36
BAB III
GAMBARAN UMUM DAN LOKASI PENELITIAN
1. Letak Geografis Desa Lumban Dolok Kecamatan Siabu
Posisi suatu daerah merupakan faktor yang sangat menentukan terhadap aspek kehidupan yang sedang berlangsung di daerah tersebut. Disamping itu letak geografis suatu kelurahan juga akan mempengaruhi cara pandang masyarakat, mata pencaharian, pendidikan, kebutuhan dan ketahanan masyarakat untuk menetap disuatu daerah tertentu.
Kecamatan Siabu terletak di Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 17 (tujuh belas) Desa, yaitu; Desa Aek Matondang, Desa Pintu Padang Julu, Desa Pintu Padang Jae, Desa Huta Baringin, Desa Sinonoan, Desa Aek Mual, Desa Lumban Dolok, Desa Huraba, Desa Simaninggir, Desa Siabu, Desa Bonan Dolok, Desa Lumban Pinasa, Desa Simangambat, Desa Huta Raja, Desa Huta Puli, Desa Sibaruang dan Desa Sihepeng (Muammar 2017).
Kondisi topografi Desa Lumban Dolok relatif datar dan berada pada ketinggian 250-600 meter di atas permukaan laut (dpl). Dengan iklim tropis, curah hujan lebih kurang 25 mm per tahun. Suhu udara 23-32 derajat celcius dengan kelembaban 80-85%. Luas Desa Lumban Dolok lebih kurang 408,09 Ha. dengan jumlah penduduk 3.677 jiwa. Desa Lumban Dolok dilalui oleh satu sungai yaitu sungai Aek Siancing dari Utara ke Timur. Sebagian masyarakat masih menggunakannya untuk kegiatan mandi, cuci, kakus (MCK) di samping untuk irigasi (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2016, 7-8).
Secara administratif Pemerintahan Desa Lumban Dolok berbatasan dengan:
- Sebelah Utara : Desa Barumun Sosa - Sebelah Timur : Desa Siabu
- Sebelah Selatan : Desa Malintang : - Sebelah Barat : Hutan Lindung.
Luas Desa Lumban Dolok seluas 373 Ha, secara geografis Desa Lumban Dolok sangat potensial untuk dikembangkan sebagai daerah, perikanan, pertambangan, perkebunan, dan pariwisata, Berdasarkan data yang diperoleh di Kantor Desa Lumban Dolok, menurut penggunaannya dapat dilihat sebagai berikut (Muammar 2017):
Tabel I
Menurut Penggunaan
No Jenis Penggunaan Keterangan
1 Jalan 1,5 KM 2 Perkebunan - Cokelat - Karet - Lain-lain 10 Ha 40 Ha 7 Ha 3 Kuburan 2 tempat 4 Pertokoan Perdagangan 3 Ha 5 Perdagangan/Jasa - Toko - Warung - Kaki Lima 5 Buah 20 Buah 10 Buah 6 Perkantoran 1 Buah 7 Tanah Wakaf 1 Ha 8 Bangunan sekolah 0,5 Ha
9 Lapangan olahraga 4 Buah
10 Usaha perikanan 10 Ha
11 Fasilitas umum lainnya 5 Ha
12 Sungai 1
Di Kecamatan Siabu ada sungai yang cukup besar dan panjang yang melewati wilayah Desa Lumban Dolok yaitu Sungai Aek Siancing, Air sungai ini juga berpotensi menopang kehidupan masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan akan air, masyarakat juga menggunakan air sungai dengan cara membuat saluran air dari sungai dengan menggunakan pipa/selang langsung disalurkan ke bak-bak atau wadah yang sudah disediakan didalam rumah. Air Sungai Aek Siancing ini akan digunakan untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari seperti mencuci piring, kain, menyiram bunga dan lain-lain. Mengingat besarnya peranan air dalam kehidupan, karena tanpa adanya air manusia tidak akan dapat melangsungkan hidupnya dengan normal (Muammar 2017). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Furqan ayat 49:
Artinya: “Agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) mati dan Kami memberikan minum dengan air itu sebahagian besar dari makhluk Kami, binatang ternak dan manusia yang banyak” Departemen Agama RI 2005, 566).
