Menganalisa budaya sebagai sistem simbol berarti mengkonstruk bangunan kultural yang muncul, dan kemudian dihubungkan secara sistematis dengan peristiwa kehidupan yang aktual. Menurut Clifford Geertz, interpretasi terhadap budaya menekankan pada interpretasi simbolik (sistem makna) yang berkaitan dengan kebudayaan, perubahannya, dan studi kebudayaan. Alasannya, kebudayaan merupakan cermin bagi manusia (Mirror of Man). Karenanya, untuk memahami interpretasi budaya perlu cara berfikir dan tingkah laku yang dipelajari.496
108
Tanda menurut Barthes, dapat dimaknai melalui sebuah pertandaan bertingkat (signification) yang terdiri atas makna denotasi, konotasi, dan mitos.497 Untuk itu, dalam perkembangan pemaknaan ritual Tabut juga diperlukan uraian makna denotasi yang merupakan makna paling dasar. Sedangkan makna konotasi diuraikan dengan menghubungkan antara perasaan, emosi, serta nilai-nilai dari kebudayaan dimana kata tersebut digunakan. Sementara mitos diuraikan melalui hubungan antara makna dan kebudayaan atau cara berpikir kelompok sosial. Makna denotasi dari tanda merupakan makna yang menunjukkan perbedaan aspek dari pengalaman manusia atau dunia. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, menurut Gill Branston dan Roy Stafford, setiap manusia mempunyai makna konotasi yang berbeda dari tanda. Tergantung pada konsep budaya dan nilai, yang didalamnya terdapat ingatan, pengalaman, dan pengetahuan sejarah setiap manusia. Makna konotasi menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya, ini terjadi tatkala makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya intersubjektif.498
Makna denotasi memiliki makna tersendiri yang berkaitan langsung dengan definisi ritual Tabut secara harfiah. Sedangkan makna konotasi dari ritual Tabut pasti akan dikaitkan dengan asal mula kemunculan ritual tersebut, baik dalam pandangan agama ataupun budaya. Selain itu, makna konotasi dapat muncul dengan menghubungkan makna denotasinya dengan simbol-simbol yang ada dalam ritual Tabut ataupun penentuan pelaksanaan ritual tersebut. Kemunculan makna konotasi dalam ritual Tabut juga dikarenakan masing-masing kelompok sosial sebagai penafsir dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Sebelum mendapatkan makna konotasi dan denotasi dari ritual Tabut. Peneliti akan memaparkan makna konotasi kata ‚Tabut‛ berawal dari tanda serta makna denotasinya yang secara bersamaan membentuk makna konotasi. Secara denotatif, makna Tabut merujuk pada definisi harfiahnya yaitu kotak atau peti dari kayu. Makna tersebut merupakan pengertian umum yang diantaranya berasal dari budaya Yahudi-Palestina dan Islam.
Kata ‚Tabut‛ dalam tradisi keagamaan dapat ditelusuri, baik dalam dunia Islam maupun Kristen. Tabut dalam tradisi Kristiani merupakan representasi dari lambang atau simbol kehadiran Tuhan ditengah-tengah umatnya.499 Sementara dalam tradisi Islam berkaitan dengan Nabi Musa dan ritual keagamaan Islam
497Nabila Putri Aldira, ‚Representasi Nilai-Nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam Film Tabula Rasa (Analisis Semiotika Roland Barthes).‛ Jurnal Jom Fisip, Vol. 5, No. 1, (April 2017): 3.
498Herlika Fransisca Wijaya dan Rustono Farady Marta, ‚Mitologi Budaya pada Gelang Duka Cita sebagai Atribut Upacara Kematian dalam Tradisi Tionghoa Bangka dan Cina Benteng (Tinjauan Semiologi Barthes terhadap Makna Tanda pada Tradisi dan Mitos Leluhur Peranakan Tionghoa Indonesia.‛ Jurnal Semiotika, Vol. 9, No. 1, (Juni 2015): 242.
499C. Barth, Theologia Perjanjian Lama, Jilid 3 (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2005), 13.
109 Syi’ah yang dikenal dengan Ta’ziyah. Hal tersebut dibuktikan melalui tradisi yang digambarkan sebagai ritus penghormatan atas syahidnya Husein di Karbala.
