• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAKIKAT PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HAKIKAT PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

HAKIKAT PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

I. Pendahuluan

Pendidikan merupakan cultural trantition yang bersifat dinamis ke suatu perubahan secara continue, sebagai sarana vital bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Dalam hal ini, pendidik bertangung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, moral, estetika maupun kebutuhan peserta didik.

Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi mempunyai dunia sendiri. Hal ini sangat penting untuk dipahami agar perilaku terhadap mereka dalam proses pendidikan tidak disamakan dengan pendidikan orang dewasa, baik dalam aspek metode mengajar, materi yang akan diajarkan, sumber bahan yang digunakan dan lain sebagainya.

II. Pokok pembahasan

Dalam makalah ini ada beberapa pokok pembahasan yang akan diuraikan lebih rinci antara lain adalah:

A. Pengertian peserta didik dalam pendidikan Islam B. Hakikat peserta didik dalam pendidikan Islam C. Akhlak dan sifat-sifat ideal peserta didik D. Tugas dan kewajiban peserta didik

III. Pembahasan

A. Pengertian peserta didik dalam pendidikan Islam

Komponen-komponen terpenting dalam pendidikan islam adalah peserta didik dan dalam perspektif pendidikan Islam, peserta didik merupakan subyek dan obyek.1dan

oleh karena itu pendidikan tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya peserta didik. Berikut akan kami paparkan beberapa pengertian peserta didik dalam pendidikan Islam.

(2)

1. Pengertian menurut filsafat pendidikan Islam

Ahmad Syar’i dalam bukunya “Filsafat Pendidikan Islam”, mengatakan bahwa peserta didik ialah sumberdaya manusia yang memerlukan pendidikan.2

Selanjutnya peryataan objektif juga dilontarkan oleh Abudin Nata yang menyebutkan bahwa peserta didik adalah setiap orang yang tengah memerlukan pendidikan, pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.3 Dari uraian diatas dapat ditarik

suatu kesimpulan bahwa peserta didik adalah seorang yang masih memerlukan bimbingan dan pengarahan demi tercapainya suatu tujuan.

2. Pengertian menurut ilmu pendidikan Islam

Pengertian menurut ilmu pendidikan Islam Ahmad Syar’i berpendapat bahwa mencetuskan sebuah pengertian peserta didik maka ia lalu menganalisa dengan metode ilmiah dan mengatakan bahwa setiap orang, setiap anak, sosial dan individual seharusnya memperoleh pendidikan4 dari pengertian diatas maka dapat dianalisa

bahwa seharusnya peserta didik harus mendapatkan atau memperoleh pendidikan.

3. Teori penamaan peserta didik menurut pakar pendidikan Islam

Terlepas dari bahasan filosofis dan ilmiah dalam teori penamaan ini kami khususkan pada dua pendapat pakar pendidikan Islam yakni Abudin Nata dengan tinjauan bahasa Arabnya dan Ahmad Tafsir dengan tinjauan bahasa Indonesia:

a. Abudin Nata

Ada tiga istilah dalam bahasa Arab menurutnya yang menunjuk pada peserta didik yaitu:

 Murid

Ialah orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu. Istilah ini ditempatkan pada tingkatan rendah seperti sekolah dasar (SD/MI)

(3)

 Tilmidz

Istilah ini sama maknanya dengan murid dan juga sama pada tingkatanya, hanya saja istilah tilmidz digunakan pada sekolah-sekolah atau pondok pesantren yang memang benar-benar bernafaskan Islami

 Tholibul Ilmi

Ialah orang yang sedang menuntut ilmu, pelajar dan mahasiswa. Istilah ini ditempatkan pada tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu di MTS/SMP, MA/SMA dan perguruan tinggi.5

b. Ahmad Tafsir

Dalam bahasa Indonesia juga ada tiga istilah yang menunjuk pada istilah pelajar, yaitu:

 Murid

Merupakan istilah umum dan sudah dipengaruhi khas agama Islam. Istilah ini diperkenalkan oleh kalangan sufi. Karena murid diartikan sebagai orang yang sedang belajar, menyucikan diri, dan sedang berjalan menuju Tuhan.

