• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP ETIKA MARIFAT DALAM PENDIDIKAN ME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP ETIKA MARIFAT DALAM PENDIDIKAN ME"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP ETIKA MA’RIFAT DALAM PENDIDIKAN MENURUT PANDANGAN

AL-GHAZALI

Afifah

Abstract:

The study focuses on the ethic concept of al-Ghazâlî in education. The

approach used by al-Ghazâlî, in relation to the educational ethic, is

sufistic-philosopichal which tends to the concept of ma‘rifat Allâh,

taqarrub, and

tahassub through riyâdlah. These three dimentions are the main basis of how to

educate the moslem’s ethic. For those whose spiritual has not been good yet,

they are suppossed to learn constantly. Therefore, an educator may guide and

bring spiritually the students to be close to Allah. In fact, al-Ghazâlî’s concept of

ethic in education by sufistic-philosopichal approach has theoretically and

practically broad influences for the moslem life all over the world. Such two

influences indicate that practically and theoretically al-Ghazalî’s school of

thought in ethical education turns out to be the basic of further thinking. Thus,

the very strong al-Ghazalî’s influence toppled down the sufism at that time.

Abstrak:

Kajian ini membahas konsep pendidikan etika al-Ghazâlî. Pendekatan

yang digunakan oleh al-Ghazâlî dalam membina etika bermuara pada

sufistik-filosofis yang cenderung pada ma‘rifat Allâh dan diproses dengan metode

tazkîyat an-nafs, taqarrub, dan tahassub dengan cara riyâdlah. Tiga dimensi ini

menjadi landasan untuk membina etika seseorang secara baik. Bagi seseorang

yang jiwanya belum bersih, dia harus berguru dan minta petunjuk. Dengan

demikian, guru dapat memberi petunjuk dan mengantarkan seorang murid

sampai kepada Tuhan. Dalam perkembangannya, konsep pendidikan etika

sufistik-filosofis al-Ghazâlî berpengaruh di belahan dunia baik secara teoritik

maupun praktis. Dua pengaruh ini menggambarkan pemikiran al-Ghazâlî secara

teoritis-praktis dalam bidang pendidikan etika. Pengaruh al-Ghazâlî yang sangat

kuat mampu menumbangkan aliran tasawuf yang berlaku pada saat itu.

Keywords:

Al-Ghazâlî, Tazkiyat al-Nafs, Taqarrub, Tahassub, Riyâdlah.

Ma'rifatullah

(2)

Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah kita akan

merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila

demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, saat kita tidak mengenal

Allah, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat, tidak tenang dalam hidup, dan

sebagainya.Ciri orang yang

ma'rifat

adalah

laa khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun

. Ia tidak takut

dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas

ma'rifat

kita dapat diukur. Bila kita selalu

cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum

ma'rifat

. Sebab, orang yang

ma'rifat

itu

susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat

tidaknya ia dengan Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa

membuat kita semakin kenal, dekat dan taat kepada Allah.

Salah satu ciri orang

ma'rifat

adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan

mendatangkan tujuh keuntungan hidup. Pertama, hidup selalu berada di jalan yang benar (

on the

right track

). Kedua, memiliki kekuatan menghadapi cobaan hidup. Kekuatan tersebut lahir dari

terjaganya keimanan. Ketiga, Allah akan mengaruniakan ketenangan dalam hidup. Tenang itu mahal

harganya. Ketenangan tidak bisa dibeli dan ia pun tidak bisa dicuri. Apa pun yang kita miliki, tidak

akan pernah ternikmati bila kita selalu resah gelisah. Keempat, seorang ahli ibadah akan selalu

optimis. Ia optimis karena Allah akan menolong dan mengarahkan kehidupannya. Sikap optimis akan

menggerakkan seseorang untuk berbuat. Optimis akan melahirkan harapan. Tidak berarti kekuatan

fisik, kekayaan, gelar atau jabatan bila kita tidak memiliki harapan. Kelima, seorang ahli ibadah

memiliki kendali dalam hidupnya, bagaikan rem pakem dalam kendaraan. Setiap kali akan

melakukan maksiat, Allah SWT akan memberi peringatan agar ia tidak terjerumus.

(3)

Saudaraku, di tengah kondisi yang semakin sulit, tidak ada yang bisa menolong kita selain Allah

SWT. Salah satu ikhtiar untuk menggapai pertolongan Allah dengan meningkatkan pengenalan kita

kepada Allah. Cara menggapainya adalah dengan ibadah secara istikamah.

Wallaahu a'lam

( KH Abdullah Gymnastiar )

Dialektika Syariat, Thariqat, Haqiqat, Ma'rifat

Ada yang namanya

ilmu hayat

, bukan dan sering berbeda dibanding

ilmul-madrasah

, ilmu

persekolahan. Kalau pakai ilmu madrasah, saya terlalu awam. Kalau ilmu saya itu ilmu ngasak:

mengaisi sisa-sisa padi sesudah orang panen. Bukan ilmu sekolahan, tapi ilmu jalanan, ilmu

lapangan, ilmu langsungnya orang hidup

Syariat

saya ibaratkan badan. Badan Anda yang bisa bergerak, melangkah, bisa

gedek

(geleng)

segala macamnya.

