• Tidak ada hasil yang ditemukan

Museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda."

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Bogor merupakan salah satu Kota yang memiliki sejarah panjang dalam pemerintahannya dari masa kerajaan sampai dengan masa sekarang, khususnya masa penjajahan Belanda yang membawa dampak positif dalam perkembangan Bogor. Cukup disayangkan, tidak banyak maysarakat yang mengerti tentang perkembangan kota Bogor. Karna itu, Museum Bogor Masa Kolonial Belanda perlu didirikan.

Museum Bogor Masa Kolonial Belanda didesain dengan konsep “Sejata Kujang”, yang merupakan monument ikonik dari Kota Bogor sejak 1982, dari pemasangan sebagai pengganti Witte Pal (1939). Witte Pal adalah monument sebagai symbol pengebalian kota dari tangan Inggris ke Belanda tahun 1836. Dengan tujuan memberikan suasana Bogor masa Kolonial Belanda kepada pengunjung. Museum ini juga dibagi kedalam dua area utama yaitu temporary exhibition dan permanent exhibition. The temporary exhibition menjadi focus utama dalam perancangan sebagai muka dari museum Bogor Masa Kolonial Belanda. Museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda ini diharapkan dapat memperkenalkan kembali jati diri kota Bogor masa Kolonial Belanda.

(2)

ABSTRACT

Bogor is one of the city with quite long history of governance from kingdom era until now, particularly during the Dutch Colonialism era that brought great impacts to the city storyline. Unfortunately, not many people understand the history of Bogor. Therefore, Bogor Museum Development of Bogor City in Dutch Colonialism Era is need to be established.

This Bogor Museum Development of Bogor City in Colonialism Era design with the concept of “ Kujang Weapon”, which Tugu Kujang has been the iconic monument of Bogor City since 1982, since its installation as the replacement of Witte Pal (1939). Witte Pal or Main Pal is the symbolic monument of the British

returning the city to Dutch Colonialism in 1836. With Purpose to give the atmosphere of Bogor in Colonialism Era to visitors. This museum also divided into two part of exhibition, temporary exhibition and permanent exhibition. The temporary exhibition area being the main concert in this museum design as the face of the museum. Bogor Museum Development of Bogor City in Dutch Colonialism Era expected to re-introduce the identity of Bogor in Colonial Era.

(3)

v

1.3Ide/Gagasan Perancangan………..4

1.4Rumusan Masalah………...5

1.5Tujuan Perancangan………..….5

1.6 Manfaat Perancangan………...….6

1.7 Batasan Perancangan ………6

1.8 Sistematika Penulisan………7

BAB II BOGOR, MUSEUM DAN STUDI ERGONOMI………...7

2.1 Bogor...……….…………..7

Timeline1 Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda……….……….….……8

2.2 Museum……….……….…..21

2.2.1 Definisi Museum……….……21

2.2.2 Museum Di Indonesia ……….…….23

2.2.3. Klasifikasi Museum………23

2.2.4 Tugas, Fungsi, dan Peranan Museum……..……….…...26

2.3 Kriteria Museum………...28

2.3.1 Syarat-Syarat Museum ………..28

2.3.2 Persyaratan Display……….30

2.3.3 Persyaratan Suhu dan Kelembapan………...………..34

2.3.4 Persyaratan Pencahayaan Museum……….34

2.3.5 Teori Warna……….35

(4)

vi

2.5 Pengamanan………..………..……..39

2.5.1 Pengamanan Benda-benda Museum.…………...………...………39

2.5.2 Pengaman Terhadap Kebakaran.…………...……….……….41 2.6 Studi Banding.……….……….……….………..41 2.6.1 Musem Geologi Bandung.…………...………...….41 2.6.2 Museum Zoologi Bogor.…………...……….…………...….44 2.6.3 Hongkong Heritage Discovery Center .…………...………. 47

