BAB 4
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah Allium shoenoprasum L. yang telah dinyatakan berdasarkan hasil determinasi di Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung. Bagian tanaman yang digunakan adalah daun yang secara empiris, dinyatakan berkhasiat menyuburkan rambut. Daun kucai mengandung vitamin C, karoten, klorofil A dan B, sulfur, nitrat, dan nitrit (Kasahara, 1995). Ada 2 konstituen sulfur yang terkandung dalam daun kucai yaitu metil pentil disulfida dan pentil hidrodisulfida (Hiromu Kameoka et al.,1983). Efek daun kucai terhadap pertumbuhan rambut diduga diperantarai oleh komponen belerangnya yang dapat mempengaruhi sekresi kelenjar sebum (Harry, 1957). Minyak yang disekresikan akan mengisi folikel – folikel rambut, mengakibatkan akar rambut dan folikel rambut tidak mengecil saat rambut sedang gugur sehingga suplai darah yang membawa metabolit meningkat. Berat total daun segar yang digunakan adalah 5060 gram dan berat ekstrak kering yang diperoleh 402,7 gram dengan rendemen sebesar 7,95%.
Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa dalam ekstrak air daun kucai mengandung golongan senyawa flavonoid, saponin, dan steroid/triterpenoid seperti pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Penapisan Fitokimia Ekstrak Kucai Golongan Senyawa Hasil
Flavonoid + Alkaloid - Tanin - Saponin + Kuinon - Steroid/triterpenoid +
Keterangan : (-) tidak ada; (+) ada
Karakterisasi ekstrak dilakukan untuk mengetahui standardisasi bahan yang digunakan.
Kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol memberikan gambaran seberapa banyak
konstituen yang larut dalam kedua jenis pelarut tersebut. Kadar abu total memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang terdapat pada ekstrak tersebut.
Mineral internal dapat berasal dari komponen hara tumbuhan contohnya Mg, Ca oksalat, komponen klorofil dan Na karbonat sedangkan mineral eksternal dapat berupa senyawa silika yang berasal dari pasir. Kadar air ekstrak kering tidak boleh terlalu tinggi atau melebihi 10% (v/b), karena kadar air yang tinggi dapat memicu pertumbuhan mikroba.
Selain itu, pada kadar air yang tinggi aktivitas enzim akan terus berlangsung sehingga menyebabkan terjadinya penguraian dan rusaknya senyawa aktif dalam ekstrak tersebut.
Kadar air ekstrak daun kucai yang diperiksa memenuhi persyaratan, yaitu 8,42% (v/b).
Susut pengeringan memberikan batasan tentang senyawa yang hilang pada proses pengeringan pada suhu 105°C dan susut pengeringan yang lebih besar daripada kadar air menunjukkan adanya komponen lain yang menguap selain air pada suhu 105°C. Hasil karakterisasi ekstrak dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Karakterisasi Ekstrak Kucai
Parameter Hasil Kadar sari larut air (% b/b) 24,54
Kadar sari larut etanol (% b/b) 3,79 Kadar abu total (% b/b) 15,17
Kadar air (% v/b) 8,42
Susut pengeringan (% b/b) 11,61
Untuk uji pendahuluan, dilakukan uji efek pertumbuhan dan kelebatan rambut pada konsentrasi ekstrak air yang berbeda, yaitu ekstrak air dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30%. Hal ini dilakukan untuk menentukan konsentrasi ekstrak air optimum yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelebatan rambut. Konsentrasi yang dipilih berdasarkan pada penelitian sebelumnya (Rini Marliani, 2001) yang menyatakan bahwa ekstrak air dengan konsentrasi 20% dapat meningkatkan kelebatan rambut tetapi tidak dapat meningkatkan pertumbuhan panjang rambut.
Evaluasi efek kelebatan rambut menunjukkan bahwa hanya ekstrak air dengan konsentrasi 30% menyebabkan perbedaan bermakna secara statistik pertumbuhan panjang dan kelebatan rambut dibandingkan terhadap kontrol pada minggu ketiga perlakuan seperti dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan Tabel 4.4. Pada Gambar 4.1 dapat dilihat perbedaan
pertumbuhan rambut pada minggu ketiga setelah pengolesan ekstrak air daun kucai dengan konsentrasi 10%, 20%, 30% dan air suling.