Thariqat

-nya adalah cara Anda bergerak, cara Anda masak, cara Anda mengajar,

cara Anda menjadi presiden, cara Anda menangani jajak pendapat.

Thariqat

itu semacam dengan

kaifiyyah. Thariq

itu jalan, dengan atau tanpa tanda petik, denotatif atau konotatif.

Syari'

itu juga jalan.

Tapi kalau

thariq

lebih bersifat kualitatif, kalau

syari'

bersifat kuantitatif. Jadi kalau ini jelas Jetis itu

syari'

bukan

thariq

. Kalau

thariq

itu jalan dalam arti yang yang lebih abstrak."

Jadi

syariat

dan

thariqat

itu artinya sama-sama jalan. Jadi, sekali lagi,

syariat

saya terjemahkan

sebagai badan Anda yang bisa bergerak itu.

Thariqat

adalah cara Anda bergerak, cara Anda

mengelola sesuatu.

Haqiqat

adalah ke mana Anda berjalan, titik tuju Anda, atau apa yang akan Anda

tuju, atau apa yang akan Anda capai. Itulah

haqiqat

. Jadi sekali lagi empat ini adalah satu sistem,

satu sistem perilaku, satu sistem managemen, bukan tingkatan-tingkatan. Bukan kok, Wah ini

manusia

syari'at

. Yang itu kalau shalat Jum'at selalu di Mekah, jadi sudah

ma'rifat

. Kalau yang sana

tak perlu shalat lagi karena sudah ngerti hakekatnya..

.

Bukan. Itu bukan level. Tolong jangan diseram-seramkan. Kita sering terpukau oleh kata

haqiqat,

ma'rifat, thariqat, syari'at

. Terpukau. Apa sih

ma'rifat

?

Ma'rifat

adalah, anak SD belum bisa berhitung;

mulai hari ini bisa

ngitung

. Tadi dia berangkat dari rumah belum tahu 2x3 itu 6, sekarang dia tahu

2x3=6. Itulah

ma'rifat

. Cuma itu

doang

.

(4)

"Makanya sifat Allah yang ketiga adalah

'alimul-gha'ibi was-syahadah

. Sesudah

ilahun

(Tuhan),

lantas

rabbun

(Pengasuh); kemudian

'Alimul-ghaibi was-syahadah

.

Mengetahui kegaiban. Yang mengetahui yang ghaib, dan menguasai kesaksian atas kegaiban. Kalau

manusia bersifat

muta'allimul ghaib

, yang mempelajari kegaiban." Yang gaib itu apa? Yang gaib itu

sederhana, yaitu sesuatu yang Anda belum tahu. Begitu saja. Warung soto di sana itu enak: gaib bagi

yang belum merasakannya. Begitu ke sana, langsung tidak gaib lagi."

Barang gaib itu sederhana. Orang-orang Indonesia itu suka banget sama yang serem-serem gitu,

Nyerem-nyeremin

. Lia Aminuddin

diserem-seremin

;

Wo

anaknya itu Imam Mahdi. O dia habis

nantang Nyai Roro Kidul. Kalau memang anaknya Imam Mahdi ya alhamdulilah. Jadi ndak perlu

reformasi, tak perlu suksesi. Makmur semua,

wong

ada Imam Mahdi. Tapi kalau ternyata tetap repot,

Indonesia tetap kacau berarti dia bukan Imam Mahdi. Cukuplah begitu berpikirnya.

Jadi tolong jangan terkontaminasi oleh mitologi kata, oleh mitos-mitos di dalam otaknya sendiri. Kita

ribut sama mitos-mitos kita mengenai hantu. Umpama ada gendruwo ya lewatlah saja 'kan ndak

apa-apa. Kita sering menimpakan kepada diri kita sendiri sesuatu yang sebenarnya ringan-ringan saja.

Ma’rifat, Sifat-sifat Orang Arif dan Hakikatnya

Pengajian Syeikh Abu Nashr as-Sarraj"

Abu Said al Kharraz rahimahullah pernah ditanya tentang ma'rifat. Lalu ia menjawab, "Ma'rifat itu datang

lewat dua sisi: Pertama, dari anugerah Kedermawanan Allah langsung, dan kedua, dari mengerahkan

segala kemampuan atau yang lebih dikenal sebagai usaha (kasab) seorang hamba."

Sementara itu Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - ditanya tentang sifat orang yang arif, lalu ia

menjawab, "Orang arif adalah orang yang tidak terkotori oleh apa saja, sementara segala sesuatu akan

menjadi jernih karenanya."

Ahmad bin 'Atha' - rahimahullah - berkata, "Ma'rifat itu ada dua: Ma'rifat al-Haq dan ma'rifat hakikat.

Adapun ma'rifat al-Haq adalah ma'rifat (mengetahui) Wahdaniyyah-Nya melalui Nama-nama dan

Sifat-sifat yang ditampakkan pada makhluk-Nya. Sedangkan ma'rifat hakikat, tak ada jalan untuk menuju ke

sana. Sebab tidak memungkinkannya Sifat Shamadiyyah (Keabadian dan Tempat ketergantungan

makhluk)-Nya, dan mengaktualisasikan Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya. Karena Allah telah berfirman:

"Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi (memahami secara detail) Ilmu-Nya"." (Q.s. Thaha: 110).

Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - menjelaskan:

(5)

Dia tahu bahwa itulah kadar kemampuan mereka. Sebab untuk tahu dan ma'rifat secara hakiki tidak

akan mampu dilakukan oleh makhluk. Bahkan hanya sebesar atom pun dari ma'rifat-Nya tidak akan

sanggup dicapai oleh makhluk. Sebab alam dengan apa yang ada di dalamnya akan lenyap ketika

bagian terkecil dari awal apa yang muncul dari Kekuasaan Keagungan-Nya. Lalu siapa yang sanggup

ma'rifat (mengetahui) Dzat Yang salah satu dari Sifat-sifat-Nya sebagaimana itu?

Oleh karenanya ada orang berkata, "Tak ada selain Dia yang sanggup mengetahui-Nya, dan tak ada

yang sanggup mencintai-Nya selain Dia sendiri. Sebab Kemahaagungan dan Keabadian

(ash-Shamadiyyah) tak mungkin dapat dipahami secara detail. Allah swt. berfirman:

"Dan mereka tidak mengetahui apa apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya"." (Q.s.

al-Baqarah:

255).

Sejalan dengan makna ini, ada riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. yang pernah berkata, "Mahasuci

Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma'rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup

mengetahui-Nya."

Asy-Syibli - rahimahullah - pernah ditanya, "Kapan seorang arif berada dalam tempat kesaksian al-Haq?"

Ia menjawab, "Tatkala Dzat Yang menyaksikan tampak, dan bukti-bukti fenomena alam yang menjadi

saksi telah fana' (sirna) indera dan perasaan pun menjadi hilang."

"Apa awal dari masalah ini dan apa pula akhirnya?"

Ia menjawab, "Awalnya adalah ma'rifat dan ujungnya adalah mentauhidkan-Nya."

Ia melanjutkan, "Salah satu dari tanda ma'rifat adalah melihat dirinya berada dalam 'Genggaman' Dzat

Yang Mahaagung, dan segala perlakuan Kekuasaan Allah berlangsung menguasai dirinya. Dan ciri lain

dari ma'rifat adalah rasa cinta (al-Mahabbah). Sebab orang yang ma'rifat dengan-Nya tentu akan

mencintai-Nya."

Abu Nazid Thaifur bin Isa al-Bisthami - rahimahullah - pernah ditanya tentang sifat orang arif, lalu ia

menjawab, "Warna air itu sangat dipengaruhi oleh warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Jika air itu

anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna putih maka anda akan menduganya berwarna putih.

Jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna hitam, maka Anda akan menduganya berwarna

hitam. Dan demikian pula jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna kuning dan merah, ia

akan selalu diubah oleh berbagai kondisi. Sementara itu yang mengendalikan berbagai kondisi spiritual

adalah Dzat Yang memiliki dan menguasainya."

(6)

atau hitam, padahal air yang ada di dalam tempat tersebut tetap satu makna yang sesuai dengan

aslinya. Demikian pula orang yang arif dan sifatnya ketika "bersama" Allah Azza wa jalla dalam segala

hal yang diubah oleh berbagai kondisi spiritual, maka rahasia hati nuraninya "bersama" Allah adalah

dalam

satu

makna.

Al-junaid - rahimahullah - pernah ditanya tentang rasionalitas orang-orang arif (al-'arifin). Kemudian ia

menjawab, "Mereka lenyap dari kungkungan sifat-sifat yang diberikan oleh orang-orang yang memberi

sifat."

Sebagian dari para tokoh Sufi ditanya tentang ma'rifat. Lalu ia menjawab, "Adalah kemampuan hati

nurani untuk melihat kelembutan-kelembutan apa yang diberitahukan-Nya, karena ia telah

menauhidkan-Nya."

Al-Junaid - rahimahullah - ditanya, "Wahai Abu al-Qasim, (nama lain dari panggilan al-junaid, pent.). apa

kebutuhan orang-orang arif kepada Allah?"

Ia menjawab, "Kebutuhan mereka kepada-Nya adalah perlindungan dan pemeliharaan-Nya pada

mereka."

Muhammad bin al-Mufadhdhal as-Samarqandi - rahimahullah - berkata, "Akan tetapi mereka tidak

membutuhkan apa-apa dan tidak ingin memilih apa pun. Sebab tanpa membutuhkan dan memilih,

mereka telah memperoleh apa yang semestinya mereka peroleh. Karena apa yang bisa dilakukan

orang-orang arif adalah berkat Dzat Yang mewujudkan mereka, kekal dan fananya juga berkat Dzat

Yang mewujudkannya."

Muhammad bin al-Mufadhdhal juga pernah ditanya, " Apa yang dibutuhkan orang-orang arif?"

Ia menjawabnya, "Mereka membutuhkan moral (akhlak) yang dengannya semua kebaikan bisa

sempurna, dan ketika moral tersebut hilang, maka segala kejelekan akan menjadi jelek seluruhnya.

Akhlak

itu

adalah

istiqamah."

