0
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN
PROKRASTINASI KERJA PADA KARYAWAN
NASKAH PUBLIKASI
Oleh:
Desi Retnoningsih
F 100 080 040
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
3
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN
PROKRASTINASI KERJA PADA KARYAWAN Desi Retnoningsih
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Abstraksi
Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Pada kenyataannya ada sebagian karyawan yang melakukan prokrastinasi. Masalah prokrastinasi bagi perusahaan penting untuk diperhatikan, sebab dengan karyawan yang melakukan prokrastinasi akan mempengaruhi kinerja menjadi lambat dan pekerjaan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Prokrastinasi yang dilakukan karyawan berdampak pada kinerja kerja karyawan kurang maksimal dan merugikan perusahaan. Salah satu penyebab terjadinya prokrastinasi kerja karyawan karena kepribadian karyawan kurang memiliki kepercayaan diri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1.) Hubungan antara kepercayaan diri dengan prokrastinasi kerja pada karyawan. 2.) Tingkat kepercayaan diri karyawan. 3.) Tingkat prokrastinasi kerja karyawan. 4) Sumbangan efektif kepercayaan diri terhadap prokrastinasi kerja pada karyawan. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ada hubungan negatife antara kepercayaan diri dengan prokrastinasi kerja pada karyawan. Artinya semakin rendah kepercayaan diri maka semakin tinggi prokrastinasi kerja yang terjadi pada karyawan. Demikian sebaliknya. Semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin rendah prokrastinasi kerja yang terjadi pada karyawan.
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepercayaan diri dan prokrastinasi kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di CV Biss Production di Cemani, Sukoharjo yang berjumlah 43 orang. Jumlah sebanyak 43 orang tersebut digunakan semua sebagai sampel penelitian. Oleh sebab itu, jumlah sampel diambil dari keseluruhan populasi, maka subjek dalam penelitian ini disebut studi populasi. Metode dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu skala. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik.
Berdasarkan hasil pembahasan, hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.) Ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan prokrastinasi kerja pada karyawan. 2.) Tingkat kepercayaan diri karyawan tergolong sedang. 3.) Tingkat prokrastinasi kerja karyawan tergolong sangat tinggi. 4.) Sumbangan efektif kepercayaan diri terhadap prokrastinasi kerja pada karyawan sebesar 0,137 atau 31,8%. Hal ini berarti masih terdapat beberapa variabel lain yang mempengaruhi kepercayaan diri sebesar 68,2%.
1 PENDAHULUAN
Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Karyawan juga selalu disebut sebagai human capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai tambah perusahaan. Sebagai modal terpenting, fungsi dan peran karyawan selalu bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas dan efisiensi perusahaan melalui cara kerja yang efektif. Sebab, bila karyawan tidak produktif dan tidak efisien, maka karyawan tidak lagi menjadi modal terpenting, tapi menjadi beban buat perusahaan, seperti karyawan dalam bekerja memiliki perilaku prokrastinasi.
Ilmu psikologi menyebut perilaku menunda-nunda ini dengan istilah prokrastinasi. Secara harfiah, prokrastinasi berasal dari bahasa latin,
“procrastinare” yang berarti
menunda sampai hari berikutnya. Prokrastinasi meliputi penundaan atau penangguhan sesuatu yang penting ke waktu yang lain atau hari berikutnya. Prokrastinasi sebagai sebuah frekuensi kegagalan dalam melakukan apa yang harus seharusnya dilakukan untuk
mencapai tujuan tertentu (Iskender, 2011).
Prokrastinasi dapat terjadi dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang kerja. Masalah prokrastinasi bagi perusahaan penting untuk diperhatikan, sebab dengan karyawan yang melakukan prokrastinasi akan mempengaruhi kinerja menjadi lambat dan pekerjaan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Seperti yang diutarakan oleh Eerde (2003) bahwa prokrastinasi yang dilakukan karyawan dalam bekerja akan merugikan perusahaan dan menghambat perkembangan perusahaan. Sedangkan bagi karyawan berdampak pada karyawan memperoleh nilai buruk dari perusahaan dan memungkinkan karyawan dikeluarkan dari perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan menginginkan para karyawan tidak melakukan prokrastinasi.