Tabel 4.3 Panjang Rambut Kelinci Setelah Pengolesan Ekstrak Air Daun Kucai Panjang Rambut (mm) pada Hari ke-
Kelompok
(n = 3) 7 14 21
Kontrol 12,50 ± 14,24 45,00 ± 18,75 63,17 ± 15,91 Ekstrak 10%
(50mg/0,5ml) 5,83 ± 10,10 (-53,33%)
47,83 ± 10,68 (15,92%)
69,00 ± 4,36 (12,40%) Ekstrak 20%
(100mg/0,5ml) 18,42 ± 10,94
(47,33%) 57,83 ± 13,17
(40,89%) 76,50 ± 16,07 (23,76%) Ekstrak 30%
(150mg/0,5ml) 22 ± 7,81
(76,00%) 67,83 ± 9,22
(68,01%) 92,5 ± 16,18 * (55,97%)
* = berbeda bermakna dengan kelompok kontrol (p < 0,05)
Keterangan : angka didalam kurung menyatakan persen perbedaan dengan kontrol Tabel 4.4 Kelebatan dan Bobot Rambut Kelinci Setelah Pengolesan Ekstrak Air Daun
Kucai
Lebat Rambut pada Hari ke- Kelompok
(n = 3)
7 14 21
Bobot Rambut (mg) pada Hari ke-21 Kontrol 2,33 ± 1,15 2,33 ± 1,15 3,67 ± 1,53 5,27 ± 2,95 Ekstrak 10%
(50mg/0,5ml) 2,67 ± 2,03 (-11,11%)
5,00 ± 2,65 (111,11%)
11,33 ± 9,07 (173,33%)
15,83 ± 15,11 (148,18%) Ekstrak 20%
(100mg/0,5ml) 6,00 ± 2,00 (188,89%)
17,33 ± 7,23 * (677,78%)
30,33± 19,55 * (660,00%)
49,37 ± 39,37 (707,65 %) Ekstrak 30%
(150mg/0,5ml) 7,00 ± 2,65 * (333,33%)
30,33 ± 7,37 * (1400,00%)
45,33 ± 7,64 * (1263,33%)
69,87 ± 24,64 * (1354,91%)
* = berbeda bermakna dengan kelompok kontrol (p < 0,05)
Keterangan : angka didalam kurung menyatakan persen perbedaan dengan kontrol
A
B
C D
Gambar 4.1 Pertumbuhan Rambut setelah pengolesan ekstrak selama 3 minggu Keterangan : A diolesi ekstrak 10%; B diolesi air suling sebagai kontrol; C diolesi
ekstrak 20%; dan D diolesi ekstrak 30%
Konsentrasi ekstrak air yang digunakan untuk membuat sediaan larutan penyubur rambut (tonik rambut) adalah 30%. Dibuat beberapa formulasi berbeda dengan konsentrasi ekstrak yang sama namun pembawanya berbeda bertujuan untuk mencari formulasi terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelebatan rambut yang optimum serta penampilan fisik dan stabilitas sediaan yang optimum pula. Gliserin yang ditambahkan sebanyak 15%
dianggap cukup untuk memberikan efek emolien dan meningkatkan viskositas sediaan sehingga dapat meningkatkan waktu kontak sediaan dengan kulit kepala. Pada kadar yang terlalu tinggi, sisa gliserin dapat tertinggal pada kulit kepala dan rambut menyebabkan rambut terasa lebih lengket. Begitu juga dengan propilenglikol yang ditambahkan sebanyak 15% cukup untuk meningkatkan viskositas sediaan. Pengawet yang digunakan klorokresol sebanyak 0,1% yang aktif pada pH asam. Penambahan pengawet ini dimaksudkan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme mengingat pemakaian sediaan yang berulang.
Etanol yang digunakan sebanyak 20% dimaksudkan untuk meningkatkan penetrasi sediaan ke kulit serta memberikan sensasi dingin pada saat pemakaian. Penggunaan etanol dengan konsentrasi diatas 20% menyebabkan terjadinya pengendapan ekstrak kucai, selain itu sediaan topikal yang mengandung etanol lebih dari 50% dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Pewangi yang digunakan adalah wangi floral jasmine yang dapat menutupi bau kurang sedap dari kucai.