 Anak didik

Adanya dilatar belakangi oleh sebuah paradigma bahwa seorang guru harus menyayangi muridnya seperti anaknya sendiri, sehingga muncullah istilah anak didik.

 Peserta didik

Istilah ini yang paling mutakhir dan menekankan pada pentingnya murid berpartisipasi dalam proses pembelajaran.6

Terlepas dari konsep penamaan tentang term anak didik di atas merupakan perbedaan dari segi lahir, sedangkan hakikatnya adalah sama. Ahmad Tafsir lebih lebih nyaman mengunakan kata murid dari pada yang lain, sedangkan Ahmad Syar’I, Arifin, Al-Rasyidin telah mengambil kesepakatan mengunakan nama peserta didik.

B. Hakikat peserta didik dalam pendidikan islam

5 Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Loc Cit hlm. 79-80

(4)

Untuk mengkaji hakikat dari peserta didik terlebih dahulu harus mengetahui hakikat manusia. Manusia lahir membawa cipta, rasa dan karsa. Cipta adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan nilai kebenaran. Rasa adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan nilai keindahan, sedangkan karsa adalah kemampuan spiritual, yang mempersoalkan nilai kebaikan tanpa adanya pemahaman semacam ini akan berakibat fatal. Seperti perumpamaan manusia yang hanya dipandang sebagai makhluk biologis saja. Maka sasaran pengembanganya hanya akan bertumpu pada aspek fisik, aspek-aspek yang lain ditingalkan. Dari uraian di atas maka dapat diambil pembahasan mengenahi hakikat peserta didik yaitu:

a. Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa akan tetapi memiliki dunianya sendiri

b. Peserta didik adalah manusia yang memiliki perbedaan periode (deferensiasi periodesasi) perkembangan dan pertumbuhan. Karena kadar kemampuan peserta didik sangat dipengaruhi oleh faktor usia dan periode perkembangan atau pertumbuhan potensi yang dimilikinya.

c. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan rohani maupun jasmani yang harus dipenuhi. Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual (diferensiasi individual), baik yang disebabkan oleh faktor pembawaan maupun lingkungan di mana ia berada.

d. Peserta didik merupakan resultan dari dua unsure utama, yakni jasmani dan rohani. Unsur jasmani memiliki daya fisik yang menghendaki latihan dan pembiasaan yang dilakukan melalui proses pendidikan.

e. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.7

C. Akhlak dan sifat-sifat ideal peserta didik

(5)

Karena seorang pelajar yang ingin mendapatkan ilmu itu memerlukan bimbingan, pengarahan, dan petunjuk dari guru, maka muncul pula etika pergaulan yang baik, yang harus dilakukan oleh seorang murid terhadap gurunya. Bagian inilah yang pada akhirnya membawa konsep tentang akhlak murid pada gurunya serta konsekuensinya jika akhlak demikian tidak ditegakkan.

Selain memerlukan bantuan guru, seorang peserta didik yang sedang belajar juga memerlukan kawan tempat mereka berbagi rasa dan belajar bersama. Teman ini diyakini sangat besar pengaruhnya dalam kesuksesan belajar, maka muncul pula etika atau akhlak yang harus dilakukan antara sesame pelajar serta cara mencari kawan yang baik dan seterusnya.

Asma Hasan Fahmi menyebutkan empat akhlak yang harus dipenuhi oleh peserta didik, yaitu:

1) Seorang peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, karena belajar adalah merupakan ibadah yang tidak sah dikerjakan kecuali dengan hati yang bersih. Kebersihan hati tersebut dapat dilakukan dengan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela seperti dengki, menghasut, takabur, menipu, berbanga dan memuji diri yang selanjutnya diikuti dengan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia seperti bersikap benar, taqwa, ikhlas, zuhud, merendah diri dan ridlo.

2) Seorang peserta didik harus mempunyai tujuan mencari ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keutamaan mendekatkan diri kepada Tuhan dan bukan untuk mencari kemegahan dan kedudukan

3) Seorang peserta didik harus tabah dalam menuntut ilmu pengetahuan dan bersedia pergi merantau. Tidak ragu-ragu dalam memilih guru serta tidak berganti-ganti guru ketika belum paham benar akan ilmu yang dipelajarinya.

