• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Mengenai Merek

1. Pengertian Merek

Dalam Pasal 1 ayat (2) perjanjian intelektual tentang Aspek-aspek Perdagangan dari Hak Kekayaan Intelektual (The TRIPs Agreement) disebutkan merek dagang (trademarks) sebagai salah satu jenis HKI. Menurut Pasal 1 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis

“Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.”

Selain pengertian yang diberikan di atas, ada juga beberapa sarjana yang memberikan pendapatnya tentang merek.

Menurut H.M.N Purwo Sutjipto

“Merek dapat diartikan suatu tanda dengan mana suatu benda tertentu di pribadikan sehingga dapat dibedakan dengan benda lain yang sejenis”1 Prof. Tim Lindsey dkk dalam buku “Hak Kekayaan Intelektual”:2

“Merek adalah sesuatu (gambar atau nama) yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu preoduk atau perusahaan di pasaran. Oleh karena itu, pengusaha biasanya berusaha mencegah orang lain menggunakan merek mereka karena dengan menggunakan merek, para pedagang memperoleh reputasi baik dan kepercayaan dari konsumen serta dapat membangun hubungan antara reputasi tersebut dengan merek yang telah digunakan perusahaan secara regular”

Pengertian merek diatas menunjukan bahwa merek bukan hanya berfungsi sebagai lambang atau simbol dari sebuah produk, melainkan lebih daripada itu, dimana merek tersebut merupakan satu kesatuan dari sebuah produk dan

1 Muhammad Djumhana & R. Djubaidillah. 1993. Hak Milik Intelektual. Bandung. PT. Citra Aditya Bakti. hlm 121

2 Tim Lindsey. 2002. Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar”, Asian Law Group Ltd Kerjasama dengan PT Alumni Bandung. hlm 139-140

(2)

tidak dapat dipisahkan. Merek memudahkan konsumen untuk mengingat suatu produk dan dapat membedakan produk sejenis dengan produk pesaing.

2. Jenis Merek Dan Fungsi Merek a. Jenis Merek

Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, merek dibagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:

Pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan merek dagang adalah:

“Merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama- sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang sejenis lainnya.”

Pasal 1 ayat (3) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan merek dagang adalah:

“Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama- sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa sejenis lainnya.”

Selain kedua merek tersebut, Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menjelaskan pula mengenai merek kolektif sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (4) sebagai berikut:

“Merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik yang sama mengenai sifat, ciri umum, dan mutu barang atau jasa serta pengawasannya yang akan diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis lainnya.”

b. Fungsi Merek

Suatu merek memiliki fungsi sebagai berikut:3

1. Fungsi pembeda yakni membedakan produk satu perusahaan dengan produk perusahaan lainnya.

2. Fungsi jaminan reputasi yakni selain sebagai tanda asal usul produk,

3 Endang Purwaningsih. 2005. Perkembangan Hukum Intellectual Property Rights. Bogor. Ghalia Indonesia. hlm 11

(3)

juga secara pribadi menghubungkan reputasi produk bermerek tersebut dengan produsennya, sekaligus memberi jaminan kualitas akan produk tersebut.

3. Fungsi promosi yakni merek juga digunakan sebagai sarana memperkenalkan produk baru dan mempertahankan reputasi produk lama yang diperdagangkan sekaligus untuk menguasai pasar.

4. Fungsi rangsangan investasi dan pertumbuhan industri yakni merek dapat menunjang pertumbuhan industri melalui penanaman modal baik asing maupun dalam negeri dalam menghadapi mekanisme perdagangan pasar bebas.

Fungsi merek antara lain:4

1. Tanda pengenal (product identity)

Merek memiliki fungsi sebagai tanda pengenal untuk membedakan suatu produk perusahaan yang satu dengan produk perusahaan lainnya.

2. Sarana promosi dagang (means of trade promotion)

Merek memiliki fungsi sebagai sarana promosi dagang, promosi tersebut dapat dilakukan dengan melalui iklan dari pengusaha atas barang atau jasa yang diperdagangkannya tersebut dengan tujuan untuk menarik konsumen.

3. Jaminan atas mutu barang atau jasa (quality guarantee)

Merek memiliki fungsi sebagai penjamin mutu dari suatu barang atau jasa, hal ini tidak hanya menguntungkan pemilik merek, akan tetapi juga konsumen, karena dengan demikian konsumen akan memilik jaminan mutu suatu barang melalui merek tersebut.

4. Penunjukkan asal barang atau jasa yang dihasilkan (source of origin) Merek memiliki fungsi sebagai tanda pengenal asal barang atau jasa yang dapat menunjukkan dari mana asal daerah atau negara dari barang atau jasa tersebut.

4 Budi Agus Riswandi dan M. Syamsudin. 2005. Hak Kekayaan Intelektual Dan Budaya Hukum.

Jakarta. Raja Garfindo. hlm 84

(4)

3. Sistem Pendaftaran Merek

Terdapat dua sistem pendaftaran merek yang dianut di Indonesia yaitu:

1. Stelsel Deklaratif

Bahwa pendaftaran itu bukanlah menerbitkan hak, melainkan hanya memberikan dugaan, sangkaan hukum (rechtsvermoeden) atau presumption iuris bahwa pihak yang terdaftar adalah pihak yang berhak atas merek tersebut dan sebagai pemakai pertama merek yang didaftarkan.

Stelsel deklaratif dianggap kurang memberikan kepastian hukum.

Bukannya pendaftar pertama yang mendapatkan perlindungan hukum tetapi pemakai pertama atau dikenal dengan istilah first to use.

2. Stelsel Konstitutif

Bahwa yang melakukan pendaftaran merek pertama kalinya yang merupakan pemilik hak atas merek tersebut atau dikenal juga dengan sistem first to file. Jadi pendaftaran yang menciptakan merek tersebut.

Sistem inilah yang digunakan di Indonesia.

Itikad baik (good faith) adalah hal penting yang dijadikan sebagai pedoman berkenaan dengan pendaftaran merek dari pendaftar. Berkaitan dengan itikad baik, Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menganut prinsip first to file system, bahwa hanya merek yang didaftarkan dengan beritikad baik saja yang mendapat perlindungan hukum.

Bentuk dari itikad tidak baik adalah pendaftar merek dengan niat untuk meniru, menjiplak, atau mendompleng keterkenalan suatu merek terkenal demi kepentingan usahanya sehingga menimbulkan konsumen kebingungan, kondisi persaingan usaha tidak sehat, mengecoh, atau menyesatkan konsumen.

Apabila kemudian merek terdaftar ditemukan adanya kesamaan dengan merek yang sudah terlebih dahulu terdaftar, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk itikad tidak baik. Terhadap pendaftaran yang dilakukan dengan dasar itikad tidak baik tersebut dapat dilakukan upaya hukum yaitu pembatalan merek. Hal tersebut terdapat di dalam Pasal 76 ayat

(5)

(1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis bahwa

“ (1) Gugatan pembatalan Merek terdaftar dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan/atau Pasal 21”

Dalam Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis disebutkan bahwa

“ (3) Permohonan ditolak jika diajukan oleh Pemohon yang beriktikad tidak baik.”

Dalam penjelasan Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang dimaksud dengan "Pemohon yang beritikad tidak baik" adalah Pemohon yang patut diduga dalam mendaftarkan mereknya memiliki niat untuk meniru, menjiplak, atau mengikuti merek pihak lain demi kepentingan usahanya menimbulkan kondisi persaingan usaha tidak sehat, mengecoh, atau menyesatkan konsumen. Oleh karena itu, Pemohon dengan itikad tidak baik dalam pendaftaran merek dapat dibatalkan mereknya sebagaimana diatur dalam undang-undang merek.

