• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ritual Tabut sebagai kearifan lokal (local wisdom) merupakan bentuk nilai-nilai religiusitas yang dianut oleh kelompok sosial melalui tatanan hidup. Karena ritual merupakan komunikasi berupa pemaknaan tanda atas sistem kepercayaan yang bersifat religius. Oleh sebab itu, ritual Tabut tidak dapat terlepas dari sistem nilai dan sistem norma dari masyarakat Bengkulu secara umum. Ritual Tabut seharusnya dipandang sebagai ritual yang memiliki unsur-unsur keagamaan bukan sebagai ajaran inti keagamaan. Dengan demikian, pelaksanaan ritual Tabut sebagai media dakwah untuk mensyiarkan nilai-nilai keislaman sehingga apabila tidak dilaksanakan pun tidak menjadi permasalahan.

Kebudayaan selalu berkembang bahkan berevolusi karena adanya adaptasi, asimilasi atau akulturasi dengan nilai budaya asing.452 Akulturasi disebabkan proses kelompok sosial dihadapkan dengan pengaruh kebudayaan lain. Proses itu terjadi dengan cara mengambil secara selektif, baik sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.453

Akulturasi hadir melalui percampuran budaya kelompok sosial yang hidup bersama dengan budaya kelompok sosial lainnya.454 Baik dalam hubungan perdagangan ataupun pemerintahan.455

Menurut Nelly Marhayati akulturasi yang terjadi dalam ritual Tabut dari asal mula aspek teologi Syi’ah dan tradisi Islam masyarakat Bengkulu.456 Ritual Tabut mengalami proses akulturasi karena dalam ritual tersebut terdapat beberapa budaya lain, diantarnya budaya etnis India, etnis Melayu yang menampilkan ‚Ikan-ikan‛ dan etnis Tionghoa melalui ‚Telong-telong.‛

452Sumper Mulia Harahap, ‚Akomodasi Hukum Islam terhadap Kebudayaan Lokal (Studi terhadap Masyarakat Muslim Padangsidimpuan).‛ Jurnal Hukum Islam, Vol. 15, No. 2, (Desember 2016): 331.

453Hedi Heryadi dan Hana Silvana, ‚Komunikasi Antarbudaya dalam Masyarakat Multikultur.‛ Jurnal Kajian Komunikasi, Vol. 1, No. 1, (Juni 2013): 103.

454Imam Amrusi Jailani, ‚Dakwah dan Pemahaman Islam di Ranah Multikultural.‛ JurnalWalisongo, Vol 22, No. 2, (November 2014): 415.

455Hedi Heryadi dan Hana Silvana, ‚Komunikasi Antarbudaya dalam Masyarakat Multikultur.‛ Jurnal Kajian Komunikasi, Vol. 1, No. 1, (Juni 2013): 96.

456Nelly Marhayati, ‚Dinamika Kelompok Minoritas dalam Mempertahankan Tradisi Studi pada Keluarga Kerukunan Tabot di Bengkulu.‛ 2016

88

Ketiganya saling membaur satu sama lain. Hal tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Bengkulu merupakan masyarakat multietnis yang harmonis.457

Menurut Hendra Nasution, akulturasi pada ritual Tabut juga terlihat dari alat-alat yang digunakan seperti benda-benda khusus dan alat-alat musik menunjukkan benda lokal khas daerah Bengkulu.458

Atas dasar kenyataan diatas, proses interaksi yang terjadi antara kebudayaan lokal dengan kebudayaan lain bersifat saling melengkapi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan dasar setempat. Seperti hal nya yang terjadi dalam ritual Tabut menunjukkan adanya proses akulturasi, bukan sebatas budaya yang diwariskan, dan pada akhirnya berpengaruh pada pemaknaan ritual tersebut.

