1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Secara umum, pluralitas budaya, tradisi dan agama merupakan suatu keniscayaan hidup sekaligus khazanah tersendiri bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk1 dengan berbagai macam tradisi berbeda. Tradisi ini telah tumbuh dan
berkembang menjadi kebudayaan, sebagai warisan luhur yang masih dipraktikkan dan mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia hingga saat ini.2
Namun jika pluralitas budaya, agama, dan tradisi tidak dipahami dengan sikap toleran dan saling menghormati maka akan memicu kekerasan (violence) atau konflik.3
Hal tersebut dikuatkan oleh pendapat Andi Faisal Bakti yang menjelaskan bahwa setidaknya dalam rentang waktu 1997-2000, kondisi Indonesia mengalami gelombang konflik yang dikarenakan perbedaan etnis, suku, agama, dan atas golongan. Ada enam konflik yang diteliti, yaitu antara muslim dan non-muslim, suku Jawa dan suku non Jawa, militer/birokrasi/keturunan Cina dan warga sipil, pribumi dan non-pribumi, Muslim sekuler dan Muslim nasionalis religius, dan Muslim modernis dan Muslim tradisionalis.4 Bakti melanjutkan, bahwa kerentanan konflik yang ada di
Indonesia membutuhkan pemahaman baru terhadap budaya. Dan hal tersebut, menurutnya dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu cooptation, coercion, seduction dan negotiation, consensus, democracy.5
Pendapat di atas, setidaknya memiliki kesesuaian dengan pendapat dari Geertz, dengan mengikuti pendapat Max Weber, yang mendefenisikan budaya sebagai sebuah jaringan yang terbentuk dari hubungan antar manusia. Geertz mengistilahkan budaya dengan super organic yang merupakan realitas yang memiliki kekuatan dan tujuan.6 Artinya, pemahaman terhadap budaya harus pula
1Masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri atas kelompok-kelompok
yang tinggal bersama dalam suatu wilayah tapi terpisah menurut budaya masing-masing. Lihat Nungki Astriani, Olahan Dan Negosiasi Identitas Etnik Dalam Komunikasi Antar Budaya (Ciputat: Cinta Buku Media, 2015), 1.
2Sumaatmadja Nurshid, Pengantar Studi Sosial (Jakarta: Alumni, 1998), 1. 3M Jandra, ‚Islam dalam Konteks Budaya dan Tradisi Plural‛ dalam
Zakiyuddin Baidhawy dan Mutohharun Jinan, Agama dan Pluralitas Budaya Lokal
(Surakarta: PSBPS-UMS, 2003), 71.
4Andi Faisal Bakti, ‚Major Conflict in Indonesia: How Can Communication
Contribute to a Solution?‛ Jurnal Human Factor Studies, Vol. 6, No. 2, (Desember 2000): 35-44.
5Andi Faisal Bakti, ‚Major Conflict in Indonesia: How Can Communication
Contribute to a Solution?‛ 44-52.
6Clifford Geertz, Interpretation of Cultures (New York: Basic Books. Inc,
2
menyertakan pemahaman atas hubungan antar manusia dalam memaknai budayanya.
Seperti telah diketahui, bahwa dalam perjalanan sejarah Indonesia, berbagai unsur kebudayaan ikut berinteraksi melalui paham keagamaan yang masuk. Salah satu yang paling menonjol dan sering menimbulkan banyak perdebatan adalah tradisi masyarakat di Indonesia dalam sejarah Islam awal di Nusantara. Dari sini dapat dilihat bahwa kehadiran agama bagi masyarakat tentunya mengarah kepada pembibitan dasar asas-asas kehidupan mereka melalui nilai luhur ketuhanan.
Pada kenyataannya, tradisi yang berkaitan dengan ritual keagamaan dalam masyarakat telah mendarah daging dalam semua sejarah kehidupan umat manusia. Meskipun asumsi kemunculan ritual keagamaan bisa diakui bersumber pada satu nilai keilahian, namun tetap tidak dapat disatukan dalam wadah yang sama. Hal tersebut dikarenakan semua tradisi akan bergerak seiring dengan tujuan dan misi para pemeluk agama di dalamnya. Masing-masing pemeluk agama memiliki hak sekaligus cara tersendiri untuk mempertahankan tradisi dan identitasnya melalui keberadaan pengikut, pemaknaan, dan praktikalitasnya sehingga mampu mempertahankan eksistensi suatu tradisi.
Seperti yang dijelaskan oleh Emile Durkheim, bahwa masyarakat memerlukan tradisi dan ritual-ritual tertentu tetap eksis, maka konsekuensinya adalah tidak akan ada satu masyarakat yang tidak memiliki sebuah agama atau sesuatu yang berfungsi sama dengan agama.7 Menurutnya, fenomena agama
terbagi menjadi dua kategori dasar yaitu kepercayaan (ide-ide keagamaan) dalam bentuk representasi dan ritual sebagai aksinya. Jadi, selama ide-ide keagamaan masih dipercaya, meskipun dianggap absurd dan diperdebatkan oleh sebagian kalangan, perilaku keagamaan akan selalu ada dalam setiap masyarakat, karena memberikan kekuatan kepada mereka. Karena akan selalu ada jarak antara ide-ide keagamaan dan ritual.8
Islam dengan tujuan kemaslahatan, sejatinya memiliki suatu konsep alamiah untuk memupuk kebersamaan umat manusia dalam susunannya yang heterogen dan majemuk (plural).9 Munawar Rachman menjelaskan hakikat dari
kemaslahatan adalah bersifat non-sektarian, non-rasial, non-doktrinal, dan bersifat universal.10
Di Indonesia, isu sektarian antara Sunni sebagai kelompok atau mazhab mayoritas dan Syi’ah sebagai kelompok minoritas masih menimbulkan polemik. Hal tersebut disebabkan karena keberadaan Syi’ah di Indonesia selalu
7Tahir Sapsuha, Pendidikan Pascakonflik: Pendidikan Multikultural Berbasis Konseling Budaya Masyarakat Maluku Utara (Yogyakarta: LkiS, 2003), 37.
8Emile Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life (New York:
Dover Publication. Inc, 2008), 36.
9Tahir Sapsuha, Pendidikan Pascakonflik, 30.
10Budhy Munawar-Rachman, ‚Kata Pengantar‛ dalam Mohamed Fathi Osman, Islam, Pluralisme dan Toleransi Keagamaan: Pandangan al-Qur’an, Kemanusiaan, Sejarah dan Peradaban, terj. Irfan Abubakar (Jakarta: Yayasan Paramadina, 2006), xiiii.
3 mendapatkan pertentangan dari Islam mayoritas.11 Hal tersebut semakin
menujukkan kebenaran dari upaya untuk memperkuat status quo Sunni. Reaksi itu, pada satu sisi, dapat dimaklumi karena mereka khawatir upaya itu akan menimbulkan goncangan dalam masyarakat. Pada sisi lain, fraksi teologi yang sering dianggap menyimpang dari konsep pemikiran teologi sehingga dikatakan menyeleweng dari teologi Sunni. Kondisi ini telah menimbulkan konflik internal umat Islam baik di Indonesia maupun di dunia internasional.12 Namun demikian,
Syi’ah di Indonesia tetap dapat mempertahankan eksistensinya melalui ritual, sekalipun tidak dikenal umum sebagai Syiah. Salah satunya adalah ritual Tabut. Ritual Tabut13 di Kota Bengkulu misalnya, dikatakan sebagai tradisi
yang terpengaruh oleh ritual Syi’ah Irak. Di negara tersebut tradisi ini dikenal dengan sebutan hari Asyura yang merupakan kebiasaan penganut paham Syi’ah. Tradisi ini kemudian tersebar ke seluruh dunia seiring dengan tersebarnya paham Syi’ah tersebut, terutama negara-negara di Asia Selatan. Orang-orang Bengali yang membawa tradisi ini ke Bengkulu juga merupakan orang-orang Syi’ah. Tradisi berkabung yang mengalami akulturasi dengan budaya Bengkulu ini terus berjalan dengan perkembangan yang cukup panjang. Pada masa perkembangannya, tradisi ini bersentuhan dengan budaya-budaya lokal dan kemudian diwariskan serta dilembagakan sehingga menjadi apa yang dikenal dengan sebutan tradisi Tabut yang dilaksanakan pada tanggal 1-10 Muharam setiap tahun baru Hijriah.14 Hal tersebut disebabkan oleh kondisi sosio-historis
wilayah Sumatera yang bersentuhan dengan tradisi-tradisi luar seperti India, Persia, Cina, dan Eropa. Meski begitu, tradisi yang berbentuk upacara tradisional keagamaan ini merupakan pranata sosial religius sebagai usaha untuk memenuhi kewajiban terhadap warisan leluhur. Tradisi Tabut merupakan tradisi yang paling populer pada masyarakat Kota Bengkulu dan merupakan ciri khas dari masyarakat Bengkulu.
11Mohammad Takdir Ilahi, ‚Syiah: Antara Kontestasi Teologi dan Politik.‛
Jurnal Maarif, Vol. 10, No. 2, (Desember 2015): 54.
