nilah Visi Misi Kementerian Desa
Blogger Desa 09.16 Warta TerkiniGampongRT - Salah satu kementerian baru di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kallah adalah Kementerian Desa, Transmigrasi, dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT dan Trans).
Seperti diketahui, Kementerian Desa merupakan gabungan antara kementerian PDT dan direktorat transmigrasi yang awalnya menjadi bagian dari Kementerian Tenaga Kerja.
Sekarang Kementerian Desa, Transmigrasi, dan Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Kerja 2014-2019 memiliki lima Deputi, masing-masing;
Deputi I Bidang Pengembangan Sumber Daya, Deputi II Bidang Peningkatan
Infrastruktur, Deputi III Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha, Deputi IV Bidang Pembinaan Lembaga Sosial dan Budaya, Deputi V Bidang Pengembagan Daerah Khusus, dan masing-masing Deputi memiliki 5 Asisten Deputi.
Berikut Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Mendes PDT dan Trans, disadur dari website http://www.kemenegpdt.go.id/
Visi
Untuk mewujudkan visi diatas, maka misi pembangunan daerah tertinggal, adalah: Misi
Mengembangkan perekonomian local melalui pemanfaatan sumber daya local ( sumber daya manusia, dan kelembagaan) melalui partisipasi semua pemangku kepentingan (stakeholders) yang ada;
1. Memberdayakan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan dan kesehatan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan akses modal usaha, teknologi, pasar, informasi;
2. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat; 3. Memutuskan keterisolasian daerah tertinggal melalui peningkatan sarana dan
prasarana komunikasi dan transportasi sehingga memiliki keterkaitan dengan daerah lainnya;
4. Mengembangkan daerah perbatasan sebagai beranda Negara kesatuan RI
melalui pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam dan pengembangan sector-sektor unggulan
5. Mempercepat rehabilitas dan pemulihan daerah-daerah pasca bencana alam adan pasca konflik serta mitigasi bencana
Tujuan
Pembangunan daerah tertinggal bertujukan untuk memberdayakan masyarakat yang terbelakang agar terpenuhi hak dasarnya sehinga dapat menjalankan aktifitasnya untuk berperan aktif dalam pembangunan yang setara dengan masyarakat Indonesia lainnya.
Sasaran
Berdasarkan tahapan pembangunan, maka sasaran pembangunan daerah tertinggal terbagi dalam sasaran jangka menengah (2009) dan sasaran jangka panjang (2024). Sasaran jangka menengah tahun 2009 adalah :
berkurangnya jumlah daerah tertinggal sesuai dengan criteria yang telah ditetapkan
menurunnya indeks keminskinan didaerah tertinggal melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan potensi sumber daya local
berkurangnya daerah yang terisolasi secara fisik (transpostasi da komunikasi) pada daerah tertinggal secara signifikan
menngkatnya laju pendapatan penduduk didaerah tertinggal lebih besar dari lahu pendapatan penduduk
tercapainya rehabilitasi dan pemulihan pembangunan di daerah pasca konflik dan bencana alam.
munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi pada daerah yang saat ini dikategorikan tertinggal
hilangnya daerah yang terisolasi secara fisik (transportasi dan komunikasi) berkurangnya kesenjangan sosial dan ekonomi antara daerah tertinggal dengan
lain
meningkatnya pendapatkan per kapita penduduk di daerah tertinggal mendekati pendapatan per kapita nasional
Tugas dan Kedudukan BPD dalam UU Desa
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
mengusung mandat untuk menyalurkan aspirasi, merencanakan anggaran, dan mengawasi pemerintahan desa.
Pada pasal 55, UU Desa menyebutkan sejumlah fungsi BPD yang berkaitan dengan kepala desa, yaitu (1) membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa; (2) menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa; dan (3) melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.
Lebih dari itu, Pasal 61 huruf a memberikan hak pada BPD untuk mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa, yaitu (1) mengawasi dan meminta keterangan tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada Pemerintah Desa; (2) menyatakan pendapat atas penyelenggaran Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa; serta (3) mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.
BPD juga bertugas untuk menyelenggarakan musyawarah desa (musdes) dengan peserta terdiri kepala desa, perangkat desa kelompok, dan tokoh masyarakat. Jumlah pesertanya tergantung situasi kondisi setiap desa. Musyawarah desa berfungsi sebagai ajang kebersamaan dan membicarakan segala kebijakan tentang desa.
Jika dilihat dari kedudukannya, kepala desa selaku pemerintah desa dan BPD memiliki
kedudukan yang sama, yakni sama-sama merupakan kelembagaan desa. UU Desa tidak membagi atau memisahkan kedudukan keduanya pada suatu hierarki. Ini artinya, keduanya memang memiliki kedudukan yang sama, namun dengan fungsi yang berbeda.
Bila kepala desa berfungsi sebagai pemimpin masyarakat dan kepanjangan tangan negara yang dekat dengan masyarakat, maka BPD berfungsi untuk menyiapkan kebijakan pemerintahan desa bersama kepala desa. BPD harus mempunyai visi dan misi yang sama dengan kepala desa sehingga BPD tidak dapat menjatuhkan kepala desa yang dipilih secara demokratis oleh
masyarakat desa. Untuk mempermudah Anda memahami hubungan antara kepala desa dan BPD, lihat daftar tugas dan fungsi berikut ini:
1. Kepala Desa dan BPD membahas dan menyepakati bersama peratura desa (Pasal 1 angka 7 UU Desa);
2. Kepala Desa Dan BPD memprakarsai perubahan status desa menjadi kelurahan melalui musyawarah desa (Pasal 11 ayat (1) );
3. Kepala Desa memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada BPD (Pasal 27 huruf c UU Desa);
4. BPD memberitahukan kepada Kepala Desa mengenai akan berakhirnya masa jabatan Kepala Desa secara tertulis 6 (enam) bulan sebelum masa jabatannya berakhir (Pasal 32 ayat (1) UU Desa);
5. Kepala Desa mengajukan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan memusyawarahkannya bersama BPD (Pasal 73 ayat 2);
Melihat pemaparan fungsi dan kedudukan BPD di atas, baik-buruknya kinerja BPD sangat menentukan masa depan tata kelola desa. Sayang, ada sejumlah permasalahan yang mendera
lembaga ini, seperti pertama, sebagian besar anggota BPD belum memahami tugas dan
pokoknya. Untuk itu dirasakan perlu adanya, pembekalan, bimbingan bagi BPD, baik dari akademisi, pemerintah daerah, maupun pihak yang ditunjuk.
Kedua, rekrutmen BPD. BPD beranggotakan wakil-wakil penduduk desa berdasarkan
keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis (Pasal 1 angka 4). Sayang, hingga hari ini para anggota BPD berasal dari orang ‘seadanya’, jarang ada yang minat untuk mendaftarkan diri sebagai BPD.
Ketiga, penggajian, Karena BPD tidak mendapatkan gaji seperti kepala desa dan perangkatnya. Ini termasuk salah satu faktor yang menyebabkan BPD tidak menjalakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik. Setiap kegiatan yang dilakukan BPD perlu menggunakan dana, tetapi tidak ada alokasi anggaran untuk itu.
BPD sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Desa
BPD dibentuk berdasarkan usulan masyarakat Desa yang bersangkutan.
BPD befungsi menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
BPD mempunyai tugas dan wewenang :
a. membahas rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa;
b. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa;
c. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Desa; d. membentuk Panitia Pemilihan Kepala Desa;
e. menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat;
f. memberi persetujuan pemberhentian/ pemberhentian sementara Perangkat Desa;
g. menyusun tata tertib BPD;
BPD mempunyai hak :
a. Meminta keterangan kepada Pemerintah Desa; b. Menyatakan pendapat.
Anggota BPD mempunyai hak :
a. Mengajukan rancangan Peraturan Desa; b. Mengajukan pertanyaan;
d. Memilih dan dipilih; dan e. Memperoleh tunjangan.
