• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN BIOFLOK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME ( Litopenaeus vannamei) INTENSIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMANFAATAN BIOFLOK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME ( Litopenaeus vannamei) INTENSIF"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN BIOFLOK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME

(Litopenaeus vannamei) INTENSIF

Br at a Pant jar a, Agus Naw ang, Usm an, dan Rachm ansyah

Balai Penelit ian dan Pengem bangan Budidaya Air Payau Jl. Makm ur Dg. Sit akka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selat an

E- m ail: [email protected]

(Naskah diterima: 30 Maret 2011; Disetujui publikasi: 8 Maret 2012)

ABST RAK

Masalah utam a pada budidaya udang intensif adalah m enurunnya kualitas air di tam bak yan g l ayak sel am a p em el i h ar aan d an m u n cu l n ya p en yak i t . Up aya m en g u r an g i perm asalahan t ersebut adalah pem anf aat an biof lok di t am bak . Biof lok m erupak an cam puran dari berbagai m ikroba (fitoplankton, zooplankton, protozoa), detritus, dan part ikel organik. Teknologi bioflok dapat m eningkat kan kualit as air, m em inim alkan pergant ian air, ef isiensi pakan, dan m engham bat berkem bangnya penyakit selam a b ud id aya. Penelit ian ini b er t uj uan unt uk m enget ahui p engar uh b iof lok t er had ap produksi udang vanam e intensif. Penelitian dilakukan pada tam bak beton ukuran 2.000 m2 m ilik m asyarakat di Desa Hanura Kecam atan Pasawaran, Lam pung. Padat penebaran udang vanam e adalah 100 ekor/ m2. Perlakuan yang dicoba adalah (A) budidaya udang vanam e int ensif sist em bioflok dan (B) budidaya udang vanam e int ensif t anpa bioflok. Hasil penelit ian m enunj uk k an bahwa produk si t ert inggi diperoleh pada perlak uan bioflok yait u 10.375 kg/ ha dengan bobot udang rat a- rat a 13,8 g/ ekor, sint asan 75%, dan RKP 1,3. Sedangkan t anpa biof lok m em peroleh produksi 9.176 kg/ ha dengan bobot udang rat a- rat a 12,0 g/ ekor, sint asan 76%, dan RKP 1,6.

KATA KUNCI: b iof lok , b ud id aya int ensif , vanam e, t am b ak

ABST RACT : Biof loc utiliz ation on intensive vannam ei culture in ponds. By: Br at a Pan t j ar a, Ag u s N aw an g , Usm an , an d Rach m an syah

Main problems to intensive shrimp culture in brackishwater ponds are declining of water quality for shrimp culture and diseases progression. The efforts to reduce that problems are to utilize biofloc systems in the shrimp culture. Bioflocs are a mixture of various microbes, phytoplankton, zooplankton, protozoa, detritus, organic particles. Biofloc technology is intended to increase water quality, minimize changes in water, feed efficiency and inhibited the progression of disease in aquaculture. The objectives of the research to know the effects of bioflocs for intensive vannamei production. The research was conducted to concrete pond with 2,000 m2 size in Hanura Village Pasewaran District, Lampung. The densities of vannamei are 100 ind. per m2. The treatment of this research were intensive vannamei with biofloc (A) and without biofloc. The result of research showed that the high of production to obtained of biofloc were 10,375 kg/ha with average weight of 13.8 g/ind., survival rate of 75%, Feed conversion ratio (FCR) 1.3. Meanwhile, vannamei production without biofloc to increase 9,176 kg/ha, average weight 12.0 g/ind., survival rate of 76%, and FCR 1.6.

(2)

PENDAHULUAN

Pad a b u d i d aya u d an g secar a i n t en si f , penggunaan pakan komersial untuk memenuhi kebutuhan nutrien dalam pertumbuhan udang m erupak an salah sat u perm asalahan yang sam p ai saat i n i ser i n g d i k el u h k an p em -b u d i d aya. Sel ai n p en g g u n aan n ya cu k u p t inggi juga harga pakan yang cukup m ahal sehingga m eningkat kan biaya operasional. Pemberian pakan yang berlebihan berdampak p ad a m enur unnya k ualit as air d i t am b ak . Menurut Wilson (2000), kandungan prot ein yang t inggi pada pak an diper luk an unt uk sumber energi utama dan pertumbuhan udang. Sem ent ara it u, pem berian pakan pada udang tidak seluruhnya dimanfaatkan udang, karena hanya sekitar 30%- 50% yang digunakan dalam m et abolism e t ubuh, sisanya m enum puk di dasar t am bak m enjadi lim bah yang bersam a buangan m et abolit udang m enjadi m asalah karena protein dari pakan yang terlarut secara tidak langsung dapat menurunkan kualitas air t er u t am a t i n g g i n ya k o n sen t r asi am o n i a. Burford et al. (2003) dan Schneider et al. (2005) m elaporkan bahwa am onia m eningkat karena terjadi transformasi nitrogen dari limbah pakan dan m et abolit pada proses am onif ikasi oleh m ikroba pengurai bahan organik. Di t am bak, kandungan am onia yang m elebihi am bang batas (> 0,1 mgL- 1) dalam waktu tertentu dapat mematikan udang budidaya.