12Abdul Rozak, Teologi Kebatinan Sunda: Kajian Antropologi Agama tentang Aliran Kebatinan Perjalanan (Bandung: Kiblat Buku Utama, 2005), 12-13. Lihat juga Andi Faisal Bakti, ‚Major Conflict in Indonesia: How Can Communication Contribute to a Solution?‛ 44-46.
13Ada perebutan aksen dalam penggunaan kata ‚Tabut‛ antara Keluarga
Kerukunan Tabut (KKT) yang mengklaim sebagai penerus tradisi Tabut dengan pemerintah daerah yang menyebut ‚Tabot.‛ Bahkan beberapa peneliti juga lebih sering menggunakan aksen ‚Tabot‛ ketimbang ‚Tabut.‛ Entah sejak kapan kata ‚Tabut‛ berubah menjadi ‚Tabot,‛ namun sejarah mencatat bahwa pada tanggal 06 November tahun 1916 Masehi sebutannya masih Tabut, dibuktikan dari tulisan pada foto yang diliput oleh warga keturunan Cina Bencoolen pada perayaan budaya Tabut. Lihat A. Syiafril Sy, Tabut Karbala Bencoolen dari Punjab Symbol Melawan Kebiadaban
(Jakarta Timur: PT Walaw Bengkulen, 2012), 28. Peneliti memilih menggunakan kata ‚Tabut‛ dalam penulisan tesis ini.
4
Tradisi Tabut telah diyakini sejak dahulu, dijadikan ritual terus menerus dan bersifat kontinu dari generasi ke generasi, terutama oleh para keturunan pelaku Tabut yang membentuk Keluarga Kerukunan Tabut (KKT).15 Selain
tradisi Tabut, tradisi lain yang serupa, di antaranya adalah tradisi perayaan hari Asyura, peringatan syahidnya Imam Husain di Padang Karbala pada 10 Muharram 61 H, di Aceh di peringati sebagai bulan Asan Usen/Kasan Kusen, di Sumatera Barat (Pariaman) dikenal sebagai Tabuik.16 Hari Arbain di Pagelangan
Jawa Barat dan Tradisi Suro pada masyarakat Suku Jawa. Namun demikian, tradisi Tabut berbeda dengan yang lainnya dan masih terus mempertahankan keasliannya, sedangkan di tempat lain sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat, kecuali tradisi Suro yang masih banyak dilakukan oleh orang-orang suku Jawa, akan tetapi tujuannya sudah berubah, bukan lagi merupakan tradisi berkabung melainkan tradisi menyambut tahun Hijriah. Juga dari literatur-literatur sejarah seperti Hikayat Muhammad Hanafiyyah, Hikayat Tabut, Hikayat Hasan Husein, Hikayat Perinta Negeri Benggala, Hikayat Hasan Husein Tatkala Akan Mati dan Hikayat Hasan Husein Tatkala Kanak-kanak, Baginda Ali, Zainal Abidin.17
Sejarah kemunculan ritual Tabut diwarnai oleh dua pendapat, pendapat pertama, menurut keturunan dari Imam Senggolo,18 ritual Tabut di Bengkulu
dibawa oleh ulama yang berasal dari Punjab (Pakistan). Karena ada beberapa kata-kata yang lazim di gunakan oleh masyarakat Bengkulu yang merupakan
15Keluarga Kerukunan Tabut dibentuk pada tahun 1993 oleh para tokoh-tokoh
Tabut. Ide itu sudah muncul sejak awal tahun 1991, ketika para perwakian dari Provinsi Bengkulu diundang ke Jakarta untuk menampilkan seni budaya yang dimiliki, saat itu Bengkulu menampilkan Tabut dengan alat musik Dol. Lihat Harapandi Dahri, Tabot Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu (Jakarta: Penerbit Citra, 2009), 101.
16Dicky Sofjan (ed.), Sejarah & Budaya Syi’ah di Asia Tenggara (Yogyakarta:
Sekolah Pascasarjana UGM, 2012), 18-19. Tabuik di Padang Pariaman, Pengumuman kembali atas penderitaan Hussein di Karbala menjadi sebuah acara budaya tahunan yang dirayakan pada hari kelahirannya, hari ke sepuluh Muharram, Bulan pertama kalender Islam. Acara ini mempromosikan kepaduan sosial dan identitas regional dan juga perdagangan dan pariwisata. Walaupun penduduk Pariaman dan daerah sekitar sebagian besar adalah muslim Sunni, akan tetapi mereka telah menganut interpretasi dari tradisi Syi’ah ini. Lihat Paul H. Mason, ‚Fight Dancing and The Festival, Tabuik in Pariaman, Indonesia and Iemanjá In Salvador da Bahia, Brazil.‛ Jurnal Martial Art Studies 2, (2016): 71-72. (diakses 03 November 2016)
17Majid Daneshgar, Faisal Ahmad Shah, Arnold Yasin Mol, ‚Ashura in the
Malay-Indonesian World: The Ten Days of Muharram in Sumatra as Depicted by Nineteenth-Century Dutch Scholars.‛ Journal of Shi‘a Islamic Studies, Vol. VIII, No. 4, (2015): 492.
18Imam Senggolo atau yang dikenal juga sebagai Syeh Burhannudin adalah
seorang ulama yang diklaim oleh pengikut Tabut sebagai pembawa pertama ritual Tabut di Bengkulu. Lihat juga Majid Daneshar, Ashura in then Malay-Indonesian World: The Ten Days of Muharram in Sumatra as Depicted by Nineteenth-Century Dutch Scholars, Journal of Shi’a Islamic Studies, Vol. VIII, No. 4, 2015, 493. (diakses 15 Oktober 2016)
5 kata serapan dari bahasa Punjab.19 Pendapat kedua, yang juga sering digunakan
oleh para peneliti yang mengangkat tentang ritual ini. Tabut merupakan tradisi yang dilestarikan oleh suku Sipai sejak abad 17-18 yang lalu.20 Sipai adalah
salah satu suku yang ada di Kota Bengkulu, berasal dari Suku Bengali yang terletak di India Selatan yang menikah dengan orang suku Serawai Bengkulu. Saat ini suku Sipai lebih dikenal dengan sebutan keluarga Tabut yaitu masyarakat yang menjalankan tradisi Tabut. Tradisi Tabut ini merupakan suatu tradisi atau kebiasaan suku Sipai yang berupa rangkaian upacara tradisonal keagamaan untuk mengenang kematian Husain bin Ali bin Abi Tholib, cucu nabi Muhammad SAW yang gugur di medan peperangan.21
Tradisi Tabut ini sangat berpengaruh sekaligus tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Sipai dan masyarakat Kota Bengkulu secara umum. Sepanjang sejarah keberadaannya, Tabut sudah menjadi suatu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kota Bengkulu, baik itu masyarakat suku Sipai maupun masyarakat Kota Bengkulu. Alasannya, perayaan Tabut memiliki dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari aspek sosial, ekonomi, religi, budaya, pariwisata, politik, dan lain sebagainya.22
Di Kota Bengkulu, budaya tradisi Tabut dilaksanakan melalui 13 kegiatan ritual, yaitu:23 do’a mohon keselamatan kepada Allah Swt, mengambik tanah, duduk penja, malam menjara, meradai, arak penja, arak seroban, hari gham, Tabut naik puncak, arak gendang dan Tabut besanding, Tabut tebuang dan diakhir dengan mencuci penja. Sedangkan di tempat-tempat lain tersebut
19Pemakaian falsafah bahasa menunjukkan Bangsa, oleh karena itu tidak
mungkin orang yang datang dari Benggala (Benggali) Bangladesh atau orang yang dari Madras (Chenai) India berbahasa sama dengan mereka yang dari Punjab Pakistan karena sudah jelas bahasa dari Benggala Banglades adalah bahasa Benggali, bahasa dari Madras India adalah bahasa Tamil, dan bahasa dari Punjab adalah bahasa Urdu Pakistan yang tulisannya menggunakan huruf Arab Persia. Hal ini juga dibuktikan dengan sisa-sisa warisan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh penggunaan kata abbah (ayah), dada (datuk/kakek), biwi (istri), dawat (tinta), mamu (paman), jel (penjara), gham (bersedih), penja (lima jari), soja (menyembah), dan lain-lain, yang berasal dari bahasa Urdu Punjab Pakistan. Ditambah lagi dengan warisan ‚naskah do’a‛ yang ditulis dengan huruf Arab Persia yang masih digunakan hingga saat ini. Lihat Syiafril Ahmad Sy, Tabut Karbala Bencoolen dari Punjab Symbol Melawan Kebiadaban (Jakarta Timur: PT. Walaw Bengkulen, 2012), 9-10.
20Majid Daneshgar, Faisal Ahmad Shah, Arnold Yasin Mol, ‚Ashura in the
Malay-Indonesian World: The Ten Days of Muharram in Sumatra as Depicted by Nineteenth-Century Dutch Scholars,‛ Journal of Shi‘a Islamic Studies, Vol. VIII, No. 4, 2015, 494.
21Antony Zacky, Menguak Tabir Misteri Tabot Lewat Naskah Kuno
(Bengkulu: PT Rakyat Bengkulu, 2003), 40.