2.7Analisa Nilai Sejarah dan Filosofis Kujang……...……….……..49

2.7.1 Pengertian Kujang……....…………...………...….49

2.7.2 Fungsi Kujang………....…………...……….…………....….49

2.7.3 Studi Struktur dan Bentuk Kujang…….…………...………. 51

BAB III. ANALISIS DATA PERANCANGAN….…………...……….…55

3.1 Deskripsi Objek….…………...………....55

3.2 Makna, Fungsi, Tujuan Perancanga….…………...………...59

3.3 Tinjauan Lokasi….…………...………....59

3.3.1 Makro….…………...………..59

3.3.2 Mikro….…………...………..….61

3.4 Tinjauan Karya / Barang….…………...………..…62

3.5 Tinjauan Ergonomi dan Antropometri….…………..………..…62

3.6 Tinjauan User ….…………...………..…64

3.7 Aktivitas Manusia….…………...……….67

3.8 Program Kebutuhan Ruang….…………...………..……69

(5)

vii

BOGOR MASA KOLONIAL BELANDA ….…………...…80

4.1 Penerapan Tema Konsep dalam Desain….………..………....80

4.1.1 Konsep Bentuk………..….………...81

4.1.2 Konsep Warna….………....………....81

4.1.3 Konsep Material……….………...82

4.1.4 Konsep Pencahayaan..….………....………....83

4.1.5 Konsep Furniture……….……..….………...84

4.2 Perancangan General….………...………....85

4.3 Perancangan Area Khusus……….………..…………...86

4.3.1 Entrance…………….………....………....86

4.3.2 Temporary Exhibition Hall….………....87

4.3.3 Ticket Office…...……….………...89

4.3.4 Souvenir Shop…….………....……….………....90

4.3.5 Data Source Room…………...……..….………...92 4.3.6 21 Heritage Building Corridor…………...……..….………...…...92

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN…………..….…………...……….…94

5.1 Simpulan……….…………...……….….94

5.2 Saran……….….…………...……….…..95

DAFATAR REFERENSI……….………….………...96

LAMPIRAN………98

(6)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar2.1 Istana Bogor……….….…………...……….….13

Gamba2.2 Gedung SMA YZA 2 Bogor……….….…………...……….….16

Gambar 2.3 Kantor Post Bogor……….….…………...………...16

Gambar 2.4 Gedung Blenong/ BNP Bogor……….….…………...…….18

Gambar 2.5 Hotel Salak The Heritage……….….…………...…………19

Gambar 2.6 Jarak Pandang Orang Dewasa dan Anak-anak.….…………...……32

Gambar 2.7 Posisi Display Karya……….….…………...…………...…32

Gambar 2.8 Rentang Sudut Pandang Manusia……….….…………...…33

Gambar 2.9 Pengamatan Karya Pada Posisi Berdiri……….….………..33

Gambar 2.10 Pengamatan Karya Pria dan Wanita Pada Posisi Duduk…………35

Gambar 2.11 Pola Radial……….….…………...……….37

Gambar 2.12 Pola Linear……….….…………...……….38

Gambar 2.13 Pola Linear Bercabang……….….…………...…………...…38

Gambar 2.14 Pola Random……….….…………...……….39

Gambar 2.15 Museum Geologi Bandung……….….…………...…………41

Gambar 2.16 Ruang Sayap Timur dan Barat Museum Geologi Bandung……...43

Gambar 2.17 Ruang Timur Lantai 2……….….…………..………44

Gambar 2.18 Museum Zoologi Bogor……….….…………...………46 Gambar2.19 Benda Pamer Museum Zoologi Bogor……….….…………..46

Gambar 2.20 Suasana Museum Zoologi Bogor……….….…………...…..47

Gambar 2.21 Hongkong Heritage Discovery Center ……….….…………48

Gambar 2.22 Hongkong Heritage Discovery Center ……….….…………48

Gambar 2.23 Makna Simbolis Kujang………...……….….…………51

Gambar 2.24 Bentuk Kujang Adalah Samar/Saru/Semar………...….…………54

Gambar 2.25 Bentuk Kujang Sesuai Atikan Sunda dan Anggitan Sunda………...………….…………54