Meski begitu, dikarenakan tidak memiliki akar yang jelas, penyebutan kata ‚Tabut‛ di Bengkulu mengalami perbedaan. Masyarakat pada umumnya menggunakan istilah Tabot sedangkan pengikut Tabut menyebutnya dengan istilah Tabut. Karena menurut Syiafril penggunaan kata Tabot tidak relevan untuk digunakan dalam konteks ritual karena Tabot lebih identik digunakan untuk menyebut arca atau berhala, Tabut500 telah sejak lama digunakan. Hal tersebut dibuktikan dengan:
Gambar 4.1 Keterangan dari foto tersebut bukti bahwa kata ‚Tabut‛ sudah digunakan sejak lama
Tingkah laku beragama selalu berkaitan dengan budaya keagamaan suatu kelompok sosial. Seperti ritual Tabut yang dalam kenyataannya sangat jelas unsur budayanya. Sebagai suatu ritual yang pasti dilaksanakan pada bulan Muharram dalam kalender Hijriah. Akan tetapi dalam praktiknya ritual yang memiliki unsur keagamaan ini menjadi bias karena lebih menunjukkan unsur budaya.
Ritual Tabut sebagai budaya sudah dikenal lama oleh masyarakat Bengkulu. Ritual Tabut telah diterima sebagai ekspresi kultural secara umum oleh masyarakat di Bengkulu, bukan sebagai ekspresi keagamaan semata.501 Ritual Tabut menurut Pemerintah secara konotasi dianggap sebagai kegiatan seni budaya yang memiliki keuntungan ekonomis serta sebagai kekayaan khazanah Bengkulu. Artinya, Tabut lebih dipandang dari sisi bentuknya, yaitu sebagai identitas budaya Bengkulu daripada ritual yang bermuatan nilai-nilai religius. Ketika melihat fakta bahwa ritual Tabut dipandang sebagai budaya. Satu hal yang harus dipahami bahwa budaya seharusnya juga diposisikan sebagai spiritualitas. Dengan begitu, ritual Tabut dapat diinterpretasikan sebagai identitas kebudayaan Bengkulu.
500Menurut Syiafril untuk membedakan ritual Tabut yang berada di Bengkulu dengan ritual yang lain lebih baik digunakan sebutan Tabutbencoolen.
110
Jika melihat kondisi di atas, dalam pandangan Roland Barthes yang berpendapat bahwa mitos memainkan peran penting dalam kehidupan sosial. Menurutnya mitos dapat membangun solidaritas kelompok sosial yang bersangkutan. Dengan adanya mitos yang mereka percayai memiliki sakralitas dan mengandung pesan moral yang diwariskan dari leluhur-leluhur mereka, yang kemudian akan diwariskan kepada anak-anak mereka sebagai generasi berikutnya.502 Hal tersebut yang terjadi pada pengikut Tabut, mitos sakral yang sarat akan makna religius yang menjadikan ritual tersebut terus mereka laksanakan,
Selain itu, ritual juga terkadang dimaknai sebagai tindakan simbolis yang memiliki rujukan yang empiris, sekaligus merupakan aturan yang memiliki berbagai macam sanksi, termasuk sanksi sosial. Selain itu, menurut Th. P. Van Baaren ritual merupakan peraturan yang dapat disebut sebagai ceremony dalam konteks keagamaan dan berisi seperangkat aturan yang berkaitan dengan dimensi metafisik.503
Barthes menjelaskan jika segala sesuatu yang terdapat di dunia ini adalah mitos. Seperti halnya dalam perkembangan pemaknaan ritual Tabut berdasarkan makna konotasi dan denotasinya. Setiap kelompok sosial, baik pengikut Tabut, pemerintah, dan masyarakat memiliki mitos masing-masing mengenai ritual Tabut. Mitos tersebut dapat berkembang ataupun terus dipertahankan karena mitos dalam pandangan Barthes yang dilihat adalah manfaatnya. Artinya jika mitos tersebut memberikan manfaatnya bagi manusia maka mitos tersebut akan terus dipertahankan atau dikembangkan menjadi mitos baru.