22Harapan Dahri, Tabot: Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu (Jakarta:
Pemikat Citra, 2009), 53.
23Ahmad, Syiafril, Sy, Tabut Karbala Bencoolen dari Punjab Symbol Melawan Kebiadaban, 38-87.
6
tradisi berkabung ini dilakukan lebih sederhana, tahapan prosesinya tidak banyak seperti prosesi-prosesi dalam ritual Tabut.24
Dalam pelaksanaannya, budaya tradisi Tabut di Bengkulu bersifat plural25 dan tidak tunggal sebagaimana yang dikesankan selama ini. Kesan
bahwa seolah-olah perayaan Tabut di Bengkulu bersifat homogen dan seragam telah terbentuk dalam persepsi banyak orang. Pluralitas perayaan Tabut ini tercermin dari adanya beberapa kelompok26 yang sebagian dari mereka memiliki
pandangan berbeda dalam perayaan Tabut. Pluralitas dari pelaksanaan ritual Tabut juga dikarenakan keragaman pemaknaan dalam memahami ritual tersebut. Pluralitas mulai terjadi sejak pelaksanaan ritual Tabut pada Oktober 2016. Bermula dari beredarnya informasi-informasi yang mengatakan bahwa ritual Tabut merupakan ajaran sesat karena berasal dari Syiah, bi’dah, serta bahan-bahan yang digunakan dalam ritual tersebut dianggap menyimpang dari ajaran Islam.
Menurut Michael Feener yang dikutip oleh Chiara Formichi mengatakan bahwa selama masa Orde Baru (1965-1998) ritual Tabut mengalami dinamika pergeseran makna. Hal tersebut disebabkan karena pemerintah mengubah ritual Tabut menjadi identitas budaya lokal semata tanpa unsur keagamaan. Namun pasca Orde Baru (sekitar tahun 2000), dengan tetap menekankan nilai komoditas
24Zoneirah Sharleen Anindita, ‚Tradisi dan Makna Simbolik Ritual Tabot pada
Masyarakat Suku Sipai di Kota Bengkulu.‛ Jurnal Sosiologi, (Sumsel: FISIP-Universitas Sriwijaya), 3.
25Pluralisme atau multikulturalisme mempunyai beberapa aspek positif.
Pertama, mempromosikan kepada orang-orang mengenai peningkatan rasa hormat untuk kelompok etnis, ras, agama dan kelompok yang lain dan mendorong mereka untuk mengembangkan nilai dan budaya mereka sendiri. Tidak seorangpun berhak untuk menghalangi perkembangan ini. Setiap orang dilindungi oleh hukum. Oleh karena itu, setiap orang secara bebas, tidak terikat oleh penindasan atau dikendalikan oleh orang lain dengan latar belakang budaya yang berbeda. Setiap orang memegang hak untuk hidup dan mengembangkan tradisi dan budaya mereka. Sejumlah sistem sosial dan budaya atau institusi mungkin hidup secara berdampingan. Hubungan yang optimal antara anggota budaya yang berbeda dimungkinkan tanpa halangan dari hirarki dan birokrasi. Lihat, Andi Faisal Bakti, Multiculturalism in Indonesia a Communication Perspective, Reflexions sur Les Diversites Modiale, Casablanca: Cahiers de la HACA, 2013, 126.
26Di Bengkulu terdapat 17 kelompok Tabut, antara lain: Tabut Imam, Tabut
Bansal, Tabut Kampung Batu, Tabut Kampung Bali, Tabut Lempuing, Tabut tengah Padang, Tabut Kebun Ros, Tabut Penurunan, Tabut Pondok Besi, Tabut Bajak, Tabut Anggut Bawah, Tabut Tengah Padang, Tabut Malabero, Tabut Kebun Beler, Tabut Tengah. Lihat: Rizqi Handayani, ‚Dinamika Kultural Tabot Bengkulu.‛ Jurnal Al-Turas, Vol. 19, No. 2, (2013): 142.
7 budaya, ritual Tabut mulai memunculkan kembali unsur-unsur keagamaan, khususnya unsur-unsur Syi’ah.27
Keberagamaan makna ritual Tabut yang muncul, baik dari pemerintah maupun pengikut Tabut, memiliki dampak negatif. Hal tersebut dapat dilihat dari pemberitaan di media massa tentang perbedaan pendapat antara Keluarga Kerukunan Tabut dengan Pemerintah. Di satu sisi, pemerintah dianggap kurang berperan aktif dan terkesan tidak peduli terhadap usaha dari Keluarga Kerukunan Tabut yang mencoba mempertahankan unsur keagamaan serta nilai kesakralan ritual tersebut.28 Akibatnya, Pemerintah dan Keluarga Kerukunan
Tabut mengadakan tradisi ini secara terpisah.29 Dengan demikian, permasalahan
utama yang kerap muncul dalam perkembangan ritual Tabut adalah kurangnya pemahaman terhadap esensi keberagamaan pemaknaan dari ritual Tabut.
Kenyataan tersebut menjadi menarik ketika dihadapkan pada pendapat Deddy Mulyana yang mengatakan bahwa kegiatan ritual30 dalam tradisi mampu
menimbulkan komitmen emosional, perekat, dan sebagai pengabdian kepada kelompok. Ritual mampu menciptakan perasaan tertib (a sense of order) karena ketiadaan ritual dianggap dapat membuat suatu realitas sosial menjadi tidak teratur. Selain itu, ritual juga memberikan rasa nyaman (a sense of predictability), karena masyarakat akan merasa tidak tentram ketika ritual tersebut tidak dijalankan.31 Artinya, pemahaman terhadap ritual merupakan
salah satu alat pemersatu masyarakat.
27Chiara Formichi, ‚From Fluid Identities to Sectarian Labels a Historical
Investigation of Indonesia’s Shi‘i Communities.‛ Jurnal Al-Jāmi‘ah, Vol. 52, No. 1, (2014): 108.
28Lihat Harian Rakyat Bengkulu, ‚Tonjolkan Ritual Budaya Tabot,‛ Bengkulu,
19 September, 2016, Senin,
http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2016/09/19/tonjolkan-ritual-budaya-tabot/ (diakses 29 September 2016). Pada tanggal 22 September 2016. Lihat juga Harian Rakyat Bengkulu, ‚Kisruh Festival Tabot KKT Tolak Dana Bantuan 200 Juta,‛
Bengkulu, 22 September, 2016, Kamis
http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2016/09/22/kisruh-festival-tabot-kkt-tolak-bantuan-rp-200-juta/ (diakses 29 September 2016).
29
http://www.bengkulunews.co.id/sukseskan-tabot-2016-pemprov-dan-kkt-kemas-acara-berbeda (diakses 26 Desember 2016).
30Ritual juga merupakan transformasi simbolis dari pengalaman-pengalaman
yang tidak dapat diungkapkan dengan tepat oleh media lain. Pengalaman keagamaan tidak hanya mencakup aspek filosofis atau intelektual, tapi juga melibatkan perasaan dan tindakan manusia. Sehingga tindakan pemujaan yang menyertainya juga tidak hanya menekankan pada keyakinan. Ia merupakan sejumlah tindakan yang melibatkan keseluruhan sifat pelaku, yang perwujudannya bisa dalam bentuk pidato, tanda-tanda, nyanyian, perjamuan suci dan pengorbanan. Siti Maryam, Damai Dalam Budaya, 233-234.
31Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (Bandung: PT Remaja
8
Menurut Amin Abdullah, seni tradisi dan kreasi lokal mengalami kekerasan pada tiga aras. Pertama, pengabaian pemerintah lokal untuk mempromosi, mengapresiasi, dan menfasilitasi tumbuh kembangnya keunikan lokal. Kedua, politisasi agama yang menuduh seni tradisi adalah bi’dah, haram, mengotori iman, dan sebagainya. Ketiga, relasi yang timpang dengan kesenian modern/pop yang mengukur pada selera massal dan komersial.32
Perbedaan pemaknaan terhadap ritual Tabut di Bengkulu tidak lepas dari dorongan perbedaan pandangan yang memiliki akar yang dalam, selain juga tidak lepas dari kepentingan politik. Hal ini meliputi perbedaan kultural termasuk di dalamnya agama dan klaim historis atas tradisi. Dari akar-akar itu kemudian masing-masing kelompok memiliki legitimasi untuk mengklaim bahwa mereka bukan bagian dari satu sama lain. Everett M. Rogers dan Thomas M. Steinfatt menjelaskan bahwa perselisihan dalam sebuah budaya muncul karena adanya konflik yang terjadi antara dua atau lebih budaya ketika mereka tidak setuju tentang makna nilai tertentu.33
Mulyana dan Rakhmat mengungkapkan bahwa untuk memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, harus pula memahami kerangka persepsinya. Komunikasi antarbudaya yang ideal dapat memunculkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi.34 Agar terjadinya persamaan persepsi dalam
makna komunikasi antarbudaya, maka dibutuhkan pemahaman tentang makna interaksi simbolik.35 Interaksi simbolik sebagai salah satu teori yang kerap
digunakan mengkaji tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembentukan makna dari suatu benda atau lambang atau simbol, baik benda mati, maupun benda hidup, melalui proses komunikasi baik sebagai pesan verbal maupun perilaku nonverbal, yang bertujuan untuk memaknai lambang atau simbol (objek) tersebut berdasarkan kesepakatan bersama yang berlaku di wilayah atau kelompok sosial tertentu.36
32M Amin Abdullah, ‚Problem Intoleransi dan Radikalisme Aliran Keagamaan,
Urgensi Pembaharuan Metode Pendidikan Agama Islam,‛ makalah dalam ‚Seminar Nasional Aliran-Aliran Kontemporer dan Implikasinya bagi Harmonisasi Sosial dan NKRI,‛ UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 25 Oktober 2016.