Contohnya permohonan merek berupa bentuk tulisan, lukisan, logo, atau susunan warna yang sama dengan merek milik pihak lain atau merek yang sudah dikenal masyarakat secara umum sejak bertahuntahun, ditiru sedemikian rupa sehingga memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek yang sudah dikenal tersebut. Dari contoh tersebut sudah terjadi itikad tidak baik dari Pemohon karena setidak-tidaknya patut diketahui adanya unsur kesengajaan dalam meniru merek yang sudah dikenal tersebut.

(6)

4. Pengajuan Permohonan Pendaftaran Merek Bagan 2.1

Pengajuan Permohonan Pendaftaran Merek

\

Sumber: dgip.co.id

Untuk melakukan pendaftaran merek perlu dimohonkan pendaftaran lebih dahulu berdasarkan syarat-syarat dan prosedur yang ditentukan Undang- Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dalam Pasal 4 ayat (1) disebutkan permohonan pendaftaran merek diajukan oleh Pemohon atau Kuasanya kepada Menteri secara elektronik atau non- elektronik dalam bahasa lndonesia. Permohonan secara elektronik tersebut dilampiri dengan bukti pembayaran biaya pendaftaran, atau dapat pula dilakukan secara elektronik melalui laman resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual serta wajib menggugah dokumen resmi dalam laman tersebut.5 Sedangkan permohoan melalui non-elektronik wajib melampirkan beberapa dokumen diantaranya:6

1. Bukti pembayaran biaya permohonan, label merek, 2. Surat pernyataan kepemilikan merek,

3. Surat kuasa (jika permohonan diajukan melalui kuasa),

5 Peraturan Menteri Hukun dan HAM RI No. 67 Tahun 2016 pada Pasal 6 dan Pasal 7 6 Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. 67 Tahun 2016 pada Pasal 3 ayat (3)

(7)

4. Bukti prioritas jika menggunakan hak prioritas dan terjemahan dalam bahasa Indonesia, dan

5. Format formulir permohonan merek.

Diatur pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek proses pendaftaran merek yang sesuai adalah sebagai berikut:

1. Mengisi dan menandatangani formulir permohonan pendaftaran merek, melampirkan, paling sedikit, dokumen bukti pembayaran, surat pernyataan kepemilikan merek, dan label merek serta mengajukannya ke Menteri Hukum dan HAM;7

2. Permohonan pendaftaran merek yang telah diterima oleh Menteri Hukum dan HAM kemudian dilakukan pemeriksaan formalitas atas kelengkapannya;8

3. Apabila terdapat kekurangan kelengkapan persyaratan, maka dalam jangka waktu 30 hari kerja sejak tanggal penerimaan permohonan, pemohon merek atau kuasanya diberi waktu untuk melengkapinya dalam jangka waktu 2 bulan sejak tanggal pengiriman surat pemberitahuan untuk melengkapi persyaratan;9

4. Apabila tidak dilengkapi sampai dengan jangka waktu tersebut, permohonan dianggap ditarik kembali;10

5. Permohonan yang telah memenuhi persyaratan minimum diberikan tanggal penerimaan dan dalam waktu paling lama 15 hari kerja sejak tanggal penerimaan, permohonan merek akan memasuki tahap pengumuman yang dilakukan dalam berita resmi merek;11

7 Pasal 4 ayat (1), (3), (4), dan (8) Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis

8 Pasal 9 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek

9 Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis 10 Pasal 12 Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis 11 Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis

(8)

6. Permohonan merek memasuki tahap pengumuman/publikasi yang berlangsung selama 2 bulan. Selama masa pengumuman ini setiap pihak dapat mengajukan keberatan/oposisi dengan alasan-alasannya;12

7. Alasan tersebut adalah merek yang dimohonkan pendaftarannya menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis tidak dapat didaftar atau harus ditolak. Dalam jangka waktu 14 hari kerja sejak tanggal penerimaan keberatan, salinan keberatan dikirimkan kepada pemohon merek atau kuasanya;13

8. Apabila ada keberatan/oposisi, maka pemohon merek atau kuasanya berhak mengajukan sanggahan yang diajukan dalam waktu paling lama 2 bulan sejak tanggal pengiriman salinan keberatan dari Menteri Hukum dan HAM.14

Pada Pasal 7 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, disebutkan bagi pemohon yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia harus melalui kuasanya, sebagai berikut:

1) Permohonan dan hal yang berkaitan dengan administrasi merek yang diajukan oleh Pemohon yang bertempat tinggal atau berkedudukan tetap di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib diajukan melalui kuasa.

2) Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyatakan dan memilih alamat kuasa sebagai domisili hukum di Indonesia.

Diatur pada Pasal 6 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, dalam mengajukan permohonan pendaftaran merek untuk pengajuan permohonan satu atau lebih kelas barang dan/atau jasa dapat dilakukan dengan satu permohonan.

1) Permohonan untuk lebih dari 1 (satu) kelas barang dan/atau jasa dapat diajukan dalam satu Permohonan.

2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyebutkan jenis barang dan/atau jasa yang termasuk dalam kelas yang dimohonkan pendaftarannya.

3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

12 Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 16 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis

13 Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis 14 Pasal 17 Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis

(9)

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis permohonan pendaftaran merek dapat dilakukan dengan hak prioritas, sebagaimana disebutkan pada Pasal 9 yaitu:

“Permohonan dengan menggunakan Hak Prioritas harus diajukan dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak Tanggal Penerimaan permohonan pendaftaran Merek yang pertama kali diterima di negara lain yang merupakan anggota Paris Convention tentang Pelindungan Kekayaan Industri (Paris Convention for the Protection of Industrial Property) atau anggota Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (Agreement Establishing the World Trade Organization).”

5. Jangka Waktu Perlindungan Merek

Jangka waktu perlindungan merek terdaftar diatur dalam Pasal 35, 36, 37, dan 39 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

Dalam ketentuan Pasal 35 ayat (1) menyatakan bahwa:

“ (1) Merek terdaftar mendapat pelindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal penerimaan.”

Sedangkan, Pasal 35 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis mengatur mengenai perpanjangan jangka waktu perlindungan terdaftar, sebagai berikut:

“ (3) Permohonan perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan secara elektronik atau non-elektronik dalam bahasa indonesia oleh pemilik merek atau kuasanya dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu pelindungan bagi merek terdaftar tersebut dengan dikenai biaya.

(4) Permohonan perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masih dapat diajukan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah berakhirnya jangka waktu pelindungan merek terdaftar tersebut dengan dikenai biaya dan denda sebesar biaya perpanjangan.”

Sedangkan di dalam Pasal 36 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, permohonan perpanjangan disetujui apabila:

“Permohonan perpanjangan disetujui jika Pemohon melampirkan surat pernyataan tentang:

a. Merek yang bersangkutan masih digunakan pada barang atau jasa sebagaimana dicantumkan dalam sertifikat merek tersebut; dan

(10)

b. Barang atau jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a masih diproduksi dan/atau diperdagangkan.”

Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, permohonan perpanjangan ditolak apabila:

“Permohonan perpanjangan ditolak jika tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36.”

Pasal 39 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, perpanjangan perlindungan akan diumumkan sebagai berikut:

(1) Perpanjangan jangka waktu pelindungan merek terdaftar dicatat dan diumumkan dalam Berita Resmi Merek.

(2) Perpanjangan jangka waktu pelindungan merek terdaftar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada pemilik merek atau kuasanya.

