• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan keterampilan bertanya dan hasil belajar melalui strategi Learning Start with a Question (LSQ) pada mata pelajaran IPA materi cahaya dan sifatnya kelas V di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peningkatan keterampilan bertanya dan hasil belajar melalui strategi Learning Start with a Question (LSQ) pada mata pelajaran IPA materi cahaya dan sifatnya kelas V di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan."

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh :

Diny Rochmatul Fauziyah

D07213008

PROGRAM STUDI PGMI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Diny Rochmatul Fauziyah. 2017. Peningkatan Keterampilan Bertanya dan Hasil Belajar melalui Strategi Learning Start with a Question (LSQ) pada Mata Pelajaran IPA Materi Cahaya dan Sifatnya Kelas V di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan

Penelitian ini dilatarbelakangi pada keterampilan bertanya siswa pada mata pelajaran IPA masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan partisipasi siswa kurang menyeluruh saat pelajaran, kebiasaan siswa yang langsung mengutarakan pertanyaan tanpa mengacungkan tangan dan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa serta yang mengajukan pertanyaan dominan pada satu atau dua siswa saja. Dari 21 siswa hanya 3 orang siswa (14%) yang bertanya sesuai indikator keterampilan bertanya. Untuk itu peneliti menggunakan strategi Learning Start with a Question (LSQ) dalam meningkatkan keterampilan bertanya siswa. Peneliti berharap dengan penerapan strategi Learning Start with a Question (LSQ) anak lebih terampil dalam bertanya di dalam kelas.

Tujuan dari penelitianpenelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui penerapan strategi Learning Start with a Question (LSQ). (2) Untuk mengetahui peningkatan keterampilan bertanya dan hasil belajar melalui Learning Start with a Question.

Metode penelitian ini menggunakan metode PTK Kurt Lewin. Subjek penelitian ini terdiri dari 21 siswa kelas V. Tindakan yang digunakan sebanyak dua siklus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, penilaian performance dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan: (1) penerapan strategi Learning Start with a Question (LSQ) dilakukan pada dua siklus, karena aktivitas siswa pada siklus I 73,33 (baik) dan aktivitas guru 75,87 (baik). Pada siklus II hasil aktivitas siswa meningkat 83,33 (sangat baik) dan aktivitas guru juga meningkat 90,62 (sangat baik). (2) peningkatan keterampilan bertanya siswa juga ditunjukkan dari hasil rata-rata nilai performance keterampilan bertanya pada pra siklus sebesar 32,38 meningkat pada siklus I sebesar 58,33 (sangat tidak baik). Pda siklus II rata-rata keterampilan bertanya siswa meningkat sebesar 82,14 (baik). Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa sebesar 72,95 dan meningkat pada siklus II sebesar 84,48. Presentase ketuntasan keterampilan bertanya siswa juga mengalami peningkatan. Pada siklus I sebesar 38% (sangat tidak baik) dan pada siklus II sebesar 81% (baik). Penelitian ini sudah dapat dikatakan berhasil karena mencapai indikator kinerja yang ditentukan.

(7)

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN MOTTO ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iv

PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... .. ix

DAFTAR ISI ... . xii

DAFTAR GAMBAR ... .. xv

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR RUMUS ... xvii

DAFTAR DIAGRAM ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tindakan yang Dipilih ... 9

D. Tujuan Penelitian ... 9

E. Signifikansi Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN TEORI A. Strategi Learning Start with a Question (LSQ) ... 12

1. Pengertian Strategi Learning Start with a Question (LSQ) ... 12

(8)

B. Keterampilan Bertanya ... 19

1. Pengertian Bertanya ... 19

2. Pengertian Keterampilan Bertanya ... 20

3. Indikator Keterampilan Bertanya... 22

C. Hasil Belajar ... 23

D. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ... 24

1. Pengertian IPA ... 24

2. Tujuan Pembelajaran IPA ... 25

3. Ruang Lingkup Pembelajaran IPA ... 26

E. Materi Cahaya dan Sifatnya ... 27

BAB III PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. Jenis Penelitian ... 34

B. Setting Penelitian dan Karakteristik Subyek Penelitian... 37

C. Variabel yang Disedlidiki ... 38

D. Rencana Tindakan ... 38

E. Data dan Cara Pengumpulannya ... 45

F. Teknik Analisis Data ... 51

G. Indikator Kinerja ... 56

H. Tim Peneliti dan Tugasnya ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 59

1. Pra Siklus ... 60

2. Siklus I ... 63

3. Siklus II ... 78

(9)

B. Saran ... 101 DAFTAR PUSTAKA

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN RIWAYAT HIDUP

(10)

A. Latar Belakang

Pendidikan yang tercantum dalam Undang–Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional1. Komponen-komponen pendidikan tersebut antara lain peserta didik, tenaga kependidikan, pendidik, jalur pendidikan, pendidikan formal, pendidikan informal, kurikulum, evaluasi pembelajaran komite sekolah atau madrasah, masyarakat dan menteri.

Pendidikan merupakan pengembangan sumber daya manusia. Namun tantangan pada era zaman sekarang adalah untuk menyiapkan anak anak untuk hidup dalam lingkungan yang sebagian besar belum dikenal akibat terjadinya akselerasi hebat dari perubahan yang terjadi akhir-akhir ini. Banyak orang beranggapan belajar hanya sebatas menghafal kutipan dari buku. Pada dasarnya belajar merupakan suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku dengan lingkungannya2. Belajar juga dapat mengantarkan anak menuju gerbang dunia untuk meraih cita-cita yang diimpikan.

1

Teguh Triwiyanto, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), 114. 2

(11)

Melalui pendidikan dapat dihasilkan manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dilihat dari segi pendidikan telah diatur dalam tujuan pendidikan nasional. Menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Tujuan Pendidikan Nasional adalah “Untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab”.3

Berdasarkan UU No 20 tahun 2003 pasal 17 menjelaskan bahwa “Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah”. Dengan demikian jenjang Sekolah Dasar (SD) atau

Madrasah Ibtidiyah (MI) merupakan lembaga pendidikan formal yang menyiapkan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi peserta didik pada jenjang berikutnya.

Pada proses pembelajaran dibutuhkan seorang guru yang benar-benar profesional yang mana seorang guru tidak hanya dituntut bisa mengajar saja dan menguasai kelas namun lebih dari itu, seorang guru harus memiliki keterampilan yang akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa untuk bertanya hal yang kurang dimengerti. Sebab cara yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa adalah keinginan siswa dalam menyampaikan pertanyaan.

3

(12)

Pertanyaan yang disampaikan oleh siswa boleh berkaitan dengan pelajaran yang sedang diajarkan ataupun pengetahuan lainnya yang dapat menambah wawasan mereka. Jenis pertanyaan yang dapat digunakan yaitu 5W + 1H (What, Where, When, Who, Why and How). Kata-kata itu semua adalah kata tanya yang umumnya digunakan oleh banyak orang. Bertanya juga merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam suatu proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran.

Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan respon dari peserta didik. Begitu pula sebaliknya, ketrampilan bertanya yang dimiliki oleh siswa berupa pertanyaan yang dilontarkan kepada guru untuk meminta menjelaskan hal yang kurang dipahami siswa.

(13)

baik di antara sesama manusia, dan menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia4.

Selain kemampuan guru dalam menumbuhkan minat bertanya siswa, seorang guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang asik dan menyenangkan. Pendekatan, metode, strategi, dan teknik harus dipilih dengan benar dan harus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain situasi kelas, kondisi kelas dan karakteristik siswa yang dihadapi, agar siswa dapat menerima materi secara maksimal. Metode yang banyak digunakan oleh guru adalah metode ceramah, karena sangat mudah diaplikasikan dan tidak memerlukan media.