Salah satu upaya m engurangi konsentrasi am on i a d i t am b ak ad al ah m en u m b u h k an b ak t er i het er ot r op d engan m enam b ahk an C- or g ani k t er sed i a (Bur f or d et al., 2 0 0 4 ; Schneider et al., 2005). Penambahan C- organik dengan m olase pada t am bak udang int ensif dapat m enj aga k eseim bangan k arbon dan nit r ogen d an p r oses p er om b ak an am onia oleh bak t er i lebih cepat . Menur ut Bur f or d et al. (2 0 0 3 ), b ak t er i h et er o t r o f d ap at m em an f aat k an am on i a (NH3- N) t er u t am a merombak protein dan deaminasi asam amino. Kep ad at an b ak t er i het er ot r of yang cuk up t inggi b er sam a or ganism e lainnya sep er t i plankt on, f ungi, prot ozoa, ciliat a, nem at oda, part ikel, koloid, polim er organik, dan kat ion akan membentuk flok yang saling berintegrasi dalam air unt uk t et ap bert ahan dari segala perubahan kualitas air (Jorand et al., 1995; De Schryver et al., 2008).

Tek nologi biof lok yang dik em bangk an dapat meningkatkan produksi udang, mening-k at mening-k an ef i si en si p r ot ei n d an p amening-k an ser t a

m en ek an b u an g an l i m b ah k e l i n g k u n g an perairan sert a m eningkat kan ef isiensi peng-gunaan air dan lahan budidaya (Avnim elech, 2 0 0 9 ; Bo yd , 2 0 0 5 ). Beb er ap a i n f o r m asi (Montoya & Velasco, 2000; Brune et al., 2003), m enunj uk k an bahwa udang vanam e dapat m em anfaat kan bioflok sebagai m akanannya. Menurut Ekasari (2008) dan Verst raet e et al. (2008), f lok m ikroba yang t erbent uk banyak m engand ung b eb er ap a nut r isi ant ar a lain protein (19%- 32%), lemak (17%- 39%), karbohidrat (27%- 59%), dan abu (2%- 7%) yang cukup baik digunakan untuk pertumbuhan udang vaname. Sel an j u t n ya McIn t osh (2 0 0 0 ) m el ap or k an bahwa terjadi peningkatan retensi protein dari 31% m enjadi 38% pada pem eliharaan udang vanam e m elalui t eknologi biof lok. Subt it usi pakan pelet dengan 30% bioflok m em berikan pertumbuhan dan sintasan udang vaname yang relatif sama dengan udang vaname yang diberi 100% pakan pelet dalam kondisi t erkont rol (Ekasari, 2008). Tujuan penelit ian ini adalah untuk m engetahui pengaruh bioflok terhadap produksi udang vaname yang dipelihara secara int ensif.

BAHAN DAN METODE

Pen el i t i an d i l ak u k an sel am a 9 5 h ar i di t am bak int ensif m ilik m asyar ak at yang terletak di Desa Hanura Kecamatan Pasawaran, Lam pung. Tam bak yang digunakan berupa tambak beton berukuran luas 2.000 m2. Tambak tersebut dilengkapi 4- 6 buah kincir air ukuran 1 PK. Per siap an t am b ak d ilak uk an sesuai dengan prosedur baku untuk budidaya udang van am e i n t en si f . Per l ak u an yan g d i co b a dalam penelit ian ini adalah budidaya udang vanam e int ensif sist em biof lok dan t anpa biof lok. Teknologi biof lok diharapkan dapat m engurangi dosis pakan sebesar 10% hingga 2 0 % set i ap h ar i d ar i d o si s st an d ar yan g diberikan yaitu 1%- 3% dari bobot badan per hari set elah t erbent uknya biof lok. Benih vanam e yang digunakan berukuran Post larva (PL) 21 d en g an b ob ot 0 ,0 1 ± 0 ,0 0 2 g / ek or . Pad at penebaran udang vaname adalah 100 ekor per m2 (1.000.000 ek or/ ha). Pem berian pak an dilakukan sejak awal penebaran dengan dosis 50% dan m enurun hingga 2,5% dari bobot badan per hari. Set elah 60 hari pem eliharaan sam p ai m en j el an g p an en d o si s p ak an dipertahankan 2% dari bobot badan per hari.