6. Merek Yang Tidak Dapat Di Daftar atau Di Tolak

Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis mengatur secara tegas mengenai merek-merek yang tidak dapat didaftarkan. Unsur-unsur yang tidak dapat didaftarkan sebagai merek menurut Pasal 20 adalah sebagai berikut:

“Merek tidak dapat didaftar jika:

a. Bertentangan dengan ideologi negara,peraturan perundang- undangan, moralitas, agama, kesusilaan, atau ketertiban umum;

b. Sama dengan, berkaitan dengan, atau hanya menyebut barang dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya;

c. Memuat unsur yang dapat menyesatkan masyarakat tentang asal, kualitas, jenis, ukuran, macam, tujuan penggunaan barang dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya atau merupakan nama varietas tanaman yang dilindungi untuk barang dan/atau jasa yang sejenis;

d. Memuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat dari barang dan/atau jasa yang diproduksi;

e. Tidak memiliki daya pembeda; dan/atau

f. Merupakan nama umum dan/atau lambang milik umum.”

Terhadap Pasal 20 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis; Huruf (a) yang dimaksud dengan "bertentangan dengan ketertiban umum" adalah tidak sejalan dengan peraturan yang ada dalam masyarakat yang sifatnya menyeluruh seperti menyinggung perasaan

(11)

masyarakat atau golongan, menyinggung kesopanan atau etika umum masyarakat, dan menyinggung ketentraman masyarakat atau golongan.

Huruf (b) merek tersebut berkaitan atau hanya menyebutkan barang dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya.

Huruf (c) yang dimaksud dengan "memuat unsur yang dapat menyesatkan" misalnya merek "Kecap No. 1" tidak dapat didaftarkan karena menyesatkan masyarakat terkait dengan kualitas barang, merek "netto 100 gram" tidak dapat didaftarkan karena menyesatkan masyarakat terkait dengan ukuran barang.

Huruf (d) yang dimaksud dengan "memuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat dari barang dan/atau jasa yang diproduksi" adalah mencantumkan keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, khasiat, dan/atau risiko dari produk dimaksud.

Huruf (e) tanda dianggap tidak memiliki daya pembeda apabila tanda tersebut terlalu sederhana seperti satu tanda garis atau satu tanda titik, ataupun terlalu rumit sehingga tidak jelas.

Huruf (f) yang dimaksud dengan "nama umum" antara lain merek

"rumah makan" untuk restoran, merek "warung kopi" untuk kafe. Adapun

"lambang milik umum" antara lain "lambang tengkorak" untuk barang berbahaya, lambang "tanda racun" untuk bahan kimia, "lambang sendok dan garpu" untuk jasa restoran.

Dasar penolakan dalam Pasal 20 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis disebut juga dengan alasan absolut (absolute grounds). Alasan absolut tidak diterimanya pendaftaran merek didasarkan atas tolok ukur dan perspektif dari tanda yang digunakan sebagai merek secara absolut harus memiliki daya pembeda, secara absolut tidak bertentangan dengan undang-undang, moral agama dan ketertiban umum serta iktikad baik.

Sedangkan penolakan pendaftaran merek bersifat relatif, sebab sangat bergantung pada kemampuan dan pengetahuan pemeriksa merek.

Berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis yang ditolak pendaftaran merek adalah:

(12)

1. Permohonan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan:

a. Merek terdaftar milik pihak lain atau dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;

b. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;

c. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis yang memenuhi persyaratan tertentu; atau

d. Indikasi geografis terdaftar.

2. Permohonan merek yang;

a. Merupakan atau menyerupai nama atau singkatan nama orang terkenal, foto, atau nama badan hukum yang dimiliki orang lain, kecuali atas persetujuan tertulis dari yang berhak;

b. Merupakan tiruan atau menyerupai nama atau singkatan nama, bendera, lambang atau simbol atau emblem suatu negara, atau lembaga nasional maupun internasional, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang; atau

c. Merupakan tiruan atau menyerupai tanda atau cap atau stempel resmi yang digunakan oleh negara atau lembaga pemerintah, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.

3. Diajukan oleh pemohon yang beriktikad tidak baik

Dasar penolakan dalam Pasal 21 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis disebut dengan alasan relatif (relative grounds), di mana hak yang telah ada terlebih dahulu adalah sebagai alasan relatif untuk menolak pendaftaran merek atau alasan relatif untuk pembatalan merek.

Dikatakan alasan relatif, karena masih harus diuji terlebih dahulu keabsahan merek yang memiliki persamaan secara keseluruhan dengan merek senior atau dengan merek terkenal atau dengan indikasi geografis yang telah terdaftar lebih dahulu.

7. Penghapusan dan Pembatalan Merek a. Penghapusan Merek

Penghapusan merek diatur dalam Pasal 72 dan Pasal 76 Undang- Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dalam ketentuan Pasal 72 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menyatakan bahwa:

“Penghapusan merek terdaftar dapat diajukan oleh pemilik merek yang bersangkutan kepada menteri.”

(13)

Dalam ketentuan Pasal 72 ayat (2) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menyatakan bahwa:

“Permohonan penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan oleh pemilik Merek atau melalui Kuasanya, baik untuk sebagian maupun seluruh jenis barang dan/atau jasa.”

Sedangkan Pasal 72 ayat (7) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menjelaskan mengenai alasan merek dapat dihapuskan, yang berbunyi:

“ (7) Penghapusan Merek terdaftar atas prakarsa Menteri dapat dilakukan jika:

a. Memiliki persamaan pada pokoknya dan/atau keseluruhannya dengan Indikasi Geografis;

b. Bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundang- undangan, moralitas, agama, kesusilaan, dan ketertiban umum; atau c. Memiliki kesamaan pada keseluruhannya dengan ekspresi budaya

tradisional, warisan budaya takbenda, atau nama atau logo yang sudah merupakan tradisi turun temurun.”

Dalam Pasal 73 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menjelaskan mengenai pengajuan gugatan, yaitu:

“(1) Pemilik Merek yang keberatan terhadap keputusan penghapusan Merek terdaftar atas prakarsa Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 ayat (6) dan ayat (7) dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara.

(2)Pihak yang keberatan terhadap putusan Pengadilan Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.”

Pasal 74 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menyatakan bahwa:

“Penghapusan Merek terdaftar dapat pula diajukan oleh pihak ketiga yang berkepentingan dalam bentuk gugatan ke Pengadilan Niaga dengan alasan Merek tersebut tidak digunakan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut dalam perdagangan barang dan/atau jasa sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir.”

Penghapusan merek sebagaimana disebutkan di atas kemungkinan akan merugikan pemilik merek. Oleh karena itu, disediakan kesempatan bagi pemilik merek yang dihapus untuk mengajukan keberatan atas penghapusan merek tersebut. Keberatan terhadap keputusan penghapusan

(14)

pendaftaran merek atas prakarsa menteri tersebut dapat diajukan kepada Pengadilan Niaga.

Untuk penghapusan pendaftaran merek akan dicatat dalam Daftar Umum Merek serta diumumkan dalam Berita Resmi Merek, dan penghapusan dan pendaftaran merek dilakukan oleh Direktrorat Jenderal dengan mencoret merek yang bersangkutan dari Daftar Umum Merek dengan memberi catatan tentang alasan dan tanggal penghapusan merek tersebut. Berdasarkan hal tersebut Direktorat Jenderal HKI akan memberitahukan secara tertulis kepada pemilik merek atau kuasanya dengan menyebutkan alasan penghapusan merek tersebut. Dengan demikian penghapusan pendafaran merek mengakibatkan berakhirnya perlindungan hukum atas merek yang bersangkutan.

b. Pembatalan Merek

Sedangkan pembatalan merek diatur dalam Pasal 76 ayat (1) Undang- Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis

“ (1) Gugatan pembatalan Merek terdaftar dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan/atau Pasal 21.”