Namun tidak semua pelajaran dapat disampaikan dengan menggunakan metode ceramah, salah satunya adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Karena pada mata pelajaran IPA siswa lebih menekankan pada proses sehingga anak lebih faham materi yang diajarkan. Dalam setiap pembelajaran seluruh siswa diharapkan memiliki keterampilan bertanya, terlebih pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Bertanya adalah bagian penting dalam proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Untuk menumbuhkan keterampilan bertanya siswa diperlukan strategi yang variatif dalam proses pembelajaran.

4

(14)

Hasil observasi awal menunjukkan bahwa proses pembelajaran di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan masih menggunakan metode ceramah5. Pak Syaifuddin selaku guru mata pelajaran IPA mengatakan bahwa saat proses pembelajaran hanya didominasi oleh guru. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan menjelaskan kemudian siswa mengerjakan soal yang ada dibuku paket atau di LKS. Pada saat pembelajaran berlangsung banyak siswa yang memilih diam mendengarkan penjelasan guru, ada juga yang berbicara dengan teman sebangkunya. Saat ditanyai “Ada yang kurang dipahami?”

banyak siswa yang hanya memilih diam dan guru akhirnya menganggap siswa sudah faham semuanya. Keterampilan bertanya siswa kelas V di MI Hidayatussibyan masih tergolong rendah, karena tidak ada dorongan kuat untuk bertanya saat proses pembelajaran. Saat ditanyai guru pun tentang materi yang kurang dipahami banyak siswa yang memilih diam.

Saat observasi ini dilakukan hanya ada beberapa siswa yang bertanya. Saat siswa ditanyai oleh peneliti “Kenapa tidak bertanya?” banyak dari siswa

yang menunduk malu, ada pula yang menjawab takut kalau pertanyaannya salah. Jadi banyak dari mereka yang sebenarnya ingin bertanya tetapi malu atau takut untuk mengungkapkan dihadapan teman-temannya sendiri. Peneliti ingin merubah pola berfikir siswa tentang bertanya saat proses pembelajaran melalui strategi Learning Start with a Question(LSQ).

5

(15)

Sebelum dilakukan observasi Pak Syaifuddin juga menjelaskan jika saat proses pembelajaran beberapa murid mendengarkan penjelasan guru, tetapi ada beberapa yang ramai bergurau dengan temannya. Saat pelajaran akan berakhir dan dilakukan tanya jawab hanya terdapat satu dua orang anak saja yang bertanya tentang hal yang kurang difahami. Siswa yang bertanya juga itu-itu saja dan hanya terjadi jika materi yang dijelaskan tergolong sulit6.

Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi yang dilakukan dari 21 siswa kelas V MI Hidayatussibyan hanya terdapat 3 siswa memenuhi kriteria tuntas dalam keterampilan bertanya. Yaitu sebanyak 14% dari keseluruhan siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan bertanya7. Pertanyaan yang diajukan juga belum menggunakan bahasa Indonesia dengan benar.

Permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran IPA terutama di kelas V MI Hidayatussibyan Deket Lamongan menunjukkan siswa kurang antusias dan tertarik dengan proses pembelajaran yang pada akhirnya mempengaruhi hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA masih rendah dengan KKM 75.

Sehingga permasalahan yang timbul dari siswa yaitu 1) Siswa kurang memperhatikan selama pembelajaran. Hal ini ditunjukkan apabila guru menerangkan di depan kelas sebagian siswa ada yang berbicara sendiri, 2) Siswa pasif dalam proses pembelajaran, 3) Partisipasi siswa kurang

6

Hasil wawancara dengan Pak Syaifuddin Guru Mata Pelajaran IPA kelas V MI Hidayatussibyan 7

(16)

menyeluruh, hal ini ditunjukkan bahwa yang sering merespon pertanyaan hanya siswa tertentu saja, 4) Siswa tidak bisa menjawab ketika diberikan pertanyaan oleh guru. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan adanya strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan keterampilan bertanya siswa.

Strategi Learning Start with a Questionatau yang biasa disebut LSQ dipilih karena dirasa cocok untuk meningkatkan keterampilan bertanya siswa dalam mata pelajaran IPA. Strategi Learning Start with a Question(LSQ) adalah suatu strategi pembelajaran aktif yang dimulai dengan bertanya kemudian pendidik menjelaskan apa yang ditanyakan peserta didik. Jadi di awal proses pembelajaran siswa harus mempunyai pertanyaan tentang materi yang akan dibahas. Pertanyaan itu ditemukan setelah siswa membaca bacaan atau materi yang diberikan guru. Setelah mendapat gambaran tentang pelajaran yang akan disampaikan maka siswa akan lebih memperhatikan penjelasan guru dan menemukan jawaban dari pertanyaan yang dibuatnya.

Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain penelitian yang dilakukan oleh Meira Sylvi Astuti, dan Emilda Afrina Siregar. Penelitian yang dilakukan oleh Meira Sylvi Astuti8 menerangkan bahwa pada siklus I frekuensi bertanya siswa kategori sedang hanya diperoleh 4 siswa saja sementara diakhir siklus II ternyata keterampilan bertanya

8

(17)

seluruh siswa mampu mencapai kategori tinggi. Jelas terlihat perbedaan antara siklus I dengan siklus II dan terdapat kenaikan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Penelitian ini dapat dikatakan berhasil. Penelitian yang dilakukan oleh Emilda Afrina Siregar9 juga menerangkan bahwa pada siklus I terdapat 1 siswa (5,6%) yang terampil bertanya, 7 siswa (38,9%) yang cukup terampil, dan 10 siswa (55,5%) yang kurang terampil. Sedangkan pada siklus II terdapat 3 siswa (16,7%) yang sangat terampil dalam bertanya, 12 siswa (66,6%) yang terampil, dan 3 siswa (16,7%) yang cukup terampil dan tidak ada seorangpun siswa yang termasuk kurang terampil dalam bertanya. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah terampil dalam bertanya dan penelitian Emilda Afrina Siregar dikatakan berhasil karena ada peningkatan yang signifikan pada tiap siklusnya.

Perbedaan dari kedua penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah subyek, materi yang digunakan, fokus penelitian serta metode yang digunakan. Berdasarkan masalah yang dihadapi siswa tersebut, peneliti akan memfokuskan penelitian pada peningkatan keterampilan bertanya siswa dengan menggunakan strategi LSQ. Dalam penelitian ini peneliti memilih siswa kelas V MI Hidayatussibyan Deket Lamongan sebagai subjek penelitian. Menyadari arti penting fungsi, tujuan dan manfaat strategi pembelajaran berdasarkan masalah di atas, peneliti akan mengambil judul

9

(18)

“PENINGKATAN KETERAMPILAN BERTANYA DAN HASIL

BELAJAR MELALUI STRATEGI LEARNING START WITH A

QUESTION (LSQ) PADA MATA PELAJARAN IPA MATERI

CAHAYA DAN SIFATNYA KELAS V DI MI HIDAYATUSSIBYAN

DEKET LAMONGAN”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan strategi Learning Start with a Question dalam meningkatkan keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran IPA materi Cahaya dan Sifatnya di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan?

2. Bagaimana peningkatan keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran IPA materi Cahaya dan Sifatnya di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan?

C. Tindakan yang Dipilih

(19)

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan maalah yang dipaparkan, maka tujuan dari penelitian yang dilakukan antara lain:

1. Mendeskripsikanpenerapan strategi Learning Start with a Question dalam meningkatkan keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran IPA materi Cahaya dan Sifatnya di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan.

2. Mengetahui peningkatan keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran IPA materi Cahaya dan Sifatnya di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan.

E. Signifikansi Penelitian

Pada penelitian ini akan dipaparkan beberapa hal yang akan membantu beberapa pihak dalam menyelesaikan suatu permasalahan dalam kelas yang berhubungan dengan keterampilan bertanya siswa manfaat tersebut antara lain:

1. Manfaat secara teoritis

a. Memberikan masukan dan pengetahuan dalam peningkatan kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khususnya keterampilan bertanya.

