BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Carl Jung adalah seorang psikiater muda di Zurich ketika ia membaca Interpretation of dream karya Freud tak lama sesudah diterbitkan pada tahun 1900. Karna Jung sangat terkesan oleh ide- ide Freud, yang digunakan dan diujinya dalam praktiknya sendiri, maka Jung mengirim kepada Freud salinan dari tulisan-tulisannya, yang pada umumnya mendukung pandangan Freud. Pada tahun 1906 mulailah hubungan surat-menyurat yang teratur antara keduanya, dan tahun berikutnya Jung mengunjungi Freud di Wina untuk pertama kalinya dimana mereka bercakap-cakap tanpa putus selama 13 jam! Freud memutuskan bahwa Junglah yang akan menjadi penggantinya, “putra mahkotanya” seperti yang ditulisnya kepada Jung.
Ketika Asosiasi Psikonalitik Internasional didirikan pada tahun 1910, Jung menjadi ketua yang pertama, jabatan yang dipegangnya sampai tahun 1914. Pada tahun 1909, Freud dan Jung mengadakan perjalanan bersama ke Universitas Clark di Worchester, Massachusetts, keduanya diundang untuk menyampaikan serangkaian ceramah pada perayaan 20 tahun berdirinya universitas tersebut. Akan tetapi 3 tahun kemudian, hubungan pribadi antara Freud dan Jung mulai dingin sampai akhirnya pada awal tahun 1913 mereka mengakhiri hubungan surat-menyurat pribadi dan beberapa bulan kemudian hubungan surat-surat-menyurat mengenai masalah pekerjaan juga berakhir. Pada bulan April 1914, Jung meletakkan jabatan ketua asosiasi, dan bulan Agustus, 1914, ia menarik diri dari keanggotaan.
Meskipun penyebab perpecahan hubungan yang sebelumnya akrab itu adalah kompleks dan sangat prinsipial, meliputi berbagai ketidak cocokan dalam hal kepribadian maupun pandangan intelektual, namun salah satu alasan yang penting adalah penolakan jung terhadap panseksualisme frued. “alasan utamanya ialah bahwa freud, mengidentifikasikan metodenya dengan teori seks, yang saya anggap tidak dapat diterima” (komunikasi pribadi dari jung, 1954). Jung mulai menyusun teori psikoanalisis dan metode psikoterapinya sendiri yang menjadi terkenal sebagai psikologi analisik yang garis- garisnya telah diletakan sebelum pertemuannya dengan freud dan yang secara konsisten dikembangkannya selama ia bersatu dengan freud ( jung, 1913).
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dan berdasarkan kenyataan-kenyataan yang ada, Maka dari itu penulis merumuskan permasalahan-permasalahan yang terdapat didalamnya, diantaranya adalah:
1. Siapakah Tokoh dari Psikologi Analitik ini?
2. Apa sajakah Teori yang dipakai dalam Psikologi Analitik ini? 3. Adakah Contoh Kasus yang dipakai dalam Teori ini?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini diantaranya adalah :
1. Untuk mengetahui Tokoh dari teori Psikologi Analitik 2. Untuk dapat memahami Psikologi Analitik Jung
3. Untuk mengetahui teori Analitik Jung secara luas
1.4 Sistematis Penulisan
Adapun Sistematika yang akan kami bahas pada bab I adalah : Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Biografi Carl Gustav Jung
Sebelum membicaran ciri- ciri segi pandangan jung yang menonjol dan khusus, marilah kita meninjau secara singkat beberapa segi kehidupannya. Carl Gustav Jung lahir di Kesswyl, suatu kota dikawasab Lake Costance di Canton Thurgau, swiss, pada tanggal 26 Juli, 1875, dan besar di Basel. Ayahnya adalah seorang pendeta pada Gereja Reformasi Swiss. Jung masuk Universitras basel dengan tujuan untuk menjadi seorang arkeologi tetapi suatu mimpi telah membangkitkan minatnya dalam study ilmu- ilmu alam dan secara kebetulan dalam ilmu kedokteran. Setelah ia mendapat gelar kedokteran dari universitas Basel ia menjadi asisten pada Rumah Sakit Jiwa di Burghlzli, Zurich, dan Klinik Psikiatri Zurich dan mulailah kariernya dalam psikiatri.dia membantu dan kemudian bekerja sama dengan Eugen Bleuler, psikiater terkenal yang mengembangkan konsep tentang skizofrenia, dan belajar sebentar pada Pierre Jenet, murud dan pengganti Charcot di Paris. Dalam tahun 1909 ia melepaskan pekerjaannya di Burgholzli dan pada tahun 1913 ia melepaskan jabatan lektor dalam psikiatri pada Universitas Zurich supaya dapat mencurahkan seluruh waktunya untuk praktik privat, memberikan latihan, penelitian, bepergian dan menulis. Selama bertahun- tahun ia mengadakan seminar dalam bahasa inggris untuk mahasiswa- mahasiswa yang berbahasa inggris, dan tak lama setelah ia berhenti dari kegiatan mengajar, sebuah lembaga pendidikan untuk menghormati namanya didikan di Zurich.
