakat sekitar kawasan sampai saat ini masih merupakan penyebab terjadinya penebangan liar dalam kawasan hutan.
2. Taman Hutan Raya Dr. Muhammad Hatta
Taman Hutan Raya Dr. Mohammad Hatta atau yang dikenal dengan Tahura Bung Hatta berada di Kecamatan Lubuk Kilangan, ditetapkan berdasarkan Keppres Nomor 35 Tahun 1986, dengan luas 240 hektar. Kawasan ini sebelumnya merupakan lokasi Kebun Raya Setia Mulya sejak tahun 1955, di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Alam (LIPI). Tahun 1961 pengelolaan kawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Barat dan pada tahun 1981 pengelolaan diserahkan kepada Universitas Andalas. Sejak ditetapkan sebagai Tahura Bung Hatta, pengelolaannya dipegang oleh Pemerintah Daerah Propinsi yang secara teknis ditangani oleh Kantor Wilayah Kehutanan Sumatera Barat. Pada tanggal 31 Januari 1991 pengelolaan kawasan ini diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Padang, yang membentuk Badan Pelaksana Pengelolaan Tahura Bung Hatta, yang terdiri dari unsur Pemda Tingkat II Kota Madya Padang, Universitas Andalas dan Instansi terkait. Pengelolaan teknis Tahura dilakukan oleh Distannakhutbun Kota Padang, melalui Unit Pelaksana Teknis Tahura Bung Hatta, dengan organisasi setingkat Eselon IV.
Untuk mendukung pengelolaan yang lestari perlu tersedia sarana dan prasara- na yang memadai. Namun, kondisi sarana dan prasarana yang ada saat ini sangat memprihatinkan. Bangunan yang ada sudah banyak yang rusak karena sejak dibangun tahun 1986 tidak tersedia anggaran yang memadai untuk pe- ngelolaannya. Sebagai contoh, pada tahun 2009, alokasi anggaran untuk pe-
ngelolaan Tahura pada Distannakhutbun Kota Padang hanya sebesar Rp 66.000.000.-. (enam puluh enam juta rupiah). Keutuhan kawasan juga mu-
lai terganggu ditandai dengan mulai banyaknya tutupan lahan berupa semak belukar. Oleh karena itu, aktifitas pengelolaan kawasan Tahura Bung Hatta sangat minim sehingga keberadaan kawasan tidak terkelola dengan baik.
Pengelolaan Hutan Lindung. Kawasan Hutan Lindung ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 422/Kpts-II/1999 tentang Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Propinsi Dati I Sumatera Barat, dengan luas wilayah hutan lindung pada SWP DAS Arau sekitar 7.644 hektar. Hutan Lindung masih berstatus penataan batas kawasan hutan dan belum ditetapkan.
Kegiatan pengelolaan yang dilakukan adalah: (a) perlindungan dan penga- manan kawasan dalam bentuk pemantauan, patroli rutin dan operasi-operasi, baik fungsional maupun gabungan, koordinasi dengan lembaga pemerintahan dan kalangan adat dengan melibatkan tokoh adat sebagai petugas pengamanan swa- karsa untuk menjaga keutuhan kawasan hutan lindung; (b) rehabilitasi hutan da- lam bentuk pembuatan tanaman reboisasi dan pemeliharaannya pada lahan kritis dalam kawasan hutan lindung. Sejak tahun 2002 telah dilakukan kegiatan reboi- sasi lahan kritis seluas 500 hektar; dan (c) pembinaan dan pemberdayaan masya- rakat sekitar kawasan melalui penyuluhan, pemberian bantuan dan bimbingan teknis bagi masyarakat menanam lahan kosong dengan tanaman MPTS guna merangsang usaha produktif dan meningkatkan kesadaran untuk menjaga kawasan hutan lindung.
Untuk mengelola hutan lindung dengan baik maka diperlukan alokasi dana, SDM dan sarana prasarana yang memadai, namun, biaya pengelolaan, sarana, pra- sarana, kuantitas dan kualitas SDM tersedia masih sangat kurang. Oleh karena itu, aktifitas pengelolaan kawasan masih terbatas sehingga keberadaan kawasan tidak terkelola dan tersosialisasikan dengan baik.
Pengelolaan Hutan Lindung pada SWP DAS Arau masih mengalami berba- gai kendala. Gangguan yang sering terjadi terhadap kawasan dalam bentuk pene- bangan liar, perambahan hutan untuk ladang dan pertambangan liar, yang menye- babkan degradasi tutupan hutan menjadi pertanian lahan kering dan semak belu- kar, sehingga mengancam kelestariannya. Menurut Distannakhutbun Kota Padang, (2009), luas kerusakan hutan Kota Padang selama tahun 2009 adalah 514 hektar yang disebabkan oleh kebakaran hutan 12 hektar, ladangan berpindah 122 hektar, penebangan liar 30 hektar dan perambahan hutan 350 hektar.
Peran Para Pihak dalam Pengelolaan Kawasan Lindung
Pengelolaan kawasan lindung menyangkut berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda sehingga keberhasilannya sangat ditentukan oleh banyak pihak. Para pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan lindung adalah pihak-pihak terkait yang berkepentingan dengan dan patut diperhitungkan dalam pengelolaan kawasan lindung, terdiri dari pemerintah, masyarakat dan swasta.
Peran para pihak dijabarkan dalam fungsi, tugas atau kewajiban, wewenang atau hak, tanggungjawab dan tanggung gugat.
Menurut UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, Pemerintah berke- wajiban : (a) menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional; (b) mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat ling- kungan, sosial, budaya, dan ekonomi, yang seimbang dan lestari; (c) mening- katkan daya dukung DAS; (d) meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan ber- wawasan lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekono- mi serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal; dan (e) menjamin distri- busi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan. Undang-Undang tersebut juga menyatakan semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk ke- kayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat. Penguasaan hutan tersebut memberi wewenang kepa- da pemerintah untuk: (a) mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan; (b) menetapkan status wilayah ter- tentu sebagai kawasan hutan atau kawasan hutan sebagai bukan kawasan hutan;
dan (c) mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum antara orang de- ngan hutan, serta mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan.
