BAB II
Perkembangan Bahasa
A. Pengertian Perkembangan bahasa
Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seorang dalam pergaulannya atau hubungannya denga orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu,penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seseorang (bayi-anak) dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.
menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.
B. Perkembangan Bahasa
“pah” dan “bah”. Kemampuan ini muncul dalam diri bayi kira-kira usia 1 bulan (Eimas, 1975).
Jadi, sesungguhnya bayi sudah menunjukan kemampuan khusus berbahasa, termasuk menyeleksi perhatian, membedakan suara,meniru aspek-aspek pembicaraan, mengsinkronkan gerakan dengan nada suara lebih khusus lagi kemampuan memahami fonem. Bayi yang berusia 1 bulan, dapat denngan mudah membedakan antara bunyi yang sama dengan fonem y6ang berbeda, dan anak-anak dengan cepat dapat mempelajari fonem yang berbeda, dan relevan dengan bahasanya. Namun, dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi ana untuk mempelajari bagaimana fonem dapat digabung untuik membentuk kata (Atkinson, et all, 1991).
Disamping memiliki kemampuan berbahasa yang dapat berkembang dengan cepat, bayi sejak lahir juga aktif memproduksi bunyi sekalipun bukan bahasa. Seorang yang bangun tengah malam karena tangisan bayi usia 3 minggu, menunjukan bahwa bayi itu tidak diam atau pasif. Produksi pada tahun pertama kehidupan engikuti suatu urutan rapi. Kaplan & Kaplan (1971) mengidentifikasi empat tahap produksi bunyi pada bayi, yaitu: (1) tangisan, yang dimulai dari kelahiran; (2) suara-suara lain dan mendengkur, yang dimulai pada akhir bulan pertama; (3) ocehan, yang dimulai pada pertengahan tahun pertama; dan (4) suara yang vvtelah dipolakan pada usia menjelang 1 tahun.
Selama bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi juga banyak mengeluarkan suara-suara sederhana, seperti: merengek,menjerit, kmenguap, bersin, mengeluh, batuk, bunyi mengarau, menggeram, dan sebagainya. Kemudian, pada usia kira-kira 1 hingga 6 bulan bayi mulai memperhatikan suatu minat terhadap suara, bermain dengan air liur, dan merespon suara. Pada usia 6 bulan, bayi mulai mengoceh, mengelurkan suara seperti “gogoo” dan “gaga.” Ocehan ini berbeda-beda sesuai dengan situasi, seperti ocehan di dalam tempat tidur kecil, ocehan ketika melihat mobil, atau ketika duduk dipangkuan ibunya (Hetherington & Parke, 1971)
Pada pertengahan 2 tahun pertama perbendaharaan kata yang diterima bayi mulai berkembang dan meningkat secara dramatis pada tahun ke dua, dari 12 kata yang dipahami pada ulang tahun pertama hingga dierkirakan 300 kata atau lebih pada ulang tahun kedua. Pada usia kira-kira 9 hingga 12 bulan bayi mulai memahami pelajaran seperti “daah” ketika kita mengucapkan selamat tinggal. Pada saat anak-anak berusia 18 hingga 24 bulan, mereka biasanya mengucapkan pertanyaan yang terdiri dari dua kata. Selama tahap kedua kata ini, mereka dengan cepat memahami pentingnya mengekspresikan konsep dan pern yang akan dimainkan oleh bahasa dalam berkomunikasi dengan orang lain.
C. Perolehan Bahasa pada Anak
Setidaknya terdapat 3 teori utama yang menjelaskan tentang perolehan dan perkembangan bahasa pada anak-anak, yaitu Model Behaviorist, Model Lingusitik dan Model Kognitif. Penjelasan tiap-tiap model diuraikan sebagai berikut ini :
1. Model Behaviorist.
mengetahui arti kata-kata. Hal ini dapat terjadi karena setiap kali anak berbuat suatu kesalahan, akan segera dikoreksi oleh guru dan juga orang tuanya atau masyarakat verbal lainnya, melalui reinforcement yang selektif. Penguasaan gramatika juga terjadi dengan cara yang sama, tetapi bagaimana anak dapat tahu arti kata-kata? Menurut teori ini anak-anak mula-mula merupakan tabula rasa. Kata-kata yang didengarnya disimpan di dalam ingatan melalui asosiasi. Kemudian, dalam observasinya sehari-hari terhadap lingkungan, ia melihat adanya suatu hubungan antara entry (kombinasi antara objek dengan person) dengan suatu aksi tertentu. Lama-lama terjadi asosiasi yang kuat antara keduanya dan asosiasi tersebut disimpannya dalam ingatan (memory). Makin banyak asosiasi yang terjadi dan disimpan dalam ingatannya. 2. Model Lingustik
Tokoh utama model ini adalah Chomsky. Menurut Chomsky, anak-anak dilahirkan sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk berbahasa. Melalui kontak dengan lingkungan sosial, kemampuan bahasa tersebut akan tampak dalam perilaku berbahasa.
