• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERAKSI ANTAR ORGANISME TANAH DALAM PR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INTERAKSI ANTAR ORGANISME TANAH DALAM PR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS PENGGANTI UTS BIOLOGI TANAH

INTERAKSI ANTAR ORGANISME TANAH DALAM PROSES PEROMBAKAN BAHAN ORGANIK

DISUSUN OLEH:

MARTDENTRI RAHMA P. 11308141001

RUSMIASIH 11308141002

RIZKA QORI DWI M 11308141017

DIO NARDO WIJAYA 11308141018

FATIMAH UMI UTAMI 11308141024

DHITA DEWINTA 11308141036

KELOMPOK 9/ BIOSUB’11

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

INTERAKSI ANTAR ORGANISME TANAH DALAM PROSES PEROMBAKAN BAHAN ORGANIK

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Telah kita ketahui bersama bahwasanya perombakan bahan organik dalam ekosistem sangat penting. Dan dalam hal ini organisme tanah perombak bahan organik memegang peranan yang sangat penting karena sisa organik yang telah mati diurai menjadi unsur-unsur yang dikembalikan ke dalam tanah (N, P, K, Ca, Mg, dan lain-lain) dan atmosfer (CH4 atau CO2) sebagai hara yang dapat digunakan kembali oleh tanaman, sehingga siklus hara berjalan sebagai-mana mestinya dan proses kehidupan di muka bumi dapat berlangsung. Adanya aktivitas organisme perombak bahan organik saling mendukung keberlangsungan proses siklus hara dalam tanah.

Dewasa ini organisme perombak bahan organik atau biodekomposer banyak diartikan sebagai organisme pengurai nitrogen dan karbon dari bahan organik (sisa-sisa organik dari jaringan tumbuhan atau hewan yang telah mati) yaitu bakteri, fungi, dan aktinomisetes. Perombak bahan organik terdiri atas perombak primer dan perombak sekunder. Perombak primer adalah mesofauna perombak bahan organik, seperti Colembolla, Acarina yang berfungsi meremah-remah bahan organik/serasah menjadi berukuran lebih kecil. Cacing tanah memakan sisa-sisa remah tadi yang lalu dikeluarkan sebagai faeces setelah melalui pencernaan dalam tubuh cacing. Perombak sekunder ialah mikroorganisme perombak bahan organik seperti Trichoderma reesei, T. harzianum, T. koningii, Phanerochaeta crysosporium, Cellulomonas, Pseudomonas, Thermospora, Aspergillus niger, A. terreus, Penicillium, dan Streptomyces. Adanya aktivitas fauna tanah, memudahkan mikroorganisme untuk memanfaatkan bahan organik, sehingga proses mineralisasi berjalan lebih cepat dan penyediaan hara bagi tanaman lebih baik. Organisme-organisme tanah ini akan saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merombak bahan organik agar siklus hara dalam tanah tetap terjaga. ( Saraswati et al. 2013 )

(3)

2. Tujuan

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada penyusun maupun pembaca mengenai interaksi antar oranisme tanah dalam proses perombakan bahan organik.

3. Rumusan Masalah

Bagaimana interaksi antar organisme tanah dalam proses perombakan bahan organik ?

B. PEMBAHASAN

Tanah merupakan tempat tinggal berbagai bentuk organisme yang tidak terhitung banyaknya dari tanaman, binatang dan kehidupan mikroba. Kehidupan ditanah nerupakan berbagai hal yang menakjubkan, berkisar dari sel tunggal yang mikroskopik sampai hewan–hewan yang besar yang hidup didalam lubang. Seperti kasus organisme diatas tanah, terdapat batasan yang baik dari rantai makanan persaingan untuk bertahan hidup. Seluruh kehidupan dialam, bersama-sama dengan lingkunagan sekitar bersama-sama dengan lingkunagan secara keseluruhan menyusun escosphere. Escospehre terturut-turut disusun oleh berbagai macam komunitas organisme yang menopang dirinya sendiri dan lingkungan-lingkungan organik serta sumber-sumbernya disebut ekosistem. Setiap ekosistem mempunyai kombinasi yang unik antara organisme-organisme yang hidup dan sumber-sumber abiotik yang berfungsi untuk memelihara aliran yang terus-menerus dari energi dan nutrien (Henry D. Foth, 1995).