Tabel 4.5 Formulasi Larutan Penyubur Rambut Daun Kucai Komposisi Formula (%b/v) Komponen
1 2 3 4 Ekstrak air kucai 30 30 30 30
Etanol 20 20 20 20
Gliserin 7,5 - 15 -
Propilenglikol 7,5 15 - -
Chlorocresol 0,1 0,1 0,1 0,1
Pewangi 0,2 0,2 0,2 0,2
Aqua ad 100 100 100 100
Evaluasi sediaan meliputi pengamatan organoleptik sediaan, pengukuran viskositas sediaan, penetapan bobot jenis sediaan, dan pengukuran pH sediaan. Hasil pengamatan organoleptik sediaan, menunjukkan terjadinya perubahan warna sediaan yang semula merah terang kecoklatan menjadi merah tua namun sediaan tersebut tetap jernih tidak ada endapan selama penyimpanan. Perubahan warna yang terjadi, dikarenakan ada komponen dari ekstrak kucai yang teroksidasi. Begitu juga dengan bau melati dari sediaan yang semula kuat secara berangsur-angsur tiap minggunya semakin berkurang dan bau kucai mulai terasa. Hasil evaluasi pengukuran viskositas dan pH sediaan selama penyimpanan pada Tabel 4.6 dan Tabel 4.7, menunjukkan bahwa viskositas dan pH sediaan yang dibuat relatif stabil. Sediaan yang dibuat memiliki pH sekitar 5. Hal ini menunjukkan bahwa pH sediaan yang dibuat mendekati pH kulit yaitu 4,2 hingga 5,6 (Martini, 2000).
Tabel 4.6 Perubahan Bobot Jenis dan Viskositas Sediaan larutan Penyubur Rambut Selama Penyimpanan
Bobot Jenis (g/cm3) Viskositas (mPa s) Sediaan
Hari ke-1 Hari ke-63 Hari ke-1 Hari ke-63 Formula 1 1,04 1,05 2,08 ± 0,02 2,10 ± 0,14 Formula 2 1,01 1,02 1,78 ± 0,25 1,73 ± 0,07 Formula 3 1,03 1,04 2,02 ± 0,02 2,03 ± 0,12 Formula 4 1,00 1,00 1,36 ± 0,01 1,34 ± 0,26
Tabel 4.7 Perubahan pH Sediaan Larutan Penyubur Rambut Selama Penyimpanan pH
Hari ke-
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 1 5,39 ± 0,01 5,47 ± 0,01 5,35 ± 0,01 5,33 ± 0,02 2 5,41 ± 0,02 5,48 ± 0,01 5,36 ± 0,01 5,37 ± 0,01 3 5,42 ± 0,01 5,49 ± 0,01 5,38 ± 0,01 5,37 ± 0,02 4 5,41 ± 0,01 5,48 ± 0,01 5,38 ± 0,02 5,36 ± 0,01 5 5,41 ± 0,01 5,46 ± 0,01 5,35 ± 0,01 5,37 ± 0,01 6 5,42 ± 0,01 5,46 ± 0,01 5,36 ± 0,05 5,38 ± 0,02 7 5,41 ± 0,01 5,48 ± 0,02 5,36 ± 0,01 5,35 ± 0,02 14 5,43 ± 0,02 5,47 ± 0,01 5,37 ± 0,02 5,37 ± 0,02 21 5,41 ± 0,02 5,45 ±0,02 5,35 ± 0,01 5,37 ± 0,02 35 5,42 ± 0,01 5,44 ± 0,01 5,35 ± 0,01 5,35 ± 0,02 42 5,42 ± 0,01 5,47 ± 0,02 5,38 ± 0,02 5,34 ± 0,01 49 5,41 ± 0,01 5,46 ± 0,02 5,36 ± 0,01 5,35 ± 0,01 56 5,40 ± 0,02 5,46 ± 0,01 5,37 ± 0,02 5,33 ± 0,01 63 5,34 ± 0,02 5,41 ± 0,02 5,28 ± 0,01 5,24 ± 0,02
Evaluasi efek kelebatan rambut menunjukkan bahwa formula 1, formula 2, dan formula 3 tidak menyebabkan perbedaan yang bermakna secara statistik bobot rambut pada minggu ketiga perlakuan dibandingkan dengan pembanding seperti dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Namun pada pengamatan kelebatan rambut secara visual pada minggu ke-3, menunjukkan bahwa hanya formula 3 yang tidak menunjukkan perbedaan bermakna dengan pembanding. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan formula 3 dalam meningkatkan kelebatan rambut sebanding dengan pembanding yang digunakan. Gliserin dan propilenglikol yang terkandung dalam sediaan dapat meningkatkan viskositas sediaan, sehingga waktu kontak sediaan dengan kulit lebih lama dan lebih banyak ekstrak daun kucai yang berpenetrasi ke kulit kepala. Sedangkan untuk evaluasi efek pertumbuhan panjang rambut dari keempat formula menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna dibandingkan terhadap pembanding, dapat dilihat pada Tabel 4.8. Tonik rambut minoksidil yang digunakan sebagai pembanding mengadung minoksidil sebanyak 2%. Mekanisme kerjanya dengan cara memperbaiki ukuran diameter dan proliferasi folikel rambut, memperpanjang durasi fasa anagen dan sebagai vasodilator aliran darah ke folikel rambut
sehingga pertumbuhan rambut kembali normal (McEvoy, 1999). Pada Gambar 4.2 dapat dilihat perbedaan pertumbuhan rambut pada minggu ketiga setelah pengolesan empat sediaan larutan penyubur rambut dan pembanding.
