• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANAK AUTIS DARI SISI SOSIOLOGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANAK AUTIS DARI SISI SOSIOLOGI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENANGANAN KELUARGA TERHADAP ANAK AUTIS DALAM KEHIDUPAN SOSIALNYA (ANAK DEBIL SEBAGAI PEMBANDING)

Paper ini Ditulis

Sebagai Syarat Untuk Memenuhi Tugas dari Mata Kuliah SOSIOLOGI

Dosen Pengampu Fibry Jati Nugroho, M.Si.

Yang Disusun Oleh

NIKEN SUSANTI NIRM: 12311429

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SANGKAKALA GETASAN KABUPATEN SEMARANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

Manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa interaksi sosial dengan manusia lainnya. Manusia tidak bisa lepas dari komunikasi dan sosialisasi antar manusia lainnya.

“Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa” CITATION Rac08 \l 1033 . Seseorang dapat dikatakan sebagai

seorang individu apabila unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Setiap manusia mempunyai keunikan atau ciri khas masing-masing. Secara umum, manusia memang mempunyai perangkat fisik yang sama, namun sebenarnya berbeda.

Namun bagaimana dengan anak autis yang tidak seperti anak-anak normal pada umumnya. Secara umum, autis adalah gangguan perkembangan yang terjadi pada masa kanak-kanak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri” CITATION Rac08 \l 1033 .

Hal tersebut menjadi sangat bertentangan dengan prinsip yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Lalu apakah autis merupakan kasus khusus sehingga muncul penyataan baru bahwa manusia adalah makhluk sosial hanya berlaku bagi manusia pada umumnya sedangkan ada kaum tertentu yang tidak dapat disebut makhluk sosial? Hal ini akan dibahas dalam paper ini.

“Karl Marx beranggapan, bahwa masyarakat dan kegiatan-kegiatannya pada dasarnya merupakan alat-alat terorganisasi agar manusia dapat tetap hidup” CITATION Rac08 \l 1033 . Proses terjadinya pelapisan sosial dapat terjadi dengan

sendirinya namun juga bisa sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan.

(3)

Pelapisan sosial dalam masyarakat bukan saja karena ada perbedaan, tetapi karena kemampuan manusia menilai perbedaan itu. Banyak orang yang menilai bahwa anak autis itu berbeda sehingga mereka menganggap anak autis tidak layak untuk berkumpul dengan manusia normal, hal tersebut secara tidak langsung sedang membentuk kelas sosial dan juga pelapisan sosial. Dimana manusia normal merasa dirinya berada di lapisan atas, sedangkan kaum yang berkebutuhan khusus atau autis itu berada di lapisan bawah karena mereka tidak memiliki apa yang dimiliki manusia normal seutuhnya.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini:

 apa itu anak autis, dan sebagai pembanding ialah anak debil

 Bagaimana kehidupan sosial mereka (baik dengan orang tua maupun lingkungan sekitarnya)

 Perbedaan dari kedua tipe anak yang berkebutuhan khusus tersebut (autis dan debil) yang akhirnya mengakibatkan terbentuknya kelas sosial.

 Penanganan terhadap anak autis dan debil (sebagai pembanding). Peran keluarga di dalam kehidupan anak berkebutuhan khusus, terutama anak autis.

Batasan masalah yang diambil ialah mengenai kehidupan anak berkebutuhan khusus, terutama anak autis dan anak debil, dan bagaimana penanganan orang-orang disekitarnya terhadap mereka. Penulis membahas lebih banyak mengenai anak autis, karena anak tipe debil hanya sebagai pembanding. Penulis mengambil dua sampel untuk penelitian ini dengan metode perbandingan yang memang pada dasarnya kehidupan sosial anak autis dan anak debil ialah berbeda sehingga dalam penanganannya pasti berbeda.

(4)

C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kehidupan anak autis yang pada dasarnya adalah anak yang mempunyai dunianya sendiri, selain itu juga untuk mengetahui bagaimana kehidupan anak debil sebagai pembanding dengan anak autis. Dengan penelitian ini diharapkan orang-orang bisa lebih memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak penyandang kebutuhan khusus.