Terjalinnya ikatan emosional ritual Tabut dengan pengikutnya membuat ritual tersebut terus terjaga. Menurut Syiafril, eksistensi ritual Tabut dapat bertahan hingga saat ini bukan karena keyakinan dari pengikut Tabut yang mengatakan jika ritual tersebut tidak dilaksanakan maka akan mengakibatkan musibah, khususnya bagi mereka. Walaupun sebagian pengikut Tabut meyakini bahwa ritual Tabut ini dapat mendatangkan keselamatan dan menjauhkan diri dari malapetaka dan warisan nenek moyang yang memiliki nilai sosial sehingga perlu dilestarikan. Lebih lanjut menurutnya, musibah dapat terjadi dimanapun dan kapanpun, karena hal tersebut merupakan ketentuan dari Allah swt, sama sekali tidak ada kaitannya dengan atau tidak dilaksanakannya ritual Tabut.459

Kelompok sosial sebagai pemilik budaya seharusnya juga memahami pemaknaan yang terkandung didalam ritual Tabut. Terutama jika memaknai ritual Tabut secara simbolik, harus dipahami makna dibalik simbol tersebut, tidak dapat dipahami apa adanya.460 Hal tersebut diperkuat oleh pandangan Rohimin yang menjelaskan bahwa statement tentang keharusan melaksanakan ritual Tabut tidak dilakukan maka akan terjadi musibah, hanya suatu ajaran agar komunitas melestarikan suatu tradisi, maka itu bukan makna yang sebenarnya, melainkan makna simbolik agar ritual tersebut tetap dipertahankan.461 Karena pada umumnya masyarakat mengatakan bahwa ritual Tabut dapat terus

457Alfarabi, Alex Abdu Chalik, Rasiana Br Saragih, ‚Struktur Perayaan Tabut dalam Mendukung Bauran Budaya.‛ Jurnal Idea, Vol. 6, No. 24, (Juni 2012): 9-10.

458Hendra Nasution, ‚Tradisi dan Makna Simbolik Tradisi Tabot pada Masyarakat Suku Sipai di Kota Bengkulu,‛ 22.

459Wawancara, Achmad Syiafril Syahboeddin, Ketua KKT, 13 Juli 2016. Alasan lain ritual Tabut tetap dipertahankan eksistensinya oleh pengikut Tabut karena beberapa hadis yang berkaitan tentang Husain. Ibnu Majah dikutib oleh Alhusaini: ‚Hussain adalah dari-ku dan aku dari Hussain, ya Allah cintailah orang yang mencintai Husain.‛Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda:‚ Hasan dan Husain adalah kembang mekarku di dunia ini.‛ Lihat Achmad Syiafril Sy,

Buku Putih the Tabubencoolen. At-Tarmizi dari Usman bin Zaid, Rasulullah bersabda: keduanya adalah

460Wawancara, Rohimin, Ketua MUI Bengkulu, 17 Juli 2017.

89 dilakukan karena ritual tersebut sama sekali tidak mengganggu keyakinan masyarakat terhadap agama yang dianutnya.

Sebagai ritual yang menunjukkan dramatikal dengan rangkaian skenario. Menurut Syiafril fungsi ritual Tabut adalah untuk mengenang dan berdoa untuk semua yang syahid di Padang Karbala, khususnya Husain. Mengenang kejayaan Islam yang pernah terjadi pada abad ke 7 dan 8. Menyambut tahun baru Hijriyah serta memuliakan dan menghormati Ahlul Bait.462 Menurut Amril Chanras dalam Syiafril menjelaskan bahwa dalam ritual Tabut terdapat pesan moral agar tidak membuang keimanannya demi kekuasaan seperti Yazid.463

Ritual diperingati secara teratur berdasarkan waktu yang telah ditentukan karena ritual tersebut dianggap penting. Lebih lanjut, hal tersebut terjadi karena berbagai konsepsi tentang ritual yang memiliki makna-makna khusus. Dengan demikian, ritual dapat dipahami sebagai nilai-nilai yang secara terus menerus dijalankan dari generasi ke generasi berikutnya. Nilai-nilai tersebut akan terus diterima jika sesuai dengan pandangan mereka.464

Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, terdapat dua ritual penting yang harus mereka lakukan sebelum melakukan prosesi-prosesi yang telah lazim diketahui oleh masyarakat pada umumnya, yaitu pertama, doa mohon izin kepada Allah swt yang dilaksanakan di Mushala Kerabela pada tanggal 28 atau 29 Dzulhijjah, diawali dengan shalat magrib, membaca Yassin, tahlil, dan memohon izin untuk memulai prosesi ritual Tabut, ditutup dengan shalat Isya. Kedua, melakukan doa mohon keselamatan kepada Allah swt yang dilaksanakan pada tanggal 29 atau 30 Dzulhijjah. Doa tersebut dalam rangka memohon kepada Allah swt agar terhindar dari malapetaka, baik yang datang dari gunung, maupun dari laut. Setelah selesai berdoa, prosesi dilanjutkan ke pantai Zakat dengan melepaskan sampan yang bermakna mengenang kedatangan pembawa Tabut yang datang melalui jalur laut. Melalui dua prosesi diatas yang intinya adalah berdoa menunjukkan bahwa sebagai manusia memiliki keterbatasan sehingga mereka melibatkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya yaitu Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa ritual Tabut tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap Husain tetapi juga penghormatan terhadap Allah swt. Adapun tahapan-tahapan selanjutnya dari ritual Tabut, antara lain:

- Simbol Mengambik Tanah

Ritual ini dilakukan pada malam satu Muharram. Ritual diawali dengan doa dan mengirimkan shalawat yang dipimpin oleh Ketua Keluarga Kerukunan Tabut. Dalam ritual ini juga terdapat benda-benda yang terdiri atas bubur merah dan bubur putih, gula merah, sirih, rokok, kopi, air serbat, dadih (susu sapi murni),

462Achmad Syiafril Syahboeddin, Buku Putih Tabutbencoolen, 3.

463Achmad Syiafril Syahboeddin, Buku Putih Tabutbencoolen, 12.

464M Yamin Sani, ‚Erau: Ritual Politik dan Kekuasaan.‛ Jurnal Al-Qalam, Vol. 18, No. 2, (Juli-Desember 2012): 298.

90

air cendana, air selasih.465 Fungsi benda-benda yang berupa makanan atau minuman dalam suatu ritual secara simbolik mengacu pada kebutuhan dasar manusia.466 Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh Syiafril bahwa fungsi dari makanan dan minuman yang terdapat dalam ritual Tabut adalah untuk dikonsumsi oleh pengikut Tabut setelah melakukan setiap prosesi dalam ritual, bukan seperti yang dipahami selama ini sebagai sasajen untuk roh nenek moyang.

Prosesi mengambik (mengambil) tanah dimulai dengan cara meletakkan dua lembar kain kafan yang berbentuk persegi empat di permukaan tanah, diambilah dua kepal tanah yang dilakukan secara bertahap, yang nantinya dibungkus dan dimasukkan ke dalam baki yang dibalut kain berwarna kuning. Selanjutnya baki tersebut dibawah ke gergah di daerah Berkas. Ketika prosesi Tabut tebuang, tanah tersebut dinaikkan ke dalam Tabut dan kemudian dikuburkan.467

Ritual mengambik tanah dianggap mempunyai makna magis sebagai simbol jenazah Husain bin Ali. Tanah tersebut dibentuk dan dibungkus menggunakan kain kafan. Tanah dalam ritual ini diambil dari tempat yang di anggap suci ataupun sakral bukan yang dimaknai selama ini sebagai tempat yang keramat serta mengandung unsur-unsur magis. Saat ini prosesi mengambik tanah di lakukan di pantai Nala, di bawah Surau belakang Hotel Horizon. Pemindahan tersebut disebabkan karena tempat yang sebelumnya dianggap sudah tidak suci dan sakral.468 Kemudian tanah yang telah dibungkus tersebut di simpan di Gergah.469 Secara mendasar prosesi ini dimaknai sebagai peringatan atau mengenang kembali manusia yang pada awalnya diciptakan dari tanah dan nantinya akan kembali menjadi tanah.470

Berdasarkan teori semiotik dari Peirce, trikotomi dalam prosesi mengambik tanah adalah sebagai berikut:

465Harapandi Dahri, Tabot Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu (Jakarta: Penerbit Citra, 2009), 89.

