DESEMBER 2021
Perlukah Ikut Tax Amnesty Jilid II?
HEADLINE
PERATURAN PAJAK
UPDATE LITERASI
NEWS
SKEMA TAX AMNESTY II
GAJI RP 8 JUTA SEBULAN,
SEMUANYA KENA PAJAK
BU SRI MULYANI?.
DARI
PEMIMPIN REDAKSI
Adanya program pengungkapan sukarela yang akan dilaksanakan pada semester pertama tahun 2022 nanti mengundang banyak tanya dari masyarakat, apakah program ini serupa dengan program amnesti pajak yang telah diselenggarakan sebelumnya pada tahun 2016.
Direktur Jenderal Pajak menegaskan bahwa Program Pengungkapan Sukarela (PPS) berbeda dengan Program Amnesti Pajak. Lebih jauh beliau menuturkan bahwa pada saat pelaksanaan amnesti pajak 2016 lalu, Pemerintah belum memiliki data dan informasi terkait wajib pajak yang belum patuh dalam pembayaran pajak sehingga DJP pun mengundang WP untuk datang dan melapor.
Adapun kalau untuk PPS ini, Pemerintah mengklaim telah mulai mengumpulkan data dan informasi pihak siapa saja yang
belum patuh membayar pajak sehingga PPS ini adalah kesempatan untuk mengungkapkan penghasilan dan asset yang belum dibayarkan pajaknya.
Berikut adalah kondisi yang melatarbelakangi penyelenggaraan Program Pengungkapan Sukarela (PPS) :
1. Masih terdapat peserta Pengampunan Pajak yang belum mendeklarasikan seluruh aset pada saat Pengampunan Pajak dan apabila ditemukan oleh DJP akan dikenai PPh final (PP-36/2017) yang dirasakan terlalu tinggi ditambah sanksi sebesar 200% (Pasal 18 ayat (3) UU TA);
2. Masih terdapat WP OP yang belum
mengungkapkan seluruh penghasilan dalam SPT Tahunan
2016 s.d. 2020;
3. Dengan adanya data dari pertukaran data otomatis (AEOI) dan data perpajakan dari ILAP, sedangkan WP belum mendeklarasikan seluruh aset dan penghasilan, sehingga perlu diberikan kesempatan secara sukarela untuk memenuhi kewajiban pajak.
Sumber : publikasi DJP
D AF TAR ISI
HEADLINE
PERLUKAH IKUT TAX AMNESTY JILID II?
LITERASI
SKEMA TAX AMNESTY II
NEWS
DITJEN PAJAK KEMENKEU OPTIMISTIS
TARGET PENERIMAAN PAJAK TAHUN 2021 AKAN TERCAPAI
UPDATE
PERATURAN PERPAJAKAN
CATAT NIH KATA PEGAWAI PAJAK:
TARGET TEMBUS 100%!
GAJI RP 8 JUTA SEBULAN,
SEMUANYA KENA PAJAK BU SRI MULYANI?
SEMUA PEMILIK NIK DISEBUT WAJIB BAYAR PAJAK, SRI MULYANI: ITU HOAKS
KEMENKEU CATAT REALISASI
RESTITUSI PAJAK TEMBUS RP 160,75 TRILIUN
KALENDER PAJAK
JADWAL WEBINAR INATAX
DJBC: KENAIKAN CUKAI ROKOK 2022 DIUMUMKAN NOVEMBER 2021
BI: ADA PENINGKATAN INFLASI DI BULAN NOVEMBER 2021
Dengan terbitnya UU No 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, Pemerintah resmi meluncurkan Program Pengungkapan Sukarela atau yang lebih dikenal dengan Tax Amnesty . Bukan hanya meningkatkan penerimaan negara dari uang tebusan, dari Program Pengungkapan Sukarela ini Pemerintah juga akan mendapat keuntungan dari hasil investasi harta Wajib Pajak yang berpartisipasi. Investasi yang dimaksud berupa investasi pada kegiatan usaha sektor pengolahan Sumber Daya Alam, Sektor Energi Terbarukan dan Surat Berharga Negara.
Yang melatarbelakangi pemerintah meluncurkan program pengungkapan sukarela ini adalah 1. Masih terdapat peserta amnesti pajak jilid I
yang belum mendeklarasikan seluruh asetnya dan apabila ditemukan oleh DJP akan dikenai PPh final (PP-36/2017) yang dirasakan terlalu tinggi ditambah sanksi sebesar 200% (Pasal 18 ayat (3) UU TA);
2. Masih terdapat WP OP yang belum mengungkapkan seluruh penghasilan dalam SPT Tahunan 2016 s.d. 2020;
HEADLINE
PERLUKAH IKUT TAX AMNESTY JILID II
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
3. Dengan adanya data dari pertukaran data otomatis (AEOI) dan data perpajakan dari ILAP, sedangkan WP belum mendeklarasikan seluruh aset dan penghasilan, sehingga perlu diberikan kesempatan secara sukarela untuk memenuhi kewajiban pajak
Program Pengungkapan Sukarela ini juga mendapat reaksi pro dan kontra dari banyak pihak. Bagi pihak yang pro menganggap program ini adalah kesempatan kedua untuk mengungkapkan harta yang belum dilaporkan atau diungkapkan sebelumnya. Sedangkan bagi pihak yang kontra, menganggap program ini melukai rasa keadilan bagi wajib pajak yang sudah mengikuti program amnesti pajak jilid I.
Disamping itu juga menyebabkan kepercayaan wajib pajak menurun karena program yang serupa baru dilaksanakan lima tahun yang lalu.