(20)

yang lama menuju paradigma kontemporer (modern) yaitu dengan inovasi strategi pembelajaran yang diterapkan.

c. Bagi peneliti diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam penerapan strategi pembelajaran untuk membentuk karakter siswa dalam hal ini untuk meningkatkan keterampilan bertanya.

2. Manfaat secara praktis

a. Guru

Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengatasi masalah kesulitan yang dialami siswa khususnya keterampilan bertanya pada mata pelajaran IPA dengan menggunakan strategi Learning Start with a Question (LSQ). b. Siswa

Meningkatnya kemampuan peserta didik dalam hal bertanya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

c. Sekolah

(21)

A.Strategi Learning Start with a Question (LSQ)

1. Pengertian Strategi Learning Start with a Question (LSQ)

Strategi merupakan pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan1. Pada pemilihan strategi pembelajaran juga menuntut guru untuk menciptakan pembelajaran yang aktif di dalam kelas. Pada saat pembelajaran menggunakan dimensi auditori dan visual pesan yang disampaikan akan menjadi lebih kuat. Dengan menggunakan keduanya guru memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan beberapa tipe siswa, seehingga belajar tidak cukup hanya dengan mendengarkan atau melihat sesuatu.2

Sehingga saat proses pembelajaran peserta didik tidak hanya mendengar penjelasan guru ataupun melihat dari buku saja, tetapi siswa juga melakukan sesuai rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru. Hal tersebut dapat menjadikan siswa lebih faham tentang materi yang

1

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), 5

2

(22)

diajarkan guru. Apabila saat proses pembelajaran dan siswa tidak faham maka siswa dapat bertanya kepada guru.

Proses mempelajari sesuatu baru juga membutuhkan penyesuaian, dan akan lebih efektif jika peserta didikaktif mencari materi dan terus bertanya dari pada menerima begitu saja hal yang disampaikan guru. Salah satu carauntuk menciptakan pola belajar yang aktif adalah merangsang siswauntuk bertanya mengenai materi yang akan dipelajari.

Strategi Learning Start with a Question (LSQ) adalah suatu strategi pembelajaran aktif yang dimulai dengan bertanya kemudian pendidik menjelaskan apa yang ditanyakan peserta didik. Bertanya dapat dipandang sebagai umpan balik dan keingintahuan peserta didik.Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan seseorang dalam berpikir.

(23)

mengerti. Manusia bersifat peka, kritis dan kreatif terhadap hal-hal baru dan berusaha mencari dan mempelajarinya sampai semua pertanyaan itu terjawab.Kebutuhan rasa ingin tahu itulah yang mendorong manusia untuk mempelajari segala sesuatu dalam hidupnya.

Menjadikan seorang peserta didik agar mengerti dan memahami maka peserta didik harus mencari makna. Untuk mencari sebuah makna peserta didik harus punya kesempatan untuk membentuk dan mengajukan pertanyaan.3 Kegiatan bertanya saat pembelajaran dapat membantu peserta didik dalam menerima informasi lebih sempurna dan dapat mengembangkan kemampuan kognitif siswa karena menuntut siswa untuk berfikir, mengolah pesan yang diterima dan mengaitkan dengan pertanyaan yang dibuat. Bertanya adalah stimulus yang efektif untuk mendorong kemampuan berpikir.

Strategi yang mengaktifkan keterampilan bertanya juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam memberikan pelajaran Nabi sering memotivasi para sahabatnya untuk bertanya.Allah juga menjelaskan dalam firmanNya dalam QS.An-Nahl ayat 43:

...

 

3

(24)

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai

pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

Pada ayat di atas, diriwayatkan oleh adh-Dhahak bahwa Ibnu Abbas bercerita mengenai ayat ini, bahwa tatkala Allah mengutus Muhammad sebagai Rasul banyak di antara orang-orang Arab yang tidak menyetujuinya. Kemudian Allah berfirman “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang-orang laki yang Kami beri wahyu kepadanya sebagai Rasul, maka jika kamu tidak mengetahui tanyalah kepada orang-orang yang mengetahui, yaitu ahli-ahli kitab”.4

Apabila diselaraskan dengan ayat tersebut maka Allah telah memerintahkan kepada kita untuk bertanya. Apabila di dalam kelas maka bertanyalah kepada teman yang lebih faham atau kepada guru yang mengampu mata pelajaran tersebut. Apabila di jalan maka bertanyalah kepada orang lain yang lebih faham. Dimanapun kita berada apabila kita dalam kesusahan maka bertanyalah untuk mendapatkan informasi.

Apabila menyajikan bahan ajar terlebih dahulu kemudian siswa ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh siswa kemudian mereka mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut maka akan membangkitkan semangat belajar

4

(25)

siswa.Saat proses pembelajaran yang dimulai dengan memberikan kesempatan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya akan memberikan manfaat salah satunya adalah membangkitkan semangat dan antusias siswa untuk mendengarkan penjelasan dari guru terkait materi yang kurang dipahami. Peserta didik yang malu bertanya kepada pendidik tentang bahan pelajaran yang belum jelas akan menghambat penugasan bahan yang akan diterima dari pendidik pada pertemuan mendatang Apabila kita kurang memahami sesuatu kemudian malu untuk menanyakan hal tersebut kepada yang lebih memahaminya dan memilih untuk diam maka ia sama seperti membiarkan dirinya dalam kesesatan dan tidak mempunyai keinginan untuk mencari jalan keluar. Seperti dijelaskan dalam peribahasa yang berbunyi “Malu bertanya sesat di jalan.

2. Langkah-langkah Strategi Learning Start with a Question(LSQ)

Adapun langkah-langkah dalam strategi Learning Start with a Question (LSQ)adalah sebagai berikut5:

a. Pilih bahan bacaan yang sesuai kemudian bagikan kepada peserta didik. Bahan bacaan tidak harus difotokopi kemudian dibagi kepada peserta didik, akan tetapi dapat dilakukan dengan memilih satu topik atau bab tertentu dari buku teks.

5

(26)

Usahakan bacaan itu bacaan yang memuat informasi umum atau yang tidak detail sehingga memberi memberi peluang untuk ditafsirkan dengan berbeda-beda.

b. Minta peserta didik untuk mempelajari bacaan sendirian atau dengan teman sebangkunya.

c. Minta peserta didik untuk memberi tanda pada bagian bacaan yang tidak dipahami. Anjurkan mereka untuk memberi tanda sebanyak mungkin. Jika waktu memungkinkan, gabungkan pasangan belajar dengan pasangan yang lain, kemudian minta mereka untuk membahas poin-poin yang tidak di ketahui yang telah diberi tanda.

d. Di dalam pasangan atau kelompok kecil, minta peserta didik untuk menuliskan pertanyaan tentang materi yang telah mereka pelajari lewat membaca.

e. Kumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang telah ditulis oleh peserta didik.

f. Sampaikan pelajaran dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

(27)

Setiap strategi, model, metode, ataupun teknik pengajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dan kekurangan dalam strategiLearning Start with a Question(LSQ) ini adalah:

a. Kelebihan:

1) Peserta didik dituntut untuk berani dan tidak malu 2) Memotivasi peserta didik untuk berfikir

3) Meningkatkan gairah belajar peserta didik

4) Siswa lebih siap untuk belajar, karena sebelumnya siswa sudah membaca bahan ajar yang akan dipelajari sehingga memiliki sedikit gambaran dan memperoleh pemahaman lebih setelah penjelasan dari guru

5) Strategi ini dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dan meningkatkan minat bertanya

6) Pendidik mengetahui sejauh mana peserta didik menerima materi yang disampaikan sehingga pembelajaran dapat diselaraskan dengan kemampuan mereka.

b. Kekurangan:

1) Tidak semua peserta didik berani mengajukan pertanyaan 2) Peserta didik yang kurang memperhatikan akan jenuh jika

(28)

Beberapa kekurangan yang terdapat pada strategi Learning Start with a Question (LSQ) dapat diperbaiki karena peserta didik akan berani mengajukan pertanyaan apabila setiap hari dibiasakan untuk bertanya. Apabila peserta didik jenuh dengan materi yang diajarkan, guru juga dapat berinovasi saat pembelajaran berlangsung seperti diadakan permainan edukatif ataupun sejenisnya. Jadi kekurangan dari strategi Start with a Question (LSQ) dapat diperbaiki seiring berjalannya waktu dan siswa mulai terbiasa untuk mengajukan pertanyaan saat pembelajaran berlangsung.