466Jonathan A Draper, ‚Ritual Proces and Ritual Symbol in Didache.‛ Vigiliae Christianae, Vol. 54, No. 2, (2000): 147.

467Achmad Syiafril Syahboeddin, Buku Putih Tabutbencoolen, 27.

468Wawancara, Achmad Syiafril Syahboeddin, Ketua KKT, 13 Juli 2017. Sebelumnya pengambilan tanah dilakukan di Tapak Padri yang terletak di dekat Benteng Marlborough dan Anggut, yang berada di pemakaman umum Pasar Tebek Endang Rochmatun, ‚Tradisi Tabot pada Bulan Muharram di Bengkulu: Paradigma Dekonstruksi.‛ 51.

469Sirajuddin M, ‚Urf dan Budaya Tabot Bengkulu.‛ Jurnal Millah, Vol. XI, No. 2, (Februari 2012): 589-590.

470Wawancara, Achmad Syiafril Syahboeddin, Ketua KKT, 13 Juli 2017. Lihat juga Person Pesona Renta, ‚Tabot Upacara Tradisi Masyarakat Pesisir Bengkulu.‛ Jurnal Sabda, No. 6, Vol. 1, (April 2011): 50.

91 Bagan 4.1 Trikotomi Peirce pada prosesi mengambik tanah.

Tanah sebagai representament dalam trikotomi pertama menempati posisi sebagai sinsign karena tanah ada secara aktual. Trikotomi kedua dalam prosesi ini adalah dua kepal tanah sebagai object yang fungsinya sebagai symbol karena menjadi tanda yang menggantikan representament berupa tanah dengan berdasarkan konvensi atau kaidah serta harus dipelajari. Trikotomi ketiga yang merupakan interpretant adalah asal mula manusia yang berasal dari tanah kembali ke tanah, tanda tersebut muncul dengan melibatkan penafsir yang mempunyai premis tertentu sehingga menyimpulkan pemaknaan atas tanah maka posisinya sebagai argument.

Prosesi mengambik tanah menyimbolkan kemunculan manusia yang berawal dari tanah. Hal tersebut dapat terlihat melalui rangkaian kegiatan ritual ini yang melibatkan kain putih dan tanah yang juga dilengkapi dengan bahan-bahan yang telah ditentukan. Makna mengambik tanah adalah asal mula manusia yang berasal dari tanah maka akan kembali ke tanah. Asal mula manusia merupakan interpretant, yang menjadi representament adalah tanah, sedangkan yang merupakan object adalah dua kepal tanah. Hubungan antara representament dan object adalah symbol.

Berdasarkan teori semiotik Peirce maka objek dalam ritual Mengambik Tanah adalah dua kepal tanah yang ditandakan sebagai simbol asal mula manusia, sehingga muncullah pemaknaan dalam ritual ini adalah manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

- Simbol Duduk Penja

Ritual Duduk Penja mulai dilaksanakan pada tanggal 4 dan 5 Muharram, ritual ini dimulai pada sore hari pukul 16.00 WIB. Penja ialah benda yang terbuat dari kuningan, perak atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Penja berarti tangan lima jari yang merupakan simbol salah

92

Bagan 4.2 Trikotomi Peirce pada prosesi duduk penja.

satu the pilar of Islam (shalat lima waktu).471 Ritual ini dimulai dengan berdoa dan mengirimkan shalawat. Selanjutnya Penja dicuci dengan jeruk limau dan bunga melur (melati), ritual ini juga dilengkapi oleh benda-benda yang terdiri atas, air serobat, susu murni, air kopi pahit, nasi kebuli, pisang emas dan tebu. Setelah dicuci, Penja yang berjumlah 13 pasang itu ditegakkan secara berpasangan, setelah itu Penja tersebut dimasukkan ke dalam Gergah, selama prosesi ini berlangsung juga diiringi oleh musik Dhol.