Carl Gustav jung di akui sebagai salah seorang diantara ahli- ahli pikir psikologi yang terkemuka abad XX. Selam 60 tahun, ia mengabdikan dirinya dengan segenap tenaga dan tujuan tunggal untuk menganalisis proses- proses kepribadian manusia yang sangat luas dan dalam. Tulusan- tulisannya sangat banyak dan pengaruhnya tidak dapat duikur. Ia terkenal tidak hanya dikalangan orang- orang terdidik di semua bidang kehidupan. Banyak tanda jasa dianugrahkan kepadanya antara lain gelar- gelar kehormatan dari Universitas Harvard dan Oxford. Ia sering memberikan kuliah di amerika serikat dan dinegara ini ia memiliki banyak pengikut dan pengagum. Sebenarnya seluruh tulisan jung sekarang tersedia dalam 20 jilid, terbitan dalam bahasa inggris. Disamping surat- surat freud/jung yang telah disebut, 2 jilid surat- surat jung juga telah ditebitkan. Ada juga satu jilid buku berisi wawancara dan percakapan dengan jung.
Meskipun teori kepribadian jung biasanya di pandang sebagai teori psikoanalitik karena tekanannya pada proses- proses tak sadar, namun berbeda dalam sejumlah hal penting dengan teori kepribadian Freud. Mungkin segi paling khusus dan paling mencolok dalam pandangan jung tentang manusia adalah bahwa ia menggabungkan teleologi dan kausalitas. Tingkah laku manusia ditentukan tidak hanya oleh sejarah individu dan rasi (kausalitas) tetapi juga oleh tujuan dan aspirasi- aspirasi (teleologi). Baik masa lampau sebagai aktualitas maupun masa depan sebagai potensialitas sama- sama membimbing tingkah laku orang sekarang. Pandangan jung tentang kepribadian adalah prospektif dalam arti bahwa ia melihat ke depan arah garis perkembangan sang pribadi dimasa depan dan retrospektif dalam arti bahwa ia memperhatikan masa lampau.
Mengutip kata- kata jung orang hidup dibimbing oleh tujuan maupun sebab- sebab. Penekanan pada peranan tujuan dalam perkembangan manusia ini menjadikan jung jelas berbeda dari Freud. Bagi Freud, hanya ada pengulangan yang tak habis- habisnya atas tema- tema insting sampai ajal menjelang. Bagi jung, ada perkembangan yang konstan dan seringkali kreatif, pancarian, ke arah keparipurnaan dan kepenuhan, serta kerinduan untuk lahir kembali. Teori jung juga berbeda dari semua pendekatan lain tentang kepribadian karena tekanannya yang kuat pada dasar- dasar ras dan filonetik kepribadian.
samar- samar dan tidak diketahui. Dasar- dasar keperibadian bersifat arkhaik, primitif, dan bawaan, tak sadar dan mungkin universal. Freud menekankan asal usul kepribadian pada kanak-kanak sedangkan jung menekankan asal- usul kepribadian pada ras. Manusia dilahirkan dengan membawa banyak kecenderungan yang diwariskan oleh leluhur- leluhurnya, kecenderungan ini membimbing tingkah lakunya dan sebagian menentukan apa yang akan disadarinya dan diresponnya dalam dunia pengalamannya. Dengan kata lain ada kepribadian kolektif menjangkau dunia pengalaman dan diubah serta diperkaya oleh pengalaman- pangalaman yang diterimanya. Kepribadian individu merupakan hasil daya batin yang mengenai dan dikenai oleh daya-daya dari luar.
