Ontologi Studi Hubungan Internasional dari Tafsir
Ibnu Katsir Q.S. Al-Hujurat Ayat 13
Deden Habibi Ali Alfathimy
Program Sarjana Studi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran [email protected]
Permulaan dari kajian terhadap sesuatu hampir selalu dilakukan dengan terlebih dahulu mencari pembatasan (definisi). Makna dari 'definisi' bukanlah suatu aktivitas pencarian pengertian yang didapatkan melalui kamus seperti kebanyakan bacaan yang ada selama ini. Melakukan 'definisi' adalah mencari dail-dalil (proposisi-proposisi) yang membatasi pengetahuan atas sesuatu sehingga dapat dikenali sebagai hal yang berbeda.
Dalam kajian pengetahuan ilmiah, pembatasan merupakan ranah dari ontologi. Untuk mencapai keabsahan Studi Hubungan Internasional (SHI) sebagai pengetahuan ilmiah, kajian ontologi terhadapnya mutlak diperlukan. Namun, hingga saat ini, tidak terdapat kesepakatan yang khas atas ontologi SHI. Berbagai kajian terhadapnya masih banyak dilakukan hingga saat ini, terutama setelah memasuki masa post-post. Peranan agama juga menarik untuk ditelaah dalam proses pencarian ini, termasuk agama Islam.
Ontologi Hubungan Internasional Khas Mainstream
Studi Hubungan Internasional memiliki pembatasan obyek kaji atau ontologinya sendiri. Melalui pembatasan yang kasar, kajian Hubungan Internasional ('H' besar, 'I' besar) adalah kajian yang dilakukan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena hubungan internasional ('h' kecil, 'i' kecil). Sedangkan, secara kasar pula, hubungan internasional adalah hubungan-bungan antarbangsa (relations between nations).
yang terjadi di luar bangsa itu? Apakah bangsa dan negara adalah sesuatu yang sama?
Steve Chan (1984) menjelaskan semuanya secara analitis dalam bukunya International Relations in Perspective: The Pursuit of Security, Welfare, and Justice. Buku ini memberikan awalan yang baik pada kajiannya terhadap Hubungan Internasional dengan memberikan batasan-batasan yang jelas. Bangsa adalah hal yang berbeda dengan negara. Sedangkan negara tidak bisa membatasi ruang lingkup suatu bangsa, ataupun sebaliknya. Bangsa tidak hanya terbentuk oleh kesamaan identitas, masa lalu, dan aspirasi, tetapi juga melibatkan kesamaan perasaan. Sedangkan negara memiliki kedaulatan sebagai puncak kekuasaan politik dalam negeri dan kesetaraan politik luar negeri.
Setelah membedakan bangsa dari negara, dia juga membatasi hubungan internasional sebagai hubungan-hubungan timbal balik (interactions) dari pelaku-pelaku (actors) yang tindakan-tindakan (actions) maupun syarat-syaratnya (conditions) memiliki akibat-akibat (consequences) terhadap yang lain di luar ruang lingkup yurisdiksinya sebagai suatu unit politik. Pembatasan ini diperjelas dengan memerhatikan empat hal berkenaan dengan makna hubungan timbalbalik (interactions), bangsa (nations), pembedaan antara interaksi dalam negeri dengan interaksi luar negeri berdasarkan pengaruhnya (impact), dan pemilahan pelaku-pelaku yang penting.
Pembatasan hubungan internasional dari Chan ini sangatlah khas politik internasional. Keberadaan unsur yurisdiksi menekankan bahwa identitas suatu pelaku dilihat dari keberadaan kedaulatan politiknya. Berdasarkan hal ini, impact yang dimaksud pada empat poinnya tersebut berkaitan dengan pengaruh-pengaruh aktivitas politik. Sedangkan, hasil pilahan pelaku-pelaku penting dalam hubungan internasional adalah negara, bukan bangsa. Aktivitas-aktivitas timbal baliknya pun tentunya dipengaruhi oleh kondisi hubungan antarunit yang berdaulat secara politik tersebut.
