Studi Kasus di PT. X
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Oleh : Tjitra Tania Sari NIM : 072114081
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
EVALUASI PENGHITUNGAN PAJAK
PENGHASILAN PASAL 21
(Studi Kasus di PT. X)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Oleh : Tjitra Tania Sari
072114081
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada
Allah, Bapa kita. (Kolose 3:17)
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
(Pengkotbah 3:11a)
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
1. Tuhan Yesus Kristus
2. Mama dan Kokoku tersayang 3. Pacarku
UNIVERSITAS SANATA DHARMA FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI – PROGRAM STUDI AKUNTANSI YOGYAKARTA
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya menyatakan bahwa Skripsi dengan judul:
EVALUASI PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21, Studi Kasus di PT. X dan dimajukan pada tanggal 22 Juli 2013 adalah hasil karya saya.
Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa yang saya tulis ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin, atau meniru dalam bentuk rangkaian kaliamat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain yang saya aku seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru. Atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.
Apabila saya melakukan hal tersebut diatas, baik sengaja maupun tidak, dengan ini menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakanmenyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.
Yogyakarta, 8 Juli 2013 Yang membuat pernyataan,
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Tjitra Tania sari
NIM : 072114081
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
EVALUASI PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 Studi Kasus di PT. X
Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolannya dalam bentuk pangkalan data, mendidtribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Yogyakarya, 8 Juli 2013 Yang menyatakan,
ABSTRAK
EVALUASI PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 Studi Kasus di PT. X
Tjitra Tania Sari NIM : 072114081 Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2013
Penelitian ini secara garis besar bertujuan untuk memberikan penilaian tentang penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 di PT. X tahun pajak 2011. Latar belakang dalam penelitian ini adalah pentingnya melakukan penghitungan Pajak penghasilan Pasal 21 yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Jenis penelitian ini adalah studi kasus di PT. X. Teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan metode komparasi yang bertujuan untuk membandingkan penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dilakukan oleh PT. X dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
ABSTRACT
An Evaluation of Calculation of Income Tax Article 21 A Case Study at PT. X
Tjitra Tania Sari Student Number: 072114081
Sanata Dharma University Yogyakarta
2013
The purpose of this research is to provide an assessment of the Calculation of Income Tax Article 21 of the PT. X for the tax year 2011. The background of this research is the importance of Income Tax Calculation in order to be in accordance with Article 21 legislation.
This is a case study research at the PT. X. The data are collected by interviews and documentation. The data analysis technique used is comparative methods comparing the process of article 21-Income Tax Calculations done by the PT. X with the taxation legislation.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yesus Kristus karena dengan rahmat,
berkat dan penyertaan-Nya dalam perencanaan dan penyusunan skripsi ini, sampai
dengan selesainya penulisan skripsi yang berjudul “Evaluasi Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21”. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi, Prodi Akuntansi, Fakultas
Ekonomi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Banyak hal yang selalu memotivasi penulis untuk bersemangat
mengerjakan sampai akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh
karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan kekuatan, kasih setiaMu yang
selalu mengalir selama penyusunan skripsi ini.
2. Romo Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J. selaku Rektor Universitas
Sanata Dharma yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dan
mengembangkan kepribadian kepada penulis.
3. Drs. Y.P. Supardiyono, M.Si., Akt., QIA selaku Dosen Pembimbing yang
dengan sabar membimbing, memberi masukan, dan mengarahkan penulis
selama penyusunan skripsi ini.
4. Mama Lionny, Koko Adhen, dan Daniel yang selalu memberikan kasih
sayang dan doa yang tak habis-habisnya agar penulis dapat tetap terus
berusaha untuk melakukan yang terbaik.
6. Seluruh anggota dari Christ Disciple Ministry, khususnya untuk Pak Tatang, Bu Firma, Oma Heru, Bu Bambang, Ezra, Esther dan Elsa yang selalu
memberikan semangat dan doa sampai akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan.
7. Ci Yeyen, William, Echa, Jojo, Unyil, Tanti, Sela, Babun yang sudah
memberikan masukan dan dorongan sampai akhirnya skripsi ini dapat
diselesaikan.
8. Teman-teman Akuntansi 2007.
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas
bantuannya.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa ada banyak keterbatasan saat
mengerjakan skripsi ini sehingga masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Penulis mengharapkan masukan dan saran yang dapat membantu
skripsi ini menjadi lebih baik lagi dan sempurna. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi pembacanya.
Yogyakarta, 8 Juli 2013
DAFTAR ISI
4. Teori-teori yang Mendukung Pemungutan Pajak…...… 8
5. Tata Cara Pemungutan Pajak…...……….……. 9
6. Sistem Pemungutan Pajak………...……… 10
2. Wajib Pajak Penghasilan Pasal 21…………....…...…... 17
3. Dasar Hukum.………..……..………. 18
4. Subjek Pajak Penghasilan……...…...….……… 19
5. Objek Pajak Penghasilan..……….. 21
6. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21……….…...…... 21
7. Tarif Pajak dan Penerapannya……… 24
C. Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21)………...… 28
1. Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21…………..……..… 29
2. Tidak Termasuk Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21.... 31
3. Objek Pajak Penghasilan Pasal 21………... 32
7. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)……….…. 47 21 atas gaji teratur untuk pegawai tetap yang dilakukan oleh PT.X dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku ……..………..……… 63
a. Penentuan seluruh penghasilan bruto yang diterima oleh pegawai tetap selama sebulan……… 63
b. Penentuan jumlah penghasilan neto sebulan …..… 67
c. Penentuan penghasilan neto disetahunkan………… 72
d. Penentuan Penghasilan Kena Pajak……… 75
e. Penetuan PPh Pasal 21 Terutang Setahun..………… 78
f. Penentuan PPh Pasal 21 Terutang Sebulan………… 81
2. Membandingkan penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan tidak teratur berupa teratur dantidak teratur setahun yang diterima oleh pegawai tetapselama sebulan………...….… 84
b. Penentuan PPh Pasal 21 Terutang atas Gaji Teratur……….……… 106
c. Penentuan PPh Pasal 21 Terutang atas Gaji TidakTeratur……… 111
rata-b. Penentuan upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian telah melebihi
Rp150.000,00 dan sepanjang jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang bersangkutan
belum melebihi Rp1.320.000,00……… 118
c. Penentuan jumlah upah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang bersangkutan telah melebihi Rp1.320.000,00 dan kurang dari Rp6.000.000,0………..……… 122
C. Pembahasan 1. Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Pegawai Tetap atas PenghasilanTeratur……… 126
2. Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Pegawai Tetap atas Penghasilan Tidak Teratur…..……… 130
3. Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Pegawai Tidak Tetap……….………... 132
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan……… 135
B. Keterbatasan Penelitian.………..…….……. 136
C. Saran……….. 137
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Lapisan Penghasilan Kena Pajak untuk Wajib
Pajak Orang Pribadi………... 25 Tabel 2.2 Penghitungan PPh bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi………...…. 42
Tabel 5.1 Data Pegawai Tetap A………..…. 57
Tabel 5.2 Data Pegawai Tetap B………..………. 58
Tabel 5.3 Penghitungan Jumlah Upah pada hari ke-9
sampai hari ke-12……….. 59 Tabel 5.4 Cara penghitungan penghasilan bruto sebulan PT. X
Tahun 2011……….………... 65 Tabel 5.5 penghitungan penghasilan bruto sebulan menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun
2011………….……… 65 Tabel 5.6 Cara penghitungan penghasilan bruto sebulan
PT. X Tahun 2011………..……… 66 Tabel 5.7 Cara penghitungan penghasilan bruto sebulan
menurut Peraturan Perundang-Undangan
Perpajakan Tahun 2011……….……… 66 Tabel 5.8 Penghitungan biaya jabatan perbulan Tahun 2011
PT. X dengan Peraturan Perundang-Undangan
Perpajakan ………... 69 Tabel 5.9 Penghitungan penghasilan neto sebulan PT. X
Tahun 2011………...…. 70 Tabel 5.10 Penghitungan Biaya Jabatan perbulan Tahun 2011menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan………. 70 Tabel 5.11 Penghitungan penghasilan neto sebulan PT. X
Tahun 2011………...…. 71 Tabel 5.12 Penghitungan penghasilan neto sebulan Tahun 2011
menurut Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan...…... 71 Tabel 5.13 Penghitungan Penghasilan Netto Setahun PT. X Tahun
2011……….……….. 73 Tabel 5.14 Penghitungan Penghasilan Netto Setahun PT. X Tahun
2011……….……….. 73 Tabel 5.15 Penghitungan Penghasilan Neto Setahun PT. X Tahun
2011 ………..………...………. 74 Tabel 5.16 Penghitungan Penghasilan Neto Setahun menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011………. 76 Tabel 5.20 Penghitungan Penghasilan Kena Pajak PT. X Tahun
2011………..…. 77 Tabel 5.21 Penghitungan Penghasilan Kena Pajak menurut Peraturan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011………. 77 Tabel 5.22 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun PT. X 2011.... 79 Tabel 5.23 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011…. 79 Tabel 5.24 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun PT. X
Tahun 2011………..……….…. 80 Tabel 5.25 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011…. 80 Tabel 5.26 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang sebulan menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011…. 82 Tabel 5.27 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang sebulan menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011…. 82 Tabel 5.28 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang sebulan PT. X
Tahun 2011……….… 83 Tabel 5.29 PPh Pasal 21 terutang sebulan menurut Peraturan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011……..……… 83 Tabel 5.30 Cara penghitungan penghasilan bruto setahun untuk
penghasilan teratur dan tidak teratur PT. X Tahun 2011….. 85 Tabel 5.31 Cara penghitungan penghasilan bruto setahun untuk
penghasilan teratur dan tidak teratur menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011... 86 Tabel 5.32 Cara penghitungan penghasilan bruto setahun untuk
penghasilan teratur dan tidak teratur PT. X Tahun 2011…… 87 Tabel 5.33 Cara penghitungan penghasilan bruto setahun untuk
penghasilan teratur dan tidak teratur menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011…. 88 Tabel 5.34 Penghitungan biaya jabatan PT. X Tahun 2011…….……… 90 Tabel 5.35 Penghitungan biaya jabatan menurut Peraturan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011………….… 91 Tabel 5.36 Penghitungan biaya jabatan PT. X Tahun 2011 ……… 92 Tabel 5.37 Penghitungan biaya jabatan menurut Peraturan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011………….… 93 Tabel 5.38 Penghitungan Penghasilan Neto Setahun PT. X
Tahun 2011……… 94 Tabel 5.39 Penghitungan Penghasilan Neto Setahun menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan
Tahun 2011……… 94 Tabel 5.40 Penghitungan Penghasilan Neto Setahun PT. X
Tabel 5.42 Penghasilan Tidak Kena Pajak yang dikenakan……… 96 Tabel 5.43 Penghitungan Penghasilan Kena Pajak PT. X
Tahun 2011……… 97 Tabel 5.44 Penghitungan Penghasilan Kena Pajak menurut Peraturan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011………. 97 Tabel 5.45 Penghitungan Penghasilan Kena Pajak PT. X Tahun 2011.. 98 Tabel 5.46 Penghasilan Kena Pajak menurut Peraturan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011………... 98 Tabel 5.47 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun PT. X
tahun 2011………. 100 Tabel 5.48 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011... 100 Tabel 5.49 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun PT. X
Tahun 2011……… 101 Tabel 5.50 Penghitungan PPh Pasal 21 terutang setahun menurut
Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan
Tahun 2011……… 101 Tabel 5.51 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Tahun
Pajak 2011 untuk Pegawai Tetap atas Penghasilan
Teratur dan Penghasilan Tidak Teratur berupa THR dan Bonus menurut PT. X………...……….... 102 Tabel 5.52 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Tahun
Pajak 2011 untuk Pegawai Tetap atas Penghasila Teratur dan Penghasilan Tidak Teratur berupa THR dan Bonus berdasarkan Peraturan Perundang-undangan
Perpajakan yang berlaku……….. 103 Tabel 5.53 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Tahun
Pajak 2011 untuk Pegawai Tetap atas Penghasilan Teratur dan Penghasilan Tidak Teratur berupa THR dan Bonus
menurut PT. X………..………. 104 Tabel 5.54 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Tahun
Pajak 2011 untuk Pegawai Tetap atas Penghasilan Teratur dan Penghasilan Tidak Teratur berupa THR dan Bonus berdasarkan Peraturan Perundang-undangan
Perpajakan yang berlaku……… 105 Tabel 5.55 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang
Tahun Pajak 2011 atas Penghasilan Teratur
menurut PT.X ……… 107 Tabel 5.56 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang
Tahun Pajak 2011 atas penghasilan teratur berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan
yang berlaku………..… 108 Tabel 5.57 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang
Tabel 5.58 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Tahun Pajak 2011 atas Penghasilan Teratur berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang
berlaku……….. 110 Tabel 5.59 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Tahun
Pajak 2011 atas Penghasilan Tidak Teratur
Menurut PT. X……….. 112 Tabel 5.60 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang Tahun
Pajak 2011 atas Penghasilan Tidak Teratur berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang berlaku.. 113 Tabel 5.61 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang
Tahun Pajak 2011 atas Penghasilan Tidak Teratur
Menurut PT. X……….……….. 114 Tabel 5.62 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang
Tahun Pajak 2011 atas Penghasilan Tidak Teratur berdasarkan Peraturan Perundang-undangan
Perpajakan yang berlaku……… 115 Tabel 5.63 Penentuan jumlah upah/uang saku harian, atau rata-rata
upah/uang saku yang diterima atau diperoleh dalam
sehari untuk bulan Agustus menurut PT. X Tahun 2011… 117 Tabel 5.64 Penentuan jumlah upah/uang saku harian, atau rata-rata
upah/uang saku yang diterima atau diperoleh dalam sehari untuk bulan Agustus menurut Peraturan
Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011……… 117 Tabel 5.65 Penghitungan upah/uang saku harian atau rata-rata