Yahya bin Mu'adz - rahimahullah - ditanya tentang sifat orang arif, maka ia menjawab, "Ia bisa masuk di

kalangan orang banyak, namun ia terpisah dengan mereka."

Dalam kesempatan lain ia ditanya lagi tentang orang yang arif, maka ia menjawab, "Ialah seorang

hamba yang ada (di tengah-tengah orang banyak) lalu ia terpisah dengan mereka."

Abu al-Husain an-Nuri - rahimahullah - ditanya, "Bagaimana Dia tidak bisa dipahami dengan akal,

sementara Dia tidak dapat diketahui kecuali dengan akal"

(7)

awal dan mengakhirkan yang terakhir, sehingga Dia disebut Yang Pertama dan Terakhir. Andaikan Dia

tidak mengawalkan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir tentu tidak bisa diketahui mana yang

pertama dan mana yang terakhir."

Kemudian ia melanjutkannya, "Al-Azzaliyyah pada hakikatnya hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian), di

mana antara keduanya tidak ada pembatas apa pun. Sebagaimana Awwaliyyah (awal) adalah juga

Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah juga awal. Demikian pula lahir dan batin, hanya saja suatu saat Dia

menghilangkan Anda dan suatu saat menghadirkan Anda dengan tujuan untuk memperbarui kelezatan

dan melihat penghambaan ('ubudiyyah). Sebab orang yang mengetahui-Nya melalui penciptaan

makhluk-Nya, ia tidak akan mengetahui-Nya secara langsung. Sebab penciptaan makhluk-Nya berada

dalam makna firman-Nya, 'Kun' (wujudlah). Sementara mengetahui secara langsung adalah

menampakkan kehormatan, dan sama sekali tidak ada kerendahan."

Saya (Syekh Abu Nashr as Sarrai) katakan: Makna dan ucapan an-Nuri, "mengetahui-Nya secara

langsung," ialah langsung dengan yakin dan kesaksian hati nurani akan hakikat-hakikat keimanan

tentang hal-hal yang gaib.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - melanjutkan penjelasannya: Makna dari apa yang

diisyaratkan tersebut - hanya Allah Yang Mahatahu - bahwa menentukan dengan waktu dan perubahan

itu tidak layak bagi Allah swt. Maka Dia terhadap apa yang telah terjadi sama seperti pada apa yang

bakal terjadi. Pada apa yang telah Dia firmankan sama seperti pada apa yang bakal Dia firmankan.

Sesuatu yang dekat menurut Dia sama seperti yang jauh, begitu sebaliknya, sesuatu yang jauh sama

seperti yang dekat. Sedangkan perbedaan hanya akan terjadi bagi makhluk dari sudut penciptaan dan

corak dalam masalah dekat dan jauh, benci dan senang (ridha), yang semua itu adalah sifat makhluk,

dan bukan salah satu dari Sifat-sifat al-Haq swt. - dan hanya Allah Yang Mahatahu-.

Ahmad bin Atha' - rahimahullah - pernah mengemukakan sebuah ungkapan tentang ma'rifat. Dimana hal

ini konon juga diceritakan dari Abu Bakar al-Wasithi. Akan tetapi yang benar adalah ungkapan Ahmad bin

'Atha', "Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya

(tidak ada nilai-nilai Ketuhanan). Sedangkan segala Sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya

karena tersingkap (Tajalli)-Nya (terdapat nilai-nilai Ketuhanan). Sebab keduanya merupakan sifat yang

selalu berlaku sepanjang masa, sebagaimana keduanya berlangsung sejak azali. Dimana tampak dua

ciri yang berbeda pada mereka yang diterima dan mereka yang ditolak. Mereka yang diterima,

benar-benar tampak bukti-bukti Tajalli-Nya pada mereka dengan sinar terangnya, sebagaimana tampak jelas

bukti bukti tertutup hijab-Nya pada mereka yang tertolak dengan kegelapannya. Maka setelah itu, tidak

ada manfaatnya lagi warna-warna kuning, baju lengan pendek, pakaian serba lengkap maupun

pakaian-pakaian bertambal (yang hanya merupakan simbolis semata, pent.)."

(8)

yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad ad-Darani - rahimahullah - dimana ia

berkata, "Bukanlah perbuatan-perbuatan (amal) seorang hamba itu yang menjadikan-Nya senang (ridha)

atau benci. Akan tetapi karena Dia ridha kepada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka

orang-orang yang berbuat dengan perbuatan (amal) orang-orang yang diridhai-Nya. Demikian pula,

karena Dia benci pada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat

dengan perbuatan orang-orang yang dibenci-Nya."

Sedangkan makna ucapan Ahmad bin Atha', "Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek

hanya karena tertutupi hijab-Nya." Maksudnya adalah karena Dia berpaling dari kejelekan tersebut.

Sementara ucapannya yang menyatakan, "Segala sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya

karena tersingkap (Tajalli)-Nya." Maksudnya adalah karena Dia menyambut dan menerimanya. Makna

semua itu adalah sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah Hadis:

Dimana Rasulullah saw. pernah keluar, sementara di tangan beliau ada dua buah Kitab: Satu kitab di

tangan sebelah kanan, dan satu Kitab yang lain di tangan sebelah kiri. Kemudian beliau berkata, "Ini

adalah Kitab catatan para penghuni surga lengkap dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak

mereka. Sementara yang ini adalah Kitab catatan para penghuni neraka lengkap dengan nama-nama

mereka beserta nama bapak-bapak mereka." (H.r. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Ash. Hadist ini

Hasan Shahih Gharib. Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Ibnu Umar).

