• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Realitas Tabut: antara Ritual dan Komoditas Wisata

Menurut Feener, perkembangan tradisi Tabut memiliki beberapa masalah yang terkait dengan implikasi signifikan bagi identitas komunitas lokal dan elaborasi budaya politik Orde Baru402 di Indonesia.403 Tabut merupakan tradisi yang dikembangkan dalam rangka memberikan gambaran atas masyarakat Bengkulu sehingga tradisi tersebut mengalami berubahan baik bentuk maupun isi.404 Tabut lebih sering ditekankan pada aspek budaya lokal sebagai perwujudan dari kekayaan Nasional daripada tradisi yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.405

Sejak 1990, upacara ini dijadikan agenda wisata Kota Bengkulu, yang lebih dikenal sebagai Festival Tabut.406

Pada masa Orde Baru, Tabut dipisahkan dari nilai-nilai yang bersifat religius. Hal tersebut dikatakan oleh Gubernur Bengkulu Razie Jachya pada tahun 1992 bahwa Tabut tidak dicampuradukkan dengan agama karena Tabut bukan upacara keagamaan hanya sebagai pelestarian budaya lokal.407 Menurut Rustam, dalam memaknai Tabut haruslah dipandang sebagai budaya yang berdiri sendiri tanpa unsur religius didalamnya. Hal tersebut dikarenakan jika ritual Tabut dimaknai dalam konteks budaya dan agama sekaligus hanya memunculkan sifat syirik dari ritual tersebut.408 Hal tersebut sejalan dengan pendapat Binsar yang mengatakan bahwa Tabut memiliki ritual khusus yang cukup dipandang sebagai ritual budaya, bukan sebagai ritual agama.409

401Wawancara, Achmad Syiafril Syahboeddin, Ketua KKT, 13 Juli 2017.

402Menurut Buyung Asril, Tabut Pembangunan pada masa Orde Baru berfungsi untuk menampilkan kesuksesan pembangunan dalam pameran pembangunan. Wawancara, Buyung Asril, PNS, 07 Juli 2017. Lebih lanjut menurut Irwan Abdullah, pengingkaran terhadap status kebudayaan yang beragam itu dapat menjauhkan dari sifat Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini sudah pemah diterapkan (pada masa pemerintahan Orde Baru) dengan menerapkan ideologi pembangunan yang mementingkan homogenitas, yang dengan prakondisi ini diharapkan pembangunan akan berlangsung dengan baik. Namun faktanya, pengingkaran terhadap keragaman budaya itu justru menimbulkan berbagai instabilitas sosial-budaya, politik, ekonomi dan keamanan di masyarakat. Lihat Sirajuddin M, ‚Urf dan Budaya Tabot Bengkulu.‛ Jurnal Millah, Vol. XI, No. 2, (Februari 2012): 581-582.

403Michael Feener, ‚Tabut: Muharram Observances in the History of Bengkulu.‛ 105.

404Michael Feener, ‚Tabut: Muharram Observances in the History of Bengkulu.‛ 109.

405Michael Feener, ‚Tabut: Muharram Observances in the History of Bengkulu.‛ 110.

406Endang Rochmiatun, ‚Tradisi Tabot pada Bulan Muharram di Bengkulu: Paradigma Dekonstruksi.‛ 49-50.

407Michael Feener, ‚Tabut: Muharram Observances in the History of Bengkulu.‛ 109.

408Wawancara, Rustam Effendi, pengurus Ketua I KKT, 24 Juli 2017.