Penghargaan yang tinggi terhadap latar belakang ras sang pribadi ini dan pengaruhnya terhadap manusia dewasa ini mengandung arti bahwa jung melebihi semua psikologi lain, menyelidiki sejarah manusia untuk mengungkapkan apa saja yang bisa di ungkapnya tentang asal usul ras dan evolusi kepribadian. Ia meneliti mitologi, agama, lambang- lambang dan upacara-upacara kuno, adat istiadat dan kepercayaan manusia primitif, dan juga mimpi, penglihatan, simtom- simtom orang- orang neurotik, dan halusinasi serta delusi para penderita psikosis, dalam rangka mencari akar- akar dan perkembangan- perkembangan kepribadian manusia, pengetahuan dan pemahamannya mungkin tidak terkalahkan oleh para psikologi dewasa ini. Dry (1961) menyebutkan beberapa di antara perkembangan- perkembangan intelektual penting pada abad XIX yang agaknya mempengaruhi jung. Pertama, ada para filusuf, khususnya Schopenhauer, Von Hartmann, dan Nietzsche, dengan konsepsi mereka tentang ketidaksadaran, polaritas kearah kesatuan, dan substitusi atas akal dengan kemauan atau intuisi dalam memahami realitas.
2.2 Psikologi Analisis Jung
2.2.1 Ego Sadar
Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan sadar. Ego melahirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang, dan dari segi pandangan sang pribadi ego dipandang berada pada kesadaran. Ego yang dikemukakan oleh Jung ini sangat mirip dengan ego yang diajukan oleh Freud dalam hal cakupan dan artinya, yaitu aspek dari kepribadian yang disadari, ditambah dengan perasaan akan diri (Jung percaya bahwa identitas personal ini, atau ego, berkembang ketika individu berusia sekitar empat tahun).
2.2.2 Ketidaksadaran Pribadi
Ketidaksadaran pribadi adalah daerah yang berdekatan dengan ego. Ketidaksadaran pribadi terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah sadar tetapi kemudian direpresikan, disupresikan, dilupakan atau diabaikan serta pengalaman-pengalaman yang terlalu lemah untuk menciptakan kesan sadar pada sang pribadi. Isi dari ketidaksadaran pribadi, seperti isi bahan prasadar pada konsep Freud, dapat menjadi sadar, dan berlangsung banyak hubungan dua arah antara ketidaksadaran pribadi dan ego.
Kompleks-kompleks. Kompleks adalah kelompok yang terorganisasi atau konstelasi perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan ingatan-ingatan yang terddapat dalam ketidaksadaran pribadi. Kompleks memiliki inti yang bertindak seperti magnet menarik atau ”mengkonstelasikan” berbagai pengalaman ke arah (Jung, 1934).
pisikhe untuk tujuan-tujuannya sendiri, sebagaimana Tolstoy pernah dikatakan didominasi oleh ide simplifikasi sedangkan Napoleon oleh nafsu kekuasaan.
Inti tersebut dan banyak unsurnya yang terkait pada setiap saat bersifat tak sadar, tetapi masing-masing kaitan tersebut dapat dan seringkali menjadi sadar.
2.2.3 Ketidaksadaran Kolektif
Konsep ketidaksadaran kolektif atau transpersonal merupakan salah satu diantara segi-segi teori kepribadian Jung yang paling original dan kontroversial. Ia merupakan sistem psikhe yang paling kuat dan paling berpengaruh, dan pada kasus-kasus patologis ia mengungguli ego serta ketidaksadaran pribadi (Jung, 1936, 1945).