(3)

pakan pada pagi dan sore set iap hari. Pem -b er i an m o l ase d i l ak u k an set el ah u d an g berumur 60 hari di tambak dan diprediksi sudah ada lim bah organik di tam bak. Jum lah m olase yang diberikan berdasarkan nilai kandungan p r o t ei n p ad a p ak an yan g d i b er i k an d an est im asi lim bah pakan yang t erbuang ke m e-dia budidaya (± 75% dengan asum si ret ensi prot ein ± 25%) dan hasil analisis t ot al am onia nit rogen (TAN) air t am bak. Berdasarkan label pada kem asan, pakan pelet kom ersial yang digunakan dalam penelit ian ini m engandung p r ot ei n ± 3 5 %. Hasi l an al i si s t er h ad ap C (karbohidrat ), m olase yang digunakan dalam penelitian ini mengandung 39,7% karbohidrat. Selam a kegiat an penelit ian, penam bahan air dilak uk an sat u k ali set elah sat u bulan pem eliharaan, k arena sering t erj adi huj an seh i n g g a m en u r u n k an sal i n i t as ai r yan g m en cap ai 5 - 1 0 p p t . Kep ad at an f l o k d an kestabilan di dalam tambak diamati setiap hari agar t idak t erjadi kelebihan f lok (blooming). Kel eb i h an f l o k d i d al am t am b ak san g at m em bahayakan udang vanam e, karena dapat m enur unk an ok si g en yang r el at i f si ng k at terutama bila kincir tidak berfungsi atau terjadi kerusakan. Kelebihan flok di tambak terutama pada daerah yang t enang dan t idak t erkena ar us k incir (d aer ah m at i) d ap at d ik ur angi

dengan m em buang lim bah sisa pakan dan m et ab o l i t d asar t am b ak m el al u i sal u r an pem buangan t engah (central drain).

Pengam atan kualitas air m eliputi: oksigen terlarut, suhu air, pH air, salinitas, alkalinitas, k ecerahan. Selain it u, j uga dianalisis t ot al amonia nitrogen (TAN) dan nitrit (APHA, 2005), volum e f lok (VSS) m engacu pada Avnim elech (2009), total bakteri heterotrof diam ati setiap int erval 10 hari set elah pem eliharaan 40 hari d i t am b ak at au b ak t er i f l o k su d ah m u l ai berkembang. Pengamatan pertumbuhan udang d ilak uk an set iap 2 m inggu d an sek aligus penent uan dosis pakan dan m olase. Sedang-k an sint asan dan produSedang-k si udang vanam e diket ahui set elah panen t ot al. Dat a penelit ian yang diperoleh dianalisis secara desk ript if d an u n t u k m en g et ah u i u n t u n g r u g i d ar i budidaya vanam e sist em biof lok dilakukan analisis usaha.

HASIL DAN BAHASAN

Volume Bioflok

Bioflok yang tumbuh di tambak terintegrasi dari berbagai mikroorganisme dalam air seperti: bakt eri, plankt on, dan part ikel organik dari lim bah organik yang terdekom posisi m aupun y an g b el u m t er d ek o m p o si si sem p u r n a

Gambar 1. Budidaya udang vaname intensif dengan teknologi bioflok (insert: volum e flok yang terukur pada imhoff con) Figure 1. Intensive vannamei shrimp culture with biofloc

(4)

(Avnimelech, 2009). Pada Tabel 1, diperlihatkan hasil pengukuran biof lok pada t am bak yang ditambah molase mencapai kisaran 3- 11 mgL- 1 (rata- rata 6,73± 3,101 mgL- 1) dan lebih banyak volum enya dibandingkan pada t am bak yang t idak dit am bah m olase yait u berkisar ant ara 1,8- 2,3 mgL- 1 (rata- rata 2,03± 0,135 mgL- 1).

Hal ini m enunjukkan bahwa penam bahan m o l ase p ad a t am b ak u d an g i n t en si f d an dit unjang dengan oksigen yang cukup dapat m em acu perk em bangan bak t eri het erot rof sehingga m em percepat dekom posisi lim bah organik dan kualitas air menjadi lebih stabil.

Menurut Shen & Bart ha (1996), bakt eri yang berkem bang set elah m endapat energi baru dari sumber C mampu merombak limbah organik dari sisa pakan. Dilaporkan Pant jara (2008), bahwa bakteri mendekomposisi limbah organik m enghasilkan lendir m et abolit dan biopolim er (polisakarida, pept ida, dan lipida) at au senyawa kom binasi lainnya yang banyak m engandung prot ein. Lebih lanjut Mont oya & Velasco (2000) m elaporkan, bahwa adanya gaya t arik ant ar sel dari sel bakt eri dan zat o r g an i k d i sek el i l i n g n ya seh i n g g a d ap at m em bent uk gum palan- gum palan at au bio-f lokulan. Di ant ara bakt eri t ersebut adalah Zooglea ramigera, Escherichia intermedia, Paracolobacterium aerogenoids, Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Flavobacterium, Pseudomonas alcaligenes, Sphaerotillus natans, Escherichia intermedia.

Pad a t am b ak yan g d i t am b ah m o l ase su su n an b i o f l o k n ya d i d o m i n asi b ak t er i , sebaliknya pada t am bak yang t idak dit am bah m olase secara m ikroskopik susunan f loknya d i d o m i n asi o l eh p l an k t o n . Secar a vi su al pengamatan di lapangan, air tambak yang tidak dit am bah m olase berwarna agak kehijauan dibandingkan ditambah molase.