KEANGGOTAAN
(1) Anggota BPD adalah wakil dari penduduk Desa yang bersangkutan
berdasarkan keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat;
(2) Anggota BPD terdiri dari Ketua RT/RW, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat;
(3) Anggota BPD setiap Desa berjumlah gasal dengan jumlah sesuai ketentuan yang berlaku;
Syarat untuk menjadi Calon anggota BPD adalah : a. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta Pemerintah Republik Indonesia;
c. berijazah paling rendah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama; d. berumur paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun;
e. sehat jasmani dan rohani; f. berkelakuan baik;
g. tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana kejahatan dengan ancaman paling sedikit 5 (lima) tahun;
h. mengenal Desanya dan dikenal masyarakat di Desa setempat;
i. terdaftar secara sah sebagai penduduk desa dan bertempat tingga di desa yang bersangkutan sekurang kurangnya 6 (enam) bulan berturut-turut dan tidak
terputus.
2016, BPD Harus Proaktif Kawal
Pemerintahan Desa
Bupati Wajo, A
Burhanuddin Unru (tengah) didampingi Kepala BPMPDK Wajo, Syamsul Bahri dalam sebuah acara di Kecamatan Bola
Wajo, MC – Pemerintah Kabupaten Wajo dalam hal ini Badan Pemberdayaan
Masyarakat dan Pemerintahan Desa/Kelurahan (BPPDK) Kabupaten Wajo diawal tahun 2016 ini kembali mengingatkan seluruh Anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa) untuk proaktif mengawal pelaksanaan pemerintahan ditingkat desa.
Diminta atau tidak diminta sekalipun, BPD dalam hal ini harus hadir, paling tidak melakukan pengawasan dan meminta informasi dari pemerintah desa terkait pelaksanaan pemerintahan, pembangunan, pelayanan serta pengelolaan dan pemanfaatan anggaran di desa secara rutin.
“BPD harus proaktif, diminta atau tidak diminta sekalipun BPD harus mengawal pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintah desa sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) yang diembang. Diawal tahun 2016 ini, pemerintah daerah berharap kepada seluruh BPD untuk aktif tanpa harus menunggu perintah dari pihak manapun, termasuk itu dari kepala desa sendiri,” ujar Syamsul Bahri, Kepala BPMPDK Wajo, Kamis, 6/1.
Seperti halnya fungsi pengawasan yang disandang oleh BPD terhadap pengelolaan dan pemanfaatan anggaran pemerintah desa, itu harus diketahui oleh publik dan
dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pemerintah desa atas permintaan BPD. sumber dana serta pemanfaatan dana tersebut harus diinformasikan secara terbuka dihadapan publik, agar azas transparansi seperti yang diharapkan oleh pemerintah saat ini dapat tercapai.
“Seperti itulah peran BPD, jadi salah ketika BPD menunggu laporan atau perintah dari
Lanjut Ketua IKAPTK (Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Kepamongprajaan) Kabupaten Wajo ini membeberkan bahwa kondisi yang dihadapi saat ini adalah masih kurangnya pemahaman BPD tentang kewenangan, batasan serta Tupoksi BPD. Hal itu yang mengakibatkan sehingga lembaga ini terkesan vakum atau kurang aktif. Bahkan, belakangan ditemukan hubungan antara BPD dan arapat pemerintah desa ini kurang harmonis yang diakibatkan oleh kurangnya
pemahaman tentang kewenangan, batasan dan tupoksi masing-masing lembaga.
“Kondisi itu tentu menjadi pemikiran pemerintah, sehingga kedepan BPMDPK selaku lembaga tekhnis dan kepanjangan tangan Bupati/Kepala Daerah terkait pelaksanaan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat tingkat desa akan melakukan bimbingan kepada seluruh anggota BPD dengan harapan lembaga ini dapat memahami secara rinci kewenangan, batasan serta tupoksi-nya,” terang Ancu (sapaan Syamsul Bahri). (SIPD)
BABAK BARU BPD PASCA LAHIRNYA UU No.6/2014 TENTANG DESA
Dengan ditetapkannya UU Desa No. 6/2014, kedudukan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mengalami perubahan. Jika sebelumnya BPD merupakan unsur penyelenggara pemerintahan maka sekarang menjadi lembaga desa. Dari fungsi hukum berubah menjadi fungsi politis. Kini, fungsi BPD yaitu menyalurkan aspirasi, merencanakan APBDes, dan mengawasi pemerintahan desa. Sedangkan tugasnya adalah menyelenggarakan musyawarah desa (musdes) dengan peserta terdiri kepala desa, perangkat desa kelompok, dan tokoh masyarakat. Jumlah pesertanya tergantung situasi kondisi setiap desa. Musyawarah desa berfungsi sebagai ajang kebersamaan dan membicarakan segala kebijakan tentang desa.
Dalam acara Dialog Kebijakan Tugas dan Fungsi Badan Permusyawaratan Desa Dalam UU Desa yang Baru yang diselenggarakan di Gedung PDAM Kabupaten Magelang, 16 Maret 2014, peserta mengutarakan sejumlah problematika yang dihadapi BPD. Pertama, BPD belum memahami tugas dan pokoknya. Untuk itu dirasakan perlu adanya, pembekalan, bimbingan bagi BPD, baik dari akademisi, camat, atau pihak yang ditunjuk. Kedua, rekrutmen BPD. Biasanya para anggota BPD berasal dari orang seadanya, jarang ada yang minat untuk mendaftarkan diri sebagai BPD. Ketiga, penggajian, Karena BPD tidak mendapatkan gaji seperti kepala desa dan perangkatnya. Ini termasuk salah satu faktor yang menyebabkan BPD tidak menjalakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik. Setiap kegiatan yang dilakukan BPD perlu menggunakan dana, tetapi tidak ada alokasi anggaran untuk itu.
mendapatkan alokasi lebih dalam penganggaran. Alokasi itu meliputi ADD (Alokasi Dana Desa) dan DAD (Dana Alokasi Desa). Harapannya, dengan adanya penambahan alokasi tersebut Desa menjadi maju dan mandiri.
Pada masa lalu, desa hanya menjadi objek pembangunan. Desa menjadi arena kepentingan negara. Masyarakat menerima jadi tanpa adanya partisipasi yang baik. Setiap hasil Musyawarah Desa yang diajukan, sering menghasilkan kebijakan yang berbeda. Terkadang SKPD terkait tidak membaca hasil Musyawarah Desa sehingga kebijakan yang turun berbeda dengan kebutuhan masyarakat. Sekarang berbeda, desa tidak lagi menjadi sistem pemerintahan daerah. Tetapi desa mandiri dengan mendapatkan otonomi sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan kapasitas penyelenggara desa agar mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan
baik.
UU Desa ibarat menyapih anak dan anak yang dimaksud adalah Desa. Ini merupakan babak baru bagi desa agar lebih maju dan mandiri. Kunci yang terkandung UU Desa adalah pemberdayaan. Saat ini bukan lagi memberikan ikan tetapi dengan memberikan kail. Desa menyusun perencanaan, mengawasi dalam pelaksanaan dan mengontrol dalam evaluasi. Perencanaan itu harus sesuai realitas bukan sekedar angan-angan belaka. Maka UU Desa memberikan penguatan bagi desa, mereka mandiri dalam menentukan rumah tangganya sendiri. Penguatan tersebut bukan hanya dilakukan bagi desa dan aktor-aktornya tetapi juga pemeritantah daerah, agar tidak setengah hati.
“UU Desa lahir dari perjuangan dan perjalanan yang panjang. Inti dari UU ini adalah mengenai alokasi dana untuk desa. Dalam kaitannya dengan gaji BPD, BPD berbeda dengan perangkat desa. Jika perangkat desa mendapatkan gaji dari tanah bengkok dan lainnya maka BPD tidak mendapatkan gaji. BPD merupakan panggilan jiwa bagi mereka yang peduli dengan desa,” jelas Sutoro Eko.
Inti dari UU ini adalah terletak pada alokasi dana untuk desa. Jika kemarin alokasi dana bagi desa hanya ADD maka saat ini ditambah dengan adanya DAD (Dana Alokasi Desa), selain itu ADD rata-rata juga akan naik. Jika kepala daerah tidak mengalokasikan dana tersebut, dana-dana akan ditarik oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola, tetapi hanya menjadi perantara antara desa dengan pusat.