Ketika Abu Bakar al-Wasithi - rahimahullah - mengenalkan dirinya kepada kaum elite Sufi, maka ia

berkata, "Diri (nafsu) mereka (kaum arif telah sirna, sehingga tidak menyaksikan kegelisahan dengan

menyaksikan fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi Wujud-Nya al-Haq, sekalipun yang tampak

pada mereka hanya bukti-bukti kepentingan nafsu."

Demikian juga orang yang memberikan sebuah komentar tentang makna ini. Artinya - dan hanya Allah

Yang Mahatahu -, "Sesungguhnya orang yang menyaksikan bukti-bukti awal pada apa yang telah ia

ketahui, melalui apa yang dikenalkan Tuhan Yang disembahnya, ia tidak menyaksikan kegelisahan

dengan hanya menyaksikan apa yang selain Allah (yakni fenomena alam), dan juga tidak merasa

senang dengan mereka (makhluk)."

Jual Beli Ilmu Ma’rifat

Sekarang jual beli suara politik sudah jamak dimana-mana, apalagi menjelang pemilu kemarin. Tentu,

biasanya jual beli dilanjutkan dengan jual ayat-ayat dalam kampanye. Nah, tidak kalahnya, mulai marak

jual beli ilmu ma’rifat.

(9)

Maka Maduni, nama pemuda itu bergegas mengikuti acara “ma’rifat” itu.

Semula ia disuruh berdzikir, lalu disuruh memejamkan matanya.

“Kamu sudah melihat apa tadi?” Tanya pembimbingnya.

“Nggak melihat apa- apa, Cuma klemun-klemun di otak saya, kayak pusing-pusing…”

“Lho kamu nggak lihat cahaya tadi?”

“Wah, kalau lihat cahaya, setiap mata saya terpejam, selalu ada, warna-warni pelangi…?”

“Nah, itu cahaya ma’rifat. Apakah masuk di dadamu?”

“Tapi begini Pak, kalau saya terpejam, mata saya gelap, saya selalu terbayang cahaya apa saja yang

pernah saya lihat. Semua

warna warni tampak…”

“Terus-terus…nanti ada cahaya lagi…”

Madun, jadi bingung. Sudah bayar ratusan ribu, hanya untuk membayangkan cahaya. Ia baru sadar,

begitu mahalnya untuk

sekadar membayangkan cahaya.

Itulah kisah Madun, ketika ia sudah mulai menempuh jalan Sufi, ternyata banyak tipudaya yang

menggambarkan cahaya itu seperti yang pernah tampak di dunia. Padahal Cahaya itu adalah Cahaya

Jiwa yang hanya bisa dirasakan dalam pandangan terang benderangnya hati menuju kepada Allah.

Bukan macam pelangi atau goresan cahaya. Madun jadi ingat munculnya cahaya yang mengaku Allah di

hadapan Syeikh Abdul Qadir Jilani, dan cahaya itu adalah tipudaya Iblis. Madun hanya senyum-senyum

mengingat masa lalunya, berbelanja cahaya ma’rifat lewat iklan Koran.

Peran Ma'rifat Dalam Mencapai Kesempurnaan

cisaat | June 21, 2005

".Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak

mengetahui?" (Q.S. Az-Zumar:9)

Landasan utama kesempurnaan setiap individu ataupun suatu komunitas terletak pada kualitas

ma'rifat (pengetahuan) dan pola fikir mereka.

Kesempurnaan tersebut tidak mungkin terealisasi secara utuh tanpa didukung kualitas pengetahuan

yang tinggi.

(10)

Sedemikian tinggi nilai ma'rifat di mata Islam, sehingga ia dikategorikan sebagai paling mulianya

ibadah, yang jika dibandingkan dengan ibadah sekian puluh tahun lamanya dan tanpa didasari ilmu

dan ma'rifat, maka ia jauh lebih baik dari pada ibadah tersebut.

Allah swt dalam al-Quran menjelaskan bahwa salah satu fungsi diutusnya rasul adalah untuk

meningkatkan kualitas keilmuan dan pola fikir manusia, " ..dan mengajarkan kepada mereka kitab

dan hikmah .." (Q.S. Jum'ah : 2).

Dalam pandangan Islam, kualitas sebuah perbuatan bisa diukur dari tingkat ma'rifat si pelakunya.

Jika pelaku tidak melandasi perbuatannya dengan pengetahuan atau ma'rifat, perbuatannya itu tidak

bernilai sama sekali.

Dengan kata lain, tingkat kualitas suatu tindakan ditentukan sesuai dengan derajat ma'rifat

pelakunya. Semakin tinggi derajat ma'rifat seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya,

meskipun perbuatan itu secara lahiriah nampak remeh, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat

"Tidurnya orang alim adalah ibadah."