Tabel 4.8 Panjang Rambut Kelinci Setelah Pengolesan Sediaan Larutan Penyubur Rambut Daun Kucai
Panjang Rambut (mm) pada Hari ke- Kelompok
(n = 3)
7 14 21 Pembanding
(0,5 ml) 13 ± 22,52 45,33 ± 31,03 79,67 ± 23,24 Formula 1
(150mg/0,5ml) 13,17 ± 22,81 53,33 ± 33,14 85,33 ± 21,83 Formula 2
(150mg/0,5ml) 26,5 ± 23,44 61,83 ± 44,04 95,83 ± 30,15 Formula 3
(150mg/0,5ml) 25,33 ± 21,96 54,5 ± 37,95 102,33 ± 29,59 Formula 4
(150mg/0,5ml) 14,5 ± 17,19 37,5 ± 29,70 72,83 ± 29,22
* = berbeda bermakna dengan kelompok pembanding (p < 0,05)
Tabel 4.9 Kelebatan dan Bobot Rambut Kelinci Setelah Pengolesan Sediaan Larutan Penyubur Rambut Daun Kucai
Lebat Rambut pada Hari ke- Kelompok
(n = 3) 7 14 21
Bobot Rambut (mg) pada Hari ke-21 Pembanding
(0,5 ml) 3 ± 5,19 11,33 ± 4,16 27,67 ± 6,11 26,4 ± 12,13 Formula 1
(150mg/0,5ml) 2 ± 3,46 5,33 ± 3,51 12,33 ± 4,73 * 14,33 ± 8,71 Formula 2
(150mg/0,5ml) 1,67 ± 1,53 5,33 ± 0,57 14 ± 6 * 13,8 ± 5,11 Formula 3
(150mg/0,5ml) 4,67 ± 3,05 14 ± 8,66 28,67 ± 7,64 25,77 ± 8,29 Formula 4
(150mg/0,5ml) 2,67 ± 3,05 6,67 ± 7,23 15,67 ± 8,02 * 7,67 ± 5,58 * * = berbeda bermakna dengan kelompok pembanding (p < 0,05)
P
F1 F2
F3 F4
Gambar 4.2 Pertumbuhan Rambut Setelah Pengolesan Sediaan Larutan Penyubur Rambut selama 3 minggu
Sediaan dengan formula terbaik, yaitu formula 3 dan formula 2 diuji keamanannya dengan uji iritasi kulit dan mata. Pembanding yang digunakan adalah tonik rambut minoxidil (Regrou®). Hasil uji iritasi dari sediaan dengan formula 2 dan formula 3 menunjukkan bahwa kedua sediaan tersebut hampir tidak mengiritasi kulit sehingga aman digunakan pada kulit yang utuh namun sebaiknya tidak digunakan pada kulit yang terluka.