Dalam pembangunan, dahulu desa adalah objek atau arena bagi negara, kini Undang-undang Desa yang baru akan membentengi hal tersebut. Desa bukan lagi berkeliling mengajukan proposal namun kebutuhan dananya telah dicukup dari alokasi-alokasi yang telah dianggarkan dalam UU Desa. Negara memperkuat desa dengan alokasi dana sehingga pada waktu kampanye pemilih umum tidak aka ada calon-calon yang menjanjikan sesuatu karena desa telah berdaya. Bagi BPD, UU No.6/2014 tentang Desa diharapkan menjadi senjata agar BPD mampu menjalankan pokok dan fungsinya dengan baik.
Penulis: Minardi Kusuma
Editor:Umi
Kewenangan Badan Permusyawaratan Desa
Tinggalkan balasanBadan Permusyawaratan Desa (BPD) atau disebut dengan nama lain adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah yang dipilih dan ditetapkan secara demokratis. Masa
keanggotaan BPD selama enam tahun terhitung sejak pengucapan sumpah/janji. Anggota BPD dapat dipilih kembali untuk masa keanggotaan paling banyak tiga kali baikk secara berturut-turut atau tidak (pasal 56).
Badan Permusyawaratan Desa menjadi badan permusyawaratan di tingkat Desa yang turut membahas dan menyepakati berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Bersama pemerintah desa, BPD turut memfasilitasi penyelenggaraan Musyawarah Desa. Hal itu menjadi bagian untuk meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.
Musyawarah Desa menjadi forum untuk memusyawarahkan dan menyepakati hal-hal yang bersifat strategis dalam penyelenggaraan pemerintaha dan pembangunan Desa. Hasil Musyawarah Desa dalam bentuk kesepakatan yang dituangkan dalam keputusan hasil musyawarah dijadikan dasar oleh BPD dan Pemerintah Desa dalam menetapkan kebijakan Pemerintahan Desa.
Jumlah anggota BPD ditetapkan dengan jumlah gasal. Pada pasal 58 ayat 1, jumlah anggota BPD paling sedikit lima orang dan paling banyak sembilan orang dengna memperhatikan wilayah, perempuan, penduduk, dan kemampuan keuangan Desa. Peresmian anggota BPD ditetapkan dengan keputusan Bupati/Walikota.
Pimpinan BPD terbagi atas satu orang ketua, satu orang wakil ketua, dan satu orang sekretaris. Susunan pimpinan BPD dipilih dari dan oleh anggota BPD secara langsung melalui rapat BPD yang diadakan secara khusus. Untuk pertama kali, penyelenggaraan rapat BPD dipimpin oleh anggota tertua dan dibantu oleh anggota termuda.
Fungsi dan kewenangan BPD
Pada pasal 55 UU Nomor 6 Tahun 2015 BPD mempunyai fungsi untuk:
1. membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa; 2. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa; dan
3. melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa
sementara pada pasal 61 disebutkan hak BPD antara lain:
1. mengawasi dan meminta keterangan tentang penyeenggaraan Pemerintahan Desa kepada pemerintah Desa;
2. menyatakan pendapatan atas penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa; dan
3. mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.
Disusul pada pasal 62, anggota BPD berhak untuk :
1. mengajukan usul rancangan Peraturan Desa; 2. mengajukan pertanyaan;
3. menyampaikan usul dan/atau pendapat; 4. memilih dan dipilih; dan
5. mendapat tunjangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.
Pada masa akhir jabatan Kepala Desa, BPD bertugas untuk memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Desa tentang berakhirnya masa jabatan enam bulan sebelumnya. Kemudian, BPD berhak untuk membentuk panitia pemilihan Kepala Desa yang bersifat mandiri dan tidak
berpihak. Panitia ini terdiri dari unsur perangkat Desa, lembaga kemasyarakatan dan tokoh masyarakat Desa.
dalam kedudukannya mempunyai fungsi penting dalam menyiapkan kebijakan Pemerintahan Desa bersama Kepala Desa, harus mempunyai visi dan misi yang sama.
Apabila terjadi pelanggaran terhadap pelaksanaan Peraturan Desa yang telah ditetapkan, BPD berkewajiban mengingatkan dan menindaklanjuti pelanggaran dimaksud sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Itulah salah satu fungsi pengawasan yang dimiliki oleh Badan Permusyawaratan Desa. Selain BPD, masyarakat Desa juga mempunyai hak untuk melakukan pengawasan dan evaluasi secara partisipatif terhadap pelaksanaan Peraturan Desa.
Dasar Hukum Pengawasan Dana Desa Oleh BPD
Standar dan Peraturan
Oleh Admin KeuDesa25 May 2015
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN, Pasal 1, ayat 2 : Dana Desa adalah Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Selanjutnya dalam pasal 6 disebutkan bahwa Dana Desa tersebut ditransfer melalui APBD kabupaten/kota untuk selanjutnya ditransfer ke APB Desa.
Meskipun Pemerintah telah meyakinkan agar masyarakat tidak khawatir mengenai
penyelewengan dana desa tersebut tetapi dengan adanya fakta bahwa banyak kepala daerah terjerat kasus korupsi bukan tidak mungkin kalau ladang korupsi itu akan berpindah ke desa-desa. Masyarakat desa sangat berharap agar BPD bisa menjalankan fungsinya untuk mengawasi penggunaan dana desa tersebut.
Dasar Hukum Pengawasan Dana Desa oleh BPD
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 55 disebutkan Badan Permusyawaratan Desa mempunyai fungsi:
Membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala
Desa;
Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa; dan Melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Pasal 48 : Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajibannya, kepala Desa wajib:
Menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada akhir
masa jabatan kepada bupati/walikota;
Menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa setiap akhir
menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara
tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran.
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Pasal 51:
Kepala Desa menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf c setiap akhir tahun anggaran kepada Badan Permusyawaratan Desa secara tertulis paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran.
Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pelaksanaan peraturan Desa.
Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh Badan Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan kinerja kepala Desa.
Dari uraian diatas sudah jelas bahwa Badan Permusyawaratan Masyarakat Desa mempunyai peran yang strategis dalam ikut mengawal penggunaan dana desa tersebut agar tidak
diselewengkan. Jika dicermati ketentuan pasal 48 dan 51 PP Nomor 43 Tahun 2014.
Dalam Peraturan Pemerintah tersebut setikdanya ada 3 poin yang sangat krusial yaitu :
1. Pasal 48 huruf c yang menyebutkan bahwa Kepala Desa wajib
menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran. 2. Pasal 51 ayat 2 bahwa Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan
Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat
pelaksanaan peraturan Desa. Mari kita garis bawahi mengenai kata-kata paling sedikit memuat pelaksanaan peraturan Desa. Kita tentu masih ingat bahwa APBDes adalah merupakan salah satu contoh Peraturan Desa. Ini artinya bahwa kalau Kepala Desa wajib membuat laporan keterangan tertulis tentang pelaksanaan peraturan desa berarti kepala desa wajib membuat laporan tentang pelaksanaan APBDes.
3. Lebih lanjut dalam Pasal 51 ayat (3) dijelaskan bahwa laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh Badan Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan kinerja kepala Desa.
Karena dana desa yang bersumber dari APBN jumlahnya cukup besar maka diperlukan
mekanisme kontrol dari masyarakat untuk mengawasi penggunaan dana desa tersebut agar dana tersebut dipergunakan sesuai dengan peruntukannya untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Pemerintahan Desa dituntut menyelenggarakan pemerintahan secara transparan dan akuntabel.
terhadap kinerja kepala desa. Adanya mekanisme ‘check and balance’ ini akan meminimalisir penyalahgunaan keuangan desa.
