• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Siswa-Siswi SMA "X" Bandung terhadap Penyakit HIV/AIDS Tahun 2016.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran Pengetahuan dan Sikap Siswa-Siswi SMA "X" Bandung terhadap Penyakit HIV/AIDS Tahun 2016."

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

iv

ABSTRAK

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA-SISWI

SMA “X” BANDUNG TERHADAP PENYAKIT HIV/AIDS

TAHUN 2016

Komang Soni Wicaksana, 2016

Pembimbing I : Sri Nadya S, dr., M.Kes Pembimbing II : Dani, dr., M.Kes

Latar belakang. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab sekumpulan gejala akibat hilangnya kekebalan tubuh yang disebut Aquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Pada akhir tahun 2011 terdapat 34 juta orang total kasus terinfeksi HIV di seluruh dunia, terdapat 2,5 juta kasus baru dan kematian 1,7 juta orang menurut World Health Organization (WHO).

63% remaja di Indonesia usia sekolah SMA sudah melakukan hubungan seksual. Remaja aktif secara seksual dan seringkali kekurangan informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi, sehingga mereka rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi seperti HIV/AIDS ( United Nations Populations Fund, 2000).

Tujuan. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap terhadap HIV/AIDS siswa-siswi SMA “X” Bandung.

Metode. Untuk penelitian ini menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif secara cross sectional study dengan menggunakan kuesioner.

Hasil. Dari hasil penelitian 586 siswa-siswi di SMA “X” Bandung tahun 2016, digambarkan bahwa tingkat pengetahuan mengenai HIV/AIDS terbanyak pada kategori cukup sebanyak 337 orang (57,51%) dan tingkat sikap siswa-siswi SMA “X” Bandung mengenai HIV/AIDS terbanyak pada kategori kurang sebanyak 264 orang (45.05%).

Simpulan. Gambaran tingkat pengetahuan siswa-siswi SMA “X” Bandung mengenai HIV/AIDS terbanyak pada kategori cukup dan tingkat sikap siswa-siswi SMA “X” Bandung mengenai HIV/AIDS terbanyak pada kategori kurang.

Kata kunci: pengetahuan, sikap, HIV/AIDS, remaja

(2)

v

ABSTRACT

DESCRIPTION OF KNOWLEDGE AND ATTITUDE OF

STUDENTS "X" SENIOR HIGHSCHOOL BANDUNG OF HIV /

AIDS IN 2016

Komang Soni Wicaksana, 2016

1st Tutor : Sri Nadya S, dr., M.Kes 2nd Tutor : Dani, dr., M.Kes

Background. Human Immunodeficiency Virus (HIV) is virus that attacks the immune system called Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). At the end of 2011 there were 34 million cases of HIV infection around the world, there were 2.5 million new cases and 1.7 million deaths according to World Health Organization (WHO).

63% of teenagers in Indonesia senior high school age already had sexual intercourse. Teens are sexually active and often lack basic information on reproductive health, and access to reproductive health services, leaving them vulnerable to reproductive health problems such as HIV / AIDS

Aim. To review the description of knowledge and attitude levels of students “X” Senior Highschool Bandung of HIV/AIDS ( United Nations Populations Fund, 2000).

Method. The method was descriptive using questionnaires.

Result. From 586 students the research can be drawn that the level of knowledge of students “X” Senior Highschool Bandung 2016 of HIV/AIDS in enough category as many as 337 people (57,51%) and the level of attitude of students “X” Senior Highschool Bandung of HIV/AIDS in low category as many as 264 people (45,05%).

Conclusion. The level of knowledge of students “X” Senior Highschool Bandung of HIV/AIDS im enough category and the level of attitude of students “X” Senior Highschool Bandung of HIV/AIDS in low category.

Keywords: knowledge, attitude, HIV/AIDS, adolescence

(3)

viii

1.2 Identifikasi Masalah ... 5

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah ... 5

1.4.1 Manfaat Akademis ... 5

1.4.2 Manfaat Praktis ... 5

1.5 Landasan Teori ... 5

BAB II ... 9

TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Pengetahuan ... 9

2.2 Domain Afektif (Sikap) ... 10

2.3 Definisi HIV/AIDS………...….12

2.4 Mekanisme Infeksi HIV………14

2.5 Cara Penularan………..14

2.6 Gejala Klinis………...15

(4)

ix

2.7 Pengobatan………19

2.8 Pencegahan………21

2.9 Prognosis………22

BAB III ... 23

BAHAN DAN METODE PENELITIAN ... 23

3.1 Bahan Penelitian ... 23

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23

3.2.1 Tempat Penelitian………..23

3.2.2 Waktu Penelitian………23

3.3 Prosedur Penelitian ... 23

3.4 Rancangan Penelitian ... 24

3.5 Prosedur Penarikan Sampel ... 24

3.6 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data ... 24

3.7 Pengolahan dan Analisis Data ... 25

3.8 Definisi Operasional ... 25

BAB IV ... 27

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27

4.1 Hasil Penelitian ... 27

4.1.1 Deskripsi Karakteristik Responden…...………27

4.1.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin...27

4.1.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia...………….28

4.1.4 Gambaran Pengetahuan Siswa-Siswi SMA "X" Bandung Terhadap HIV/AIDS……….….28

4.1.5 Gambaran Sikap Siswa-Siswi SMA "X" Bandung Terhadap HIV/AIDS……….….29

4.2 Pembahasan ... 29

4.2.1 Gambaran Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMA "X" Bandung…...29

4.2.2 Gambaran Tingkat Sikap Siswa-Siswi SMA "X" Bandung...…30

BAB V ... 32

SIMPULAN DAN SARAN ... 32

5.1 Simpulan ... 32

(5)

x

5.2 Saran ... 32

DAFTAR PUSTAKA ... 33

RIWAYAT HIDUP ... 51

(6)