80

Ritual Tabut dikatakan mengalami desakan dari otonomi daerah, pariwisata, dan otoritas pemerintahan. Karena pandangan terhadap bentuk, fungsi, serta makna dari ritual Tabut di Bengkulu hanya menggunakan makna tunggal bukan makna majemuk. Seharusnya ritual Tabut dapat ditafsirkan berbeda-beda sesuai tempat dan waktu yang berlainan karena bagaimanapun Tabut selalu memuat sifat-sifat dan makna yang berakar pada konteks sosio-kultural.410

Fenomena sosial budaya lainnya adalah kuatnya kecenderungan pergeseran ritual Tabut dari ritual sakral ke seni pertunjukkan yang dikategorikan sebagai pseudoritual yang bercirikan/ditandai oleh adanya distorsi nilai-nilai ritual. Seiring dengan itu muncullah tontonan yang bersifat (semi) sekuler, di satu sisi aspek ritualnya mulai tergerus, tetapi di sisi lain ia belum bisa dikategorikan sebagai seni yang komersial.411 Meski begitu, hal tersebut dapat dipahami ketika definisi kebudayaan ketika diperluas untuk mencakup industri budaya (termasuk pariwisata) menjadi sarana untuk menghasilkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja serta alat bagi masyarakat membangun dan meningkatkan kualitas hidup rakyat.412

Sementara itu menurut Rustam, pemerintah mendukung pelestarian Tabut sebagai komoditas budaya. Pada mulanya, Tabut sakral dan Tabut Pembangunan berada dalam satu naungan yang sama yaitu Kerukunan Keluarga Tabut (KKT). Keluarga Kerukunan Tabut dibentuk pada tahun 1993 oleh para tokoh-tokoh Tabut. Ide itu sudah muncul sejak awal tahun 1991, ketika para perwakian dari Provinsi Bengkulu diundang ke Jakarta untuk menampilkan seni budaya yang dimiliki, saat itu Bengkulu menampilkan Tabut dengan alat musik Dol.413

Namun, sejak Desember 2015 Tabut terpecah menjadi dua,414 Tabut sakral yang dikelolah oleh KKT dan Tabut Pembangunan yang dikelolah oleh Kerukunan Tabut Budaya (Ketab) karena keduanya mempunyai visi dan misi yang berbeda dalam memandang Tabut. Hal tersebut juga dikarenakan isu yang berkembang jika dalam melaksanakan kegiatan ritual Tabut, pengikut Tabut menggunakan dana swadaya masyarakat, yang tidak dibenarkan oleh pemerintah.415

Menurut Nelly, bahwa kemunculan Tabut Pembangunan berawal dari permasalahan yang terjadi antara pengikut Tabut itu sendiri, mereka yang masing-masing mengklaim sebagai keturunan dari Syech Burhannudin (Imam Senggolo) ingin menjadi pelaksana dari ritual Tabut karena dengan demikian

410Endang Rochmatun, ‚Tradisi Tabot pada Bulan Muharram di Bengkulu Paradigma Dekonstruksi.‛ 50.

411Harapandi Dahri, Tabot Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu (Jakarta: Penerbit Citra, 2009), 51.

412Tod Jones, Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia Kebijakan Budaya Selama Abad ke-20 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), 28.

413Harapandi Dahri, Tabot Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu (Jakarta: Penerbit Citra, 2009), 101.

414Wawancara, Ahmad Syafril, Ketua KKT, 1 Agustus 2017.

81 mereka akan memperoleh bantuan dana dari pemerintah.416 Menurut ketua Kerukunan Tabut Budaya menjelaskan bahwa terpisahnya Tabut sakral yang berada dibawa naungan Keluarga Keturunan Tabut dengan Tabut pembangunan yang masuk dalam Kerukunan Tabut Budaya karena adanya indikasi syirik417

dalam ritual Tabut dan kuatnya aliran Syi’ah di dalamnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan yang akhirnya membuat mereka memisahkan diri. Kerukunan Tabut Budaya hanya menjalankan malam Tabut besanding dan Tabut tebuang.418

