1
EFEKTIFITAS PROMOSI KESEHATAN MELALUI MEDIA VIDIO DAN LEAFLET
TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP WUS TENTANG DETEKSI DINI KANKER
SERVIKS DENGAN METODE INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT (IVA) DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS TALANG BANJAR KOTA JAMBI 2020
SKRIPSI
FITRIANI SULASTRI
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Berdasarkan Data Rutin Subdit Kanker Direktorat Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI tahun 2019, program deteksi dini kanker serviks menggunakan Asam Asetat (IVA) telah diselenggarakan pada 5.000 Puskesmas dengan jumlah dokter 3.187 orang dan bidan 7.138 orang di 34 provinsi, 455 Kabupaten/Kota, dengan jumlah alat Krioterapi sebanyak 1.349 alat, yang tersebar di seluruh Indonesia. Cakupan deteksi tertinggi di Indonesia yaitu di Provinsi Bali sebanyak 31,39% dan terendah Propinsi Papua sebanyak 1%. Propinsi Jambi menempati urutan ke 21 dengan jumlah cakupan deteksi dini sebanyak 8,42%. IVA test memiliki sensitivitas sebesar 65%-96% dan spesitifitas sebesar 54%-98% dengan hasil bisa diketahui secara langsung. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen (quasi experimental) dengan rancangan pretest-two group postest randomize design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu usia 30-50 tahun yang ada di wilayah kerja Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi yang berjumlah 2.659 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan tehnik simple random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang diacak yaitu sebanyak 94 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Analisis dilakukan dengan uji beda Wilcoxon untuk pengetahuan dan uji T tes untuk sikap responden. Hasil menunjukkan ada perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan intervensi pada kelompok leaflet ( p = 0,000), tidak ada perbedaan sikap sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok leaflet (p= 0,354). Ada perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok video (p = 0,000), ada perbedaan sikap sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok video ( p = 0,004). Pemberian promosi kesehatan dengan media video lebih baik untuk meningkatkan pengetahuan responden dengan nilai p=0,011, dan promosi kesehatan dengan media video juga lebih baik meningkatkan sikap responden dengan nilai p= 0,000. Media video lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap wanita dalam upaya melakukan pencegahan kanker serviks dengan menggunakan IVA tes
Kata kunci :
Media video , Leaflet, IVA tes, Promosi Kesehatan.
ABSTRACT
Based on Routine Data of the Cancer Sub Directorate of Non-Communicable Diseases, the Indonesian Ministry of Health in 2019, early detection of cervical cancer using Acetic Acid (IVA) has been held at 5,000 Puskesmas with 3,187 doctors and 7,138 midwives in 34 provinces, 455 districts / cities, with a total of 1,349 cryotherapy devices, spread throughout Indonesia. The highest detection coverage in Indonesia is in the Province of Bali as much as 31.39% and the lowest is Papua Province as much as 1%. Jambi Province ranks 21st with a total early detection coverage of 8.42%. IVA test has a sensitivity of 65% -96% and a specificity of 54% -98% with the results can be known directly.This research is a quasi-experimental (quasi-experimental) design with a pretest-two group postest randomize design. The population in this study were all mothers aged 30-50 years in the working area of Talang Banjar Health Center in Jambi City, amounting to 2,659 people, with the sampling technique using simple random sampling technique, which was a randomized sampling technique of 94 people. Data collection is done by questionnaire. Analyzes were performed with the Wilcoxon test for knowledge and the T test for respondents' attitudes. The results showed there were differences in knowledge before and after the intervention in the leaflet group (p = 0,000), there were no differences in attitude before and after the intervention in the leaflet group (p = 0.354). There were differences in knowledge before and after the intervention in the video group (p = 0,000), there were differences in attitude before and after the intervention in the video group (p = 0.004). Providing health promotion with video media is better to increase respondents 'knowledge with a value of p = 0.011, and health promotion with video media is also better at increasing respondents' attitudes with a value of p = 0,000.
Video media is more effective in increasing women's knowledge and attitudes in efforts to prevent cervical cancer by using IVA tests.