Sepert i t erlihat pada Tabel 1, walaupun penambahan molase pada penelitian ini meng-hasilkan volum e biof lok yang lebih banyak d ib and ingk an t anp a p enam b ahan m olase, namun kepadatannya masih tergolong rendah. Menurut Avnim elech (2009), kepadat an f lok d ap at d ib ed ak an b er d asar k an volum e p er liter. Bioflok digolongkan rendah bila volume-nya mencapai kisaran 1- 10 mgL- 1, digolongkan sedang bila kisarannya mencapai 10 - 20 mgL- 1, dan t inggi bila bioflok m encapai volum e > 20 mlL- 1, serta sangat rendah bila < 1 mgL- 1.

Kualitas Air

Keberadaan oksigen dalam pem bentukan biof lok sangat diperlukan dan kekurangan ok sigen dapat m enyebabk an bak t eri t idak b er k em b an g d en g an o p t i m al , seb al i k n ya bakt eri pat ogen berkem bang cukup pesat . Fl u k t u asi o k si g en sel am a p en el i t i an d i -tampilkan pada Gambar 2.

Kondisi ini akan m em bahayakan udang yang dibudidaya karena dapat m enyebabkan kerent anan t erhadap penyakit dan kem at ian udang secara m assal dan cepat . Unt uk it u, penam bahan kincir dan penem pat an kincir yang tepat sangat penting agar oksigen dapat t erkont ribusi secara m erat a dalam kolom air. Pada penelit ian ini kandungan oksigen dipert ahankan m inim al 3 m g/ L unt uk m em -pertahankan kestabilan flok dalam air.

Dem ikian pula dengan param eter kualitas air lainnya yang dit am pilkan pada Tabel 2. Tingkat kem asam an (pH air) di lingkungan t am bak dapat m engham bat t erbent uknya bioflok terutama pada pH yang rendah, karena bakt eri t idak berkem bang dengan baik pada pH dengan keasam an t inggi. Sehingga unt uk m eningkat kan pH air dalam t am bak dengan penam bahan dolom it sebanyak 5- 50 m gL- 1.

Tabel 1. Pengaruh aplikasi m olase di tam bak terhadap volum e flok pada budidaya udang vanam e intensif

Table 1. The effect of molasses application in pond to floc volume to intensive vannamei culture

Application of molasses 3-11 9.727 ± 3.1013

Tanpa molase

(5)

Pad a k o n d i si p H m en d ek at i n et r al d ap at m enyebabk an beberapa j enis bak t eri berk em b an g d an b er sam a d en g an m i berk r o -organisme lain membentuk flok.

Hasil dekom posisi lim bah organik adalah amonia yang merupakan produk setelah terjadi p em ecah an p r o t ei n d ar i l i m b ah t am b ak . Sem ent ara it u, secara int ernal dalam t ubuh udang, pakan yang term akan dicerna m enjadi prot ein dan m engekresikan am onia m elalui insang dan feses sehingga menambah amonia dalam tambak (Tacon et al., 2002).

Tot al am onia nit rogen (TAN) m erupakan kombinasi antara amonia yang tidak terionisasi (NH3) dan am onium (NH4). Konsent rasi TAN yang cukup t inggi di t am bak dapat m enyeb aenyeb k an k er acu n an enyeb ag i u d an g yan g d i -budidaya. Perkem bangan bakt eri het erot rof di t am bak m em punyai kem am puan m engu-rangi kelebihan am onia karena dim anfaat kan unt uk m akanan bakt eri. Menurut Hargreaves & Tucker (2004), di perairan um um bakt eri dapat mereduksi amonia menjadi bentuk yang tidak bersifat toksik bagi ikan.

Gambar 2. Flukt uasi oksigen t erlarut pada perlakuan bioflok (A) dan t anpa bioflok (B)

Figure 2. Dissolve oxygen fluctuation to all treatment of biofloc (A) and without biofloc (B) Pagi (05.00- 06.00 WITA)/Morning (5.0- 6.0 a.m.)

Sore (15.00- 16.00 WITA/Afternoon (3.0- 4.0 p.m .) B

(6)

Kepadat an Bak t er i

Amonia dimanfaatkan bakteri dalam proses am onifikasi dan nit rifikasi sehingga m ening-kat kan kepadat an bakt eri (Wing & Malone, 2006). Peningkat an bakt eri di t am bak dapat menurunkan amonia dan nitrit sehingga kualitas air m enjadi lebih baik unt uk pert um buhan udang. Susunan bioflok yang baik bila bakteri het erot rof m encapai > 70%. Aplikasi m olase di t am bak udang int ensif digunakan bakt eri h et er o t r o f seb ag ai st at er aw al (priming effects) d al am m en d ek o m p o si si l i m b ah organik. Kepadatan bakteri pada bioflok dalam penelit ian ini t ergolong sedang (Gam bar 3), yai t u m en cap ai k i sar an 3 ,8 x 1 02- 5 ,1 x 1 04 CFU/ m L (rat a- rat a 1,4421x 104 CFU/ m L) dan t anpa biof lok m encapai k isar an 1 ,3 x 1 02 -4,5x102 CFU/ mL (rata- rata 2,755x102 CFU/ mL). Menurut Avnim elech (2009), bahwa f lok yan g b ai k t er su su n o l eh b an yak b ak t er i dengan total bakteri yang tinggi > 106 CFU per m L. Sedangkan f lok yang kurang baik bila populasinya rendah (< 103 CFU per mL).