4) Seorang peserta didik wajib menghormati guru dan berusaha agar senantiasa memperoleh kerelaan dari guru dengan mengunakan bermacam-macam cara.8 Sejalan

dengan itu Al-Abrasyi, sebagaimana di kutip oleh Asma Hasan Fahmi mengatakan agar seorang peserta didik tidak mengangu gurunya dengan cara memperbanyak

(6)

pertanyaan terutama pada saat gurunya itu letih, dan jangan pula berlari-lari di belakang guru yang sedang berjalan.9 Penghormatan peserta didik terhadap guru

dijelaskan pula oleh Al-Ghozali, ia mengatakan bahwa seorang peserta didik hendaknya mendahului mengucapkan salam kepada gurunya dan jangan banyak berkata-kata di depan gurunya.10 Pada kesempatan yang lain Al-Ghozali mengatakan

agar peserta didik menjalani kehidupan ber-zuhud, menjauhkan dari kesenangan dunia, dan melakukan pertapaan atau menyepi. Namun, pendapat ini ditepis oleh Ibn Maskawih yang bertolak belakang dengan Al-Ghozali. Ia cenderung menolak segala bentuk kehidupan al-Mutawahhid (pertapaan) karena kehidupan tersebut tidak cocok dengan hukum agama, yang pada dasarnya merupakan mazhab akhlak yang mendorong manusia untuk mencintai sesamanya.11

Kemudian dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam, peserta didik diharuskan mempunyai sifat-sifat ideal baik dalam diri dan kepribadianya. Diantaranya adalah berkemampuan keras atau pantang menyerah, memiliki motivasi tinggi, sabar, tabah, tidak mudah putus asa, dan lain sebagainya. Untuk itu, Al-Ghozali mengklasifikasikan 10 macam sifat ideal yang harus dimiliki peserta didik, yaitu: a) Belajar dengan niat ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. b) Mengurangi kecendrungan pada kehidupan duniawi disbanding ukhrawi. Artinya

menganggap dunia dan akhirat merupakan alat integral untuk melaksanakan amanat-nya.

c) Bersikap tawadlu’ (rendah hati)

d) Menjaga pikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai aliran e) Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik ilmu umum maupun ilmu agama

f) Belajar berharap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah (konkrit) menuju pelajaran yang sulit (abstrak)

g) Mempelajari ilmu sampai tuntas

h) Memaham nilai-nilai ilmiyah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari i) Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi

9 Mohammad Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1970), hlm.

148

10 Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Loc Cit, hlm. 83

(7)

j) Mengena nilai-nilai pragmatis begi suatu ilmu pengetahuan yaitu pengetahuan yang dapat bermanfaat membahagiakan, mensejahterakan, serta member keselamatan hidup di dunia maupn diakhirat, baik pada diri sendiri maupun orang lain.12

D. Tugas dan kewajiban peserta didik

Menurut Asma Hasan Fahmi di antara tugas dan kewajiban yang perlu dipenuhi oleh peserta didik adalah:

1. Senantiasa membersihkan hati sebelum menuntut ilmu

2. Hendaknya tujuan belajar ditetapkan untuk menghiasi dengan sifat keutamaan 3. Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari ilmu di berbagai tempat.

4. Wajib menghormati pendidik.

5. Belajar dengan sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.13

Sedangkan menurut Al-Abrasyi melengkapi yang di atas antara lain:

1. Bersedia meninggalkan keluarga dan tanah air untuk mencari ilmu 2. Jangan terlalu sering menukarkan guru tanpa pertimbangan yang matang 3. Jangan melakukan akifitas tanpa petunjuk guru

4. Memaafkan guru apabila mereka bersalah, terutama dalam menggunakan lidahnya 5. Saling menyayangi dan mengasihi antar sesama peserta didik.

6. Kedisiplinan dalam belajar dengan mengulang kembali pelajaran. 7. Menghargai ilmu dan bertekat menuntutnya sampai akhir hayat.14

IV. Kesimpulan

12 Al-Rasyid, Loc Cit hlm. 52-53. 13 Asma Hasan Fahmi, Loc Cit. 175

(8)

Peserta didik adalah seorang yang masih memerlukan bimbingan dan pengarahan demi tercapainya suatu tujuan.