Gambar 3.1 Site Analisis………...……….….……….55

Gambar 3.2 Site Analisis………...……….….……….56

Gambar 3.3 Nirwarna Epicentrum………...……….….…………...57

Gambar 3.4 Denah………...……….….………..58

Gambar 3.5 Tampak………...……….….………58

Gambar 3.6 Potongan ………...……….….……….59

(7)

ix

Gambar 3.8 Jarak Pandang Dewasa dan Anak-anak………63

Gambar 3.9 Jarak Pandang Dewasa dan Anak-anak………63

Gambar 3.10 Jarak Pandang Dewasa ………..……64

Gambar 3.11 Rentang Jarak Pandang ………..…64

Gambar 3.12 Jenis Sirkulasi Ruang……….71

Gambar 3.13 Loop Circulation……….72

Gambar 3.14 Bubble Diagram………..73

Gambar 3.15 Denah Lantai Atas………...………..………….73

Gambar 3.16 Denah Lantai Bawah………..………74

Gambar 3.17 Denah Sementara………..……….75

Gambar 3.18 Ticket Box and Information Center………..………….76

Gambar 3.19 Photo Gallery (modern)…… ……….…………..……….77

Gambar 3.20 Studi Ruang Lampau………..……….……...77

Gambar 3.21 Study Ruang Pencahayaan……….……….78

Gambar 3.22 Tekstur Kasar………..……….……...79

Gambar 3.23 Study Skala……….……….……….79

Gambar 4.1 Garis Tegas dan Patah………….……….81

Gambar 4.2 Bentuk Kujang………..81

Gambar 4.3 Color Scheme……..………...………..………….82

Gambar 4.4 Copper, Stainless, Wood and Concrete……..……..………82

Gambar 4.5 Pencahayaan Museum……….………….83

Gambar 4.6 Pencahayaan Museum ………..……..………….84

Gambar 4.7 Furniture Desain………..……….85

Gambar 4.8 General Lay-out ………..………….85

Gambar 4.9 General Section…….………...……….…………..……….86

Gambar 4.10 Museum Entrance.……..………..…………..……….……...87

Gambar 4.11 Temporary Exhibition Hall…………..…………..……….……....88

Gambar 4.12 Void Exhibtion Hall..………...…………..………….89

Gambar 4.13 Void Exhibition Hall………...……..………89

Gambar 4.14 Ticket Office……………..………..90

Gambar 4.15 Ticket Office 2 ………..………….90

Gambar 4.16 Souvenir Shop….…….………...……….…………..……….91

Gambar 4.17 Data Source Room.……..………..…… ……….……...93

(8)

x

DAFTAR TABEL

2.1 Tabel Tinggi Rata-Rata dan mata Manusia …………..……….……32

2.2 Tabel Psikologi Warna …………..……….……...36

2.3 Perubahan Nama Museum Zoologi Bogor…………..……….……..42

3.1 Tabel Mikro…………..……….……...62

(9)

Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

(10)

Universitas Kristen Maranatha 2 perbelanjaan seperti toko-toko yang hanya menyediakan barang-barang tertentu seperti Tas Tajur hingga Department Store yang menyediakan berbagai kelengkapan hidup dan life style seperti mall Ekalokasari, Bellanova, Bogor Trade Mall, dan Botanisquare Bogor.

Perkembangan Kota Bogor dalam bidang wisata dan kulinar ini menjadi sebuah potensi untuk memperkenalkan Bogor lebih dalam lagi kepada wisatawan dan masyarakat Bogor tentang perkembangan dan terbentuknya Kota Bogor. Tentunya Bogor yang sekarang ini berangkat dari perkembangan yang terjadi pada masa-masa mulai dibukanya tanah baru pada masa pendudukan Belanda di daerah Selatan Batavia yang sekarang kita kenal sebagai Bogor. Kota yang pernah menjadi tempat berdirinya kerajaan Hindu tertua di Jawa, Kerjaan Tarumanegara, terbentuk karena pemerintahan Belanda dan pembangunan-pembangunan yang terjadi pada masa Belanda. Bangunan-bangunan yang dibangun pada masa pendudukan Belanda ini sekarang dikenal sebagai bangunan-bangunan cagar budaya peningalan Belanda di Bogor yang menjadi tujuan wisatawan datang ke Bogor seperti Balai Kota Bogor, Gereja Kathedral, Hotel Salak The Heritage, Museum Zoologi Bogor, dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, perkembangan pesat kota Bogor dalam hal wisata menyebabkan perkembangan tata kota Bogor menjadi semakin tak terkendali. Menurut Setiadi Sopandi dalam tulisan ilmiahnya yang berjudul Arsitektur Kota Bogor Dulu dan Sekarang, “pertumbuhan sarana-sarana seperti sekolah, pusat perbelanjaan, hiburan, dan juga prasarana jalan juga transportasi berdampak dalam

ketidaksiapan satu komponen esensial kota. Hal ini dapat mengakibatkan

kepincangan sistem kota dan berbagai dampak. Hal ini nampak dari berbagai

permasalah yang dihadapi warga Bogor khususnya, dan juga warga Jabotabek

pada aspek-aspek tertentu. Di satu sisi, Kota Bogor menghadapi tantangan untuk

dapat mempertahankan kualitas lingkungannya sedangkan di sisi lain Kota Bogor

juga terdesak oleh pertumbuhan kotanya sendiri dan juga perkembangan

(11)

Universitas Kristen Maranatha 3 Kondisi tersebut bertolak belakang dengan Kota Bogor pada tahun 1920.