Kehidupan didalam tanah analog dengan kehidupan diatas tanah. Akar, umbi, dan organ-organ lain dibawah tanah adalah bagian-bagian produsen primer. Mereka adalah pemakan dan perombak yang dihubungkan satu dan lainnya dengan rantai makanan. Perbedaan utama antara ekologi diatas dan dibawah ruang antar atmosfir-tanah adalah bahwa diatas ruang tersebut hewan memainkan peranan dominan sebagai pemakan dan dibawah ruang tersebut mikroorganisme memainkan peranan dominan sebagai perombak. Organisme perombak terutama mereka yang bersel tunggal dan mikroskopik. Peranan mikroorganisme perombak yang dominan didalam tanah dilengkapi dengan aktivitas beberapa pemakan hewan kecil (Henry D. Foth, 1995).

(4)

menjadikan tanah memungkinkan bagi kelanjutan makhluk–makhluk alami. Populasi mikrobiologi yang mendiami tanah, bersama dengan berbagai bentuk binatang dan berbagai jenis tanaman tingkat lebih tinggi membentuk suatu system kehidupan yang tidak terpisahkan dari bahan mineral dan sisa-sisa bahan organic yang ada dalam tanah. Komposisi kuantitatif populasi dalam tanah dan kualitatif alam lingkungannya dapat dikatankan sangat tergantung pada sumber dan kondisi alami dari tanah itu dan komposisi relative dari unsur-unsur organic dan anorganik.

Decomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut. Beberapa jenis cacing tanah antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan.

Populasi mikroba tanah yang terdiri atas alga biru-hijau, fitoplankton, bakteri, cendawan, dan aktinomiset pada permukaan dan lapisan olah tanah mencapai puluhan juta setiap gram tanah, yang merupakan bagian integral dan pembentuk kesuburan tanah pertanian. Proses daur ulang secara alamiah di permukaan dan lapisan olah tanah yang sangat penting bagi kegiatan pertanian tidak terjadi tanpa aktivitas mikroba.

Mikroorganisme perombak bahan organik

Mikroorganisme perombak bahan organik merupakan aktivator biologis yang tumbuh. Di dalam ekosistem, mikroorganisme perombak bahan organik memegang peranan penting karena sisa organik yang telah mati diurai menjadi unsur-unsur yang dikembalikan ke dalam tanah dalam bentuk hara mineral N, P, K, Ca, Mg, dan atau dalam bentuk gas yang dilepas ke atmosfer berupa CH atau CO. Dengan demikian terjadi siklus hara yang berjalan secara alamiah, dan proses kehidupan di muka bumi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

(5)

Mikroba perombak bahan organik terdiri atas Trichoderma reesei, T. harzianum, T. koningii, Phanerochaeta crysosporium, Cellulomonas, Pseudomonas, Thermospora, Aspergillus niger, A. terreus, Penicillium, dan Streptomyces.

Beberapa jenis mikroorganisme yang umum ditemukan dalam tumpukan sampah tercantum dalam Tabel 1.

Tabel 1. Mikroorganisme yang umum berasosiasi dalam tumpukan sampah

Bakteri Fungi

(6)

penukar ion dasar yang menyimpan dan melepaskan hara di sekitar tanaman. Beberapa enzim yang terlibat dalam perombakan bahan organik antara -glukosidase, lignin peroksidase (LiP), manganese peroksidaseblain adalah (MnP), dan lakase, selain kelompok enzim reduktase yang merupakan penggabungan dari LiP dan MnP, yaitu enzim versatile peroksidase. Enzim-enzim ini dihasilkan oleh Pleurotus eryngii, P. ostreatus, dan Bjekandera adusta (Lankinen 2004).