Ada dua pendapat pakar pendidikan Islam yakni Abudin Nata dengan tinjauan bahasa Arabnya dan Ahmad Tafsir dengan tinjauan bahasa Indonesia:

a. Abudin Nata, ada tiga istilah dalam bahasa Arab menurutnya yang menunjuk pada peserta didik yaitu: murid, tilmidz dan tholibul ilmi.

b. Ahmad Tafsir, dalam bahasa Indonesia juga ada tiga istilah yang menunjuk pada istilah pelajar, yaitu: murid, anak didik dan peserta didik.

Mengenahi hakikat peserta didik yaitu:

a. Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa akan tetapi memiliki dunianya sendiri

b. Peserta didik adalah manusia yang memiliki perbedaan periode (deferensiasi periodesasi) perkembangan dan pertumbuhan.

c. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan rohani maupun jasmani yang harus dipenuhi.

d. Peserta didik merupakan resultan dari dua unsur utama, yakni jasmani dan rohani. e. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat

dikembangkan dan berkembang secara dinamis

Asma Hasan fahmi menyebutkan empat akhlak yang harus dipenuhi oleh peserta didik, yaitu:

a. Seorang peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu,

b. Seorang peserta didik harus mempunyai tujuan mencari ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keutamaan mendekatkan diri kepada Tuhan

c. Seorang peserta didik harus tabah dalam menuntut ilmu pengetahuan dan bersedia pergi merantau.

(9)

Menurut al-abrasyi melengkapi yang di atas antara lain:

a) Bersedia meninggalkan keluarga dan tanah air untuk mencari ilmu b) Jangan terlalu sering menukarkan guru tanpa pertimbangan yang matang c) Jangan melakukan akifitas tanpa petunjuk guru

d) Memaafkan guru apabila mereka bersalah, terutama dalam menggunakan lidahnya

e) Saling menyayangi dan mengasihi antar sesama peserta didik. f) Kedisiplinan dalam belajar dengan mengulang kembali pelajaran. g) Menghargai ilmu dan bertekat menuntutnya sampai akhir hayat.

V. Penutup

Demikian makalah ini kami sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Khususnya bagi para pembaca yang budiman. Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan baik dari segi penjelasannya maupun penulisnya. Oleh karena itu diharapkan saran dan kritiknya yang konstruktif.

DAFTAR PUSTAKA

(10)

Syar’I, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pusataka Firdaus, 2005, Cet 1 Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1997, Cet, Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2006, cet I Fahmi, Asma Hasan, Sejarah Dan Filsafat Pendidikan, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1979 cet IV Al-Abrasyi, Mohammad Athiyah, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1970

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu penyusun mencoba mengeksplorasi dengan suatu penelitian untuk mengungkap bagaimana interaksi Guru pendidikan agama islam dan peserta didik dalam

Berdasarkan hasil analisis tersebut, peserta didik berkemampuan sedang memenuhi indikator: mampu menyatakan apa yang diketahui dalam soal dengan bahasa sendiri (T1.1),

Amanah, sifat amanah pada diri peserta didik terus mengalami pertumbuhan, yang tadinya mereka malas menyelesaikan tugas di rumah (PR), setelah penerapan metode targhib dan

1) Membimbing peserta didik, dalam artian mencari pengenalan terhadap anak didik mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya. 2) Menciptakan situasi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, proses berpikir kritis peserta didik berkemampuan tinggi dalam memecahkan masalah matematika dapat disimpulkan sebagai

Dalam mata pelajaran Pendidikan agama islam PAI juga menjadi sebuah sarana transformasi norma dan nilai moral untuk membentuk sikap aspektif pada diri peserta didik, sebagai

Sebagaimana dijelaskan bahwa akhlak dalam diri manusia timbul dan tumbuh dari dalam jiwa, kemudian berubah kesegenap anggota yang menggerakkan amal-amal serta menghasilkan sifat-sifat

Kemampuan koneksi matematika peserta didik yang berkemampuan sedang termasuk kriteria cukup baik dalam menyelesaikan masalah matematika pada materi lingkaran melalui pembelajaran