Masalah prokrastinasi ini juga terjadi CV Biss Production di Cemani, Sukoharjo. CV Biss Production
merupakan salah satu perusahaan jasa dalam menyediakan tenaga Sales
2 perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasa SPG untuk memasarkan produk. Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa karyawan di CV Biss Production telah melakukan prokrastinasi. Hal ini terlihat dalam melaksanakan pekerjaan ada kalanya karyawan tidak memiliki disiplin kerja yang tinggi dan melakukan penyimpangan dalam melaksanakan tugasnya, khususnya apabila pimpinan tidak berada ditempat dan karyawan keluar untuk kepentingan diluar pekerjaan tanpa sepengetahuan pimpinan, sehingga banyak menyebabkan hasil kerja kurang maksimal. Selain itu, prokrastinasi SPG dapat dilihat dari cara SPG kurang tanggap terhadap permintaan konsumen. Seperti yang dilakukan oleh karyawan CV Biss
Production yaitu saat konsumen
meminta untuk diambilkan suatu barang, SPG mengambilkan barang lama waktunya. SPG terlihat melakukan pekerjaan lain yaitu berbincang-bincang dengan konsumen lain atau menerima telepon dari HP. Hal tersebut membuat konsumen jengkel dan tidak jadi membeli barang. Perilaku SPG tersebut telah
merugikan perusahaan, karena barang yang dipromosikan tidak terjual sesuai target.
Perilaku prokrastinasi pada diri individu tidak muncul begitu saja. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku prokrastinasi. Salah satu diantaranya menurut Ferrari (dalam Freeman, dkk., 2011) bahwa prokrastinasi sebagai suatu trait kepribadian, dalam pengertian ini prokrastinasi tidak hanya sebuah perilaku penundaan saja, akan tetapi prokrastinasi merupakan suatu trait yang melibatkan komponen-komponen perilaku maupun struktur mental lain yang saling terkait yang dapat diketahui secara langsung maupun tidak langsung.
Sehubungan dengan pengertian tersebut, salah satu tipe kepribadian yaitu tipe conscientiousness. Faktor kepribadian tipe conscientiousness pada individu menunjukkan ciri-ciri yang berkaitan dengan suatu pemahaman yang kuat akan tujuan, kewajiban, dan kelebihan-kelebihan secara umum akan berprestasi lebih baik daripada individu-individu yang tidak demikian. Sebaliknya tipe
3
conscientiousness yang dimiliki
rendah membuat individu tidak memiliki tujuan, tidak dapat diandalkan, pemalas, tidak peduli, lemah, lalai, lemah dalam kemauan, dan suka bersenang-senang, sehingga ada kecenderungan dalam diri individu melakukan penundaan dalam kerja. Individu dengan kepribadian tipe conscientiousness dan melakukan penundaan dalam bekerja berdampak pada kepercayaan diri rendah (Eerde, 2003).
Menurut Saputro dan Suseno (2008) kepercayaan diri ialah suatu sikap atau perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak cemas dalam bertindak, merasa bebas, tidak malu dan tertahan sekaligus mampu bertanggung jawab atas yang diperbuat.
Kepercayaan diri yang tinggi bagi karyawan yang bekerja sebagai
Sales Promotion Girl (SPG) sangat
diperlukan, sebab kepercayaan diri merupakan salah satu karakter yang yang harus dimiliki oleh seorang SPG. Dijelaskan oleh Rolander (2008) bahwa kepercayaan diri tinggi pada seorang SPG mampu untuk
mempengaruhi orang lain melalui kharismanya, sebab SPG yang percaya diri menyadari dan menghargai potensi dirinya sehingga SPG dalam bekerja penuh semangat. Percaya diri pada seorang SPG memiliki anggapan bahwa dirinya orang yang ramah dan ingin membantu. Hal tersebut akan tercermin pada saat anda menyapa dan tersenyum pada setiap pelanggan yang datang. Pelanggan dapat merasakan ketulusan hati dari seseorang yang
benar-benar menghargai
kedatangannya, atau ketidakacuhan seseorang dari pelayanan yang diberikan. SPG dengan kepercayaan diri tinggi dalam bekerja penuh semangat, ramah pada konsumen, dan menghargai, sehingga dapat menarik konsumen untuk membeli barang ditawarkan. Sebaliknya, kepercayaan diri pada SPG mempengaruhi sikap SPG kurang bersemangat dalam bekerja atau kurang ramah yang membuat konsumen tidak tertarik untuk membeli barang yang dijual. Oleh sebab itu, kepercayaan diri tinggi bagi SPG sangat penting.