Selain mengurai bahan berkayu, sebagian besar fungi menghasilkan zat yang besifat racun, sehingga dapat dipakai untuk menghambat pertumbuhan/perkembangan organisme pengganggu, seperti beberapa strain T. harzianum yang merupakan salah satu anggota Ascomycetes. Apabila kebutuhan karbon (C) tidak tercukupi, fungi tersebut akan menghasilkan racun yang dapat menggagalkan penetasan telur nematoda Meloidogyn javanica (penyebab bengkak akar), sedangkan bila kebutuhan C tercukupi akan bersifat parasit pada telur atau larva nematoda tersebut. Fungi Zygomycetes (Mucorales) sebagian besar berperan sebagai pengurai amylum, protein, lemak, dan hanya sebagian kecil yang mampu mengurai selulosa dan khitin.

Bakteri perombak bahan organik

Bakteri perombak bahan organik dapat ditemukan di tempat yang mengandung senyawa organik berasal dari sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik di laut maupun di darat. Berbagai bentuk bakteri dari bentuk yang sederhana (bulat, batang, koma, dan lengkung), tunggal sampai bentuk koloni seperti filamen/spiral mendekomposisi sisa tumbuhan maupun hewan. Sebagian bakteri hidup secara aerob dan sebagian lagi anaerob, sel berukuran 1 μm - ≤ 1.000 μm. Dalam merombak bahan organik, biasanya bakteri hidup bebas di luar organisme lain, tetapi ada sebagian kecil yang hidup dalam saluran pencernaan hewan (mamalia, rayap, dan lain-lain). Bakteri yang berkemampuan tinggi dalam memutus ikatan rantai C penyusun senyawa lignin (pada bahan yang berkayu), selulosa (pada bahan yang berserat) dan hemiselulosa yang merupakan komponen penyusun bahan organik sisa tanaman, secara alami merombak lebih lambat dibandingkan pada senyawa polisakarida yang lebih sederhana (amilum, disakarida, dan monosakarida). Demikian pula proses peruraian senyawa organik yang banyak mengandung protein (misal daging), secara alami berjalan relatif cepat.

Makrofauna perombak bahan organik

(7)

sebagian siklus hidupnya berada dalam tanah. Hewan tersebut meliputi kelas Gastropoda, Oligochaeta, dan Hexapoda (Insecta). Sebagian besar anggota subkelas Pterigota (bersayap) dari kelas Insecta, hanya stadium telur dan larva yang hidup dalam tanah, sedangkan pada stadium dewasa berada di luar lingkungan tanah. Sebaliknya anggota dari subkelas Apterigota (tidak bersayap) seluruh siklus hidupnya berada dalam tanah. Berdasarkan ukuran tubuh, fauna tanah dibedakan menjadi makrofauna (> 10,4 mm), mesofauna (0,2–10,4 mm), dan mikrofauna (< 0,2 mm) (Richards, 1974).

Aktivitas makro-mesofauna tanah tertentu menyediakan nutrisi berupa koloid organik tanah yang dibutuhkan makromesofauna tanah lainnya (misal: cacing). Selain hal tersebut aktivitas fauna tanah menyebabkan fraksinasi bahan organik yang berukuran kasar menjadi serpihan yang lebih halus sehingga luas permukaan jenis bahan organik tersebut menjadi lebih besar yang berarti memberi kemungkinan mikroba tanah kontak dengan bahan organik tersebut lebih besar. Selain mendekomposisi bahan organik, fauna tanah juga berperan dalam mendistribusikan bahan organik dalam tanah, meningkatkan kesuburan dan memperbaiki sifat fisik tanah. Invertebrata dekomposer yang penting meliputi cacing tanah dan Collembola.

Cacing tanah. Cacing tanah tergolong dalam famili Lumbricidae dari ordo Oligochaeta, terdapat di berbagai ekosistem, ukuran tubuh 0,6–60 cm. Berdasarkan cara dan tempat hidupnya cacing tanah dibedakan atas:

1. Epigaesis: cacing tanah yang hidup dan hanya makan serasah organik di permukaan tanah, disebut pula sebagai litter feeder (pemakan serasah).