Pada penelit ian ini t idak m engident ifikasi jenis bakt eri dalam t am bak, nam un beberapa lit erat ur m enginf orm asikan bahwa f lok yang baik mengandung total vibrio < 103 CFU per mL dan kurang baik bila total vibrio > 103 CFU per

m L. Bakt eri m em punyai kem am puan dalam m ensint esis senyawa poli hidroksi alkanoat (PHA), t erut am a yang spesif ik sepert i poli

β- hidroksi but irat (McInt osh, 2001; Velasco et al., 2000). Senyawa ini diperlukan sebagai bahan polim er unt uk pem bent uk an ik at an polim er ant ara subst ansi pem bent uk biof lok (Avnim elech, 1999).

Kepadatan Plank ton

Plankt on yang t um buh di t am bak udang van am e i n t en si f si st em b i o f l o k sel am a p enel i t i an t er i d ent i f i k asi seb ag ai b er i k ut : Navicula sp. (2,04%), Oscillatoria sp. (15,67%), Protoperidinium sp. (6,67%), Sphaerellopsys sp. (4,24%), Branchionus sp. (42,14%), nauplii co p ep o d (1 4 ,0 8 %), Oithona sp . (8 ,2 6 %), Schmackeria sp. (1,53%), dan Tortanus sp. (5 ,3 7 %). Sed an g k an t an p a b i of l ok ad al ah Navicula sp. (2,15%), Oscillatoria sp. (16,56%), Protoperidinium sp. (7,05%), Branchionus sp. (4,48%), nauplii copepod (44,53%), Oithona sp. (14,88%), Onychocamptus sp. (8,73%), dan Tortanus sp. (1,61%). 151- 339 ind.L- 1 (rata- rata 252.5714 ± 67.33463 ind.L- 1). Pert um buhan diat om dan alga hijau pada f lok cukup baik untuk udang yang dibudidaya. Warna air yang kecoklat an di t am bak m encirikan plankt on yang t um buh didom inasi oleh diat om . Pada Tabel 2. Kualitas air budidaya udang vaname intensif sistem bioflok di Desa Hanura Kecamatan

Pasawaran, Lampung

Table 2. Water quality for intensive vannamei culture of biofloc systems in Hanura Village Pesawaran Sub-distric, Lampung

pH 7.34-7.87 (7.596±0.153 ) 7.30-7.82 (7.217±0.234 Salinitas (Salinity) (ppt) 17.0-26.3 (20.74±1.924) 17.5-26.7 (20.45±2.450) Alkalinitas (Alkalinity)(mgL-1) 105-120 (115±8.7) 100-120 (110±6.2)

Kec erahan (Transparency) (c m) 10-21 (14.25±2.3977) 10-22 (17.25±2.675) Amonia nitrogen total

Total amonia nitrogen (mgL- 1) 0.15-3.47 (0.909±1.2148) 0.16- 4.52 (1.875±1.368)

Nitrit (Nitrite) (mgL-1) 0.02-1.38 (0.386±0.5923) 0.02-1.55 (0.670±0.254)

Warna air (Water color) Hijau-c oklat kehijauan

(7)

tambak dengan dan tanpa penambahan molase juga dijumpai copepoda dan nauplii copepoda. Plankt on ini t idak m em bahayakan dan cukup b ai k u n t u k p er t u m b u h an u d an g van am e t erut am a pada st adia larva. Protoperidinium yan g m er u p ak an f i t o p l an k t o n d ar i j en i s dinof lagelat a dit em ukan pada t am bak t anpa penambahan molase. Plankton jenis ini sangat b er b ah aya b ag i k eh i d u p an u d an g yan g

dibudidaya karena dapat mengeluarkan racun terutama bila terjadi kematian.

Flukt uasi kelim pahan plankt on dalam air selama penelitian ditampilkan pada Gambar 4. Kelimpahan plankton pada tambak tanpa molase m encapai kisaran 117- 222 ind.L- 1 (rat a- rat a 1 7 8 ,7 1 ± 4 2 ,6 9 9 i nd .L- 1). Sed an g k an p ad a t am b ak d eng an p enam b ahan m ol ase d an

Gambar 4. Kelimpahan plankton pada budidaya udang vaname intensif sistem bioflok

Figure 4. Plankton abundance in intensive vannamei culture with biofloc system

Tanpa bioflok (Without of biofloc)

Gambar 3. Populasi bakt eri pada budidaya udang vanam e int ensif sist em bioflok setiap 10 hari (transformasi data logaritmik)

Figure 3. Bacteria population to intensive vannamei culture with biofloc technology every 10 days (logaritme transformation)

Pengam atan (hari)

(8)

terbentuk bioflok m encapai kisaran 151- 339 ind.L- 1 (rata- rata 252,571± 67,334 ind.L- 1).