Namun penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak masyarakat hu- kum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta ti- dak bertentangan dengan kepentingan nasional. Dengan demikian perlu digaris- bawahi bahwa pengurusan dan pemanfaatan hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat optimal bagi kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariaan hutan. Untuk mempermudah pengurusan hutan, maka hutan
dikelompokkan atas unit-unit pengelolaan melalui penetapan wilayah pengelolaan hutan dengan mempertimbangkan karakteristik lahan, tipe hutan, fungsi hutan, kondisi DAS, sosial budaya, ekonomi, kelembagaan masyarakat setempat terma- suk masyarakat hukum adat dan batas administrasi pemerintahan.
Selanjutnya UU Nomor 41 Tahun 1999 juga mengatur pemanfaatan hutan dalam bentuk pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan dan pemu- ngutan hasil hutan bukan kayu pada hutan lindung ditambah dengan pemungutan hasil hutan kayu pada hutan produksi. Pemanfaatan kawasan hutan dapat dilaku- kan pada semua kawasan hutan kecuali pada hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional. Pemanfaatan hutan dilaksanakan melalui pem- berian izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, dan izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, yang dapat diberikan ke- pada perorangan, koperasi, badan usaha milik swasta Indonesia (BUMS), badan usaha milik negara (BUMN) atau badan usaha milik daerah (BUMD). Pemegang izin berkewajiban menjaga, memelihara, dan melestarikan hutan tempat usahanya, serta dilarang melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan. Dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat, setiap BUMN/D/S Indonesia yang memperoleh izin diwajibkan bekerja sama dengan koperasi masyarakat setempat.
Sedangkan pemanfaatan hutan hak dan hutan adat yang berfungsi lindung dan konservasi dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.
Pemerintah mengatur perlindungan hutan, baik di dalam maupun di luar ka- wasan hutan. Perlindungan hutan pada hutan negara dilaksanakan oleh pemerin- tah, sedangkan pemegang izin usaha pemanfaatan hutan serta pihak-pihak yang menerima wewenang pengelolaan hutan diwajibkan melindungi hutan dalam areal kerjanya. Untuk menjamin pelaksanaan perlindungan hutan yang sebaik-baiknya, masyarakat diikutsertakan dalam upaya perlindungan hutan. Secara lebih rinci, Undang-Undang Kehutanan menyatakan setiap orang dilarang : (a) merusak pra- sarana dan sarana perlindungan hutan; (b) mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah; (c) merambah kawasan hu- tan; (d) melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan 500 meter dari tepi waduk atau danau; 200 meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa; 100 meter dari kiri kanan tepi su-
ngai; 50 meter dari kiri kanan tepi anak sungai; 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang; 130 kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai;
(e) membakar hutan; (f) menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang;
(g) menerima, membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, me- nyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah; (h) melakukan kegi- atan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan, tanpa izin Menteri; (i) mengangkut, menguasai, atau memiliki ha- sil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya ha- sil hutan; (j) menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang; (k) membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digu- nakan untuk mengangkut hasil hutan, menebang, memotong, atau membelah po- hon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang; (l) membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta memba- hayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan; dan (m) mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi Undang-undang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang.
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan pengawasan kehutanan.
Masyarakat dan atau perorangan berperan serta dalam pengawasan kehutanan.
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap pengelolaan dan atau pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh pihak ketiga.
Setiap orang yang memiliki, mengelola, dan atau memanfaatkan hutan yang kritis atau tidak produktif, wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan dan konservasi. Penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan di- utamakan pelaksanaannya melalui pendekatan partisipatif dalam rangka mengem- bangkan potensi dan memberdayakan masyarakat. Dalam pelaksanaan rehabilita- si dapat meminta pendampingan, pelayanan dan dukungan kepada lembaga swa- daya masyarakat (LSM), pihak lain atau pemerintah.
Dalam Undang-undang Kehutanan juga dinyatakan masyarakat berhak me- nikmati kualitas lingkungan hidup yang dihasilkan hutan. Selain itu masyarakat berhak atau dapat : (a) memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan pera- turan perundang-undangan yang berlaku; (b) mengetahui rencana peruntukan hu- tan, pemanfaatan hasil hutan, dan informasi kehutanan; (c) memberi informasi, saran, serta pertimbangan dalam pembangunan kehutanan; dan (d) melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan kehutanan baik langsung mau- pun tidak langsung. Masyarakat di dalam dan di sekitar hutan berhak mempero- leh kompensasi karena hilangnya akses dengan hutan sekitarnya sebagai lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akibat penetapan kawasan hutan, se- suai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap orang berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya hak atas tanah miliknya sebagai akibat dari adanya penetapan kawasan hutan sesuai dengan ketentuan peraturan perun- dang-undangan yang berlaku.
Masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan di- akui keberadaannya berhak: (a) melakukan pemungutan hasil hutan untuk peme- nuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan; (b) mela- kukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan undang-undang; dan (c) mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya. Pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Di sisi lain, masyarakat berkewajiban untuk ikut serta memelihara dan men- jaga kawasan hutan dari gangguan dan perusakan. Pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan di bidang kehutanan yang ber- daya guna dan berhasil guna. Dalam rangka meningkatkan peran serta masyara- kat pemerintah dan pemerintah daerah dapat dibantu oleh forum pemerhati kehu- tanan. Penyelenggaraan penyuluhan kehutanan dilakukan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Pemerintah mendorong dan menciptakan kondisi yang mendukung terselenggaranya kegiatan penyuluhan kehutanan. Dunia usaha da- lam bidang kehutanan wajib menyediakan dana investasi untuk penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan kehutanan.
Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan atau melaporkan ke penegak hukum terhadap kerusakan hutan yang merugikan kehi- dupan masyarakat. Hak mengajukan gugatan terbatas pada tuntutan terhadap pengelolaan hutan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita akibat pencemaran dan atau kerusakan hutan sedemikian rupa sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat, maka instansi pemerintah atau instansi pemerintah daerah yang bertanggung ja- wab di bidang kehutanan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Demi- kian juga, dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan hutan, organi- sasi bidang kehutanan berhak mengajukan gugatan perwakilan untuk kepentingan pelestarian fungsi hutan.
Bagi para pihak yang dengan sengaja melanggar ketentuan diancam dengan pidana penjara dan denda dan semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelang- garan dan atau alat-alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk mela- kukan kejahatan dan atau pelanggaran dirampas untuk Negara. Sedangkan bagi pihak-pihak yang berjasa dalam upaya penyelamatan kekayaan Negara diberikan insentif yang disisihkan dari hasil lelang barang rampasan. Penyelesaian sengketa kehutanan dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa, dengan catatan penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak berlaku terhadap tindak pidana.