2. Anazeisis: cacing tanah yang hidup di dalam tanah (horizon A-C) tapi makan dipermukaan tanah.

(8)

Collembola. Collembola merupakan salah satu ordo dari kelas Hexapoda (hewan berkaki enam) filum Arthropoda, berukuran 0,2–10 mm, bentuk tubuh bulat memanjang, tidak bersayap, dan mempunyai furca (semacam ekor) sebagai alat untuk meloncat (jarak loncatan 50–100 kali panjang tubuh. Keberadaannya tersebar di seluruh daratan termasuk di daerah Antartika. Sebagian besar hidup di lapisan atas tanah, semakin ke lapisan bawah populasinya semakin menurun hingga sampai di kedalaman 2 m. Collembola berperan dalam penghalusan sisa organik, mengontrol populasi bakteri dan fungi serta berperan dalam rantai makanan pada ekosistem lahan.

Menurut Henry D. Foth (1995), beberapa organisme yang dapat merombak bahan organik tanah diantaranya yaitu;

1. Mikroorganisme

Kehidupan paling awal didunia terdiri dari mikroorganisme, baik autotropik maupun heterotropik. Siklus engergi dan nitrien tetap sebelum tanaman tingkat tinggi dan dan binatang terjadi. Tidaklah merupakan hal yang aneh bila mikroorganisme memainkan peranan besar sebagai perombah terakhir. Enzim-enzim yang dilekiarkan berupa pencerna bahan-bahan organik diluar sel dan menyerap larutan hasil pencernaan. Enzim-enzim ini dan prosesnya tidak berbeda denga yang terjadi pada sistem pencernaan binatang. Pada umumnya banyak terjadi pada tingkat rambut akar tanaman tingkat tinggi dan mikroorganisme. Keduanya menterap nutrien terlarut dari larutan tanah yang sama dan menggunakan energi untk mengumpulkan nutrien agi pada tingkat konsentrasi tertentu. Keduanya dipengaruhi oleh perbedaan potensi air dan konduktifitas air, dihambat oleh garam-garam dan bersaing dlam kebutuhan oksigen tanah. Tanaman dan mikroorganisme bersaing dalam faktor pertmbuhan dan tanah tetapi mereka juga tergantung satu dengan yang lainnya dalam siklus energi dan nutrien secara terus menerus.

Gambaran utama tertentu mikroorganisme adalah sususnan biologinya yang relatif sedehana. Banyak organisme bersel tunggal dan organisme bersel banayak sama kurang dapat dibedakan dalam tipe sel dan sifat jaringan dari tumbuhan dan binatang. Mereka merupakan kelompok protista.

2. Protista rendah

(9)

bakteri sangat sedikit jumlahnya walaupun sangat penting untuk pertumbuhan tanaman tingkat tinggi adalah kemoautotrophs. Karbon tersebut merupakan turunan dari karbondioksida dan energinya dari oksidasi unsur dan campurannya. Sebagai contoh bakeri yang mengoksidasi dengan mengurangi komponen nitrogen menjadi nitrat dan mengoksidasi sulfur menjadi sulfat.

3. Jamur sebagai perombah lignin yang efektif

Jamur penting dalam semua jenis tanah. Mereka toleran pada keasaman yang membuatnya memiliki peran penting pada tanah-tanah hutan masam. Sisa-sisa pohon dihutan memberi makanan yang berlimpah pada jamur tertentu yang merupakan perombak lignin yang efektif. Di gunung Sierra Nevada, terdapat jamur besar yang disebut ” train wrecker” sebat tumbuh jaringan semacam rel kereta api yang sangat banyak dibawah creosoted-nya.

4. Actinomycetes-suatu jamur yang menyerupai bakteri

Actinomycetes secara morfologi berada diantara jamur dan bakteri. Sering dikatakan sebagai ray fungi ataupun thread bacteria. Actinomycetes menyerupai bakteri dalam hal kesamaan struktur selnya dan ukuran irisan melintangnya. Mereka menyerupai jamur berserabut yang menghasilkan jaringan serabut becabang. Organisme ini sebgian bereproduksi dengan spora dan sporanya sangat menyerupai bakteri.

5. Algae-chlorophylous protista

Algae menunjukkan perubahan besar dalam bentuk dan ukuran, berkisar dari organisme bersel tunggal dengan diameter 5-10 kali lebih besar dari bakteri sampai lumut laut sepanjang lebih dari 30 meter. Meskipun algae merupakan tanaman pernting hidup diair, algae tidak begitu penting dalam tanah. Pada umumnya sebagian besar algae tanah bersel tunggal atau berserabut kecil. Algae umunya tersebar dipermukaan tanah dimana cahaya dan kelembaban memungkinkannya untuk tumbuh. Beberapa algae ditemukan dibawah permukaan tanah tanpa cahaya dan berfungsi heteroptpphicallya.