Diolah dari sumber: kartonmedia.blogspot.com, penulis:Ngatiyat Prambudi, 27 September 2014
TATA TERTIB
KEPUTUSAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DESA WIDASARI KECAMATAN WIDASARI
NOMOR: 2/ Kpts/ BPD/ VII/ 2013 TENTANG
TATA TERTIB BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DESA WIDASARI
Menimbang : Bahwa dalam rangka melaksanakan Peraturan Daerah Kabupaten Indramayu Nomora. 11 Tahun 2000 tentang BPD, maka memandang perlu BPD desa Widasari melakukan penyusunan tata tertib BPD,
b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana huruf a, perlu menetapkan keputusan BPD Desa Widasari tentang Tata Tertib BPD,
Mengingat : Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah- daerah1. Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950),
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005,
4. Peraturan Pemerintah nomor 72 tahun 2005 tentang Desa,
5. Peraturan Daerah Kabupaten Indramayu nomor 11 tahun 2000 tentang Badan Permusyawaratan Desa/ BPD,
MEMUTUSKAN
Menetapkan : KEPUTUSAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) WIDASARI TENTANG TATA TERTIB BADAN PERMUSYAWARATAN DESA WIDASARI KECAMATAN WIDASARI KABUPATEN INDRAMAYU.
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Dalam Keputusan Peraturan Tata Tertib yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Indramayu. 2. Bupati adalah Bupati Indramayu.
3. Bupati atau Pejabat yang ditunjuk adalah pejabat yang berwenang dan berhak mengesahkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Desa.
4. Camat adalah Camat Widasari, yang merupakan unsur perangkat daerah sebagai pemimpin kecamatan yang melaksanakan pelimpahan sebagai wewenang Bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. 5. Kepala Desa atau Penjabat Kepala Desa adalah Kepala Desa Widasari atau Penjabat Kepala Desa Widasari,
seorang pejabat yang ditunjuk dan diangkat oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan hak, wewenang dan kewajiban Kepala Desa dalam kurun waktu tertentu.
6. Badan Permusyawaratan Desa, selanjutnya disebut BPD adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. 7. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa, Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Desa.
8. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
9. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Badan Permusyawaratan Desa bersama Kepala Desa.
10. Peraturan Kepala Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Kepala Desa dan bersifat mengatur.
11. Lembaga Kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra Pemerintah Desa dalam memberdayakan masyarakat.
12. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APBDes adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD, yang ditetapkan dengan Peraturan Desa.
13. Wilayah adalah perdukuhan dan atau gabungan pedukuhan dan atau pemecahan pedukuhan yang merupakan kelompok musyawarah di desa setempat
14. Kode Etik BPD adalah suatu ketentuan etika perilaku sebagai acuan kinerja Anggota BPD dalam melaksanakan tugasnya.
15. Tanah Kas Desa adalah tanah bekas bengkok dan tanah lain yang dikuasai Desa berupa tanah sawah dan atau tanah darat yang menjadi kekayaan Desa.
Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah negara Asing, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Desa, Koperasi, Swasta Nasional, dan Swasta Asing, Lembaga Keuangan dalam dan luar negeri.
BAB II
KEDUDUKAN, FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG Kedudukan BPD
Pasal 2
(1) BPD berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. (2) BPD berkedudukan sejajar dan menjadi mitra Pemerintah Desa.
(3) BPD sebagai Badan Permusyawaratan Desa merupakan wahana untuk melaksanakan Demokrasi berdasarkan Pancasila.
Fungsi BPD Pasal 3
(1) BPD berfungsi menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
(2) Mengawasi pelaksanaan kebijakan Peraturan Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan Keputusan Kepala Desa.
(3) Mengayomi dan menjaga kelestarian adat istiadat yang hidup dan berkembang dalam masyarakat sepanjang menunjang pelaksanaan pembangunan.
Tugas BPD Pasal 4 BPD mempunyai tugas dan wewenang
a. Membahas rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa;
b. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa;
c. Melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah Desa dalam pengurusan dan pengelolaan sumber pendapatan dan kekayaan desa;
d. Membahas, menyetujui dan menetapkan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;
e. Memberitahukan kepada Kepala Desa mengenai akan berakhirnya masa jabatan Kepala Desa secara tertulis 6 (enam) bulan sebelum berakhir masa jabatan;
Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Desa; g. Membentuk panitia pemilihan Kepala Desa;
h. Bersama Kepala Desa membentuk panitia pemilihan Perangkat Desa; Memberikan persetujuan pengangkatan dan pemberhentian Perangkat Desa;
Memberikan persetujuan penunjukan seorang pejabat dari Perangkat Desa oleh Kepala Desa dalam hal terdapat lowongan jabatan Perangkat Desa;
k. Memberikan persetujuan kerjasama antar Desa dalam Kabupaten maupun antar Desa di luar Kabupaten; Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat
o. Memberikan persetujuan pengalihan Sumber Pendapatan Desa yang dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Desa kepada pihak lain;
p. Memberikan persetujuan pengelolaan kekayaan Desa yang dilakukan dengan pihak lain yang saling menguntungkan;
q. Memberikan persetujuan atas perubahan fungsi Tanah Kas Desa untuk kepentingan desa sendiri maupun kepentingan pihak lain.
Wewenang BPD Pasal 5
(1) BPD berwenang memberikan peringatan tertulis kepada Kepala Desa, paling banyak 3 (tiga) kali secara berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 30 (tiga puluh) hari, apabila Kepala Desa melakukan pelanggaran pada peraturan dan perundang - undangan atau norma masyarakat yang berlaku, dan atau dalam melaksanakan tugasnya tidak dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara adil, diskriminatif serta mempersulit setiap keperluan masyarakat.
(2) Apabila sampai dengan teguran ke 3 (tiga) tidak diindahkan oleh Kepala Desa, Bupati atas laporan BPD dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan, pemberhentian sementara dan pemberhentian setelah didahului pemeriksaan instansi yang berwenang.
BAB III
HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 6
BPD mempunyai hak :
a. Meminta keterangan kepada Pemerintah Desa mengenai permasalahan Desa;
b. Meminta keterangan kepada pengurus Lembaga Kemasyarakatan Desa atau warga masyarakat baik secara lisan atau tertulis dengan menjunjung tinggi keterbukaan, kejujuran, dan obyektifitas;
c. Menyatakan pendapat;
d. Menerima laporan keterangan pertanggungjawaban atas laporan pertanggungjawaban Kepala Desa yang disampaikan kepada Bupati;
e. Menerima laporan akhir masa jabatan Kepala Desa.
Pasal 7 (1) Anggota BPD mempunyai hak :
a. Mengajukan Rancangan Peraturan Desa dan atau menyetujui Perubahan mengenai Peraturan Desa yang diusulkan oleh Pemerintah Desa;
b. Mengajukan pertanyaan;
c. Menyampaikan usul dan pendapat kepada Pemerintah Desa; d. Memilih dan dipilih; dan
e. Memperoleh tunjangan serta penghasilan lain yang sah yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan desa.
(2) Anggota BPD mempunyai kewajiban :
b. Melaksanakan demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa; c. Mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keutuhan NKRI; d. Menyerap, menampung, menghimpun dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat; e. Memproses pemilihan Kepala Desa;
Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan; g. Menghormati nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat, dan h. Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga kemasyarakatan.
BAB IV
PEMBERHENTIAN DAN MASA KEANGGOTAAN Pasal 8
(1) Anggota BPD berhenti bersama-sama pada saat BPD yang baru telah disahkan dan dilantik oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.
(2) Masa keanggotaan BPD adalah 6 (enam) tahun dan dapat diangkat/ diusulkan kembali untuk 1 (satu) kali masa keanggotaan berikutnya.
Pasal 9 (1) Anggota BPD berhenti karena :
a. Meninggal dunia; b. Permintaan sendiri; c. Diberhentikan.
(2) Anggota BPD diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c karena : a. Berakhir masa keanggotaannya;
b. Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan;
c. Tidak lagi memenuhi syarat sebagai Anggota BPD; d. Dinyatakan melanggar sumpah / janji;
e. Tidak melaksanakan kewajiban sebagai Anggota BPD, dan atau; Melanggar larangan bagi Anggota BPD;
(3) Apabila ada Anggota BPD yang berhenti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digantikan dengan aturan PAW (Pergantian Antar Waktu) dari warga masyarakat yang sudah ditetapkan menjadi calon Anggota BPD antar waktu dari wilayah yang diwakili saat pemilihan anggota BPD periode yang bersangkutan.