Penelitian semacam ini perlu dilakukan untuk mengurangi kesalahpahaman tentang anak autis dan debil, supaya adanya peningkatan kualitas dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Selain itu supaya orang-orang memberi perhatian kepada mereka khususnya dalam hal kehidupan sosial mereka. Perlu adanya suatu program atau kegiatan yang dapat menunjang kehidupan sosial mereka dengan masyarakat sekitarnya.

Dengan adanya penelitian ini, penulis dan pembaca bisa mengetahui kehidupan sosial anak autis dengan melihat pembandingnya yaitu anak berkebutuhan khusus tipe debil.

BAB II PEMBAHASAN A. PEMAHAMAN TENTANG AUTIS

Komunikasi merupakan syarat mutlak terjadinya interaksi sosial. “Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan” CITATION Rac08 \l 1033 .

Autis berasal dari kata “auto” yang berarti sendiri. Autis merupakan bentuk gangguan pada manusia yang ditandai dengan adanya kerusakan pada sosialisasi, komunikasi, dan imajinasi.

(5)

“Anak yang mengalami gangguan ini akan terlihat lebih emosional dan juga terdapat gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial”. CITATION Rac08 \l 1033

Anak autis merupakan seorang anak yang tidak melakukan interaksi sosial dengan manusia sekitarnya. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip manusia sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial yang berarti akan terus melakukan interaksi dengan sekitarnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Berbeda dengan anak autis yang pada dasarnya memiliki dunianya sendiri sehingga tidak peduli dengan lingkungan sekitar bahkan tidak ada interaksi di dalamnya. Namun hal tersebut menyalahi hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup seorang diri dan pasti membutuhkan makhluk lainnya.

Sosialisasi seorang anak autis sangat tergantung pada faktor IQ (Intelektual Quotient) yang dimiliki oleh masing-masing mereka. ada anak tergolong autis, dimana ia tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dengan baik namun ia memiliki bakat dalam bermain musik. Namun ada juga anak autis yang benar-benar memiliki dunianya sendiri tanpa peduli dengan dunia disekitar mereka. Seorang anak autis akan merasa asing berada di lingkungannya sendiri, ada banyak hal yang tidak dimengerti olehnya.

Banyak orang yang menganggap bahwa anak autis adalah orang berkebutuhan khusus yang mempunyai kemampuan di bawah rata-rata manusia normal. Anggapan semacam itu mengakibatkan orang-orang berkebutuhan khusus mengalami aleniasi (keterasingan). Meskipun hal itu memang benar, namun dengan di bawah rata-rata itulah seharusnya mereka lebih diperhatikan bukannya malah diasingkan.

Anak autis memiliki tingkat emosional yang tinggi dan ia lebih cenderung sensitive. Apabila ia dipelototi, di bentak dan dimarahi ia akan merasa tersinggung. Seorang autis yang tersinggung biasanya ia akan menangis atau bahkan memberontak. Gejala autis timbul saat anak berumur sebelum tiga tahun, bahkan ada yang sejak lahir.

Ada beberapa hal yang abstrak dalam diri anak autis, seperti:  Emosi

Seorang autis mempunyai tingkat emosi yang tidak jelas, bisa dikatakan labil namun kelabilannya tidak dapat disamakan dengan kelabilan yang dialami oleh seorang remaja yang sedang mengalami pertumbuhan atau pubertas.

 Tingkah laku sosial

(6)

Seorang penyandang autis memiliki tingkah laku sosial yang tidak cukup baik. Ia seolah tidak membutuhkan manusia lainnya, karena ada ataupun tidaknya manusia disekitarnya ia tetap tidak peduli. Meskipun begitu, anak autis sebenarnya sangat membutuhkan orang-orang terdekat.

 Imajinasi yang kuat

Orang autis merupakan orang yang memiliki tingkat imajinasi lebih tinggi.