Penerimaan uang tebusan program amnesti pajak jilid I mencapai 130 T, yang terdiri dari 90,36 Triliun dari WP Orang Pribadi non UMKM, 7,56 Triliun dari WP Orang Pribadi UMKM, 4,31 Triliun dari WP Badan non UMKM, dan 0,62 Trilun dari WP Badan UMKM. Sedangkan deklarasi harta mencapai 4.813 Triliun, terdiri atas 3.633 Triliun deklarasi harta dalam negeri dan 1.034 Triliun deklarasi harta luar negeri dan repatriasi 146 Triliun. Uang tebusan senilai 130 Triliun terdiri dari Uang tebusan 114 Triliun, pembayaran bukti permulaan 1,75 Triliun dan Pembayaran Tunggakan 18,6 Triliun.
Program amnesti pajak jilid I juga memiliki dampak antara lain :
1. Pada periode setelah amnesti pajak, terja- di peningkatan kepatuhan penyampaian SPT Tahunan dengan Rasio Kepatuhan WP Peserta TA lebih tinggi dibandingkan Rasio Kepatuhan Nasional;
2. Pada periode setelah amnesti pajak, PPh Tahunan OP Peserta TA melonjak signifikan, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Non Peserta TA di tahun yang sama;
3. Bagi Peserta TA masih terdapat permas- alahan harta yang kurang diungkap pada saat TA (kondisi I). Bagi Non Peserta TA
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
perlu ditingkatkan kepatuhannya sebagaimana para Peserta TA (kondisi II)
Berkaca dari realisasi dan dampak program amnesti pajak jilid I lalu, pemerintah tidak menar- getkan jumlah penerimaan negara dari hasil Program Pengungkapan Sukarela. Pemerintah lebih menekankan kepada peningkatkan kepatu- han sukarela wajib pajak. Melalui Program Pengungkapan Sukarela ini pemerintah mempu- nyai basis data wajib pajak yang lebih relevan dan bisa digunakan untuk membangun Indone- sia lebih baik.
Program Pengungkapan Sukarela akan dilak- sanakan mulai 1 Januari – 30 Juni 2022. Pemer- intah saat ini sedang melakukan sosialisasi kepada wajib pajak agar masyarakat mengetahui program yang sedang pemerintah jalankan. Tarif pajak pada Program Pengungkapan Sukarela memang lebih tinggi dari program amnesti pajak periode lalu, namun masih lebih rendah diband- ing menyesuaikan penghasilan dalam laporan SPT Tahunannya.
Program Tax Amnesty I Target Realisasi %
Deklarasi DN & LN 4.000 T 4.813 T 120,33 %
Repatriasi 1.000 T 146 T 14,6 %
Uang Tebusan 165 T 130 T 78,79 %
*diolah dari berbagai sumber
Target dan Realisasi Program Amnesti Pajak Jilid I
Dengan disahkannya UU HPP, Program Pengungkapan Sukarela atau lebih dikenal Tax Amnesty jilid II akan resmi bergulir pada rentang tanggal 1 Januari 2022 – 30 Juni 2022. Wajib Pajak diharapkan mengikuti program ini jika selama ini masih terdapat penghasilan dan harta yang belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) maupun belum diungkapkan pada program amnesti pajak jilid I.
Di sisi lain, Pemerintah mengharapkan program ini dapat memperluas basis data Wajib Pajak yang akan digunakan kedepannya untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Wajib Pajak perlu mencermati ketentuan pelaksanaan Program Pengungkapan Sukarela ini. Secara umum terdapat 2 (dua) skema dalam Program Pengungkapan Sukarela periode ini.
Skema I untuk para wajib pajak yang belum atau kurang mengungkapkan harta bersihnya dalam program amnesti pajak periode lalu. Skema II
LITERASI
SKEMA TAX AMNESTY II
finance.detik
untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang ingin mengungkapkan harta bersih yang perolehannya sejak tahun 2016 dan masih dimiliki pada tanggal 31 Desember 2020 serta belum dilaporkan dalam SPT Tahunan OP tahun pajak 2020.
SKEMA I
Skema I dapat diikuti oleh Wajib Pajak Badan maupun Orang Pribadi. Harta bersih yang belum atau kurang diungkapkan dalam surat pernyataan (Tax Amnesty 2016) dianggap sebagai tambahan penghasilan dan dikenai Pajak Penghasilan Final.
Harta bersih yang dimaksud adalah harta yang diperoleh oleh Wajib Pajak sejak tanggal 1 Januari 1985 sampai dengan tanggal 31 Desember 2015.
(Pasal 5 ayat 1-5, UU 7/2021)
Tarif yang dikenakan dalam skema I ini adalah : a. 6% (enam persen) atas harta bersih dalam
negeri atau harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri dan diinvestasikan ke kegiatan usaha sektor pengolahan SDA atau sektor energi terbarukan di wilayah Indonesia;
b. 8% (delapan persen) atas harta bersih dalam negeri atau harta bersih diluar negeri
yang dialihkan ke dalam negeri dan tidak BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
diinvestasikan ke kegiatan usaha sektor pengolahan SDA atau sektor energi terbarukan di wilayah Indonesia; atau
c. 11% (sebelas persen) atas harta bersih luar negeri yang tidak dialihkan ke wilayah Indonesia.
(Pasal 5 ayat (7), UU 7/2021)
Dalam hal peserta program tidak memenuhi ketentuan terkait pengalihan asset dan penempatan investasi maka atas bagian harta bersih yang tidak memenuhi ketentuan tersebut akan diperlakukan sebagai penghasilan yang bersifat final pada tahun pajak 2022 dengan rincian sebagai berikut :
a. 4,5% (empat koma lima persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih dalam negeri atau harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun tidak diinvestasikan atau tidak memenuhi jangka waktu investasi;
b. 7,5% (tujuh koma lima persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri dan diinvestasikan namun tidak melaksanakan keduanya; atau
c. 5,5% (lima koma lima persen) jika wajib pajak sudah membuat peryataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun kemudian tidak dialihkan ke dalam negeri.
dalam hal Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar; atau
a. 3% (tiga persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih
dalam negeri atau harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun tidak diinvestasikan atau tidak memenuhi jangka waktu investasi;
b. 6% (enam persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri dan diinvestasikan namun tidak melaksanakan keduanya; atau
c. 4% (empat persen) jika wajib pajak sudah membuat peryataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun kemudian tidak dialihkan ke dalam negeri.
dalam hal Wajib Pajak atas kehendak sendiri mengungkapkan dan menyetorkan sendiri Pajak Penghasilan yang terutang.