Berkenaan dengan ontologi SHI dalam Alquran, wahyu-wahyu mengenai penggolongan (klasifikasi) manusia merupakan titik-titik pertama yang bisa dijadikan awal penelusuran. Dalam Alquran, setidaknya terdapat dua ayat yang menjelaskan keanekaragaman manusia yang diciptakan oleh Allah. Dua ayat itu adalah surat Al-Hujurat ayat 13 dan surat Ar-Ruum ayat 49.
Di dalam surat Al-Hujuraat ayat 13, terdapat dua dasar penggolongan manusia, yakni syu'ub dan qaba'il. Dalam Bahasa Indonesia, syu'ub disepadankan dengan kata bangsa dan qaba'il dengan kata suku. Sedangkan dalam surat Ar-Ruum ayat 22, manusia digolongkan berdasarkan bahasa dan warna kulit. Di antara kedua ayat tersebut, penggolongan manusia berdasarkan bangsa dan suku lebih diutamakan jika dibandingkan dengan bahasa dan warna kulit karena unsur-unsur pembentukkan bangsa dan suku lebih rumit dan mampu membentuk pola-pola hubungan yang lebih dinamis di antara mereka. Meskipun begitu, surat Ar-Ruum tetap bisa dikaji nanti sebagai dasar ontologis SHI setelah mendahulukan surat Al-Hujuraat.
Ayat 13 dari surat Al-Hujurat ini berbunyi:
Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini ditelaah dengan memilahnya terlebih dahulu ke dalam tiga bagian pernyataan (proposisi). Ketiga pernyataan ini tidaklah terpisah satu sama lain. Namun, pernyataan pertama memiliki bobot informasi yang lebih banyak bagi kita dalam proses kajian ontologis SHI di sini karena pernyataan kedua dan ketiga lebih menitikberatkan hubungan antara manusia dengan Allah. Tiga bagian itu antara lain:
1. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling-mengenal.
2. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
3. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Pada pernyataan pertama tersebut, setidaknya terdapat enam konsep yang bisa kita pilah untuk dicermati. Konsep-konsep itu antara lain: manusia, kehendak Tuhan, jenis kelamin, bangsa, suku, dan saling-mengenal.
Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah menyatakan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka semua dari satu orang, `Adam, dan dari Adam itu Allah ciptakan pasangannya, Hawwa'. Dari keturunan mereka berdua itu, Allah membuat syu'ub atau bangsa, terdiri dari qaba'il atau suku, yang meliputi suku-suku dari semua ukuran. Ada juga yang
mengatakan bahwa syu'ub mengacu pada non-Arab,
Masih pada pernyataan pertama, tentang konsep saling-mengenal, li ta'arrafu mengacu pada kata seseorang, "fulan bin fulan atau fulan dari suku tertentu". Dari sini, konsep saling-mengenal yang dimaksud adalah untuk melihat silsilah keluarga dan juga tempat asal sebagai suatu penciri. Selain itu, Sufyan Ath-Thawri berkata, "orang-orang Himyar (yang tinggal di Yaman) berurusan dengan satu sama lain sesuai dengan provinsi mereka, sementara orang-orang Arab di Hijaz (Arab Barat) berurusan dengan satu sama lain sesuai dengan suku mereka." Berarti, selain ciri-ciri dari golongannya itu sendiri, terdapat juga perbedaan cara-cara berinteraksi antargolongan. Melalui saling-mengenal ini, suatu golongan tidak hanya bisa mengetahui keunikan ciri dari golongan lain, tetapi juga cara-cara interaksi golongan-golongan lain tersebut.
Konsep `Bangsa` sebagai Ontologi SHI yang Asli
Dari dua hasil kajian di atas, SHI Barat cenderung memasangkan konsep bangsa dengan negara, sedangkan pada ayat di atas, konsep bangsa dipasangkan dengan suku. Pertanyaan yang muncul: apakah konsep suku dikenal dalam SHI Barat? sebaliknya, apakah konsep negara dikenal dalam pandangan Islam?