Dari sudut pandang ini, bahasa adalah suatu kemampuan yang khas yang dimiliki manusia. Selain itu, Chomsky dan kawan-kawan menganggap bahwa perolehan bahasa tidak dengan cara induksi seperti yang dijelaskan oleh mazhab empiris, melainkan karena manusia secara biologis memang sudah diprogramkan (pre-programmed) untuk memperoleh bahasa. Hampir semua anak memformulasikan data-data bahasa yang diperoleh melalui hipotetis testing dan lambat laun anak menguasai teori tentang gramatik.
seperti pada hewan. Selanjutnya, dikatakan apabila seorang anak memiliki faculty of language, maka semua anak di dunia ini akan mengembangkan tipe-tipe bahasa yang sama, yang berarti ada suatu ciri universal dalam segala macam bahasa. faculty of language ini telah mengandung pelbagai aturan tata bahasa, sehingga anak tidak mengalami kesukaran dalam belajar bahasa. Faktor linguistik bawaan ini oleh Chomsky disebut innate mechanisme. Bahwa anak-anak mempunyai innate mechanisme dibuktikan dari cara mereka menyusun kalimat-kalimat dengan aturan-aturannya sendiri, yang mustahil didapatkannya dari luar (orang tua, guru dan masyarakat) karena kalimat-kalimat yang didengarnya tidak demikian bentuknya. Lagi pula input bahasa yang didapatnya relatif masih sedikit untuk diinduksikan dari pada aturan gramatika. Dalam kenyataan sehari-hari tata bahasa itu hanya terlihat struktur luarnya (surface structure) saja, sedangkan struktur dalam atau (deep structure ) masih merupakan tanda tanya. Struktur dalam inilah yang dicoba oleh Chomsky untuk diuraikan.
3. Model Kognitif
Bahwa anak-anak dapat belajar bahasa memang berkat adanya hal-hal yang innate, akan tetapi hal-hal-hal-hal yang innate ini bukanlah a set of ideas seperti yang diungkapkan oleh aliran rasionalis (Chomskysm), melainkan berupa kapasitas kogntif dan kapasitas untuk belajar. Kedua kapasitas itu lebih general dan predetermining sifatnya, tidak sederhana seperti yang diungkapkan oleh aliran empiris (Skinnerism). Kemampuan umum (general) berarti bahwa anak-anak menemukan pola-pola linguistik seperti halnya mereka menemukan pola-pola persepsi dalam dunia penginderaan. Kedua proses ini merupakan bagian dari perkembangan kognitif umum. Jadi, dikatakan bahwa seorang individu itu berkembang, baik linguistik maupun perseptual adalah hasil dari prosedur dan kesimpulan kognitif yang bersifat innate. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa apa yang disebut Chomsky sebagai suatu universalitas bahasa tidak lain dari hasil proses-proses kognitif yang diasumsikan universal sifatnya. Dengan demikian, transformasi yang dibicarakan oleh Transformational Generative Grammar (TGG) dari Chomsky sebenarnya adalah suatu operasi kognitif yang bukan hanya direfleksikan dalam bahasa, akan tetapi juga dalam persepsi visual. Contohnya : bahwa orang dapat membedakan antara kata benda dengan kata kerja dalam suatu bahasa merupakan hasil dari strategi kognitif dalam membedakan antara objek dan hubungan antara objek. Perkembangan Kognitif dan Bahasa Anak SD.
D. Aspek-aspek Berbahasa Anak
Setidaknya terdapat empat aspek dalam berbahasa (Marat, 2001), keempat aspek tersebut dipaparkan sebagai berikut :
1. Kemampuan menggunakan bahasa untuk meyakinkan orang lain agar mau melakukan sesuatu. Aspek ini seperti yang dimiliki oleh para pemimpin, dan politikus.
menjadi prosedur menggerakan sesuatu, misalnya mesin. 3. Penjelasan, yaitu menjelaskan secara oral, membuat syair, mengumpulkan pepatah, atau peribahasa, dan penjelasan singkat kemudian meningkat sampai pada menggunakan kata-kata untuk menyusun sebuah tulisan.