(Pasal 7 ayat (4), UU 7/2021)
Wajib Pajak dapat mengikuti Program Pengungkapan Sukarela sejak tanggal 1 Januari 2022 s/d 30 Juni 2022. Wajib Pajak yang menyatakan akan mengalihkan harta ke dalam Indonesia, wajib mengalihkan harta dimaksud paling lambat 30 September 2022. Sedangkan Wajib Pajak yang menyatakan akan menginvestasikan harta nya, paling lambat 30 September 2023 dan paling singkat 5 (lima) tahun sejak diinvestasikan.
(Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (1), ayat (2), ayat (3), UU 7/2021)
Wajib Pajak yang telah memperoleh surat keterangan pengungkapan harta tidak dikenai
sanksi administratif sebesar 200% (Pasal 18 ayat BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
(3), UU 11/2016) dan tidak dapat dijadikan dasar penyelidikan, penyidikan dan/atau penuntutan pidana Wajib Pajak.
(Pasal 6 ayat (5) dan ayat (6), UU 7/2021)
SKEMA II
Skema II hanya dapat diikuti oleh Wajib Pajak Orang Pribadi. Wajib Pajak dapat mengungkapkan harta bersih yang diperoleh sejak 1 Januari 2016 s/d 31 Desember 2020, harta tersebut masih dimiliki pada tanggal 31 Desember 2020 dan belum dilaporkan dalam SPT Tahunan 2020.
Harta bersih tersebut dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima tahun 2020 dan dikenai Pajak Penghasilan Final.
(Pasal 8 ayat (1), ayat (3), pasal 9 ayat (1), UU 7/2021)
Persyaratan bagi Wajib Pajak yang akan menyampakain surat pemberitahuan pengungkapan harta sebagai berikut :
1. Memiliki NPWP;
2. Membayar PPh Final;
3. Lapor SPT Tahunan 2020; dan 4. Mencabut permohonan :
a. Pengembalian kelebihan pajak;
b. Pengurangan atau penghapusan sanki administratif;
c. Pengurangan atau pembatalan SKP yang tidak benar;
d. Pengurangan atau pembatalan STP yang tidak benar;
e. Keberatan;
f. Pembetulan;
g. Banding;
h. Gugatan; dan/atau i. Peninjauan Kembali,
Jika WP sedang mengajukan permohonan tersebut dan belum diterbitkan surat keputusan atau putusan.
(Pasal 10 ayat (2), UU 7/2021)
Ketentuan Wajib Pajak yang dapat mengungkapkan harta bersih sebagai berikut : 1. Tidak sedang diperiksa untuk tahun pajak
2016 s/d 2020;
2. Tidak sedang diperiksa bukti permulaan tahun pajak 2016 s/d 2020;
3. Tidak sedang dilakukan penyidikan perpajakan;
4. Tidak sedang berada dalam proses peradilan perpajakan; dan/atau
5. Tidak sedang menjalani hukuman pidana perpajakan.
(Pasal 8 ayat (4), UU 7/2021)
Tarif yang dikenakan dalam skema II ini adalah : a. 12% (dua belas persen) atas harta bersih
dalam negeri atau harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri dan diinvestasikan ke kegiatan usaha sektor pengolahan SDA atau sektor energi terbarukan di wilayah Indonesia;
b. 14% (empat belas persen) atas harta bersih dalam negeri atau harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri dan tidak diinvestasikan ke kegiatan usaha sektor pengolahan SDA atau sektor energi terbarukan di wilayah Indonesia; atau
c. 18% (delapan belas persen) atas harta bersih luar negeri yang tidak dialihkan ke wilayah Indonesia.
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
(Pasal 9 ayat (3), UU 7/2021)
Dalam hal peserta program tidak memenuhi ketentuan terkait pengalihan asset dan penempatan investasi maka atas bagian harta bersih yang tidak memenuhi ketentuan tersebut akan diperlakukan sebagai penghasilan yang bersifat final pada tahun pajak 2022 dengan rincian sebagai berikut :
a. 4,5% (empat koma lima persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih dalam negeri atau harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun tidak diinvestasikan atau tidak memenuhi jangka waktu investasi;
b. 8,5% (delapan koma lima persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri dan diinvestasikan namun tidak melaksanakan keduanya; atau
c. 6,5% (enam koma lima persen) jika wajib pajak sudah membuat peryataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun tidak dialihkan ke dalam negeri.
dalam hal Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar; atau
a. 3% (tiga persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih dalam negeri atau harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun tidak diinvestasikan atau tidak memenuhi jangka waktu investasi;
b. 7% (tujuh persen) jika wajib pajak sudah membuat pernyataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri
dan diinvestasikan namun tidak melaksanakan keduanya; atau
c. 5% (lima persen) jika wajib pajak sudah membuat peryataan atas harta bersih diluar negeri yang dialihkan ke dalam negeri namun tidak dialihkan ke dalam negeri.
dalam hal Wajib Pajak atas kehendak sendiri mengungkapkan dan menyetorkan sendiri Pajak Penghasilan yang terutang.