Individu yang tidak memiliki kepercayaan diri akan cenderung
4 untuk tidak percaya akan kemampuan yang dimilikinya, mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat kesulitan tertentu, mudah putus asa, dan sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah, dengan menghindari tanggung jawab dan negosiasi diri yang menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk (Purba dan Seniwati, 2005). Yusnita (2010) menyatakan bahwa individu yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan memiliki perasaan yang yakin terhadap kekuatan dan kemampuan serta keterampilan yang dimiliki. Individu tersebut akan merasa optimis terhadap segala tugas yang telah diberikan kepadanya. Mereka akan bekerja keras sekuat tenaga untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Hubungan antara kepercayaan diri dengan prokrastinasi kerja pada karyawan. (2) Tingkat kepercayaan diri karyawan. (3) Tingkat prokrastinasi kerja karyawan. (4) Sumbangan efektif kepercayaan diri
terhadap prokrastinasi kerja pada karyawan
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Desimone (dalam Ferrari, dkk., 1995), istilah prokastinasi berasal dari kata kerja latin “procastinare”, yang secara harfiah berarti menangguhkan atau menunda sampai hari berikutnya. Kata ini merupakan suatu kumpulan dari dua kata, “pro” yang berarti dorongan dan “crastinate” berasal dari bahasa latin “cratinus” yang berarti sampai hari esok. Definisi prokrastinasi menurut Desimone adalah menunda melakukan pekerjaan hingga esok hari dan tidak mungkin tidak dilakukan secara terus menerus atau berkelangsungan (Ferrari, dkk., 1995). Pada kalangan ilmuwan istilah prokrastinasi untuk menunjukkan pada suatu kecenderungan menunda-nunda pekerjaan. Eerde (2003) seseorang yang mempunyai kecenderungan untuk menunda atau tidak segera mulai suatu kerja, ketika menghadapi suatu kerja tersebut sebagai seseorang yang melakukan prokrastinasi. Tidak peduli apakah penunda tersebut mempunyai alasan
5 atau tidak, karena setiap penundaan dalam menghadapi suatu tugas tersebut prokrastinasi. Seorang
procrastinator biasanya mempunyai
tidur yang tidak sehat, mempunyai depresi yang kronis, menjadi sebab stres, dan berbagi penyebab penyimpangan psikologis lainnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan pengertian dari prokrastinasi kerja adalah perilaku yang cenderung atau menunda-nunda pekerjaan dan tidak segera memulai pekerjaannya.
Prokrastinasi kerja karyawan didasarkan pada aspek-aspek yang dikemukakan oleh Binder (2008), yaitu : (1) penundaan berkaitan dengan tingkah laku (behavioral
procrastination), (2) penundaan batas
waktu (deadline procrastination), (3) penundaan dalam membuat keputusan (decision making procrastination), (4) pola atau bentuk mundur (fallback
pattern), (5) penundaan yang
dilakukan karena kebiasaan (habitual
procrastination), (6) penundaan
keterlambatan (lateness
procrastination), (7) penundaan sosial
(social procrastination). Alasan digunakan aspek-aspek Binder (2008)
yaitu tujuh aspek tersebut mampu mengungkapkan semua aspek-aspek yang dikemukakan oleh para ahli dalam teorinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi kerja meliputi fenomenologi prokrastinasi, perbedaan individual pada sikap kepercayaan diri, demografi, kecemasan terhadap evaluasi yang akan diberikan, kesulitan dalam mengambil keputusan, pemberontakan terhadap kontrol dari figur otoritas, kurangnya tuntutan dari tugas, standar yang terlalu tinggi mengenai kemampuan individu, takut gagal, takut berhasil, tidak menyukai tugas, pemberontakan, tidak terampil memecahkan masalah, dan sikap prefeksionis.