Ketidaksadaran kolektif adalah gudang bekas-bekas ingatan laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang, masa lampau yang meliputi tidak hanya sejarah ras manusia sebagai suatu spesies tersendiri tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya. Ketidaksadaran kolektif adalah sisa psikik perkembangan evolusi manusia, sisa yang menumpuk sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang berulang selama banyak generasi. Ketidaksadaran kolektif hampir sepenuhnya terlepas dari segala segi pribadi dalam kehidupan seorang individu dan nampaknya bersifat universal. Semua manusia kurang lebih memiliki ketidaksadaran kolektif yang sama. Jung menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu dengan kesamaan struktur otak pada semua ras manusia dan kesamaan ini sendiri disebabkan oleh evolusi umum.
banyak kecenderungan untuk berfikir, merasakan, dan mempersepsikan menurut pola- pola dan isi- isi tertentu yang diaktualisasikan melalui pengalaman yang sudah menjadi milik individu. Manusia cenderung takut pada gelap atau ular karena bisa diasumsikan bahwa manusia primitif menemukan banyak bahaya dalam kegelapan dan menjadi korban ular- ular berbisa. Ketakutan-ketakutan laten ini bisa saja tidak berkembang pada manusia modern kecuali jika mereka itu diperkuat oleh pengalaman- pengalaman khusus, walaupun demikian tendesi itu ada dan membuat orang rentan terhadap pengalaman semacam itu. ide- ide tertentu mudah terbentuk, misalnya ide tentang “Ada Yang Tertinggi”, karena kecenderungannya sudah tertanam kuat dalam otak dan hanya butuh sedikit perkuatan lewat pangalaman individu menjadikannya muncul dalam kesadaran dan mempengaruhi tingkah laku. Ingatan- ingatan laten atau potensial ini tergantung pada struktur dan jejak- jejak inheren yang sudah tertanam dalam otak sebagai hasil pangalaman kumulatif bangsa manusia. Jung menegaskan bahwa menyangkal pewarisan ingatan- ingatan primordial ini sama saja dengan menyangkal evolusi dan pewarisan otak.
Ketidak sadaran kolektif merupakan fondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Diatasnya dibangun aku, ketidaksadaran pribadi, dan semua hal lain yang diperoleh individu. Apa yang dipelajari seseorang sebagai hasil dari pengalaman secara substansial dipengaruhi oleh tidaksadaran kolektif yang melakukan peran mengarahkan atau menyeleksi tingkah laku sang pribadi sejak awal kehidupan. Bentuk dunia dimana ia dilahirkan telah dihadirkan dalam dirinya dalam bentuk sebuah gambaran yang sebenarnya. Gambaran yang sebenarnya ini menjadi persepsi atau ide konkret lewat identifikasi dirinya dengan objek- objek di dunia yang sesuai dengan gambaran itu. pengalaman- pengalaman seseorang tentang dunia sebagian besar dibentuk oleh ketidaksadaran kolektif, walaupun tidak sepenuhnya, sebab kalu demikian maka tidak ada variasi dan perkembangan.
rasional sadar dengan menguasainya dan membelokannya kedalam bentuk- bentuk yang menyimpang. Simtom- simtom, fobia- fobia, delusi- delusi, dan irasionalitas lain berasal dari proses- proses ketidaksadaran yang disisihkan itu.
2.3 ARKHETIPE – ARKHETIPE
Komponen- komoponen struktural dari ketidaksadaran kolektif disebut dengan berbagai nama: arkhetipe- arkhetipe, dominan – dominan, gambaran – gambaran, primordial, imago – imago, gambaran – gambaran mitoligis dan pola – pola tingkah laku (jung, 1943). Arkhetipe adalah suatu bentuk pikiran, (ide) universal yang mengandung unsure emosi yang besar, bentuk pikiran ini menciptakan gambaran – gambaran atau visi – visi yang kehidupan yang sadar normal berkaitan dengan aspek tertentu dari sutuasi. Misalnya, arkhetipe ibu menghasilkan gambaran tentang pigur ibu yang kemudian di identifikasi dengan ibu yang sebenarnya.. dengan kata lain, bayi mewarisi konpesi yang sudah terbentuk lebih duutentang ibu yang berseipat umum yang sebagian menentukan bagaimana bayi tersebut akan mempersepsikan ibunya. Persepsi banyi juga di pengaruhi sifat ibudan oleh pengalaman – pengalaman bayi tersebut dengan ibunya. Jadi pengalam bayi adalah produk bergabung antara satu kecenderungan dari dalam untuk mempersepsikan dunia menurut cara tertentu, dan hakikan nyata dunia yang bersangkutan. Keddua factor tersebut biasanya berpadusecara harmonis sebab arkhetipe itu sendiri merupakan produk dari pengalaman – pengalaman ras dengan dunia, dan pengalaman – pengalaman sama seperti pengalaman yang akan dimiiki oleh setiap individu yang hidup dalam setiap masa dan setiap manapun di dunia ini. Artinya, hakikan pada ibu – apa yang mereka lakukan – tetap sama sepanjang sejarah ras , sehingga arkhetipe ibu yang diwarisi anak cocok dengan ibu sebenarnya dengan siapa bayi itu berinteraksi.