PENDAHULUAN
Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Serviks merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol dan berhubungan dengan vagina melalui ostium uteri eksternum. Jenis kanker ini di picu oleh human papilomavirus (HPV) yang masuk kedalam tubuh akibat hubungan seksual tanpa pengaman (Kemenkes RI, 2015, hal:1)
Berdasarkan estimasi Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2018 dari World Health Organization (WHO) di Indonesia kanker serviks (leher rahim) merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, angka kanker serviks di Indonesia mencapai 23,4 orang per 100 ribu penduduk. Rata-rata kematian akibat kanker serviks mencapai 13,9 orang per 100 ribu penduduk (Kemenkes RI, 2019, hal: 2).
Masih tingginya insiden kanker serviks di Indonesia menurut Susilowati dan Dwiana 2014 disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kesadaran wanita yang sudah menikah/melakukan hubungan seksual dalam melakukan deteksi dini masih rendah (kurang 5%) dan menurut Arcan 2004 dalam jurnal ilmiah kebidanan rasa takut apabila hasilnya menyatakan terkena gejala kanker serviks sehingga mereka lebih memilih untuk menghindarinya, disamping itu rasa malu dan khawatir untuk menjalani deteksi dini juga mempengaruhinya (Fridayanti, 2016:104).
Di Negara berkembang berbagai skrining kanker serviks (deteksi dini) berbasis bukti teknik telah dikembangkan dan di uji, sesuai untuk beragam konteks yaitu skrining sitologis melalui Papanicolaou (Pap) smear dengan tindak lanjut kolposkopi dan biopsi untuk mengidentifikasi dini tahap dysplasia dan pra-kanker, pengujian human papillomavirus (HPV) melalui sampel yang diambil dokter atau teknik pengambilan sampel sendiri, dan inspeksi visual metode (menggunakan asam asetat dan/atau larutan Lugol), yang efektif, pendekatan berbiaya rendah yang sesuai untuk pengaturan sumber daya rendah. Tes skrining VIA telah sensitivitas 82,4% (76,3% hingga 87,3%) dan spesifisitas 87,4% (77,1% hingga 93,4%), dan telah terbukti aman dan hemat biaya (Global Health Action, 2019, vol 2 hal :2).
Di Indonesia ada 3 metode Skrining yang dapat digunakan sebagai deteksi dini kanker serviks yaitu Pap smar, IVA test (dengan menggunakan inspeksi asam asetat), dan test HVP DNA, diantara ketiga metode tersebut dapat dilihat bahwa dari segi sensitivitas untuk pap smear yaitu 70%-80% dan spesitifitas sebesar 90%-95% dengan hasil bisa diketahui selama 1 hari- 1 bulan dan dengan biaya
pemeriksaan sebesar Rp 125.000- Rp.150.000, sedangkan IVA test sensitivitas sebesar 65%-96% dan spesitifitas sebesar 54%-98% dengan hasil bisa diketahui secara langsung dengan biaya sebesar Rp. 25.000,-. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa IVA test menggunakan asam asetat lebih sederhana dan murah untuk digunakan sebagai alat deteksi dini kanker serviks (Taufan, 2019 hal:11).
Data dinas kesehatan Propinsi Jambi dari Januari sampai dengan Oktober 2019 tercatat dari 11.395 WUS atau rentang usia 30-50 tahun yang diperiksa melalui deteksi dini kanker pemeriksaan IVA di 206 puskesmas tercatat hasil 196 kasus (1,7%) perempuan yang terdeteksi positif kanker serviks setelah melalui pemeriksaan Inveksi Visual Asam (IVA) positif di masing-masing kabupaten yang ada di Propinsi jambi. (Dinkes Propinsi Jambi, 2019).
Pemeriksaan IVA adalah pemeriksaan dengan cara mengoleskan secara langsung asam asetat/cuka dapur encer (konsentrasi 3-5%) pada leher rahim, setelah di tunggu kurang lebih satu menit akan terlihat bercak putih bila terdapat perubahan pada sel )dysplasia) (Kemenkes RI, 2015:16).
IVA memiliki sensitivitas sampai 96% dan spesifikasi 97% untuk program yang dilaksanakan oleh tenaga medis yang terlatih. Hal ini menunjukkan bahwa IVA memiliki spesifitas yang hamper sama dengan sitology serviks (pap smear) sehingga dapat menjadi metode skrining yang efektif pada nega berkembang seperti di Indonesia (Kemenkes RI, 2015).