Ritual Tabut merupakan warisan budaya di Bengkulu yang bersifat tak benda sekaligus sebagai potensi seni budaya bernilai jika dapat di atur secara sistematik. Sebagai ritual yang asal mulanya dari suatu sistem kepercayaan, ritual Tabut memiliki nilai-nilai yang terus dipercaya sehingga dapat dijadikan modal kultural untuk menjadi kota wisata berskala global. Seperti yang dijelaskan oleh pemerintah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu bahwa ritual Tabut merupakan aset potensi wisata dan ciri khas tradisi Bengkulu.504
Perkembangan ritual keagamaan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, salah satunya komoditas pariwisata untuk meningkatkan wisatawan, baik domestik maupun internasional. Dalam pendekatan teori kritis, dominasi ideologi memainkan peranan penting dalam proses komodifikasi. Masyarakat merasakan terjadinya perubahan dari komodifikasi pariwisata yang lebih menguntungkan bagi pihak-pihak yang
502Ayatullah Humaeni, ‚Makna Kultural Mitos dalam Budaya Masyarakat Banten.‛ Jurnal Antropologi Indonesia, Vol. 33, No. 3, (2012): 168.
503Jan Platvoet, ‚Ritual in Plural and Pluralis Societies: Instruments for Analysis,‛ dalam Jan Platvoet dan Karel Van Der Toorn (ed), Pluralism and Identity: Studies in Ritual Behaviour (Lieden: E. J. Brill, 1995), 42-44.
504Wawancara, Binsar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, 18 Juli 2017
111 mempunyai kekuasaan. Media sebagai alat komunikasi pemasaran mempunyai pengaruh yang kuat dalam proses komodifikasi. Melalui komunikasi pemasaran, sebuah ideologi dominan mampu mendistorsi upacara religi dalam masyarakat.505
Pendapat di atas apabila dikaitkan dengan pendapat Daniel Z Kadar tentang ritual, maka ritual hanya direpresentasikan sebagai aspek formal tanpa fungsi interaksi dan relasionalnya yang kompleks.506 Artinya, jika ritual Tabut hanya dipahami sebagai komoditas pariwisata, maka ritual tersebut telah mengalami deritualisation.507 Karena pemaknaan ritual yang hanya berdasarkan pada konteks kebudayaan tanpa melibatkan nilai religius yang ada didalamnya dapat menyebabkan hilangnya fungsi dari ritual tersebut.508
Menurut Yulianti, ritual Tabut dalam perspektif ekonomi politik media, memiliki tiga komodifikasi. Pertama, komodifikasi isi (content commodity) yang menunjukkan bahwa ritual Tabut lebih menonjolkan keindahan daripada makna yang terdapat didalamnya. Kedua, komodifikasi khalayak (audience commodity) artinya eksistensi ritual Tabut menjadi bagian dari peran masyarakat dalam mensukseskan program pemerintah dalam membina, mengembangkan, dan mensukseskan kebudayaan daerah di Bengkulu. Ketiga, komodifikasi pekerja (labour commodity), melibatkan pejabat-pejabat dalam pembukaan festival Tabut, juga diadakannya pameran pembangunan (Tabut pembangunan) dan pasar malam.509 Komodifikasi ritual Tabut tersebut dapat dipahami karena aktifitas kebudayaan yang memiliki nilai religius pun memiliki pengaruh terhadap aktifitas ekonomi.
Perbedaan visi dan misi serta pemaknaan antara Keluarga Kerukunan Tabut dan Kerukunan Tabut Budaya (pemerintah) terhadap ritual Tabut menjadi salah satu alasan dasar terciptanya keragaman pemaknaan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat David Kertzer yang berpandangan bahwa, ritual memiliki potensi untuk menyatukan antara kesinambungan dan perubahan dari ritual tersebut.510
Sementara itu, pengikut Tabut secara berkelanjutan ingin mempertahankan kesakralan dari ritual Tabut karena menurutnya fungsi utama dari ritual Tabut
505Yulianti, ‚Upacara Religi dan Pemasaran Pariwisata di Provinsi Bengkulu.‛ Jurnal
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 5, No, 3, (2016): 192.
506Daniel Z Kahar, Relational Rituals and Communication: Ritual Interaction in Groups
(New York: Palgrave Macmillan, 2013), 5.
507Deritualisation adalah klaim bahwa ritual menjadi tidak signifikan dalam kehidupan sosial. Lihat Daniel Z Kahar, Relational Rituals and Communication: Ritual Interaction in Groups (New York: Palgrave Macmillan, 2013), 6.
508Jan Koster, ‚Ritual performance and the politics of identity: On the functions and uses of ritual.‛ Journal of historical pragmatics, Vol. 4, No. 2, (2003): 5.
509Yulianti, ‚Upacara Religi dan Pemasaran Pariwisata di Provinsi Bengkulu.‛ Jurnal
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 5, No, 3, (2016): 191.