Di sisi lain, penekanan Islam dalam pengutamaan kualitas ibadah dibanding kuantitasnya sangat

mencolok, seperti yang kita amati dari ayat 2 surat Al-Mulk: "... supaya Dia menguji kamu, siapa

diantara kamu yang lebih baik amalnya... "

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah swt lebih menekankan amal yang terbaik, bukan yang terbanyak.

Jelas bahwa amal terbaik adalah amal yang dilandasi dengan ma'rifat.

Imam Abu Ja'far a.s. bersabda, "Wahai anakku! Ketahuilah bahwasanya derajat syiah (pengikut) kita

akan sesuai dengan kadar ma'rifat mereka karena aku pernah melihat di dalam "Kitab Ali" (Mushaf

Ali) tertulis bahwa nilai kesempurnaan seseorang ditentukan oleh kadar ma'rifat-nya" (Ma'ani

al-Akhbar).

(11)

Ringkasnya, ketakwaan tidak mungkin didapati kecuali dengan ilmu dan ma'rifat. Di samping itu,

kemuliaan manusia yang dinilai dengan ketakwaannya, juga dinilai dengan sumber ketakwaannya

tersebut; yaitu ma'rifat.

Maka, betapa besar perhatian dan penekanan ajaran Islam terhadap nilai ilmu dan ma'rifat,

sebagaimana yang ditegaskan firman Allah swt dalam hadis qudsi berikut ini: "Aku ibarat harta yang

terpendam, maka Aku senang untuk diketahui. Oleh karena itu, Kuciptakan makhluk agar diriku

diketahui" (Bihar al-Anwar).

Penciptaan makhluk yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia yang memiliki berbagai

potensi, adalah untuk ber-ma'rifat kepada Allah yang merupakan tujuan utama penciptaan. Imam

Ja'far Shadiq a.s. dengan menukil riwayat dari kakek beliau, Imam Ali Zaenal Abidin a.s. menafsirkan

kata "al-Ibadah" yang tercantum dalam ayat "Tidaklah Kucipta-kan jin dan manusia kecuali untuk

beribadah kepada-Ku" (Q.S Al-hujarat : 13), bersabda, "Wahai para manusia! Sesung-guhnya Allah

swt tidak menciptakan hamba-hamba-Nya kecuali untuk mengenal (ber-ma'rifat) kepada-Nya"

(Biharul Anwar).

Jelas, dilihat dari sisi definisi, ibadah berbeda dengan ma'rifat. Namun, jika kita lihat hubungan

keduanya, maka kita akan dapat menilai eratnya hubungan itu, karena bagaimana mungkin kita akan

beribadah kepada Zat yang tidak kita kenal, dan mungkinkah kita merasa sudah mengenal Zat

Mahasempurna, yang selayaknya disembah dan harus kita tuju untuk kesempurnaan jiwa kita,

sementara kita tidak melakukan ibadah kepada-Nya, padahal kita tahu bahwa kesempurnaan jiwa

mustahil dicapai tanpa ibadah.

Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah membuka khutbah pertamanya dengan ucapan, "Awal agama

adalah mengenal-Nya." Maka, awal yang harus diraih seorang hamba dalam ber-ma'rifat adalah

pengetahuan tentang penciptanya yang melahirkan suatu keyakinan. Ia tidak akan mencapai suatu

keyakinan tanpa pengetahuan.

Lawan ma'rifat adalah taqlid. Kata ini berarti mengikuti ucapan seseorang tanpa landasan argumen.

Maka, taqlid tidak dikategorikan sebagai ilmu. Ia sama sekali tidak akan meniscayakan keyakinan.

(12)

keyakinan tidak mungkin muncul tanpa landasan ilmu dan argumen. Oleh karena itu, Islam melarang

taqlid dalam masalah ini.

Tentu saja, manusia tidak mungkin ber-ma'rifat dan mengenal Zat Allah SWT haqqu ma'rifatih (secara

utuh dan sempurna), sebagaimana yang dibuktikan oleh akal. Karena, bagaimana mungkin sesuatu

yang terbatas (makhluk) dapat mengetahui dan menjangkau zat yang tidak terbatas (al-Khaliq) dari

berbagai sisi-Nya. Oleh sebab itu, rasul sebagai makhluk yang paling sempurna pernah bersabda

dalam penggalan munajatnya, "Wahai Tu-hanku, diriku takkan pernah

mengetahui-Mu sebagaimana mestinya."

Hal ini tidak berarti kita bebas dari kewajiban mengenalnya, Imam Ali a.s. pernah menegaskan, "Allah

swt tidak menyingkapkan hakikat sifat-Nya kepada akal, kendati Dia pun tidak menggugurkan

kewajibannya untuk mengenal diri-Nya" (Nahjul Balaghah).

Setiap ilmu dan ma'rifat, khususnya ma'rifatullah, yang dimiliki oleh setiap individu ataupun suatu

komunitas sangat berpengaruh pada perilaku moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita bisa

bandingkan mereka yang meyakini pandangan dunia Ilahi dengan mereka yang menganut

pandangan dunia materialis. Kelompok kedua ini menganggap bahwa kehidupan manusia tidak

memiliki kepastian dan kejelasan tujuan yang harus ditempuh, anggapan yang bermuara dari

keyakinan bahwa kebermulaan alam ini dari shudfah (kebetulan), sehingga mereka melihat bahwa

kematian merupakan titik akhir dari kehidupan dan manusia menjadi tiada hanya dengan kematian.