Menurut Adywibowo (2010) kepercayaan diri adalah suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya, dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan dalam hidupnya. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan Lauster (2000) yang menyatakan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan
6 yakin atas kemampuan sendiri. Ahli jiwa yang terkenal Afred Adler mencurahkan hidupnya pada penyelidikan rasa rendah diri. Dia mengatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling penting adalah akan kepercayaan diri sendiri dan rasa superioritas. Leman (2000) menjelaskan bahwa kepercayaan diri adalah sikap positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Sikap dan penilaian positif ini dikembangkan oleh individu untuk memperkuat keyakinan yang dimiliki akan kemampuan yang ada dalam dirinya.
Centi (2006) menyatakan bahwa kepercayaan diri berawal dari tekad pada diri sendiri untuk melakukan segala yang diinginkan dan dibutuhkan dalam hidup serta terbina dari keyakinan diri sendiri. Orang yang memiliki kepercayaan diri merasa yakin akan kemampuan dirinya sehingga bisa menyelesaikan masalahnya, karena tahu apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya serta mempunyai sikap positif yang didasari keyakinan akan kemampuannya. Angelis (2005) menyatakan bahwa
kepercayaan diri merupakan sikap pada diri seseorang yang dapat menerima kenyataan mengembangkan kesadaran diri, berfikir positif, memiliki kemandirian dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta mencapai segala sesuatu yang diinginkan.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan.
Kepercayaan diri diukur dengan menggunakan skala kepercayaan diri berdasarkan aspek-aspek yang mengacu pada teori Lauster (2000). Aspek-aspek yang digunakan adalah ambisi normal, optimisme, mandiri, tidak mementingkan diri sendiri dan toleransi. Digunakan aspek-aspek Lauster (2000) dengan alasan
aspek-aspek tersebut mampu
mengungkapkan aspek-aspek dari beberapa teori yang digunakan dalam penelitian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri
7 seseorang diantaranya adalah konsep diri dan harga diri, kondisi fisik, kegagalan dan kesuksesan, pengalaman hidup, pendidikan dan peran lingkungan keluarga.
HIPOTESIS
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah “ada hubungan negatif antara kepercayaan diri dengan prokrastinasi kerja pada karyawan”. Artinya semakin rendah kepercayaan diri maka semakin tinggi prokrastinasi kerja yang terjadi pada karyawan. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin rendah prokrastinasi kerja yang terjadi pada karyawan.
METODE PENELITIAN
Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah prokrastinasi kerja dan kepercayaan diri.
Populasi adalah keseluruhan individu yang ingin diteliti dan paling sedikit mempunyai satu ciri atau sifat yang sama (Hadi, 2000). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di CV Biss
Production di Cemani, Sukoharjo
yang berjumlah 43 orang. Jumlah sebanyak 43 orang tersebut digunakan
semua sebagai sampel penelitian. Oleh sebab itu, jumlah sampel diambil dari keseluruhan populasi, maka subjek dalam penelitian ini disebut studi populasi.
Metode dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu skala. Ada dua macam skala pengukuran dalam penelitian ini, yaitu skala prokrastinasi kerja dan skala kepercayaan diri karyawan.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik. Perhitungan menggunakan teknik korelasi product moment, alasan menggunakan teknik korelasi
product moment karena di dalam
penelitian ini ada dua variabel yaitu prokrastinasi kerja dan kepercayaan diri karyawan yang masing-masing bergejala interval dan ingin dicari korelasi antara dua variabel tersebut.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian dengan menggunakan korelasi product moment diperoleh hasil r = -0,564
dengan p = 0,000 (p ≤ 0.01) yang berarti ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan prokrastinasi kerja Maksudnya, semakin tinggi
8 kepercayaan diri, maka semakin rendah prokrastinasi kerja. Sebaliknya, semakin rendah kepercayaan diri maka prokrastinasi kerja semakin tinggi, dengan demikian hipotesis terbalik.
Menurut Saputro dan Suseno (2008) kepercayaan diri ialah suatu sikap atau perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak cemas dalam bertindak, merasa bebas, tidak malu dan tertahan sekaligus mampu bertanggung jawab atas yang diperbuat. Kepercayaan diri yang tinggi bagi karyawan yang bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) sangat diperlukan, sebab kepercayaan diri merupakan salah satu karakter yang yang harus dimiliki oleh seorang SPG.