Dengan cara yang sama sepanjang hidupnya manusia di hadapkanpada banyak sekali peristiwa kekuatan – kekuatan : gempa bumi, air terjun, banjir, angin rebut, petir, kebakaran dan sebagainya. Dari pengalaman – pengalan ini berkembanganlah arkhetipe tentang energy, kecenderungan untunk mempersepsikan dan terpersona oleh kekuatan serta keinginan untuk menciptakan dan mengontrol kekuatan. Kesukaan anak – anak pada kembang api, kegandrungan anak – anak muda pada mobil – mobil cepat serta obsesi orang – orang dewasa untuk melepaska enargi – energy atom yang tersembunyi., semua berakar dari arkhetipe energy, mannusia tergolong oleh arkhetipe ini untuk menemukan sumber – sumber yang baru. Artinya arekhetipe – arkhetipe sebagai pusat – pusat tipe energy raksasa yang bersipet otonom yang cenderung menghasilkan pengulangan dan peluasan pengalaman – pengalaman yang sama ini. Berger (1977) menyatakan bahwa arkhetipe – arkhetipe pada manusia merupakan padanan detector -detector, bentuk yang belum lama di temukan pada binatang yang lebih rendah.
Meskipun semua arkhetipe dapat dipandang sebagai sistem – sistem dinamik otonom yang secara relative bisa menjadi tidak bisa terggantung pada aspek – aspek lain kepribadian, namun sejumlah arekhetipe telah berkembang sedemikian jauh sehingga harus di pandang sebangai sistem – sistem terpisah dalam kepribadian. Mereka ini persona, anima dan animus serta bayang- banyang.
1. Persona
Persona adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respon terhadap tuntutan – tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta terhadap kebutuuhan – kebutuhan areketipal sendiri (jung 1945) ia merupakan peranan yang di berikan oleh masyarakat kepada seseorang, bagian yang oleh masyarakan di harapkan dimainkan oleh seseorang dalam hidupnya.
diman peran soaial merupakan tujuan yang berguna bagi manusia sepanjang sejarahnya sebagai bintang – bintang sosial. ( dalam beberapa hal, persona mirip konsep freud tentang superego).
2. Anima dan animus
Jung mengaitkan sisi peminim kepribadian pria dan sisi maskulin sisi kepribadian wanita dengan arkhetipe – arkhetipe. Arkhetipe feminism pada pria disebut anima, arkhetipe masukulin pada wanita pada wanita disebut animus (jung, 1945. 1954b). arkhetipe ini , kendati bisa disebut kromosom – kromosom jenis dan kelenjar – kelenjar seks adalah produk dari pengalaman – pengalaman raspria dengan wanita dan wanita dengan pria. Dengan kata lain, karn hidup bersama wanita selama berabad – abad pria telah menjadi feminism; karena hidup bersam pria , wanita telah menadi maskulin.
Anima dan animus juga menimbulkan kesalah pahaman dan pertantangan apabila gambaran arkhetipenya di proyeksikan tanpa memperdulikan karakter yang sebenarnya, dan tidak menghiraukan perbedaa – perbedaan antara yang ideal dan yang real, dia bisa menderita kekecewaan pahit manakala ia menyadari bahwa keduanya tidak identik.