33Everett M Rogers and Thomas M Steinfatt, Intercultural Communication
(USA: Waveland Press, 1999), 96.
34Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005, cet-IX), 25-26.
35Interaksi simbolik dikembangkan awal mula oleh Goerge Herbert Mead,
menurutnya cara manusia mengartikan dunia dan dirinya sendiri berkaitan erat dengan masyarakatnya. Mead melihat pikiran (mind) dan dirinya (self) menjadi bagian dari perilaku manusia, yaitu bagian interaksinya dengan orang lain. Interaksi itu membuat dia mengenal dunia dan dia sendiri. Lihat Onong Uchjana Effendy, Ilmu Teori dan Komunikasi (Bandung: Citra Aditya Bakti, Cet 3, 2003), 391-392.
36M.A. Dalmenda dan Novi Elian, ‚Makna Tradisi Tabuik oleh Masyarakat
kota Pariaman (Studi Deskriptif Interaksionisme Simbolik.‛ Jurnal Antropologi, Vol. 18, No. 2, (Desember 2016): 138.
9 Agar pandangan ini dapat dipahami, maka diperlukan adanya komunikasi, baik yang bersifat verbal dan nonverbal. Dalam kaitan dengan ritual Tabut sebagai salah satu ritual religius, maka perlu juga mengkaji dalam makna komunikasi dalam perspektif Islam. Menurut Hussain sebagaimana dikutip Fitri Yanti dalam ‚Pola Komunikasi Islam Terhadap Tradisi Heterodoks,‛ salah satu aspek perspektif komunikasi Islam ialah penekanannya pada nilai-sosial, agama, dan kebudayaan.37 Hal tersebut dipertegas oleh Bakti yang menyatakan bahwa
dalam komunikasi Islam, kelompok sosial harus dapat menerapkan konsep tauh}i>d, sehingga dapat menghormati prinsip-prinsip demokrasi (shu>ra>) dan saling bernegosiasi (musha>warah).38 Pandangan tersebut merupakan kaidah,
prinsip, atau etika komunikasi Islam yang menjadi panduan bagi kaum Muslim dalam melakukan komunikasi atau berdakwah secara lisan dan tulisan, maupun dalam aktivitas lain.
Komunikasi Islam dibangun sebagai Islamic world view yang merupakan kaidah komunikasi Alquran dan hadis yang mempunyai tujuan mewujudkan persamaan makna secara universal dalam menuju perubahan masyarakat muslim demi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Di samping menjelaskan prinsip dan tata berkomunikasi, Alquran juga mengetengahkan etika berkomunikasi dari sejumlah aspek moral dan etika komunikasi, paling tidak dapat empat prinsip etika komunikasi dalam Alquran yang meliputi fairness (kejujuran), accuracy (ketepatan/ketelitian), tanggung jawab, dan kritik konstruktif.39 Hal tersebut sesuai dengan perspektif komunikasi Emile Durkheim
yang berpendapat bahwa interaksi antar manusia harus berdasar pada etika dan kearifan. Perspektif Durkheim tersebut sejalan dengan komunikasi Islam yang menjadikan konsep ta’a>wun sebagai tujuan dari komunikasi secara umum.40
Menurut Judy C. Pearson, alasan manusia mengadakan komunikasi salah satunya adalah untuk kelangsungan hidup masyarakat, organisasi atau memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan organisasi dalam masyarakat (kepentingan sosial). Untuk mendukung keberhasilan komunikasi antarbudaya diperlukan kesepakatan dalam memberi makna atas lambang-lambang yang digunakan. Komunikasi akan mengalami distorsi, ketika komunikasi dilakukan oleh individu atau kelompok yang memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda.41
37Fitri Yanti, ‚Pola Komunikasi Islam Terhadap Tradisi Heterodoks: Studi
Kasus Tradisi Ruwatan,‛ Jurnal Analisis, Volume XIII, (Nomor 1, Juni 2013), 213.
38Andi Faisal Bakti, ‚Major Conflict in Indonesia: How Can Communication
Contribute to a Solution?‛ 46.
39Fitri Yanti, ‚Pola Komunikasi Islam Terhadap Tradisi Heterodoks,‛ 213-214. 40Andi Faisal Bakti, ‚Applied Communication to Dakwah for Peace,‛ 12.
Https://Www.Researchgate.Net/Publication/266348212_Applied_Communication_To_ Dakwah_For_Peace_Komunikasi_Terapan_Untuk_Dakwah_Perdamaian,
41Suranto Aw, Komunikasi Sosial Budaya (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010),
10
Untuk menggali pemaknaan ritual Tabut secara komprehensif, peneliti menggunakan teori pemaknaan dari Gill Branston dan Roy Stafford yang terdiri dari teori semiotik, struktural, konotasi dan denotasi.42 Dalam teori semiotika,
konsep makna sebaiknya memang tidak didefinisikan. Ia merupakan sesuatu yang dipahami semua individu secara intuitif, tetapi tidak dapat dijelaskan secara virtual. Secara esensial, penandaan adalah proses yang terjadi di pikiran pada saat menafsirkan tanda.43 Menurut Peirce,44 semiotika didefinisikan
sebagai hubungan di antara tanda, benda, dan arti. Determinasi dan representasi menjadi hal yang penting dalam hubungan di antara ketiganya (tanda, benda, dan arti).45
Teori semiotik juga merupakan penyelidikan terhadap simbol-simbol, yang kemudian membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam teori komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas kumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda tidak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi, melainkan memiliki pengaruh yang kuat pada hampir semua perspektif yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi.46
Menurut Gill Branston dan Roy Stafford, dua hal yang harus diperhatikan dalam memahami strukturalisme sebagai bagian dari pemaknaan (meaning). Pertama, strukturalisme berpendapat seluruh organisasi manusia ditentukan oleh struktur sosial atau psikologis individu. Kedua, strukturalisme berpendapat bahwa makna suatu ekspresi tidak dapat dipahami kecuali dalam struktur yang sistematis, yang memiliki ciri atau perbedaan yang lahir secara alamiah.47
Makna denotasi dari tanda merupakan makna yang menunjukkan perbedaan aspek dari pengalaman manusia atau dunia.48 Menurut Gill Branston
42Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student Book’s, Edisi V (London
and New York: Routledge, 2010), 11-21.
43Marcel Danesi, Messages Signs and Meanings (Toronto: Canadian Scholar’
Press Inc 2004), 11-12.
44Charles Sanders Peirce adalah filsuf Amerika yang paling orisinal dan
multidimensional. Pada tahun 1859, 1862, dan 1863 secara berturut-turut ia menerima gelar B.A., M.A., dan B.Sc. dari Universitas Harvard. Selama lebih dari tiga puluh tahun (1859-1860, 1861-1891) Peirce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk Survei Pantai Amerika Serikat. Dari tahun 1879-1884, ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidang logika di Universitas Johns Hopkins. Lihat Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, 39-40.
45Elizabeth Mertz, Semiotic Meditation (Florida: Academic Press, 1985),
24-27.
46Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss, Teori Komunikasi Theory of Human Communication (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), 53.
47Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 9-23. 48Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 21-22
11 dan Roy Stafford, setiap manusia mempunyai makna konotasi yang berbeda dari tanda. Tergantung pada konsep budaya dan nilai, yang di dalamnya terdapat ingatan, pengalaman, dan pengetahuan sejarah setiap manusia.49 Menurut
mereka, tanda selalu memberikan denotasi berupa aspek yang berbeda dari pengalaman manusia. Selain itu, tanda juga selalu mengonotasikan atau menghubungkan sesuatu berdasarkan konvensi sosial atau berdasarkan pemaknaan dari pengalam pribadi.50
Melihat beberapa faktor yang menjadi penyebab keragaman pemaknaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas, keragaman makna yang muncul dalam ritual Tabut tersebut dapat dimaknai sebagai khazanah untuk mempersatukan pemikiran kelompok sosial. Untuk itu peneliti akan mencoba menjelaskan pemaknaan ritual Tabut yang disebabkan oleh kurangnya tingkat pemahaman komunikasi yang efektif51 serta penyatuan dari perbedaan
pemaknaan melalui ilmu komunikasi. Tesis ini juga akan mencoba menggali pandangan ataupun interpretasi52 masing-masing kelompok dan hubungan antara mereka serta kendala-kendala yang dihadapi.
B. Permasalahan
Dari latar belakang masalah di atas, peneliti memaparkan identifikasi masalah, batasan masalah, dan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pembahasan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti mengidentifikasi permasalahan yang akan muncul dalam penelitian ini, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, permasalahan proses dan persepsi pemaknaan yang menimbulkan perbedaan pemahaman, pembentukan identitas budaya, dan komunikasi dalam kelompok sosial sehingga dapat memunculkan akar konflik.