B. Keterampilan Bertanya

1. Pengertian Bertanya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “bertanya” berasal dari

kata“tanya” yang berarti antara lain permintaan penjelasan.6Bertanya adalah cara pengajaran yang sangat berharga apabila digunakan dengan terampil. Metode bertanya dan menjawab juga dapat dilakukan bergantian antara guru dan peserta didik. Guru bertanya pada siswa atau siswa bertanya pada guru. Cara yang paling efektif untuk memulai bentuk ini cukup dengan guru mengajukan pertanyaan “Apakah ada yang

ingin bertanya?” terutama pada akhir jam pelajaran. Sebagian siswa biasanya ragu-ragu untuk mengajukan pertanyaan secara terbuka

6

(29)

dihadapan seluruh kelas, walaupun sebenarnya mereka ingin bertanya.7Menurut Sadiman bertanya merupakan ucapanverbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan.8

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa bertanya merupakan proses mencari informasi agar memahami suatu. Karena jika tidak bertanya kita akan ketinggalan informasi bahkan kita juga tidak mengetahui informasi tersebut. Pada zaman era modern biasanya anak-anak menyebut dengan istilah “kudet”. Oleh sebab itu keterampilan bertanya seharusnya dimiliki setiap orang terlebih siswa, agar mendapat wawasan yang lebih terhadap semua bidang yang diajarkan di sekolah maupun tidak.

2. Pengertian Keterampilan Bertanya

Kata “terampil” yang berarti memilki arti “mahir, cakap” dalam menyelesaikan tugas atau mampu dan cekatan”.9

Jadi keterampilan bertanya adalah kecakapan atau kemahiran seseorang dalam meminta penjelasan.Keterampilan bertanya adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui interaksi dua arah yaitu dari guru kepada siswa dan dari

7

Ronal L Partin, Kiat Nyaman Mengajar di dalam Kelas, (Jakarta: PT.Indeks, 2012), 228 8

Hamzah B Uno. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 170

9

(30)

siswa kepada guru agar diperoleh jawaban kepastian materi melalui jawaban lisan guru atau siswa.

Dalammengajukan pertanyaan, guru memerlukan beberapa teknik, begitu juga padasiswa. Ketika siswa mengajukan pertanyaan pasti menggunakan teknik-tekniktertentu. Teknik tersebut menunjukkan indikator keterampilan siswa di dalambertanya.

Saat mengajukan pertanyaan hendaklah kita memperhatikan kaidah bertanya sebagai berikut10:

a. Mengetahui segala sesuatu mengenai masalah yang akan didiskusikan sebelum kita mengajukan pertanyaan kepada pembicara.

b. Hendaklah kita bersungguh-sungguh mencari informasi. c. Janganlah kita ingin menguji pembicara

d. Singkat dan tepat; rumuskanlah terlebih dahulu pertanyaan dengan baik sebelum diajukan kepada pembicara.

e. Pertanyaan tidak boleh terlalu berbelit-belit harus jelas dan lugas

3. Indikator Keterampilan Bertanya

Kegiatan “menanya” dalam kegiatan pembelajaran

sebagaimanadisampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, adalah mengajukanpertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami

10

(31)

dari apa yang diamati ataupertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati(dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).11

Dalam mengajukan pertanyaan guru maupun siswa memerlukan teknik tertentu.Teknik tersebut menunjukkan indikator keterampilan siswa di dalam bertanya. Indikator keterampilan bertanya siswa meliputi:

a. Substansi pertanyaan

b. Frekuensi pertanyaan dalam 1 jam pelajaran c. Bahasa

d. Suara e. Kesopanan12

Pada keterampilan proses menanya guru dituntut memiliki keterampilan bertanyadasar maupun bertanya lanjut. Meskipun pada dasarnya guru melakukan kegiatan tanya jawab dengan siswa, namun tujuan sebenarnya adalah mengupayakan siswa memiliki kemampuan aktif bertanya. Kegiatan pembelajaran yang dilakukanpada langkah menanya ini berupa siswa mengajukan pertanyaan tentang informasiyang tidak dipahami dari objek yang diamatinya. Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa

11

Salinan Lampiran IV Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum, 6

12

(32)

ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran yang selalu mengedepankan pengetahuan.

C. Hasil Belajar

Hasil belajar mencakup kemampuan kognitf, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain efektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respons), valuing (nilai), organitation (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual. Sementara, menurut Lindgren (Supriono,2009:7) “hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi,

pengertian, dan sikap.”

Dari beberapa pendapat, maka dapat disimpulkan hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan (kognitif, afektif, psikomotor) bukan hanya salah satu aspek potensi saja.13

13

(33)

D. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam

1. Pengertian IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alamsecara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuanyang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakansuatu proses penemuan14.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau Sains yang semula berasal dari bahasa Inggris

“science”. Kata “science” sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Latin „scientia’ yang berarti saya tahu. „Science’ terdiri dari social science

(Ilmu Pengetahuan Sosial) dan natural science (Ilmu Pengetahuan Alam). Namun, dalam perkembangannya science sering diterjemahkan sebagai sains yang berarti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) saja. Untuk itu dalam hal ini kita tetap menggunakan istilah IPA untuk merujuk pada pengertian sains.15

Secara umum IPA meliputi tiga bidang dasar yaitu fisika, biologi dan kimia16.Namun untuk tingkatan sekolah dasar, hanya ada mata pelajaran IPA yang di dalamnya terdapat pengenalan fisika, biologi dan

14

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Sekolah Dasar dan Menengah, 161

15

Trianto, M.Pd., Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), 136

16

(34)

kimia dasar. Untuk lebih jelasnya akan diajarkan pada tingkatan yang lebih tinggi. Pada pembelajaran IPA mengandung empat hal antara lain:

a. IPA sebagai cara berpikir

b. IPA sebagai ilmu yang mencoba menerangkan gejala fisik, biologis dan kimiawi

c. IPA memasukkan komponen teknologi d. IPA melibatkan perilaku pendidikan IPA

2. Tujuan Pembelajaran IPA

Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut17:

a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan Nya

b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat an dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat

17

(35)

d. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan

e. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala

keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan

g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

3. Ruang Lingkup Pembelajaran IPA

Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut, antara lain18:

a. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan 0interaksinya dengan lingkungan, serta

kesehatan

b. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas

c. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana

d. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

18

(36)

E. Materi Cahaya dan Sifatnya

1. Sifat Cahaya

a. Cahaya Merambat Lurus

Cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan atau celah-celah rumah yang gelap akan tampak seperti garis-garis putih yang lurus. Berkas cahaya merambat lurus, apabila terhalang oleh benda atau tembok maka berkas cahaya tidak dapat terlihat.Berkas cahaya yang merambat lurus dapat pula dilihat pada cahaya lampu mobil atau senter di malam hari. Sewaktu menonton film di boskop atau di tanah lapang juga dapat dilihat jika berkas cahaya merambat lurus. Berkas itu berasal dari proyektor film yang dipancarkan kearah layar.