Perancangan Kota Bogor pada tahun 1920 oleh Ir. Thomas Karsten (1884-1945) dengan semangat modernitas dan sosialnya ditugaskan untuk membuat paket-paket rancangan untuk kota-kota, mulai dari rencana keseluruhan (misalnya peruntukan lahan) hingga detil (seperti tipologi jalan dan penghijauan, sanitasi publik) dan peraturan bangunan (misalnya garis sempadan bangunan dan pengelompokan tipe hunian).

Cukup disayangkan fungsi Kota Bogor sebagai tempat beristirahat/ rekreasi bagi masyarakat Jakarta juga telah nyata membebani fasilitas jalan dan

kenyamanan lingkungan. Pada tahun 1990-an hal ini berkembang menjadi permasalahan pelik yang telah menyebabkan fenomena “banjir kiriman” di Jakarta. Pada akhir Minggu, tidak pelak spot-spot tertentu di Bogor yang terkenal

akan oleh-oleh dan makanan khas dipenuhi oleh mobil-mobil berpelat B yang

secara akumulatif mengakibatkan kemacetan di seluruh kota, belum lagi dengan

adanya acara-acara seperti resepsi di gedung-gedung pertemuan yang kekurangan

tempat parkir, yang seharusnya sudah mengantisipasi kapasitas tempat bagi

pengunjung dan kendaraannya sejak awal perencanaannya (atau dari proses

pemberian izinnya).

(12)

Universitas Kristen Maranatha 4 Berdasarkan hal-hal yang sudah disebutkan diatas, penulis ingin membuat sebuah wadah yang dapat menceritakan dan memperkenalkan perkebangan Kota Bogor masa kolonial Belanda serta sebagai penginga masyarakat akan jati diri Kota Bogor dalam bentuk kota yang tanpa kesibukan. Sebuah Museum Perkembanga Kota Bogor akan menjadi sarana dan media edukatif sekaligus rekreatif yang menarik. Tidak berhenti hanya sebagai penyimpan semata, melainkan memiliki fasilitas yang dapat mengubah persepsi masyarakat untuk datang ke museum yang memperkenalkan Perkembangan Kota Bogor pada masa Kolonial Belanda.

1.2 Identifikasi Masalah

Permasalahan secara umum yang akan dibahas dalam perancangan Museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda adalah perancangan museum kota Bogor Masa Kolonial Belanda yang sesuai dengan identitas kota Bogor sehingga dapat memberikan nilai jual yang dapat menarik minat masyarakat untuk datang ke museum Kota yang edukatif dan interaktif.

1.3 Ide/Gagasan Penulisan

Perkembangan dan terbentuknya Kota Bogor Masa Kolonial Belanda ini merupakan suatu nilai yang perlu ditampung dalam suatu wadah untuk diperkenalkan pada masyarakat sehingga menjadi pengingat perjuangan kota Bogor pada masa penjajahan sehingga terbentuk menjadi Kota. Hal ini mendorong penulis untuk merancang sebuah Museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda untuk menceritakan perkembangan dan terbentuknya Kota Bogor dengan merancang museum yang edukatif dan rekreatif.

(13)

Universitas Kristen Maranatha 5 Berangkat dari keinginan tersebut, penulis ingin menerapkan tema fight yang dianggap dapat mencapai hal tersebut serta mencerminkan jati diri Kota Bogor Masa Kolonial Belanda. Tema ini digunakan untuk memberikan nuansa ruang yang menceritakan Bogor yang lampau dan merupakan masa perjuangan sampai menjadi kota yang berkembang.

1.4 Rumusan Masalah

1. Bagaimana menerapkan tema fight pada perancangan Museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda?

2. Bagaimana merancang display, sirkulasi, dan pencahayaan yang sesuai dengan Museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda? 3. Bagaimana mengaplikasikan konsep Kujang yang sesuai dengan tema

fight dalam museum perkembangan kota Bogor?