Kedua, mengenai perdebatan budaya dalam masyarakat yang dipicu oleh perbedaan pemaknaan budaya dengan menggunakan pendekatan etnometodologi, yaitu percakapan keseharian yang ada dalam masyarakat.
49Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 22. 50Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi III, 15. 51Menurut Dominique Wolton, komunikasi dalam semua bentuk (interpersonal,
politik, antarbudaya, media) adalah sebuah sarana yang memungkinkan individu dan masyarakat memperkenalkan diri, berhubungan antara satu dengan yang lainnya, dan bertindak atas dunia. itu sebabnya komunikasi dibutuhkan sebagai eksistensi setiap masyarakat. Lihat Martina Sani, ‚La Communication Conflictuelle,‛ Altre Modernità 3 (2010), 1.
52Interpretasi merupakan produksi makna lewat sistem tanda, termasuk
didalamnya bahasa tubuh, pakaian, arsitektur, dan hal lain yang dapat dipelajari seperti halnya bahasa verbal. Lihat Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book
12
Ketiga, mengenai pemahaman kelompok sosial terhadap keragaman pemaknaan ritual Tabut melalui komunikasi.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, pertanyaan mayor yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana komunikasi ritual Tabut? Untuk mengarahkan rumusan tersebut, selanjutnya dipecah ke dalam bentuk pertanyaan minor sebagai berikut:
- Apa pemaknaan ritual Tabut menurut pengikut Tabut? - Apa pemaknaan ritual Tabut menurut Pemerintah? - Apa pemaknaan ritual Tabut menurut masyarakat?
3. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya persoalan di atas, maka penelitian ini berfokus pada kajian komunikasi yang memaparkan keragaman pemaknaan terhadap ritual Tabut di Bengkulu berdasarkan tiga kelompok sosial yaitu pengikut Tabut, Pemerintah, dan masyarakat di Bengkulu. Penelitian ini dilakukan di Bengkulu dan untuk periode waktunya dilaksanakan pada 01 Oktober 2016 sampai dengan 13 Oktober 2016. Peneliti juga akan mewawancarai informan yang dilaksanakan pada 01 Juli 2017 sampai dengan 01 Agustus 2017.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan yang telah peneliti paparkan tersebut, penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui sekaligus menganalisis pemaknaan ritual Tabut menurut pengikut Tabut.
2. Untuk mengetahui sekaligus menganalisis pemaknaan ritual Tabut menurut Pemerintah.
3. Untuk mengetahui sekaligus menganalisis pemaknaan ritual Tabut menurut masyarakat di Bengkulu.
D. Signifikansi Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian tersebut, signifikansi penelitian tentang pemaknaan ritual Tabut sebagai berikut:
Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan peneliti dalam bidang ilmu komunikasi, khususnya yang berkaitan dengan teori pemaknaan dan implementasinya. Selain itu, juga diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran utuh tentang keragaman pemaknaan dalam ritual Tabut.
Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan pemahaman akan keragaman pemaknaan yang disebabkan oleh perbedaan interpretasi. Karena menurut Geertz, pencarian makna dalam budaya juga dipengaruhi oleh
13 konstruksi sosialnya.53 Akhirnya, keragamaan tersebut tidak menimbulkan
fragmentasi yang mengarah kepada konflik, akan tetapi dimaknai sebagai khazanah ataupun pemersatu keragaman pemikiran.
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Tujuan dicantumkannya penelitian terdahulu yang relevan untuk mengetahui bangunan keilmuan yang telah diteliti oleh orang lain, sehingga penelitian yang dilakukan dapat berkembang. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang melakukan penelitian dengan objek dan kajian pembahasan serupa. Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan peneliti dalam melakukan penelitian sehingga peneliti dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan.
Penelitian yang dilakukan oleh Zulkifli dengan judul ‚The Struggle of the Shi’is in Indonesia‛ (Disertasi University of Leiden, 2009). Penelitian ini berfokus pada pembahasan posisi Syi’ah sebagai minoritas dalam usaha untuk mendapatkan pengakuan di Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sejarah, sosiologi, dan politik. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa realitas dari Syi’ah sebagai minoritas mampu hidup dan berkembang di tengah masyarakat Sunni di Indonesia. Syi’ah di Indonesia mendapatkan pengakuan, salah satunya dengan memperkenalkan Syi’ah dalam konteks sosial dan politik. Bagi Zulkifli, melalui budaya Tabut di Indonesia, khususnya di Pariaman dan Bengkulu, terindikasi pengaruh Syi’ah dalam masyarakatnya.54
Penelitian berikutnya dengan judul, Tabut: Muharram Observances in the History of Bengkulu, oleh Michael Feener. Dalam penelitian ini, ia menyimpulkan bahwa kekuatan Tabut bagi masyarakat Bengkulu terletak pada kenyataan bahwa tradisi tersebut nyaris mati, kondisi tersebut yang membuat tradisi ini sangat terbuka untuk direinterpretasi dan dihidupkan kembali. Tabut juga digunakan sebagai wahana menyatukan identitas masyarakat Bengkulu. Namun di masa Orde Baru, Tabut juga mendapat tekanan dari pemerintah yang menggunakan tradisi ini sebagai alat propaganda sehingga semakin menjauhkan Tabut dari asal-usulnya. Dengan kata lain, Tabut tidak dikembangkan dalam rangka pengembangan tradisi Islam, tapi dimasukkan ke dalam kerangka pembangunan budaya lokal dan juga budaya bangsa.55
Penelitian yang berjudul Major Conflict in Indonesia: How Can Communication Contribute to a Solution? Penelitian yang dilakukan oleh Andi Faisal Bakti. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa konflik etnis ataupun agama di Indonesia meningkat dan mereda seiring waktu. Konflik meningkat
53Clifford Geertz, Interpretation of Cultures, 5.
54Selengkapnya lihat Zulkifli, ‚The Struggle of the Shi’is in Indonesia,‛
(Disertasi University of Leiden, 2009).
55Selengkapnya lihat Michael Feener, ‚Tabut: Muharram Observances in the
14
ketika pemerintah lemah dan orang yang lebih kuat. Konflik sebaliknya telah mereda ketika pemerintah kuat. Konflik tersebut disebabkan oleh ketiadaan Human Factor (HF) Characteristic. Yaitu sifat yang menghargai sesama manusia, karena aspek kemanusiaannya. Namun, konflik etnis dan agama yang ada di Indonesia dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu cooptation, coercion, dan seduction. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membangun kesadaran Human Factor (HF) Characteristic dalam komunikasi.56
Penelitian Awang Dharmawan yang berjudul Konflik Sampang Tahun 2012 Dalam Perspektif Komunikasi (Studi Kasus Konflik Kelompok Syiah dan Kelompok Anti Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Ombeng, Kabupaten Sampang, Madura), (Tesis Ilmu politik/ilmu komunikasi UGM 2013). Dalam penelitian ini dikatakan bahwa penyebab konflik disebabkan karena kegagalan komunikasi antara kelompok Syi’ah dan kelompok anti Syi’ah. Penghambat komunikasi tersebut disebabkan oleh ketimpangan kekuasaan sikap kelompok Syi’ah sebagai minoritas, disebabkan oleh perilaku komunikasi yang berbeda antara kelompok Syi’ah dan kelompok anti Syi’ah.57
Selanjutnya, penelitian yang berjudul Tradisi Tabot Pada Bulan Muharram di Bengkulu: Paradigma Dekonstruksi, penelitian dari Endang Rochmiatun (Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Budaya Islam, UIN Raden Fatah Palembang). Peneliti menggunakan metode dekonstruksi dengan tujuan untuk menunjukkan ketidakberhasilan penghadiran kebenaran absolut, dan ini membuka agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan ketimpangan di balik teks-teks. Salah satu sistematika penerapan dekonstruksi ketika berhadapan dengan teks adalah mengidentifikasi hirarki oposisional dalam teks, di mana biasanya terlihat peristilahan mana yang diistimewakan secara sistematis dan mana yang tidak. Dalam penelitian ini, peneliti berkesimpulan bahwa kehadiran tradisi Tabot pada bulan Muharram di Bengkulu merupakan dekonstruksi dari rakyat kecil yang termaginalkan dan mengemas ritual yang pada awalnya mempunyai makna magis kemudian bergeser menjadi makna tidak magis yang hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat.58
Penelitian selanjutnya yang berjudul Tradisi ‘Ashura pada Masyarakat Muslim Kota Palu dalam Perspektif Syi’ah, hasil dari jurnal penelitian ilmiah yang ditulis oleh Nurhayati dan Surati Attamimi (Dosen Jurusan Ushuluddin
56Selengkapnya lihat, Andi Faisal Bakti, ‚Major Conflict in Indonesia: How
Can Communication Contribute to a Solution?‛ Jurnal Human Factor Studies, Vol. 6, No. 2, (Desember 2000).