Gambar 2.1 Cahaya merambat lurus

(37)

ke kiri. Gambar di atas menjelaskan bahwa sifat cahaya merambat lurus terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

b. Cahaya Menembus Benda Bening

Benda-benda yang dapat ditembus oleh cahaya disebut benda bening.Benda-benda yang tidak dapat ditembus oleh cahaya disebut benda gelap. Air merupakan benda bening, tetapi meskipun termasuk benda bening apabila air keruh maka cahaya tidak akan bisa menembusnya.

Gambar 2.2

Cahaya menembus benda bening

Pada gambar 2.2 menjelaskan bahwa cahaya dapat menembus gelas bening dan tidak dapat menembus batu. Hal tersebut

(38)

c. Cahaya dapat Dipantulkan 1) Pemantulan Cahaya

Pemantulan cahaya merupakan salah satu sifat cahaya yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Cahaya matahari yang mengenai suatu benda, misal kaca, maka akan memantulkan seberkas sinar ke arah berlawanan.

Gambar 2.3 Cahaya dapat dipantulkan

Pada gambar 2.3 menjelaskan bahwa apabila cahaya mengenai suatu benda seperti kaca maka akan memantulkan seberkas cahaya lain.

2) Bayangan pada Cermin

(39)

cermin digolongkan menjadi tiga yaitu cermin datar, cermin cekung dan cermin cembung.

a) Cermin datar adalah cermin yang memiliki bagian pemantul cahaya yang datar. Contoh: cermin yang digunakan untuk berkaca. Bayangan yang dibentuk cermin datar bersifat semu, tegak dan sama dengan bendanya.

b) Cermin cekung adalah cermin yang memiliki bagian pemantul cahaya berupa cekungan. Cekungan ini seperti bagian dalam suatu bola. Contoh: bagian dalam lampu mobil dan lampu senter. Bayangan yang dibentuk cermin cekung adalah jika letak benda dekat cermin cekung maka sifatnya semu, lebih besar dan tegak. Jika letak benda jauh dari cermin cekung maka bayangan yang terbentuk nyata, dan terbalik.

(40)

d. Cahaya dapat dibiaskan

Bila cahaya merambatmelalui dua medium yang berbeda, misal dari udara ke air, maka cahaya tersebut mengalami pembiasan atau pembelokan.Medium adalah zat perantara yang dilalui.

1) Bila cahaya merambat dari zat yang kurang rapat ke zat yang lebih rapat maka cahaya akan dibiaskan mendekati garis normal. Misalnya cahaya yang merambat dari udara ke air.

2) Bila cahaya merambat dari zat yang lebih rapat ke zat yang kurang rapat maka cahaya akan dibiaskan menjauhi garis normal. Misalnya cahaya yang merambat dari kaca ke udara

Sifat pembiasan cahaya ini dapat kamu amati pada dasar sungai yang jernih. Dasar sungai yang jernih akan tampak lebih dangkal dari yang sebenarnya.

(41)

Pada gambar 2.4 menjelaskan contoh sederhana cahaya yang mengalami pembiasan atau pembelokan. Apabila pensil dicelupkan ke dalam air maka akan terlihat seperti patah. Ini merupakan contoh konsep cahaya dapat dibiaskan

e. Cahaya Putih terdiri atas berbagai warna

Cahaya matahari yang terlihat putih, sebenarnya perpaduan dari berbagai warna cahaya yang disebut spektrum.Spektrum terdiri atas warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.Tetesan hujan membiaskan cahaya matahari sehingga warna putih cahaya matahari terurai menjadi spektrum yang menyerupai pita-pita warna yang disebut pelangi.

2. Hubungan Cahaya dan Penglihatan

Kita dapat melihat suatu benda karena kita mempunyai mata danada cahaya.Untuk dapat melihat dengan sempurna diperlukan mata yang sehat dan cahaya yang cukup. Untuk menjaga mata agar tidak rusak akibat pengaruh cahaya, maka:

a. Sebaiknya membaca di tempat yang cukup terang

(42)

Ada beberapa macam cacat pada mata, yaitu rabun jauh, rabun dekat dan cacat mata tua.

a. Rabun jauh (miopi)

Rabun jauh adalah cacat mata berupa ketidakmampuan mata untuk melihat benda yang jauh. Rabun jauh dapat ditolong dengan kacamata berlensa cekung

b. Rabun dekat (hipermetropi)

Rabun dekat adalah cacat mata beupa ketidakmampuan mata untuk melihat benda yang dekat.Rabun dekat dapat ditolong dengan kacamata berlensa cembung.

c. Cacat mata tua (presbiopi)

Cacat mata tua adalah cacat mata berupa ketidakmampuan mata untuk melihat benda yamg jauh dan benda yang dekat.Cacat mata tua dapat ditolong dengan kacamata berlensa rangkap19.

Selain kacamata, alat-alat optik yang lain misalnya kaca pembesar, kamera, mikroskop, teropong, periskop dan OHP.

19

(43)

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek praktek pembelajaran yang dilakukan secara bersama-sama di kelas.1 Menurut Rochman Natawijaya PTK adalah pengkajian terhadap masalah praktis yang bersifat situsional dan kontekstual yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi dalam kelas.2

PTK merupakan salah satu jenis penelitian yang dilakukan oleh guru dalam bentuk kegiatan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas3. Penelitian tindakan kelas merupakan cara seorang guru mengkondisikan praktek pembelajaran mereka dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Guru dapat mengaplikasikan gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran dan melihat pengaruh dari upaya tersebut.4

1

LAPIS PGMI, Penelitian Tindakan Kelas, (Surabaya : Aprinta, 2009), paket 3, 10. 2

Masnur Muslich, Melaksanakan PTK itu Mudah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 9 3

Basrowi dan Suwandi, Prosedur Penelitian Tindakan Kelas, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2008), 25 4

(44)

Penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR)memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar.5 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tidak hanya mencari permasalahan yang terjadi di dalam kelas tetapi juga memberikan solusi terhadap masalah tersebut.

Berdasarkan uraian diatas jelas bahwa PTK dilakukan untuk mengintropeksi, merefleksi dan mengevaluasi diri sendiri sehingga kemampuan guru sebagai seorang pengajar diharapkan cukup profesional untuk kedepannya. Desain penelitian ini pada rencana dan struktuk penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian6. Diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya baik dalam aspek penalaran, ketrampilan, pengetahuan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didiknya.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan model Penelitian Tidakan Kelas (PTK). Kurt Lewin menjelaskan bahwa ada empat hal yang harus dilakukan dalam proses penelitian tindakan yaitu perencanaan, tindakan,

5

Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru,

(Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2013), 41. 6

(45)

observasi atau pengamatan dan refleksi.7Dari keempat kegiatan dalam penelitian menurut Kurt Lewin, diharapkan mampu memberikan solusi atau upaya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru di dalam kelas. Dikhususkan pada penelitian kali ini adalah mengenai upaya untuk meningkatkan keterampilan bertanya siswa melalui strategi Learning Strat with a Question.

Adapun pelaksanaan PTK digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1

Gambar 3.1

Prosedur Model PTK Kurt Lewin

Dalam penelitian ini menyatakan bahwa dalam siklus 1 terdiri dari empat bagian pokok yaitu:

7

Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta : Kencana, 2009), 49. Pelaksanaan

Perencanaan Siklus 1

Refleksi

Pengamatan

Perencanaan

Pelaksanaan

Siklus 2

Refleksi

(46)

1. Perencanaan (planning) yang terdiri dari membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mempersiapkan fasilitasi sarana pendukung yang diperlukan di kelas, dan mempersiapkan instrumen untuk mengabadikan proses dan hasil tindakan.