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Stadium HIV/AIDS...19

Tabel 2.2 Pengobatan HIV/AIDS.………...19 Tabel 4.1.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis

Kelamin...……… 27 Tabel 4.1.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan

Usia...………...28 Tabel 4.1.4 Gambaran Pengetahuan Siswa-Siswi SMA “X” Bandung Terhadap

Penyakit HIV/AIDS………...28 Tabel 4.1.5 Gambaran Sikap Siswa-Siswi SMA “X” Bandung Terhadap Penyakit

HIV/AIDS...……… 29

(7)

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Pilihan Kombinasi Obat Lini Pertama...……… 20 Gambar 2.2 Pilihan Kombinasi Obat Lini Kedua...………. 20

(8)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Data Hasil Kuesioner Pengetahuan………... 39 Lampiran 2 Data Hasil Kuesioner Sikap... ………...……….. 41 Lampiran 3 Kuesioner Penelitian ………... 43 Lampiran 4 Surat Pernyataan Persetujuan untuk Ikut Serta dalam Penelitian

(Informed Consent) ...……….. 49 Lampiran 5 Surat Keputusan Komisi Etik Penelitian .………. 50

(9)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab sekumpulan

gejala akibat hilangnya kekebalan tubuh yang disebut Acquired

Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Infeksi HIV/AIDS adalah global pandemik,

dengan laporan tentang kasus diperoleh benar-benar dari semua negara. Menurut

the Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) pada akhir tahun

2011 terdapat 34 juta orang total kasus terinfeksi HIV di seluruh dunia, terdapat

2,5 juta kasus baru dan kematian 1,7 juta orang menurut World Health

Organization (WHO, HIV/AIDS, 2012). Pada tahun 2009 di Asia diperkirakan

terdapat 4,9 juta orang hidup dengan HIV dan 300 ribu orang meninggal karena

AIDS (UNAIDS, 2010)

Dari hasil analisis HIV dan AIDS di Amerika Serikat selama tahun

1981-2008, menunjukkan bahwa dalam 14 tahun pertama, jumlah diagnosis AIDS baru

dan kematian di usia lebih dari 13 tahun, didapatkan hasil tertinggi yaitu 75.457

kasus pada tahun 1992 dan 50.628 kasus pada tahun 1995. Dengan

diperkenalkannya terapi antiretroviral yang sangat aktif, diagnosis AIDS dan

kematian menurun secara substansial dari 1995-1998 dan tetap stabil 1999-2008

mencapai rata-rata 38.279 diagnosis AIDS dan 17.489 kematian per tahun. Pada

akhir 2008, 1.178.350 orang diperkirakan hidup dengan HIV, dan 236.400

(20,1%) infeksi yang tidak terdiagnosis (MMWR, 2011).

Infeksi HIV menjadi ancaman global serius. UNAIDS memperkirakan antara

34,1 dan 47,1 juta orang saat ini terinfeksi HIV di seluruh dunia, dengan 4,3 juta

infeksi baru setiap tahun. Dapat di perkirakan bahwa pada tahun 2020, penyakit

(10)

2

ini bisa mengakibatkan kematian lebih dari 125 juta orang. Asia Selatan dan Asia

Tenggara dan sub-Sahara Afrika telah paling tinggi infeksi HIV dan AIDS. Di

sub-Sahara Afrika, 25 juta orang hidup dengan HIV/AIDS (UNAIDS, 2006).

Di Asia dan Pasifik terdapat 4,9 juta orang pengidap HIV di akhir tahun 2007,

440.000 orang dewasa dan anak-anak merupakan infeksi baru dan 300.000 orang

meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan AIDS tahun 2007 (WHO

U. , 2007). 450.000 anak menjadi yatim piatu karen AIDS, paling tidak mereka

hidup dengan orang tua penderita AIDS. Proyeksi infeksi baru di Asia Selatan

dan Asia Tenggara pada tahun 2010 berjumlah 10 juta orang, jika upaya-upaya

pencegahan tidak ditingkatkan (UNICEF, 2007).

HIV dalam waktu lebih kurang 10 tahun akan menjadi AIDS tanpa terapi anti

retroviral yang efektif. Hasil penelitian menunjukan bahwa, pasien yang

didiagnosis HIV sebanyak 38,3% dalam jangka 1 tahun menjadi AIDS. Selain itu

6,7% 1 sampai 3 tahun setelah diagnosis HIV. Pengujian komprehensif program

HIV yang mencakup baik pemeriksaan rutin dari orang yang berusia 13-64 tahun

dan pengujian lebih sering untuk orang yang berisiko untuk tes HIV periodik

(MMWR, 2009).

Di dunia terdapat 25 juta orang meninggal karena AIDS, dan 15,2 juta anak

(usia 0-14 tahun) kehilangan satu atau kedua orang tua mereka karena AIDS pada

tahun 2005. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 33,2 juta orang pengidap HIV,

2,5 juta orang merupakan infeksi baru, 2,5 juta anak (usia 0-14 tahun) pengidap

HIV, wanita terhitung 50% dari total orang dewasa pengidap HIV, 330.000 anak

di bawah umur 15 tahun meninggal karena kematian yang berhubungan dengan

AIDS, 2,1 juta kematian yang berhubungan dengan AIDS, 420.000 anak (usia

0-14 tahun) merupakan infeksi baru (UNAIDS, AIDS Epidemic Update, 2007).

Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Bandung, perkembangan

epidemiologi HIV di Indonesia, sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV

yang dilaporkan sebanyak 859, tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048), tahun

2008 (10.362), tahun 2009 (9.793), tahun 2010 (21.591), tahun 2011 (21.031),

(11)

3

tahun 2012 (21.511), tahun 2013 (29.037) dan tahun 2014 (22.869). Jumlah

kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2014 sebanyak

150.264, termasuk yang tercepat di kawasan Asia meskipun secara nasional

angka prevalensinya masih termasuk rendah. Jumlah kasus HIV dan AIDS di

Kota Bandung sampai saat ini terus melonjak. Hingga bulan Agustus 2012, kasus

kumulatif HIV mencapai 2819 kasus dan AIDS mencapai 1450 kasus, serta

jumlah kasus meninggal sebanyak 168 orang. Kasus HIV dan AIDS tertinggi

dijumpai pada kelompok Penasun yaitu sebesar 56,44% (DinKes, 2012).

Menurut artikel penelitian stigma masyarakat terhadap Orang Dengan

HIV/AIDS (ODHA) yang dilakukan olehZahroh Shaluhiyah, Syamsulhuda Budi

Musthofa, Bagoes Widjanarko mengenai pengetahuan tentang HIV/AIDS sangat

memengaruhi sikap seseorang terhadap penderita HIV/AIDS. Stigma terhadap

ODHA muncul berkaitan dengan tidak tahunya seseorang tentang mekanisme

penularan HIV dan sikap negatif yang dipengaruhi oleh adanya epidemic

HIV/AIDS. Kesalahpahaman atau kurangnya pengetahuan masyarakat tentang

HIV/AIDS sering kali berdampak pada ketakutan masyarakat terhadap ODHA,

sehingga memunculkan penolakan terhadap ODHA (Zahroh , Syamsulhuda , &

Bagoes , 2015).

Menurut AVERT tahun 2011, cara penularan HIV/AIDS dapat ditularkan

melalui:

1. Hubungan seksual (vagina, oral, anal). Secara global, penularan virus HIV

paling banyak terjadi melalui heteroseksual.

2. Kontak langsung dengan darah dan produk darah yg tercemar HIV/AIDS.

3. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril.

4. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan

virus.

5. Pengguna narkoba jarum suntik.

(12)

4

Pencegahan merupakan satu-satunya upaya penanggulangan AIDS. 5 langkah

untuk mencegah tertular HIV/AIDS dalam Notoatmojo (Notoatmojo, 2010), yaitu

:

Masa remaja adalah masa pencarian identitas dan bereksperimen. Remaja usia

15-18 tahun cenderung menganggap dirinya paling hebat, paling benar, paling

kuat, sehingga pada umumnya mereka bersedia mengambil risiko lebih besar dari

yang lainnya. Tidak hanya anak berumur 16 tahun keatas yang telah melakukan

hubungan seks, remaja di bawah umur 15 tahun pun sudah melakukan hubungan

seks (Wellings, et al., 2006).

Menurut WHO, remaja ( adolescence ) adalah mereka yang berusia 10-19

tahun dan anak muda ( youth ) adalah mereka yang usia 15-24 tahun. Remaja

terbagi dalam 3 kelompok usia yaitu:

 Remaja dini ( early adolescence ) 10-13 tahun

 Remaja pertengahan ( mid adolescence ) 14-16 tahun

 Remaja lanjut ( late adolescence ) 17-19 tahun

Remaja aktif secara seksual dan mereka seringkali kekurangan informasi

dasar mengenai kesehatan reproduksi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan

reproduksi, sehingga mereka rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi

seperti HIV/AIDS ( United Nations Populations Fund, 2000). Menurut hasil

survey yang telah dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana

(13)

5

Nasional di 33 provinsi pada tahun 2008, sebanyak 63% remaja di Indonesia usia

sekolah SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah (BKKBN, 2008).

Usia remaja mempunyai sifat ingin tahu yang sangat besar sehingga

menyebabkan mereka mencoba segala sesuatu yang menurut mereka menarik

(Fauzan & Sirait, 2002). Jika tidak tersedia informasi yang tepat dan relevan

tentang penyakit HIV/AIDS, sikap ingin tahu mereka bisa menyebabkan mereka

masuk ke dalam populasi berperilaku risiko tinggi. Selain itu, masalah HIV/AIDS

pada remaja selain berdampak secara fisik, juga dapat berpengaruh terhadap

kesehatan mental, emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam jangka

panjang. Hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap remaja itu sendiri, tetapi

juga terhadap keluarga, masyarakat dan bangsa pada akhirnya (United Nations

Population Fund, 2005)

Menurut analisis data riskesdas tentang pengetahuan HIV dan AIDS pada

remaja di Indonesia tahun 2010 menunjukan persentase pengetahuan HIV dan

AIDS dengan kategori kurang masih cukup besar, yaitu 48,9% (Riskesdas, 2010).

Menurut artikel penelitian stigma masyarakat terhadap Orang Dengan HIV/AIDS

(ODHA) yang dilakukan oleh Zahroh Shaluhiyah, Syamsulhuda Budi Musthofa,

Bagoes Widjanarko mengenai pengetahuan tentang HIV/AIDS sangat

memengaruhi sikap seseorang terhadap penderita HIV/AIDS (Zahroh ,

Syamsulhuda , & Bagoes , 2015).

Dari hasil semua data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa masih

tingginya angka kejadian kasus HIV/AIDS di Indonesia. Oleh sebab itu penulis

hendak meneliti tingkat kesadaran dalam parameter pengetahuan dan sikap akan

HIV/AIDS terutama pada kalangan remaja, karena pengetahuan remaja tentang

kesehatan reproduksi terutama HIV/AIDS masih kurang sehingga remaja rentan

terinfeksi HIV/AIDS.

(14)

6 1.2 Identifikasi masalah

- Bagaimana gambaran pengetahuan mengenai penyakit HIV/AIDS pada

siswa-siswi SMA “X”Bandung tahun 2016.

- Bagaimana gambaran sikap mengenai penyakit HIV/AIDS pada siswa-siswi

SMA “X” Bandung tahun 2016.