(Pasal 12 ayat (4), UU 7/2021)
Wajib Pajak dapat mengikuti Program Pengungkapan Sukarela sejak tanggal 1 Januari 2022 s/d 30 Juni 2022. Wajib Pajak yang menyatakan akan mengalihkan harta ke dalam Indonesia, wajib mengalihkan harta dimaksud paling lambat 30 September 2022. Sedangkan Wajib Pajak yang menyatakan akan menginvestasikan harta nya, paling lambat 30 September 2023 dan paling singkat 5 (lima) tahun sejak diinvestasikan.
(Pasal 10 ayat (1), pasal 12 (1), ayat (2), ayat (3), UU 7/2021)
Wajib Pajak yang telah memperoleh surat keterangan pengungkapan harta tidak diterbitkan ketetapan pajak 2016 – 2020 dan/atau tidak dapat dijadikan dasar penyelidikan, penyidikan dan/atau penuntutan pidana Wajib Pajak. Apabila Dirjen Pajak menemukan masih ada harta bersih yang belum atau kurang diungkapkan, maka akan dianggap penghasilan tahun 2022. Terhadap penghasilan tersebut akan dikenai pajak penghasilan final dengan tarif 30% dan sanksi bunga pasal 13 ayat (2) UU KUP.
(Pasal 11, UU 7/2021) BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
Sumber : https://nasional.kontan.co.id/news/ditjen-pajak-kemenkeu-optimistis-target-penerimaan-pajak-tahun-2021-akan-tercapai
Ditjen Pajak Kemenkeu optimistis target
penerimaan pajak tahun 2021 akan tercapai
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Neilmaldrin Noor menyampaikan realisasi penerimaan pajak sampai dengan akhir Oktober 2021 tumbuh 15%
year on year (yoy).
Hitungan Kontan.co.id, dengan realisasi penerimaan pajak di periode Januari-Oktober 2020 sebesar Rp 826,94 triliun, maka capaian pada Januari-Oktober 2021 sejumlah Rp 950,98 triliun. Angka tersebut setara dengan 77,34%
terhadap target akhir 2021 sebesar Rp 1.229,6 triliun. Setali tiga uang, otoritas pajak perlu menjaring setoran sebesar Rp 278,62 triliun agar mencapai target penerimaan tahun ini.
Neilmaldrin menyampaikan pihaknya yakin bisa memenuhi tugas sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2021 tersebut.
Sebab, Neilmaldrin bilang pencapaian penerimaan pajak sampai akhir tahun mengindikasikan pemulihan yang terus berlangsung. Karenanya, pada periode sebelumnya, yakni Januari-September 2021, pertumbuhan penerimaan pajak sudah mencapai 13,4% yoy.
Ia mengatakan, pertumbuhan penerimaan pajak Januari-Oktober 2021 juga telah melebihi angka pertumbuhan yang diharapkan APBN, yaitu 14,7%
yoy. Neilmaldrin mengatakan pihaknya berekspektasi pertumbuhan penerimaan pada bulan November dan Desember 2021 minimal 15% yoy. Hal ini didukung dengan tren meningkatnya aktivitas perekonomian.
“Sepanjang tingkat penerimaan bulan November dan Desember sama dengan bulan Oktober dan tidak ada kejadian luar biasa di dua bulan terakahir nanti, DJP yakin dapat memenuhi tugas penerimaan yang diembankan dalam APBN,” kata Neilmaldrin kepada Kontan.co.id, Senin (8/11).
NEWS
kemenkeu.go.id BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
Catat Nih Kata Pegawai Pajak:
Target Tembus 100%!
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan optimis penerimaan pajak tahun ini bisa tembus 100% atau mencapai target sebesar Rp 1.229,6 triliun. Hal ini didorong oleh melandain- ya kasus Covid-19 dan pemulihan ekonomi yang terus berjalan.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Neilmaldrin Noor mengatakan, perbaikan ekonomi ini tercermin dari penerimaan pajak pada akhir September lalu yang tumbuh hingga 13,4%.
Yang kemudian berlanjut di Oktober, dimana pertumbuhannya bahkan di lebih tinggi dibanding- kan dengan bulan sebelumnya. Dimana tercatat di atas 15% dibandingkan Oktober tahun 2020.
"Berdasarkan data kami sampai Oktober ini, kami (DJP) yakin dapat memenuhi tugas peneneri- maan (100%) yang diembankan dalam APBN,"
ujarnya, Jumat (5/11/2021).
Namun, ia menekankan bahwa penerimaan ini bisa tembus target jika tidak terjadi hal yang tak terduga seperti kenaikan kasus Covid-19. Sehing-
ga pada November dan Desember penerimaan pajak bisa melanjutkan perbaikan yang sudah berlangsung.
"Kami optimis tercapai sepanjang tingkat peneri- maan bulan November dan Desember sama dengan bulan Oktober dan tidak ada kejadian luar biasa di dua bulan terakhir nanti," tegasnya.
"Berdasarkan data kami sampai Oktober ini, kami (DJP) yakin dapat memenuhi tugas peneneri- maan (100%) yang diembankan dalam APBN,"
ujarnya, Jumat (5/11/2021).
Namun, ia menekankan bahwa penerimaan ini bisa tembus target jika tidak terjadi hal yang tak terduga seperti kenaikan kasus Covid-19. Sehing- ga pada November dan Desember penerimaan pajak bisa melanjutkan perbaikan yang sudah berlangsung.
"Kami optimis tercapai sepanjang tingkat peneri- maan bulan November dan Desember sama dengan bulan Oktober dan tidak ada kejadian luar biasa di dua bulan terakhir nanti," tegasnya.
NEWS
Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20211105101507-4-289223/catat-nih-kata-pegawai-pajak-target-tembus-100
Gaji Rp 8 Juta Sebulan, Semuanya Kena Pajak Bu Sri Mulyani?