57Selengkapnya lihat, Awang Dharmawan, Konflik Sampang Tahun 2012 Dalam Perspektif Komunikasi (Studi Kasus Konflik Kelompok Syi’ah dan Kelompok Anti Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Ombeng, Kabupaten Sampang, Madura), (Tesis Universitas Gajah Mada, 2013).
58Selengkapnya lihat, Endang Rochmiatun, ‚Tradisi Tabot Pada Bulan
Muharram di Bengkulu: Paradigma Dekonstruksi.‛ Jurnal Tamaddun, Vol. 14, No. 2, (2014).
15 STAIN Datokarama Palu). Rumusan masalah dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimana tradisi peringatan hari ‘Asyura pada masyarakat Muslim di Kota Palu, untuk mengetahui bagaimana tradisi peringatan hari ‘Asyura yang dilakukan oleh masyarakat Palu dalam prespektif Syi’ah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tradisi ‘Asyura merupakan praktik ritual keagamaan yang sudah berlangsung lama dan dilakukan oleh masyarakat Palu. Tradisi ‘Ashura yang diselenggarakan di Kota Palu, terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok yang melaksanakan ritual tersebut dengan kegembiraan dan kelompok yang melaksanakannya dengan rasa berduka cita dan ekspresi kesedihan, yaitu kelompok kaum Syi’ah karena menurut Syi’ah, hari ‘Ashura merupakan hari meninggalnya Husain yang merupakan cucu Nabi Muhammad SAW, maka sudah seharusnya diselenggarakan dengan ekspresi duka kesedihan. Itu mengapa, ritual yang dilakukan kelompok Syi’ah sangat berbeda dengan umat Muslim pada umumnya.59
Kearifan Budaya Lokal Masyarakat Maritim untuk Upaya Mitigasi Bencana di Sumatera Barat. Hasil penelitian dari Lucky Zamzami dan Hendrawati (Lembaga Penelitian Universitas Andalas: Program Penelitian Dosen Muda, 2011). Kesimpulan dari penelitian ini adalah, di daerah penelitian, resiko bencana termasuk tinggi karena frekuensi bencana cenderung tinggi dan bervariasi. Kerentanan penduduk juga tinggi dilihat dari kedekatan dengan sumber bencana, struktur demografi yang padat dan usia non-produktif tinggi, kualitas bangunan rendah, tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang kebencanaan rendah. Tingkat kerentanan yang tinggi akan bencana masyarakat mampu mengupayakan mitigasi bencana berdasarkan potensi kearifan budaya lokal masyarakat tersebut. Kekuatan religi sebagai potensi besar kearifan budaya lokal masyarakat ini, yaitu keberadaan makam ulama besar Syech Burhanuddin yang diyakini masyarakat bisa menolak segala bencana sehingga ketika bencana datang. Masyarakat memiliki kekuatan besar untuk mengantisipasi bencana tersebut. Masyarakat pun melakukan dengan berbagai tradisi agama, seperti berzikir (berdoa) di makam dan di tepi pantai dan melaksanakan tradisi adat (upacara Tabuik) sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT. Selain aspek religi, masyarakat percaya dengan kondisi geografi laut yang memiliki kekuatan penghalang dari bahaya tsunami sehingga masyarakat percaya bahwa tsunami tidak akan membahayakan mereka.60
Tesis dari Keith Guy Hjortshoj yang berjudul Kerbala in Context: A Study of Muharram in Lucknow India. Membahas salah satu tradisi Muharram adalah tradisi Kerbala di Lucknow yang tidak hanya mewakili Syi’ah sebagai
59Selengkapnya lihat, Nurhayati, Surati Attamimi, ‚Tradisi ‘Ashura Pada
Masyarakat Muslim Kota Palu Dalam Perspektif Syi’ah.‛ Jurnal Istiqra, Vol. 1, No. 1, (2013).
60Selengkapnya lihat, Lucky Zamzami dan Hendrawati, ‚Kearifan Budaya
Lokal Masyarakat Maritim untuk Upaya Mitigasi Bencana di Sumatera Barat.‛ Jurnal
16
komunitas religius namun juga sebagai refleksi doktrin Syi’ah, baik dalam pengabdiaan ataupun kesetiaan terhadap Imam. Menurut peneliti, konflik disebabkan karena tidak adanya kepatuhan terhadap pemuka agama dan pemerintah. Dengan menggunakan pendekatan historis, peneliti menjelaskan hubungan antara Sunni dan Syi’ah dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi. Kesimpulan dalam penelitian ini, dikatakan bahwa tradisi Kerbala yang ada di Lucknow juga disebabkan oleh pemahaman sejarah yang tidak sesuai. Hal tersebut kemudian memicu ketegangan antara Sunni dan Syi’ah yang berlebihan. Menurut peneliti seharusnya tradisi Muharram menjadi jembatan antara Sunni dan Syi’ah dalam memahami sejarah.61
Berdasarkan atas berbagai penelitian yang relevan tentang tradisi Tabut di atas, secara garis besar hanya menjamah struktur dan tata ritual. Untuk itu, peneliti mencoba melakukan kajian baru di ranah keragaman pemaknaan, termasuk di dalamnya perbedaan interpretasi makna ritual Tabut.
F. Metodologi Penelitian 1. Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif62 dengan metode (field research) dan library research yang bertujuan
untuk mengungkapkan makna yang diberikan oleh pengikut Tabut, Pemerintah, dan masyarakat pada perilakunya dan kenyataan sekitar. Karena penelitian ini menggunakan metode field research maka posisi peneliti menjadi instrumen penelitian. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, peneliti melakukan pengumpulan data mengenai masalah-masalah yang menjadi objek penelitian, baik yang bersifat library maupun lapangan.63
Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti lebih banyak pada observasi, wawancara, literatur, dan dokumentasi. Hal tersebut dilakukan oleh peneliti dengan mengikuti pendapat Chaterine Marshall64 yang menyatakan
bahwa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, dan literatur dengan berlandaskan pada teori pemaknaan yang terdiri dari semiotik, struktural,
61Selengkapnya lihat, Keith Guy Hjortshoj, ‚Kerbala in Context: A Study of
Muharram in Lucknow India, (Tesis Cornell University, 1977).
62Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berusaha untuk mengkonstruksi
realitas dan memahami makna. Sehingga, penelitian kualitatif biasanya sangat memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas. Dalam penelitian kualitatif melibatkan subjek dengan jumlah relatif sedikit. Peneliti kualitatif biasanya terlibat dalam interaksi dengan realitas yang ditelitinya. Lihat Gumilar Roswita Sumantri, ‚Memahami Metode Kualitatif.‛ Jurnal Makara Sosial Humaniora, Vol. 9, No. 2, (Desember 2005): 58. (diakses 29 Oktober 2016)
63Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan (Yogykarta: Gadjah
Mada University Press, 2003), 26.
64Bactiar S. Bachri, ‚Meyakinkan Validitas Data melalui Triangulasi pada
17 denotasi dan konotasi. Selain itu, asumsi teoritis yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi, yaitu kombinasi metodologi untuk memahami suatu fenomena. Observasi dalam penelitian ini berfokus pada prosesi-prosesi dalam ritual Tabut yang dilaksanakan pada 01 Oktober 2016 sampai dengan 13 Oktober 2016, serta perilaku pengikut Tabut dan masyarakat. Selain observasi, peneliti juga akan mewawancarai informan yang dilaksanakan pada 01 Juli 2017 sampai dengan 01 Agustus 2017, antara lain: tokoh adat dan tokoh agama yang berkaitan langsung dengan ritual Tabut. Selanjutnya pejabat pemerintah yaitu Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu dan para pejabat di lingkungan Provinsi Bengkulu. Wawancara ini dilakukan agar peneliti mendapatkan informasi data mengenai pemahaman informan terhadap pemaknaan ritual Tabut. Adapun sumber informan terdiri atas: pemerintah, pengikut Tabut dan masyarakat. Masing-masing informan terdiri dari pemerintah 7 orang, pengikut Tabut 4 orang, dan masyarakat 8 orang.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan etnometodologi yang memusatkan pada proses pemaknaan interaksi dan cara aktor dalam kelompok sosial membentuk struktur tindakan sosial mereka dalam realitas dan percakapan sehari-hari. Fokus pembahasan etnometodologi memusatkan pada bagaimana tafsir atau definisi sosial subjek penelitian dalam memaknai struktur secara bersama-sama.65
Menurut Garfinkel dalam meneliti perilaku sosial tidak dapat hanya dibangun dengan rasionalitas ilmiah melainkan dengan mempertimbangkan semua perilaku dan komitmen dalam suatu struktur. Karena bagaimanapun, secara umum dalam etnometodologi adalah studi tentang penalaran dan tindakan praktis sehingga tidak dapat melakukan justifikasi terhadap suatu realitas. Dalam pendekatan etnometodologi memfokuskan kesadaran, persepsi dan tindakan aktor yang secara khusus memperhatikan struktur, aturan formal, dan prosedur resmi dalam mendeskripsikan perilaku subjek penelitian. Adapun fokus kajiannya adalah deskripsi mendetail mengenai praktik-praktik sosial yang terorganisasikan secara alamiah.66 Dengan kata lain, etnometodologi
menganalisis aktivitas sehari-hari yang sama yang terlihat, rasional, -dan-dapat-dilaporkan, dan memiliki tujuan-praktis untuk dapat memahami persepsi dan pencapaian di dalam aktivitas tersebut. Karena itu, reinterpretasi dan reprentasi merupakan elemen kunci dalam pendekatan etnometodologi.67
65Daniel Susilo, ‚Etnometodologi sebagai Pendekatan Baru dalam Kajian Ilmu
Komunikasi,‛ Jurnal Studi Komunikasi, Vol. 1, No. 1, 2017, 66-67.