Dengan demikian sesuai amanat Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999, Pemerintah berfungsi sebagai regulator, fasilitator, mediator dan penyandang dana untuk pembiayaan kegiatan pengelolaan hutan pada kawasan lindung, yang direpresentasikan oleh instansi-instansi sektoral Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang terkait dengan pengelolaan kawasan lindung. Pemerintah mempu- nyai kewenangan sebagai pemegang otoritas kebijakan dan pengawasan pelaksa- naan kebijakan. Sedangkan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten / Kota instansi teknis terkait di dalamnya berperan sebagai koordinator / fasilitator / regulator / supervisor penyelenggaraan pengelolaan kawasan lindung sesuai skala wilayah administrasi dan memberi pertimbangan teknis penyusunan rencana ka- wasan serta dapat berperan sebagai pelaksana dalam kegiatan-kegiatan tertentu.
Lembaga Pemerintah yang dapat berperan aktif dalam kegiatan pengelolaan ka-
wasan lindung antara lain: Departemen Kehutanan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pertanian, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Departemen Perikanan dan Kelautan, Departemen Kesehatan dan Kementerian negara Lingkungan Hidup (KLH).
Departemen Kehutanan terutama berperan dalam penatagunaan hutan, pengelolaan kawasan konservasi dan rehabilitasi kawasan lindung. Departemen Pekerjaan Umum berperan dalam pengelolaan sumberdaya air dan tata ruang.
Departemen Dalam Negeri berperan dalam pemberdayaan masyarakat di tingkat daerah. Departemen Pertanian berperan dalam pembinaan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pertanian dan irigasi. Departemen ESDM berperan dalam pengaturan air tanah, reklamasi kawasan tambang. Departemen Perikanan dan Kelautan berperan dalam pengelolaan sumberdaya perairan, sedangkan KLH dan Departemen Kesehatan berperan dalam pengendalian kualitas lingkungan.
Masyarakat dapat dipilah atas masyarakat sekitar kawasan dan organisasi kemasyarakatan atau LSM dan Perguruan Tinggi. Masyarakat sekitar kawasan berfungsi sebagai pelaku utama kegiatan pengelolaan kawasan, baik sebagai pela- ku usaha kecil dan menengah, tenaga kerja ataupun mitra kerja. LSM dan Pergu- ruan Tinggi berfungsi sebagai pendamping pengelolaan kawasan (management trainne) dan penyedia ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan pihak swasta atau dunia usaha berfungsi sebagai investor, kreditor atau pemberi hibah dalam pengelolaan kawasan lindung.
Faktanya, dalam pengelolaan kawasan lindung pada SWP DAS Arau, Peme- rintah memiliki peran yang sangat dominan. Institusi pengelola hutan dipegang oleh pemerintah melalui Distannakhutbun Kota Padang pada Hutan Lindung dan Tahura Bung Hatta, serta Balai KSDA Sumbar pada KSA Barisan I dan Arau Hi- lir, yang berwenang melaksanakan kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan, perlin- dungan, pengamanan dan mengeluarkan ijin pemanfaatan kawasan dan hasil hu- tan. Instansi terkait lainnya adalah Dinas Tata Ruang Kota Padang, yang berpe- ran dalam penetapan peruntukan ruang dan pengendalian penggunaan ruang, Di- nas Pariwisata Kota Padang sebagai instansi pengelola objek wisata alam yang terdapat dalam kawasan lindung serta Bapedalda Kota Padang yang berperan da- lam pengendalian dampak lingkungan dalam pengelolaan kawasan lindung.
Masyarakat meliputi masyarakat pemilik lahan pada kawasan lindung, lem- baga adat yang tergabung dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta Perguruan Tinggi. Dalam pengelolaan ka- wasan hutan masyarakat umumnya berperan dalam kegiatan reboisasi sebagai te- naga kerja atau pekerja proyek. Masyarakat sekitar hutan dan Lembaga adat seperti KAN belum dilibatkan dalam penyusunan program pengelolaan dan pembangunan kehutanan pada kawasan konservasi dan hutan lindung. Kadang- kadang tokoh adat dilibatkan sebagai tenaga pengaman swakarsa, namun masih insidentil, bila alokasi anggaran untuk pengamanan swakarsa tersedia dalam do- kumen anggaran (DIPA). LSM kadang-kadang dilibatkan sebagai mitra dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi atau sebagai pendamping masyarakat (kelompok kerja) dalam pelaksanaan kegiatan reboisasi. Belum ada ijin peman- faatan kawasan hutan yang diberikan kepada masyarakat.
Pihak swasta yang terkait dengan pengelolaan kawasan lindung meliputi pe- rusahaan pengada bibit dan konsultan pelaksana reboisasi, pengusaha pengguna air seperti PDAM, PT Semen Padang dan pengusaha pertambangan. Peran swasta dalam pengelolaan kawasan hutan adalah sebagai rekanan pemerintah dalam pe- ngadaan bibit untuk kegiatan reboisasi atau bila ditunjuk oleh pemerintah sebagai pelaksana kegiatan reboisasi dalam kawasan hutan. Ijin pemanfaatan kawasan hutan lindung pada SWP DAS Arau telah diberikan kepada PT Semen Padang untuk kegiatan pertambangan. Sedangkan ijin untuk pemanfaatan hasil hutan lainnya belum ada, namun aktivitas pemanfaatan, misalnya pemanfaatan air oleh perusahaan yang berbasis air masih terus berlangsung.
Pada kawasan lindung di luar kawasan hutan, pengelolaan lahan dilakukan oleh masyarakat secara swadaya. Bantuan pemerintah dalam pengelolaan lahan milik untuk kegiatan rehabilitasi lahan kritis, misalnya dalam pemberian insentif untuk mendorong masyarakat melakukan kegiatan RHL pada lahan milik dalam bentuk kegiatan hutan rakyat ataupun penghijauan lingkungan, sifatnya masih ter- batas dan insidentil. Namun, program dan kegiatan yang dimaksudkan sebagai insentif dirancang dan dijalankan secara top down, bersifat seragam karena telah tertuang dalam dokumen anggaran, tanpa memperhatikan kebutuhan riil di la- pangan. Misalnya, kegiatan pembuatan Kebun Bibit Rakyat yang dilaksanakan
pada tahun 2010 di Kota Padang tidak melalui perencanaan yang partisipatif, na- mun bersifat top down dan seragam sehingga hasil yang diharapkan tidak optimal.