Kepercayaan diri dapat diketahui melalui aspek-aspeknya. Menurut Lauster (dalam Hamdan, 2008) aspek-aspek kepercayaan diri, diantaranya adalah: 1.) Optimis, yaitu sikap yang mempengaruhi hidup orang yang optimis dan selalu beranggapan bahwa kita akan berhasil, dan dapat menggunakan kemampuan, kekuatan dan
keterampilan secara positif, bersikap positif dan terbuka. 2.) Mandiri, yaitu suatu keadaan dapat berdiri sendiri. Orang yang mandiri berarti dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain/orang yang tidak memiliki kepercayaan diri terhadap tekanan karena yakin akan kemandiriannya sehingga tidak akan terpengaruh oleh temannya. 3.) Memiliki ambisi yang tidak berlebihan. Ambisi adalah dorongan untuk mencapai sukses. Memiliki ambisi yang tidak berlebihan berarti memiliki dorongan untuk mencapainya dan dengan tetap memiliki pertimbangan-pertimbangan yang bijaksana. 4.) Tidak mementingkan diri sendiri, merupakan keramahan manusia yang murni tanpa tujuan untuk mendapatkan balas jasa, pujian maupun sanjungan, namun juga bukan kerendahan hati yang berlebihan. Orang yang tidak mementingkan diri sendiri, berjanji untuk kondisi yang lebih baik untuk diri sendiri dan orang lain. 6.) Toleransi yaitu menerima pendapat, kelakuan gaya hidup yang berhubungan dengan dirinya. Orang
9 memiliki toleransi juga bebas dari prasangka.
Kepercayaan diri pada subjek termasuk sangat tinggi. Dijelaskan oleh Rolander (2008) bahwa kepercayaan diri tinggi pada seorang SPG mampu untuk mempengaruhi orang lain melalui kharismanya, sebab SPG yang percaya diri menyadari dan menghargai potensi dirinya sehingga SPG dalam bekerja penuh semangat. Percaya diri pada seorang SPG memiliki anggapan bahwa dirinya orang yang ramah dan ingin membantu. Hal tersebut akan tercermin pada saat anda menyapa dan tersenyum pada setiap pelanggan yang datang. Pelanggan dapat merasakan ketulusan hati dari seseorang yang
benar-benar menghargai
kedatangannya, atau ketidakacuhan seseorang dari pelayanan yang diberikan. SPG dengan kepercayaan diri tinggi dalam bekerja penuh semangat, ramah pada konsumen, dan menghargai, sehingga dapat menarik konsumen untuk membeli barang ditawarkan. Sebaliknya, kepercayaan diri pada SPG mempengaruhi sikap SPG kurang bersemangat dalam bekerja atau kurang ramah yang
membuat konsumen tidak tertarik untuk membeli barang yang dijual. Oleh sebab itu, kepercayaan diri tinggi bagi SPG sangat penting.
Yusnita (2010) menyatakan bahwa individu yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan memiliki perasaan yang yakin terhadap kekuatan dan kemampuan serta keterampilan yang dimiliki. Individu tersebut akan merasa optimis terhadap segala tugas yang telah diberikan kepadanya. Individu akan bekerja keras sekuat tenaga untuk menyelesaikan tugas tersebut. Kepercayaan diri tinggi membuat individu tidak melakukan atau mengurangi prokastinasi. Sebaliknya individu yang kurang memiliki kepercayaan diri menpengaruhi tingkat prokastinasi semakin tinggi. Suatu penundaan dikatakan sebagai prokrastinasi, apabila penundaan itu dilakukan pada tugas yang penting, dilakukan berulang-ulang secara sengaja dan menimbulkan perasaan tidak nyaman, secara subyektif dirasakan oleh seseorang prokrastinator. Sebaliknya, individu yang tidak memiliki kepercayaan diri rendah akan cenderung untuk tidak
10 percaya akan kemampuan yang dimilikinya, mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat kesulitan tertentu, mudah putus asa, dan sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah, dengan menghindari tanggung jawab dan negosiasi diri yang menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk (Purba dan Seniwati, 2005).
Kepercayaan diri subjek yang tinggi berpengaruh terhadap prokrastinasi subjek rendah. Hal tersebut dapat terjadi karena subjek yang memiliki kepercayaan diri tinggi dalam bekerja akan fokus pada pekerjaan, tidak cemas menghadapi tugas, penuh semangat, dan tepat waktu. Hasil penelitian tersebut mendukung penelitian yang dilakukan oleh Mastuti (2009) bahwa kepercayaan diri berpengaruh negatif terhadap prokrastinasi.