2. Tindakan (acting) yang meliputi pelaksanan tindakan yang telah direncanakan dalam RPP meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

3. Observasi (observing) yaitu mengamati perilaku siswa dan siswi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang telah direncanakan 4. Refleksi (reflecting) pengamatan untuk mengkaji dan menganalisis

tentang hasil observasi untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pelaksanaan siklus I, kekurangan dan kelebihan yang timbul pada siklus I tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam malakukan tindakan pada siklus selanjutnya.

B. Setting Penelitian dan Karakteristik Subyek Penelitian

a. Setting Penelitian

(47)

b. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MI Hidayatussibyan Deket Lamongan dengan jumlah siswa sebanyak 21 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan.

c. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada minggu awal bulan Desember tahun 2016 sampai pertengahan bulan April tahun 2017 pada semester ganjil tahun ajaran 2016/2017.

C. Variabel yang Diselidiki

Variabel-variabel yang diselidiki atau diteliti yang dijadikan tolak ukur permasalahan yang dihadapi yaitu:

1. Variabel Input : Siswa siswi kelas V MI Hidayatussibyan DeketLamongan

2. Variabel Proses : Strategi Learning Start with a Question 3. Variabel Output : Peningkatan keterampilan bertanyadan

Hasil belajar

D. Rencana Tindakan

Pada setiap siklus yang akan dilakukan peneliti merencanakan suatu rencana tindakan sebagai berikut:s

1. Pra Siklus

(48)

perbandingan hasil belajar sesudah dan sebelum adanya penelitian tindakan kelas.

2. Siklus I

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan siklus I ini peneliti beserta guru melakukan identifikasi masalah, analisis masalah dan mencari pemecahan masalah dari hasil belajar siswa saat pra siklus. Dari hasil tersebut peneliti melakukan hal-hal berikut:

1) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang terfokus pada strategi Learning Start with a Question

2) Menyiapkan bahan ajar yang akan digunakan, seperti buku ataupun lembar kerja siswa.

3) Menyiapkan lembar observasi guru 4) Menyiapkan lembar observasi siswa 5) Menyusun lembar kerja siswa b. Tahap Pelaksanaan

(49)

1) Guru mengucapkan salam dan membuka pelajaran dengan berdo’a terlebih dahulu

2) Guru mengecek kabar dan bertanya kehadiran siswa

3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan

4) Guru memberikan apersepsi kepada siswa

5) Guru meminta siswa untuk membaca materi hari ini yang ada pada buku paket(Langkah pertama strategi LSQ)

6) Siswa memberi garis bawah pada kata atau kalimat yang kurang dipahami (Langkah kedua strategi LSQ)

7) Siswa menuliskan pertanyaan terkait hal yang kurang dipahami (Langkah ketiga strategi LSQ) 8) Guru menjelaskan materi sesuai yang tidak

dipahami siswa

9) Siswa mengerjakan LK yang diberikan oleh guru 10) Sebelum guru mengakhiri pelajaran guru

(50)

11) Guru melakukan tanya kepada siswa tentang hal yang belum dipahami siswa

12) Guru memberikan penguatan di akhir pembelajaran 13) Guru memberikan tugas rumah kepada siswa 14) Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan

berdo’a

15) Guru mengucapkan salam c. Tahap Pengamatan

Pada tahap pengamatan siklus I peneliti melakukan pengamatan terhadap hasil tes belajar siswa dan keterampilan dalam mengungkapkan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan. Guru juga melakukan pengamatan saat proses belajar mengajar berlangsung, antara lain:

1) Situasi dan kondisi saat kegiatan belajar

2) Kegiatan dan aktifitas siswa saat proses belajar mengajar

3) Ketepatan siswa menjawab soal maupun memberikan pertanyaan

d. Tahap Refleksi

(51)

1) Merefleksi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan di siklus I

2) Mencatat kendala yang terjadi saat proses pembelajaran

3) Memperbaiki pelaksanaan tindakan yang digunakan pada siklus II

3. Siklus II

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan siklus II peneliti menyiapkan perencanaan ulang untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada di siklus I

b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan siklus II, peneliti akan melakukan proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang terfokus untuk meningkatkan keterampilan bertanya siswa dengan menggunakan strategi Learning Start with a Question(LSQ) sebagai berikut:

1) Guru mengucapkan salam dan membuka pelajaran dengan berdo’a terlebih dahulu

2) Guru mengecek kabar dan bertanya kehadiran siswa 3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan

(52)

4) Guru memberikan apersepsi kepada siswa

5) Guru meminta siswa untuk membaca materi hari ini yang diberikan oleh guru dan siswa memberi garis bawah pada kata atau kalimat yang kurang dipahami (Langkah pertama strategi LSQ)

6) Siswa berkumpul menjadi 4 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 5-6 anak. Kata atau kalimat yang telah diberi garis bawah didiskusikan bersama-sama di dalam kelompok. (Langkah kedua strategi LSQ)

7) Siswa membuat pertanyaan bersama kelompoknya (Langkah ketiga strategi LSQ)

8) Guru menjelaskan materi sesuai yang tidak dipahami siswa

9) Siswa mengerjakan LK yang diberikan oleh guru secara berkelompok

10) Sebelum guru mengakhiri pelajaran guru mengevaluasi pembelajaran, dengan memberikan post tes pada siswa. Jadi siswa harus berlomba untuk menjawab paling cepat.

(53)

12) Guru memberikan penguatan di akhir pembelajaran 13) Guru memberikan tugas rumah kepada siswa

14) Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a

15) Guru mengucapkan salam c. Tahap Pengamatan

Pada tahap pengamatan siklus II peneliti melakukan pengamatan hasil belajar siswa dan keterampilan bertanya siswa materi Cahaya dan Sifatnya dengan menggunakan strategi Learning Start with a Question. Peneliti juga mengumpulkan data siklus II.

d. Tahap Refleksi

Pada tahap refleksi siklus II ini peneliti merefleksi pelaksanaan kegiatan seperti pada siklus I diantaranya:

1) Guru melakukan refleksi pelaksanaan kegiatan pada siklus II seperti yang dilakukan pada siklus I

2) Guru membuat kesimpulan dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.

(54)

Start with a Question(LSQ) diharapkan mampu meningkatkan keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa.

E. Data dan Cara Pengumpulannya

1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru a. Siswa

Untuk mengetahui hasil keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penggunaan LSQ.

b. Guru

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan guru saat menggunakan strategiLSQ dalam mata pelajaran IPA kelas V.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Teknik Tes

Teknik tes digunakan guru untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa selama penerapan strategi LSQ.

2. Teknik Non-tes

Teknik nontes digunakan untuk mengumpulkan data tentang keterampilan bertanya siswa. Alat yang digunakan pada teknik non-tes yaitu rubrik penilaian performance siswa.