BAB V PIMPINAN
Pasal 10 Kewenangan Pimpinan terhadap Anggota BPD :
(2) Peringatan kepada Anggota BPD sebagaimana dimaksud ayat (1) di atas apabila tidak diindahkan oleh anggota yang bersangkutan maka diberikan peringatan secara tertulis. dan jika tetap tidak ada perubahan maka pimpinan BPD mengusulkan kepada Bupati untuk memberhentikan yang bersangkutan dan mengusulkan pengganti yang sudah ditetapkan menjadi calon Anggota BPD antar waktu dari wilayah yang diwakili.
(3) Pimpinan BPD berhak mengundang rapat untuk anggota BPD.
Pasal 11 (1) Masa jabatan Ketua BPD adalah 6 (enam) tahun.
(2) Dalam hal Ketua berhalangan hadir dalam rapat maka Wakil Ketua mengganti Kedudukan Ketua dan selanjutnya sekretaris mengganti kedudukan Wakil Ketua.
BAB VI
PERATURAN TATA TERTIB DAN MEKANISME KERJA Pasal 12
(1) Rapat BPD dipimpin oleh Pimpinan BPD.
(2) Rapat BPD dapat dilakukan setiap saat atas usulan ½ plus 1 dari jumlah anggota BPD.
(3) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sah apabila dihadiri paling sedikit ½ (satu per dua) tambah 1 (satu) dari jumlah anggota BPD, dan keputusan ditetapkan berdasarkan suara terbanyak.
(4) Dalam hal tertentu rapat BPD dinyatakan sah apabila dihadiri paling sedikit ⅔ (dua per tiga) dari jumlah anggota BPD, dan keputusan ditetapkan dengan persetujuan paling sedikit ½ (satu per dua) ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota BPD yang hadir.
(5) Pengambilan keputusan BPD dilaksanakan secara musyawarah mufakat, dan apabila tidak dapat dicapai musyawarah mufakat maka ditempuh melalui voting.
(6) Dalam pengambilan keputusan mengenai orang atau lembaga maka voting dilakukan secara tertutup. (7) Dalam hal pengambilan keputusan mengenai sesuatu permasalahan yang tidak menyangkut orang
maka voting dilakukan secara terbuka.
(8) Hasil rapat BPD ditetapkan dengan Keputusan BPD dan dilengkapi dengan notulen rapat yang dibuat oleh sekretaris BPD.
(9) Dalam hal Ketua BPD berhalangan, rapat dipimpin oleh Wakil Ketua.
Pasal 13
(1) Tata tertib BPD ditetapkan dengan Keputusan Badan Permusyawaratan Desa.
(2) Keputusan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati dengan tembusan Camat dan Kepala Desa.
BAB VII
(1) Rancangan Peraturan Desa dapat disusun oleh Kepala Desa dan atau BPD
(2) Rancangan Peraturan Desa yang berasal dari Kepala Desa disampaikan secara tertulis kepada Ketua BPD melalui sekretaris BPD dan ketua-ketua bidang untuk diadakan pembahasan lebih lanjut
(3) Rancangan Peraturan Desa yang disusun oleh BPD setelah mendapat persetujuan 2/3 dari jumlah Anggota BPD, dan disampaikan secara tertulis kepada Kepala Desa.
(4) BPD menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa.
Pasal 15 Tahap Pembahasan Peraturan Desa
(1) Dalam hal Rancangan Peraturan Desa berasal dari Kepala Desa :
a. Kepala Desa memberikan penjelasan dalam rapat paripurna BPD terhadap Rancangan Peraturan Desa yang diajukan oleh Kepala Desa.
b. Pemandangan umum dalam rapat paripurna oleh pimpinan BPD yang membawakan suara BPD. c. Jawaban Kepala Desa secara lisan atau tertulis terhadap pemandangan umum BPD.
d. BPD sebelum mengambil keputusan tentang Rancangan Peraturan Desa yang berasal dari Kepala Desa terlebih dahulu diadakan musyawarah dengan Anggota BPD.
e. Pengambilan keputusan diadakan dalam rapat kerja BPD yang disetujui oleh sekurang-kurangnya ½ (satu per dua) ditambah 1 (satu) dari yang hadir
(2) Dalam hal Rancangan Peraturan Desa berasal dari BPD :
a. Pendapat Kepala Desa dalam hal rapat paripurna BPD atas rancangan peraturan Desa yang berasal dari BPD.
b. Jawaban Pimpinan BPD dalam rapat paripurna BPD terhadap pendapat Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada huruf (a).
c. Sebelum diambil keputusan atas Rancangan Peraturan Desa mengadakan rapat kerja BPD untuk membahas lebih lanjut Rancangan Peraturan Desa dimaksud untuk kemudian ditetapkan menjadi Peraturan desa apabila disetujui oleh Kepala Desa atau dihentikan pembahasannya apabila tidak disetujui oleh Kepala Desa.
BAB VIII
PEMBENTUKAN PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA Pasal 16
(1) Sebelum diadakan pemilihan Kepala Desa, BPD mengadakan rapat dipimpin Ketua BPD untuk : a. Membentuk Panitia Pemilihan Kepala Desa beserta susunan kepanitiaannya;
b. Membahas mengenai sumber biaya pemilihan Kepala Desa; c. Menetapkan Tata Kerja Panitia Pemilihan Kepala Desa.
(2) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihadiri oleh Camat atau Pejabat yang ditunjuk sebagai fasilitator.
(3) Pengangkatan Panitia Pemilihan Kepala Desa harus mempertimbangkan kecakapan dalam bidang administrasi, kemampuan fisik dan keterwakilan unsur kewilayahan serta kelembagaan masyarakat Desa.
(5) Panitia sebagaimana dimaksud ayat (3) sebanyak-banyaknya terdiri dari 11 (sebelas) orang dan dapat dibantu oleh petugas yang ditunjuk panitia serta mendapatkan surat tugas dari ketua Panitia.
(6) Dalam rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Camat memberikan penjelasan kepada peserta rapat mengenai hal-hal yang perlu untuk diketahui dan dipedomani dalam pelaksanaan pemilihan Kepala Desa.
(7) Panitia Pemilihan Kepala Desa ditetapkan dengan Keputusan BPD dan dilaporkan kepada Bupati melalui Camat.
(8) Dalam melaksanakan tugasnya Panitia Pemilihan Kepala Desa berpedoman kepada Tata Kerja Panitia Pemilihan Kepala Desa yang ditetapkan oleh BPD.
BAB IX
MEKANISME MENGGALI, MENAMPUNG DAN MENYALURKAN ASPIRASI MASYARAKAT
Pasal 17
(1) Cara menggali dan menampung aspirasi masyarakat dapat dilakukan dengan sarasehan, anjangsana, temu warga ataupun bentuk lainnya sesuai dengan kondisi kultur sosial budaya masyarakat.
(2) Menerima masukan dan saran aspirasi masyarakat guna bahan pertimbangan kebijakan untuk disampaikan Pemerintah Desa.
(3) Aspirasi masyarakat yang ditampung, disalurkan kepada Pemerintah Desa guna peningkatan penyelenggaraan Pemerintahan Desa.
BAB X
HUBUNGAN KERJA DENGAN KEPALA DESA DAN LEMBAGA MASYARAKAT DESA
Pasal 18
(1) Hubungan kerja BPD dengan Kepala Desa merupakan hubungan timbal balik dan kemitraan dalam rangka penyelenggaraan, pembangunan dan kemasyarakatan.
(2) Hubungan kerja BPD dengan Lembaga Kemasyarakatan merupakan hubungan konsultatif dan koordinatif.
BAB XI
SUSUNAN ORGANISASI Pasal 19
(1) Susunan organisasi BPD terdiri atas : a. Pimpinan BPD;
b. Anggota BPD
(3) Masing-masing bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipimpin oleh seorang koordinator bidang.