1.5 Tujuan Perancangan

Perancangan museum ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi pembaca maupun penulis sendiri. Maka, dalam perancangan museum ini terdapat beberapa tujuan di antaranya :

1. Menerapkan karakteristik fight dengan pendekatan konsep Kujang dalam perancangan Museum Perkembangan Kota Bogor yang sesuai dengan jati diri Kota Bogor.

2. Menerapkan perancangan display yang edukatif dan rekreatif dalam perancangan Museum Perkembangan Kota Bogor.

(14)

Universitas Kristen Maranatha 6 1.6 Manfaat Perancangan

Perancangan Museum Bogor di Indonesia Khususnya di Bogor sendiri memiliki manfaat sebagai berikut :

1. Bagi penulis diharapakan perancangan museum dapat membuka wawasan mengenai standard perancangan museum yang edukatif dan interaktif terutama untuk museum sejarah.

2. Bagi Fakultas Seni Rupa dan Desain diharapakan dapat menambah bank literatur tentang standard perancangan museum dan resto yang membahas tentang sejarah.

3. Bagi masyarakat umum, diharapakan dapat menjadi media pendidikan non-formal yang edukasif dan intreaktif tentang sejarah terbentuknya kota Bogor.

1.7 Batasan Perancangan

Perancangan Museum ini berlokasi di kawasan Bogor Nirwana Residance yang merupakan kawasan perumahan dengan kawasan wisata di dalamnya. Perancangan ini memiliki fungsi sebagai museum yang akan memperkenalkan Kota Bogor dalam aspek perkembangan dan terbentuknya kota. Perancangan ini juga dibatasi dengan luasan site sebesar ±1500 meter persegi dan luas bangunan sebesar ±2500 meter persegi.

(15)

Universitas Kristen Maranatha 7 1.8 Sistematika Penulisan

Dalam penulisan laporan perancangan museum kota Bogor terdapat sistematika penulisan yang terdiri atas 5 bab.

Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi tentang latar belakang permasalahan perlunya membuat Museum Perkembangan Kota Bogor, identifikasi masalah berisikan poin-poin permasalahan berdasarkan latar belakang yang ada, rumusan masalah berisikan poin-poin tentang permasalahan yang sekirannya ditemukan dalam merancang museum, ide / gagasan perancangan, tujuan perancangan, manfaat perancangan dan batasan masalah.

Bab II merupakan studi literatur yang berisi tentang Kota Bogor, seputar kota bogor, Kota Bogor masa kolonial, Bangunan Bangunan Peninggalan Belanda, kehidupan Masyarakat kota Bogor Seputar museum, Ergonomi Museum, Studi Banding museum Geologi Bandung dan penjelasan tentang Kujang.

Bab III berisi tentang analisa data perancangan di dalamnya ada deskripsi objek secara mikro dan makro, makna, fungsi tujuan perancangan, tinjauan karya, tinjauan antropometri dan ergonomi, tinjauan user, aktivitas manusia, program kebutuahan ruang, perancangan, hubungan antar ruang, keyword yang berisi konsep dan tema.

Bab IV berisi tentang perancangan interior Museum Perkembangan Kota Bogor yang membahas konsep dan desain, selain itu membahas penerapan konsep Kujang dalam elemen – elemen desain pada ruangan museum.

(16)

Universitas Kristen Maranatha 94

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Pada perancangan ini, perancang menarik kesimpulan bagaimana membuat museum yang mengadung nilai sejarah (dalam hal ini perkembangan kota) tetapi tetap memberikan kesan yang modern dan tidak konvensional. Dengan pilihan loop sirculation yang disesuaikan dengan ke unggulan bangunan berbentuk lingkaran.

Selain itu konsep Kujang yang digunakan pada museum Perkembangan Kota Bogor Masa Kolonial Belanda ini dapat mengekspresikan identitas kota sekaligus conten museum yang ditampilkan.