Flukt uasi jenis dan kepadat an plankt on yang berbeda pada sem ua perlakuan diduga d i seb ab k an p en g ar u h p er b ed aan k o n d i si k u al i t as ai r , k es u b u r an p er ai r an d an k em ung k inan grazing ser t a suk sesi p ad a tambak.

Produksi Udang

Pengukuran bobot udang vanam e sist em biof lok (pem eliharaan selam a 95 hari) m en-capai bobot rat a- rat a 13,8 g/ ekor dan lebih

t i n g g i d i b an d i n g k an t an p a b i o f l o k yan g m encapai bobot rat a- rat a 12,0 g per ekor (Gam bar 5). Hal ini m engindikasikan bahwa ud ang vanam e p ad a p enam b ahan m olase selain m endapat m akanan pelet juga m en-dapat asupan suplem en dar i biof lok yang terbentuk di dalam tambak. Menurut Bolliet et al. (2002) dan Cuzon et al. (2004), biof lok m engandung prot ein yang cukup t inggi dan b ai k u n t u k p er t u m b u h an u d an g van am e. Sed an g k an p ad a t am b ak t an p a m o l ase m em perlihat kan air lebih cerah dan kurang t erbent uk biof lok sehingga udang vanam e yang dibudidaya hanya mendapatkan makanan

Gambar 5. Pertum buhan dan produksi udang vanam e intensif sistem bioflok di Desa Hanura Kecamatan Pesawaran Provinsi Lampung

Figure 5. The growth and production of vannamei to intensive with biofloc in Hanura Village Pesawaran Sub-district Lampung Province

Perlakuan (Treatment)

Tanpa bioflok (Without of biofloc) Bioflok (Bioflocs)

(9)

dari pelet yang diberikan dan plankt on yang tumbuh di tambak.

Sintasan pada kedua perlakuan relatif sama yaitu mencapai sintasan 75% pada bioflok dan 76% tanpa bioflok. Namun demikian, produksi u d an g van am e t er t i n g g i d i p er o l eh p ad a perlakuan biof lok yang m encapai 10.375 kg per ha dengan rasio k onversi pak an (RKP) Sedangkan t anpa biof lok m encapai 9.176 kg per ha dengan RKP 1,6.

Analisis Usaha

Kebut uhan biaya operasional pada budi-d aya u budi-d an g van am e si st em b i of l ok l eb i h tinggi walaupun jumlah pakannya lebih sedikit (Lam piran 1a dan 1b). Hal ini disebabk an teknologi bioflok memerlukan biaya tambahan unt uk pem belian m olase. Nam un dem ikian, t eknologi bioflok m em peroleh produksi yang lebih t inggi dan uk uran udang yang lebih besar dibandingkan t anpa biof lok sehingga b er p en g ar u h t er h ad ap h ar g a j u al u d an g per kilogram nya. Hasil analisis ekonom i pada b u d i d aya u d an g van am e i n t en si f d en g an t ek n o l o g i b i o f l o k p ad a p en el i t i an i n i m em erluk an biaya operasional sebesar Rp 290.904.000,- / ha dan penerimaan sebesar Rp 3 6 3 . 1 2 5 . 0 0 0 , - / h a, seh i n g g a d i p er o l eh k eunt ungan sebesar Rp 72.221.000,- / ha/ m usim tanam . Sedangkan pada tam bak tanpa aplikasi molase (tanpa bioflok) diperlukan biaya operasional Rp 258.266.000- / ha; penerimaan Rp 3 1 1 .9 8 4 .0 0 0 ,- / ha dan k eunt ungan Rp 53.718.000,- / ha/ musim tanam.

KESIMPULAN

Teknologi biof lok pada budidaya udang van am e i n t en si f m en g h asi l k an p r o d u k si 10.375 kg/ ha, mengurangi penggunaan pakan (RKP 1,3), m enst abilkan kondisi dan m em -pertahankan kesehatan udang serta m em beri k eunt ungan sebesar Rp 72.221.000,- / ha/ m u si m t an am , l eb i h t i n g g i d i b an d i n g k an budidaya udang vanam e t anpa bioflok. SARAN

Budidaya udang vanam e sist em biof lok harus diim bangi dengan penggunaan kincir yang m em adai dan penem pat an yang t epat agar menghasilkan pengadukan yang kuat dan m er at a seh i n g g a d i p er ol eh ok si g en yan g m aksim al sert a m engurangi daerah m at i dari oksigen.

DAFTAR ACUAN

Am erican Public Healt h Associat ion (APHA). 2005. St andard Met hods for Ex am inat ion of Wat er and Wast e- wat er. 20th edit ion. APHA, AWWA, WEF, Washington, 1,085 pp. Avnimelech, Y. 1999. Carbon nitrogen ratio as

a control elem ent in aquaculture system s. Aquaculture, 176: 227- 235.

Avnim elech, Y. 2009. Biofloc Technology, A Pract ical Guide Book. The World Aquacul-ture Society, 182 pp.