upah/uangsaku harian telah melebihi Rp150.000,00 dan sepanjang jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang bersangkutan belum melebihi
Rp1.320.000,00 menurut PT. X Tahun 2011……… 120 Tabel 5.66 Penghitungan upah/uang saku harian atau rata-rata
upah/uang saku harian telah melebihi Rp150.000,00 dan sepanjang jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang bersangkutan belum melebihi Rp1.320.000,00 menurut Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan Tahun 2011……… 121 Tabel 5.67 Penghitungan jumlah upah kumulatif ( 8 hari kerja ) yang
diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang bersangkutan telah melebihi Rp1.320.000,00 dan kurang dari Rp6.000.000,00 menurut PT. X untuk
Bulan Agustus 2011……….…… 123 Tabel 5.68 Penghitungan jumlah upah kumulatif ( 8 hari kerja ) yang
Tabel 5.69 Penghitungan jumlah upah pada hari ke-9 sampai hari ke-12 yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang bersangkutan, jumlah PPh Pasal 2l per hari yang
dipotong menurut PT. X untuk Bulan Agustus 2011……... 125 Tabel 5.70 Penghitungan jumlah upah pada hari ke-9 sampai hari ke-12
yang diterima atau diperoleh dalam bulan kalender yang bersangkutan, jumlah PPh Pasal 2l per hari yang dipotong menurut Peraturan Perundang-Undangan Perpajakan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu perusahaan adalah
memiliki Sumber Daya Manusia atau pegawai yang berkualitas. Pegawai
memiliki peranan penting dalam kegiatan operasional perusahaan, sehingga
diharapkan dapat memberikan hasil kerja yang maksimal sesuai dengan
target yang diinginkan dalam suatu perusahaan tersebut. Oleh karena itu,
pimpinan suatu perusahaan juga diharapkan dapat memberikan motivasi
kepada para pegawainya. Salah satu motivasi yang diberikan dapat berupa
pemberian gaji dan upah yang sesuai dengan jasa yang telah diberikan oleh
seorang pegawai kepada perusahaannya. Gaji dan upah yang diterima oleh
pegawai tersebut, nantinya akan dikenai pajak yaitu Pajak Penghasilan Pasal
21. Pajak Penghasilan Pasal 21 yang harus dibayarkan oleh pegawai
biasanya telah dipotong badan usaha (pemberi kerja) tempat dimana
pegawai tersebut bekerja. Hal ini telah diatur dalam UU Nomor 36 tahun 2008 yang didalamnya terdapat aturan tentang besarnya tarif pajak dan tata cara pembayaran pajak. Hal ini pula yang membuat perusahaan tersebut
harus menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi pegawai dan
melaporkannya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
pun perlu dicermati karena kemungkinan besar dapat terjadi
ketidaksesuaian dengan praktik sebenarnya. Sehingga dibutuhkan
pemahaman tentang undang-undang dan peraturan perpajakan yang terkait.
Hal ini dikarenakan, apabila pajak yang dipotong tidak sesuai dengan
peraturan yang terkait, maka dapat terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan
pertama, apabila pajak yang dipotong terlalu besar maka Take Home Pay yang diterima oleh pegawai menjadi lebih kecil. Dan kemungkinan kedua,
apabila pajak yang dipotong terlalu kecil, maka Take Home Pay yang diterima oleh pegawai akan menjadi lebih besar. Dari kesalahan-kesalahan
yang muncul tersebut, maka penulis ingin mengevaluasi penghitungan Pajak
Penghasilan Pasal 21 pada pegawai terhadap peraturan perpajakan untuk
mengetahui kebenarannya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah
yang diajukan penulis adalah apakah penghitungan Pajak Penghasilan Pasal
21 untuk pegawai tetap atas penghasilan teratur dan penghasilan tidak teratur
serta pegawai tidak tetap di PT X tahun pajak 2011 mengacu pada peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku tersebut
meliputi: Pasal 21 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan
Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah atas Penghasilan Pekerja
pada Kategori Usaha Tertentu, Peraturan Menteri Keuangan Nomor
250/PMK.03/2008 tentang Besarnya Biaya Jabatan ayau Pensiun yang Dapat
Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap atau Pensiunan,
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas Penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi, Peraturan Dirjen Pajak Nomor
57/PJ/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Dirjen Pajak Nomor
Per-31/PJ/2009 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan
Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian secara garis besar adalah untuk memberikan penilaian
tentang penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 di PT. X tahun pajak 2011.
D. Manfaat Penelitian
Penulis berharap bahwa penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1. Bagi Universitas Sanata Dharma
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai tambahan koleksi
dan informasi serta wawasan dalam penelitian mahasiswa yang
2. Bagi Perusahaan yang diteliti
Bagi perusahaan yang diteliti, penelitian ini diharapkan dapat memberi
manfaat berupa pengetahuan dan referensi kepada perusahaan dalam
meningkatkan kualitas dan evaluasi yang dibutuhkan untuk kemajuan
perusahaan tersebut.
3. Bagi penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam
bidang perpajakan, khususnya penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21
pada suatu Perusahaan. Serta dapat menerapkan teori yang diperoleh
selama kuliah dalam praktek yang sesungguhnya.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini berisi tentang penjelasan mengenai urutan dari
penulisan, yang disusun sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dari
penelitian, manfaat yang diharapkan dari penulisan skripsi ini, serta
sistematika dari penulisan skripsi ini.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bab ini membahas mengenai tinjauan pustaka yang akan
digunakan oleh penulis dalam penulisan karya ilmiah ini, baik
terkait dengan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas gaji pegawai tetap
dan pegawai tidak tetap.
BAB III Metode Penelitian
Bab ini menggambarkan cara-cara untuk melaksanakan kegiatan
penelitian mulai dari rancangan penelitian sampai dengan teknik
analisis data yang digunakan dalam melakukan evaluasi
penyelesaian masalah.
BAB IV Gambaran Umum Perusahaan
Bab ini berisi mengenai gambaran umum tentang perusahaan yang
diteliti.
BAB V Analisis Dan Pembahasan
Bab ini menjelaskan mengenai data-data yang berasal dari
perusahaan serta pembahasan masalah yang dihadapi perusahaan
berdasarkan tinjauan pustaka yang relevan untuk menentukan
alternatif penyelesaian masalah.
BAB VI Penutup
Dalam bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan yang telah
dilakukan, keterbatasan, serta saran untuk perusahaan/ instansi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pajak
1. Pengertian Pajak
Berikut ini adalah pengertian pajak menurut beberapa ahli, yaitu:
Menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani:
Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Menurut Undang-undang Pajak No.36 Tahun 2008:
Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara, bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
2. Fungsi Pajak(Mardiasmo, 2009: 2)
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan
bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak
merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua
pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal
a. Fungsi anggaran (budgetair)
Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang digunakan untuk
membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah baik pengeluaran
rutin maupun pengeluaran pembangunan
b. Fungsi mengatur (regulerend)
Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau
melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang social dan
ekonomi.Sebagai contoh yaitu pajak yang tinggi dikenakan terhadap
minuman keras dengan tujuan untuk mengurangi konsumsi minuman
keras.