4. Berbahasa untuk menjelaskan bahasa itu sendiri, kemampuan menggunakan bahasa untuk merefleksi bahasa itu sendiri, dan menggunakan analisa metalinguistik. Ini tampak pada anak saat ia bertanya, “maksudmu yang mana, yang merah atau yang abu-abu?”, ini dikatakan oleh anak dalam rangka mengarahkan anak lain untuk kembali merefleksi apa yang sudah dikatakan. Aspek bahasa lainnya adalah semantic (arti kata) dan pragmatis (memandang sesuai kegunaannya), yaitu dapat memanfaatkan dengan baik mekanisme pemrosesan informasi secara lebih luas, dikaitkan dengan organ bicara.
E. Faktor-faktor Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu perkembangannya dipengaruhi oleh beberpa faktor. Faktor-faktor itu adalah :
1. Umur anak
2. Kondisi Lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang member andil yang cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan di lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan, dan daerah-daerah terpencil dan di kelompok sosial yang lain.
3. Kecerdasan Anak
Untuk meniru lingkungan bunyi atau suara, gerakan, dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik seseorang berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual ata tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik, dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan pihak lain, amat dipengaruhi oleh kerja piker atau kecerdasan seseorang anak.
4. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Keluarga yang berstatus sosisal ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dan anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus rendah. Hal ini akan lebih tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain pendidikan keluarga berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa.
5. Kondisi Fisik
bisu, tuli, gagap, atau orang suara suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangannya dalam berbahasa.
6. Pengaruh Kemampuan Berbahasa terhadap Kemampuan Berpikir
Kemapuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain. Bahwa kemampuan berpikir saling terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya, kemampuan berbahasa berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis. Hal ini akan berakibat sulitnya berkomunikasi.
Bersosialisasi berarti melakukan konteks dengan yang lain. Seseorang menyampaikan ide dan gagasannya dengan berbahasa dan menangkap ide dan gagasan orang lain melalui bahasa. Menyampaikan dan mengambil makna ide dan gagasan itu merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan menangkap arti bahasa akan berakibat ketidak tepatan dan kekaburan persepsi yang diperolehnya. Akibat lebih lanjut adalah bahwa hasil proses berpikir menjadi tidak tepat benar. Ketidaktepatan hasil pemrosesan piker ini diakibatkan kekurang mampuan dalam bahasa.
F. Unsur-unsur Bahasa
Fonem adalah suatu bunyi terkecil yang dapat membedakan arti. Fonem-fonem dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu fonem-fonem segmental dan fonem-fonem supraegmental. Fonem segmental dapat dibagi dalam fonem vokal dan fonem konsonan, sedangkan fonem suprasegmental terdiri dari nada, tekanan dan panjang jeda. Contoh : fonem /p/ dan /g/ dalam kata payung dan gayung atau piring dan giring. Di sini terlihat bahwa /p/ dan /g/ dalam lingkungan yang sama dapat membentuk dua kata yang berbeda (payung dan gayung atau piring dan giring) dengan arti yang berbeda pula. Oleh karena itu, /p/ dan /g/ disebut fonem karena merupakan suatu satuan bunyi terkecil yang membentuk arti.
Jadi secara konkret, dalam fonologi dipelajari bagaimana bunyi itu disusun menjadi kata, bagaimana bunyi disusun menjadi kata, bagaimana aturannya bila ingin menggabungkan bunyi menjadi kata dan dimana memberi tekanan dan intonasi pada waktu membunyikan kata-kata, agar makna dapat lebih mudah ditangkap oleh lawan bicaranya. Seorang anak yang baru belajar bahasa, harus belajar membedakan bunyi-bunyi dan pola-pola intonasi yang menghasilkan makna berbeda-beda. Morfologi ialah ilmu yang membicarakan morfem serta bagaimana morfem itu dibentuk menjadi kata (Mar’at, 2001:61). Morfem adalah bentuk linguistik yang paling kecil, misalnya tidur, jalan, ber-, ke-, -an, panas dan sebagainya. Morfologi dapat juga diuraikan sebagai struktur gramatik dari suatu kata. Selanjutnya menurut Yus Badudu (Mar’at, 2001:61) dijelaskan bahwa morfem dalam bahasa Indonesia dibedakan atas 4 golongan sebagai berikut :
1. Morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata, yaitu morfem bebas seperti batu, telur, lima dan pergi.
3. Morfem yang tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu terikat dengan morfem yang lain dalam suatu frase, klausa, atau kalimat, disebut morfem terikat sintaksis, contohnya: (belia) pada muda belia, atau (siur) pada simpang siur. Kata sambung (konjungsi) termasuk juga morfem terikat sintaksis, seperti : terapi, karena, sehingga; juga kata depan (preposisi) seperti : di, ke, dari, dan untuk.