Sungai Aek Siancing mempunyai potensi besar dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat kelurahan negeri lama karena pada sungai Aek Siancing ini selain memiliki air yang tawar juga mempunyai ikan yang banyak seperti, ikan baung, incor, udang, ikan mas, dan lainya, dan lebih menguntungkan lagi bahwa dalam dataran sungai Aek Siancing ini terdapat pasir yang banyak dari jenis yang halus sampai jenis yang kasar maka tidak heran jika masyarakat Desa Lumban Dolok mempunyai tambang pasir dimana pasir ini akan diambil dari dalam sungai kemudian dijadikan kebutuhan dalam pembangunan seperti membangun rumah, toko, tempat ibadah dan lain-lain (Muammar 2017).
Areal perkebunan juga merupakan mata pencaharian masyarakat desa lumban dolok kecamatan siabu. Perkebunan karet dengan luas 40 Ha
dengan timbangan 15 Ton, masyarakat Desa Lumban Dolok juga banyak bertanam karet diluar desa, karena masyarakat Desa Lumban Dolok merupakan salah satu perkebunan yang menjadi mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat Desa Lumban Dolok. Selain hal tersebut di atas, lahan juga digunakan masyarakat untuk menanam tanaman lain seperti, coklat, pisang dan tanaman seperti cabe, ubi kayu dan sayur-sayuran, namun jumlahnya hanya sedikit (RPJMD 2016, 8).
Bidang transportasi di Desa Lumban Dolok sudah lancar. Di daerah ini sudah dibangun jalan untuk memudahkan masyarakat baik pergi ke rumah, bekerja maupun langsung ke pasar. Di sekeliling kelurahan juga dibangun jalan agar segala hal yang dibutuhkan masyarakat dapat dipenuhi dengan cepat. Di samping pembangunan jalan, alat transportasi berupa kendaraan sudah banyak baik kendaraan keluar maupun kendaraan dalam desa. Kendaraan untuk keluar desa diantaranya adalah tersedianya semacam angkutan yang bisa membawa masyarakat menuju luar desa. Sedangkan kendaraan untuk di dalam desa diantaranya adalah Becak (Muammar 2017).
Tabel II
Berikut data alat alat transportasi yang ada di Desa Lumban Dolok;
Nama Jumlah Sepeda 50 Becak 20 Sepeda motor 300 Mobil pribadi 15 Truk 3
Sumber data : Kantor Desa Lumban Dolok 2016
Salah satu angkutan umum yang sudah hidup dan berkembang dari dahulunya ditengah-tengah masyarakat Desa Lumban Dolok yaitu Becak . Becak adalah sejenis angkutan umum yang beroda tiga yang
mempunyai gerobak yang paling sering digunakan masyarakat jika bepergian di sekitar daerah harga ongkosnya pun cukup murah berkisar Rp. 2.000 per KM (Muammar 2017).
Berdasarkan data yang diperoleh dari data desa Penduduk lumban dolok kecamatan siabu terhitung 31 Desember tahun 2016 bahwa jumlah penduduk sebesar 3.677 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 676 KK, yang terdiri dari:
- Laki-laki 1.783 jiwa. - Perempuan 1.893 jiwa.
Tabel III
Jumlah penduduk Desa Lumban Dolok menurut jenis kelaminnya
No Kenagarian Laki-laki Perempuan 1 Desa Lumban
Dolok
1.783 1.893
Jumlah 1.783 1.893
Sumber: data profil Kecamatan Siabu (Badan Pusat Statistik 2016)
Dilihat dari tabel jumlah penduduknya, jumlah penduduk di Desa Lumban Dolok pada tahun 2016 tercatat sebanyak 3.677 jiwa. Penduduk laki-laki 1.783 jiwa penduduk perempuan 1.893 jiwa. Bila dilihat dari jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Desa Lumban Dolok, maka jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dari pada jumlah perempuan yang tersebar di Desa Lumban Dolok.