3. Syarat Pemungutan Pajak (Supramono, 2010: 5) 1. Pemungutan pajak harus adil
Pemungutan pajak yang adil berarti pajak yang dipungut harus
adil dan merata sehingga harus sebanding dengan kemampuan
membayar pajak dan sesuai dengan manfaat yang diminta Wajib
Pajak dari Pemerintah.
2. Pemungutan pajak harus berdasarkan Undang-Undang
Untuk mewujudkan pemungutan yang adil, pemungutan pajak
harus dapat memberikan kepastian hukum bagi Negara dan warga
negaranya. Pemungutan pajak harus didasarkan atas Undang-Undang
yang disahkan oleh lembaga legislatif. Untuk perwujudannya,
3. Pemungutan pajak tidak mengganggu perekonomian
Pemungutan pajak yang merupakan penyerapan sebagian sumber
daya dari masyarakat tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan
produksi dan perdagangan yang akan mengakibatkan kelesuan
perekonomian negara.
4. Pemungutan pajak harus efesien
Biaya untuk pemungutan pajak harus seminimal mungkin dan hasil
pemungutan pajak seharusnya digunakan secara optimal untuk
membiayai pengeluaran negara seperti yang tercantum dalam APBN.
5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana
Pemungutan pajak secara sederhana sehingga memudahkan Wajib
Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.
4. Teori yang Mendukung Pemungutan Pajak(Supramono, 2010: 23) a. Teori Asuransi
Dalam perjanjian asuransi, peserta asuransi wajib untuk
membayar premi asuransi dengan tujuan sebagai perlindungan bagi
orang yang bersangkutan atas keselamatan dan harta bendanya.
b. Teori Kepentingan
Pembebanan pajak kepada masyarakat didasarkan atas
c. Teori Daya Pikul
Teori ini menyatakan bahwa biaya-biaya atas perlindungan
yang diberikan oleh Negara kepada warga Negara harus dipikul oleh
segenap orang yang menikmatinya dalam bentuk pajak.
d. Teori Asas Daya Beli
Teori ini beranggapan bahwa pajak digunakan untuk menarik
daya beli masyarakat.
e. Teori Bakti
Masyarakat dianggap memiliki kewajiban mutlak, yaitu
berbakti kepada Negara. Untuk membuktikan baktinya, masyarakat
harus menyadari bahwa pajak adalah suatu kewajiban, oleh karena
itu Negara memiliki hak mutlak untuk memungut pajak dari
masyarakatnya.
5. Tata Cara Pemungutan Pajak
Tata cara atas pemungutan pajak dapat disebut juga dengan stelsel
pajak. Pemungutan pajak menurut Prof. Dr. Mardiasmo (2009) dapat
dilakukan berdasarkan 3 stelsel, yaitu:
a. Stelselnyata (real stelsel)
Pengenaan pajak yang berdasarkan pada objek (penghasilan
yang nyata) sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada
akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya
namun baru dapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan
riel diketahui).
b. Stelselanggapan (fictieve stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur
oleh undang-undang. Sebagai contoh yaitu penghasilan suatu tahun
dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun
pajak sudah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk
tahun pajak berjalan. Pada stelsel ini pajak dapat dibayar selama
thaun berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun namun tidak
berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.
c. Stelselcampuran
Stelsel campuran ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata
dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung
berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya
pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya.
Apabila pajak yang menurut kenyataan lebih besar dari pajak
menurut anggapan, maka Wajib Pajak harus menambah namun
sebaliknya apabila lebih kecil maka kelebihannya dapat diambil
kembali.
6. Sistem Pemungutan Pajak (Supramono dan Damayanti, 2009: 4) a. Official Assessment system
(fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib
Pajak. Ciri-ciri dari sistem ini adalah:
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada
fiskus.
2) Wajib Pajak bersifat pasif.
3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak
oleh fiskus.
b. Self Assessment system
Self assessment system merupakan suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk
menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. Ciri-ciri dari
sistem ini adalah:
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada
Wajib Pajak sendiri,
2) Wajib Pajak aktif (mulai dari menghitung, menyetor dan
melaporkan sendiri pajak yang terutang),
3) Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.
c. Withholding system
Withholding system merupakan suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus
dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan
7. Pengelompokkan Pajak (Supramono dan Damayanti, 2009: 5) a. Jenis pajak menurut golongannya.
1) Pajak langsung
Pajak langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak
dapat dilimpahkan kepada pihak lain, tetapi harus menjadi
beban langsung Wajib Pajak yang bersangkutan. Contoh pajak
langsung adalah Pajak Panghasilan (PPh) karena pengenaan
pajaknya langsung kepada Wajib Pajak yang menerima
penghasilan, tidak dapat di limpahkan.
2) Pajak tak langsung.
Pajak tak langsung adalah pajak yang pembebanannya
dapat dilimpahkan ke pihak lain. Contoh pajak tak langsung
adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) karena yang menjadi
Wajib Pajak seharusnya adalah penjualnya.
b. Jenis pajak menurut sifatnya
1) Pajak Subjektif
Pajak subjektif adalah pajak yang didasarkan atas keadaan
subjeknya, memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh
pajak subjektif adalah Pajak Penghasilan (PPh) karena
pengenaan Pajak Penghasilan memperhatikan keadaan diri
2) Pajak Objektif
Pajak objektif adalah pajak yang dikenakan tanpa
memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh pajak
objektif adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB).
3) Jenis pajak menurut lembaga pemungutnya
a) Pajak pusat (Negara)
Pajak pusat adalah pajak yang dipungut oleh
pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai
pengeluaran negara. Contoh pajak negara adalah Pajak
Pengahasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
b) Pajak Daerah
Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh
pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai
pengeluaran daerah.
c) Pajak provinsi
Contoh dari pajak provinsi adalah Pajak Kendaraan
Bermotor dan Kendaraan di atas air, serta Bea Balik Nama
kendaraan dan Kendaraan di atas air.
d) Pajak Kabupaten/kota
Contoh dari pajak kabupaten adalah pajak hotel, pajak
e) Pajak final
Pajak final berarti pajak yang telah dibayarkan oleh
Wajib Pajak melalui pemungutan atau pemotongan pihak
lain dalam tahun berjalan tidak dapat dikreditkan atau
dikurangkan pada total PPh yang terutang pada akhir tahun
saat pengisiian SPT Tahunan PPh.
f) Pajak tidak Final
Pajak tidak final adalah pajak yang telah dibayarkan
oleh Wajib Pajak melalui pemungutan atau pemotongan
pihak lain dalam tahun berjalan dan dapat dikreditkan pada
total PPh yang terutang pada akhir tahun saat pengisian SPT
Tahunan PPh.