Pengelolaan kawasan lindung, terutama pada hutan negara lebih dominan mengedepankan peran Pemerintah dan terkadang diwarnai pengaruh dunia usaha serta belum melibatkan masyarakat secara nyata, sesuai amanat Undang-undang Kehutanan. Dalam perkembangannya dominasi peran Pemerintah ini juga diiringi oleh kebijakan yang secara sadar atau tidak, ternyata mengakibatkan terpinggirkannya peran masyarakat. Kalaupun masyarakat tetap terlibat, ia lebih hanya sebagai objek dari suatu kebijakan. Pengelolaan kawasan lindung pada SWP DAS Arau, terpola menjadi suatu sistem dimana Pemerintah meluncurkan berbagai proyek atau program, dan masyarakat melaksanakannya, dengan membentuk kelompok-kelompok pelaksana berupa kelompok kerja atau kelompok tani. Pola seperti ini walaupun ternyata tidak mampu memberikan hasil yang optimal, namun masih tetap berjalan hingga saat ini.
Untuk mewujudkan amanat UU nomor 41 Tahun 1999, yaitu pengelolaan hutan pada kawasan lindung yang bertujuan memberikan manfaat yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat dan menjaga hutan tetap lestari, maka pengelolaan kawasan lindung pada SWP DAS Arau sebagai sumberdaya milik bersama (CPR) harus mempertimbangkan prinsip dasar penyusunan rencana pengelolaan sumber- daya milik bersama (CPR), yaitu mekanisme penyusunannya dilakukan dengan pengambilan keputusan bersama para pihak terkait atau dilakukan secara partisipatif, mulai dari analisis hingga perumusan rencana. Begitu pula pada kegiatan-kegiatan selanjutnya yaitu pelaksanaan, pemantauan, dan penilaian hasil- hasilnya. Pada wilayah kawasan lindung SWP DAS Arau terdapat banyak pihak dengan masing-masing kepentingan, kewenangan, bidang tugas dan tanggung jawab yang berbeda, sehingga tidak mungkin dikoordinasikan dan dikendalikan dalam satu garis komando Distannakhutbun Kota Padang ataupun Balai KSDA Sumatera Barat. Oleh karena itu harus dikembangkan koordinasi berdasarkan hubungan fungsi melalui pendekatan keterpaduan. Sementara itu, untuk memelihara partisipasi para pihak guna menjaga agar pengelolaan tetap efektif, dapat dilakukan dengan membentuk wadah koordinasi, misalnya berupa forum koordinasi, asosiasi pengelola kawasan lindung atau lembaga sejenis lainnya.
Lembaga yang dibentuk harus merepresentasikan para pihak (stakeholders) yang ada, baik dari unsur pemerintah, masyarakat dan swasta. Di antara para pihak yang terlibat harus dikembangkan prinsip saling mempercayai, keterbukaan, tanggung jawab, dan saling membutuhkan. Dengan demikian dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung pada hulu SWP DAS Arau ada kejelasan wewenang dan tanggung jawab setiap pihak (siapa, mengerjakan apa, bilamana, dimana, dan bagaimana). Batas satuan wilayah unit pengelolaan hutan tidak selalu bertepatan dengan batas unit administrasi pemerintahan, sehingga koordinasi dan integrasi antar tingkat pemerintahan, instansi sektoral dan pihak terkait lainnya menjadi sangat penting.
Untuk meningkatkan efektivitas koordinasi dan partisipasi para pihak, harus dibangun komunikasi yang baik dan tata kerja yang jelas yang didasarkan atas kebersamaan dan diagendakan dalam suatu program kerja. Lembaga komunikasi para pihak diarahkan sebagai organisasi yang bersifat independen dan berfungsi untuk membantu memecahkan permasalahan yang timbul dan merumuskannya secara bersama-sama dalam wilayah kawasan lindung seperti konflik kepentingan antar pengguna serta dalam mengintegrasikan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama sehingga konflik kepentingan bisa diminimalkan.
Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Hutan
Masyarakat pemilik lahan kawasan lindung pada SWP DAS Arau, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Petani pemilik lahan di daerah hulu SWP DAS Arau menggunakan lahannya untuk perladangan atau parak, dengan rata-rata pemilikan lahan 1 - 2 hektar per orang (n=120) dan tingkat penghasilan dari hasil usaha tani lahan kering yang rendah, rata-rata kurang dari Rp 500.000,- perbulan. Hal ini terjadi karena banyak ladang atau parak yang tidak ditanami dengan baik karena kendala modal (biaya pembersihan lahan, pembelian bibit, pemupukan dan pemeliharaan) ataupun karena pemilikan lahan yang sempit.
Sebagian pemilik lahan di daerah hulu tersebut, umumnya adalah juga peta- ni sawah atau buruh tani sawah. Namun, rata-rata pendapatan dari hasil sawah juga rendah, rata-rata kurang dari 1 juta per bulan. Hal ini terjadi karena kecilnya kepemilikan lahan sawah setiap petani karena makin terbatasnya lahan sawah.
Pemilikan lahan yang sempit terjadi karena adanya lahan sawah yang telah dialihfungsikan menjadi pemukiman dan peruntukan lainnya atau semakin bertambahnya anggota keluarga sehingga harus dibagi-bagi, akibatnya bagian setiap orang semakin kecil. Dari data yang dihimpun (n = 120 orang), rata-rata satu orang petani sawah hanya memiliki lahan 0,3 hektar sampai dengan 0,5 hek- tar, sehingga dari analisa ekonomi usaha tani, luasan sawah yang digarap menjadi tidak ideal dan tidak menguntungkan karena tingginya biaya tetap dalam proses produksi. Idealnya seorang petani sawah, harus memiliki lahan minimal satu hektar sehingga layak dan menguntungkan untuk diusahakan secara ekonomi.
Pada saat sebelum ditetapkan menjadi kawasan hutan lindung, masyarakat yang berpendapatan rendah karena kekurangan lahan dapat memperluas lahan pertaniannya atau menggarap lahan ulayat atau memungut hasil hutan pada hutan cadangan untuk menambah penghasilan rumah tangga. Namun setelah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan hutan lindung, hal tersebut tidak bisa dilakukan lagi karena adanya aturan negara yang melarang pemungutan hasil hutan tanpa ijin dan pembukaan lahan pada kawasan hutan lindung.