2. Pendidikan dan Kehidupan Beragama di Desa Lumban Dolok Kecamatan Siabu
2.1. Pendidikan
Maju mundurnya suatu masyarakat tergantung pada pendidikan karena pendidikan dan pengajaran sangat besar manfaatnya dalam mencapai kemajuan pembangunan. Pendidikan merupakan suatu hal yang
penting dalam kehidupan manusia, dengan pendidikan yang baik dan bermutu akan dapat meningkatkan kecerdasan dan kreativitas yang dimiliki masyarakat demi terwujudnya manusia-manusia pembangunan yang berkualitas serta dapat mendatangkan manfaat dan pengaruh positif terhadap diri-sendiri dan lingkungan.
Salah satu faktor utama penyebab lajunya pendidikan terhadap anak yaitu adanya dorongan serta motivasi dari orang tua untuk anak minimal menamatkan SLTA, namun di samping itu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi orang tua mulai terbentur dengan masalah biaya atau dana. Di samping itu kurangnya motivasi dari orang tua yang didapat siswa/i untuk lanjut menjadi mahasiswa/i (Muammar 2017).
Adapun data yang penulis dapat bahwa sarana pendidikan yang ada di Desa Lumban Dolok Dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel II Sarana Pendidikan Desa Lumban Dolok
No Jenis Pendidikan
Negeri Swasta
Sekolah Guru Murid Sekolah Guru Murid
1. Kelompok Bermain - - - 4 25 100 2. TK 2 9 120 3. Sekolah Dasar 3 24 450 1 9 145 4. SLTP/Sederajat - - - - 5. SLTA/Sederajat - - - - 6. Akademi - - - - 7. Institut/Universitas - - - -
Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa sarana pendidikan di Desa Lumban Dolok sudah memadai, tetapi untuk sarana sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan SLTA dan pendidikan perguruan tinggi belum ada sehingga bagi masyarakat yang mempunyai biaya mereka menyekolahkan anaknya ke tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan SLTA dan Perguruan Tinggi yang berada di luar daerah Desa Lumban Dolok.
Berkaitan dengan masalah pendidikan ini di Desa Lumban Dolok sistem pendidikan serta pengembangannya sudah hampir berjalan dengan baik, meskipun sarana pendidikannya masih terbatas. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk menurut tingkat pendidikannya tersebut:
Tabel III Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang)
1 Tamat Taman Kanak-Kanak 430
2 Tamat SD 570
4 Tamat SLTP 350
5 Tamat SLTA 440
6 Tamat Akademi D.I sd D.III 10
7 Tamat S1-S III 12
Sumber Data : data profil Kecamatan Siabu (Badan Pusat Statistik 2016)
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan untuk masyarakat Desa Lumban Dolok Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal mengalami perkembangan yang dinamis, hal ini terbukti dari banyaknya penduduk Desa Lumban Dolok yang telah menamatkan perguruan tinggi. Masyarakat Desa Lumban Dolok lebih dominan menghantarkan anaknya ke jenjang perguruan Tinggi dalam Program
studi Pertanian dan perkebunan mengingat wilayah yang lebih banyak terpakai untuk perkebunan, namun banyak juga masyarakat yang mendorong anaknya untuk melanjut keperguruan tinggi dalam bidang keperawatan, hukum, agama, pendidikan dan lain-lain (Muammar 2017).