Hasil penelitian yang dilakukan Saraswati (2011) di Mojongso RT 22 Surakarta dengan menggunakan media powerpoint dan booklet menyimpulkan bahwa dari 58 responden wanita usia subur, diketahui hasil pre-test menunjukkan responden memiliki pengetahuan dan sikap yang kurang baik dalam deteksi dini kanker serviks sedangkan hasil post test menunjukkan responden memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dalam deteksi dini kanker serviks (Rindy, 2017:5).
Penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2017) di Kampung Darek kecamatan Padangsidempuan Selatan diperoleh hasil adanya peningkatan pengetahuan dan partisipasi WUS untuk mendeteksi dini kanker serviks dengan pendidikan kesehatan melalui media film dan leaflet (Jurnal Ilmiah PANMED, Vol, 11, No 3 Januari-April 2017:158). Informasi yang dapat diberikan melalui media massa diantaranya media film dan leaflet. Media film merupakan salah satu media yang menggunakan pesan audiovisual bergerak yang bertujuan agar penonton tidak bosan, melalui media film penyampaian informasi tidak monoton dan dapat diterima dengan baikSementara itu leaflet merupakan selembaran kertas cetak berlipat yang berisi
tulisan tentang suatu masalah khusus untuk sasaran dan tujuan tertentu (Budiyanto, 2016:644).
Rendahnya angka kesadaran WUS untuk melakukan deteksi dini kanker serviks salah satunya dikarenakan kurangnya promosi kesehatan terhadap WUS tentang IVA tes yang berakibat kurangnya pengetahuan dan sikap tentang IVA tes, oleh sebab itu peneliti tertarik meneliti tentang “Efektifitas promosi kesehatan melalui media video dan leaflet terhadap pengetahuan dan sikap WUS dalam melakukan deteksi dini kanker serviks dengan metode inspeksi visual asam asetat (IVA) di wilayah kerja Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi tahun 2020”.
.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah jenis penelitian kuasi eksperimen (quasi experimental) dengan rancangan two group pretest-postest randomize design (Notoatmodjo, 2012:62). Dimana kelompok media vidio maupun kelompok laeflet dipilih secara random. Kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan tes awal. Kedua kelompok mendapatkan perlakuan berbeda, Sampel dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok perlakuan dan kelompok pembanding. Pada kelompok perlakuan diberikan promosi kesehatan dengan menggunakan leaflet. Pada kelompok pembanding diberikan Vidio.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu usia 30-50 tahun yang ada di wilayah kerja Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi yang berjumlah 2.659 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan alasan karena semua sampel dipilih berdasarkan RT sehingga didapat jumlah sampel sebanyak 94 orang dari jumlah 35 RT.
Kriteria inklusinya adalah wanita berusia 30-50 tahun yang sudah melakukan hubungan seksual, belum pernah mendapatkan promosi kesehatan melalui media video ataupun leaflet dan bersedia menjadi responden.
Instrument penelitian yang digunakan adalah adalah leaflet, dan media vidio untuk alat promosi kesehatan, kuesioner untuk pengetahuan, dan sikap, serta formulir pemeriksaan IVA untuk ibu yang mau melakukan deteksi dini kanker serviks menggunakan metode asam asetat. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah melalui pengisian kuesioner untuk mendapatkan data karakteristik responden serta pengetahuan dan sikap dalam melakukan deteksi kanker serviks dengan metode IVA. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon dan uji T test karena ada data yang berdistribusi normal (pengetahuan) dan ada juga data tidak berdistribusi normal (sikap).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Gambaran Pengetahuan dan Sikap WUS Sebelum Diberikan Media Video Dan Leaflet
Hasil pengetahuan berdasarkan skoring kuesioner pada masing-masing kelompok kemudian dilakukan pengkategorikan tingkat pengetahuan WUS dengan kategori pengetahuan baik dan pengetahuan kurang baik. Pengukuran pengetahuan dikategorikan menjadi 2 yaitu baik jika skor jawaban > 76 % dan kurang baik jika skor jawaban < 76% untuk selengkapnya dapat dilihat pada diagram berikut ini:
Sebagian besar responden sebelum dilakukan promosi kesehatan melalui media video memiliki pengetahuan baik sebanyak 23 orang (83,3%), dan pengetahuan kurang baik sebanyak 5 orang (16,7%) responden.