Secara umum Tabut pembangunan memiliki tujuan untuk membantu perekonomian masyarakat dengan diadakannya bazar selama kegiatan acara Tabut diselenggarakan. Pemerintah mengharapkan melalui bazar tersebut, masyarakat di luar Bengkulu akan berkunjung sehingga mengetahui tentang Bengkulu. Tabut pembangunan juga bertujuan untuk menggambarkan perkembangan pembangunan di Bengkulu.419 Tabut pembangunan di selenggarakan dalam bentuk festival Tabut karena pemerintah memandang Tabut sakral sebagai atraksi budaya.420

Salah satu yang menarik dari festival Tabut421 adalah adanya perlombaan telong-telong, yaitu patung-patung besar yang berbentuk ikan, macan, burung, ataupun bentuk-bentuk hewan lainnya. Menurut ketua KKT, dahulu patung-patung tersebut muncul untuk menyambut bulan Tabut. Kemunculannya juga sebagai simbolisasi bahwa seluruh mahluk hidup yang ada ikut berduka dan menangisi wafatnya Husein. Namun dalam perkembangannya, masyarakat Tiong Hoa ikut memeriahkan kegiatan Tabut sehingga muncullah telong-telong hingga saat ini.422

Pada tahun 1990-an pemerintah memiliki agenda pariwisata untuk setiap daerah. Tabut pembangunan terpilih menjadi even nasional.423 Kehadiran Tabut

416Nelly Marhayati, ‚Dinamika Kelompok Minoritas dalam Mempertahankan Tradisi Studi pada Keluarga Kerukunan Tabot di Bengkulu.‛ 20.

417Sebagian masyarakat ada yang beranggapan syirik karena adanya sesaji yang terdapat dalam ritual Tabut, selanjutnya seringnya terjadi kesurupan ketika prosesi ritual Tabut berlangsung. Walaupun didalam ritual Tabut juga ada doa-doa secara Islami, namun tetap saja ritual tersebut identik dengan pemujaan. Wawancara, Yanhar Hamedi, Masyarakat, 04 Juli 2017.

418Wawancara, Idramsyah, Ketua Kerukunan Tabut Budaya, 19 Juli 2017.

419Wawancara, Dihwanto, Pegawai Negeri Sipil, 13 Juli 2017.

420Wawancara, Buyung Asril, Pegawai Negeri Sipil, 07 Juli 2017.

421Acara festival Tabut berlangsung dari tanggal 2 Oktober sampai dengan 9 Oktober 2016, acara tersebut dilakukan di panggung utama yang berada berlokasi View Tower Bengkulu. Pembukaan acara festival Tabut 2016 di Kota Bengkulu bermacam acara diselenggarakan seperti lomba tari kreasi Tabut, lomba musik dhol, lomba tari Melayu, lomba tari permainan rakyat/ikan-ikan, lomba telong-telong (hiasan lampu dengan bentuk karakter) yang diikut kesenian Bengkulu dan masyarakat Bengkulu.

422Wawancara, Achmad Syiafril Syahboeddin, Ketua KKT, 13 Juli 2017.

82

pembangunan pada dasarnya untuk membedakan dengan Tabut sakral. Melalui Tabut pembangunan dapat memunculkan dinamika ekonomi, dinamika ukhuwah persaudaraan, dan penghargaan terhadap kearifan lokal.424

Eksistensi Tabut pembangunan tersebut, dapat dipahami dengan kearifan lokal dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945 yang menjelaskan bahwa usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan, adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusian bangsa.425

Menurut anggota KKT, Tabut pembangunan merupakan Tabut perhiasaan yang berfungsi untuk memeriahkan rangkaian kegiatan tersebut. Tabut pembangunan juga tidak melakukan ritual seperti Tabut sakral, sehingga bangunan Tabut tersebut dapat dibuang dimana saja ataupun disimpan dan digunakan kembali ketika kegiatan Tabut berikutnya.426 Dalam kegiatan Tabut pembangunan tidak hanya melibatkan Dinas Pariwisata tetapi juga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang berpartisipasi dalam melestarikan adat dan tradisi.427