Pengajuan gugatan pembatalan disebutkan dalam Pasal 76 ayat (3) Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis yang berbunyi:

“(3)Gugatan pembatalan diajukan kepada Pengadilan Niaga terhadap pemilik Merek terdaftar.”

Gugatan pembatalan dapat diajukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran merek, namun pembatalan tidak dikenakan batas waktu apabila terbukti terdapat unsur itikad tidak baik dalam pendaftaran merek tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 77 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, sebagai berikut:

“(1)Gugatan pembatalan pendaftaran merek hanya dapat diajukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran Merek.

(2)Gugatan pembatalan dapat diajukan tanpa batas waktu jika terdapat unsur iktikad tidak baik dan/atau merek yang bersangkutan

(15)

bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundang-undangan, moralitas, agama, kesusilaan, dan ketertiban umum.”

Alasan tersebut diantaranya; bertentangan dengan ideologi negara atau ketertiban umum, memuat unsur yang dapat menyesatkan masyarakat, merupakan nama umum dan/atau lambang milik umum, mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis maupun tidak sejenis, permohonan diajukan oleh Pemohon yang beritikad tidak baik.

Pembatalan pendaftaran merek dilakukan oleh Direktrorat Jenderal dengan mencoret merek yang bersangkutan dari Daftar Umum Merek dengan memberi catatan tentang alasan dan tanggal pembatalan merek tersebut. Kemudian pembatalan pendaftaran merek tersebut diberitahukan secara tertulis kepada pemilik merek atau kuasanya dengan menyebutkan alasan pembatalan dan penegasan bahwa sejak tanggal pencoretan dari Daftar Umum Merek, dan sertifikat merek yang bersangkutan dinyatakan tidak berlaku lagi. Untuk pencoretan pendaftaran suatu merek dari Daftar Umum Merek akan diumumkan dalam Berita Resmi Merek. Dengan demikian pembatalan dan pencoretan pendaftaran merek mengakibatkan berakhirnya perlindungan hukum atas merek yang bersangkutan.15

c. Akibat Hukum Pembatalan Merek Terdaftar

Indonesia memberikan perlindungan terhadap merek terdaftar yang pendaftarannya dilandasi itikad baik (good faith). Sistem pendaftaran di Indonesia menganut sistem konstitutif, sistem ini mengharuskan adanya pendaftaran merek agar suatu merek bisa mendapatkan perlindungan, sistem ini dikenal juga dengan sistem first to file, hal ini guna melindungi kepentingan pemegang merek yang belum terdaftar namun mereknya dicuri dan didaftarkan oleh pihak yang beritikad tidak baik.

Pembatalan merek merupakan langkah yang dapat ditempuh oleh salah satu pihak untuk menghilangkan eksistensi pendaftaran suatu merek dari Daftar Umum Merek atau membatalkan keabsahan hak berdasarkan

15 Ahmad M. Ramli. 2013. Buku Panduan Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta. Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

(16)

sertifikat merek. Sebagaimana diatur dalam perjanjian Internasional, dalam Pasal 6 bis the Paris Convention yang menyatakan bahwa:

“The countries of the Union undertake, ex officio if their legislation so permits, or at the request of an interested party, to refuse or to cancel the registration, and to prohibit the use, of a trademark which constitutes a reproduction, an imitation, or a translation, liable to create confusion, of a mark considered by the competent authority of the country of registration or use to be well known in that country as being already the mark of a person entitled to the benefits of this Convention and used for identical or similar goods. These provisions shall also apply when the essential part of the mark constitutes a reproduction of any such well-known mark or an imitation liable to create confusion therewith.”

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berbunyi:

“Untuk perlindungan merek terkenal Negara Konvensi dapat menolak atau membatalkan pendaftaran atau melarang pemakaian suatu merek yang mengandung reproduksi, peniruan, penterjemahan, membuat meneyesatkan, atas suatu merek yg dipandang sebagai merek terkenal di suatu negara peserta konvensi, tanpa memandang digunakan utk barang yg sama atau sejenis. Ketentuan ini juga berlaku walaupun hanya suatu bagian penting saja dari suatu merek merupakan repoduksi atau jiplakan merek terkenal milik pihak lain.”

Ketentuan tersebut menegaskan untuk menghindari terdaftarnya suatu merek yang didaftarkan dari itikad tidak baik dengan maksud merugikan pemilik merek yang terdaftar, dijelaskan pula bahwa negara anggota konvensi dapat menolak ataupun membatalkan merek yang didaftarkan dengan itikad tidak baik tersebut. TRIP’s Agreement juga mengatur mengenai apa yang dimaksud merek terkenal, Pasal 16 ayat (2), menyatakan:

“In determining whether a trademark is well-known, Members shall take account of the knowledge of the trademark in the relevant sector of the public, including knowledge in the Member concerned which has been obtained as a result of the promotion of the trademark.”

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berbunyi:

“Dalam menentukan bahwa suatu merek dagang merupakan merek terkenal, perlu dipertimbangkan pengetahuan akan merek dagang tersebut pada sektor yang terkait dalam masyarakat, termasuk pengetahuan yang diperoleh Anggota dari kegiatan promosi dari merek dagang yang bersangkutan.”

(17)

Pengaturan pembatalan merek di Indonesia diatur di dalam Pasal 76- 77 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dimana dikatakan bahwa gugatan pembatalan merek terdaftar dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan. Kemudian gugatan pembatalan merek hanya dapat diajukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran merek. Akan tetapi gugatan pembatalan merek juga dapat diajukan tanpa batasan waktu apabila terdapat itikad tidak baik.

Dalam pasal 68 ayat (5) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menyebutkan bahwa:

“(5) Pembatalan dan pencoretan pendaftaran Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan berakhirnya pelindungan hukum atas Merek tersebut untuk seluruh atau sebagian jenis barang yang sama.”

Hapusnya perlindungan hukum atas merek yang bersangkutan, maka hak-hak pemegang merek otomatis akan hilang. Selain itu akibat hukum yang terjadi akibat pembatalan merek adalah sebagai berikut:

1. Merek Dicoret Dari Daftar Umum Merek

Dengan dibatalkannya suatu merek, merek yang dibatalkan tersebut akan dicoret dari Daftar Umum Merek, sehingga merek tersebut tidak lagi menjadi merek yang terdaftar, sehingga pemilik merek yang telah dibatalkan tidak bisa menggunakan mereknya lagi. Pencoretan ini diatur di dalam pasal 91-92 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

Pasal 91

(1) Pelaksanaan pembatalan berdasarkan putusan pengadilan dilakukan setelah Menteri menerima salinan resmi putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan diumumkan dalam Berita Resmi Merek.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penghapusan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 sampai dengan Pasal 75 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 92

(1) Pembatalan atau penghapusan pendaftaran Merek dilakukan oleh Menteri dengan mencoret Merek yang bersangkutan

(18)

dengan memberi catatan tentang alasan dan tanggal pembatalan atau penghapusan tersebut.

(2) Pembatalan atau penghapusan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada pemilik Merek atau Kuasanya dengan menyebutkan alasan pembatalan atau penghapusan dan penegasan bahwa sejak tanggal pencoretan, sertifikat Merek yang bersangkutan dinyatakan tidak berlaku lagi.

(3) Pencoretan Merek terdaftar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan dalam Berita Resmi Merek.