Berdasarkan wawancara dengan Distannakhutbun Padang, pada kawasan hutan lindung Kota Padang belum pernah diterbitkan ijin untuk pemanfaatan hasil hutan non kayu walaupun potensinya memungkinkan karena adanya kekhawatiran bila diberikan ijin pemungutan hasil hutan maka hutan akan semakin rusak karena penerima ijin akan cenderung menggunakan ijin yang diberikan untuk merambah hutan, sedangkan Distannakhutbun Kota Padang tidak punya kemampuan yang cukup untuk mengawasi pelaksanaan ijin yang diberikan karena terbatasnya SDM, sarana dan prasarana yang ada9.
Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian petani pemilik lahan tersebut terpaksa mencari penghasilan tambahan dengan membuka warung kecil-kecilan yang dikelola oleh anggota keluarga yang lain, menjadi buruh, mengumpulkan batu dan pasir dari sungai, menjadi pemulung sampah pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah pada DAS Batang Air Dingin, mencari kayu bakar dan hasil hutan non kayu pada kawasan hutan tanpa ijin atau bahkan
9 Wawancara dengan Bapak Wardimu S.Sos, Kepala Bidang Kehutanan pada Distannakhutbun Kota Padang; Bapal Abdul Muthalib, S.Hut, Kepala Seksi Peredaran Hasil Hutan; dan Rembrant, S.Hut, M.Si, Kepala Seksi Intag pada Distannakhutbun Kota Padang.
ada responden yang mengaku menjadi orang upahan untuk menebang kayu atau menjadi penarik kayu yang ditebang secara liar dari hutan lindung yang dimodali oleh para cukong dari luar lokasi tersebut, dengan upah yang cukup menggiurkan, walaupun mereka sadar hal tersebut melanggar aturan Pemerintah. Menurut pengakuan mereka, upah menebang kayu satu M3 besarnya Rp 300.000,-. dan upah menarik kayu dari hutan ke pinggir jalan tempat truk pembawa kayu (biasanya jauhnya 2 – 3 km) sebesar Rp 350.000,-. per batang, dan penghasilan ini bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya.
Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat sekitar kawasan lindung dan ka- rena tekanan kebutuhan hidup cenderung memicu terjadi perambahan terhadap hutan lindung. Dengan demikian, sesuai dengan yang disampaikan Darusman dan Widada (2004) kerusakan kawasan lindung akan berkaitan dengan kemampuan kawasan lindung memberikan manfaat (ekonomi) bagi masyarakat sekitar. Bila pengelolaan kawasan lindung tidak mampu memberikan manfaat (ekonomi) yang memadai bagi masyarakat sekitar sehingga kondisi ekonomi masyarakat marjinal, maka akan menjadi pemicu terjadinya perambahan hutan, karena masyarakat se- ring „tidak punya banyak‟ pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Atribut Komunitas pada SWP DAS Arau
Berdasarkan perspektif sosiologis, kajian mengenai pengelolaan sumber daya alam dalam DAS atau lingkungan hidup secara umum, secara garis besar adalah kajian tentang bagaimana masyarakat mempengaruhi lingkungan hidup dan sebaliknya bagaimana lingkungan hidup mempengaruhi masyarakat.
Pembicaraan sosiologis tentang lingkungan hidup bisa dipahami dari berbagai pintu, salah satu pintu pemahaman sosiologis terhadap lingkungan hidup adalah pemahaman aktor lingkungan hidup. Banyak aktor berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup pada SWP DAS Arau. Kesemua aktor yang terlibat tersebut dapat digabungkan ke dalam 3 kelompok, yaitu masyarakat, negara, dan dunia usaha (Ostrom 2008).
Masyarakat merupakan kelompok orang yang membentuk jaringan interaksi atau hubungan sosial yang terpola. Sebagai suatu sistem interaksi, setiap masyarakat memiliki kebudayaan. Sebaliknya, setiap kebudayaan yang hidup atau
ada memiliki para pengembannya, yaitu masyarakat. Oleh karena itu, antara masyarakat dan kebudayaan ibarat koin mata uang bersisi dua. Kebudayaan yang melekat pada suatu masyarakat merupakan atribut masyarakat tersebut.
Aktifitas manusia yang berkaitan dengan lingkungan hidup dapat berupa aktifitas kebudayaan. Kebudayaan memberikan individu seperangkat pemahaman umum tentang sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan kita. Kebudayaan memberikan tuntunan dan arahan bagaimana kita berpikir, merasa, bertindak, dan berperilaku. Berkenaan dengan hal ini, kebudayaan bisa menjadi tuntunan dan arahan bagaimana individu berhubungan dengan lingkungan hidup secara baik dan berkesinambungan seperti pemanfaatan dan pelestarian alam. Ide atau aktifitas budaya yang berkaitan dengan pemanfaatan lingkungan hidup yang baik, lestari dan berkesinambungan dikenal dengan konsep kearifan lokal (local wisdom).
Pada kebanyakan masyarakat lokal ditemukan berbagai macam kearifan (lokal). Dengan kearifan tersebut masyarakat lokal memiliki tuntunan dan arahan bagaimana mereka berpikir, merasa, bertindak, dan berperilaku dalam beradaptasi dengan, menggunakan dan sekaligus melestarikan lingkungan hidup. Kearifan tersebut bukan muncul seketika tetapi melalui proses konstruksi sosial antara kelompok manusia (masyarakat) dan lingkungan hidup. Pengalaman masa lampau berupa ide, perasaan, dan tindakan kelompok manusia (masyarakat) yang berhubungan dengan lingkungan hidup telah teruji berulangkali. Pengalaman masa lampau tersebut mengalami proses objektifikasi, yaitu proses di mana kelompok manusia menciptakan suatu pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang objektif, sesuatu yang berada di luar sana. Proses objektifitas mengalami dialektika dengan proses internalisasi, yaitu proses di mana pengalaman objektif yang berada di luar sana tersebut mengalami transformasi internal ke dalam diri individu yang ada dalam kelompok melalui sosialisasi.