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud penelitian ini adalah mengetahui dan menilai adanya gambaran

pengetahuan dan sikap terhadap HIV/AIDS di kalangan siswa-siswi SMA “X”

Bandung agar dapat diketahui apakah diperlukan tambahan pendidikan kesehatan

bagi remaja dalam upaya menghambat peningkatan insiden infeksi HIV/AIDS.

Tujuan penelitian ini adalah mendukung upaya pencegahan dan

penanggulangan dari penularan HIV/AIDS di kalangan siswa-siswi SMA “X”,

Bandung.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Akademik

Mengetahui dan menilai gambaran pengetahuan dan sikap kepedulian

siswa-siswi SMA terhadap penyakit HIV.

1.4.2. Manfaat Praktis

Memberikan pengetahuan kepada masyarakat terutama siswa-siswi SMA

tentang penyakit HIV/AIDS dalam upaya pencegahan.

(15)

7 1.5. Landasan Teori

HIV adalah virus penyebab sekumpulan gejala akibat hilangnya kekebalan

tubuh yang disebut Aquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) (UNAIDS,

2010). Virus ini menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan dalam tubuh

manusia. Sistem kekebalan merupakan sistem pertahanan tubuh yang alami untuk

melawan segala jenis infeksi dan penyakit (Kementerian Pendidikan Nasional RI,

2009).

Menurut WHO, remaja ( adolescence ) adalah mereka yang berusia 10-19

tahun dan anak muda ( youth ) adalah mereka yang usia 15-24 tahun. Remaja

terbagi dalam 3 kelompok usia yaitu:

 Remaja dini ( early adolescence ) 10-13 tahun

 Remaja pertengahan ( mid adolescence ) 14-16 tahun

 Remaja lanjut ( late adolescence ) 17-19 tahun

Usia remaja mempunyai sifat ingin tahu yang sangat besar sehingga

menyebabkan mereka mencoba segala sesuatu yang menurut mereka menarik

(Fauzan & Sirait, 2002). Jika tidak tersedia informasi yang tepat dan relevan

tentang penyakit HIV/AIDS, sikap ingin tahu mereka bisa menyebabkan mereka

masuk ke dalam populasi berperilaku risiko tinggi. Selain itu, masalah HIV/AIDS

pada remaja selain berdampak secara fisik, juga dapat berpengaruh terhadap

kesehatan mental, emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam jangka

panjang. Hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap remaja itu sendiri, tetapi

juga terhadap keluarga, masyarakat dan bangsa pada akhirnya (United Nations

Population Fund, 2005)

Menurut Lawrence Green dan Marshall Kreuter (2005) bahwa pengetahuan

seseorang merupakan salah satu faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi

perubahan sikap. Pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi terutama

(16)

8

HIV dan AIDS pada remaja diharapkan dapat menghindari perilaku beresiko

HIV/AIDS (Lawrence & Marshall, 2005).

Stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) tergambar dalam sikap

sinis, perasaan ketakutan yang berlebihan, dan pengalaman negatif terhadap

ODHA. Banyak yang beranggapan bahwa orang yang terinfeksi HIV/AIDS layak

mendapatkan hukuman akibat perbuatannya sendiri. Mereka juga beranggapan

bahwa ODHA adalah orang yang bertanggung jawab terhadap penularan

HIV/AIDS.1 Hal inilah yang menyebabkan orang dengan infeksi HIV menerima

perlakuan yang tidak adil, diskriminasi, dan stigma karena penyakit yang diderita

(Zahroh , Syamsulhuda , & Bagoes , 2015).

Infeksi HIV menyerang dua komponen utama dalam badan manusia yaitu

sistem imun dan sistem saraf pusat. Apabila masuk ke dalam tubuh, HIV akan

mengikat pada beberapa jenis sel darah putih terutama limfosit T helper. Limfosit

T helper akan diaktifkan dan mengkordinasi sel lain dalam sistem imun. Terdapat

reseptor CD4 pada permukaan limfosit yang membolehkan HIV untuk mengikat

pada reseptor itu.HIV menyimpan informasi genetiknya sebagai asam ribonukleat

(RNA). Apabila telah berada di dalam limfosit CD4+, sejenis enzim yang

dipanggil reverse transcriptase digunakan oleh virus tersebut untuk membuat

salinan RNA nya ke dalam bentuk asam deoksiribonukleat (DNA).HIV mudah

bermutasi pada waktu ini karena reverse transcriptase mudah melakukan

kesilapan semasa perubahan dari RNA ke DNA.DNA virus tadi memasuki

nukleus dan dengan bantuan integrase, DNA virus berintegrasi dengan sel DNA.

Genetik limfosit akan mereplikasi virus HIV tersebut yang akhirnya akan

memusnahkan limfosit. Setiap sel yang terinfeksi akan menghasilkan virus baru

dalam beberapa hari di dalam darah dan cairan genital akan mengandungi banyak

virus dan CD4+ limfosit akan menurun. Akibat dari jumlah virus yang banyak,

orang yang baru terinfeksi dengan virus HIV dapat menyebarkannya pada orang

lain (CDC, 2007).