66Daniel Susilo, ‚Etnometodologi sebagai Pendekatan Baru dalam Kajian Ilmu
Komunikasi.‛ 63-65.
67Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of a Global Development Program
18
Seperti dikutip Bakti, Garfinkel menjelaskan bahwa metode etnometodologi dapat diaplikasikan untuk menganalisa aktivitas sehari-hari sebagai pengetahuan dasar dari struktur sosial maupun sociological reasoning68
sehingga dapat menjelaskan perspektif, kepercayaan, ataupun pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Metode etnometodologi pada saat ini menjadi dasar epistemologi dalam penelitian lapangan (field research).69 Studi etnometodologi
merupakan ini adalah studi tentang penalaran praktis dan tindakan praktis, menahan diri untuk tidak melakukan penilaian yang berefek mendukung atau menolak.70
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana perbedaan pemaknaan dari kelompok sosial dalam memaknai ritual Tabut yang berada di Bengkulu sebagai suatu budaya yang berdampingan dengan nilai-nilai religius. Penelitian ini berasumsi bahwa keragaman pemaknaan dalam ritual Tabut dipengaruhi oleh pandangan atau pemikiran setiap kelompok sosial yang pada akhirnya menentukan pemaknaan dari ritual tersebut. Berdasarkan asumsi tersebut, dengan menggunakan pendekatan etnometodologi, memunculkan tiga kelompok sosial yaitu pengikut Tabut, pemerintah, dan masyarakat. Selanjutnya, masing-masing kelompok sosial memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap ritual Tabut yang disebabkan oleh perbedaan interpretasi. Seharusnya hal tersebut dimaknai sebagai khazanah ataupun keragaman pemikiran.
68Harold Garfinkel, Studies in Ethnomethodology (New Jersey: Prentice-Hall.
Inc, 1967), viii.
69Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of a Global Development Program, 217-225.
70Daniel Susilo, ‚Etnometodologi sebagai Pendekatan Baru dalam Kajian Ilmu
19 Bagan 1.1 Bagan Konseptual Penelitian
2. Analisis Data
Analisis data71 dalam penelitian ini diarahkan pada proses kategorisasi
dan reduksi data, pengelompokan dan penyusunan data, interpretasi data, pengambilan kesimpulan, serta verifikasi hasil analisis data.72
Adapun langkah-langkah analisis yang diolah melalui teori meaning (pemaknaan) dari Gill Branston dan Roy Stafford, antara lain:
1. Inventarisir data yaitu dengan cara mengumpulkan semua data, baik yang diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi ataupun kepustakaan.
2. Kategorisasi dan klasifikasi data-data dengan pendekatan etnometodologi yang akan dianalisis dengan teori meaning (pemaknaan) yang terdiri dari analisis semiotik, struktural, denotasi dan konotasi.
71Analisis data adalah pengorganisasian dan pengategorian data dengan cara
mengelompokkannya kedalam tema-tema tertentu, untuk menemukan pola serta yang memberikan penjelasan tentang makna data tersebut. Lihat, Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif Aplikasi Untuk Penelitian Pendidikan, Hukum, Ekonomi, Manajemen, Sosial dan Humaniora, Politik, Agama, dan Filsafat (Jakarta: GP Press, 2009), 226.
72Ellys Lestari Pambayun, Qualitative Research Methodology in Communication Konsep Panduan dan Aplikasi, 120.
20
3. Teori semiotik digunakan untuk menentukan intepretant, representament, object dari setiap ritual Tabut.
4. Teori struktural untuk menemukan susunan ritual dan oposisi biner yang menyebabkan keragamaan makna dalam ritual Tabut
5. Teori denotasi dan konotasi, menganalisis perkembangan pemaknaan ritual Tabut
6. Mendapatkan penilaian terhadap data-data yang telah dianalisis sehingga dapat dilakukan penarikan kesimpulan penelitian.
2. Laporan
Metode pelaporan disusun dari kesimpulan analisis tersebut kemudian ditulis dalam bentuk narasi, sehingga didapatkan data-data untuk mengetahui bentuk dari kajian komunikasi dalam pemaknaan ritual Tabut.
G. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan pemahaman dan gambaran yang utuh maka penelitian ini akan disusun menjadi lima bab, di mana masing-masing bab saling terkait satu sama lain dan merupakan sebuah kesatuan. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:
Peneliti memulai dengan bab pertama, yaitu pendahuluan yang di dalamnya menggambarkan latar belakang permasalahan, identifikasi, perumusan, serta pembatasan masalah. Dilanjutkan dengan pembahasan mengenai penelitian terdahulu yang relevan, tujuan serta manfaat penelitian, metodologi penelitian yang digunakan, sumber data, serta pendekatan dan teknik analisis data. Terakhir, sistematika penyusunan penelitian.
Selanjutnya, yang pada bab kedua, peneliti membahas bagaimana budaya dalam perspektif komunikasi, dilanjutkan dengan memaparkan diskursus komunikasi dalam budaya yang di dalamnya menjelaskan teori semiotik, struktural, denotasi dan konotasi yang menyebabkan perbedaan persepsi makna budaya. Bab ini juga menjelaskan bagaimana pola komunikasi dapat menghasilkan makna budaya melalui teori pemaknaan.
Dalam bab ketiga menjelaskan secara detail sejarah perkembangan budaya Tabut di Bengkulu. Dilanjutkan dengan menjelaskan bagaimana masyarakat Bengkulu menerima budaya tersebut. Kemudian menjelaskan bagaimana masyarakat memandang Tabut dalam perspektif komunikasi.
Untuk landasan teoritis, pada bab keempat menjelaskan tentang pemaknaan yang didasari oleh perbedaan persepsi dalam memaknai ritual Tabut. Dilanjutkan dengan pembahasan mengenai keragaman pemaknaan yang terjadi dalam ritual ini. Kemudian bagaimana makna komunikasi diartikan sebagai pemersatu persepsi makna pada ritual ini.
Akhirnya, bab penutup berisi tentang kesimpulan dan saran-saran yang bersifat membangun bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
21 BAB II
RAGAM PEMAKNAAN DALAM KOMUNIKASI DAN BUDAYA A. Budaya sebagai Sistem Komunikasi
Menurut Freilich, kata budaya berasal dari bahasa Latin cultura atau cultus yang juga memiliki makna yang sama dalam kata agri cultura yang berarti mengolah tanah. Selanjutnya makna kata budaya mengalami perkembangan, yang awalnya menyatakan suatu kegiatan atau aktifitas (pelatihan, perhiasaan, pembinaan, dan ibadah) berkembang menjadi keadaan atau kondisi yang dibudidayakan.73 Sedangkan menurut Koentjaraningrat, kata kebudayaan berasal
dari bahasa Sansakerta Budha yah, bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan sesuatu yang berkaitan dengan akal. Walaupun dalam istilah antropologi budaya, perbedaan itu ditiadakan. Kata budaya digunakan sebagai suatu singkatan saja dari kebudayaan dengan arti yang sama.74
De Certeau berpendapat budaya merupakan nilai yang dibentuk secara normatif oleh kelompok sosial tertentu tanpa adanya paksaan, di dalamnya terdapat warisan yang harus dijaga dan dilestarikan, sebagai simbol dari identitas sosial yang disepakati dan digunakan oleh kelompok sosial untuk membedakan dengan kelompok sosial lainnya. Selain itu, juga sebagai media komunikasi. Budaya sebagai bagian dari atribut manusia, terdiri dari praktek yang bersifat kognitif ataupun pragmatis, kreasi yang dapat dikembangkan, dan makna yang memiliki tujuan.75 Hal ini sejalan dengan pengertian budaya
menurut Elena Basarab yaitu budaya adalah kumpulan tingkah laku dan simbol yang membawa makna, warisan, dan transmisi sosial melalui bermacam-macam perilaku, sistem dari gambaran, dan sistem di mana orang berkomunikasi dan mengembangkan pengetahuan dan sikap dalam hidup.76 Untuk itu, menurut
Thayer seperti dikutip Bakti dalam memahami komunikasi harus pula
73Stella Ting-Toomey, Communicating Across Culture (London: The Guilford
Press, 1999), 9.
74Muhammad Arifin, ‚Islam dan Akulturasi Budaya Lokal di Aceh (Studi
Terhadap Ritual Rah Ulei di Kuburan dalam Masyarakat Pidie Aceh).‛ Jurnal Ilmiah
Islam Futura, Vol. 15. No. 2, (Februari 2016): 262.
75Guy Poitevin, ‚From the Popular to the People‛ dalam Bernard Bel, Jan
Brouwer, Biswajit Das, Vibodh Parthasarathi dan Guy Poitevin, Communication Processes Vol. 3; Communication, Culture and Confrontation (New Delhi: Sage Publications India, 2010), 32-33.