Pasal 20
(1) Pimpinan BPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a terdiri dari 1 (satu) orang Ketua, 1 (satu) orang Wakil Ketua dan 1 (satu) orang Sekretaris.
(2) Pimpinan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari dan oleh Anggota BPD secara langsung dalam rapat BPD yang diadakan secara khusus.
(3) Rapat pemilihan pimpinan BPD untuk pertama kalinya dipimpin oleh anggota tertua dan dibantu oleh anggota termuda.
BAB XII
KEUANGAN DAN ADMINISTRATIF Pasal 21
(1) Pimpinan dan Anggota BPD menerima tunjangan sesuai dengan kemampuan keuangan Desa
(2) Tunjangan Pimpinan dan Anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara proporsional oleh BPD bersama Kepala Desa berpedoman pada ketentuan yang berlaku.
(3) Tunjangan pimpinan dan anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam APB Desa.
Pasal 22
(1) Untuk kegiatan BPD disediakan biaya operasional sesuai kemampuan keuangan Desa yang dikelola oleh Sekretaris BPD.
(2) Biaya operasional BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara proporsional oleh BPD bersama Kepala Desa berpedoman pada ketentuan yang berlaku.
(3) Biaya operasional BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimasukkan dalam APB Desa. (4) Bupati menetapkan pedoman, plafon, dan pengggunaan biaya operasional BPD.
BAB XIII PEMBAGIAN TUGAS
Pasal 23 Pengurus BPD mempunyai tugas :
a. Menyusun rencana kerja dan mengadakan pembagian kerja Ketua dan Wakil Ketua dan bidang-bidang BPD serta mengumumkannya dalam rapat BPD;
b. Menetapkan kebijakan mengenai urusan rumah tangga BPD; c. Memimpin rapat BPD;
d. Menyimpulkan hasil rapat BPD;
e. Mengadakan koordinasi dengan Kepala Desa;
Setiap Anggota BPD kecuali unsur pimpinan BPD, harus menjadi anggota salah satu bidang; g. Setiap bidang dipimpin oleh ketua bidang;
1. Bidang Pemerintahan 2. Bidang Pembangunan 3. Bidang Kesra
Anggota BPD pengganti antar waktu menduduki tempat anggota bidang yang digantikannya.
Tugas dan Kewajiban Pimpinan Pasal 24
Tugas dan Kewajiban Pimpinan BPD :
a. Menyusun rencana kerja dan mengadakan pembagian kerja Ketua dan Wakil Ketua serta sekretaris serta mengumumkannya dalam rapat BPD;
b. Menetapkan kebijakan mengenai urusan rumah tangga BPD.
c. Memimpin rapat BPD dengan menjaga agar peraturan Tata Tertib dilaksanakan dengan seksama,
memberikan izin berbicara dan menjaga agar pembicara dapat menyampaikan pandangannya dengan tidak terganggu.
d. Menyimpulkan hasil pembahasan dalam rapat yang dipimpinnya. e. Melaksanakan Keputusan Rapat.
Menyampaikan keputusan rapat kepada pihak-pihak yang terkait langsung. g. Menyampaikan hasil musyawarah yang dianggap perlu kepada Kepala Desa. h. Mengadakan koordinasi dan konsultasi dengan pihak atau lembaga terkait.
Tugas Bidang-bidang Pasal 25 Bidang-bidang BPD mempunyai tugas :
a. Melakukan pembahasan terhadap Rancangan Peraturan dan rancangan Keputusan BPD yang termasuk dalam tugas bidang masing-masing;
b. Melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat yang termasuk tugas bidangnya;
c. Membantu pimpinan BPD untuk mengupayakan penyelesaian masalah yang disampaikan Kepala Desa kepada BPD;
d. Mengadakan rapat kerja BPD atau rapat dengar pendapat dengan Kepala Desa, Perangkat Desa maupun Pengurus Lembaga Kemasyarakatan desa;
e. Mengajukan usul dan saran kepada Pimpinan BPD yang termasuk dalam ruang lingkup pada bidangnya masing-masing.
BAB XIV PROGRAM KERJA
Pasal 26
(1) Untuk melaksanakan fungsi, tugas dan wewenang, serta hak dan kewajibannya, BPD membuat progam kerja tahunan.
(3) Hasil kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dirumuskan dalam rapat-rapat BPD serta ditindaklanjuti sesuai dengan tatatertib BPD.
(4) BPD melaksanakan evaluasi atas program kerja yang telah dilaksanakan.
BAB XV
JENIS, WAKTU DAN TATA CARA RAPAT SERTA PENGAMBILAN KEPUTUSAN Jenis Rapat
Pasal 27 Jenis rapat BPD antara lain :
a. Rapat Paripurna adalah rapat Anggota BPD yang dipimpin oleh Ketua atau Wakil Ketua selaku pimpinan rapat dan merupakan forum tertinggi dalam melaksanakan wewenang dan tugas BPD serta dapat mengambil keputusan untuk ditetapkan menjadi keputusan BPD;
b. Rapat Pimpinan adalah rapat unsur pimpinan yang dipimpin oleh Ketua BPD;
c. Rapat Kerja adalah rapat antara BPD dengan Pemerintah Desa atau dengan Lembaga Kemasyarakatan Desa;
d. Rapat Istimewa adalah rapat Anggota BPD atau bersama Pemerintah Desa untuk membahas permasalahan mendesak yang bersifat urgen untuk diselesaikan dan bersifat tertutup.
Waktu Rapat Pasal 28 Penentuan waktu rapat :
a. Rapat BPD dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun;
b. Waktu rapat dapat dilaksanakan pada siang hari atau malam hari yang jadwalnya ditetapkan oleh pimpinan BPD;
c. Apabila terdapat kepentingan yang bersifat mendesak, BPD dapat mengadakan rapat atau sidang sesuai dengan kebutuhan;
d. Untuk mengintensifkan kinerja BPD diadakan rapat rutin setiap tiga bulan.
Tata Cara Rapat Pasal 29 Tata cara rapat BPD :
a. Sebelum rapat dimulai setiap Anggota BPD harus menandatangani daftar hadir; b. Untuk para undangan disediakan daftar hadir tersendiri;
c. Rapat dibuka oleh pimpinan rapat apabila quorum telah tercapai berdasarkan kehadiran secara fisik kecuali ditentukan lain;
d. Anggota BPD yang menandatangani daftar hadir apabila akan meningggalkan rapat harus memberitahukan kepada pimpinan rapat.
1. Untuk kelancaran jalannya rapat, pimpinan rapat dapat menetapkan babak pembicaraan dan pembicara agar mencatatkan namanya terlebih dahulu sebelum pembicaraan dimulai dan pimpinan rapat menetapkan lamanya berbicara.
2. Apabila pembicara telah melampaui waktu yang telah ditentukan atau menyimpang dari pokok pembicaraan, pimpinan rapat dapat memperingatkan pembicara.
3. Setiap anggota BPD dapat mengajukan pertanyaan atau usul kepada Kepala Desa.
4. Pertanyaan atau usul disampaikan kepada pimpinan BPD secara singkat dan jelas baik secara lisan maupun tertulis.
5. Pembicaraan mengenai pertanyaan atau usul dilakukan dengan memberi kesempatan kepada: a. Anggota BPD lainnya untuk memberi pandangan.
b. Penanya/ pengusul memberi jawaban/ tanggapan atas pandangan para anggota BPD.
6. Keputusan atas usul kepada Kepala Desa dapat disetujui atau ditolak dan ditetapkan dalam rapat BPD. 7. Selama usul belum memperoleh keputusan/ tanggapan, para pengusul berhak mengajukan perubahan
atau menarik kembali.
8. Jika jawaban Kepala Desa telah disampaikan, tidak ada usul/ pertanyaan lagi, maka pembicaraan mengenai jawaban atau keterangan Kepala Desa dinyatakan selesai oleh BPD.
Pengambilan Keputusan Pasal 31
Tata cara pengambilan keputusan :
1. Pengambilan keputusan diusahakan dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat.
2. Apabila cara musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka pengambilan keputusan ditentukan berdasarkan suara terbanyak.
3. Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak (dengan ketentuan lebih dari setengah ) dilakukan dengan pemberian suara secara tertulis atau mengangkat tangan.
4. Setelah rapat selesai, sekretaris BPD menyusun risalah rapat yang antara lain memuat : a. Acara rapat.
b. Daftar hadir anggota.
c. Pokok-pokok masalah yang dibahas. d. Pokok-pokok pembicaraan para anggota. e. Pokok-pokok kesimpulan rapat.
5. Risalah rapat dijadikan dasar penyusunan keputusan BPD.
BAB XVI KODE ETIK
Pasal 32
(1) Dalam melaksanakan wewenang, tugas dan kewajibannya anggota BPD wajib menaati Kode Etik. (2) Kode Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi norma-norma atau aturan- aturan yang
merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan Peraturan Sikap, Perilaku, Ucapan, Tata Kerja, Tata Hubungan antar Lembaga Pemerintah Desa dan antar anggota serta antar Anggota BPD dengan pihak lain mengenai hal-hal yang diwajibkan, dilarang, atau tidak patut dilakukan oleh anggota BPD. (3) Kode Etik bertujuan untuk menjaga martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas anggota BPD serta
jawabnya kepada masyarakat dan Negara.
(4) Anggota BPD bertanggung jawab menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat desa secara adil tanpa memandang: Suku, Agama, Ras, Golongan, dan Gender.
BAB XVII LARANGAN ANGGOTA
Pasal 33
(1) Pimpinan dan Anggota BPD tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai Kepala Desa dan Perangkat Desa.
(2) Pimpinan dan Anggota BPD dilarang : a. Sebagai pelaksana proyek desa;
b. Merugikan kepentingan umum, meresahkan sekelompok masyarakat dan mendiskriminasikan warga atau golongan masyarakat lain;
c. Melakukan korupsi, kolusi, nepotisme dan menerima uang, barang dan atau jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya;
d. Menyalahgunakan wewenang;
e. Melanggar sumpah atau janji jabatan, dan;
Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan atau bertentangan dengan norma yang hidup dan berkembang dimasyarakat, serta melakukan perbuatan yang dapat menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap ketokohannya, seperti perbuatan asusila, perjudian, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya.
BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP
Pasal 34
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Tata Tertib BPD ini diatur lebih lanjut oleh Rapat Badan Permusyawaratan Desa.
Pasal 35
Peraturan Tata Tertib Badan Permusyawaratan Desa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Widasari Pada
Tanggal : 28 Juli 2013
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA WIDASARI KECAMATAN WIDASARI KABUPATEN INDRAMAYU
H. A N A S , S.Pd.I
Diposkan 23rd August oleh TOHA MANDALA
Label: TATA TERTIB
0
Tambahkan komentar
BPD DESA WIDASARI 2013 - 2019
TOHA MANDALA
PROFIL BDP
APBDes Widasari Tahun 2016
BERITA ACARA PEMBENTUKAN DAN PENGANGKATAN BPD
TATA TERTIB
Diposkan 26th August oleh TOHA MANDALA
0
Tambahkan komentar
Memuat
SARNITA TOHA. M. Template Tampilan Dinamis. Gambar template oleh RASimon.
TATA TERTIB BADAN
PERMUSYAWARATAN DESA
PERSATUAN
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA
( B P D )
DESA PERSATUAN KECAMATAN POPAYATO BARAT
KABUPATEN POHUWATO
PERATURAN BADAN PERMUSYAWARAN DESA PERSATUAN
KECAMATAN POPAYATO BARAT KABUPATEN POHUWATO
NOMOR: 02 TAHUN 2015
TENTANG
TATA TERTIB BADAN PERMUSYAWARATAN DESA PERSATUAN
KECAMATAN POPAYATO BARAT KABUPATEN POHUWATO
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA PERSATUAN
Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan pasal 77 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, serta untuk mengoptimalkan tugas dan fungsi Badan Permusyawaratan Desa ………. Kecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, perlu menetapkan Tata Tertib Badan Permusyawaratan Desa Persatuan Kecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, perlu menetapkan Peraturan Badan Permusyawaratan Desa …PersatuanKecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato.
2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Pohuwato di Provinsi Gorontalo (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4269);
3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);
4. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);
5. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksanaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400);
6. Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5495);
7. Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ( Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587 );
8. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 4021) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2001 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4165);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang
Menetapkan : PERATURAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Desa adalah desa ……… Kecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato yang
merupakan kesatuan masyarakat hukum, memiliki wilayah yang terdiri dari dusun dan berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2. Pemerintahan Desa adalah Pemerintahan Desa …Persatuan Kecamatan Popayato barat
Kabupaten Pohuwato sebagai penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa Persatuan Kecamatan Popayato barat
Kabupaten Pohuwato;
4. Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disebut BPD adalah BPD Desa
PersatuanKecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato;
5. Camat adalah Camat Popayato barat Kabupupaten Pohuwato;
6. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Pohuwato;
7. Bupati adalah Kepala Daerah Kabupaten Pohuwato;
8. Pimpinan BPD adalah Ketua dan Wakil Ketua serta 1 (satu) Sekretaris Badan Permusyawaratan
Desa;
9. Anggota BPD adalah Anggota Badan Permusyawaratan Desa Persatuan Kecamatan Popayato
barat Kabupaten Pohuwato;
10. Komisi/Panitia adalah Komisi – Komisi/Panitia didalam Badan Permusyawaratan Desa
PersatuanKecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato;
11.Peraturan Desa, selanjutnya disebut Perdes adalah Peraturan Desa PersatuanKecamatan Popayato
barat Kabupaten Pohuwato;
12. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, selanjutnya disingkat RPJM Desa, adalah
Rencana Kegiatan Pembangunan Desa Persatuan untuk jangka waktu 6 (enam) tahun;
13.Rencana Kerja Pemerintah Desa, selanjutnya disebut RKP Desa, adalah penjabaran dari RPJM
Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun;
14. Rancangan Peraturan Desa, selanjutnya disebut Ranperdes adalah Rancangan Peraturan Desa
15. Peraturan Tata Tertib adalah Peraturan Tata Tertib Badan Permusyawaratan Desa Persatuan Kecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato;
16. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APB Desa adalah Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa …Persatuan. Kecamatan Popayato barat Kabupaten Pohuwato;
BAB II
SUSUNAN DAN KEDUDUDKAN KEANGGOTAAN BPD
Susunan
Pasal 2
1) Angota BPD adalah wakil dari penduduk desa berdasarkan keterwakilan wilayah dusun yang
pengisiannya dilakukan dengan cara musyawarah dan mufakat secara demokratis;
2) Anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari Warga desa, Golongan Profesi,
Pemuka Agama, dan Tokoh atau pemuka masyarakat lainnya yang bertempat tinggal tetap di desa, merupakan perwakilan dari setiap dusun;
3) Jumlah Anggota BPD adalah ….. (………..) orang merupakan perwakilan dari setiap dusun,
dengan memperhatikan keterwakilan perempuan;
4) BPD terdiri dari pimpinan dan anggota;
5) Masa keanggotaan BPD selama 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah/janji;
6) Anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dipilih untuk masa keanggotaan paling
banyak 3 (tiga) kali secara berturut-turut atau tidak secara berturut-turut.
Kedudukan
Pasal 3
BPD berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa
BAB III
FUNGSI DAN WEWENANG BPD Pasal 4
BPD mempunyai fungsi dan wewenang:
a. membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa;
b. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa;
c. Memberikan usul dan saran kepada Kepala Desa tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa;
d. melakukan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial
kemasyarakatan Desa;
e. Menjelaskan kebijakan Pemerintah Desa kepada masyarakat;
f. Melaksanakan pemberdayaan masyarakat;
g. Membentuk panitia pemilihan kepala desa/panitia pemilihan kepala desa antar waktu;
h. Meminta laporan keterangan penyelenggaran pemerintahan secara tertulis dari kepala desa setiap
akhir tahun anggaran;
j. Melaksanakan konsultasi dengan organisasi kemasyarakatan atau lembaga kemasyarakatan; dan
k. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB IV
KEANGGOTAAN BPD
Pasal 5
1) Anggota BPD berjumlah 5 ( Lima ) orang;
2) Keanggotaan BPD diresmikan dengan keputusan bupati sesuai dengan laporan kepala desa yang
disampaikan melalui camat;
3) Masa jabatan anggota BPD adalah 6 (enam) tahun terhitung mulai tanggal pengucapan sumpah /
janji anggota BPD dan berakhir pada saat anggota BPD yang baru mengucapkan sumpah/janji;
4) Anggota BPD yang baru sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengucapkan sumpah/janji secara
bersama-sama bertepatan pada tanggal berakhirnya masa jabatan 6 (enam) tahun anggota BPD yang lama;
5) Dalam hal terdapat anggota BPD yang baru tidak dapat mengucapkan sumpah/janji bertepatan
dengan berakhirnya masa jabatan 6 (enam) tahun anggota BPD yang lama, masa jabatan anggota BPD dimaksud berakhir bersamaan dengan masa jabatan anggota BPD yang mengucapkan sumpah/janji secara bersama-sama;
6) Dalam hal tanggal berakhirnya masa jabatan anggota BPD jatuh pada hari libur atau hari yang
diliburkan, pengucapan sumpah/janji dilaksanakan hari berikutnya sesudah hari libur atau hari yang diliburkan dimaksud.
Pasal 6
1) Anggota BPD sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah / janji secara bersama-sama
yang dipandu oleh oleh bupati atau pejabat lain yang ditunjuk;
2) Anggota BPD yang berhalangan mengucapkan sumpah / janji bersama-sama sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mengucapkan sumpah / janji dipandu oleh Ketua BPD dalam rapat paripurna istimewa;
3) Anggota BPD pengganti antar waktu (PAW) sebelum memangku jabatannya, mengucapkan
sumpah/janji dipandu oleh Ketua BPD dalam rapat paripurna istimewa;
Pasal 7
1) Pengucapan sumpah/janji anggota BPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 didampingi oleh
rohaniawan sesuai dengan agamanya masing-masing;
2) Dalam pengucapan sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1), anggota BPD yang
a. Islam, diawali dengan frasa "Demi Allah";
b. Selain Islam, diawali dengan frasa “Demi Tuhan”;
c. Protestan dan Katolik, diakhiri dengan frasa "Semoga Tuhan menolong saya"; d. Budha, diawali dengan frasa "Demi Hyang Adi Budha"; dan
e. Hindu, diawali dengan frasa "Om Atah Paramawisesa".
3) Setelah mengakhiri pengucapan sumpah/janji, anggota BPD menandatangani berita acara
pengucapan sumpah/ janji.
Pasal 8
Susunan kata sumpah/janji anggota Badan Permusyawaratan Desa sebagai berikut:
”Demi Allah/Tuhan, saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku anggota Badan Permusyawaratan Desa dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya;
Bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara; dan
Bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta melaksanakan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya yang berlaku bagi Desa, daerah, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
BAB V
HAK DAN PELAKSANAAN HAK BPD
Hak BPD
Pasal 9
1) BPD Desa berhak:
a. mengawasi dan meminta keterangan tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada Pemerintah Desa;
b. menyatakan pendapat atas penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa; dan
c. mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari APB Desa.
2) Anggota BPD berhak:
a. mengajukan usul rancangan Peraturan Desa;
b. mengajukan pertanyaan;
c. menyampaikan usul dan/atau pendapat;
d. memilih dan dipilih; dan
Tata Cara Pelaksanaan Hak BPD
Pasal 10
1) Ketentuan hak – hak yang dimaksud pasal 9, hanya dapat diajukan oleh sekurang – kurangnya 3
orang anggota BPD;
2) Usul sebagaimana dimaksud ayat (1) disampaikan kepada pimpinan BPD secara tertulis, singkat
dan jelas ditanda tangani pengusul;
3) Selambat – lambatnya 1 minggu setelah menerima usul dimaksud ayat (2) Pimpinan BPD
mengadakan rapat / musyawarah;
4) Rapat / musyawarah dapat menerima atau menolak usul yang diajukan pengusul dengan
ketentuan, apabila usulan ditolak maka tidak boleh lagi diajukan untuk masa sidang atau rapat / musyawarah pada tahun berjalan dan apabila diterima harus ditindaklanjuti oleh Pimpinan BPD sesuai dengan kepentingannya.
Pasal 11
1) Hak mendapatkan biaya operasional BPD dalam melaksanakan fungsinya, sebagaimana
dimaksud pada pasal 9 ayat (1) huruf c digunakan untuk :
a. Biaya pelaksanaan sidang, rapat, musyawarah;
b. Biaya administrasi kesekertariatan;
c. Biaya peningkatan kapasitas kelembagaan dan keanggotaan BPD;
d. Biaya lain yang tidak bertentangan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Disamping biaya operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pimpinan dan anggota BPD
berhak mendapatkan :
a. Penghasilan tetap;
b. Tunjangan-tunjangan;
c. Pakaian dinas;
3) Dalam setiap tahun anggaran, BPD menyusun dan menetapkan kebutuhannya dalam Anggaran
Balanja BPD ;
4) Anggaran Balanja BPD sebagaimana dimaksud ayat (3) disusun oleh Panitia Anggaran setelah
menerima masukan dari para anggota BPD;
5) Anggaran Balanja BPD sebagaimana dimaksud ayat (4) disampaikan oleh ketua BPD kepada
Kepala Desa untuk dimasukan kedalam Rancangan APB Desa.
Pasal 12
1) Hak meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada pasal 9 ayat (1) huruf a diajukan kepada
Pimpinan BPD, disusun secara singkat, jelas dan ditandatangani oleh para pengusul serta diberi nomor pokok oleh sekretariat BPD ;
2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan dokumen yang memuat
sekurang-kurangnya:
a. materi kebijakan dan/atau pelaksanaan kebijakan Pemerintah Desa yang akan dimintakan
b. alasan permintaan keterangan.
Pasal 13
1) Usul interpelasi sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 disampaikan Pimpinan BPD pada rapat
paripurna BPD;
2) Dalam rapat paripurna BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), para pengusul diberi
kesempatan menyampaikan penjelasan lisan atas usul interpelasi tersebut;
3) Pembicaraan mengenai suatu usul interpelasi dilakukan dalam rapat paripurna BPD dengan
ember kesempatan kepada :
a. anggota lainnya untuk memberikan pandangan; dan
b. para pengusul untuk memberikan jawaban atas pandangan para anggota.
4) Keputusan persetujuan atau penolakan terhadap usul interpelasi ditetapkan dalam rapat paripurna
BPD;
5) Pengusul berhak mengajukan perubahan atau menarik kembali usul interpelasi sebelum
memperoleh keputusan BPD;
6) Usul interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak interpelasi BPD apabila
mendapat persetujuan dari rapat paripurna BPD yang dihadiri lebih dari 1/2 (satu perdua) dari jumlah anggota dan putusan diambil dengan persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota yang hadir;
7) Dalam hal rapat paripurna BPD menetapkan persetujuannya, Pimpinan BPD mengajukan
interpelasi sebagaimana dimaksud ayat (6) kepada kepala desa dalam rapat paripurna.
Pasal 14
1) Kepala desa dapat hadir dalam rapat paripurna sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (7)
untuk memberikan penjelasan tertulis terhadap interpelasi BPD;
2) Apabila kepala desa tidak dapat hadir untuk memberikan penjelasan tertulis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), kepala desa menugaskan perangkat desa untuk mewakilinya;
3) Setiap anggota BPD peserta paripurna dapat mengajukan pertanyaan lisan atas penjelasan kepala
desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2);
4) Terhadap penjelasan tertulis kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), BPD
dapat mengajukan pernyataan pendapat;
5) Pernyataan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan secara resmi oleh BPD
kepada kepala desa sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi;
6) Pernyataan pendapat BPD atas keterangan kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (5),