4. Morfem yang unik, selalu terikat baik secara morfologis maupun sintaksis, tetapi bukan termasuk imbuhan. Contohnya : Juang pada berjuang, semangat juang Temu pada pertemuan, penemuan, bertemu Tawa pada tertawa, tertawa-tawa. Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa (Mar’at, 2001:63). Untuk mempelajari kalimat diperlukan kata-kata. Ada beberapa kategori kata (menurut tata bahasa tradisional) sebagai berikut : 1. Kata benda atau nomina 2. Kata kerja atau verba 3. Kata sifat atau ajectiva 4. Kata ganti atau pronomina 5. Kata bilangan atau numeralia 6. Kata keterangan atau adverbia 7. Kata sambung atau conjungtio 8. Kata depan atau prepositio 9. Kata sandang atau articula 10. Kata seru atau interjection Penggolongan oleh ahli-ahli linguistik yang berdasarkan struktur morfologinya, di kelompokkan ke dalam 4 jenis kata, yaitu sebagai berikut : 1.Kata benda atau nomina substantiva 2. Kata kerja atau verba 3. Kata tugas atau function words 4. Kata sifat atau ajectiva.
Kedua ketegori ini adalah suatu kategori yang universal, artinya bahwa kata benda selalu menunjuk tentang sesuatu yang kita bicarakan dan kata kerja menunjuk tentang apa yang sedang terjadi dengan sesuatu tersebut.
Setelah mengetahui kategori kata-kata, maka kita dapat menyusun kata-kata menjadi suatu struktur kalimat menurut aturan-aturan tertentu. Semantik ialah studi mengenai arti suatu perkataan atau kalimat. Ada bermacam-macam teori tentang semantik, yang berbeda-beda dalam pendekatan permasalahannya. Dari teori yang banyak itu dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar, yaitu : 1. Teori Referensi, yaitu teori yang mempelajari kaitan antara kata dengan objeknya/bendanya yang dirujuk (that it’s refers). Contohnya : perkataan”sepatu” akan merujuk pada suatu sepatu apa saja yang ada di dunia. Menurut teori ini hubungan antara kata dengan objeknya disebut hubungan referensi, artinya kata merujuk pada kata benda.
2. Teori Pengertian (Sense), yaitu teori yang mempelajari hubungan antara kata dengan konsepnya. Contohnya : kata”sepatu” tadi menimbulkan suatu konsep tentang sepatu, yaitu suatu benda yang dipakai sebagai alas kaki. Jadi, orang tidak melihat bendanya dulu untuk mengetahui seperti apa sepatu itu. Perkembangan Kognitif dan Bahasa Anak SD Pragmatik adalah penggunaan bahasa untuk mengekspresikan intention dan agar seseorang mengerjakan sesuatu. Pragmatik meliputi aturan-aturan berbahasa yang baik bila sedang
berada di dalam suatu pertemuan atau dalam saat santai/bermain-main. Juga ketika sedang diundang makan malam bersama-sama orang lain.
G. Upaya pengembangan kemampuan bahasa dan implikasinya
Pertama, anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang telah diberikan dengan kata dan bahasa yang disusun oleh murid-murid sendiri. Dengan cara ini senantiasa guru dapat melakukan identifikasi tetang pola dan tingkat kememampuan bahasa murid-muridnya. kedua, berdasarkan hasil identifikasi itu guru melakukan pengembangan bahasa murid dengan menambahkan perbendaharaan bahas lingkungan yang telah dipilih secara tepat dan benar oleh guru. Cerita murid tentang isi pelajaran yang telah di perkaya itu diperluas untuk langkah-langkah selanjutnya, sehingga para murid mampu menyusun cerita lebih kompherensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.
Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak dan membentuk pola bahasa masing-masing. Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas dalam pada itu sarana perkembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain hendaknya disediakan di sekolah maupun di rumah.
H. Kemampuan Komunikasi anak usia SD
Kemampuan komunikasi anak usia SD hasil penelitian owens (1984:47) menunjukan bahwa kemampuan komunikasi anak usia SD adalah sebagai berikut.
NO USIA ANAK
1 6 tahun a. Memiliki kosa kata
20000-24000 kata c. Mampu membuat
kalimat meskipun masih dalam bentuk kalimat pendek
d. Pada taraf tertentu sudah mampu mengucapkan kalimat lengkap
2 8 tahun a. Mampu
bercakap-cakap dengan menggunakan kosa
kata yang
dimilikinya b. Mampu
mengemukakan ide dan pikirannya meskipun masih sering verbalisme.
3 10 tahun a. Mampu berbicara
dalam waktu yang relative lama b. Mampu memahami
pembicaraan
4 12 tahun a. Mampu menyerap
50.000 kata