510Mary Elaine Hegland, "Shi'Women's Rituals in Northwest Pakistan: The Shortcomings and Significance of Resistance." Antropological Quarterly, summer 2003, 76, 3, 415
112
adalah nilai-nilai religiusitas yang ada didalamnya. Hal tersebut dapat dipahami karena peran KKT dalam merancang dan menentukan makna ritual Tabut lebih bersifat dinamis. Seperti pandangan antropolog bahwa ritus yang mengekspresikan suatu kepercayaan harus dirancang dan ditentukan.511 Selain itu, pesan simbolik dalam ritual keagamaan juga dapat ditransmisikan melalui kesepakatan.512
Pandangan tersebut dapat menghilangkan fungsi ritual sebagai sarana untuk mengekspresikan kesalingtergantungan dalam kelompok sosial, karena menurut Daniel Z Kahar, hal terpenting dalam ritual adalah partisipasi dan keterlibatan emosional bersama.513
Meski berbeda pandangan dengan pengikut Tabut, bahkan kerap terjadi perbedaan persepsi antara pemimpin dalam pemerintahan dan sistem yang ada,514 Pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu tetap memfasilitasi dan mendukung ritual Tabut yang bersifat sakral. Karena kesakralan dalam suatu ritual dapat berupa nilai-nilai sosial yang tidak harus selalu berhubungan dengan nilai-nilai religius. Nilai sosial tersebut berfungsi untuk menciptakan ikatan kepemilikan terhadap ritual yang sama.515 Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah yang memiliki kepentingan politik sesungguhnya bermaksud untuk mewujudkan perubahan dalam ritual Tabut dalam aspek pembangunan, bukan untuk menguasai ritual tersebut.
Karena ritual Tabut merupakan suatu kebudayaan yang harus dilestarikan dan juga merupakan bagian dari Tabut pembangunan. Untuk itu, pemerintah harus mengalokasikan pendanaan untuk ritual tersebut, namun terkadang dana yang diberikan tidak mencukupi untuk ritual tersebut sehingga terjadilah konflik. Adapun pemisahan yang dilakukan antara Tabut sakral dan Tabut pembangunan bertujuan untuk menghindari konflik yang lebih besar.516
Meski demikian, fenomena ritual Tabut sebagai komoditas pariwisata apabila tidak diimbangi dengan pemaknaan religiusnya justru akan melemahkan peran penting kelompok sosial dalam pemahaman tentang budaya yang bersifat religius. Melalui pemahaman yang demikian, ritual Tabut bersifiat political rites, yakni ritual yang dikonstruksi, dipertontonkan, dan dipromosikan oleh institusi pemerintah yang mengandung unsur politik. Karena, menurut Victor Turner, ritual yang memiliki nilai religius lebih dari sekedar refleksi atau
511Catherine Bell, Ritual Theory Ritual Practice (New York: Oxford University Press, 2009), 223.
512Roy A Rappaport, Ritual and Religion in the Making of Humanity (Edinburg: Cambridge University Press, 1999), 58.
513Daniel Z Kahar, Relational Rituals and Communication: Ritual Interaction in Groups
(New York: Palgrave Macmillan, 2013), 7.
514Sugeng Priyadi, ‚Orientasi Nilai Budaya Banyumas: Antara Masyarakat Tradisional dan Modern.‛ Jurnal Humaniora, No. 20, Vol 2, (2008): 166.
515Santiago Daydi Tolson, ‚Ritual and Religion in Tomas Rivera’s Work.‛ La Revista Bilingue, Vol. 13, No. 1, Vol. 2, (1986): 140-143.
113 ungkapan ekonomi, politik, ataupun sosial namun merupakan dasar bagi pemahaman hubungan satu masyarakat dengan lingkungannya secara luas.517
Menurut Syiafril, kelompok sosial yang memiliki suatu budaya, khususnya dalam bentuk ritual seharusnya memiliki kesadaran penuh untuk melestarikan budaya dan memahami makna yang terkandung didalamnya. Mereka hendaknya lebih meningkatkan kesadarannya akan makna yang terkandung di dalamnya sehingga bijak dalam mengelola budayanya serta lingkungannya yang ada di sekitarnya, yang patut dipelihara dan dijunjung, tidak saja oleh masyarakat pemiliknya tapi juga masyarakat luar yang hendak berinteraksi dengan mereka.518