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan aturan baru pajak penghasilan untuk wajib pajak orang pribadi.
"Banyak masyarakat, khususnya generasi milenial bertanya kalau gaji Rp 8 juta berapa pajaknya, cara ngitungnya gimana. Kan kadang-kadang ya merasa kalau Rp 8 juta ya seluruhnya kena pajak, ya gak juga. Akan dikurang PTKP dulu," ujarnya dalam Kick Off UU HPP yang dikutip Senin (22/11/2021).
Pemerintah juga menambah lapisan tarif Pajak Penghasilan (PPh) untuk wajib pajak orang pribadi. Tarif sekarang menjadi lima lapisan dari sebelumnya hanya empat lapis.
Penambahan lapisan tarif ini tertuang dalam UU nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). Selain itu, besaran nilai untuk dikenakan tarif pada lapisan pertama juga diubah.
"Untuk PPh, kami tambahkan 1 bracket yang penghasilannya di atas Rp 5 miliar menjadi 35%.
Sebelumnya maksimum bracket 30%," jelasnya.
Menurutnya, ini dilakukan untuk memberikan keadilan dan menurunkan kesenjangan antara pegawai yang berpenghasilan kecil dan yang berpenghasilan besar atau orang kaya.
"Ini karena terus terang di Indonesia itu ketimpangan harus coba untuk dijaga, tidak boleh terlalu lebar. Kalau terlalu lebar akan menimbulkan kecemburuan sosial dan ini akan tidak baik dari sisi stabilitas politik," jelasnya.
Dengan perubahan ini, maka tarif penghasilan kena pajak saat ini menjadi:
Rp 0-Rp 60 juta tarif 5%
Rp Rp 60- Rp 250 juta tarif 15%
Rp 250 - Rp 500 juta tarif 25%
Rp 500 juta - Rp 5 miliar tarif 30%
Rp 5 miliar ke atas tarif 35%
NEWS
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
Sebelumnya di UU PPh hanya empat lapis, yakni:
Rp 0- Rp 50 juta tarif 5%
Rp Rp 50- Rp 250 juta tarif 15%
Rp 250 - Rp 500 juta tarif 25%
Rp 500 juta ke atas tarif 30%
Dengan tarif Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang tetap Rp 54 juta per tahun, maka berikut simulasi perhitungan PPh pegawai bergaji Rp 5 juta, Rp 9 juta dan Rp 15 juta per bulan yang diuntungkan dengan UU HPP tersebut.
Pegawai Bergaji Rp 5 juta/Bulan
Jika seorang pegawai penghasilannya Rp 5 juta per bulan maka per tahun Rp 60 juta. Untuk menghitung besaran pajaknya maka penghasilan pertahun dikurangi dengan PTKP yakni:
Rp 60 juta - Rp 54 juta = Rp 6 juta. Maka penghasilan yang dikenakan pajak hanya Rp 6 juta berarti dikenakan lapisan tarif pertama.
Rp 6 juta x 5% = Rp 300 ribu. Ini adalah pajak per tahun yang harus dibayarkan pegawai berpenghasilan Rp 5 juta per bulan.
Pegawai Bergaji Rp 9 juta/Bulan
Pegawai yang memiliki gaji Rp 9 juta perbulan, maka dalam setahun Rp 108 juta. Untuk menghitung pajaknya maka penghasilan setahun dikurangi PTKP yang Rp 54 juta.
Rp 108 juta - Rp 54 juta = Rp 54 juta. Artinya dari penghasilan setahun yang dikenakan pajak hanya Rp 54 juta nya. Dikarenakan penghasilan yang masuk layer pertama menjadi maksimal Rp 60 juta maka dikenakan tarif hanya lapisan pertama.
Rp 54 juta x 5% = Rp 2,7 juta.
Jika dulu menggunakan UU PPh maka dikenakan 2 lapis tarif yakni:
Rp 50 juta x 5% = Rp 2,5 juta Rp 4 juta x 15% = Rp 600 ribu.
Maka total pajak menggunakan UU PPh Rp 3,1 juta. Sedangkan dengan UU HPP baru hanya Rp 2,7 juta. Artinya menggunakan UU PPh lebih menguntungkan pekerja.
Pegawai Bergaji Rp 15 juta/Bulan
Pegawai dengan gaji Rp 15 juta per bulan, maka setahunnya Rp 180 juta. Penghasilan yang dikenakan pajak adalah:
Rp 180 juta - Rp 54 juta = Rp 126 juta.
Dengan PKP sebesar Rp 126 juta tersebut maka pegawai tersebut dikenakan tarif PPh dua lapis yakni 5% untuk penghasilan sampai Rp 60 juta dan 15% hingga penghasilan Rp 250 juta.
5% x Rp 60 juta = Rp 3 juta 15% x Rp 66 juta = Rp 9,9 juta
Maka pajak dari gaji Rp 15 juta per bulan adalah Rp 12,9 juta per tahun
ika menggunakan UU PPh maka pajaknya:
5% x Rp 50 juta = Rp 2,5 juta 15% x Rp 76 juta = Rp 11,4 juta
Maka total pajak yang harus dibayarkan menggunakan UU PPh adalah 13,9 juta.
Sedangkan dengan UU HPP baru hanya Rp 12,9 juta yang berarti pekerja lebih diuntungkan.
Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20211105101507-4-289223/catat-nih-kata-pegawai-pajak-target-tembus-100
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali menyinggung pemberitaan yang menyebut Nomor Induk Kependudukan (NIK) menjadi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Lalu, kemudian muncul anggapan kalau semua yang punya NIK, termasuk anak berusia 17 tahun harus membayar pajak.
"Itu judul berita yang dibuat, seolah-olah semua yang punya NIK bayar pajak. Itu sangat salah, jadi itu hoaks," kata Sri Mulyani dalam acara Kick Off Sosialisasi UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan, Jumat, 19 November 2021.