2.2. Kehidupan Beragama
Agama merupakan pedoman hidup yang sangat penting bagi manusia. Dengan adanya pedoman hidup maka akan membuat manusia menjadi tentram, damai, tabah dan tawakal, ulet serta percaya diri, berani berjuang untuk menegakkan kebenaran, kesiapan mengabdi dan berkorban. Tanpa agama manusia akan terombang ambing dalam kehidupan tanpa tujuan. Agama merupakan sumber kehidupan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Masyarakat Desa Lumban Dolok mayoritas beragama Islam namun bagi yang minoritas seperti Kristen, Katolik dan Budha mereka ada tidak jauh dari Desa Lumban Dolok. Sebagian masyarakat Desa Lumban Dolok taat menjalankan ibadahnya, walaupun sebagian dari penduduk masih ada yang menjalankan agama sebagai rutinitas, begitu juga yang beragama Islam yang lebih mayoritas sebahagiannya kurang dalam mengamalkan nilai-nilai Islam tidak mau mengetahui apakah yang diamalkan tersebut telah sesuai dengan syari’at Islam atau belum. Namun di setiap masjid dan mushalla tetap diadakan shalat berjama’ah pada malam harinya, seperti shalat Maghrib, Isya’ dan Shubuh Begitu juga dengan siangnya yaitu zuhur dan ashar, tetapi siang harinya kebanyakan masyarakat melakukan shalat sendiri-sendiri karena pada siang hari itu masyarakat kebanyakan pergi bekerja ke kantor, ke kebun dan ke tempat kerja lainnya. Begitu juga dengan agama-agama lainnya seperti kristen (Kasroh 2017).
Kegiatan keagamaan di Desa Lumban Dolok terlihat cukup baik. Ini dapat dilihat dari banyak sisi terutama sekali pada bulan suci Ramadhan. Masyarakat melakukan shalat berjama’ah di masjid dan
mushalla serta tadarus sehabis shalat witir bagi laki-laki tadarus sehabis shalat subuh bagi perempuan dan juga dapat dilihat ketika menyambut hari besar Islam. Peringatan hari besar yang menonjol diadakan di Desa Lumban Dolok pada setiap masjid/mushalla mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Tahun Baru Hijriyah, Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha (Kurban), pengajian, lomba-lomba keislaman dan lain sebagainya (Kasroh 2017).
Sarana peribadatan yang ada di Desa Lumban Dolok cukup baik untuk memenuhi kebutuhan ritual masyarakat dalam pengabdian mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suatu yang sangat disayangkan adalah masyarakat memfungsikan masjid dan mushalla secara maksimal hanya pada bulan Ramadhan. Sehabis bulan Ramadhan masjid dan mushalla itu kurang difungsikan lagi maksudnya masyarakat kebanyakan hanya melakukan shalat di rumah saja.
Sarana ibadah yang terdapat di Desa Lumban Dolok antara lain dapat dilihat melalui tabel berikut:
Tabel IV
Jumlah Sarana Ibadah Desa Lumban Dolok
No Sarana Ibadah Jumlah
1. Masjid 2
2. Mushalla 4
Sumber Data : data profil Kecamatan Siabu (Badan Pusat Statistik 2016) 3. Sosial Ekonomi dan Adat Istiadat Masyarakat Desa Lumban Dolok
3.1. Sosial Ekonomi Masyarakat
Sosial kemasyarakatan di Desa Lumban Dolok belum sepenuhnya terpengaruh oleh sosial kemasyarakatan masyarakat kota. Masyarakat Desa Lumban Dolok masih memegang teguh semangat gotong royong, bantu membantu satu sama lainnya. Ini dibuktikan dimana beberapa
sekolah mengajarkan dan mendidik anak didiknya dalam jam di luar jam sekolah digunakan untuk gotong royong, bersih-bersih pekarangan sekolah dan lingkungan mereka, menanamkan semangat kebersamaan kepada masyarakat dimulai dari anak-anak/murid-murid sekolah.
Persoalan ekonomi adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sumber kehidupan masyarakat Desa Lumban Dolok adalah berkebun, Pegawai dan berdagang . Di samping itu juga ada masyarakat yang beternak ayam kampung, bebek, kambing dan itik.(Baginda 2017)
Berdasarkan Data Pusat Statistik Kabupaten Mandailing Natal dalam Potret Kondisi Petani di Desa Lumban Dolok pada tahun 2013, Sensus Pertanian Adalah Pencacahan secara lengkap terhadap seluruh usaha pertanian yang berada di wilayah Indonesia. Sensus Pertanian 2013 (ST2013) Merupakan Sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) Setiap 10 (sepuluh) Tahun sekali sejak 1963. Sensus Pertanian Bermanfaat untuk memberikan gambaran umum Mengenai kondisi Pertanian di Indonesia, Mencakup Subsektor Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan termasuk Jasa Pertanian (RPJMD 2016, 9).