Bolliet, V., Azzaydi, M., & Boujard, T. 2002. Ef-fect of feeding t im e on feed int ake and growth. In: food intake in fish. In Houlihan, D, and Jobling, M (Eds). Ox ford, Blackwell Science, p. 233- 249.

Boyd, C.E. 2005. Feed efficiency indicators for responsible aquacult ure. Global Aquacul-ture Advocate, 8(6): 73- 74.

Brune, D.E., Schwartz, G., Eversole, A.G., Collier, J.A., & Schwedler, T.E. 2003. Intensification of pond aquaculture and high rate photo-synt het ic syst em s. Aquaculture Engineer-ing, 28: 65- 86.

Burford, M.A., Thom pson, P.J., Baum an, H., & Pearson, D.C. 2003. Microbial Communities Affect Wat er Qualit y, Shrim p Perform ance at Belize Aquacult ure. Global Aquaculture Advocate, August 2003, p. 64- 65.

Burford, M.A., Thom pson, P.J., McIntosh, R.P., Baum an, R.H., & Pearson, DC. 2004. The cont ribut ion of f locculat ed m at erial t o shrimp (Litopenaeus vannamei) nutrition in a hight - int ensit y zero wat er ex change system. Aquaculture, 232: 525- 537. Cuzon, G., Lawrence, A.L., Gax iola, G., Rosas,

C., & Guillaum e, J. 2 0 0 4 . Nut r it ion of Litopenaeus vannamei reared in t anks or in ponds. Aquaculture, 235: 513- 551. De Schryver, P., Crab, R., Defoirdt, T., Boon, N.,

& Ver st r aet e, W. 2 0 0 8 . Th e b asi cs of bioflocs t echnology: The added value for aquaculture. Aquaculture, 277: 125- 137. Ekasari, J. 2008. Biofloc technology: The effect

different carbon source, salinity and the addition of probiotics on the primary nutritional value of the bioflocs. Thesis. Ghent University, Belgium , 72 pp. Hargreaves, J.A. & Tucker, C.S. 2004.

(10)

Halver, J.E. & Hardy, R.W. 2002. Nut rient flow and retention. In Halver, J.E. and Hardy, R.W. (Eds.). Fish Nutrition. Academic Press, New York, p. 755- 770.

Jorand, F., Zartarian, F., Thomas, F., Block, J.C., Bet t eru, J.V., Villem in, G., Urbain, V., & Manen, J. 1995. Chem ical and st ruct ural (2n d) l i n k ag e b et ween b act er i a wi t h i n activated- sludge flock. Water Res., 29(7): 1,639- 1,647.

McInt osh, R.P. 2000. Changing paradigm s in shrim p farm ing. IV. Low protein feeds and feeding strategies. The Global Aquaculture Advocate, 3(2): 44- 50.

McInt osh, R.P. 2001. Changing paradigm s in sh r i m p f ar m i n g . V. Est ab l i sh m en t o f het erot rophic bact erial com m unit ies. The Global Aquaculture Advocate, 4(1): 53- 58. Montoya, R. & Velasco, M. 2000. Role of

bacte-ria on nutritional and management strate-gies in aquacult ure syst em s. The Global Aquaculture Advocate, 3(2): 35- 36. Pantjara, B. 2008. Efektivitas sumber C terhadap

dekomposisi bahan organik limbah tambak udang intensif. Seminar Nasional Kelautan IV Universitas Hangtuah, Surabaya, hlm : II- 195 –II- 199.

Schneider, O., Sereti, V., Eding, E.H., & Verreth, J.A.J. 2005. Analysis of nut rient flows in integrated intensive aquaculture system s. Aquaculture Engineering, 32: 379- 401.

Shen, J. & Bart ha, R. 1996. Prim ing effect of substrat addition in soil- based biodegrada-t ion biodegrada-t esbiodegrada-t s. Applied and Envinronmenbiodegrada-tal Microbiology, 62(4): 1,428- 1,430.

Tacon , A.G.J., Cod y, J.J., Con q u est , L.D., Divakaran, S., Forster, I.P., & Decamp, O.E. 2 0 0 2 . Ef f ect of cult ur e syst em on t he n u t r i t i o n an d g r o wt h p er f o r m an ce o f Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei (Boone) fed different diet s. Aquaculture Nutrition, 8(2): 121- 139.

Velasco, M., Lawrence, A.L., Cast ille, F.L., & Obaldo, L.G. 2000. Det erm ining opt im al d i et ar y p r o t ei n l evel f o r Litopenaeus vannamei postlarvae. The Global Aquacul-ture Advocate, 3(6): 46- 47.

Verst raet e, W., Schryver, P.D., Defoirdt , T., & Crab, R. 2008. Added value of m icrobial life in flock. Laborat ory for Microbial Eco-logy and TechnoEco-logy, Ghent Universit y, Belgium, 43 pp. http:/ / labmet.ugent.be. Wilson, R.P. 2000. Am ino acids and prot eins.

In: Halver, J.E. and Hardy, R.W. (Eds.). Fish Nutrition. New York: Academ ic Press, p. 143- 179.