6. Protozoa “aquatic protists”

(10)

memungkinkan. Protozoa tanah merupakan peredator yang memakan bakteri tanah meskipun beberapa protozoa juga memakan jamur, algae atau bahan organik mati. Walaupun protozoa banyak terdapat ditanah, ternyata hanya sedikit yang berpebgaruh terhadap perombakab bahan oganik dan aktifitas bakteri.

7. Pemakan hijauan dan kelabang pemakan daging (myriapoda)

Lipan dan kelabang berbentuk memanjang, sebagai hewan tanah yang bebas dengan beberapa pasang kaki. Mereka umunya hidup dalam hutan, dan menghancurkan hampir setiap batu atau kayu dan akan menimbunnya berangsur-angsur untuk tempat berlindung. Lipan mempunyai beberapa pasang kakai dan sebagai pemakan hijauan atau sebagai perombak; makana mereka terutama bahan organik yang mati (saproghagous). Beberapa bersembunyi pada miselia jamur. Ciri kelabang mempunyai beberapa pasang kaki yang lebih sedikit dibanding dengan lipan dan terutama sebagai pemakan daging. Kalabang akan menyerang dan memakan hampir setiap binatang yang berukuran sebesar kepala mereka. Karena mereka lebih besar dan bebas dibanding kutu dan springtail, dan jumlahnya sidikit dalam tanah. 8. Tempayak (“white grubs”) –pemakan akar

Dalam beberapa hal larva serangga memainkan peranan lebih penting dalam tanah daripada yang dewasa, seperti halnya tempayak. Tempayak adalah larva dari suatu famili kumbang coklat (brown mei beetle) atau kutu busuk (june bug). Tempayak bulat, putih, panjang sekitar 2-3cm, dan dapat mengeruk sampai membentuk huruf C apabila diganggu. Kepala berwarna hitam, dengan tiga pasang kaki tepat dibelakang kepala. Mereka terutama makan rumput, menyebabkan botak-botak dalam petak rumput. Bermacam-macam varietas dari tanaman lain juga diserang, yang menjadikan tempayak merupakan hama pertanian yang penting. Tikus hidup dari larva serangga dan cacing tanah, mengakibatkan kemungkinan kerusakan yang lebih besar pada tanggul pada petak-petak rumput ketika ada tempayak.

Interaksi Antara Mikrobia

(11)

interaksi yang saling mempengaruhi diantara mereka, dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif.

Bentuk interaksi netral selalu terjadi secara teratur, dan bersifat sangat alami. Kehadiran satu populasi dalam interaksi netral tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap kehidupan dan perkembangan populasi yang lain.

Interaksi yang saling memberikan pengaruh positif pada masing-masing populasi dikenal sebagai bentuk simbiosis apakah dalam bentuk mutualistik ataupun protokooperatif. Bentuk interaksi kebalikannya, dikenal dengan pola kehidupan antagonistik yaitu yang satu merugikan yang lain, apakah dalam bentuk parasitisme atau komensalisme.

Pengaruh asosiatif dan atau antagonistik di antara berbagai mikrobia dalam kehidupan dan perkembangannya di dalam tanah berlangsung sebagai akibat dari :

1. Perubahan ketersediaan nutrisi 2. Perubahan faktor lingkungan

3. Ketergantungan hidup mikrobia tertentu atas yang lain

Kehidupan bersama antara bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter merupakan contoh ketergantungan hidup mikrobia tertentu atas yang lain. Bakteri Nitrosomonas mengoksidasi ammonia ke bentuk nitrit. Senyawa yang terakhir ini merupakan satu-satunya senyawa N yang diperlukan bagi kegiatan bakteri Nitrobacter untuk membentuk nitrat. Bakteri ini tidak mampu menggunakan sumber energi yang lain.