3. Baying – bayang
Arkhetipe bayang – bayang juga mengakibatkan munculnya pikiran – pikiran, perasaan – perasan dan tindakan – tindakan yang menyenangkan dan patut dicela oleh masyarakat alam kesaran dan tingkah laku.
Bayang – bayang dengan insting – insting binatangnya yang bersipat vital dan berkobar – kobar memberikan kualitas penuh atau tiga dimensi pada kepribadian. Ia membantu membulatkan sang pribadi seutuuhnya (pembaca bisa melihat persamaan antara bayang – banyang dan konsep freud tentang id).
4. Diri (self)
diri melaluia berbagai lambing, dan lambang utamanya adalah mandala atau lingkar magis (jung, 1955a). dalam bukunyab psychology and alchemy (1944), jung mengembangkan jengis psikologi tentang totalitas yang didasarkan pada lambang mandala. Konsep pokok dari psikologi tentangkesatuan total diri adalah diri.
Diri adalah titik pusat kepribadian, disekitar mana semua sistem lain terkonstelasikan. Ia mempersatukan sistem – sistem ini dengan memberika kepribadian dengan kesatuan, keseimbangan dan ksetabilan pada keribadian.
Diri adalah tujuan hidup, suatu tujuan yang terus menerus di perjuangaknorng tetapi yang jarang tercapai. Konsep tentang diri mngkin merupakan penemuan psikologis jung yang terpenting dan merupakan puncak penlitian – penelitian yang intensef tentang arkhetipe – arkhetipe.
5. Sikap
Jung membedakan dua sikap atau orientasi atau kpribadian, yakni sikap aktraversi dan sikap introversi, sikap ekstrafersi mengarakhan sang pribadi ke dunia luar, dunia objektip; sikap introversi mengarahkan orang ke dunia dalam, dunia subjektif (1921).
Kedua sikap yang berlawanan ini ada dalam kpribadian tetapi diantaranya domina dan sadar, sedangkan yang lain kurang dominan dan tak sadar . apabila ego lebih bersikap ekstrovert dalam relasi dengan dunia, maka ketidak sadaran pribadinya akan bersipat introvert.
6. Fungsi
Sifat keempat fungsi diatas dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Andaikan seseorang berdiri dipinggir grand canyon sungai colorado. Apabila fungsi perasaan lebih menonjol, maka ia akan mengalami perasaan kagum, kemuliaan dan keindahan yang men debarkan hati. Apabila ia disukai oleh fungsi pendiriaan maka ia akan melihat canyon itu semata- mata seperti apa adanya atau yang seperti yang tampak dalam potret. Apabila fungsi fikiran menguasai egonya, maka ia akan berusaha memahami canyon itu menurut prinsip- prinsip dan teori geologi. Akhirnya apabila fungsi intuitif kuat, maka pengamatan itu akan cenderung melihat grand canyon sebagai misteri alam yang memiliki arti yang dalam, di mana sebagian artinya di wahyukan atau dirasakan sebagai pengalaman mistik.
Bahwa hanya terdapat fungsi psikologis tidak lebih dan tidak kurang, jung menulis, “Saya sampai pada kesimpulan itu bertolak dari dasar- dasar empiris murni”.
Pikiran dan perasaan disebut fungsi- fungsi rasio karena mereka memakai akal, penilaian, abstraksi, dan generalisasi. Mereka memungkinkan manusia menemukan hukum- hukum dalam alam semesta. Penindraan dan intuisi dipandang sebagai fungsi irasional, karena mereka didasarkan pada persepsi tentang hal- hal yang konkret, khusus, dan aksidental.
Meskipun setiap orang memiliki keempat fungsi tersebut, namun keempatnya tidak harus berkembang sama baiknya. Biasanya salah satu diantara keempat fungsi itu berkembang jauh melampaui ketiga lainnya, dan memainkan perannya yang lebih menonjol dalam kesadran. Ini disebut fungsi superior. Salah satu dari ketiga fungsi lainnya biasanya bertindak sebagai pelengkap terhadap fungsi superior. Apabila kerja fungsi superior terhambat maka secara otomatis fungsi pelengkap menggantikan fungsi superior.