Selain itu, konsep hubungan timbal balik (interaksi) dalam SHI Barat bisa dikatakan (di-)seragam(-kan), sedangkan dalam surat Al-Hujuraat tadi, hubungan-hubungan antargolongan pun bisa beraneka ragam. Homogentias pola interaksi antarpelaku hubungan internasional pada SHI Barat tidak lepas dari sejarah sistem internasional dari Perjanjian Westphalia 1648. Artinya, pola-pola hubungan yang dipelajari dalam SHI Barat merupakan buatan manusia. Sedangkan dalam Al-Hujuraat tadi, cara-cara berhubungan antargolongan manusia pada kondisi penciptaannya memang berbeda satu sama lain.
Konsep suku juga, bahkan, lebih mudah dikenali dibandingkan dengan bangsa. Namun, konsep bangsa ini ternyata lebih stabil jika dibandingkan dengan negara dan suku yang hidup-matinya begitu cepat.
Pembahasan ontologi SHI secara sekuler saja masih memunculkan perdebatan, apalagi dari cara pandang religius. Dari pandangan agama Islam, sangat sedikit yang mencoba menggali ontologi hubungan internasional sebagai fenomena dari posisi pandang/worldview (bukan sudut pandang/perspective) yang mencerminkan pengaruh ajarannya dalam kehidupan pada tingkatan antarbangsa. Padahal para cendekiawan HI dari kalangan Muslim semakin banyak dan tersebar di berbagai negara. Hal ini bisa disebabkan oleh permasalahan mendasar yang masih belum terselesaikan mengenai perdebatan logika klasifikasi genera-specia tentang apakah Islam berada dalam SHI atau SHI dalam Islam.
Ayat-ayat Alquran merupakan sumber pengetahuan yang benar pertama dan utama bagi Muslim. Keutamaannya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Fenomena hubungan internasional yang digambarkan oleh para pemikir SHI Barat pun tidak luput dari wawasan Alquran. Itu semua merupakan dasar kepercayaan yang dimiliki oleh Muslim yang taat. Dengannya, Alquran juga menjadi dasar bagi Muslim dalam berpengetahuan fenomena hubungan internasional.
Apakah pengetahuan yang didasari keyakinan agama tidak layak untuk kita kaji di sini? Kenyatannya adalah tidak ada pengetahuan ilmiah apapun yang terlepas dari kepercayaan. Mencari ontologi SHI berdasarkan Alquran merupakan suatu hal yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan. Dari pembahasan ontologi SHI berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir ini, kita bisa melihat kekuatan Quran dalam memberikan dasar-dasar filofis pengetahuan empiris atas realita hubungan antarmanusia pada level dunia.
Alquran sehingga sangat besar kemungkinan bahwa tafsiran ayat 13 surat al-Hujuraat ini perlu dikaitkan juga dengan tafsiran ayat-ayat lainnya, seperti Ar-Ruum ayat 22 yang telah disebutkan di pertengahan tadi. Selain itu, tafsir Ibnu Katsir hanyalah satu dari sekian banyak tafsir-tafsir Alquran dari berbagai ulama dunia. Di Indonesia saja terdapat setidaknya dua tafsir Al-Quran, yakni karya Buya Hamka dan Quraish Syihab. Artinya, perlu upaya sistematis untuk melakukan pengkajian ontologi SHI secara lengkap yang meliputi satu kesatuan Alquran, tidak hanya Al-Hujuraat:13, juga diperkaya dengan tafsir-tafsir selain Tafsir Ibn Katsir.[]
Referensi
[1] Steve Chan (1984). International Relations in Perspective: The Pursuit of Security, Welfare, and Justice.
[2] Tafsir Ibnu Katsir.
[3] Ahmad Harakan. “Hubungan Internasional Dari Perspektif Al-Quran,” Catatan Harakan, diakses pada 24 Januari