8. Hambatan Pemungutan Pajak
Hambatan terhadap pemungutan pajak menurut Mardiasmo dalam
Purnandika (2005: 17) dapat dikelompokkan menjadi:
a. Perlawanan pasif
Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak, yang dapat
disebabkan karena:
1) Perkembangan intelektual dan moral masyarakat,
2) Sistem perpajakan yang sulit dipahami masyarakat, dan
3) Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan
b. Perlawanan aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang
secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak.
9. Tarif Pajak
Tarif pajak merupakan tarif yang digunakan untuk menetukan
besarnya pajak yang harus dibayar. Tarif pajak digunakan dalam
perhitungan besarnya pajak terutang yang secara umum dinyatakan
dalam bentuk persentase. Berdasarkan pola persentase, tarif pajak
dibagi menjadi 4 macam, antara lain (Supramono dan Theresia,
2009: 7)
a. Tarif pajak proposional/ sebanding
Tarif pajak proposional adalah persentase pengenaan pajak
yang tetap atas berapapun dasar pengenaan pajaknya.
Contohnya adalah PPN akan dikenakan tarif sebesar 10% atas
berapapun penyerahan barang dan jasa kena pajak. PPh badan
yang dikenakan tarif sebesar 28% atas berapapun penghasilan
kena pajak.
b. Tarif pajak tetap
Tarif pajak tetap adalah jumlah nominal pajak yang tetap
terhadap berapapun yang menjad dasar pengenaan pajak.
c. Tarif pajak degresif
Tarif pajak degresif adalah persentase pajak yang menurun
seiring dengan peningkatan dasar pengenaan pajaknya.
Contohnya adalah besar tarif Bea Materai untuk cek dan bilyet
giro dengan nilai nominal berapapun adalah Rp1.000,00
d. Tarif pajak progresif (Mardiasmo, 2009: 9)
Tarif pajak progresif adalah persentase pajak yang
bertambah seiring dengan peningkatan dasar pengenaan
pajaknya. Contohnya adalah Pajak Penghasilan (PPh) Wajib
Pajak Orang Pribadi, setiap terjadi peningkatan pendapatan
dalam level tertentu maka tarif yang dikenakan juga akan
meningkat.
Menurut kenaikan persentase tarifnya, tarif progresif dibagi:
a) Tarif progresif progresif: kenaikan presentase semakin besar.
b) Tarif progresif tetap : kenaikan presentase tetap.
c) Tarif progresif degresif : kenaikan presentase semakin kecil.
B. Pajak Penghasilan (PPh)
1. Pengertian Pajak Penghasilan
a. Penghasilan merupakan setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
nama dan dalam bentuk apapun (Undang-Undang Pajak Penghasilan
2008 Pasal 4 Ayat 1).
b. Pajak penghasilan adalah suatu pungutan resmi yang ditujukan
kepada masyarakat yang berpenghasilan atau atas penghasilan yang
diterima/diperoleh dalam tahun pajak untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran Negara (Supramono dan Damayanti, 2009).
2. Wajib Pajak Penghasilan Pasal 21
Menurut Prabowo (2004: 34) yang menjadi Wajib Pajak PPh Pasal
21 terdiri dari:
a. Pegawai Tetap
Pegawai tetap adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi
kerja, yang menerima atau memperoleh gaji dalam jumlah tertentu
secara berkala, termasuk anggota dewan komisaris dan anggota
dewan pengawas yang secara teratur ikut serta melaksanakan kegiatan
perusahaan.
b. Pegawai Tidak Tetap
Pegawai tidak tetap adalah orang pribadi yang bekerja pada
pemberi kerja dan hanya menerima upah apabila ornag pribadi yang
bersangkutan bekerja.
c. Penerima Honorarium
Penerima honorarium adalah orang pribadi atau persekutuan
d. Penerima Upah
Penerima upah adalah orang pribadi yang menerima upah baik
berupa upah harian, upah borongan, maupun upah satuan. Upaha
harian adalah upah yang terutang atau dibayarkan atas dasar hari
kerja. Upah borongan adalah upah yang terutang atau dibayarkan atas
dasar penyelesaian pekerjaan tertentu. Upah satuan adalah upah yang
terutang atau dibayarkan atas dasar banyaknya satuan yang
dihasilkan.
3. Dasar Hukum
Dasar hukum yang berhubungan dengan Pajak Penghasilan (PPh)
adalah peraturan perundang-undangan perpajakan yang mengatur tentang
Pajak Penghasilan yang berlaku sejak 1 Januari 1984 adalah UU no.7
tahun 1983 yang sebagaimana telah mengalami empat kali perubahan,
yaitu:
a. Nomor 7 Tahun 1991 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1991 dan Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3459)
b. Nomor 10 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1994 dan Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3576)
c. Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
d. Nomor 36 Tahun 2008.
4. Subjek Pajak Penghasilan
Subjek pajak diartikan sebagai orang yang dituju oleh
Undang-Undang untuk dikenakan pajak. Pajak Penghasilan dikenakan terhadap
subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau
diperolehnya dalam tahun pajak (Supramono dan Damayanti, 2009).
Pajak Penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh dalam tahun pajak. Menurut UU 36 Tahun 2008,
yang termasuk dalam subjek pajak, antara lain :
a. Subjek pajak Orang Pribadi
Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal
atau berada di Indonesia atau di luar Indonesia.
b. Subjek Pajak Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
menggantikan yang berhak.
Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
menggantikan yang berhak merupakan subjek pajak pengganti,
menggantikan mereka yang berhak, yaitu ahli waris. Ketika warisan
ini sudah terbagi maka pewaris nyalah yang merupakan subjek pajak.
c. Subjek Pajak Badan
Pengertian ‘badan’ mengacu pada Undang-Undang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan. Badan adalah sekumpulan orang
komanditer, perseroan lainnya, BUMN, atau BUMD dengan nama
dan bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi
sosial politik atau organisasi sejenis, lembaga, Bentuk Usaha Tetap,
dan badan lainnya. Badan sebagai subjek pajak merupakan
perkumpulan yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk
memperoleh penghasilan dan/atau memberikan jasa kepada anggota.
d. Subjek Pajak Bentuk Usaha Tetap
Yang dimaksud dengan Bentuk Usaha Tetap adalah bentuk
usaha yang dipergunakan oleh pribadi yang tidak bertempat tinggal di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, serta
badan yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia
untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.
Bentuk Usaha Tetap ini ditentukan sebagai subjek pajak tersendiri,
terpisah dari badan. Perlakuan perpajakannya disamakan dengan
subjek pajak badan.