Keluarga Tabut meyakini bahwa penja itu mengandung magis, maka ia harus dicuci terlebih dahulu pada setiap tahunnya sebelum ritual Tabut dilaksanakan. Penja dicuci dengan air bunga dan air limau.472 Penja yang dianggap sebagai benda keramat yang mengandung unsur magis, harus dicuci dengan air limau setiap tahunnya.473 Menurut Syiafril, proses mencuci penja yang ada pada prosesi duduk penja menyimbolkan membersihkan/menyucikan diri. Artinya, the pilar of Islam, dalam hal ini yang dimaksud adalah menjalankan shalat lima waktu akan dapat terlaksana jika sebelumnya manusia menyucikan diri terlebih dahulu yang dimulai dengan tangan.

Berdasarkan teori semiotik dari Peirce, trikotomi dalam prosesi duduk penja adalah sebagai berikut:

471Wawancara, Achmad Syiafril Syahboeddin, Ketua KKT, 13 Juli 2017.

472Rizqi Handayani, ‚Dinamika Kultural Tabot Bengkulu.‛ 246-247.

473Endang Rochmiatun, ‚Tradisi Tabot pada Bulan Muharram di Bengkulu: Paradigma Dekonstruksi.‛ Jurnal Tamaddun, No. 14, Vol. 2, (2014): 51.

93 Tangan sebagai representament dalam trikotomi pertama menempati posisi sebagai sinsign karena secara aktual tangan itu ada. Trikotomi kedua dalam prosesi ini adalah penja sebagai object yang fungsinya sebagai symbol karena menjadi tanda yang menggantikan representament, berupa prosesi duduk penja dengan berdasarkan konvensi atau kaidah serta harus dipelajari. Walaupun dalam hal ini adalah tangan memiliki persamaan bentuk dengan penja. Trikotomi ketiga yang merupakan interpretant adalah the pilar of Islam, kehadiran tanda tersebut karena melibatkan penafsir yang mempunyai premis tertentu sehingga menyimpulkan pemaknaan penja maka posisinya sebagai argument.

Prosesi duduk penja menyimbolkan the pilar of Islam. Hal tersebut dapat terlihat melalui rangkaian kegiatan ritual ini yang menyusun 13 pasang penja dalam posisi berdiri dengan dilengkapi dengan benda-benda pelengkap. Makna duduk penja adalah menegakkan the pilar of Islam. The pilar of Islam merupakan interpretant, yang menjadi representament adalah tangan, sedangkan yang merupakan object adalah penja. Hubungan antara representament dan object adalah icon.

- Simbol Menjara

Prosesi Menjara berlangsung pada malam hari, tanggal 5 dan 6 Muharram mulai pukul 19.30 WIB. Pada malam tanggal 5 Muharram, kelompok Tabut Bansal mengunjungi kelompok Tabut Imam sedangkan pada malam tanggal 6 Muharram, kelompok Tabut Imam mengunjungi kelompok Tabut Bansal. Menjara adalah berkunjung atau mendatangi kelompok lain untuk bertanding Dhol. Dhol dalam acara ini disimbolkan dengan genderang perang pasukan Husain bin Ali ketika berperang di Padang Karbala.