Sebagian besar responden sebelum dilakukan promosi kesehatan melalui leaflet memiliki pengetahuan baik sebanyak 21 (70%) dan pengetahuan kurang baik sebanyak 9 orang (30%) responden.
Penelitian ini juga sesuai dengan yang dilakukan oleh Yuyun (2017:8) dalam jurnal ilmiah kebidanan tahun 2017 tentang perbandingan efektitas promosi kesehatan dengan film dan leaflet di Kota Pontianak bahwa sebelum responden mendapatkan promosi kesehatan melalui media film tingkat pengetahuan baik hanya sebagian, dan sebagian lagi memiliki pengetahuan kurang baik. Sebelum responden mendapatkan promosi kesehatan melalui leaflet sebagian responden memiliki pengetahuan baik, dan sebagian lagi memiliki pengetahuan kurang.
Setiap WUS harus mempunyai pengetahuan yang baik tentang deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA tes. Setiap WUS yang datang ke pelayanan kesehatan harus mendapatkan informasi yang lengkap dan adekuat tentang manfaat melakukan deteksi dini, informasi ini bisa diperoleh melalui promosi kesehatan baik penyuluhan maupun menggunakan media vidio ataupun leaflet (Yuyun, 2017:8).
Hasil sikap responden didapatkan dari hasil pengisian kuesioner sebelum diberikan promosi kesehatan melalui media video dan leaflet Dari hasil skoring kuesioner kemudian dilakukan pengkategorikan sikap WUS dengan kategori sikap positif dan sikap negatif.
Pengukuran sikap untuk kelompok media video sebelum dilakukan media video dikategorikan menjadi 2 yaitu positif jika skor jawaban mean ≥ 67 dan negatif jika skor jawaban < 67. Untuk pengukuran sikap kelompok Leaflet dibagi menjadi 2 yaitu positif jika skor jawaban mean ≥ 68 dan negatif jika skor jawaban < mean (68). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram dibawah ini :
Sebagian responden sebelum dilakukan promosi kesehatan melalui media video memiliki sikap positif sebanyak 19 orang (63,3%), dan memiliki sikap negative sebanyak 11 (36,7%).
Sebagian responden sebelum dilakukan promosi kesehatan melalui leaflet memiliki sikap positif sebanyak 15 orang (50%), dan memiliki sikap negatif sebanyak 15 (50%).
2. Gambaran Pengetahuan dan Sikap WUS Setelah Diberikan Media Video Dan Leaflet
Hasil pengetahuan berdasarkan skoring kuesioner pada masing-masing kelompok kemudian dilakukan pengkategorikan tingkat pengetahuan WUS dengan kategori pengetahuan baik dan pengetahuan kurang baik. Pengukuran pengetahuan dikategorikan menjadi 2 yaitu baik jika skor jawaban > 76 % dan kurang baik jika skor jawaban < 76% untuk selengkapnya dapat dilihat pada diagram berikut ini :
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon setelah diberikan promosi kesehatan melalui leaflet sebagian besar responden hasil pengetahuannya masih ada yang sama dengan sebelum diberikan promosi kesehatan melalui media leaflet sebanyak 20 orang dan pengetahuan meningkat sebanyak 10 orang. Sedangkan promosi kesehatan melalui media video setelah diberikan promosi kesehatan hasil pengetahuan baik sama dengan pengetahuan sebelum diberikan promosi melalui media video sebanyak 15 orang dan pengetahuan yang meningkat dari sebelum diberikan media video
sebanyak 15 orang.
Hasil ini membuktikan bahwa pengetahuan responden di wilayah kerja Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi tentang deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA test setelah diberikan promosi kesehatan menggunakan media vidio dan leaflet terjadi peningkatan.
Hasil penelitian ini sesuai teori menurut
(Bloom, 1908) dikutip oleh
(Notoatmojo,2012:121) bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tersebut, sebagian besar pengetahuan tersebut diperoleh melalui mata dan telinga. Dimana seseorang dapat melihat dan mendengarkan langsung pengetahuan tersebut. Pengetahuan merupakan tahap awal pengenalan terhadap suatu objek yang diamati, sehingga bila pengetahuan kurang baik terhadap suatu objek maka akan mempengaruhi terhadap tindakan yang ditampakkan.