5. Objek Pajak Penghasilan
Objek pajak dapat diartikan sebagai sasaran pengenaan pajak dan
dasar untuk menghitung pajak terutang. Yang menjadi objek Pajak
Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia
dalam bentuk apapun (Supramono dan Damayanti, 2009). Penghasilan
yang termasuk objek pajak dikelompokkan menjadi:
a. Penghasilan dari pekerjaan dala hubungan kerja
b. Penghasilan dari usaha atau kegiatan
c. Penghasilan dari modal atau penggunaan harta
d. Penghasilan lain-lain, yaitu penghasilan yang tidak dapat dalam tiga
kelompok diatas tersebut.
6. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 a. Pengertian Pemotong
Pengenaan PPh Pasal 21 bersifat pemotongan. Pemotongan
yang dimaksud adalah ketika pegawai menerima gaji atau upah,
maka gaji atau upah yang diterima tidak utuh lagi, tetapi sudah
dipotong dengan PPh Pasal 21. Pemotong pajak untuk Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang biasa disebut sebagai pemotong pajak
(Supramono dan Daayanti, 2009:54) terdiri dari:
1) Pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau bukan
pegawai.
2) Bendahara pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan,
3) Dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun
dan pembayaran lain dengan nama apapun dalam rangka
pensiun.
4) Badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain
sebagai imbalan sehubungan dengan jasa tenaga ahli yang
melakukan pekerjaan bebas.
5) Penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran
sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan.
Yang tidak termasuk sebagai pemotong pajak yang wajib
memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh Pasal 21 adalah
(Supramono dan Damayanti, 2009:54):
a) Badan perwakilan negara asing,
b) Organisasi internasional yang tercantum dalam Keputusan
Menteri Keuangan
b. Kewajiban Pemotong Pajak
Sebagai pemotong pajak penghasilan pasal 21, memiliki
beberapa kewajiban, diantaranya (Waluyo, 2008:194-196):
1) Kewajiban menghitung, memotong, dan menyetorkan, sebagai
berikut :
a) Pemotong pajak wajib menghitung, memotong, dan
menyetorkan PPh pasal 21 dan pasal 26 yang terutang
b) Penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat
Setoran Pajak (SSP) ke bank BUMN atau BUMD atau bank
lain yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Anggaran, atau
PT Posindo, selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwim
berikutnya.
c) Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran tersebut
sekalipun nihil dengan menggunakan Surat Pemberitahuan
(SPT) Masa ke Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor
Penyuluhan Pajak dan Pengamatan Potensi Perpajakan
setempat, selambat-lambatnya tanggal 20 bulan takwim
berikutnya.
d) Apabila dalam satu bulan takwim terjadi kelebihan
penyetoran PPh pasal 21 atau PPh pasal 26, maka kelebihan
tersebut dapat diperhitungkan dengan PPh pasal 21 dan
pasal 26 yang terutang dalam bulan takwim yang
bersangkutan.
e) Pemotong wajib memberikan bukti pemotongan PPh pasal
21 atau PPh pasal 26 baik yang diminta maupun tidak pada
saat dilakukannya pemotongan pajak kepada orang pribadi
bukan sebagai pegawai tetap, penerima uang tebusan
pensiun, penerima jaminan hari tua, penerima pesangon,
f) Pemotong pajak wajib menerima bukti pemotongan PPh
pasal 21 tahunan kepada pegawai tetap, termasuk penerima
pensiun bulanan, dengan menggunakan formulir yang
ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam waktu 2
(dua) bulan setelah tahun takwim berakhir. Namun, apabila
pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun pada bagian
tahun takwin, maka bukti pemotongan tersebut diberikan
oleh pemberi kerja selambat-lambatnya 1 (satu) bulan
setelah pegawai yang bersangkutan berhenti bekerja atau
pensiun.
i. Kewajiban mendaftarkan diri.
ii. Kewajiban menghitung kembali PPh pasal 21 yang
terutang
iii. Kewajiban mengisi, menandatangani, dan
menyampaikan SPT
7. Tarif Pajak dan Penerapannya
Tarif pajak yang berlaku beserta penerapannya menurut ketentuan
dalam pasal 21 Undang-Undang Pajak Penghasilan adalah sebagai
Tarif berdasarkan pasal 17 UU PPh No. 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah dengan UU No.36 Tahun 2008, yaitu:
Tabel 2.1 Lapisan Penghasilan Kena Pajak untuk Wajib Pajak Orang Pribadi
Lapisan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
5% (lima persen) Di atas Rp 50.000.000 (Lima puluh juta rupiah)–
Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
15%
(lima belas persen)
Di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) – Rp 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah)
25% (dua puluh lima
persen) Di atas Rp 500.000.000,00 (Lima ratus juta
rupiah)
30%
(tiga puluh persen)
a. Tarif berdasarkan pasal 17 UU PPh No. 7 Tahun 1983 sebagaimana
diubah dengan UU No.36 Tahun 2008, diterapkan atas Penghasilan
Kena Pajak dari:
1) Pegawai tetap;
2) Penerima pensiun berkala yang dibayarkan secara bulanan;
3) Pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang dibayarkan
secara bulanan.
Penghasilan Kena Pajak dihitung sebesar:
a) Bagi pegawai tetap:
Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi pegawai
tetap adalah sebesar penghasilan netto dikurangi PTKP.
Sedangkan penghasilan neto dihitung seluruh penghasilan
i. Biaya jabatan.
ii. Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh
pegawai kepada dana pensiun, yang pendiriannya
telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau badan
penyelenggara tunjangan hari tua atau jaminan hari
tua yang dipersamakan dengan dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan.
Secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut:
PPh Pasal 21:
=(Penghasilan netto - PTKP) x tarif Pajak
=(Penghasilan bruto - Biaya Jabatan – iuran pensiun dan
iuran THT yang dibayar sendiri – PTKP) x tarif Pajak
b) Bagi penerima pensiun berkala:
Besarnya Penghasilan Kena Pajak adalah bagi
penerima pensiun berkala sebesar penghasilan neto
dikurangi PTKP. Besarnya penghasilan neto adalah seluruh
jumlah penghasilan bruto dikurangi dengan biaya pensiun.
Secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut:
PPh Pasal 21:
= ( Penghasilan neto - PTKP) x tarif Pajak
b. Tarif diterapkan atas jumlah kumulatif dari (Mardiasmo, 2009:171):
1) Penghasilan Kena Pajak sebesar jumlah penghasilan bruto
dikurangi PTKP yang diterima atau diperoleh bukan pegawai
(selain tenaga ahli), yang menerima imbalan yang bersifat
berkesinambungan yang memenuhi ketentuan:
a) Yang bersangkutan telah mempunyai NPWP,
b) Hanya memperoleh penghasilan dari hubungan kerja dengan
Pemotong PPh Pasal 21.
c) tidak memperoleh penghasilan lainnya
2) 50% dari jumlah penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh
tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari
pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai,
dan aktuaris. PPh Pasal 21:
= (50% x Penghasilan bruto) x tarif Pajak
3) Jumlah penghasilan bruto bersifat tidak teratur yang diterima
atau dipeloleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas
yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada Perusahaan
yang sama. PPh Pasal 21:
= (Penghasilan bruto x tarif Pajak)
4) Jumlah penghasilan bruto berupa jasa produksi, tantiem,
gratifikasi, bonus atau imbalan lain yang bersifat tidak teratur
5) Jumlah penghasilan bruto berupa penarikan dana pensiun oleh
peserta program pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai,
dari dana pensiun pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan. PPh Pasal 21:
= (Penghasilan bruto x tarif Pajak)
c. Tarif diterapkan atas jumlah penghasilan bruto (Mardiasmo, 2009:
172):
1) untuk setiap pembayaran imbalan kepada bukan pegawai yang
tidak berisfat berkesinambungan,
2) untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan tidak
dipecah, yang diterima oleh peserta kegiatan.