3. Wawancara

(55)

pewawancara (yang mengajukan pertannyaan) dan yang diwawancarai (yang memberikan jawaban atas pertanyaan)8. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara untuk mewawancarai guru tentang strategi yang digunakan selama ini, pemanfaatan media untuk pemahaman konsep materi, suasana saat proses pembelajaran dan karakteristik siswa dalam mata pelajaran IPA.

a. Draf wawancara untuk guru:

1. Metode apakah yang anda terapkan dalam pembelajaran IPA? 2. Adakah pemanfaatan media selama proses pembelajaran?

3. Selain ceramah apakah anda menerapkan metode diskusi pada siswa?

4. Bagaimana respon siswa selama pembelajaran?

5. Apakah siswa banyak yang mengajukan pertanyaan terhadap materi yang sukar dipahami?

6. Bagaimana keaktifan siswa dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung?

b. Draf wawancara untuk siswa:

1. Apakah kamu merasa senang saat pembelajaran IPA dilaksanakan?

8

(56)

2. Apa kamu merasa bosan saat dilakukan pembelajaran IPA dengan metode ceramah?

3. Apakah kamu menanyakan hal yang kurang kamu fahami kepada bapak/ibu gurumu?

4. Apa yang kamu rasakan saat bertanya? Apakah takut atau malu? 5. Bagaimana perasaanmu saat berbicara dihadapan

teman-temanmu? 4. Observasi

Observasi berasal dari bahasa inggris yaitu “observation” yang memiliki arti pengamatan, observasi, dan pengawasan. Oleh karena itu observasi dapat diartikan sebagai kegiatan pengambilan data yang dilakukan oleh peneliti dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap apa yang akan diteliti. Observasi dilakukan secara langsung untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik seperti tingkah laku peserta didik saat belajar9. Observasi dilakukan saat pembelajaran IPA . Observasi ini dilakukan dengan menggunakan 2 lembar observasi yakni lembar observasi untuk guru dan untuk siswa

9

(57)

a) Guru

Observasi terhadap guru sebagai pengajar dilakukan untuk mencari prosentase kemampuan guru dalam proses pembelajaran IPA materi Cahaya dan Sifatnya menggunakan strategi Learning Start with a Question (LSQ).

Tabel 3.1 2 Penguasaan materi ajar

a.Orientasi, motivasi, dan bahasa (sederhana dan jelas).

b.Sistematika dan variasi penjelasan. c.Kevakuman materi terhadap

kompetensi.

d.Keluasan materi ajar.

3 Metode yang digunakan

a.Kesesuaian metode dengan indikator pembelajaran.

b.Kesesuaian metode dengan karakter peserta didik.

c.Kesesuaian metode dengan karakter materi ajar.

d.Variasi metode

4 Performance

a.Suara intonasi, nada, dan irama. b.Posisi dan gerakan guru.

c.Pola interaksi perhatian pada siswa. d.Ekspresi roman muka.

5 Media, bahan, sumber pembelajaran(MBSP)

a.Kesesuaian MBSP dengan indikator pembelajaran.

(58)

materi ajar.

c.Kesesuaian MBSP dengan karakter peserta didik.

d.Variasi MBSP

6 Bertanya

a.Pertanyaan jelas dan konkrit.

b.Pertanyaan memberikan waktu berfikir. c.Pemerataan pertanyaan pada siswa. d.Pertanyaan sesuai indikator kompetensi. 7 Reinforment(memberi penguatan)

a.Memberi reward / penghargaan pada siswa.

b.Menarik kesimpulan.

c.Memberi dorongan psikologis. d.Mengevaluasi.

Pada tabel di atas menjelaskan tentang observasi pada aktivitas guru dan penilaiannya menggunakan rating scale. Ada 4 (empat) nilai dalam tabel tersebut, nilai 1 (satu) digunakan apabila dari 4 (aspek) aspek hanya terpenuhi 1 (satu) aspek saja. Nilai 2 (dua) dipakai apabila terdapat 2 (dua) aspek yang terpenuhi. Nilai 3 (tiga) dipakai apabila terdapat 3 (tiga) aspek yang terpenuhi. Nilai 4 (aspek) dipakai apabila keseluruhan aspek terpenuhi saat observasi.

b. Siswa

(59)

proses pembelajaran IPA materi Cahaya dan Sifatnya menggunakan strategi Learning Start with a Question (LSQ)

Tabel 3.2

Lembar Pengamatan Aktifitas Siswa

No Indikator / Aspek Yang Diamati

Pengamat

2. Siswa mendengarkan saat tujuan pembelajaran disampaikan. 3. Siswa memusatkan perhatian pada

materi pembelajaran yang dipelajari.

4. Siswa antusias ketika

diperkenalkan dan dijelaskan oleh guru tentang strategi LSQ

5. Siswa melakukan pekerjaan dengan bertanya hal yang belum difahami

6. Siswa mengerjakan dengan tertib lembar kerja.

7. Siswa dapat bekerja dalam kelompok untuk membahas suatu masalah yang belum difahami 8. Siswa memberi tanggapan saat

guru memberi pertanyaan

9. Siswa antusias menjawab pertanyaan guru

10. Siswa merespon kesimpulan

(60)

diteliti maka nilainya 2 (dua) dan apabila siswa berperilaku sangat baik dalam aspek yang diteliti oleh peneliti maka nilainya adalah 3 (tiga).

5. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notula rapat, agenda dan sebagainya. Teknik dokumentasi juga bermanfaat untuk mengumpulkan informasi yang tidak diketahui peneliti. Teknik pengumpulan data seperti ini digunakan peneliti untuk memperoleh data mengenai keadaan siswa, guru, sarana dan prasarana MI Hidayatussibyan Glugu Deket Lamongan.

G. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Data akan dipaparkan dalam bentuk tulisan agar lebih memudahkan pembaca dalam memahami hasil penelitian yang dilakukan.

(61)

kemampuan siswa diberi skor dan dimasukan pada table statistik, kemudian dicari skor rata-rata dan digunakan sebagai objek penelitian.

Untuk menghitung nilai aktivitas guru dan siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran menggunakan rumus sebagai berikut:

...Rumus 3.1

Rumus di atas menunjukkan untuk menghitung nilai aktivitas guru dan aktivitas siswa saat pelaksanaan pembelajaran. SP merupakan skor perolehan nilai aktivitas guru tiap siklusnya. SM merupakan skor maksimal yang diperoleh dalam tiap siklusnya. NA merupakan nilai akhir yang menunjukkan aktivitas guru ataupun siswa pada tiap siklusnya.10

Jadi untuk menghitung nilai akhir (NA), sebelumnya menghitung skor yang diperoleh (SP) kemudian dibagi dengan nilai total seluruhnya (SM) dan dikalikan 100.

Dari nilai yang diperoleh dikelompokkan dalam beberapa kategori untuk mengetahui hasil dari aktivitas guru maupun siswa tergolong kategori sangat baik, baik, cukup ataupun kurang. Berikut merupakan tabel yang menunjukkan jumlah nilai dan kategorinya11:

10

Kunandar, Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kuruikulum 2013) Edisi Revisi, (Jakarta: PT Raja Grafindo,2013), 270.

11

(62)

Tabel 3.3

Kategori Aktivitas Guru dan Siswa Nilai Aktivitas Guru dan Siswa Kategori

90-100 Sangat Baik

80-89 Baik

70-79 Sedang

60-69 Tidak Baik

≤59 Sangat Tidak Baik

Sedangkan untuk menganalisis keterampilan bertanya siswa ada beberapa kriteria antara lain sebagai berikut:

Tabel 3.4

Bahasa Siswa bertanya

dengan

Suara Siswa bertanya

menggunakan

Kesopanan Sikap siswa

(63)

tangan

Untuk menghitung skor keterampilan bertanya yang diperoleh siswa menggunakan rumus sebagai berikut:

... Rumus 3.2

Dari rumus di atas dapat dijelaskan bahwa untuk menghitung nilai akhir siswa (NA) dapat menghitung skor yang diperoleh siswa (SP) kemudian dibagi dengan jumlah skor maksimal (SM) dan dikalikan 100. Maka akan diperoleh nilai akhir skor keterampilan bertanya12

Dari skor keterampilan bertanya yang diperoleh siswa dikelompokkan dalam beberapa kategori untuk mengetahui hasil dari keterampilan bertanya siswa tergolong kategori sangat baik, baik, cukup ataupun kurang. Berikut merupakan tabel yang menunjukkan jumlah nilai dan kategorinya13:

Tabel 3.5

(64)

Sedangkan untuk mengetahui nilai rata-rata keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa per siklus dianalisis dengan menggunakan rumus rata-rata. X = ∑ ... Rumus 3.3

Untuk mengetahui nilai rata-rata keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa per siklus maka menghitungnya dapat menggunakan rumus di atas. X adalah rata-rata akhir tiap siklusnya. ∑ merupakan jumlah seluruh skor yang diperoleh tiap siklus dan N adalah banyaknya subyek yang diteliti. Jadi apabila kita telah menghitung seluruh skor tiap siklus maka dibagi dengan banyaknya subyek yang diteliti dan diperolehlah nilai akhir rata-rata keterampilan bertanya siswa tiap siklus.14

Dari skor rata-rata yang diperoleh peneliti kemudian dikelompokkan pada beberapa kategori untuk mengetahui rata-rata keterampilan bertanya termasuk kategori sangat baik, baik, sedang, tidak baik dan sangat tidak baik. Kategori skor rata-rata dapat dilihat pada tabel 3.4.