Adapun Presentase di Kecamatan Siabu penulis paparkan dalam tabel di bawah ini:
Tabel V
Presentasi petani Desa Desa Lumban Dolok
No Bidang Presentasi 1. Perkebunan 334 2. Perternakan 47 3. Penangkapan ikan 38 4. Budidaya Ikan 5 5. Hortikultura 3
6. Tanaman pangan 3
7. Jasa Pertanian 1
Sumber Data : data profil Kecamatan Siabu (Badan Pusat Statistik 2016) Tabel VI
Lima Komoditas Unggulan Desa Lumban Dolok
No Nama Presentasi
1. Karet 20 (Rumah Tangga)
2. Sapi Potong 10 (Rumah Tangga)
3. Kelapa 10 (Rumah Tangga)
Sumber Data : data profil Kecamatan Siabu (Badan Pusat Statistik 2016) Tabel VII
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Desa Lumban Dolok
No Jenis Pekerjaan Jumlah (Orang)
1 Pegawai negeri sipil 100
2 ABRI 10 3 Swasta 50 4 Pedagang 30 5 Petani 200 6 Pertukangan 20 7 Pensiunan 10 8 Pemulung 2 9 Dosen 5
Sumber Data : data profil Kecamatan Siabu (Badan Pusat Statistik 2016)
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa masyarakat Desa Lumban Dolok di samping mempunyai mata pencaharian sebagai PNS, ABRI, swasta, pedagang, petani, pertukangan, pensiunan, pemulung, dan lain-lain. Dari mata pencaharian kebanyakan Pegawai Negeri Sipil dan
petani. Semua jenis mata pencaharian tersebut merupakan penunjang kelangsungan perekonomian masyarakat Desa Lumban Dolok.
3.2. Adat Istiadat di Desa Lumban Dolok
Adat istiadat memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dan norma adat Batak Mandailing terlihat jelas diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Mandailing Natal pada umumnya dan masyarakat di Desa Lumban Dolok pada khususnya. Penerapan nilai-nilai adat dan budaya di daerah Kabupaten Mandailing Natal ini sangat kental, artinya selalu berpedoman kepada Norma-norma adat yang ada apabila ada acara-acara atau kegiatan-kegiatan Adat
Batak Mandailing sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya merupakan suatu etnik yang menarik garis keturunan dari pihak ayah, sehingga suatu perkawinan yang terjadi antara pihak laki-laki Batak Mandailing dan perempuan Batak Mandailing menghasilkan keturunan laki-laki, maka keturunannya tersebut berhak dan wajib meneruskan garis keturunan ayahnya yang dapat dilihat dari marga yang dibawanya, selain itu perkawinan antara individu Batak Mandailing merupakan suatu perkawinan yang dianggap ideal dari sudut pandang hukum adat Batak Mandailing, karena segala akibat yang timbul dari perkawinan tersebut dapat di atasi dengan menggunakan hukum adat, namun apabila keturunan dari perkawinan tersebut adalah perempuan maka perempuan tersebut hanya berhak menerima marga ayahnya tanpa memiliki kemampuan meneruskan marga ayahnya tersebut pada keturunannya kelak (Paringgolan 2015).
Tradisi perkawinan pada masyarakat Mandailing Natal khususnya masyarakat Desa Lumban Dolok merupakan suatu pranata yang tidak hanya mengikat seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Akan tetapi
perkawinan juga mengikat suatu hubungan hukum yang menyangkut para anggota keluarga dan kedua belah pihak.
Adapun perkawinan yang dianggap ideal dalam masyarakat Desa Lumban Dolok adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang anak perempuan saudara laki-laki ibunya (Boru Tulang). Adat istiadat juga tidak membolehkan seorang laki-laki kawin dengan seorang perempuan yang semarga. Akan tetapi adat itu sekarang sudah banyak ditinggalkan orang. Hal ini dapat dibuktikan banyaknya pemuda dan gadis di Desa Lumban Dolok yang kawin dalam satu marga serta banyak yang tidak mengambil boru tulangnya untuk menjadi istrinya (Paringgolan 2107).