2. Berakhirnya Perlindungan Hukum

Dengan dibatalkannya suatu merek mengakibatkan sertifikat merek tidak berlaku lagi, sehingga perlindungan yang diberikan negara terhadap pemegang merek dianggap berakhir dan sudah tidak ada lagi.

Jika sebelumnya pemegang merek diberikan hak eksklusif akan mereknya tersebut, ketika merek tersebut telah dibatalkan, maka hak itu hilang dan berganti kepemilikan, sehingga pemegang merek yang telah dibatalkan tidak boleh menggunakan merek tersebut lagi kecuali diperjanjikan lain oleh pemilik merek milik penggugat.

3. Akibat Terhadap Penerima Lisensi

Pembatalan merek tidak hanya berakibat hukum terhadap pemegang mereknya saja, tetapi juga berakibat kepada pihak ketiga yaitu penerima lisensi. Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis sebenarnya telah memberikan perlindungan kepada penerima lisensi merek yang beritikad baik, namun tidak menjelaskan mengenai definisi dari seorang penerima lisensi beritikad baik. Namun apabila dalam pelaksanaan perjanjian lisensi tersebut terjadi gugatan pembatalan terhadap kepemilikan merek (yang didasarkan alasan bahwa merek yang bersangkutan memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhan) yang ditujukan kepada pemilik merek sekaligus pemberi lisensi merek, maka dalam hal ini kedudukan pihak penerima lisensi merek tidak akan terpengaruhi oleh putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap dalam sengketa gugatan merek tersebut. Dan apabila kedudukan pemberi lisensi merek sebagai pemilik merek dibatalkan melalui putusan hakim pengadilan niaga yang

(19)

berkekuatan hukum tetap, maka pihak penerima lisensi merek akan tetap dapat melaksanakan perjanjian lisensi tersebut dan dengan persyaratan bahwa pembayaran royalti pada periode selanjutnya akan dilanjutkan kepada pihak yang dinyatakan sebagai pemilik merek yang sah.

4. Kerugian Yang Dialami Pemegang Merek Yang Dibatalkan

Terjadinya pembatalan merek sangatlah disayangankan karena menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi pemegang merek yang mereknya dibatalkan. Kerugian akibat pembatalan merek dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

(1) Kerugian Materiil

Kerugian materiil adalah kerugian yang dapat dihitung dengan angka, biasanya berkaitan dengan uang. Pemegang merek yang dibatalkan tidak bisa menggunakan mereknya lagi, akibatnya pemegang merek mengalami kerugian yang sangat besar, kerugian ini bisa berupa modal dalam membangun sebuah merek melalui promosipromosi atau iklan, kemudian barang yang sedang di produksi dengan menggunakan merek tersebut harus dihentikan, dan barang yang beredar di pasar dengan merek tersebut harus ditarik peredarannya, sehingga selain kehilangan modal untuk membangun suatu merek, pemegang merek juga kehilangan pendapatan ataupun keuntungan yang seharusnya didapat (Potential loss).

(2) Kerugian Immateriil

Kerugian immateril biasa disebut dengan kerugian moril, yaitu kerugian yang berasal dari usaha pemegang merek untuk membangun merek tersebut. Merek yang semula belum memiliki reputasi kemudian Kerugian yang dialami Pemegang Merek yang dibatalkan dibangun dengan penuh usaha dan kesabaran sehingga mendapatkan citra yang baik bagi konsumen hilang oleh karena merek itu telah dibatalkan, sehingga pemegang merek tersebut harus membangun merek baru dari awal lagi tanpa reputasi.

(20)

B. Tinjauan Umum Merek Terkenal

1. Pengertian Merek Terkenal

Berdasarkan penjelasan Pasal 21 ayat (1) huruf (b) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis,

“Permohonan ditolak jika merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan: b. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis”

Dalam penjelasannya bahwa penentuan keterkenalan suatu merek, harus dilakukan dengan mempertimbangkan pengetahuan umum masyarakat mengenai merek tersebut dibidang usaha bersangkutan, dan memperhatikan pula reputasinya sebagai merek terkenal yang diperoleh karena promosi besar-besaran, investasi di beberapa negara di dunia yang dilakukan pemiliknya, dan disertai bukti pendaftaran merek tersebut di beberapa negara di dunia. Apabila hal-hal diatas belum dianggap cukup, maka Pengadilan Niaga dapat memerintahkan lembaga yang bersifat mandiri untuk melakukan survei guna memperoleh kesimpulan mengenai terkenal atau tidaknya merek yang menjadi dasar penolakan.

Mahkamah Agung telah membuat definisi merek terkenal melalui Yurisprudensi No. 1486/K/1991 tanggal 25 November 1995 sebagai berikut:16

“Pengertian merek terkenal adalah apabila suatu merek telah beredar keluar dari batas-batas regional sampai pada batas-batas transnasional, dimana telah beredar keluar negara asalnya dan dibuktikan dengan adanya pendaftaran merek yang bersangkutan di berbagai negara.”

Dilansir oleh Klik Legal Direktur Merek dan Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Hukum dan HAM, Fathlurachman menyatakan bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis sudah mengatur mengenai merek terkenal.17 Akan

16 Klik Legal. Ini Yurisprudensi Mahkamah AgungTerkait Merek Terkenal. diakses dari https://kliklegal.com/ini-yurisprudensi-mahkamah-agung-terkait-merek-terkenal. pada tanggal 22 Juli 2019

17 Klik Legal. 9 Kriteria Merek Terkenal Yang Digunakan Di Indonesia. diakses dari https://kliklegal.com/9-kriteria-merek-terkenal-yang-digunakan-di-indonesia/. pada tanggal 22 Juli 2019

(21)

tetapi, Fathlurachman mengatakan Undang-Undang belum merumuskan kriteria merek terkenal yang dimaksud secara spesifik.

2. Ketentuan Merek Terkenal di Indonesia

a. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis

Dalam penjelasan Pasal 21 ayat (1) huruf b reputasi terkenalnya suatu merek tersebut dapat diperoleh karena promosi yang gencar dan besar- besaran, investasi di beberapa negara di dunia yang dilakukan oleh pemiliknya, dan disertai bukti pendaftaran merek dimaksud di beberapa negara.

b. Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek

Kriteria merek terkenal disebutkan dalam Pasal 18 ayat (3) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek sebagai berikut:

“Dalam menentukan kriteria Merek sebagai Merek terkenal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan:

1. Tingkat pengetahuan atau pengakuan masyarakat terhadap merek tersebut di bidang usaha yang bersangkutan sebagai merek terkenal;

2. Volume penjualan barang dan/atau jasa dan keuntungan yang diperoleh dari penggunaan merek tersebut oleh pemiliknya;

3. Pangsa pasar yang dikuasai oleh merek tersebut dalam hubungannya dengan peredaran barang dan/atau jasa di masyarakat;

4. Jangkauan daerah penggunaan merek; jangka waktu penggunaan merek;

5. Jangka waktu penggunaan merek;

6. Intensitas dan promosi merek, termasuk nilai investasi yang dipergunakan untuk promosi tersebut;

7. Pendaftaran merek atau permohonan pendaftaran merek di negara lain;

8. Tingkat keberhasilan penegakan hukum di bidang merek, khususnya mengenai pengakuan merek tersebut sebagai merek terkenal oleh lembaga yang berwenang; atau

9. Nilai yang melekat pada merek yang diperoleh karena reputasi dan jaminan kualitas barang dan/atau jasa yang dilindungi oleh merek tersebut.”