Masyarakat pada Nagari Koto Tangah, Limau Manih dan Lubuk Kilangan sebagai bagian masyarakat Minangkabau, memiliki karakter dan kondisi sosial budaya yang tentunya berbeda dengan masyarakat adat lainnya. Beberapa atribut komunitas pada masyarakat ketiga Nagari tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
Asal-Usul Masyarakat Adat pada SWP DAS Arau. Daerah Minangkabau secara geografis dapat dibagi dalam dua lingkungan wilayah yaitu : 1. Wilayah Inti Minangkabau, yang oleh orang Minangkabau disebut daerah da-
taran (darek), yang terdiri dari tiga (tigo) Luhak, yang disebut Luhak Nan Tigo yaitu Luhak Agam, Tanah Data dan Luhak Limo Puluah Koto. Dalam pengertian geografis administratif sekarang Luhak itu setara dengan Kabupaten. Luhak merupakan federasi longgar dari Nagari-nagari.
2. Wilayah Pengembangan atau Rantau. Pengertian rantau menurut asalnya berlaku bagi pertemuan sungai dengan laut. Kemudian berlaku untuk daerah di luar tempat asal. Dalam pengertian Minangkabau, Rantau berarti daerah Minangkabau yang berada diluar Luhak Nan Tigo. Pada hakikatnya Rantau adalah daerah perluasan ke tiga Luhak dalam usaha menampung perkembangan anggotanya, terdiri dari :
a) Rantau Luhak Agam meliputi dari pesisir barat sejak Pariaman sampai Air Bangis, Lubuk Sikaping dan Pasaman
b) Rantau Luhak Limo Puluah Koto meliputi Bangkinang, Lembah Kampar Kiri, Kampar Kanan dan Rokan Kiri dan Rokan Kanan.
c) Rantau Luhak Tanah Data meliputi Kubang Tigo Baleh, Pesisir Barat/Selatan dari Padang sampai Indrapura, Kerinci dan Muara Labuh.
Berdasarkan uraian di atas maka daerah Kota Padang, sesungguhnya merupakan daerah Rantau Minangkabau yakni Rantau Luhak Tanah Data.
Berdasarkan asal usulnya penduduk pada ketiga Nagari dalam wilayah penelitian datang melalui perbukitan, menurut informasi dari Narasumber, orang-orang tersebut berasal dari daerah Solok (Saning Baka untuk Nagari Koto Tangah dan Limau Manih; dan Muaro Labuah untuk Nagari Lubuak Kilangan).
Seperti komunitas lainnya di Minangkabau, garis keturunan masyarakat pada ke tiga Nagari menganut sistem matrilineal, yaitu masyarakat yang susunan pertalian darahnya ditarik menurut garis keturunan ibu. Di Minangkabau selama ini berlaku adagium: “Women reign but not rule”, artinya wanita memiliki singgasana dan harta pusaka, tetapi tidak berkuasa dalam mengatur masyarakat.
Yang berkuasa tetap adalah laki-laki, yang diwakili oleh Ninik-mamak, Alim-
ulama dan Cerdik-Pandai itu. Sejauh ini tidak seorangpun wanita Minang yang jadi Kepala Kaum, Kepala Suku ataupun jadi Ninik-mamak.
Gambar 9 Wilayah inti Minangkabau dan wilayah pengembangannya
Struktur Adat. Adat Minangkabau bersendikan pada Hukum Adat berda- sarkan syara‟/syariat, syara berdasarkan Kitabullah/Al-Qur‟an (Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK)). Hukum tersebut dikompilasikan dalam empat tingkatan adat10 atau tata peraturan perundangan, yaitu :
10Wawancara dengan Dr. Yuzirwan Rasyid Datuak Gajah Nan Tongga, Ketua IV Lembaga Kera- patan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat.
Danau Maninjau
Danau Singkarak Gunung
Sago
Gunung
Singgalang Gunung
Merapi Luhak
50 Kota
Luhak Tanah Data Luhak
Agam
Wilayah Inti Minangkabau
Wilayah Pengembangan = Rantau
Patalian
Padang
1. Adat Nan Sabana Adat
Adat nan sabana adat adalah Kaedah Alam, sifatnya sudah “given“ tidak berubah sepanjang waktu disebut tidak akan lekang karena panas dan tidak akan lapuk karena hujan (indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan).
Inilah yang disebut “Sunnatullah“ yaitu ketentuan Allah Pencipta Alam Semesta, dalam filsafat ilmu disebut “fenomena alam“. Dipakai sebagai timbangan yang asli (cupak usali) karena begitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, api, angin) diciptakan Allah SWT. Sifat ini tidak akan berubah, dalam tubuh makhluk dibawa oleh “gen“ yang berupa struktur RNA dan DNA (tidak sama di setiap individu). Cupak usali dalam bahasa hukum adalah yurisprudensi yaitu pedoman untuk “memepat“ (atau menara) cupak buatan (hukum yang dibuat manusia). Inilah yang dikenal dengan istilah “alam takambang jadi guru“ dalam bahasa filsafat ilmu disebut
“analogi“. Adat nan sabana adat itu dijadikan pedoman dalam penyusunan tata cara dan peraturan yang dipakai sebagai pengatur kehidupan manusia di dunia. Pengungkapannya dilafalkan dalam pahatan kato (kalimat pendek yang luas maknanya), itulah “kato dahulu“, nilainya berada pada domain Adat Nan Terdadat.
2. Adat Nan Terdadat
Adat nan terdadat adalah dokrin terhadap cupak buatan yang telah dipepat (ditara) dengan cupak usali, dipakai sebagai hukum pokok untuk membuat hukum-hukum lebih lanjut, yang menyangkut interaksi manusia dengan manusia dan interaksi manusia dengan alam sekitarnya. Interaksi manusia dengan manusia adalah; bentuk dan susunan masyarakat, dalam aspek : ekonomi, sosial, budaya, dan politik, termasuk hak dan kewajiban, serta tata kelola pemerintahan. Interaksi manusia dengan alam sekitarnya adalah bagaimana manusia memperoleh manfaat dari sumberdaya alam tanpa merusak sumberdaya alam itu sendiri, atau bagaimana pembangunan dilakukan berkelanjutan. Adat nan terdadat merupakan kebiasaan setempat yang dapat bertambah pada suatu tempat dan dapat pula hilang menurut kepentingan. Kebiasaan yang menjadi peraturan ini mulanya dirumuskan oleh Ninik-mamak pemangku adat dalam suatu negeri untuk mewujudkan aturan
pokok yang disebut adat yang diadatkan, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Oleh karena itu Adat yang terdadat ini dapat berbeda antara satu Nagari dengan Nagari lain menurut keadaan, waktu dan kebutuhan anggotanya. Pengungkapannya dilafalkan dalam pahatan kato (kalimat bersambung yang dalam maknanya), yaitu “kato kudian“, disebut juga dengan “petatah-petitih“ inilah yang disebut dengan “adat sa batang panjang”.