Berdasarkan indeks iritasi primer yang diperoleh, menunjukkan bahwa formula 3 lebih tidak mengiritasi kulit dibanding formula 2. Hal ini sesuai dengan komposisi pembawa formula 3 yaitu gliserin yang lebih tidak mengiritasi dibandingkan propilenglikol yang digunakan pada formula 2. Indeks iritasi primer dari pembanding lebih besar dibandingkan indeks iritasi primer dari formula 3. Hal ini dikarenakan pembanding yang digunakan mengandung alkohol yang jauh lebih tinggi dibandingkan sediaan yang dibuat. Jika digunakan secara topikal dengan kadar alkohol yang terlalu tinggi dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Pada Gambar 4.3 dapat dilihat keadaan kulit pada t = 72 jam setelah pemberian formula 2, pembawa formula 2, formula 3, pembawa formula 3, dan pembanding
Tabel 4.10 Uji Iritasi Kulit Formula 2
Normal (kulit utuh) Diberi perlakuan (kulit digores) t = 24 jam t = 72 jam t = 24 jam t = 72 jam Kelinci Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema
1 0 0 0 0 2 0 1 0 2 0 0 0 0 1 0 0 0 3 0 0 0 0 1 0 1 0 Rata-Rata 0 0 0 0 1,67 0 0,67 0 Rata-Rata* 0 0 0,83 0,33
Rata-Rata# 0 0,58
PII 0,58 Keterangan : * = (rata-rata eritema + rata-rata udema)/2
# = (rata-rata* t24 + rata-rata* t72)/2
PII = rata-rata# kulit utuh + rata-rata# kulit digores Berdasarkan klasifikasi indeks iritasi primer (PII)
nilai PII 0,04 – 0,99 Æ hampir tidak mengiritasi (Draize,1959) Tabel 4.11 Uji Iritasi Kulit Pembawa Formula 2
Normal (kulit utuh) Diberi perlakuan (kulit digores) t = 24 jam t = 72 jam t = 24 jam t = 72 jam Kelinci Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema
1 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 0 3 0 0 0 0 2 0 0 0 Rata-Rata 0 0 0 0 1,33 0 0 0 Rata-Rata* 0 0 0,67 0
Rata-Rata# 0 0,33
PII 0,33
Tabel 4.12 Uji Iritasi Kulit Formula 3
Normal (kulit utuh) Diberi perlakuan (kulit digores) t = 24 jam t = 72 jam t = 24 jam t = 72 jam Kelinci Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema
1 0 0 0 0 1 0 1 0 2 0 0 0 0 1 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 Rata-Rata 0 0 0 0 0,67 0 0,33 0 Rata-Rata* 0 0 0,33 0,17
Rata-Rata# 0 0,25
PII 0,25
Tabel 4.13 Uji Iritasi Kulit Pembawa Formula 3
Normal (kulit utuh) Diberi perlakuan (kulit digores) t = 24 jam t = 72 jam t = 24 jam t = 72 jam Kelinci Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema
1 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 Rata-Rata 0 0 0 0 0,33 0 0 0 Rata-Rata* 0 0 0,17 0
Rata-Rata# 0 0,08
PII 0,08
Tabel 4.14 Uji Iritasi Kulit Pembanding
Normal (kulit utuh) Diberi perlakuan (kulit digores) t = 24 jam t = 72 jam t = 24 jam t = 72 jam Kelinci Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema Eritema Udema
1 0 0 0 0 2 0 1 0 2 0 0 0 0 2 0 1 0 3 0 0 0 0 2 0 1 0 Rata-Rata 0 0 0 0 2,00 0 1,00 0 Rata-Rata* 0 0 1,00 0,50
Rata-Rata# 0 0,75
PII 0,75
D
E E
’ D
’
B
C A
C’
B’
A’
Gambar 4.3 Keadaan Kulit Pada t = 72 jam Setelah Pengolesan Bahan Uji
Keterangan : A, B, C, D, E = kulit digores; A’, B’, C’, D’, E’ = kulit tidak digores A & A’ = diolesi formula 2; B & B’ = diolesi pembawa formula 2;
C & C’ = diolesi formula 3; D & D’ = diolesi pembawa formula 3;
E & E’ = diolesi pembanding (minoksidil)
Evaluasi uji iritasi okular menunjukkan bahwa sediaan dengan formula 2 dan formula 3 tidak menimbulkan iritasi pada mata. Begitu juga dengan pembanding yang digunakan tidak menyebabkan iritasi pada mata.