Iskender (2011) mengatakan bahwa prokrastinasi adalah suatu perilaku spesifik, yang meliputi : 1) rilaku yang melibatkan unsur penundaan, baik untuk memulai maupun menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas, 2) menghasilkan akibat-akibat lain yang lebih jauh, misalnya
keterlambatan menyelesaikan tugas maupun kegagalan dalam mengerjakan tugas, 3) melibatkan suatu tugas yang dipersepsikan oleh pelaku prokrastinasi sebagai suatu tugas yang penting untuk dikerjakan, misalnya tugas kantor, tugas sekolah, maupun tugas rumah tangga, 4.) menghasilkn keadaan emosional yang tidak menyenangkan, misalnya perasaan cemas, perasaan bersalah, marah, panik, dan sebagainya.
Akinsola, dkk., (2007) berpendapat bahwa perilaku prokrastinasi muncul pada kondisi lingkungan tertentu. Kondisi yang menimbulkan stimulus tertentu bisa menjadi reinforcement bagi prokrastinasi. Kondisi yang lenient atau rendah dalam pengawasan akan mendorong seseorang untuk melakukan prokrastinasi. Kognitif dan
kognitif behavioral; prokrastinasi
terjadi karena adanya keyakinan tidak rasional yang dimiliki seseorang. Keyakinan tidak rasional disebabkan oleh kesalahan mempersepsi tugas, misalnya sebagai sesuatu yang berat dan tidak menyenangkan
(aversiveness of the task dan fear of failure). Fear of failure adalah
11 ketakutan yang berlebihan untuk gagal dan seseorang menunda-nunda mengerjakan tugas karena takut gagal menyelesaikannya sehingga akan mendatangkan penilaian yang negatif terhadap kemampuannya. Seseorang melakukan prokrastinasi untuk menghindari informasi diagnostik terhadap kemampuannya, sehingga orang tidak mau dikatakan mempunyai kemampuan yang rendah atau kurang.
Berdasarkan pembahasan diatas dapat diketahui bahwa kepercayaan diri berpengaruh terhadap prokrastinasi kerja, dengan sumbangan efektifnya sebesar 0,318 sehingga kepercayaan diri hanya berpengaruh terhadap prokrastinasi kerja sebesar 31.8% karena masih ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi prokastinasi kerja sebesar 68,2% yaitu konsep diri, harga diri, pendidikan atau faktor lingkungan kerja.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan, hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan prokrastinasi kerja pada karyawan.
2. Tingkat kepercayaan diri karyawan tergolong sangat tinggi. 3. Tingkat prokrastinasi kerja
karyawan tergolong sedang
4. Sumbangan efektif kepercayaan diri terhadap prokrastinasi kerja pada karyawan sebesar 0,318 atau 31,8%. Hal ini berarti masih terdapat beberapa variabel lain yang mempengaruhi kepercayaan diri sebesar 68,2%.
Mengingat hasil penelitian untuk kepercayaan diri termasuk tingkat sedang, maka disarankan bagi para pihak terkait, yaitu sebagai berikut:
Bagi Karyawan, disarankan untuk meningkatkan kepercayaan diri, cara yang dapat dilakukan, antara lain: (a) Penundaan berkaitan dengan tingkah laku, disarankan bagi karyawan untuk merubah perilaku penundaan kerja dengan cara setiap tugas dari pimpinan cepat-cepat diselesaikan. (b) Penundaan batas waktu, disarankan bagi karyawan untuk melaksanakan kegiatan kerja
12 sesuai dealine. Misalnya, dalam menyelesaikan satuga dari pimpinan dengan rencana satu minggu, maka karyawan harus menyelesaikan dalam waktu satu minggu. (c) Penundaan dalam membuat keputusan, bagi karyawan disarankan untuk membuat keputusan langkah-langkah kerja secepatnya setelah mendapat tugas dari pimpinan. (d) Pola / bentuk mundur, disarankan bagi karyawan untuk melihat akibat kerja yang ditunda-tunda, dari pengalaman tersebut karyawan dapat mengambil sikap secepatnya menyelesaikan pekerjaan. Seperti, saat karyawan diperintah menemui konsumen dengan sikap ramah, maka karyawan tersebut menemui karyawan dengan sikap sopan dan ramah. (e) Penundaan yang dilakukan karena kebiasaan, disarankan untuk merubah kebiasaan. Seperti biasanya datang terlambat, disarankan kepada karyawan untuk bangun lebih pagi sehingga datang ke kantor tidak terlambat. (f) Penundaan keterlambatan, disarankan agar karyawan tidak melakukan penundaan keteralmbatan kerja. cara yang dapat dilakukan yaitu setelah menyelesaikan pekerjaan dan membuat laporan
kepada pimpinan mengenai hasil kerjanya. (g) Penundaan sosial, karyawan disarankan untuk mencari teman yang mempunyai sikap dalam bekerja dengan cepat, sehingga karyawan terpengaruh dengan temannya tersebut dan dapat bekerja secara cepat pula.