Fungsi yang paling kurang berkembang dari keempat fungsi itu disebut fungsi inferior. Fungsi itu direpresikan dan menjadi tidak sadar. Fungsi inferior mengungkapkan diri dalam mimpi- mimpi dan fantasi- fantasi. Fungsi inferior itu juga memiliki fungsi pelengkap.
Karena aktualisasi diri tidak mungkin tercapai secara penuh, maka sintesis keempat fungsi tersebut merupakan tujuan ideal, maka sintesis keempat fungsi tersebut merupakan tujuan ideal yang diperjuangkan oleh kepribadian.
2.4 Interaksi di antara sistem- sistem kepribadian
Berbagai sistem dan sikap serta fungsi yang hendak mebangun seluruh kepribadian saling berinteraksi dengan tiga cara yang berbeda. Salah satu sistem bisa mengkompensasikan kelemahan sistem lain, salah satu sistem bisa menentang sistem lain, atau dua sistem atau lebih atau biasa bersatu membentuk sintesis.
Kompensasi bisa dijelaakan dengan interaksi antara sikap interaversi dan introversi yang berlawanan. Apabila ekstaversi merupakan sikap ego sadar yang domina atau superior maka ketidaksdaran akan melakukan kompensasi dengan mengembangkan sikap sikap intoversi yang direpresikan. Artinya apabila sikap ekstaversi dikecewakan maka sikap introversi inferior yang tidak sadar akan memegang kendali kepribadian dan menampilkan diri. Suatu periode tingkah laku ekstraversi yang kuat biasanya diikuti oleh suatu periode tingkah laku introversi. Mimpi-mimpi juga bersifat kompensasi sehingga mimip- Mimpi-mimpi orang yang lebih dominan ekstravert akan memiliki kualitas introvert, sebaliknya, mimpi- mimpi orang yang introvert akan cenderung bersifat ekstrovert.
Kompensasi juga terjadi antar fungsi. Seseorang yang menekankan pikiran dan perasaan dalam kesadrannya akan menjadi intuitif, dan akan bertipe pengindraan secara tak sadar. Demikian juga, ego dan anima pada seorang pria serta ego serta animus pada seorang wanita melahirkan hubungan kompensatori satu sama lain. Ego pria normal adalah maskulin sedangkan anima adalah feminim dan ego wanita yang normal adalah feminim sedangkan animus maskulin. Pada umumnya semua ini kesadaran dikompensasikan oleh isi- isi ketidaksadaran. Prinsip kompensasi memberikan semacam ekuilibrium atau keseimbangan antara unsur- unsur yang saling bertentangan sehingga mencegah psikhe menjadi tidak seimbang secra neurotis.
dihasilkan oleh unsur- unsur yang bertentangan merupakan hakikat kehidupan itu sendiri. Tanpa tegangan, maka tidak akan ada energi dan akibatnya tidak ada kepribadian.
Pertentangan terdapat dimana- mana dalam kepribadian antara ego dan bayang- bayang, antara ego dan ketidaksadaran pribadi, antar persona dan anima atau animus, antara persona dan ketidaksadaran pribadi, antar kolektif dan ego, serta antara ketidaksadaran kolektif dan pesona. Introversi bertentangan dengan ekstraversi, pikiran bertentangan dengan perasaan, dan pendriaan bertentangan dengan intuisi. Ego adalah seperti bola bulu tangkis yang dipukul bolak- balik antara tuntutan- tuntutan luar dari masyarakat dan tuntutan- tuntutan batin dari ketidaksadaran kolektif. Sebagai akibat dari pertarungan ini berkembanglah persona atau topeng. Persona kemudian diserang oleh arkhetipe- arkhetipe lain dalam ketidaksadaran kolektif. Sisi wanita pada pria, yakni anima, menyerbu kodrat maskulin pria dan animus larut dalam feminitas wanita. Pertarungan antara daya- daya rasional dan irasional dalam psikhe tidak pernah berakhir. Konflik merupakan fakta kehidupan yang dimana- mana.