3. Adat Istiadat
Adat istiadat adalah cara tentang bagaimana menerapkan cupak buatan yang telah dipepat atau bagaimana cara menerapkan adat nan terdadat secara konsekuen (bertanggung jawab dan bertanggung gugat). Adat istiadat ini tidak berlaku secara umum dan lebih terbatas lingkungannya. Di berbagai Nagari berbeda-beda coraknya, inilah yang disebut dengan “adat sa lingka nagari“ (adat selingkaran/sebatas Nagari). Inilah yang berubah mengikuti kemajuan yang disebut dengan “peradaban“, nilainya berada pada domain syariat. Pengungkapannya dilafatkan dalam pahatan kato (yaitu ungkapan kalimat bersambung yang dalam maknanya), dalam petatah-petitih, disebut
“kato ba cari“ berlaku dimana Nagari yang memakainya, ada yang sama dan ada yang tidak, namun nilai hakekat dan nilai makrifatnya sama.
4. Adat Nan Diadatkan
Adat nan diadatkan adalah cara tentang bagaimana para penghulu mengundangkan adat istiadat itu dalam Nagari, sehingga ia menjadi keputusan yang mempunyai hukum tetap dan menjadi acuan dalam tata kemasyarakatan di Nagari, mungkin sekarang bisa disebut “peraturan nagari“.
Pengungkapannya dilafatkan dalam “pahatan kato “(yaitu ungkapan kalimat bersambung yang dalam maknanya) berupa petatah-petitih yang disebut “kato mufakat“, nilainya berada pada domain tarekat, berlaku dimana Nagari yang memakainya, ada yang sama dan ada yang tidak, namun nilai hakekat dan nilai makrifatnya tidak berubah.
Keempat tingkatan adat itu dalam penggunaan sehari-hari dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu: (1) adat, yang tersimpul di dalamnya Adat nan sabana adat dan Adat nan diadatkan; dan (2) istiadat, yang tersimpul didalamnya Adat yang
teradat dan Adat istiadat dalam arti sempit. Keseluruhannya menyimpulkan kata
“adat istiadat Minangkabau”.
Dalam hubungannya dengan pengertian adat dan hukum adat, walaupun keduanya sangat tipis perbedaannya, dua kelompok pertama yang disebut adat, mempunyai daya mengikat dan dijalankan oleh badan yang mempunyai kekuasaan dalam masyarakat, dapat disebut hukum adat. Sedangkan kelompok kedua yang banyak bersifat tuntunan tingkah laku yang baik, tidak dapat disebut hukum, disetarakan dengan tuntunan moral atau etika. Adat Minangkabau dapat menyesuaikan diri dengan suatu perubahan yang terjadi. Namun ada bagian- bagian adat yang mengalami perubahan dan ada pula yang tidak mengalami perubahan. Adat nan sabana adat, yaitu ketentuan yang berlaku dalam alam kodrat Illahi dan Adat nan diadatkan yang dirumuskan berdasarkan Adat nan sabana adat, termasuk kepada adat yang tidak mungkin mengalami perubahan, sebagaimana tidak berubahnya Kodrat dan Wahyu Allah. Adapun adat yang dapat mengalami perubahan ialah Adat nan terdadat dan Adat istiadat karena keduanya dirumuskan oleh Ninik mamak pemuka adat sesuai dengan tempat dan keadaan tertentu. Dalam pelaksanaannya, adat seperti ini dapat berbeda dalam Nagari yang satu dengan Nagari lainnya. Karena sifatnya yang tidak tertulis, adat ini dapat menyesuaikan dirinya dengan perkembangan masyarakat. Pemeliharaan terhadap adat itu adalah dengan selalu dipakai dan diamalkan. Dengan adanya bagian adat itu yang tidak mengalami perubahan dan ada pula yang terus mengalami perkembangan masyarakat, maka sifat adat Minangkabau disebut tetap dan berubah.
Keseluruhan hukum adat Minangkabau tergambar dalam empat macam un- dang-undang (Undang-Undang Nan Ampek), yaitu :
1. Undang-undang Luhak dan Rantau
Mengatur tugas dan wewenang Raja dan Penghulu di tempat masing-masing.
2. Undang-undang Nagari
Yaitu ketentuan yang mengatur susunan masyarakat dalam Nagari, syarat terjadinya Nagari dan kelengkapan suatu Nagari.
3. Undang-undang dalam Nagari
Disebut juga Undang-undang Isi Nagari yaitu ketentuan yang mengatur hu- bungan anak Nagari dan sesamanya, tentang pandangan hidup atau falsafah, etika dan moral. Undang-undang ini mencakup bidang perdata, pidana dan bidang ekonomi.
4. Undang-undang nan duo puluah
Yaitu ketentuan menyangkut berbagai bentuk kejahatan yang harus dihindarkan oleh seseorang dengan sanksi tertentu, bukti terjadinya kejahatan- kejahatan serta cara pembuktian atau undang-undang tentang hukum pidana (Naim 1990). Undang-undang ini terbagi dua yaitu delapan mengenai hukum materil dan dua belas lainnya menyangkut cara pembuktian.
Saat ini pelaksanaan Undang-undang nan ampek pada lokasi kajian yang terkait dengan urusan adat masih dijalankan dalam komunitas masyarakat adat di bawah pengawasan Penghulu yang tergabung dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN), se- dangkan untuk urusan pemerintahan Negara, aturan Undang-undang nan ampek tidak berlaku, yang berlaku adalah aturan formal perundang-undangan Negara RI karena adanya pemisahan pemerintah Negara dan urusan adat.