(17)

9

Menurut Komunitas AIDS Indonesia, gejala klinis terdiri dari 2 gejala mayor

(umum terjadi) dan 1 gejala minor (tidak umum terjadi) (Komunitas AIDS

- Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis

- Demensia (Penurunan Kemampuan Kognitif)

Gejala Minor :

- Batuk > 1 bulan

- Dermatitis generalisata

- Infeksi umum yang rekuren, misalnya herpes zoster

- Kandidias orofaring

- Infeksi herpes simpleks kronik & progresif

- Limfadenopati general

- Mikosis kelamin berulang

Menurut Fauci dan Lane (2008), perjalanan penyakit infeksi HIV/AIDS dapat

dibagi dalam beberapa fase, yaitu (Fauci & Lane, 2008) :

1. Transmisi virus

2. Infeksi HIV primer (sindrom retroviral akut)

Setelah masuk ke dalam tubuh, virus menuju ke kelenjar limfe dan berada

dalam sel dendritik selama beberapa hari. 2-6 minggu kemudian (rata-rata 2

minggu) terjadilah sindrom retroviral akut. Gejala umum pada infeksi primer

dapat berupa (demam, nyeri otot, nyeri sendi, rasa lemah), kelainan mukokutan

(ruam kulit, ulkus di mulut), pembengkakan kelenjar limfa, gejala neurologi

(nyeri kepala, nyeri belakang kepala, depresi), maupun gangguan saluran cerna

(18)

10

(anoreksia, nausea, diare, jamur di mulut). Gejala ini dapat berlangsung 2-6

minggu dan akan membaik dengan atau tanpa pengobatan.

3. Serokonversi

Setelah 2-6 minggu gejala menghilang disertai serokonversi (perubahan

antibodi negatif menjadi positif) terjadi 1 -3 bulan setelah infeksi, tetapi pernah

juga dilaporkan sampai 8 bulan.

4. Fase asimptomatik

Pasien akan memasuki masa tanpa gejala (asimptomatik). Penderita tampak

sehat, dapat melakukan aktivitas normal tetapi dapat menularkan kepada orang

lain. Dalam masa ini terjadi penurunan bertahap jumlah CD4 (jumlah normal

800-1.000/mm2) yang terjadi setelah replikasi persisten HIV dengan kadar RNA

virus relatif konstan. CD4 adalah reseptor pada limfosit T4 yang menjadi target

sel utama HIV.

Pada awalnya penurunan jumlah CD4 sekitar 30-60/mm3/tahun, tapi pada

tahun terakhir penurunan jumlah menjadi 50-100/mm3 sehingga bila tanpa

pengobatan rata-rata masa infeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah 8-10 tahun,

dimana jumlah CD4 akan mencapai kurang dari 200/mm3.

5. Fase Simptomatik

Fase simptomatik, akan timbul gejala-gejala pendahuluan seperti demam,

pembesaran kelenjar limfa, yang kemudian diikuti oleh infeksi oportunistik.

Infeksi oportunistik adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan tubuh

dimana pada orang normal infeksi ini terkendali oleh kekebalan tubuh. Dengan

adanya infeksi oportunistik maka perjalanan penyakit telah memasuki stadium

AIDS.

Setelah terjadi infeksi HIV ada masa dimana pemeriksaan serologis antibodi

HIV masih menunjukkan hasil negatif, sementara virus sebenarnya telah ada

dalam jumlah banyak. Pada masa ini, yang disebut window period, orang yang

(19)

11

telah terinfeksi ini sudah dapat menularkan kepada orang lain walaupun

pemeriksaan antibodi HIV hasilnya negatif. Periode ini berlangsung selama 3-12

minggu.

Pencegahan merupakan satu-satunya upaya penanggulangan AIDS. 5 langkah untuk mencegah tertular HIV/AIDS dalam Notoatmojo (Notoatmojo, 2010), yaitu :

A = Abstinence of Sex (jauhi seks bebas)

B = Be Faithful (setia pada pasangan)

C = use Condom (gunakan kondom)

D = Don’t share a needle (jangan berbagi jarum suntik)

E = Education (pendidikan)

(20)

29

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Deskripsi Karakteristik Responden

Penelitian ini dilakukan di Sekolah SMA “X” Bandung dengan data jumlah siswa -siswi yang diperoleh pada periode 2016 adalah sebanyak 586 orang. Dari keseluruhan

responden gambaran karakteristik yang diamati meliputi usia dan jenis kelamin.

Dengan jumlah laki-laki 258 siswa dan perempuan 328 siswi, dengan usia 15-17

tahun.

4.1.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

Laki-laki 258 44,03

Perempuan 328 55,97

Total 586 100

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa jumlah siswa-siswi SMA “X” adalah perempuan terbanyak yaitu sebanyak 328 orang (55,97%) dan terendah adalah

kelompok laki-laki yaitu sebanyak 258 orang (44,03%).

(21)

30

4.1.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia (Tahun) Jumlah Persentase (%)

15 153 26,11

16 246 41,98

17 187 31,91

Total 586 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa kelompok terbesar responden terdapat pada usia

16 tahun, yaitu sebanyak 246 orang (41,98%), diikuti usia 17 tahun sebanyak 187

orang (31,91%), dan terendah pada kelompok usia 15 tahun, yaitu sebanyak 153

orang (26,11%).

4.1.4 Gambaran Pengetahuan Siswa-Siswi SMA “X” Bandung Terhadap Penyakit HIV/AIDS

Pengetahuan Jumlah Persentase (%)

Baik 35 5,97

Cukup 337 57,51

Kurang 214 36,52

Buruk 0 00,00

Total 586 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan responden

mengenai HIV/AIDS paling banyak pada kategori cukup, yaitu sebanyak 337 orang

(57,51%), kategori kurang 214 orang (36,52%), dan kategori baik sebanyak 35 orang

(5,97%), dan tidak ada siswa-siswi dengan kategori buruk (0%).

(22)

31

4.1.5 Gambaran Sikap Siswa-Siswi SMA “X” Bandung Terhadap penyakit HIV/AIDS

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat sikap responden mengenai

HIV/AIDS paling banyak pada kategori kurang, yaitu sebanyak 264 orang (45.05%),

kategori buruk 43 orang (7.34%), kategori cukup sebanyak 206 orang (35.15%), dan

kategori baik sebanyak 73 orang (12.46%).