Dia menyebut NIK memang bakal berfungsi menggantikan NPWP untuk kebutuhan penyederhanaan administrasi. Tapi, pemerintah masih menerapkan asas keadilan. "Kalau enggak punya income ya enggak bayar pajak,"
kata dia.
Lalu, pemerintah juga masih memberlakukan
NEWS
Semua Pemilik NIK Disebut
Wajib Bayar Pajak, Sri Mulyani: Itu Hoaks
aturan Penghasilan Tak Kena Pajak alias PTKP sebesar Rp 54 juta per tahun atau Rp 4,5 juta per bulan. Pemilik NIK yang berpenghasilan di bawah angka tersebut tidak akan membayar Pajak Penghasilan atau PPh seperti yang berlaku saat ini.
Tak hanya itu, Sri Mulyani menyebut UU baru ini juga memastikan pelaku UMKM berpenghasilan di bawah Rp 500 juta per tahun tidak akan membayar pajak. Menurut dia, ini semacam PTKP bagi pengusaha. "Jadi enggak berarti semua yang punya NIK harus membayar pajak,"
kata dia.
Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo telah menjelaskan ketentuan yang berubah di UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan ini. Prastowo menyebut perubahan terjadi pada lapisan terbawah Penghasilan Kena Pajak alias PKP. Perubahan paling krusial yaitu batas bawah Rp 50 juta naik menjadi Rp 60 juta.
prfmnews.pikiran-rakyat.com BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
Aturan lama yaitu UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Beleid ini mengatur tarif PPh Orang Perorang (OP) untuk setiap lapisan penghasilan:
1. Sampai dengan Rp 50 juta: 5 persen 2. Rp 50-250 juta: 15 persen
3. Rp 250-500 juta: 25 persen 4. di atas Rp 500 juta: 30 persen
Sementara di RUU baru, terjadi sedikit perubahan dan satu poin tambahan. Totalnya ada lima poin dengan rincian sebagai berikut:
1. Sampai dengan Rp 60 juta: 5 persen 2. Rp 50-250 juta: 15 persen
3. Rp 250-500 juta: 25 persen 4. Rp 500-Rp 5 miliar: 30 persen 5. di atas Rp 5 miliar: 35 persen Lalu seperti apa perhitungannya?
Untuk diketahui, Penghasilan Kena Pajak adalah penghasilan neto dikurangi PTKP. Untuk orang pribadi yang tidak kawin, PTKP ditetapkan sebesar Rp 54 juta setahun atau Rp 4,5 juta sebulan.
Artinya, kalau seorang warga punya gaji Rp 4,5 juta per bulan. Maka tidak ada aturan yang berubah. Warga ini tetap tidak dikenai PPh.
Tapi kemudian, Prastowo memberi contoh seorang warga bernama Panjul punya penghasilan Rp 114 juta per tahun. Karena batas PTKP Rp 54 juta, maka Penghasilan Kena Pajak dari Panjul hanya Rp 60 juta saja (Rp 114 juta dikurangi Rp 54 juta).
Kalau menyesuaikan dengan aturan lama, maka Panjul dikenai dua perhitungan PPh untuk Penghasilan Kena Pajak yang Rp 60 juta ini.
Pertama, bagian Rp 50 juta dikenai pajak 5 persen yaitu Rp 2,5 juta. Kedua, sisa Rp 10 juta dikenai pajak 15 persen yaitu Rp 1,5 juta.
Sehingga, total PPh yang dikenakan untuk Panjul adalah Rp 4 juta.
Tapi, RUU baru mengubah batas bawah dari Rp 50 juta menjadi Rp 60 juta. Sehingga, perhitungan PPh untuk Panjul berubah jadi satu saja. Penghasilan yang Rp 60 juta langsung dikenai pajak 5 persen yaitu Rp 3 juta.
Walhasil, PPh yang dikenakan kepada Panjul turun dari Rp 4 juta (aturan lama) menjadi Rp 3 juta (aturan baru). "Pajak Panjul turun Rp 1 juta,"
demikian bunyi infografis yang disertakan Prastowo dalam akun twitternya ini.
Sumber : https://bisnis.tempo.co/read/1530361/semua-pemilik-nik-disebut-wajib-bayar-pajak-sri-mulyani-itu-hoaks/full&view=ok
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi pengembalian pajak atawa restitusi pajak sampai dengan akhir September 2021 sebesar Rp 160,75 triliun. Hal ini sejalan dengan perekonomian Indonesia yang masih dalam tahap pemulihan.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kemenkeu Neilmaldrin Noor mengatakan penca- paian restitusi pajak tersebut tumbuh 12,27%
year on year (yoy).
“Namun apabila dibandingkan dengan bulan yang sama, restitusi bulan September turun 11,69% yoy dibandingkan periode yang sama tahun 2020,” kata Neilmaldrin kepada Kontan.- co.id, Senin (1/11).
Lebih lanjut, Neilmaldrin menyebut secara nomi- nal per jenis pajak, restitusi masih didominasi oleh pajak pertambahan nilai dalam negeri atau PPN DN sebesar Rp107,25 triliun, tumbuh 9,29%
yoy.
Sisanya berasal dari restitusi pajak penghasilan (PPh) Pasal 25/29 Badan sebesar Rp 45,51
NEWS
Kemenkeu catat realisasi restitusi pajak tembus Rp 160,75 triliun
triliun, melonjak 17,2% secara tahunan.
Adapun secara kumulatif selama Januari sampai dengan September 2021, ketiga jenis restitusi meningkat. Pertama, realisasi restitusi normal tumbuh 4,79% yoy. Kedua, restitusi diper- cepat tumbuh 28,67% yoy. Ketiga, restitusi yang bersumber dari upaya hukum tumbuh 13,86%
secara tahunan.