Seorang autis tidak dapat dibandingkan dengan orang normal. Sehingga di dalam mendidik dan juga berkomunikasi dengannya akan sangat berbeda. Penderita autis akan lebih senang berimajinasi dalam pikiran dan dunianya sendiri, imajinasi di dunianya tersebut lebih membuatnya tertarik dibanding dengan apa yang ada di sekitar mereka secara nyata.

“Autis merupakan grey area di bidang kedokteran, yang artinya masih merupakan suatu hal yang menjadi mekanisme dan terapinya belum jelas” CITATION Rac08 \l 1033

B. SEKILAS TENTANG PANTI ASUHAN

Penulis melakukan penelitian pada satu panti asuhan yaitu Panti Asuhan Sumber Kasih yang terletak di daerah Karang Alit, Salatiga. Panti Asuhan yang berdiri sejak tahun 1984 ini merupakan panti asuhan di bawah pengasuhan Yayasan Elisabeth dengan alamat Jl. Purbaya 44 Karang Alit Keluarana Dukuh Kec. Sidomukti, Salatiga. Panti asuhan ini memiliki 32 orang yang diasuh. orang-orang di dalamnya merupakan orang-orang berkebutuhan khusus. Ada beberapa macam tipe kelainan yang di derita oleh pasien dalam panti asuhan tersebut, seperti anak autis, anak debil, disleksia, dan lainnya.

Panti asuhan tersebut merupakan tempat dimana orang-orang yang mengalami cacat mental akan diberi bimbingan sesuai dengan kemampuan mereka. Meskipun begitu panti asuhan ini tidak bisa menerima pasien dengan sembarangan, melainkan ada beberapa kriteria dan persyaratan yang harus dipenuhi. Semua anak panti di panti tersebut bukan anak normal, sebab panti asuhan tersebut didirikan hanya bagi orang yang berkebutuhan khusus. Selain itu, panti tersebut juga tidak menerima orang-orang yang mempunyai kelainan pada jiwanya. Sebab orang-orang cacat mental berbeda dengan orang sakit jiwa.

(7)

Sering kali orang sakit jiwa dengan orang yang menderita autis sulit untuk dibedakan, karena mereka sama-sama mempunyai dunia mereka sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar mereka. Namun keduanya merupakan hal yang sangat berbeda. Orang yang sakit jiwa merupakan orang yang pada dasarnya sehat secara fisik dan mental sejak lahir, namun di dalam proses kehidupannya ia mengalami berbagai persoalan dan tekanan yang mengakibatkan dirinya tertekan sehingga terjadilah tekanan yang dapat merusak kejiwaan seseorang. Sakit jiwa biasanya terjadi saat seseorang telah dewasa bukan karena faktor keturunan maupun faktor bawaan sejak lahir. Berbeda dengan orang autis atau berkebutuhan khusus, mereka menderita cacat mental sejak lahir ataupun sejak ia kecil.

“Beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab gangguan autis adalah faktor genetic (keturunan), virus seperti rubella, toxo, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, pendarahan, kekurangan oksigenasi, polusi udara air dan makanan, keracunan makanan pada masa kehamilan yang dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi, dan interaksi” CITATION Rac08 \l 1033 .

C. HASIL PENELITIAN

Penulis melakukan pembandingan kehidupan sosial antara anak autis dengan anak tipe Debil. Penulis mengambil contoh dari masing-masing tipe cacat mental.

Identitas Anak Autis

Nama : Alan Richard

Tempat, tanggal lahir : Bandung, 20 April 2003 Masuk Asrama pada : 25 November 2011

Alan atau yang lebih familiar dengan sebutan Yeyen, ia merupakan seorang anak bungsu dari kedua saudaranya. Yeyen lahir dengan keadaan normal dan sama seperti anak-anak pada umumnya. Pada awal perkembangannya Yeyen juga masih terlihat normal, namun pada usianya menginjak tiga (3) tahun orang tua Yeyen menjadi khawatir karena sampai usia itu Yeyen belum bisa berbicara.