Haruskah kepribadian menjadi sebuah rumah yang terpecah belah melawan dirinya sendiri? Jung yakin tidak. Unsur- unsur yang berlawanan itu tidak hanya saling bertentangan, tetapi juga saling menarik dan mencari. Situasi ini analog dengan suami isteri yang saling bertengkar namun tetap dipersatukan justru oleh perbedaan- perbedaan yang menimbulkan perselisihan tersebut. Kesatuan dari yang berlawanan tercapai lewat apa yang oleh jung disebut fungsi transenden. Bekerjanya fungsi ini menghasilakn sistesis antara sistem- sistem yang bertentangan dan membentuk kepribadian yang seimbang dan terintegrasi. Pusat dari kepribadian yang terintegrasi ini adalah diri (self).
2.5 Contoh Kasus
tersebut pada akhirnya digunakan oleh psikoanalisa Alfred Adler untuk menggambarkan perjuangan anak dalm menekan dan mengatasi perasaaan kecil dan tidak berdaya. Sebagai contoh,seorang anak laki- laki mungkin merasa dirinya inferior dalam segala hal, mulai dari bakat berolahraga (dibandingkan dengan kakak laki- lakinya) hingga ukuran penis (dibandingkan dengan ayahnya), dan perjuangan intrapsikis untuk menghadapi hal- hal tersebut pastilah terjadi. Adler menyebut hal ini sebagai kompleks inferioritas, istilah yang sama dengan yang umum digunakan saat ini.
BAB III KESIMPULAN
Carl Gustav Jung lahir di Kesswyl, suatu kota dikawasab Lake Costance di Canton Thurgau, swiss, pada tanggal 26 Juli, 1875, dan besar di Basel. Ayahnya adalah seorang pendeta pada Gereja Reformasi Swiss. Jung masuk Universitras basel dengan tujuan untuk menjadi seorang arkeologi tetapi suatu mimpi telah membangkitkan minatnya dalam study ilmu- ilmu alam dan secara kebetulan dalam ilmu kedokteran. Setelah ia mendapat gelar kedokteran dari universitas Basel ia menjadi asisten pada Rumah Sakit Jiwa di Burghlzli, Zurich, dan Klinik Psikiatri Zurich dan mulailah kariernya dalam psikiatri.dia membantu dan kemudian bekerja sama dengan Eugen Bleuler, psikiater terkenal yang mengembangkan konsep tentang skizofrenia, dan belajar sebentar pada Pierre Jenet, murud dan pengganti Charcot di Paris. Dalam tahun 1909 ia melepaskan pekerjaannya di Burgholzli dan pada tahun 1913 ia melepaskan jabatan lektor dalam psikiatri pada Universitas Zurich supaya dapat mencurahkan seluruh waktunya untuk praktik privat, memberikan latihan, penelitian, bepergian dan menulis.
Menurut teori Jung, keseluruhan kepribadian (pikiran) atau Psyche terbagi menjadi 3 bagian: Ego Sadar, Ketidaksadaran Personal (kepribadian) beserta kompleks- kompleksnya, Ketidaksadaran Kolektif beserta Arkhetipe- arkhetipe yaitu persona, anima & animus, dan bayang- bayang atau shadow. Di samping sistem- sistem yang saling tergantung ini terdapat sikap- sikap introversi dan ekstraversi, serta fungsi- fungsi pikiran, perasaan, pendirian dan intuisi. Akhirnya terdapat diri (self) yang merupakan pusat dari seluruh kepribadian.
dengan ibunya. Jadi pengalam bayi adalah produk bergabung antara satu kecenderungan dari dalam untuk mempersepsikan dunia menurut cara tertentu, dan hakikan nyata dunia yang bersangkutan. Keddua factor tersebut biasanya berpadusecara harmonis sebab arkhetipe itu sendiri merupakan produk dari pengalaman – pengalaman ras dengan dunia, dan pengalaman – pengalaman sama seperti pengalaman yang akan dimiiki oleh setiap individu yang hidup dalam setiap masa dan setiap manapun di dunia ini. Artinya, hakikan pada ibu – apa yang mereka lakukan – tetap sama sepanjang sejarah ras , sehingga arkhetipe ibu yang diwarisi anak cocok dengan ibu sebenarnya dengan siapa bayi itu berinteraksi.
DAFTAR PUSTAKA
Taniputera. 2005. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.