Kematian itu akan menghadang setiap orang tanpa pandang bulu, zalim maupun adil, berbudi luhur

maupun tercela.

Maka, ketika anggapan-anggapan tersebut menjadi dasar pengetahuan, sekaligus menjadi dasar

keyakinan, mereka hidup sebagai hedonis yang selalu berlomba untuk mencari segala bentuk

kenikmatan duniawi dan menganggapnya sebagai kesempurnaan sejati yang harus dicari oleh setiap

orang, sebelum ajal mencengkeram mereka. Menurut mereka, tidak ada sesuatu yang lebih sakral

dibanding kenikmatan hidup ini, dan nilai-nilai moral seseorang akan terus berubah seiring dengan

perubahan situasi dan kondisi dunia dengan berbagai atributnya, sehingga standar etika mereka

adalah segala hal yang berkaitan dengan prinsip materialisme dan hedonisme.

(13)

"Apakah engkau menyangka bahwa telah kami ciptakan dirimu (manusia) dengan kesia-siaan, dan

bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?" (Q.S. Al-Mu'minun : 115)

Oleh karena itu, kematian menurut mereka bukanlah akhir dari kehidupan. Sebaliknya, ia lebih

merupakan gerbang awal dari kehidupan abadi. Maka, suatu keniscayaan bagi Allah swt Zat yang

Maha adil dan Maha tahu akan setiap gerak perilaku makhluk-Nya, untuk menjadikan suatu alam

selain alam dunia ini sebagai tempat pertanggung-jawaban atas setiap perbuatan manusia selama

masa hidupnya di dunia.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hanya Allah swt satu-satunya Zat yang Mutlak dari berbagai

sifat kesempurnaan sehingga jika kita dapati kebaikan dan keindahan di alam fana ini, maka itu

merupakan bentuk manifestasi penjelmaan) kebaikan dan keindahan-Nya.

Yang dimaksud dengan "manusia sempurna" adalah suatu derajat di mana manusia telah mampu

mencapai bentuk penjelmaan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, sekaligus berhasil menjauhkan diri dari

berbagai sifat yang harus dijauhkan dari sifat-sifat Allah swt. Hal inilah yang selalu dianjurkan oleh

Rasul dalam sabda beliau: "Berakhlaklah dengan akhlak Allah."

Dalam konteks ibadah sehari-hari, kita selalu dianjurkan berniat untuk taqarrub, yaitu mendekatkan

diri kepada-Nya. Taqarub di sini mengisyaratkan pada tasyabbuh (penyerupaan diri dengan

sifat-sifatNya). Semakin bertambah kualitas dan kuantitas manisfestasi sifat-sifat kesempurnaan Ilahi

dalam diri asyiq (seorang pecinta Tuhan), niscaya ia semakin dekat dengan ma'syuq-nya (kekasih),

begitu pula sebaliknya. Jika manifestasi itu minim dan pudar, atau bahkan tidak ada sama sekali, ia

akan selalu jauh dari penciptanya.

Berbicara tentang penyerupaan sudah menjadi hal yang wajar bagi seseorang mencintai sesuatu. Ia

akan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang mengingatkan dirinya kepada kekasihnya

seperti; meniru gaya hidup, mencintai apa yang dicintai kekasihnya dan seterusnya. Begitu juga jika

ia membenci sesuatu, maka ia selalu berusaha untuk melupakan dan menjauhkan diri dari apa yang

ia benci. Demikian pula yang dialami oleh pecinta Ilahi.

(14)

Untuk sampai dan bertemu dengan Tuhannya, para salik akan melalui banyak rintangan, berupa

hijab (tabir-tabir penghalang) yang harus ia singkirkan untuk sampai pada tujuan yang dia rindukan.

itu semua perlu usaha optimal, baik berupa pengetahuan yang bersifat teoritis ataupun aplikatif

nyata. Karena, tanpa pengetahuan yang maksimal, suluk seorang hamba tidak akan bisa terwujud.

Bekal ilmu seorang salik yang terbatas akan menjauhkan diri dari tujuannya. Imam Shadiq a.s.

bersabda, "Seorang pelaku perbuatan tanpa landasan pengetahuan ibarat berjalan di luar jalur yang

akan ditempuh. Semakin cepat ia bergerak, tidak akan menambah (cepat sampai tujuan), akan tetapi

malah semakin menjauh (dari tujuan)." (Ushul al-Kafi)

Kegagalan perjalanan seorang hamba dalam mencapai tujuannya disebabkan oleh bekal

pengetahuan yang tidak cukup, karena pengetahuan yang minim menyebabkan kerancuan memilah

baik dari buruk, keyakinan yang benar dari yang salah, juga niat yang tulus dari yang tercemar oleh

syirik atau bisikan setan; memperdaya dan menipu dengan berbagai angan dan khayalan, sehingga

menerjang apa yang harus dihindari dan meninggalkan apa yang harus dilakukan. Maka, bagaimana

mungkin seorang hamba yang rindu bertemu dengan kekasih sejatinya dan mendapatkan

keridhoan-Nya, sementara ia menempuh jalan yang tidak diridhai, bahkan dibenci oleh sang kekasih.