76Elena Basarab, ‚Education, Cultural and Intercultural Relation,‛ makalah
dalam ‚Konferensi Internasional Edu World 2014, VI,‛ University of Craiova, Romania 07-09 November 2014, 38.
22
memahami nilai-nilai serta kepercayaan yang ada pada kelompok sosial. Karena budaya dan peradaban manusia merupakan produk dari komunikasi.77
Berdasarkan definisi di atas, budaya mengarah pada tiga poin utama. Pertama, istilah budaya merujuk pada macam-macam kelompok pengetahuan, realita bersama dan kelompok norma yang merupakan sistem makna dalam kelompok masyarakat tertentu. Kedua, sistem makna ini dibagi dan ditularkan melalui interaksi sehari-hari antara anggota kelompok budaya dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketiga, budaya memfasilitasi kemampuan anggota untuk bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan eksternal mereka. Ketiga poin tersebut sejalan dengan gambaran dari konsep budaya D'Andrade yang mendefinisikan budaya sebagai kerangka kompleks dari referensi yang terdiri dari pola-pola tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma, simbol, dan makna yang dibagi dalam berbagai tingkatan melalui interaksi anggota dari suatu komunitas.78 Karena tanpa budaya, manusia akan mengalami kesulitan
dalam mempertahankan identitas sosialnya.79
Menurut Malinowski, pada awalnya fungsi budaya dipahami sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan psiko-biologis manusia yang bersifat conditioning. Artinya, melalui budaya, manusia dapat membentuk pola perilaku yang menjadi tingkah laku kebudayaan (cultural behavior) sehingga dapat memberikan batasan terhadap kegiatan manusia. Tingkah laku kebudayaan tersebut dapat berupa nilai, adat, ide, kepercayaan atau penerapan aturan organisasi sosial.80 Dengan demikian, menurutnya, kajian budaya harus
menyertakan fakta sosiologis karena budaya memiliki unsur-unsur penting berupa sistem politik, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, dan sistem kekerabatan. Semua unsur tersebut penting untuk dikaji agar mendapatkan pemahaman terhadap peranan seluruh unsur dalam menjaga sistem masyarakat dan sistem kebudayaan sebagai satu kesatuan yang terintegrasi. Selain itu, hal tersebut dilakukan untuk menetapkan perbedaan antara budaya sebagai warisan biologis dan budaya sebagai warisan sosiologis. Karena warisan sosial memiliki kekuatan berupa kepercayaan, adat, struktur sosial sehingga dapat memengaruhi dan membentuk pribadi individu.81
Menurut Geertz, kebudayaan merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, suatu sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk-bentuk simbolik yang dengan cara tersebut
77Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of a Global Development Program
(Jakarta: INIS, 2004), 217.
78Stella Ting-Toomey, Communicating Across Culture, 9.
79Marcel Danesi, Messages Signs and Meanings A Basic Text Book In Semiotics and Communication Theory, (Toronto: Canadian Scholars Press, 2004), 35.
80Amri Marzali, ‚Struktural-Fungsionalisme.‛ Jurnal Antropologi Indonesia,
Vol. 30, No. 2, (2006): 132.
23 manusia berkomunikasi, melestarikan, mengambangkan pengetahuan, dan sikap mereka terhadap kehidupan.82 Menurut Liliweri, kebudayaan merupakan
pandangan hidup kelompok sosial yang berbentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol-simbol yang diterima secara tidak sadar, melalui proses komunikasi, hal tersebut secara terus menerus pada setiap generasi. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kebudayaan juga merupakan komunikasi simbolik, yang nantinya makna dari simbol-simbol (tanda) tersebut dipelajari dan disebarluaskan dalam masyarakat melalui institusi.83 Tanpa memperhatikan
tanda, sistem tanda, makna, dan konvensi tandanya struktur budaya tidak dapat dimengerti secara optimal karena tanda merupakan sarana komunikasi yang bersifat estetis.84
Kebudayaan merupakan totalitas produk-produk manusia yang mencakup aspek material dan non-material. Yang terpenting dari aspek kebudayaan non-material ini adalah masyarakat, karena melalui mereka terbentuk hubungan-hubungan berkelanjutan antar manusia. Karena masyarakat merupakan unsur dari kebudayaan yang bersifat sebagai produk manusia sama seperti kebudayaan non-material. Atas dasar itu, dapat dipahami bahwa masyarakat tentunya tidak hanya merupakan hasil dari kebudayaan, tetapi merupakan kondisi yang diharuskan bagi kebudayaan.85
Menurut Bernard Berelson dan Gary A Steiner, komunikasi merupakan transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figure, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi tersebut yang disebut komunikasi.86 Sementara
menurut James W Carey, manusia hidup dalam sebuah komunitas berdasarkan hal-hal yang dimiliki bersama, baik berupa tujuan, keyakinan, maupun pengetahuan-pengetahuan umum, dan komunikasi adalah cara agar kesamaan tersebut dapat dimiliki.87
Simbol memiliki peran penting dalam interaksi manusia karena dalam konteks komunikasi, simbol merupakan ekspresi yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain, yang membawa makna tertentu dan diakui oleh
82Rasid Yunus, ‚Transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai upaya
pembangunan karakter bangsa.‛ Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 13, No. 1, (2016): 67.
83Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya (Yogyakarta:
Lkis, 2002), 8.
84Sri Nur Aeni, Chairil Effendy, A Totok Priyadi, ‚Makna Priyayi dalam Novel
Para Priyayi dan Jalan Menikung Analisis Struktural Semiotik.‛ Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 4, No. 2, (2015): 2.
85Irfan Noor, Agama sebagai Universum Simbolik; Kajian Filosofis Pemikiran Peter L. Berger (Yogyakarta: Pustaka Prisma, 2010), 68-69.
86Ahmad Sultra Rustan dan Nurhakki Hakki, Pengantar Ilmu Komunikasi
(Yogyakarta: Deepublish, 2017, Cetakan I), 29.
87James W Carey, Communication as Culture: Essays on Media and Society
24
kelompok sosial yang menggunakannya. Untuk itu, pemahaman tentang simbol dan makna pun ikut memengaruhi pola perilaku dalam budaya.88
Menurut Philipsen, fungsi komunikasi dalam budaya adalah untuk menjaga keseimbangan identitas serta martabat ataupun kreatifitas baik dari individu maupun masyarakat. Karena bagaimanapun, komunikasi merupakan hal penting dari fungsi budaya dalam kehidupan individu dan masyarakat.89
Dari pembahasan di atas, hubungan antara budaya dan komunikasi dapat dijelaskan melalui unsur-unsur kebudayaan. Menurut Bronislaw Malinowski, unsur-unsur kebudayaan terdiri dari sistem norma yang memungkinkan kerjasama antara anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alam sekelilingnya, organisasi ekonomi, alat-alat lembaga, dan organisasi kekuatan.90 Kebudayaan setiap masyarakat atau suku bangsa terdiri atas unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Ada beberapa unsur yang terdapat dalam kebudayaan, di mana kita sebut sebagai cultural universals, yang meliputi: peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem-sistem kemasyarakatan, bahasa (lisan dan tulisan), kesenian, sistem pengetahuan, religi (sistem kepercayaan).91
Agar unsur-unsur tersebut dapat dipahami dan dimaknai maka dibutuhkan komunikasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyana yang menjelaskan bahwa budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, karena komunikasi ikut serta dalam menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya.92 Juga dikuatkan dengan pendapat Fiske yang mengatakan
bahwa perhatian dalam studi komunikasi bukan pada komunikasi sebagai proses semata, melainkan komunikasi sebagai pembangkit makna (the generation of meanings).93
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa melalui sistem makna, manusia dapat beradaptasi dengan lingkungan dan struktur kegiatan interpersonal suatu kelompok sosial. Sistem makna budaya dapat dianggap sebagai kelompok pengetahuan yang bermacam-macam, atau yang secara terpisah membagi kelompok-kelompok norma yang secara simbolis menciptakan realitas. Hal tersebut sesuai dengan pendapat D'Andrade yang
88Larry A Samovar, Richard E Porter, Edwin R McDaniel dan Carolyn S Roy, Communication Between Culture, Edisi 8 (Boston: Wadsworth, 2013), 33 dan 53.
89William B. Gudykunst (ed), Theorizing About Intercultural Communication,
(California: Sage Publications.Inc, 2005), 7.
90Pangulu Abdul Karim, ‚Interelasi Agama dan Budaya.‛ Jurnal Nizhamiyah,
Vol. VI, No. 2, (Juli-Desember 2016): 102.
91Deni Mihardja, ‚Persentuhan Agama Islam dengan Kebudayaan Indonesia.‛
Jurnal Miqot, Vol. XXXVIII, No. 1 (Januari-Juni 2014): 193.
92Wahidah Suryani, ‚Komunikasi Antarbudaya: Berbagi Budaya Berbagi
Makna.‛ Jurnal Farabi Vol. 10 No. 1 (Juni 2013): 03. (diakses 01 Maret 2017)
93John Fiske, Introduction to Communication Studies (Routledge: Taylor and