Menjara disimbolkan sebagai perjalanan panjang di malam hari, untuk melakukan silatuhrahmi atau konsolidasi.474 Mengenang perjalanan Husain dari Madinah ke Kuffah, walaupun pada akhirnya ia tidak sampai ke Kuffah, hanya sampai di Karbala. Dengan membawa panji-panji kebesaran, kalimat tauhid, genderang peperangan melawan kebiadaban, genderang seni, genderang perang melawan kebiadaban yaitu dua malam, karena itu peringatan perang.475

Berdasarkan teori semiotik dari Peirce, trikotomi dalam prosesi menjara adalah sebagai berikut:

474Person Pesona Renta, ‚Tabot Upacara Tradisi Masyarakat Pesisir Bengkulu.‛ Jurnal Sabda, No. 6, Vol. 1, (April 2011): 51.

94

Bagan 4.3 Trikotomi Peirce pada prosesi malam menjara

Arak-arakan sebagai representament dalam trikotomi pertama menempati posisi sebagai sinsign karena arak-arakan ada secara aktual. Trikotomi kedua dalam prosesi ini adalah menjara sebagai object yang fungsinya sebagai symbol karena menjadi tanda yang menggantikan representament dengan berdasarkan konvensi atau kaidah serta harus dipelajari. Trikotomi ketiga yang merupakan interpretant adalah mengenang perjalanan panjang Husain ke medan peperangan, tanda tersebut muncul dengan melibatkan penafsir yang mempunyai premis tertentu sehingga menyimpulkan pemaknaan dari menjara maka posisinya sebagai argument.

Mengenang perjalanan Husain ke medan peperangan merupakan interpretant, yang menjadi representament adalah arak-arakan, sedangkan yang merupakan object adalah menjara. Hubungan antara representament dan object adalah symbol.

- Simbol Meradai

Prosesi meradai dilaksanakan pada tanggal 6 Muharram yang dimaknai sebagai pemberitahuan tentang wafatnya Husain, pemberitahuan itu bertujuan untuk mengetahui siapa saja yang berduka dengan musibah ini dan siapa saja yang peduli.476 Saat ini ritual tersebut ditunjukkan dengan kegiatan mengumpulkan dana oleh Jola (bahasa Melayu yang artinya orang yang bertugas mengambil dana untuk kegiatan kemasyarakatan) yang biasanya terdiri atas anak-anak berusia 10-12 tahun.

Berdasarkan teori semiotik dari Peirce, trikotomi dalam prosesi meradai adalah sebagai berikut:

95 Bagan 4.4 Trikotomi Peirce pada prosesi meradai

Meminta-minta sebagai representament dalam trikotomi pertama menempati posisi sebagai sinsign karena kegiatan meminta-minta ada secara aktual. Trikotomi kedua dalam prosesi ini adalah meradai sebagai object yang fungsinya sebagai symbol karena menjadi tanda yang menggantikan representament berupa kegiatan meminta-minta dengan berdasarkan konvensi atau kaidah serta harus dipelajari. Trikotomi ketiga yang merupakan interpretant adalah informasi wafatnya Husain, tanda tersebut muncul dengan melibatkan penafsir yang mempunyai premis tertentu sehingga menyimpulkan pemaknaan atas kegiatan meminta-minta maka posisinya sebagai argument. Prosesi meradai menyimbolkan informasi Husain wafat. Hal tersebut di wujudkan dalam bentuk kegiatan meminta-minta yang saat ini dimaksudkan untuk melihat siapa yang peduli terhadap eksistensi ritual Tabut dengan cara memberi bantuan kepada pengikut Tabut. Informasi wafatnya Husain merupakan interpretant, yang menjadi representament meminta-minta, sedangkan yang merupakan object adalah meradai. Hubungan antara representament dan object adalah symbol.

Prosesi meradai kerap mengalami permasalahan dikarena adanya orang-orang yang dengan sengaja menjadikan prosesi meradai sebagai alasan bagi mereka untuk memperoleh bantuan/sumbangan dari masyarakat. Bahkan mereka meminta-minta sebelum prosesi meradai dilaksanakan.