4.2 Pembahasan

4.2.1. Gambaran Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMA “X” Bandung

Berdasarkan tabel gambaran pengetahuan siswa-siswi SMA “X” di atas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai HIV/AIDS paling banyak

pada kategori cukup, yaitu sebanyak 337 orang (57,51%), kategori kurang 214 orang

(36,52%), dan kategori baik sebanyak 35 orang (5,97%), dan tidak ada siswa-siswi

dengan kategori buruk (00,00%). Menurut analisis data riskesdas tentang

pengetahuan HIV dan AIDS pada remaja di Indonesia tahun 2010 menunjukan

persentase pengetahuan HIV dan AIDS dengan kategori kurang masih cukup besar,

yaitu 48,9% (Riskesdas, 2010). Hasil ini berbanding terbalik dengan penelitian yang

Sikap Jumlah Persentase (%)

Baik 73 12.46

Cukup 206 35.15

Kurang 264 45.05

Buruk 43 7.34

Total 586 100

(23)

32

dilakukan oleh Reiza Freidhea Suhud tahun 2013 tentang gambaran pengetahuan di

SMA Negeri 1 Medan didapatkan hasil dengan kategori baik (54.02%) (Reiza

Freidhea Suhud, 2013).

Menurut analisis data yang dilakukan Kementrian Kesehatan (2010) melaporkan

bahwa meningkatnya jumlah remaja dengan keterbatasan akses informasi mengenai

HIV/AIDS dan layanan kesehatan berdampak pada rendahnya pengetahuan tentang

HIV/AIDS yang benar.

4.2.2. Gambaran Tingkat Sikap Siswa-Siswi SMA “X” Bandung

Berdasarkan tabel gambaran sikap siswa-siswi SMA “X” diatas dapat dilihat bahwa tingkat sikap responden mengenai HIV/AIDS paling banyak pada kategori

kurang, yaitu sebanyak 264 orang (45.05%), kategori buruk 43 orang (7.34%),

kategori cukup sebanyak 206 orang (35.15%), dan kategori baik sebanyak 73 orang

(12.46%). Hasil tersebut diatas tidak terlalu berbeda dengan apa yang diteliti oleh

Cindy Wijaya (2010) di SMA Santo Thomas 1 Medan yang menyebutkan bahwa

gambaran tingkat sikap siswa-siswi terhadap HIV/ AIDS dikategorikan cukup (72%)

(Cindy Wijaya, 2009). Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan

oleh Kalaivani Alagapan (2011) tentang tingkat pengetahuan dan sikap remaja di

SMA Negeri 1 Medan yang berada dalam kategori baik (49.5%) (Kalaivani

Alagapan, 2011).

Menurut artikel penelitian stigma masyarakat terhadap Orang Dengan HIV/AIDS

(ODHA) yang dilakukan oleh Zahroh Shaluhiyah, Syamsulhuda Budi Musthofa,

Bagoes Widjanarko mengenai pengetahuan tentang HIV/AIDS sangat memengaruhi

sikap seseorang terhadap penderita HIV/AIDS. Stigma terhadap ODHA muncul

berkaitan dengan tidak tahunya seseorang tentang mekanisme penularan HIV dan

(24)

33

sikap negatif yang dipengaruhi oleh adanya epidemic HIV/AIDS. Kesalahpahaman

atau kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS sering kali berdampak

pada ketakutan masyarakat terhadap ODHA, sehingga memunculkan penolakan

terhadap ODHA (Zahroh , Syamsulhuda , & Bagoes , 2015).

(25)

34

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang dilakukan oleh peneliti maka dapat diambil kesimpulan: 1. Tingkat pengetahuan siswa-siswi SMA “X” Bandung mengenai HIV/AIDS

mayoritas berada dalam kategori cukup.

2. Tingkat sikap siswa-siswi SMA “X” Bandung mengenai HIV/AIDS mayoritas berada dalam kategori kurang.

5.2Saran

Pengetahuan dan sikap siswa-siswi SMA “X” Bandung terhadap HIV/AIDS masih kategori cukup, untuk itu perlu dilakukan pemberian pegetahuan kepada remaja secara merata, baik melalui jalur sekolah maupun luar sekolah. Melalui jalur sekolah, disarankan kepada pihak sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi pada siswa-siswinya. Sedangkan melalui jalur di luar sekolah disarankan kepada para orang tua dalam meningkatkan kepedulian mereka terhadap pendidikan seksual anak yang dimulai pada usia remaja. Selain itu diharapkan agar lebih banyak SMA lainnya di kota Bandung maupun luar Bandung yang diteliti untuk mengetahui dan membandingkan gambaran tingkat pengetahuan dan sikap tentang HIV/ AIDS dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk para peneliti diharapkan untuk meneliti dengan jumlah sampel remaja dengan jumlah yang lebih banyak agar dapat mengetahui perkembangan pengetahuan dan sikap dari penelitian sebelumnya.

(26)

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP

SISWA-SISWI SMA “X” BANDUNG TERHADAP PENYAKIT

HIV/AIDS TAHUN 2016

KARYA TULIS ILMIAH

Karya Tulis Ini Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

KOMANG SONI WICAKSANA WIJAYA

1210163

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BANDUNG

(27)

vi

KATA PENGANTAR

Pertama-tama, saya panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya karya tulis ilmiah yang berjudul “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Siswa-Siswi SMA “X” Terhadap Penyakit HIV/AIDS Tahun 2016” ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Karya tulis ilmiah ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran (S.Ked) di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini tentunya tidak jarang dijumpai adanya halangan, rintangan, dan kesibukan sebagai mahasiswa kedokteran, namun dengan bantuan berbagai pihak yang mendukung, karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik, oleh karena itu, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Sri Nadya S, dr., M.Kes selaku pembimbing utama dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini. Terima kasih atas bimbingan, perhatian, kesabaran, saran, dukungan, dan bersedia meluangkan waktu, tenaga, pikiran untuk membantu selama pembuatan karya tulis ilmiah ini.