Di usia tiga tahun Yeyen harus melakukan terapi selama satu tahun, karena ia belum bisa berkomunikasi dengan orang disekitarnya. Tetapi terapi tersebut tidak membuat Yeyen dapat berbicara, bahkan semakin hari Yeyen semakin tampak

(8)

aneh. Ia tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Meski berada di tengah kerumunan orang, ia tetap tidak peduli dan ia lebih suka bermain dengan dunianya sendiri. Yeyen sudah di bawa ke berbagai tempat pengobatan supaya ia bisa berbicara dan berkomunikasi seperti anak-anak pada umumnya. Namun semuanya itu tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya Yeyen diputuskan sebagai anak autis dengan ciri-ciri yang dimilikinya dan ia ditempatkan di panti asuhan.

Yeyen merupakan salah satu contoh penderita autis yang kemungkinan besar karena faktor keturunan atau genetik. Kakak Yeyen yang kedua juga menderita autis, namun tidak separah Yeyen yang tidak bisa berinteraksi sosial dan berkomunikasi dengan orang lain. Kakak Yeyen tersebut autis namun memiliki tingkat IQ yang lebih tinggi dibanding dengan Yeyen.

Yeyen dan kakaknya sama-sama menderita autis, namun mereka mengalami pembedaan sikap dari keluarga dan orang disekitarnya. Karena tingkat kecerdasan yang berbeda dengan orang lain, seseorang bisa saja diasingkan.

Identitas Anak Debil

Nama : Didik Darmadi

Tempat, tanggal lahir : Tengaran, 20 Desember 2013 Masuk asrama pada : 6 Juni 1994

Didik merupakan seorang yang dibesarkan di Panti Asuhan Tanah Putih Semarang, ia tidak mengetahui siapa orang tua dan keluarganya karena sejak ia lahir ia sudah berada di Panti Asuhan Tanah Putih. Namun di usianya yang ke delapan tahun, Didik di pindah panti asuhan karena ia menderita cacat mental, lebih tepatnya Debil.

(9)

Selain itu, Didik juga kurang mempunyai keseimbangan dengan lidahnya sehingga ia mengalami kesulitan dalam berbicara.

Meskipun demikian Didik memiliki kelebihan dibanding anak-anak di panti asuhan tersebut. Ia sangat suka berternak. Ia memiliki berbagai jenis hewan peliharaan di panti, seperti bebek, angsa, ayam, dan anjing. Ia memperhitungkan segala sesuatu yang menjadi keperluan dan pakan bagi hewan tersebut. Ia juga pandai dalam berhitung uang. Bahkan Didik pernah sekolah di SLB sampai dengan tingkat setara dengan SMA. Hal semacam itu menunjukan bahwa tingkat kecerdasannya yang membuatnya berbeda dari anak-anak panti lainnya.

AUTIS DALAM SISI SOSIAL

“Max Weber menjelaskan stratifikasi sosial dalam tiga dimensi, yaitu:”

CITATION Rac08 \l 1033

1. Dimensi kekayaan 2. Dimensi kekuasaan 3. Dimensi prestise

Kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki seseorang sering kali menjadi hal utama yang membentuk adanya kelas sosial. Selain itu, kehormatan yang dimiliki oleh seseorang juga dapat mempengaruhi kelas sosial yang terbentuk. Dalam kasus semacam ini yang menjadi faktor utama terjadinya kelas sosial ialah adanya dimensi kehormatan.

Karena tingkat kecerdasan Yeyen yang jauh di bawah kakaknya, ia menjadi terasing dari keluarganya. Hal tersebut dapat dilihat dari sudut pandang sosial, dimana telah terjadi pembedaan kelas sosial dalam keluarga tersebut. Keduanya sama-sama menderita autis namun karena perbedaan tingkat kecerdasan, mereka mengalami pembedaan sikap.