Persaingan dalam memperoleh nutrisi, sebagaimana yang terjadi antara bakteri dan fungi merupakan contoh umum dari pengaruh antagonistik dalam pola kompetisi. Hal demikian terjadi pula dalam golongan mikrobia yang sama, misal antara inokulum yang diintroduksi ke dalam tanah (Azospirillum) dengan strain-strain Azospirillum yang terdapat di dalam tanah.

(12)

mikrobia yang tinggal di tanah (bulk soil), hanya saja populasi di rhizosfer jauh lebih tinggi.

Akar tanaman sangat mempengaruhi kehidupan bakteri dari pada pengaruhnya terhadap fungi, khususnya bakteri gram negatif. Bakteri-bakteri gram positif menunjukkan penurunan jumlah di rhizosfer. Pengaruh perakaran terhadap fungi bersifat selektif, artinya akar tanaman hanya menstimulasi kehidupan fungi-fungi tersebut.

Di rhizosfer, tingkat kerapatan bakteri ini dapat berubah-ubah sejalan dengan perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya. Perubahan itu dapat terjadi karena pemberian bahan pembenah tanah (misalkan bahan organik), aplikasi pupuk daun, pemberian pestisida dan inokulasi bakteri pada benih ataupun langsung dalam tanah

Mikrobia yang berkembang di rhizosfer memiliki sifat hidup yang beragam yakni bersifat non simbiotik dan simbiotik. Pola hidup bagi mikrobia yang non simbiotik dapat bersifat bebas (yang dikenal dengan free living microorganiam), dan atau berasosiasi dengan tanaman. Contoh, beberapa bakteri yang tergolong hidup bebas antara lain Azotobacter, Beijirinckia, Mycobacterium, Arthrobacter, Bacillus (empat bakteri tersebut bersifat aerobik); Pseudomonas, Klebsiella (dua bakteri tersebut termasuk anaerob fakultatif); dan Clostridium, Rhodospirillum. Untuk kelompok mikroba ini, akan memanfaatkan berbagai macam senyawa organik (mulai dari senyawa organik sederhana hingga yang komplek) sebagai sumber karbon dan energi. Senyawa organik dimaksud antara lain mono, di dan poli sakarida; asam-asam organik dari asam lemak, asam organik aromatik, ethyl alkohol, gliserol, mannitol serta asam-asam organik yang mudah menguap (Rao, 1982 dalam Ma’shum 2003).

Berbeda halnya dengan mikrobia yang hidup berasosiasi dengan tanaman. Asosiasi mikrobia pada tanaman berlangsung di endorhizosfer dan atau di ektorhizosfer (Lynch, 1983). Perkembangan dan aktifitas hidupnya sangat bergantung pada kesesuaian jenis tanaman. Hal ini dikarenakan ada spesifikasi senyawa organik yang diperlukan oleh mikrobia sebagai sumber C, N dan energi. Sementara senyawa dimaksud hanya terdapat dalam eksudat akar tanaman tertentu. Suatu contoh, Azospirillum brasilensis akan terpacu perkembangan dan aktivitasnya apabila berasosiasi dengan tanaman C4, karena dalam eksudat tanaman C4 terkandung asam malat yang berguna sebagai sumber energi utama (Rao, 1992 dalam Ma’shum, 2003).

(13)

Ciri dan kandungan bahan organik tanah merupakan ciri penting suatu tanah, karena bahan organik tanah mempengaruhi sifat-sifat tanah melalui berbagai cara. Hasil perombakan bahan organik mampu mempercepat proses pelapukan bahan-bahan mineral tanah; distribusi bahan organik di dalam tanah berpengaruh terhadap pemilahan (differentiation) horison. Proses perombakan bahan organik merupakan mekanisme awal yang selanjutnya menentukan fungsi dan peran bahan organik tersebut di dalamtanah.