2. Dani, dr., M.Kes selaku pembimbing pendamping dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga, dan pikirannya serta memberikan bantuan bimbingan, saran, moral, dan dukungan untuk menyelesaikan KTI ini.

3. Rekan-rekan seperjuangan KTI, terima kasih atas dukungan, semangat, kekompakan, dan kerja samanya dari awal sampai terselesaikannya karya tulis ilmiah ini.

4. Siswa-siswi, guru, dan kepala sekolah SMA ”X” Bandung yang telah bersedia menjadi subjek penelitian, terima kasih telah meluangkan waktu dan pikirannya demi pembuatan KTI ini.

(28)

vii

moral, perhatian, dan semangatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan KTI ini.

6. Kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu penulis dalam penyelesaian KTI ini.

Akhir kata, semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Bandung, Desember 2016

(29)

35

DATAR PUSTAKA

Agostoni, C., Axelson, I., Colomb, V., Goulet, O., Koletzko, B., & Michaelsen, K.

(2005). The need for nutrition support teams in pediatric units: A commentary

by the ESPGHAN committee on nutrition. Journal of Pediatric

Gastroenterology and Nutrition, 8-11.

AIDS, K. P. (n.d.).

Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

American College of Sports Medicine. (2010). ACSM's guidelines for exercise testing

and prescription. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Arikunto. (2010). Pengetahuan dan Pengukuran. Retrieved Oktober Minggu, 2016,

from

http://metrobascom.blogspot.co.id/2013/04/pengetahuan-dan-pengukuran.html.

AVERT. (2011). What is AIDS. Retrieved September 2016, from

http://www.avert.org/aids.htm.

Barasi, M. E. (2007). At A Glance Ilmu Gizi. Surabaya: Erlangga.

Birch, L., & Fisher, J. (1998). Development of eating behaviors among children and

adolescents. Pediatrics, 539-549.

Centers for Disease Control and Prevention. (2007). HIV/AIDS Basics. Retrieved

September 2016, from http://www.cdc.gov/hiv/resources/qa/definitions.htm.

Cindy Wijaya. (2009, November 18). TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP

REMAJA DALAM MENCEGAH HIV/AIDS. Retrieved november 10, 2016,

from http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16725/7/Cover.pdf.

(30)

36

Cornier, M., Despres, J., & Davis, N. (2011). Assessing adiposity: a scientific

statement from the American Heart Association.

DinKes. (2012). Epidemiologi HIV/AIDS di Kota Bandung.

El-Sayed, N. M., Kabbash, I. A., & Mohamed, E.-G. (2008). Knowledge, attitude,

and practices of Egyptian Industrial and Tourist Workers Towards HIV/AIDS.

Eastern Mediterranean Health Journal, 14, 1127.

Fauci, S., & Lane, C. (2008). Human Immunodefeficiency Virus Disease: AIDS and

Related Disorders. In S. Fauci, E. Braunwald, L. Kasper, L. Hauser, L. Longo,

L. Jameson, et al., Harrison’s Principles of Internal Medicine (pp.

1164-1169). USA: The McGraw-Hill Companies.

Fauzan, F., & Sirait, B. (2002). Pendidikan Seks Bagi Remaja. Retrieved 9 2016,

from http://ceria.bkkbn.go.id/ referensi/substansi/detail/174.

Feldman, M., Friedman, L., & Brandt, L. (2009). Sleisenger and Fordtran's

Gastrointestinal and Liver Disease - Pathophysiology, Diagnosis,

Management. Elsevier.

Frisancho, A. (1981). New norms of upper limb fat and muscle areas for assessment

of nutritional status. American Journal of Clinical Nutrition.

Hood, W. A. (2015). Nutritional Status Assessment in Adults Technique. Retrieved

from Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/2141861-technique

Idrus, D., & Kunanto, G. (1990). Epidemiologi I. Jakarta: Pusdiknakes.

Janz, K., Dawson, J., & Mahoney, L. (2000). Tracking physical fitness and physical

activity from childhood to adolescence: the Muscatine study. Medicine &

Science in Sports & Exercise, 1250-1257.

(31)

37

Jensen, G., Hsiao, P., & Wheeler, D. (2012). Adult nutrition assessment tutorial.

Journal of Parenteral Nutrition.

Kalaivani Alagapan. (2011, Desember). Tingkat Dan Pengetahuan Remaja Tentang

HIV/AIDS Di SMA Negeri 1 Medan. Retrieved November 2016, from

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31678/7/Cover.pdf.

Keikha, B. M., Yusof, S., & Jourkesh, M. (2013). A comparison between Individual

and Team Sport in temporal Patterns of Pre-Competition Profile of Mood

States. European Journal of Sports and Exercise Science, 12-17.

Kemenkes RI. (2011). Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.

Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar.

Kemenkes RI. (2015). 25 Januari, Hari Gizi Nasional. Retrieved from Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia:

http://www.depkes.go.id/article/print/15012300021/25-januari-hari-gizi-nasional.html

Kementerian Pendidikan Nasional RI. (2009). Pendidikan Pencegahan HIV. Jakarta:

Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO .

Komisi Penganggulangan AIDS. (2011). Pencegahan HIV. Retrieved September

2016, from http://www.aidsindonesia.or.id/dasar-hiv-aids/pencegahan.

Komunitas AIDS Indonesia. (2010). Informasi Dasar. Retrieved September 2016,

from http://aidsina.org/modules.php?name=FAQ&myfaq=yes&id_cat=1&

categories=HIV-AIDS.