C. Pajak Penghasilan Pasal 21
Penghasilan berdasarkan UU Pajak No.36 Tahun 2008, pasal 4 ayat 1
adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib
Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji,
upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam
bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan yang
dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sebagai mana telah
no.17 tahun 2000 (Waluyo, 2000) dan terakhir diubah dengan UU No.36
tahun 2008.
1. Subjek Pajak Pengahasilan Pasal 21
a. Penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah orang
pribadi yang merupakan (Mardiasmo, 2009: 166):
1) Pegawai
2) Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun,
tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua. Termasuk alih
warisnya.
3) Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan antara lain
meliputi:
a) Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas yang terdiri
dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris,
penilai dan aktuaris;
b) Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang
film, bintang sinetron, bintarg iklan, sutradara, kru film, foto
model, peragawati/peragawati, pemain drama, penari,
pemahat, pelukis, dan seniman lainnya.
b. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan keikut sertaannya dalam suatu kegiatan, antara
1) Peserta perlombaan dalam segala bidang antara lain perlombaan
olahraga, seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan
perlombaan lainnya
2) Peserta rapat, konferensi, sidang pertemuan atau kunjungan
kerja;
3) Peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai
penyelenggara kegiatan tertentu;
4) Peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
5) Peserta kegiatan lainnya.
c. Hak dan kewajiban subjek pajak/ penerima penghasilan
Seorang subjek pajak/penerima penghasilan memiliki
beberapa hak dan kewajiban dalam bidang perpajakan, diantaranya
adalah (Waluyo, 2008: 197):
1) Pada saat seseorang mulai bekerja atau mulai pensiun, untuk
mendapatkan pengurangan PTKP, penerima penghasilan harus
menyerahkan surat pernyataan kepada pemotong pajak yang
menyatakan jumlah tanggungan keluarga pada permulaan tahun
takwim atau pada permulaan menjadi subjek pajak dalam
negeri.
2) Kewajiban tersebut harus dilaksanakan pula dalam hal ada
perubahan jumlah tanggungan keluarga menurut keadaan pada
3) Jumlah pajak penghasilan pasal 21 yang dipotong merupakan
kredit pajak bagi penerima penghasilan yang dikenakan
pemotongan untuk tahun pajak yang bersangkutan, kecuali pajak
penghasilan pasal 21 yang bersifat final.
4) Wajib pajak orang pribadi dalam negeri yang menerima
penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dari badan
perwakilan negara asing dan organisasi internasional yang
dikecualikan sebagai pemotong pajak penghasilan pasal 21,
diwajibkan untuk menghitung dan membayar sendiri jumlah
pajak penghasilan yang terutang dalam tahun berjalan dan atas
penghasilan tersebut dilaporkan dalam surat pemberitahuan.
2. Tidak Termasuk Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21
Yang tidak termasuk dalam pengertian Penerima Penghasilan
yang dipotong PPh Pasal 21 (Supramono dan Damayanti, 2009: 50):
a. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari
negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka
yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka dengan
syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak
menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau
pekerjaannya tersebut, serta Negara yang bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik.
penghasilan yang telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
keputusan Menteri Keuangan Nomor 601/KMK.03/2005 dengan
syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha
atau kegiatan atau pekerjaanm lain untuk memperoleh penghasilan
dari Indonesia.
3. Objek Pajak Penghasilan Pasal 21
Penghasilan yang dapat dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21
adalah (Mardiasmo, 2009: 167):
a. Penghasilan pegawai tetap yang bersifat teratur, yaitu penghasilan
bagi pegawai tetap berupa gaji atau upah, segala macam tunjangan
dan imbalan dengan nama apapun yang diberikan secara periodik
berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh pemberi kerja,
termasuk yang lembur
b. penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara
teratur uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
c. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja
penghasilan sehubungan dengan pensiun yang diterima secara
sekaligus berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan
hari tua atau jaminan hari tua atau pembayaran lain sejenis;
d. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas berupa
upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah potongan atau
e. Imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium,
komisi,feedan imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa.
f. Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku,
uang representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau atau
penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apa pun, dan imbalan
sejenis dengan nama apa pun.
g. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya
dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diberikan oleh:
1) Bukan Wajib Pajak;
2) Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat
final; atau
3) Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan
norma penghitungan khusus
Penghitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa penerimaan
dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya didasarkan pada
harga pasar atas barang yang diberikan atau nilai wajar atas pemberian
kenikmatan yang diberikan. Dalam hal penghasilan diterima atau
diperoleh dalam mata uang asing, penghitungan PPh pasal 21
didasarkan pada nilai tukar (kurs) yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan yang.berlaku pada saat pembayaran penghasilan tersebut
atau pada. saat dibebankan sebagai biaya.
a) Uang tebusan pensiun yang dibayarkan oleh dana pensiun yang
telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan tunjangan hari tua yang
dibayarkan sekaligus oleh badan penyelenggara jaminan sosial
tenaga kerja.
b) Uang pesangon.
c) Hadiah dan penghargaan lomba.
d) Honorarium atau komisi yang dibayarkan kepada penjaja barang
dagangan dan petugas dinas luar asuransi. Barang dagangan yang
dimaksud adalah barang dagangan berupa kosmetik, sabun, pasta
gigi, buku, dan barang-barang keperluan rumah tangga sehari-hari
lainnya.
e) Penghasilan bruto berupa honorarium dan imbalan lain dengan
nama apapun yang diterima oleh pejabat negara, pegawai negeri
sipil, anggota TNI/POLRI yang sumber dananya berasal dari
keuangan negara atau keuangan daerah, kecuali yang dibayarkan
oleh pegawai negeri sipil golongan Iid ke bawah dan anggota
TNI/POLRI berpangkat pembantu letnan satu ke bawah atau ajun
inspektur tingkat satu ke bawah.
4. Penghasilan yang dikecualikan dari Pajak Pengahasilan Pasal 21 Tidak termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh
pasal 21 (Mardiasmo, 2009: 169) adalah:
kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi
beasiswa.
b. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam
bentuk apa pun diberikan oleh Wajib pajak atau Pemerintah, yang
diberikan wajib Pajak yang dikenakan pajak penghasilan yang
bersifat final dan yang dikenakan pajak penghasilan berdasarkan
penghitungan khusus.
c. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, iuran
tunjangan hari tua atau badan penyelenggaran jaminan sosial yang
dibayar oleh pemberi kerja.
d. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan
atau lembaga amal zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
Pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang diterima oleh orang
pribadi yang berhak dari lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh Pemerintah.
e. Beasiswa, beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu.