Tabel 4.15 Uji Iritasi Okular Sediaan Larutan Penyubur Rambut Daun Kucai
Kornea Konjungtiva Hari
ke-
Kelinci
Derajat Opasitas
Luas Opasitas
Iris
Pemerahan Udem Eksresi air mata 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 1
3 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2
3 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 3
3 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 4
3 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 7
3 0 0 0 0 0 0 Evaluasi efek kelebatan rambut dan pertumbuhan panjang rambut menunjukkan bahwa baik formula 3 yang baru dibuat dan formula 3 yang sudah disimpan selama 2 bulan, keduanya menyebabkan perbedaan yang bermakna secara statistik dibandingkan terhadap kontrol pada minggu ketiga perlakuan seperti dapat dilihat pada Tabel 4.16 dan Tabel 4.17.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan formula 3 yang sudah disimpan selama 2 bulan masih sebanding dengan saat pertama kali sediaan tersebut dibuat walaupun terjadi perubahan warna dan bau selama penyimpanan. Begitu juga efek meningkatkan kelebatan rambut dari formula 3 menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik dibandingkan dengan ekstrak air. Hal ini menunjukkan bahwa dengan dibuat sediaan larutan (tonik rambut) dapat meningkatkan kelebatan rambut yang lebih optimum jika dibandingkan dengan ekstrak airnya. Sedangkan untuk evaluasi efek pertumbuhan panjang rambut menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna antara sediaan larutan (tonik rambut) dengan ekstrak air kucai. Gliserin yang terkandung pada formula 3 meningkatkan
viskositas larutan dengan mempertahankan larutan tetap terdapat di permukaan kulit kepala sehingga waktu kontak dengan kulit kepala lebih lama dan sediaan yang berpenetrasi cukup optimum. Sedangkan etanol yang terkandung dalam formula 3, meningkatkan penetrasi ekstrak ke kulit kepala dan sebagai vasodilator aliran darah ke folikel rambut yang membawa metabolit yang diperlukan untuk pertumbuhan rambut.
Tabel 4.16 Kelebatan Rambut Kelinci setelah Pengolesan Sediaan Larutan Penyubur Rambut Ekstrak Daun Kucai yang Telah Disimpan Selama 2 Bulan
Panjang Rambut (mm) pada Hari ke- Kelompok
(n = 3) 7 14 21
Formula 3
yang baru 54,83 ± 0,57 *
(30,63%) 98,83 ± 6,29 *
(15,13%) 159,67 ± 3,75*
(18,60%) Formula 3
(2 bulan) 54,67 ± 8,09 * (29,21%)
95,83 ± 3,81 * (11,73%)
154,17 ± 8,43*
(14,43%) Pembawa
Formula 3 (kontrol)
42,17 ± 3,78 85,83 ± 5,13 134,67 ± 4,16
Ekstrak 30% 49,00 ± 2,64 91,00 ± 3,77 148,50 ± 3,29 * = berbeda bermakna dengan kelompok kontrol (p < 0,05)
# = berbeda bermakna dengan kelompok ekstrak 30% (p < 0,05)
Keterangan : angka didalam kurung menyatakan persen perbedaan dengan kontrol Tabel 4.17 Kelebatan dan Bobot Rambut Kelinci setelah Pengolesan Sediaan Larutan
Penyubur Rambut Ekstrak Daun Kucai yang Telah Disimpan Selama 2 Bulan Lebat Rambut
pada Hari ke- Kelompok
(n = 3)
7 14 21
Bobot Rambut (mg) pada Hari ke-21 Formula 3
yang baru 19,33 ± 2,08 *#
(395,56%) 26,67 ± 6,65 *#
(341,76%) 40,00 ± 10,44*#
(396,29%) 66,77 ± 16,12*#
(427,82%) Formula 3
(2 bulan) 17,33 ± 5,68 *#
(332,22%)
23,00 ± 7,00 * (277,30%)
33,67 ± 11,15*
(312,96%)
49,87 ± 12,87*#
(286,56%) Pembawa
Formula 3 (kontrol)
4,00 ± 1,00 6,00 ± 1,00 8,00 ± 1,73 12,77 ± 1,12
Ekstrak 30% 10,33 ± 30,50 15,00 ± 6,55 21,00 ± 7,21 28,40 ± 1,15
* = berbeda bermakna dengan kelompok kontrol (p < 0,05)
# = berbeda bermakna dengan kelompok ekstrak 30% (p < 0,05)
Keterangan : angka didalam kurung menyatakan persen perbedaan dengan kontrol
B C
A D
Gambar 4.5 Pertumbuhan Rambut Setelah Pengolesan Selama 3 minggu
Keterangan : A diolesi sediaan ekstrak kucai 30% dengan pembawa gliserin 15%
dan etanol 20% yang baru dibuat; B diolesi sediaan ekstrak kucai 30% dengan pembawa gliserin 15% dan etanol 20% yang telah disimpan selama 2 bulan; C diolesi ekstrak air kucai konsentrasi 30%; dan D diolesi pembawa sediaan