“Secara nominal, restitusi normal dan dipercepat pada bulan September menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan Agustus. Sementara itu restitusi upaya hukum menunjukkan penurunan dibandingkan bulan Agustus,” ujar Neilmaldrin.
Kendati restitusi pajak melonjak, penerimaan pajak sampai dengan akhir September 2021 masih menunjukkan tren positif dengan realisasi Rp 850,06 triliun. Angka tersebut tumbuh 13,25%
dibandingkan periode sama tahun lalu.
Begitu pula dengan pencapaian PPh Pasal 25/29 Badan sebesar Rp 128,35 triliun, tumbuh 7% yoy.
Kemudian, PPN DN senilai Rp 205,93 triliun, naik 13,9% yoy.
Sumber : https://nasional.kontan.co.id/news/kemenkeu-catat-realisasi-restitusi-pajak-tembus-rp-16075-triliun
Pemerintah berencana akan menaikkan tarif cukai rokok mulai tahun 2022. Saat ini pembahasan peta jalan kenaikan tarif cukai tersebut sudah ada di tingkat kementerian koordinator, karena sebelumnya pernah diajukan di tingkat kementerian namun tidak dilanjutkan kembali.
"Untuk roadmap, jangka menengah sekarang, ini didiskusikan di level menko, karena dulu kita pernah purpose, didrop. Kementerian lain purpose, didrop. Memang akan lebih pas di level menko untuk diskusi mengenai roadmap," kata Kepala Subdirektorat Tarif Cukai dan Harga, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Akbar Harfianto dalam diskusi Kenaikan Cukai Rokok: Antara Pembatasan Dampak Negatif dan Pemasukan Negara, Jakarta, Kamis (2/9).
Akbar mengatakan, usulan kenaikan cukai rokok ini melibatkan sejumlah kementerian dan para pemangku kepentingan. Mulai dari kementerian teknis, industri dan pihak lainnya. Namun saat ini masih dalam proses perumusan di internal Kementerian Keuangan.
"Saat ini sedang dalam proses perumusan di internal Kementerian Keuangan," kata Akbar.
Meski begitu, penetapan kenaikan cukai rokok paling lambat akan diumumkan pemerintah pada bulan November mendatang. Sebab hal ini bakal berkaitan dengan administrasi usulan pita cukai perusahaan. Sehingga pada Desember 2021, pita cukai 2022 sudah bisa dipersiapkan.
"Untuk 2022, memang betul paling lambat November sudah disampaikan, karena ini berkaitan dengan administrasi perusahaan pita cukai," kata dia.
Ekonom Faisal Basri mengaku gundah bila urusan ini dibawa ke meja menteri koordinator.
Alasannya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memiliki kedekatan khusus dengan industri.
"Saya jadi gundah kalau di Menko, karena Airlangga ini dekat sekali dengan industri," kata Faisal dalam kesempatan yang sama.
NEWS
DJBC: Kenaikan Cukai Rokok 2022 Diumumkan November 2021
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
Dia menjelaskan, di kantor Airlangga ada kelompok konsultan yang berkantor di Cikini.
Kelompok konsultan ini disebut memiliki banyak konflik kepentingan.
"Di Kemenko ada lin che wei dan punya kantor konsultan di cikini. Che wei ini banyak konflik kepentingan. Saya sebenarnya mau dilibatkan karena bersahabat sejak zaman reformasi, tapi kepentingan saya kepentingan nasional," tutur Faisal.
Faisal Basri mengaku sempat beberapa kali diundang untuk ikut rapat. Dalam kelompok tersebut ternyata ada sejumlah mantan pejabat negara dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian. Mereka ini disebut-sebut memiliki kemampuan lobi-lobi yang andal.
"Dia bikin semacam roadmap, kemudian saya diundang rapat beberapa kali, dia rekrut mantan-mantan pejabat. Pak Mulya Nasution dari Kementerian Keuangan dan Pak Deni dari Kemenperin. Kemampuan lobi yang luar biasa dan ada lagi sahabat saya yang tidak saya sebut lah. (Mereka) bikin roadmap yang cari celah-celah yang menguntungkan pabrik rokok," kata dia.
Sehingga, tak heran bila di kemenko banyak mengambil alih tugas kementerian lain.
Padahal seharusnya kementerian koordinator menjadi tempat berkoordinasi .
"Jadi sudah terbiasa kantor Menko ini mengambil alih tugas kementerian lain. Bagi saya tugas kantor menko untuk koordinasi, bukan ambil alih. Waktu launching roadmap tim che wei, Pak Iskandar Simorangkir, on his position ada hal yang terkait dengan conflict of interest ini," kata dia.
Faisal mengaku tak kaget karena Airlangga membutuhkan suplai logistik untuk persiapan tahun 2024. Sehingga dia mengingatkan dalam penetapan kebijakan tarif cukai rokok juga diliputi konflik kepentingan politik.
"Namanya Airlangga Hartarto, butuh logistik untuk nyapres. Nah di sinilah teman-teman jangan lupa melihat perspektif politik," kata dia mengakhiri
https://www.merdeka.com/uang/djbc-kenaikan-cukai-rokok-2022-diumumkan-november-2021.html
NEWS
BI: Ada peningkatan inflasi di bulan November 2021
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
Bank Indonesia (BI) memperkirakan adanya peningkatan harga (inflasi) pada bulan November 2021.
Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada pekan ketiga November 2021, inflasi diperkirakan sebesar 0,31% month on month (mom) atau meningkat dari inflasi Oktober 2021 yang sebesar 0,12% mom.
“Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2021 secara tahun kalender sebesar 1,24% year to date (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,69% yoy,” ujar Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam rilis seperti dikutip Kontan.co.id, Minggu (21/11).