Sejalan juga dengan teori Skinner dalam Notoatmodjo (2012) seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku itu merupakan respon atau reaksi orang terhadap rangsangan atau stimulus dari luar. Dengan demikian perilaku manusia terjadi dengan adanya melalui proses teori ini disebut teori S-O-R atau Stimulus – Organisme – Respon.
Berdasarkan hasil analisis data pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan kesehatan dengan menggunakan media video menunjukan adanya perbedaan yang signifikan pengetahuan wanita usia subur sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan dengan menggunakan media video. Hasil analisis untuk kelompok leaflet juga menunjukan adanya perbedaan yang signifikan pengetahuan wanita usia subur sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan dengan menggunakan leaflet.
Hasil sikap responden didapatkan dari hasil pengisian kuesioner setelah diberikan promosi kesehatan melalui media video dan leaflet Dari hasil skoring kuesioner kemudian dilakukan pengkategorikan sikap WUS dengan kategori sikap positif dan sikap negatif. Pengukuran sikap untuk kelompok media video sebelum dilakukan media video dikategorikan menjadi 2 yaitu positif jika skor jawaban mean ≥ 76 dan negatif jika skor jawaban < 76. Untuk pengukuran sikap kelompok Leaflet dibagi menjadi 2 yaitu positif jika skor jawaban mean ≥ 69 dan negatif jika skor jawaban < mean (69). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Diagram dibawah ini :
Hasil ini membuktikan bahwa sikap responden di wilayah kerja Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi tentang deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA test sebelum diberikan promosi kesehatan menggunakan media vidio dan leaflet sebagian sudah memiliki sikap positif. Sikap yang kurang dikarenakan kurangnya informasi yang didapat responden tentang deteksi dini kanker serviks.
Berdasarkan hasil penelitian dapat juga dilihat perbedaan sikap posttest kelompok media video dan leaflet, media video lebih tinggi nilai mean posttest dibanding kelompok leaflet. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa media video lebih efektif digunakan untuk merubah sikap yang semula negatif menjadi positif pada promosi kesehatan tentang deteksi dini kanker serviks dibanding leaflet.
3. Perbedaan pengetahuan sebelum dan setelah dilakukan intervensi melalui media video dan leaflet
Pengaruh promosi kesehatan pada kelompok media video dan leaflet terhadap tingkat pengetahuan WUS tentang deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA test di wilayah kerja Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi menggunakan uji Wilcoxon.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon setelah diberikan promosi kesehatan melalui leaflet sebagian besar responden hasil pengetahuannya masih ada yang sama dengan sebelum diberikan promosi kesehatan melalui media leaflet sebanyak 20 orang dan pengetahuan meningkat sebanyak 10 orang. Sedangkan promosi kesehatan melalui media video setelah diberikan promosi kesehatan hasil pengetahuan baik sama dengan pengetahuan sebelum diberikan promosi melalui media video sebanyak 15 orang dan pengetahuan yang meningkat dari sebelum diberikan media video sebanyak 15 orang.
Perbedaan pengetahuan posttest kelompok media video dan leaflet, media video lebih tinggi nilai mean posttest dibanding kelompok leaflet. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa media video lebih efektif digunakan meningkatkan pengetahuan pada promosi kesehatan tentang deteksi dini kanker serviks dibanding leaflet.
Promosi kesehatan dengan video lebih
efektif dalam meningkatkan
pengetahuan WUS dimana wanita usia subur dapat menerima pesan dengan cepat dan mudah diingat dapat diterima dengan baik, lebih menarik dan tidak monoton Karena WUS mendengar dan melihat sehingga WUS sangat antusias terhadap isi video dan melihat video sampai selesai. Video merupakan media efektif karena media audiovisual dapat memberikan informasi secara jelas dan nyata melalui gambar dan suara.
4. Perbedaan Sikap sebelum dan setelah dilakukan intervensi melalui media video dan leaflet
Pengaruh promosi kesehatan pada kelompok media video dan leaflet terhadap Sikap WUS tentang deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA test di wilayah kerja Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi menggunakan uji T test
Berdasarkan hasil pretes dan posttest sikap terjadi peningkatan hasil posttest ditandai dengan adanya peningkatan nilai mean posttest setelah dilakukan promosi kesehatan dengan media video. Sedangkan hasil sikap pretest dan posttest setelah pemberian leaflet terjadi penurunan nilai mean posttest.