5. Biaya Jabatan dan Biaya Pensiun
Biaya jabatan adalah biaya yang dapat dikurangkan dari
penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap tanpa
untuk penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan bagi pegawai tetap,
ditetapkan sebesar 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya
Rp.6.000.000,00 setahun atau RP. 500.000,00 sebulan. Besarnya biaya
pensiun yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk
penghitungan pomotongan pajak penghasilan bagi pensiunan, ditetapkan
sebesar 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya Rp. 2.400.000,00
setahun atau Rp. 200.000.00 sebulan. (PMK Nomor 250/PMK.03/2008).
6. Cara menghitungan PPh 21
a. Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak PER-31/ PJ/ 2009
penghitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur bagi pegawai
tetap yaitu:
1) Untuk menghitung PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai tetap,
terlebih dahulu dihitung seluruh penghasilan bruto yang diterima
atau diperoleh selama sebulan, yang meliputi seluruh gaji, segala
jenis tunjangan dan pembayaran teratur lainnya, termasuk uang
lembur (overtime) dan pembayaran sejenisnya.
2) Untuk perusahaan yang masuk program Jamsostek, premi
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), premi Jaminan Kematian (JK)
dan premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) yang dibayar
oleh pemberi kerja merupakan penghasilan bagi pegawai.
Ketentuan yang sama diberlakukan juga bagi premi asuransi
pemberi kerja untuk pegawai kepada perusahaan asuransi
lainnya. Dalam menghitung PPh Pasal 21, premi tersebut
digabungkan dengan penghasilan bruto yang dibayarkan oleh
pemberi kerja kepada pegawai.
3) Selanjutnya dihitung jumlah penghasilan neto sebulan yang
diperoleh dengan cara mengurangi penghasilan bruto sebulan
dengan biaya jabatan, serta iuran pensiun, iuran Jaminan Hari
Tua, dan/ atau Tunjangan Hari Tua yang dibayar sendiri oleh
pegawai yang bersangkutan melalui pemberi kerja kepada Dana
Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan atau kepada Badan Penyelenggara Program Jamsostek
4) Selanjutnya dihitung penghasilan neto setahun, yaitu jumlah
penghasilan neto sebulan dikalikan 12.
5) Dalam hal seorang pegawai tetap dengan kewajiban pajak
subjektifnya sebagai Wajib Pajak dalam negeri sudah ada sejak
awal tahun, tetapi mulai bekerja setelah bulan Januari, maka
penghasilan neto setahun dihitung dengan mengalikan
penghasilan neto sebulan dengan banyaknya bulan sejak pegawai
yang bersangkutan mulai bekerja sampai dengan bulan
Desember.
6) Selanjutnya dihitung Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar
dengan PTKP.
7) Setelah diperoleh PPh terutang dengan menerapkan Tarif Pasal
17 ayat (1) huruf a UU PPh terhadap Penghasilan Kena Pajak
sebagaimana dimaksud pada huruf c, selanjutnya dihitung PPh
Pasal 21 sebulan, yang harus dipotong dan/ atau disetor ke kas
negara, yaitu sebesar:
a) Jumlah PPh Pasal 21 setahun atas penghasilan sebagaimana
dimaksud pada huruf a dibagi dengan 12; atau
b) Jumlah PPh Pasal 21 setahun atas penghasilan sebagaimana
dimaksud pada huruf b dibagi banyaknya bulan yang menjadi
faktor pengali sebagaimana dimaksud pada huruf b.
Contoh penghitungan PPh Pasal 21 terutang atas penghasilan
teratur bagi pegawai tetap.
Pada tahun 2009, Susanto bekerja pada perusahaan Makmur Jaya
dengan memperoleh gaji sebulan Rp3.000.000,00 dan membayar
iuran pensiun sebesar Rp200.000,00. Susanto menikah namun
belum memiliki anak. Penghitungan PPh Pasal 21 adalah sebagai
berikut:
Gaji sebulan Rp 3.000.000,00
Pengurangan:
(1)Biaya Jabatan:
Rp 350.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.650.000,00
Penghasilan neto setahun adalah
12 x Rp2.650.000,00 Rp31.800.000,00
PTKP setahun
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00
Rp17.160.000,00
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp14.640.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp 14.640.000,000 = Rp732.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp732.000,00 : 12 = Rp61.000,00
a. Cara Menghitung PPh Pasal 21 terutang atas Penghasilan Tidak
Teratur Bagi Pegawai Tetap
1) Apabila kepada pegawai tetap diberikan jasa produksi, tantiem,
gratifikasi, bonus, premi, tunjangan hari raya, dan penghasilan
lain semacam itu yang sifatnya tidak tetap dan biasanya
dibayarkan sekali setahun, maka PPh Pasal 21 dihitung dan
dipotong dengan cara sebagai berikut:
a) Dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang
b) Dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang
disetahunkan tanpa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya.
c) Selisih antara PPh Pasal 21 menurut penghitungan huruf a
dan huruf b adalah PPh Pasal 21 atas penghasilan tidak
teratur berupa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya.
2) Dalam hal pegawai tetap yang kewajiban pajak subjektifnya
sudah ada sejak awal tahun, namun baru mulai bekerja setelah
bulan Januari, maka PPh Pasal 21 atas penghasilan yang tidak
teratur tersebut dihitung dengan cara sebagaimana pada butir 1
dengan memperhatikan ketentuan mengenai Penghitungan PPh
Pasal 21 Bulanan atas Penghasilan Teratur pada huruf a angka
5, 6, dan 7 di atas.
Contoh penghitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur dan
penghasilan tidak teratur bagi pegawai tetap.
Maman (tidak kawin) bekerja pada PT Gudang Gula
memperoleh gaji sebesar Rp2.500.000,00 sebulan. Dalam tahun
yang bersangkutan Maman menerima bonus sebesar
Rp6.500.000,00. Setiap bulannya Maman membayar iuran
pensiun ke Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan sebesar Rp100.000,00
(1) PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun):
Penghasilan Bruto setahun Rp36.500.000
Pengurang:
Biaya Jabatan:
5% x Rp36.500.000,- Rp1.825.000
Iuran pensiun setahun
12 x Rp100.000,- 1.200.000
Rp 3.025.000
Penghasilan neto setahun Rp33.475.000
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000
Penghasilan Kena Pajak Rp17.635.000
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp17.635.000 = Rp881.750
(2) PPh Pasal 21 atas Gaji setahun
Gaji setahun Rp30.000.000
Pengurang:
1. Biaya Jabatan:
5% x Rp30.000.000,- Rp1.500.000
2. Iuran pensiun setahun
12 x Rp100.000,- 1.200.000
Rp 2.700.000