Erwin memerinci, penyumbang utama inflasi pada periode tersebut yaitu komoditas telur ayam ras yang naik 0,09% mom. Disusul, minyak goreng yang naik 0,07% mom.
Cabai merah juga tercatat naik 0,05% mom, pun daging ayam ras, sawi hijau, bayam, emas perhiasan, sabun detergen bubuk, angkutan udara, serta rokok kretek filter masing-masing naik 0,01% mom.
Sementara itu, masih ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga (deflasi), antara lain tomat, bawang merah dan cabai rawit yang masing-masing turun sebesar 0,01% mom.
Ke depan, BI mengaku akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.
Tak hanya itu, BI akan memperkokoh langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh, untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.
https://nasional.kontan.co.id/news/bi-ada-peningkatan-inflasi-di-bulan-november-2021
PERATURAN
PAJAK TERBARU
KMK NOMOR 61/KM.10/2021
2 NOVEMBER 2021
Nilai Kurs Sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Bea Keluar, Dan Pajak Penghasilan Yang Berlaku Untuk Tanggal 3 November 2021 Sampai Dengan 9 November 2021
Link aturan:
https://pajak.go.id/id/peraturan/nilai-kurs-sebagai-dasar-pelunasan-bea-masuk-pajak-pertambahan-nilai-barang-dan-jasa-1255
KMK NOMOR 62/KM.10/2021
09 NOVEMBER 2021
Nilai Kurs Sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Bea Keluar, Dan Pajak Penghasilan Yang Berlaku Untuk Tanggal 10 November 2021 Sampai Dengan 16 November 2021
Link aturan :
https://pajak.go.id/id/peraturan/nilai-kurs-sebagai-dasar-pelunasan-bea-masuk-pajak-pertambahan-nilai-barang-dan-jasa-1256
KMK NOMOR 63/KM.10/2021
16 NOVEMBER 2021
Nilai Kurs Sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Bea Keluar, Dan Pajak Penghasilan Yang Berlaku Untuk Tanggal 17 November 2021 Sampai Dengan 23 November 2021
Link Aturan :
https://perpajakan.ddtc.co.id/peraturan-pajak/read/keputusan-menteri-keuangan-63km-102021
KMK NOMOR 64/KM.10/2021
23 NOVEMBER 2021
Nilai Kurs Sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Bea Keluar, Dan Pajak Penghasilan Yang Berlaku Untuk Tanggal 24 November 2021 Sampai Dengan 30 November 2021
Link Aturan :
https://perpajakan.ddtc.co.id/peraturan-pajak/read/keputusan-menteri-keuangan-64km-102021
KMK NOMOR 65/KM.10/2021
30 NOVEMBER 2021
Nilai Kurs Sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Bea Keluar, Dan Pajak Penghasilan Yang Berlaku Untuk Tanggal 1 Desember 2021 Sampai Dengan 7 Desember 2021
Link Aturan :
https://perpajakan.ddtc.co.id/peraturan-pajak/read/keputusan-menteri-keuangan-65km-102021
UPDATE
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
KALENDER PAJAK
UPDATE
MON TUE WED THU FRI SAT SUN
01 02 03 04 05
08 07
06 09 10 11 12
15 14
13 16 17 18 19
22 21
20 23 24 25 26
29 28
27 30 31
DESEMBER 2021
KETERANGAN:
Batas Waktu Penyetoran PPh Pot/Put Masa November 2021
Batas Waktu Penyetoran PPh Setor Sendiri November 2021
Batas Waktu Pelaporan SPT PPh Masa November 2021
Batas Waktu Penyetoran dan
Pelaporan PPN Masa November 2021
Des
10
Des
15
20
Des Des31
UPDATE
JADWAL WEBINAR
BELASTING MAGAZINE DESEMBER 2021
LIVE WEBINAR
BEDAH KASUS SENGKETA TRANSFER PRICING
DI PENGADILAN PAJAK
RABU, 22 DESEMBER 2021 14.00 - 16.00 WIB
FREE PENDAFTARAN bit.ly/webinarseriesINATAX .co.id
JAKARTA STRATEGIC CONSULTING
JSC
BATAM KONSULTAN INDONESIAIDE NETWORK CONSULTING
INFORMASI LENGKAP: 0812 7764 3011
Indra Rama Putra, S.H. APCIT Maesi Suntari, SST.Pa., M.Ak Chief Consultant Team Inatax Assisten Manager
E-SERTIFIKAT SLIDE MATERI DAPATKAN
FASILITAS:
100%
FREE
JSC
Digital Media Kreasi Indonesia IT Development and Technology AdvisoryKelas Kreasi Indonesia Blended Learning Center Jakarta Strategic Consulting
Business and Tax Consultant
Batam Konsultan Indonesia Tax Consultant
Ide Network Consulting Tax Consultant
In Affiliation With:
PARTNER INATAX BATAM PT. Batam Konsultan Indonesia Ruko Anggrek Mas Centre Blok A no.
27, Kota Batam, Kepulauan Riau 29444
Phone: (0778) 4809427 Expert: 0812 5600 1221 E-mail: [email protected]
PARTNER INATAX SEMARANG PT. Ide Network Consulting
Jl. Mulawarman Raya No.3, Pedalangan, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah 50275
Phone: 024 7640 6880 E-mail: [email protected] PARTNER INATAX JAKARTA
PT. Jakarta Strategic Consulting Wisma Staco Lt. 2.
Jl. Casablanca Kav.18 Jakarta Selatan Phone: 021 2283 4517
Expert: 0811 8384 517 E-mail: [email protected]
Imam Syaifullah Putra Juanda
Haris Rahmat Hidayat
DESIGN GRAFIS Hafid Syam Imam Syaifullah KONTRIBUTOR
EDITOR
Indra Rama Putra PEMIMPIN REDAKSI