Dengan perkawinan telah dipertemukan keluarga laki-laki dan keluarga perempuan di dalam suatu ikatan kekeluargaan. Hubungan ini harus dipertahankan sebaik-baiknya. Dengan ikatan kekeluargaan ini bukan saja menimbulkan dua hubungan antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan, namun lebih luas lagi, yaitu hubungan kekeluargaan yang bersifat dalihan na tolu (kahanggi, anak boru dan mora). Oleh sebab itulah pelaksanaan perkawinan selalu dilakukan dengan upacara-upacara adat yang dapat memakan waktu berhari-hari, mulai dari rumah keluarga perempuan.
Dalam adat mandailing juga mengenal suatu kelompok yang akan membimbing masyarakat dalam adat yang di sebut Dalihan na tolu pada masyarakat adat Mandailing mengandung tiga kelompok masyarakat yang merupakan tumpuan. Dalam upacara-upacara adat lembaga dalihan na tolu ini memegang peranan yang penting dalam menetapkan keputusan-keputusan. dalihan na tolu yang terdiri dari tiga (3) unsur tersebut terdiri dari kelompok (Pandapotan 2005, 80):
Yang dimaksud dengan suhut dan kahangginya adalah suatu kelompok keluarga yang semarga atau yang mempunya garis keturunan yang sama dalam satu desa yang merupakan bonabulu (Pendiri desa) 3.2.2. Anak Boru
Anak Boru adalah kelompok keluarga yang dapat atau yang mengambil isteri dari keluarga suhut.
3.2.3. Mora
Mora adalah keluarga oleh suhut mengambil boru (isteri) dari keluarga suhut.
Sebagaimana disebut diatas bahwa lembaga dalihan na tolu berperan dalam upacara-upacara adat, kedudukan suhat/kahanggi, anak boru dan mora yang dalam setuasi dan kondisi yang berbeda akan menimbulkan saling menghormati, saling memberi saling menerima, saling mendengar satu sama lainnya. Hubungan kekeluargaan yang sangat erat sebagai akibat perkawinan, rasa tanggung jawab, rasa saling memeliki di dalam setiap pelaksanaan upacara akan tetap terpelihara (Pandapotan 2005, 86).
Bagaimana hubungan ketiga unsur dalihan na tolu ini satu sama lain sudah diatur dalam hukum adat. Bagi lembaga dalihan na tolu tanggungjawab untuk mengsukseskan suatu pekerjaan adalah merupakan hak dan kewajiban. Cara kerja dalihan na tolu merupakan suatu sistem yang saling terkait, saling berhubungan, saling menunjang dan saling mendukung (Pandapotan 2005, 86).
Dalam pelaksanaan upacara-upacara adat ketiga unsur dalihan na tolu harus tetap dalam mardomu ni tahi (selalu mengadakan musyawarah mufakat). Musyawarah untuk mufakat akan tercapai jika unsur rasa kesatuan, rasa tanggungjawab dan rasa saling memeliki tersebut tetap terpelihara(Pandapotan 2005, 87).
Dalam menulak sere yang harus hadir dalam acara patibal sere (memberikan mahar), yaitu:
3.2.4. Pimpinan adat setempat (pemangku adat dan pemuka adat), 3.2.5. Mora (keluarga oleh suhut mengambil boru (isteri) dari keluarga
suhut,
3.2.6. Suhut (tuan rumah atau yang mempunyai hajatan), 3.2.7. Kahanggi ( semarga dengan suhut tapi tidak satu nenek),
3.2.8. Anak boru (kelompok keluarga yang dapat atau yang mengambil dari keluarga suhut),
3.2.9. Kerabat terdekat lainnya
Sedangkan dari pihak laki-laki yang datang adalah: 3.2.10. Suhut (abang, adik dang orang tua),
3.2.11. Kahanggi (saudara sesuku dan saudara yang berdasarkan perkawinan),