Seperti yang telah kita ketahui ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah. Ilmu tidak akan memberi

manfaat apapun bila tidak diamalkan. Allah swt berfirman dalam surat Al-Jatsiah ayat 23, "Maka

pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya." Ayat ini

menjelaskan bahwa ilmu tidak menjamin orang untuk mendapatkan hidayah (petunjuk). Sedangkan

penyesatan yang dilakukan oleh Allah swt terhadap orang yang berilmu tadi, hanya karena ketaatan

mereka kepada hawa nafsu dan ketidaksesuaian amal mereka dengan pengetahuannya.

Allamah Thabatha'i r.a. dalam tafsir al-Mizan dalam mengomentari ayat di atas menjelaskan bahwa

pertemuan ilmu --tentang jalan yang harus ditempuh-- dengan kesesatan bukan suatu kemustahilan.

Bukankah Allah swt berfirman, "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan,

padahal hati mereka sungguh meyakini kebenarannya" (an-Naml:14)..

Tidak ada konsekuensi antara ilmu dan hidayah atau antara kejahilan dan kesesatan. Akan tetapi,

petunjuk (hidayah) merupakan penjelmaan ilmu di mana si empunya (alim) selalu komitmen dengan

ilmunya, namun jika tidak, maka kesesatan akan menimpanya walaupun ia berilmu.

(15)

yang harus ia raih, sehingga ia lebih mengedepankan maslahat semu di depan matanya dibanding

maslahat jangka panjang yang hakiki. Dalam meraih hal semu tersebut tak jarang ia menggunakan

dengan cara-cara yang bertentangan dengan perintah Allah dan lebih mengikuti hawa nafsunya,

"Terangkan kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya."

(Q.S. Al-furqan : 43).

Oleh karena itu, dalam menuju kesempurnaan abadi dan maslahat hakiki, selain diperlukannya

ma'rifat sebagai pondasinya, juga tarbiyah yang dalam bahasa al-Quran disebut tazkiyah (penyucian

diri) sebagai salah satu fungsi diutusnya rasul, ".Yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,

menyucikan mereka dan mengajarkannya .." (Q.S. Al-jum'ah : 2). Tazkiyah inilah sebagai pilar utama

dari tegaknya bangunan kesem-purnaan jiwa manusia.

\

Keutamaan ma’rifat

Ma'rifat adalah mengenal yang hak pada segala Asma dan sifatNya dengan

sebenar-benarnya. Ma'rifat adalah keistimewaan yang tertinggi yang ada pada hati, karena seseorang

yang sudah ma'rifat hubungan antaranya dan Allah sudah sangat dekat dan harmonis hingga

dirinya menyatu dengan Allah, sifatnya adalah sifat Allah dan semua aktivitasnya adalah qudrat

Allah.

" Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya " (al Hadits). Abu Ali

Addaqaq berkata: " Kehidupan orang yang Arif selalu tenang tidak ada rasa takut atau

bersedih hati dan tingkah lakunya menunjukkan kehebatan Allah ".

Daftar Pustaka

http://teknologiforever.wordpress.com/2012/09/14/resume-aqidah-islamiyah-sayyid-sabiq/

http://pienotes.blogspot.com/2010/12/al-makrifat-mengenal-allah-swt.html

Sabiq, sayyid.

Aqidah Islamiyah : Pola Hidup Sederhana

. Dipponegoro: Robbani Press, 2008

Mz, Labib dan Maftuh Ahnan.

Kuliah Ma’rifat

. CV. Bintang Pelajar

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis non parametrik diperoleh nilai Z= -2.023 dengan P = 0.043, maka hipotesis berbunyi disimpulkan bahwa penggunaan modul audio interaktif mengenal

Seorang investor memiliki hak untuk menginformasikan seorang manajer PAMM terhadap sebuah klaim terkait eksekusi yang tidak sesuai dari operasi trading apapun yang dijalankan

Hasil pemotretan dengan mikroskop petrografi pada bahan baku (batubara) dan kokas hasil karbonisasi pada tunnel kiln serta kokas hasil rekarbonisasi berupa kokas pengecoran

Pembahasan hasil penelitian yang diuraikan adalah tentang gambaran distribusi kualitas dan kuantitas tidur sebelum senam hamil pada kelompok intervensi, gambaran distribusi

Untuk itu pokok bahasan dalam mata ajaran ini mencakup topik-topik sebagai berikut : pengertian auditing, jenis-jenis audit, Standar Profesi Akuntan Publik, kode

Tujuan Instruksional Umum : Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa mampu memahami perkembangan isu dan konsep online journalism diantaranya tantangan jurnalistik online

Dalam penelitian ini, teknik trianggulasi data/ sumber dilakukan dengan melakukan pengecekan terhadap hasil wawancara yang dilakukan kepada manajemen dan nasabah

UDUK : Ini l ah anak Laki -l aki Sang Pemberani , Ti ti san darah sang penakl uk l autan, Yang tak pernah Gentar Sa mpai sekarang.. Ji ka l ayar sudah terkembang,Lebi h baik mati