Kowalski, K. C., Crocker, P. E., & Donen, R. M. (2004). The Physical Activity

Questionnaire for Older Children (PAQ-C) and Adolescents (PAQ-A)

Manual. Canada: College of Kinesiology; University of Saskatchewan.

(32)

38

Lawrence, W., & Marshall, W. (2005). Health Program Planning an Educational

and Ecological Approach. Rolling School of Public Health of Emory

University.

MMWR. (2009). Mortality & Morbidity Weekly Report. New York: MMWR.

MMWR. (2011). Morbidity & Mortality Weekly Report. New York: MMWR.

Notoadmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Notoatmojo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Parkinson, F. (2000). Post-trauma Stress: Reduce long-term effects and hidden

emotional damage caused by violence and disaster. Da Capo Press.

Porter, R. (2013). Merck Manual of Diagnosis and Therapy. Retrieved from Merck

Manuals: http://www.merckmanuals.com/professional

Reiza Freidhea Suhud. (2013, Novembber). Gambaran Pengetahuan Dan Sikap

Remaja Tentang HIV/AIDS Di SMA Negeri 1 Medan Tahun 2013. Retrieved

november 2016, from

www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41581/7/Cover.pdf.

Riskesdas. (2010). Pengetahuan HIV Dan AIDS Pada Remaja di Indonesia.

Kesehatan Reproduksi, 148.

Roberts, H., Denison, H., & Martin, H. (2011). A review of the measurement of grip

strength in clinical and epidemiological studies: towards a standardised

approach.

Soerdjodibroto, W. (1984). Kesehatan dan Olahraga: Persiapan Gizi Menjelang

Pertandingan. Jakarta: UI Press.

(33)

39

Strasburger, V. C., Jordan, A. B., & Donnerstein, E. (2010). Health Effects of Media

on Children and Adolescents. PEDIATRICS: The Official Journal of The

American Academy of Pediatrics, 756-767.

Supariasa, Nyoman, I., Bakri, B., & Fajar, I. (2002). Penilaian Status Gizi. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tudor-Locke, C., Craig, C. L., Brown, W. J., Clemes, S. A., Cocker, K. D.,

Giles-Corti, B., et al. (2011). How many steps/day are enough? for adults.

International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity.

United Nations Populations Fund. (2000). Kesehata Reproduksi Remaja: Membangun

Perubahan Yang Bermakna.

UNAIDS. (2006). Retrieved 10 tuesday, 2016, from epidemiology publication.

UNAIDS. (2007). AIDS Epidemic Update. Report on the Global AIDS Epidemic.

UNAIDS. (2010). The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS. 2010. AIDS

Epidemic Update 2009.

UNAIDS, WHO. (2008). AIDS Epidemic Update. Retrieved Oktober Kamis, 2016,

from www.who.int.

UNICEF. (2007). Report on the East Asia and Pasific Regional Concultation on

Children and HIV and AIDS. UNICEF for East Asia and Pasific Regional

Office.

United Nations Population Fund. (2005). Analisis Situasi Kesehatan Reproduks. In i

Kebijakan dan Strategi Nasional Kesehatan Reproduksi di Indonesia (pp.

33-46).

(34)

40

Wellings, K., Collumbien, M., Slaymaked, E., Singh, S., Hodges, Z., Patel, D., et al.

(2006). A Global Perspective. Sexual Behavior in Context, 368(9548),

1706-1728.

WHO. (2012). HIV/AIDS. Retrieved Oktober Minggu, 2016, from

http://www.who.int/hiv/topics/en/.

WHO. (2015). Global Strategy on Diet, Physical Activity and Health. Retrieved from

World Health Organization: http://www.who.int/dietphysicalactivity/pa/en/

WHO. (2015). Physical activity fact sheet. Retrieved from World Health

Organization: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs385/en/

WHO, U. (2007). Ganeva: UNAIDS. AIDS Epidemic Update.

Widoyono. (2008). HIV-AIDS. In Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan,

Pencegahan dan Pemberantasannya (pp. 83-90). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Yuli Luthfiana. (2012). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Terhadap Perilaku

Berisiko HIV/AIDS Pada Pekerja Bangunan Di Proyek World Class

University Tahun 2012. Jakarta: Universitas Indonesia.

Zahroh , S., Syamsulhuda , B., & Bagoes , W. (2015). Jurnal Kesehatan Masyarakat

Nasional. Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan HIV/AIDS, 337.

Gambar

Tabel 4.1.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Gambar 2.2 Pilihan Kombinasi Obat Lini Kedua........…………………………. 20

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini adalah sebuah Sistem Informasi Akademik di SMK Negeri 1 Pundong yang digunakan untuk membantu kinerja guru dan karyawan dalam mengelola data-data

orang lain. a) Jelaskan arti komunikasi verbal dan non verbal dalam berkomunikasi. b) Jelaskan bentuk-bentuk dalam komunikasi verbal dan non verbal. c) Jelaskan pentingnya

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Melalui Penggunaan Gambar Fotografi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS Tentang Kaitan

Penulis juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses pelaksanaan kerja praktek, baik dari awal hingga tersusun laporan

Menindaklanjuti point 1 (satu) diatas, pelaksanaan pemberian penjelasan pada tanggal 15 Februari 2017 yang dilaksanakan bertepatan dengan hari libur nasional dalam hal

Adapun masa sanggah dilaksanakan mulai hari Senin 22 Juli 2013 sampai dengan hari Rabu 24 Juli 2013, sanggahan dapat disampaikan kepada Ketua Panitia Pelelangan Pekerjaan

Setelah menikah kedua partisipan merasa ada perbedaan dalam hubungan partisipan dengan teman-teman mereka hal ini karena kesibukan partisipan yang waktunya lebih

Wundulako, dengan ini Panitia Pengadaan Barang/Jasa Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kolaka mengundang saudara untuk mengikuti