(22)

c. Berdasarkan Lanham Act

Kriteria merek terkenal yang dianut di Amerika Serikat diatur dalam Pasal 43 (c) (1) Lanham Act atau undang-undang merek dagang federal utama di Amerika Serikat yang diperbaharui bahwa untuk menentukan apakah suatu merek mempunyai sifat daya pembeda dan terkenal, pengadilan dapat mempertimbangkan faktor-faktor seperti:18

1. Derajat sifat yang tidak terpisahkan atau mempunyai sifat daya pembeda dari merek tersebut;

2. Jangka waktu dan ruang lingkup pemakaian merek yang berkaitan dengan barang atau jasa dari merek;

3. Jangka waktu dan ruang lingkup dari pengiklanan dan publisitas merek tersebut;

4. Ruang lingkup geografis dari daerah perdagangan di mana merek tersebut dipakai;

5. Jaringan perdagangan barang atau jasa dari merek yang dipakai;

6. Derajat pengakuan atas merek tersebut dari arena perdagangan dan jaringan perdagangan dari pemilik merek dan larangan terhadap orang atas pemakaian merek tersebut dilaksanakan;

7. Sifat umum dan ruang lingkup pemakaian merek yang sama oleh pihak ketiga; dan

8. Keberadaaan pendaftaran merek tersebut berdasarkan undang-undang tanggal 3 maret 1981 atau undang-undang tanggal 20 Februari 1905 atau pendaftaran pertama.

3. Ketentuan Merek Terkenal dalam Konvensi Internasional a. Berdasarkan Paris Convention

Ketentuan merek terkenal dalam Konvensi Internasional disebutkan dalam Paris Convention dan Joint Recommendation Concerning Provisions on the Protection of Well-Known Marks. Article 6bis Paris Convention menyebutkan

18 Iman Syahputra. 1997. Hukum Merek Baru Merek Indonesia Seluk Beluk Tanya Jawab.

Jakarta. Harvar lndo. hlm 21 - 22

(23)

(1) The countries of the Union undertake, ex officio if their legislation so permits, or at the request of an interested party, to refuse or to cancel the registration, and to prohibit the use, of a trademark which constitutes a reproduction, an imitation, or a translation, liable to create confusion, of a mark considered by the competent authority of the country of registration or use to be well known in that country as being already the mark of a person entitled to the benefits of this Convention and used for identical or similar goods.

These provisions shall also apply when the essential part of the mark constitutes a reproduction of any such well–known mark or an imitation liable to create confusion therewith.

(2) A period of at least five years from the date of registration shall be allowed for requesting the cancellation of such a mark. The countries of the Union may provide for a period within which the prohibition of use must be requested.

(3) No time limit shall be fixed for requesting the cancellation or the prohibition of the use of marks registered or used in bad faith.

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berarti:

(1) Untuk perlindungan merek terkenal negara konvensi dapat menolak atau membatalkan pendaftaran atau melarang pemakaian suatu merek yang mengandung reproduksi, peniruan, penterjemahan, membuat meneyesatkan, atas suatu merek yg dipandang sebagai merek terkenal di suatu negara peserta konvensi, tanpa memandang digunakan utk barang yg sama atau sejenis. Ketentuan ini juga berlaku walaupun hanya suatu bagian penting saja dari suatu merek merupakan repoduksi atau jiplakan merek terkenal milik pihak lain.

(2) Jangka waktu sekurang-kurangnya lima tahun sejak tanggal pendaftaran diperbolehkan untuk meminta pembatalan merek tersebut. Negara-negara Perhimpunan dapat menetapkan suatu periode di mana larangan penggunaan harus diminta.

(3) Tidak ada batasan waktu yang harus ditetapkan untuk meminta pembatalan atau larangan penggunaan merek yang terdaftar atau digunakan dengan itikad buruk.

b. Berdasarkan Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights Agreement (TRIPs Agreement)

Pasal 6bis Konvensi Paris itu kemudian diadopsi dalam Pasal 16 ayat (2) dan (3) TRIPs Agreement (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights Agreement) yang berbunyi :

“In determining whether a trade mark is well-known member state shall take account of the knowladge of the knowladge of the trademark in relevant sectors of the public, including knowladge inthe members concerne which has been obtained as a result of the promotion of the trademark.”

(24)

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berbunyi:

“Dalam menentukan bahwa suatu merek dagang merupakan merek terkenal, perlu dipertimbangkan pengetahuan akan merek dagang tersebut pada sektor yang terkait dalam masyarakat, termasuk pengetahuan yang diperoleh Anggota dari kegiatan promosi dari merek dagang yang bersangkutan.”

c. Berdasarkan World Intellectual Property Organizations

World Intellectual Property Organizations (WIPO) memberikan batasan mengenai merek terkenal sebagaimana disepakati dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b Joint Recommendation Concerning Provisions on the Protection of Well-Known Marks bahwa faktor-faktor ini dapat digunakan untuk menentukan apakah merek tersebut masuk kategori terkenal, yaitu:

“(b) In particular, the competent authority shall consider information submitted to it with respect to factors from which it may be inferred that the mark is, or is not, well known, including, but not limited to, information concerning the following:

1. The degree of knowledge or recognition of the mark in the relevant sector of the public;

2. The duration, extent and geographical area of any use of the mark;

3. The duration, extent and geographical area of any promotion of the mark, including advertising or publicity and the presentation, at fairs or exhibitions, of the goods and/or services to which the mark applies;

4. The duration and geographical area of any registrations, and/or any applications for registration, of the mark, to the extent that they reflect use or recognition of the mark;

5. The record of successful enforcement of rights in the mark, in particular, the extent to which the mark was recognized as well known by competent authorities;

6. The value associated with the mark.”

Jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia faktor-faktor yang dapat digunakan untuk menentukan apakah merek tersebut masuk kategori terkenal adalah sebagai berikut:

“(b)Secara khusus, otoritas yang berwenang harus mempertimbangkan informasi yang diserahkan kepadanya sehubungan dengan faktor- faktor yang dapat disimpulkan bahwa merek itu, atau tidak, terkenal, termasuk, tetapi tidak terbatas pada, informasi mengenai hal-hal berikut:

1. Tingkat pengetahuan atau pengakuan merek di sektor publik yang relevan;

(25)

2. Durasi, luas dan wilayah geografis dari setiap penggunaan Merek;

3. Durasi, jangkauan, dan wilayah geografis dari setiap promosi merek, termasuk iklan atau publisitas dan presentasi, pada pameran atau pameran, barang dan / atau jasa di mana merek tersebut berlaku;

4. Durasi dan wilayah geografis dari setiap pendaftaran, dan / atau permohonan pendaftaran apa pun, dari merek, sejauh hal itu mencerminkan penggunaan atau pengakuan merek;

5. Catatan keberhasilan penegakan hak atas merek, khususnya, sejauh mana merek tersebut diakui dan dikenal oleh otoritas yang kompeten;

6. Nilai terkait dari merek tersebut.”

C. Tinjauan Umum Perlindungan Hak Atas Merek dan Merek Terkenal

1. Perlindungan Hukum Merek

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) perlindungan adalah tempat berlindung, hal (perbuatan dan sebagainya) memperlindung.19 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hukum sendiri memiliki arti peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah; undang-undang, peraturan, dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat; patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam dan sebagainya) yang tertentu; keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (dalam pengadilan).20

Jadi, dapat diartikan perlindungan hukum adalah peraturan yang dibuat atas keputusan pejabat negara dengan tujuan untuk melindungi dan mengatur kesejahteraan hidup bermasyarakat.

Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada subyek hukum yakni orang atau badan hukum ke dalam bentuk perangkat baik yang bersifat prefentif maupun yang bersifat represif, baik lisan maupun tertulis.21 Artinya, bahwa perlindungan hukum adalah suatu gambaran dari

19 Anon. diakses dari https://kbbi.web.id/perlindungan. pada tanggal 14 Maret 2021

20 Anon. diakses dari https://kbbi.web.id/hukum. pada tanggal 14 Maret 2021

21 Tesis Hukum. Pengertian Perlindungan Hukum Menurut Para Ahli. diakses dari http://tesishukum.com/pengertian-perlindungan-hukum-menurut-para-ahli/. pada tanggal 11 Maret 2021

(26)

fungsi hukum yang memiliki konsep bahwa hukum memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan dan kedamaian.

Menurut para ahli, perlindungan hukum diartikan sebagai berikut:

Menurut Philipus M. Hadjon perlindungan hukum adalah

“Sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak tersebut.”22

Menurut Satjito Rahardjo bahwa

“Perlindungan hukum adalah adanya upaya melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu Hak Asasi Manusia kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut”23

Menurut CST Kansil,

“Perlindungan hukum adalah segala upaya hukum harus diberikan oleh aparat penegak hukum demi memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun”.24

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan perlindungan hukum adalah tempat berlindung, perbuatan (hal dan sebagainya) melindungi. Pemaknaan kata perlindungan secara kebahasaaan tersebut memilki kemiripan unsur-unsur, yaitu unsur tindakan melindungi, unsur cara-cara melindungi. Dengan demikian, kata melindungi dari pihak- pihak tertentu dengan menggunakan cara tertentu.25

Adapun bentuk perlindungan hukum atas merek yang dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Bentuk Perlindungan Hukum Preventif

Perlindungan hukum preventif merupakan bentuk perlindungan yang bersifat pencegahan. Tujuannya untuk meminimalkan peluang terjadinya pelanggaran. Langkah ini ditekankan pada pengawasan pemakaian merek, perlindungan terhadap para pemilik merek.

22 Ibid

23 Anon. Perlindungan Hukum Menurut Para Ahli, diakses dari http://tesishukum.com/pengertian- perlindunganhukum-menurut-para-ahli/. pada tanggal 11 Maret 2021

24 C.S.T Kansil. 1989. Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.

hlm 40

25 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Edisi Kedua. Cet 1. Jakarta. Balai Pustaka. hlm 595

(27)

Penolakan pendaftaran merek berkaitan dengan perlindungan secara preventif terhadap merek terkenal perlu memperhatikan adanya unsur itikad tidak baik, dalam arti pendaftar yang bukan pemilik dari merek terkenal sengaja dengan itikad tidak baiknya ingin memanfaatkan ketenaran merek terkenal orang lain, memanfaatkan promosi merek terkenal untuk keuntungan dirinya sendiri secara cuma-cuma.

Bentuk perlindungan hukum preventif lainnya adalah dengan negara memberikan hak eksklusif kepada pemilik merek untuk menguasai mereknya dengan jangka waktu 10 tahun. Yang artinya, negara menjamin adanya perlindungan terhadap hak pemilik merek yang terdaftar

2. Bentuk Perlindungan Hukum Represif

Upaya represif merupakan upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu peristiwa yang telah terjadi. Perlindungan hukum yang represif diberikan apabila telah terjadi pelanggaran hak atas merek.

Pemberian sanksi yang jelas dan tegas bagi pelaku pelanggaran merek sesuai undang-undang merek yang berlaku. Pemberian sanksi hukum merupakan bagian dari upaya pemberian perlindungan hukum bagi pemilik merek yang sah.

Pemilik merek terdaftar mendapat perlindungan atas pelanggaran hak atas merek yang dimilikinya baik itu dalam bentuk gugatan ganti rugi (dan gugatan pembatalan pendaftaran merek) maupun berdasarkan tuntutan hukum pidana melalui aparat penegak hukum. Hal itu dilakukan agar lebih memberikan jaminan kepastian hukum bagi pemegang hak atas merek.

2. Perlindungan Hukum Merek Terkenal Menurut Ketentuan Nasional Perlindungan hukum terhadap merek di Indonesia diberikan melalui proses pendaftaran merek yang menganut sistem konstitutif. Sistem konstitutif maksudnya bahwa hak atas merek diperoleh karena proses pendaftaran, yaitu pendaftaran merek pertama yang mendapat atau berhak atas merek. Pemohon pertama yang mengajukan pendaftaran dengan itikad baik adalah pihak yang berhak atas merek. Perlindungan hukum terhadap hak merek tersebut mengacu pada sifat hak merek yang bersifat khusus (exclusive).

(28)

Berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis yang menyatakan bahwa

“Hak atas Merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberi ijin kepada pihak lain untuk menggunakannya”

Undang-Undang ini memberikan perlindungan hukum terhadap merek terkenal tidak hanya mengenai barang sejenis namun barang tidak sejenis pula, seperti yang tercantum dalam Pasal 21. Pasal 21 ayat (1) Undang- Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menyatakan bahwa:

“(1) Permohonan ditolak jika Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan:

a. Merek terdaftar milik pihak lain atau dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;

b. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;

c. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis yang memenuhi persyaratan tertentu; atau

d. Indikasi Geografis terdaftar.”

Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merk dan Indikasi Geografis juga mengatur mengenai penghapusan merek jika terdapat persamaan pada pokoknya dengan merek lainnya, sebagaimana diatur dalam Pasal 72 ayat (7)

Pasal 72

“(7) Penghapusan Merek terdaftar atas prakarsa Menteri dapat dilakukan jika: a. memiliki persamaan pada pokoknya dan/atau keseluruhannya dengan Indikasi Geografis.”

Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, mengatur tentang pembatalan merek sebagai bentuk perlindungan hukum yang dituangkan dalam Pasal 76 dan Pasal 77 adalah sebagai berikut:

Pasal 76

“(1)Gugatan pernbatalan Merek terdaftar dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan/ atau Pasal 21.

(2)Pemilik Merek yang tidak terdaftar dapat mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mengajukan Permohonan kepada Menteri.

(29)

(3)Gugatan pembatalan diajukan kepada Pengadilan Niaga terhadap pemilik Merek terdaftar.”

Pasal 77

“(1)Gugatan pembatalan pendaftaran Merek hanya dapat diajukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran Merek.

(2)Gugatan pembatalan dapat diajukan tanpa batas waktu jika terdapat unsur itikad tidak baik dan/atau Merek yang bersangkutan bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundangundangan, moralitas, agama, kesusilaan, dan ketertiban umum.”

Perlindungan terhadap merek terkenal diberikan oleh negara melalui undang-undang baik perlindungan yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif. Perlindungan yang preventif terdapat dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 21 ayat (1) huruf b dan c Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, sedang perlindungan represif terdapat dalam Pasal 100 sampai dengan Pasal 102 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Apabila terjadi pelanggaran merek maka pemilik merek akan dilindungi oleh pasal preventif dan pasal represif.

Bentuk perlindungan yang diberikan kepada pemegang merek tidak hanya berdasarkan pada pendaftaran saja melainkan perlindungan dalam wujud gugatan ganti rugi dan gugatan pembatalan pendaftaran merek. Penyelesaian hukum melalui instrumen hukum perdata dapat dilakukan melalui pengadilan (litigasi) dengan gugatan ganti rugi.