Berdasarkan hasil analisis data sikap sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan kesehatan dengan menggunakan media video menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara sikap wanita usia subur sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan dengan menggunakan media video yaitu seluruh responden yang diteliti memiliki sikap yang lebih baik dibandingkan dengan sebelum diberikan promosi kesehatan dengan media vidio. Hasil analisis untuk kelompok leaflet menunjukan tidak adanya perbedaan yang signifikan sikap wanita usia subur sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan dengan menggunakan leaflet. Masih ada responden sikap sesudah diberikan leaflet justru negatif dibandingkan setelah diberikan leaflet dan sesudah diberikan promosi melalui leaflet sama dengan sebelum diberikan leaflet. Hal ini menurut asusmsi peneliti responden lebih efektif untuk diberikan promosi melalui media video dibandingkan dengan media leaflet.
dilihat perbedaan sikap posttest kelompok media video dan leaflet, media video lebih tinggi nilai mean posttest dibanding kelompok leaflet. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa media video lebih efektif digunakan untuk merubah sikap yang semula negatif menjadi positif pada promosi kesehatan tentang deteksi dini kanker serviks dibanding leaflet.
5. Efektifitas penggunaan media video dan lelaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap WUS
Hasil perhitungan pengetahuan statistik menggunakan Wilcoxon dan uji Man Whitney U Test menunjukan ada perbedaan yang signifikan pengetahuan wanita usia subur dalam melakukan pemeriksaan IVA antara kelompok yang diberi promosi kesehatan menggunakan media video dan kelompok yang diberi promosi kesehatan menggunakan leaflet dengan nilai p value sebesar 0,011 <α (0,05). Terjadi peningkatan pengetahuan pada kelompok media vidio lebih besar dibandingkan pada kelompok leaflet sehingga dapat disimpulkan media video lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan wanita usia subur dalam melakukan deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA.
Hasil perhitungan variabel sikap statistik menggunakan uji T tes menunjukan ada perbedaan yang signifikan sikap wanita usia subur dalam melakukan pemeriksaan IVA antara kelompok yang diberi promosi kesehatan menggunakan media video dan kelompok yang diberi promosi kesehatan menggunakan leaflet ditandai dengan nilai p value sebesar 0,000 <α (0,05). Peningkatan sikap pada kelompok media vidio lebih besar dibandingkan kelompok leaflet sehingga dapat disimpulkan media video lebih efektif dalam meningkatkan sikap wanita usia subur dalam melakukan deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA.
Berdasarkan hasil penelitian juga didapat bahwa responden pada kelompok media video sebanyak 9 orang mau melakukan pemeriksaan IVA tes. Dan untuk kelompok leaflet tidak satupun mau melakukan deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA tes.
Media leaflet memiliki beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan media video, salah satunya adalah media leaflet hanya memuat gambar sedangkan video
memuat gambar bergerak. Media video lebih fleksibel dalam memberikan penjelasan mengenai konsep materi karena video biasanya langsung menggambarkan informasi melalui ilustrasi. Selain itu media video juga bisa menghadirkan narasumber yang memang mengerti tentang materi dan ketrampilan tertentu sehingga penjelasan dari narasumber bisa langsung dipahami audien. Penjelasan yang disajikan di video lebih berisi dan lengkap dibandingkan pada leaflet mengingat pada leaflet terdapat keterbatasan ruang dan banyaknya gambar yang membuat tulisan menjadi sedikit.
Dalam hal ini media film terbukti dapat memberikan efek yang merangsang perasaan wanita usia subur sehingga wanita usia subur memiliki respon penolakan terhadap penyakit kanker serviks dan respon penerimaan bahwa ingin melakukan pemeriksaan IVA (Ircham,2013).
Maka dapat diasumsikan bahwa proses pendidikan kesehatan dengan media video lebih efektif dari pada media leaflet dalam meningkatkan pengetahuan wanita usia subur terhadap pemeriksaan IVA.
SIMPULAN
Berdasarkan analisis yang penulis lakukan maka dapat disimpulkan:
1. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebelum diberikan promosi kesehatan dengan media vidio dan leaflet.
2. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik setelah diberikan promosi kesehatan dengan media video dan leaflet. 3. Sebagian responden memiliki sikap positif
sebelum diberikan promosi kesehatan dengan media vidio dan leaflet.
4. Sebagian besar responden memiliki sikap positif setelah diberikan promosi kesehatan dengan media vidio dan leaflet.
5. Media video lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap wanita usia subur dalam melakukan deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharmi, 2010.
Prosedur penelitian dan pendekatan praktek, Rieneka Cipta. Jakarta :xi + 342 hlm
Budiyanto, Moch. Agus Krisno. (2016).
“Efektivitas Pemanfaatan Media Leaflet dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Mencuci Tangan dengan Sabun”. Malang: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan.
Dinkes Propinsi Jambi, 2019.
Profile Dinas Kesehatan Propinsi Jambi Tahun 2018. Jambi: xxi + 140 hlm + 81 lamp.
Dinkes Propinsi Jambi, 2019.
Profile Dinas Kesehatan Propinsi Jambi Tahun 2019. Jambi:xxi + 145 hlm +81 lamp Dinkes Kota Jambi, 2019,
Laporan IVA Tes dan CBE Triwulan III tahun 2019. Kota Jambi.
Dinkes Kota Jambi, 2019,
Laporan Tahunan IVA Tes dan CBE 2018. Kota Jambi
Fridayanti, W., & Agustina, E. E. (2016).
Efektifitas Promosi Kesehatan Terhadap Perilaku IVA Test pada Wanita di Wilayah Puskesmas Sukoharjo 1 Tahun 2016. Jurnal Ilmiah Kebidanan, Vol. 8 No., 103– 111.
GLOBAL HEALTH ACTION 2019,
VOL. 12, 1587894
https://doi.org/10.1080/16549716.2019.1587 894
Kemenkes RI, 2013,
Pedoman Teknis Tentang Kanker Payudara Dan Kanker Leher Rahim. Jakarta 221 hlm Kemenkes RI, 2015,
Buku Saku Pencegahan Kanker Leher Rahim Dan Kanker Payudara. Direktoral Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Jakarta 18 hlm.
Kemenkes RI, 2018.
PPT Pertemuan See And Treat Kanker Servik Dengan Metode IVA Tes. Jakarta Kemenkes RI, 2016.
Promosi kesehatan. Jakarta:189 hlm Kementrian Kesehatan RI, 2015.
Panduan Program Nasional Gerakan Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI; 2015.
Lubis, Ayu Ulfah Nur, Erna Mutiara, dan Taufik Ashar. (2017).
Pengaruh Media Leaflet dan Film Terhadap Pengetahuan Tentang Kanker Serviks dan Partisipasi Wanita Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks di Kampung Darek Kecamatan Padangsidempuan Selatan Tahun 2015. Jurnal Ilmiah PANMED, Vol, 11, No 3 Januari-April. Medan: Fakultas kesehatan Masyarakat USU.
Mbachu, C., Dim, C., & Ezeoke, U. (2017). Effects Of Peer Health Education on Perception and Practice Of Screening For Cervical Cancer Among Urban Residential Women in South-East Nigeria: A Before And After Study. Nigeria: BMC Women’s Health, 17(1), 1–8. Di unduh tanggal 6 April 2018 https://doi.org/10.1186/s12905 -017-0399-6
Mulyati, Sri, Oki Suwarsa, dan Insi Farisa Desy Arya. (2015).
Pengaruh Media Film Terhadap Sikap Ibu pada Deteksi Dini Kanker Serviks. Jurnal Kesehatan Masyarakat, ISSN 1858-1196, 11 (1), 16- 24.
Notoatmodjo, Soekidjo 2012
Promosi Kesehatan dan Perlaku Kesehatan.
Rieneka cipta. Jakarta :x + 260 hlm. Notoatmodjo, Soekidjo 2014
Metodologi Penelitian Kesehatan. Rieneka cipta. Jakarta :x + 129 hlm.
WHO Guidance Note, 2013
Comprehensive Cervical Cancer Prevention And Control: A Healthier Future For Girls And Women Tahun 2013
Wirawan, S., Abdi, L. K., & Sulendri, N. K. S. (2014).
Penyuluhan dengan Media Audio Visual Dan Konvensional Terhadap Pengetahuan Ibu Anak Balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(1), 80–87.