(17)

Universitas Kristen Maranatha 95 museum yang menggunakan bentuk kujang utuh sebagai monument, selain itu pengaplikasian kujang dengan cara stilasi yaitu menyederhanakan bentuk dari kujang yang ditampilkan pada museum seperti pada entrence, meja tiket dan rak souvenir, selain itu, penggunaan elemen kujang dari karakteristik kujang yang

diartikan menjadi dua bagian yaitu feminim dan maskulin yang di interpretasikan menjadi bentukan organis melengkung dan garis tegas serta bentuk geometris. Penerapan desain ini dimaksud untuk membuat pengunjung menerima identitas kota Bogor melalui Kujang yang menjadi identitas kota.

5.2 Saran

Diharapakan perancangan ini dapat menjadi salah satu referensi bagi yang akan membuat museum yang serupa ataupun museum lainnya. Bagi yang kiranya akan merancang museum serupa diharapakan dapat menerapakan konsep yang mencerminkan identitas kota sebagai pendekatan desain. Semoga perancangan ini dapat memberi tambahan wawasan bagi pembaca mengenai kota Bogor dan perancangan museum perkembangan kota Bogor Masa Kolonial Belanda.

(18)

DAFTAR REFERENSI

Akmal. Imelda206. Menata Rumah Dengan Warna. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

Danasasmita. Saleh. 1983. Sejarah Bogor. Bogor: Panitia Penyusun dan Penerbit Sejarah Bogor.

DeChiara, Joseph. Ct. al. 2001. Time Save Standards for Interior Design and Space Planing. Singapore. McGraw Hill.

FRANCIS D.K. CHING. (2008) ARSITEKTUR BENTUK, RUANG,TATANAN. Elrangga.

Garndner. James: Heller. Caroline. 1960. Exhibition and Display. New York: F. W. Doge Corporation.

Henderson, Justin. 1998. Museum Architecture. Gloucester, Massachusset : Rockport Publisher.

KBBI edisi 2. Balai Pustaka. 1989.

Lord. Barry: Lord. Gsail Dexter.1992. The Manual of Museum Exhibition. 4720 Boston Way: Rowman Littlefield Publisher,Inc.

Marstine, Janet. 2006, New Museum Theory & Practice an Introduction. UK: Blackwell Publising.

Mattews. Geoff. 1991. Museum and Art Galleries. Jordan Hill : Oxford OX2 8EJ

Panero, J.,& Zelnik, M. (1979). Human Dimension and Interior Spaces. United State: Library of Design

Winarno. F.G. 1990. Bogor “Hari Esok Masa Lampau”. Bogor: PT. Binahati. Halimah, Uun (2009), Kujang (Senjata Tradisional Orang Sunda),

http://uun- halimah.blogspot.com/2009/01/kujang-senjata-tradisional-orang-sunda.html, diakses 2 Januari 2014 pkl. 13:40 WIB

Kurniawan, Aris (2011), Kajian Filosofis dan Simbolis Kujang (Sebagai Wujud Perjuangan Budaya), https://www.facebook.com/notes/aries-kurniawan/

(19)

Soelaeman, Eman (2004), Kumpulan Asal Mula Nama Tempat “TOPONIMI”: Kota

Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Depok, Bogor, Yayasan Budaya

Hanjuang Bodas

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh bahwa Politik Rasial Kolonial Belanda di Kota Medan mempunyai latar belakang yaitu sebelum masuknya perkebunan Eropa

Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa (1) Salatiga menyimpan banyak benda-benda peninggalan masa kolonial Belanda dengan berbagai katagori seperti rumah

Judul Skripsi : Adaptasi Arsitektur Nieuwe Bouwen Pada Bangunan Kolonial Belanda di Kota Medan. Rekapitulasi Nilai

Bagaimana bentuk adaptasi pada bangunan Kolonial Belanda di kota Medan yang dipengaruhi oleh arsitektur Nieuwe Bouwen.

Rekonstruksi perkembangan gaya visual iklan rokok yang dimuat pada media majalah sejak masa kolonial Hindia Belanda sampai Pasca Orde Baru (1925-2000), serta

Peradilan Agama di Indonesia itu sudah ada sejak Masa Kolonial Belanda dan sampai sekarang pun masih menjadi salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di

Setelah menelusuri sejarah pemerintah kolonial antara tahun 1800-1825, ternyata Indonesia memang mengalami masa liberal, yakni sejak pemerintah kolonial liberal yang

Dokumen ini membahas perkembangan arsitektur kolonial di Indonesia selama masa pendudukan Belanda, termasuk pengaruh Eropa dan pembangunan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur