Konsep komunikasi atas dasar yang menyatukan tradisi semiotik adalah tanda yang merupakan dasar bagi semua komunikasi. Tanda merupakan suatu stimulus yang mengacu pada sesuatu selain dirinya, sedangkan makna merupakan hubungan antara objek atau ide dengan tanda. Kedua konsep tersebut menyatu dalam berbagai teori komunikasi, khususnya teori komunikasi yang memberikan perhatian pada simbol. Atas dasar pemahaman tersebut, semiotik merupakan teori yang menjelaskan bagaimana tanda dihubungkan dengan makna, serta bagaimana tanda tersebut diorganisasikan.192
Sebagai sumber semiotik, kebudayaan mempunyai jaringan sistem makna. Kebudayaan dari suatu kelompok sosial memiliki nilai dan norma kultural yang didapatkan melalui warisan nenek moyang mereka dan juga bisa juga melalui kontak sosio-kultural dengan kelompok sosial lainnya.
188Buyung Pambudi, ‚Semiotika Karapan Sapi dan Transformasi Simbolik Masyarakat Madura.‛ Jurnal Komunikasi Islam, Vol. 05, No. 01, (Juni 2015): 117.
189Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, 35.
190Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 11-16.
191Kurniawan, Semiologi Roland Barthes, 53.
192Bambang Mudjiyanto dan Emilsyah Nur, ‚Semiotik Introduction to Communication Studies dalam Penelitian Komunikasi.‛ Jurnal Pekommas, Vol. 16, No. 1 (April 2013): 74.
39 konsep yang digunakan dalam mengkaji budaya yang ada dan berkembang di masyarakat adalah konsep struktur, sistem, relasi, representasi dan signifikasi.193
Untuk dapat mengetahui hubungan antara simbol dan budaya, harus pula memahami proses komunikasi secara keseluruhan.194 Yang harus dipahami pula bahwa hal yang penting dalam proses komunikasi bukan hanya sekedar proses pertukaran informasi (dalam hal ini adalah simbol) namun makna di balik simbol tersebut.195
Tanda dalam tradisi semiotik bukan hanya sekedar refleksi atas realitas, namun juga membentuk persepsi manusia. Karena bagaimana pun, tanda dapat mewakili objek, ide, situasi, keadaan, perasaan dan sebagainya yang berada di luar diri.196 Teori semiotik menunjukkan bahwa tidak ada batas yang jelas antara sesuatu yang nyata dan yang dibayangkan karena keduanya saling memengaruhi satu sama lain. Dalam beberapa hal, semiotik berguna untuk memikirkan kembali aktifitas sosial dari proses produksi makna.197
Teori struktural (
بىولسأ
) merupakan akar yang menjadi bagian dari teori semiotik. Hal ini terlihat pada struktur sosial ataupun psikologi manusia menentukan kelompok sosial secara menyeluruh. Serta, makna akan dapat dipahami hanya dalam struktur yang sistematis dan perbedaan budaya.198Menurut Lévi-Strauss yang merupakan antropolog strukturalis, menekankan pentingnya oposisi biner dalam mengkaji fenomena budaya seperti mitos, ritual, hubungan kekerabatan, totemisme, dan sebagainya.199 Oposisi biner merupakan oposisi penataan dalam sistem mitos atau bahasa. Hal ini berfungsi sebagai batas atau perbedaan dalam budaya yang biasanya memiliki nilai berbeda.200 Teori strukturalisme Lévi-Strauss memiliki kekuatan dalam merenik relasi-relasi yang logis, merunut ketertataan (order) serta keteraturan (regularities), dan memunculkan oposisi-oposisi yang relevan dalam menangkap struktur yang terdapat dalam suatu ritual.201
Strukturalis menekankan bahwa oposisi berfungsi untuk menjelaskan semiotik, karena tanda dapat dipahami secara utuh hanya dengan mengacu pada
193Robi Panggara, ‚Konflik Kebudayaan Menurut Teori Lewis Alfred Coser dan Relevansinya dalam Upacara Pemakaman (Rambu Solo’) di Tana Toraja.‛ Jurnal
Jaffray, Vol. 12, No. 2, (Oktober 2014): 60.
194James Lull, Culture in Communication Age (London: Routledge, 2001), 3.
195Ibrahim, ‚’Makna’ dalam Komunikasi.‛ Jurnal Al-Hikmah Vol. 9, No. 1 (2015): 21.
196Bambang Mudjiyanto dan Emilsyah Nur, ‚Semiotika dalam Penelitian Komunikasi,‛ 73.
197Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 23-24.
198Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 19.
199Kris Budiman, Jejaring Tanda-Tanda Strukturalisme dan Semiotik dalam Kritik Kebudayaan (Magelang: Penerbit Indonesia Tera, 2004), 11-12.
200Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 19.
201Bustanuddin Lubis (ed), Mitologi Nusantara Penerapan Teori (Bengkulu: Quiksi, 2011), 188.
40
perbedaannya dengan tanda yang lain dalam sistem tertentu.202 Karena pada dasarnya teori strukturalis merupakan cara berpikir tentang dunia yang secara khusus memperhatikan persepsi dan deskripsi mengenai struktur.203 Penekanan strukturalis berada pada oposisi membantu menjelaskan semiotika bahwa tanda-tanda selain dapat dipahami dengan mengacu pada perbedaan dari tanda-tanda-tanda-tanda lain dalam sistem atau kode tertentu,204 juga melalui struktur tanda dalam komposisi sensorik, emosional, dan intelektual manusia.205
Menurut Gill Branston dan Roy Stafford, dua hal yang harus diperhatikan dalam memahami strukturalisme sebagai bagian dari pemaknaan (meaning) yaitu strukturalisme berpendapat seluruh organisasi manusia ditentukan oleh struktur sosial atau psikologis individu. Selain itu, strukturalisme berpendapat bahwa makna suatu tanda tidak dapat dipahami kecuali dalam struktur yang sistematis, yang memiliki ciri atau perbedaan yang lahir secara alamiah.206
Menurut Lévi-Strauss, pendekatan struktural dapat menjadi solusi untuk dapat menyatukan pengalaman dan pemikiran manusia. Pendekatan struktural memfokuskan pada pencarian ragam dalam sebuah struktur untuk kemudian membandingkannya.207 Strukturalisme memandang segala fenomena kultural sebagai suatu sistem yang harus didahului dengan penjelasan perbedaan dikotomis antara langue dan parole. Adapun langkah operasional dalam analisis strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebagai berikut:208
1. Menetapkan fenomena yang dikaji sebagai suatu relasi di antara dua terma atau lebih, baik yang nyata maupun yang diandaikan.
2. Mengonstruk sebuah tabel permutasi-permutasi yang mungkin di antara terma-terma yang sudah ditetapkan.
3. Memperlakukan tabel yang telah dibuat sebagi objek analisis umum yang mampu menghasilkan hubungan-hubungan yang niscaya.
Struktur budaya dipandang sebagai sesuatu yang menyatukan masyarakat.209 Strukturalisme adalah aliran pemikiran yang mencari struktur terdalam dari realitas yang tampak kacau dan beraneka ragam di permukaan secara ilmiah (objektif, ketat, dan berjarak). Pendekatan strukturalisme atas
202Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 21
203Kris Budiman, Jejaring Tanda-Tanda Strukturalisme dan Semiotik dalam Kritik Kebudayaan (Magelang: Penerbit Indonesia Tera, 2004), 11-12.
204Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi III, 9-23.
205Thomas A Sebeok, Signs: An Introduction to Semiotics Ed. II (Toronto: University of Toronto Press, 2001), 5.
206Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi III, 9-23.
207Claude Lévi-Strauss, Myth and Meaning (London & New York: Routledge, 2001), 2.
208Kris Budiman, Jejaring Tanda-Tanda Strukturalisme dan Semiotik dalam Kritik Kebudayaan (Magelang: Penerbit Indonesia Tera, 2004), 62-69.
209Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (ed), Teori-Teori Kebudayaan
41 kebudayaan berfokus pada pengidentifikasian unsur-unsur yang bersesuaian dan bagaimana cara unsur-unsur itu diorganisasi untuk menyampaikan pesan.
Menurut Lévi-Strauss, langue milik waktu yang dapat diubah, sedangkan parole milik waktu yang tidak dapat diubah. Namun mitos dapat didefinisikan sebagai sistem temporal, yang menggabungkan sifat keduanya.210
Itu mengapa mitos berfungsi seperti sejarah, yaitu untuk mendekatkan masa lalu dengan situasi saat ini.211 Dengan demikian, mitos bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan dengan sejarah dan realitas sosial karena adanya perbedaan makna antara konsep keduanya.212 Setiap konsep mitos mengalami perbedaan antara satu tempat dengan tempat lainnya dan tidak selalu relevan terhadap sejarah ataupun realitas.213 Karena salah satu ciri mitos adalah memiliki kebenaran yang tidak penting.214
Sifat universal tindakan kognitif manusia menjadi pusat perhatian dalam pemikiran Lévi-Strauss. Apapun variabel-variabel yang bersifat konstan mengenai bentuk-bentuk kebudayaan manusia di seluruh tempat (synchronic) dan di sepanjang zaman (diachronic), variabel-variabel itu menegaskan bahwa pikiran manusia selalu berfungsi dengan cara yang sama. Tindakan sosial dalam formasi, reproduksi dan juga adaptasi budaya aktual, menjadi tujuan-tujuan analisis strukturalisme, suatu manifestasi permukaan dari serangkaian pola-pola utama yang terinternalisasi secara mendalam pada level kognisi strukturalisme yang mendalam. Budaya-budaya tertentu, kemudian merupakan transformasi spesifik secara sosio-historis suatu sistem aturan yang tidak disadari, bersifat universal dan imanen (tetap bertahan dalam diri manusia itu sendiri). Determinisme ini tersebar melalui spesifikasi-spesifikasi dalam suatu transformasi.215
210Claude Lévi-Strauss, Anthropologie Structurale (Paris: Pocket, 2016), 239.
211Claude Lévi-Strauss, Myth and Meaning (London dan New York: Routledge Classics, 2001), 18.
212Naila Nilofar, ‚Perbandingan Mitos Sangkuriang dan Mitos Pangeran Butoseno Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss.‛ Jurnal Bebasan, Vol. 4, No. 1, (Juni 2017): 27.
213Rosita Armah, Akhmad Murtadlo, Syamsul Rijal, ‚Mitos dan Cerita Rakyat Kutai Baung Putih di Muara Kaman: Kajian Strukturalisme.‛ Jurnal Ilmu Budaya, Vol. 1, No. 1, (April 2017): 152-153.
214Agus Sugiharto dan Ken Widyawati, ‚Legenda Curug 7 Bidadari (Kajian Strukturalis Lévi-Strauss).‛ Jurnal Suluk, Vol. 1, No. 2, (2012): 8.
215Robi Panggara, ‚Konflik Kebudayaan Menurut Teori Lewis Alfred Coser dan Relevansinya dalam Upacara Pemakaman (Rambu Solo’) di Tana Toraja.‛ Jurnal
Jaffray, Vol. 12, No. 2, (Oktober 2014): 63. Transformasi menurut Kuntowijoyo adalah konsep ilmiah atau alat analisis untuk memahami dunia. Karena dengan memahami perubahan setidaknya dua kondisi atau keadaan yang dapat diketahui yakni keadaan pra perubahan dan keadaan pasca perubahan. Transformasi merupakan perpindahan atau pergeseran suatu hal ke arah yang lain atau baru tanpa mengubah struktur yang terkandung didalamnya, meskipun dalam bentuknya yang baru telah mengalami perubahan. Lihat Rasid Yunus, ‚Transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai upaya
42
Analisis strukturalisme melihat budaya sebagai struktur yang diartikan sebagai bangunan teoritis yang terdiri dari unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain dalam hubungan sintagmatis dan paradigmatik. Relasi dan pengombinasian (rule of combination) tanda itulah yang disebut sintagmatis dan paradigmatis. Hubungan paradigmatis atau vertikal adalah relasi berbagai tanda yang memiliki kesamaan dalam distribusi. Relasi paradigmatis didasarkan pada keberbedaan dan keseleksian (distinctiveness and selectability). Relasi sintagmatis adalah relasi tanda-tanda yang sesuai dengan konsep yang diinginkan oleh manusia untuk dibentuk menjadi sesuatu yang bernilai. Sintagmatis dibentuk berdasarkan prinsip kombinasi dan organisasi (combination and organization).216
Lévi-Strauss melihat budaya sebagai sistem simbolik yang dimiliki bersama, dan ciptaan pikiran (creation of mind) secara kumulatif. Pikiran (mind) memaksakan tatanan yang terpola secara kultural (oposisi biner) pada suatu dunia yang terus menerus berubah.217 Lévi-Strauss menjelaskan bahwa struktur sebagai suatu sistem yang terdiri dari unsur-unsur yang dapat berubah. Perubahan dalam satu unsur akan menyebabkan perubahan struktur secara keseluruhan. Maka dalam teori strukturalisme, keterkaitan satu unsur dengan unsur yang lain menjadi hal terpenting dalam membentuk makna.218
Setidaknya terdapat lima pandangan Saussure yang kemudian menjadi dasar pemikiran strukturalisme Lévi-Strauss, yakni pandangan tentang
1. Signified (petanda) dan signifier (petanda) 2. Form (bentuk) dan content (isi)
3. Langue (bahasa) dan parole (tuturan/ujaran) 4. Synchronic (sinkronis) dan diachronic (diakronik)
5. Syntagmatic (sintagmatis) dan associative (paradigmatik)
Atas dasar kelima pandangan tersebut, Lévi-Strauss kemudian mengasosiasikannya dengan konsep pemikirannya tentang hakikat dan ciri-ciri fenomena budaya. Sementara itu, Jakobson dengan teori fonemnya memberikan pelajaran kepada Lévi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tataran (order) yang ada dibalik fenomena budaya yang begitu variatif serta mudah menyesatkan upaya manusia untuk memahaminya.219
Konsep strukturalisme Lévi-Strauss, struktur dan transformasi merupakan konsep yang tidak boleh diabaikan. Konsep struktur didefinisikan Lévi-Strauss sebagai model yang dibuat ahli antropologi untuk memahami dan pembangunan karakter bangsa.‛ Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 13, No.1, (2016): 69-70.
216Saefu Zaman, ‚Pemaknaan Ruang pada Masjid Kubah Emas: Kajian Semiotik Ruang.‛ Paradigma Jurnal Kajian Budaya, Vol. 7, No. 2, (2017), 175.
217Roger Keesing, ‚Teori-Teori tentang Budaya.‛ Jurnal Antropologi Indonesia, (2014): 10.
218Buyung Pambudi, ‚Semiotika Karapan Sapi dan Transformasi Simbolik Masyarakat Madura.‛ Jurnal Komunikasi Islam, Vol. 05, No. 01, (Juni 2015): 186.
43 menjelaskan segala kebudayaan yang dianalisisnya, yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri. Model ini merupakan relasi-relasi yang berhubungan antara satu dan yang lainnya atau saling memengaruhi. Dengan kata lain, struktur adalah relations of relations (relasi dari relasi) atau system of relations.220
Menurut Lane dan Leach seperti yang dikutib Bustanuddin Lubis, ada empat asumsi dasar yang penting untuk diperhatikan dalam paradigma strukturalisme yang dikembangkan Lévi-Strauss, antara lain:221
1. Strukturalisme berpendapat bahwa aktivitas sosial, salah satunya adalah ritual dipahami sebagai bahasa karena di dalamnya terdapat tanda yang menyampaikan pesan-pesan tertentu. Kondisi tersebut memunculkan ketertataan (order) serta keteraturan (regularities).
2. Dalam strukturalisme percaya bahwa secara genetis dalam diri individu terdapat kemampuan untuk menstrukturkan ataupun meletakkan suatu struktur pada gejala-gejala yang dihadapi.
3. Makna dalam suatu tanda ditentukan berdasarkan hubungannya pada waktu tertentu. Artinya, hubungan suatu fenomena budaya dengan fenomena yang lain pada satu titik tertentu yang menentukan makna fenomena tersebut.
4. Suatu istilah ditentukan maknanya berdasarkan relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu, yaitu secara sinkronis, dengan istilah-istilah yang lain. Relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Jadi relasi sinkronis nyalah yang menentukan, bukan relasi diakronis. Artinya, sebelum perkembangan suatu sistem tersebut secara diakronis diketahui, kondisi sinkronisnya dengan fenomena yang lain dalam satu titik waktu tertentu harus diketahui lebih dahulu.
Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai keutuhan tunggal dari berbagai unsur, baik berupa pengetahuan atau sistem ide. Unsur-unsur tersebut memiliki aspek atau perspektif yang sama dengan objek dalam komunikasi. Karena itu, penerapan model linguistik kebudayaan merupakan sebuah alternatif untuk mengungkapkan maknanya, baik secara etik maupun emik.222
Menurut Edmund Leach, ritual keagamaan dalam suatu budaya selalu memiliki dua gagasan yaitu gagasan mental dan gagasan material yang saling bergantung satu sama lain. Kedua gagasan tersebut pada akhirnya kemudian memunculkan ide representasi terhadap ritual keagamaan.223 Untuk itu
220Bustanuddin Lubis (ed), Mitologi Nusantara Penerapan Teori, 188-189.
221Bustanuddin Lubis (ed), Mitologi Nusantara Penerapan Teori, 189-190.
222Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006), 69.
223Edmund Leach, Culture and Communication; The Logic by which Symbols are Connected (Melbourne: Cambridge University Press, 2003), 37.
44
diperlukan analisis guna menemukan makna yang paling fundamental dari sebuah ritual.
Secara umum, benturan budaya terjadi di antaranya karena perbedaan identitas dan wilayah. Namun menurut Samuel Huntington, benturan budaya terjadi bukan hanya beberapa hal di atas. Situasi tersebut dapat juga disebabkan oleh kondisi sosial-politik. Penyebabnya dikarenakan budaya selalu mengalami tekanan yang berakibat pada pertentangan, reinterpretasi, manipulasi, perampasan, kekuasaan, dan penolakan.224
Dengan mengembangkan teori tanda Saussure, Barthes menjelaskan bagaimana kehidupan manusia didominasi oleh konotasi. Konotasi (
ةموهفم
) merupakan pengembangan segi petanda (makna atau isi suatu tanda) oleh pemakai tanda sesuai dengan sudut pandangnya. Konotasi yang sudah menguasai masyarakat akan menjadi mitos. Barthes mencoba menguraikan bahwa kejadian keseharian dalam kebudayaan kelompok sosial menjadi seperti ‚wajar,‛ padahal itu mitos belaka akibat konotasi yang menjadi mantap di masyarakat. Konotasi yakni perluasan petanda oleh pemakai tanda dalam kebudayaan.225Makna denotasi (
ةبوتكم
) dari tanda merupakan makna yang menunjukkan perbedaan aspek dari pengalaman manusia atau dunia. Gill Branston memberi contoh: kata ‚merah‛ menunjukkan salah satu bagian dari spektrum cahaya yang memiliki makna denotasi darah, api, sunset, dan rona pipi.226 Menurut Gill Branston dan Roy Stafford, setiap manusia mempunyai makna konotasi yang berbeda dari tanda. Tergantung pada konsep budaya dan nilai, yang di dalamnya terdapat ingatan, pengalaman, dan pengetahuan sejarah setiap manusia.227Sebagai contoh: kata ‚merah‛ memiliki makna konotasi (karena pengaruh budaya) nafsu/keinginan, ataupun bahaya. Menurut mereka, tanda selalu memberikan denotasi berupa aspek yang berbeda dari pengalaman manusia. Selain itu, tanda juga selalu mengonotasikan atau menghubungkan sesuatu berdasarkan konvensi sosial atau berdasarkan pemaknaan dari pengalam pribadi.228
Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan didalam kamus. Makna konotatif ialah makna denotatif ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan perasaan yang ditimbulkan oleh suatu kata. Kata
224‚Introduction: Remoulding the 'Cultural' as The 'Contentious',‛ dalam Bernard Bel, Jan Brouwer, Biswajit Das, Vibodh Parthasarathi, Guy Poitevin,
Communication Processes Volume 3 Communication Culture and Confrontation (India: Sage Publications India, 2010), 18.
225Hiqma Nur Agustina, ‚Pembantu Dan Pelacur: Sebuah Tinjauan Budaya‛ Jurnal Parafrase Vol. 16 No. 01, (Mei 2016): 60-61. (diakses 14 Maret 2017)
226Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 21-22
227Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, edisi V, 22.
45 konotasi itu sendiri berasal dari bahasa Latin connotare, ‚menjadi tanda‛ dan mengarah kepada makna-makna kultural yang terpisah/berbeda dengan kata (dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi). Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran petanda. Jika denotasi sebuah kata adalah definisi objektif kata tersebut, maka konotasi sebuah kata adalah makna subjektif atau emosionalnya. Ini sejalan dengan pendapat Arthur Asa Berger yang menyatakan bahwa kata konotasi melibatkan simbol-simbol, historis, dan hal-hal yang berhubugan dengan emosional. Dikatakan objektif sebab makna denotative ini berlaku umum. Sebaliknya makna konotatif bersifat subjektif dalam pengertian bahwa pergeseran dari makna umum (denotative) karena sudah ada penambahan rasa dan nilai tertentu.229
Konotasi atau makna konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluative. Makna konotatif merupakan suatu jenis makna di mana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif dipengaruhi oleh dua lingkungan, yaitu lingkungan tekstual dan lingkungan budaya. Pada dasarya konotasi timbul disebabkan masalah hubungan sosial atau hubungan interpersonal yang mempertalikan kita dengan orang lain.230
Menurut Barthes, mitos memiliki tridimensional yang terdiri dari signifier, signified, dan sign. Namun mitos dibentuk berdasarkan tingkat kedua penandaan, setelah terbentuk sistem signifier, signified, dan sign. Tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru.231 Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna denotasi kemudian berkembang menjadi makna konotasi, maka makna konotasi tersebut akan menjadi mitos. Sehingga makna yang terus diulang-ulang akan menjadi mitos dalam masyarakat.232 Mitos menurut Barthes, digunakan untuk mengonstruksi sistem penanda sesuai dengan proses yang berlaku dalam
229Amri Marzali, ‚Struktural-Fungsionalisme.‛ 262-265.
230Amri Marzali, ‚Struktural-Fungsionalisme.‛ 266.
231Roland Barthes, Mythologies (Paris: Editions Point, 2014), 218
232Tanty Dwi Lestari, I Dewa Ayu Sugiarica Joni, Ni Luh Ramaswati Purnawan, ‚Makna Simbol Komunikasi dalam Upacara Adat Keboan di Desa Aliyan Kabupaten Banyuwangi.‛ E-Jurnal Medium, Vol. 1, No. 1, (2017): 9.
46
aktivitas strukturalisme.233 Mitos merupakan produk kelas sosial yang mencapai dominasi melalui sejarah tertentu.234
Barthes menjelaskan bahwa mitos bukan objek, konsep, atau ide namun merupakan sistem komunikasi suatu pesan. Maka dapat dikatakan bahwa mitos adalah mode pemaknaan dan perwujudan bentuk yang ditempatkan dalam batas sejarah, syarat penggunaan, dan tersimpan dalam masyarakat. Barthes bahkan membuat kesimpulan besar bahwa segala sesuatu yang berada di dunia ini adalah mitos karena setiap objek di dunia akan melewati fase keberadaan, tertutup, diam, lalu diucapkan, terbuka dan bermanfaat sesuai kebutuhan masyarakat karena tidak ada satu individu pun yang dapat melarang individu lain untuk memaknai sesuatu.235
Manusia adalah makhluk yang selalu mencari makna dari berbagai hal yang ada di sekitarnya,236 maka menurut Littlejohn, tanda memiliki konstruksi makna yang dipengaruhi oleh nilai ideologis dan kultural masyarakat sebagai pengguna tanda tersebut.237 Adapun maknanya dapat berubah ketika konteks komunikasi dilakukan pada tempat yang berbeda. Melalui konteksnya, teks dapat mempertahankan pemaknaan secara ‚objektif‛ pada konteksnya.238 Selain konteks proses pemaknaan juga dipengaruhi oleh representasi dan signifikansi. Konsep representasi merupakan tindakan menghadirkan atau mempresentasikan sesuatu lewat sesuatu yang lain di luar dirinya melalui tanda. Sedangkan signifikasi merupakan suatu proses yang memadukan penanda atau petanda sehingga menghasilkan tanda.239
Menurut Kaelan, interpretasi memiliki tiga peran, yakni sebagai metode pengungkapan, sebagai metode menerangkan, dan sebagai metode menerjemahkan. Artinya, interpretasi menjadi perantara pesan yang termuat
233Herlika Fransisca Wijaya dan Rustono Farady Marta, ‚Mitologi Budaya pada Gelang Duka Cita sebagai Atribut Upacara Kematian dalam Tradisi Tionghoa Bangka dan Cina Benteng (Tinjauan Semiologi Barthes terhadap Makna Tanda pada Tradisi dan Mitos Leluhur Peranakan Tionghoa Indonesia.‛ Jurnal Semiotika, Vol. 9, No. 1, (Juni 2015): 228.
234Nabila Putri Aldira, ‚Representasi Nilai-Nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam Film Tabula Rasa (Analisis Semiotika Roland Barthes).‛ Jurnal Jom Fisip, Vol. 5, No. 1, (April 2017): 5.
235Roland Barthes, Mythologies (Paris: Editions Point, 2014), 229-230.
236Hiqma Nur Agustina, ‚Pembantu Dan Pelacur: Sebuah Tinjauan Budaya.‛ 59.
237Sinung Utami Hasri Habsari, ‚Membaca Simbol-Simbol Komunikasi dan Budaya pada Bangunan Cagar Budaya dengan Analisa Semiotika Roland Barthes.‛ 161.
238I Wayan Ardhi Wirawan, ‚Komunikasi Ritual dalam Praktik Beragama Hindu Sebagai Perangka Penguatan Identitas Budaya dan Peradaban Bangsa.‛ Jurnal
Sadharanikaran, Vol. 1, No. 1, (Mei 2015): 6.
239Hiqma Nur Agustina, ‚Pembantu Dan Pelacur: Sebuah Tinjauan Budaya,‛ 61.
47 dalam realitas agar lebih mudah untuk dipahami240 Interpretasi berarti menafsirkan kenyataan objektif dengan memahami makna dari berbagai pranata sosial, menjelaskan hakikat serta hubungan kausalitasnya tanpa meninggalkan pengamatan makna historis dan dampaknya bagi individu.241
Budaya menjadi penting untuk dimaknai karena di dalamnya selalu memiliki keterkaitan yang erat dengan realitas suatu kelompok sosial yang plural. Pada akhirnya, makna budaya pun tidak mungkin bersifat tunggal atau absolute. Hal tersebut disebabkan oleh keragaman interpretasi suatu kelompok sosial dalam memaknai satu budaya.
240Buyung Pambudi, ‚Semiotika Karapan Sapi dan Transformasi Simbolik Masyarakat Madura.‛ Jurnal Komunikasi Islam, Vol. 05, No. 01, (Juni 2015): 117.
241Irfan Noor, Agama sebagai Universum Simbolik; Kajian Filosofis Pemikiran Peter L. Berger (Yogyakarta: Pustaka Prisma, 2010), 11.
49 BAB III
TABUT DAN MAKNA BUDAYA A. Interaksi Islam dan Budaya di Indonesia
Kebudayaan senantiasa berubah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia. Perkembangan pemikiran manusia menyebabkan perkembangan budaya. Semua kebudayaan adalah hasil belajar dan bukan warisan biologis.