- Simbol Arak Penja (Jari-Jari)

Arak Penja atau yang lebih dikenal dengan sebutan arak jari-jari dilakukan pada tanggal 7 Muharram pukul 19.30 malam. Malam arak penja dilaksanakan dengan menempatkan Penja yang diletakkan di atas Tabut Coki, kemudian diarak dan dikumpulkan di tempat yang telah ditentukan. Arakan tersebut melewati

jalan-96

Bagan 4.5 Trikotomi Peirce pada prosesi arak penja

jalan utama di kota Bengkulu. Setiap kelompok Tabut mengirimkan 10 hingga 15 orang untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pada umumnya ritual tersebut dipahami sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa tangan Husain telah ditemukan di Padang Karbala.477 Walaupun menurut Syiafril makna yang sebenarnya adalah mengenang Husain dalam menegakkan kalimat tauhid, juga dimaknai sebagai simbol lima huruf Sang Pencipta dan simbol shalat lima waktu. Yang artinya sama sekali tidak berkaitan dengan tubuh Husain.

Berdasarkan teori semiotik dari Peirce, trikotomi dalam prosesi arak penja adalah sebagai berikut:

Arak-arakan sebagai representament dalam trikotomi pertama menempati posisi sebagai sinsign karena arak-arakan ada secara aktual. Trikotomi kedua dalam prosesi ini adalah arak penja sebagai object yang fungsinya sebagai symbol karena menjadi tanda yang menggantikan representament berupa arak-arakan dengan berdasarkan konvensi atau kaidah serta harus dipelajari. Trikotomi ketiga yang merupakan interpretant adalah mensyiarkan the pilar of Islam, tanda tersebut muncul dengan melibatkan penafsir yang mempunyai premis tertentu sehingga menyimpulkan pemaknaan atas arak-arakan maka posisinya sebagai argument.

Arak penja menyimbolkan mengenang Husain. Hal tersebut di wujudkan dalam bentuk arak-arakan. Mengenang Husain dalam mensyiarkan the pilar of Islam merupakan interpretant, yang menjadi representament adalah arak-arakan, sedangkan yang merupakan object adalah arak penja. Hubungan antara representament dan object adalah symbol.

477Person Pesona Renta, ‚Tabot Upacara Tradisi Masyarakat Pesisir Bengkulu.‛ Jurnal Sabda, No. 6, Vol. 1, (April 2011):51.

97 Bagan 4.6 Trikotomi Peirce pada prosesi arak seroban

- Simbol Arak Seroban

Arak Seroban dilaksanakan pada tanggal 8 malam ke 9 Muharram, yakni mempersiapkan Seroban untuk diarak bersama-sama Penja (Jari-Jari) pada malam harinya. Arak seroban (mengarak sorban) atau disebut juga malam coki bersanding merupakan acara mengarak Penja ditambah dengan serban (sorban) putih dan diletakkan pada tabut coki (tabut kecil). Tabut coki ini dilengkapi dengan bendera/panji berwarna putih dan hijau atau biru yang bertuliskan nama ‚Hasan dan Husain‛ dengan kaligrafi Arab yang indah. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk menjunjung tinggi kehormatan, kesucian, dan kebesaran Husein.478 Sebagian lagi memaknai Arak seroban sebagai simbolisasi bahwa sorban Husain telah ditemukan.

Arak Seroban sarat akan simbolisasi keislaman, di antaranya sorban atau seroban yang melambangkan ajaran Islam, bahwa setiap pengikut Tabut hendaklah memandang bahwa ajaran Islam harus dijunjung tinggi, dipedomani dan dipatuhi. Selain itu, bendera panji mengandung arti kemenangan, untuk itu setiap pasukan memiliki bendera panji yang senantiasa harus selalu ditegakkan, karena jika bendera tersebut jatuh atau direbut lawan maka berarti pasukan tersebut dinyatakan kalah. Sedangkan bendera berwarna hitam/biru dan hijau merupakan perlambangan dari bendera Syi’ah dan bendera berwarna putih perlambangan dari perdamaian.479

Berdasarkan teori semiotik dari Peirce, trikotomi dalam prosesi arak seroban