(11)

Lampiran 1a. Analisis finansial budidaya udang vaname intensif sistem bioflok (per ha) Appendix 1a. Financial analysis of intensive vannamei shrimp culture bioflocs system (per ha)

Variab el

Va r ia b les

Vo lume

Volum e

Sat uan

Un it

H arg a sat uan

U n it pr ice ( Rp )

T o t al

T ot a l ( Rp )

Biaya o p erasio na l p er siklus

Oper a t ion a l cost per cycle

290,904, 000

- Ben ih (Fry) 1,000,000 Ind. 35 35 ,00 0,000 - Probiot ik (Probiotic) 100 kg 20,000 2 ,0 00,000 - Dolomit (Dolomite) 1,000 kg 1,000 1 ,0 00,000 - Listrik (Electric) 1 siklus - 20 ,00 0,000 - Molase (Molasses) 10,790 kg 4,000 43 ,16 0,000 - Pakan (Feed) 13,488 Kg 13,000 175 ,3 44,000 - Upah jaga (Keep wagies) 12 bl 1,200,000 14 ,40 0,000

Penerimaan (Reven ue) 10,375 kg 35 ,000 363,125, 000

Laba per siklu s (Profit per cycle) 72 ,22 1,000 Arus uang t unai (Cash flow) 144 ,4 42,000 Analisis kelay akan (B/C rasio) 1.25 Rentabilit as ekonomi

Economic rentability (%) 24.03

Jangka waktu peng embalian

Payback period 2.01

(12)

Lampiran 1b. Analisis finansial budidaya udang vaname intensif tanpa bioflok (per ha) Appendix 1b. Financial analysis of intensive vannamei shrimp culture without bioflocs (per ha)

Variab el

Va r ia b les

Vo lume

Volum e

Sat uan

Un it

H arg a sat uan

U n it pr ice ( Rp )

T o t al

T ot a l ( Rp )

Biaya o p e rasio nal p er sikl us

Oper a t ion a l cost per cycle

258 ,266,000

- Be nih (Fry) 1,000 ,0 00 Ind. 35 3 5,000,000 - Prob io tik (Probiotic) 1 00 kg 20,000 2,000,000 - Dolomit (Dolomite) 1,000 kg 1,000 1,000,000 - Listrik (Electric) - siklus - 1 5,000,000

- Molase (Molasses) - kg -

-- Pakan (Feed) 14,682 Kg 13,000 190,866,000 - Upah jaga (Keep wagies) 12 bl 1 ,2 00,000 1 4,400,000

Peneri maan (Reven ue) 9,176 kg 32,000 311 ,984,000

Laba per siklus (Profit per cy cle) 5 3,718,000 Arus uang tunai (Cash flow) 107,436,000 Rasio keun tungan dan biay a (B/C rasio) 1.21 Rentabilitas ekonomi

Economic rentability (%)

20.80

Jangka w aktu pengembalian

Payback period

2.4

Gambar

Gambar 1. Budidaya udang vaname intensif dengan teknologi bioflok(Figure 1.insert: volume flok yang terukur pada imhoff con)Intensive vannamei shrimp culture with biofloc techno-logy (insert : floc volume the measure in imhoff con)
Gambar 2. Fluktuasi oksigen terlarut pada perlakuan bioflok (A) dan tanpabioflok (B)Figure 2.Dissolve oxygen fluctuation to all treatment of biofloc (A) andwithout biofloc (B)
Tabel 2.Kualitas air budidaya udang vaname intensif sistem bioflok di Desa Hanura Kecamatan
Gambar 3. Populasi bakteri pada budidaya udang vaname intensif sistembioflok setiap 10 hari (transformasi data logaritmik)Figure 3.Bacteria population to intensive vannamei culture with biofloctechnology every 10 days (logaritme transformation)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas pemberian pakan sinbiotik dengan frekuensi berbeda terhadap sintasan, pertumbuhan, dan respons imun udang vaname

Sintasan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diberi madu pada dosis berbeda pascauji tantang dengan white spot syndrome virus..

Pertambahan biomassa, laju pertumbuhan spesifik, sintasan, rasio konversi pakan, dan produksi udang vaname pada masing-masing perlakuan selama 85 hari pemeliharaan dengan

SGR dan bobot mutlak udang vaname yang diberi pakan dengan penambahan MOS yang relatif lebih tinggi dibandingkan kontrol juga disebabkan oleh aktivitas enzim

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan bioflok yang dikombinasikan dengan probiotik terhadap sistem imun udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang di uji tantang

Pertambahan biomassa, laju pertumbuhan spesifik, sintasan, rasio konversi pakan, dan produksi udang vaname pada masing-masing perlakuan selama 85 hari pemeliharaan dengan

Pola pertumbuhan udang vaname pada perlakuan pakan A kandungan protein 40-37% selama proses budidaya memiliki pola pertambahan bobot yang lebih tinggi dibandingkan udang yang

Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas pemberian pakan sinbiotik dengan frekuensi berbeda terhadap sintasan, pertumbuhan, dan respons imun udang vaname