• Tidak ada hasil yang ditemukan

09 BAB IV KESIMPULAN,BATASAN, & ANGGAPAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "09 BAB IV KESIMPULAN,BATASAN, & ANGGAPAN"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

RUMAH SAKIT MATA KOTA SEMARANG 38

CATUR WAHYU WICAKSONO – L2B 009 127

BAB IV

KESIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN

4.1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya mengenai perencanaan dan perancangan Rumah Sakit Mata Kota Semarang, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Perlu adanya fasilitas pelayanan kesehatan mata berupa Rumah Sakit Mata di Kota Semarang sehingga masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan ini secara maksimal dan mendapat akses yang mudah untuk dicapai.

b. Rumah Sakit Khusus Mata yang akan direncanakan merupakan Rumah Sakit Khusus kelas B, dengan fasilitas dan kemampuan pelayanan medik tujuh pelayanan spesialistik mata dan mecakup pelayanan kota dan sekitarnya. Rumah Sakit Mata Kelas B Kota Semarang secara garis besar direncanakan memiliki fasilitas dan pelayanan sebagai berikut:

1) Pelayanan Medis a) Instalasi Rawat Jalan

Pemeriksaan Awal

Pelayanan Mata Spesialistik :  Refraksi

 Infeksi & Imunologi Mata  Glaukoma

 Katarak  Medikal Retina

 Oftalmologi Komunitas  Pediatrik Oftalmologi

b) Instalasi Gawat Darurat Mata c) Instalasi Optik

d) Instalasi Lasik Centre

e) Instalasi Rawat Inap dengan kapasitas antara 50 – 100 tempat tidur 2) Pelayanan Penunjang Medik

a) Instalasi Farmasi b) Instalasi Bedah Pusat c) Instalasi Pusat Steril (CSSD) d) Instalasi Radiologi

e) Instalasi Laboratorium f) Kamar Mayat

3) Pelayanan Penunjang Non Medik a) Instalasi Gizi/ Dapur

(2)

RUMAH SAKIT MATA KOTA SEMARANG

CATUR WAHYU WICAKSONO – L2B 009 127 39

d) Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) e) Instalasi Gas Medik.

4) Pelayanan Administrasi & Rekam Medik

c. Penekanan desain pada Rumah Sakit Mata Kelas B Kota Semarang adalah arsitektur tropis - berkelanjutan dengan citra bangunan yang mengkombinasikan antara arsitektur daerah tropis dengan arsitektur berkelanjutan yang berhubungan dengan pemanfaatan material dan fungsi dari bagian-bagian bangunan secara maksimal.

d. Studi banding RS. Mata Kelas B Kota Semarang, diantaranya adalah SEC RSI Sultan Agung SMG, RS. Mata Dr. Yap Jogja, dan RS. Mata Cicendo Bandung.

e. Segala sesuatu yang berhubungan dengan perencanaan dan perancangan mengacu pada standarisasi Undang-undang, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dan Pedoman Arsitektur Medik yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

4.2. BATASAN

Perencanaan dan perancangan Rumah Sakit Mata Kelas B Kota Semarang dalam pembahasannya hanya dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:

a. Lokasi perencanaan RS. Mata Kelas B Kota Semarang, berada di (BWK II) SMG.

b. Lingkup kegiatan yang akan diwadahi adalah pemeriksaan, pencegahan, pengobatan, rawat jalan dan rawat inap, pembelian obat, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan laboratorium, kegiatan administrasi, dan kegiatan operasi bedah mata.

c. Standar dan persyaratan ruang mengacu pada standarisasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan disesuaikan dengan kondisi tapak di Kota Semarang.

d. Titik berat perencanaan dan perancangan adalah masalah-masalah arsitektural, permasalahan di bidang ekonomi, politik, dan di bidang lain di luar bidang arsitektur selanjutnya tidak akan dibahas, kecuali selama masih berkaitan dan mendukung masalah utama.

4.3. ANGGAPAN

Anggapan dalam proses perencanaan dan perancangan Rumah Sakit Mata Kelas B Kota Semarang diasumsikan sebagai berikut:

a. Tapak terpilih dianggap telah memenuhi persyaratan dan siap digunakan dengan batasan-batasan yang ada. Dalam penyediaan pembebasan tanah dianggap tidak terdapat masalah. b. Tapak dalam kondisi siap diolah/dibangun, bangunan yang telah ada di site bila

dimungkinkan dianggap tidak ada.

c. Studi kelayakan struktur dan daya dukung tanah dianggap telah dilaksanakan dan dapat digunakan untuk rekomendasi proses perencanaan dan perancangan selanjutnya.

d. Dana untuk pembangunan RS. Mata Kelas B Kota Semarang yang direncanakan dianggap telah tersedia dan sesuai dengan program perencanaan dan perancangan.

Referensi

Dokumen terkait

Judul : Re-Desain Rumah Sakit Panti Rini Kalasandi Yogyakarta Penekanan Desain : Arsitektur Ekletik.. Permasalahan Dominan : sirkulasi bangunan

Peraturan bangunan tetap mengacu pada peraturan yang berlaku pada. kawasan tersebut seperti yang telah ditetapkan oleh

Peraturan bangunan disesuaikan dengan peraturan yang berlaku pada lokasi tapak yang akan dibangun terminal bus.. Penentuan lokasi terminal ditinjau berdasarkan

Penataan Tambak Mulyo terdiri dari 2 lingkup yaitu makro dan mikro.. Lingkup makro merupakan penataan pemukiman nelayan itu

Dari segi arsitektural, redisain Pasar Klewer tidak harus sama dengan bangunan eksisting karena Pasar Klewer bukan merupakan bangunan cagar budaya, tetapi harus

Besaran luas ruang – ruang bangunan yang merupakan tuntutan kebutuhan ruang hasil studi kasus dan wawancara dengan pihak terkait, dapat digunakan sebagai acuan dalam

Lingkup kegiatan yang akan diwadahi adalah jenis kegiatan olahraga berkuda. berupa pacuan dan equestrian dengan penentuan fasilitas yang

Merencanakan dan merancang wisma atlet Jatidiri Semarang yang sesuai kebutuhan kapasitas, hemat energi, berkelanjutan dengan penekanan desain eko-arsitektur dan