Bagi Pimpinan Perusahaan. Disarankan bagi pimpinan untuk menurunkan prokrastinasi kerja karyawan. Cara yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan disiplin aturan perusahaan. Misalnya, bagi karyawan yang datang atau membuat laporan mendapat hukuman, hukumannya dapat berupa potongan uang makan. Pimpinan dapat lebih intensif menanyakan hasil kerja karyawan, apabila ada karyawan yang belum melaporkan hasil kerja pimpinan dapat memberikan teguran.
Bagi peneliti selanjutnya. Mengingat dalam penelitian ini ada kelemahan yaitu jumlah responden sedikit hanya 43 orang, maka disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah responden seebanyak-banyak atau lebih dari 100 orang, sehingga diharapkan hasil penelitian lebih baik lagi.
13 DAFTAR PUSTAKA
Adywibowo, Inge Pudjiastuti. 2010. Memperkuat Kepercayaan Diri Anak melalui Percakapan Referensial.
Jurnal Pendidikan Penabur.
No.15
Angelis, B. D. 2005. Confidence :
percaya diri sumber sukses dan kemandirian. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Binder, Kelly. 2008. The Effects of an Academic Procrastination Treatment on Student Procrastination and Subjective Well-Being.
Abstrak (tidak diterbitkan)
Canada: Carleton University Centi, P. J. 2006. Mengapa rendah
diri. Kanisius : Jakarta.
Eerde, Wendelien van. 2003. A meta-analytically derived nomological network of procrastination. Personality
and Individual Differences.
Vol. 35 Hal. 1401–1418 Ferrari, J. R., Johnson, J. L., &
McCown, W. G. 1995.
Procrastination and task
avoidance: Theory, research, and treatment. New York:
Plenum.
Freeman, Erin K., Cox, Luz-Eugenia., Fuenzalida, Cox., dan Stoltenberg, Ilea. 2011. Extraversion and Arousal Procrastination: Waiting for the Kicks. Springer
Science+Business Media.
30:375–382
Hadi, S. 2000. Metodologi Research
I. Yogyakarta: Andi
Iskender, Murat. 2011. The influence of self-compassion on academic procrastination and dysfunctional attitudes.
Academic Journals. Vol.
6(2), pp. 230-234
Lauster, P. 2000. Personality Test. Alih Bahasa D.H. Gulo. Jakarta: Bumi Aksara.
Leman, Martin. 2000. Membangun
Rasa Percaya Diri Anak.
Jakarta:Majalah
Purba, Debora Eflina dan Seniati, Ali Nina Liche. 2005. Pengaruh Kepribadian dan Komitmen Organisasi terhadap
Organizational Citizenzhip
Behavior. Makara, Sosial Humaniora. Vol. 8, No. 3,
Hal. 105-111
Saputro, Niko Dimas dan Suseno, Miftahun Ni’mah. 2008.
Hubungan antara
Kepercayaan Diri dengan
Employability pada
Mahasiswa. Jurnal Psikologi. Universitas Islam Indonesia. Hal. 1-9
Yusnita, Mirtha. 2010. Kepercayaan Diri Individu Dwarfisme
(Tinjauan Teori Psikologi Transpersonal). Abstrak
(tidak diterbitkan). Universitas Gunadarma