Untuk menghitung prosentase ketuntasan kriteria bertanya tiap siklusnya menggunakan rumus sebagai berikut:

...Rumus 3.4

Untuk mengetahui prosentase ketuntasan bertanya tiap siklus menghitungnya menggunakan rumus 3.4. NK merupakan nilai ketuntasan setiap siklus. ST merupakan jumlah siswa yang tuntas pada tiap siklusnya dan

14

(65)

N merupakan jumlah keseluruhan siswa. Jadi apabila kita telah menghitung jumlah siswa yang tuntas dibagi dengan jumlah keseluruhan siswa dan dikali 100% maka diperoleh prosentase ketuntasan bertanya siswa tiap siklusnya.

Setelah diketahui nilai akhir ketuntasan bertanya kemudian dikategorikan untuk mengetahui termasuk dalam kategori sangat baik, baik, sedang, tidak baik ataupun sangat baik. Berikut merupakan tabel yang menunjukkan kategori ketuntasan bertanya siswa.

Tabel 3.6

Kategori Ketuntasan Bertanya Siswa

Nilai Ketuntasan Bertanya Siswa (%)

Kategori

90-100 Sangat Baik

80-89 Baik

70-79 Sedang

60-69 Tidak Baik

≤59 Sangat Tidak Baik

H. Indikator Kinerja

Indikator kinerja merupakan suatu kriteria yang digunakan peneliti untuk melihat tingkat keberhasilan dari kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam meningkatkan serta memperbaiki mutu hasil belajar siswa dalam suatu materi pelajaran. Adapun indikator kinerja yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

(66)

2. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila skor rata-rata akhir keterampilan bertanya siswa adalah 80 (Baik).

3. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila nilai ketuntasan bertanya siswa pada akhir siklus minimal 80%.

I. Tim Peneliti dan Tugasnya

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang sifatnya kolaboratif yang dilakukan oleh peneliti bekerjasama dengan Bapak Syaifuddin selaku guru mata pelajaran IPA kelas V yang mengajar di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan. Dalam penelitian ini peneliti adalah perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis data, di samping itu kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh kepala sekolah dan guru-guru yang terdapat di MI Hidayatussibyan Glugu Deket Lamongan. Peneliti langsung menggali data yang ada di lapangan kemudian diambil kesimpulan berdasarkan data yang telah dikumpulkan.

Peneliti

Nama : Diny Rochmatul Fauziyah NIM : D07213008

Jabatan : Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya Tugas :

1. Menyusun perencanaan pembelajaran, menyusun instrumen penelitian, dan membuat lembar observasi

(67)

3. Melakukan diskusi dengan guru kolaborator 4. Menyusun laporan hasil penelitian

Guru Kolaborasi

Nama : Akmad Syaifuddin, S.Pd

Jabatan : Guru mata pelajaran IPA kelas V MI Hidayatussibyan Deket Lamongan

Tugas :

1. Sebagai pengamat proses kegiatan pembelajaran 2. Turut merefleksi hasil observasi

(68)

Pada bab ini akan dipaparkan dan dijelaskan hasil penelitian dan pembahasan dari penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “Peningkatan

Keterampilan Bertanya dan Hasil Belajar melalui Strategi Learning Start with a Question (LSQ) pada mata Pelajaran IPA Materi Cahaya dan Sifatnya Kelas V di MI Hidayatussibyan Deket Lamongan” yang telah dilaksanakan di lapangan sebagai berikut:

A. Hasil Penelitian

(69)

1. Tahap Pra-Siklus

Pada tahap pra-siklus yang dilaksanakan di MI Hidayatussibyan diawali dengan meminta izin kepada sekolah untuk melakukan penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 28 November 2016 pukul 08.10 WIB. Peneliti mendatangi Pak Muhammad Khuldori S.Pd selaku kepala madrasah. MI Hidayatussibyan memberikan respon positif dengan memberikan izin agar dapat melaksanakan penelitian tindakan kelas.

Kegiatan pra-siklus diawali dengan mengumpulkan data yang diperoleh dari wawancara dengan guru mata pelajaran dan siswa kelas V tentang permasalahan pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Selain itu peneliti juga melakukan observasi awal kegiatan pembelajaran IPA di kelas dan melakukan observasi aktivitas guru serta metode pembelajaran yang digunakan guru.

Berikut data keterampilan bertanya awal siswa saat observasi pra siklus:

Tabel 4.1

Data Nilai Performance Keterampilan Bertanya Siswa Pra Siklus

(70)

5 ARDP 2 1 4 4 4 15 75

Umtuk menghitung rata-rata skor keterampilan bertanya menggunakann rumus 3.3 seperti berikut:

(71)

Pada tabel 4.1 dijelaskan bahwa aspek yang diteliti ada 5 yaitu substansi pertanyaan, frekuensi pertanyaan, bahasa, suara dan kesopanan. Kriteria masing-masing aspek dapat dilihat pada tabel 3.4 mengenai kriteria keterampilan bertanya.

Pada tahap pra siklus hanya 3 siswa yang bertanya dan memenuhi kriteria keterampilan bertanya. Untuk menghitung prosentase ketuntasan bertanya menggunakan rumus 3.4:

= 3 x 100%

21 = 14%

Wawancara dengan guru dan siswa dilakukan untuk mengetahui kondisi awal pembelajaran di dalam kelas, strategi yang digunakan, serta masalah atau kendala saat proses pembelajaran IPA di kelas V MI Hidayatussibyan Lamongan.

Pada saat wawancara Pak Syaifuddin selaku guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas V menuturkan bahwa selama ini proses pembelajaran masih menggunakan metode ceramah dan kegiatan belajar berpusat pada guru sebagai sumber1. Siswa kurang aktif saat pembelajaran hanya 1-2 orang yang bertanya sesuai materi ajar. Saat

1

Gambar

            Gambar 2.1
Gambar 2.2 Cahaya menembus benda bening
Cahaya dapat dipantulkanGambar 2.3
                  Gambar 2.4 Cahaya dapat dibiaskan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk meyakinkan bahwa dengan strategi pembelajaran LSQ (Learning start with a question) dapat meningkatkan keaktifan bertanya siswa, maka perlu dilakasanakan

Melalui pembelajaran aktif tipe LSQ (Learning Start With A Question) dengan menggunakan media handout dan peta konsep, peneliti memberikan perlakuan yang sama pada

Rata-rata kelas motivasi belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Start With A Question (LSQ) di pra siklus terdapat hanya 5 siswa

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKn MELALUI METODE LSQ (LEARNING START WITH A QUESTION) PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GENTAN I BENDOSARI SUKOHARJO TAHUN AJARAN

Ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran aktif Learning Start With a Question (LSQ) terhadap hasil belajar matermatika siswa pada materi trigonometri kelas X MAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran aktif Learning Start With a Question (LSQ) terhadap hasil belajar matematika siswa

Tujuan operasional dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh Learning Start with a Question (LSQ) terhadap berpikir analisis siswa pada materi sistem saraf.. Metode yang

Penggunaan desain ini sesuai dengan tujuan pada penelitian yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh metode pembelajaran learning start with a question (LSQ)