(10)

Pembedaan kelas sosial tersebut juga dapat mengakibatkan timbulnya pelapisan sosial. “Pelapisan sosial adalah pembedaan individu atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis)” CITATION Rac08 \l 1033 .

Didik memang jauh lebih pintar dari Yeyen. Yeyen yang tidak bisa berbicara, bahkan aktif dengan dunianya sendiri sedangkan Didik masih seperti manusia normal hanya saja ia mengalami cacat fisik dan mental namun tidak separah Yeyen.

D. KEHIDUPAN SOSIAL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (AUTIS DAN DEBIL) “Autisme merupakan salah satu penyimpangan dalam perkembangan sejak masa bayi yang ditandai adanya gangguan pada hubungan interpersonal (interakasi sosial), gangguan pada perkembangan bahasanya (komunikasi) dan adanya kebiasaan untuk melakukan pengulangan tingkah laku yang sama” CITATION Rac08 \l 1033 . Penyimpangan

ini menjadi suatu permasalahan yang sulit bagi orang tua maupun keluarganya.

Permasalahan orang tua yang anaknya menderita autis bukanlah berfokus bagaimana menyembuhkannya, melainkan bagaimana beradaptasi terhadapnya dan tekanan yang dihadapinya. Tidak mudah bagi orang tua untuk menghadapi kenyataan bahwa anak mereka mengalami gangguan autis. Sehingga tidak heran bila ia menjadi diasingkan dari lingkungan keluarganya. Namun harus disadari bahwa peran orang tua bagi anak penyandang autisme sangat penting, banyak hal yang harus dilakukan orang tua anak autis maupun anak menyandang kebutuhan khusus lainnya.

Beberapa Gejala Sosial, baik dalam komunikasi maupun interaksi sosial yang di alami anak autis, yaitu:

 Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang memadai, seperti kontak mata yang tidak jelas,ekspresi dan gerak gerik yang kurang tertuju.

 Tidak bisa bermain dengan baik dengan teman-temannya, ia lebih suka bermain sendiri seolah-olah ia mempunyai dunianya sendiri.

 Tidak ada empati dan tidak dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.

CITATION Rac08 \l 1033 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), 199.

(11)

 Kurang mampu bahkan tidak mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.

 Perkembangan bicara sangat lambat bahkan tidak berkembang sehingga ada banyak autis yang bisu atau tidak bisa berbicara.

 Jika bisa berbicara, berbicaranya kurang jelas dan menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.

 Ada satu pola yang dipertahankan sehingga itu menjadi suatu kebiasaan, rutinitas atau kesenangan tersendiri baginya.

 Saat ia mempunyai minat dalam satu hal, maka ia hanya akan fokus pada satu hal saja.

 Anak autis memiliki cara bermain yang kurang variatif, kurang imajinasi, dan kurang dapat meniru.

Anak debil sangat berbeda dengan anak autis. Anak debil masih bisa berkomunikasi lancar dengan sesama dan sekitarnya. Anak penderita debil identik dengan cacat fisik dan mental, namun tingkat kecerdasan komunikasi, imajinasi, dan sosialisasinya jauh lebih baik dibanding dengan anak penderita autis.

Dalam kehidupan asrama di panti, anak autis akan bermain sendiri-sendiri. Ia tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ia tidak mampu berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik dengan teman-temannya, bahkan dengan pengasuhnya pun ia tidak mampu berkomunikasi. Anak autis dalam panti asuhan Sumber Kasih harus selalu berada dalam pengawasan pengasuh, karena mereka merupakan autis yang sangat aktif bergerak.

Didik lebih mampu berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Ia bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Ia pernah bersekolah, hal ini dapat menjadi bukti bahwa ia bisa berinteraksi dengan orang lain. Sebab dalam suatu kegiatan belajar mengajar pasti dibutuhkan interaksi sosial atau hubungan timbal balik.

E. MASALAH SOSIAL YANG TIMBUL

Lapisan masyarakat atau stratifikasi sosial sebenarnya tidak hanya terjadi karena faktor ekonomi, kekayaan maupun kekuasaan saja, seperti yang diungkapkan Filsuf Yunani. “Filsuf Aristoteles (Yunani) mengatakan di dalam Negara terdapat tiga unsur,yaitu mereka kaya sekali, melarat, dan berada di tengah-tengahnya” CITATION Rac08 \l 1033 .

(12)

Stratifikasi sosial sering kali juga terjadi dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar. Seorang anak autis akan mengalami keterasingan (aleniasi) jika di tengah-tengah keluarganya yang normal. Seperti halnya Yeyen, ia yang menderita autis lebih parah dibanding Kakak kandungnya sendiri, ia harus ditempatkan pada satu panti asuhan.

Perasaan malu untuk menjelaskan pada orang lain mengenai anaknya yang autis pastilah juga dirasakan oleh orang tua. Namun bukan berarti orang tua melepaskan tanggung jawab terhadap si anak.

Jika dalam lingkungan keluarga saja seorang autis mengalami keterasingan, apalagi saat berada pada lingkungan komunitas yang lebih besar. Keterasingan yang dialami oleh anak autis pada dasarnya tidak bermasalah bagi diri anak itu sendiri. Karena seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa anak autis itu mempunyai dunianya sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

Selain itu, masalah yang timbul adalah berbagai macam pandangan manusia lain yang jauh lebih baik atau manusia normal terhadap anak autis dan debil. Kesenjangan sosial juga terjadi diantara mereka. Banyak orang yang menilai rendah dan tidak mau berkumpul dengan seseorang hanya karena kekurangan fisik maupun mental yang dialaminya. Hal tersebut memunculkan kelas sosial yaitu kelas orang-orang yang normal dan kelas orang-orang berkebutuhan khusus. Kelas tersebut terbentuk secara tidak langsung. Adanya kelas sosial ini membentuk adanya satu pembedaan perilaku sosial dan hak mereka.

Ada banyak pandangan yang menganggap bahwa anak berkebutuhan khusus itu berbeda dan harus diperlakukan secara khusus. Pandangan semacam itu memang tidak salah, namun harus diingat bahwa perlakuan khusus yang dimaksud ialah dalam menangani segala kebutuhan mereka diperlukan penanganan secara khusus, karena kebutuhan dan kebiasaan dari mereka lebih ekstra.

(13)

Hal tersebut dapat membuat penyimpangan sosial, karena setiap manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlakuan yang sama dari setiap individu-individu lainnya.

F. PENANGANAN KELUARGA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM KEHIDUPAN SOSIALNYA

Setiap orang tua berharap mempunyai anak yang sempurna baik secara fisik maupun mental. Tetapi ada kalanya kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Anak yang diharapkan bertumbuh kembang dengan baik, ternyata mengalami gangguan perkembangan sehingga mengganggu seluruh aspek kehidupannya termasuk kehidupan sosialnya. Awalnya orang tua akan shock karena bingung harus berbuat apa. Dampak dari keterkejutan, kebingungan, rasa bersalah, dan bahkan pertengkaran orang tua yang berlarut-larut dapat merugikan anak tersebut yaitu karena anak tersebut tidak diatur sebagaimana mestinya.

Keluarga mempunyai pengaruh yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Bagaimana keluarga memperlakukan anak-anaknya itu akan mempengaruhi seberapa kemajuan perkembangan anak. Hal itu tidak hanya berlaku bagi anak normal saja, melainkan juga berlaku bagi anak autis atau anak berkebutuhan khusus lainnya. Penerimaan atau penolakan yang diterima si anak dalam keluarga? Anak autis juga masih membutuhkan kasih sayang dari keluarga, bukan hanya dari pengasuh saja.

Keluarga seharusnya bisa tetap menjalin interaksi sosial dengan anak, memperkenalkan kepada mereka setiap anggota keluarga. Mencoba berkomunikasi dengannya meskipun ia tidak merespon. Pola interaksi sosial perlu dilakukan secara rutin dan continue. Sebab anak autis dapat saja belajar ataupun diajari apabila ia dilatih, diperlihatkan atau ditunjukan lalu dipraktekkan secara rutin, berulang-ulang.

(14)

Stimulus-stimulus yang diberikan orang tua terhadap anaknya akan mempengaruhi perkembangan si anak. Anak autis cenderung sensitive dan mudah tersinggung atau mudah terluka. Sehingga dalam berkomunikasi dengan si anak diperlukan kehati-hatian yang ekstra dalam bertindak kepadanya. Sebab meskipun ia mengalami kecacatan pada mental mereka, namun mereka masih mempunyai telinga yang bisa mendengar dan hati yang masih bisa merasakan sesuatu.

Anak autis masih bisa merasakan yang namanya senang, sedih, terluka, dan marah. Untuk itulah pentingnya penanganan yang tepat padanya.

Pengasuh mungkin diperlukan jika orang tua dan keluarga tidak sanggup merawatnya sendiri dan diperlukan orang yang ahli di dalam penanganan anak autis. Namun bukan berarti keluarga lepas tanggung jawab. Keluarga harus tetap berperan aktif di dalam proses perkembangan si anak. Keluarga seharusnya mempunyai waktu dimana mereka bisa berkomunikasi misalnya mengajak bercerita si anak, memperkenalkan mereka kepada lingkungan sekitar. Apabila si anak bisa berbicara meskipun tidak selancar dan sebaik anak normal, berikan kesempatan padanya untuk bercerita, lalu kita tanggapi dengan jawaban yang positif bukan malah mengejek atau menyepelekan karena pembicaraannya yang tidak jelas.

Beri kesempatan pada anak untuk melakukan interaksi sosial dengan kita, dengan perlahan-lahan kita ajarinya untuk berbicara yang benar, membiasakannya untuk bertindak sopan kepada setiap orang. Dalam melatih dan membiasakan segala bentuk proses sosialisasi memanglah sangat diperlukan kesabaran dan ketekunan yang rutin dan continue serta juga ekstra dibanding melatih anak normal.

“Orang tua yang mampu berperan dengan baik biasanya memberikan dukungan baik jasmani maupun rohani, seperti menyekolahkan anak di sekolah khusus serta turut ambil bagian dalam pengasuhan anak. Selain itu, orang tua yang memiliki anak autis tidak cukup hanya menerima anak apa adanya saja tetapi juga harus menerima diri sendiri. Orang tua yang dapat menerima diri sendiri, merasa yakin dengan haknya selaku orang tua untuk mengatakan ‘ya tau tidak’ dan dapat menghargai anak tanpa membedakan anak satu dengan anak yang lain” CITATION Rac08 \l 1033

Hal diatas merupakan beberapa contoh perlakuan khusus yang perlu dilakukan keluarga terhadap anak autis. Keluarga mempunyai peran yang cukup penting dalam proses perkembangan anak yaitu dengan mendukung si anak. Mendukung tidak hanya

(15)

dalam hal materi, dengant tidak mengasingkan si anak dari antara anggota keluarganya juga merupakan hal yang mampu mendukung, yaitu mendukung si anak untuk terus berlatih berinteraksi dengan keluarga. Sebab bagaimanapun juga keluargalah yang terdekat dan yang memahami keadaan si anak.

Dengan adanya hal tersebut maka tidak akan ada kelas sosial di dalam suatu keluarga. Kelas sosial yang terbentuk karena malu mengakui kepada orang lain mengenai salah satu anggota keluarganya autis tidak dapat menyelesaikan permasalahan dan tekanan yang dihadapi. Kelas sosial justru bisa membuat si anak merasa terasing. Keluarga yang tidak menderita cacat mental menjadi kaum kapitalis yang berkuasa atas segala sesuatu dan bisa bertindak semaunya. Sedangkan si anak autis atau debil sebagai kaum bawahan yang bisa saja diperlakukan seenaknya sendiri bahkan dianggap tidak penting karena keterbatasannya itu. Kaum bawahan ini haknya dapat dieksploitasi sehingga si anak tidak menerima apa yang memang seharusnya menjadi miliknya. Keakraban, komunikasi, interaksi sosial dan keluarga merupakan hak yang seharusnya dirasakan oleh si anak.

Untuk itulah perlunya tingkat kesadaran keluarga bahwa semua anak tak terkecuali anak autis membutuhkan komunikasi dan interaksi sosial dengan manusia. Si anak autis seharusnya tidak mengalami keterasingan (alienasi) sebab ia juga manusia yang memiliki hak yang sama. Hanya saja perlu dipahami mengenai penanganannya yang ekstra.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN

(16)

menganggap diri lebih baik dan lebih tinggi derajatnya di banding anak autis maupun anak debil, itu merupakan suatu kesalahan. Sebab anak berkebutuhan khusus, baik itu autis maupun debil, mereka tetaplah manusia sosial. Meskipun mempunyai kelemahan dalam berkomunikasi, sosialisasi, dan imajinasi, namun anak autis tetap tergolong makhluk sosial. Sebab mereka masih bisa berinteraksi jika mereka di latih dengan sabar dan rutin.

Peran orang tua dan keluarga menjadi sangat penting bagi kehidupan anak, termasuk juga anak autis. Meskipun anak autis seolah memiliki dunianya sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, anak autis perlu disadarkan bahwa disekitarnya ada orang-orang yang menginginkan untuk berkomunikasi dengannya. Hal itu bisa dimulai dengan cara tidak bosan dan tidak putus asa untuk melatih si anak secara rutin. Sama halnya dengan manusia normal yang memiliki tingkat IQ yang berbeda-beda, demikian pula dengan anak berkebutuhan khusus. Mereka juga memiliki tingkat kecerdasannya masing-masing, dimana kecerdasan itu harus terus dilatih dan dikembangkan. Termasuk juga kemampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Setiadi, Elly M.; Ilmu Sosial Budaya dan Dasar. Jakarta: Kencana, 2006

(17)

Damsar. Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2011.

Horton, Paul B.; Hunt, Chester L.; Sosiologi Jilid Dua. Jakarta: Erlangga, 1984. Ritzer, George.; Goodman, Douglas J.; Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana, 2008.

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Garfindo Persada, 2012.

Fadhli, Aulia.; Buku Pintar Kesehatan Anak. Yogyakarta: Pustaka Anggrek, 2010.

[ CITATION Rac08 \l 1033 ]

Referensi

Dokumen terkait

Anak autis merupakan anak yang mengalami gangguan perilaku, perilaku anak autis yang tidak seperti anak normal lainnya seperti bahasa yang tidak efektif, tidak dapat

Kesimpulan penelitian tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada indeks def-t pada anak autis dengan anak normal kecuali untuk nilai “e” (indikasi ekstraksi) dan terdapat

Oleh sebab itu, dalam penyampaian materi pembelajaran shalat pada anak autis tentunya tidak semudah seperti penyampaian materi atau pembelajaran pada anak-anak

Kebahagiaan orangtua yang memiliki anak autis seperti Nia memang berbeda dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh orangtua yang memiliki anak normal. Nia mengaku akan

Perilaku komunikasi pada anak autis, mendorong orang yang ada disekitarnya mengerti dengan apa yang dikomunikasikan anak atau apa yang diinginkan anak, karena mereka

tingkat kemampuan dan kebutuhan anak-anak Autis. Dalam proses pembelajaran, setiap guru menggunakan cara yang berbeda- beda, namun tetap mengutamakan interaksi dengan anak-anak

tingkat kemampuan dan kebutuhan anak-anak Autis. Dalam proses pembelajaran, setiap guru menggunakan cara yang berbeda- beda, namun tetap mengutamakan interaksi dengan anak-anak

Dari penelitian yang dilakukan pada anak berkebutuhan khusus R, mengenai kemampuan berbicara anak autis menggunakan teori Scovel, yaitu empat tahapan produksi bahasa oleh manusia