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 100-101 Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, sebagai berikut:

Pasal 100

(1). Setiap orang yang dengan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

(2). Setiap orang yang dengan tanpa hak menggu:rakan Merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

(3). Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), yangjenis barangnya mengakibatkan gangguan kesehatan,

(30)

gangguan lingkungan hidup, dan/atau kematian manusia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 101

(1). Setiap orang yang dengan tanpa hak menggunakan tanda yang mempunyai persermaan pada keseluruhan dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang dan/atau produk yang sama atau sejenis dengan barang dan/atau produk yang terdaftar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda p.aling banyak rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

(2). Setiap orang yang dengan tanpa hak menggunakan tanda yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang dan/atau produk yang sama atau sejenis dengan barang dan/atau produk yang terdaftar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Akibat hukum yang timbul dari pembatalan merek yaitu sertifikat merek yang bersangkutan dinyatakan tidak berlaku lagi, pencoretan pendaftaran suatu merek dari daftar umum merek diumumkan dalam berita resmi merek.

Pembatalan dan pencoretan pendaftaran merek mengakibatkan berakhirnya perlindungan hukum atas merek tersebut. Hak atas merek yang sudah dibatalkan tersebut kembali ke dalam otoritas negara dan menjadi hak yang bebas, demikian pula dengan tanda yang dijadikan merek yang dibatalkan tersebut menjadi tanda yang bebas dan dapat dimintakan pendaftarannya oleh pihak lain sesuai dengan tata cara dan prosedur perolehan hak melalui permohonan pendaftaran merek.26

3. Perlindungan Hukum Merek Terkenal Menurut Konvensi Internasional Dari keikutsertaan Negara Indonesia dalam World Trade Organization (WTO) dan Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs Agreement) maka negara Indonesia harus menyesuaikan dengan ketentuan tersebut, sebagai langkah konsistensi terhadap ratifikasi yang telah dilakukan Indonesia.

Konvensi Paris (Paris Convention for the Protection of Industrial Property) adalah konvensi pertama mengenai hukum Hak Kekayaan

26 Albert Renaldi Tambunan. 2020. Skripsi: Perlindungan Hukum Pemegang Merek Akibat Pembatalan Merek Oleh Direktorat Merek Dan Indikasi Geografis. Semarang. Universitas Negeri Semarang

(31)

Intelektual (HKI) pada tahun 1883 di Paris, dimana perlindungan merek mulai diatur secara internasional. Konvensi ini merupakan konvensi internasional bidang HKI yang sangat penting karena meletakkan dasar-dasar perlindungan HKI dan memberikan suatu pedoman bagi cakupan masalah HKI bagi Negara-negara di dunia.27

Selain itu terdapat juga WIPO (World Intellectual Property Organitation) yang bertugas sebagai promosi serta memberikan perlindungan terhadap kekayaan intelektual di seluruh dunia.

Indonesia secara resmi telah memasuki globalisasi perdagangan dengan diberlakukannya Convention Establishing The World Trade Organization (Konvensi WTO) termasuk di dalamnya Agreement on Trade Related Aspects ofIntellectual Property Rights (TRIPs Agreement). Hal itu ditindaklanjuti dengan meratifikasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia atau Agreement Establishing The WTO. Dalam konvensi tersebut dimuat persetujuan mengenai aspek-aspek dagang dari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang tertuang dalam TRIPs. Pasal 7 dari Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlindungan dan penegakan hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bertujuan untuk mendorong timbul dan berkembangnya inovasi, pengalihan, dan penyebaran untuk memanfaatkan ekonomi bangsa- bangsa di dunia. Dari keikutsertaan Indonesia dalam WTO (World Trade Organitation) dan TRIPs, maka Negara Indonesia harus menyesuaikan dengan ketentuan tersebut sebagai konsistensi terhadap ratifikasi yang telah dilakukan Indonesia, maka perubahan atas undang-undang yang sudah ada dan pembentukan Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.28

Paris Convention dan Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS Agreement) mensyaratkan negara-negara anggota untuk melindungi merek terkenal bahkan jika merek tersebut tidak terdaftar atau

27 Oka Saidin. 1995. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta. Raja Grafindo Persada. hlm 7

28 Fajar Nurcahya Dwi Putra. 2014. Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Hak Atas Merek Terhadap Perbuatan Pelanggaran Merek. Jurnal Ilmu Hukum Edisi: Januari - Juni 2014, hlm 103

(32)

digunakan di negara itu. Perlindungan untuk merek terkenal yang belum terdaftar di bawah Paris Convention biasanya terbatas pada barang dan jasa yang identik atau mirip dengan barang atau jasa merek terkait dan dalam situasi di mana penggunaan cenderung menyebabkan kebingungan.29 Sebagaimana disebutkan pada Pasal 16 ayat (3) TRIPs Agreement mengakomodir Pasal 6bis Paris Convention. Pasal 16 ayat (3) TRIPs Agreement menyebutkan bahwa:

“Article 6bis of the Paris Convention (1967) shall apply, mutatis mutandis, to goods or services which are not similar to those in respect of which a trademark is registered, provided that use of that trademark in relation to those goods or services would indicate a connection between those goods or services and the owner of the registered trademark and provided that the interest of the owner of the registered trademark are likely to be damaged by such use.”

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berarti sebagai berikut:

“Pasal 6 bis Konvensi Paris (1967) berlaku pula terhadap barang atau jasa yang tidak mirip dengan barang atau jasa untuk mana suatu merek dagang didaftarkan, sepanjang penggunaan dari merek dagang yang bersangkutan untuk barang atau jasa dimaksud secara tidak wajar akan memberikan indikasi adanya hubungan antara barang atau jasa tersebut dengan pemilik dari merek dagang terdaftar yang bersangkutan.”

Berdasarkan Pasal 16 ayat (3) TRIPs Agreement, maka pasal ini merupakan perluasan perlindungan hukum terhadap merek terkenal, yang mengatur mengenai barang atau jasa tidak sejenis (goods or services which are not similar) dengan mendasarkan adanya kesan keterkaitan yang erat antara barang yang menggunakan merek tersebut dengan produsennya, dan jika pemakaian atau pendaftaran oleh orang lain untuk barang yang tidak sejenis dapat merugikan kepentigan pemilik merek terkenal. Faktor

“confussion of business connection” sebagai pertimbangan untuk menentukan apakah merek yang sama dengan merek terkenal akan tetapi didaftarkan untuk barang yang tidak sejenis itu bisa ditolak atau dibatalkan.

Meskipun Indonesia telah menjadi anggota Paris Convention, Indonesia masih memiliki kebebasan untuk mengatur undang-undang merek miliknya

29 Pasal 6bis ayat (1) Paris Convention

Referensi

Dokumen terkait

Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi pengadilan hal 44, disebutkan bahwa permohonan anak angkat yang diajukan oleh pemohon yang beragama islam

Nabari Ginting MSi gelandangan adalah orang yang hidup tidak sesuai norma masyarakat, tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap.. Dengan demikian gelandangan

Bertempat tinggal dengan cara mengontrak sendiri, mengikuti orangtuanya/saudaranya, atau ditempat kerjanya di jalanan, tempat tinggal mereka umumnya pada lingkungan kumuh yang

Jika bank menilai bahwa permohonan kredit layak diproses lebih lanjut, bank akan menelepon pemohon kredit untuk membuat perjanjian pertemuan. Pada saat kunjungan ini,

1) Surat permohonan kepada Pengadilan Agama yang dibuat oleh Pemohon. Surat permohonan dibuat dalam bentuk tertulis, diajukan ke Pengadilan Agama di wilayah tempat

Tunjangan tidak tetap, merupakan suatu pembayaran yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan upah pekerja atau buruh yang di berikan secara tidak tetap untuk

Dengan kata lain, sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu

Berkaitan dengan konteks ruang menurut Tarigan (2006), kota merupakan satu sistem yang tidak berdiri sendiri, karena secara internal kota merupakan satu kesatuan sistem