Susunan Masyarakat Adat11. Komunitas masyarakat terkecil dalam suatu Nagari adalah komunitas Kaum. Kaum adalah gabungan dari pada saudara seda- rah (paruik) yang berasal dari satu Nenek. Setiap Kaum dipimpin oleh Penghulu Kaum. Kumpulan beberapa Kaum yang mempunyai pertalian darah menurut garis ibu membentuk komunitas Suku yang mendiami sebuah kampung (Kampuang). Suku sama sekali tidak terikat pada suatu daerah tertentu. Dimana anggota Suku itu berada mereka akan tetap merasakan pertalian darah dengan segenap rasa persaudaraan se-Suku. Setiap Suku dipimpin oleh seorang Penghulu Suku. Mengingat begitu pentingnya tugas seorang penghulu sebagai pemimpin dalam suatu suku, seorang Penghulu Suku dipersyaratkan haruslah seorang laki- laki dewasa yang berilmu luas, baik dalam pengetahuan adat maupun pengetahuan umum, adil, arif dan bijaksana serta sabar. Pada mulanya suku di Minangkabau berjumlah empat suku yaitu Bodi, Caniago, Koto dan Piliang. Kemudian sesuai
11Wawancara dengan Bapak Syafii Datuak Basa, Ninik Mamak Suku Guci Nagari Koto Tangah
perkembangan zaman dan bertambahnya penduduk maka suku di Minangkabau berjumlah lebih kurang 96 suku diantaranya suku Tanjung, Jambak, Koto, Sikumbang, Guci, Sako dan lain-lain. Setiap orang Minangkabau mempunyai suku. Dalam adat Minangkabau orang yang satu suku umumnya dilarang untuk menikah karena dianggap mempunyai satu keturunan genelogis yang sama.
Kumpulan beberapa Suku yang menempati suatu wilayah tertentu membentuk komunitas Nagari. Lingkungan itu baru sah disebut Nagari bila terdapat empat Suku yang berbeda, sehingga di dalam suatu Nagari dijumpai sedikitnya empat Suku. Nagari dipimpin oleh seorang Kepala Nagari (Wali Naga- ri). Setiap Nagari mempunyai pemerintahan sendiri, mempunyai rakyat sebagai anggota masyarakat dan kekayaan sendiri dalam bentuk tanah ulayat Nagari serta mempunyai pimpinan sendiri. Demikianlah, pada setiap tingkatan komunitas terdapat pimpinan dengan gelar adat dan peran masing-masing, mulai dari penyelesaian masalah, penyelarasan dan keharmonisan rumah tangga hingga keurusan penyelesaian permasalahan Nagari baik untuk ke luar maupun ke dalam.
Dahulunya penyebutan Suku berarti juga sebutan untuk sebuah Kampuang, karena satu Kampuang didiami oleh satu Suku, baik dalam pengertian administrasi maupun sosial, budaya dan politik. Namun seiring dengan perjalanan waktu, terjadi pergeseran, dimana satu Kampuang tidak lagi hanya didiami oleh
Unit Geneologis Unit Kewilayahan
Paruik
Kaum
Suku
Taratak
Dusun
Kampuang
Nagari Konfederasi Suku
Gambar 10 Bagan susunan masyarakat adat Minangkabau
satu Suku tetapi oleh banyak Suku. Menurut Narasumber, perubahan ini terjadi sejak kejadian bergolaknya peristiwa PRRI dan G 30 September 1965. Pada dua kejadian tersebut masyarakat banyak kehilangan harta benda baik dalam bentuk terbakarnya rumah maupun habisnya harta materi (uang), sehingga bermula dari situlah masyarakat mulai menggadaikan dan menjual tanah ulayat Kaum kepada Suku lain atau kepada orang di luar Nagari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Perkembangan suatu komunitas pemukiman menjadi Nagari melalui empat tahapan yang dikenal juga dengan empat jenis nagari (nagari nan ampek), yaitu : 1. Taratak adalah tempat perladangan dan permukiman sederhana terpencil
dari kampung, muncul akibat pembukaan lahan di bukit-bukit atau hutan.
Taratak dipimpin oleh seorang Ketua (Tuo), belum mempunyai Penghulu dan rumahnya belum boleh bergonjong. Warga Taratak masih mempunyai hubungan dengan keluarga dari kampung asal, dan masih memakai Penghulu dari kampung asal, pertalian dengan kampung asal masih utuh.
Setelah “taratak” makin berkembang maka taratak membentuk “dusun”.
2. Dusun merupakan pemukiman yang telah banyak penduduknya dan telah mempunyai tempat peribadatan seperti mushalla (Surau). Biasanya Dusun mempunyai sekurang-kurangnya tiga Suku dan dapat mendirikan rumah ga- dang dengan dua gonjong, tetapi belum memiliki Penghulu. Dusun dipimpin oleh Tuo Dusun. Dusun boleh mengadakan kenduri perkawinan, tetapi belum memiliki hak untuk melaksanakan acara pemotongan ternak (besar) sendiri (hak bantai). Perkembangan selanjutnya dari “dusun” adalah “koto”.
3. Koto yaitu pemukiman yang mempunyai hak dan kewajiban seperti Nagari, dipimpin oleh Penghulu, tetapi balairungnya tidak mempunyai dinding. Koto kemudian berkembang menjadi Nagari.
4. Nagari merupakan pemukiman yang telah mempunyai kelengkapan pemerin- tahan yang sempurna, didiami sekurang-kurangnya oleh empat suku dengan Penghulu Pucuk atau Penghulu Tua sebagai pemimpin pemerintahan nagari.
Begitulah proses terbentuknya Nagari. Nagari merupakan kesatuan sosial utama yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau. Nagari merupakan suatu kesatuan hukum adat yang otonom (adat salingka nagari), republik mini
dengan teritorial yang jelas bagi anggotanya, mempunyai pemerintahan sendi- ri dan mempunyai adat sendiri yang mengatur tata kehidupan anggotanya.
Gambar 11 Pembagian wilayah sebuah Koto
Struktur Pemerintahan Adat. Struktur pemerintahan Nagari berbentuk Kelarasan, yaitu stelsel tata pemerintahan Nagari tradisional yang dibagi atas tiga bentuk yaitu ; (1) Bodi-Chaniago dengan karakteristik demokratis; (2) Koto- Piliang dengan karakteristik aristokrat, dan; (3) Lareh Nan Panjang dengan karakteristik campuran antara Bodi-Chaniago dan Koto-Piliang. Struktur adat pada masing-masing kelarasan dapat diuraikan sebagai berikut :
KOTO Hutan Larangan
Lahan kebun (Parak) Hutan Cadangan
Kapalo Koto
Inti Nagari
Uma Koto Daerah
Perkampungan (Hunian)
Lahan usahatani sawah
Sungai