Stevenson (1982) menyajikan proses dekomposisi bahan organik dengan urutan sebagai berikut :

1. Fase perombakan bahan organik segar. Proses ini akan merubah ukuran bahan menjadi lebih kecil.

2. Fase perombakan lanjutan, yang melibatkan kegiatan enzim mikroorganisme tanah. Fase ini dibagi lagi menjadi beberapa tahapan :

a) Tahapan awal : dicirikan oleh kehilangan secara cepat bahan-bahan yang mudah terdekomposisi sebagai akibat pemanfaatan bahan organik sebagai sumber karbon dan energi oleh mikroorganisme tanah, terutama bakteri. Dihasilkan sejumlah senyawa sampingan seperti : NH3, H2S, CO2, dan lain-lain.

b) Tahapan tengah : terbentuk senyawa organik tengahan/antara (intermediate products) dan biomasa baru sel organism.

c) Tahapan akhir : dicirikan oleh terjadinya dekomposisi secara berangsur bagian jaringan tanaman/hewan yang lebih resisten (misal lignin). Peran fungi dan Actinomycetes pada tahapan ini sangat dominan.

(14)

1. Gula, pati, protein-protein yang larut air 2. Protein kasar

3. Hemicelulose 4. Selulosa

5. Minyak, lemak, lignin, lilin

Proses perombakan bahan organik dapat berlangsung pada kondisi aerob dan anaerob. Pengomposan aerob merupakan proses pengomposan bahan organik dengan menggunakan oksigen. Hasil akhir dari pengomposan aerob merupakan produk metabolisme biologi berupa CO2, H2O, panas, unsur hara, dan sebagian humus.

Pengomposan anaerob merupakan pengomposan tanpa menggunakan oksigen. Hasil akhir dari pengomposan anaerob terutama berupa CH4 dan CO2 dan sejumlah hasil antara;

timbul bau busuk karena adanya H2S dan sulfur organik seperti merkaptan.

Hasil-hasil sederhana yang dihasilkan dari aktivitas mikroba tanah adalah sebagai berikut : a. Karbon : CO2, CO32-, HCO3- CH4, karbon elementer

b. Nitrogen : NH4+, NO2-, NO3- , gas N2

c. Sulfur : S, H2S, SO32-, SO42-, CS2

d. Fosfor : H2PO4-, HPO4

(15)

C. DAFTAR PUSTAKA

Alexander, M. 1977. Introduction to Soil Microbiology. New York: John Wiley and Sons. Blakemore, R. 2000. Vermicology I. Ecological considerations of the earth worms used in

vermiculture-a review of the species.

http://bioeco.eis.ynu.ac.jp/eng/database/earthworm/A%20series%20of %20searchable%20texts/vermillennium%202000/vermicology

%20I.pdf#search=’vermicology’

Eriksson, K.E.L., R.A. Blanchette, and P. Ander. 1989. Microbial and Enzymatic Degradation of Wood and Wood Components. Springer-Verlag Heildeberg. New York.

Lankinen, P. 2004. Ligninolytic enzymes of the basidiomycetous fungi Agaricus bisporus and Phlebia radiata on lignocellulose-containing media. Academic Dissertation in Microbiology.

Foth, Henry D. 1984. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Ed. Ketujuh. Terjemahan Endang Dwi Purbayanti, Dwi Retno Lukiwati, Rahayuning Trimulatsih ; editor, Sri Andani B. Hudoyo. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Gambar

Tabel 1. Mikroorganisme yang umum berasosiasi dalam tumpukan sampah

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalis pengaruh geometri muka dan kontrol aktif hisapan terhadap koefisien hambatan pada reversed Ahmed model

Lalu pada kotak dialog Insert Picture , pilih gambar yang diinginkan.. Lalu tekan

Nilai tambah yang praktikan peroleh setelah melaksanakan PPL 2 adalah praktikan mendapatkan pengalaman dalam dunia pendidikan baik yang berkaitan dengan kegiatan

Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988

menunjukkan dalam persepsi auditor BPKP Sulawesi Selatan, Fraud Control Plan- nya BPKP sebagai bagian dari SPIP yang ditujukan untuk mencegah terjadinya fraud

9 Saya sudah memiliki rencana yang jelas untuk bisnis saya selama 5 tahun mendatang.. 10 Saya membuat rencana kerja

Asumsi selanjutnya yang digunakan dalam model ohlson adalah adanya hubungan surplus bersih (Clean surplus relation) dimana hubungan ini menyatakan bahwa

Pemetaan proyeksi siklik dari sembarang koleksi terurut yang berhingga dari himpunan approximately compact yang tak kosong dalam ruang Hilbert H adalah pemetaan yang